Anda di halaman 1dari 25

KEBIJAKAN PERLINDUNGAN LAHAN PERTANIAN

PANGAN DI KABUPATEN BREBES

MANUSKRIP

Oleh

Nida Nur Hidayah

8111416245

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

Fakultas Hukum Universitas Negeri Semarang


Gedung K Sekaran, Gunungpati, Semarang Jawa Tengah, Indonesia, 50229
Telp/Fax: (024) 8507891
Laman : www.fhunnes.ac.id, email : fh@mail.unnes.ac.id
PENGESAHAN

Manuskrip dengan judul “Kebijakan Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Di

Kabupaten Brebes” ditulis oleh Nida Nur Hidayah NIM. 8111416245 ini telah

disetujui oleh Pembimbing, pada:

Hari :

Tanggal :

Menyetujui,
Pembimbing

Dr. SUHADI, S.H., M.Si.


NIP. 196711161993091001

ii
KEBIJAKAN PERLINDUNGAN LAHAN PERTANIAN
PANGAN DI KABUPATEN BREBES

Nida Nur Hidayah dan Suhadi


Fakultas Hukum Universitas Negeri Semarang
Gedung K Sekaran, Gunungpati, Semarang
Jawa Tengah, Indonesia, 50229
Email: nidanurhidayah1@gmail.com suhadi@mail.unnes.ac.id

ABSTRAK
Penelitian kebijakan perlindungan lahan pertanian pangan di Kabupaten
Brebes bertujuan untuk mengetahui penyebab belum terdapatnya peraturan daerah
khusus terkait LP2B dan mengetahui serta menganalisa strategi perlindungan
lahan pertanian di Kabupaten Brebes dengan tidak adanya peraturan daerah LP2B.
Penelitian menggunakan penelitian hukum empiris. Sumber data bersumber dari
penelitian di lapangan langsung terhadap fenomena sosial yang terjadi, baik
dilakukan dengan pengamatan maupun wawancara dan penyebaran kuisioner.
Teknik pengumpulan data berdasarkan hasil observasi wawancara dan
dokumentasi. Validitas data menggunakan teknik trinangulasi dimana data yang
diperoleh melaluin penelitian lapangan yang diolah menggunakan analisis
kualitatif. Hasil penelitian. Pertama, penyebab belum terdapatnya peraturan
daerah khusus terkait LP2B di Kabupaten Brebes adalah belum terdapat prioritas
dan sikap proaktif dari jajaran Pemerintah Daerah Kabupaten Brebes untuk
mencetuskan pembuatan peraturan daerah mengenai perlindungan LP2B di
Kabupaten Brebes, pembuatan regulasi daerah membutuhkan instrumen-
instrumen pertanian yang dalam penyusunannya membutuhkan anggaran yang
besar dan SDM yang memadai, dengan kondisi program LP2B baru sampai pada
tahap inventarisasi Data Dasar pertanian pangan berkelanjutan dan pengolahan
Data Dasar, membuat pemerintah daerah belum dapat mewujudkan pembentukan
regulasi tersebut. Kedua, strategi yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah
Kabupaten Brebes untuk mengatasi tidak terdapatnya peraturan daerah khusus
dalam melindungi lahan pertanian pangan pada pokoknya yaitu dengan cara
menegakkan RTRW yang berpedoman pada Peraturan Daerah Kabupaten Brebes
Nomor 2 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Brebes
Tahun 2010 – 2030 serta program-program jajaran dinas yang terkait langsung
dengan perlindungan LP2B. Simpulan dari hasil penelitian: 1) Jajaran Pemerintah
Daerah Kabupaten Brebes perlu memprioritaskan serta bersikap proaktif untuk
mencetuskan pembuatan peraturan daerah mengenai perlindungan LP2B di
Kabupaten Brebes serta menyediakan anggaran dan SDM yang memadai dalam
penyurunan perda LP2B. 2) Strategi yang dilakukan Pemerintah Daerah
Kabupaten Brebes dalam melindungi LP2B selama belum diaturnya peraturan
daerah mengenai LP2B di Kabupaten Brebes yaitu dengan menegakkan RTRW
yang berpedoman pada Peraturan Daerah Kabupaten Brebes Nomor 2 Tahun
2011 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Brebes Tahun 2010 –
2030.
Kata Kunci: Kebijakan; Perlindungan; Lahan Pertanian Pangan

iii
ABSTRACT
Research on food agricultural land protection policies in the Brebes
Regency aims to find out the cause of the absence of specific local regulations
related to LP2B and to know and analyze the strategy of protecting agricultural
land in Brebes Regency in the absence of LP2B regional regulations. Research
uses empirical legal research. Sources of data sourced from direct field research
on social phenomena that occur, both carried out by observation and interviews
and questionnaires. Data collection techniques based on the results of interview
observations and documentation. Data validity uses trinangulation techniques
where data obtained through field research are processed using qualitative
analysis. Research result. First, the cause of the absence of special regional
regulations related to LP2B in Brebes Regency is that there is no priority and
proactive attitude from the Brebes Regency Regional Government to trigger the
making of local regulations on LP2B protection in Brebes Regency, making
regional regulations requiring agricultural instruments in their preparation
requires a large budget and adequate human resources, with the condition of the
new LP2B program until the inventory phase of a sustainable food agriculture
data base and the processing of a Basic Data, has made the local government
unable to realize the formation of the regulation. Second, the strategy carried out
by the Brebes Regency Government to overcome the absence of special regional
regulations to protect food agricultural land in principle, namely by enforcing
RTRW which is guided by Brebes Regency Regulation Number 2 of 2011
concerning Spatial Planning for the Brebes Regency in 2010 - 2030 and official
line programs that are directly related to LP2B protection. Conclusions from the
results of the study: 1) The Regional Government of the Brebes Regency need to
prioritize and be proactive in sparking the making of a regional regulation on
LP2B protection in Brebes Regency and providing adequate budget and human
resources in the LP2B regional regulation. 2) The strategy undertaken by the
Brebes Regency Government in protecting LP2B as long as the local regulation
regarding LP2B in Brebes Regency has not been regulated, namely by enforcing
RTRW which is guided by Brebes Regency Regional Regulation Number 2 of
2011 concerning Brebes Regency Spatial Planning for 2010-2030.
Keywords: Policy; Protection; Food Agriculture Land

