Anda di halaman 1dari 84

SALINAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA

NOMOR 33 TAHUN 2014

TENTANG

JAMINAN PRODUK HALAL

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang : a. bahwa Undang-Undang Dasar Negara Republik


Indonesia Tahun 1945 mengamanatkan negara
menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk
memeluk agamanya masing-masing dan untuk
beribadah menurut agamanya dan kepercayaannya
itu;
b. bahwa untuk menjamin setiap pemeluk agama untuk
beribadah dan menjalankan ajaran agamanya, negara
berkewajiban memberikan pelindungan dan jaminan
tentang kehalalan produk yang dikonsumsi dan
digunakan masyarakat;
c. bahwa produk yang beredar di masyarakat belum
semua terjamin kehalalannya;
d. bahwa pengaturan mengenai kehalalan suatu produk
pada saat ini belum menjamin kepastian hukum dan
perlu diatur dalam suatu peraturan perundang-
undangan;
e. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana
dimaksud dalam huruf a, huruf b, huruf c, dan huruf
d perlu membentuk Undang-Undang tentang Jaminan
Produk Halal;
Mengingat : Pasal 20, Pasal 21, Pasal 28H ayat (1), Pasal 28J, dan
Pasal 29 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945;

Dengan . . .

www.bphn.go.id
-2-
Dengan Persetujuan Bersama

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

dan

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

MEMUTUSKAN:

Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG JAMINAN PRODUK HALAL.

BAB I
KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:

1. Produk adalah barang dan/atau jasa yang terkait


dengan makanan, minuman, obat, kosmetik, produk
kimiawi, produk biologi, produk rekayasa genetik,
serta barang gunaan yang dipakai, digunakan, atau
dimanfaatkan oleh masyarakat.

2. Produk Halal adalah Produk yang telah dinyatakan


halal sesuai dengan syariat Islam.

3. Proses Produk Halal yang selanjutnya disingkat PPH


adalah rangkaian kegiatan untuk menjamin
kehalalan Produk mencakup penyediaan bahan,
pengolahan, penyimpanan, pengemasan,
pendistribusian, penjualan, dan penyajian Produk.

4. Bahan adalah unsur yang digunakan untuk


membuat atau menghasilkan Produk.

5. Jaminan Produk Halal yang selanjutnya


disingkat JPH adalah kepastian hukum terhadap
kehalalan suatu Produk yang dibuktikan dengan
Sertifikat Halal.

6. Badan . . .

www.bphn.go.id
6. Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal yang
selanjutnya disingkat BPJPH adalah badan yang
dibentuk oleh Pemerintah untuk menyelenggarakan
JPH.

7. Majelis Ulama Indonesia yang selanjutnya


disingkat MUI adalah wadah musyawarah para
ulama, zuama, dan cendekiawan muslim.

8. Lembaga Pemeriksa Halal yang selanjutnya disingkat


LPH adalah lembaga yang melakukan kegiatan
pemeriksaan dan/atau pengujian terhadap kehalalan
Produk.

9. Auditor Halal adalah orang yang memiliki


kemampuan melakukan pemeriksaan kehalalan
Produk.

10. Sertifikat Halal adalah pengakuan kehalalan suatu


Produk yang dikeluarkan oleh BPJPH berdasarkan
fatwa halal tertulis yang dikeluarkan oleh MUI.

11. Label Halal adalah tanda kehalalan suatu Produk.

12. Pelaku Usaha adalah orang perseorangan atau


badan usaha berbentuk badan hukum atau bukan
badan hukum yang menyelenggarakan kegiatan
usaha di wilayah Indonesia.

13. Penyelia Halal adalah orang yang bertanggung jawab


terhadap PPH.

14. Setiap orang adalah orang perseorangan atau badan


hukum.

15. Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan


urusan pemerintahan di bidang agama.

Pasal 2 . . .
Pasal 2 Penyelenggaraan JPH

berasaskan:
a. pelindungan;
b. keadilan;
c. kepastian hukum;
d. akuntabilitas dan transparansi;
e. efektivitas dan efisiensi; dan
f. profesionalitas.

Pasal 3
Penyelenggaraan JPH

bertujuan:
a. memberikan kenyamanan, keamanan, keselamatan,
dan kepastian ketersediaan Produk Halal bagi
masyarakat dalam mengonsumsi dan menggunakan
Produk; dan
b. meningkatkan nilai tambah bagi Pelaku Usaha
untuk memproduksi dan menjual Produk Halal.

Pasal 4

Produk yang masuk, beredar, dan diperdagangkan di


wilayah Indonesia wajib bersertifikat halal.

BAB II
PENYELENGGARA JAMINAN PRODUK HALAL

Bagian Kesatu
Umum

Pasal 5

(1) Pemerintah bertanggung jawab dalam


menyelenggarakan JPH.
(2) Penyelenggaraan . . .
(2) Penyelenggaraan JPH sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dilaksanakan oleh Menteri.

(3) Untuk melaksanakan penyelenggaraan JPH


sebagaimana dimaksud pada ayat (2), dibentuk
BPJPH yang berkedudukan di bawah dan
bertanggung jawab kepada Menteri.

(4) Dalam hal diperlukan, BPJPH dapat membentuk


perwakilan di daerah.

(5) Ketentuan mengenai tugas, fungsi, dan susunan


organisasi BPJPH diatur dalam Peraturan Presiden.

Bagian Kedua
Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal

Pasal 6

Dalam penyelenggaraan JPH, BPJPH berwenang:


a. merumuskan dan menetapkan kebijakan JPH;
b. menetapkan norma, standar, prosedur, dan kriteria
JPH;
c. menerbitkan dan mencabut Sertifikat Halal dan
Label Halal pada Produk;
d. melakukan registrasi Sertifikat Halal pada Produk
luar negeri;
e. melakukan sosialisasi, edukasi, dan
publikasi Produk Halal;
f. melakukan akreditasi terhadap LPH;
g. melakukan registrasi Auditor Halal;
h. melakukan pengawasan terhadap JPH;
i. melakukan pembinaan Auditor Halal; dan
j. melakukan kerja sama dengan lembaga dalam dan
luar negeri di bidang penyelenggaraan JPH.

Pasal 7 . . .
Pasal 7

Dalam melaksanakan wewenang sebagaimana dimaksud


dalam Pasal 6, BPJPH bekerja sama dengan:
a. kementerian dan/atau lembaga terkait;
b. LPH; dan
c. MUI.

Pasal 8

Kerja sama BPJPH dengan kementerian dan/atau


lembaga terkait sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7
huruf a dilakukan sesuai dengan tugas dan fungsi
kementerian dan/atau lembaga terkait.

Pasal 9

Kerja sama BPJPH dengan LPH sebagaimana dimaksud


dalam Pasal 7 huruf b dilakukan untuk pemeriksaan
dan/atau pengujian Produk.

Pasal 10

(1) Kerja sama BPJPH dengan MUI sebagaimana


dimaksud dalam Pasal 7 huruf c dilakukan dalam
bentuk:
a. sertifikasi Auditor Halal;
b. penetapan kehalalan Produk; dan
c. akreditasi LPH.

(2) Penetapan kehalalan Produk sebagaimana dimaksud


pada ayat (1) huruf b dikeluarkan MUI dalam bentuk
Keputusan Penetapan Halal Produk.

Pasal 11 . . .
Pasal 11

Ketentuan lebih lanjut mengenai kerja sama


sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7, Pasal 8, Pasal 9,
dan Pasal 10 diatur dengan atau berdasarkan Peraturan
Pemerintah.

Bagian Ketiga
Lembaga Pemeriksa Halal

Pasal 12

(1) Pemerintah dan/atau masyarakat dapat mendirikan


LPH.

(2) LPH sebagaimana dimaksud pada ayat (1)


mempunyai kesempatan yang sama dalam
membantu BPJPH melakukan pemeriksaan
dan/atau pengujian kehalalan Produk.

Pasal 13

(1) Untuk mendirikan LPH sebagaimana dimaksud


dalam Pasal 12, harus dipenuhi persyaratan:
a. memiliki kantor sendiri dan perlengkapannya;
b. memiliki akreditasi dari BPJPH;
c. memiliki Auditor Halal paling sedikit 3 (tiga)
orang; dan
d. memiliki laboratorium atau kesepakatan kerja
sama dengan lembaga lain yang memiliki
laboratorium.

(2) Dalam hal LPH sebagaimana dimaksud pada ayat (1)


didirikan oleh masyarakat, LPH harus diajukan oleh
lembaga keagamaan Islam berbadan hukum.

Pasal 14 . . .
Pasal 14

(1) Auditor Halal sebagaimana dimaksud dalam Pasal


13 huruf c diangkat dan diberhentikan oleh LPH.
(2) Pengangkatan Auditor Halal oleh LPH sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi
persyaratan:
a. warga negara Indonesia;
b. beragama Islam;
c. berpendidikan paling rendah sarjana strata 1
(satu) di bidang pangan, kimia, biokimia, teknik
industri, biologi, atau farmasi;
d. memahami dan memiliki wawasan luas
mengenai kehalalan produk menurut syariat
Islam;
e. mendahulukan kepentingan umat di atas
kepentingan pribadi dan/atau golongan; dan
f. memperoleh sertifikat dari MUI.

Pasal 15

Auditor Halal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14


bertugas:
a. memeriksa dan mengkaji Bahan yang digunakan;
b. memeriksa dan mengkaji proses pengolahan Produk;
c. memeriksa dan mengkaji sistem penyembelihan;
d. meneliti lokasi Produk;
e. meneliti peralatan, ruang produksi, dan
penyimpanan;
f. memeriksa pendistribusian dan penyajian Produk;
g. memeriksa sistem jaminan halal Pelaku Usaha; dan
h. melaporkan hasil pemeriksaan dan/atau pengujian
kepada LPH.

Pasal 16

Ketentuan lebih lanjut mengenai LPH diatur dalam


Peraturan Pemerintah.

BAB III . . .
BAB III

BAHAN DAN PROSES PRODUK HALAL

Bagian Kesatu
Bahan

Pasal 17

(1) Bahan yang digunakan dalam PPH terdiri atas


bahan baku, bahan olahan, bahan tambahan, dan
bahan penolong.
(2) Bahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berasal
dari:
a. hewan;
b. tumbuhan;
c. mikroba; atau
d. bahan yang dihasilkan melalui proses kimiawi,
proses biologi, atau proses rekayasa genetik.
(3) Bahan yang berasal dari hewan sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) huruf a pada dasarnya halal,
kecuali yang diharamkan menurut syariat.

Pasal 18

(1) Bahan yang berasal dari hewan yang diharamkan


sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (3)
meliputi:
a. bangkai;
b. darah;
c. babi; dan/atau
d. hewan yang disembelih tidak sesuai dengan
syariat.
(2) Bahan yang berasal dari hewan yang diharamkan
selain sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
ditetapkan oleh Menteri berdasarkan fatwa MUI.

Pasal 19 . . .
Pasal 19
(1) Hewan yang digunakan sebagai bahan Produk wajib
disembelih sesuai dengan syariat dan memenuhi
kaidah kesejahteraan hewan serta kesehatan
masyarakat veteriner.
(2) Tuntunan penyembelihan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.

Pasal 20
(1) Bahan yang berasal dari tumbuhan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2) huruf b pada
dasarnya halal, kecuali yang memabukkan dan/atau
membahayakan kesehatan bagi orang yang
mengonsumsinya.
(2) Bahan yang berasal dari mikroba dan bahan yang
dihasilkan melalui proses kimiawi, proses biologi,
atau proses rekayasa genetik sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2) huruf c dan huruf
d diharamkan jika proses pertumbuhan dan/atau
pembuatannya tercampur, terkandung, dan/atau
terkontaminasi dengan bahan yang diharamkan.
(3) Bahan yang diharamkan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan oleh Menteri
berdasarkan fatwa MUI.

Bagian Kedua
Proses Produk Halal

Pasal 21
(1) Lokasi, tempat, dan alat PPH wajib dipisahkan
dengan lokasi, tempat, dan alat penyembelihan,
pengolahan, penyimpanan, pengemasan,
pendistribusian, penjualan, dan penyajian Produk
tidak halal.

(2) Lokasi . . .
(2) Lokasi, tempat, dan alat PPH sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) wajib:
a. dijaga kebersihan dan higienitasnya;
b. bebas dari najis; dan
c. bebas dari Bahan tidak halal.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai lokasi, tempat, dan
alat PPH sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur
dalam Peraturan Pemerintah.

Pasal 22

(1) Pelaku Usaha yang tidak memisahkan lokasi,


tempat, dan alat PPH sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 21 ayat (1) dan ayat (2) dikenai sanksi
administratif berupa:
a. peringatan tertulis; atau
b. denda administratif.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara
pengenaan sanksi administratif diatur dalam
Peraturan Menteri.

BAB IV
PELAKU USAHA

Pasal 23

Pelaku Usaha berhak memperoleh:


a. informasi, edukasi, dan sosialisasi mengenai sistem
JPH;
b. pembinaan dalam memproduksi Produk Halal; dan
c. pelayanan untuk mendapatkan Sertifikat Halal
secara cepat, efisien, biaya terjangkau, dan tidak
diskriminatif.

