Anda di halaman 1dari 128

NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM DALAM

TRADISI PUNGGAHAN DAN KUPATAN PADA


MASYARAKAT DUKUH KRANGKENG SARI
DESA GROGOLAN KECAMATAN KARANGGEDE
KABUPATEN BOYOLALI TAHUN 2014

SKRIPSI
Diajukan Untuk Memperoleh Gelar

Sarjana Pendidikan Agama Islam

Oleh:

YUSUF FAIZAL
NIM: 11110120

JURUSAN TARBIYAH

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI

SALATIGA

2014
KEMENTERIAN AGAMA
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) SALATIGA
Jl. Tentara Pelajar No. 02 Telp (0298) 323706, 323433 Fax. 323433 Salatiga 50721
Website: www.stainsalatiga.ac.id E-mail: administrasi@stainsalatiga.ac.id

Drs.Juz’an, M.Hum.
DOSEN STAIN SALATIGA

PERSETUJUAN PEMBIMBING
Lamp : 5 Eksemplar
Hal : Naskah Skripsi
Saudara

Kepada
Yth.Ketua STAIN Salatiga
Di Salatiga

Assalamu’alaikumWr. Wb.

Setelah kami meneliti dan mengadakan perbaikan seperlunya, maka bersama ini, kami
kirimkan naskah skripsi saudara:
Nama : Yusuf Faizal
NIM : 111 10 120
Jurusan/Progdi : Tarbiyah/PAI
Judul : Nilai-Nilai Pendidikan Islam Dalam Tradisi Punggahan dan
Kupatan Pada masyarakat Dukuh Krangkeng Sari Desa
Grogolan Kecamatan Karanggede Kabupaten Boyolali

Dengan ini kami mohon skripsi saudara tersebut supaya segera dimunaqosyahkan.
Demikian agar menjadi perhatian.

Wassalamu’alaikumWr. Wb.

Salatiga, 26 Desember 2014


Pembimbing

Drs.Juz’an, M.Hum.
NIP. 19611024 198903 1 002
SKRIPSI

NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM DALAM TRADISI PUNGGAHAN

DAN KUPATAN PADA MASYARAKAT DUKUH KRANGKENG SARI

DESA GROGOLAN KECAMATAN KARANGGEDE KABUPATEN

BOYOLALI TAHUN 2014

DISUSUN OLEH

Yusuf Faizal
111 10 120
Telah dipertahankan di depan panitia Dewan Penguji Skripsi Jurusan Tarbiyah,
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Salatiga, pada tanggal 24 Februari
2015 dan telah dinyatakan memenuhi syarat guna memperoleh gelar sarjana S1
Kependidikan Islam

Susunan Panitia Penguji

Ketua Penguji : Ilyya Muhsin, S. Hl., M.Si ..............................

Sekretaris Penguji : Drs. Juz’an, M.Hum ..............................

Penguji I : Dr. Muh. Saerozi, M.Ag ..............................

Penguji II : Mufiq, M. Phil ..............................

Salatiga, 24 Februari 2015


Ketua STAIN Salatiga
Dr. Rahmat Hariyadi, M. Pd
NIP. 19670112 199203 1 005

KEMENTERIAN AGAMA
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) SALATIGA
Jl. Tentara Pelajar No. 02 Telp (0298) 323706, 323433 Fax. 323433 Salatiga 50721
Website: www.stainsalatiga.ac.id E-mail: administrasi@stainsalatiga.ac.id

DEKLARASI

‫ﻴﻢ‬ ِ ‫ﺴ ِﻢ ﱠ‬
ِ ‫ﷲ ﺍﻟ ﱠﺮ ْﺣ َﻤ ِﻦ ﺍﻟ ﱠﺮ ِﺣ‬ ْ ِ‫ﺑ‬

Dengan penuh kejujuran dan tanggung jawab, peneliti menyatakan bahwa

skripsi ini tidak berisi materi yang pernah ditulis oleh orang lain atau pernah

diterbitkan. Demikian juga skripsi ini tidak berisi satupun pikiran-pikiran orang

lain, kecuali informasi yang terdapat dalam referensi yang dijadikan bahan

rujukan.

Apabila dikemudian hari ternyata terdapat materi atau pikiran-pikiran

orang lain di luar referensi yang peneliti cantumkan maka peneliti sanggup

mempertanggungjawabkan kembali keaslian skripsi ini dihadapan sidang

munaqosah skripsi.

Demikian deklarasi ini dibuat oleh penulis untuk dimaklumi.

Salatiga, 26 Desember 2014

Penulis

Yusuf faizal
111 10 120

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

           

Adapun orang yang bertaubat dan beriman, serta

mengerjakan amal yang saleh, semoga dia

termasuk orang-orang yang beruntung (al-Qashash:

67).

PERSEMBAHAN

Skripsi ini aku persembahkan untuk :


1. Ibu dan bapakku yang selama ini telah mencurahkan kasih sayang
kepadaku, dan memberikan dukungan, sehingga aku dapat menyelesaikan
skripsi ini.
2. Kakakku , mbak arifah umma dan mas mujib yang selalu memberi motifasi
untuk selalu optimis dalam menjalani hidup
3. Adikku iin rahmawati hasyim, fajar hidayat dan korib afnan abdillah,
semoga kalian menjadi anak yang sholeh dan sholehah, selalu berbakti
kepada kedua orang tua dan meraih cita-cita yang kalian impikan
4. Keponakanku fitri kusuma dewi, smoga kamu kelak menjadi anak yang
sholehah dan menjadi kebanggaan bagi kedua orang tuamu
5. Kakekku tercinta eyang ngadini, semoga sehat selalu dan panjang umur
6. Bapak joko sutopo selaku orang tua saya di stain salatiga yang selalu
memberi motivasi agar selalu bersungguh-sungguh dalam menimba ilmu
7. Bapak jus’an yang selalu sabar dalam membimbing dan menasehati saya
dalam membuat skripsi ini.
8. Tri wahyuni wulan ndari yang pernah singgah dalam hati, semoga dirimu
slalu bahagia dan dapat membahagiakan ibundamu
9. Bang toro, mas heri, bang lilik, bang nugh, ihsan, samsul, ndaru, serta
semua teman-temanku semua di dusun jampiroso yang tidak bisa saya
sebutkan satu persatu, terima kasih atas apa yang telah kalian berikan
kepada saya sewaktu KKN .
10. Anisa alfi nurjannah, muhammad agus wachid, adam bahrudin syah,
daryanto, alfin darodjat, wildan, serta semua kawan-kawanku semua
mahasiswa-mahasiswi stain salatiga, yang tak dapat kusebutkan satu
persatu, terima kasih karna kalian telah membuatku mengerti arti
persahabatan
.
KATA PENGANTAR

‫ﺑﺴﻢ ﷲ ﺍﻟﺮ ﺣﻤﻦ ﺍﻟﺮ ﺣﻴﻢ‬

Alhamdulillahirobbil’alamin, syukur kepada Allah SWT. yang telah

melimpahkan rahmat, hidayah dan nikmatnya, sehingga penulis dapat

menyelesaikan penyusunan skripsi dengan judul “ Nilai-Nilai Pendidikan Islam

Dalam Tradisi Punggahan dan Kupatan Pada Masyarakat Dukuh

Krangkeng Sari Desa Grogolan Kecamatan Karanggede Kabupaten Boyolali

Tahun 2014”

Sholawat dan salam selalu tercurah kepada junjungan kita Rosulullah

SAW. yang telah kita tunggu-tunggu syafaatnya pada hari kiamat nanti.

Penyusunan skripsi ini dengan tujuan untuk memenuhi salah satu syarat

memperoleh gelar sarjana Pendidikan Agama Islam pada program studi

Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri

Salatiga.

Penyusunan skripsi ini dapat terselesaikan tidak lepas dari bantuan pihak-

pihak yang bersangkutan. Oleh karena itu, perkenankanlah penulis untuk

mengucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada :

1. Bapak Dr. Rahmat Hariyadi M. Pd. selaku Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam

Negeri Salatiga.
2. Bapak Ketua Jurusan Tarbiyah yang telah memberi fasilitas dan kemudahan

dalam tahap-tahap pengajuan permohonan penelitian, sehingga penelitian dapat

penulis lakukan.

3. Bapak Rasimin selaku Kepala Program Study PAI yang telah membantu

memudahkan dalam semua pengurusan yang bersifak akademik maupun non

akademik, sehingga penelitian ini dapat selesai.

4. Ibu Asdiqoh selaku mantan Kepala Program Study PAI yang telah

membimbing dan memberi persetujuan penulis untuk melakukan penelitian ini.

5. Bapak Drs Juz’an M.Hum selaku pembimbing yang telah membimbing dan

mengarahkan dalam penyusunan karya tulis ini dengan penuh ketelitian,

kesababaran dan kesungguhan.

6. Segenap pengajar dan staf karyawan Jurusan Tarbiyah STAIN Salatiga yang

memberi ilmu dan membantu melancarkan dalam penyelesaian karya tulis ini.

7. Bapak Sunarto selaku kepala Desa Grogolan yang telah memberikan ijin untuk

melakukan penelitian di Dukuh Krangkeng Sari yang beliau pimpin dan telah

menyediakan segala sesuatu yang penulis butuhkan guna menyelesaikan karya

tulis ini.

8. Ibu, Bapak, kakak-kakak tersayang yang telah memberikan semangat dan

menyadiakan sarana dan prasarana dalam proses penulisan karya tulis ini,

membimbing dan mendorong serta tak henti-hentinya berharap yang terbaik

untuk saya dalam menuntut ilmu dalam setiap do’anya.

9. Teman-teman yang telah memberikan semangat dan bantuannya dalam

menyusun skripsi ini, yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.
Demikian ucapan terma kasih penulis untuk semuan pihak-pihak tersebut

di atas yang telah ikut berperan dalam menyelesaikan penyusunan skripsi ini dan

semoga selesainya penyusunan skripsi ini dapat bermanfaat untuk kita semua.

Semoga Allah SWT, memberikan balasan atas kebaikan semua pihak-pihak yang

telah memberi bantuannya dan memberikan pahala untuk mereka. Amin.

Salatiga, 26 Desember 2014

Penulis

Yusuf faizal
ABSTRAK

Yusuf Faizal (NIM : 11110120). Nilai-nilai Pendidikan Islam dalam Tradisi


Punggahan dan Kupatan pada Masyarakat Dukuh Krangkeng Sari
Desa Grorolan Kecamatan Karanggede Kabupaten Boyolali Tahun
2014
Penelitian ini membahas nilai-nilai pendidikan islam dalam tradisi
punggahan dan kupatan pada masyarakat Dusun Krangkeng Sari Desa Grogolan
Kecamatan Karanggede Kabupaten Boyolali. Fokus penelitian yang dikaji adalah:
1. Bagaimana konsep punggahan di Dusun Krangkeng Sari Desa Grogolan
Kecamatan Karanggede Kabupaten Boyolali 2. Bagaimana konsep kupatan di
Dusun Krangkeng Sari Desa Grogolan Kecamatan Karanggede Kabupaten
Boyolali 3. Adakah nilai-nilai pendidikan Islam dalam tradisi punggahan di
Dusun Krangkeng Sari Desa Grogolan Kecamatan Karanggede Kabupaten
Boyolali 4. Adakah nilai-nilai pendidikan Islam dalam tradisi kupatan di Dusun
Krangkeng Sari Desa Grogolan Kecamatan Karanggede Kabupaten Boyolali.
Penelitian ini adalah penelitian Kualitatif. Data yang berbentuk kata-kata
diperoleh dari para informan, sedangkan data tambahan berupa dokumen. Analisa
data dilakukan dengan cara menelaah data yang ada, lalu melakukan reduksi data,
penyusunan satuan, kategorisasi, menarik kesimpulan dan tahap akhir dari analisa
data ini mengadakan keabsahan data dengan menggunakan ketekunan pengamatan
triangulasi.
Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa tradisi punggahan
dan kupatan di Dusun Krangkeng Sari merupakan salah satu bentuk budaya
leluhur yang sampai sekarang masih tetap dilaksanakan oleh masyarakat Dusun
Krangkeng Sari, pada hakikatnya pelaksanaan tradisi ini adalah semata-mata
melestarikan budaya leluhur karena dalam pelaksanaan tradisi punggahan dan
kupatan berdampak positif bagi kehidupan masyarakat. Nilai-nilai pendidikan
Islam dalam tradisi punggahan dan kupatan adalah keyakinan bahwa Allah SWT
adalah tempat satu-satunya meminta pertolongan, Allah adalah Dzat yang Maha
Pengampun, menambah amal kebaikan melalui shadaqah, dan terciptanya ukuwah
islamiyah dalam masyarakat
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .................................................................................. i

HALAMAN NOTA PEMBIMBING........................................................ ii

PENGESAHAN KELULUSAN................................................................ iii

PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN................................................. iv

HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN....................................... v

KATA PENGANTAR................................................................................ vii

ABSTRAK .................................................................................................. x

DAFTAR ISI ............................................................................................... xi

DAFTAR TABEL ...................................................................................... xvi

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah ............................................. 1

B. Rumusan Masalah ....................................................... 6

C. Tujuan Penelitian ......................................................... 6

D. Manfaat Penelitian ...................................................... 7

E. Definisi Operasional ..................................................... 8

F. Metode Penelitian... ...................................................... 9

1. Pendekatan dan Jenis Penelitian.......................... 9

2. Kehadiran Peneliti................................................. 10
3. Lokasi Penelitian.................................................... 10

4. Sumber Data........................................................... 11

5. Prosedur Pengumpulan Data................................ 11

6. Analisis Data........................................................... 13

7. Pengecekan Keabsahan Data................................ 14

8. Tahap-tahap Penelitian......................................... 16

G. Sistematika Penulisan Skripsi...................................... 17

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Nilai-nilai Pendidikan Islam

1. Pengertian Nilai ..................................................... 19

2. Ciri-ciri Nilai ......................................................... 19

3. Macam-macam Nilai............................................. 20

4. Pengertian Pendidikan Islam................................ 23

5. Landasan Pendidikan Islam.................................. 25

6. Tujuan Pendidikan Islam...................................... 30

7. Prinsip-prinsip Pendidikan Islam.........................32

8. Tanggung Jawab Pendidikan Islam..................... 33

B. Tradisi Punggahan dan Kupatan

1. Agama di Jawa....................................................... 43

2. Proses Islamisasi di Jawa...................................... 45

3. Tradisi Punggahan................................................ 49

4. Tradisi Kupatan..................................................... 52
BAB III PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN

A. Paparan Data ................................................................ 57

1. Letak Geografis ..................................................... 57

2. Keadaan Penduduk................................................ 58

3. Keadaan Pendidikan.............................................. 58

4. Keadaan Sosial Ekonomi....................................... 59

5. Keadaan Sosial dan Agama................................... 60

B. Temuan Penelitian........................................................ 61

1. Pemahaman Tradisi Punggahan di Dukuh

Krangkeng Sari Kecamatan Karanggede

Kabupaten Boyolali...............................................62

2. Pemahaman Tradisi Kupatan di Dukuh

Krangkeng Sari Kecamatan Karanggede

Kabupaten Boyolali................................................72

BAB IV PEMBAHASAN

A. Tradisi Punggahan di Dukuh Krangkeng Sari

Kecamatan Karanggede Kabupaten

Boyolali........................................................................... 75

B. Tradisi Kupatan di Dukuh Krangkeng Sari

Kecamatan Karanggede Kabupaten

Boyolali........................................................................... 76
C. Nilai-nilai Pendidikan Islam dalam Tradisi

Punggahan di Dukuh Krangkeng Sari

Kecamatan Karanggede Kabupaten

Boyolali........................................................................... 78

1. Nilai Aqidah............................................................ 78

2. Nilai Amaliah.......................................................... 78

3. Nilai Ibadah............................................................ 78

4. Nilai Kearifan lokal................................................ 79

5. Nilai Ukuwah Islamiyah........................................ 80

D. Nilai-nilai Pendidikan Islam dalam Tradisi

Kupatan di Dukuh Krangkeng Sari

Kecamatan Karanggede Kabupaten

Boyolali........................................................................... 80

1. Nilai Akidah............................................................ 80

2. Nilai Ibadah............................................................ 81

3. Nilai Amaliah.......................................................... 81

4. Nilai Kearifan lokal................................................ 82

5. Nilai Ukuwah Islamiyah........................................ 82

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan.................................................................... 83

B. Saran ..............................................................................86
DAFTAR TABEL

3.1 Data penduduk Desa Grogolan berdasarkan jenis kelamin


DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN-LAMPIRAN

1. Daftar Pertanyaan

2. Hasil Wawancara

3. Dokumentasi

4. Surat Keterangan Penelitian

5. Daftar Riwayat Hidup

6. Lembar Konsultasi

7. Daftar Nilai SKK


BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dalam agama Islam kata pendidikan mempunyai banyak makna. Kata

“pendidikan” yang umum di gunakan sekarang ini dalam bahasa Arabnya

adalah al-tarbiyah, dengan kata kerja rabba. Kata “pengajaran” dalam bahasa

Araabnya adalah al-ta’lim dengan kata kerjanya ‘allama. Pendidikan dan

pengajaran dalam bahasa Arabnya adalah tarbiyah wa ta’lim dan pendidikan

Islam dalam bahasa arabnya adalah Tarbiyah islamiyah (Daradjat, 2011: 25).

Pengertian pendidikan Islam sendiri adalah segala usaha untuk

memelihara dan mengembangkan fitrah manusia serta sumber daya manusia

yang ada padanya menuju terbentuknya manusia seutuhnya (insan kamil)

sesuai dengan norma Islam (Achmadi, 2005:28). Pendidikan Islam

menyiapkan manusia untuk hidup, baik dalam keadaan aman maupun perang

dan menyiapkan untuk menghadapi masyarakat dengan segala kebaikan dan

kejahatanya, manis dan pahitnya (Saebani, 2009:14).

Pendidikan itu tidak hanya tanggung jawab seorang guru, namun juga

tanggung jawab semua lapisan masyarakat. Tanggung jawab pendidikan

dalam agama Islam dilakukan oleh orang tua di dalam keluarga, para guru

dalam lingkungan sekolah dan masyarakat (Daradjat, 2011: 35). Tanggung

jawab orang tua sendiri dalam mendidik putra-putrinya adalah sangat besar

dibandingkan lapisan masyarakat yang lainnya. Orang tua dituntut untuk

semaksimal mungkin dalam mendidik, mengarahkan, serta memberi contoh


yang baik bagi putra putrinya terutama dalam hal menanamkan nilai-nilai

pendidikan Islam.

Nilai-nilai pendidikan Islam yang ditanamkan orang tua tidak hanya

mengarahkan putra-putriya untuk melaksanakan semua syariat Islam,

contonya, menyuruh anak untuk mengerjakan shalat ketika telah masuk

waktu shalat, mengajak anak untuk puasa di Bulan Ramadhan dll, namun

juga bisa melalui tradisi-tradisi yang telah di tinggalkan para pendahulu.

Suatu pewarisan serangkaian kebiasaan dan nilai-nilai yang diwariskan dari

suatu generasi kepada generasi berikutnya.

Begitu pula dengan masyarakat Jawa, masyarakat Jawa adalah

masyarakat yang terkenal dengan prinsip hidup mereka yang kuat, diantara

prinsip hidup masyakarakat Jawa yang kuat yakni dalam melestarikan tradisi-

tradisi yang ditinggalkan para leluhur pendahulu mereka.

Sebagian masyarakat Jawa dalam kehidupanya tidak bisa terlepas dari

ritual selamatan. Kebanyakan Antropolog yang mempelajari masyarakat Jawa

sependapat bahwa selamatan adalah jantungnya agama Jawa (Beatty,

2001:39). Selamatan adalah suatu upacara makan bersama makanan yang

telah diberi doa sebelum di bagikan (Koentjaraningrat, 2004:347). Secara

umum tujuan selamatan adalah untuk menciptakan keadaan sejahtera, aman

dan terbebas dari gangguan makhluk yang nyata maupun halus suatu keadaan

yang disebut slamet, kata slamet juga digunakan untuk orang yang meninggal

( dalam pengertian “diselamatkan” ), (Beatty, 2001:43). Upacar selamatan


dapat digolongkan kedalam empat macam sesuai dengan peristiwa atau

kejadian dalam kehidupan sehari-hari yaitu :

1. Selamatan dalam lingkaran hidup seseorang, seperti hamil tujuh bulan,

kelahiran, upacara potong rambut pertama, upacara untuk menyentuh

tanah pertama kali, upacara menusuk telinga, sunat, kematian, serta saat-

saat setelah kematian.

2. Selamatan yang bertalian dengan bersih desa, penggarapan tanah

pertanian, dan setelah panen padi.

3. Selamatan yang berhubungan dengan hari-hari serta bulan-bulan besar

Islam.

4. Selamatan pada saat tidak tertentu, berkenaan dengan kejadian-kejadian.

Seperti membuat perjalanan jauh, menempati rumah kediaman baru,

menolak bahaya (ngruwat), janji kalau sembuh dari sakit (kaul), dan lain-

lain (Koentjaraningrat, 2004: 347).

Dalam pelaksanaannya ritual selamatan biasanya dipimpin oleh

seorang modin, yakni seseorang yang diberi amanat untuk menjadi pejabat

Islam di Desa, atau orang tertentu yang dianggap mampu untuk memimpin

acara selamatan yang ditunjuk oleh pihak yang membuat acara selamatan

tersebut.

Penyebaran agama Islam di Indonesia khususnya di pulau Jawa tidak

bisa terlepas dari peran sembilan wali, masyarakat Jawa menyebut

kesembilan wali ini dengan sebutan walisongo. Walisongo dikenal sebagai

penyebar agama Islam di tanah Jawa pada abad ke 17, mereka tinggal di
wilayah penting pantai utara pulau Jawa yaitu Surabaya-Gresik-Lamongan di

Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, serta Cirebon di Jawa

Barat (Wasino, 2007:16). Sebelum Islam, religi Animisme-Dinamisme

merupakan akar budaya asli Indonesia terutama di Jawa, dikarenakan

pengaruh budaya Hindu-Budha dalam kurun waktu yang lama sehingga di

Jawa mengalami proses jawanisasi. Ketika Islam datang, proses masuknya

Islam sendiri berlangsung secara damai tanpa adanya kekerasan, sehingga

agama Islam dapat diterima oleh masyarakat Jawa yang sebelumnya

menganut agama Hindu dan Budha. Hal ini dikarenakan metode yang dipakai

oleh para wali dalam berdakwah menggunakan metode yang sangat lentur,

yakni dalam menggunakan unsur-unsur budaya lama (Hinduisme dan

Budhisme), kemudian secara berangsur-ansur kedua budaya tersebut telah

mengalami islamisasi (Wasino, 2007:40).

Tradisi punggahan dan kupatan merupakan salah satu bentuk warisan

budaya leluhur yang sampai sekarang masih tetap dilaksanakan dan

dilestarikan oleh masyarakat, termasuk masyarakat di Dukuh krangkeng sari,

Desa Grogolan, Kecamatan Karanggede, Kabupaten Boyolali. Pada

hakekatnya kedua tradisi tersebut merupakan kegiatan soial yang melibatkan

seluruh masyarakat dalam usaha bersama untuk mendapatkan keselamatan,

ketentraman bersama yang biasa dilakukan sebelum dan sesudah Bulan

Ramadhan, yakni pada Bulan Ruwah dan Bulan Sawal.

Namun demikian, perkembangan peradaban, pengetahuan serta

perekonomian yang terjadi saat ini telah banyak mengikis sedikit demi sedikit
tradisi bahkan kebudayaan yang dahulu berkembang dalam masyarakat.

