Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

PENGANTAR PENDIDIKAN

Disusun Oleh :
Nama : Cinta Kurniawi
Erwita
Eis Kurmala Sari
Yopi Krisdayanti
Lilis Hidayati
Sri Wahyuni

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


UNIVERSITAS PGRI PALEMBANG
2010
KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wata΄ala, karena


berkat rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul ciri-ciri
manusia masa depan (modern). Makalah ini diajukan guna memenuhi tugas mata
kuliah Pengantar Pendidikan.
Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
sehingga makalah ini dapat diselesaikan sesuai dengan waktunya. Makalah ini
masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran
yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini.
Semoga makalah ini memberikan informasi bagi masyarakat dan bermanfaat
untuk pengembangan ilmu pengetahuan bagi kita semua.

Palembang, 14 Desember 2010


LATAR BELAKANG

Di era globalisasi saat ini perkembangan teknologi sangatlah maju dengan


pesat dan cepat. Hal seperti ini telah membuat setiap individu terus berusaha dengan
berbagai cara agar dapat mengikuti setiap perkembangan teknologi yang ada,
sehingga pengetahuan mereka semakin bertambah dan maju seiring perkembangan
zaman. Pada umunya mereka menggunakan teknologi untuk mencari informasi yang
mereka butuhkan. Biasanya mereka memilih sebuah informasi yang memiliki
tampilan yang menarik serta informasi-informasi yang dibutuhkan dapat dengan
mudah di dapat.
Komputer, merupakan sebuah perkembangan teknologi yang sering
dimanfaatkan untuk mencari berbagai macam informasi yang dibutuhkan oleh
manusia. Bahkan sekarang ini komputer secara tidak langsung telah menjadi suatu
unsur yang sangat penting dan sangat berguna bagi kehidupan manusia. Sekarang ini
komputer telah dilengkapi oleh jaringan internet, hal ini menjadikan komputer
semakin diminati oleh semua individu, bukan hanya orang dewasa yang memerlukan
komputer tetapi anak-anak juga membutuhkan komputer. Mereka membutuhkan
komputer untuk membrowsing maupun mengupload tugas-tugas sekolah. Sejak saat
ini mereka memang sugah harus diperkenalakan dengan komputer untuk bekal
mereka dimasa depan nanti.
Selain menjadi media yang digunakan untuk membuat tugas, komputer juga
dilengkapi oleh software-software hiburan, seperti musik dan juga game. Banyak
orang suka bermain game dengan komputer tetapi tidak banyak orang yang
menggunakan komputer untuk membuat game. karena itu penulis ingin menggunakan
kesempatan ini untuk membuat game. Game yang ingin penulis buat bukan hanya
bersifat menghibur tetapi juga mengandung pendidikan bagi anak-anak di dalamnya.
Dengan ini penulis menggunakan Macromedia Flash MX, dikarenakan software ini
sangat interaktif dan sangat mudah dimengerti, terutama dalam sebuah pembuatan
animasi-animasi yang menarik
Pengertian Masyarakat Modern

Masyarakat modern adalah masyarakat yang sebagian besar warganya


mempunyai orientasi nilai budaya yang terarah ke kehidupan dalam peradaban masa
kini. Pada umumnya masyarakat modern tinggal di daerah perkotaan, sehingga
disebut masyarakat kota. Namun tidak semua masyarakat kota tidak dapat disebut
masyarakat modern,sebab orang kota tidak memiliki orientasi ke masa kini, misalnya
gelandangan.
Ciri-ciri Masyarakat Modern
1. Kecendrungan Globalisasi
2. Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK)
3. Perkembangan Arus Komunikasi yang semakin Padat dan Cepat
4. Peningkatan Layanan Profesional

Dari keempat ciri-ciri masyarakat modern diatas yang menurut kami belum
kami miliki adalah kendrungan globalisasi, dan cara kami untuk mengatasinya yaitu
dengan cara : setiap individu terus berusaha dengan berbagai cara agar dapat
mengikuti setiap perkembangan teknologi yang ada, sehingga pengetahuan mereka
semakin bertambah dan maju seiring perkembangan zaman.