Pasal 24 . . .
Pasal 24

Pelaku Usaha yang mengajukan permohonan Sertifikat


Halal wajib:
a. memberikan informasi secara benar, jelas, dan jujur;
b. memisahkan lokasi, tempat dan alat penyembelihan,
pengolahan, penyimpanan, pengemasan,
pendistribusian, penjualan, dan penyajian antara
Produk Halal dan tidak halal;
c. memiliki Penyelia Halal; dan
d. melaporkan perubahan komposisi Bahan kepada
BPJPH.

Pasal 25

Pelaku Usaha yang telah memperoleh Sertifikat Halal


wajib:
a. mencantumkan Label Halal terhadap Produk yang
telah mendapat Sertifikat Halal;
b. menjaga kehalalan Produk yang telah memperoleh
Sertifikat Halal;
c. memisahkan lokasi, tempat dan penyembelihan, alat
pengolahan, penyimpanan, pengemasan,
pendistribusian, penjualan, dan penyajian antara
Produk Halal dan tidak halal;
d. memperbarui Sertifikat Halal jika masa berlaku
Sertifikat Halal berakhir; dan
e. melaporkan perubahan komposisi Bahan kepada
BPJPH.

Pasal 26

(1) Pelaku Usaha yang memproduksi Produk dari Bahan


yang berasal dari Bahan yang diharamkan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 dan Pasal 20
dikecualikan dari mengajukan permohonan
Sertifikat Halal.

(2) Pelaku . . .
(2) Pelaku Usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
wajib mencantumkan keterangan tidak halal pada
Produk.

Pasal 27

(1) Pelaku Usaha yang tidak melakukan kewajiban


sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 dikenai
sanksi administratif berupa:
a. peringatan tertulis;
b. denda administratif; atau
c. pencabutan Sertifikat Halal.
(2) Pelaku Usaha yang tidak melakukan kewajiban
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (2)
dikenai sanksi administratif berupa:
a. teguran lisan;
b. peringatan tertulis; atau
c. denda administratif.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara
pengenaan sanksi administratif diatur dalam
Peraturan Menteri.

Pasal 28
(1) Penyelia Halal sebagaimana dimaksud dalam Pasal
24 huruf c bertugas:
a. mengawasi PPH di perusahaan;
b. menentukan tindakan perbaikan dan
pencegahan;
c. mengoordinasikan PPH; dan
d. mendampingi Auditor Halal LPH pada saat
pemeriksaan.
(2) Penyelia Halal harus memenuhi persyaratan:
a. beragama Islam; dan
b. memiliki wawasan luas dan memahami syariat
tentang kehalalan.

(3) Penyelia . . .
(3) Penyelia Halal ditetapkan oleh pimpinan perusahaan
dan dilaporkan kepada BPJPH.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai Penyelia Halal
diatur dalam Peraturan Menteri.

BAB V
TATA CARA MEMPEROLEH SERTIFIKAT HALAL

Bagian Kesatu

Pengajuan

Permohonan

Pasal 29

(1) Permohonan Sertifikat Halal diajukan oleh Pelaku


Usaha secara tertulis kepada BPJPH.
(2) Permohonan Sertifikat Halal harus dilengkapi
dengan dokumen:
a. data Pelaku Usaha;
b. nama dan jenis Produk;
c. daftar Produk dan Bahan yang digunakan; dan
d. proses pengolahan Produk.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara
pengajuan permohonan Sertifikat Halal diatur
dalam Peraturan Menteri.

Bagian Kedua

Penetapan Lembaga Pemeriksa Halal

Pasal 30

(1) BPJPH menetapkan LPH untuk melakukan


pemeriksaan dan/atau pengujian kehalalan Produk.

(2) Penetapan . . .
(2) Penetapan LPH sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan dalam jangka waktu paling lama 5 (lima)
hari kerja terhitung sejak dokumen permohonan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (2)
dinyatakan lengkap.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara
penetapan LPH diatur dalam Peraturan Menteri.

Bagian Ketiga
Pemeriksaan dan Pengujian

Pasal 31

(1) Pemeriksaan dan/atau pengujian kehalalan Produk


sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1)
dilakukan oleh Auditor Halal.
(2) Pemeriksaan terhadap Produk dilakukan di lokasi
usaha pada saat proses produksi.
(3) Dalam hal pemeriksaan Produk sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) terdapat Bahan yang
diragukan kehalalannya, dapat dilakukan pengujian
di laboratorium.
(4) Dalam pelaksanaan pemeriksaan di lokasi usaha
sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Pelaku Usaha
wajib memberikan informasi kepada Auditor Halal.

Pasal 32

(1) LPH menyerahkan hasil pemeriksaan dan/atau


pengujian kehalalan Produk kepada BPJPH.
(2) BPJPH menyampaikan hasil pemeriksaan dan/atau
pengujian kehalalan Produk kepada MUI untuk
memperoleh penetapan kehalalan Produk.

Bagian . . .
Bagian Keempat
Penetapan Kehalalan Produk

Pasal 33

(1) Penetapan kehalalan Produk dilakukan oleh MUI.


(2) Penetapan kehalalan Produk sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dilakukan dalam Sidang Fatwa Halal.
(3) Sidang Fatwa Halal MUI sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) mengikutsertakan pakar, unsur
kementerian/lembaga, dan/atau instansi terkait.
(4) Sidang Fatwa Halal sebagaimana dimaksud pada
ayat (3) memutuskan kehalalan Produk paling lama
30 (tiga puluh) hari kerja sejak MUI menerima hasil
pemeriksaan dan/atau pengujian Produk dari
BPJPH.
(5) Keputusan Penetapan Halal Produk sebagaimana
dimaksud pada ayat (4) ditandatangani oleh MUI.
(6) Keputusan Penetapan Halal Produk sebagaimana
dimaksud pada ayat (5) disampaikan kepada BPJPH
untuk menjadi dasar penerbitan Sertifikat Halal.

Bagian Kelima
Penerbitan Sertifikat Halal

Pasal 34

(1) Dalam hal Sidang Fatwa Halal sebagaimana


dimaksud dalam Pasal 33 ayat (2) menetapkan halal
pada Produk yang dimohonkan Pelaku Usaha,
BPJPH menerbitkan Sertifikat Halal.
(2) Dalam hal Sidang Fatwa Halal sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 33 ayat (2) menyatakan
Produk tidak halal, BPJPH mengembalikan
permohonan Sertifikat Halal kepada Pelaku Usaha
disertai dengan alasan.
Pasal 35 . . .
Pasal 35
Sertifikat Halal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34
ayat (1) diterbitkan oleh BPJPH paling lama 7 (tujuh) hari
kerja terhitung sejak keputusan kehalalan Produk
diterima dari MUI.

Pasal 36

Penerbitan Sertifikat Halal sebagaimana dimaksud dalam


Pasal 35 wajib dipublikasikan oleh BPJPH.

Bagian Keenam
Label Halal

Pasal 37

BPJPH menetapkan bentuk Label Halal yang berlaku


nasional.
Pasal 38

Pelaku Usaha yang telah memperoleh Sertifikat Halal


wajib mencantumkan Label Halal pada:
a. kemasan Produk;
b. bagian tertentu dari Produk; dan/atau
c. tempat tertentu pada Produk.

Pasal 39

Pencantuman Label Halal sebagaimana dimaksud dalam


Pasal 38 harus mudah dilihat dan dibaca serta tidak
mudah dihapus, dilepas, dan dirusak.

Pasal 40

Ketentuan lebih lanjut mengenai Label Halal diatur


dalam Peraturan Menteri.

Pasal 41 . . .
Pasal 41

(1) Pelaku Usaha yang mencantumkan Label Halal tidak


sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 38 dan Pasal 39 dikenai sanksi
administratif berupa:
a. teguran lisan;
b. peringatan tertulis; atau
c. pencabutan Sertifikat Halal.
(2) Ketentuan mengenai tata cara pengenaan sanksi
administratif diatur dalam Peraturan Menteri.

Bagian Ketujuh

Pembaruan Sertifikat Halal

Pasal 42

(1) Sertifikat Halal berlaku selama 4 (empat) tahun


sejak diterbitkan oleh BPJPH, kecuali terdapat
perubahan komposisi Bahan.
(2) Sertifikat Halal wajib diperpanjang oleh Pelaku
Usaha dengan mengajukan pembaruan Sertifikat
Halal paling lambat 3 (tiga) bulan sebelum masa
berlaku Sertifikat Halal berakhir.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai pembaruan
Sertifikat Halal diatur dalam Peraturan Menteri.

Pasal 43

Setiap orang yang terlibat dalam penyelenggaraan proses


JPH wajib menjaga kerahasiaan formula yang tercantum
dalam informasi yang diserahkan oleh Pelaku Usaha.

Bagian . . .
Bagian Kedelapan
Pembiayaan

Pasal 44

(1) Biaya Sertifikasi Halal dibebankan kepada Pelaku


Usaha yang mengajukan permohonan Sertifikat
Halal.
(2) Dalam hal Pelaku Usaha merupakan usaha mikro
dan kecil, biaya Sertifikasi Halal dapat difasilitasi
oleh pihak lain.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai biaya sertifikasi
halal diatur dalam Peraturan Pemerintah.

Pasal 45

(1) BPJPH dalam mengelola keuangan menggunakan


pengelolaan keuangan badan layanan umum.
(2) Ketentuan mengenai pengelolaan keuangan BPJPH
diatur dalam Peraturan Menteri.

BAB VI
KERJA SAMA INTERNASIONAL

Pasal 46

(1) Pemerintah dapat melakukan kerja sama


internasional dalam bidang JPH sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2) Kerja sama internasional dalam bidang JPH
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat
berbentuk pengembangan JPH, penilaian
kesesuaian, dan/atau pengakuan Sertifikat Halal.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai kerja sama JPH
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan
atau berdasarkan Peraturan Pemerintah.

Pasal 47 . . .
Pasal 47

(1) Produk Halal luar negeri yang diimpor ke Indonesia


berlaku ketentuan sebagaimana diatur dalam
Undang-Undang ini.

(2) Produk Halal, sebagaimana dimaksud pada ayat (1)


tidak perlu diajukan permohonan Sertifikat Halalnya
sepanjang Sertifikat Halal diterbitkan oleh lembaga
halal luar negeri yang telah melakukan kerja sama
saling pengakuan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 46 ayat (2).

(3) Sertifikat Halal sebagaimana dimaksud pada ayat (2)


wajib diregistrasi oleh BPJPH sebelum Produk
diedarkan di Indonesia.

(4) Ketentuan mengenai tata cara registrasi


sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dalam
Peraturan Pemerintah.

Pasal 48

(1) Pelaku Usaha yang tidak melakukan registrasi


sebagaimana dimaksud dalam Pasal 47 ayat (3)
dikenai sanksi administratif berupa penarikan
barang dari peredaran.
(2) Ketentuan mengenai tata cara pengenaan sanksi
administratif diatur dalam Peraturan Menteri.

BAB VII
PENGAWASAN

Pasal 49

BPJPH melakukan pengawasan terhadap JPH.

Pasal 50 . . .
Pasal 50

Pengawasan JPH dilakukan terhadap:


a. LPH;

b. masa berlaku Sertifikat Halal;

c. kehalalan Produk;

d. pencantuman Label Halal;

e. pencantuman keterangan tidak halal;

f. pemisahan lokasi, tempat dan alat penyembelihan,


pengolahan, penyimpanan, pengemasan,
pendistribusian, penjualan, serta penyajian antara
Produk Halal dan tidak halal;

g. keberadaan Penyelia Halal; dan/atau

h. kegiatan lain yang berkaitan dengan JPH.

Pasal 51

(1) BPJPH dan kementerian dan/atau lembaga terkait


yang memiliki kewenangan pengawasan JPH dapat
melakukan pengawasan secara sendiri-sendiri atau
bersama-sama.

(2) Pengawasan JPH dengan kementerian dan/atau


lembaga terkait sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.

Pasal 52

Ketentuan lebih lanjut mengenai pengawasan diatur


dalam Peraturan Pemerintah.

BAB . . .
BAB VIII
PERAN SERTA MASYARAKAT

Pasal 53
(1) Masyarakat dapat berperan serta dalam
penyelenggaraan JPH.
(2) Peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dapat berupa:
a. melakukan sosialisasi mengenai JPH; dan
b. mengawasi Produk dan Produk Halal yang
beredar.
(3) Peran serta masyarakat berupa pengawasan Produk
dan Produk Halal yang beredar sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) huruf b berbentuk
pengaduan atau pelaporan ke BPJPH.

Pasal 54
BPJPH dapat memberikan penghargaan kepada
masyarakat yang berperan serta dalam penyelenggaraan
JPH.
Pasal 55
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara peran serta
masyarakat dan pemberian penghargaan diatur dalam
Peraturan Menteri.

BAB IX
KETENTUAN PIDANA

Pasal 56
Pelaku Usaha yang tidak menjaga kehalalan Produk
yang telah memperoleh Sertifikat Halal sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 25 huruf b dipidana dengan
pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau pidana
denda paling banyak Rp2.000.000.000,00 (dua miliar
rupiah).
Pasal 57 . . .
Pasal 57

Setiap orang yang terlibat dalam penyelenggaraan proses


JPH yang tidak menjaga kerahasiaan formula yang
tercantum dalam informasi yang diserahkan Pelaku
Usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43 dipidana
dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau
pidana denda paling banyak Rp2.000.000.000,00 (dua
miliar rupiah).

