Anda di halaman 1dari 37

MAKALAH KEPERAWATAN MATERNITAS II

GANGGUAN MENSTRUASI (AMENOREA HIPOGONADOTROPIK,

DESMONIRE DAN ENDOMETRIOSIS)

DISUSUN OLEH :

SUHELDA ERLINA (1821018)

DOSEN PEMBIMBING :

Ns ANITA SYAFIRAH, M. Kep

PROGRAM STUDI ILMI KEPERAWATAN

STIKes TENGKU MAHARATU

PEKANBARU

2019/2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas kehadirat-Nya yang telah
dilimpahkan kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini untuk memenuhi
tugas Keperawatan Maternitas II yang berjudul “GANGGUAN MENSTRUASI (AMENOREA
HIPOGONADOTROPIK, DESMONIRE DAN ENDOMETRIOSIS)”.

Dalam proses penyusunan makalah ini tentunya penulis mengalami berbagai masalah.
Namun berkat arahan dosen mata kuliah akhirnya makalah ini dapat diselesaikan tepat pada
waktunya. Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen mata
perkuliahan, yaitu Ibu Ns ANITA SYAFIRAH, M. Kep, yang telah membimbing kami dalam
proses penyusunan makalah ini.

Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya.
Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang
membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang
berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di masa depan.

Pekanbaru, 30 April 2020

Penulis
DAFTAR ISI

COVER ...........................................................................................................1

KATA PENGANTAR....................................................................................2

DAFTAR ISI...................................................................................................3

BAB I ( PENDAHULUAN )...........................................................................5

1.1 Latar Belakang ...........................................................................................5


1.2 Rumusan Masalah.......................................................................................7

BAB II ( PEMBAHASAN )............................................................................9

2.1 Amenorea Hipogonadotropik ................................................................9

2.1.1 Definisi ...................................................................................................9

2.1.2 Faktor Yang Mempengaruhi Amenorea .................................................10

2.1.3 Klasifikasi Amenorea .............................................................................11

2.1.4 Etiologi ...................................................................................................11

2.1.5 Manifestasi Klinis ...................................................................................12

2.1.6 Patofisiologi ............................................................................................13

2.1.7 Komplikasi ..............................................................................................13

2.1.8 Pemeriksaan Penunjang ..........................................................................14

2.1.9 Terapi Penanganan Amenoera ................................................................14

2.2 Dismenore .................................................................................................17

2.2.1 Definisi ...................................................................................................17


2.2.2 Klasifikasi ...............................................................................................18

2.2.3 Etiologi ...................................................................................................19

2.2.4 Patofisiologi ............................................................................................20

2.2.5 Gambaran Klinis......................................................................................22

2.2.6 Perbedaan Antara Dismenore Primer Dan Dismenore Sekunder Menurut

Riwayat Dan Pemeriksaan Fisik.............................................................25