Bahkan karena ketidaktahuan tentang budayanya menganggap bahwa tradisi

atau budaya tersebut sebagai bagian yang tidak perlu dilestarikan dengan

berbagai macam alasan. Demikian halnya dengan pelaksanaan tradisi

punggahan dan kupatan di Dukuh Krangkeng sari, Desa Grogolan,

kecamatan karanggede, Kabupaten Boyolali yang akhir-akhir ini

pelaksanaannya tidaklah mendapat banyak menyita perhatian warga, sehingga

dalam melaksanakanya terkesan biasa-biasa saja. Bahkan para pemuda sendiri

banyak yang tidak mengetahui makna peringatan tradisi punggahan dan

kupatan tersebut

Berkaitan dengan uraian tersebut diatas maka timbul suatu keinginan

dari peneliti untuk mengadakan penelitian guna mengetahui maksud, tujuan

dan nilai-nilai keislaman dari tradisi punggahan dan kupatan yang telah

mentradisi di kalangan masyarakat di Dukuh Krangkeng Sari yang beragama

Islam, oleh karena itu dalam penelitian ini, peneliti mengambil judul skripsi

tentang“NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM DALAM TRADISI

PUNGGAHAN DAN KUPATAN (Studi kasus Masyarakatdi Dukuh

krangkeng sari, Desa.Grogolan, Kec. Karanggede, Kab. Boyolali.)

B. Rumusan Masalah

Penelitian dilakukan karena adanya suatu masalah yang membutuhkan

pembahasan atau penyelesaian masalah dalam sebuah penelitian pembahasan

atau penyelesaian masalah ini berarti fokus yang menjadi pusat pembahasan.
Berdasarkan latar belakang yang telah peneliti kemukakan maka dapat

dirumuskan sebagai berikut :

1. Bagaimana konsep punggahan di Dusun Krangkeng Sari, Desa

Grogolan, Kecamatan Karanggede, Kabupaten Boyolali ?

2. Bagaimana konsep Kupatan di Dusun Krangkeng Sari, Desa Grogolan,

Kecamatan Karanggede, Kabupaten Boyolali ?

3. Adakah Nilai-nilai Pendidikan Islam dalam tradisi Punggahan di Dusun

Krangkeng Sari, Desa Grogolan, Kecamatan Karanggede, Kabupaten

Boyolali ?

4. Adakah Nilai-nilai Pendidikan Islam dalam tradisi Kupatan di Dusun

Krangkeng Sari, Desa Grogolan, Kecamatan Karanggede, Kabupaten

Boyolali ?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ilmiah yang dilaksanakan

dalam rangka penulisan skripsi ini, yaitu :

1. Untuk mengetahui konsep punggahan di Dukuh Krangkeng Sari, Desa

Grogolan, Kecamatan Karanggede, Kabupaten Boyolali.

2. Untuk mengetahui konsep kupatan di Dukuh Krangkeng Sari, Desa

Grogolan, Kecamatan Karanggede, Kabupaten Boyolali.

3. Untuk mengetahui adakah Nilai-nilai Pendidikan Islam dalam tradisi

Punggahan di Dukuh Krangkeng Sari, Desa Grogolan, Kecamatan

Karanggede, Kabupaten Boyolali


4. Untuk mengetahui adakah Nilai-nilai Pendidikan Islam dalam tradisi

Kupatan di Dukuh Krangkeng Sari, Desa Grogolan, Kecamatan

Karanggede, Kabupaten Boyolali.

D. Manfaat Hasil Penelitian

Dari Penelitian ini diharapkan sebagai penjelas dan memberikan

manfaat yang baik, bagi siapa saja yang memahami kegiatan punggahan dan

kupatan ini dan tentunya bagi peneliti sendiri dan masyarakat. Dari

penjelasan tersebut diharapkan bisa menjadi pengetahuan tentang kegiatan

punggahan dan kupatan untuk siapa saja yang mau melaksanakan serta dapat

memberi manfaat secara teoritis maupun secara praktisnya.

1. Manfaat Teoritis

Lembaga dalam hal ini STAIN Salatiga, apabila hasil penelitian ini

sesuai dengan manfaatnya dan merupakan sebagai salah satu sumbangan

terhadap perkembangan pengetahuan khususnya di bidang sosial

keagamaan.

2. Manfaat Praktis

Penelitian dapat mengetahui manfaat yang terkandung dalam kegiatan

punggahan dan kupatan secara sosial kemasyarakatan ataupun secara

spiritual bagi warga masyarakat Dukuh krangkeng sari, Desa Grogolan,

Kecamatan Karanggede, Kabupaten Boyolali.


E. Definisi Operasional

Untuk menghindari adanya salah pengertian dalam menafsirkan kata-

kata istilah yang digunakan penulis, maka penulis mendifinisikan istilah-

istilah sebagai berikut :

1. Nilai Pendidikan Islam

Menurut Milton Rokeach James Bank yang dikutip oleh Thoha

(1996: 60) Nilai adalah suatu sistem kepercayaan yang berada dalam

ruang lingkup sisitem dalam seseorang bertindak atau menghindari suatu

tindakan, atau mengenai suatu yang pantas atau tidak pantas dikerjakan.

Sedangkan Pepper mendifinisikan nilai sebagai segala sesuatu tentang

yang baik atau yang buruk (Sulaiman, 1995:19)

Pendidikan Islam adalah segala usaha untuk memelihara dan

mengembangkan fitrah manusia serta sumber daya manusia yang ada

pandangan menuju terbentuknya manusia seutuhnya (insan kamil) sesuai

norma Islam (Achmadi, 2005:28).

2. Tradisi Punggahan

Menurut Kamus besar Bahasa Indonesia “Tradisi” berarti segala

sesuatu seperti adat, kebiasaan, ajaran dan sebagainya yang turun

temurun dari nenek moyang.

Kata punggahan dalam bahasa Jawa berasal dari kata munggah,

yang berarti munggah ketempat yang tinggi.

(aktomisriadi.blogspot.com/2012/01/sosiologi islam.html, diakses pada

tanggal 6 september 2014 pukul 10:25 WIB). Punggahan


diselenggarakan pada akhir bulan Ruwah, yang berfungsi untuk

mengantarkan arwah munggah (naik kembali ke asalnya) pada esok hari

(Moertjipto, 1995: 23)

3. Tradisi Kupatan.

Menurut Kamus besar Bahasa Indonesia “Tradisi” berarti segala

sesuatu seperti adat, kebiasaan, ajaran dan sebagainya yang turun

temurun dari nenek moyang.

Dalam bahasa Jawa ketupat memiliki arti telu ( tiga ) dan empat.

Hal ini mengarah pada aturan agama / rukun Islam ketiga dan keempat,

yaitu puasa dan zakat yang dilakukan umat Islam dibulan ramadhan

(Boyolali.com/lebaran ketupat). Upacara selamatan kupat (kupat luwar)

yang diselenggarakan pada tanggal 1 Syawal yang berfungsi untuk

ngluwari dosa atau kesalahan (Moerjipto, 1995: 24).

F. Metode Penelitian

1. Jenis Penelitian dan Pendekatan

Penelitian ini adalah penelitian kualitatif karena menggunakan

prosedur penelitian yang menggunakan data deskriptif yang berupa

ucapan/tulisan dari orang- orang dan prilaku yang dapat diamati.

Menurut Moleong (2009: 6) penelitian kualitatif adalah penelitian yang

bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh

subjek penelitian misalnya prilaku, motifasi, tindakan, dll.., secara

holistik, dan dengan cara deskriptif dengan bentuk kata- kata dan bahasa
pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan

berbagai metode alamiah.

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah

pendekatan deskriptif kualitatif.

2. Kehadiran Peneliti

Dalam penelitian ini, peneliti bertindak sebagai pengumpul data

dan sebagai instrument aktif dalam upaya mengumpulkan data-data di

lapangan, sedangkan instrument pengumpulan data yang lain selain

manusia adalah berbagai bentuk alat-alat bantu berupa dokumen-

dokumen lainnya yang dapat digunakan untuk menunjang keabsahan

hasil penelitian, namun berfungsi sebagai instrumen pendukung. Oleh

karena itu, kehadiran peneliti secara langsung di lapangan sebagai tolak

ukur keberhasilan untuk memahami kasus yang diteliti, sehingga

keterlibatan peneliti secara langsung dan aktif dengan informan atau

sumber data lainnya disini mutlak dilakukan.

3. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Dusun Krangkeng Sari, Desa

Grogolan, Kecamatan Karanggede, Kabupaten Boyolali pada Bulan Mei

–Nopember Tahun 2014.

4. Sumber Data.

Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian adalah data

kualitatif yaitu data yang tidak berbentuk bilangan, seperti jenis kelamin,

agama atau warna (hasan, 2006:20). Data kualitatif yang dimaksud dalam
penelitian ini adalah dokumen yang berisi nilai-nilai pendidikan islam,

tradisi punggahan dan tradisi kupatan. Oleh karena itu, data yang

diperlukan adalah data sekunder dan data primer. Data sekunder yaitu

data yang bersumber dari pihak kedua, baik berupa catatan, laporan, atau

lainnya. Dalam penelitian ini, data sekunder yang dimaksud adalah

dokumen dan observasi. Data primer yaitu data yang bersumber dari

pihak pertama, yakni hasil wawancara.

5. Prosedur Pengumpulan Data

Keberhasilan suatu penelitian terutama penelitian kualitatif,

tergantung beberapa faktor. Paling tidak ditentukan oleh kejelasan tujuan

dan permasalahan penelitian, ketepatan pemilihan pendekatan/

metodologi, ketelitian dan kelengkapan data/ informasi itu sendiri. Dalam

penelitian ini dipergunakan beberapa teknik pengumpulan data yakni

metode observasi, metode wawancara dan metode dokumentasi.

a. Metode Observasi

Menurut Emzir (2011 :37), Observasi atau pengamatan dapat

didefinisikan sebagai perhatian yang terfokus pada kejadian, gejala

atau sesuatu. Dengan melakukan pengamatan terhadap gejala yang

akan diteliti kemudian dijadikan bahan untuk mengumpulkan data

awal, serta mengumpulkan data yang lebih mendalam. Metode

observasi ini digunakan untuk mengamati secara langsung terhadap

proses/ atau tahapan dalam pelaksanaan tradisi punggahan dan

kupatan di Dusun krangkeng sari, Kelurahan Grogolan, Kecamatan


Karanggede, Kabupaten Boyolali pada Bulan Mei dan Juli Tahun

2014.

b. Metode Wawancara

Wawancara identik dengan pengumpulan data dengan bertanya

langsung, lisan maupun tertulis kepada narasumber. Menurut Hasan

(Emzir, 2011:50) wawancara adalah interaksi bahasa yang

berlangsung antara dua orang dalam situasi saling berhadapan salah

seorang, yaitu yang melakukan wawancara meminta informasi atau

ungkapan kepada orang yang diteliti yang berputar disekitar

pendapat dan keyakinannya. Ciri utamanya adalah kontak langsung

dengan tatap muka antara penulis dengan sumber informasi. Metode

wawancara digunakan untuk menggali informasi tentang bentuk

tradisi punggahan dan kupatan di Dusun Krangkeng Sari, Kelurahan

Grogolan, Kecamatan Karanggede, Kabupaten Boyolali.

c. Metode Dokumentasi

Dokumentasi adalah pengumpulan data berdasarkan catatan,

transkrip, buku, surat kabar, majalah, agenda dan buku-buku.

(Arikunto, 1993: 236). Metode ini digunakan untuk mengumpulkan

data yang diperoleh penulis dalam hal ini adalah berupa dokumen

dan buku-buku serta kumpulan dari beberapa pengamatan langsung

di lokasi penelitian yakni berupa foto- foto pelaksanan tradisi

punggahan dan kupatan.


6. Analisis Data

Menurut Bogdan dan biklen Analisis data kualitatif adalah upaya

yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data , mengorganisasikan

data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola,

mensistensiskanya mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang

pentingyang dapat dipelajari dan memutuskan apa yang dapat diceritakan

kepada orang lain ( Moleong, 2009:248).

Kegiatan analisis data selama pengumpulan data dapat dimulai

setelah peneliti memahami fenomena sosial yang sedang diteliti dan

setelah menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber yaitu

dari hasil wawancara, observasi, dokumen pribadi maupun resmi,

gambar, foto dll. Tentu tidak semua data dapat dipindah dalam laporan

penelitian, melainkan dianalisis dengan menggunakan analisis tertentu.

Menurut Moleong (2009, 247-257) menjelaskan langkah-langkah analisis

data kualitatif sebagai berikut:

a. Reduksi data

Pada tahap ini, peneliti melakukan abstraksi yakni usaha

membuat rangkuman data dari data penelitian yang tersedia dari

berbagai sumber yaitu wawancara, pengamatan lapangan, dan

dokumen sehingga dapat ditemukan hal-hal pokok penting dari fokus

penelitian.
b. Penyusunan satuan

Pada tahap ini dilakukan penyusunan hal-hal pokok yang

ditemukan kemudian menggolongkanya kedalam pola, unit, tema atau

kategori, sehingga tema utama dapat diketahui dengan mudah

kemudian diberi makna sesuai materi penelitian.

c. Kategorisasi

Pada tahap ini dilakukan pengkategorian dari tema utama yang

telah ditemukan termasuk melakukan koding, dengan cara

mengelompokkan tema- tema utama berdasarkan keterkaitan antara

satu tema dengan tema yang lain.

7. Pengecekan Keabsahan Data

Keabsahan data dalam penelitian ini ditentukan dalam

menggunakan Kriteria kreadibilitas. Hal ini dimaksudkan untuk

membuktikan bahwa apa yang berhasil dikumpilkan sesuai dengan

kenyataan yang ada dalam latar belakang penelitian. Menurut Moleong

(2009 :327) mengatakan, pemeriksaan keabsahan data yaitu:

a. Perpanjangan keikutsertaan

Sebagaimana di jelaskan sebelumnya, peneliti dalam penelitian

kualitatif adalah instrumen itu sendiri, keikutsertaan peneliti sangat

menentuan dalam pengumpulan data. Perpanjangan keikutsertaan

peneliti akan memungkinkan peningkatan derajat kepercayaan data

yang dikumpulkan.
b. Ketekunan pengamatan

Ketekunan pengamatan bertujuan untuk menemukan ciri-ciri

dan unsur-unsur dalam situasi yang sangat relevan dengan persoalan

atau isu yang sedang dicari kemudian memusatkan diri pada isu yang

di cari tersebut.

c. Triangulasi

Tringulasi adalah teknik pemeriksan keabsahan data yang

memanfaatkan sesuatun yang lain diluar data untuk keperluan

pengecekan atau sebagai data pembanding. Dengan kata lain, bahwa

dengan triangulasi, peneliti dapat me-recheck temuanya dengan jalan

membandingkan dengan berbagai sumber, metode atau teori. Untuk

itu peneliti dapat melakukannya dengan cara:

1) Mengajukan berbagai macam variasi pertanyaan

2) Mengeceknya dengan berbagai sumber data

3) Memanfatkan berbagai metode agar pengecekan kepercayaan dapat

dilakukan.

d. Pengecekan sejawat

Teknik ini dilakukan dengan cara menyampaikan hasil

sementara atau hasil akhir penelitian kepada rekan-rekan sejawat.

e. Kecukupan referensial

f. Kajian kasus negatif

Teknik analisis kasus negatif dilakukan dengan jalan

mengumpulkan contoh kasus yang tidak sesuai dengan pola dan


informasi yang telah dikumpulkan dan digunakan sebagai bahan

pembanding.

g. Pengecekan anggota

Pengecekan dengan anggota yang terlibat dalam proses

pengumpulan data sangat penting dalam pemeriksaan derajat

kepercayaan. Dalam hal ini pengecekan yang dilakukan dengan

anggota yang terlibat dalam pengumpulan data meliputi data, Kategori

analitis, penafsiran dan kesimpulan.

8. Tahap-tahap penelitian

Tahap- tahap penelitian yang digunakan oleh peneliti sebagai berikut:

a. Tahap pra lapangan

1) Mengajukan judul penelitian

2) Menyusun proposal penelitian

b. Konsultasi penelitian kepada pembimbing

c. Tahap pekerjaan lapangan, yang meliputi:

1) Persiapan diri untuk memasuki lapangan penelitian

2) Pengumpulan data atau informasi yang terkait dengan fokus

penelitian

3) Pencatatan data yang telah dikumpulkan

d. Tahap analisis data , meliputi kegiatan:

1) Penemuan hal- hal yang penting dari data penelitian

2) Pengecekan keabsahan data


e. Tahap penulisan laporan penelitian

1) Penulisan hasil penelitian

2) Konsultasi hasil penelitian kepada pembimbing

3) Perbaikan hasil konsultasi

4) Pengurusan kelengkapan persyaratan ujian

5) Ujian munaqosah skripsi

G. Sitematika Penulisan Skripsi

Sistematika dalam penulisan dpakai sebagai aturan yang saling terkai dan

saling melengkapi, adapun sitematika penulisan sebagai berikut:

BAB I : Pendahuluan, Terdiri dari Latar Belakang Masalah,

Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Kegunaan Penelitian,

Definisi oprasional, Metode Penelitian meliputi Metode

Pemilihan Subyek, Metode Pengumpulan Data, Metode

Analisa Data serta Sistematika Penulisan

BAB II : Kajian Pustaka

A. Tinjauan tentang Nilai Pendidikan Islam meliputi

Definisi Nilai dan Pendidikan Islam

B. Tinjauan tentang Tadisi Punggahan dan Kupatan

BAB III Hasil Penelitian, berisi ganbaran umum Desa Krangkeng

Sari, Keadaan Sosial Masyarakat, serta Tradisi Kupatan dan

Punggahan di Desa Krangkeng Sari


BAB IV Analisis Data. meliputi analisis tentang Nilai Pendidikan

Islam dalam Tradisi Punggahan dan Kupatan serta

Pembahasan

BAB V Penutup

Dalam hal ini akan disampaikan tentang kesimpulan dan

saran

Diakhiri dengan daftar pustaka, serta lampiran- lampiran yang dapat

mendukung penelitian ini.


BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Nilai-nilai Pendidikan Islam

1. Pengertian Nilai

Menurut Milton Rokeach James Bank Nilai adalah suatu sistem

kepercayaan yang berada dalam ruang lingkup sisitem dalam seseorang

bertindak atau menghindari suatu tindakan, atau mengenai suatu yang

pantas atau tidak pantas dikerjakan.(Thoha, 1996: 60)

Sedangkan Pepper mendifinisikan nilai sebagai segala sesuatu

tentang yang baik atau yang buruk (Sulaiman, 1995:19).

Jadi pengertian nilai adalah suatu keyakinan yang menjadikan

seseorang melakukan atau menghindari sesuatu yang baik dan yang

buruk.

2. Ciri-Ciri Nilai

Ciri-ciri nilai menurut Bambang Daroeso (1986:20) adalah

sebagai berikut:

1) Nilai itu suatu realitas abstrak dan dalam kehidpan manusia. Nilai

yang bersifat abstrak tidak dapat di indra, yang bisa diamati

hanyalah objeknya. Misalnya, orang yang memiliki kejujuran.

Kejujuran adalah nilai, tetapimkita tidak bisa mengindra kejujuran

itu.
2) Nilai memiliki sifat normatif, artinya nilai mengandung harapan

dan suatu keharusan sehingga nilai memiliki sifat ideal ( das

sollen).

3) Nilai berfungsi sebagai daya dorong / motivator dan manusia

adakah pendudukung nilai. Manusia dalam tindakan dan tingkah

laku peruatanya digerakkan oleh nilai yang diyakininya. Misalnya,

nilai ketaqwaan. Adanya nilai ini menjadikan semua orang

terdorong untuk bisa mencapai derajat ketaqwaan.

3. Macam-Macam Nilai

Nilai dapat dilihat dari beberapa sudut pandang, diantaranya:

1) Dilihat dari segi kebutuhan hidup manusia, nilai menurut Abraham

Maslaw dapat dikelompokkan menjadi:

a. Nilai biologis

b. Nilai keamanan

c. Nilai cinta kasih

d. Nilai harga diri

e. Nilai jati diri

Kelima nilai tersebut berkembang sesuai kebutuhan yakni akan

tuntutan fisik biologis, keamanan, cinta kasih, harga diri dan yang

terahkir kebutuhan jati diri (Thoha, 1996: 63)

2) Dilihat dari kemampuan jiwa manusia untuk menangkap dan

mengembangkan nilai menurut Noeng Muhadjir dapat

dikelompokkan menjadi dua yaitu:


a. Nilai yang statik, misalnya kognisi, emosi, psikomotor.

b. Nilai yang bersifat dinamis, seperti motifasi berprestasi,

motivasi berafiliasi, motifasi berkuasa.Thoha (1996 :63)

3) Dilihat dari sumbernya

Menurut Muhaimin (1993: 111), sumber nilai yang berlaku dalam

kehidupan manusia di golongkan menjadi dua macam yaitu:

a. Nilai ilahi

Nilai yang dititahkan tuhan melalui para rasul-Nya, yang

berbentuk taqwa, iman, adil yang diabadikan dalam wahyu

ilahi. Religi ( agama ) merupakan sumber yang pertama dan

utama bagi para penganutnya, dari agama inilah manusia

menyebarkan nilai-nilai untuk diaktualisasikan dalam

kehidupan sehari-hari.

b. Nilai insani

Nilai insani yaitu nilai yang tumbuh atas kesepakatan manusia,

serta hidup dan berkembang dalam kehidupan manusia. Nilai

insani ini bersifat dinamis, sedangkan keberlakuan dan

kebenaranya bersifat relatif (nisbi) yang dibatasi oleh ruang

dan waktu .

4) Dilihat dari sifatnya

Menurut Thoha (1996: 64), dilihat dari sifatnya nilai dapat di

golongkan menjadi tiga, yaitu:


a. Nilai-nilai subjektif

Nilai yang merupakan reaksi subjek terhadap objek, sehingga

nilai ini sangat tergantung kepada pengalaman subjek tersebut.

b. Nilai-nilai objektif rasional (logis)

Nilai-nilai yang merupakan esensi dari objek secara logis yang

dapat diketahui oleh akal sehat. Seperti nilai kemerdekaan,

setiap orang memiliki hak untuk merdeka, kemudian nilai

kesehatan, nilai keselamatan badan dan jiwa, nilai perdamaian

dan sebagainya.

c. Nilai-nilai objektif metafisik

Nilai-nilai yang mampu menyusun kenyataan objektif,

misalnya nilai-nilai agama.

5) Dilihat dari wujudnya

Menurut Muhaimin (1993: 116), nilai yang dilihat berdasarkan

wujudnya dibagi menjadi dua yaitu:

a. Nilai formal

Nilai formal yaitu nilai yang tidak ada wujudnya, tetapi

memiliki bentuk, lambang, serta simbol-simbol. Nilai ini

dibagi menjadi dua macam yaitu : 1. Nilai sendiri, seperti

sebutan “bapak lurah” untuk seseorang yang memangku

jabatan lurah. 2 .Nilai turunan, seprti sebutan “ibu lurah” bagi

seseorang yang menjadi istri pemangku jabatan lurah.


b. Nilai material

Nilai material yaitu nilai yang berwujud dalam kenyataan

pengalaman, rohani dan jasmani. Nilai ini dibagi menjadi dua

macam yaitu : 1. Nilai rohani, nilai rohani ini terdiri atas nilai

logika, nilai estetika, nilai etika, dan nilai religi. 2. Nilai

jasmani atau panca indra, nilai ini terdiri atas nilai hidup, nilai

nikmat dan nilai agama. (Muhaimin, 1993: 116)

4. Pengertian Pendidikam Islam

Pendidikan Islam adalah segala usaha untuk memelihara dan

mengembangkan fitrah manusia serta sumber daya manusia yang ada

pandangan menuju terbentuknya manusia seutuhnya (insan kamil)

sesuai norma Islam (Achmadi, 2005:28).

Manusia telah menjadi manusia seutuhnya ( insan kamil) apabila

dalam pribadinya telah menyakini dengan sepenuh hati tentang keesaan

Allah, menjalankan segala perintahnya, menjauhi segala larangannya

serta mampu berbuat baik terhadap sesama manusia serta alam sekitar.

Menurut Djumransah(2007: 19-20) pengertian pendidikan Islam

adalah:

a. Pendidikan Islam adalah usaha bimbingan ditujukan untuk

mencapai keseimbangan pertumbuhan jasmani dan rohani menurut

ajaran Islam.

b. Pendidikan Islam adalah suatu usaha untuk mengarahkan dan

mengubah tingkah laku individu untuk mencapai pertumbuhan


kepribadian yang sesuai dengan ajaran Islam dalam proses

pendidika dalam proses latihan-latihan, akal pikiran (kecerdasan),

kejiwaan, keyakinan, kemauan, dan perasaan serta pancaindera

dalam seluruh aspek kehidupan manusia

c. Bimbingan secara sadar dan terus menerus yang sesuai dengan

kemampuan dasar (fitrah) dan kemampuan ajarannya (pengaruh

dari luar), bak secara individual maupun kelompok sehingga

manusia mampu memahami, dan mengamalkan ajaran islam secara

utuh dan benar. Ajaran Islam secara utuh meliputi: aqidah

(keimanan), syariah (ibadah, muamalah), dan akhlak (budi pekerti).

