Anda di halaman 1dari 53

LAPORAN USAHA KESEHATAN MASYARAKAT

DOKTER INTERNSIP
PERIODE 12 NOVEMBER 2019-7 MARET 2020

DISUSUN OLEH :
dr. M. Tafta Zani
dr. ST. Selly Aprida
dr. Hanna Dwi Wiranti
dr. Tamara Dewi Jasmine
dr. Minati Maharani Amin
dr. Alia Savira Moulydina
dr. Yoga Arismunandar

PUSKESMAS DEMPO
PALEMBANG
MINI PROJECT
MANAJEMEN KASUS TUBERKULOSIS
DI PUSKESMAS DEMPO
PERIODE 01 FEBRUARI 2020-25 FEBRUARI 2020

DISUSUN OLEH :
dr. M. Tafta Zani
dr. ST. Selly Aprida
dr. Hanna Dwi Wiranti
dr. Tamara Dewi Jasmine
dr. Minati Maharani Amin
dr. Alia Savira Moulydina
dr. Yoga Arismunandar

PUSKESMAS DEMPO
PALEMBANG
1. F1 - Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat
JUDUL LAPORAN
Penyuluhan Pemberantasan Sarang Nyamuk di SD Taman Siswa Palembang

LATAR BELAKANG
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit menular
yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan oleh nyamuk spesies Aedes aegypti
dan nyamuk Aedes albopictus. Pengendalian vektor dapat dilakukan dengan berbagai
cara yaitu dengan pengasapan (untuk nyamuk dewasa) dan penggunaan bubuk abate
(untuk larva), serta PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk) untuk menghilangkan
tempat perkembangbiakan nyamuk. Pencegahan yang kurang dapat dipengaruhi oleh
partisipasi masyarakat yang masih rendah dalam penanggulangan penyakit DBD baik
di rumah, sekolah maupun di tempat-tempat umum. Rendahnya partisipasi
masyarakat dalam penanggulangan penyakit DBD diantaranya dapat disebabkan oleh
kurangnya pengetahuan dan sikap masyarakat yang tentunya berpengaruh terhadap
upaya untuk melakukan tindakan pemberantasan vektor.

PERUMUSAN MASALAH
Apakah dengan dilakukannya penyuluhan mengenai PSN 3M plus di SD Taman
Siswa Palembang dapat meningkatkan angka bebas jentik di Kelurahan Kepandean
Baru dan menurunkan angka kejadian DBD?

PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI


Strategi yang akan dilakukan adalah:
− Melakukan penyuluhan tentang DBD
− Melakukan penyuluhan tentang Aedes aegypti
− Melakukan penyuluhan tentang pemberantasan sarang nyamuk
− Melakukan tanya jawab dengan staf pegawai, staf pengajar dan siwa/i SD Taman
Siswa Palembang

PELAKSANAAN
Hari/Tanggal: Rabu/ 13 November 2019
Pukul: 09.00 WIB s.d. 11.00 WIB
Tempat: Ruang Pertemuan SD Taman Siswa Palembang
Peserta: 47 orang (staf pegawai, staf pengajar dan siswa/i SD Taman Siswa
Palembang)

MONITORING DAN EVALUASI


Indikator output yang dievaluasi dari kegiatan penyuluhan pemberantasan sarang
nyamuk di SD Taman Siswa Palembang adalah dengan triangulasi langsung pada
peserta edukasi.

2. F1 - Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat


JUDUL LAPORAN
Pekan Bulan Imunisasi Anak Sekolah Tahun 2019

LATAR BELAKANG
Difteri adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri yang bersifat akut dan biasanya
menyerang saluran pernafasan bagian atas seperti tonsil, faring, laring, hidung namun,
beberapa dapat ditemui di selaput lendir atau kulit dan kadang-kadang konjungtiva
atau vagina.
Diperkirakan sebanyak 1,7 juta kematian pada anak atau 5% pada balita disebabkan
oleh PD3I (penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi). Menurut laporan WHO,
hasil evaluasi kejadian PD3I di Indonesia tahun 1972 sekitar 5000 anak meninggal
setiap tahunnya akibat difteri dan sebanyak 28.500 kasus difteri tenggorok ditemukan
pada balita. Pemberian vaksin melalui program imunisasi merupakan salah satu
strategi pembangunan kesehatan nasional dalam rangka mewujudkan Indonesia sehat.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 tahun 1992 tentang kesehatan bahwa
program imunisasi sebagai salah satu upaya pemberantasan penyakit menular. Sejak
tahun 1956, upaya imunisasi ini telah diselenggarakan dan mulai tahun 1977, upaya
imunisasi dikembangkan menjadi Program Pengembangan Imunisasi dalam rangka
pencegahan penularan terhadap PD3I, yaitu tuberkulosis, difteri, pertusis, campak,
polio, tetanus, dan hepatitis B.

PERUMUSAN MASALAH
1. Predisposing Factor (Menunjang)
− kurangnya penerapan kebiasaan cuci tangan dalam kehidupan sehari-hari.
− seringnya interaksi dengan orang lain yang mungkin mempunyai penyakit yang
bisa menular melalui udara.
− kurangnya pengetahuan masyarakat tentang proses penularan penyakit dan
pencegahannya.
− kurangnya perhatian terhadap kebersihan dan kerapian rumah.
2. Holistic Analysis
− Host: perilaku keluarga masyarakat yang tidak sehat karena belum memadainya
pengetahuan dan penerapan pola hidup bersih dan sehat serta seringnya tidak
mengkonsumsi makanan yang sehat.
− Agent: Corynebacterium diphtheriae
− Environment: secara umum sudah banyak rumah penduduk yang memenuhi
kriteria rumah sehat dari segi pencahayaan, dinding, ventilasinya dan lantai.
Penataan rumah yang tidak rapi dan bersih bisa menjadi sarang berbagai macam
penyakit. Lingkungan sekitar yang padat penduduk dan agak kumuh dapat
berpengaruh besar dalam proses penularan penyakit.

PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI


Penyuntikan vaksin DT dan Td 0,5 cc secara IM di regio deltoid sinistra

PELAKSANAAN
Hari/Tanggal: Selasa, 12 November 2019 (09.00 WIB - selesai)
Tempat: SD Xaverius 1 Palembang
Sasaran penyuluhan adalah para guru yang hadir pada pelaksanaan BIAS di SD
Xaverius 1 Palembang.
Sasaran imunisasi tambahan DT adalah siswa kelas 1, 2, dan 5 SD Xaverius 1
Palembang yang hadir di kelas saat dilakukan BIAS

MONITORING DAN EVALUASI


− Dilakukan sweeping atau pelacakan bagi murid yang belum mendapatkan
imunisasi karena sakit, tidak masuk, atau sebab lainnya
− Kerja sama dengan orang tua murid, guru untuk pelaporan KIP (Kejadian Pasca
Imunisasi).
− Evaluasi pelaksanaan kegiatan dilakukan setelah sweeping meliputi sasaran yang
mendapatkan imunisasi disbanding sasaran seluruhnya untuk menentukan
rencana tindak lanjut dari kegiatan yang telah ditentukan untuk perbaikan
kegiatan selanjutnya.

3. F1 - Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat


JUDUL LAPORAN
Penyuluhan Buku Sehat KIA Kemenkes Bab Imunisasi di Puskesmas Dempo

LATAR BELAKANG
Setiap tahun penduduk Indonesia bertambah 5 juta sehingga perlu dilakukan pantauan
pada ibu hamil dan anak sampai balita agar kesehatan dan pertumbuhan serta
perkembangan termonitor dengan baik, untuk menghindari peningkatan Angka
Kematian Ibu serta peningkatan Angka Stunting pada anak. Buku KIA menggantikan
KMS (Kartu Menuju Sehat). Kementerian Kesehatan menetapkan bahwa buku KIA
menjadi satu-satunya alat pencatatan pelayanan kesehatan ibu dan anak, dimulai dari
kehamilan, melahirkan, dan selama nifas, hingga bayi yang dilahirkan berusia 5
tahun. Pemerintah mengharapkan semua ibu hamil dan yang memiliki anak usia 0-5
tahun punya buku KIA, karena selain sebagai catatan data, didalamnya juga banyak
pesan bergambar yang bermanfaat untuk ibu dan anak.
Di dalam buku KIA, ibu diberikan informasi tentang kelengkapan imunisasi yang
harus diberikan pada anak sesuai dengan ketentuam IDAI secara lengkap, karena
imunisasi selain melindungi anak dari penyakit infeksi menular, imunisasi juga
membantu orang sekitar yang mengalami immunosompromised. Dengan begitu, ibu
dapat segera mendatangi pusat pelayanan kesehatan dan diberikan imunisasi sesuai
dengan anak ibu.

PERUMUSAN MASALAH
Apakah dengan penyuluhan untuk membaca buku KIA Bab Imunisasi kepada ibu
pengunjung Poli Imunisasi Puskesmas Dempo bisa meningkatkan pengetahuan dan
minat ibu-ibu untuk melakukan imunisasi secara rutin dan lengkap?

PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI


− Strategi yang akan dilakukan adalah:
− Mengumpulkan semua ibu yang membawa anaknya untuk dilakukan imunisasi
− Pemaparan materi Bab Imunisasi
− Menjelaskan isi halaman pada Bab Imunisasi pada buku sehat KIA Kemenkes RI
− Diskusi tanya jawab dengan pasien

PELAKSANAAN
Kegiatan dilakukan dari tanggal 17 Desember 2019 di ruang tunggu pasien
Puskesmas Dempo Palembang. Penyuluhan dilakukan untuk melaksanakan edukasi
mengenai Buku KIA bab Imunisasi pada 20 ibu yang ingin melakukan imunisasi pada
anaknya di Puskesmas Dempo yang berasal dari berbagai kelurahan di wilayah kerja
Puskesmas Dempo. Kegiatan yang telah dilaksanakan adalah:
a. Melakukan edukasi :
− Jadwal imunisasi
− Jenis vaksin apa yang akan diberikan pada anak
− Pentingnya imunisasi untuk anak dan lingkungan
− Pentingnya melakukan pencatatan imunisasi anak, sehingga Buku KIA harus
dijaga dengan baik
b. Memperagakan cara pembacaan buku KIA bab Imunisasi halaman 38 dan 49
c. Diskusi dan triangulasi

MONITORING DAN EVALUASI


Indikator output yang dievaluasi dari kegiatan penyuluhan ini adalah dengan
triangulasi langsung pada peserta edukasi.

4. F1 - Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat


JUDUL LAPORAN
Penyuluhan Cara Mencuci Tangan yang Baik di Kelurahan 13 Ilir Palembang

LATAR BELAKANG
Kebersihan diri adalah upaya individu dalam memelihara kebersihan diri yang
meliputi kebersihan rambut, gigi dan mulut, mata, telinga, kuku, kulit, dan, kebersihan
dalam berpakaian dalam meningkatkan kesehatan yang optimal.
Pemeliharaan kebersihan diri sangat menentukan status kesehatan, dimana individu
secara sadar dan atas inisiatif pribadi menjaga kesehatan dan mencegah terjadinya
penyakit. Upaya ini lebih menguntungkan bagi individu karena lebih hemat biaya,
tenaga dan waktu dalam mewujudkan kesejahteraan dan kesehatan.
Upaya pemeliharaan kebersihan diri mencakup tentang kebersihan rambut, mata,
telinga, gigi dan mulut, kulit, kuku, serta kebersihan dalam berpakaian. Dalam upaya
pemeliharaan kebersihan diri ini, pengetahuan akan pentingnya kebersihan diri
tersebut sangat diperlukan. Karena pengetahuan atau kognitif merupakan domain
yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang.
Menurut Depkes 2007, mencuci tangan adalah proses yang secara mekanis
melepaskan kotoran dan debris dari kulit tangan dengan menggunakan sabun biasa
dan air.
Mencuci tangan adalah menggosok air dengan sabun secara bersama-sama seluruh
kulit permukaan tangan dengan kuat dan ringkas kemudian, dibilas dibasah aliran air.
Seperti halnya perilaku buang air besar sembarangan, perilaku cuci tangan, terlebih
cuci tangan pakai sabun merupakan masih merupakan sasaran penting dalam promosi
kesehatan, khususnya terkait perilaku hidup bersih dan sehat.

PERUMUSAN MASALAH
Ditemukan banyak warga di Kelurahan 13 Ilir yang belum mengetahui pentingnya
pengetahuan terhadap cara mencuci tangan yang baik dalam prilaku hidup bersih dan
sehat.

PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI


− Melakukan intervensi secara aktif
− Penemuan penderita secara aktif
− Melakukan penyuluhan di Kelurahan 13 Ilir tentang cara mencuci tangan yang
baik dengan memberikan contoh perilaku secara langsung.