BAB X
KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 58

Sertifikat Halal yang telah ditetapkan oleh MUI sebelum


Undang-Undang ini berlaku dinyatakan tetap berlaku
sampai jangka waktu Sertifikat Halal tersebut berakhir.

Pasal 59`

Sebelum BPJPH dibentuk, pengajuan permohonan atau


perpanjangan Sertifikat Halal dilakukan sesuai dengan
tata cara memperoleh Sertifikat Halal yang berlaku
sebelum Undang-Undang ini diundangkan.

Pasal 60

MUI tetap menjalankan tugasnya di bidang Sertifikasi


Halal sampai dengan BPJPH dibentuk.

Pasal 61

LPH yang sudah ada sebelum Undang-Undang ini


berlaku diakui sebagai LPH dan wajib menyesuaikan
dengan ketentuan dalam Pasal 13 paling lama 2 (dua)
tahun terhitung sejak BPJPH dibentuk.

Pasal 62 . . .
Pasal 62

Auditor halal yang sudah ada sebelum Undang-Undang


ini berlaku diakui sebagai Auditor Halal dan wajib
menyesuaikan dengan ketentuan dalam Pasal 14 dan
Pasal 15 paling lama 2 (dua) tahun terhitung sejak
Undang-Undang ini diundangkan.

Pasal 63

Penyelia Halal perusahaan yang sudah ada sebelum


Undang-Undang ini berlaku diakui sebagai Penyelia Halal
dan wajib menyesuaikan dengan ketentuan dalam Pasal
28 paling lama 2 (dua) tahun terhitung sejak Undang-
Undang ini diundangkan.

BAB XI
KETENTUAN PENUTUP

Pasal 64

BPJPH harus dibentuk paling lambat 3 (tiga) tahun


terhitung sejak Undang-Undang ini diundangkan.

Pasal 65

Peraturan pelaksanaan Undang-Undang ini harus


ditetapkan paling lama 2 (dua) tahun terhitung sejak
Undang-Undang ini diundangkan.

Pasal 66 . . .
Pasal 66

Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku, semua


Peraturan Perundang-undangan yang mengatur
mengenai JPH dinyatakan masih tetap berlaku sepanjang
tidak bertentangan dengan ketentuan dalam Undang-
Undang ini.

Pasal 67

(1) Kewajiban bersertifikat halal bagi Produk yang


beredar dan diperdagangkan di wilayah Indonesia
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 mulai berlaku
5 (lima) tahun terhitung sejak Undang-Undang ini
diundangkan.
(2) Sebelum kewajiban bersertifikat halal sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) berlaku, jenis Produk yang
bersertifikat halal diatur secara bertahap.
(3) Ketentuan mengenai jenis Produk yang bersertifikat
halal secara bertahap sebagaimana diatur pada ayat
(2) diatur dalam Peraturan Pemerintah.

Pasal 68

Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal


diundangkan.

Agar . . .
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan
pengundangan Undang-Undang ini dengan
penempatannya dalam Lembaran Negara Republik
Indonesia.

Disahkan di Jakarta
pada tanggal 17 Oktober 2014
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

ttd.

DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO

Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 17 Oktober 2014
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA

REPUBLIK INDONESIA,

ttd.

AMIR SYAMSUDIN

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2014 NOMOR 295


PENJELASAN

ATAS

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA

NOMOR 33 TAHUN 2014

TENTANG

JAMINAN PRODUK HALAL

I. UMUM

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun


1945 mengamanatkan negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap
penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk
beribadah menurut agamanya dan kepercayaannya itu.
Untuk menjamin setiap pemeluk agama beribadah dan
menjalankan ajaran agamanya, negara berkewajiban memberikan
pelindungan dan jaminan tentang kehalalan Produk yang
dikonsumsi dan digunakan masyarakat. Jaminan mengenai Produk
Halal hendaknya dilakukan sesuai dengan asas pelindungan,
keadilan, kepastian hukum, akuntabilitas dan transparansi,
efektivitas dan efisiensi, serta profesionalitas. Oleh karena itu,
jaminan penyelenggaraan Produk Halal bertujuan memberikan
kenyamanan, keamanan, keselamatan, dan kepastian ketersediaan
Produk Halal bagi masyarakat dalam mengonsumsi dan
menggunakan Produk, serta meningkatkan nilai tambah bagi
Pelaku Usaha untuk memproduksi dan menjual Produk Halal.
Tujuan tersebut menjadi penting mengingat kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi di bidang pangan, obat-obatan, dan
kosmetik berkembang sangat pesat. Hal itu berpengaruh secara
nyata pada pergeseran pengolahan dan pemanfaatan bahan baku
untuk makanan, minuman, kosmetik, obat-obatan, serta Produk
lainnya dari yang semula bersifat sederhana dan alamiah menjadi

pengolahan . . .

www.bphn.go.id
-2-
pengolahan dan pemanfaatan bahan baku hasil rekayasa ilmu
pengetahuan. Pengolahan produk dengan memanfaatkan kemajuan
ilmu pengetahuan dan teknologi memungkinkan percampuran
antara yang halal dan yang haram baik disengaja maupun tidak
disengaja. Oleh karena itu, untuk mengetahui kehalalan dan
kesucian suatu Produk, diperlukan suatu kajian khusus yang
membutuhkan pengetahuan multidisiplin, seperti pengetahuan di
bidang pangan, kimia, biokimia, teknik industri, biologi, farmasi,
dan pemahaman tentang syariat.
Berkaitan dengan itu, dalam realitasnya banyak Produk yang
beredar di masyarakat belum semua terjamin kehalalannya.
Sementara itu, berbagai peraturan perundang-undangan yang
memiliki keterkaitan dengan pengaturan Produk Halal belum
memberikan kepastian dan jaminan hukum bagi masyarakat
muslim. Oleh karena itu, pengaturan mengenai JPH perlu diatur
dalam satu undang-undang yang secara komprehensif mencakup
Produk yang meliputi barang dan/atau jasa yang terkait dengan
makanan, minuman, obat, kosmetik, produk kimiawi, produk
biologi, dan produk rekayasa genetik serta barang gunaan yang
dipakai, digunakan, atau dimanfaatkan oleh masyarakat.
Pokok-pokok pengaturan dalam Undang-Undang ini antara
lain adalah sebagai berikut.
1. Untuk menjamin ketersediaan Produk Halal, ditetapkan bahan
produk yang dinyatakan halal, baik bahan yang berasal dari
bahan baku hewan, tumbuhan, mikroba, maupun bahan yang
dihasilkan melalui proses kimiawai, proses biologi, atau proses
rekayasa genetik. Di samping itu, ditentukan pula PPH yang
merupakan rangkaian kegiatan untuk menjamin kehalalan
Produk yang mencakup penyediaan bahan, pengolahan,
penyimpanan, pengemasan, pendistribusian, penjualan, dan
penyajian Produk.

2. Undang . . .

www.bphn.go.id
2. Undang-Undang ini mengatur hak dan kewajiban Pelaku Usaha
dengan memberikan pengecualian terhadap Pelaku Usaha yang
memproduksi Produk dari Bahan yang berasal dari Bahan yang
diharamkan dengan kewajiban mencantumkan secara tegas
keterangan tidak halal pada kemasan Produk atau pada bagian
tertentu dari Produk yang mudah dilihat, dibaca, tidak mudah
terhapus, dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
Produk.
3. Dalam rangka memberikan pelayanan publik, Pemerintah
bertanggung jawab dalam menyelenggarakan JPH yang
pelaksanaannya dilakukan oleh BPJPH. Dalam menjalankan
wewenangnya, BPJH bekerja sama dengan kementerian
dan/atau lembaga terkait, MUI, dan LPH.
4. Tata cara memperoleh Sertifikat Halal diawali dengan pengajuan
permohonan Sertifikat Halal oleh Pelaku Usaha kepada BPJPH.
Selanjutnya, BPJPH melakukan pemeriksaan kelengkapan
dokumen. Pemeriksaan dan/atau pengujian kehalalan Produk
dilakukan oleh LPH. LPH tersebut harus memperoleh akreditasi
dari BPJH yang bekerjasama dengan MUI. Penetapan kehalalan
Produk dilakukan oleh MUI melalui sidang fatwa halal MUI
dalam bentuk keputusan Penetapan Halal Produk yang
ditandatangani oleh MUI. BPJPH menerbitkan Sertifikat Halal
berdasarkan keputusan Penetapan Halal Produk dari MUI
tersebut.
5. Biaya sertifikasi halal dibebankan kepada Pelaku Usaha yang
mengajukan permohonan Sertifikat Halal. Dalam rangka
memperlancar pelaksanaan penyelenggaraan JPH, Undang-
Undang ini memberikan peran bagi pihak lain seperti Pemerintah
melalui anggaran pendapatan dan belanja negara, pemerintah
daerah melalui anggaran pendapatan dan belanja daerah,
perusahaan, lembaga sosial, lembaga keagamaan, asosiasi, dan
komunitas untuk memfasilitasi biaya sertifikasi halal bagi pelaku
usaha mikro dan kecil.

6. Dalam . . .
6. Dalam rangka menjamin pelaksanaan penyelenggaraan JPH,
BPJPH melakukan pengawasan terhadap LPH; masa berlaku
Sertifikat Halal; kehalalan Produk; pencantuman Label Halal;
pencantuman keterangan tidak halal; pemisahan lokasi, tempat
dan alat pengolahan, penyimpanan, pengemasan,
pendistribusian, penjualan, serta penyajian antara Produk Halal
dan tidak halal; keberadaan Penyelia Halal; dan/atau kegiatan
lain yang berkaitan dengan JPH.
7. Untuk menjamin penegakan hukum terhadap pelanggaran
Undang-Undang ini, ditetapkan sanksi administratif dan sanksi
pidana.

II. PASAL DEMI PASAL

Pasal 1
Cukup jelas.

Pasal 2
Huruf a
Yang dimaksud dengan asas “pelindungan” adalah bahwa
dalam menyelenggarakan JPH bertujuan melindungi
masyarakat muslim.
Huruf b
Yang dimaksud dengan asas “keadilan” adalah bahwa dalam
penyelenggaraan JPH harus mencerminkan keadilan secara
proporsional bagi setiap warga negara.
Huruf c
Yang dimaksud dengan asas “kepastian hukum” adalah
bahwa penyelenggaraan JPH bertujuan memberikan
kepastian hukum mengenai kehalalan suatu Produk yang
dibuktikan dengan Sertifikat Halal.

Huruf d . . .
Huruf d
Yang dimaksud dengan asas “akuntabilitas dan
transparansi” adalah bahwa setiap kegiatan dan hasil akhir
dari kegiatan penyelenggaraan JPH harus dapat
dipertanggungjawabkan kepada masyarakat sebagai
pemegang kedaulatan tertinggi negara sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
Huruf e
Yang dimaksud dengan asas “efektivitas dan efisiensi” adalah
bahwa penyelenggaraan JPH dilakukan dengan berorientasi
pada tujuan yang tepat guna dan berdaya guna serta
meminimalisasi penggunaan sumber daya yang dilakukan
dengan cara cepat, sederhana, dan biaya ringan atau
terjangkau.
Huruf f
Yang dimaksud dengan asas “profesionalitas” adalah bahwa
penyelenggaraan JPH dilakukan dengan mengutamakan
keahlian yang berdasarkan kompetensi dan kode etik.

Pasal 3
Cukup jelas.

Pasal 4
Cukup jelas.

Pasal 5
Cukup jelas.

Pasal 6
Cukup jelas.

Pasal 7 . . .
Pasal 7

Huruf a

Kementerian dan/atau lembaga terkait antara lain


kementerian dan/atau lembaga yang menyelenggarakan
urusan pemerintahan di bidang perindustrian, perdagangan,
kesehatan, pertanian, standardisasi dan akreditasi, koperasi
dan usaha mikro, kecil dan menengah, serta pengawasan
obat dan makanan.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.

Pasal 8
Bentuk kerja sama BPJPH dengan kementerian yang
menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang perindustrian
misalnya dalam hal pengaturan serta pembinaan dan pengawasan
industri terkait dengan bahan baku dan bahan tambahan pangan
yang digunakan untuk menghasilkan Produk Halal.
Bentuk kerja sama BPJPH dengan kementerian yang
menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang perdagangan
misalnya dalam pembinaan kepada Pelaku Usaha dan
masyarakat, pengawasan Produk Halal yang beredar di pasar,
serta perluasan akses pasar.
Bentuk kerja sama BPJPH dengan kementerian yang
menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kesehatan
misalnya dalam hal penetapan cara produksi serta cara distribusi
obat, termasuk vaksin, obat tradisional, kosmetik, alat kesehatan,
perbekalan kesehatan rumah tangga, makanan, dan minuman.