Disamping itu untuk mempermudah dalam memahami

pendidikan Islam, maka akan lebih baik kita memahami makna Islam

itu sendiri, sebagai agama yang memberi warna pada sebuah peradaban

manusia, yang mana salah satu buah dari peradabannya adalah

pendidikan.

Kata ‘Islam’ yang bersumber dari Al-Qur’an memiliki banyak

pengertian, di antaranya:

1) “Silmi” artinya damai (perdamaian)

2) “Salaamun” artinya selamat (keselamatan)

3) “Taslim” artinya serah (penyerahan) diri kepada Allah

4) “Sullam” artinya tanggan/jenjang, yakni naik untuk mencapai

kemuliaan dunia akhirat (Muhyidin, 1981: 5)


Islam juga dapat diartikan sebagai undang-undang tuhan yang

menuntun orang-orang yang berakal dengan ikhtiar mereka yang terpuji

kearah perbaikan taraf hidup mereka di dunia dan di akhirat (Muhyidin,

1981: 7)

Dengan demikian, pengertian pendidikan Islam seagaimana

dirumuskan berdasarkan pengertian Islam di atas adalah suatu usaha

untuk mengarahkan dan mengubah tingkah laku individu untuk

mencapai pertumbuhan kepribadian yang sesuai dengan ajaran Islam,

sehingga akan bahagia baik di dunia dan juga di akhirat kelak.

5. Landasan Pendidikan Islam

Setiap usaha, kegiatan dan tindakan untuk mencapai suatu

tujuan tentunya harus mempuyai landasan atau tempat berpijak yang

baik dan kuat. Demikian pula pendidikan Islam sebagai usaha untuk

membentuk manusia menjadi manusia seutuhnya (insan kamil),

haruslah mempunyai sebuah landasan yang digunakan dalam

melaksanakan setiap kegiatan.

Menurut Daradjat (2011: 19-24), landasan pendidikan Islam

adalah bersumber pada Al-Qur’an, As –sunnah dan Ijtihad.

a. Al-Qur’an

Al-Qur’an ialah firman Allah berupa wahyu yang

disampaikan oleh Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW.

Di dalamnya terkandung ajaran pokok yang dapat dikembangkan

untuk seluruh aspek kehidupan melalui sebuah Ijtihad. Ajaran yang


terkandung dalam Al-Qur’an dibagi menjadi dua, yakni sesuatu

yang berhubungan dengan masalah keimanan yang disebut Aqidah,

dan yang berhubungan dengan amal yang disebut Syariah.Ajaran-

ajaran yang berhubungan dengan iman tidak tidak banyak

dibicarakan dalam Al-Qur’an, yang banyak dibicarakan dalam AL-

Qur’an adalah yang berkaitan dengan amal perbuatan. Hal ini

menunjukkan bahwa amal itulah yang banyak dilaksanakan, sebab

semua amal perbuatan manusia dalam hubunganya dengan Allah,

dengan dirinya sendiri, sesama manusia (masyarakat), dengan alam

dan lingkungannya, kesemuanya itu adalah termasuk dalam ruang

lingkup amal shaleh (syari’ah). Istilah-istilah yang biasa digunakan

dalam membicarakan ilmu syari’ah ini ialahsebagai berikut:

1) Ibadah

Yaitu istilah yang digunakan untuk perbuatan yang

berhubungan dengan Allah.

2) Mu’amalah

Yaitu istilah yang digunakan untuk perbuatan yang

berhubungan selain dengan Allah.

3) Akhlak

Yaitu istilah yang digunakan untuk perbuatan yang

menyangkut etika dan budi pekerti dalam pergaulan.


Pendidikan Islam harus menggunakan Al-Qur’an sebagai

sumber utama dalam merumuskan sebuah teori tentang pendidikan

islam, artinya pendidikan islam harus berlandaskan ayat-ayat Al-

Qur’an yang penafsiranya dapat dilakukan berdasarkan Ijtihad yang

disesuaikan dengan kondisi yang ada

b. As-Sunah

As-Sunah adalah segala perkataan, perbuatan ataupun

pengakuan dari Rasulullah SAW. Yang dimaksud pengakuan

adalah perbuatan atau kejadian aorang lain yang diketahui

Rasulullah dan beliau membiarkan perbuatan atau kejadian tersebut

berlangsung. Sunah merupakan sumber hukum kedua sesudah Al-

Qur’an. Seperti Al-Qur’an, sunah juga berisi akidah dan syari’ah.

Sunah berisi petunjuk (pedoman) untuk kemaslahatan hidup

manusia dalam segala aspek, untuk membina umat menjadi

manusia seutuhnya atau muslim yang bertakwa. (Daradjat, 2011:

20).

Beberapa usaha yang dilakukan oleh Nabi Muhammad

SAW dalam pendidikan islam dapat diketahui melalui beberapa

hal, diantaranya:

1) Nabi Muhammad menggunakan rumah Arkam bin Abi Arqam

sebagai pusat kegiatan pendidikan dimana Nabi mengajarkan

kaidah-kaidah Islam dan membacakan ayat-ayat Al-Qur’an.


2) Nabi telah menugaskan orang –orang tawanan dari kaum

Quraish Makkah dalam peperangan badar yang tahu tentang

baca tulis agar mengajarkan anak-anak muslim membaca dan

menulis sebagai tebusan dari kebebesan mereka dari tawanan.

3) Nabi mengutus para sahabat untuk pergi ke daerah-daerah

yang baru masuk Islam, dalam rangka menyampaikan dakwah

Islamiyah (Djumransjah, 2007:55)

Oleh karena itu Sunah merupakan landasan kedua untuk

melakukan pembinaan pribadi seorang muslim, Sunah tidak

menutup kemungkinan penafsirannya selalu berkembang, untuk itu

mengapa Ijtihad sangatlah perlu dilakukan untuk memahami Sunah

termasuk diantaranya Sunah yang berkaitan dengan pendidikan.

c. Ijtihad

Ijtihad adalah istilah para fuqaha, yaitu berfikir dengan

menggunakan seluruh ilmu yang dimiliki oleh ilmuan syari’at

Islam, untuk menetapkan atau menentukan sesuatu hukum syariat

Islam dalam hal-hal yang ternyata belum ditegaskan hukumnya

dalam Al-Qur’an dan Sunah. Ijtihad ini dapat meliputi seluruh

aspek kehidupan termasuk diantaranya aspek pendidikan, namun

tentunya Ijtihad ini tetap berpedoman pada Al-Qur’an dan Sunah.

Ijtihad haruslah mengikuti kaidah-kaidah yang diatur oleh para

mujtahid, serta tidak boleh bertentangan dengan isi Al-Qur’an dan

Sunah tersebut. Karena itu Ijtihad dipandang sebagai salah satu


sumber hukum Islam yang sangat dibutuhkan sepanjang masa

setelah Rasulullah wafat. Sasaran Ijtihad adalah segala sesuatu

yang diperlukan dalam kehidupan. Ijtihad dalam pendidikan dalam

pendidikan sejalan dengan perkembangan zaman, yakni mencakup

pada bidang materi atau isi dan sistemnya (Daradjat, 2011: 21) .

Ijtihad dalam pendidikan harus tetap bersumber dari Al-

Qur’an dan Sunah yang diolah oleh akal yang sehat dari para ahli

pendidikan islam. Ijtihad tersebut haruslah dalam hal-hal yang

berhubungan langsung dengan kebutuhan hidup pada suatu tempat

pada kondisi dan situasi tertentu. Teori- teori pendidikan baru hasil

Ijtihad, harus dikaitkan dengan ajaran islam dan kebutuhan hidup.

6. Ciri-ciri Substansi Pendidikan Islam

a. Pendidikan keimanan

Sesungguhnya esensi pendidikan Islam adalah pendidikan

ketuhanan, yakni terbentuknya ikatan yang kuat antara seorang

hamba dengan Allah SWT penguasa yang kekal.

Di dalam al-Qur’an, kita dapat menemukan banyak ayat Al-

Qur’an yang mengajak kepada keimanan, sebagaimana firman

Allah SWT dalam suratAl-Baqarah ayat 1-5 :

            

       

           
         

 
Artinya : Alif laam miin. 2. Kitab (Al Quran) Ini tidak ada
keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa. 3. (yaitu)
mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat,
dan menafkahkan sebahagian rezki yang kami anugerahkan kepada
mereka. 4. Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran)
yang telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang Telah
diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya
(kehidupan) akhirat. 5. Mereka itulah yang tetap mendapat
petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang
beruntung.

b. Pendidikan amaliyah

Sesungguhnya pendidikan islam telah menegaskan tentang

aspek amaliyah, karena pengaruhnya yang sangat penting dalam

kehidupan di dunia , serta membawa manfaat, kebaikan dan

kebahagiaan bagi individu dan masyarakat. Amal shaleh

merupakan pintu masuk kedalam substansi pendidikan Islam, di

samping merupakan buah utama dari ilmu yang benar, akhlak yang

benar dan pendidikan sosial kemasyarakatan yang dapat

dipertanggungjawabkan

c. Pendidikan ilmiah

Sesungguhnya diantara substansi paling penting dalam

pendidikan Islam adalah berbagai macam ilmu pengetahuan,

dimulai dari membaca dan menulis, sebagaimana firman Allah

SWT : al- alaq 1-5 :


           

           



Artinya : Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang


Menciptakan. 2. Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal
darah. 3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah. 4. Yang
mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. 5. Dia mengajar
kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

d. Pendidikan akhlaq

Akhlaq adalah buahnya Islam yang diperuntuhkan bagi

seorang individu dan umat manusia, akhlaq menjadikan kehidupan

ini menjadi manis dan elok. Tanpa akhlaq, yang merupakan kaidah-

kaidah kejiwaan dan sosial bagi individu dan masyarakat, maka

kehidupan manusia tidak berbeda dengan kehidupan hewan.

e. Pendidikan sosial kemasyarakatan

Allah SWT sebagai Dzat pencipta dan sembahan manusia,

dan Islam sebagai rahmat lil ‘alamin tidak datang hanya utuk satu

individu atau masyarakat tertentu, tetapai untuk seluruh umat

manusia di setiap masa dan tempat. Islam senantiasa memusatkan

perhatiannya pada pengembangan tradisi sosial yang benar bagi

individu, menanamkannya perasaan dan kesadaran sebagai

keluarga dan anggota masyarakat , individu dari masyarakat dunia

yang luas . (Hafidz, 2009: 68-124)


7. Tujuan Pendidikan Islam

Pendidikan islam diharapkan mampu menghasilkan manusia

yang bermanfaat bagi dirinya dan masyarakat, senang dan gemar

mengamalkan dan mengembangkan ajaran Islam dalam berhubungan

dengan Allah dan sesama manusia, serta dapat mengambil manfaat dari

apa yang Allah sediakan di alam semesta ini untuk kepentingan hidup

di dunia dan di akhirat nanti (Daradjat, 2011: 29).

Menurut Al Ghazali tujuan pendidikan Islam adalah

kesempurnaan manusia yang berujung taqarrub kepada allah dan

kesempurnaan yang berujung kebahagiaan dunia dan kesentosaan

akhirat (Supriyanto, 2001: 40).

Menurut Thoha (1996: 100), Pendidikan Islam juga bertujuan

untuk mengembangkan potensi-potensi, baik jasmani maupun rahani,

emosional maupun intelektual serta keterampilan agar manusia mampu

mengatasi problema hidup secara mandiri serta sadar bahwa manusia

dapat hidup secara bebas. Sehingga nantinya dapat bertanggung jawab

terhadap dirisendiri dan masyarakat serta dapat

mempertanggungjawabkan amal perbuatanya di hadapan Allah SWT.

Begitu halnya menurur Al-Syaibani, yakni salah satu tokoh

pendidikan Islam, bahwa tujuan pendidikan Islam berkaitan dengan

beberapa hal, yaitu:

a. Tujuan yang berkaitan dengan individu, yakni mencakup

perubahan yang berupa pengetahuan, tingkah laku, jasmani dan


rohani, dan kemampuan-kemampuan yang harus dimiliki untuk

hidup di dunia dandi akhirat.

b. Tujuan yang berkaitan dengan masyarakat, yakni mencakup

tingkah laku masyarakat, tingkah laku individu dalam masyarakat,

perubahan kehidupan dalam masyarakat, memperkaya pengalaman

masyarakat.

c. Tujuan profesional yang berkaitan dengan pendidikan dan

pengajaran sebagai ilmu, sebagai seni, sebagai profesi, dan sebagai

kegiatan masyarakat (Tafsir, 1994:49).

Jadi, pendidikan Islam bertujuan untuk mencetak insan yang

berakhlah mulia dan berguna bagi sesama dengan mengoptimalkan

potensi yang dimiliki yang telah di karuniakan Allah kepadanya, agar ia

selalu bahagia baik didunia maupun di akhirat kelak

8. Prinsip-Prinsip Pendidikan Islam

Menurut Roqib (2009 : 32), bahwa sesungguhnya tujuan

pendidikan Islam tidak bisa terlepas dari prinsip-prinsip pendidikan

yang bersumber dari nilai-ailai Al-Qur’an dan As-Sunah. Dalam hal ini

ada lima prinsip pendidikan dalam Al-Qur’an, yaitu :

a. Prinsip integrasi (tauhid)

Prinsip ini memandang adanya wujud kesatuan dunia dan

akhirat oleh karena itu, pendidikan akan meletakkan porsi yang

seimbang untuk mencapai kebahagiaan di dunia sekaligus di

akhirat.
b. Prinsip keseimbangan

Prinsip ini merupakan konsekuensi dari prinsip integrasi.

Keseimbangan yang proposional antara muatan rohaniah dan

jasmaniah, antara ilmu murni dan ilmu terapan, antara teoritik dan

praktik dan antara nilai yang menyangkut aqidah, syari`at dan

akhlak.

c. Prinsip persamaan dan pembebasan

Prinsip ini dikembangkan dari nilai tauhid bahwa tuhan

adalah Esa. Oleh karena itu setiap individu dan bahkan semua

mahluk hidup diciptakan oleh pencipta yang sama (Allah SWT).

Pendidikan Islam adalah satu upaya ntuk membebaskan manusia

dari belenggu nafsu dunia menuju pada nilai tauhid yang bersih dan

mulia.

d. Prinsip kontinuitas dan berkelanjutan (istiqamah)

Prinsip ini dikenal konsep pendidikan seumur hidup (life

long education) sebab di dalam Islam, belajar adalah satu

kewajiban yang tidak pernah dan tidak boleh berakhir. Seruan

membaca yang ada dalam Al-Qur’an merupakan perintah yang

tidak mengenal batas waktu. Dengan menuntut ilmu secara kontinu

dan terus menerus, diharapkan akan muncul kesadaran pada diri

manusia akan diri dan lingkungannya serta yang paling penting

adalah kesadaran akan tuhannya yakni Allah SWT.


e. Prinsip kemaslahatan dan keutamaan

Jika ruh tauhid telah berkembang dalam sistem moral dan

akhlak seseorang dengan kebersihan hati dan kepercayaan yang

jauh dari kotoran maka ia akan memiliki daya juang untuk

membela hal-hal yang maslahat atau berguna bagi kehidupan.

Dengan demikian, berkaitan dengan prinsip pendidikan Islam

yang telah dijabarkan diatas, haruslah diaplikasikan dalam kehidupan

orang-orang muslim, terutama dalam dunia pendidikan, baik pendidikan

dalam keluarga, sekolah, maupun masyarakat .

B. Tradisi Punggahan dan Kupatan

1. Agama di Jawa

Para pengamat dan peneliti telah membuktikan bahwa orang

jawa memiliki kepercayaan yang beragam. Menurut catatan Van Hien

ketika Islam masuk di pulau jawa, kepercayaan yang dianut

masyarakat Jawa terbagi dalam beberapa sekte, seperti sekte Hindu,

Brahmana dan Budha. Perbedaan sekte tersebut memang berasal dari

perbedaan yang ada di negeri asal mereka yaitu India, dan kedatangan

Islam tidak merubah keseluruhan keyakinan mereka walaupu secara

formal mereka telah berpindah ke agama Islam ( Khalil, 2008: 47).

Secara sosial-ekonomi masyarakat Jawa dibedakan dalam dua

golongan: 1) wong cilik (orang kecil) yaitu sebagian besar petani dan

mereka yang berpendapatan rendah dan, 2) kaum priyayi yaitu


golongan pegawai dan orang orang yang dianggap berpendidikan

(kaum intelektual). Sementara itu atas dasar sosial-keagamaan

masyarakat Jawa dikelompokkan ke dalam dua kelompok yang

keduanya secara formal Islam, yaitu golongan santri dan abangan.

Santri adalah orang yang memahami dirinya sebagai orang Islam

yang berusaha memenuhi kualitas hidupnya sesuai ajaran Islam,

sedangkan abangan (kejawen) adalah orang yang dalam

kehidupannya lebih diwarnai oleh keyakinan dan tradisi pra-Islam.

Oleh karena itu, Menurut Profesor Veth, penganut Islam yang

merupakan golongan terbesar di pulau Jawa tidak seluruhnya

memeluk agama Islam secara murni. Veth mengklasifikasikan

penganut Islam dalam empat kelompok: 1) penganut Islam yang

masih memegang kepercayaan Brahmana dan Budha, 2) penganut

Islam yang memiliki kepercayaan magik dan dualisme, 3) penganut

Islam yang memiliki kepercayaan Animisme, dan 4) penganut Islam

yang memegang ajaran Islam secara murni. Menurut Veth ketiga

kelompok yang pertama diklasifikasikan kedalam penganut kejawen. (

Khalil, 2008: 48- 49).

2. Proses Islamisasi di Jawa

Pola Islamisasi di Jawa mempunyai karakteristik tersendiri,

Islam dihadapkan dengan kekuatan budaya yang berkembang sangat

kompleks, halus dan rumit yang merupakan penyerapan unsur-unsur


budaya Hinduisme-Budhisme yang masih dipertahankan oleh

masyarakat (khalil, 2008: 78).

Proses Islamisasi di pulau Jawa tidak bisa terlepas dari peran

sembilan wali, masyarakat Jawa menyebut kesembilan wali ini dengan

sebutan walisongo. Walisongo dikenal sebagai penyebar agama Islam

di tanah jawa pada abad ke 17, mereka tinggal diwilayah penting

pantai utara pulau Jawa yaitu Surabaya-Gresik-Lamongan di Jawa

Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, serta Cirebon di Jawa

Barat. Para walisongo Pengaruhnya amat besar dalam beragam bentuk

manifestasi peradaban baru masyarakat Jawa, mulai dari kesehatan,

bercocok tanam, perniagaan, kebudayaan, kesenian, kemasyarakatan,

hingga kepemerintahan. Meskipun perbedaan pendapat mengenai

siapa saja yang termasuk sebagai walisongo, pada umumnya terdapat

sembilan nama yang dikenal sebagai walisongo, yaitu:

a. Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim

b. Sunan Ampel atau Raden Rahmat

c. Sunan Bonang atau Raden Makhdum Ibrahim

d. Sunan Drajat atau Raden Qasim

e. Sunan Kudus atau Jafar Shadik

f. Sunan Giri atau Raden Paku atau Ainul Yaqin

g. Sunan Kali Jaga atau Raden Said

h. Sunan Muria atau Raden Umar Said


i. Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah (wasino, 2007: 16-

18).

Sebelum Islam datang, Animisme-Dinamisme merupakan akar

budaya asli Indonesia terutama di Jawa, dikarenakan pengaruh budaya

Hindu-Budha dalam kurun waktu yang lama sehingga di Jawa

mengalami proses Hindunisasi. Ketika Islam datang, proses masuknya

Islam sendiri berlangsung secara damai tanpa adanya kekerasan,

sehingga agama Islam dapat diterima oleh masyarakat Jawa yang

sebelumnya menganut agama Hindu dan Budha. Hal ini dikarenakan

metode yang dipakai oleh para walisongo dalam berdakwah

menggunakan metode yang sangat lentur, yakni dalam menggunakan

unsur-unsur budaya lama (Hinduisme dan Budhisme), kemudian

secara berangsur-ansur kedua budaya tersebut telah mengalami

Islamisasi. Diantara cara-cara yang digunakan para walisongo untuk

proses Islamisasi tradisi lama (Hindu-Budha), antara lain sebagai

berikut:

a. Menjaga, memelihara (keping) upacara-upacara, tradisi-tradisi

lama. Contoh: menerima upacara tingkeban, mitoni, mitung dino,

dan sebagainya

b. Menambah (addition) upacara-upacara, tradisi-tradisi lama

dengan tradisi baru. Misalnya, menambah perkawinan Jawa

dengan akad ningkah secara Islam.


c. Menginterpretasikan tradisi lama ke arah pengertian yang baru

(modification) terhadap budaya lama. Misalnya, wayang

disamping sebagai sarana hiburan namun juga sebagai sarana

pendidikan.

d. Menurunkan tingkatan status atau kondisi sesuatu (devaluation)

dari budaya lama. Misalnya, satus dewa dalam wayang

diturunkan derajatnya dan diganti dengan Allah.

e. Mengganti (exchange) sebagian unsur lama dalam suatu tradisi

dengan unsur baru. Misalnya, selamatan kenduren motivasinya

diganti

f. Mengganti secara keseluruhan (subtitution) tradisi lama dengan

tradisi baru. Misalnya, sembahyang di kuil di ganti dengan

sembahyang di masjid/ mushola.

g. Menciptakan tradisi, upacara baru (creation of new ritual) dengan

menggunakan unsur lama. Contohnya: penciptaan gamelan dan

upacara sekaten. (Wasino, 2007: 39-41).

Proses tranmisi Islam pada masyarakat Jawa, corak keislaman

yang berbeda yakni Islam Jawa. Islam Jawa merupakan hasil

persentuhan antara Islam dengan budaya lokal (jawa). Puncak dari

kejayaan Islam Jawa, ketika pada masa Sultan Agung (1613-1645)

berhasil merubah perhitungan tahun Saka yang berdasarkan pada

perjalanan matahari, menjadi tahun Jawa yang disesuaikan dengan

Tahun Hijriyah yang berdasarkan perjalanan Bulan. Nama-nama


Bulan dan Hari juga disesuaikan dengan perhitingan Bulan dan Hari

Hijriyah, sehingga menhhasilkan bulan suro, sapar, mulud, dan

seterusnya, serta menghasilkan hari senin wage, selasa kliwon, rabu

legi dan sebagainya (Wasino, 2007: 41-42).

Usaha lain terkait dengan Islamisasi agama dan budaya di

Jawa yang dilakukan oleh kalangan elit muslim Jawa adalah gerakan

pembaharuan dan pemurnian . gerakan yang berusaha mewarnai

budaya dan ajaran masyarakat Jawa dengan mengubah tradisi Jawa

menjadi tradisi Islam, misalnya tradisi semedi berubah menjadi shalat

wajib, tradisi sesaji berubah menjadi sedekah, dan tradisi ritual

seputara cara perkawinan berubah dengan cara mengadakan tradisi

walimatu al-‘urs. Selain pendekatan diatas, pendekatan lain yang tidak

kalah menariknya adalah pendekatan seni, baik seni wayang dengan

ragam jenisnya, seni kentrung, rebana, sinteren, dan jaranan yang

belum pernah ditemikan pada era-era sebelumnya. Melalui pendekatan

ini, para walipun berusaha membahasakan ritme seni itu senantiasa

memiliki relevansi bagi upaya menciptakan pola komunikasi dengan

tuhan dan sesama. Dengan demikian media seni merupakan media

untuk memahamkan dan menyadarkan masyarakat akan

ketergantungan kepada Allah SWT, dan ketergantungan yang saling

membutuhkan antar sesama. Pendekatan total ini yang dilakukan oleh

pelopor keagamaan, ketika emosi dan nalar keagamaan masyarakat

jawa telah larut jauh terhadap emosi dan nalar keagamaan para elit
muslim tersebut. Suatu perubahan yang sarat dengan pembacaan dan

perhitungan konteks serta situasi dan kondisi kulturalnya (Roibin,

2009:154).

