Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH PENILAIAN STATUS GIZI

PENILAIAN STATUS GIZI SECARA BIOKIMIA

OLEH:
Kelompok 3
1. Agnes Amelia
2. Dyvia Mutiara Zalni
3. Leoni Ananda Diyanti Saputri
4. Olsia Wardina
5. Stefani Rusmawanti

D III Gizi 2B

Dosen Pembimbing

Edmon, SKM, M.Kes


19620729 198703 1 003

POLTEKKES KEMENKES RI PADANG


JURUSAN GIZI
TAHUN 2018
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pemekriksaan biokimia dalam penilaian status gizi memberikan hasil
yang lebih tepat dan objektif dari pada menilai konsumsi pangan dan pemeriksaan
lain. Pemeriksaan biokimia yang sering digunakan adalah teknik pengukuran
kandungan berbagai zat gizi dan substansi kimia lain dalam darah dan urine.Hasil
pengukuran tersebut dibandingkan dengan keadaan normal yang telah dietapkan.
Adanya parasit dapat diketahui melalui pemeriksaan feses, urine dan darah,
karena kurang gizi sering dikaitkan dengan prevelensi penyakitkarena parasit.
Dalam berbagai hal, pemeriksaan biokimia hanya dapat diperoleh di
rumah sakit atau pusat kesehatan. Keadaan ini, memberi gambaran bahwa sarana
yang tersedia tidak dijangkau oleh penduduk yang tinggal di daerah yang jauh dari
sarana tersebut. Meskipun demikian,pemeriksaan dapat dilakukan dengan cara
memeriksa contoh darah, urine dan feses yang dikumpulkan oleh keluarga di
daerah tersebut, perawat atau petugas kesehatan lain dan dibawa ke laboratorium
untuk dianalisis. Dalam pemeriksaan secara biokimia ini yang diteliti adalah kadar
gula darah, kadarasam urat dan kadar kolesterol dari probandus.(Supariasa,
2001 ).

1. Gula darah
Dalam ilmu kedokteran, gula darah adalah istilah yang mengacu kepadatingkat
glukosa di dalam darah. Konsentrasi gula darah, atau tingkat glukosa serum,
diatur dengan ketat di dalam tubuh. Glukosa yang dialirkan melalui darah adalah
sumber utama energi untuk sel-sel tubuh.Umumnya tingkat gula darah bertahan
pada batas-batas yang sempit sepanjang hari: 4-8 mmol/l (70-150 mg/dl). Tingkat
ini meningkat setelah makan dan biasanya berada pada level terendah pada pagi
hari, sebelum orang makan.Diabetes mellitus adalah penyakit yang paling
menonjol yang disebabkan oleh gagalnya pengaturan gula darah. Meskipun
disebut "gula darah", selain glukosa, kita juga menemukan jenis-jenis gula
lainnya, seperti fruktosa dan galaktosa. Namun demikian, hanya tingkatan glukosa
yang diatur melalui insulin dan leptin.Pengaruh langsung dari masalah gula darah
Bila level gula darah menurun terlalu rendah, berkembanglah kondisi yang bisa
fatal yang disebut hipoglikemia. Gejala-gejalanya adalah perasaan lelah,fungsi
mental yang menurun, rasa mudah tersinggung, dan kehilangan kesadaran.
Bila levelnya tetap tinggi, yang disebut hiperglikemia, nafsu makan akan
tertekan untuk waktu yang singkat. Hiperglikemia dalam jangka panjang dapat
menyebabkan masalah-masalah kesehatan yang berkepanjangan pula yang
berkaitan dengan diabetes, termasuk kerusakan pada mata, ginjal, dan saraf.
Peningkatan rasio gula darah disebabkan karena terjadi percepatan laju
metabolisme glikogenolisis dan glukoneogenesis yang terjadi pada hati.
Mekanisme pengaturan gula darah Tingkat gula darah diatur melalui umpan balik
negatif untuk mempertahankan keseimbangan di dalam tubuh. Level glukosa di
dalam darah dimonitor oleh pankreas. Bila konsentrasi glukosa menurun, karena
dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan energi tubuh, pankreas melepaskan
glukagon, hormon yang menargetkan sel-sel di lever (hati). Kemudian sel-sel ini
mengubah glikogen menjadi glukosa (proses ini disebut glikogenolisis).Glukosa
dilepaskan ke dalam aliran darah, hingga meningkatkan level gula darah.
Apabila level gula darah meningkat, entah karena perubahan glikogen,
atau karena pencernaan makanan, hormon yang lain dilepaskan dari butir-butir sel
yang terdapat di dalam pankreas. Hormon ini, yang disebut insulin, menyebabkan
hati mengubah lebih banyak glukosa menjadi glikogen. Proses ini disebut
glikogenosis), yang mengurangi level gula darah. Diabetes mellitus tipe 1
disebabkan oleh tidak cukup atau tidak dihasilkannya insulin, sementara tipe 2
disebabkan oleh respon yang tidak memadai terhadap insulin yang dilepaskan
("resistensi insulin"). Kedua jenis diabetes ini mengakibatkan terlalu banyaknya
glukosa yang terdapat di dalam darah. ( Anonim, 2010 )

