Anda di halaman 1dari 5

Peran Serta Masyarakat Dalam Pencegahan Dan Pemberantasan

Korupsi
pidana korupsi di Indonesia sudah merambah keseluruh lini kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Dalam perkembangan akhir-akhir ini, korupsi tidak hanya makin meluas, tetapi dilakukan secara
sistematis sehingga tidak saja semata-mata merugikan keuangan negara tetapi telah melanggar hak-hak
sosial dan ekonomi maysrakat peran serta masyarakat dalam pencegahan dan pemberantasan korupsi,
mempunyai arti penting sebagai bagian dari strategi upaya menanggulangi tindak pidana korupsi baik
dalam arti preventif maupun represif.

PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM PEMBERANTASAN KORUPSI Dasar Hukum:UU No.31


Tahun 1999, pasal 41 dan pasal 42.

PP No.71 Tahun 2000 yang merupakan peraturan pelaksanaan dari pasal 41 dan 42 UU No.31 Tahun
1999
Tata cara Pelaksanaan Peran Serta Masyarakat
- Penyampaian informasi, saran dan pendapat masyarakat harus
disampaikan secara tertulis dan disertai : a.Data/identitas pelapor dengan melampirkan fotokopi KTP
atau identitas lain.
.Dugaan pelaku tpk dilengkapi dengan bukti-bukti permulaan.
- Laporan diklarifikasi dengan gelar perkara oleh penegak hokum
- Penegak hukum dan KPK wajib memberikan jawaban tertulis/lisan atas informasi, saran, atau
pendapat kepada pelapor selambat-lambatnya 30 hari sejak laporan diterima
- Dalam hal tertentu penegak hukum/KPK berhak menolak memberikan isi informasi atau jawaban
kepada pelapor sesuai dengan ketentuan Undang-Undang
-Pelapor berhak mendapatkan perlindungan hokum
- Penegak hukum atau KPK wajib merahasiakan identitas pelapor
ataupun isi laporannya.
Tata Cara Pemberian Penghargaan
- Pelapor berhak mendapat penghargaan
-Penghargaan dapat berupa piagam atau premi
Tata cara, bentuk dan jenis piagam ditetapkan dengan Keputusan Menteri Hukum dan Perundang-
undangan - Besar premi 2 % (dua permil) dari nilai kerugian negara yang dikembalikan Piagam
diberikan kepada pelapor setelah perkara dilimpahkan ke PN - Premi diberikan kepada pelapor setelah
putusan pengadilan yang memidana terdakwa memperoleh kekuatan hukum tetap Problematika Dalam
Praktek 1. Aparat penegak hukum (jaksa) belum semua mempunyai kesadaran untuk melakukan gelar
perkara dengan pelapor 2. Identitas pelapor tidak jelas, seringkali memberikan alamat palsu 3. Laporan
hanya bersifat informasi, tidak didukung bukti permulaan 4. Laporan yang akurat biasanya dari
“orang dalam” yang pada umumnya ingin dirahasiakan identitasnya. Penutup Tindak
pidana korupsi pada umumnya dilakukan oleh pelaku yang mempunyai intelektualitas tinggi, dan telah
merambah disegala lini kehidupan bernasyarakat dan bernegara. Karena itu diperlukan sinergi dari
semua pihak, termasuk didalamnya adalah masyarakat, untuk memberantasnya. Dalam pemberantasan
Tindak Pidana Korupsi ini, tidak kalah pentingnya adalah upaya pencegahan/preventif disamping
tindakan penindakan/represif. Tindakan preventif dilakukan dengan cara antara lain, reformasi birokrasi,
memperbaiki manajemen pengelolaan keuangan negara dan mengoptimalkan lembaga pengawasan
disemua lembaga yang ada.
Setiap orang berhak mencari, memperoleh, dan memberikan informasi tentang dugaan korupsi, serta
menyampaikan saran dan pendapat maupun pengaduan kepada penegak hukum
(polisi,jaksa,hakim,advokat). Dalam pasal 1,ayat 1,PP Nomor 71 Tahun 2000 di sebutkan peran serta
masyarakat adalah peran aktif perorangan, organisasi masyarakat atau lembaga swadaya masyarakat
dalam pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi. Artinya bahkan setiap orang, organisasi
masyarakat, atau lembaga swadaya masyarakat berhak mencari, memperoleh dan memberikan informasi
adanya dugaan telah terjadi tindak pidana korupsi serta menyampaikan saran dan pendapat kepada
penegak hukum dan atau komisi yang menangani perkara tindak pidana korupsi, seperti juga tercantum
dalam pasal 2 ayat 1 peraturan pemerintah tersebut. Namun demikian, dalam ayat 2-nya (masih pasal 2 )
di katakan, penyampaian informasi, saran, dan pendapat atau pemintaan informasi harus dilakukan
secara bertanggung jawab sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, norma
agama, kesusilaan, dan kesopanan.Informasi yang di maksud juga harus dapat di pertanggung jawabkan,
sehingga dalam PP Nomor 71 Tahun 2000 juga mensyaratkan informasi, saran, dan pendapat dari
masyarakat tentang tindak pidana korupsi harus di sampaikan secara tertulis, di sertai dengan data
pelapor yang lengkap, seperti nama dan alamat. Data pelaku dugaan tindak pidana korupsi juga harus di
lampirkan, seperti di syaratkan dalam pasal 3 ayat 1 huruf b.
Penegak hukum berkewajiban memberikan pelayanan dan jawaban atas informasi, saran dan pendapat
yang di sampaikan, seperti di atur dalam pasal 4 ayat 1 peraturan pemerintah tersebut dan penegak
hukum wajib memberikan jawaban secara lisan ataupun tertulis paling lambat 30 hari setelah informasi,
saran dan pendapat diterima(pasal 4ayat 2). Terkait peran serta itu,masyarakat sebagai pelapor berhak
mendapatkan perlindungan hukum dari penegak hukum seperti diatur dalam pasal 5 dan pasal 6
peraturan pemerintah dimaksud.

