Anda di halaman 1dari 21

[Type the company name]

GUILLIAN
BARRE
SYNDROM
E
[Type the document subtitle]

ARMANDO VENGO SUBITO LEWI


MARANATHA
[Pick the date]
Sindrom Guiilain Barre adalah penyakit dimana sistem kekebalan
tubuh seseorang menyerang sistem saraf tepi dan menyebabkan
kelemahan otot, apabila parah dapat mengakibatkan kelumpuhan,
bahkan otot-otot pernapasan.

Anamnesis

• Kelemahan ascenden dan simetris


• Anggota gerak bawah dulu baru menjalar ke atas
• Kelemahan akut dan progresif yang ditandai arefleksia
• Puncak defisit 4 minggu
• Pemulihan 2-4 minggu pasca onset
• Gangguan sensorik pada umumnya ringan
• Gangguan otonom dapat terjadi
• Gangguan saraf kranial
• Gangguan otot-otot nafas

Pemeriksaan Fisik

• Kelemahan saraf cranial (III, IV, VI, VII, IX, X)


• Kelemahan anggota gerak yang cenderung simetris dan
asendens
• Hiporefleksia atau arefleksia
• Tidak ada klonus atau refleks patologis

Kriteria diagnostik GBS menurut The National Institute of Neurological


and Communicative Disorders and Stroke ( NINCDS)

Gejala utama
1. Kelemahan yang bersifat progresif pada satu atau lebih ekstremitas
dengan atau tanpa disertai ataxia

2. Arefleksia atau hiporefleksia yang bersifat general

Gejala tambahan

1. Progresivitas dalam waktu sekitar 4 minggu

2. Biasanya simetris

3. Adanya gejala sensoris yang ringan

4. Terkenanya SSP, biasanya berupa kelemahan saraf facialis bilateral

5. Disfungsi saraf otonom

6. Tidak disertai demam

7. Penyembuhan dimulai antara minggu ke 2 sampai ke 4

Pemeriksaan LCS

1. Peningkatan protein

2. Sel MN < 10 /ul

Pemeriksaan elektrodiagnostik

1. Terlihat adanya perlambatan atau blok pada konduksi impuls


saraf

Gejala yang menyingkirkan diagnosis

1. Kelemahan yang sifatnya asimetri

2. Disfungsi vesica urinaria yang sifatnya persisten

3. Sel PMN atau MN di dalam LCS > 50/ul

4. Gejala sensoris yang nyata

Pemeriksaan Penunjang

• Laboratorium (untuk menyingkirkan diagnosis banding lain):


Pemeriksaan darah lengkap, ureum/kreatinin, SGOT/SGPT,
elektrolit, Creatinin kinase, Serologi CMV/EBV/Micoplasma,
Antibodi glycolipid, Antibodi GMI
• Pencitraan: MRI minimal potongan sagital untuk menyingkirkan
diagnosis banding lain
• Lumbal Pungsi

Tatalaksana

• Pemberian IVIG 0,4 gram/ kg BB/ hari selama 5 hari atau plasma
exchange diguanakan sebagai lini pertama pengobatan (Level A)
 Pemberian IVIG memiliki efek samping yang lebih sedikit,
sehingga lebih banyak dipilih (Level B)
 Kombinasi methylprednisolone dosis tinggi dan IVIG memiliki
manfaat singkat (Level C)
 Pada anak-anak pemberian IVIG lebih direkomendasikan (Level
C)
 Pemberian IVIG pada kasus yang relaps tetap harus
dipertimbangkan (GPP/ Good Practice Point)
 Tindakan rehabilitasi disesuaikan dengan derajat kelemahan dan
disabilitas pasien.

KLASIFIKASI GBS BERDASARKAN JENIS, GEJALA KLINIS DAN


PATOFISIOLOGI
EGRIS SCORE

GUILLAIN-BARRÉ SYNDROME (GBS) DISABILITY SCORE


GUILLIAN BARRE SYNDROME RED FLAGS

ELECTRODIAGNOSTIC FINDING IN GUILLIAN BARRE SYNDROME


PREDIKTOR PENGGUNAAN VENTILASI MEKANIK

DIAGNOSIS BANDING GBS


[Type the company name]

MULTIPLE
SCLEROSIS
[Type the document subtitle]

ARMANDO VENGO SUBITO LEWI MARANATHA


[Pick the date]
PENGERTIAN

Multipel Sklerosis (MS) merupakan penyakit demielinisasi pada sistem


saraf pusat yang diakibatkan oleh proses autoimun.

ANAMNESIS

Pola gejala MS yang tersering adalah pola remisi eksaserbasi.


Pada pola ini gejala klinis akan muncul dan memberat pada fase
eksaserbasi dan setelah kurun waktu tertentu gejala tersebut akan
membaik (remisi). Serangan atau relaps atau eksaserbasi adalah suatu
gejala klinis neurologis yang dapat berlangsung saat ini atau pernah
dialami sebelumnya yang mencerminkan inflamasi demielinisasi akut
pada sistem saraf pusat tanpa disertai demam atau tanda infeksi dengan
durasi minimal 24 jam. Episode pertama dari manifestasi klinis
demielinisasi disebut Clinically Isolated Syndrome (CIS). Manifestasi CIS
yang perlu dicurigai sebagai MS meliputi:

 Menurunnya ketajaman penglihatan pada satu mata yang dapat


disertai dengan nyeri pergerakan mata
 Pandangan ganda
 Gangguan sensorik atau kelemahan
 Gangguan keseimbangan

Pemeriksaan Fisik Pada pemeriksaan fisik dan neurologis ditemukan:

 Penurunan ketajaman penglihatan dan nyeri pergerakan mata


 Gangguan sensorik atau kelemahan
 Gangguan keseimbangan
 Lhermitte sign positif
DIAGNOSIS BANDING

 Vaskular: Cerebral autosomal dominant arteriopathy with


subcortical infarcts and leukoencephalopathy (CADASIL),
Cerebral vasculitis, Infark Lakunar
 Infeksi: Tuberkulosis, HIV, Sistiserkosis, Sifilis
 Trauma
 Autoimun: Neuromyelitis Optica (NMO), Acute disseminated
encephalomyelitis (ADEM), Systemic Lupus Erythematosus (SLE),
Sjogren Syndrome (SS), Sarcoidosis
 Metabolik/Toksik: defisiensi vitamin B12, Central Pontine
Myelinolysis (CPM)
 Idopatik/genetik: Degenerasi spinoserebelar, Friedreich Ataxia,
ArnoldChiari Malformation
 Neoplasma: CNS lymphoma, glioma, Paraneoplastic
encephalomyelitis, Metastatic cord compression
 Psikiatri: Reaksi konversi

TATALAKSANA
• Terapi Relaps
 Metilpredinisolon IV 500-1000 mg selama 3-5 hari
 Alternatif terapi: Metilprednisolon oral 500-1000 mg selama 3-5
hari. Pemberian dapat dosis tunggal atau dosis terbagi
• Terapi Jangka Panjang
 Clinically Isolated Syndrome (CIS): Interferon β
 Relapsing-Remitting Multiple Sclerosis (RRMS): Interferon β 1a
dan 1b, Glatiramer Asetat, Fingolimod
 Secondary Progressive MS (SPMS): interferon β 1a, mitoxantron
 Primary Progressive MS (PPMS): hingga saat ini belum ada obat
yang direkomendasikan untuk PPMS
[Type the company name]

NEUROMIELI
TIS OPTICA
[Type the document subtitle]

ARMANDO VENGO SUBITO LEWI


MARANATHA
[Pick the date]