2. Asam Urat
Asam urat adalah senyawa sukar larut dalam air yg merupakan hasil akhir
metabolisme purin. Secara alamiah purin terdapat dalam tubuh kita dan dijumpai
pada semua makanan dari sel hidup, yakni makanan dari tanaman (sayur, buah,
kekacangan) atau hewan (daging, jeroan, ikan sarden). Juga dalam minuman
beralkohol dan makanan kaleng Sebenarnya yang dimaksud dengan asam urat
adalah asam yang berbentuk kristal-kristal yang merupakan hasil akhir dari
metabolisme purin (bentuk turunan nukleoprotein), yaitu salah satu komponen
asam nukleat yang terdapat pada inti sel-sel tubuh. Secara alamiah, purin terdapat
dalam -tubuh kita dan- dijumpai pada semua makanan dari sel hidup, yakni
makanan dari tanaman (sayur, buah, kacang-kacangan) atau pun hewan (daging,
jeroan, ikan sarden).
Jadi asam urat merupakan hasil metabolisme di dalam tubuh, yang
kadarnya tidak boleh berlebih. Setiap orang memiliki asam urat di dalam tubuh,
karena pada setiap metabolisme normal dihasilkan asam urat. Sedangkan
pemicunya adalah makanan dan senyawa lain yang banyak mengandung purin.
Sebetulnya, tubuh menyediakan 85 persen senyawa purin untuk kebutuhan setiap
hari. Ini berarti bahwa kebutuhan purin dari makanan hanya sekitar 15 persen.
Bagaimana cara mengukur kadar asam urat dalam darah ? Dengan pemeriksaan
darah di laboratorium klinik. Di laboratorium, darah dipisahkan antara sel darah
dan serum darah.
Pemeriksaan asam urat sendiridilakukan terhadap serum darah. Kadar
asam urat normal untuk pria dewasa berkisar 3,5-7,0mg/dl dan untuk wanita 2,6-
6,0mg/dl. Apabila kadar asamdiatas angka normal, kondisi ini disebut
hiperurisemia. Apakah penyebab terjadinya hiperurisemia? Hiperurisemia terjadi
karena adanya peningkatan produksi asam urat dalam metabolisme atau
penurunan ekskresi (pengeluaran) asam urat dari dalam tubuh melalui ginjal
dalam bentuk urine Apa akibatnya bila seseorang menderita hiperurisemia ? Asam
urat yang terkumulasi dalam jumlah besar di dalam darah akan memicu
pembentukan kristal berbentuk jarum. Kristal-kristal itu biasanya terkonsentrasi
pada sendi, terutama sendi perifer (jempol kaki atau tangan). Sendi2 tersebut
biasanya menjadi bengkak, kaku, kemerahan, terasa panas, dan nyeri sekali.
Hiperurisemia terkadang disertai komplikasi artritis gout(radang sendi). Adakah
tanaman obat yang bisa mengatasi hiperurisemia ?Ada. Salah satunya adalah buah
mengkudu. (Morinda Citrifolia) . Buah ini dipercaya memiliki khasiat sebagai
pengurang rasa nyeri dan antiinflamasi alamiah. Ekstraknya dapat menghambat
enzim siklooksigenase-2(COX-2) yang akan menyingkirkan penimbul rasa nyeri,
prostaglandin (PGE). Ia juga mengandung senyawa scopoletin yang memiliki sifat
antiinflamasi. Buah Mengkudu belum dilakukan uji coba baik secara klinikal mau
pun blind study, terutama utk buah buah hasil yg dilakukan diluar buah yg di
Hawaian. Noni atau Mengkudu memang mengandung bahan anti inflamasi, serta
anti oksidant, tetapi sangat bereaksi dg kelompok dg type golongan darah O dan
A.
Jadi tdk hanya dipercaya tetapi uji kilinis dan uji blind sudah dilakukan dg
noni Hawaiana, tetapi noni Indonesia saya kira belum. Apa saja gejala artritis gout
? Tidak dapat berjalan atau memakai sepatu (bila menyerang kaki) dan tidur
terganggu. Rasa nyeri mencapai puncaknya dalam 24 jam sejak pertama
timbulnya gejala, dan akan hilang sama sekali setelah beberapa jam kemudian.
Jika disertai hiperurisemia dan tidak segera ditangani akan berkembang menjadi
artritis gout menahun. Bagaimana cara mengurangi kadar asam urat dalam darah ?
Batasi konsumsi lemak untuk mencegah kegemukan. Bila bobot badan berlebih,
turunkan bertahap karena kegemukan cenderung disertai peningkatan kadar asam
urat akibat makan berlebih yang didalamnya termasuk sumber purin. Minumlah
air putih dalam jumlah cukup agar volume urine bisa lebih atau sama dengan
1ml/menit. Hindari alcohol karena mengandung prin dan menurunkan ekskresi
asam urat. ( Anonim, 2010 ).

3. Kolesterol
Kolesterol adalah suatu substansi seperti lilin yang berwarna putih, secara
alami ditemukan di dalam tubuh kita. Kolesterol diproduksi di hati, fungsinya
untuk membangun dinding sel dan membuat hormon-hormon tertentu. Tubuh kita
sebetulnya akan menghasilkan sendiri kolesterol yang kita perlukan. Tetapi,
karena produk hewani yang kita konsumsi, menyebabkan banyak orang memiliki
kelebihan kolesterol. Kadar kolesterol yang berlebihan di dalam darah merupakan
penyebab utama dari penyakit jantung dan penyakit pembuluh darah. Kolesterol
membentuk bekuan dan plak yang menyumbat arteri dan akhirnya memutusksn
aliran darah ke jantung (menyebabkan serangan jantung) dan ke otak
(menyebabkan stroke).Dengan menurunkan kadar kolesterol, anda bisa
menghentikan pembentukan plak di dalam arteri dan menyusutkan bekuan yang
sudah terbentuk.
Jika anda pernah mengalami suatu serangan jantung atau pembedahan
bypass, kadar kolesterol anda harus diperiksa secara rutin. Menjaga kadar
kolesterol tetap rendah merupakan jaminan terbaik untuk melawan penyumbatan
pembuluh darah arteri Kadar kolesterol terbagi menjadi 2 (dua) bagian:

1. Kolesterol HDL (High-Density Lipoprotein), merupakan “kolesterol baik”


karena kemampuannya untuk membersihkan pembuluh darah arteri.