B. Faktor-faktor yang Mendorong Perubahan Masyarakat Menjadi Masyarakat


yang Modern
1. perkembangan ilmu
2. perkembangan teknologi
3. perkembangan industri
4. perkembangan ekonomi
C. Gejala-gejala Modernisasi
1. Bidang IPTEK
Gejala Modernisasi di bidang IPTEK ditandai dengan adanya penemuan dan
pembaharuan unsur teknologi baru yang dapat meningkatkan kemakmuran
masyarakat.
2. Bidang Ekonomi
Gejala Modernisasi di bidang Ekonomi ialah meningkatnya produktivitas ekonomi
dan efisiensi sumber daya yang tersedia, serta pemeanfaatan SDA yang
memperhatikan kelestarian alam sekitar.
3. Bidang Politik dan Idiologi
Pada bidang ini, gejala modern ditandai dengan adanya system pemerintahan
perwakilan yang demokratis, pemerintah yang diawasi dan dibatasi kekuasaanya,
dihormati hak-hak asasinya serta dijaminnya hak-hak sosial.
4. Bidang Agama dan Kepercayaan
Gejala Modernisasi di bidang Agama dan Kepercayaan ditandai dengan adanya
pengembangan nalar (rasio) dan kebahagiaan kebendaan (materi), yang pada
akhirnya akan menimbulkan paham sekularisasi dan sekularisme.

Masyarakat Modern dilihat dari berbagai Aspek


Aspek Mental Manusia :
1. Cenderung didasarkan pada pola pikirserta pola perilaku rasionalatau logis,
dengan cirri-cirimenghargai karya orang lain, menghargai waktu, menghargai
mutu, berpikir kreatif, efisien, produktif percaya pada diri sendiri, disiplin, dan
bertanggung jawab.
2. Memiliki sifat keterbukaan, yaitu dapat menerima pandangan dan gagasan orang
lain.
Aspek Teknologi :
1. Teknologi merupakan factor utama untuk menunjang kehidupan kearah
kemajuan atau modernisasi.
2. Sebagai hasil ilmu pengetahuan dengan kemampuan produksi dan efisiensi yang
tinggi.
Apakah masih ada ciri lain yang perlu untuk manusia modern ?
Ada, seperti perkembangan kebudayaan yang memiliki ciri-ciri sabagai berikut
1. Afirmasi atau penegasan dimensi budaya dalam proses pembangunan, karena
pembangunan akan hampa jika tidak diilhami oleh kebudayaan masyarakat atau
bangsa yang bersangkutan.
2. Merefarmasikan dan mengembangkan identitas budaya, dan setiap kelompok
manusia berhak diakui identitas budayanya
3. Partisipasi, yakni dalam perkembangan suatu bangsa dan Negara maka
partisipasi yang optimal dari masyarakat adalah mutlak perlu.
4. Memajukan kerja sama budaya antar bangsa.
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Perubahan sosial mendorong munculnya semangat-semangat untuk
menciptakan produk baru , sehinnga terjadilah revolusi industri, dan kemunculan
semangat asketisme intelektual. Kemudian, asketisme intelektual menimbulkan etos
intelektual, dan inilah yang mendorong masyarakat untuk terus berkarya dan terus
menciptakan hal-hal baru guna meningkatkan kemakmuran hidupnya, sehingga
masyarakat tersebut menjadi masyarakat yang modern. Sedangkan proses menjadi
masyarakat yang modern disebut dengan istilah Modernisasi.