3. Tradisi Punggahan

a. Pengertian Punggahan

Punggahan yaitu suatu tradisi yang diselenggarakan pada

akhir bulan ruwah, yang berfungsi untuk mengantarkan arwah

munggah (naik kembali ke asalnya) pada esok hari (Moertjipto,

1995: 23)

Punggahan secara etimologi berasal dari kata unggah

(bahasa Sunda), yang berarti “naik ke tempat yang tinggi atau

pindah dari satu tempat ke tempat yang lain”. Jadi, punggahan

dimaknai sebagai penyambutan bulan yang dihormati, yang mana

bulan tersebut merupakan wadah untuk meningkatkan kerohanian

dan berpindah dari sebelas bulan yang telah dijalani kepada bulan

Ramadhan sebagai ungkapan kegembiraan karena dapat kembali

bergabung dengan bulan yang amat dinantikan oleh umat Islam.

Kegiatan punggahan yang telah menjadi tradisi umat Islam di

negeri ini, adalah ungkapan kegembiraan dan kesyukuran atas

datangnya bulan yang penuh rahmat dan berkah, yang sama sekali

tidak pernah dilarang untuk bergembira menyambutnya selama

kegembiraan tersebut tidak bercampur aduk dengan kemaksiatan,

khurafat, dan berlebihan dalam memaknai kegembiraan dan


kesyukuran tersebut. Kegembiraan atas datangnya rahmat Allah

SWT, karunia-Nya, dianjurkan oleh Allah SWT, sebagaimana

firman-NYA (QS. Yunus : 58)

Artinya: Katakanlah, "Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya,


hendaklah dengan itu mereka bergembira. kurnia Allah dan
rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka
kumpulkan".

(http://waspadamedan.com/index.php?option=com_content&view

=article&id=13224:tradisi-punggahan-menurut-

islam&catid=61:mimbar-jumat&Itemid=230, diakses pada

tanggal 1 oktober 2014 pukul 12:35 WIB)

b. Simbol atau Makna yang Terkandung dalam Tradisi

Punggahan

Tradisi punggahan yang dilaksanakan pada Bulan Ruwah

yaitu kebiasaan masyarakat Jawa sebagai wujud rasa suka cita

dalam menyambut Bulan Ramadhan, memiliki simbol-simbol

atau makna yang dapat ditafsirkan sebagai berikut :

1) Kolak berasal dari kata Kholako, yang artinya menciptakan

menjadi Kholiq atau sang Maha pencipta. Tafsirnya adalah

pada bulan Syaban atau Ruwah, Umat Islam harus banyak

mengingat kepada Allah SWT. Karna pada bulan ruwah

Allah SWT Tuhan menurunkan Kodrat Irodat tentang takdir

setahun mendatang. Termasuk menentukan nama manusia


yang akan meninggal antara tanggal 15 Syaban tahun itu

sampai tanggal 14 Syaban tahun berikutnya.

2) Apem berasal dari kata afuan, yang artinya ampunan, maaf.

Tafsirnya adalah umat Islam harus banyak memohon

ampunan kepada Allah SWT antara lain dengan banyak

membaca istighfar sehingga ketika memasuki Bulan

Ramadhan sudah dalam keadan suci.

3) Ketan berasal dari kata Khoto’an. Yang artinya suci, putih,

bersih, jadi setelah ingat sang Kholik kemudian memohon

ampunan maka kita akan kembali menjadi bersih

mengingatkan menyambut Ramadhan.

4) Gedang berasal dari kata ghodan. Yang artinya esok hari

atau waktu mendatang, jadi setelah bertaubat dan memohon

maaf, maka telah tiba waktu ''esok hari'' nya untuk kita

memulai 'ibadah di bulan yang penuh berkah yakni Bulan

Ramadhan.

(http://gadingpermai.org/berita-253-penghayatan-arti-ruwahan--

punggahan.html, diakses pada tanggal 1 oktober 2014 pukul

12:50 WIB)

4. Tradisi Kupatan

a. Pengertian Kupatan

Menurut Moerjipto (1995: 24), pada tanggal 30 bulan

puasa, yakni 1 malam menjelang Bulan Sawal, sebagian


masyarakat Jawa menyelenggarakan selamatan kupat (kupat

luwar) yang bertujuan untuk ngluwari dosa atau kesalahan.

Menurut Clifford Geertz, dalam bukunya yang berjudul

“Abangan, Santri, Priyayi Dalam Masyarakat Jawa” , kupatan

yaitu tradisi yang dilaksanakan pada Bulan Sawal, yang dilakukan

oleh masyarakat yang memiliki anak kecil yang telah meninggal.

Dalam bahasa Jawa ketupat memiliki arti telu ( tiga ) dan

empat. Hal ini mengarah pada aturan agama / rukun Islam ketiga

dan keempat, yaitu puasa dan zakat yang dilakukan umat Islam

dibulan Ramadhan (Boyolali.com/lebaran ketupat, diakses pada

tanggal 1 oktober 2014 pukul 12:20 WIB).

Tradisi Bodho kupat/Bodho Syawal/kupatan/ merupakan

tradisi yang biasa dilakukan oleh masyarakat Jawa pada hari ke 8

setelah hari raya Idul Fitri, yakni tradisi membuat ketupat

kemudian masyarakat ramai-ramai membawa ketupat masing-

masing dan berdoa bersama di Musholla atau Masjid.

(http://karysmafm.com/web/wisata-dan-kuliner/masyarakat-

kedesen-masih-nguri-uri-tradisi-kupatan.html, diakses pada

tanggal 1 oktober 2014 pukul 13:00 WIB)

Dalam tradisi Jawa, hari raya setelah Bulan Ramadhan

atau biasa disebut dengan sebutan Bhada atau Riyaya itu ada dua

macam, yaitu: Bhada lebaran dan bhada kupat. Kata Bhada di

ambil dari bahasa Arab “ba’da” yang artinya : sudah. Sedangkan


riyoyo berasal dari bahasa Indonesia “ria” yang artinya riang

gembira atau suka cita. Selanjtnya kata “lebaran” berasal dari akar

kata lebar yang berarti selesai. Maksud kata lebar di sini adalah

sudah selesainya pelaksanaan Ibadah puasa dan memasuki Bulan

Sawal atau Idul Fitri. Relevansinya, hari ini di sebut “riyaya”

karena umat Islam merasa bersuka cita sebagai ekspresi

kegembiraan mereka lantaran menyandang predikat kembali

kefitrah atau asal kesucian. http://ahlussunah-wal-

jamaah.blogspot.com/2011/08/tradisi-kupatan.html, diakses pada

tanggal 1 oktober 2414 pukul 13:10 WIB)

b. Simbol atau Makna yang Terkandung dalam Tradisi

Kupatan

Tradisi kupatan yang dilaksanakan pada Bulan Sawal (hari

ke 8 setelah idul fitri) yaitu untuk ngluwari dosa atau kesalahan.

Tradisi yang masih dilakukan masyarakat jawa ini, di dalamnya

memiliki simbol-simbol atau makna yang dapat ditafsirkan

sebagai berikut :

1) Kata kupat berasal dari bahasa Jawa ngaku lepat (mengakui

kesalahan). Ini suatu isyarat bahwa kita sebagai manusia

biasa pasti pernah melakukan kesalahan kepada sesama.

Maka dengan budaya kupatan setahun sekali ini kita

diingatkan agar sama-sama mengakui kesalahan kita masing-

masing, kemudian rela untuk saling memaafkan. Nah, dengan


sikap saling memaafkan, dijamin dalam hidup ini kita akan

merasakan kedamaian, ketenangan dan ketentraman.

2) Bungkus kupat yang terbuat dari janur (sejatine nur), ini

melambangkan kondisi umat muslim setelah mendapatkan

pencerahan cahaya selama bulan suci Ramadlan secara

pribadi-pribadi mereka kembali kepada kesucian/jati diri

manusia (fitrah insaniyah) yang bersih dari noda serta bebas

dari dosa.

3) Isi kupat yang bahannya hanya berupa segenggam beras,

namun karena butir-butir beras tadi sama menyatu dalam

seluruh slongsong janur dan rela direbus sampai masak, maka

jadilah sebuah menu makanan yang mengenyangkan dan

enak dimakan. Ini satu simbol persamaan dan kebersamaan

persatuan dan kesatuan. Dan yang demikian itu merupakan

sebuah pesan moral agar kita sama-sama rela saling menjalin

persatuan dan kesatuan dengan sesama muslim.

(http://ahlussunah-wal-jamaah.blogspot.com/2011/08/tradisi-

kupatan.html, diakses pada tanggal 1 oktober 2014 pukul

13:20 WIB)

Kupat merupakan bentuk jamak dari kafi, yaitu kuffat yang

berarti cukup, jelasnya, cukup akan pengharapan hidup ini setelah

berpuasa satu bulan di bulan Ramadhan. Kemudian setelah

lebaran pada tanggal satu Syawal dilanjutkan puasa sunah enam


hari Syawal. Karena itu kupatan juga dinamakan ‘bodo kupat’

yaitu lebaran kupat bagi orang yang puasa sunah enam hari dari

tanggal 2-7 syawal. Dengan demikian kupatan juga mempunyai

momentumnya tersendiri dalam Islam. Kupat mempunyai makna

filosofis yang mendalam. Kupat merupakan singkatan dari

‘ngaku-lepat’, artinya mengaku salah, mengakui pernah berbuat

salah. Karena saling mengaku salah maka haruslah saling

memaafkan antara satu dan lainnya. Sehingga hati menjadi putih

bersih seputih nasi ketupat.

(http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,44-id,39477-

lang,id-c,nasional-t,Kupatan-.phpx, diakses pada tanggal1 oktober

pukul 13:30 WIB)


BAB III

Paparan Data dan Temuan Penelitian

A. Paparan Data

1. Letak Geografis

Dukuh Krangkeng Sari Desa Grogolan termasuk dalam

wilayah Kecamatan Karanggede, jarak tempuh dari kecamatan

karanggede menuju desa krangkeng sari kurang lebih 1,5 km . apabila

ditempuh menggunakan sepeda montor maka waktu tempuhnya

kurang lebih 10 menit saja.

Desa grogolan memiliki luas wilayah desa 206.4040 Ha,

kemudian batas wilayah Desa Grogolan yakni :

a. Sebelah utara : Desa sendang

b. Sebelah timur : Desa mojosari

c. Sebelah selatan : Desa klumpit

d. Sebelah barat : Desa sranten

Sedangkan untuk batas wilayah Dukuh Krangkeng Sari yaitu :

a. Sebelah utara : dukuh grogolan

b. Sebelah timur : dukuh tawang sari

c. Sebelah selatan : dukuh tempel

d. Sebelah barat : dukuh winong


2. Keadaan Penduduk

Jumlah penduduk 2480 jiwa dan terdiri dari penduduk yang

sudah meningkah sebanyak 1427 jiwa dan penduduk yang belum

meningkah sebanyak 1053 jiwa.

Tabel 3.1

data penduduk desa grogolan berdasarkan jenis kelamin

No Nama kadus Penduduk Penduduk Jumlah

laki-laki perempuan

1 Kadus I ( Dukuh 251 jiwa 265 jiwa 516 jiwa

Tawang sari)

2 Kadus II (Dukuh 410 jiwa 408 jiwa 818 jiwa

Krangkeng sari dan

grogol wetan)

3 Kadus III (Dukuh 340 jiwa 314 jiwa 654 jiwa

Lemah Bang dan

Grogol kulon)

4 Kadus IV (Dukuh 276 jiwa 216 jiwa 492 jiwa

Kalisat)

Jumlah 1277 jiwa 1203 jiwa 2480 jiwa

Sumber : Profil Desa Grogolan

3. Keadaan Pendidikan

Tingkat pendidikan masyarakat Dukuh Krangkeng Sari Desa

Grogolan Kecamatan Karanggede Kabupaten Boyolali, tergolong

menengah keatas. Karena, hampir semua masyarakat telah tamat


menempuh pendidikan sampai ke jenjang SLTA. Bahkan ada yang

sampai keperguruan tinggi walaupun hanya beberapa orang saja

Di Dukuh Krangkeng Sari tidak ada pendidikan formal

maupun swasta, karena dalam satu kelurahan pendidikan formal dan

swasta hanya terdapat di Desa Grogolan saja, yakni SDN Grogolan

dan MI Ma’arif

4. Keadaan Sosial Ekonomi

Sebagian besar masyarakat Dukuh Krangkeng Sari mata

pencahariannya adalah petani. Karena, wilayah Dukuh Krangkeng

Sari termasuk pedesaan yang memiliki tanah yang termasuk subur

sehingga sangat cocok untuk pertanian. Warga yang tidak memiliki

lahan garapan (sawah) biasanya menyewa lahan milik orang lain

untuk di jadikan lahan garapan.

Dalam satu tahun masyarakat Dukuh Krangkeng Sari,

melakukan cocok tanam sebanyak dua kali yakni pada bulan oktober–

januari dan pada bulan januari-april, setelah bulan april ladang milik

masyarakat biasanya ditanami tanaman palawija, seperti jagung,

ketela rambat, kacang panjang, kacang tanah dll.

Di Dukuh Krangkeng Sari, warga yang menjadi Pegawai

Negeri hanya ada satu orang, Sedangkan yang lainnya mata

pencahariannya adalah, pedagang, swasta, buruh dan wiraswasta.


5. Keadaan Sosial dan Keagamaan

Seluruh masyarakat Dukuh Krangkeng Sari adalah muslim.

Terdapat kegiatan keagamaan yang senantiasa dilakukan oleh

masyarakat setempat, diantaranya:

a. Yasinan

Pengajian yasin dzikir tahlil setiap malam Kamis yang

dilakukan bergilir setiap rumah .

b. Pengajian Muslimatan

Kegiatan ini dilaksanakan pada hari minggu legi dan

jum’at pahing di Masjid, yakni masjid di Dukuh yang telah

ditunjuk sebagai pelaksana kegiatan tersebut . Adapun jamaahnya

adalah ibu-ibu muslimat satu Kecamatan. Pada hari Minggu

giliran tiap Dusun satu Desa, sedangkan jum’at pahing giliran

tiap Desa satu Kecamatan

c. Tahlilan Setiap Malam Jum’at

Dzikir tahlil setiap malam Jum’at ditambah shalat rahmat

yang dilakukan di Masjid. Adapun jamaahnya adalah warga

Dusun Krangkeng Sari

d. Pengajian Rabu Pon

pengajian yang dilaksanakan pada hari Rabu pon

bergiliran setiap Dukuh di satu Kelurahan Grogolan. Adapun

jamaahnya adalah seluruh warga Desa Grogolan


e. Pengajian Setiap Hari Senin

pengajian yang dilakukan setiap hari Senin di Mushola

Desa Grogolan. Adapun jamaahnya adalah seluruh ibu-ibu Desa

Grogolan

f. Pengajian Qomit Qur’an Al-Mizan

pengajian menghatamkan Al-Qur’an dan dzikir tahlil di

Bank BMT Dukuh Tretes. Adapun jamaahnya adalah ibu-ibu satu

Kecamatan

g. Pengajian Kamis Wage di Masjid al-marhum Bapak KH. Royani

Jamas

Pengajian dzikir tahlil dan belajar membaca Al-Qur’an

yang di lakukan di Masjid al-marhum bapak KH. Royani Jamas.

Adapun jamaahnya adalah ibu-ibu satu Kecamatan

h. Tafsir Al-Qur’an Pada Hari Minggu di Masjid al-marhum Bapak

KH. Royani Jamas

Tafsir alquran setiap minggu di masjid al-marhum bapak

Royani KH. Jamas. Adapun jamaahnya adalah bapak-bapak satu

Kecamatan

B. Temuan Penelitian

Ditengah perkembangan zaman yang modern ini, adat istiadat

ataupun tradisi yang berada di masyarakat yang berada di Pedesaan, masih

tetap dilaksanakan dan dijaga keberadaanya. Adat istiadat atau tradisi

tersebut adalah sebuah bentuk dari keyakinan masyarakat tentang


pengaruh dari tradisi tersebut dalam kehidupanya, karena diyakini apabila

terus melestarikan dan menjaga tradisi yang ada maka akan berdampak

positif bagi kehidupannya serta sebagai simbol keberadaan suatu

masyarakat yang senantiasa menjaga warisan leluhur. Penyelenggaraan

dalam sebuah tradisi pada umunya mempunyai tujuan tertentu, diantaranya

mohon keselamatan akan arwah leluhur kepada Tuhan, wujud rasa syukur

atas nikmat yang telah diberikan Tuhan dan lain-lain. Untuk itu tradisi atau

budaya yang ada harus senantiasa dijaga dan dilestarikan agar tidak punah.

Begitu juga dengan tradisi punggahan dan kupatan yang menjadi tradisi

kebudayaan orang Jawa, yang harus selalu dijaga dan dilestarikan agar

tidak punah.

1. Pemahaman Tradisi Punggahan di Dukuh Krangkeng Sari

Kecamatan Karanggede Kabupaten Boyolali

Ibu Parsinah salah seorang warga yang ditemui pada hari

selasa tanggal 18 Nopember 2014 pada pukul 14:15 WIB,

menjelaskan bahwa tradisi punggahan itu adalah sebuah ritual yang

dilakukan pada tanggal 25 bulan ruwah untuk memperingati orang-

orang dekat yang sudah meninggal, yang betujuan untuk menigringi

arwah naik keatas, yakni naik kehadapan Allah SWT. Menurut bapak

Tohir, sebagai sekertaris desa yang ditemui pada hari rabu, tanggal 19

Nopember tahun 2014 pada pukul 11:15 WIB menjelaskan bahwa

punggahan adalah suatu ritual yang terkait dengan Bulan Ramadhan.

Bahwa pada Bulan Ramadhan itu orang Jawa mengatakan punggahan,


karena memang yang tadinya kemungkinan disiksa oleh Allah dialam

kuburnya pada hari ramadhan terlepas dari seluruh siksaan maka

dinamakan punggahan. Menurut Moertjipto (1995: 23) bahwa

Punggahan itu adalah suatu tradisi yang diselenggarakan pada akhir

bulan ruwah, yang berfungsi untuk mengantarkan arwah munggah

(naik kembali ke asalnya) pada esok hari.

Pelaksanaan acara punggahan menurut bapak Tohir, sebagai

Sekertaris Desa yang ditemui pada hari rabu, tanggal 19 Nopember

tahun 2014 pada pukul 11:15 WIB menjelaskan bahwa, pelaksanaan

tradisi punggahan tidak lain dan tidak bukan adalah untuk

memohonkan ampunan Allah kepada orang yang telah meninggal

dunia. Sebagaimana menurut bapak Rahmat, sebagai tokoh

masyarakat yang di temui pada hari rabu tanggal 19 Nopember 2014

pada pukul 06:10 WIB, menjelaskan bahwa pelaksanaan tradisi

punggahan untuk memohonkan ampunan Allah kepada orang yang

telah meninggal dunia, dengan membuat piranti atau sedekah,

menyangkut sedekah atau piranti yang di buat untuk pelaksanaan

tradisi punggahan diantaranya dengan mengeluarkan sedekah berupa

tumpeng, apem, ketan, pisang dan lain-lain.

Dalam pelaksanaan tradisi Punggahan, Piranti atau sarana

yang berupa sedekah yang digunakan diantaranya, tumpeng, apem,

ketan, pisang tersebut mempunyai makna tersendiri, menurut KH

Fahrudin yang ditemui pada hari Selasa tanggal 18 Nopember 2014


pada pukul 16:10 WIB, makna yang terkandung dari piranti yang

berupa sedekah tersebet diantaranya, yamg pertama apem, maknanya

mohon ampunan kepada Allah SWT yakni berasal dari bahasa arab

yaitu affun kalo sekarang ya afuwun yakni memohon ampun kepada

Allah SWT, agar arwah para leluhur khususnya mbah-mbah, eyang-

eyang, ibu, bapak dan semua keluarga yang telah meninggal

mendapatkan ampunan dari Allah SWT atas kesalahan yang dilakukan

sewaktu masih hidup. Ada lagi pisang kalo ada pisang rojo, makna

dari pisang rojo tersebut adalah semoga para arwah leluhur bahagia di

alam akhirat, karena rojo itu adalah orang yang mendapat kemuliaan

atau kebahagiaan jadi semoga arwah leluhur kelak juga bahagia,

kemudian ketan yang mempunyai makna supaya orang-orang yang

hidup tidal lupa kepada keluarga atau leluhur yang telah meninggal,

ketan itu-kan kraket jadi maknanya kurang lebih seperti itu.

Menurut bapak Rahmat, sebagai tokoh masyarakat yang di

temui pada hari Rabu tanggal 19 Nopember 2014 pada pukul 06:10

WIB, Piranti atau sarana yang telah dibuat tersebut kemudian

dibawa kemasjid, Yakni pada malam tanggal 25 ruwah. Setelah

selesai menjalankan ibadah shalat isya’ para warga berkumpul di

serambi masjid, selanjutnya salah seorang warga memimpin ritual

punggahan, pertama-tama di awali dengan salam, kemudian

memberikan tausiyah yang berkaitan dengan tujuan dilaksanakanya


‫‪ritual punggahan, kemudian dilanjutkan dengan tahlilan. Bacaan‬‬

‫‪tahlilannya adalah sebagai berikut:‬‬

‫ِﺑﺴ ِْﻢ ﱠ ِ‬
‫ﷲ ﺍﻟﺮﱠﺣْ َﻤ ِﻦ ﺍﻟﺮ ِﱠﺣ ْﻴ ِﻢ‬

‫ﻲ ْﺍﻟ ُﻤﺼْ ﻄُﻔُﻰ َ‬


‫ﺻﻠﱠﻰ ﷲ ُ َﻋﻠَ ْﻴ ِﻪ َﻭ َﺳﻠﱢ ْﻢ َﻭﺍَ ِﻟ ِﻪ ﻭﺍَﺻْ َﺤ ِﺎﺑ ِﻪ‬ ‫ِﺍﻟَﻰ َﺣﻀْ َﺮ ِﺓ ﺍﻟﻨﱠ ِﺒ ﱢ‬

‫ﺍﺟ ِﻪ َﻭﺍَ ْﻭ َﻻ ِﺩ ِﻩ َﻭﺫ ﱢﺭﻳﱠﺎﺗِ ِﻪ ْﺍﻟﻔَﺎﺗِ َﺤﺔ‪....‬ﺛ ﱠﻢ ﺍِﻟَﻰ َﺣﻀْ َﺮ ِﺓ ﺍِ ْﺧ َﻮﺍﻧِ ِﻪ ِﻣ َﻦ ْﺍﻻَﻧْﺒِﻴَﺎ ِء‬
‫َﻭﺍَ ْﺯ َﻭ ِ‬

‫ﺼ َﺤﺎﺑَ ِﺔ َﻭﺍﻟﺘﱠﺎﺑِ ِﻌﻴ َْﻦ‬


‫ﺍء َﻭﺍﻟﺼﱠﺎﻟِ ِﺤﻴ َْﻦ َﻭﺍﻟ ﱠ‬ ‫َﻭﺍﻟْ ُﻤﺮْ َﺳﻠِﻴ َْﻦ َﻭ ْﺍﻻَ ْﻭﻟِﻴَ ِ‬
‫ﺎء َﻭﺍﻟ ﱡﺸﻬَ َﺪ ِ‬

‫ﺼﻴ َْﻦ َﻭ َﺟ ِﻤﻴ ِْﻊ ﺍﻟْ َﻤ َﻼﺋِ َﻜ ِﺔ ﺍﻟْ ُﻤﻘَﺮ ِﱠﺑﻴ َْﻦ‬
‫ﺼﻨﱢﻔِﻴ َْﻦ ْﺍﻟ ُﻤ ْﺨﻠَ ِ‬
‫ﺎء ْﺍﻟ َﻌﺎ ِﻣﻠِ ْﻴ َﻦ َﻭﺍﻟْ ُﻤ َ‬
‫َﻭﺍﻟْ ُﻌﻠَ َﻤ ِ‬