2.2.7 Pemeriksaan Penunjang ..........................................................................26

2.2.8 Penatalaksanaan ......................................................................................27

2.3 Endometriosis ...........................................................................................30

2.3.1 Definisi ...................................................................................................30

2.3.2 Gejala ......................................................................................................30

2.3.3 Tempat-tempat Ditemukannya Endometriosis .......................................32

2.3.4 Penanganan Endometriosis .....................................................................32

BAB III ( PENUTUP).....................................................................................35

3.1 Kesimpulan.................................................................................................35

DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................37
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Wanita normal akan mengalami siklus Menstruasi normal secara periodik sehingga
perubahan siklus mentsruasi yang tidak normal akan menggangu seorang wanita terutama
pada kondisi dimana haid atau dating bulang dating lebih sering, tidak teratur, terjadi
dalam siklus yang lebih lama, lebih pendek dan pada kondisi tertentu wanita bahkan tidak
haid sama sekali. Pada beberapa kondisi, gangguan haid bahkan dapat mengakibatkan
nyeri pada bagian perut dengan durasi panjang dan juga pendek. Gangguan ini akan
dialami alami seluruh wanita selam ahidup terutama pada masa Reproduksi, Remaja, Sisi
Peralihan dan Klimakterium.
Menurut Bobak, (2004) masa remaja disebut pula sebagai masa penghubung atau 
masa peralihan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa yang di tandai dengan
perkembangan dan perubahan fisik, mental, emosional, termasuk perubahan hormonal
yang berpengaruh pada proses terjadinya menarche (pertama kali mendapat Menstruasi).
Usia gadis remaja pada saat menarche bervariasi, yaitu antara 10 – 16 tahun, tetapi rata-
ratanya 12,5 tahun. Statistik menunjukkan bahwa usia menarche dipengaruhi oleh faktor
keturunan, keadaan gizi, dan kesehatan umum. Dikatakan menacrhe dini (menarche
prekoks) apabila menarche terjadi sebelum usia 10 tahun disertai dengan munculnya tanda-
tanda seks sekunder sebelum usia 8 tahun. Dalam hal ini hipofisis oleh sebab yang belum
diketahui memproduksi hormon gonadotropin  sebelum waktunya (Wiknjosastro, 2012).
Saat umur wanita di atas umur 16 tahun belum mengalami menstruasi ataupun pada
wanita yang sudah mengalami menstruasi tetapi setelah itu tidak mengalami menstruasi
kembali, maka kemungkinan wanita tersebut mengalami Amenorrhea.
Dalam tulisan ini, penulis akan membahas mengenai apa yang dimaksud  Amenorrhea,
yang merupakan salah satu gangguan siklus menstruasi, klasifikasinya, bagaimana gejala
klinisnya, apa penyebabnya, sampai kepada pengobatan.
Kesehatan reproduksi adalah suatu keadaan sejaktera fisik, mental dan social secara
utuh, tidak semata-mata bebas dari penyakit atau kecacatan dalam semua hal yang
berkaitan dengan system reproduksi. ( Azwar,2001).
Indonesia diperkirakan 55% perem[uan usia produktif yang tersiksa oleh nyeri selama
haid. (Anomim,2008). Angka kejadian Dismenore tipe primer di Indonesia adalah sekitar
54,89% sedangkan sisanya adalah penderita dengan tipe sekunder.
Setiap bulan, secara periodic, seseorang wanita normal mengalami mentruasi. Di
dalam mentruasi, terkadang disertai nyeri haid (Disminore). Disminore adalah nyeri haid
yang merupakan suatu gejala dan bukan suatu penyakit tumbul akibat kontraksi disritmik
miomentrium yang menampilkan satu atau lebih gejala mulai dari ringan  sampai berat
pada perut bagian bawah, bokong, dan nyeri spamodik pada sisi medial paha. (Nurmasitoh,
2008).
Beberapa tahun yang lalu, nyeri haid hanya dianggap sebagai penyakit psikosomatik.
Akan tetapi, karena keterbukaan informasi dan pesatnya ilmu pengatahuan berkembang,
nyeri haid mulai banyak di bahas. Banyak ahli  yang telah menyumbangkan pikiran dan
temuannya untuk mengatasi nyeri haid.
Dahulu, wanita yang menderita nyeri haid hanya bias menyembunyikan rasa sakitnya
tanpa mengetahui apa yang harus dilakukannya dan kemana ia harus mengadu. Keadaan itu
diperburuk oleh orang di sekitar mereka yang menganggap bahwa nyeri haid adalah rasa
sakit yang dibuat-buat oleh wanita bahkan beberapa orang menganggap bahwa wanita yang
menderita nyeri haid hanyalah wanita yang mencari perhatian atau kurang diperhatikan.
Anggapan seperti ini sudah mulai hilang beberapa tahun yang lalu. Sekarang baru di
ketahui bahwa nyeri haid adalah  konisi medis yang nyata yang diderita wanita. Banyak
metode yang telah dikembangkan oleh ahli dibidangnya yang bertujuan untuk mengatasi
nyeri haid.
Endometriosis disebabkan oleh jaringan endometrium atau selaput lendir rahim bagian
dalam yang setiap bulan luruh menjadi darah haid. Darah yang luruh ini seharusnya hanya
keluar lewat vagina dan sebagian kecil darah “tumpah“ melalui saluran telur ke dalam
rongga abdomen atau rongga perut.Seharusnya tubuh bisa menyerap darah yang luruh ini.
Namun beberapa hal seperti faktor genetik dan faktor lingkungan menyebabkan turunnya
kemampuan sistem pertahanan tubuh. Sehingga darah tidak diserap secara maksimal.
Endometriosis selama kurang lebih 30 tahun terakhir ini menunjukkan angka kejadian
yang meningkat. Angka kejadian antara 5-15% dapat ditemukan antara semua operasi
pelvic. Endometriosis jarang didapatkan pada orang-orang Negro, dan lebih sering
didapatkan pada wanita-wanita dari golongan social-ekonomi yang kuat. Yang menarik
perhatian ialah bahwa endometriosis lebih sering ditemukan pada wanita yang tidak kawin
pada umur muda dan yang tidak mempunyai banyak anak. Rupanya fungsi ovarium secara
siklis yang terus menerus tanpa diselingi oleh kehamilan, memengang peranan dalam
terjadinya endometriosis. (Prawihardjo, Ilmu Kandungan, 2010, Hal 317)
Endometriosis terjadi pada dua pertiga remaja yang mengalami nyeri yang bermakna
saat menstruasi. Remaja merupakan 8% wanita yang menderita endometriosis. Dari
remaja-remaja yang menderita endometriosis, 10% nya mengalami obstruksi congenital
aliran keluar menstruasi. Gejala-gejala yang paling mengarah ke endometriosis pada
kelompok umur ini adalah peningkatan dismenorea yang didapat, nyeri panggul kronis,
perubahan usus saat menstruasi dan perdarahan vagina abnormal. Karena itu, pemeriksaan
laparoskopi untuk diagnostic harus dipertimbangkan pada remaja yang benar-benar
menunjukkan gejala. Pada kasus yang jarang, dapat terjadi endometriosis pascamenopause
yang disebabkan oelh penggunaanestrogen eksogen yang tidak teratur. (Buku Saku
Obstetri dan Ginekologi, 2009, Hal  670)
Endometriosis bisa diturunkan dan lebih sering ditemukan pada keturunan pertama
(ibu anak perempuan, saudara perempuan). Endometriosis yang berat bisa menyebabkan
kemandulan karena menghalangi jalannya sel telur dari ovarium ke Rahim.