Bentuk . . .
Bentuk kerja sama BPJPH dengan kementerian yang
menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pertanian
misalnya dalam hal penetapan persyaratan rumah potong
hewan/unggas dan unit potong hewan/unggas, pedoman
pemotongan hewan/unggas dan penanganan daging hewan serta
hasil ikutannya, pedoman sertifikasi kontrol veteriner pada unit
usaha pangan asal hewan, dan sistem jaminan mutu dan
keamanan pangan hasil pertanian.
Bentuk kerja sama BPJPH dengan lembaga pemerintah yang
menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang standardisasi
dan akreditasi misalnya dalam hal persyaratan untuk
pemeriksaan, pengujian, auditor, lembaga pemeriksa, dan
lembaga sertifikasi dalam sistem JPH sesuai dengan standar yang
ditetapkan.
Bentuk kerja sama BPJPH dengan lembaga pemerintah yang
menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang koperasi,
usaha mikro, kecil, dan menengah misalnya dalam hal
menyiapkan Pelaku Usaha mikro dan kecil dalam sosialisasi dan
pendampingan sertifikasi kehalalan Produk.
Bentuk kerja sama BPJPH dengan lembaga pemerintah yang
menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pengawasan
obat dan makanan misalnya dalam hal pengawasan produk
pangan, obat, dan kosmetik dalam dan luar negeri yang
diregistrasi dan disertifikasi halal.

Pasal 9
Cukup jelas.

Pasal 10
Cukup jelas.

Pasal 11
Cukup jelas.

Pasal 12 . . .
Pasal 12
Ayat (1)
LPH yang didirikan pemerintah antara lain LPH yang
didirikan oleh kementerian dan/atau lembaga atau LPH yang
didirikan oleh perguruan tinggi negeri.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 13
Cukup jelas.

Pasal 14
Cukup jelas.

Pasal 15
Cukup jelas.

Pasal 16
Cukup jelas.

Pasal 17
Cukup jelas.

Pasal 18
Cukup jelas.

Pasal 19
Cukup jelas.

Pasal 20
Cukup jelas.

Pasal 21 . . .
Pasal 21
Cukup jelas.

Pasal 22
Cukup jelas.

Pasal 23
Cukup jelas.

Pasal 24
Cukup jelas.

Pasal 25
Cukup jelas.

Pasal 26
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan “keterangan tidak halal” adalah
pernyataan tidak halal yang merupakan bagian tidak
terpisahkan dari Produk. Keterangan dapat berupa gambar,
tanda, dan/atau tulisan.

Pasal 27
Cukup jelas.

Pasal 28
Cukup jelas.

Pasal 29 . . .
- 10 -
Pasal 29
Cukup jelas.

Pasal 30
Cukup jelas.

Pasal 31
Cukup jelas.

Pasal 32
Cukup jelas.

Pasal 33
Cukup jelas.

Pasal 34
Cukup jelas.

Pasal 35
Cukup jelas

Pasal 36
Cukup jelas.

Pasal 37
Cukup jelas.

Pasal 38
Cukup jelas.

Pasal 39 . . .

www.bphn.go.id
- 11 -
Pasal 39
Cukup jelas.

Pasal 40
Cukup jelas.

Pasal 41
Cukup jelas.

Pasal 42
Cukup jelas.

Pasal 43
Cukup jelas.

Pasal 44
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Kriteria “usaha mikro dan kecil” didasarkan pada ketentuan
peraturan perundang-undangan yang mengatur bidang usaha
mikro dan kecil.

Yang dimaksud dengan “pihak lain” antara lain Pemerintah


melalui anggaran pendapatan dan belanja negara, pemerintah
daerah melalui anggaran pendapatan dan belanja daerah,
perusahaan, lembaga sosial, lembaga keagamaan, asosiasi,
dan komunitas.
Ayat (3)
Cukup jelas.

Pasal 45 . . .

www.bphn.go.id
- 12 -
Pasal 45
Cukup jelas.

Pasal 46
Cukup jelas.

Pasal 47
Cukup jelas.

Pasal 48
Cukup jelas.

Pasal 49
Cukup jelas.

Pasal 50
Cukup jelas.

Pasal 51
Cukup jelas.

Pasal 52
Cukup jelas.

Pasal 53
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Huruf a
Cukup jelas.

Huruf b . . .

www.bphn.go.id
Huruf b
Pengawasan Produk dan Produk Halal yang beredar
antara lain pengawasan terhadap masa berlaku
Sertifikat Halal, pencantuman Label Halal atau
keterangan tidak halal, serta penyajian antara Produk
Halal dan tidak halal.
Ayat (3)
Cukup jelas.

Pasal 54
Cukup jelas.

Pasal 55
Cukup jelas.

Pasal 56
Cukup jelas.

Pasal 57
Cukup jelas.

Pasal 58
Cukup jelas.

Pasal 59
Cukup jelas.

Pasal 60
Cukup jelas.

Pasal 61 . . .
Pasal 61
Cukup jelas.

Pasal 62
Cukup jelas.

Pasal 63
Cukup jelas.

Pasal 64
Cukup jelas.

Pasal 65
Cukup jelas.

Pasal 66
Cukup jelas.

Pasal 67
Cukup jelas.

Pasal 68
Cukup jelas.

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5604

BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN


REPUBLIK INDONESIA
PERATURAN BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN
NOMOR 31 TAHUN 2018
TENTANG
LABEL PANGAN OLAHAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

ESA

KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN,

Menimbang : a. bahwa pemberian label pangan olahan bertujuan untuk


memberikan informasi yang benar dan jelas kepada
masyarakat tentang setiap produk pangan olahan yang
dikemas sebelum membeli dan/atau mengonsumsi
pangan olahan;
b. bahwa pengaturan mengenai label pangan olahan
sebagaimana telah diatur dalam Peraturan Badan
Pengawas Obat dan Makanan Nomor 27 Tahun 2017
tentang Pendaftaran Pangan Olahan perlu, disesuaikan
dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
terkini di bidang label pangan olahan;
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana
dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan
Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan tentang
Label Pangan Olahan;

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang


Perlindungan Konsumen (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1999 Nomor 42, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 3821)
-2-

2. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan


(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012
Nomor 227, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5360);
3. Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 1999 tentang
Label dan Iklan Pangan (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1999 Nomor 131, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 3867);
4. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2004 tentang
Keamanan, Mutu, dan Gizi Pangan (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 107, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4424);
5. Peraturan Presiden Nomor 80 Tahun 2017 tentang Badan
Pengawas Obat dan Makanan (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor 180);
6. Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan
Nomor HK.00.06.51.0475 Tahun 2005 tentang Pedoman
Pencantuman Informasi Nilai Gizi pada Label Pangan
sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Kepala
Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor
HK.03.1.23.11.11.09605 Tahun 2011 tentang Perubahan
atas Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan
Makanan Nomor HK.00.06.51.0475 Tahun 2005 tentang
Pedoman Pencantuman Informasi Nilai Gizi pada Label
Pangan;
7. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 30 Tahun 2013
tentang Pencantuman Informasi Kandungan Gula,
Garam, dan Lemak serta Pesan Kesehatan untuk Pangan
Olahan dan Pangan Siap Saji (Berita Negara Republik
Indonesia Tahun 2013 Nomor 617) sebagaimana diubah
dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 63 Tahun
2015 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri
Kesehatan Nomor 30 Tahun 2013 tentang Pencantuman
Informasi Kandungan Gula, Garam, dan Lemak serta
Pesan Kesehatan untuk Pangan Olahan dan Pangan Siap
Saji (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2015
Nomor 1510);
8. Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 26
Tahun 2017 tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan
Pengawas Obat dan Makanan (Berita Negara Republik
Indonesia Tahun 2017 Nomor 1745);
9. Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 12
Tahun 2018 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit
Pelaksana Teknis Badan Pengawas Obat dan Makanan
(Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor
784);

MEMUTUSKAN:
Menetapkan : PERATURAN BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN
TENTANG LABEL PANGAN OLAHAN.

BAB I
KETENTUAN UMUM

Pasal 1
Dalam Peraturan Badan ini yang dimaksud dengan:
1. Pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber
hayati produk pertanian, perkebunan, kehutanan,
perikanan, peternakan, perairan, dan air, baik yang
diolah maupun tidak diolah yang diperuntukkan sebagai
makanan atau minuman bagi konsumsi manusia,
termasuk bahan tambahan pangan, bahan baku pangan,
dan bahan lainnya yang digunakan dalam proses
penyiapan, pengolahan, dan/atau pembuatan makanan
atau minuman.
2. Pangan Olahan adalah makanan atau minuman hasil
proses dengan cara atau metode tertentu dengan atau
tanpa bahan tambahan.
3. Label Pangan Olahan yang selanjutnya disebut Label
adalah setiap keterangan mengenai Pangan Olahan yang
berbentuk gambar, tulisan, kombinasi keduanya, atau
bentuk lain yang disertakan pada Pangan Olahan,
dimasukan ke dalam, ditempelkan pada, atau merupakan
bagian Kemasan Pangan.
4. Pangan Olahan Tertentu adalah Pangan Olahan untuk
konsumsi bagi kelompok tertentu.
5. Kategori Pangan adalah pengelompokan pangan
berdasarkan jenis pangan yang bersangkutan.
6. Gizi adalah zat atau senyawa yang terdapat dalam
Pangan yang terdiri atas karbohidrat, protein, lemak,
vitamin, mineral, serat, air, dan komponen lain yang
bermanfaat bagi pertumbuhan dan kesehatan manusia.
7. Kemasan Pangan adalah bahan yang digunakan untuk
mewadahi dan/atau membungkus Pangan, baik yang
bersentuhan langsung dengan Pangan maupun tidak.
8. Bahan Baku Pangan yang selanjutnya disebut Bahan
Baku adalah bahan dasar yang dapat berupa pangan
segar dan pangan olahan yang dapat digunakan untuk
memproduksi pangan.
9. Bahan Tambahan Pangan yang selanjutnya disingkat
BTP adalah bahan yang ditambahkan ke dalam Pangan
untuk mempengaruhi sifat atau bentuk Pangan.
10. BTP Campuran adalah BTP yang mengandung dua atau
lebih jenis BTP baik dari golongan BTP yang sama atau
pun berbeda dengan atau tanpa penambahan bahan lain
yang diizinkan.
11. BTP Ikutan (Carry Over) adalah BTP yang berasal dari
semua bahan baku Pangan, Bahan Penolong dan/atau
BTP, baik yang dicampurkan maupun yang dikemas
secara terpisah, tetapi masih merupakan satu kesatuan
produk yang tidak berfungsi secara teknologi dalam
produk pangan akhir.
12. Bahan Penolong (Processing Aids) adalah bahan, tidak
termasuk peralatan, yang lazimnya tidak dikonsumsi
sebagai Pangan, sengaja digunakan dalam proses
pengolahan Pangan untuk memenuhi tujuan teknologi
tertentu dan tidak meninggalkan residu pada produk
akhir, tetapi apabila tidak mungkin dihindari, residu
dan/atau turunannya dalam produk akhir tidak
menimbulkan risiko terhadap kesehatan serta tidak
mempunyai fungsi teknologi.
13. Produksi Pangan adalah kegiatan atau proses
menghasilkan, menyiapkan, mengolah, membuat,
mengawetkan, mengemas, mengemas kembali, dan/atau
mengubah bentuk Pangan.
14. Peredaran Pangan adalah setiap kegiatan atau
serangkaian kegiatan dalam rangka penyaluran Pangan
kepada masyarakat, baik diperdagangkan maupun tidak.
15. Pangan Iradiasi adalah setiap Pangan yang dengan
sengaja dikenai radiasi ionisasi tanpa memandang
sumber atau jangka waktu iradiasi ataupun sifat energi
yang digunakan.
16. Pangan Produk Rekayasa Genetik adalah Pangan yang
diproduksi atau yang menggunakan bahan baku, Bahan
Tambahan Pangan, dan/atau bahan lain yang dihasilkan
dari proses rekayasa genetik.
17. Pangan Olahan Organik adalah makanan atau minuman
yang berasal dari pangan organik hasil proses dengan
cara atau metode tertentu, dengan atau tanpa bahan
tambahan yang diizinkan.
18. Alergen adalah bahan pangan atau senyawa yang
menyebabkan alergi dan/atau intoleransi.
19. Vegan adalah orang yang tidak mengonsumsi Pangan
dari hewan dan produk olahan dan produk turunan
daging, ikan, telur, susu, atau madu.
20. Informasi Nilai Gizi adalah daftar kandungan zat Gizi
Pangan pada Label Pangan sesuai dengan format yang
dibakukan.
21. Klaim adalah segala bentuk uraian yang menyatakan,
menyarankan atau secara tidak langsung menyatakan
perihal karakteristik tertentu suatu pangan yang
berkenaan dengan asal usul, kandungan Gizi, manfaat,
sifat, produksi, pengolahan, komposisi atau faktor mutu
lainnya.
22. Nomor Izin Edar adalah nomor yang diberikan bagi
Pangan Olahan dalam rangka peredaran Pangan yang
tercantum pada Izin Edar.
23. Setiap Orang adalah orang perseorangan atau korporasi,
baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan
hukum.
24. Pelaku Usaha Pangan yang selanjutnya disebut Pelaku
Usaha adalah Setiap Orang yang bergerak pada satu atau
lebih subsistem agribisnis Pangan, yaitu penyedia
masukan produksi, proses produksi, pengolahan,
pemasaran, perdagangan, dan penunjang.
25. Kepala Badan adalah Kepala Badan Pengawas Obat dan
Makanan.