PELAKSANAAN
Hari/Tanggal: Selasa/ 4 Februari 2020
Pukul: 09.00 WIB s.d. 11.00 WIB
Tempat: Ruang tunggu pasien Pustu 13 Ilir
Peserta: +/- 30 orang

MONITORING DAN EVALUASI


Secara keseluruhan penyuluhan berjalan lancar dan tanpa hambatan. Tidak ada
gangguan teknis yang terjadi selama penyuluhan berlangsung. Para peserta juga
merespon dengan baik, ditandai dengan tingginya angka pertanyaan dan respon dalam
mengikuti gerakan cara mencuci tangan yang baik.

5. F1 - Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat


JUDUL LAPORAN
Penyuluhan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di SD Muhammadiyah 5
Palembang

LATAR BELAKANG
Tujuan dari PHBS adalah untuk meningkatkan pengetahuan, kesadaran, kemauan, dan
kemampuan masyarakat untuk hidup bersih dan sehat, serta meningkatkan peran serta
aktif masyarakat termasuk dunia usaha dalam upaya mewujudkan derajat kesehatan
yang optimal.
Munculnya sebagai penyakit yang sering menyerang anak usia sekolah (usia 6-10),
ternyata umumnya berkaitan dengan PHBS. Oleh karena itu, penanaman nilai-nilai
PHBS disekolah merupakan kebutuhan mutlak dan dapat dilakukan melalui pedekatan
usaha kesehatan sekolah (UKS). Salah satu faktor yang mendukung PHBS adalah
kesehatan lingkungan.
PHBS disekolah adalah upaya untuk memberdayakan siswa, guru, dan masyarakat
lingkungan sekolah agar tahu, mau dan mampu mempraktikan PHBS, dan berperan
aktif dalam mewujudkan sekolah sehat. Berikut ini, beberapa indikator yang dipakai
sebagai tolak ukur penilaian PHBS di sekolah yaitu :
− Mencuci tangan dengan air yang mengalir dan menggunakan sabun
− Mengkonsumsi jajanan sehat di kantin sekolah
− Menggunakan jamban yang bersih dan sehat
− Olahraga yang teratur dan terukur
− Memberantas jentik nyamuk
− Tidak merokok di sekolah
− Menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan setiap 6 bulan
− Membuang sampah pada tempatnya

PERUMUSAN MASALAH
Sekolah sebagai salah satu sasaran PHBS di tatanan institusi pendidikan perlu
mendapatkan perhatian mengingat usia sekolah bagi anak juga merupakan masa
rawan terserang berbagai penyakit serta munculnya berbagai penyakit yang sering
menyerang anak usia sekolah (usia 6-10), misalnya diare, kecacingan dan anemia.
Menurut data WHO (2007) menyebut bahwa setiap tahun 100.000 anak Indonesia
meninggal akibat diare, angka kejadian kecacingan mencapai angka 40-60%, anemia
pada anak sekolah 23,2% dan masalah karies dan periodontal 74,4%.
Tingginya angka kejadian penyakit sangat ditentukan oleh peran masyarakat dalam
menjaga kebersihan diri dan lingkungannya. Masih rendahnya kesadaran sebagian
generasi muda untuk menerapkan PHBS dalam lingkungan sekolah merupakan
masalah yang harus diselesaikan. Oleh karena itu, peran serta pihak puskesmas dan
pemerintah setempat juga sangat dibutuhkan untuk menggalakkan PHBS dalam
lingkungan sekolah.

PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI


Pemberian materi tentang “Perilaku Hidup Bersih dan Sehat” menjelaskan mengenai
− Pengertian PHBS
− Tujuan PHBS
− Manfaat menerapkan PHBS di sekolah

PELAKSANAAN
Penyuluhan kesehatan ini dilaksanakan pada hari Senin, tanggal 4 Desember 2019,
bertempat di ruang pertemuan SD Muhammadiyah 5, Kota Palembang. Penyuluhan
ini diikuti oleh guru dan siswa/I dan kegiatan penyuluhan ini dirangkaikan dengan
Kegiatan Pembinaan Dokter Kecil. Total peserta penyuluhan berjumlah 60 orang.
Selama penyuluhan, disampaikan informasi mengenai pengertian PHBS, tujuan dan
manfaat menerapkan PHBS dalam lingkungan sekolah, jenis-jenis PHBS, serta
masalah yang akan timbul jika tidak menerapkan PHBS.
Dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dengan peserta penyuluhan. Peserta yang
mengikuti penyuluhan ini terlihat antusias selama penyuluhan dan sesi diskusi
dilakukan, dengan demikian diharapkan melalui penyuluhan ini para peserta yang
hadir dapat menerapkan PHBS di sekolah serta memahami jenis-jenis penyakit yang
dapat timbul akibat tidak berperilaku bersih dan sehat.
MONITORING DAN EVALUASI
− Penyuluhan tentang PHBS pada pelajar sekolah dasar sangat penting diadakan
guna meningkatkan kesadaran anak untuk hidup bersih dan sehat serta
menurunkan angka kesakitan di lingkungan sekolah dan masyarakat.
− Kegiatan PHBS sebaiknya dilakukan tidak hanya di sekolah dasar saja, bila perlu
dapat dilakukan dalam tingkatan lain seperti SMP dan SMA agar tercipta
kesadaran anak akan pentingnya menjaga kesehatan.
− Penyuluhan ini tidak hanya dapat dilakukan oleh petugas kesehatan, guru pun
dapat memberikan penyuluhan serupa agar anak senantiasa menjaga kebersihan.
1. F2 - Upaya Kesehatan Lingkungan
JUDUL LAPORAN
Penyuluhan Jamban Sehat

LATAR BELAKANG
Masalah penyehatan lingkungan pemukiman khususnya pada jamban keluarga
merupakan masalah kesehatan yang perlu mendapatkan prioritas. Fasilitas jamban
keluarga dimasyarakat terutama dalam pelaksanaannya tidaklah mudah, karena
menyangkut peran serta masyarakat yang biasanya sangat erat kaitannya dengan
perilaku, tingkat ekonomi, kebudayaan dan pendidikan.
Penyakit-penyakit berbasis lingkungan masih merupakan penyebab utama kematian di
Indonesia. Bahkan pada kelompok bayi dan balita, penyakit-penyakit berbasis
lingkungan menyumbangkan lebih 80% dari penyakit yang diderita oleh bayi dan
balita. Keadaan tersebut mengindikasikan masih rendahnya cakupan dan kualitas
intervensi kesehatan lingkungan (Data Susenas 2001).
Munculnya kembali beberapa penyakit menular sebagai akibat darisemakin besarnya
tekanan bahaya kesehatan lingkungan yang berkaitan dengan masalah jamban keluarga yang masih
rendah, perumahan yang tidak sehat, pencemaran makanan oleh mikroba, telur cacing danbahan
kimia, penanganan sampah dan limbah yang belum memenuhi syarat kesehatan, serta
perilaku masyarakat yang belum mendukung ke arah pola hidup bersih dan sehat.
Para ahli kesehatan masyarakat sebetulnya sudah sangat sepakat dengan kesimpulan H.L. Bloom
yang mengatakan bahwa kontribusi terbesar terhadap terciptanya peningkatan derajat
kesehatan seseorang berasal dari kualitas kesehatan lingkungan dibandingkan faktor
yang lain. Namun energi dan kebijakan anggaran agaknya masih sangat cenderung
kepada program yang bersifat kuratif.
Berdasarkan uraian di atas maka perlu dilakukan penyuluhan pada masyarakat
mengenai sanitasi lingkungan khususnya masalah jamban sehat keluarga.

PERUMUSAN MASALAH
1. Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang pentingnya jamban sehat.
2. Masih banyak warga masyarakat yang belum memiliki jamban sehat.
3. Rendahnya tingkat perekonomian dari sebagian warga mayarakat sehingga tidak
bisa membangun jamban sehat.
PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI
Metode penyuluhan dipilih untuk melakukan intervensi yang dilaksanakan dalam
upaya memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai pentingnya jamban
sehat. Intervensi menggunakan alat bantu berupa materi dalam bentuk powerpoint.
Target penyuluhan adalah masyarakat terutama kepala keluarga yang di kelurahan 13
ilir.

PELAKSANAAN
Penyuluhan Jamban Sehat dilaksanakan pada hari Rabu, 15 Januari 2020 - Kamis, 16
Januari 2020 di Kantor Kelurahan 13 ilir. Kegiatan dimulai sekitar pukul 10.00 dan
berakhir pukul 11.00 WIB. Kegiatan penyuluhan ini dilaksanakan dalam rangkaian
Penyuluhan PHBS (Perilaku Hidup Bersih Sehat).
Poin-poin penting mengenai Jamban Sehat yang disampaikan antara lain adalah:
1. Pengertian jamban sehat
2. Jenis-jenis jamban sehat
3. Siapa saja yang diharapkan menggunakan jamban sehat
4. Penjelasan mengenai manfaat penggunaan jamban sehat
5. Syarat-syarat jamban sehat
6. Cara memelihara jamban sehat
7. Cara memiliki dan menggunakan jamban sehat
8. Acara kemudian ditutup dengan sesi pertanyaan dan diskusi.

MONITORING DAN EVALUASI


Penyuluhan dilakukan dengan metode diskusi agar lebih akrab dan memudahkan
peserta yang hadir untuk memahami materi. Respons peserta cukup baik yang
ditunjukkan dengan memperhatikan, memberi tanggapan, dan mengajukan
pertanyaan. Namun terdapat juga beberapa kendala. Diantaranya adalah terdapat
beberapa ibu-ibu yang perhatiannya terhadap penyuluhan menjadi terganggu karena
anak balitanya menangis atau terlalu aktif. Meskipun dampak program pada
perubahan perilaku peserta penyuluhan belum dapat diketahui pada saat itu juga,
tetapi diharapkan agar penyuluhan mengenai PHBS pada umumnya dan jamban sehat
pada khususnya ini mampu memberikan dampak positif bagi para ibu rumah tangga,
yaitu meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya penggunaan jamban sehat
keluarga.
2. F2 - Upaya Kesehatan Lingkungan
JUDUL LAPORAN
Penyuluhan Pengelolaan Air Minum Rumah Tangga

LATAR BELAKANG
Buruknya kondisi sanitasi merupakan salah satu penyebab kematian anak dibawah 3
tahun yaitu sebesar 19% atau sekitar 100.000 anak meninggal karena diare setiap
tahunnya dan kerugian ekonomi diperkirakan sebesar 2,3% dari produk Domestik
Bruto (Studi World Bank, 2007). Berdasarkan Studi Basic Human Services (BHS) di
Indonesia tahun 2006 terhadap perilaku pengelolaan air minum rumah tangga
menunjukkan 99,20% merebus air untuk mendapatkan air minum, tetapi 47,50% dari
air tersebut masih mengandung E.Coli. Kondisi tersebut berkontribusi terhadap
tingginya angka kejadian diare di Indonesia. Kondisi seperti ini dapat dikendalikan
melalui intervensi terpadu melalui pendekatan sanitasi total. Hal ini dibuktikan
melalui hasil studi WHO tahun 2007 yaitu kejadian diare menurun 32% dengan
meningkatkan akses masyarakat terhadap sanitasi dasar, 45% dengan perilaku
mencuci tangan pakai sabun, dan 39% perilaku pengelolaan air minum yang aman di
rumah tangga. Sedangkan dengan mengintegrasikan ketiga perilaku tersebut, kejadian
diare menurun sebesar 94%.

PERUMUSAN MASALAH
1. Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang pentingnya pengelolaan air minum
rumah tangga.
2. Rendahnya tingkat perekonomian dari sebagian warga mayarakat sehingga
banyak yang memilih untuk merebus air untuk memasak atau mendapatkan air
minum.

PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI


Metode penyuluhan dipilih untuk melakukan intervensi yang dilaksanakan dalam
upaya memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan
air minum rumah tangga. Intervensi menggunakan alat bantu berupa materi
penyuluhan dalam bentuk powerpoint.
PELAKSANAAN
Penyuluhan Pengelolaan Air Minum Rumah Tangga dilaksanakan pada hari Rabu, 15
Januari 2020 - Kamis, 16 Januari 2020 di Kantor Kelurahan 13 ilir. Kegiatan dimulai
sekitar pukul 11.00 dan berakhir pukul 11.30 WIB. Kegiatan penyuluhan ini
dilaksanakan dalam rangkaian Penyuluhan PHBS (Perilaku Hidup Bersih Sehat).