1.3 RUMUSANMASALAH
Berdasarkan uraian yang ditunjukkan pada latar belakang maka makalah ini disusun
dengan rumusan masalah sebagai berikut: 
1. Apa definisi amenorea ?.
2. Apa saja faktor yang mempengaruhi amenorea ?.
3. Apa saja klasifikasi amenorea ?.
4. Apa saja etiologi amenorea ?.
5. Bagaimana saja manifestasi klinis amenorea ?.
6. Bagaimana patofisiologi amenorea ?.
7. Apa saja komplikasi amenorea ?.
8. Bagaimana pemeriksaan penunjang amenorea ?.
9. Bagaimana terapi penanganan amenorea ?.
10. Apa definisi dismenore ?.
11. Apa saja klasifikasi dismenore ?.
12. Bagaimana etiologi dismenore ?.
13. Bagaimana patofisiologi dismenore ?.
14. Bagaimana gambaran klinis dismenore ?.
15. Apa saja perbedaan antara dismenore primer dan sekunder menurut riwayat dan
pemeriksaan fisik ?.
16. Bagaimana pemeriksaan penunjang dismenore ?.
17. Apa saja penatalaksanaan dismenore ?.
18. Apa definisi endometriosis ?.
19. Apa saja gejala endometriosis ?.
20. Dimana saja tempat-tempat ditemukannya endometriosis ?.
21. Bagaimana penanganan endometriosis ?.
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 AMONOREA HIPOGONADOTROPI

2.1.1 DEFENISI

Haid (Menstruasi) adalah perdarahan secara periodik dan siklik dari uterus, disertai
pelepasan (deskuamasi) endometrium. Panjang siklus  Menstruasi ialah jarak antara
tanggal mulainya Menstruasi yang lalu dan mulainya Menstruasi berikutnya. Hari
mulainya perdarahan dinamakan hari pertama siklus. Panjang siklus Menstruasi yang
normal atau dianggap sebagai siklusMenstruasi yang klasik ialah 28 hari, tetapi
variasinya cukup luas, bukan saja antara beberapa wanita tetapi juga pada wanita yang
sama. Juga pada kakak beradik bahkan saudara kembar, siklusMenstruasi tidak terlalu
sama. Dari pengamatan Hartman yang dikutip dari  Wiknjosastro (2012), panjang siklus
yang biasa dijumpai ialah 25 – 32 hari.Lama Menstruasi biasanya antara 3 – 5 hari, ada
yang 1 – 2 hari diikuti darah sedikit-sedikit kemudian, ada yang sampai 7 – 8 hari. Pada
setiap wanita biasanya lama Menstruasi itu tetap. Jumlah darah yang keluar rata-rata ± 16
cc. Pada wanita yang lebih tua biasanya darah yang keluar lebih banyak. Jumlah darah
Menstruasi yang lebih dari 80 cc di anggap patologik (Wiknjosastro, 2012).

Amenorrhea adalah keadaan tidak adanya haid untuk sedikitnya 3 bulan berturut-
turut. Lazim diadakan pembagian antara amenorrhea primer dan amenorrhea sekunder.
Kita berbicara tentang amenorrhea primer apabila seorang wanita berumur 18 tahun
keatas tidak pernah mendapat haid, sedang pada amenorrhea sekunder penderita pernah
mendapat haid, tetapi kemudian tidak  dapat lagi (Wiknjosastro,2008).