iv
A. Pendahuluan
Indonesia merupakan negara agraris, kendati demikian Indonesia masih
mengalami kesulitan dalam mengendalikan alih fungsi lahan hal ini karena laju
pertumbuhan penduduk dan pembangunan yang pesat yang berdampak pada
semakin tingginya alih fungsi lahan pertanian.
Alih fungsi lahan pertanian yang dilakukan berkepanjangan barakibat buruk
bagi lingkungan yaitu menyusutnya lahan pertanian. Khususnya di daerah Pulau
Jawa, tak hanya barakibat buruk bagi lingkungan tetapi juga barakibat buruk bagi
terancamnya persediaan pangan bagi masyarakat, produktivitas kegiatan pertanian
sehingga berdampak buruk bagi perekonomian nasional. Bahkan akibat yang
lebih serius masyarakat petani dapat kehilangan tanah yang pada hakikatnya
menjadi penguasaan terhadap sumber daya kapital utama pada kegiatan
pertanian.1
Jika dibiarkan tanpa upaya pengendalian serta pengawasan yang serius dan
tegas dari pihak pemerintah maka akan berdampak bagi sektor perekonomian dan
ketahanan pangan serta ketidakseimbangan ekologi.2 Ketidakseriusan sikap
pemerintah daerah untuk mempertahankan Rencana Tata Ruang Wilayah
(RTRW) yang sudah ditetapkan akan berpengaruh besar bagi keberlanjutan
pangan daerah. Kepadatan penduduk yang membutuhkan lahan pemukiman luas,
pada akhirnya memanfaatkan lahan di pinggiran kota yang harganya lebih
terjangkau. Maka terjadilah ekspansi wilayah kota yang akhirnya mancaplok
wilayah pinggiran kota, hal ini terjadi juga pada Kabupaten Brebes.3
Petani yang tidak memiliki lahan untuk usaha tani maka statusnya menurun
menjadi buruh tani. Penyebab hal tersebut terjadi karena: (1) kepadatan penduduk
di pedesaan yang pada umumnya mempunyai agroekosistem dominan sawah jauh
lebih tinggi dibandingkan agroekosistem lahan kering, yang menyebabkan
tekanan penduduk atas permintaan lahan menjadi lebih tinggi; (2) banyaknya
daerah pesawahan yang berlokasi dekat dengan daerah perkotaan; (3) dampak dari
pola pembangunan di masa sebelumnya, infrastruktur wilayah pesawahan pada
umumnya lebih baik dari pada wilayah lahan kering; dan (4) pembangunan
prasarana dan sarana pemukiman, kawasan industri, dan sebagainya cenderung
berlangsung cepat di wilayah bertopografi datar, dimana pada wilayah dengan
topografi seperti itu (terutama di Pulau Jawa) ekosistem pertaniannya dominan
areal persawahan.4
Sedangkan berdasarkan UU No. 18 Tahun 2012 Pasal 12 tentang Pangan,
pemerintah pusat dan pemerintah daerah memiliki tanggung jawab atas
tersedianya pangan dan pengembangan produksi pangan lokal bagi masyarakat.
Realita yang terjadi pada Kabupaten Brebes, kepentingan perlindungan lahan
pertanian demi swasembada pangan berkelanjutan belum bisa dilakukan
1
Suhadi, “Faktor Pengaruh dan Implikasi Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan Gunungpati
Kota Semarang terhadap Alih Fungsi Lahan Pertanian”. Jurnal Pandecta. Vol.7 No. 1, Januari
2012, 63.
2
Nursid Sumaatmadja, Studi Geografi Suatu Pendekatan dan Analisa Keruangan (Bandung:
Alumni, 1980) hlm. 87.
3
Rohani Budi Prihatin, “Alih Fungsi Lahan Di Perkotaan (Studi Kasus Di Kota Bandung Dan
Yogyakarta)”. Jurnal Masalah-Masalah Sosial. Vol.6 No.2, Desember 2015, 116.
4
Suhadi, “Faktor Pengaruh Dan Implikasi Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan Gunungpati
Kota Semarang Terhadap Alih Fungsi Lahan Pertanian”. Jurnal Pandecta. Vol. 7. No. 1, Januari
2012, 62-63.

1
seluruhnya karena pengaturan mengenai perlindungan lahan pertanian sebatas
dalam Peraturan Daerah Kabupaten Brebes Nomor 2 Tahun 2011 tentang
Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Brebes Tahun 2010 – 2030.
Kabupaten Brebes belum dapat melaksanakan amanat dari Pasal 8
Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 2 Tahun 2013, yang
mengamanatkan sebaran lahan pertanian pangan berkelanjutan di masing-masing
kabupaten/kota harus ditetapkan melalui Peraturan LP2B Kabupaten/Kota dan
pada kenyataannya Pemerintah Daerah Kabupaten Brebes belum mengeluarkan
kebijakan tersebut.
Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis merumusan permasalahan
sebagai berikut:
1. Mengapa di Kabupaten Brebes belum ada Peraturan Daerah khusus yang
mengatur Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B)?
2. Bagaimana strategi perlindungan lahan pertanian di Kabupaten Brebes
dengan tidak adanya peraturan daerah Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan
(LP2B)?
Tujuan penelitian penulisan ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui penyebab belum terdapatnya Peraturan Daerah khusus
terkait Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan di Kabupaten Brebes.
2. Untuk mengetahui dan menganalisa strategi perlindungan lahan pertanian di
Kabupaten Brebes dengan tidak adanya peraturan daerah Lahan Pertanian
Pangan Berkelanjutan (LP2B).
Konsep Teori pada Penelitian ini yaitu:
1. Teori Hierarki Peraturan Perundang-undangan
Menurut Hans Kelsen dalam teorinya yang bernama Stufentheori, norma
hukum merupakan susunan bertingkat yang di tingkat teratasnya merupakan
norma dasar yang fundamental bagi suatu tata hukum nasional (grundnorm).5
Teori Hans Kelsen tersebut dikembangkan oleh Hans Nawiasky dalam
bukunya yang berjudul "Aglemene Rechtslehre" mengungkapkan bahwa di
semua negara norma hukum memiliki susunan tingkatan dan memiliki
kelompoknya. Kelompok norma hukum tersebut yaitu:6

Staatsfundamentalnorm (fundamental negara)

Staatsgrundgesetz (aturan dasar negara)

Formell gesetz (undang-undang formal)

Verordnung & autonome satzung


(aturan pelaksana dan aturan otonom)
Gambar 1
Kelompok Norma Hukum

5
Dayanto, Peraturan Perundang-Undangan di Indonesia: Konsep dan Teknik Pembentukannya
Berbasis Good Legislation (Yogyakarta: Deeepublish Publisher, 2018) hlm. 53-55.
6
Jazim Hamidi, Civic Education (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2010) hlm. 31.

2
2. Teori Penegakan Hukum

Jimly Asshiddiqie mengungkapkan dalilnya, bahwa penegakan hukum


merupakan suatu upaya agar kaidah hukum berfungsi secara nyata sebagai
pedoman berperilaku dalam melakukan perbuatan hukum di kehidupan
bermasyarakat dan bernegara. Dalam sudut pandang subjeknya, penegakan hukum
dapat dimaknai dalam arti luas dan dalam arti sempit. Dalam arti luas,
pelaksanaan penegakan hukum dilakukan oleh semua subjek hukum dalam setiap
perbuatan hukum. Sedangkan dalam arti sempit, penagakkan hukum dimaknai
sebagai tugas dan fungsi aparat penegak hukum untuk menjamin kaidah hukum
berjalan semestinya dan aparat penegak hukum dapat melakukan daya paksa agar
berjalan sesuai tujuan.7
Pada realita Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) di Kabupaten
Brebes, penegakkan hukum belum dilengkapi dengan aturan dasar yang
menguatkan penegakkan hukum, yaitu peraturan daerah yang mengatur batas
lahan pertanian yang harus disediakan untuk pangan yang berkelanjutan bagi
masyarakat. Padahal merupakan hal krusial sebagai upaya untuk menjaga
swasembada pangan berkelanjutan. Kurangnya sikap proaktif pemerintah daerah
untuk menumbuhkan kesadaran mengenai perlindungan lahan pertanian pangan
berkelanjutan akan menjadi masalah penting dikemudian hari terkait kedaulatan
pangan masyarakat Kabupaten Brebes.