2. Kolesterol LDL (Low-Density Lipoprotein) atau “kolesterol jahat” yang


membuat endapan dan menyumbat arteri Kadar kolesterol HDL diatas 60 berarti
sangat baik. Makin tinggi kadar kolesterol HDL, makin rendah resiko untuk
mendapat serangan jantung atau stroke. Kadar kolesterol LDL yang baik adalah
lebih rendah dari 130, dan semakin rendah, akan semakin baik Pemeriksaan kadar
kolesterol paling baik dilakukan setelah berpuasa selama 12 jam. Pemeriksaan
darah juga akan mengukur komponen darah seperti trigliserida. Seperti halnya
kolesterol, trigliserida merupakan sejenis lemak yang ditermukan di dalam
makanan seperti daging, keju, ikan dan kacang-kacangan dan juga dibuat sendiri
oleh tubuh. ( Anonim, 2010)

Dari manakah KOLESTEROL berasal ?


 Setiap orang memiliki kolesterol di dalam darahnya, di mana 80%
diproduksi oleh tubuh sendiri dan 20% berasal dari makanan. Kolesterol yang
diproduksi terdiri atas 2 jenis yaitu kolesterol HDL dan kolesterol LDL.
 Kolesterol LDL, adalah kolesterol jahat, yang bila jumlahnya berlebih di
dalam darah akan diendapkan pada dinding pembuluh darah membentuk bekuan
yang dapat menyumbat pembulun darah.
 Kolesterol HDL, adalah kolesterol baik, yang mempunyai fungsi
membersihkan pembuluh darah dari kolesterol LDL yang berlebihan. Kadar
kolesterol HDL yang tinggi merupakan suatu tanda yang baik sepanjang
kolesterol LDL kurang dari 150 mg/dl.
 Selain itu ada juga Trigliserida. Lemak ini terbentuk sebagai hasil dari
metabolisme makanan, bukan saja yang berbentuk lemak tetapi juga makanan
yang berbentuk karbohidrat dan protein yang berlebihan, yang tidak seluruhnya
dibutuhkan sebagai sumber energi.Kadar trigliserida ini akan meningkat bila kita
mengkonsumsi kalori berlebihan, lebih besar daripada kebutuhan kita.

Rumusan Masalah

Tujuan
BAB II
PEMBAHASAN
 Pengertiam Biokimia
Biokimia adalah kimia mahluk hidup. Biokimiawan
mempelajarimolekul dan reaksi kimia terkatalisis oleh enzim yang berlangsung
dalam semua organisme. Lihat artikel biologi molekular untuk diagram dan
deskripsi hubungan antara biokimia, biologi molekular, dan genetika (Reisa,
2010).
Biokimia merupakan ilmu yang mempelajari struktur dan fungsikomponen
selular, seperti protein, karbohidrat, lipid, asam nukleat, danbiomolekul lainnya.
Saat ini biokimia lebih terfokus secara khusus pada kimia reaksi
termediasi enzim dan sifat-sifat protein (Reisa, 2010).
Saat ini, biokimia metabolisme sel telah banyak dipelajari. Bidang lain
dalam biokimia di antaranya sandi genetik (DNA, RNA), sintesis protein,
angkutan membran sel, dan transduksi sinyal (Reisa,2010).
Pengertian Biokimi menurut Webster’s dictionary adalah Bios derasal dari
bahasa Yunani, artinya hidup, kimia artinya mahluk hidup jadi Biokimia
adalah kimia yang terjadi dan menjadi ciri kehidupan. Dan pengertian biokimia
menurut WebNet dictionary, Biokimia adalah kimia dari bahan-bahan dan proses-
proses yang terjadi dalam tubuh mahluk hidup; sebagai upaya untuk memahami
proses kehidupan dari sisi kimia.

2.      Manfaat Biokimia
Sebagia disiplin ilmu, biokimia mengalami kemajuan berkat penelitian yang
telah dilakukan oleh para ahli biokimia. Manfaat yang diperoleh tampak pada
penerapan hasil-hasil penelitian tersebut.
Pada dasarnya penerapan biokimia banyak terdapat dalam bidang pertanian
dan kedokteran. Sebagai contoh biokimia mempunyai peranan penting dalam
memecahkan masalah gizi, penyakit-penyakit akibat kekurangan gizi terutama
pada anak-anak. Biokimia juga dapat menjelaskan hal-hal dalam bidang
farmakologi dan toksikologi karena dua bidang tersebut berhubungan dengan
pengaruh bahan kimia dari luar terhadap metabolisme (Poedjiadi, 2007).
Manfaat mempelajari biokimia untuk kita adalah untuk mengetahui tentang
reaksi-reaksi kimia penting yang terjadi dalam sel sehingga kita dapat memahami
proses-proses yang terjadi dalam tubuh kita. Dengan demikian diharapkan kita
dapat menghindari hal-hal dari luar tubuh yang mempengaruhi proses dalam sel-
sel tubuh, misalnya kita dapat mengatur makanan yang akan kita makan sehingga
kita dapat memperoleh manfaat makanan secara optimal (Poedjiadi, 2007).
3.      Hubungan Biokimia dengan Status Gizi
Pemeriksaan biokimia dalam penilaian status gizi memberikan hasil yang
lebih tepat dan objektif daripada menilai konsumsi pangan dan pemeriksaan lain.
Pemeriksaan yang sering digunakan adalah teknik pengukuran kandungan
berbagai gizi dan substansi kimia lain dalam darah dan urine. Adanya parasit
dapat diketahui melalui pemeriksaan feses, urine, dan darah (Ningtyias, 2010).