Amenorrhea adalah tidak ada atau berhentinya menstruasi secara abnormal yang
diiringi penurunan berat badan akibat diet penurunan berat badan dan nafsu makan tidak
sehebat pada anoreksianervosa dan tidak disertai problem psikologik (Kumala, 2005).
2.1.2  FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI AMENOREA
1. Faktor Internal
a. Organ Reproduksi
Faktor yang mempengaruhi amenorrhea adalah vagina tidak tumbuh dan
berkembang dengan baru, rahim yang tidak tumbuh, indung telur yang tumbuh.
Tidak jarang ditemukan kelainan lebih kompleks pada rahim atau rahim tidak
tumbuh dengan sempurna. Kelainan ini disebut ogenesis genitalis bersifat
permanen artinya wanita tersebut tidak akan mendapatkan haid selama-lamanya.
(Pardede,2002).
b. Hormonal
Alat reproduksi wanita merupakan alat akhir (endogen) yang dipengaruhi oleh
sistem hormonal yang komplek. Rangsangan yang datang dari luar masuk dipusat
panca indra diteruskan melalui Striaeterminalis menuju pusat yang disebut
“Puberitas Inhibitor” dengan hambatan tersebut tidak terjadi rangsangan terhadap
hypotalamus, yang akan memberikan rangsangan pada “Hipofise Pars Posterior”
sebagai “Mother of Glad” (Pusat kelenjar-kelenjar). Rangsangan yang terus
menerus datang di tangkap panca indra, dengan makin selektif dapat lolos menuju
hypotalamus dan selanjutnya terus menuju hipofise anterior (depan)
mengeluarkan hormon yang dapat merangsang kelenjar untuk mengeluarkan
hormon yang dapat merangsang kelenjar untuk mengeluarkan hormon spesifiknya
yaitu kelenjar tyroid memproduksi hormon tiroksin, kelenjar indung telur
memproduksi hormon estrogen dan progesteron, sedangkan kelenjar adrenal
menghasilkan hormon adrenalin. Pengeluaran hormon spesifik sangat penting
untuk tumbuh kembang mental dan fisik (Pardede,2002).
c. Penyakit
Beberapa penyakit kronis yang menjadi penyebab terganggunya siklus haid,
Kanker payudara dan lain-lain. Kelainan ini menimbulkan berat badan yang
sangat rendah sehingga datangnya haid akan terganggu (Suhaemi, 2006).
2. Faktor Eksternal
a. Status Gizi
Kecukupan pangan yang esensial baik kualitas maupun kuantitas sangat penting
untuk siklus menstruasi. Setiap orang dalam siklus hidupnya selalu membutuhkan
dan mengkonsumsi berbagai bahan makanan yang mengandung zat gizi. Zat gizi
mempunyai nilai yang sangat penting yaitu untuk memelihara proses tubuh dalam
pertumbuhan dan perkembangan (Soetjiningsih,2004).
b. Gaya Hidup
Gaya hidup terutama perilaku makan dengan porsi yang cukup dan sesuai jadwal
serta mengandung gizi seimbang ( 4 sehat 5 sempurna) dapat menyebabkan
kondisi tubuh terasa fit dan terhindar dari kekurangan gizi sehingga siklus
menstruasi berjalan normal (Soetjiningsih, 2002).

2.1.3 KLASIFIKASI AMENORRHEA


Klasifikasi amenorrhea adalah sebagai berikut :
1. Amenorrhea primer
Amenorrhea primer mengacu  pada masalah ketika wanita muda yang berusia lebih
dari 16 tahun belum mengalami menstruasi tetapi telah menunjukkan maturasi
seksual, atau menstruasi mungkin tidak terjadi sampai usia 14 tahun tanpa disertai
adanya karakteristik seks sekunder.
2. Amenorrhea sekunder 
Amenorrhea sekunder adalah tidak adanya haid selama 3 siklus atau 6 bulan setelah
menstruasi normal pada masa remaja, biasanya disebabkan oleh gangguan emosional
minor yang berhubungan dengan berada jauh dari rumah, masuk ke perguruan tinggi,
ketegangan akibat tugas-tugas. Penyebab kedua yang paling umum adalah kehamilan,
sehingga pemeriksaan kehamilan harus dilakukan.

2.1.4 ETIOLOGI
Penyebab Amenorrhea secara umum adalah:
1. Hymen Imperforata : Selaput darah tidak berlubang sehingga darah menstruasi
terhambat untuk keluar.
2. Menstruasi Anavulatori : Rangsangan hormone – hormone yang tidak mencukupi
untuk membentuk lapisan dinding rahim sehingga tidak terjadi haid atau hanya
sedikit.
 Disfungsi Hipotalamus : kelainan organik, psikologis, penambahan berat badan
 Disfungsi hipofise : tumor dan peradangan
 Disfungsi Ovarium : kelainan congenital, tumor
 Endometrium tidak bereaksi
3. Penyakit lain : penyakit metabolik, penyakit kronik, kelainan gizi, kelainan hepar
dan ginjal.