B. Metode Penelitian

Pada penelitian ini penulis menggunakan jenis penelitian hukum yuridis


empiris. Penelitian yuridis empiris menggunakan pendekatan kualitatif, yang
mana akan memperoleh hasil penelitian berupa data primer, sekunder dan tersier.
Penulis menganalisis data melalui metode tahapan pengumpulan data, reduksi
data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.
Dari kajian dan analisis tersebut penelitian kualitatif bermaksud untuk
memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitiaan seperti
tingkah laku, persepsi, tindakan, cara berpikir, dll. Secara holistik dan dengan
suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode
alamiah.
Penelitian ini diharapakan akan menghasilkan suatu uraian yang bersifat
deskriptif analitik. Deskriptif berarti penelitian ini bertujuan dapat membuat
gambaran dan melaporkan secara rinci, sistematis, faktual, akurat dan
berhubugan sesuai realita yang diteliti, serta menyeluruh mengenai semua yang
berkaitan dengan perlindungan hukum terhadap lahan pertanian pangan di
Kabupaten Brebes. Sehingga melalui penelitian ini penulis dapat memperoleh
gambaran mengenai keadaan ketahanan pangan di Kabupaten Brebes, dengan cara
memaparkan data yang diperoleh kemudian dianalisis dan diambil kesimpulan.

C. Hasil Penelitian dan Pembahasan

7
Laurensius Arliman, Penegakan Hukum dan Kesadaran Masyarakat (Yogyakarta: Deepublish,
2015) hlm. 12.

3
1.Penyebab Tidak Terdapat Peraturan Daerah Khusus Tentang
Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) di
Kabupaten Brebes
Penelitian ini dilakukan di wilayah Kabupaten Brebes, dari BPS Kabupaten
Brebes (2018) dan hasil digitasi CSRT dan Spot 6 Kabupaten Brebes (2016),
dimana secara administrasi Kabupaten Brebes memiliki luas kurang lebih
175.890,33 hektar yang berbatasan dengan Laut Jawa pada bagian utara,
Kabupaten Tegal dan Kota Tegal pada bagian timur, Kabupaten Banyumas dan
Kabupaten Cilacap pada bagian selatan, serta Provinsi Jawa Barat di bagian barat.
Terdiri dari 17 wilayah kecamatan, 297 desa dan kelurahan.
Kabupaten Brebes beriklim tropis yang memiliki curah hujan rata-rata 18,94
mm per bulan. Sehingga menjadikan kawasan Brebes berpotensi untuk melakukan
usaha produk tani seperti tanaman padi, perkebunan, perikanan, peternakan,
hortikultura dan sebagainya. Mata pencaharian utama di dominasi oleh petani
mengingat bahwa Kabupaten Brebes memiliki potensi yang terkenal sudah
menjadi ciri khas Kabupaten Brebes yaitu pada sektor pertanian bawang
khususnya bawang merah yang tumbuh dan berkembang hingga saat ini.
Program kebijakan perlindungan lahan pertanian pangan di Kabupaten Brebes
pada implementasinya belum dilaksanakan kurang maksimal. Penyebabnya yaitu
tidak terdapat peraturan daerah khusus mengenai perlindungan lahan pertanian
pangan di tingkat kabupaten. progres program kebijakan perlindungan lahan
pertanian pangan baru sampai pada tahap pengumpulan data pertanian pangan
berkelanjutan melalui kegiatan inventarisasi data dasar pertanian pangan
berkelanjutan dan pengelolaan data dasar.
Pemerintah Daerah Kabupaten Brebes belum memiliki suatu kebijakan
daerah terkait perlindungan lahan pertanian pangan. Walaupun Undang-Undang
Nomor 41 Tahun 2009 tentang perlindungan lahan pertanian berkelanjutan telah
terbit sejak tahun 2009. Hal ini terjadi karena belum adanya prioritas dari jajaran
Pemerintah Daerah Kabupaten Brebes untuk mencetuskan pembuatan peraturan
daerah mengenai LP2B di Kabupaten Brebes. Selain itu, didukung pula dengan
kondisi program perlindungan LP2B baru sampai pada tahap inventarisasi Data
Dasar pertanian pangan berkelanjutan dan pengolahan Data Dasar. Pembuatan
regulasi membutuhkan instrumen-instrumen pertanian dalam penyusunannya
membutuhkan anggaran yang besar dan membutuhkan tambahan Sumber Daya
Manusia (SDM) yang memadai untuk melakukan verifikasi lahan pertanian pada
sawah yang terbentang seluas 65.000 hektar di Kabupaten Brebes. Maka, dengan
kondisi tersebut pemerintah daerah belum dapat mewujudkan pembentukan
regulasi tersebut.
Jika ditinjau pada aturan otonom sesuai hierarki peraturan perundang-
undangan, Kabupaten Brebes memiliki Peraturan Daerah Kabupaten Brebes
Nomor 2 Tahun 2011 Pasal 8 ayat (1) tentang Rencana Tata Ruang Wilayah
Kabupaten Brebes Tahun 2010 – 2030 secara mendalam, kawasan pertanian
masuk dalam ketegori kebijakan pengembangan kawasan budidaya. Peraturan
Daerah Kabupaten Brebes Nomor 2 Tahun 2011 memetakan kawasan pertanian
menjadi tiga kategori yaitu kategori pertanian lahan basah, kategori pertanian
lahan kering dan kategori pertanian hortikultura. Peraturan tersebut hanya
menjelaskan bahwa kawasan pertanian termasuk kebijakan kawasan budidaya dan
mekanisme jika terjadi pelanggaran RTRW Kabupaten Brebes. Jadi, Kabupaten

4
Brebes belum memiliki Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) dan Lahan
Cadangan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LCP2B). Melainkan menyebutnya
dengan sebutan Kawasan Pertanian Pangan Berkelanjutan (KP2B) yang
merupakan rintisan awal sebagai bahan rujukan LP2B.

Gambar 2
Peta Rencana Tata Ruang Wilayah dan Kota
Kabupaten Brebes Tahun 2010-2030

Lokasi zona pertanian Kabupaten Brebes dijelaskan lebih rinci pada Peta
RTRW Kabupaten Brebes yaitu pada gambar 4.1 di atas. Pada RTRW Kabupaten
Brebes tahun 2010 – 2030, LP2B di sama artikan dengan kategori pertanian lahan
basah, lahan kering dan hortikultura.
Demi mencapai Implementasi Kebijakan Peraturan Daerah Provinsi Jawa
Tengah Nomor 2 Tahun 2013 Tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan
Berkelanjutan Provinsi Jawa di Kabupaten Brebes secara maksimal, Pemerintah
Kabupaten Brebes ternyata sudah mengambil beberapa langkah awal antara lain
yaitu:
a) Pada tahun 2008, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Brebes
melakukan survey lapangan untuk mengidentifikasi lahan sawah di seluruh
Brebes.
b) Pada tahun 2014, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Brebes
mulai menyusun audit ulang mengenai basic data lahan sawah. Karena pada
RTRW yang sedang berjalan terjadi kesalahan perhitungan.

5
c) Pada tahun 2016, Pemerintah Daerah Brebes berkoordinasi mencanangkan
penyusunan RTRW yang baru dan prosesnya masih berjalan hingga sekarang.
d) Pada tahun 2020, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Brebes
akan melakukan proses Inventarisasi Data Dasar pertanian pangan
berkelanjutan dilakukan dengan mendata by name by address pemilik lahan
pertanian untuk dicantumkan dalam sistem informasi pertanahan terpadu.