Pengertian Masyarakat Modern


Masyarakat modern adalah masyarakat yang sebagian besar warganya mempunyai
orientasi nilai budaya yang terarah ke kehidupan dalam peradaban masa kini.
Faktor-faktor yang Mendorong Perubahan Masyarakat Menjadi Masyarakat
yang Modern
1. Perkembangan ilmu
2. Perkembangan teknologi
3. Perkembangan industri
4. Perkembangan ekonomi
Gejala-gejala Modernisasi
1. Adanya penemuan dan pembaharuan unsur teknologi baru yang dapat
meningkatkan kemakmuran masyarakat.
2. Meningkatnya produktivitas ekonomi dan efisiensi sumber daya yang tersedia,
serta pemeanfaatan SDA yang memperhatikan kelestarian alam sekitar.
3. Adanya system pemerintahan perwakilan yang demokratis, pemerintah yang
diawasi dan dibatasi kekuasaanya, dihormati hak-hak asasinya serta dijaminnya
hak-hak sosial.
4. Adanya pengembangan nalar (rasio) dan kebahagiaan kebendaan (materi), yang
pada akhirnya akan menimbulkan paham sekularisasi dan sekularisme.

Ciri-ciri Masyarakat Modern


1. Hubungan antar manusia terutama didasarkan atas kepentingan-kepentingan
pribadi.
2. Hubungan dengan masyarakat lain dilakukan secara terbuka dengan suasana
yang saling memepengaruhi
3. Keprcayaan yang kuat akan Ilmu Pengetahuan Teknologi sebagai sarana untuk
meningkatkan kesejahteraan masyarakat
4. Masyarakatnya tergolong ke dalam macam-macam profesiyang dapat dipelajari
dan ditingkatkan dalam lembaga pendidikan, keterampilan dan kejuruan
5. Tingkat pendidikan formal pada umumnya tinggi dan merata.
6. Hukum yang berlaku adalah hukum tertulis yang sangat kompleks
7. Ekonomi hamper seluruhnya merupakan ekonomi pasar yang didasarkanatas
penggunaan uangdan alat-alat pembayaran lain.