‫ﺍﻟﺠﻴ َْﻼ ِﻧﻰ ﺍَﻟْﻔَﺎ ِﺗ َﺤﺔ‪.....‬ﺛ ﱠﻢ ِﺇﻟَﻰ َﺟ ِﻤﻴ ِْﻊ ﺃَﻫْ ِﻞ‬
‫ُﺧﺼ ُْﻮﺻًﺎ ﺍﻟ ﱠﺸﻴْﺦَ َﻋ ْﺒ ُﺪ ﺍﻟﻘَﺎ ِﺩ ِﺭ َ‬

‫ﻕ‬ ‫ﺕ َﻭﺍﻟْ ُﻤ ْﺆ ِﻣ ِﻨﻴ َْﻦ َﻭ ْﺍﻟ ُﻤ ْﺆ ِﻣﻨَﺎ ِ‬


‫ﺕ ِﻣ ْﻦ ﱠﻣ َﺸ ِ‬
‫ﺎﺭ ِ‬ ‫ْﺍﻟﻘﺒ ُ ْﻮ ِﺭ ِﻣ َﻦ ﺍﻟْ ُﻤ ْﺴ ِﻠ ِﻤﻴ َْﻦ َﻭ ْﺍﻟ ُﻤ ْﺴﻠِ َﻤﺎ ِ‬

‫ﺻﺎ ﺁﺑَﺎ َءﻧَﺎ َﻭﺃُ ﱠﻣﻬَﺎﺗِﻨَﺎ ﻭﺍَﺟْ َﺪﺍ َﺩﻧَﺎ‬ ‫ﺍﻷَﺭْ ِ‬


‫ﺽ ﺍِﻟَﻰ َﻣﻐ ِ‬
‫َﺎﺭﺑِﻬَﺎ ﺑَﺮﱢ ﻫَﺎ َﻭﺑَﺤْ ِﺮﻫَﺎ‪ُ ,‬ﺧﺼ ُْﻮ ً‬

‫َﻭﺟ ﱠﺪﺍﺗِﻨَﺎ َﻭ َﻣ َﺸﺎ ِﻳﺨَ ﻨَﺎ َﻭ َﻣ َﺸﺎ ِﻳ َﺦ َﻣ َﺸﺎ ِﻳ ِﺨﻨَﺎ َﻭﺍَ َﺳﺎﺗِ َﺬ ﺗَﻨَﺎ َﻭﺍَ َﺳﺎﺗِ َﺬ ﺍَ َﺳﺎﺗِ َﺬﺗِﻨَﺎ َﻭﻟِ َﻤ ْﻦ‬

‫ﺍﺟْ ﺘَ َﻤ ْﻌﻨَﺎ ﻫَﻬُﻨَﺎ ِﺑ َﺴﺒَ ِﺒ ِﻪ ْﺍﻟﻔَﺎﺗِ َﺤﺔ ‪...‬‬

‫ﷲ ﺍﻟﺮﱠﺣْ َﻤ ِﻦ ﺍﻟﺮ ِﱠﺣﻴ ِْﻢ‬


‫ِﺑﺴ ِْﻢ ِ‬

‫ﻗُﻞْ ﻫُ َﻮ ﷲُ ﺃَ َﺣ ٌﺪ ‪ .‬ﷲُ ﺍﻟ ﱠ‬
‫ﺼ َﻤ ُﺪ ‪ .‬ﻟَ ْﻢ ﻳَ ِﻠ ْﺪ َﻭﻟَ ْﻢ ﻳ ُْﻮﻟَ ْﺪ ‪َ .‬ﻭﻟَ ْﻢ ﻳَ ُﻜ ْﻦ ﻟَﻪ ُ ُﻛﻔ ُ ًﻮﺍ ﺍَ َﺣ ٌﺪ ‪.‬‬

‫)‪(۳x‬‬

‫ِﺑﺴ ِْﻢ ﷲِ ﺍﻟﺮﱠﺣْ َﻤ ِﻦ ﺍﻟﺮ ِﱠﺣﻴ ِْﻢ‬

‫ﻖ ﺍِ َﺫﺍ َﻭﻗَ َ‬
‫ﺐ‪.‬‬ ‫ﻖ ‪َ .‬ﻭ ِﻣ ْﻦ َﺷﺮﱢ ﻏ ِ‬
‫َﺎﺳ ٍ‬ ‫ﻗُﻞْ ﺃَ ُﻋ ْﻮ ُﺫ ِﺑ َﺮﺏﱢ ْﺍﻟﻔَﻠَ ِ‬
‫ﻖ ‪ِ .‬ﻣ ْﻦ َﺷ ﱢﺮ َﻣﺎ ﺧَ ﻠَ َ‬

‫ﺎﺳ ٍﺪ ِﺍ َﺫﺍ َﺣ َﺴ َﺪ‪(۳x) .‬‬ ‫ﺕ ِﻓ ْ‬


‫ٮﺎﻟ ُﻌﻘَ ِﺪ ‪َ .‬ﻭ ِﻣ ْﻦ َﺷﺮﱢ َﺣ ِ‬ ‫َﻭ ِﻣ ْﻦ َﺷ ﱢﺮ ﺍﻟﻨﱠﻔﱠﺎﺛَﺎ ِ‬
‫ﻻَ ِﺍﻟَﻪَ ِﺍﻻﱠ ﷲ َﻭﷲ ﺃَ ْﻛﺒَ ُﺮ‬

‫ﺑِﺴ ِْﻢ ﷲِ ﺍﻟﺮﱠﺣْ ِ‬


‫ﻤﻦ ﺍﻟﺮ ِﱠﺣﻴ ِْﻢ‬

‫ﺎﺱ ‪ِ .‬ﻣ ْﻦ َﺷ ﱢﺮ ﺍﻟْ َﻮ ْﺳ َﻮ ِ‬


‫ﺍﺱ‬ ‫ﺎﺱ ‪ .‬ﺍِﻟَ ِﻪ ﺍﻟﻨﱠ ِ‬ ‫ﻗُﻞْ ﺃَ ُﻋ ْﻮ ُﺫ ِﺑ َﺮﺏﱢ ﺍﻟﻨﱠ ِ‬
‫ﺎﺱ ‪َ .‬ﻣﻠِ ِﻚ ﺍﻟﻨﱠ ِ‬

‫ﺎﺱ ‪ِ .‬ﻣ َﻦ ْﺍﻟ ِﺠﻨﱠ ِﺔ َﻭﺍﻟﻨﱠ ِ‬


‫ﺎﺱ‪(۳x) .‬‬ ‫ْﺍﻟﺨَ ﻨﱠ ِ‬
‫ﺎﺱ ‪ .‬ﺍﻟﱠ ِﺬﻱ ﻳ َُﻮﺳ ِْﻮﺱُ ﻓِٮ ُ‬
‫ﺼ ُﺪ ْﻭ ِﺭ ﺍﻟﻨﱠ ِ‬

‫ﻻَ ِﺍﻟَﻪَ ِﺍﻻﱠ ﷲ َﻭﷲ ﺃَ ْﻛﺒَ ُﺮ‬

‫ﻟ َﺭﺏﱢ ْﺍﻟﻌﺎَﻟَ ِﻤﻴ َْﻦ ‪ .‬ﺍﻟﺮﱠﺣْ ِ‬


‫ﻤﻦ ﺍﻟﺮ ِﱠﺣﻴ ِْﻢ ‪.‬‬ ‫ﺴْﻢِ ﷲِ ﺍﻟﺮﱠﺣْﻤﻦِ ﺍﻟﺮﱠﺣِﻴْﻢ‪ .‬ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ہﻠ ِ‬

‫ﻙ ﻧَﺴْـﺘَ ِﻌﻴ ُْﻦ ‪ .‬ﺍِ ْﻫ ِﺪﻧَﺎ ﺍﻟﺼ َﱢﺮﺍﻁَ ْﺍﻟ ُﻤ ْﺴﺘَﻘِ ْﻴ َﻢ ‪.‬‬
‫ﻙ ﻧَ ْﻌﺒُ ُﺪ َﻭﺍِﻳﱠﺎ َ‬
‫َﻣﺎﻟِ ِﻚ ﻳَ ْﻮ ِﻡ ﺍﻟ ﱢﺪﻳ ِْﻦ ‪ .‬ﺍِﻳﱠﺎ َ‬

‫ﺻ َﺮﺍﻁَ ﺍﻟﱠ ِﺬﻳ َْﻦ ﺍَ ْﻧ َﻌ ْﻤﺖَ َﻋﻠَﻴْ ِﻬ ْﻢ‪َ ,‬ﻏ ْﻴ ِﺮ ْﺍﻟ َﻤ ْﻐﻀ ُْﻮ ِ‬
‫ﺏ َﻋﻠَﻴْ ِﻬ ْﻢ َﻭﻻَ ﺍﻟﻀﱠﺂﻟﱢﻴ َْﻦ ‪.‬‬ ‫ِ‬

‫ﺁ ِﻣﻴﻦ‬

‫ْﺐ ِﻓ ْﻴ ِﻪ ﻫُﺪًﻯ ﻟﱢ ْﻠ ُﻤﺘﱠ ِﻘﻴ َْﻦ ‪.‬‬


‫ﻚ ﺍﻟْ ِﻜﺘَـﺎﺏُ ﻻَ َﺭﻳ َ‬
‫ﷲ ﺍﻟﺮﱠﺣْ ﻤ ِﻦ ﺍﻟﺮ ِﱠﺣﻴ ِْﻢ ‪.‬ﺁﻟـ ّﻢ ‪َ .‬ﺫ ِﻟـ َ‬
‫ِﺑﺴ ِْﻢ ِ‬

‫ﺼﻠَﺔَ َﻭ ِﻣ ﱠﻤﺎ َﺭﺯَ ْﻗﻨَﺎﻫُ ْﻢ ﻳُ ْﻨ ِﻔﻘُ ْﻮ َﻥ ‪َ .‬ﻭﺍﻟﱠ ِﺬﻳ َْﻦ‬ ‫ﺍﻟﱠ ِﺬﻳ َْﻦ ﻳ ُْﺆ ِﻣﻨُ ْﻮ َﻥ ِﺑﺎﻟْ َﻐ ْﻴ ِ‬
‫ﺐ َﻭﻳُ ِﻘﻴْ ُﻤ ْﻮ َﻥ ﺍﻟ ﱠ‬

‫ﻚ‬ ‫ﻚ َﻭﺑِﺎْ ِ‬
‫ﻵﺧ َﺮ ِﺓ ﻫُ ْﻢ ﻳ ُْﻮﻗِﻨ ُ ْﻮ َﻥ ‪ .‬ﺍُﻭﻟﺌِ َ‬ ‫ﻚ َﻭ َﻣﺎ ﺍُ ْﻧ ِﺰ َﻝ ِﻣ ْﻦ ﻗَ ْﺒﻠِ َ‬
‫ﻳ ُْﺆ ِﻣﻨُ ْﻮ َﻥ ﺑِ َﻤﺎ ﺍُ ْﻧ ِﺰ َﻝ ﺍِﻟَ ْﻴ َ‬

‫ﻚ ﻫُ ُﻢ ﺍﻟْ ُﻤ ْﻔﻠِﺤ ُْﻮ َﻥ ‪).‬ﺍﻟﺒﻘﺮﺓ ‪(۱-٥ :‬‬


‫َﻋﻠَﻰ ﻫُﺪًﻯ ﱢﻣ ْﻦ ﱠﺭﺑﱢ ِﻬ ْﻢ َﻭﺍُﻭﻟﺌِ َ‬

‫ﻤﻦ ﺍﻟﺮ ِﱠﺣ ْﻴ ُﻢ ‪ّ .‬‬


‫ﷲُ ﻻَ ِﺇﻟَـﻪَ ِﺇﻻﱠ ﻫ ُ َﻮ‬ ‫ﺍﺣ ٌﺪ ﻻَ ﺍِﻟﻪَ ﺍِﻻﱠ ﻫُ َﻮ ﺍﻟﺮﱠﺣْ ُ‬
‫َﻭﺍِﻟَﻬُ ُﻜ ْﻢ ﺍِﻟﻪ ٌ ﱠﻭ ِ‬

‫ْﺍﻟ َﺤ ﱡﻲ ْﺍﻟﻘَﻴﱡﻮ ُﻡ ﻻَ ﺗَﺄْ ُﺧ ُﺬﻩُ ِﺳﻨَﺔٌ َﻭﻻَ ﻧ َْﻮ ٌﻡ ﻟﱠﻪ ُ َﻣﺎ ﻓِﻲ ﺍﻟ ﱠﺴ َﻤﺎ َﻭﺍ ِ‬
‫ﺕ َﻭ َﻣﺎ ِﻓﻲ ﺍﻷَﺭْ ِ‬
‫ﺽ‬

‫َﻣﻦ َﺫﺍ ﺍﻟﱠ ِﺬﻱ ﻳَ ْﺸﻔَ ُﻊ ِﻋ ْﻨ َﺪﻩ ُ ﺇِﻻﱠ ِﺑﺈِ ْﺫ ِﻧ ِﻪ ﻳَ ْﻌﻠَ ُﻢ َﻣﺎ ﺑَﻴ َْﻦ ﺃَ ْﻳ ِﺪﻳ ِﻬ ْﻢ َﻭ َﻣﺎ ﺧَ ْﻠﻔَﻬُ ْﻢ َﻭﻻَ‬
‫ﺽ‬ ‫ﻮﻥ ِﺑ َﺸ ْﻲ ٍء ﱢﻣ ْﻦ ِﻋﻠْ ِﻤ ِﻪ ِﺇﻻﱠ ِﺑ َﻤﺎ َﺷﺎء َﻭ ِﺳ َﻊ ُﻛﺮْ ِﺳﻴﱡﻪُ ﺍﻟ ﱠﺴ َﻤﺎ َﻭﺍ ِ‬
‫ﺕ َﻭﺍﻷَﺭْ َ‬ ‫ﻳ ُِﺤﻴﻄُ َ‬

‫َﻭﻻَ ﻳَ ُﺆﻭ ُﺩﻩُ ِﺣ ْﻔﻈُﻬ ُ َﻤﺎ َﻭﻫُ َﻮ ﺍﻟْ َﻌﻠِ ﱡﻲ ْﺍﻟ َﻌ ِﻈﻴ ُﻢ )ﺍﻟﺒﻘﺮﺓ ‪(۲٥٥:‬‬

‫ﱢﻳﻦ ﻗَ ْﺪ ﺗَﺒَﻴ َﱠﻦ ﺍﻟﺮﱡ ْﺷ ُﺪ ِﻣ َﻦ ﺍﻟْ َﻐ ﱢﻲ ﻓَ َﻤ ْﻦ ﻳَ ْﻜﻔُﺮْ ِﺑﺎﻟﻄﱠﺎ ُﻏﻮ ِ‬


‫ﺕ َﻭﻳ ُْﺆ ِﻣ ْﻦ‬ ‫َﻻ ِﺇ ْﻛ َﺮﺍﻩَ ﻓِﻲ ﺍﻟﺪ ِ‬

‫ﷲُ َﺳ ِﻤ ْﻴ ٌﻊ َﻋﻠِﻴ ٌﻢ )ﺍﻟﺒﻘﺮﺓ‬ ‫ﻚ ِﺑ ْﺎﻟﻌُﺮْ َﻭ ِﺓ ﺍﻟْ ُﻮ ْﺛﻘَﻰ َﻻ ﺍ ْﻧﻔِ َ‬


‫ﺼﺎ َﻡ ﻟَﻬَﺎ َﻭ ﱠ‬ ‫ﱠِ‬
‫ﺎہﻠﻟ ﻓَﻘَ ِﺪ ﺍ ْﺳﺘَ ْﻤ َﺴ َ‬

‫‪(۲٥٦:‬‬

‫ﺕ ِﺇﻟَﻰ ﺍﻟﻨﱡ ْﻮ ِﺭ َﻭﺍﻟﱠ ِﺬ ْﻳ َﻦ َﻛﻔَﺮ ُْﻭﺍ‬


‫ﷲُ َﻭ ِﻟ ّﻲ ﺍﻟﱠ ِﺬ ْﻳ َﻦ ﺁ َﻣﻨُ ْﻮﺍ ﻳ ُْﺨ ِﺮ ُﺟﻬُ ْﻢ ﱢﻣ َﻦ ﺍﻟﻈﱡﻠ َﻤﺎ ِ‬
‫ﱠ‬

‫ﻚ ﺍَﺻْ َﺤﺎﺏُ‬
‫ﺕ ﺍ ْﻭﻟَﺌِ َ‬ ‫ﺕ ﻳ ُْﺨ ِﺮﺟ ُْﻮﻧَﻬُ ْﻢ ِﻣ َﻦ ﺍﻟﻨﱡ ْﻮ ِﺭ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟ ﱡ‬
‫ﻈﻠ َﻤﺎ ِ‬ ‫ﺃَ ْﻭﻟِﻴَﺎ ُﺅﻫُ ُﻢ ﺍﻟﻄﱠﺎ ُﻏ ْﻮ ُ‬

‫ﺍﻟﻨﱠ ِ‬
‫ﺎﺭ ﻫُ ْﻢ ﻓِ ْﻴﻬَﺎ ﺧَﺎﻟِ ُﺪ ْﻭ َﻥ )ﺍﻟﺒﻘﺮﺓ‪(۲٥۷:‬‬

‫ﻔﺴ ُﻜ ْﻢ ﺃَ ْﻭ ﺗُ ْﺨﻔ ْﻮﻩ ُ‬ ‫ﺕ َﻭ َﻣﺎ ﻓِﻰ ﺍ ْﻻَﺭْ ِ‬


‫ﺽ ِﻭﺍِ ْﻥ ﺗ ُ ْﺒ ُﺪ ْﻭﺍ َﻣﺎ ﻓِﻲ ﺍَ ْﻧ ِ‬ ‫ﻟ َﻣﺎ ﻓِﻰ ﺍﻟ ﱠﺴ َﻤ َﻮﺍ ِ‬
‫ِ ِ‬

‫ﺎﺳ ْﺒ ُﻜ ْﻢ ِﺑ ِﻪ ﷲُ ﻓَﻴَ ْﻐ ِﻔ ُﺮﻟِ َﻤ ْﻦ ﻳَ َﺸﺎ ُء َﻭﻳ ُ َﻌ ﱢﺬﺏُ َﻣ ْﻦ ﻳَ َﺸﺎ ُء َﻭﷲ َﻋﻠَﻰ ُﻛﻞﱢ َﺷ ْﻲ ٍء‬
‫ﻳُ َﺤ ِ‬

‫ﻟ‬ ‫ﻗَ ِﺪ ْﻳ ٌﺮ ‪ .‬ﺁ َﻣ َﻦ ﺍﻟ ﱠﺮﺳ ُْﻮ ُﻝ ِﺑ َﻤﺎ ﺍ ْﻧ ِﺰ َﻝ ِﺍﻟَ ْﻴ ِﻪ ِﻣ ْﻦ َﺭﺑﱢ ِﻪ َﻭﺍﻟْ ُﻤ ْﺆ ِﻣﻨ ُ ْﻮ َﻥ ﻞﱞ ﺁ َ‬
‫ﻣَﻦ ﺑِﺎہﻠ ِ‬

‫ﻕ ﺑَ ْﻴ َﻦ ﺃَ َﺣ ٍﺪ ِﻣ ْﻦ ُﺭ ُﺳﻠِ ِﻪ َﻭﻗَ ْ‬
‫ﺎﻟﻮﺍ َﺳ ِﻤ ْﻌﻨَﺎ َﻭﺍَﻁَ ْﻌﻨَﺎ‬ ‫َﻭ َﻣﻠَﺌِ َﻜﺘِ ِﻪ َﻭ ُﻛﺘُﺒِ ِﻪ َﻭ ُﺭ ُﺳﻠِ ِﻪ ﻻَ ﻧُﻔَ ﱢﺮ ُ‬

‫ﻒ ﷲ ﻧَ ْﻔﺴًﺎ ﺍِﻻﱠ ُﻭ ْﺳ َﻌﻬَﺎ ﻟَﻬَﺎ َﻣﺎ‬ ‫ﻚ ﺍﻟْ َﻤ ِ‬


‫ﺼ ْﻴﺮُ‪ .‬ﻻَ ﻳُ َﻜﻠﱢ ُ‬ ‫ُﻏ ْﻔ َﺮﺍ ﻧ ََﻚ َﺭﺑﱠﻨَﺎ َﻭﺍِﻟَ ْﻴ َ‬

‫ﺆﺍﺧ ْﺬﻧَﺎ ِﺇ ْﻥ ﻧﱠ ِﺴ ْﻴﻨَﺎ ﺍَ ْﻭ ﺃَ ْﺧﻄَﺄْﻧَﺎ َﺭﺑﱠﻨَﺎ َﻭﻻَ‬ ‫ﺖ َﻭ َﻋﻠَﻴْﻬَﺎ َﻣﺎ ﺍ ْﻛﺘَ َﺴﺒَ ْ‬
‫ﺖ َﺭﺑﱠﻨَﺎ ﻻَ ﺗُ ِ‬ ‫َﻛ َﺴﺒَ ْ‬

‫ﺗَﺤْ ِﻤﻞْ َﻋﻠَ ْﻴﻨَﺎ ِﺍﺻْ ﺮً ﺍ َﻛ َﻤﺎ َﺣ َﻤ ْﻠﺘَﻪُ َﻋﻠَﻰ ﺍﻟﱠ ِﺬﻳ َْﻦ ِﻣ ْﻦ ﻗَ ْﺒ ِﻠﻨَﺎ َﺭﺑﱠﻨَﺎ َﻭﻻَ ﺗُ َﺤ ﱢﻤ ْﻠﻨَﺎ َﻣﺎ ﻻَ‬

‫ﻒ َﻋﻨﱠﺎ َﻭﺍ ْﻏ ِﻔﺮْ ﻟَﻨَﺎ َﻭﺍﺭْ َﺣ ْﻤﻨَﺎ )‪,(۷x‬ﺍَ ْﻧﺖَ َﻣ ْﻮﻟَﻨﺎ َ ﻓَﺎ ْﻧﺼُﺮْ ﻧَﺎ‬
‫ﻁَﺎﻗَﺔَ ﻟَﻨَﺎ ِﺑ ِﻪ‪َ .‬ﻭﺍ ْﻋ ُ‬

‫َﻋﻠَﻰ ْﺍﻟﻘَ ْﻮ ِﻡ ﺍﻟْ َﻜﺎﻓِ ِﺮﻳ َْﻦ )ﺍﻟﺒﻘﺮﺓ‪(۲۸٦:‬‬


‫ﷲ َﻭﺑَ َﺮ َﻛﺎﺗُﻪُ َﻋﻠَﻴْ ُﻜ ْﻢ ﺃَ ْﻫ َﻞ ْﺍﻟﺒَ ْﻴ ِ‬
‫ﺖ‬ ‫ِﺍﺭْ َﺣ ْﻤﻨَﺎ ﻳَﺎ ﺃَﺭْ َﺣ َﻢ ﺍﻟﺮ ِ‬
‫ﱠﺍﺣ ِﻤﻴ َْﻦ )‪َ .(۳x‬ﺭﺣْ َﻤﺔُ ِ‬

‫ﺇِﻧﱠﻪُ َﺣ ِﻤ ْﻴ ٌﺪ َﻣ ِﺠ ْﻴ ٌﺪ‪) .‬ﻫﻮﺩ ‪(۷۳ :‬‬

‫ﺖ َﻭﻳُﻄَﻬ َﱢﺮ ُﻛ ْﻢ ﺗ ْ‬
‫َﻄ ِﻬ ْﻴﺮًﺍ‪ِ .‬ﺇ ﱠﻥ‬ ‫ﺲ ﺃَ ْﻫ َﻞ ْﺍﻟﺒَ ْﻴ ِ‬ ‫ﺍِﻧﱠ َﻤﺎ ﻳ ُِﺮ ْﻳ ُﺪ ﷲُ ﻟِﻴُ ْﺬ ِﻫ َ‬
‫ﺐ َﻋﻨْ ُﻜ ْﻢ ﺍﻟ ﱢﺮﺟْ َ‬

‫ﺻﻠﱡ ْﻮﺍ َﻋﻠَ ْﻴ ِﻪ َﻭ َﺳﻠﱢ ُﻤ ْﻮﺍ‬


‫ُﺼﻠﱡ ْﻮ َﻥ َﻋﻠَﻰ ﺍﻟﻨ ﱠ ِﺒﻲ ﻳَﺎ ﺍَﻳﱡﻬَﺎ ﺍﻟﱠ ِﺬﻳ َْﻦ ﺍَ َﻣﻨُ ْﻮﺍ َ‬
‫ﷲَ َﻭ َﻣﻠَﺌِ َﻜﺘَﻪُ ﻳ َ‬

