Anda di halaman 1dari 2

GANGGUAN GERAK FUNGSIONAL ATAU PSIKOGENIK

Istilah gangguan gerak fungsional atau yang disebut juga psikogenik dapat menyebabkan
suatu kondisi kecemasan dimana penderita dianggap sebagai kondisi yang sulit. Sebuah data studi
epidemiologi yang dilakukan di Skotlandia didapatkan adanya gejala-gejala neurologis fungsional
yang secara umum ada kejadiannya pada klinik-klinik neurologi. Dari sekita 40 ribu penderita kasus
ada sekitar 12% dari penderita yang tidak didapatkan adanya gangguan organik. Sedangkan pada
18% kasus juga didapatkan adanya gangguan gerak. Masalah lainnya yang terjadi selain masalah
psikologis secara keseluruhan dimana memakan biaya yang cukup besar yaitu berkisar antara 18
milliar Poundsterling pada setiap tahunnya adalah ketika seorang Neurolog yang mendiagnosis
positif terkait gangguan gerak fungsional dan dikhawatirkan penderita juga mendapatkan diganosis-
diagnosis lainnya yang justru menyatakan kearah sebaliknya pada beberapa saat kedepannya. Ada
Studi yang melakukan pengamatan pada sekelompok penderita dengan gejala-gejala neurologis
secara fungsional dimulai dari tahun 1970 hingga beberapa tahun kedepan dan didapatkan adanya
perubahan diganosis yang relati jarang yaitu sekitar 5%.

Pada kasus gangguan gerak fungsional dalam melakukan diagnosa sebagai neurolog adalah
hal penting untuk membuat duagnosis positif mengenai ganggugan gerak fungsional. Dimana
penegakan diagnosa harus dilakukan berdasarkan aspek-aspek positif yang didapatkan dari
anamnesa dan juga pemeriksaan fisik sehingga tidak hanya semata mata berdasarkan diagnosis yang
didapatkan dari sistem eksklusi. Sedangkan pada aspek aspek lain seperti distres emosi, adanya
trauma serta masalah psikologis pada masa lampau dan juga adanya gangguan dari segi psikiatri baik
saat ini maupun pada masa lampau tidak diperlukan dan tidak bisa dijadikan dasar untuk membuat
diagnosis. Pada prinsip-prinsip kunci yang dapat dilakukan dalam membuat diagnosis adalah dengan
cara mengenali gangguan gerak fungsional itu sendiri dengan cara yang pertama adalah dengan
temuan gejala klinis yang berubah secara bermakna dengan adanya distraksi, sehingga hal ini dapat
disebabkan karena adanya perhatian pada penderita dan bukan pada tubuhnya dimana gerakan
tersebut bukanlah merupakan suatu gerakan yang normal. Yang kedua adalah dengan cara pada saat
anamnesa penderita biasanya menyebutkan bahwa ada gejala gejala yang terkadang dapat berhenti
sama sekali walaupun hal itu hanya berlangsung dalam waktu yang sangat singkat. Sedangkan yang
ketiga adalah pada gejala-gejala yang dikeluhkan oleh penderita baiasanya tidak sesuai dengan
dasar-dasar dari anatomi serta dasar-dasar fisiologi yang ada dan yang terakhir adalah gejala serta
tanda yang ada pada penderita tidak sesuai dengan penyakit neurologi yang ada.

Sebuah tanda yang disebut dengan tanda Hoover merupakan sebuah tanda klasik dimana
pada pemeriksaan terhadap penderita yang diduga memiliki kelemahan yang bersifat unilateral,
maka pemeriksa dapat mencoba dengan cara yang lain. Cara tersebut dapat dilakukan dengan
penderita diminta untuk melakukan fleksi pada panggulnya yang kuat dan pada saat penderita
mengangkat bagian panggulnya, maka akan terdapat kekuatan pada panggil penderita yang diduga
sedang mengalami kelemahan sehingga hal ini dapat terjadi dikarenakan fokus pada penderita tidak
sedang pada kaki yang sakit. Oleh karena itu hal ini sangatlah berguna dalam melakukan diagnosa
dan juga dapat menjelaskan hasil dari diagnosis dan juga pengobatan pada penderita. Sedangkan
tanda positif lainnya yang ada seperti perubahan pada tremor apabila perhatian dari penderita
dialihkan. Pada seseorang penderita yang mengalami tremor apabila ia diminta untuk melakukan
berhitung bisa saja tidak terjadi adanya perubahan pada tremor karena berhitung tidak banyak
menyita perhatian pada penderita, namun apabila dilakukan sebuah kegiatanyang cukup banyak
untuk menyita perhatian pada penderita seperti misalhnya penderita diminta untuk menunjuk
dengan tangan yang sehat dengan cepat maka dapat terjadi perubahan pada tremor yang
dikarenakan oleh adanya perhatian dari penderita yang teralihkan.