Saran
Sebaiknya kita sebagai masyarakat modern tidak harus menyerap semua
budaya modernisasi, agar tidak terjadi dampak-dampak negative dalam kehidupan
kita sebagai masyarakat yang modern.
Dampak Negatif dari Budaya Masyarakat Modern
1. Penyalahgunaan media teknologi sebagai sarana pencarian hal-hal yang tidak ada
hubungannya dengan ilmu pengetahuan.
2. Timbulnya praktek-peraktek curang dalam dunia kerja seperti korupsi, kolusi dan
nepotisme.
3. Sekularisasi adalah sebuah proses pemisahan institusi-institusi dan simbol-simbol
politis dari initusi-institusi dan simbol-simbol religius. Kebijakan-kebijakan
Negara yang mengatur sebuah masyarakat tidak lagi didasarkan pada norma-
norma agama, melainkan pada asas-asas non-religius, seperti: etika dan
pragmatisme politik. Kelahiran Negara nasional dan Negara konstitusional di
zaman modern menandai proses ini. Konstitusi Negara modern tidak lagi
didasarkan pada doktrin-doktrin religius, seperti pada Negara-negara tradisional
di Eropa abad pertengahan, melainkan pada prosedur-prosedur birokratis rasional
yang mengakui kesamaan hak dan kebebasan setiap warganegara. Mengapa
masyarakat modern menempuh jalan sekularisasi? Karena (1) Otoritas politis
tidak merasa cukup dengan wewenangnya atas wilayah publik dan ingin juga
memberikan regulasi dalam ruang privat seperti yang dilakukan oleh otoritas
religius; dan (2) pikiran kritis dicurigai sebagai unsur ‘subversif’ yang
melemahkan kepatuhan kepada otoritas. Sekularisasi adalah upaya memberi
batas-batas di antara kedua bidang itu dengan memandang keduanya otonom,
yakni yang satu tidak dapat direduksi kepada yang lain. Dengan sekularisasi,
urusan-urusan religius dianggap beroperasi di dalam ruang privat, tercakup
dalam kebebasan subjektif individu untuk menemukan jalan hidupnya. Efek
positif sekularisasi adalah toleransi agama, sebab doktrin-doktrin dan nilai-nilai
religius tidak lagi dikalkulasi di dalam politik.
Kita berbicara tentang sekularisme jika kita memusatkan perhatian kita pada
efek negatif sekularisasi. Sekularisasi dapat mendorong pada ekstrem atau ekses,
yakni suatu sikap berlebih-lebihan untuk menyingkirkan segala alasan, motif atau
dimensi religius sebagai omong kosong. Pandangan-pandangan seperti ateisme,
materialisme dan saintisme merupakan berbagai aspek dalam sekularisme.
Sekularisme dalam arti ini bukanlah sebuah proses sosial-epistemologis, melainkan
sebuah ideologi dengan kesempitan berpikir yang tidak dapat mentoleransi eksistensi
agama di dalam masyarakat majemuk. Jika agama menghasilkan fundamentalisme
religius, proses sekularisasi juga dapat menghasilkan suatu fundamentalisme
tertentu, yakni fundamentalisme profane. Itulah sekularisme.
Jadi, di sini kita dapat mengatakan bahwa sekularisasi adalah proses yang
wajar di dalam modernisasi, karena pemisahan antara agama dan Negara memang
diperlukan untuk memungkinkan kebebasan dan keadilan dalam masyarakat
majemuk, namun sekularisme harus diwaspadai. Untuk masyarakat kita yang
cenderung religius, sekularisme bukanlah ancaman real; fundamentalisme agamalah
yang merupakan ancaman real bagi kemajemukan. Yang sebaliknya juga harus
dikatakan: Sekularisme bukanlah solusi untuk masalah kemajemukan, sebab
sekularisme adalah bentuk intoleransi terhadap agama manaupun yang merupakan
anggota masyarakat majemuk. Yang dibutuhkan masyarakat kita adalah tingkat
sekularisasi tertentu (baik secara structural maupun kultural) agar dapat bersikap
“fair” terhadap kemajemukan orientasi nilai di dalam masyarakat kita. Kebijakan-
kebijakan politis yang berorientasi agama tertentu, misalnya, tidak dapat begitu saja
dijadikan norma publik untuk mengatur keseluruhan masyarakat, karena akan
bersikap tidak fair terhadap kelompok-kelompok lain bahkan dalam agama yang
sama.
4. Liberalisme adalah ideologi modern, karena ia muncul bersamaan dengan
modernisasi dan segala pertentangan ideologis dalam masyarakat modern tak lain
daripada pertentangan dengan liberalisme, sehingga cerita tentang modernitas tak
kurang daripada cerita tentang liberalisme dan para lawannya. Dalam arti ini,
liberalisme sangat sensitif terhadap kolektivisme dan absolutisme kekuasaan.