Implementasi juga membutuhkan peran koordinasi antar dinas terkait dalam


pemerintahan Kabupaten Brebes yang berkomitmen serius untuk turun tangan
menggalakkan program Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B).
Komitmen serius juga diwujudkan melalui penganggaran untuk membuat
kebijakan LP2B. Penetapan lahan pertanian pangan yang nantinya akan ditetapkan
oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Brebes harus berdasarkan kriteria,
persyaratan, yang diatur dalam PP Nomor 1 Tahun 2011 tentang Penetapan Dan
Alih Fungsi Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan Pasal 8 Jo. Pasal 10.

2. Strategi Perlindungan Lahan Pertanian Di Kabupaten Brebes Dengan


Tidak Adanya Peraturan Daerah Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan
(LP2B)

Pembangunan daerah di Kabupaten Brebes memiliki visi yang tertuang dalam


Peraturan Daerah Kabupaten Brebes Nomor 3 Tahun 2009 tentang Rencana
Pembangunan Jangka Panjang Daerah Kabupaten Brebes Tahun 2005-2025 yaitu
“Brebes yang Madani, Maju, dan Sejahtera”. Penataan ruang wilayah Kabupaten
Brebes bertujuan adalah mewujudkan ruang wilayah Kabupaten Brebes sebagai
gerbang pembangunan di bagian barat Jawa Tengah berbasis pertanian, industri
dan jasa yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan. Keempat sektor tersebut
merupakan sektor-sektor yang paling penting terkait dengan potensi Kabupaten
Brebes sehingga perlu dioptimalkan dan terintegrasi supaya mampu
meningkatkan kesejahteraan penduduk.
Berdasarkan Pasal 12 UU No. 18 Tahun 2012 tentang Pangan, pemerintah
pusat bersama pemerintah daerah bertanggung jawab atas tersedianya pangan dan
pengembangan produksi pangan lokal bagi masyarakat. Dinas Pertanian dan
Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Brebes sebagai instansi yang memiliki
peran strategis pada sektor pertanian, tentunya memiliki strategi khusus untuk
memastikan ketersediaan pangan yang cukup bagi masyarakat Kabupaten Brebes
dalam wujud perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B).
Ketidaktersediaan peraturan daerah khusus yang mengatur mengenai
perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) di Kabupaten Brebes
mengakibatkan pelaksanaan perlindungan lahan pangan tidak berjalan secara
maksimal. Setelah Penulis melakukan penelitian di beberapa instansi daerah
terkait, Penulis mendapatkan garis besar mengenai upaya apa saja yang telah
dilakukan Pemerintah Daerah Kabupaten Brebes untuk melindungi lahan
pertanian pangan ditengah ketidaktersedianya peraturan khusus yang mengatur
perlindungan LP2B.
Strategi Pemerintah Daerah Kabupaten Brebes untuk melindungi lahan
pertanian pangan ditengah ketidaktersedianya peraturan khusus yang mengatur
perlindungan LP2B dijelaskan secara detail pada bagan 1 di bawah ini:

6
Bagan 1
Strategi Perlindungan LP2B di Kabupaten Brebes

Penegakan RTRW
Kabupaten Brebes
Menyediakan Alat Mesin Tani
(Alsintan)
Menyediakan Pupuk
Bersubsidi
Menyediakan Asuransi
Usaha Tani Padi (AUTP)
Dinas Menyediakan
Pertanian Kartu Petani
dan Membangun Jalan Irigasi Pertanian
Ketahanan
Pangan Memperbaiki Usaha Tani
Mendorong Dana Desa
Untuk Berkontribusi
Pembentukan Tim Upaya Khusus
Pencapaian Produksi
Penegakkan pelanggaran
perlindungan LP2B melalui Tim
Koordinator Percepatan Ruang
Daerah (TKPRD)
Strategi
Perlindungan Pengontrolan dan pengawasan melalui
LP2B permohonan izin yang diajukan
masyarakat kepada Kantor Pertanahan.
Program PTSL
Kantor
Pertanahan Program Redistribusi
Tanah
Penegakkan pelanggaran
perlindungan LP2B melalui Tim
Koordinator Percepatan Ruang
Daerah (TKPRD)
Merevisi RTRW Kabupaten Brebes
Dinas Pengelolaan Penegakkan pelanggaran
Sumber Daya Air perlindungan LP2B melalui Tim
dan Tata Ruang Koordinator Percepatan Ruang
Daerah (TKPRD)

7
Sumber: Staff Kantor Pertanahan Kabupaten Brebes, staff Dinas Pertanian dan
Ketahanan Pangan Brebes dan staff Dinas Pengelolaan
Secara garis besar, strategi yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten
Brebes untuk mengatasi tidak terdapatnya peraturan daerah khusus dalam
melindungi lahan pertanian pangan pada pokoknya yaitu dengan cara menegakkan
RTRW sesuai yang telah direncanakan Kabupaten Brebes. Dimana RTRW
Kabupaten Brebes pada saat ini berpedoman pada Peraturan Daerah Kabupaten
Brebes Nomor 2 Tahun 2011 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten
Brebes Tahun 2010 – 2030.
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Brebes sebagai instansi
yang memiliki peran strategis pertanian tentunya memiliki upaya khusus untuk
memastikan ketersediaan pangan yang cukup bagi masyarakat Kabupaten Brebes
dalam wujud perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B)
dengan cara melaksanakan program kerja dinas pertanian yang sudah
dicanangkan setiap tahunnya sebagai pedoman dan acuan dalam pelaksanaan
tugas, antara lain yaitu:

a) Menyediakan alat mesin tani (Alsintan)

Gambar 3
Alat Mesin Tani (Alsintan) Power Thresser Multiguna dan Traktor Mini

Sumber: Alat Mesin Tani (Alsintan) milik Kelompok Mitra Tani Desa Sisalam
Kabupaten Brebes (2020)

Penyediaan alat mesin tani atau yang biasa disebut Alsintan diharapkan
dapat menjadi solusi dari trend pertanian yang semakin menurun yang mana
mengakibatkan kurangnya SDM dalam aktivitas usaha tani, baik membantu pada
saat budidaya pertanian (on-farm), panen (harvesting) maupun pasca panen (off-
farm). Sumber pendanaan penyediaan Alsintan didapatkan melalui APBN
(Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) dan APBD (Anggaran Pendapatan
dan Belanja Daerah). Dimana Alsintan diberikan kepada kelompok tani di
Kabupaten Brebes melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan. Dinas
Pertanian dan Ketahanan Pangan memberikan bantuan Alsintan berdasarkan

8
kelayakan teknis kelompok tani tersebut, yaitu berdasarkan luas lahan, pola tanam
dan kondisi lahan.

b) Menyediakan pupuk bersubsidi

Pupuk bersubsidi diperuntukan untuk petani yang telah bergabung dalam


kelompok tani dan menggarap paling luas 2 hektar dalam sektor tanaman pangan,
hortikultura, perkebunan dan peternakan. Penggunaan pupuk bersubsidi dilakukan
dengan menggunakan Kartu Tani. Penyediaan pupuk bersubsidi merupakan
perwujudan dukungan program swasembada pangan yang perlu didorong
aksesibilitasnya dalam memperoleh pupuk dengan harga yang terjangkau.