2.1.5 MANIFESTASI KLINIS


1. Tanda dan gejala yang muncul diantaranya :
 Tidak terjadi haid
 Produksi hormon estrogen dan progesteron menurun.
 Nyeri kepala
 Badan lemah
2. Tanda dan gejala tergantung dari penyebabnya :
 Jika penyebabnya adalah kegagalan mengalami pubertas, maka tidak akan
ditemukan tanda – tanda pubertas seperti pembesaran payudara, pertumbuhan
rambut kemaluan dan rambut ketiak serta perubahan bentuk tubuh.
 Jika penyebanya adalah kehamilan, akan ditemukan morning sickness dan
pembesaran perut.
 Jika penyebabnya adalah kadar hormon tiroid yang tinggi maka gejalanya adalah
denyut jantung yang cepat, kecemasan, kulit yang hangat dan lembab.
 Sindroma Cushing menyebabkan wajah bulat ( moon face ), perut buncit, dan
lengan serta tungkai yang lurus.
3. Gejala lainnya yang mungkin ditemukan pada amenore :
 Sakit kepala
 Galaktore ( pembentukan air susu pada wanita yang tidak hamil dan tidak sedang
menyusui )
 Gangguan penglihatan ( pada tumor hipofisa )
 Penurunan atau penambahan berat badan yang berarti
 Vagina yang kering
 Hirsutisme ( pertumbuhan rambut yang berlebihan, yang mengikuti pola pria ),
perubahan suara dan perubahan ukuran payudara.

2.1.6 PATOFISIOLOGI
Disfungsi hipofise terjadi gangguan pada hipofise anterior gangguan dapat berupa
tumor yang bersifat mendesak ataupun menghasilkan hormone yang membuat menjadi
terganggu. Kelainan kompartemen IV (lingkungan) gangguan pada pasien ini disebabkan
oleh gangguan mental yang secara tidak langsung menyebabkan terjadinya pelepasan
neurotransmitter seperti serotonin yang dapat menghambat pelepasan gonadrotropin.
Kelainan ovarium dapat menyebabkan amenorrhea primer maupun sekuder.
Amenorrhea primer mengalami kelainan perkembangan ovarium (gonadal
disgenesis). Kegagalan ovarium premature dapat disebabkan kelainan genetic dengan
peningkatan kematian folikel, dapat juga merupakan proses autoimun dimana folikel
dihancurkan. Melakukan kegiatan yang berlebih dapat menimbulkan amenorrhea dimana
dibutuhkan kalori yang banyaksehingga cadangan kolesterol tubuh habis dan bahan untuk
pembentukan hormone steroid seksual (estrogen dan progesteron) tidak tercukupi.
Pada keadaaan tersebut juga terjadi pemecahan estrogen berlebih untuk mencukupi
kebutuhan bahan bakar dan terjadilah defisiensi estrogen dan progesteron yang memicu
terjadinya amenorrhea. Pada keadaan latihan berlebih banyak dihasilkan endorphin yang
merupakan derifat morfin. Endorphin menyebabkan penurunan GnRH sehingga estrogen
dan progesterone menurun. Pada keadaan tress berlebih cortikotropin realizinghormone
dilepaskan. Pada peningkatan CRH terjadi opoid yang dapat menekan pembentukan
GnRH.

2.1.7 KOMPLIKASI
Komplikasi yang paling ditakutkan adalah infertilitas. Komplikasi lainnya adalah
tidak percaya dirinya penderita sehingga dapat mengganggu kompartemen IV dan
terjadilah lingkaran setan terjadinya amenorrhea.Komplikasi lainnya muncul gejala-gejala
lain akibat hormon seperti osteoporosis.

2.1.8 PEMERIKSAAN PENUNJANG


Pada amenorrhea primer, apabila didapatkan adanya perkembangan seksual sekunder
maka diperlukan pemeriksaan organ dalam  reproduksi (indung telur, rahim, perlekatan
dalam rahim) melalui pemeriksaan :
 USG
 Histerosalpingografi
 Histeroskopi
 Magnetic Resonance Imaging (MRI).
Apabila tidak didapatkan tanda-tanda perkembangan seksualitas sekunder maka
diperlukan pemeriksan kadar hormon FSH dan LH.
 Setelah kemungkinan kehamilan disingkirkan pada amenorrhea sekunder, maka
dapat dilakukan pemeriksaan Thyroid Stimulating Hormone (TSH) karena kadar
hormon prolaktin dalam tubuh.
 Selain itu, kadar hormon prolaktin dalam tubuh juga perlu diperiksa. Apabila kadar
hormon TSH dan prolaktin normal, maka Estrogen / Progesterone Challenge Test
adalah pilihan untuk melihat kerja hormon estrogen terhadap lapisan endometrium
alam rahim. Selanjutnya dapat dievaluasi dengan MRI.