1.3.1. Pengertian Penentuan Status Gizi Secara Biokimia


Penentuan status gizi secara biokimia/laboratorium terdiri dari pemeriksaan
status biokimia dalam tubuh dan tes fungsional/fisiologis. Pada pemeriksaan
status biokimia dalam tubuh diukur kandungan nutrien dalam cairan dan jaringan
tubuh. Tes yang dipilih merefleksikan nutrien total dalam tubuh atau ukuran
jaringan dalam tubuh (Ningtyias, 2010).
Tes fungsional/fisiologis bertujuan untuk mengukur fungsi spesifik organ
tubuh yang terganggu karena kekurangan nutrien. Tes ini lebih signifikasi jika
dibandingkan dengan pemeriksaan status biokimia dalam tubuh. Tes
fungsional/fisiologis dibagi menjadi tes fungsi biokimia dan tes psikologis
(Ningtyias, 2010).
1.3.2. Tujuan Penentuan Status Gizi Secara Biokimia
Mengetahui tingkatan status gizi seseorang dengan melakukan pemeriksaan
status biokimia pada jaringan dan cairan tubuh dan tes fungsional (Ningtyias,
2010).
1.3.3. Macam Pengukuran Dalam Penentuan Status Gizi Secara Biokimia
Pengukuran dalam penentuan status gizi secara biokimia dilakukan dengan
pemeriksaan status biokimia tubuh yaitu cairan dan jaringan tubuh serta tes
fungsional. Pemeriksaan status biokimia tubuh pada cairan tubuh yaitu memeriksa
konsentrasi nutrien pada smpel darah, ludah, keringat dan Air Susu Ibu,
sedangkan untuk pemeriksaan pada jaringan tubuh yang diperlukan adalah
rambut, kuku, jaringan adiposa, hati dan tulang. Selain itu ada juga tes fungsional
yang mengukur konsekuensi fungsional pada organ atau jaringan tubuh karena
defisiensi nutrien dalam tubuh (Ningtyias, 2010).
  Pemeriksaan biokimia digunakan untuk menilai status gizi mikro yang
lebih tepat, obyektif, dan hanya dilakukan orang yang terlatih. Pemeriksaan
biokimia dalam penilaian status gizi memberikan hasil yang lebih tepat dan
objektif daripada menilai konsumsi pangan dan pemeriksaan lain. Pemeriksaan
biokimia yang sering digunakan adalah teknik pengukuran kandungan berbagai
zat gizi dan substansi kimia lain dalam darah dan urine. Hasil pengukuran tersebut
dibandingkan dengan standar normal yang telah ditetapkan. Adanya parasit dapat
diketahui melalui pemeriksaan feses, urine dan darah, karena kurang gizi sering
berkaitan dengan prevalensi penyakit karena parasit.
Masalah gizi di Indonesia antara lain: KEP, Anemia, KVA, dan GAKI.
Untuk menentukan  Oleh karena itu diperlukan pemeriksaan zat gizi spesifik yang
bertujuan untuk menilai status gizi. Masalah gizi yang akan dinilai secara
laboratorium meliputi Kurang Energi Protein (KEP), Anemia Gizi Besi (AGB),
Kurang Vitamin A (KVA), dan Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY).

1.  Kurang Energi Protein (KEP)


Dalam kaitannya dengan Kurang Energi Protein (KEP), maka analisis biokimia
yang banyak diperhatikan adalah menyangkut nilai protein tertentu dalam darah
atau hasil dari metabolit dari protein yang beredar dalam darah dan yang
dikeluarkan bersama-sama urin. Jenis protein yang nilainya menggambarkan
status gizi seseorang mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Penilaian
status protein yaitu mengukur cadangan protein dalam tubuh, kadar fibrinogen,
transportasi zat gizi tertentu (ex. Fe), Ab, aliran darah. Albumin adalah fraksi
protein yang sering dinilai. Globulin diperiksa berkaitan dengan status imun.
Fibrinogen untuk pembekuan darah. Penurunan serum protein bisa disebabkan
sintesis protein dalam hepar yang menurun.

Analisis biokimia yang berkaitan dengan KEP yaitu menyangkut nilai protein
tertentu dalam darah atau hasil metabolit dari protein yang beredar dalam darah
dan yang dikeluarkan bersama urin. Jenis protein yang menggambarkan status gizi
seseorang antara lain Prealbumin, Serum protein dan serum Albumin. Di dalam
darah ada tiga fraksi protein, yaitu :
  Albumin     : Kadar normalnya = 3,5 – 5 gram/100 ml
  Globulin     : Kadar normalnya  = 1,5 – 3 gram/100 ml

  Fibrinogen  : Kadar normalnya  = 0,2 – 0,6 gram/100 ml


Pemeriksaan biokimia terhadap status protein dibagi dalam 2 bagian pokok, yaitu
penilaian terhadap somatch protein dan visceral protein. Perbandingan somatic
dan visceral didalam tubuh antara 75% - 25%. Konsentrasi serum protein dapat
digunakan untuk mengukur status protein. Penggunaan pengukuran status protein
ini didasarkan pada asumsi bahwa penurunan serum protein disebabkan oleh
penurunan produksi dalam hati.