Gambar 4
Pupuk Bersubsidi

Sumber: Pupuk bersubsidi milik Kelompok Mitra Tani Desa Sisalam Kabupaten
Brebes (2020)

Menurut Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian


Pertanian (2019: 6-7), program pengelolaan subsidi pupuk telah diamanatkan
pada Peraturan Presiden Nomor 129 tahun 2018 tentang Rincian Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara Pedoman Teknis Pelaksanaan Penyediaan Pupuk
Bersubsidi Tahun Anggaran 2019. Lebih detail aturan tersebut dijabarkan pada
Peraturan Menteri Pertanian Nomor 47/Permentan/SR.310/11/2018 tentang
Alokasi dan Harga Eceran Tertinggi Pupuk Bersubsidi Sektor Pertanian Tahun
Anggaran 2019.
Mekanisme penyediaan pupuk bersubsidi dilakukan dengan melewati proses
tahapan, yaitu sebagai berikut:
a. Kementerian Keuangan menyediakan anggaran untuk mendata petani
b. Penyuluh Pertanian mendata petani sesuai dengan format RDKK (Rencana
Definitif Kebutuhan Kelompok) dengan tambahan kebutuhan pembuatan

9
kartu tani (NIK, nama sesuai KTP, alamat dsb). RDKK ialah salah satu
persyaratan untuk memperoleh sarana produksi pertanian kelompok tani dari
Gapoktan atau lembaga lain (penyalur sarana produksi pertanian dan
perbankan), termasuk perencanaan kebutuhan pupuk bersubsidi.
c. Kementerian Keuangan menyediakan anggaran untuk infrastruktur komputer
dan jaringan internet
d. BPSDMP (Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia
Pertanian), PSP (Prasarana dan Sarana Pertanian) dan Pusdatin (Pusat Data
dan Sistem Informasi Pertanian) membuat sistem eRDKK berdasarkan web
base yang handal dan melengkapi dengan sarana komputer dan jaringan
internet.
e. Pihak perbankan mendistribusikan EDC (Electronic Data Capture) ke kios
dan mendistribusikan Kartu Tani ke Petani
f. Operator telekomunikasi menyiapkan jaringan internet ke seluruh Indonesia
g. Penyuluh bersama BPSDMP (Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber
Daya Manusia Pertanian) sebagai pembina penyuluh, melakukan penyuluhan
kepada petani atau kelompok tani tentang implementasi kartu tani
h. Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC) melakukan sosialisasi kepada
distributor dan kios tentang implementasi kartu tani
i. Petani dapat mengakses pupuk bersubsidi melalui Kartu Tani yang telah
dimiliki ke kios tani terdekat

Jatah pupuk yang dianggarkan berbeda setiap tahunnya tergantung dari


pemerintah pusat. Setiap petani mendapat jatah pupuk melalui Kartu Tani selama
tiga musim tanam dalam satu tahun. Biaya subsidi untuk keperluan pupuk
langsung disalurkan pemerintah kepada produsen pupuk tanpa melalui Dinas
Pertanian dan Ketahanan Pangan.
Pengecer resmi memasarkan pupuk bersubsidi sesuai HET (Harga Eceran
Tertinggi) yang tertuang pada Pasal 11 Peraturan Menteri Pertanian Nomor
47/Permentan/SR.310/11/2018 tentang Alokasi dan Harga Eceran Tertinggi
Pupuk Bersubsidi Sektor Pertanian Tahun Anggaran 2019.
HET (Harga Eceran Tertinggi) yang ditetapkan setiap jenis pupuk yaitu
sebagai berikut:
a. Pupuk Urea disubsidikan sebesar Rp1.800,00 per kg;
b. Pupuk SP-36 disubsidikan sebesar Rp2.000,00 per kg;
c. Pupuk ZA disubsidikan sebesar Rp1.400,00 per kg;
d. Pupuk NPK disubsidikan sebesar Rp2.300,00 per kg; dan
e. Pupuk Organik disubsidikan sebesar Rp500,00 per kg.

Mengenai hal tersebut dapat dilihat dari pernyataan Bakti Pronodito


sebagai staff bidang sarana prasarana Dinas Pertanian dan ketahanan pangan
kabupaten Brebes yang menyatakan:

“Kami tidak tahu mengenai berapa rupiah yang dianggarkan pemerintah


setiap kilogram pupuknya karena anggaran subsidi pupuk tersebut langsung
disalurkan kepada Produsen pupuk. dan setiap pupuk yang dianggarkan
setiap tahunnya berbeda tergantung anggaran pertanian yang dianggarkan
pada tahun tersebut. Pupuk yang disubsidi oleh pemerintah ada 5 jenis yaitu

10
Urea, SP-36, ZA, NPK dan Organik. Pupuk urea dan pupuk organik
diproduksi oleh PT Pupuk Kujang Cikampek, sedangkan pupuk jenis SP-36,
ZA dan NPK diproduksi oleh PT.Petrokimia Gersik.” (Wawancara, 2 Maret
2020)

Pupuk bersubdi diharapkan dapat meringankan beban Petani dalam


menjangkau pupuk untuk melakukan aktivitas tani. Sehingga biaya yang
semestinya dikeluarkan untuk membeli pupuk dapat dialokasikan untuk
kebutuhan tani lainnya.

c) Menyediakan Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP)


Program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) diselenggarakan dengan
maksud memberikan jaminan perlindungan kepada para petani ketika mengalami
gagal panen yang disebabkan oleh musibah banjir, kekeringan, dan serangan
oraganisme pengganggu tumbuhan. AUTP diharapkan dapat menjadi solusi
mengatasi resiko gagal panen yang dialami oleh para petani, sehingga petani dapat
berusaha tani kembali pada pertanaman di musim berikutnya dengan biaya klaim
asuransi yang tersedia.
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Brebes menyediakan
asuransi usaha tanam padi dengan syarat petani hanya membayar premi 36.000
rupiah permusim tanam. Jika terjadi gagal panen maka petani tersebut mendapat
klaim sebesar 6.000.000 rupiah perhektar. Selain asuransi tanam padi, Dinas
Pertanian dan Ketahanan Pangan juga sedang menyusun asuransi bawang merah,
dan asuransi sapi melalui Asuransi Jasindo.
d) Menyediakan kartu petani
Kartu tani berfungsi untuk mengantisipasi salah sasaran pendistribusian
pupuk bersubsidi. Kartu Tani memiliki multiguna yaitu memberi kemudahan dan
ketepatan pada saat pendistribusian, pengontrolan dan pengawasan pupuk
bersubsidi berdasarkan Asas 6 Tepat yaitu tepat jumlah, jenis, waktu, tempat,
mutu dan harga. Selain itu memberikan layanan perbankan bagi petani karena
petani menyetorkan biaya pupuk subsidi melalui bank berdasarkan kuantitas dan
harga pupuk subsidi.