‫ﺗَ ْﺴ ِﻠ ْﻴ ًﻤﺎ‪).‬ﺍﻻﺣﺰﺍﺏ ‪(۲۲ :‬‬

‫ﻚ ﻧُ ْﻮ ِﺭ ﺍﻟْﻬُ َﺪﻯ َﺳﻴﱢ ِﺪﻧَﺎ ُﻣ َﺤ ﱠﻤ ٍﺪ‬


‫ﺼﻼَ ِﺓ َﻋﻠَﻰ ﺍَ ْﺳ َﻌ ِﺪ َﻣ ْﺨﻠ ْﻮﻗَﺎ ِﺗ َ‬ ‫ﺍﻟﻠّﻬُ ﱠﻢ َ‬
‫ﺻ ﱢﻞ ﺍَ ْﻓ َ‬
‫ﻀ َﻞ ﺍﻟ ﱠ‬

‫ﻚ ُﻛﻠ ﱠ َﻤﺎ َﺫ َﻛ َﺮ َ‬
‫ﻙ‬ ‫ﺻﺤْ ﺒِ ِﻪ َﻭ َﺳﻠّ ْﻢ‪َ ,‬ﻋ َﺪ َﺩ َﻣﻌْﻠ ْﻮ َﻣﺎﺗِ َ‬
‫ﻚ َﻭ ِﻣ َﺪﺍ َﺩ َﻛﻠِ َﻤﺎﺗِ َ‬ ‫َﻭ َﻋﻠَﻰ ﺍَﻟِ ِﻪ َﻭ َ‬

‫ﺼﻼَ ِﺓ َﻋﻠَﻰ‬
‫ﻀ َﻞ ﺍﻟ ﱠ‬ ‫ﻙ ﺍﻟْﻐَﺎﻓِﻠ ْﻮ َﻥ ‪ .‬ﺍﻟﻠّﻬُ ﱠﻢ َ‬
‫ﺻ ﱢﻞ ﺍ ْﻓ َ‬ ‫ﱠ‬
‫ﺍﻟﺬﺍ ِﻛﺮ ُْﻭ َﻥ َﻭ َﻏﻔَ َﻞ َﻋ ْﻦ ِﺫ ْﻛ ِﺮ َ‬

‫ﺻﺤْ ِﺒ ِﻪ َﻭ َﺳﻠّ ْﻢ‪,‬‬


‫ﻀ َﺤﻰ َﺳﻴﱢ ِﺪﻧَﺎ ُﻣ َﺤ ﱠﻤ ٍﺪ َﻭ َﻋﻠَﻰ ﺍَﻟِ ِﻪ َﻭ َ‬ ‫ﺍَ ْﺳ َﻌ ِﺪ َﻣ ْﺨ ْ‬
‫ﻠﻮﻗَﺎﺗِ َ‬
‫ﻚ َﺷ ْﻤ ِ‬
‫ﺲ ﺍﻟ ّ‬

‫ﻙ ﺍﻟ ﱠﺬﺍ ِﻛﺮ ُْﻭ َﻥ َﻭ َﻏﻔَ َﻞ َﻋ ْﻦ ِﺫ ْﻛ ِﺮ َ‬


‫ﻙ‬ ‫ﻚ ُﻛﻠ ﱠ َﻤﺎ َﺫ َﻛ َﺮ َ‬
‫ﻚ َﻭ ِﻣ َﺪﺍ َﺩ َﻛﻠِ َﻤﺎ ِﺗ َ‬
‫َﻋ َﺪ َﺩ َﻣ ْﻌﻠ ْﻮ َﻣﺎ ِﺗ َ‬

‫ﺼﻼَ ِﺓ َﻋﻠَﻰ ﺍَ ْﺳ َﻌ ِﺪ َﻣ ْﺨ ْ‬
‫ﻠﻮﻗَﺎ ِﺗ َ‬
‫ﻚ ﺑَ ْﺪ ِﺭﺍﻟ ّﺪ َﺟﻰ‬ ‫ﻀ َﻞ ﺍﻟ ﱠ‬ ‫ْﺍﻟﻐَﺎ ِﻓﻠ ْﻮ َﻥ ‪ .‬ﺍﻟﻠّﻬُ ﱠﻢ َ‬
‫ﺻﻞﱢ ﺍَ ْﻓ َ‬

‫ﺻﺤْ ﺒِ ِﻪ َ َﻭ َﺳﻠّ ْﻢ‪َ ,‬ﻋ َﺪ َﺩ َﻣﻌْﻠ ْﻮ َﻣﺎﺗِ َ‬


‫ﻚ َﻭ ِﻣ َﺪﺍ َﺩ َﻛﻠِ َﻤﺎﺗِ َ‬
‫ﻚ‬ ‫َﺳﻴﱢ ِﺪﻧَﺎ ُﻣ َﺤ ﱠﻤ ٍﺪ َﻭ َﻋﻠَﻰ ﺍَﻟِ ِﻪ َﻭ َ‬

‫ﻰ ﷲُ‬ ‫ﻙ ْﺍﻟﻐَﺎﻓِﻠ ْﻮ َﻥ ‪َ .‬ﻭ َﺳﻠَ ْﻢ َﻭ َﺭ ِ‬


‫ﺿ َ‬ ‫ﻙ ﱠ‬
‫ﺍﻟﺬﺍ ِﻛﺮ ُْﻭ َﻥ َﻭ َﻏﻔَ َﻞ َﻋ ْﻦ ِﺫ ْﻛ ِﺮ َ‬ ‫ُﻛﻠﱠ َﻤﺎ َﺫ َﻛ َﺮ َ‬

‫َﺎﺭﺳ ُْﻮ ِﻝ ﷲِ ﺍَﺟْ َﻤ ِﻌﻴ َْﻦ‪.‬‬ ‫ﺗَ َﻌﺎﻟَﻰ َﻋ ْﻦ ﺍَﺻْ َﺤﺎ ِ‬


‫ﺏ َﺳﻴﱢ ِﺪ ﻧ َ‬

‫َﻭ َﺣ ْﺴﺒُﻨَﺎ ﷲُ َﻭ ِﻧ ْﻌ َﻢ ﺍﻟْ َﻮ ِﻛ ْﻴ ُﻞ )ﺍﻝ ﻋﻤﺮﺍﻥ ‪ (۱۷۳ :‬ﻧِ ْﻌ َﻢ ْﺍﻟ َﻤ ْﻮﻟَﻰ َﻭ ِﻧ ْﻌ َﻢ ﺍﻟﻨﱠ ِ‬
‫ﺼ ْﻴ ُﺮ‬

‫)ﺍﻻﻧﻔﺎﻝ ‪(٤۰:‬‬

‫َﻭﻻَ َﺣ ْﻮ َﻝ َﻭﻻَ ﻗُ ﱠﻮﺓَ ﺍِ ﺑﺎِہﻠﻟِ ﺍﻟْ َﻌﻠﱢ ِﻲ ﺍﻟْ َﻌ ِﻈﻴ ِْﻢ‪,‬‬


‫ﺎﻥ َﻏﻔﱠﺎ ًﺭﺍ‪) .‬ﻧﻮﺡ ‪( ۷۱ :‬‬
‫ِﺍ ْﺳﺘَ ْﻐ ِﻔﺮ ُْﻭﺍ َﺭﺑ ﱠ ُﻜ ْﻢ ِﺇﻧﱠﻪُ َﻛ َ‬

‫ﺃَ ْﺳﺘَ ْﻐﻔِ ُﺮ ﷲَ ﺍﻟْ َﻌ ِﻈ ْﻴ َﻢ )‪(۱۱ x‬‬

‫ﺃَ ْﺳﺘَ ْﻐﻔِ ُﺮ ﷲَ ﺍﻟْ َﻌ ِﻈ ْﻴ َﻢ‪ ,‬ﺍﻟ ِﺬﻱْ َﻻ ﺍِﻟَﻪَ ﺍِﻻﱠ ﻫُ َﻮ ْﺍﻟ َﺤ ﱡﻲ ْﺍﻟﻘَﻴ ْﱡﻮ ُﻡ َﻭﺍَﺗُ ْﻮﺏُ ﺍِﻟَ ْﻴ ِﻪ‪.‬‬

‫ﺃَ ْﻓ َ‬
‫ﻀ ُﻞ ﺍﻟ ﱢﺬ ْﻛ ِﺮ ﻓَﺎ ْﻋﻠَ ْﻢ ﺍَﻧﱠﻪُ‬

‫ﻵ ِﺇﻟَﻪَ ﺇﻻﱠ ﷲ ) َﺣ ﱡﻲ ُﻭ ُﺟ ٌﺪ(‬

‫ﻵ ِﺇﻟَﻪَ ﺇﻻﱠ ﷲ ) َﺣ ﱡﻲ َﻣ ْﻌﺒ ُ ْﻮ ٌﺩ(‬

‫ﻵ ﺇِﻟَﻪَ ﺇﻻﱠ ﷲ ) َﺣ ﱡﻲ ﺑَﺎ ٍ‬


‫ﻕ(‬

‫ﻵ ِﺇﻟَﻪَ ﺇﻻﱠ ﷲ )‪(۳۳ X‬‬

‫ﺻﻠﱠﻰ ﷲُ َﻋﻠَ ْﻴ ِﻪ َﻭ َﺳﻠﱢ ْﻢ‬


‫ﻵ ِﺇﻟَﻪَ ﺇﻻﱠ ﷲ ُﻣ َﺤ ﱠﻤ ٌﺪ َﺭﺳ ُْﻮ ُﻝ ﷲ‪َ .‬‬

‫ﻵ ِﺇﻟَﻪَ ﺇﻻﱠ ﷲ ﻵ ِﺇﻟﻪَ ﺇﻻﱠ ﷲ )‪(۲ X‬‬

‫ﺻﻠﱠﻰ ﷲُ َﻋﻠَ ْﻴ ِﻪ َﻭ َﺳﻠﱢ ْﻢ‬


‫ﻵ ِﺇﻟَﻪَ ﺇﻻﱠ ﷲ ُﻣ َﺤ ﱠﻤ ٌﺪ َﺭﺳ ُْﻮ ُﻝ ﷲ‪َ .‬‬

‫ﺻﻞﱢ َﻋﻠَﻰ ُﻣ َﺤ ﱠﻤ ٍﺪ‪ ,‬ﺍﻟﻠّﻬُ ﱠﻢ َ‬


‫ﺻ ﱢﻞ َﻋﻠَ ْﻴ ِﻪ َﻭ َﺳﻠﱢ ْﻢ )‪(۳ X‬‬ ‫ﺍﻟﻠّﻬُ ﱠﻢ َ‬

‫ﺎﻥ ﷲِ ْﺍﻟ َﻌ ِﻈﻴ ِْﻢ )‪(۱۱ X‬‬


‫ﺎﻥ ﷲِ َﻭ ِﺑ َﺤ ْﻤ ِﺪ ِﻩ َﺳ ْﺒ َﺤ َ‬
‫ُﺳﺒ َْﺤ َ‬

‫ﺻﺤْ ِﺒ ِﻪ َﻭ َﺳﻠﱢ ْﻢ ﺃَﺟْ َﻤ ِﻌﻴ َْﻦ )‪(۳ X‬‬


‫ﻚ ُﻣ َﺤ ﱠﻤ ٍﺪ َﻭ َﻋﻠَﻰ ﺁﻟِ ِﻪ َﻭ َ‬ ‫ﺍﻟﻠّﻬُ ﱠﻢ َ‬
‫ﺻﻞﱢ َﻋﻠَﻰ َﺣ ِﺒﻴْ ِﺒ َ‬

‫ﺍَ ْﻟﻔَﺎ ِﺗ َﺤﺔ‬

‫ﺍﻟ ّﺪﻋﺎء ﺍﻟﺘّﻬﻠﻴﻞ‬


‫ِﱠِ‬
‫ﻠﻟِ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺸﱠﻴْﻄَﺎﻥِ ﺍﻟﺮﱠﺟِﻴْﻢِ‪ .‬ﺑِﺴْﻢِ ﷲِ ﺍﻟﺮﱠﺣْﻤَﻦِ ﺍﻟﺮﱠﺣِﻴْﻢِ‪ .‬ﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ہﻠﻟ َﺭﺏﱢ‬ ‫ﺃَ ُﻋ ْﻮ ُﺫ‬

‫ْﺍﻟ َﻌﺎﻟَ ِﻤﻴ َْﻦ‪َ .‬ﺣ ْﻤ َﺪ ﺍﻟ ﱠﺸﺎ ِﻛ ِﺮﻳ َْﻦ َﺣ ْﻤ َﺪ ﺍﻟﻨﱠﺎ ِﻋ ِﻤﻴ َْﻦ‪َ ،‬ﺣ ْﻤﺪًﺍ ﻳ َُﻮﺍ ِﻓ ْﻲ ﻧِ َﻌ َﻤﻪُ َﻭﻳ ُ َﻜﺎ ِﻓ ُ‬
‫ﺊ‬
‫ﻚ َﻭ َﻋ ِﻈﻴ ِْﻢ ﺳ ُْﻠﻄَﺎ ِﻧ َ‬
‫ﻚ‪.‬‬ ‫ﻚ ْﺍﻟ َﺤ ْﻤ ُﺪ َﻛ َﻤﺎ ﻳَ ْﻨﺒَ ِﻐ ْﻲ ِﻟ َﺠ َﻼ ِﻝ َﻭﺟْ ِﻬ َ‬
‫َﻣ ِﺰ ْﻳ َﺪﻩُ‪ .‬ﻳَﺎ َﺭﺑﱠﻨَﺎ ﻟَ َ‬

‫ﺻﻞﱢ َﻭ َﺳﻠﱢ ْﻢ َﻋﻠَﻰ َﺳﻴﱢ ِﺪﻧَﺎ ُﻣ َﺤ ﱠﻤ ٍﺪ َﻭ َﻋﻠَﻰ ﺍَﻟِﻰ َﺳﻴﱢ ِﺪﻧَﺎ ُﻣ َﺤ ﱠﻤ ٍﺪ‪.‬‬
‫ﺍﻟﻠﻬُ ﱠﻢ َ‬

‫ﺍﺏ َﻣﺎ ﻗَ َﺮ ْﺃﻧَﺎﻩُ ِﻣ َﻦ ْﺍﻟﻘُﺮْ ِ‬


‫ﺁﻥ ﺍﻟْ َﻌ ِﻈﻴ ِْﻢ‪َ ,‬ﻭ َﻣﺎﻫَﻠَ ْﻠﻨَﺎ َﻭ َﻣﺎ‬ ‫ﺻﻞْ ﺛَ َﻮ َ‬
‫ﺍَﻟﻠﻬُ ﱠﻢ ﺗَﻘَﺒﱠﻞْ َﻭﺍَ ْﻭ ِ‬

‫ﺻﻠَﻰ ﷲُ َﻋﻠَ ْﻴ ِﻪ َﻭ َﺳﻠﱠ َﻢ‬ ‫َﺳﺒﱠﺤْ ﻨَﺎ َﻭ َﻣﺎ ﺍ ْﺳﺘَ ْﻐﻔَﺮْ ﻧَﺎ َﻭ َﻣﺎ َ‬
‫ﺻﻠَ ْﻴﻨَﺎ َﻋﻠَﻰ َﺳﻴﱢ ِﺪﻧَﺎ ُﻣ َﺤ ﱠﻤ ٍﺪ َ‬

‫ﺎﺯﻟَﺔً ﱠﻭﺑَ َﺮ َﻛﺔً َﺷﺎ ِﻣﻠَﺔً ﺍِﻟَﻰ َﺣﻀْ َﺮ ِﺓ َﺣ ِﺒﻴْ ِﺒﻨَﺎ َﻭ َﺷ ِﻔﻴْ ِﻌﻨَﺎ‬
‫ﺍﺻﻠَﺔً ﱠﻭ َﺭﺣْ َﻤﺔً ﻧﱠ ِ‬
‫ﻫَ ِﺪﻳﱠﺔً ﱠﻭ ِ‬

‫ﺻﻠﱠﻰ ﷲُ َﻋﻠَ ْﻴ ِﻪ َﻭ َﺳﻠﱠ َﻢ‪َ .‬ﻭﺍِﻟَﻰ َﺟ ِﻤﻴ ِْﻊ‬


‫َﻭﻗُ َﺮﺓَ َﻋ ْﻴﻨِﻨَﺎ َﺳﻴﱢ ِﺪﻧَﺎ َﻭ َﻣ ْﻮﻻَﻧَﺎ ُﻣ َﺤ ﱠﻤ ٍﺪ َ‬

‫ﺎء َﻭﺍﻟْ ُﻤﺮ َﺷﻠِﻴ َْﻦ‪َ ،‬ﻭﺍْﻻَ ْﻭﻟِﻴَﺎ ِء َﻭﺍﻟ ﱡﺸﻬَ َﺪﺍ ِء َﻭﺍﻟﺼﱠﺎﻟِ ِﺤﻴ َْﻦ‬
‫ﺍِ ْﺧ َﻮﺍﻧِ ِﻪ ِﻣ َﻦ ﺍْﻻَﻧْﺒِﻴَ ِ‬

‫ﺼﻨﱢﻔِﻴ َْﻦ ْﺍﻟ ُﻤ ْﺨﻠَ ِ‬


‫ﺼﻴ َْﻦ َﻭ َﺟ ِﻤﻴ ِْﻊ‬ ‫ﱠﺤﺎﺑَ ِﺔ َﻭﺍﻟﺘﱠﺎﺑِ ِﻌﻴ َْﻦ َﻭﺍﻟْ ُﻌﻠَ َﻤﺎِ ِء ﺍﻟْ َﻌﺎ ِﻣﻠِﻴ َْﻦ َﻭﺍﻟْ ُﻤ َ‬
‫َﻭﺍﻟﺼ َ‬

‫ْﺍﻟ ُﻤ َﺠﺎ ِﻫ ِﺪﻳ َْﻦ ﻓِ ْﻲ َﺳ ِﺒﻴ ِْﻞ ﷲِ َﺭﺏﱢ ْﺍﻟ َﻌﺎﻟَ ِﻤﻴ َْﻦ َﻭﺍﻟْ َﻤﻼَﺋِ َﻜ ِﺔ ْﺍﻟ ُﻤﻘَ ﱠﺮ ِﺑﻴ َْﻦ ُﺧﺼ ُْﻮﺻًﺎ‬

‫ْﺦ َﻋ ْﺒ ِﺪ ْﺍﻟﻘَﺎ ِﺩ ِﺭ ْﺍﻟ َﺠ ْﻴﻼَ ِﻧﻰ‪.‬‬


‫ِﺍﻟَﻰ َﺳﻴﱢ ِﺪﻧَﺎ ﺍﻟ ﱠﺸﻴ ِ‬

‫َﻭ ُﺧﺼ ُْﻮﺻًﺎ ِﺍﻟَﻰ ﺭ ُْﻭ ِ‬


‫ﺡ ‪..........‬‬

‫ﺕ َﻭ ْﺍﻟ ُﻤ ْﺆ ِﻣﻨِﻴ َْﻦ‬


‫ﺛُ ﱠﻢ ﺍِﻟَﻰ َﺟ ِﻤﻴ ِْﻊ ﺍَﻫْ ِﻞ ْﺍﻟﻘُﺒ ُْﻮ ِﺭ ِﻣ َﻦ ْﺍﻟ ُﻤ ْﺴﻠِ ِﻤﻴ َْﻦ َﻭﺍﻟْ ُﻤ ْﺴﻠِ َﻤﺎ ِ‬

‫َﺎﺭ ِﺑﻬَﺎ ﺑَﺮﱢ ﻫَﺎ َﻭﺑَﺤْ ِﺮﻫَﺎ ُﺧﺼ ُْﻮﺻًﺎ ﺍِﻟَﻰ‬ ‫ﻕ ْﺍﻻَﺭْ ِ‬
‫ﺽ َﻭ َﻣﻐ ِ‬ ‫َﻭﺍﻟْ ُﻤ ْﺆ ِﻣﻨَﺎ ِ‬
‫ﺕ ِﻣ ْﻦ َﻣ َﺸ ِ‬
‫ﺎﺭ ِ‬

‫ﺁﺑَﺎﺋِﻨَﺎ َﻭﺍُ ﱠﻣﻬَﺎﺗِﻨَﺎ َﻭﺍَﺟْ َﺪﺍﺗِﻨَﺎ َﻭ َﺟ ﱠﺪﺍﺗِﻨَﺎ َﻭﻧَ ُﺨﺺﱡ ُﺧﺼ ُْﻮﺻًﺎ ﺍِﻟَﻰ َﻣ ِﻦ ﺍﺟْ ﺘَ َﻤ ْﻌﻨَﺎ‬

‫ﻒ َﻋ ْﻨﻬُ ْﻢ‪.‬‬
‫ﻫَﺎﻫُﻨَﺎ ِﺑ َﺴﺒَ ِﺒ ِﻪ َﻭ ِﻻَﺟْ ِﻠ ِﻪ‪ .‬ﺍَﻟﻠﻬُ ﱠﻢ ﺍ ْﻏ ِﻔﺮْ ﻟَﻬُ ْﻢ َﻭﺍﺭْ َﺣ ْﻤﻬُ ْﻢ َﻭ َﻋﺎ ِﻓ ِﻬ ْﻢ َﻭﺍ ْﻋ ُ‬

‫ﺍَﻟﻠﻬُ ﱠﻢ ﺍَ ْﻧ ِﺰ ِﻝ ﺍﻟﺮﱠﺣْ َﻤﺔَ َﻭﺍﻟْ َﻤ ْﻐ ِﻔ َﺮﺓَ َﻋﻠَﻰ ﺍَﻫْ ِﻞ ْﺍﻟﻘُﺒ ُْﻮ ِﺭ ِﻣ ْﻦ ﺍَﻫْ ِﻞ ﻻَ ِﺍﻟَﻪَ ﺍِﻻﱠ ﷲُ‬

‫ُﻣ َﺤ ﱠﻤ ٌﺪ ﱠﺭﺳ ُْﻮ ُﻝ ﷲِ‪َ .‬ﺭﺑﱠﻨَﺎ ﺁﺗِﻨَﺎ ﻓِﻰ ﺍﻟ ﱡﺪ ْﻧﻴَﺎ َﺣ َﺴﻨَﺔً َﻭﻓِﻰ ْﺍﻻَ ِﺧ َﺮ ِﺓ َﺣ َﺴﻨَﺔً َﻭﻗِﻨَﺎ‬
ِ‫ِﱠ‬
‫ ﻭَﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ہﻠﻟ َﺭﺏﱢ‬.َ‫ﻥ‬ ِ َ‫ﻚ َﺭﺏﱢ ْﺍﻟ ِﻌ ﱠﺰ ِﺓ َﻋ ﱠﻤﺎ ﻳ‬
َ‫ﺼﻔ‬ ِ ‫ﺍﺏ ﺍﻟﻨﱠ‬
َ ‫ ُﺳ ْﺒ َﺤ‬.‫ﺎﺭ‬
َ ‫ﺎﻥ َﺭﺑﱢ‬ َ ‫َﻋ َﺬ‬

..ُ‫ ﺍَ ْﻟﻔَﺎﺗِ َﺤﺔ‬.‫ْﺍﻟ َﻌﺎﻟَ ِﻤﻴ َْﻦ‬

Setelah pembacaan tahlil selesai, maka makanan yang ada

dibagikan kepada seluruh jamaah yang hadir. Makanan yang berupa

apem dan pisang dibagikan secara merata kepada seluruh jamaah,

untuk ketannya cukup disajikan pertumpeng saja.