Tabel. Nilai Prealbumin dalam kaitannya dengan Status Gizi


Status gizi Nilai prealbumin µg/dl
Baik*) 23.8 +/-0.9
Gizi sedang*) 16.5 +/- 0.8
Gizi kurang*) 12.4 +/- 1.0
Gizi buruk*) 7.6 +/- 0.6
            Marasmus**) 3.3 +/- 0.2
            Marasmus-Kwashiorkor*) 3.2 +/- 0.4
            Kwashiorkor**)

Keterangan :
*) Menurut klasifikasi Waterlow
**) Menurut klasifikasi Welcome

 Tabel. Batasan dan Interpretasi Kadar Serum Protein dan Serum Albumin
Umur kriteria
No Senyawa & satuan
(tahun) Kurang Margin Cukup
1 Serum Albumin (gr/100 <1 - <2.8 2.5+
ml) 1–5 - <3.0 3.0+
6 – 16 - <3.5 3.5+
16+ <2.8 2.8-3.4 3.5+
Wanita hamil <3.0 3.0-3.4 3.5+
2 Serum Protein (gr/100 <1 - <5.0 5.0+
ml) 1–5 - <5.5 5.5+
6 – 16 - <6.0 6.0+
16+ 6.0 6.0-6.4 6.5+
Wanita hamil 5.5 5.5-5.9 6.0+

2.  Kurang Vitamin A (KVA)


Deplesi vitamin A dalam tubuh merupakan proses yang berlangsung lama,
dimulai dengan habisnya persediaan vitamin A dalam hati, kemudian menurunnya
kada vitamin A dalam plasma, dan baru kemudian timbul disfungsi retina, disusul
dengan perubahan jaringan epitel. Kadar vitamin A dalam plasma tidak
merupakan kekurangan vitamin A, apabila sudah terdapat kelainan mata, maka
kadar vitamin A serum sudah sangat rendah (µg/100ml), begitu juga kadar RBP-
nya (<20µg/100ml) konsentrasi vitamin A dalam hati merupakan indikasi yang
baik untuk menentukan status vitamin A. Akan tetapi biopsi hati merupakan
tindakan yang mengandung resiko bahaya . Pada umumnya konsentrasi vitamin A
penderita KEP rendah yaitu <15µg/gram jaringan hepar (Solihin Pujiadji, 1989).
Batasan dan Interpretasi pemeriksaan kadar vitamin A dalam darah :
Umur (th) Kurang Margin Cukup
Plasma Vitamin A Semua Umur <10 10-19>20
(mg)

Penilaian status vitamin A diperlukan sebab penurunannya dalam hepar


menurunkan kadarnya dalam plasma sehingga bisa menyebabkan disfungsi retina.
Gejala subklinis KVA yaitu gangguan sistem imun dengan angka infeksi yang
makin meningkat (paling banyak yaitu ISPA). Gejala klinisnya yaitu xerophtalmia
(dapat menyebabkan cirrhosis conjunctiva dengan tanda-tanda sering mengedip
disertai bercak bitot) sehingga tampak busa yang menghilang bila dihapus dan
muncul lagi. Status vitamin A diperiksa di dalam serum (serum retinol dan retinol
binding protein). Penilaian status KVA menggunakan indikator plasma dan liver
vitamin A. Terdapat program pemerintah yaitu pemberian kapsul vitamin A tiap
bulan Februari dan Agustus.

Penentuan Masalah Kesehatan Masyarakat (KVA)


Sumber : WHO, 1982
Indikator yang digunakan Batas Prevalensi
Plasma Vitamin A >= 10 µg/dl >=5%
Liver Vitamin    A >=   5 µg/dl >=5%

3.  Anemia Gizi Besi


Anemia gizi adalah suatu keadaan dimana kadar hemoglobin (Hb) dalam darah
kurang dari normal, yang berbeda untuk setiap kelompok umur dan jenis kelamin.
Anemia gizi besi merupakan masalah gizi utama bagi semua kelompok umur
dengan prevalensi anemia paling tinggi pada ibu hamil (70%) dan pekerja
berpenghasilan rendah (40%). Prevalensi pada anak sekolah sekitar 30% dan pada
anak balita sekitar 40%.
Ada beberapa indikator laboratorium untuk menentukan status besi, yaitu :
a)      Hemoglobin (Hb)
Hemoglobin adalah parameter yang digunakan secara luas untuk menetapkan
prevalensi anemia. Garby et al. Menyatakan bahwa penentuan status anemia yang
hanya menggunakan kadar Hb ternyata kurang lengkap, sehingga perlu ditambah
dengan pemeriksaan yang lain. Hb merupakan senyawa pembawa oksigen pada
sel darah merah. Hemoglobin dapat diukur secara kimia dan jumlah Hb/100 ml
darah dapat digunakan sebagai indeks kapasitas pembawa oksigen pada darah.
Kandungan hemoglobin yang rendah dengan demikian mengindikasikan anemia.
Bergantung pada metode yang digunakan, nilai hemoglobin menjadi akurat
sampai 2-3 %. Metode ini dikenal dengan metode sahli.  Metode pemeriksaan Hb
adalah Sahli dan cyanmetHb merupakan standar penelitian. Simpanan besi
terdapat di sumsum tulang, pada saat feritin menurun maka serum besi menurun.