2.1.9 TERAPI PENANGANAN AMENORRHEA


Pengobatan yang dilakukan sesuai dengan penyebab dari amenorrhea yang dialami,
apabila penyebabnya adalah obesitas, maka diet dan olahraga adalah terapinya. Belajar
untuk mengatasi stress dan menurukan aktivitas fisik yang berlebih juga dapat membantu.
Terapi amenorrhea diklasifikasikan berdasarkan penyebab saluran reproduksi atas dan
bawah, penyebab indung telur, dan penyebab susunan saraf pusat.
1. Saluran Reproduksi
a. Aglutinasi labia (penggumpalan bibir labia) yang dapat diterapi dengan krim
estrogen.
b. Kelainan bawaan dari vagina, hymen imperforata (selaput dara tidak memiliki
lubang), septa vagina (vagina memiliki pembatas diantaranya). Diterapi dengan
insisi atau eksisi (operasi kecil).
c. Sindrom Mayer-Rokitansky-Kuster-Hauser,- Sindrom ini terjadi pada wanita yang
memiliki indung telur normal namun tidak memiliki rahim dan vagina atau
memiliki keduanya namunkecil atau mengerut. Pemeriksaan dengan MRI atau
ultrasonografi (USG) dapat membantu melihat kelainan ini. Terapi yang
dilakukan berupa terapi non-bedah dengan membuat vagina baru menggunakan
skin graft.
d. Sindrom feminisasi testis,- Terjadi pada pasien dengan kromosom 46, XY
kariotipe, dan memiliki dominan X-linked sehingga menyebabkan gangguan dari
hormon testosteron. Pasien ini memiliki testis dengan fungsi normal tanpa organ
dalam reproduksi wanita (indung telur, rahim). Secara fisik bervariasi dari wanita
tanpa pertumbuhan rambut ketiak dan pubis sampai penampakan seperti layaknya
pria namun infertil (tidak dapat memiliki anak)
e. Parut pada rahim,- Parut pada endometrium (lapisan rahim) atau perlekatan
intrauterine (dalam rahim) yang disebut sebagai sindrom Asherman dapat terjadi
karena tindakan kuret, operasi sesar, miomektomi (operasi pengambilan mioma
rahim), atau tuberkulosis. Kelainan ini dapat dilihat dengan histerosalpingografi
(melihat rahim dengan menggunakan foto rontgen dengan kontras). Terapi yang
dilakukan mencakup operasi pengambilan jaringan parut. Pemberian dosis
estrogen setelah operasi terkadang diberikan untuk optimalisasi penyembuhan
lapisan dalam rahim.
2. Gangguan Indung Telur
a. Disgenesis Gonadal,- Adalah tidak terdapatnya sel telur dengan indung telur yang
digantikan oleh jaringan parut. Terapi yang dilakukan dengan terapi penggantian
hormon pertumbuhan dan hormon seksual.
b. Kegagalan Ovari Prematur,- Kelainan ini merupakan kegagalan dari fungsi
indung telur sebelum usia 40 tahun. Penyebabnya diperkirakan kerusakan sel telur
akibat infeksi atau proses autoimun.
c. Tumor Ovarium,- Tumor indung telur dapat mengganggu fungsi sel telur normal.
3. Gangguan Susunan Saraf Pusat
a. Gangguan Hipofisis,- Tumor atau peradangan pada hipofisis dapat mengakibatkan
amenorrhea. Hiperprolaktinemia (Hormone prolaktin berlebih) akibat tumor, obat,
atau kelainan lain dapat mengakibatkan gangguan pengeluaran hormon
gonadotropin. Terapi dengan menggunakan agonis dopamin dapat menormalkan
kadar prolaktin dalam tubuh. Sindrom Sheehan adalah tidak efisiennya fungsi
hipofisis. Pengobatan berupa penggantian hormon agonis dopamin atau terapi
bedah berupa pengangkatan tumor.
b. Gangguan Hipotalamus,- Sindrom polikistik ovari, gangguan fungsi tiroid, dan
sindrom cushing merupakan kelainan yang menyebabkan gangguan hipotalamus.
Pengobatan sesuai dengan penyebabnya.
c. Hipogonadotropik,- Penyebabnya adalah kelainan organik dan kelainan
fungsional (anoreksia nervosa atau bulimia). Pengobatan untuk kelainan
fungsional membutuhkan bantuan psikeater.
2.2 DIMENORE
2.2.1 DEFENISI
Dismenore adalah nyeri selama menstruasi yang di sebabkan oleh kejang otot uterus.
Nyeri ini terasa di perut bagian bawah dan atau di daerah bujur sangkar Michaelis . Nyeri
dapat terasa sebelum dan sesudah haid. Dapat  bersifat kolik atau terus menerus.
Nyeri haid yang merupakan suatu gejala dan bukan suatu penyakit. Istilah
dismenorea biasa dipakai untuk nyeri haid yang cukup berat dimana penderita mengobati
sendiri dengan analgesik atau sampai memeriksakan diri ke dokter.
Dismenore adalah nyeri haid yang sedemikian hebatnya, sehingga memaksa
penderita untuk istirahat dan meninggalkan pekerjaan atau cara hidup sehari-hari untuk
beberapa jam atau beberapa hari. Patofisiologi dismenore sampai saat ini masih belum
jelas, tetapi akhir-akhir ini teori prostaglandin banyak digunakan, dikatakan bahwa pada
keadaan dismenore kadar prostaglandin meningkat. Kram, nyeri dan ketidaknyamanan
lainnya yang dihubungkan dengan menstruasi disebut juga dismenore. Kebanyakan
wanita mengalami tingkat kram yang bervariasi; pada beberapa wanita, hal itu muncul
dalam bentuk rasa tidak nyaman ringan dan letih, dimana beberapa yang lain menderita
rasa sakit yang mampu menghentikan aktifitas sehari-hari. Dismenore dikelompokkan
sebagai dismenore primer saat tidak ada sebab yang dapat dikenali dan dismenore
sekunder saat ada kelainan jelas yang menyebabkannya.  Wanita yang tidak berovulasi
cenderung untuk tidak menderita kram menstruasi; hal ini sering terjadi pada mereka
yang baru saja mulai menstruasi atau mereka yang menggunakan pil KB. Kelahiran bayi
sering merubah gejala-gejala menstruasi seorang wanita, dan sering menjadi lebih baik. 
Istilah dismenorea atau nyeri haid hanya dipakai jika nyeri haid demikian hebatnya,
sehingga memaksa penderita untuk istirahat dan meninggalkan pekerjaannya untuk
beberapa jam atau beberapa hari (Simanjuntak, 1997). Ada 2 jenis dismenorea, yaitu
dismenorea primer dan dismenorea sekunder. Pembagian dismenorea menurut Sunaryo
(1989) adalah sebagai berikut : pertama dismenorea primer atau esensial, intrinsik,
idiopatik, yang pada jenis ini tidak ditemukan atau didapati adanya kelainan ginekologik
yang nyata; yang kedua dismenorea sekunder atau ekstrinsik, yaitu rasa nyerinya
disebabkan karena adanya kelainan pada daerah pelvis, misalnya endometriosis, mioma
uteri, stenosis serviks, malposisi uterus atau adanya IUD.
Menurut Huffman (1968) menstruasi yang menimbulkan rasa nyeri pada remaja
hampir semuanya disebabkan dismenorea primer.  Dismenorea primer disebabkan karena
gangguan keseimbangan fungsional, bukan karena penyakit organik pelvis, sedangkan
dismenorea sekunder berhubungan dengan kelainan organik di pelvis yang terjadi pada
masa remaja.