Pasal 2
(1) Setiap Orang yang memproduksi Pangan Olahan di dalam
negeri untuk diperdagangkan dalam kemasan eceran
wajib mencantumkan Label.
(2) Setiap Orang yang mengimpor Pangan Olahan untuk
diperdagangkan dalam kemasan eceran wajib
mencantumkan Label pada saat memasuki wilayah
Negara Kesatuan Republik Indonesia.
(3) Kemasan eceran sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dan ayat (2) merupakan kemasan akhir pangan yang
tidak boleh dibuka untuk dikemas kembali menjadi
kemasan yang lebih kecil dan siap untuk
diperdagangkan.
(4) Pangan Olahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan
ayat (2) termasuk Pangan Olahan yang diedarkan untuk
tujuan donasi dan/atau program pemerintah.

Pasal 3
(1) Label yang dicantumkan di dalam dan/atau pada
Kemasan Pangan wajib sesuai dengan Label yang
disetujui pada saat izin edar.
(2) Label sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 wajib
dicantumkan pada bagian Kemasan Pangan yang mudah
dilihat dan dibaca.
(3) Label sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib tidak
mudah lepas dari Kemasan Pangan, tidak mudah luntur,
dan/atau rusak.

BAB II
KRITERIA LABEL

Bagian Kesatu
Umum

Pasal 4
(1) Setiap Label sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 yang
diperdagangkan wajib memuat keterangan mengenai
Pangan Olahan dengan benar dan tidak menyesatkan.
(2) Keterangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
meliputi keterangan yang berbentuk tulisan, gambar,
kombinasi keduanya, atau bentuk lain.

Pasal 5
(1) Label sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 harus
memuat keterangan paling sedikit mengenai:
a. nama produk;
b. daftar bahan yang digunakan;
c. berat bersih atau isi bersih;
d. nama dan alamat pihak yang memproduksi atau
mengimpor;
e. halal bagi yang dipersyaratkan;
f. tanggal dan kode produksi;
g. keterangan kedaluwarsa;
h. nomor izin edar; dan
i. asal usul bahan Pangan tertentu.
(2) Keterangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a,
huruf c, huruf d, huruf e, huruf g, dan huruf h harus
ditempatkan pada bagian Label yang paling mudah
dilihat dan dibaca.
Pasal 6
Dalam hal Pangan Olahan dijual kepada Pelaku Usaha untuk
diolah kembali menjadi Pangan Olahan lainnya, Label harus
memuat keterangan paling sedikit mengenai:
a. nama produk;
b. berat bersih atau isi bersih;
c. nama dan alamat pihak yang memproduksi atau
mengimpor;
d. tanggal dan kode produksi; dan
e. keterangan kedaluwarsa;

Pasal 7
(1) Keterangan pada Label sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 5 ayat (1) harus ditulis dan dicetak dalam bahasa
Indonesia.
(2) Keterangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat
dicantumkan dalam bahasa asing dan/atau bahasa
daerah sepanjang keterangan tersebut telah terlebih
dahulu dicantumkan dalam bahasa Indonesia.
(3) Dalam hal keterangan pada Label tidak memiliki padanan
kata atau diciptakan padanan kata dalam bahasa
Indonesia, keterangan dapat dicantumkan dalam istilah
asing.
(4) Istilah asing sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat
berupa:
a. kata, kalimat, angka, atau huruf selain bahasa
Indonesia; dan/atau
b. istilah teknis atau ilmiah untuk menyebutkan suatu
jenis bahan yang digunakan dalam daftar bahan
yang digunakan.

Pasal 8
Gambar, warna, dan/atau desain lainnya dapat digunakan
sebagai latar belakang sepanjang tidak mengaburkan tulisan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7.
Pasal 9
(1) Keterangan pada Label yang berbentuk tulisan wajib
dicantumkan secara teratur, jelas, mudah dibaca, dan
proporsional dengan luas permukaan Label.
(2) Tulisan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus
dicantumkan dengan ukuran huruf paling kecil sama
dengan atau lebih besar dari huruf kecil “o” pada jenis
huruf Arial dengan ukuran 1 mm (satu millimeter) (Arial
6 point).
(3) Keterangan mengenai nama produk dan peringatan pada
Label harus dicantumkan dengan ukuran huruf paling
kecil sama dengan atau lebih besar dari huruf kecil “o”
pada jenis huruf Arial dengan ukuran 2 mm (dua
milimeter).
(4) Keterangan berupa peringatan pada Label sebagaimana
dimaksud pada ayat (3) meliputi:
a. peringatan terkait penggunaan pemanis buatan;
b. keterangan tentang Pangan Olahan yang proses
pembuatannya bersinggungan dan/atau
menggunakan fasilitas bersama dengan bahan
bersumber babi;
c. keterangan tentang alergen;
d. peringatan pada label minuman beralkohol; dan/atau
e. peringatan pada label produk susu.
(5) Dalam hal luas permukaan Label kurang dari atau sama
dengan 10 cm2 (sepuluh sentimeter persegi), tulisan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa huruf
dan/atau angka wajib dicantumkan dengan ukuran
paling kecil 0,75 mm (nol koma tujuh puluh lima
milimeter).
Bagian Kedua
Nama Produk

Pasal 10
(1) Nama produk terdiri atas:
a. nama jenis Pangan Olahan; dan
b. nama dagang.
(2) Nama jenis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a
wajib dicantumkan pada Label Pangan Olahan.
(3) Nama dagang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf
b dapat dicantumkan pada Label Pangan Olahan.

Pasal 11
(1) Nama jenis Pangan Olahan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 10 huruf a merupakan pernyataan atau
keterangan identitas mengenai Pangan Olahan.
(2) Nama jenis Pangan Olahan harus menunjukkan
karakteristik spesifik dari Pangan Olahan sesuai dengan
Kategori Pangan.
(3) Karakteristik spesifik dari Pangan Olahan sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) meliputi pengertian dan
karakteristik dasar yang menunjukkan sifat dan/atau
keadaan yang sebenarnya.
(4) Dalam hal Pangan Olahan telah diatur dalam SNI yang
diberlakukan wajib, penggunaan nama jenis Pangan
Olahan harus sesuai dengan SNI.
(5) Dalam hal Pangan Olahan berupa minuman beralkohol
dan nama jenisnya tidak tercantum dalam Kategori
Pangan, pada label dicantumkan ”MINUMAN
BERALKOHOL GOLONGAN ”.
(6) Golongan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(7) Dalam hal nama jenis Pangan Olahan belum ditetapkan
dalam Kategori Pangan, penggunaan nama jenis Pangan
Olahan harus mendapat persetujuan terlebih dahulu dari
Kepala Badan.
Pasal 12
(1) Nama dagang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10
huruf b tidak dapat digunakan apabila nama dagang
memuat unsur sebagai berikut:
a. bertentangan dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan, moralitas agama, budaya,
kesusilaan, dan/atau ketertiban umum;
b. tidak memiliki daya pembeda;
c. telah menjadi milik umum;
d. menggunakan nama jenis atau nama umum/generik
terkait Pangan Olahan yang bersangkutan;
e. menggunakan kata sifat yang secara langsung atau
tidak langsung dapat memengaruhi penafsiran
terhadap Pangan Olahan;
f. menggunakan kata yang terkait aspek keamanan
pangan, gizi, dan/atau kesehatan; dan/atau
g. menggunakan nama dagang yang telah mempunyai
sertifikat merek untuk Pangan Olahan sejenis atas
nama orang dan/atau badan usaha lain.
(2) Nama dagang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat
berupa gambar, kata, huruf, angka, susunan warna,
dan/atau bentuk lain tersebut yang memiliki daya
pembeda.
(3) Nama dagang yang telah memiliki sertifikat merek dari
menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di
bidang hukum dapat digunakan sepanjang tidak
bertentangan dengan aspek keamanan pangan, gizi, dan
kesehatan.

Bagian Ketiga
Daftar Bahan yang Digunakan

Pasal 13
(1) Daftar bahan yang digunakan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 5 ayat (1) huruf b merupakan daftar bahan
yang digunakan dalam kegiatan atau proses Produksi
Pangan.
(2) Bahan yang digunakan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) meliputi:
a. Bahan Baku;
b. BTP; dan
c. Bahan Penolong.
(3) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak
berlaku untuk Bahan Penolong.

Paragraf 1
Bahan Baku

Pasal 14
(1) Pencantuman daftar bahan yang digunakan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 13 harus didahului dengan
tulisan:
a. “daftar bahan”;
b. “bahan yang digunakan”;
c. “bahan-bahan”; atau
d. “komposisi”.
(2) Nama bahan yang dicantumkan dalam daftar bahan yang
digunakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus
memenuhi ketentuan sebagai berikut:
a. merupakan nama lazim yang lengkap dan tidak
berupa singkatan; dan
b. disusun secara berurutan dimulai dari bahan yang
digunakan paling banyak.
(3) Dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) untuk vitamin, mineral, dan/atau BTP.

Pasal 15
(1) Pangan Olahan yang diproduksi menggunakan lebih dari
satu bahan Pangan wajib dicantumkan persentase
kandungan bahan untuk bahan baku utama pada daftar
bahan yang digunakan.
(2) Bahan baku utama sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
merupakan bahan yang digunakan untuk memproduksi
Pangan Olahan dengan jumlah terbanyak dan atau
bahan yang dapat memberikan identitas dari produk.
(3) Selain memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1), presentase kandungan bahan juga dapat
dicantumkan berdekatan dengan nama jenis.
(4) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) juga
berlaku untuk Pangan Olahan yang mencantumkan:
a. tulisan “Dari ... (nama bahan)”;
b. tulisan “Dengan ... (nama bahan)”; atau
c. gambar bahan.
(5) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (4), tidak
berlaku untuk jenis bahan yang beririsan fungsi dengan
zat Gizi.

Pasal 16
(1) Air yang ditambahkan harus dicantumkan dalam daftar
bahan yang digunakan, kecuali air tersebut merupakan
bagian dari kandungan bahan yang digunakan.
(2) Air yang ditambahkan yang seluruhnya mengalami
penguapan selama proses pengolahan dapat
dicantumkan dalam daftar bahan yang digunakan.

Pasal 17
Gambar buah, daging, ikan atau bahan Pangan lainnya hanya
boleh dicantumkan apabila Pangan Olahan mengandung
Bahan Baku tersebut, bukan sebagai BTP.

Pasal 18
(1) Pangan Olahan yang ditambahkan alkohol wajib
mencantumkan kadar alkohol.
(2) Kadar alkohol sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dicantumkan pada bagian yang mudah dilihat, dan/atau
dibaca.
(3) Dalam hal Pangan Olahan mengandung alkohol ikutan
(carry over), pencantuman kadar alkohol ditulis pada
daftar bahan yang digunakan, setelah pencantuman
bahan yang mengandung alkohol tersebut.
(4) Kadar alkohol sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan
ayat (3) dicantumkan dalam bentuk persentase
“mengandung alkohol ±...% (v/v)”.
(5) Dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) untuk Pangan Olahan yang ditambahkan
alkohol atau mengandung alkohol ikutan (Carry Over)
namun tidak terdeteksi pada produk akhir atau telah
memiliki sertifikat halal.

Paragraf 2
BTP

Pasal 19
(1) BTP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (2)
huruf b meliputi:
a. BTP melalui penambahan langsung; dan/atau
b. BTP Ikutan (Carry Over).
(2) Keterangan mengenai BTP sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) harus dicantumkan dalam daftar bahan yang
digunakan.
(3) Keterangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) meliputi:
a. nama golongan BTP;
b. nama jenis untuk BTP antioksidan, pemanis
(pemanis alami atau pemanis buatan), pengawet,
pewarna (pewarna alami atau pewarna sintetik),
dan/atau penguat rasa;
c. nomor indeks pewarna untuk BTP pewarna; dan
d. nama kelompok perisa untuk BTP perisa meliputi
perisa alami dan/atau perisa sintetik.
(4) BTP Ikutan (Carry Over) sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) huruf b harus dicantumkan setelah bahan yang
mengandung BTP.
(5) BTP Ikutan (Carry Over) sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) huruf b hanya berupa BTP golongan antioksidan,
pemanis (pemanis alami atau pemanis buatan),
pengawet, pewarna (pewarna alami atau pewarna
sintetik), dan penguat rasa.
Pasal 20
(1) Keterangan pada Pangan Olahan yang mengandung
pemanis buatan, wajib dicantumkan tulisan
”Mengandung pemanis buatan, disarankan tidak
dikonsumsi oleh anak di bawah 5 (lima) tahun, ibu hamil,
dan ibu menyusui”.
(2) Keterangan pada Pangan Olahan untuk penderita
diabetes dan/atau makanan berkalori rendah yang
menggunakan pemanis buatan wajib dicantumkan
tulisan "Untuk penderita diabetes dan/atau orang yang
membutuhkan makanan berkalori rendah”.
(3) Keterangan pada Pangan Olahan yang menggunakan
pemanis buatan aspartam, wajib dicantumkan
peringatan “Mengandung fenilalanin, tidak cocok untuk
penderita fenilketonurik”.
(4) Keterangan pada Pangan Olahan yang mengandung
poliol, wajib dicantumkan peringatan “Konsumsi
berlebihan mempunyai efek laksatif”.