      Tabel. Batasan Hemoglobin Darah (Sumber : WHO, 1975


Kelompok Batas nilai Hb
Bayi / balita 11 g/dl
Usia sekolah 12 g/dl
Ibu hamil 11 g/dl
Pria dewasa 13 g/dl
Wanita dewasa 12    /dl
    
                   Tabel. Batasan Anemia (Menurut Depkes)
Kelompok Batas Normal
Anak balita 11  gram %
Anak Usia sekolah 12  gram %
Wanita dewasa 12 gram %
Laki-laki dewasa 13  gram %
Ibu hamil 11 gram %
Ibu menyusui > 3 bulan 12 gram %

b)      Hematokrit (Hct)
Hematokrit adalah volume eritrosit yang dipisahkan dari plasma dengan cara
memutarnya didalam tabung khusus yang nilainya dinyatakan dalam persen (%).
Setelah sentrifugasi, tinggi kolom sel merah diukur dang dibandingkan dengan
tinggi darah penuh yang asli. Persentase massa sel merah pada volume darah yang
asli merupakan hematokrit. Nilai normal untuk hematokrit adalah 40%- 50%
untuk pria dan 37% - 47% untuk wanita. HCT biasanya hampir 3 kali nilai
hemoglobin. Kesalahan rata-rata pada prosedur HCT yaitu kira-kira 1% -2%.
Nilai hematokrit yang kuang dari normal terdapat pada anemia.

c)      Besi Serum (Fe)


Defisiensi besi terjadi pada tahap awal, sebelum menurunnya Hb.

d)     Feritin  Serum (Sf)


Untuk menilai status besi dalam hati perlu mengukur kadar ferritin Menurut Cook
(dalam Mahdin Anwar Husaini, 1989) banyaknya feritin yang dikeluarkan darah
secara proporsional menggambarkan banyaknya simpanan zat besi di dalam hati.
Apabila didapatkan serum ferritin sebesar 30 mg/dl RBC berarti didalam hati
terdapat 30x10 mg=300 mg ferritin. Untuk menentukan kadar ferritin dalam darah
dapat dilakukan dengan beberapa metode yaitu dengan cara Immunoradiometric
assay (IRMA), Radio Immuno Assay (RIA) dan Enzyme-Linked Immuno Assays
(ELISA). Dalam keadaan normal rata-rata SF untuk laki-laki dewasa adalah
90µg/l dan wanita dewasa adalah 30µg/l. Perbedaan kadar serum ferritin ini
menggambarkan perbedaan banyaknya zat besi pada tubuh dengan zat besi pada
laki-laki tiga kali lebih banyak dari wanita. Apabila seseorang mempunyai kada
SF kurang dari 12, orang yang bersangkutan dinyatakan sebagai kurang besi.
Banyak orang yang sebenarnya menderita kurang besi, tetapi tidak dapat
terdeteksi dengan cara ferritin karena kadar ferritin yang dikeluarkan dari hati
menaik dalam darah apabila yang bersangkutan menderita penyakit kronis, infeksi
dan gangguan hati.

e)       Transferrin Saturation (TS)


Penentuan kadar zat besi dalam serum merupakan satu cara menentukkan status
besi. Salah satu indikator lainnya adalah Total Iron Binding Capacity (TIBC)
dalam serum. Kadar TIBC ini meningkat pada penderita anemia karena kadar besi
di dalam serum menurun dan TIBC meningkat pada keadaan defisensi besi maka
rasio dari keduanya (transferri saturation) lebih sensitif. Apabila TS > 16 %,
pembentukan sel-sel darah merah dalam sumsum tulang berkurang dan keadaan
ini disebut defisiensi besi untuk eritropoesis.

f)       Free Erytrocytes Protophophyrin (FEP)


Apabila penyediaan zat besi tidak cukup banyak untuk pembentukkan sel-sel
darah merah disumsum tulang maka sirkulasi FEP di darah meningkat walau
belum tampak anemia.Dalam keadaan normal FEP berkisar 35±50µ/dl RBC tetapi
apabila kadar FEP dalam darah lebih besar dari 100µg/dl RBC menunjukkan
individu ini memnderita kekurangan besi.

g)      Unsaturated Iron binding capacity serum (UIBC)

h)      Morfologi darah
Pemeriksaan morfologi darah ini ini dilakukan untuk mengetahui jenis anemianya.