Pelaksanaan tradisi punggahan tersebut didasarkan pada

sebuah keyakinan, yakni keyakinan akan mengikuti leluhurnya

dahulu. Sebagaimana menurut bapak Parlan salah seorang warga yang

di temui pada hari Selasa tanggal 18 Nopember 2014 pada pukul

13:45 WIB, bahwa dasar pelaksanaan tradisi punggahan adalah

meneruskan tradisi orang orang terdahulu. Begitu pula Menurut bapak

Rahmat sebagai tokoh masyarakat yang di temui pada hari Rabu

tanggal 19 Nopember 2014 pada pukul 06:10 WIB, menjelaskan

bahwa dasar pelaksanaan tradisi punggahan itu adalah semata-mata

mengikuti ulama terdahulu, walaupun di dalam al-Qur,an tidak ada,

namun tetap melaksanakan tradisi tersebut karena tradisi tersebut

bagus

Menurut bapak Rahmat sebagai tokoh masyarakat yang di

temui pada hari Rabu tanggal 19 Nopember 2014 pada pukul 06:10

WIB, mengenai nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi punggahan

yakni meningkatkan amal baik melalui shadaqah kemudian ingat

kepada orang-orang terdekat yang sudah meninggal selanjutnya di


doakan supaya amalnya diterima dan kesalahannya diberi maghfirah

atau ampunan oleh Allah SWT.

2. Pemahaman Tradisi Kupatan di Dukuh Krangkeng Sari

Kecamatan Karanggede Kabupaten Boyolali

Menurut KH Fahrudin seorang ulama yang ditemui pada hari

Selasa tanggal 18 Nopember 2014 pada pukul 16:10 WIB,

menjelaskan bahwa tradisi kupatan itu adalah mengeluarkan shadaqah

menggunakan sarana ketupat, yang menandakan bahwa hamba-hamba

Allah mengakui kalau mempunyai kesalahan, kupat itu berasal dari

kata bahasa jawa yaitu ngaku lepat mengakui seluruh kesalahan

semoga Allah memberikan ampunan pada hari raya tujuh hari atau

bodo kecil . Begitu juga yang di sampaikan oleh bapak Rahmat

sebagai tokoh masyarakat yang di temui pada hari Rabu tanggal 19

Nopember 2014 pada pukul 06:10 WIB, bahwa kupatan itu adalah

mengakui kalau semua manusia mempunyai kesalahan dalam bahasa

jawanya ngaku salah atau ngaku lepat. sebagaimana yang

diungkapkan oleh moerjipto (1995: 24), bahwa pada tanggal 30 bulan

Puasa, yakni 1 malam menjelang bulan Sawal, masyarakat Jawa

menyelenggarakan selamatan kupat (kupat luwar) yang bertujuan

untuk ngluwari dosa atau kesalahan.

Pelaksanaan tradisi kupatan menurut bapak Tohir, sebagai

Sekertaris Desa yang ditemui pada hari Rabu, tanggal 19 Nopember

tahun 2014 pada pukul 11:15 WIB menjelaskan bahwa, pelaksanaan


tradisi melakukan sebuah permohonan selamat kepada Allah SWT

dengan sarana yang dipakai dengan antara lain kupat, oleh istilah

orang jawa kupat adalah ngaku lepat, kemidian rangkaian sarana yang

digunakan adalah pisang raja, kacang itu untuk memberikan

kesenangan kepada anak kecil. Sebagaimana menurut bapak Rahmat

sebagai tokoh masyarakat yang di temui pada hari Rabu tanggal 19

Nopember 2014 pada pukul 06:10 WIB, setiap rumah membuat kupat

dan pirantinya, kemudian dibawa kemasjid didoakan mudah-mudahan

dalam kupatan sawalan bisa meningkatkan amal yang baik

Menurut bapak Rahmat, sebagai tokoh masyarakat yang di

temui pada hari Rabu tanggal 19 Nopember 2014 pada pukul 06:10

WIB, Piranti atau sarana yang telah dibuat tersebut kemudian

dibawa kemasjid, Yakni pada malam tanggal 8 sawal sehabis shalat

Isya’. Setelah selesai menjalankan ibadah shalat isya’, para warga

berkumpul di serambi masjid, selanjutnya salah seorang warga

memimpin ritual kupatan, pertama-tama di awali dengan salam,

kemudian memberikan tausiyah yang berkaitan dengan tujuan

dilaksanakanya ritual kupatan, kemudian dilanjutkan dengan tahlilan.

Setelah pembacaan tahlil selesai, maka makanan yang ada di

bagikan kepada seluruh jamaah yang hadir. Makanan yang berupa

ketupat, pisang, dan berbagai cemilan perayaan lebaran Idul Fitri yang

telah dibawa warga, di bagikan secara merata kepada seluruh jamaah.


Pelaksanaan tradisi kupatan didasarkan pada sebuah

keyakinan, yakni keyakinan akan mengikuti leluhurnya dahulu.

Sebagaimana menurut bapak Parlan salah seorang warga yang di

temui pada hari Selasa tanggal 18 Nopember 2014 pada pukul 13:45

WIB, bahwa dasar pelaksanaan tradisi kupatan adalah meneruskan

tradisi orang orang terdahulu. Begitu pula Menurut bapak Rahmat

sebagai tokoh masyarakat yang di temui pada hari Rabu tanggal 19

Nopember 2014 pada pukul 06:10 WIB, menjelaskan bahwa dasar

pelaksanaan tradisi kupatan itu adalah semata-mata mengikuti ulama

terdahulu, walaupun di dalam al-Qur,an tidak ada, namun tetap

melaksanakan tradisi tersebut karena tradisi tersebut bagus

Menurut bapak Rahmat sebagai tokoh masyarakat yang di

temui pada hari Rabu tanggal 19 Nopember 2014 pada pukul 06:10

WIB, mengenai nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi kupatan

yakni menjaga ukuwah islamiyah setelah puasa pada Bulan

Ramadhan, selalu ingat bahwa manusia mempunyai kesalahan

kemudian ngaku lepat mengakui kesalahan tersebut, Sawalan itu

artinya meningkatkan, jadi sebagai sarana pengingat agar nilai-nilai

pada Bulan Ramadhan tetap dipertahankan.


BAB IV

PEMBAHASAN

A. Tradisi Punggahan di Dukuh Krangkeng Sari Desa Grogolan

Kecamatan Karanggede Kabupaten Boyolali

punggahan merupakan salah satu bentuk budaya leluhur yang

sampai sekarang masih tetap dilaksanakan oleh masyarakat Dusun

krangkeng sari, pada hakikatnya pelaksanaan tradisi ini adalah semata-

mata melestarikan budaya leluhur karna dalam pelaksanaan tradisi

punggahan berdampak positif bagi kehidupan masyarakat, sehingga

masyarakat dari generasi kegenerasi masih melaksanakan, menjaga serta

melestarikan tradisi punggahan ini.

Punggahan adalah sebuah ritual yang dilakukan oleh masyatakat

Dukuh Krangkeng Sari pada tanggal 25 bulan ruwah (sya’ban) untuk

memperingati orang-orang dekat yang sudah meninggal, yang betujuan

untuk mengiringi arwah naik keatas, yakni naik kehadapan Allah SWT.

Dalam tradisi punggahan ini terdapat piranti atau sarana berupa

makanan yang selalu dibuat oleh masyarakat dusun krangkeng sari yakni.

Apem, pisang (pisang raja), dan ketan. makna yang terkandung dari piranti

yang berupa sedekah tersebet diantaranya, yamg pertama apem, maknanya

mohon ampunan kepada Allah SWT yakni berasal dari bahasa arab yaitu

affun kalo sekarang ya afuwun yakni memohon ampun kepada Allah SWT,

agar arwah para leluhur khususnya mbah-mbah, eyang-eyang, ibu, bapak

dan semua keluarga yang telah meninggal mendapatkan ampunan dari


Allah SWT atas kesalahan yang dilakukan sewaktu masih hidup. Ada lagi

pisang kalo ada pisang rojo, makna dari pisang rojo tersebut adalah

semoga para arwah leluhur bahagia di alam akhirat, karena rojo itu adalah

orang yang mendapat kemuliaan atau kebahagiaan jadi semoga arwah

leluhur kelak juga bahagia, kemudian ketan yang mempunyai makna

supaya orang-orang yang hidup tidal lupa kepada keluarga atau leluhur

yang telah meninggal.

Piranti atau sarana yang telah dibuat kemudian dibawa kemasjid.

Setelah selesai menjalankan ibadah shalat isya’ para warga berkumpul di

serambi masjid, selanjutnya salah seorang warga memimpin ritual

punggahan, pertama-tama di awali dengan salam, kemudian memberikan

tausiyah yang berkaitan dengan tujuan dilaksanakanya ritual punggahan,

kemudian dilanjutkan dengan tahlilan.

Setelah pembacaan tahlil selesai, maka makanan yang ada di

bagikan kepada seluruh jamaah yang hadir. Makanan yang berupa apem

dan pisang di bagikan secara merata kepada seluruh jamaah, untuk

ketannya cukup di sajikan pertumpeng saja.

B. Tradisi Kupatan di Dukuh Krangkeng Sari Desa Grogolan Kecamatan

Karanggede Kabupaten Boyolali

kupatan merupakan salah satu bentuk budaya leluhur yang sampai

sekarang masih tetap dilaksanakan oleh masyarakat Dusun Krangkeng

Sari, pada hakikatnya pelaksanaan tradisi ini adalah semata-mata

melestarikan budaya leluhur karna dalam pelaksanaan tradisi kupatan


berdampak positif bagi kehidupan masyarakat, sehingga masyarakat dari

generasi kegenerasi masih melaksanakan, menjaga serta melestarikan

tradisi punggahan ini.

Kupatan adalah sebuah ritual yang dilakukan masyarakat pada

tanggal 7 sawal, yang bertujuan untuk ngluwari dosa atau kesalahan.

Dalam ritual kupatan ini masyarakat dukuh krangkeng sari menggunakan

piranti atau sarana yang berupa ketupat, yang menandakan bahwa hamba-

hamba Allah mengakui kalau mempunyai kesalahan. Kupat itu berasal dari

kata bahasa jawa yaitu ngaku lepat mengakui seluruh kesalahan semoga

Allah memberikan ampunan pada hari raya tujuh hari atau bodo kecil .

Piranti atau sarana yang telah dibuat oleh masyarakat kemudian

dibawa kemasjid. Setelah selesai menjalankan ibadah shalat isya’ para

warga berkumpul di serambi masjid, selanjutnya salah seorang warga

memimpin ritual punggahan, pertama-tama di awali dengan salam,

kemudian memberikan tausiyah yang berkaitan dengan tujuan

dilaksanakanya ritual kupatan, kemudian dilanjutkan dengan tahlilan.

Setelah pembacaan tahli selesai, maka makanan yang ada di

bagikan kepada seluruh jamaah yang hadir. Makanan yang berupa ketupat,

pisang, dan berbagai cemilan perayaan lebaran idul fitri yang telah dibawa

warga, di bagikan secara merata kepada seluruh jamaah.


C. Nilai-nilai Pendidikan Islam yang Terkandung dalam Tradisi

Punggahan di Dukuh Krangkeng Sari Desa Grogolan Kecamatan

Karanggede Kabupaten Boyolali meliputi :

1. Nilai akidah

Dalam pelaksanaan tradisi punggahan, masyarakat Dukuh

Krangkeng Sari menyakini dengan sepenuh hati, bahwa Allah SWT

adalah tempat satu-satunya untuk meminta pertolongan. Memohonkan

ampunan para arwah leluhur, agar Allah SWT mengampuni segala

dosa dan kesalahan para arwah leluhur sewaktu masih hidup di dunia.

Karena Allah SWT adalah satu-satunya tempat untuk memohon

pertolongan, sebagai mana firman Allah SWT dalam QS. Al-fatihah

ayat 5 :

Artinya: Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan Hanya


kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.

2. Nilai amaliah

Dalam pelaksanaan tradisi punggahan, masyarakat senantiasa

meningkatkan amal baik melalui shadaqah, yakni menyediakan

makanan berupa apem, ketan, pisang secara ikhlas. Apabila seseorang

mengeluarkan shadaqah yang dilandasi dengan keiklasan maka Allah

AWT akan melipat gandakan rezekinya, sebagaimana firman Allah

AWT dalam QS. Al-baqarah ayat 261:


Artinya: Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-
orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah[166] adalah
serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir,
pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan
(ganjaran) bagi siapa yang dia kehendaki. dan Allah Maha luas
(karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.

Amal seseorang belum dapat dikatan sempurna apabila belum

menafkahkan sebagian harta yang dimiliki, sebagaimana firman Allah

SWT dalam QS. Ali imron ayat 92:

Artinya: Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan


(yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian
harta yang kamu cintai. dan apa saja yang kamu nafkahkan
Maka Sesungguhnya Allah mengetahuinya.

3. Nilai ibadah

Dalam pelaksanaan ritual punggahan, masyarakat melantunkan

rangkaian ayat-ayat suci al-qur’an yakni tahlilan. Lantunan ayat-ayat

tersebut sebagai sarana ibadah kepada Allah SWT, untuk

mendapatkan ketenangan jiwa, serta mendoakan para arwah leluhur

yakni para kelurga yang telah meninggal dunia, agar Allah SWT

menempatkan arwahnya di tempat yang mulia, yakni di surganya

Allah SWT.
4. Nilai kearifan lokal

Masyarakat Dukuh Krangkeng Sari senantiasa menjaga setiap

tradisi yang ada yang di tinggalkan oleh para leluhur, karena didalam

tradisi tersebut terdapat nilai-nilai yang berdampak positif bagi

kehidupan masyarakat, termasuk diantaranya melestarikan tradisi

punggahan

5. Nilai ukuwah islamiyah

Dalam setiap tradisi, termasuk tradisi punggahan tentunya

melibatkan banyak orang, banyak interaksi yang terjadi antara individi

satu dengan individu lain, sehingga terwujudlah rasa kebersamaan,

rasa persatuan, rasa saling memiliki, sehingga kehidupan masyarakat

Dukuh Krangkeng Sari senantiasa rukun, aman, dan bahagia.

D. Nilai-nilai Pendidikan Islam yang Terkandung dalam Tradisi Kupatan

di Dusun Krangkeng Sari Desa Grogolan Kecamatan Karanggede

Kabupaten Boyolali meliputi :

1. Nilai akidah

Dalam pelaksanaan tradisi kupatan, masyarakat Dukuh

Krangkeng Sari menyakini dengan sepenuh hati, bahwa Allah SWT

adalah dzat yang maha pengampun, manusia tidak terlepas dari dosa

dan salah, oleh karena itu sudah sepatutnya manusia memohon ampun

kepada Allah SWT atas dosa dan kesalahan yang telah dilakukan.

Allah SWT adalah dzat yang maha pengampun- lagi maha


pennyayang, sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al-maidah

ayat 74:

Artinya: Maka Mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah


dan memohon ampun kepada-Nya ?. dan Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang.

2. Nilai ibadah

Dalam pelaksanaan ritual kupatan, masyarakat melantunkan

rangkaian ayat-ayat suci al-qur’an yakni tahlilan. Lantunan ayat-ayat

tersebut sebagai sarana ibadah kepada Allah SWT, untuk

mendapatkan ketenangan jiwa, serta mendoakan para arwah leluhur

yakni para kelurga yang telah meninggal dunia, agar Allah SWT

menempatkan arwahnya di tempat yang mulia, yakni di surganya

3. Nilai amaliah

Dalam pelaksanaan tradisi kupatan, masyarakat senantiasa

meningkatkan amal baik melalui shadaqah, yakni menyediakan

makanan berupa ketupat, pisang, dll secara ikhlas. Apabila seseorang

mengeluarkan shadaqah yang dilandasi dengan keiklasan maka Allah

AWT akan melipat gandakan rezeki, sebagaimana firman Allah AWT

dalam QS. Al-baqarah ayat 261:

Artinya: Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-


orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah[166] adalah
serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir,
pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan
(ganjaran) bagi siapa yang dia kehendaki. dan Allah Maha luas
(karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.

Amal seseorang belum dapat dikatan senpurna apabila belum

menafkahkan sebagian harta yang dimiliki, sebagaimana firman Allah

SWT dalam QS. Ali imron ayat 92:

Artinya: Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang


sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang
kamu cintai. dan apa saja yang kamu nafkahkan Maka
Sesungguhnya Allah mengetahuinya.

4. Nilai kearifan lokal

Masyarakat Dukuh Krangkeng Sari senantiasa menjaga setiap

tradisi yang ada, yang di tinggalkan oleh para leluhur, karena didalam

tradisi tersebut terdapat nilai-nilai yang berdampak positif bagi

kehidupannya.

5. Nilai ukuwah islamiyah

Dalam setiap tradisi, termasuk tradisi kupatan tentunya

melibatkan banyak orang, banyak interaksi yang terjadi antara individi

satu dengan individu lain, sehingga terwujudlah rasa kebersamaan,

rasa persatuan, rasa saling memiliki, sehingga kehidupan masyarakat

senantiasa rukun, aman, dan bahagia.

Dalam tradisi puggahan dan kupatan ini, terdapat potensi

terjadinya prilaku syirik kepada Allah SWT bila masyarakat tidak


memahami betul tentang tujuan ritual tradisi tradisi punggahan dan

kupatan, serta makna dari piranti atau sarana yang di gunakan dalam

pelaksanaan tradisi tersebut. Oleh karena itu dalam pelaksanaan tradisi ini,

pemimpin atau sesepuh desa harus menjelaskan secara rinci kepada

masyarakat tentang tujuan diadakannya tradisi punggahan dan kupatan

serta makna yang terkandung dari masing-masing piranti atau sarana yang

digunakan, sehingga masyarakat mendapatkan pemahaman secara utuh

tentang tradisi punggahan dan kupatan.


BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh penulis di Dusun

Krangkeng Sari Desa Grogolan Kecamatan Karanggede Kabupaten

Boyolali tentang “NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM DALAM

TRADISI PUNGGAHAN DAN KUPATAN “ dapat disimpulkan sebagai

berikut :

1. Tradisi punggahan

punggahan itu adalah sebuah ritual yang dilakukan oleh

masyatakat Dukuh Krangkeng Sari pada tanggal 25 bulan ruwah

(sya’ban) untuk memperingati orang-orang dekat yang sudah

meninggal, yang betujuan untuk mengiringi arwah naik keatas, yakni

naik kehadapan Allah SWT.

Dalam tradisi punggahan ini terdapat piranti atau sarana

berupa makanan yang selalu dibuat oleh masyarakat dusun krangkeng

sari yakni. Apem, pisang (pisang raja), dan ketan. makna yang

terkandung dari piranti yang berupa sedekah tersebet diantaranya,

yamg pertama apem, maknanya mohon ampunan kepada Allah SWT

yakni berasal dari bahasa arab yaitu affun kalo sekarang ya afuwun

yakni memohon ampun kepada Allah SWT, agar arwah para leluhur
khususnya mbah-mbah, eyang-eyang, ibu, bapak dan semua keluarga

yang telah meninggal mendapatkan ampunan dari Allah SWT atas

kesalahan yang dilakukan sewaktu masih hidup. Ada lagi pisang kalo

ada pisang rojo, makna dari pisang rojo tersebut adalah semoga para

arwah leluhur bahagia di alam akhirat, karena rojo itu adalah orang

yang mendapat kemuliaan atau kebahagiaan jadi semoga arwah

leluhur kelak juga bahagia, kemudian ketan yang mempunyai makna

supaya orang-orang yang hidup tidal lupa kepada keluarga atau

leluhur yang telah meninggal.

2. Tradisi kupatan

Kupatan adalah sebuah ritual yang dilakukan masyarakat pada

tanggal 7 sawal, yang bertujuan untuk ngluwari dosa atau kesalahan.

Dalam ritual kupatan ini masyarakat dukuh krangkeng sari

menggunakan piranti atau sarana yang berupa ketupat, kupat ini

menjadi simbol yang menandakan bahwa hamba-hamba Allah

mengakui kalau mempunyai kesalahan. Kupat itu berasal dari kata

bahasa jawa yaitu ngaku lepat mengakui seluruh kesalahan supaya

Allah SWT memberikan ampunannya.

3. Nilai-nilai pendidikan islam dalam tradisi punggahan

a. Nilai akidah yaitu menyakini sepenuh hati bahwa, Allah SWT

adalah tempat satu-satunya untuk meminta pertolongan.

b. Nilai amaliah yaitu meningkatkan amal baik melalui shadaqah,

yakni mengeluarkan shadaqah yang dilandasi dengan keiklasan


c. Nilai ibadah yaitu melantunkan rangkaian ayat-ayat suci al-qur’an

yakni tahlilan, lantunan ayat-ayat tersebut sebagai sarana ibadah

kepada Allah SWT.

d. Nilai kearifan lokal yaitu masyarakat senantiasa menjaga setiap

tradisi yang ada, yang di tinggalkan oleh para leluhur, karena

didalam tradisi tersebut terdapat nilai-nilai yang berdampak

positif bagi kehidupannya.

e. Nilai ukuwah islamiyah yaitu terwujudlah rasa kebersamaan, rasa

persatuan, rasa saling memiliki, sehingga kehidupan masyarakat

senantiasa rukun, aman, dan bahagia.

4. Nilai-nilai pendidikan islam dalam tradisi kupatan

a. Nilai akidah yaitu menyakini dengan sepenuh hati bahwa Allah

SWT adalah dzat yang maha pengampun

b. Nilai ibadah yaitu meningkatkan amal baik melalui shadaqah,

yakni mengeluarkan shadaqah yang dilandasi dengan keiklasan

c. Nilai amaliah yaitu meningkatkan amal baik melalui shadaqah,

yakni mengeluarkan shadaqah yang dilandasi dengan keiklasan

d. Nilai kearifan lokal yaitu Masyarakat senantiasa menjaga setiap

tradisi yang ada, yang di tinggalkan oleh para leluhur, karena

didalam tradisi tersebut terdapat nilai-nilai yang berdampak

positif bagi kehidupannya


e. Nilai ukuwah islamiyah yaitu terwujudnya rasa kebersamaan, rasa

persatuan, rasa saling memiliki, sehingga kehidupan masyarakat

senantiasa rukun, aman, dan bahagia.

B. Saran- saran

Diharapkan studi tentang nilai-nilai pendidikan islam dalam tradisi

punggahan dan kupatan ini, dapat disempurnakan dengan mengadakan

penelitian lebih lanjut dari pembahasan topik masalah. Sehingga dapat

gambaran yang lengkap pada tradisi punggahan dan kupatan yang berupa

upacara adat turun temurun dari nenek moyang tersebut, dalam skala yang

lebih luas.

Pada akhir penulisan ini, penulis memberikan saran yang mungkin

dapat membantu dan bermanfaat bagi para pembaca pada umumnya dan

orang lain:

1. Masyarakat Dusun Krangkeng Sari agar tetap menjaga, melestarikan

mempertahankan tradisi yang sesuai dengan ajaran Islam, sehingga

nilai-nilai pendidikan Islam dapat terus dilestarikan dari generasi ke

generasi.

2. Perlunya masyarakat memupuk kesadaran untuk selalu bersyukur atas

nikmat yang diberikan Allah, mendoakan arwah para keluarga yang

telah meninggal dan memohon ampun kepada Allah ketika berbuat

kesalahan.
DAFTAR PUSTAKA

Achmadi.2005. Idiologi Pendidikan Islam.Yogyakarta : Pustaka Pelajar

Arikunto, Suharsimi. 1993. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.

Jakarta : PT Rineka Cipta

Al-Abrasy, M. Athiyah. 1993. Dasar-dasar pokok pendidikan islam. Jakarta: PT

Bulan Bintang

Beatty, Andrew. 2001. Variasi Agama di Jawa. Jakarta : PT Raja Grafindo

Persada

Daradjat, zakiah. 2011. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta : PT Bumi Aksara

Daroeso, Bambang. 1986. Dasar dan konsep pendidikan moral pancasila.

Semarang: Aneka Ilmu

Emzir.2011. Metodologo Penelitian Kualitatif: Analisis Data. Jakarta : PT Raja

Grafindo Persada

Hasan, Iqbal. 2006.Analisis Data Penelitian dengan Statistik. Jakarta : PT Bumi

Aksara

Khalil, Ahmad. 2008. Islam jawa, sufisme dalam etika dan tradisi jawa. Malang:

UIN- Malang Press

Koentjaraningrat. 2004.Manusia dan Kebudayaan di Indonsia. Jakarta :

Djambatan
Moertjipto, (Eds.). 1995. Jumenengan Sri Sultan Hamengku Buwono x.