Gambar 5
Kartu Tani

Sumber: Kartu tani milik anggota Kelompok Mitra Tani Desa Sisalam Kabupaten
Brebes (2020)

11
e) Membangun jalan irigasi pertanian
Pembangunan jalan irigasi pertanian sangatlah penting karena berfungsi
sebagai penampung air kala musim kemarau tiba sehingga tanaman pertanian
tetap terus ditanam dengan aliran air yang cukup dan dipanen walaupun musim
tak menentu. Selain itu dengan meninggikan posisi tanah yang rendah akibatnya
air irigasi dapat mengendap dalam lumpur sehingga tanah pertanian dapat
berfungsi secara optimal dan juga dapat mengendapkan zat-zat garam hingga ke
lapisan bawah tanah untuk menurunkan tingkat kadar garam di permukaan tanah.

Gambar 6
Jalan Irigasi Pertanian

Sumber: Dokumentasi pribadi sawah Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes


(2019)

f) Memperbaiki jalan usaha tani


Perbaikan jalan usaha tani diharapkan dapat meningkatkan kuantitas dan
kualitas produksi di sektor pertanian. Program tersebut merupakan kegiatan
peningkatan infrastruktur prasarana pertanian. Pada tahun 2019 Peningkatan Jalan
Usaha Tani (JUT) dilakukan di 8 lokasi (titik) di Kabupaten Brebes seluas 2.800
m dengan anggaran sebesar Rp755,027,000.

g) Mendorong dana desa untuk berkontribusi


Kontribusi dana desa diharapkan dapat menunjang para petani dalam aktivitas
usaha tani baik membantu pada saat budidaya pertanian (on-farm), panen
(harvesting) maupun pasca panen (off-farm).
Program tersebut sudah terlaksana sejauh ini sesuai Peraturan Menteri Desa
Pembangunan Daerah Tertinggal, Dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor
11 Tahun 2019 Tentang Prioritas Penggunaan Dana Desa Tahun 2020. Tidak
semua desa berkontribusi untuk membantu dalam program pertanian, karena
masing-masing desa memiliki fokus masing-masing yaitu pada umumnya

12
berfokus pada infrastruktur pemukiman. Desa yang memiliki potensi pertanian
yang unggul (penopang ekonomi desa) yang berkontribusi untuk pertanian
desanya. Anggaran dana desa tersebut disusun oleh BPD (Badan Pembangunan
Desa) yang dicairkan supaya dapat berkontribusi untuk kemajuan sektor pertanian
desanya.
Kontribusi dana desa diwujudkan dengan perbaikan jalan usaha tani, perbaikan
jalan irigasi tersier, pembangunan embung dan pembuatan rumah burung hantu
(Rubuha). Desa yang sudah berkontribusi untuk sektor pertanian desanya yaitu
seperti di Desa Kebonagung Kecamatan Jatibarang yang meningkatkan jalan
usaha tani dengan pengaspalan dan Desa Tanggran Kecamatan Tonjong yang
membuat Rubuha (Rumah Burung Hantu) untuk mengusir hama tikus dari sawah
petani.
Kesejahteraan petani diusahakan baik dari segi produksi, nilai dan pendapatan
para petani secara maksimal melalui program-program tani yang diadakan. Jika
petani sejahtera, maka petani masih bisa bangga dengan lahan sawahnya untuk
menghidupi keluarganya dari kegiatan bertani. Sebab, faktor ekonomi menjadi
pertimbangan yang penting bagi petani dalam mengkonversi tanah pertanian yang
mereka miliki. Jika terdapat peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB) di sektor
pertanian maka akan terjadi penurunan konversi lahan pertanian.8

Pelaksanaan kebijakan perlindungan lahan pertanian pangan tentunya


membutuhkan sinergi dari jajaran dinas terkait dalam pemerintahan Kabupaten
Brebes untuk berkomitmen serius dan bersikap proaktif ikut turun tangan dalam
menggalakkan program Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B).
Komitmen serius juga diwujudkan melalui penganggaran untuk membuat
kebijakan LP2B.
Instumen pertanian utama yang dibutuhkan dalam implementasi program
kebijakan lahan pertanian pangan Kabupaten Brebes ialah kebijakan instrumen
insentif dan disinsentif pertanian yang pro pada masyarakat tani. Dengan
mendengarkan apa yang dibutuhkan dan kendali petani, Pemerintah Daerah
Kabupaten Brebes dapat menyusun strategi kebijakan dengan tepat sasaran.
Insentif dan disinsentif dapat diberikan oleh Pemerintah kepada Pemerintah
Daerah, Pemerintah Daerah kepada Pemerintah Daerah lainnya maupun
Pemerintah kepada masyarakat.
Ketentuan insentif dan disinsentif merupakan ketentuan yang diterapkan oleh
pemerintah daerah kabupaten untuk mendorong pelaksanaan pemanfaatan ruang
agar sesuai dengan rencana tata ruang dan untuk mencegah pemanfaatan ruang
yang tidak sesuai rencana tata ruang. Ketentuan insentif dan disinsentif berfungsi
untuk:
1. Meningkatkan upaya pengendalian pemanfaatan ruang dalam rangka
mewujudkan tata ruang sesuai dengan rencana tata ruang;
2. Memfasilitasi kegiatan pemanfaatan ruang agar sejalan dengan rencana tata
ruang; dan
3. Meningkatkan kemitraan semua masyarakat dalam rangka pemanfaatan
ruang yang sejalan dengan rencana tata ruang;
8
Rika Harini dkk, "Agricultural Land Conversion: Determinants And Impact For Food
Sufficiency In Sleman Regency". Indonesian Journal Of Geography. Vol. 44, No. 2, Desember
2012, 127-131.

13
Keberhasilan Program Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) tentunya
tidak terlepas dari dukungan pemberian insentif dan disinsentif yang tepat sasaran
bagi masyarakat tani sebagai penunjang usaha taninya. Oleh karena itu, pemberian
insentif untuk perlindungan LP2B oleh Pemerintah Kabupaten/Kota harus
berpedoman pada dasar hukum Pasal 7 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
Nomor 12 Tahun 2012 tentang Insentif Perlindungan Lahan Pertanian Pangan
Berkelanjutan. Wujud pemberian insentif tersebut berupa:
a. Pemberian keringanan dalam pembayaran kewajiban pajak bumi dan
bangunan;
b. Pengembangan infrastruktur pada sektor pertanian;
c. Dana kegiatan penelitian dengan tujuan mengembangkan bibit dan
varietas unggul;
d. Pemberian akses yang luas untuk mendapatkan informasi dan teknologi;
e. Penyediaan sarana produksi bagi sektor pertanian;
f. Keringanan biaya untuk penerbitan sertipikat hak atas tanah pada Lahan
Pertanian Pangan Berkelanjutan; dan/atau
g. Pemberian reward bagi Petani berprestasi tinggi.

Pemberian disinsentif yang tepat untuk ditujukan kepada pemilik lahan yang
melakukan konversi lahan pertanian LP2B yaitu dengan cara:
a. Memberikan batasan dalam melakukan pembangunan dan pengadaan
infrastruktur listrik/jalan;
b. Menaikkan nilai PBB dengan batas minimal sebesar 58% ;
c. Menaikkan nilai pajak balik nama dengan batas minimal sebesar 58% ;
d. Membuat kebijakan perizinan alih fungsi dengan syarat menggantikan
lahan, seluas dua kali luas lahan yang dilakukan alih fungsi dengan fungsi
yang sama atau tidak memberi kewenangan serta dikenakan biaya
kompensasi minimal sebesar 63%.