MONITORING DAN EVALUASI


Penyuluhan dilakukan dengan metode diskusi agar lebih akrab dan memudahkan
peserta yang hadir untuk memahami materi. Respons peserta cukup baik yang
ditunjukkan dengan memperhatikan, memberi tanggapan, dan mengajukan
pertanyaan.
Namun terdapat juga beberapa kendala. Diantaranya adalah terdapat beberapa ibu-ibu
yang perhatiannya terhadap penyuluhan menjadi terganggu karena anak balitanya
menangis atau terlalu aktif. Meskipun dampak program pada perubahan perilaku
peserta penyuluhan belum dapat diketahui pada saat itu juga, tetapi diharapkan agar
penyuluhan mengenai PHBS pada umumnya dan pengelolaan air minum rumah
tangga pada khususnya ini mampu memberikan dampak positif bagi para ibu rumah
tangga, yaitu meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pengelolaan air
minum rumah tangga.

3. F2 - Upaya Kesehatan Lingkungan


JUDUL LAPORAN
Penyuluhan Cegah Demam Berdarah Dengan Gerakan 3M Plus

LATAR BELAKANG
Demam Berdarah Dengue banyak ditemukan di daerah tropis dan sub-tropis. Data
dari seluruh dunia menunjukkan Asia menempati urutan pertama dalam jumlah
penderita DBD setiap tahunnya. Sementara itu, terhitung sejak tahun 1968 hingga
tahun 2009, World Health Organization (WHO) mencatat negara Indonesia sebagai
negara dengan kasus DBD tertinggi di Asia Tenggara.
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) masih merupakan salah satu masalah
kesehatan masyarakat yang utama di Indonesia. Jumlah penderita dan luas daerah
penyebarannya semakin bertambah seiring dengan meningkatnya mobilitas dan
kepadatan penduduk. Di Indonesia Demam Berdarah pertama kali ditemukan di kota
Surabaya pada tahun 1968, dimana sebanyak 58 orang terinfeksi dan 24 orang
diantaranya meninggal dunia (Angka Kematian (AK) : 41,3 %). Dan sejak saat itu,
penyakit ini menyebar luas ke seluruh Indonesia.
Menentukan upaya–upaya pencegahan DBD menjadi hal penting yang harus
dilakukan untuk mencegah kemungkinan kejadian luar biasa dari penyakit DBD.

PERUMUSAN MASALAH
1. Kurangnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya gerakan
3M Plus.
2. Kurangnya sosialisasi gerakan 3M Plus kepada masyarakat.

PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI


Metode penyuluhan dipilih untuk melakukan intervensi yang dilaksanakan dalam
upaya memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai pentingnya gerakan 3M
Plus. Intervensi menggunakan alat bantu berupa materi dalam bentuk powerpoint.

PELAKSANAAN
Pelaksanaan penyuluhan mengenai Gerakan 3M Plus dilaksanakan pada tanggal 7
Januari 2020 di Puskesmas Dempo pukul 08.00 WIB. Pelaksanaan penyuluhan ini di
hadiri oleh masyarakat yang datang untuk berobat di Puskesmas Dempo. Pelaksanaan
dibuka dengan pembukaan lalu dilanjutkan dengan penyampaian materi. Adapun
materi yang dibawakan adalah
a. Menutup, yaitu memberi tutup yang rapat pada tempat air ditampung seperti bak
mandi, kendi, toren air, botol air minum dan lain sebagainya.
b. Menguras, adalah membersihkan tempat yang sering dijadikan tempat
penampungan air seperti kolam renang, bak mandi, ember air, tempat air minum,
penampung air lemari es dan lain-lain.
c. Mengubur, adalah memendam di dalam tanah untuk sampah atau benda yang
tidak berguna yang memiliki potensi untuk jadi tempat nyamuk Demam Berdarah
bertelur di dalam tanah.
Adapun yang dimaksud dengan Plus adalah segala bentuk kegiatan pencegahan
seperti:
a. Menggunakan obat nyamuk atau anti nyamuk.
b. Menggunakan kelambu saat tidur.
c. Menanam tanaman pengusir nyamuk.
d. Memelihara ikan yang dapat jentik nyamuk.
e. Menghindari daerah gelap di dalam rumah agar tidak ditempati nyamuk dengan
mengatur ventilasi dan pencahayaan.
f. Memberi bubuk larvasida pada tempat air yang sulit dibersihkan.
g. Tidak menggantung pakaian di dalam rumah serta tidak menggunakan hordeng
gelap yang bisa menjadi tempat istirahat nyamuk, dan lain-lain.

MONITORING DAN EVALUASI


Pelaksanaan penyuluhan berjalan dan baik dan lancar. Penyampaian materi kepada
masyarakat yang hadir dapat diterima dengan baik. Pada sesi tanya jawab, terdapat
beberapa orang yang aktif bertanya mengenai materi yang diberikan.

4. F2 - Upaya Kesehatan Lingkungan


JUDUL LAPORAN
Penyuluhan Program Dokter Kecil di SD IPEKA Palembang

LATAR BELAKANG
Usaha Kesehatan Sekolah merupakan salah satu wadah utama untuk pendidikan
kesehatan disekolah yang mempunyai sasaran utama yaitu seluruh warga sekolah
yang terdiri dari anak didik, guru, dan petugas-petugas sekolah lainnya. Usaha
Kesehatan Sekolah (UKS) diharapkan dapat menanamkan, menumbuhkan,
mengembangkan, dan membimbing siswa, guru, dan masyarakat untuk menghayati,
menyenangi, dan melaksanakan prinsip hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari.
Program dokter kecil telah termuat dalam program TRIAS UKS pada kegiatan
pelayanan kesehatan. Dokter Kecil merupakan kegiatan yang mana melaksanakan
sebagian usaha pemeliharaan dan peningkatan kesehatan terhadap diri sendiri, teman,
keluarga dan lingkungannya (Ahmad Selvia, 2009:23). Oleh karena itu peran dan
pelaksana program dokter kecil sangat penting karena dengan adanya program dokter
kecil ini kegiatan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) menjadi lebih hidup dan
partisipasi peserta didik dalam peningkatan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) lebih
meningkat.
PERUMUSAN MASALAH
Dokter Kecil disekolah dapat berperan dalam meningkatan semangat dan motivasi
siswa untuk berprilaku sehat sejak dini dan siswa mampu menolong dirinya sendiri
dan orang disekitarnya, namun pelaksanaan dokter kecil sampai saat ini masih kurang
sesuai dengan yang diharapkan.

PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI


Dokter Kecil merupakan salah satu wadah utama untuk pendidikan kesehatan
disekolah sejak dini yang mempunyai sasaran utama yaitu seluruh warga sekolah
yang terdiri dari anak didik, guru, dan petugas-petugas sekolah lainnya. Salah satu
tujuan program ini adalah siswa diharapkan dapat berperan langsung untuk menjadi
penggerak hidup sehat di sekolah, rumah, dan lingkungan sehingga siswa mampu
menolong dirinya sendiri dan orang disekitarnya.
PELAKSANAAN
Pelaksanaan penyuluhan mengenai Dokter Kecil dilaksanakan pada tanggal 12
November 2019 di SD IPEKA pukul 08.00 WIB. Pelaksanaan penyuluhan ini di
hadiri oleh para guru. Pelaksanaan dibuka dengan pembukaan lalu dilanjutkan dengan
penyampaian materi Dokter Kecil. Adapun materi yang dibawakan terdiri dari Dokter
Kecil, Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) dan Perilaku Hidup Bersih dan
Sehat (PHBS).

MONITORING DAN EVALUASI


Pelaksanaan penyuluhan berjalan dan baik dan lancar. Penyampaian materi kepada
para guru yang hadir dapat diterima dengan baik. Pada sesi tanya jawab, para guru
aktif bertanya mengenai materi yang diberikan.

5. F2 - Upaya Kesehatan Lingkungan


JUDUL LAPORAN
Penyuluhan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS)
LATAR BELAKANG
Sehat merupakan syarat mutlak bagi setiap orang untuk bisa menjalani kehidupan
yang produktif. Salah satu cara yang bisa ditempuh untuk mendapatkan jiwa dan raga
yang sehat adalah dengan melaksanakan pendidikan kesehatan. Sementara itu,
sekolah merupakan tempat terjadinya proses transfer ilmu, termasuk ilmu yang
berkaitan dengan kesehatan. Oleh karena itu, sekolah adalah lembaga vital dan ideal
untuk memulai pendidikan kesehatan.
Usaha Kesehatan Sekolah merupakan salah satu wadah utama untuk pendidikan
kesehatan disekolah yang mempunyai sasaran utama yaitu seluruh warga sekolah
yang terdiri dari anak didik, guru, dan petugas-petugas sekolah lainnya. Usaha
Kesehatan Sekolah (UKS) diharapkan dapat menanamkan, menumbuhkan,
mengembangkan, dan membimbing siswa, guru, dan masyarakat untuk menghayati,
menyenangi, dan melaksanakan prinsip hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari.

PERUMUSAN MASALAH
UKS disekolah dapat berperan dalam meningkatan kegiatan intrakulikuler,
penyuluhan kesehatan, serta latihan keterampilan tenaga kesehatan dari Puskesmas
di sekolah namun pelaksanaan UKS sampai saat ini masih kurang sesuai dengan yang
diharapkan.

PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI


Usaha Kesehatan Sekolah merupakan salah satu wadah utama untuk pendidikan
kesehatan disekolah yang mempunyai sasaran utama yaitu seluruh warga sekolah
yang terdiri dari anak didik, guru, dan petugas-petugas sekolah lainnya. Salah satu
tujuan program ini adalah siswa diharapkan dapat berperan langsung untuk menjadi
penggerak hidup sehat di sekolah, rumah, dan lingkungan sehingga siswa mampu
menolong dirinya sendiri dan orang disekitarnya.

PELAKSANAAN
Pelaksanaan penyuluhan mengenai UKS dilaksanakan pada tanggal 6 Januari 2020 di
SMP Taman Siswa pukul 08.00 WIB. Pelaksanaan penyuluhan ini di hadiri oleh para
guru. Pelaksanaan dibuka dengan pembukaan lalu dilanjutkan dengan penyampaian
materi UKS. Adapun materi yang dibawakan terdiri dari UKS (Usaha Kesehatan
Sekolah), Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) dan Perilaku Hidup Bersih
dan Sehat (PHBS).

MONITORING DAN EVALUASI


Pelaksanaan penyuluhan berjalan dan baik dan lancar. Penyampaian materi kepada
para guru yang hadir dapat diterima dengan baik. Pada sesi tanya jawab, para guru
aktif bertanya mengenai materi yang diberikan.

1. F3 - Upaya Kesehatan Ibu dan Anak serta Keluarga Berencana


JUDUL LAPORAN
Upaya Pencegahan Infeksi Saluran Nafas Akut Pada Anak

LATAR BELAKANG
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah proses infeksi akut berlangsung
selama 14 hari, yang disebabkan oleh mikroorganisme dan menyerang salah satu
bagian, dan atau lebih dari saluran napas, mulai dari hidung (saluran atas) hingga
alveoli (saluran bawah), termasuk jaringan adneksanya, seperti sinus, rongga telinga
tengah dan pleura.1Gejala awal yang timbul biasanya berupa batuk pilek, yang
kemudian diikuti dengan napas cepat dan napas sesak. Pada tingkat yang lebih berat
terjadi kesukaran bernapas dan tidak dapat minum. Usia Balita adalah kelompok yang
paling rentan dengan infeksi saluran pernapasan. Kenyataannya bahwa angka
morbiditas dan mortalitas akibat ISPA, masih tinggi pada balita di Negara
berkembang.
World Health Organization (WHO) memperkirakan insidens Infeksi Saluran
Pernapasan Akut (ISPA) di negara berkembang dengan angka kematian balita di atas
40 per 1000 kelahiran hidup adalah 15%-20% pertahun pada golongan usia balita.
Menurut WHO, 13 juta anak balita di dunia meninggal setiap tahun dan sebagian
besar kematian tersebut terdapat di Negara berkembang, di mana pneumonia
merupakan salah satu penyebab utama kematian dengan membunuh 4 juta anak balita
setiap tahun.2
Di Indonesia, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) selalu menempati urutan
pertama penyebab kematian pada kelompok bayi dan balita. Selain itu ISPA juga
sering berada pada daftar 10 penyakit terbanyak di rumah sakit. Survei mortalitas
yang dilakukan oleh Subdit ISPA tahun 2005 menempatkan ISPA/Pneumonia sebagai
penyebab kematian bayi terbesar di Indonesia dengan persentase 22,30% dari seluruh
kematian balita.3 Data dari Dinas Kesehatan Kota Palembang tahun 2009
menyebutkan angka kejadian ISPA tahun 2007 sebanyak 209.775 kasus, pada tahun
2008 sebanyak 282.661 kasus, pada tahun 2009 sebanyak 277.320 kasus.
Banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya ISPA pada balita antara lain: status
gizi, umur, pemberian ASI tidak memadai, keteraturan pemberian vitamin A, BBLR,
imunisasi tidak lengkap, polusi udara, kepadatan tempat tinggal, tingkat sosial
ekonomi dan pendidikan. Dengan mengetahui faktor-faktor risiko terjadinya ISPA
maka pencegahan pun dapat dilakukan dengan mengintervensi faktor risiko, baik
yang berasal dari diri individu maupun lingkungan sekitar.
Selain pencegahan, pengobatan kasus infeksi saluran pernafasan akut merupakan hal
yang penting untuk diperhatikan. Pemberian obat dengan dosis, cara dan waktu yang
tepat sangat membantu proses percepatan penyembuhan. Penatalaksanaan terapi di
Puskesmas sudah disusun oleh Departemen Kesehatan R.I. Sebagi terapi pilihan
dengan obat adalah menggunakan amoksisilin atau dengan kotrimoksasol, atau bisa
merupakan campuran dari keduanya.
Pentingnya mengetahui pola pencegahan pada penyakit ISPA merupakan hal yang
mendasari penulis untuk meneliti pola pencegahan balita yang menderita ISPA di
Puskesmas Dempo khusus nya di tingkat posyandu periode 25 November 2019-30
November 2019.