2.2.2 KLASIFIKASI
Dismenore terbagi menjadi 2 , yaitu dismenore primer dan dismenore sekunder :
1. Desminore primer terjadi jika tidak ada penyakit organic, biasanya dari bulan ke-6
sampai tahun ke-2 setelah menarke. Desminore ini seringkali hilang saat berusia
25thn atau setelah wanita hamil dan melahirkan pervaginam. Faktor psikogenik dapat
mempengaruhi gejala, tetapi gejala pasti berhubungan dengan ovulasi dan tidak
terjadi saat ovulasi disupresi. Selama fase luteal dan aliran menstruasi berikutnya,
prostaglandin F2 alfa (PGF2α) disekresi. Pelepasan PGF2α yang berlebihan
meningkatkan amplitude dan frekuensi reaksiuterus dan menyebabkan vesospasme
arteriol uterus, sehingga menyebabkan iskemia dan kram abdomen bawah yang
bersifak siklik. Respon sistemik terhadap PGF2α meliputi nyeri punggung ,
kelemahan, mengeluarkan keringat, gejala saluran cerna (anoreksia, mual, muntah,
diare) dan gejala system saraf pusat  (pusing, sinkop, nyeri kepala, dan konsentrasi
buruk) (Heitkemper,dkk 1991). Penyebab pelepasan prostaglandin yang berlebihan
belum diketahui.
2. Desminore sekunder dikaitkan dengan penyakit pelvis organic, seperti endometriosis,
penyakit radang pelvis, stenosis serviks, neoplasma ovarium atau uterus dan polip
uterus. IUD juga dapat menyebabkan desminore sekunder. Desminore sekunder dapat
disalah artikan sebagai desminore primer aatau dapat rancu dengan komplikasi
kehamilan dini. Pada kasus pemeriksaan pelvis abnormal dibutuhkan evaluasi
selanjutnya untuk menentukan diagnosis. Desminore dapat timbul pada perempuan
dengan menometroragia yang meningkat. Evaluasi yang hati-hati harus dilakukan
untuk mencari kelainan dalam kavum uteri atau pelvis yang dapat menimbulkan
kedua gejala tersebut. Histeroskopi, histerosalpingogram (HSG), sonogram
transvaginal (TSV), dan laproskopi, semuanya dapat digunakan untuk evaluasi.
Pengobatak ditujukan untuk memperbaiki keadaan yang mendasarinya.