Sedangkan disinsentif yang tepat diberikan untuk pemilik lahan (investor) yang
melakukan konversi lahan pertanian bukan LP2B yaitu dengan:
a. Menaikkan nilai PBB minimal sebesar 48% ;
b. Melakukan kebijakan pembatasan pembangunan dan pengadaan
infrastruktur listrik dan jalan;
c. Menaikkan nilai pajak balik nama dengan batas minimal sebesar 40% ;
d. Melakukan kebijakan perizinan alih fungsi dengan wujud pemberian izin
konversi lahan dengan kewajiban memberikan penggantian lahan dengan
fungsi yang sama dan dengan luas dua kali luas lahan yang dikonversi atau
tidak diberikan izin izin sama sekali atau membayar kompensasi.

Maka dari itu dalam mewujudkan instrumen-instrumen sebagai jalan menuju


terciptanya peraturan daerah LP2B Kabupaten Brebes diperlukan anggaran yang
besar dan tidak sebanding dengan perolehan Anggaran Pendapatan Belanja
Daerah (APBD) sehingga sulit untuk mewujudkan perumusan peraturan daerah
tersebut.
Kantor Pertanahan Kabupaten Brebes diberikan kewenangan oleh pemerintah
untuk melakukan pengontrolan izin penggunaan tanah secara satu pintu di

14
Kabupaten Brebes. Perizinan dilakukan melalui permohonan izin yang diajukan
masyarakat kepada Kantor Pertanahan Kabupaten Brebes. Berpedoman pada
RTRW Kabupa ten Brebes Tahun 2010 – 2030, Kantor Pertanahan Kabupaten
Brebes menyeleksi perizinan penggunaan tanah. Jika perizinan lahan tersebut
tidak sesuai plot yang ditetapkan dalam RTRW yang berlaku, maka pihak Kantor
Pertanahan Kabupaten Brebes tidak meloloskan perizinan penggunaan tanah
tersebut. Serta pihak Kantor Pertanahan Kabupaten Brebes memberikan kebijakan
batasan maksimal pada penguasaan tanah pertanian yaitu maksimal seluas 20
hektar setiap orang atau keluarga. Batas maksimal penguasaan lahan pertanian
diatur berdasarkan Pasal 1 ayat (2) Undang-Undang No. 56 Tahun 1960 Tentang
Penetapan Luas Tanah Pertanian.
Izin dianggap sebagai instrumen penting dalam rangka pengendalian kegiatan
atau usaha. izin berguna sebagai fungsi penertib yaitu memberi kepastian tempat
dan bentuk kegiatan/usaha masyarakat agar tidak saling bertentangan. Selain itu
izin berfungsi sebagai pengatur, yaitu izin merupakan instrumen hukum yang
dimiliki pemerintah untuk mangatur dan mendorong agar warganya mau
bertindak sesuai dengan tujuan kongkret tertentu yang diinginkan pemerintah. Izin
juga berfungsi sebagai pembinaan, yang menunjukkan pengakuan dari pemerintah
bahwa pemegang izin telah memenuhi syarat dan kompetensi untuk melakukan
kegiatan/usaha yang diizinkan. Izin merupakan bagian dari regulasi yang dibuat
oleh pemerintah dalam rangka memberikan insentif bagi pembangunan, serta izin
dapat memiliki fungsi pendapatan (budgetary) yaitu sebagai sumber pendapatan
negara.9
Kantor Pertanahan Kabupaten Brebes hanya dapat mengontrol perizinan ketika
masyarakat mengajukan penggunaan tanah saja. Sehingga mekanisme
pengontrolan perizinan serta penegakan hukum penggunaan tanah khususnya
untuk menertipkan zona pertanian di Kabupaten Brebes belum dapat dijalankan
secara maksimal. Upaya lain yang dilakukan Kantor Pertanahan Kabupaten
Brebes dengan tidak adanya peraturan daerah Lahan Pertanian Pangan
Berkelanjutan (LP2B) yaitu dengan melaksanakan program PTSL (Pendaftaran
Tanah Sisteatis Lengkap) dan redistribusi tanah.
Data menunjukkan bahwa hasil dari program PTSL pada tahun 2017 ialah
telah terdaftar 20.450 bidang tanah. Kemudian berlanjut pada tahun berikutnya
yaitu pada tahun 2018, Kantor Pertanahan Kabupaten Brebes telah mendaftarkan
sebanyak 46.867 bidang tanah. Pada jangka tahun 2019, pihak Kantor Pertanahan
Kabupaten Brebes telah berhasil mendaftarkan sebanyak 55.992 bidang tanah.
Sedangkan pada program redistribusi tanah yang diadakan oleh Kantor
Pertanahan Kabupaten Brebes, dilakukan setiap tahun sekali yang berlokasi pada
satu desa.
Pada tahun 2018, pihak Kantor Pertanahan Kabupaten Brebes telah
menghasilkan 250 bidang tanah (kategori tanah timbul) yang telah di redistribusi
yang berlokasi di Desa Bangsri, Kecamatan Bulakamba. Lalu pada periode tahun
2019, program redistribusi tanah dilakukan di Desa Kramatsampang, Kecamatan
Kersana yaitu sebanyak 250 bidang tanah (kategori tanah tol).
Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air dan Tata Ruang yang memiliki fungsi
dalam pelaksanaan kebijakan teknis urusan pemerintahan bidang pertanahan dan
9
Andrian Sutedi, Hukum Perizinan dalam Sektor Pelayanan Publik (Jakarta: Sinar Grafika ,
2015) hlm. 193-200.

15
urusan pemerintahan bidang tata ruang. Tentunya memegang peranan penting
dalam pengendalian tata ruang zona pertanian. Kebijakan atau strategi yang
dilakukan oleh Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air dan Tata Ruang dengan tidak
adanya peraturan daerah Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) ialah
dengan merevisi RTRW Kabupaten Brebes sebagai langkah awal menuju
perumusan kebijakan daerah terkait perlindungan lahan pertanian pangan.
Wujud sinergi yang dilakukan antara Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan
(DPKP) Kabupaten Brebes, Kantor Pertanahan Kabupaten Brebes dan Dinas
Pengelolaan Sumber Daya Air dan Tata Ruang dalam upaya perlindungan lahan
pertanian pangan ialah dengan penegakkan pelanggaran perlindungan LP2B
melalui Tim Koordinator Percepatan Ruang Daerah (TKPRD). Tim Koordinator
Percepatan Ruang Daerah atau yang biasa disebut dengan singkatan Tim Pokja,
diketuai oleh Sekretariat Daerah dan beranggotakan para Kepala Dinas di
Kabupaten Brebes. Pelangaran akan dilaporkan dan dibahas dalam rapat Tim
Pokja untuk ditindaklanjuti. Mekanisme penegakkan pelanggaran mengacu pada
Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 115 Tahun 2017
Tentang Mekanisme Pengendalian Pemanfaatan Ruang Daerah Pasal 16 Jo. Pasal
19.
Lawrance M. Friedman mengemukakan bahwa efektif dan berhasil tidaknya
penegakan hukum tergantung tiga unsur sistem hukum, yakni struktur hukum
(structure of law), substansi hukum (substance of the law) dan budaya hukum
(legal culture). Struktur hukum menyangkut aparat penegak hukum, substansi
hukum meliputi perangkat perundang-undangan dan budaya hukum merupakan
hukum yang hidup (living law) yang dianut dalam suatu masyarakat.10
Oleh karena itu, dalam pelaksanaan program perlindungan lahan pertanian
pangan, Pemerintah Daerah Kabupaten Brebes berpegangan pada prinsip serta
tujuan yang tertuang di dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945, Undang-Undang Nomor 5 tahun 1960 (Undang-Undang Pokok
Agraria), Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan
Pertanian Pangan Berkelanjutan, Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang
Penataan Ruang, Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan,
Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 2 Tahun 2013 Tentang
Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan Provinsi Jawa Tengah dan
Peraturan Daerah Kabupaten Brebes Nomor 2 Tahun 2011 Tentang Rencana Tata
Ruang Wilayah Kabupaten Brebes Tahun 2010-2030 sebagai pedoman utama
dalam melindungi lahan pertanian pangan di Kabupaten Brebes, menyediakan
swasembada pangan berkelanjutan, serta untuk mensejahterakan kehidupan sosial
dan menciptakan rasa keadilan bagi masyarakat Kabupaten Brebes.
Keefektifan aturan hukum dapat terlihat dari pilihan penggunaan hukum dalam
bermasyarakat yang bergantung pada tingkat kepatuhan masyarakatnya. Hukum
akan menjadi efektif jika orang benar-benar berbuat sesuai dengan kaidah hukum
sebagaimana mereka harus bertindak dan kaidah hukum tersebut benar diterapkan
dan dipatuhi. Negara Indonesia dalam mengukur kepatuhan terhadap hukum,
bergantung oleh seberapa besarnya hukum itu valid dan dipercayai oleh rakyatnya
sebagai kekuatan hukum yang mengikat prilaku mereka.
Berbagai upaya yang telah dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten
Brebes untuk mengatasi tidak terdapatnya peraturan daerah khusus dalam
10
Lawrance M. Friedman, Sistem Hukum Perspektif Ilmu Sosial (Jakarta: Nusamedia) hlm. 2.