PERMASALAHAN
Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan maka diperlukan pengetahuan yang
lebih, maka penulis membuat rumusan masalah sebagai berikut “upaya pencegahan
infeksi saluran nafas akut pada anak di wilayah puskesmas di tingkat posyandu, kota
palembang, sumatera selatan periode 25 November 2019-30 November 2019”.

PERENCANAAN DAN INTERVENSI


− Pembukaan
− Penyuluhan interaktif: Penyakit ISPA khususnya pada anak-anak
− Tanya jawab
− Pembagian leaflet dan pengisian kuisioner
− Penutup
− Pemeriksaan pada pasien
− Penghitungan dan Pencatatan hasil

PELAKSANAAN
Sasaran kegiatan ini adalah para pengunjung yang membawa anak-anak di posyandu
yang telah ditetapkan.
MONITORING DAN EVALUASI
− Distribusi pasien yang mempunyai faktor resiko terkena ISPA berdasarkan umur
tercatat terbanyak pada kelompok pasien umur 1-5 tahun yaitu sebanyak 91
pasien (75,53) dan terkecil pada kelompok usia 6-10 yaitu sebanyak 29 pasien
(24,47%).
− Distribusi pasien yang didata berdasarkan umur tercata terbanyak pada umur 6-
10 tahun sebanyak 172 pasien (68,8%), dan jumlah paling sedikit pada kelompok
umur 1-5 tahun sebanyak 78 pasien (31,2%).

2. F3 - Upaya Kesehatan Ibu dan Anak serta Keluarga Berencana


JUDUL LAPORAN
Program Pemberian Vitamin A pada Bayi dan Balita

LATAR BELAKANG
Vitamin merupakan salah satu zat yang sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia yang
tidak dapat diprodksi oleh tubuh manusia sendiri. Sehingga vitamin in harus diperoleh
dari luar untuk memenuhi kebutuhan manusia . Sumber vitamin a berasal dari buah,
biji-bijian dan sayur.
Kurangnya vitamin A pada tubuh paling berdampak di bagian mata dan merupakan
indera yang sangat penting untuk indera penglihatan. Dan pada balita vitamin A
sangat dibutuhkan untuk kesehatannya, anak yang kurang vitamin A dapat mudah
terkena infeksi dan sangat rentan untuk mengalami rabun senja, kekurangan Vitamin
A juga menyebabkan mata menjadi kering.
Pentingnya mengetahui pengetahuan tentang pemberian Vitamin A merupakan hal
yang mendasari penulis untuk meneliti penelitian mengenai program “Pemberian
vitamin A pada bayi dan balita di posyandu dan puskesmas dempo, kota Palembang,
Sumatera Selatan”.
.

PERMASALAHAN
Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan maka diperlukan sosialisasi betapa
pentingnya pemberian vitamin A dan dampak jika balita tidak diberikan Vitamin A
sehingga penulis lebih menekankan untuk mensosialisasikan serta memberikan
Vitamin A pada masyarakat khusus nya pada bayi dan balita
PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI
− Sosialisasi
− Menentukan Umur pasien terutama bayi dan balita
− Pemberian Vitamin A warna Biru untuk usia 6-11 bulan dan Pemberian Vitamin
A Merah untuk usia 12-60 bulan.
− Pendokumentasian Hasil Kegiatan
− Penutup

PELAKSANAAN
Kegiatan dilakukan pada tanggal 10-15 Febuari 2020 , pada pukul 8 pagi sampai
pukul 12 siang dan untuk posyandu 8 pagi sampai dengan selesai , Sasaran kegiatan
ini adalah para pengunjung yang membawa bayi dan balita di posyandu atau
puskesmas.

MONITORING DAN EVALUASI


− Sosialisasi Berjalan dan Mudah diterima Masyarakat
− Tujuan dari sosialisasi tercapai
− Diharapkan setelah ini pasien mengerti betapa penting pemberian Vitamin A
sejak Dini.

3. F3 - Upaya Kesehatan Ibu dan Anak serta Keluarga Berencana


JUDUL LAPORAN
Program Pemberian Obat Cacing dan Pencegahan Infeksi Cacing

LATAR BELAKANG
Program pemberian obat pencegahan kecacingan pada anak dan balita diberikan
minimal 1 kali dalam setahun pada bulan Febuari. Obat cacing yang diberikan adalah
Albendazole dosis tunggal (400mg). sebelum pemberian obat cacing anak dan balita
harus sudah sarapan terlebih dahulu. Pada anak pemberian obat cacing tidak boleh
diberikan bersamaan dengan pemberian imunisasi dan pada balita bias diberikan
bersamaan dengan pemberian vitamin A.
Anak-anak sangat mudah terinfeksi cacing. Adapun bahaya cacingan pada anak yaitu
anak menjadi lebih rewel , kurang gizi dikarenakan cacing meghisap makanan pada
usus anak dan dapat juga menyebabkan anemia pada anak, anak dapat dipastikan
terinfeksi cacing jika ditemukan telur cacing pada tinja anak, salah satu upaya agar
anak tidak terinfeksi cacing yaitu dengan sering mencuci tangan terutama saat makan
atau setelah BAB dengan air mengalir dan mengunakan sabun
Pentingnya mengetahui pengetahuan pemberian obat cacing dan pencegahan pada
infeksi cacing merupakan hal yang mendasari penulis untuk meneliti penelitian
mengenai pengobatan serta pencegahan cacingan yang akan dilaksanakan posyandu
yang berada dalam wilayah puskesmas dempo.

PERMASALAHAN
Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan maka diperlukan pengetahuan yang
lebih, maka penulis membuat rumusan masalah sebagai berikut program pemberian
obat cacing dan pencegahan infeksi cacing pada anak dan balita tingkat posyandu
yang tercakup di wilayah puskesmas dempo periode 17 Febuari 2020-22 Febuari
2020”.

PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI


1. Sosialisasi
2. Melaksanakan Kegiatan pemberian obat cacing
3. Tanya jawab
4. Pendokumentasian Hasil Kegiatan
5. Penutup

PELAKSANAAN
Kegiatan dilakukan pada tanggal 17-22 febuari 2020 , pada pukul 8 pagi sampai pukul
11 siang , Sasaran kegiatan ini adalah para pengunjung yang membawa anak-anak dan
balita di posyandu yang telah ditetapkan.

MONITORING DAN EVALUASI


Kegiatan Berjalan dengan baik
Tujuan dari sosialisasi telah dilaksanakan
Diharapkan setelah ini pasien tetap control untuk konsumsi obat cacing setiap tahun
4. F3 - Upaya Kesehatan Ibu dan Anak serta Keluarga Berencana
JUDUL LAPORAN
Program “Mari Terapkan Membaca Buku KIA Setiap Hari Rabu”

LATAR BELAKANG
Berdasarkan berbagai Penelitian yang telah dilakukan didapatkan Tinggi atau
rendahnya Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) disuatu
negara atau wilayah sangat erat dengan bagaimana pelayanan obstetrik nya apakah
sudah bermutu atau tidak . Untuk mencegah AKI dan AKB meningkat diperlukan
sosialisasi serta tindakan tim medis untuk mencegahnya. Pada tahun 2010 AKI masih
dalam kisaran 226 orang dan ada kemajuan yaitu pada tahu 2015 telah menjadi 102
orang per tahun , walaupun begitu masih belum mencapai target dari pemerintah yaitu
sekitar 125/100.000 kelahiran dan 35/100.000 pada kasus AKB
Pentingnya mengetahui pengetahuan tentang ANC sangat diperlukan untuk
masyarakat karena itu penulis melakukan penelitian mengenai program ANC di
Puskesmas Dempo “MERTABAK HAR (Mari Terapkan Membaca Buku KIA Setiap
Hari Rabu), Puskesmas dempo, kota Palembang, Sumatera Selatan”.
.
PERMASALAHAN
Berdasarkan Penelitian yang telah dilakukan angka kematian baik untuk ibu maupun
anak masih sangat banyak oleh karena itu penulis ingin mensosialisasikan mengenai
KIA yang menjadi salah satu program ANC.

PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI


1. Sosialisasi mengenai ANC
2. Membaca Bersama Buku KIA
3. Sesi tanya jawab serta sharing ilmu
4. Pendokumentasian Hasil Kegiatan
5. Penutup

PELAKSANAAN
Kegiatan dilakukan pada tanggal hari Rabu 5 Febuari 2020 , pada pukul 8 pagi sampai
pukul 12 siang , Sasaran kegiatan ini adalah seluruh pengunjung yang datang ke Poli
KIA Puskesmas Dempo
MONITORING DAN EVALUASI
Sosialisasi berlangsung baik dan respon pengunjung baik dalam hal Kesehatan Ibu
dan Anak
Menjelaskan kembali bahwa kegiatan ini rutin dilakukan setiap hari rabu
Diharapkan setelah ini pasien mengerti betapa penting mengetahui ANC

5. F3 - Upaya Kesehatan Ibu dan Anak serta Keluarga Berencana


JUDUL LAPORAN
Program Penyuluhan Alat KB

LATAR BELAKANG
Keluarga berencana merupakan salah satu usaha untuk mencapai kesejahteraan
dengan jalan memberikan nasehat perkawinan, pengobatan kemandulan, dan
penjarangan kehamilan.
Dalam program KB Nasional saat ini harus dilakukan salah satu saja dari usaha
keluarga berencana yakni penjarangan kehamilan dengan pemberian alat kontrasepsi.
Kontrasepsi adalah menghindari/ mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat
pertemuan antara sel telur yang matang dengan sel sperma tersebut.
Di Indonesia sejak zaman dahulu telah dipakai obat dan jamu yang maksudnya untuk
mencegah kehamilan. Di Irian Jaya telah lama dikenal ramuan dari daun-daunan yang
khasiatnya dapat mencegah kehamilan. Dlam masyarakat Hindu Bali sejak dulu hanya
ada nama untuk empat orang anak, mungkin suatu cara untuk menganjurkan supaya
pasangan suami istri mengatur kelahiran anaknya sampai empat.
Pentingnya mengetahui pengetahuan mengenai alat KB sangat diperlukan untuk
masyarakat karena itu penulis melakukan penelitian mengenai program penyuluhan
alat KB di wilayah Puskesmas Dempo, Palembang, Sumatera Selatan

PERMASALAHAN
Masih banyak ditemukan masyarakat yang belum mengerti penggunaan alat KB dan
perencanaan KB yang akan sangat berdampak pada keluarga dan negara
PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI
− Sosialisasi dilakukan di kantor camat dengan berkolaborasi dengan pihak BKKB
− Sesi tanya jawab
− Pemberian Alat KB gratis
− Pendokumentasian Hasil Kegiatan
− Penutup

PELAKSANAAN
Kegiatan dilakukan pada hari rabu tanggal 26 Febuari 2020 , pada pukul 9 pagi
sampai pukul 12 siang/selesai , Sasaran kegiatan ini adalah seluruh pengunjung yang
mengikuti acara di kantor camat

MONITORING DAN EVALUASI


Sosialisasi disambut hangat oleh pengunjung
Menjelaskan bahwa program KB sangat bermanfaat bagi keluarga dan negara
Diharapkan setelah ini pasien sadar dan ikut dalam program KB
1. F4 - Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat
JUDUL LAPORAN
PMT (Pemberian Makanan Tambahan) Bayi dan Balita

LATAR BELAKANG

Masalah gizi dapat terjadi pada setiap siklus kehidupan, dimulai sejak janin. hingga menjadi bayi, anak,
dewasa sampai usia lanjut. Saat ini Indonesia menghadapi masalah gizi ganda yaitu gizi kurang dalam
bentuk Kurang energy Protein, kurang vitamin A, Anemia dan gangguan akibat kurang Iodium dan gizi
lebih berkaitan dengan timbulnya penyakit degenerative seperti Diabetes Mellitus,
jantung,hipertensi,dll. Masalah gizi kurang merupakan salah satu faktor penyebab kematian bayi.
Keadaan tersebut secara langsung disebabkan oleh asupan gizi yang kurang mencukupi gizi balita.
Oleh sebab itu untuk membantu mencukupi kebutuhan gizi masyarakat tentang anak balita, pemerintah
mengembangkan program Pemberian Makanan Tambahan (PMT).