Pada kasus kasus dengan gangguan gerak yang intermiten akan menjadi sedikit lebih sulit
untuk kita dapat melakukan diagnosis positif sehingga kita memerlukan alat pemeriksaan penunjang
yaitu berupa elektrofisiologi. Para penderita yang dilakukan EEG diminta untuk melakukan gerakan
namun gelombang yang naik secara lamdat dengan potensial negatif berkisar antara 1 detik
sebelumnya maka hal ini disebut sebagai potensi pra gerak. Hal ini lah yang dapat kita gunakan
sebagai tanda atau marker dari gangguan gerak fungsional. Memang potensi ini sangatlah sulit untuk
dilihat apabila gerakan yang terjadi sering dalam kurun waktu yang sangat berdekatan namun
apabila terjadi demikian maka perhatian penderita bisa dialihkan terlebih dahulu. Sedangkan pada
penderita dengan Fixed Distonia biasanya terdapat trauma minor yang menimbulkan adanya nyeri
dan berakibat pada postur penderita yang menjadi abnormal serta menimbulkan nyeri. Kedua hal ini
akan menyebabkan suatu hal yang saling tumpang tindih antara nyeri akibat postur tubuh yang
abnormal atau nyeri yang diakibatkan oleh traumanya. Diagnosis positif lainnya yang bisa dilakukan
adalah dengan adanya pemulihan yang secara langsung saat dilakukan penyuntikan dengan toksin
bottulinum yang seharusnya pada reaksi dari penyuntikan tokxin bottulinum adalah beberapa hari
setelah penyuntikan.

Pada penatalaksanaan dari gangguan gerak fisiologis dapat dilakukan dengan beberapa cara
yang diantaranya adalah sebagai berikut :1. Komunikasi serta edukasi terhadap penderita;2
Pendekatan yang dilakukan secara bertahap;3 Penderita mengetahui kapan harus memuali dan
kapan harus berhenti. Komuniskasi merupakan suatu hal yang sangan penting karena penderita
dapat menyalah artikan apa yang diucapkan. Penatalaksanaan pun tidak dapat dilakukan apabila
tidak ada diagnosis yang efektif. Bila pasien dikatakan normal dan tidak terjadi apa apa pada
penderita namun kenyataannya terdapat gangguan pada penderita sedangkan apabila kita katakan
akan di lakukan beberapa rangkaian tes lebih lanjut pada penderita maka penderita akan
menganggap mereka sedang terkena penyakit tertentu yang langka, sedangkan apabila dikatakan
penderita sedang stres dan memerlukan konsultasi terhadap psikolog, penderita dapat menganggap
bahwa dirinya sedang terjadi gangguan jiwa. Maka dari itu perlu memperlakukan penderita seperti
pada umumnya dan mengatakan bahwa penyakitnya merupakan suatu gangguan gerak fisiologis,
jelaskan juga bahwa bagaimana diagnosis dapat dilakukan serta mendiskusikan hal hal apa saja serta
faktor-faktor apa saja yang dapat meningkatkan risiko serta apa saja opsi-opsi tatalaksana yang
dapat dilakukan pada penderita. Melakukan pendekatan secara holistik pada penderita sangat
diperlukan pada kondisi seperti ini. Apabil penderita tidak mengalami perbaikan kondisi maka perlu
diperhatikan juga apakah merupakan suatu penyakit kronis. Hal lain yang perlu kita lakukan juga
adalah dengan melakukan komunikasi yang baik dengan penderita sehingga penderita hendak
berobat kembali dan tidak beranggapan bahwa penyakitnya merupakan suatu yang mustahil untuk
dapat pulih. Pada sebagian besar kasus gangguan gerak fisiologis yang ada para penderita juga dapat
dilakukan perawatan inap dengan tujuan untuk merehabilitasi multidisiplin. Sehingga pada penderita
dapat menjadi pulih dengan rehabilitasi yang dilakukan