Yogyakarta: PT Media Widya Mandala

Moleong. 2009.Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : PT Remaja

Rosdakarya

Muhaimin dan Abdul Majid. 1993. Pemikiran Pendidikan Islam. Bandung:

Trigenda karya

Roibin. 2009. Relasi agama dan budaya masyarakat kontemporer. Malang: UIN-

Malang Press

Roqib, moh. 2009. Ilmu pendidikam islam: pengembangan pendidikan integrasi

di sekolah , keluarga dam masyarakat. Yogyakarta: LKIS Yogyakarta

Sulaiman Ms, M. Munandar. 1995.Ilmu Budaya Dasar. Bandung : PT Eresco

Supriyanto, Widodo. 2001. Pendidikan Islam: Teoritis dan Praktis. Yogyakarta:

Pustaka Pelajar

Tafsir, Ahmad. 1994. Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam. Bandung: PT.

Remaja Rosdakarya

Thoha, Cabib. 1996. HM. Kapita Selekta Pendidikan Islam. Yogyakarta: Pustaka

Pelajar

Wasino, (Ed.). 2007.Peninggalan Masa Islam di Jawa Tengah. Semarang :

Museum Jawa Tengah Ronggowarsito


(aktomisriadi.blogspot.com/2012/01/sosiologi islam.html, diakses pada tanggal 6

september 2014 pukul 10:25 WIB).

(http://waspadamedan.com/index.php?option=com_content&view=article&id=13

224:tradisi-punggahan-menurut-islam&catid=61:mimbar-

jumat&Itemid=230, diakses pada tanggal 1 oktober 2014 pukul 12:35

WIB)

(http://gadingpermai.org/berita-253-penghayatan-arti-ruwahan--punggahan.html,

diakses pada tanggal 1 oktober 2014 pukul 12:50 WIB)

(Boyolali.com/lebaran ketupat, diakses pada tanggal 1 oktober 2014 pukul 12:20

WIB).

(http://karysmafm.com/web/wisata-dan-kuliner/masyarakat-kedesen-masih-nguri-

uri-tradisi-kupatan.html, diakses pada tanggal 1 oktober 2014 pukul

13:00 WIB)

http://ahlussunah-wal-jamaah.blogspot.com/2011/08/tradisi-kupatan.html, diakses

pada tanggal 1 oktober 2414 pukul 13:10 WIB)

(http://ahlussunah-wal-jamaah.blogspot.com/2011/08/tradisi-kupatan.html,

diakses pada tanggal 1 oktober 2014 pukul 13:20 WIB)

(http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,44-id,39477-lang,id-

c,nasional-t,Kupatan-.phpx, diakses pada tanggal1 oktober pukul 13:30

WIB)
PEDOMAN WAWANCARA

A. Identitas Responden

Nama :....................

Jenis kelamin :....................

Waktu pelaksanaan :....................

B. Panduan Wawancara

1. Apa yang disebut tradisi punggahan dan kupatan di dukuh krangkeng

sari ?

2. Apa tujuan mengadakan ritual tradisi punggahan dan kupatan yang

ada di desa krangkeng sari?

3. Apa saja kegiatan yang ada dalam tradisi punggahan dan kupatan itu?

4. Makanan apa saja yang ada dalam tradisi punggahan dan kupatan ?

5. Siapa saja yang terlibat dalam tradisi punggahan dan kupatan di desa

krangkeng sari ?

6. Hal apa yang mendasari warga desa krangkeng sari melakukan ritual

tradisi punggahan dan kupatan ?

7. Apa saja yang di baca saat tradisi punggahan dan kupatan itu ?

8. Adakah nilai-nilai yang terkandung dalam ritual tradisi punggahan

dan kupatan yang ada di desa krangkeng sari tersebut? Apa saja?

9. Bagaimana pengaruh masyarakat tentang nilai yang terkandung dalam

tradisi punggahan dan kupatan?


HASIL WAWANCARA

1. Nama : Amanah

Jenis kelamin : perempuan

Waktu pelaksanaan : selasa 18-11-2014 (12:54 WIB)

X : punggahan niku nopo mbah ?

Y : punggahan, munggahke leluhur seng neng kubur kwi, ben nyang

suargo.ngowo ketan gwo apem

X : lha nak kupatan nopo mbah ?

Y : nak jaman mbiyen jarene bodone cah cilik- cilik seng wes mati

kwi, gowo kupat karo gedang. Iku jarene sgngomong wong mbiyen

kog.

X : lha kegiatane pas punggahan niku nopo mbah ?

Y : zow kondangan koyo nek mejed kae

X : lha kegiatane pas kupatan nopo mbah ?

Y : podo nek mesjid gae kondanga wong rame okeh kae to

X : lha maem ane pas wonten punggahan niku nopo mawon mbah ?

Y : maem ane yo kumu, ketan karo gedang, nak gedang yo gedang

rojo, nak ra enek gedang sak-sak e, karo apem. Mko pangannan

kwi mau, dipangan bareng-bareng nek mejid

X : atri e nopo mbah maeman niku wau ?

Y : nak apem e jare ben tenanan, nak gedang raja temen ben

tememen, nak ketan jarene ben ora di ganggu setan,

X : nak kupatan maeman e nopo mawon mbah ?


Y : nak kupatan zow kupat tok karo gedang

X : lha arti e nopo mbah kupat kaleh gedang niku wau ?

Y : nak kupat jalok ngapuro.... mboh rareti kok

X : lha dasar e nopo mbah kok wargo priki taseh klasanakaken

tradisi punggahan kaleh kupatan niku wau ?

Y : zow manut mbah-mbah biyen wae

X : seng di waos pas punggahan kaleh kupatan niku nopo mawon

mbah ?

Y : seng diwoco yo koyo pas tahlilan kae, al ikhlas sak piturut e,

punggahan karo kupatan podo wae.

X :lha wonten mboten mbah nilai-nilai seng terkandung wonten gen

tradisi punggahan kaleh kupatan ?

Y : zow mben podo bagas waras, seng wes mati amal e mben

diterimo karo seng kuwoso

X : lha pripun mbah pengaruhipun masyarakat tumprap nilai-nilai

niku wau ?

Y : zow masyarakat iseh nindake tradisi pungghan karo kupatan

2. Nama : sutinah

Jenis kelamin : perempuan

Waktu pelaksanaan : selasa 18-11-2014 (12:37 WIB)

X : punggahan niku nopo mbokde ?


Y : punggahan iku kanggo ku , ngunggahke leluhur, pas bulan ruwah

tanggal selawe. ketan e kanggo debal, apem e kanggo gow

payungan, gedang e gow tekenan

X : lha nak kupatan niku nopo mbokde ?

Y : bar ba’do wes sangang dino tho, sangang dino bar bodo kae

terus kupatan, kupatan ki bodo kecil anak kecil seng wes mati,

jarene wong biyen kok, yow gae kupat, gae kupat lepet, gedang

X : lha nak tujuan e kupatan kaleh punggahan nopo mbokde ?

Y : zow koyo seng tak omonge kwi mau

X : lha kegiatannipun masyarakat wonten gen tradisi punggahan

kalian kupatan niku wau nopo mbokde ?

Y : zow kondanga kwi to, kondangan bareng-bareng gede cilik

punggahan karo kupatan podo wae gae kondangan bareng-bareng

nek mejid

X : lha seng terlibat gen tradisi punggahan kaleh kupatan sinten

mawon mbokde ?

Y : zow kabeh nom tuo, nak wong biyen pas kupatan iku seng radue

anak cilik mati ra podo melu kupatan, nak punggahan podo melu

kabeh.

X : lha dasaripun masyarakat tasih klasanakaken tradisi kupatan

kaleh punggahan niku nopo mbokde ?


Y : manut mbah-mbah biyen, tur jare wong islam ki ra ninggalke

sedekah, wong NU, jenenge wong NU zow ra ninggalke kabeh

mau, jenenge leluhur wes mati zow kudu di bancaki

X : lha seng diwaos pas tradisi punggahan kaleh kupatan niku nopo

mawon mbokde ?

Y : tahlilan sak rampunge, kupatan karo punggahan podo ae

X : lha wonten mboten mbokde nilai-nilai seng terkandung wonten

gen tradisi punggahan kaleh kupatan ?

Y : mbuh, aku rareti... butoh manut wong tuo, mbokku karo pakku

3. Nama : parlan

Jenis kelamin : laki-laki

Waktu pelaksanaan : selasa 18-11-2014 (13:45 WIB)

X : punggahan niku nopo pakde ?

Y : punggahan kwi sak ngertiku, munggahke leluhur, pas bulan

ruwah tanggal selawe.

X : lha kupatan nopo pakde ?

Y : nak kupatan kwi sak ngertiku,riyaya kecil kanggo wong poso

sawalan, utowo bodho kecil

X : tujuanipun punggahan niku nopo pakde ?

Y : ngunggahke leluhur, jalokke ngapuro leluhur, wulan ruwah iku

ibarate merdeka, ora disikso, kringannake ahli kubur

X : tujuanipun kupatan nopo pakde ?


Y : bodo kecil, bodone wong poso riyaya kecil, kan bare bodo let

sidino disunahake poso pitung dino, kwi riyoyone wong poso cilik

mau,ganjarane gede nak gelem klakoni poso mau nak ra ngelakoni

zow ra popo wong sunnah

X : lha maemanipun pas tradisi punggahan niku nopo mawon pakde

Y : salong zow sego, salong yow apem, gedang .nak gedang kwi nak

ono gedang rojo nak ra ono sak-sake, pakanan kwi mau kanggo

shadaqoh nak menurut wong biyen gedang kwi mau kanggo

tekenan, nak apem bungkus ki kanggo caping, neng nak apem e di

buntel jare kanggo sepatu,

X : menawi kupatan , maemanipun nopo mawon pakde ?

Y : zow kupat kwi to, jare wong biyen kupat kwi, kanggo lepat

lepate jalok ngapuro. Kwi menurut mbah disik, nak kanggo aku

zow idep-idep kanggo shadaqah

X : lha dasaripun warga priki taseh klasanakaken tradisi punggahan

kaleh kupan wau nopo pakde ?

Y : nak minurute aku, zow podo nerus ake tradisi leluhure mbiyen,

punggahan karo kupatan zow podo wae ngono kwi

X : lha seng d waos menawi klasanakaken tradisi punggahan kaleh

kupatan nopo mawon pakde ?

Y : zow suratikhlas sak piturut e, punggahan karo kupatan seng

diwoco zow podo, surat ikhlas sak piturut e


X : kegiatanipun masyarakat wonten tradisi punggahan kalihan

kupatan nopo mawon pakde ?

Y : zow kondangan nek mejid kwi to

X : wonten nilai-nilainipon mboten pakde, gen tradisi punggahan

kalihan kupatan niku wau ?

Y : mboh rareti q, pokoke zow tradisi e wong disik kwi mau, retiku

zow shadaqah ngono mau

4. Nama : parsinah

Jenis kelamin : perempuan

Waktu pelaksanaan : selasa 18-11-2014 (14:15 WIB)

X : punggahan niku nopo mbah ?

Y : merti leluhur e seng wes sedho wektu e pas bulan ruwah, tanggal

selawe jowo,... ngono, perlu di unggahake nyang duwur, mbuh

gone ngendi,

X : kupatan nopo mbah ?

Y : kupatan kwi tradisi seng ditindakake pas bulan sawal tanggal

wolu, bodho cilik bodhone cah cilik-cilik seng wes mati, utowo

bodho gecil (gecilan), lha seng wong tuo-tuo lak wes bodho pas

tanggal siji sawal, nak seng cilik-cilik bodhone tanggal wolo,...

ngono.

X : tujuanipun punggahan niku wau nopo mbah ?

Y : gae merti leluhur e seng wes sedho (bapak mbok seng wes sedho)

X : lha tujuanipun kupatan nopo mbah ?


Y : zow podo seng tak omongke mau, kriyayani cah cilik-cilik seng

wes ninggal

X : lha kegiatanipun masyarakat wonten ing tradisi punggahan kaleh

kupatan nopo?

Y : zow bancakan neng mejid kwi to

X : lha pas kegiatan punggahan kaleh kupatan niku seng dipun waos

nopo mbah ?

Y : zow moco surat ikhlas kwi to, tahlilan. Dadi ikhlas seng

shadaqah dadi di tompo karo gusti Allah terus di paringke karo

seng di shadaqahi mau,... iku jarene seng wong ngomong biyen

X :maemanipun punggahan nopo mawon mbah ?

Y : shadaqoh e iku ketan, gedang, apem. jarene wong biyen munggah

nyang duwur iku rekoso, apem seng di bungkus gae sandal, gedang

kanggo teken, ketan kanggo payong, mulane ketan kwi ombo gae

payung,.. iku mau critane wong biyen

X : lha maemanipun pas tradisi kupatan nopo mbah ?

Y : zow gae kupat kwi, gae bancakan kanggo bodho, ketan iku artine

slametan. Mko terus dipangan bareng-bareng

5. Nama : KH. Fahrudin (tokoh masyarakat)

Jenis kelamin : laki-laki

Waktu pelaksanaan : selasa 18-11-2014 (16:10 WIB)

X : punggahan niku nopo pakde ?


Y : punggahan iku zow nalurine wong biyen kanggo memperingati

poro arwah seng wes sumare,... ngunggahake leluhur istilah e,

kanthi lantaran gae shadaqohan sego utowo ketan, ketan ben

kraket karo leluhur e ben ojo ngantik lali, di kirimi pandongo

lantaran tahlil, terus ono apem seng artine jalok pangapuro nang

gusti Allah (affun) nak coro sak iki zow ngafuwun jalok ngaporo

nek gusti allah, mogo-mugo para arwah leluhure kwi khusus e

mbah-mbah eyang mu kwi diparingi ngapuro. Ono memeh gedang,

nak ono gedang raja lha kwi ngalamate mugo-mugo dadi wong

sing mulyo,.. rojo artine lak mulyo to, dadi mugo-mugo arwahipun

mbesok mulyo,.

X : kupatan nopo pakde ?

Y : ngetok ake shadaqoh nganggo kupat, kwi ngaku nak kawulo-

kawulane kowe kabeh kwi duweni lupu,.. kupat songko tembung

ngaku lepat, sak katah e kalepatan mugo-mugo di paringi

pangapuro sak jerone bodho pitung dino utowo bodho gechil,

bodho gechil iku bodhone wong seng gelem nindakake poso pitung

dino berturut-turut ono ing bulan sawal, mulane do gau kupat kwi

ngaku yen kawulane podo dwe kalepatan

X : ingkang terlibat wonten tradisi punggahan kaleh kupatan niku

sinten mawon pakde?

Y : zow kabeh, sanak kadang


X : lha menawi kegiatan punggahan kaleh kupatan niku ingkang

dipun waos nopo mawon pakde ?

Y : zow di lantari tahlilan kwi, podo kumpul bareng nek masjid

X : lha nilai-nilai nipun punggahan nopo pakde ?

Y : zow ben podo kelingan karo leluhur e njalukke ngapuro, kerono

ngetokke shadaqoh, sak perlu nggunggahke leluhur e

X : lha pengaruhipun masyarakat kalian nilai-nilai niku wau nopo

pakde ?

Y : zow masyarakat iseh nindakake tradisi kwi mau

X : lha nilai-nilainipun kupatan nopo pakde ?

Y : zow ben podo kelingan sukur-sukur gelem nindakake poso pitung

dino

X : lha pengaruhipun masyarakat kalian nilai-nilai niku wau nopo

pakde ?

Y : zow nalurine masyarakat, tetep iseh nindakake tradisine kwi mau,

soal e tradisi kwi mau apik

X : dasaripun masyarakat tasih klasanakaken tradisi punggahan

kaleh kupatan nopo pakde ?

Y : zow melu-melu keyakinane wong biyen kwi to, melu-melu wong

seng disik
6. Nama : rohmat (tokoh masyarakat)

Jenis kelamin : laki-laki

Waktu pelaksanaan : rabu 19-11-2014 (06:10 WIB)

X : punggahan niku nopo pak ?

Y : ngunggahke leluhur. Nggunggahke amalan seng baik

X : kupatan ?

Y : mengakui kalo semua manusia itu mempunyai kesalahan, bahasa

jawane ngaku salah utowo ngaku lepat

X : tujuanipun punngahan nopo pak?

Y :tujuannya zow melestarikan tradisi ulama dulu

X : tujuanipun kupatan ?

Y : tujuane zow, memperingati orang-orang yang berpuasa pada

hari ke dua bulan sawal sampai hari ke enam

X : kegiatanipun masarakat ketika pelaksanaan punggahan apa pak

Y : mengeluarkan shadaqah, berupa tumpeng, kupat, apem, ketan,

pisang dan lain-lainnya Piranti atau sarana yang telah dibuat

tersebut kemudian dibawa kemasjid untuk di makan bersama-

sama, Yakni pada malam tanggal 25 ruwah sehabis shalat isya’.

Setelah shalat isya’ para warga berkumpul di serambi masjid,

selanjutnya salah seorang warga memimpin ritual punggahan,

pertama-tama di awali dengan salam, kemudian memberikan


tausiyah yang berkaitan dengan tujuan dilaksanakanya ritual

punggahan, kemudian dilanjutkan dengan tahlilan.

X : kegiatanipun masarakat ketika pelaksanaan kupatan apa pak ?

Y : setiap rumah membuat kupat dan pirantinya, terus dibawa

kemasjid didoakan mudah-mudahan dalam kupatan sawalan bisa

meningkatkan amal yang baik

X : siapa saja yang terlibat dalam tradisi punggahan dan kupatan ?

Y : yang terlibat zow seluruh masyarakat yang ada

X : dasarnya apa pak kok masyarakat masih melaksanakan tradisi

punggahan dan kupatan ?

Y : mengikuti ulama terdahulu, walaupun di dalam al-Qur,an tidak

ada, namun tetap melaksanakan tradisi tersebut karena tradisi

tersebut bagus

X : apa saja yang di baca ketika pelaksanaan tradisi punggahan dan

kupatan ?

Y : zow tahlilan karo moco doa selamet

X : adakah nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi punggahan dan

kupatan.

Y : nak kupatan, satu menjaga ukuwah islamiyah setelah puasa pada

bulan ramadhan, ingat nak manusia mempunyai kesalahan, ngaku

lepat mengakui kesalahan, setelah kita melaksanakan ibadah

puasa, kita memohon ampunan. Sawalan iku artinya

meningkatkan, jadi nilai-nilai pada bulan ramadhan


dipertahankan. Terus nak punggahan, nilai-nilai seng terkandung

zow,.. meningkatkan amal kita melalui shadaqah, ingat orang yang

sudah meninggal di doakan supaya amalnya diterima dan

kesalahannya diberi maghfirah atau ampunan oleh Allah SWT,

X : bagaimana pengaruh masyarakat tentang nilai itu tadi pak?

Y : tradisi tersebut masih berjalan, masyarakat sangat antusias, jadi

tidak usah ada pengumuman nak pas tanggal selawe bulan ruwah

dan hari ke delapan bulan sawal masyarakat sudah menyiapkan

makanan-makanan untuk di bawa kemasjid

7. Nama : KH. tohir ( sekertaris desa)

Jenis kelamin : laki-laki

Waktu pelaksanaan : rabu 19-11-2014 (11:00 WIB)

X : tradisi punggahan niku nopo pak ?

Y : tradisi yang dilakukan dan ada kaitannya dengan keagamaan

seng isine punggahan itu, sebuah tradisi yang dilakukan oleh umat

islam ketika bulan sya’ban memasuki bulan ramadhan pertanggal

satu itulah yang dinamakan punggahan

X :kemudian apa yang dimaksud dengan tradisi kupatan pak ?

Y : kupatan itu peringatan atau ritual yang dilakukan oleh umat

islam ketika hari ketujuh sehabis lebaran idul fitri

X : tujuan mengadakan tradisi punggahan itu apa pak ?

Y :sesuai dengan hadis nabi bahwa ketika bulan ramadhan itu

datang pintu surga di buka, pintu neraka ditutup, dan seluruh


setan dibelenggu dan seluruh setan dikutuk oleh Allah SWT,

kemudian dengan hal tersebut yang dimaksud dengan punggahan,

oleh karena hadits tersebut bahwa mulai tanggal satu ramadhan

ketika ramadhan datang kemudian pintu surga dibuka, pintu

neraka ditutup itu maksudnya, Allah SWT membebaskan

keringanan kepada seluruh orang yang telah dimakamkan dikubur

atau mati itu dibebaskan dari seluruh siksaan dari Allah SWT

X : kemidian apa yang dimaksud kupatan pak ?

Y : kupatan itu adalah sebuah tradisi yang dilakukan oleh umat islam

dalam rangka untuk mungadakan sebuah ritual selamatan itu

kaitannya dengan bodo kecil menurut orang jawa adalah untuk

memberikan kesempatan kepada anak kecil ketika sudah selesai

puasa pada tanggal dua sampai tujuh

X : kegiatan apa saja dalam tradisi punggahan apa pak ?

Y : tidak lain dan tidak bukan kegiatan punggahan dan kupatan

adalah untuk memohonkan ampun kepada orang yang telah

meninggal dunia, sebagai hari awal orang islam yang masih hidup

untuk menjalankan ibadah puasa

X :kegiatan apa saja yang ada dalam tradisi kupatan pak ?

Y : melakukan sebuah permohonan selamat kepada Allah SWT

dengan sarana yang dipakai dengan antara lain kupat, oleh istilah

orang jawa kupat adalah ngaku lepat, kemidian rangkaian sarana


yang digunakan adalah pisang raja, kacang itu untuk memberikan

kesenangan kepada anak kecil

X : makanan apa saja tang terdapat dalam tradisi punggahan dan

kupatan pak?

Y : seperti yang saya bilang tadi kalo punggahan biasanya hanya

ada sebuah ritual atau sebuah permohonan kepada Allah SWT

karena punggahan itu dilakukan untuk orang-orang yang akan

menjalankan ibadah puasa pada khususnya itu biasanya ada

sebuah perlakuan khusus di banding dengan perlakuan-perlakuan

lain utamanya kaitanya dengan masalah persiapan untuk sahur

dimalam hari pertama, itu hubunganya dengan orang yang akan

menjalankan ibadah puasa

X : siapa saja yang terlibat dalam tradisi punggahan dan kupatan

pak ?

Y : orang-orang islam yang senang akan datangnya hari puasa

kemudian kalo hubungannya dengan kupatan itu ada kaitannya

dengan permohonan kepada Allah SWT yang jiga untuk

memberikan kesempatanan kepada anak-anak kecil tadi, sehingga

disebut bodo kecil

X : apa saja yang dibaca pada saat tradisi punggahan dan kupatan

pak ?
Y : yaitu sebuah permohonan kepada Allah SWT kalo untuk

punggahan otomatis menggunakan dzikir tahlil begitu juga untuk

kupatan oleh orang-orang islam juga membaca dzikir dan tahlil

X : nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi kupatan dan

punggahan apa saja pak ?

Y : punggahan maupun kupatan itu tadi, berkaitan dengan

punggahan berarti sebuah situasi yang terkait dengan

ramadhan.bahwa ramadhan itu orang jawa mengatakan

punggahan karena memang yang tadinya kemungkinan disiksa

oleh Allah dialam kuburnya pada hari ramadhan terlepas dari

seluruh siksaan maka dinamakan punggahan

X : bagaimana pengaruh masyarakat tentang nilai yang terkandung

dalam tradisi punggahan dan kupatan pak ?

Y : karena itu sebuah tradisi yang telah dilakukan oleh nenek

moyang kita maka itu tidak dianggap melanggar dan bertentangan

dengan nilai-nilai syariat maka tetap dilakukan sampai sekarang,

itu kaitannya dengan tradisi yang ada hubungannya dengan

punggahan dan kupatan

Keteraangan :
X : Peneliti
Y : Responden
DOKUMENTASI

A. Dokumentasi tradisi punggahan


B. Dokumentasi tradisi kupatan
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Yang bertanda tangan dibawah ini, saya :

Nama : Yusuf Faizal


Tempat tanggal Lahir : Boyolali, 28 Mei 1992
Jenis kelamin : Laki-Laki
Kewarganegaraan : Indonesia
Agama : Islam
Jenjang Pendidikan : 1. SDN Grogolan, lulus tahun 2004
2. MTsN klumpit, lulus tahun 2007
3. MAN Suruh, lulus tahun 2010
Demikian daftar riwayat hidup ini dibuat dengan sebenar-benarnya.

Salatiga, 26 Desember 2014


Penulis

Yusuf Faizal