Pemberian Makanan Tambahan (PMT) adalah kegiatan pemberian makanan kepada balita dalam
bentuk kudapan yang aman dan bermutu beserta kegiatan pendukung lainnya dengan memperhatikan
aspek mutu dan keamanan pangan. Serta mengandung nilai gizi yang sesuai dengan kebutuhan sasaran.

Pemberian Makanan Tambahan (PMT) ada dua macam yaitu Pemberian Makanan Tambahan (PMT)
pemulihan dan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) penyuluhan. Memiliki tujuan yang sama yaitu
untuk memenuhi kebutuhan zat gizi yang dibutuhkan oleh balita.

PMT pemulihan dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan gizi balita sekaligus sebagai pembelajaran
bagi ibu dari balita sasaran. PMT pemulihan diberikan dalam bentuk makanan atau bahan makanan
lokal. Hanya dikonsumsi oleh balita gizi buruk dan sebagai tambahan makanan sehari-hari bukan
sebagai makanan pengganti makanan utama.

Makanan tambahan pemulihan diutamakan berbasis bahan makanan lokal. Jika bahan lokal terbatas
dapat digunakan makanan pabrikan yang tersedia di wilayah setempat dengan memperhatikan
kemasan, label dan masa kadaluarsa untuk keamanan pangan. Diuatamakan berupa sumber protein
hewani dan nabati serta sumber vitamin dan mineral terutama berasaal dari sayur dan buah. PMT
pemulihan ini diberikan sekali dalam satu hari selama 90 hari berturut-turut atau 3 bulan.
Makanan tambahan pemulihan dapat berupa pabrikan dan lokal. PMT pemulihan pabrikan merupakan
yaitu makanan pendamping ASI dalam bentuk biskuit yang mengandung 10 vitamin dan 7 mineral.
Biskuit hanya untuk anak usia 12 – 24 bulan melalui pengadaan Departemen Bina Gizi Masyarakat
Depkes RI, dengan nilai gizi : energi total 180 kkal, lemak 6 gram, protein 3 gr. Jumlah persajinya
mengandung 29 gr karbohidrat total, 2 gr serat pangan, 8 gr gula dan 120 mg natrium.

Sedangkan PMT pemulihan berbasis bahan makanan lokal ada dua jenis yanitu berupa Makanan
Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI) untuk bayi dan anak usia 6 – 23 bulan ) dan makanan tambahan
untuk pemulihan anak balita 24-59 bulan berupa makanan keluarga.

PMT Penyuluhan adalah makanan tambahan yang diberikan kepada balita yang disediakan oleh kader
posyandu. Tujuan PMT Penyuluhan adalah sebagai sasaran penyuluhan kepada orang tua balita tentang
makanan kudapan ( snack ) yang baik diberikan untuk balita, sebagai sarana untuk membantu
mencukupi kebutuhan gizi balita, dan sebagai sarana untuk menggerakkan peran serta masyarakat
dalam mendukung kesinambungan penyelenggaraan posyandu.

PERMASALAHAN
- Anak tidak cukup mendapat makanan bergizi seimbang
- Anak tidak mendapat gizi yang memadai
- Anak menderita penyakit infeksi

PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI


- Perawatan/ pengobatan gratis di Rumah Sakit dan Puskesmas balita gizi buruk dan
keluarga miskin.
- Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berupa MP-ASI bagi anak 6 - 29 bulan dan
PMT pemulihan pada anak 24 - 59 bulan kepada balita gizi kurang dari keluarga
miskin.
- Pemberian suplementasi gizi (Kapsul vitamin A, tablet Fe).

PELAKSANAAN
Kegiatan dilaksanakan
Hari/ Tanggal : Rabu dan Kamis/ 8-9 Januari 2020
Pukul : 08.00 WIB s/d 10.00 WIB
Tempat : Puskesmas Dempo
Peserta : Bayi dan balita yang datang ke Puskesmas Dempo

MONITORING DAN EVALUASI


- Kegiatan berjalan dengan baik
- Pengetahuan perkembangan berat bayi dan balita
- Peningkatan berat badan bayi dan balita

2. F4 - Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat


JUDUL LAPORAN
PMT (Pemberian Makanan Tambahan) Ibu Hamil

LATAR BELAKANG
Status gizi merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan pembangunan kesehatan
di Indonesia. Anak balita, anak usia sekolah, dan ibu hamil merupakan kelompok
rawan gizi yang sangat perlu mendapat perhatian khusus karena dampak negatif yang
ditimbulkan apabila menderita kekurangan gizi. Salah satu masalah kekurangan gizi
pada ibu hamil adalah Kekurangan energi kronik (KEK). Kekurangan energi kronik
(KEK) merupakan kondisi ibu hamil yang disebabkan karena adanya
ketidakseimbangan asupan gizi antara energi dan protein, sehingga zat gizi yang
dibutuhkan tubuh tidak tercukupi. Ibu hamil yang menderita KEK mempunyai risiko
kematian mendadak pada masa perinatal atau risiko melahirkan bayi dengan berat
bayi lahir rendah (BBLR). Tingginya angka kurang gizi pada ibu hamil ini juga
mempunyai kontribusi terhadap tingginya angka BBLR di Indonesia yang mencapai
10,2% berdasarkan Kemenkes RI tahun 2016. Penyebab utama terjadinya KEK pada
ibu hamil yaitu sejak sebelum hamil ibu sudah mengalami kekurangan energi, karena
kebutuhan orang hamil lebih tinggi dari ibu yang tidak dalam keadaan hamil.
Kehamilan menyebabkan meningkatnya metabolisme energi, karena itu kebutuhan
energi dan zat gizi lainnya meningkat selama hamil. Untuk mengatasi kekurangan gizi
yang terjadi pada ibu hamil Kurang Energi Kronis (KEK) perlu diselenggarakan
Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Pemulihan.
PERMASALAHAN
1. Ibu hamil menderita KEK dan anemia cenderung melahirkan bayi dengan berat
badan lahir rendah (BBLR).
2. Faktor risiko ibu hamil yang menderita KEK antara lain:
− Berat badan ibu sebelum hamil < 42 Kg
− Tinggi badan ibu < 145 cm
− Berat badan ibu pada hamil trimester III < 45 Kg
− IMT sebelum hamil < 17.0
− Ibu menderita anemia (Hb < 11g %)
3. Risiko kesakitan lebih besar terutama pada trimester III.
4. Risiko meninggal 5 kali lebih besar dan 6 kali lebih besar menderita infeksi juga.

PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI


1. MT diberikan pada ibu hamil KEK yaitu ibu hamil yang memiliki ukuran Lingkar
Lengan Atas (LiLA) dibawah 23,5 cm
2. Pemberian MT pada ibu hamil terintegrasi dengan pelayanan Antenatal Care
(ANC)
3. Tiap bungkus MT ibu hamil berisi 3 keping biskuit lapis (60 gram)
4. Pada kehamilan trimester I diberikan 2 keping per hari hingga ibu hamil tidak
lagi berada dalam kategori Kurang Energi Kronis (KEK) sesuai dengan
pemeriksaan Lingkar Lengan Atas (LiLA)
5. Pada kehamilan trimester II dan III diberikan 3 keping per hari hingga ibu hamil
tidak lagi berada dalam kategori Kurang Energi Kronis (KEK) sesuai dengan
pemeriksaan Lingkar Lengan Atas (LiLA)
6. Pemantauan pertambahan berat badan sesuai standar kenaikan berat badan ibu
hamil. Apabila berat badan sudah sesuai standar kenaikan berat badan selanjutnya
mengonsumsi makanan keluarga gizi seimbang.

PELAKSANAAN
Kegiatan dilaksanakan
Hari/ Tanggal : 11 - 29 Januari 2020
Pukul : 08.00 WIB s/d 10.00 WIB
Tempat : Puskesmas Dempo
Peserta : Ibu hamil yang berkunjung ke Poliklinik KIA Puskesmas Dempo

MONITORING DAN EVALUASI


− Dilakukan pencatatan dan pendataan ibu hamil dimulai identitas pasien, usia
kehamilan, kemudian dilakukan pengukuran BB, TB, LiLa dan status gizi ibu
hamil.
− Jumlah pasien ibu hamil yang datang ke Puskesmas Dempo selama periode bulan
Januari 2020 berjumlah 11 orang diantaranya 5 ibu hamil berstatus KEK dan 6
ibu hamil berstatus normal.
− Pemberian PMT pada ibu hamil periode bulan Januari 2020 adalah pemberian
tahap I (pertama)

3. F4 - Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat


JUDUL LAPORAN
PMT (Pemberian Makanan Tambahan) Lansia

LATAR BELAKANG
Angka keberhasilan pembangunan, terutama dibidang kesehatan, secara tidak langsung telah
menurunkan angka kesakitan dan kematian penduduk, serta meningkatkan angka harapan hidup,
meskipun tidak sekaligus berarti mutu kehidupan yang gilirannya menimbulkan perubahan struktur
penduduk, sekaligus menambah jumlah penduduk lansia. Status kesehatan lansia tidak boleh
terlupakan karena berpengaruh dalam penilaian kebutuhan akan zat gizi. Bagi lansia pemenuhan
kebutuhan gizi yang diberikan dengan baik yang dapat membantu dalam proses beradaptasi atau
menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang dialaminya selain itu dapat menjaga
kelangsungan pergantian sel-sel tubuh sehingga dapat memperpanjang usia. Ada lansia yang
tergolong sehat dan ada yang tergolong kronis. Disamping itu, sebagian lansia masih mampu
mengurus diri sendiri, sementara sebagian lain tidak.
Banyak masalah gizi yang dialami lansia sehingga membutuhkan bantuan dalam penanggulangannya.
Untuk menanggulangi masalah gizi yang dialami lansia dapat dilakukan dengan menjalankan beberapa
program penanggulangan masalah gizi pada lansia.
PERMASALAHAN
1. Gizi berlebih
Gizi berlebih pada lansia banyak terjadi di negara-negara barat dan kota kota besar.
Kebiasaan makan banyak pada waktu muda menyebabkan berat badan berlebih,
apalagi pada lansia penggunaan kalori berkurang karena berkurangnya aktivitas fisik.
Kebiasaan makan itu sulit untuk diubah walaupun disadari untuk mengurangi makan.
Kegemukan merupakan salah satu pencetus berbagai penyakit, misalnya : penyakit
jantung, kencing manis, dan darah tinggi.
2. Gizi kurang
− Gizi kurang sering disebabkan oleh masalah-masalah social ekonomi dan juga
karena gangguan penyakit. Bila konsumsi kalori terlalu rendah dari yang
dibutuhkan menyebabkan berat badan kurang dari normal. Apabila hal ini disertai
dengan kekurangan protein menyebabkan kerusakan-kerusakan sel yang tidak
dapat diperbaiki, akibatnya rambut rontok, daya tahan terhadap penyakit
menurun, kemungkinan akan mudah terkena infeksi.
3. Kekurangan vitamin
Bila konsumsi buah dan sayuran dalam makanan kurang dan ditambah dengan
kekurangan protein dalam makanan akibatnya nafsu makan berkurang, penglihatan
menurun, kulit kering, penampilan menjadi lesu dan tidak bersemangat.

PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI


Perencanaan makan secara umum
1. Makanan harus mengandung zat gizi dari makanan yang beraneka ragam, yang
terdiri dari : zat tenaga, zat pembangun dan zat pengatur.
2. Perlu di perhatikan porsi makanan, jangan terlalu kenyang. Porsi makan hendaknya
diatur merata dalam satu hari sehingga dapat makan lebih sering dengan porsi yang
kecil. Contoh menu :
Pagi : Bubur ayam
Jam 10.00 : Roti
Siang : Nasi, pindang telur, sup, pepaya
Jam 16.00 : Nagasari
Malam : Nasi, sayur bayam, tempe goreng, pepes ikan, dan pisang.
3. Banyak minum dan kurangi garam, dengan banyak minum dapat memperlancar
pengeluaran sisa makanan, dan menghindari makanan yang terlalu asin akan
memperingan kerja ginjal serta mencegah kemungkinan terjadinya darah tinggi.
4. Batasi makanan yang manis-manis atau gula, minyak dan makanan yang berlemak
seperti santan, mentega dll.
5. Bagi pasien lansia yang proses penuaannya sudah lebih lanjut perlu diperhatikan
hal-hal sebagai berikut:
 Makanlah makanan yang mudah dicerna. 
 Hindari makanan yang terlalu manis, gurih, dan goreng-gorengan.
 Bila kesulitan mengunyah karena gigi rusak atau gigi palsu kurang baik,
makanan harus lunak/ lembek atau dicincang.
 Makan dalam porsi kecil tetapi sering
 Makanan selingan atau snack, susu, buah, dan sari buah sebaiknya diberikan.
6. Batasi minum kopi atau teh, boleh diberikan tetapi harus diencerkan sebab berguna
pula untuk merangsang gerakan usus dan menambah nafsu makan.
7. Makanan mengandung zat besi seperti: kacang-kacangan, hati, telur, daging rendah
lemak, bayam, dan sayuran hijau.
8. Lebih dianjurkan untuk mengolah makanan dengan cara dikukus, direbus, atau
dipanggang, kurangi makanan yang digoreng.

Perencanaan makan untuk mengatasi perubahan saluran cerna


Untuk mengurangi risiko konstipasi dan hemoroid:
1. Sarankan untuk mengkonsumsi makanan berserat tinggi setiap hari, seperti sayuran
dan buah-buahan segar, roti dan sereal.

PELAKSANAAN
Kegiatan dilaksanakan
Hari/ Tanggal : Senin s/d Sabtu/ 18 - 23 November 2019
Pukul : 08.00 WIB s/d 10.00 WIB
Tempat : Poli Lansia Puskesmas Dempo
Peserta : Pasien lanjut usia (60 tahun keatas) yang datang ke Poli Lansia Puskesmas
Dempo

MONITORING DAN EVALUASI


- Mengamati perkembangan kondisi pasien lansia antara lain: mengecek pemahaman
dan ketaatan diet pasien, mengecek asupan makan pasien, menentukan apakah
intervensi dilaksanakan sesuai rencana, mengumpulkan informasi yang menunjukkan
alasan tidak adanya perkembangan dari kondisi pasien.

4. F4 - Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat


JUDUL LAPORAN
Screening Kesehatan Anak di Sekolah Menengah Pertama
LATAR BELAKANG
Anak usia sekolah merupakan sasaran strategis untuk pelaksanaan program kesehatan,
selain jumlahnya yang besar (±24%) dari jumlah penduduk, mereka juga merupakan
sasaran yang mudah dijangkau karena terorganisir dengan baik di sekolah. Masalah
kesehatan pada peserta didik sangat kompleks dan bervariasi. Pada anak usia SD/MI
permasalahan kesehatan yang terjadi lebih terkait pada perilaku hidup bersih
(kebiasaan cuci tangan pakai sabun, kebersihan diri, gosok gigi, dll) dan gizi
seimbang. Sedangkan pada anak usia SMP/MTs dan SMA/SMK/MA permasalahan
yang terjadi terkait gaya hidup/perilaku berisiko terhadap kesehatan seperti konsumsi
makanan, jajan, merokok, tawuran, bullying, seks pranikah, NAPZA dll.
Melihat permasalahan yang ada, peningkatan kesehatan usia sekolah dan remaja
diutamakan pada upaya promotif dan preventif. Salah satunya dilakukan melalui
Usaha Kesehatan Sekolah yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan hidup
sehat dan prestasi belajar peserta didik sehingga dapat dihasilkan sumber daya
manusia yang sehat dan berkualitas. Salah satu upaya meningkatkan kesehatan maka
dilakukan program screening kesehatan yang bertujuan untuk mendeteksi dini siswa yang
memiliki masalah kesehatan agar segera mendapatkan penanganan sedini mungkin.

PERMASALAHAN
1. Anak usia sekolah merupakan kelompok umur yang rawan terhadap masalah
kesehatan
2. Usia sekolah sangat peka untuk menanamkan pengertian dan kebiasaan hidup
sehat
3. Sekolah merupakan institusi masyarakat yang terorganisasi dengan baik.
4. Keadaan kesehatan anak sekolah akan sangat berpengaruh terhadap prestasi
belajar yang di capai.
5. Anak sekolah merupakan kelompok terbesar dari kelompok usia anakanak yang
menerapkan wajib belajar.

PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI


Skrining yang dilakukan meliputi pemeriksaan keadaan umum meliputi hygiene
perorangan, indikasi kelainan gizi dengan melihat warna rambut kusam atau mudah
dicabut, bibir kering, pecah-pecah, sudut mulut luka dan kulit keriput/ pucat,
pengukuran tekanan darah, nadi. Skrining juga meliputi pemeriksaan tanda-tanda fisik
kekurangan vitamin A, pemeriksaan gigi dan mulut, pemeriksaan tajam penglihatan
(visus), pemeriksaan telinga serta penilaian status gizi melalui pengukuran
antropometri berat badan dan tinggi badan untuk menentukan Indeks Massa Tubuh
(IMT). Untuk siswi berjenis kelamin perempuan dilakukan pengukuran LiLa.
Untuk siswa yang memiliki masalah kesehatan seperti telinga kotor, gangguan ketajaman penglihatan
serta permasalahan gigi caries maupun gigi sanggar akan diberi rujukan untuk mendapat tindakan
lebih lanjut di Puskesmas maupun Rumah Sakit untuk mencegah penyakit menjadi lebih buruk.

PELAKSANAAN
Hari/ Tanggal : Rabu, 18 Desember 2019
Pukul : 08.00 WIB s/d 10.00 WIB
Tempat : SMP N 6 Palembang
Peserta : Seluruh Siswa/i Kelas 7 SMP N 6 Palembang

MONITORING DAN EVALUASI


- Dilakukan pencatatan dan pendataan setiap siswa/i yang memiliki masalah
kesehatan
- Kegiatan berjalan dengan baik

5. F4 - Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat


JUDUL LAPORAN
Screening Kesehatan Anak di Sekolah Menengah Atas
LATAR BELAKANG
Anak usia sekolah merupakan sasaran strategis untuk pelaksanaan program kesehatan,
selain jumlahnya yang besar (±24%) dari jumlah penduduk, mereka juga merupakan
sasaran yang mudah dijangkau karena terorganisir dengan baik di sekolah. Masalah
kesehatan pada peserta didik sangat kompleks dan bervariasi. Pada anak usia SD/MI
permasalahan kesehatan yang terjadi lebih terkait pada perilaku hidup bersih
(kebiasaan cuci tangan pakai sabun, kebersihan diri, gosok gigi, dll) dan gizi
seimbang. Sedangkan pada anak usia SMP/MTs dan SMA/SMK/MA permasalahan
yang terjadi terkait gaya hidup/perilaku berisiko terhadap kesehatan seperti konsumsi
makanan, jajan, merokok, tawuran, bullying, seks pranikah, NAPZA dll.
Melihat permasalahan yang ada, peningkatan kesehatan usia sekolah dan remaja
diutamakan pada upaya promotif dan preventif. Salah satunya dilakukan melalui
Usaha Kesehatan Sekolah yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan hidup
sehat dan prestasi belajar peserta didik sehingga dapat dihasilkan sumber daya
manusia yang sehat dan berkualitas. Salah satu upaya meningkatkan kesehatan maka
dilakukan program screening kesehatan yang bertujuan untuk mendeteksi dini siswa yang
memiliki masalah kesehatan agar segera mendapatkan penanganan sedini mungkin.

PERMASALAHAN
1. Anak usia sekolah merupakan kelompok umur yang rawan terhadap masalah
kesehatan
2. Usia sekolah sangat peka untuk menanamkan pengertian dan kebiasaan hidup
sehat
3. Sekolah merupakan institusi masyarakat yang terorganisasi dengan baik.
4. Keadaan kesehatan anak sekolah akan sangat berpengaruh terhadap prestasi
belajar yang di capai.
5. Anak sekolah merupakan kelompok terbesar dari kelompok usia anakanak yang
menerapkan wajib belajar.

PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI


Skrining yang dilakukan meliputi pemeriksaan keadaan umum meliputi hygiene
perorangan, indikasi kelainan gizi dengan melihat warna rambut kusam atau mudah
dicabut, bibir kering, pecah-pecah, sudut mulut luka dan kulit keriput/ pucat,
pengukuran tekanan darah, nadi. Skrining juga meliputi pemeriksaan tanda-tanda fisik
kekurangan vitamin A, pemeriksaan gigi dan mulut, pemeriksaan tajam penglihatan
(visus), pemeriksaan telinga serta penilaian status gizi melalui pengukuran
antropometri berat badan dan tinggi badan untuk menentukan Indeks Massa Tubuh
(IMT). Untuk siswi berjenis kelamin perempuan dilakukan pengukuran LiLa.
Untuk siswa yang memiliki masalah kesehatan seperti telinga kotor, gangguan ketajaman penglihatan
serta permasalahan gigi caries maupun gigi sanggar akan diberi rujukan untuk mendapat tindakan
lebih lanjut di Puskesmas maupun Rumah Sakit untuk mencegah penyakit menjadi lebih buruk.

PELAKSANAAN
Kegiatan dilaksanakan
Hari/ Tanggal : Senin, 16 Desember 2019
Pukul : 08.00 WIB s/d 10.00 WIB
Tempat : SMA Taman Siswa Palembang
Peserta : Seluruh Siswa/i Kelas 10 SMA Taman Siswa Palembang

MONITORING DAN EVALUASI


- Dilakukan pencatatan dan pendataan setiap siswa/i yang memiliki masalah
kesehatan
- Kegiatan berjalan dengan baik

1. F5 – Pencegahan Penyakit Menular dan Tidak Menular 


JUDUL LAPORAN
Penyuluhan Mengenai HIV di SMAN 15 Palembang

LATAR BELAKANG
Generasi muda merupakan generasi penerus bangsa yang memiliki peran sangat penting bagi
agama, bangsa dan negara. Majunya sebuah agama, bangsa, dan negara sangat ditentukan oleh sikap
dan prilaku generasi muda. Era globalisasi dan modernisasi yang terjadi sekarang memberikan
pengaruh besar terhadap cara bergaul dan gaya hidup anak-anak muda sekarang, diantaranya
merokok, penyalahgunaan narkoba dan sex bebas. Gaya hidup tersebut berpengaruh juga terhadap
penyebaran penyakit HIV. Untuk itu generasi muda khususnya remaja harus siap menghadapi
pengaruh-pengaruh tersebut yang tidak sesuai dengan aturan agama dan negara.
     Penyakit HIV adalah penyakit yang disebabkan oleh virus HIV yang menyerang sel imun host
sehingga menjadi lemah dan rentan mengalami infeksi sekunder hingga AIDS. HIV ditularkan melalui
cairan tubuh dan darah. Penularan tersebut dapat terjadi saat berhubungan sexual, menggunakan
narkoba suntik atau transfusi darah.
Remaja memiliki karakteristik yang rentan terpengaruh untuk melakukan pergaulan bebas
yang mana menjadi resiko penyebaran penyakit HIV. Hal tersebut disebabkan karena remaja sangat
mudah dipengaruhi teman, rasa ingin tahu dan ingin coba-coba.  Dengan kondisi tersebut, dilakukan
kegiatan penyuluhan mengenai HIV dikalangan remaja guna menjaga masa depan pemuda masa kini
agar terhindar dari pergaulan bebas dan penyakit HIV.