Ekonomi tidak dapat tumbuh jika terus diintervensi Negara, maka liberalisme
sejak awal mendukung ekonomi pasar bebas. Di dalam pasar orang tidak
bertransaksi dengan membeda-bedakan latar-belakang agama dan kebudayaan.
Yang penting transaksi itu fair. Dengan kata lain, di dalam transaksi orang
melihat agama partner transaksinya sebagai urusan privatnya yang tidak relevan
untuk proses pertukaran dalam pasar. Pola transaksi yang melihat agama sebagai
persoalan privat yang tidak relevan untuk proses pertukaran itu oleh liberalisme
diaplikasikan di dalam hubungan yang lebih luas, yaitu di dalam Negara modern.
Liberalisme ekonomi mengandung bahaya tertentu, yaitu intoleransi terhadap
mereka yang dimarginalisasikan secara ekonomis oleh mekanisme pasar bebas
itu. Namun liberalisme yang berkaitan dengan pendirian intelektual dan sikap-
sikap politis justru membantu sebuah masyarakat untuk toleran terhadap
kemajemukan. Jika Negara berkonsentrasi pada the problem of justice dan tidak
mengintervensi the problem of good life yang adalah kewenangan kelompok-
kelompok dalam masyarakat itu, Negara akan menjadi milik bersama kelompok-
kelompok sosial itu dan tidak bersikap diskriminatif. Negara liberal berupaya
bersikap netral terhadap agama-agama di dalamnya, dan ini justru mendukung
kebebasan individu. Di sini liberalisme dapat juga dilihat sebagai hasil dari
sekularisasi yang tidak secara mutlak perlu bermuara pada sekularisme. Artinya,
suatu Negara liberal tidak harus sekularistis, yakni ingin menyingkirkan agama di
dalamnya. Negara liberal juga bisa memiliki respek terhadap agama, namun
regulasi-regulasinya tetap sekular. Ia bersikap netral dari agama, namun memberi
infrastruktur yang adil bagi agama-agama untuk berkembang, sebab para anggota
agama-agama itu adalah juga warganegaranya.
5. Pluralisme adalah sebuah pandangan yang beroperasi di dalam kebudayaan
dalam bentuk sikap-sikap yang menerima kemajemukan orientasi-orientasi nilai
di dalam masyarakat modern. Dasar pluralisme adalah the fact of plurality, yakni
suatu kenyataan bahwa jika sebuah masyarakat mengalami modernisasi,
masyarakat itu mengalami pluralisasi nilai di dalam dirinya. Pluralitas tidak serta
merta memunculkan pluralisme, karena tidak semua orang setuju pluralitas.
Kaum konservatif dan rmonatis, misalnya, akan meratapi pluralitas sebagai
sindrom disintegrasi sosial dan moral. Namun ada kelompok-kelompok yang
menerima pluralitas sebagai kenyataan hidup bersama dan mencoba hidup
bersama secara toleran. Kelompok-kelompok ini bisa berasal dari kalangan
agama, cendikia, politikus atau budayawan. Pandangan yang menerima pluralitas
sebagai realitas hidup bersama dan mencoba mengembangkan sarana-sarana
moral dan intelektual untuk membuka ruang kebebasan dan toleransi bagi aneka
orientasi nilai etnis, religius ataupun poltis di dalam mayarakat modern itu kita
sebut pluralisme. Jika kita menilik ke belakang, ke dalam sejarah agama-agama
itu, kita tidak dapat memisahkan agama dari kebudayaan. Setiap agama
“tertanam” dan tumbuh dalam konteks kebudayaan dan juga sejarahnya, maka
pluralitas juga menandai sejarah setiap agama. Tidak ada hanya satu Kristen, satu
Hindhu, satu Islam atau satu Budhisme, karena di tiap kebudayaan berkembang
cara-cara dan simbol-simbol spesifik dalam menghayati Tuhan. Simbol-simbol
itu bahkan ‘dipinjam’ dari konteks kebudayaan tertentu, misalnya, Jawa,
Romawi, India atau Arab. Namun tak semua kelompok agama mau bersikap fair
terhadap fakta pluralitas di dalam agama-agama ini. Kelompok-kelompok macam
ini – di antara mereka konservatif garis keras – terobsesi pada sebuah fiksi bahwa
agama mereka itu homogen dan murni dari unsur-unsur kebudayaan. Fiksi itu
sudah barang tentu berbahaya sekali karena menjadi intoleran terhadap
kemajemukan kebudayaan dan agama. Kelompok-kelompok agama yang
menerima fakta kemajemukan bahkan di dalam agama mereka sendiri serta
mencoba mengembangkan sebuah teologi pluralis sering dicurigai sebagai
sesuatu yang morongrong integritas iman, padahal mereka ini bisa saja justru
mendorong cara-cara beriman yang dewasa dan terbuka terhadap perubahan dan
perbedaan di dalam masyarakat