4.  Gangguan Akibat Kurang Yodium (GAKY)


Yodium diperlukan untuk pertumbuhan, perkembangan serta fungsi otak.
Meskipun kebutuhan yodium sangat sedikit (0.15 µg) kita memerlukan yodium
secara teratur setiap hari. Kekurangan yodium akan mengalami gangguan fisik
antara lain gondok, badan kerdil, gangguan motorik seperti kesulitan untuk berdiri
atau berjalan normal, bisu,tuli atau mata juling. Sedangkan gangguan mental
termasuk berkurangnya kecerdasan. Untuk mengetahui total goitre
rate (pembesaran kelenjar gondok) dimasyarakat bisa dilakukan dengan palpasi
atau dengan cara lain yaitu dengan melakukan pemeriksaan kadar yodium dalam
urin dan kadar thyroid stimulating hormone dalam darah. Metode penentuan kadar
yodium dalam urin dengan menggunakan metode Cerium.
Prosedur penentuan kadar yodium dengan metode Cerium adalah sebagai
berikut :
a)      10 ml urin didestruksi (pengabuan basah) dengan penambahan 25 ml asam
klorat 28% dan 1 ml kalium kromat 0.5 %.
b)      Panaskan diatas hotplate sehingga volume larutan menjadi kurang dari 0.5 ml.
Larutan ini diencerkan dengan air suling sehingga volume larutan menjadi 100 ml.
c)      Dari larutan terakhir ini dipipet 3 ml, kemudian ditambahkan 2 ml asam
arsenit 0.2 N; lalu didiamkan selama 15 menit.
d)     Ke dalam tiap larutan kemudian ditambahhkan 1 ml larutan cerium (4+)
ammonium sulfat 0.1 M; dikocok kembali didiamkan selama 30 menit. Absorpsi
dilakukan pada panjang gelombang 420 nm.
Kurva standar dibuat dengan cara yang sama seperti di atas pada kadar yodium
0.01; 0.02; 0.03; 0.04; dan 0.05 ppm. Larutan standar induk yang berkadar 100
ppm ddibuat dengan melarutkan 0.0168 g KIO3 dalam 100 ml air suling.
Karena kadar yodium dalam urin dinyatakan dalam mg 1 per g kreatinin, maka
diukur pula kadar kreatinin urin dengan cara sebagai berikut :
a. 0.1 ml urin yang telah diencerkan 100 kali ditambahkan 4 ml H2SO4 1/12  N
dan 0.5 ml      natrium tungstat.
 b. Setelah itu dikocok dan didiamkan selama 15 menit lalu dipusing selama
10 menit.
c. Supernatan dipisahkan lalu ditambahkan 0.5 ml larutan campuran 1 ml asam
pikrat  10% dan 0.2 ml NaOH 10%.
d.  Setelah didiamkan selama 15 menit, absorpsi larutan dibaca pada panjang
gelombang 520 nm.
Standar kreatinin dengan konsentrasi 1 mg dikerjakan dengan cara yang sama.
Perhitungan kadar yodium per g kreatinin : jiak diketahui konsentrasi yodium A
µg/l urin dan kadar kreatinin B g/l. maka kadar yodium A/B µg/g kreatinin.

Batasan dan klasifikasi pemeriksaan kadar yodium dalam urin :


Suatu daerah dianggap endemis berat bila rata-rata ekskresi yodium dalam urin
lebih rendah dari 25 µg yodium/gram kreatinin., endemik sedang bila ekskresi
yodium dalam urin 25-50 µg iodium/gram kreatinin. Anak sekolah dapat
digunakan sebagai target penelitian karena prevalensi GAKI pada anak sekolah
umumnya menggambarkan prevalensi yang ada dalam masyarakat.
Defisiensi yodium merupakan penyebab dominan gondok endemik yang
diklasifikasikan menurut ekskresi yodium dalam urin (µg/gr kreatinin), antara lain
:
-    Tahap 1 : gondok endemik dengan rata-rata >50 µg/gram kreatinin dalam urin.
Pada keadaan ini suplai hormon tyroid cukup untuk perkembangan fisik dan
mental yang normal.
-   Tahap 2 : gondok endemik dengan rata-rata 25-50 µg/gram kreatinin dalam urin.
Pada kondisi ini sekresi hormon tyroid boleh jadi tidak cukup, sehingga
menanggung resiko hypotyroidisme, tettapi tidak sampai ke kreatinisme.
-    Tahap 3 : gondok endemik dengan rata-rata ekskresi yodium dalam urin kurang
dari 25 mg/gram kreatinin. Pada kondisi ini populasi memiliki resiko menderita
kreatinisme.

5.  Pemeriksaan Biokimia Pada Obesitas


Obesitas didefinisikan sebagai suatu kelainan yang ditandai dengan penimbunan
jaringan lemak tubuh secara berlebihan (WHO, 2000; Syarif, 2002,2003).
Obesitas adalah suatu kondisi medisi akibat akumulasi lemak tubuh yang berlebih,
yang dapat berefek kepada kondisi kesehatan yang menuju kepadanya
menurunnya tingkat hidup seseorang (Haslam DW, James WP, 2005)
Perut buncit atau obesitas sentral merupakan pertanda adanya bahaya yang
mengancam kesehatan kita. Meski tidak ada keluhan, dalam tubuh orang yang
berperut buncit sudah terjadi gangguan metabolisme yaitu Sindrom Metabolik
yang meningkatkan risiko diabetes melitus serta penyakit jantung dan pembuluh
darah. Kenali sindrom metabolik lebih dini agar kita terhindar dari bahaya
kesehatan yang lebih besar.
Obesitas atau kegemukan terjadi karena penimbunan lemak di dalam tubuh,
sehingga meningkatkan risiko terjadinya berbagai gangguan kesehatan. Banyak
penyebabnya, diantaranya faktor genetik dan lingkungan, namun perubahan pola
makan yang bergeser  ke arah makanan tinggi kalori dan perubahan pola hidup
modern yang kurang gerak atau aktivitas fisik, dituding sebagai penyebab utama
terjadinya obesitas yang kini kian meningkat.
Cara sederhana untuk menentukan terjadinya obesitas sentral adalah dengan
mengukur lingkar perut. Pengukuran dilakukan pada bagian pinggang, di antara
tulang panggul bagian atas dan tulang rusuk bagian bawah. Seseorang dikatakan
obesitas sentral bila lingkar perutnya >90 cm (untuk pria) atau >80 cm (untuk
perempuan).
Ketika ukuran lingkar perut Anda memasuki batasan obesitas sentral, biasanya
tidak menimbulkan keluhan atau gejala penyakit, tapi bisa saja sebenarnya sudah
mulai terjadi bermacam gangguan metabolisme dalam tubuh Anda (atau disebut
Sindrom Metabolik) yang di kemudian hari dapat menimbulkan masalah
kesehatan yang lebih besar seperti diabetes melitus tipe 2, penyakit jantung
koroner (PJK), hipertensi atau tekanan darah tinggi, stroke, perlemakan hati (fatty
liver), dan gagal jantung.
Pemeriksaan biokimia pada obesitas dapat dilakukan dengan pemeriksaan profil
lipid. Pemeriksaan profil lipid meliputi pemeriksaan kolesterol total, kolesterol
low density lipoprotein (LDL), kolesterol high density lipoprotein (HDL),
trigliserida. Pemeriksaan ini digunakan untuk mengetahui adanya dislipidemia
yang berhubungan dengan adanya penyakit jantung koroner. Disamping
pemeriksaan tersebut dikenal juga pemeriksaan apo B yang merupakan
apolipoprotein utama kolesterol LDL. Pemeriksaan ini berguna untuk mengetahui
resiko terhadap penyakit jantung koroner. Rasio kolesterol LDL / Apo B < 1,2
menunjukkan adanya small dense LDL.