PERMASALAHAN
- Kurangnya pengetahuan remaja mengenai bahaya merokok, narkoba dan HIV
- Remaja cendrung menyembunyikan fakta bahwa mereka telah merokok dan
menggunakan narkotika sehingga banyak remaja penyalahgunaan narkoba ditemukan
saat telah mengalami gangguan fisik dan mental yang berat.
- Kurangnya tenaga kesehatan yang menangani masalah kenakalan remaja
 
PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI
- Edukasi kepada setiap peserta akan dampak buruk dan bahaya merokok dan narkoba
- Edukasi kepada setiap peserta apa itu oenyakit HIV, cara oenularan dan pencegahannya
- Edukasi tentang meningkatkan kerohanian dan wawasan agar terhindar dari bujukan
untuk menggunakan narkoba
- Edukasi kepada setiap peserta mengenai pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat

PELAKSANAAN
Hari/Tanggal : Rabu / 8 November 2020
Pukul : 09.00 WIB s.d. 11.00 WIB
Tempat : SMAN 15 Palembang
Peserta : 100 orang

MONITORING DAN EVALUASI


- Kegiatan berjalan dengan baik
- Peserta mendapat penyluhan
- Tenaga kesehatan dapat menjangkau dan memantau status kesehatan remaja

2. F5 – Pencegahan Penyakit Menular dan Tidak Menular 


JUDUL LAPORAN
Penyuluhan Mengenai Merokok di SMAN 15 Palembang
LATAR BELAKANG
Generasi muda merupakan generasi penerus bangsa yang memiliki peran sangat penting bagi agama,
bangsa dan negara. Majunya sebuah agama, bangsa, dan negara sangat ditentukan oleh sikap dan
prilaku generasi muda. Era globalisasi dan modernisasi yang terjadi sekarang memberikan pengaruh
besar terhadap cara bergaul dan gaya hidup anak-anak muda sekarang, diantaranya merokok,
penyalahgunaan narkoba dan sex bebas. Gaya hidup tersebut berpengaruh juga terhadap penyebaran
penyakit HIV. Untuk itu generasi muda khususnya remaja harus siap menghadapi pengaruh-pengaruh
tersebut yang tidak sesuai dengan aturan agama dan negara.
Rokok adalah benda yang mengandung nikotin dan zat kimia lainnya yang dapat menimbulkan
ketagihan dan menimbulkan penyakit di kemudian hari bila sering dikonsumsi dan dalam jangka
waktu lama. Kegiatan merokok tentu akan lebih banyak merugikan daripada menguntungkannya. 
Remaja memiliki karakteristik yang rentan untuk mencoba rokok. Hal tersebut disebabkan karena
remaja sangat mudah dipengaruhi teman, rasa ingin tahu dan ingin coba-coba.  Dengan kondisi
tersebut, dilakukan kegiatan penyuluhan mengenai merokok dikalangan remaja guna menjaga masa
depan pemuda masa kini agar terhindar dari kebiasaan merokok.

PERMASALAHAN
 Kurangnya pengetahuan remaja mengenai bahaya merokok
 Remaja cendrung menyembunyikan fakta bahwa mereka telah merokok
 Kurangnya tenaga kesehatan yang menangani masalah kenakalan remaja
 
PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI
 Edukasi kepada setiap peserta akan dampak buruk dan bahaya merokok
 Edukasi tentang meningkatkan kerohanian dan wawasan agar terhindar dari bujukan
untuk mencoba rokok
 Edukasi kepada setiap peserta mengenai pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat

PELAKSANAAN
Hari/Tanggal : Senin / 6 Januari 2020
Pukul : 09.00 WIB s.d. 11.00 WIB
Tempat : SMAN 15 Palembang
Peserta : 100 orang

MONITORING DAN EVALUASI


- Kegiatan berjalan dengan baik
- Peserta mendapat penyluhan
- Tenaga kesehatan dapat menjangkau dan memantau status kesehatan remaja
3. F5 – Pencegahan Penyakit Menular dan Tidak Menular 

JUDUL LAPORAN
Penyuluhan Mengenai Hipertensi di Puskesmas Dempo Palembang

LATAR BELAKANG
Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah peningkatan tekanan darah sistolik
lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg pada dua kali
pengukuran dengan selang waktu lima menit dalam keadaan cukup istirahat/tenang.
Hipertensi merupakan masalah kesehatan dengan prevalensi yang tinggi, yaitu sebesar
25,8%, sesuai dengan data Riskesdas 2013. Karena hipertensi merupakan kondisi
yang sering ditemukan pada pelayanan kesehatan primer, hipertensi masih menjadi
tantangan besar di Indonesia. Di samping itu, pengontrolan hipertensi belum adekuat
meskipun obat-obatan yang efektif banyak tersedia.
Peningkatan tekanan darah yang berlangsung dalam jangka waktu lama
(persisten) dapat menimbulkan kerusakan pada ginjal (gagal ginjal), jantung (penyakit
jantung koroner) dan otak (menyebabkan stroke) bila tidak dideteksi secara dini dan
mendapat pengobatan yang memadai. Banyak pasien hipertensi dengan tekanan darah
tidak terkontrol dan jumlahnya terus meningkat. Oleh karena itu, partisipasi semua
pihak, baik dokter dari berbagai bidang peminatan hipertensi, pemerintah, swasta
maupun masyarakat diperlukan agar hipertensi dapat dikendalikan.

PERMASALAHAN
− Kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai hipertensi
− Kurangnya perhatian masyarakat terhadap kontrol kesehatannya karena hipertensi
sering kali tidak menimbulkan gejala

PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI


− Edukasi kepada setiap peserta mengenai pentingnya kontrol kesehatan
− Edukasi kepada peserta mengenai penyakit hipertensi, komplikasi dan cara
pencegahannya
PELAKSANAAN
Kegiatan dilaksanakan
Hari / tanggal : Kamis / 9 Januari 2020
Pukul : 08.00 s.d 09.00
Tempat : Puskesmas Dempo Palembang
Peserta : 50 orang

MONITORING DAN EVALUASI


− Kegiatan berjalan dengan baik
− Peserta mendapat penyuluhan
− Tenaga kesehatan dapat menjangkau dan memantau status kesehatan masyarakat

4. F5 – Pencegahan Penyakit Menular dan Tidak Menular 


JUDUL LAPORAN
Penyuluhan Mengenai Narkoba di SMAN 15 Palembang

LATAR BELAKANG
Generasi muda merupakan generasi penerus bangsa yang memiliki peran sangat penting bagi
agama, bangsa dan negara. Majunya sebuah agama, bangsa, dan negara sangat ditentukan oleh sikap
dan prilaku generasi muda. Era globalisasi dan modernisasi yang terjadi sekarang memberikan
pengaruh besar terhadap cara bergaul dan gaya hidup anak-anak muda sekarang, diantaranya
penyalahgunaan narkoba.
     Narkoba (singkatan dari Narkotika, Psikotropika dan Bahan Adiktif berbahaya lainnya) adalah
bahan/zat yang apabila dimasukan dalam tubuh manusia, baik secara oral/diminum, dihirup, maupun
disuntikan dapat menghilangkan rasa sakit, mengubah pikiran, suasana hati atau perasaan dan
perilaku seseorang kearah yang kurang baik. Narkoba dapat menimbulkan ketergantungan (adiksi)
fisik dan psikologis.
Remaja memiliki karakteristik yang rentan terken kasus penyalahgunaan narkoba. Hal
tersebut disebabkan karena remaja sangat mudah dipengaruhi teman, rasa ingin tahu dan ingin coba-
coba. Terdapat sekitar 2 juta orang pengguna NAPZA di indonesia, mayoritas pengguna berumur 20-
25 tahun dan 90% pengguna narkoba tersebut adalah pria. Usia pertama kali menggunakan narkoba
adalah rata-rata 19 tahun.
Dengan kondisi tersebut, dilakukan kegiatan penyuluhan mengenai narkoba dikalangan
remaja guna menjaga masa depan pemuda masa kini agar terhindar dari penggunaan narkoba.
Kegiatan ini di latar belakangi dengan apabila remaja pengguna narkoba ditemukan lebih awal maka
dapat dilakukan pengobatan serta rehabilitasi yang lebih optimal agar remaja tersebut tidak
mengalami sakit dan gangguan mental yang berat akibat konsumsi narkoba dalam jangka waktu lama.

PERMASALAHAN
- Kurangnya pengetahuan remaja mengenai bahaya narkoba
- Remaja cendrung menyembunyikan fakta bahwa mereka telah menggunakan narkotika
sehingga banyak remaja penyalahgunaan narkoba ditemukan saat telah mengalami
gangguan fisik dan mental yang berat.
- Kurangnya tenaga kesehatan yang menangani masalah kenakalan remaja
 
PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI
- Edukasi kepada setiap peserta akan dampak buruk dan bahaya narkoba
- Edukasi tentang meningkatkan kerohanian dan wawasan agar terhindar dari bujukan
untuk menggunakan narkoba
- Edukasi kepada setiap peserta mengenai pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat

PELAKSANAAN
Kegiatan dilaksanakan
Hari/Tanggal : Selasa / 7 November 2020
Pukul : 09.00 WIB s.d. 11.00 WIB
Tempat : SMAN 15 Palembang
Peserta : 100 orang

MONITORING DAN EVALUASI


- Kegiatan berjalan dengan baik
- Peserta mendapat penyluhan
- Tenaga kesehatan dapat menjangkau dan memantau status kesehatan remaja

5. F5 – Pencegahan Penyakit Menular dan Tidak Menular 

JUDUL LAPORAN
Penyuluhan Mengenai Tuberkulosis di Puskesmas Dempo Palembang

LATAR BELAKANG
Tuberkulosis adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh kuman
Mycobacterium tuberculosis. Meskipun jumlah kematian akibat tuberkulosis menurun
22% antara tahun 2000 dan 2015, namun tuberkulosis masih menepati peringkat ke-
10 penyebab kematian tertinggi di dunia pada tahun 2016 berdasarkan laporan WHO.
Oleh sebab itu hingga saat ini TBC masih menjadi prioritas utama di dunia dan
menjadi salah satu tujuan dalam SDGs (Sustainability Development Goals).
Sasaran nasional Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional
(RPJMN) yang tertuang pada Peraturan Presiden Nomor 59 Tahun 2017 tentang
SDGs menetapkan target prevalensi TBC pada tahun 2019 menjadi 245 per 100.000
penduduk. Sementara prevalensi TBC tahun 2014 sebesar 297 per 100.000 penduduk.
Sedangkan di Permenkes Nomor 67 Tahun 2016 tentang Penanggulangan
Tuberkulosis menetapkan target program Penanggulangan TBC nasional yaitu
eliminasi pada tahun 2035 dan Indonesia Bebas TBC Tahun 2050. Eliminasi TBC
adalah tercapainya jumlah kasus TBC 1 per 1.000.000 penduduk. Sementara tahun
2017 jumlah kasus TBC saat ini sebesar 254 per 100.000 atau 25,40 per 1 juta
penduduk.

PERMASALAHAN
− Kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai penyakit Tuberkulosis
− Frekuensi penyakit ISPA yang gejalanya mirip penyakit Tuberkulosis banyak
ditemukan di Puskesmas Dempo

PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI


− Edukasi kepada setiap peserta mengenai etika batuk
− Edukasi kepada peserta mengenai penyakit hipertensi, komplikasi dan cara
pencegahannya

PELAKSANAAN
Kegiatan dilaksanakan
Hari / tanggal : Jumat / 10 Januari 2020
Pukul : 08.00 s.d 09.00
Tempat : Puskesmas Dempo Palembang
Peserta : 50 orang

MONITORING DAN EVALUASI


− Kegiatan berjalan dengan baik
− Peserta mendapat penyuluhan
− Tenaga kesehatan dapat menjangkau dan memantau status kesehatan masyarakat

1. F6 - Upaya Pengobatan Dasar


JUDUL LAPORAN
Upaya Kesehatan Kerja (UKK) di Rumah Makan Pagi Sore
LATAR BELAKANG
Pos UKK merupakan bentuk pemberdayaan masyarakat di kelompok kerja informal
utamanya di dalam upaya promotif, preventif untuk melindungi pekerja agar hidup
sehat dan terbebas dari gangguan kesehatan serta pengaruh buruk yang diakibatkan
oleh pekerjaan.

PERMASALAHAN
Faktor-faktor untuk meningkatkan angka keselamatan kerja di wilayah kerja
Puskesmas dempo.

PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI


Dilakukan pengecekan kesehatan secara berkala dan pemantauan kecelakaan kerja
kepada seluruh pegawai rumah makan pagi sore di daerah jalan jendral sudirman yang
ada di dekat RS Charitas

PELAKSANAAN
Hari/Tanggal : Jumat 15 November 2019
Pukul : 08.00 - 11.00 WIB
Tempat : Rumah makan pagi sore
Peserta : Seluruh karyawan

MONITORING DAN EVALUASI


− Kegiatan intervensi UKK pada Rumah Makan Pagi Sore sudah berjalan dengan
baik dan sudah dilakukan pengecekan kesehatan dan pemantauan kecelakaan
kerja
− Melakukan lebih banyak lagi penyuluhan tentang kesehatan kerja dan
memperbanyak poster tentang kesehatan kerja
− Memberikan pelatihan K3 bagi pengelola program dan mengikutsertakan seluruh
karyawan dalam penyuluhan K3
− Mengadakan APD yang sesuai dengan yang dibutuhkan.
2. F6 - Upaya Pengobatan Dasar
JUDUL LAPORAN
Puskesmas Keliling (Pusling)
LATAR BELAKANG
Puskesmas Keliling merupakan salah satu dari tiga jaringan pelayanan puskesmas,
selain Puskesmas Pembantu dan Bidan Desa. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor 75 tahun 2014 Tentang Pusat Kesehatan Masyarakat,
Puskesmas Keliling Memberikan pelayanan kesehatan yang sifatnya bergerak
(mobile), untuk meningkatkan jangkauan jangkauan dan mutu pelayanan bagi
masyarakat di wilayah kerja Puskesmas yang belum terjangkau oleh pelayanan dalam
gedung Puskesmas. Puskesmas Keliling memiliki fungsi dan tugas yaitu memberikan
pelayanan kesehatan daerah terpencil, melakukan penyelidikan KLB, transport
rujukan pasien, Penyuluhan kesehatan dengan audiovisual.