Pasal 21
(1) BTP yang diperdagangkan secara eceran wajib
dicantumkan keterangan:
a. Tulisan “Bahan Tambahan Pangan”;
b. Nama golongan BTP; dan
c. Nama jenis BTP.
(2) Keterangan tentang BTP pemanis alami atau pemanis
buatan selain dicantumkan keterangan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), juga wajib dicantumkan:
a. Kesetaraan kemanisan dibandingkan dengan gula
sukrosa;
b. Tulisan "Untuk penderita diabetes dan/atau orang
yang membutuhkan makanan berkalori rendah”,
untuk BTP pemanis buatan dalam bentuk table top;
dan
c. Tulisan ”Mengandung pemanis buatan, disarankan
tidak dikonsumsi oleh anak di bawah 5 (lima) tahun,
ibu hamil, dan ibu menyusui”.
(3) Keterangan tentang BTP yang mengandung poliol, wajib
dicantumkan peringatan “Konsumsi berlebihan
mempunyai efek laksatif”.
(4) Keterangan tentang BTP pemanis buatan aspartam, wajib
dicantumkan :
a. Peringatan ”Mengandung fenilalanin, tidak cocok untuk
penderita fenilketonurik”; dan
b. Tulisan “Tidak cocok digunakan untuk bahan yang
akan dipanaskan”.
(5) Keterangan tentang BTP pewarna, wajib mencantumkan:
a. Nomor indeks (Colour Index, CI), jika jenis BTP tersebut
memiliki nomor indeks;
b. Tulisan “Pewarna Pangan” dengan huruf kapital
berwarna hijau di dalam kotak persegi panjang
berwarna hijau; dan

PEWARNA PANGAN
c. Logo huruf M di dalam suatu lingkaran berwarna hitam.

(6) Pencantuman gambar bahan Pangan pada label BTP


hanya boleh dicantumkan jika BTP mengandung bahan
Pangan tersebut.

Pasal 22
Dikecualikan untuk table-top sweetener yang kemasannya
terlalu kecil sehingga seluruh keterangan tidak mungkin
dicantumkan, tetap wajib mencantumkan nama jenis BTP,
nama dan alamat pihak yang memproduksi, dan kesetaraan
kemanisan terhadap gula sukrosa.
Pasal 23
Pada Label BTP Campuran wajib dicantumkan:
a. tulisan “Bahan Tambahan Pangan Campuran”;
b. nama golongan BTP yang mempunyai fungsi utama;
c. jenis Pangan Olahan yang diizinkan menggunakan BTP
Campuran; dan
d. takaran penggunaan dalam jenis Pangan Olahan.

Pasal 24
(1) Pada Label dapat dicantumkan keterangan tanpa BTP.
(2) Keterangan tanpa BTP sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) hanya diizinkan untuk jenis BTP:
a. pemanis buatan;
b. pengawet;
c. pewarna sintetik;
d. antioksidan; dan/atau
e. penguat rasa.
(3) Keterangan tanpa BTP sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dicantumkan jika pada produk akhir Pangan Olahan
tidak mengandung jenis BTP sebagaimana dimaksud
pada ayat (2).
(4) Keterangan tanpa BTP sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) meliputi:
a. tanpa pemanis buatan;
b. tanpa pengawet;
c. tanpa pewarna sintetik;
d. tanpa antioksidan; dan/atau
e. tanpa penguat rasa.
(5) Keterangan tanpa BTP sebagaimana dimaksud pada ayat
(4) tidak dapat dicantumkan untuk jenis BTP yang
beririsan fungsi dengan zat gizi.
(6) Keterangan tanpa BTP sebagaimana dimaksud pada ayat
(4) pada Label dicantumkan setelah daftar bahan yang
digunakan.
Paragraf 3
Bahan Penolong

Pasal 25
(1) Pada Label untuk Bahan Penolong yang diperdagangkan
wajib dicantumkan:
a. tulisan “Bahan Penolong”;
b. golongan Bahan Penolong;
c. jenis Bahan Penolong; dan
d. tulisan “TARA PANGAN”.
(2) Dalam hal Bahan Penolong merupakan golongan enzim,
selain mencantumkan persyaratan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), wajib mencantumkan nomor
enzyme commission (EC) dan sumber jenis Bahan
Penolong.
(3) Dalam hal Bahan Penolong Golongan Enzim yang
menggunakan penjerap enzim, selain dicantumkan
persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan
ayat (2), wajib dicantumkan nama jenis penjerap enzim.

Bagian Keempat
Berat Bersih atau Isi Bersih

Pasal 26
(1) Berat bersih atau isi bersih merupakan informasi
mengenai jumlah Pangan Olahan yang terdapat di dalam
kemasan atau wadah dicantumkan dalam satuan metrik.
(2) Pencantuman satuan metrik sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) meliputi:
a. ukuran berat untuk Pangan Olahan padat yang
dinyatakan dengan berat bersih;
b. ukuran volume untuk Pangan Olahan cair yang
dinyatakan dengan isi bersih; atau
c. ukuran berat atau volume untuk Pangan Olahan semi
padat atau kental yang dinyatakan dengan berat bersih
atau isi bersih.
(3) Penulisan satuan berat bersih atau isi bersih
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) meliputi:
a. padat ditulis menggunakan satuan miligram (mg),
gram (g), kilogram (kg);
b. cair ditulis menggunakan satuan mililiter (ml atau mL),
liter (l atau L); atau
c. semi padat ditulis menggunakan satuan miligram (mg),
gram (g), kilogram (kg), mililiter (ml atau mL), liter (l
atau L).
(5) Dalam hal produk berupa butiran atau bijian, selain
berat bersih dapat dicantumkan jumlah butir atau biji
dan berat per butir atau per biji.
(6) Keterangan tentang berat bersih atau isi bersih dan bobot
tuntas harus ditempatkan pada bagian yang paling
mudah dilihat dan/atau dibaca oleh konsumen.

Pasal 27
(1) Pada Label untuk Pangan Olahan yang menggunakan
medium cair, selain keterangan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 26, harus dicantumkan bobot tuntas atau
berat tuntas.
(2) Bobot tuntas atau berat tuntas sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) merupakan ukuran berat untuk Pangan
Olahan padat yang menggunakan medium cair dihitung
dengan cara pengurangan berat bersih dengan berat
medium cair.
(3) Bobot tuntas atau berat tuntas sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) dapat dicantumkan untuk Pangan Olahan
yang disalut atau dilapis dengan medium padat.

Bagian Kelima
Nama dan Alamat Pihak yang Memproduksi atau Mengimpor

Pasal 28
Pihak yang memproduksi, pihak yang mengimpor, pihak
pemberi kontrak, pihak penerima kontrak dan/atau pihak
pemberi lisensi Pangan Olahan wajib mencantumkan nama dan
alamat.

Pasal 29
(1) Pencantuman alamat sebagaimana dimaksud dalam Pasal
28 untuk Pangan Olahan produk dalam negeri paling
sedikit meliputi nama kota, kode pos, dan Indonesia.
(2) Dalam hal alamat sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
tidak terdaftar pada direktori kota atau buku telepon,
pihak yang memproduksi harus mencantumkan alamat
secara jelas dan lengkap.

Pasal 30
(1) Pencantuman alamat sebagaimana dimaksud dalam Pasal
28 untuk produksi Pangan Olahan Impor paling sedikit
meliputi nama kota dan negara.
(2) Dalam hal Pangan Olahan impor selain mencantumkan
nama dan alamat pihak yang memproduksi sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 28, pihak yang mengimpor
dan/atau distributor yang mendapatkan penunjukan dari
negara asal wajib juga mencantumkan nama dan alamat
pihak yang mengimpor.
(3) Pencantuman nama dan alamat pihak yang mengimpor
dan/atau distributor sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) didahului dengan keterangan berupa “Diimpor/
didistribusikan oleh ... “.
(4) Alamat pihak yang mengimpor dan/atau distributor
sebagaimana dimaksud pada ayat (3) paling sedikit
mencantumkan nama kota, kode pos, dan Indonesia.
(5) Dalam hal alamat sebagaimana dimaksud pada ayat (4)
tidak terdaftar pada direktori kota atau buku telepon,
pihak yang mengimpor dan/atau distributor harus
mencantumkan alamat secara jelas dan lengkap.
Pasal 31
(1) Dalam hal Pangan Olahan diproduksi secara kontrak,
pihak pemberi kontrak dan pihak penerima kontrak
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 wajib
mencantumkan nama dan alamat yang dilengkapi
dengan tulisan “Diproduksi oleh ... untuk ...”, ”Dikemas
oleh ... untuk ... ”.
(2) Dalam hal Pangan Olahan diproduksi berdasarkan
lisensi, pihak pemberi lisensi sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 28, wajib mencantumkan nama dan alamat
yang dilengkapi dengan tulisan “Diproduksi oleh ...
dibawah lisensi: ...“

Bagian Keenam
Keterangan Halal bagi yang Dipersyaratkan

Pasal 32
(1) Pelaku Usaha yang memproduksi atau mengimpor
Pangan Olahan yang dikemas eceran untuk
diperdagangkan di wilayah Indonesia wajib
mencantumkan keterangan halal setelah mendapatkan
sertifikat halal.
(2) Sertifikat halal sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
diterbitkan oleh lembaga yang ditunjuk sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
(3) Dalam hal sudah terdapat kesepakatan saling pengakuan
antara Indonesia dengan negara asal, keterangan halal
negara asal dapat dicantumkan sepanjang telah
mendapatkan sertifikat halal dari negara asal.
(4) Ketentuan lebih lanjut tentang pencantuman keterangan
halal dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Bagian Ketujuh
Tanggal dan Kode Produksi

Pasal 33
(1) Tanggal dan kode produksi wajib dicantumkan pada
Label dan diletakkan pada bagian yang mudah dilihat
dan dibaca.
(2) Tanggal dan kode produksi sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) paling sedikit memuat informasi mengenai
riwayat produksi Pangan pada kondisi dan waktu
tertentu.
(3) Tanggal dan kode produksi sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) berupa nomor bets (batch) dan/atau waktu
produksi.
(4) Tanggal dan kode produksi dapat dicantumkan terpisah
dari keterangan pada Label dan harus disertai dengan
petunjuk tempat pencantuman kode produksi.
(5) Keterangan tempat pencantuman kode produksi
sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dapat berupa:
a. “Kode Produksi, lihat bagian bawah kaleng”; atau
b. “Kode produksi, lihat pada tutup botol”.

Bagian Kedelapan
Keterangan Kedaluwarsa

Pasal 34
(1) Keterangan kedaluwarsa merupakan batas akhir suatu
Pangan dijamin mutunya, sepanjang penyimpanannya
mengikuti petunjuk yang diberikan produsen.
(2) Keterangan kedaluwarsa sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dinyatakan dalam tanggal, bulan, dan tahun.
(3) Dalam hal Pangan Olahan memiliki masa simpan kurang
dari atau sama dengan 3 (tiga) bulan, keterangan
kedaluwarsa yang dicantumkan meliputi tanggal, bulan
dan tahun.
(4) Dalam hal Pangan Olahan memiliki masa simpan lebih
dari 3 (tiga) bulan, keterangan kedaluwarsa yang
dicantumkan meliputi:
a. tanggal, bulan dan tahun; atau
b. bulan dan tahun.
(5) Keterangan kedaluwarsa sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) didahului tulisan “Baik digunakan sebelum”.
(6) Keterangan kedaluwarsa sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dapat dicantumkan terpisah dari tulisan “Baik
digunakan sebelum”, dan disertai dengan petunjuk
tempat pencantuman tanggal kedaluwarsa dapat berupa:
a. ”Baik digunakan sebelum, lihat bagian bawah kaleng”
atau
b. ”Baik digunakan sebelum, lihat pada tutup botol”.

Pasal 35
(1) Dikecualikan dari ketentuan pencantuman keterangan
kedaluwarsa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34
untuk:
a. minuman yang mengandung alkohol paling sedikit 7%
(tujuh persen);
b. roti dan kue yang mempunyai masa simpan kurang
dari atau sama dengan 24 (dua puluh empat) jam; dan
c. cuka.
(2) Pangan Olahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
harus mencantumkan tanggal produksi dan/atau tanggal
pengemasan.

Bagian Kesembilan
Nomor Izin Edar

Pasal 36
(1) Pencantuman Nomor Izin Edar Pangan Olahan produk
dalam negeri harus diawali dengan tulisan “BPOM RI
MD” yang diikuti dengan digit angka.
(2) Pencantuman Nomor Izin Edar Pangan Olahan produk
impor harus diawali dengan tulisan “BPOM RI ML” yang
diikuti dengan digit angka.
(3) Nomor Izin Edar yang dicantumkan pada Label harus
sesuai dengan nomor pendaftaran pangan yang
tercantum pada Izin Edar.
(4) Dalam hal Pangan Olahan merupakan Pangan Olahan
industri rumah tangga, pada Label harus dicantumkan
tulisan “P-IRT”.