Nilai Rujukan Profil Lipid


PARAMETER NILAI (mg/dl)
Kolesterol Total Desirable                     : 140 - 199
Borderline High          : 200 – 239
High                            : >240
Kolesterol LDL Desirable                     : <130
Borderline High          : 140 – 159
High                            : 160
Kolesterol HDL Laki – laki                   : 35 – 65
Perempuan                   : 35-80

Trigliserida Desirable                     : <150


Borderline High          : 150 – 199
High                            : 200 – 499
Very High                   : ≥ 500

Pemeriksaan lain  dapat dilakukan untuk  skrining lebih lengkap, yaitu


pemeriksaan  :
          Lingkar Pinggang
Tekanan Darah
Trigliserida
Cholesterol HDL
Glukosa Puasa
Glukosa 2 jam PP
Small Dense LDL (Apo B dan Cholesterol LDL Direk)
Adiponektin
hs-CRP
HbA1c
NT-proBNP
Albumin Urin Kuantitatif
Kreatinin
SGPT
Type IV Collagen
KEUNGGULAN DAN KELEMAHAN PEMERIKSAAN BIOKIMIA
Keunggulan :
Pemeriksaan biokimia bila dibandingkan dengan pemeriksaan lain dalam
penentuan status gizi memiliki keunggulan-keunggulan antara lain :
1.  Dapat mendeteksi defisiensi zat gizi lebih dini
2. Hasil dari pemeriksaan biokimia lebih obyektif, hal ini karena menggunakan
peralatan        yang selalu ditera dan pada pelaksanaannya dilakukan oleh tenaga
ahli
3.  Dapat menunjang hasil pemeriksaan metode lain dalam penilaian status gizi

 Kelemahan :
Selain memiliki keunggulan, pemeriksaan biokimia juga memiliki kelemahan,
diantaranya :
1.  Pemeriksaan biokimia hanya bisa dilakukan setelah timbulnya gangguan
metabolisme
2.  Membutuhkan biaya yang   cukup mahal
3.  Dalam melakukan pemeriksaan diperlukan tenaga ahli
4.  Kurang praktis dilakukan dilapangan, hal ini karena pada umumnya pemeriksaan
laboratorium memerlukan peralatan yang tidak mudah dibawa kemana-mana.
5. Pada pemeriksaan tertentu spesimen sulit untuk diperoleh, misalnya penderita
tidak bersedia diambil darahnya.
6.  Membutuhkan peralatan dan bahan yang lebih banyak dibandingkan dengan
pemeriksaan lain.
7.  Belum ada keseragaman dalam memilih reference (nilai normal). Pada beberapa
reference nilai normal tidak selalu dikelompokkan menurut nkelompok umur yang
lebih rinci.

8.  Dalam beberapa penentuan pemeriksaan laboratorium memerlukan peralatan


laboratorium yang hanya terdapat dilaboratorium pusat, sehingga didaerah tidak
dapat dilakukan.

4.      Keunggulan dan Kelemahan Pemeriksaan Biokimia


4.1  Keunggulan Pemeriksaan Biokimia
Keunggulan pemeriksaan biokimia bila dibandingkan dengan pemeriksaan lain
dalam penentuan status gizi memiliki keunggulan-keunggulan antara lain :
1.      Dapat mendeteksi defesiensi zat gizi lebih dini
2.      Hasil dari pemeriksaan biokimia lebih objektif, hal ini karena menggunakan
peralatan yang ditera dan pada pelaksanaannya dilakukan oleh tenaga ahli.
3.      Dapat menunjang hasil pemeriksaan metode lain dalam penilaian status gizi.
4.2  Kelemahan Pemeriksaan Biokimia
Selain memiliki beberpa keunggulan, pemeriksaan biokimia memiliki beberapa
kelemahan antara lain :
1.      Pemeriksaan biokimia hanya bisa dilakukan setelah timbulnya ganggua
metabolisme.
2.      Membutuhkan biaya yang cukup mahal
3.      Dalam melakukan pemeriksaan diperlukan tenaga ahli.
4.      Kurang praktis dilakukan di lapangan, hal ini karena pada umumnya
pemerikssaan laboratorium memerlukan peralatan yang tidak mudah dibawa
kemana-mana.
5.      Pada pemeriksaan tertentu spesimen sulit untuk diperoleh, misalnya penderita
tidak bersedia diambil darahnya.
6.      Membutuhkan peralatan dan bahan yang lebih banyak dibandingkan dengan
pemeriksaan.
7.      Belum ada keseragaman dalam memilih reference (nilai normal). Pada
beberapa reference nilai moral tidak selalu dikelompokkan menurut kelompok
umur yang lebih rinci.
8.      Dalam beberapa penentuan pemeriksaan laboratorium memerlukan peralatan
laboratorium yang hanya terdapat di laboratorium pusat, sehingga di daerah tidak
dapat dilakukan (Hermawan, 1991).