PERMASALAHAN
Masih kurang kesadaran pasien pada kegiatan puskesmas keliling

PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI


Kegiatan Puskesmas keliling meliputi pemeriksaan status gizi, anamnesis,
pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang serta penatalaksanaan farmakologis
maupun non farmakologis berupa penyuluhan tentang Pola Hidup Bersih dan Sehat.

PELAKSANAAN
Kegiatan dilaksanakan
Hari/Tanggal : Senin 23 Desember 2019
Pukul : 09.00-11.00 WIB
Tempat : Rumah RT 20 Ilir
Peserta : 10 Orang

MONITORING DAN EVALUASI


Kesadaran pasien untuk datang berobat dan pemeriksaan kesehatan masih kurang dari
target sebelumnya 20 orang tetapi yang datang 10 orang.
Dari kegiatan puskesmas keliling intervensi sudah berjalan dengan baik.
3. F6 - Upaya Pengobatan Dasar
JUDUL LAPORAN
Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu)
LATAR BELAKANG
Posbindu PTM merupakan pos pembinaan terpadu faktor risiko penyakit tidak
menular utama (obesitas, hiperkolesterol, hipertensi, hiperglikemi, diet tidak sehat,
kurang aktivitas dan merokok), berupa bentuk peran serta kelompok masyarakat yang
aktif dalam upaya promotif-preventif untuk mendeteksi secara dini keberadaan faktor
risiko PTM utama sekaligus peningkatan pengetahuan untuk mencegah dan
mengendalikan faktor risiko tersebut pada masyarakat, khususnya usia 25 tahun ke
atas. Yang dimaksud dengan PTM utama adalah diabetes, kanker, penyakit jantung
dan pembuluh darah, penyakit paru obstruktif kronis, dan gangguan akibat kecelakaan
dan tindak kekerasan.
Posbindu PTM dapat dilakukan terintegrasi dengan upaya kesehatan bersumber
masyarakat yang sudah ada secara terpadu, rutin, dan periodik dengan memanfaatkan
sarana dan tenaga yang sudah ada. Kegiatan ini dilakukan oleh kader kesehatan yang
telah dibina bekerjasama dengan pihak puskesmas.

PERMASALAHAN
Puskesmas Dempo kota Palembang telah mulai menjalankan kegiatan Posbindu PTM,
yang dilakukan tiap bulan. Posbindu ini melibatkan kader-kader puskesmas, perawat
dan dokter yang bertugas di bagian pemeriksaan dan pengobatan. Posbindu PTM di
wilayah kerja Puskesmas Dempo melakukan senam lansia, penyuluhan penyakit tidak
menular, pengukuran tekanan darah, berat badan, lingkar perut, pemeriksaan gula
darah, pencatatan dan pelaksanaan rujukan ke puskesmas dan rumah sakit. Beberapa
kendala masih ditemukan dalam penyelenggaraan Posbindu ini. Pada laporan ini
hanya akan dibahas mengenai posbindu penyakit tidak menular di Puskesmas Dempo.

PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI


Sebelum dilaksanakan kegiatan Posbindu PTM ini, koordinasi dilakukan dengan
petugas puskesmas untuk menjadwalkan penyuluhan, cek kesehatan dan pengobatan
gratis. Penyuluh bertugas menyiapkan diri dengan penguasaan materi penyuluhan,
cara penyampaian pesan, dan pengadaan media penyuluhan (lembar balik).
Penguasaan materi dilakukan dengan membaca buku atau mencari tulisan di internet.
Dalam kesempatan wawancara medis perorangan, memungkinkan memberikan
penyuluhan pribadi dalam bentuk konseling. Setelah selesai penyuluhan langsung
dilaksanakan cek kesehatan dan pengobatan gratis.

PELAKSANAAN
Hari/Tanggal : Selasa 17 Desember 2019
Pukul : 09.00 s.d. 11.00 wib
Tempat : Gramedia 17 ilir
Peserta : 30 orang

MONITORING DAN EVALUASI


Posbindu PTM merupakan pos pembinaan terpadu faktor risiko penyakit tidak
menular utama (obesitas, hiperkolesterol, hipertensi, hiperglikemi, diet tidak sehat,
kurang aktivitas dan merokok), berupa bentuk peran serta kelompok masyarakat yang
aktif dalam upaya promotif-preventif untuk mendeteksi secara dini keberadaan faktor
risiko PTM utama sekaligus peningkatan pengetahuan untuk mencegah dan
mengendalikan faktor risiko tersebut pada masyarakat, dan tingkat pengendalian
faktor risiko penyakit tidak menular tergolong masih kurang, seperti salah satunya
masih terdapat karyawan yang merokok dan memiliki berat badan berlebih.
Serta follow up di bulan selanjutnya sangat diperlukan untuk melihat perkembangan
dan tingkat kendali faktor risiko penyakit tidak menular.

4. F6 - Upaya Pengobatan Dasar


JUDUL LAPORAN
Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) Balita

LATAR BELAKANG
Posyandu merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan bersumberdaya Masyarakat
(UKBM) yang dikelola dan diselenggarakan dari, oleh, untuk dan bersama
masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan, guna memberdayakan
masyarakat dan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh
pelayanan kesehatan dasar untuk mempercepat penurunan angka kematian ibu dan
bayi. Upaya pengembangan kualitas sumberdaya manusia yang mengoptimalkan
potensi tumbuh kembang anak dapat dilaksanakan secara merata apabila sistem
pelayanan kesehatan yang berbasis masyarakat seperti posyandu dapat dilakukan
secara efektif dan efisien, dan dapat menjangkau semua sasaran yang membutuhkan
pelayanan, salah satunya adalah layanan tumbuh kembang anak.

PERMASALAHAN
Sebagai tenaga kesehatan yang profesional selain mengetahui dan melaksanakan
tindakan keperawatan yang sesuai dengan SOP, hendaknya juga dibekali dengan
pengetahuan mengenai perkembangan kesehatan bayi dan balita di Indonesia
khususnya tentang konsep posyandu balita dan faktor yang mempengaruhi
ketidakberhasilan posyandu tersebut.

PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI


Keberhasilan posyandu tergambar melalui cakupan SKDN, yaitu:
S : Jumlah seluruh balita di wilayah kerja posyandu
K : Jumlah balita yang memiliki KMS di wilayah kerja posyandu
D : Jumlah balita yang ditimbang di wilayah kerja posyandu
N : Balita yang ditimbang 2 bulan berturut-turut dan garis pertumbuhan pada KMS
naik.Keberhasilan posyandu berdasarkan :
1. D/S , yaitu baik/kurangnya peran serta (partisipasi) masyarakat
2. N/S , yaitu berhasil/tidak program posyandu

PELAKSANAAN
Hari/Tanggal : Rabu 20 November 2019
Pukul : 09.00 s.d. 11.00 WIB
Tempat : Kantor kelurahan kepandean
Peserta : 15 orang

MONITORING DAN EVALUASI


Ibu tidak membawa balita ke Posyandu secara rutin. Banyak alasan ibu
tidakmembawa balita kembali ke Posyandu, misalnya karena kesibukan Ibu bagi Ibu-
ibu balita yang bekerja dan juga hal ini berhubungan dengan kegiatan yang dilakukan
di posyandu hanya berupa penimbangan balita, sedangkan kegiatan imunisasi lainnya
dilakukan di puskesmas. seperti hal nya juga ibu telah melakukan penimbangan
ditempat lain seperti praktek dokter atau rumah sakit dan karena ibu lupa dengan
jadwal posyandu.
5. F6 - Upaya Pengobatan Dasar
JUDUL LAPORAN
Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) Lansia

LATAR BELAKANG
Posyandu lansia merupakan upaya pelayanan kesehatan untuk lanjut usia di tingkat
masyarakat yang proses pembentukan dan penyelenggaraannya dilakukan oleh
masyarakat bersama lembaga swadaya masyarakat, lintas sektor pemerintah dan non-
pemerintah, swasta, dan lain-lain dengan menitikberatkan pelayanan pada upaya
promotif dan preventif.
Undang-undang kesehatan nomor 36 tahun 2009 menyebutkan bahwa tujuan
pembangunan kesehatan adalah terwujudnya derajat kesehatan yang setinggi-
tingginya. Salah satu upaya untuk terwujudnya derajat kesehatan yang optimal adalah
pemerataan pelayanan kesehatan bagi seluruh penduduk Indonesia, termasuk
pelayanan kesehatan bagi usia lanjut yang bermaksud untuk meningkatkan derajat
kesehatan usia lanjut agar selama mungkin dapat aktif, mandiri, dan berguna.

PERMASALAHAN
Melihat hal tersebut diatas, dibutuhkan pembinaan oleh tenaga kesehatan bagi
posyandu lansia agar terpeliharanya kelancaran pelaksanaan posyandu lansia oleh
masyarakat, meningkatkan hasil kegiatan dan masyarakat dapat mengenal masalahnya
sendiri serta mampu mengatasinya sesuai dengan potensi yang dimiliki.

PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI


Kegiatan-kegiatan dalam posyandu lansia akan dikembangkan lebih bersifat
mempertahankan derajat kesehatan, meningkatkan daya ingat, meningkatkan rasa
percaya diri dan kebugaran lansia. Pelayanan Kesehatan di Posyandu lanjut usia
meliputi pemeriksaan Kesehatan fisik dan mental emosional yang dicatat dan dipantau
dengan Kartu Menuju Sehat (KMS) untuk mengetahui lebih awal penyakit yang
diderita (deteksi dini) atau ancaman masalah kesehatan yang dihadapi.

PELAKSANAAN
Hari/Tanggal : Kamis 12 Desember 2019
Pukul : 09.00 WIB s.d. 11.00 WIB
Tempat : Kantor kelurahan 20 Ilir
Peserta : 20 orang

MONITORING DAN EVALUASI


a. Pengetahuan lansia yang rendah tentang manfaat posyandu.
Pengetahuan lansia akan manfaat posyandu ini dapat diperoleh dari pengalaman
pribadi dalam kehidupan sehari-harinya. Dengan menghadiri kegiatan posyandu,
lansia akan mendapatkan penyuluhan tentang bagaimana cara hidup sehat dengan
segala keterbatasan atau masalah kesehatan yang melekat pada mereka. Dengan
pengalaman ini, pengetahuan lansia menjadi meningkat, yang menjadi dasar
pembentukan sikap dan dapat mendorong minat atau motivasi mereka untuk selalu
mengikuti kegiatan posyandu lansia

b. Jarak rumah dengan lokasi posyandu yang jauh atau sulit dijangkau.
Jarak posyandu yang dekat akan membuat lansia mudah menjangkau posyandu tanpa
harus mengalami kelelahan atau kecelakaan fisik karena penurunan daya tahan atau
kekuatan fisik tubuh. Kemudahan dalam menjangkau lokasi posyandu ini
berhubungan dengan faktor keamanan atau keselamatan bagi lansia. Jika lansia
merasa aman atau merasa mudah untuk menjangkau lokasi posyandu tanpa harus
menimbulkan kelelahan atau masalah yang lebih serius, maka hal ini dapat
mendorong minat atau motivasi lansia untuk mengikuti kegiatan posyandu. Dengan
demikian, keamanan ini merupakan faktor eksternal dari terbentuknya motivasi untuk
menghadiri posyandu lansia.

c. Kurangnya dukungan keluarga untuk mengantar maupun mengingatkan lansia


untuk datang ke posyandu.
Dukungan keluarga sangat berperan dalam mendorong minat atau kesediaan lansia
untuk mengikuti kegiatan posyandu lansia. Keluarga bisa menjadi motivator kuat bagi
lansia apabila selalu menyediakan diri untuk mendampingi atau mengantar lansia ke
posyandu, mengingatkan lansia jika lupa jadwal posyandu, dan berusaha membantu
mengatasi segala permasalahan bersama lansia.