16
melindungi lahan pertanian pangan diharapkan dapat memantapkan kedaulatan
pangan di Kabupaten Brebes melalui ketersediaan (produksi dan cadangan
pangan), keterjangkauan, konsumsi pangan dan gizi serta keamanan pangan.
Selain itu memajukan sektor pertanian khususnya para petani sebagai pelaku
utama dalam pembangunan pertanian dengan meningkatkan kesehateraan
keluarga tani atas jasanya mencurahkan waktu, tenaga dan pikiran untuk bekerja
dibidang pertanian selama ini.

D. Simpulan

Penyebab belum terdapatnya peraturan daerah khusus terkait Lahan Pertanian


Pangan Berkelanjutan (LP2B) di Kabupaten Brebes yaitu belum terdapat prioritas
dan sikap proaktif dari jajaran Pemerintah Daerah Kabupaten Brebes untuk
mencetuskan pembuatan peraturan daerah mengenai perlindungan LP2B di
Kabupaten Brebes. Pembuatan regulasi daerah membutuhkan instrumen-
instrumen pertanian dalam penyusunannya, dengan kondisi program LP2B baru
sampai pada tahap inventarisasi Data Dasar pertanian pangan berkelanjutan dan
pengolahan Data Dasar, membuat pemerintah daerah belum dapat mewujudkan
pembentukan regulasi tersebut. Penyebab lain yaitu proses pendataan pertanian
(verifikasi lahan pertanian) dan pembentukan instrumen-instrumen pertanian
tentunya membutuhkan anggaran yang besar dan Sumber Daya Manusia (SDM)
yang memadai pada sawah yang terbentang luas di Kabupaten Brebes demi
kedaulatan pangan yang berkelanjutan. Strategi yang dilakukan oleh Pemerintah
Daerah Kabupaten Brebes untuk mengatasi tidak terdapatnya peraturan daerah
khusus dalam melindungi lahan pertanian pangan pada pokoknya yaitu dengan
cara menegakkan RTRW yang berpedoman pada Peraturan Daerah Kabupaten
Brebes Nomor 2 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten
Brebes Tahun 2010 – 2030. Selain itu jajaran dinas terkait yang berkaitan
langsung dengan pengurusan lahan pertanian pangan melakukan berbagai macam
strategi untuk melindungi kawasan pertanian melalui program kerjanya.

17
UCAPAN TERIMAKASIH

1. Dr. Suhadi, S.H., M.Si., selaku dosen Pembimbing yang telah


memberikan banyak bimbingan, wawasan dan pengarahan yang baik
kepada penulis.
2. Dr. Rofi Wahanisa, S.H., M.H., selaku dosen Penguji Utama yang
telah memberikan bimbingan dan pengarahan dalam penyusunan
skripsi.
3. Aprila Niravita, S.H., M.Kn., selaku dosen Penguji I yang telah
memberikan bimbingan dan pengarahan dalam penyusunan skripsi.

18
DAFTAR PUSTAKA

Buku:

Arliman, Laurensius. 2015. Penegakan Hukum dan Kesadaran Masyarakat.

Yogyakarta: Deepublish.

Dayanto. 2018. Peraturan Perundang-Undangan di Indonesia: Konsep dan

Teknik Pembentukannya Berbasis Good Legislation. Yogyakarta:

Deeepublish Publisher.

Friedman, LM. 1984. Sistem Hukum Perspektif Ilmu Sosial. Jakarta: Nusamedia.

Hamidi, Jazim. 2010. Civic Education. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Sumaatmadja, Nursid. 1980. Studi Geografi Suatu Pendekatan dan Analisa

Keruangan. Bandung: Alumni.

Sutedi, Adrian. 2015. Hukum Perizinan dalam Sektor Pelayanan Publik. Jakarta:

Sinar Grafika.

Jurnal:

Prihatin, RB. 2015. “Alih Fungsi Lahan Di Perkotaan (Studi Kasus Di Kota

Bandung Dan Yogyakarta)”. Jurnal Masalah-Masalah Sosial. No.2 Vol.6

Desember 2015.

19
Rika Harini dkk, "Agricultural Land Conversion: Determinants And Impact For

Food Sufficiency In Sleman Regency". Indonesian Journal Of Geography.

Vol. 44, No. 2, Desember 2012.

Suhadi. 2012. “Faktor Pengaruh dan Implikasi Rencana Detail Tata Ruang

Kecamatan Gunungpati Kota Semarang terhadap Alih Fungsi Lahan

Pertanian”. Jurnal Pandecta No. 1 Vol.7 Januari 2012.

Peraturan Perundang-Undangan:
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

Undang-Undang Nomor 5 tahun 1960 (Undang-Undang Pokok Agraria)

Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian


Pangan Berkelanjutan

Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang

Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan

Undang-Undang Nomor 56 Tahun 1960 tentang Penetapan Luas Tanah Pertanian

Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2011 Tentang Penetapan Dan Alih Fungsi
Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2012 tentang Insentif


Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan

Peraturan Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal, Dan Transmigrasi


Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2019 Tentang Prioritas
Penggunaan Dana Desa Tahun 2020

Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 115 Tahun 2017
Tentang Mekanisme Pengendalian Pemanfaatan Ruang Daerah Pasal 16
Jo. Pasal 19

Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 2 Tahun 2013 Tentang


Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan Provinsi Jawa
Tengah

Peraturan Daerah Kabupaten Brebes Nomor 2 Tahun 2011 Tentang Rencana Tata
Ruang Wilayah Kabupaten Brebes Tahun 2010-2030

20
21