Bagian Kesepuluh
Asal Usul Bahan Pangan Tertentu

Pasal 37
(1) Keterangan tentang asal usul bahan Pangan tertentu
meliputi:
a. asal bahan Pangan tertentu yang bersumber dari
hewan atau tanaman; dan
b. Pangan yang diproduksi melalui proses khusus.
(2) Keterangan tentang asal usul bahan Pangan tertentu
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a harus
dicantumkan pada daftar bahan berupa nama bahan
diikuti dengan asal bahan.
(3) Dalam hal asal usul bahan Pangan tertentu sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) huruf a berasal dari hewan harus
disertai dengan pencantuman jenis hewan diikuti dengan
asal bahan.
(4) Dalam hal asal usul bahan Pangan tertentu sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) huruf a berasal dari tanaman
disertai dengan pencantuman jenis tanaman diikuti
dengan asal bahan.
(5) Asal usul bahan Pangan tertentu sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) huruf a merupakan bahan yang bersumber
atau mengandung atau berasal dari hewan atau
tanaman, baik dalam bentuk tunggal atau campuran
atau produk olahan atau produk turunannya yang terkait
dengan status kehalalan produk.
(6) Pangan yang diproduksi melalui proses khusus
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi
Pangan Produk Rekayasa Genetik atau Pangan Iradiasi.

Pasal 38
(1) Setiap Orang yang memproduksi dan menggunakan
bahan baku, BTP dan/atau bahan lain yang berasal dari
produk rekayasa genetik untuk diedarkan wajib
mencantumkan keterangan berupa tulisan “PRODUK
REKAYASA GENETIK” pada Label.
(2) Persyaratan dan tata cara pencantuman keterangan
produk rekayasa genetik sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.

Pasal 39
(1) Setiap Orang yang memproduksi Pangan iradiasi wajib
mencantumkan keterangan berupa tulisan “IRADIASI”
pada Label.
(2) Persyaratan dan tata cara pencantuman keterangan
iradiasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.

Pasal 40
(1) Dalam hal Pangan Olahan mengandung bahan berasal
dari babi wajib mencantumkan tanda khusus berupa
tulisan ”MENGANDUNG BABI” dan gambar babi.
(2) Tanda khusus berupa tulisan dan gambar babi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dicantumkan
dengan tulisan berwarna merah di dalam kotak persegi
panjang berwarna merah di atas dasar putih
sebagaimana tanda berikut:
(3) Tulisan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus jelas
terbaca dan proporsional terhadap luas permukaan Label
serta dicantumkan pada bagian yang paling mudah
dilihat dan/atau dibaca.
(4) Bahan Pangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dapat berupa gelatin, gliserin, enzyme, lemak, collagen,
colostrum, embryo extract, blood extract, hydrolyzed
haemoglobin, keratin, hair extract, placenta, protein,
thymus extract, thymus hydrolisate, stomach extract,
minyak, lemak reroti (shortening), pengental, pengemulsi,
pemantap, l-sistein, monogliserida, digliserida, atau
trigliserida.

Pasal 41
(1) Dalam hal Pangan Olahan melalui proses pembuatan
yang bersinggungan dan/atau mengunakan fasilitas
bersama dengan bahan bersumber babi, pada Label
harus dicantumkan keterangan berupa tulisan “Pada
proses pembuatannya bersinggungan dan/atau
menggunakan fasilitas bersama dengan bahan
bersumber babi” dan gambar babi.
(2) Tulisan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa
tulisan berwarna merah dalam kotak dengan warna
merah di atas dasar putih, dan gambar babi sebagaimana
tanda berikut:

Pada proses pembuatannya bersinggungan dan/atau menggunakan fasilitas bersama dengan bahan bersu

Pasal 42
Tanda khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 ayat (2)
dan Pasal 41 ayat (2) harus dicantumkan dengan ukuran
huruf minimal 2 mm (dua milimeter) pada bagian yang paling
mudah dilihat dan/atau dibaca.
BAB III
KETERANGAN
LAIN

Bagian Kesatu
Keterangan tentang Kandungan Gizi dan/atau Non Gizi

Pasal 43
(1) Keterangan tentang kandungan Gizi dan/atau non Gizi
wajib dicantumkan pada Label.
(2) Keterangan tentang kandungan Gizi dan/atau non Gizi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dicantumkan
berupa Informasi Nilai Gizi.
(3) Persyaratan dan tata cara pencantuman Informasi Nilai
Gizi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.

Pasal 44
(1) Setiap Orang yang mencantumkan Informasi Nilai Gizi
dapat mencantumkan kandungan Gizi pada bagian
utama Label (Front of Pack - FOP).
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai pencantuman
kandungan Gizi pada bagian utama Label sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.

Bagian Kedua
Keterangan Informasi Pesan Kesehatan

Pasal 45
(1) Label yang mengandung gula, garam, dan/atau lemak
dan dikonsumsi dalam jumlah yang dapat menimbulkan
risiko penyakit tidak menular wajib dicantumkan
informasi pesan kesehatan.
(2) Informasi pesan kesehatan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dilaksanakan secara bertahap sesuai dengan
jenis
Pangan Olahan dengan mempertimbangkan risiko
kejadian penyakit tidak menular.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai informasi pesan
kesehatan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.

Bagian Ketiga
Keterangan tentang Peruntukan

Pasal 46
(1) Label Pangan Olahan Tertentu wajib dicantumkan
keterangan tentang peruntukan yang memuat informasi
tentang target konsumen dari suatu produk, meliputi
bayi, ibu hamil, ibu menyusui, dan orang dengan
penyakit tertentu.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai pencantuman
keterangan tentang peruntukan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.

Bagian Keempat
Keterangan tentang Cara Penggunaan

Pasal 47
(1) Keterangan tentang cara penggunaan mencakup
informasi tentang cara penyiapan dan saran penyajian.
(2) Pangan Olahan yang memerlukan penyiapan sebelum
disajikan atau digunakan harus mencantumkan cara
penyiapan seperti dilarutkan dengan air, direbus atau
digoreng.
(3) Dalam hal Pangan Olahan mencantumkan saran
penyajian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib
mencantumkan tulisan “saran penyajian” yang
berdekatan dengan gambar tersebut, dan dapat
disertakan gambar bahan Pangan lainnya.
Bagian Kelima
Keterangan tentang Cara Penyimpanan

Pasal 48
(1) Keterangan tentang cara penyimpanan wajib
dicantumkan pada Label Pangan Olahan dengan masa
simpan yang dipengaruhi oleh kondisi penyimpanan, dan
harus disimpan pada kondisi penyimpanan khusus.
(2) Pangan Olahan yang tidak lazim dikonsumsi untuk satu
kali makan atau dimaksudkan untuk lebih dari 1 (satu)
saji, wajib mencantumkan keterangan tentang cara
penyimpanan setelah kemasan dibuka.
(3) Cara penyimpanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
harus dicantumkan, berdekatan dengan keterangan
kedaluwarsa.

Bagian Keenam
Keterangan tentang Alergen

Pasal 49
(1) Keterangan tentang Alergen wajib dicantumkan pada
Label yang mengandung Alergen.
(2) Pangan Olahan yang diproduksi menggunakan sarana
produksi yang sama dengan Pangan Olahan yang
mengandung Alergen wajib mencantumkan informasi
tentang kandungan Alergen.
(3) Alergen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat
berupa:
a. serealia mengandung gluten, yaitu gandum, rye,
barley, oats, spelt atau strain hibrida;
b. telur;
c. ikan, krustase (udang, lobster, kepiting, tiram),
moluska (kerang, bekicot, atau siput laut);
d. kacang tanah (peanut), kedelai;
e. susu (termasuk laktosa);
f. kacang pohon (tree nuts) termasuk kacang kenari,
almond, hazelnut, walnut, kacang pecan, kacang Brazil,
kacang pistachio, kacang Macadamia atau kacang
Queensland; kacang mede; dan
g. sulfit dengan kandungan paling sedikit 10 mg/kg
(sepuluh miligram per kilogram) dihitung sebagai SO 2
(dapat berupa belerang dioksida, natrium bisulfit,
natrium metabisulfit, kalium sulfit, kalsium bisulfit,
dan kalium bisulfit) untuk produk siap konsumsi.

Pasal 50
(1) Dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 49 untuk Pangan Olahan yang mengandung
Alergen yang telah mengalami proses pemurnian lebih
lanjut (highly refined food).
(2) Pangan Olahan yang telah mengalami proses pemurnian
lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
meliputi:
a. produk serealia antara lain sirup glukosa (termasuk
dekstrosa), maltodekstrin, fruktosa, dan gula alkohol;
b. produk perikanan dapat berupa gelatin, minyak ikan;
c. produk kedelai dapat berupa minyak; lemak kedelai
dan lesitin; RRR alpha tocopherol; alpha tocopherol;
gama tocopherol; alpha tocotrienol;
5,7,8-trimethyltocol; dan campuran tocopherol;
d. produk susu dapat berupa laktitol, protein
terhidrolisa sempurna.

Pasal 51
(1) Keterangan tentang Pangan Olahan yang mengandung
Alergen wajib dicantumkan bahan alergen dalam daftar
bahan dengan tulisan yang dicetak tebal dan
mencantumkan tulisan informasi Alergen berupa
“Mengandung alergen, lihat daftar bahan yang dicetak
tebal”;
(2) Pangan Olahan yang diproduksi menggunakan sarana
produksi yang sama dengan Pangan Olahan yang
mengandung alergen wajib mencantumkan tulisan:
a. “Diproduksi menggunakan peralatan yang juga
memproses ...” diikuti dengan nama alergen;
b. “Mungkin mengandung ...” diikuti dengan nama
alergen; atau
c. “Dapat mengandung …” diikuti dengan nama
Alergen.
(3) Pencantuman keterangan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dan ayat (2) harus berdekatan dengan daftar
bahan.
(4) Dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud
pada ketentuan ayat (2), dalam hal Pelaku Usaha dapat
menjamin tidak ada trace Alergen pada sarana produksi
dengan dibuktikan dokumen validasi.

Bagian Ketujuh
Keterangan tentang Peringatan

Pasal 52
Pada Label minuman beralkohol wajib dicantumkan tulisan
peringatan:
a. “MINUMAN BERALKOHOL”
b. “Mengandung Alkohol ± … % v/v”
c. “DI BAWAH UMUR 21 TAHUN ATAU WANITA HAMIL
DILARANG MINUM”.

Pasal 53
(1) Pada Label produk susu harus dicantumkan peringatan
berupa tulisan “Perhatikan!, tulisan “Tidak untuk
menggantikan Air Susu Ibu" dan tulisan “Tidak Cocok
untuk Bayi sampai usia 12 bulan”.
(2) Produk susu sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
mencakup susu bubuk, susu Ultra High Temperature
(UHT), susu pasteurisasi, dan susu steril.
(3) Tulisan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dicantumkan dengan tulisan berwarna merah di dalam
kotak persegi panjang berwarna merah di atas dasar
putih sebagai berikut:

Perhatikan!
Tidak untuk menggantikan Air Susu Ibu Tidak Cocok
untuk Bayi sampai usia 12 bulan

Pasal 54
(1) Pada Label produk susu kental dan analognya wajib
dicantumkan peringatan berupa tulisan “Perhatikan!,
tulisan "Tidak untuk menggantikan Air Susu Ibu", tulisan
“Tidak Cocok untuk Bayi sampai usia 12 bulan”, dan
tulisan “Tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya
sumber gizi”.
(2) Tulisan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dicantumkan dengan tulisan berwarna merah di dalam
kotak persegi panjang berwarna merah di atas dasar
putih sebagai berikut:

Perhatikan!
Tidak untuk menggantikan Air Susu Ibu Tidak Cocok
untuk Bayi sampai usia 12 bulan
Tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya sumber gizi

Bagian Kedelapan
Keterangan tentang Klaim

Pasal 55
(1) Pangan Olahan dapat mencantumkan Klaim Gizi, Klaim
kesehatan dan Klaim lainnya.
(2) Klaim Gizi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi
Klaim kandungan zat Gizi dan Klaim perbandingan.
(3) Klaim kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
meliputi Klaim fungsi zat Gizi, Klaim fungsi lain, dan
Klaim penurunan risiko penyakit.
(4) Klaim lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
meliputi Klaim isotonik, Klaim tanpa penambahan gula,
Klaim laktosa dan Klaim gluten.
(5) Pencantuman Klaim sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.

Bagian Kesembilan
Keterangan tentang Pangan Olahan Organik

Pasal 56
(1) Setiap Orang yang memproduksi Pangan Olahan Organik
wajib mencantumkan keterangan tentang organik.
(2) Pencantuman keterangan tentang organik sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.

Bagian Kesepuluh
Keterangan
Sponsor

Pasal 57
(1) Keterangan terkait sponsor suatu kegiatan dapat
dicantumkan pada Label.
(2) Pencantuman keterangan terkait sponsor sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dilakukan setelah mendapat
persetujuan dari Kepala Badan dengan rekomendasi dari
penanggung jawab kegiatan.
(3) Pencantuman tulisan dan gambar terkait sponsor
berlaku sesuai batas waktu yang telah ditetapkan dalam
persetujuan pendaftaran atau persetujuan perubahan
data.
Bagian Kesebelas
Keterangan Layanan Pengaduan Konsumen

Pasal 58
(1) Pada Label dapat dicantumkan keterangan tentang
layanan pengaduan konsumen.
(2) Layanan pengaduan konsumen sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dapat berupa nomor telepon, alamat surat
elektronik/pos elektronik, nama unit, atau bagian yang
dapat dihubungi oleh konsumen.