Atas peran serta memberikan informasi, saran dan pendapat itu,masyarakat berhak mendapatkan
penghargaan atas upaya pencegahan dan membantu pemberantasan tindak pidana korupsi” setiap orang,
organisasi masyarakat, lembaga swadaya masyarakat, yang telah berjasa dalam uaha pencegahan atau
pemberantasan tindak pidana korupsi berhak pendapatkan penghargaan “(pasal 7 ayat 1 ).Penghargaan
tersebut tidak harus berupa materi, bisa juga berupa piagam penghargaan. Ayat 2 dalam pasal 7
mengatakan, penghargaan dapat berupa piagam atau premi. Besarnya premi di tetapkan paling banyak 2
permil dari nilai kerugian negara yang di kembalikan dan di berikan kepada pelapor setelah putusan
pengadilan yang memidana terdakwa memperoleh kekuatan hukum tetap (pasal 11)Meski diatur hak dan
kewajiban serta pemberian penghargaan, masyarakat di tuntut konsekuen dan bertanggung jawab dalam
menggunakan hak dan kewajibannya di dalam hukum,tidak asal melapor dan memfitnah orang
Peran serta masyarakat dalam upaya pencegahan dan pemberantasan korupsi tidak sebatas seperti yang
di ungkapkan dalam PP Nomor 71 / 2000.Banyak serta dan dukungan lain yang bisa dilakukan
masyarakat dalam kaitan itu.Dalam buku Mengenali dan Memberantas Korupsi yang di terbitkan komisi
memberantas korupsi (KPK), di sebutkan dukungan lain yang bisa diberikan masyarakat, misalnya,
mengasingkan dan menolak keberadaan koruptor memboikot dan memasukan nama koruptor dalam
daftar hitam, dan tidak memilih pejabat dan pemimpin yang terlibat korupsi.Dalam upaya pencegahan,
bisa di lakukan dengan melakukan pengawasan dan mendukung terciptanya lingkungan yang anti
korupsi, melaporkan gratifikasi, melaporkan bila terjadi penyelewengan dan penyelenggaraan negara
dan berani melakukan kesaksian dalam pemeriksaan perkara korupsi, serta mendukung proses hukum,
baik terhadap orang lain (termasuk kerabatnya) maupun terhadap diri sendiri
PERAN LEMBAGA PERADILAN DALAM PEMBERANTASAN
KORUPSI