Bagian Kedua belas


Keterangan 2 (dua) Dimensi (2D Barcode)

Pasal 59
(1) Pada Label wajib dicantumkan 2 (dua) dimensi (2D
Barcode)
(2) Pencantuman 2 (dua) dimensi (2D Barcode) sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.

Bagian Ketiga belas


Keterangan Sertifikasi Keamanan dan Mutu oleh Lembaga
Sertifikasi

Pasal 60
(1) Keterangan mengenai sertifikasi keamanan dan mutu
Pangan Olahan dapat dicantumkan pada Label.
(2) Keterangan mengenai sertifikasi keamanan dan mutu
Pangan Olahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dapat berupa tanda SNI, logo Sertifikat Kelayakan
Pengolahan (SKP), logo sertifikat prima, logo piagam
bintang keamanan Pangan, Program Manajemen Risiko,
Sistem Manajemen Keamanan Pangan yang setara
dengan ISO 22000, dan pengendalian bahaya pada titik
kendali kritis (Hazard Analysis and Critical Control Point).
(3) Keterangan mengenai sertifikasi keamanan dan mutu
Pangan Olahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dibuktikan dengan sertifikat yang masih berlaku dan
diterbitkan oleh lembaga sertifikasi yang terakreditasi
dan/atau lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah.

Bagian Keempat belas


Tulisan, Logo dan/atau Gambar yang Terkait dengan
Kelestarian Lingkungan

Pasal 61
(1) Tulisan, logo dan/atau gambar yang terkait dengan
kelestarian lingkungan dapat dicantumkan pada Label.
(2) Tulisan, logo dan/atau gambar yang terkait dengan
kelestarian lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dapat berupa ekolabel, bahan kemasan yang terbarukan
termasuk logo tara pangan dan kode daur ulang, atau
istilah lain yang semakna.
(3) Pencantuman tulisan, logo dan/atau gambar yang terkait
dengan kelestarian lingkungan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) harus disertai dengan data dukung yang
dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.

Bagian Kelima belas


Keterangan untuk Membedakan Mutu Suatu Pangan Olahan

Pasal 62
(1) Keterangan untuk membedakan mutu suatu Pangan
Olahan dapat digunakan dalam hal Pangan Olahan
tersebut memiliki perbedaan terkait karakteristik mutu
dan/atau kandungan zat Gizi dengan Pangan Olahan
sejenis.
(2) Keterangan mengenai mutu suatu Pangan Olahan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa
tulisan dan/atau gambar.
(3) Perbedaan kandungan Gizi sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
(4) Pangan Olahan sejenis sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) merupakan Pangan Olahan yang diproduksi oleh
perusahaan yang sama dan telah beredar.
(5) Keterangan yang digunakan untuk menunjukkan
perbedaan mutu dan/atau kandungan Gizi suatu Pangan
Olahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat
berupa “spesial”, “premium”, “gold”, “platinum”, “ekstra”,
“plus (+)”, “advanced”, atau kata lain yang semakna.

Pasal 63
(1) Keterangan berupa alami, murni, 100%, dengan ...
(diikuti nama bahan), dari (diikuti nama bahan), segar,
dan asli dapat dicantumkan pada Label.
(2) Pernyataan “alami” sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
hanya dapat digunakan untuk:
a. Pangan Olahan yang tidak dicampur dan tidak
diproses; atau
b. Pangan Olahan yang diproses secara fisika tetapi
tidak merubah sifat dan kandungannya.
(3) Pernyataan “murni” atau “100%” sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) hanya dapat digunakan untuk Pangan
Olahan yang tidak ditambahkan/dicampur dengan bahan
lain.
(4) Pernyataan “Dengan (diikuti nama bahan)” sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dapat digunakan jika bahan
tersebut merupakan salah satu bahan baku yang
digunakan dalam Pangan Olahan yang bersangkutan.
(5) Pernyataan “Dari (diikuti nama bahan)” sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dapat digunakan jika bahan
tersebut merupakan salah satu bahan baku utama yang
digunakan dalam Pangan Olahan yang bersangkutan
(kandungan bahan tersebut minimal 50%).
(6) Pernyataan “segar” sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
tidak boleh digunakan pada Label Pangan yang terbuat
dari Pangan Olahan antara atau Pangan Olahan lainnya.
(7) Pernyataan “asli” sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
tidak dapat digunakan untuk Pangan Olahan yang
dicampur dengan bahan yang dapat mengaburkan
keasliannya, seperti penggunaan perisa.

Pasal 64
(1) Pencantuman logo Vegan dan/atau tulisan Vegan dapat
dilakukan sepanjang Pangan Olahan tidak mengandung
bahan Pangan berbasis hewan dan produk olahannya
termasuk madu.
(2) Pencantuman logo Vegan dan/atau tulisan Vegan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dibuktikan
dengan analisis asam deoksiribonukleat (DNA).
(3) Analisis DNA sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
dilakukan oleh laboratorium terakreditasi atau
laboratorium yang ditunjuk oleh pemerintah.

BAB IV
KETENTUAN LAIN-LAIN

Pasal 65
(1) Dalam hal luas permukaan Label kurang dari atau sama
dengan 10 cm2 (sepuluh sentimeter persegi), keterangan
yang wajib dicantumkan paling sedikit yaitu nama produk,
tanggal kedaluwarsa, dan Nomor Izin Edar.
(2) Dikecualikan dari ketentuan ayat (1) untuk produk dengan
luas permukaan label kurang dari atau sama dengan 10
cm2 (sepuluh sentimeter persegi) dan tidak dijual eceran,
keterangan tanggal kedaluwarsa dapat dicantumkan pada
kemasan sekunder.

Pasal 66
(1) Dalam hal Pangan Olahan yang dijual dan dikemas
secara langsung dihadapan konsumen,
keterangan tentang
Pangan Olahan tersebut dicantumkan pada media
informasi lain yang diletakkan di tempat penjualan atau
berdekatan dengan tempat penjualan sedemikian rupa
sehingga dapat dilihat dan dibaca.
(2) Keterangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), paling
sedikit memuat informasi mengenai:
a. nama produk;
b. daftar bahan yang digunakan;
c. halal bagi yang dipersyaratkan; dan
d. keterangan kedaluwarsa.
(3) Media informasi lain sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) antara lain brosur, leaflet, atau banner.

BAB V
LARANGAN

Pasal 67
Pelaku Usaha dilarang mencantumkan pernyataan,
keterangan, tulisan, gambar, logo, klaim, dan/atau visualisasi
sebagai berikut:
a. pernyataan bahwa Pangan Olahan mengandung suatu zat
Gizi lebih unggul daripada Pangan Olahan lain yang tidak
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
b. pernyataan bahwa Pangan Olahan dapat menyehatkan;
c. pernyataan atau keterangan dalam bentuk apapun bahwa
Pangan yang bersangkutan dapat berfungsi sebagai obat;
d. pernyataan bahwa Pangan Olahan dapat meningkatkan
kecerdasan;
e. pernyataan keunggulan pada Pangan Olahan jika
keunggulan tersebut tidak seluruhnya berasal dari Pangan
Olahan tersebut tetapi sebagian diberikan dari Pangan
Olahan lain yang dapat dikonsumsi bersama-sama;
f. pernyataan yang memuat ketiadaan suatu komponen yang
secara alami tidak ada dalam Pangan Olahan, kecuali ada
data pendukung/standar umum Pangan Olahan yang
mengandung komponen tersebut;
g. pernyataan bebas bahan tertentu tetapi mengandung
bahan tertentu tersebut baik tidak disengaja maupun
sebagai bahan/senyawa ikutan (Carry Over);
h. tulisan atau gambar seolah-olah bahan Pangan sintetik
berasal dari alam;
i. nama, logo, atau identitas lembaga yang melakukan
pembinaan, memberikan rekomendasi dan/atau
melakukan analisis tentang Pangan;
j. gambar atau keterangan terkait tenaga kesehatan, tokoh
agama atau pejabat publik, atau berperan sebagai tenaga
kesehatan, tokoh agama, atau pejabat publik;
k. nama dan gambar tokoh yang telah menjadi milik umum,
kecuali mendapat izin dari yang bersangkutan;
l. pernyataan atau keterangan yang secara langsung atau
tidak langsung merendahkan barang dan/atau jasa pihak
lain;
m. keterangan, tulisan, atau gambar yang menyinggung suku,
agama, ras, dan/atau golongan tertentu;
n. keterangan mengenai undian, sayembara, hadiah, dan
tulisan atau gambar apapun yang tidak sesuai dengan
Label yang disetujui yang merupakan bagian tidak
terpisahkan dari izin edar;
o. keterangan, tulisan, atau gambar lainnya yang
bertentangan dan dilarang oleh ketentuan perundang-
undangan;
p. keterangan yang menimbulkan gambaran/persepsi yang
bertentangan dengan norma kesusilaan, etika, atau
ketertiban umum;
q. pernyataan bahwa konsumsi Pangan Olahan tersebut
dapat memenuhi kebutuhan semua zat Gizi;
r. keterangan yang menyatakan Pangan Olahan bersifat
tonik, hanya karena Pangan Olahan tersebut mengandung
alkohol, gula atau karbohidrat lain, protein, kafein, atau
zat yang berasal dari hidrolisis protein atau turunan purin.
Pencantuman kata “tonik” hanya dapat digunakan jika
merupakan nama jenis Pangan Olahan sesuai dengan
Kategori Pangan;
s. logo atau keterangan lain yang tidak terkait Pangan
Olahan atau berlebihan;
t. keterangan teknologi terbaru/modern/terkini atau kalimat
semakna yang kondisinya dipengaruhi oleh waktu;
u. Klaim Gizi, Klaim kesehatan, dan Klaim lainnya pada label
Pangan Olahan yang diperuntukkan bagi bayi;
v. Klaim fungsi lain, Klaim penurunan risiko penyakit, dan
Klaim tanpa penambahan gula pada Pangan Olahan yang
diperuntukkan bagi anak usia 1-3 tahun;
w. pernyataan/visualisasi yang menggambarkan bahwa susu
kental dan analognya disajikan sebagai hidangan tunggal
berupa minuman susu dan sebagai satu-satunya sumber
gizi;
x. pernyataan/visualisasi yang semata-mata menampilkan
anak di bawah usia 5 (lima) tahun pada susu kental dan
analognya;
y. pernyataan/visualisasi yang menggambarkan peruntukan
bagi kelompok tertentu pada Pangan Olahan umum;
dan/atau
z. keterangan tanpa BTP selain sebagaimana tercantum
dalam Pasal 24 ayat (4), meliputi penggunaan dan/atau
pencantuman nama Jenis BTP, keterangan atau
pernyataan “bebas BTP”, “tidak menggunakan BTP”, “tidak
menambahkan BTP”, “tidak terdapat BTP”, “tidak
mengandung BTP”, atau yang semakna.

Pasal 68
Pelaku Usaha dilarang memproduksi Pangan Olahan
menggunakan nama dagang dan desain yang sama dengan
Pangan Olahan untuk keperluan medis khusus.

Pasal 69
Setiap Orang dilarang menghapus, mencabut, menutup,
mengganti Label, melabel kembali, dan/atau menukar
tanggal, bulan, dan tahun kedaluwarsa Pangan Olahan yang
diedarkan.
Pasal 70
Setiap Orang dilarang memberikan keterangan atau
pernyataan yang tidak benar dan/atau menyesatkan pada
Label.

BAB VI
SANKSI ADMINISTRATIF

Pasal 71
(1) Setiap Orang yang melanggar ketentuan dalam Peraturan
Badan ini dikenai sanksi administratif berupa:
a. penghentian sementara dari kegiatan, produksi,
dan/atau peredaran;
b. penarikan Pangan dari peredaran oleh produsen;
dan/atau
c. pencabutan izin.
(2) Pengenaan sanksi administratif sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.

BAB VII
KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 72
Label yang telah beredar sebelum berlakunya Peraturan
Badan ini wajib menyesuaikan dengan ketentuan dalam
Peraturan Badan ini paling lama 30 (tiga puluh) bulan sejak
Peraturan Badan ini diundangkan.

BAB VIII
KETENTUAN PENUTUP

Pasal 73
Pada saat Peraturan Badan ini mulai berlaku:
a. Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan
Nomor HK.03.1.23.06.10.5166 tentang Pencantuman
Informasi Asal Bahan Tertentu, Kandungan Alkohol, dan
Batas Kedaluwarsa pada Penandaan/Label Obat, Obat
Tradisional, Suplemen Makanan, dan Pangan (Berita
Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 328);
b. Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan
Nomor 23 Tahun 2016 tentang Pencantuman Informasi
Tanpa Bahan Tambahan Pangan dalam Label dan Iklan
Pangan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2016
Nomor 1222); dan
c. Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 27
Tahun 2017 Tentang Pendaftaran Pangan Olahan (Berita
Negara Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor 23);
sepanjang mengatur mengenai label pangan olahan, dicabut
dan dinyatakan tidak berlaku.

Pasal 74
Peraturan Badan ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.