Usaha pemberantasan korupsi jelas tidak mudah. Kesulitan itu terlihat semakin rumit, karena korupsi
kelihatan benar-benar telah menjadi budaya pada berbagai level masyarakat. Meski demikian, berbagai
upaya tetap dilakukan, sehingga secara bertahap korupsi setidak-tidaknya bisa dikurangi, jika tidak
dilenyapkan sama sekali.
Undang-undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UU No.
30 Tahun 2002) mengamanatkan pembentukan Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (KPK)
dan Pengadilan Khusus Korupsi. Pembentukan dua institusi ini merupakan salah satu upaya yang
dilakukan oleh pemerintah dan legislatif dalam pemberantasan tindak pidana korupsi. Namun, dalam
pelaksanaannya ternyata tidak semudah yang tertulis dalam peraturan perundang-undangan. Karena
dalam praktek, baik yang sudah terjadi atau baru diprediksikan akan terjadi, ternyata pelaksanaan kerja
KPK dan terbentuknya Pengadilan Khusus Korupsi terbentur banyak permasalahan. Permasalahan
tersebut antara lain adalah hubungan kordinasi antara KPK dengan pihak Kepolisian dan Kejaksaan
sebagai sub sistem dari Peradilan Pidana Terpadu dan juga tugas dan peranan KPK itu sendiri sebagai
‘super body’.Dalam rangka membangun kembali kepercayaan publik terhadap peran dan citra lembaga
peradilan dan lembaga penegak hukum seperti Kepolisian, Kejaksaan, dan Komisi Pemberantasan
Tindak Pidana Korupsi, maka salah satu mekanisme dalam sub sistem peradilan pidana yaitu penyidikan
dan penuntutan, perlu untuk diberdayakan secara lebih optimal.
Salah satu peran lembaga peradilan, khususnya MA, untuk memberantas KKN pun tetap terus
dijalankan dengan bantuan lembaga lain yang juga menangani pemberantasan Korupsi sesuai dengan
amanat reformasi; walaupun penanganannya terkesan tebang pilih.Dalam perjalanan tugasnya sebagai
penegak hukum, kondisi tindak pidana KKN di Indonesia kini malah makin akut dan menunjukan citra
yang buruk terhadap Mahkamah Agung, yaitu dengan sikap inkonsisten MA sebagai penegak hukum.
Lantaran diduga adanya mafia peradilan dalam lembaga peradilan, hukum dijadikan komoditas. Dan
ditambah lagi dengan pernyataan Ketua Komisi Yudisial bahwa 40% dari 6.100 hakim di Indonesia
bermasalah dengan hukum, turut memperjelas betapa buruknya wajah Mahkamah Agung khususnya,
dan hukum di Indonesia pada umumnya.Adanya program pemerintahan SBY bersama Komisi
Pemberantasan Korupsi untuk menjadikan MA sebagai proyek percontohan dalam program
pemberantasan korupsi merupakan sebuah langkah yang tepat. Sebab, idealnya sebelum MA
memberantas KKN, lebih dulu MA-nya harus bersih dari KKN; (autentik). Dijadikannya MA
pemerintahan SBY bersama Komisi Pemberantasan Korupsi memiliki makna luas dan bukanlah hal
yang asal-asalan. Tetapi, salah satunya karena lembaga tersebut dibelit berbagai masalah yang terkait isu
korupsi. Hal itu tampak memperkuat citra yang buruk terhadap MA dan lembaga peradilan lain lantara
dijadikan pilot project.MA dan lembaga peradilan seharusnya autentik. Sebab, MA mempunyai
tanggung jawab memberantas dan menindak pelaku tindak pidana korupsi dan memberikan kepastian
hukum di tingkat tertinggi.Tidak semestinya pejabat peradilan bermasalah dengan hukum. Apabila MA
tidak autentik, hal itu akan berakibat pada ketidakefektifan semua tindakan lembaga peradilan baik itu
berupa pemberantasan korupsi maupun langkah-langkah lain yang dimaksudkan perbaikan pada masa
mendatang.Krisis autentisitas akan memperburuk kredibilitas para penegak hukum di mata masyarakat,
yang akhirnya menghilangkan kepercayaan masyarakat terhadap hukum itu sendiri. Jika semua akibat
itu terjadi, Indonesia bisa jadi--Indonesia yang menurut tekstualnya adalah negara hukum--akan berganti
menjadi negara yang berhukum rimba.Sebab, MA dan lembaga peradilan, yang keberadaannya dijadikan
instrumen barometer utama kualitas penegakan hukum di Indonesia, menunjukkan hukum Indonesia
berkualitas rendah atau bahkan bisa dikatakan tidak berkualitas dalam penegakan hukumn

TENTANG KPK

Visi Komisi Pemberantasan Korupsi adalah

"Mewujudkan Indonesia yang Bebas Korupsi"

Misi Komisi Pemberantasan Korupsi adalah

"Penggerak Perubahan untuk Mewujudkan Bangsa yang Anti Korupsi"

Undang-Undang No. 30 Tahun 2002 Tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi

Komisi Pemberantasan Korupsi mempunyai tugas:

 koordinasi dengan instansi yang berwenang melakukan pemberantasan tindak pidana


korupsi;
 supervisi terhadap instansi yang berwenang melakukan pemberantasan tindak pidana
korupsi;
 melakukan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan terhadap tindak pidana korupsi;
 melakukan tindakan-tindakan pencegahan tindak pidana korupsi; dan
 melakukan monitor terhadap penyelenggaraan pemerintahan negara.

Dalam melaksanakan tugas koordinasi, Komisi Pemberantasan Korupsi berwenang :

 mengkoordinasikan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan tindak pidana korupsi;


 menetapkan sistem pelaporan dalam kegiatan pemberantasan tindak pidana korupsi;
 meminta informasi tentang kegiatan pemberantasan tindak pidana korupsi kepada instansi
yang terkait;
 melaksanakan dengar pendapat atau pertemuan dengan instansi yang berwenang
melakukan pemberantasan tindak pidana korupsi; dan
 meminta laporan instansi terkait mengenai pencegahan tindak pidana korupsi.

Beri Nilai