2.2.3 Etiologi
1. Dismenore Primer
Secara umum, nyeri haid timbul akibat kontraksi disritmik miometrium yang
menampilkan satu gejala atau lebih, mulai dari nyeri yang ringan sampai berat di
perut bagian bawah, bokong, dan nyeri spasmodik di sisi medial paha. 
Penyebab Dismenore Primer :
a. Faktor endokrin
Rendahnya kadar progesteron pada akhir fase korpus luteum. Menurut Novak
dan Reynolds, hormon progesteron menghambat atau mencegah kontraktilitas
uterus sedangkan hormon estrogen merangsang kontraktilitas uterus.
b. Kelainan organik
Seperti: retrofleksia uterus, hipoplasia uterus, obstruksi kanalis servikalis, mioma
submukosum bertangkai, polip endometrium.
c. Faktor kejiwaan atau gangguan psikis
Seperti: rasa bersalah, ketakutan seksual, takut hamil, hilangnya tempat berteduh,
konflik dengan kewanitaannya, dan imaturitas.
d. Faktor konstitusi
Seperti: anemia, penyakit menahun, dsb dapat memengaruhi timbulnya
dismenorea.
e. Faktor alergi
Menurut Smith, penyebab alergi adalah toksin haid. Menurut riset, ada asosiasi
antara dismenorea dengan urtikaria, migren, dan asma bronkiale.
2. Dismenore sekunder mungkin di sebabkan oleh kondisi berikut :
a. Endometriosis
b. Polip atau fibroid uterus
c. Penyakit radang panggul
d. Perdarahan uterus disfungsional
e. Prolaps uterus
f. Maladaptasi pemakaian AKDR
g. Produk kontrasepsi yang tertinggal setelah abotus spontan, abortus terauputik,
atau ,melahirkan.
h. Kanker ovarium atau uterus.

2.2.4 Pathofisiologi
1. Dismenorea primer
Dismenore primer (primary dysmenorrhea) biasanya terjadi dalam 6-12 bulan    
pertama setelah menarche (haid pertama) segera setelah siklus ovulasi teratur (regular
ovulatory cycle) ditetapkan/ditentukan. Selama menstruasi, sel-sel endometrium yang
terkelupas (sloughing endometrial cells) melepaskan prostaglandin, yang
menyebabkan iskemia uterus melalui kontraksi miometrium dan vasokonstriksi.
Peningkatan kadar prostaglandin telah terbukti ditemukan pada cairan haid (menstrual
fluid) pada wanita dengan dismenorea berat (severe dysmenorrhea). Kadar ini
memang meningkat terutama selama dua hari pertama menstruasi. Vasopressin juga
memiliki peran yang sama. Riset terbaru menunjukkan bahwa patogenesis dismenorea
primer adalah karena prostaglandin F2alpha (PGF2alpha), suatu stimulan miometrium
yang kuat (a potent myometrial stimulant) dan vasoconstrictor, yang ada di
endometrium sekretori (Willman, 1976). Respon terhadap inhibitor prostaglandin
pada pasien dengan dismenorea mendukung pernyataan bahwa dismenorea
diperantarai oleh prostaglandin (prostaglandin mediated). Banyak bukti kuat
menghubungkan dismenorea dengan kontraksi uterus yang memanjang (prolonged
uterine contractions) dan penurunan aliran darah ke miometrium. Kadar prostaglandin
yang meningkat ditemukan di cairan endometrium (endometrial fluid) wanita dengan
dismenorea dan berhubungan baik dengan derajat nyeri (Helsa, 1992; Eden, 1998).
Peningkatan endometrial prostaglandin sebanyak 3 kali lipat terjadi dari fase
folikuler menuju fase luteal, dengan peningkatan lebih lanjut yang terjadi selama
menstruasi (Speroff, 1997; Dambro, 1998). Peningkatan prostaglandin di
endometrium yang mengikuti penurunan progesterone pada akhir fase luteal
menimbulkan peningkatan tonus miometrium dan kontraksi uterus yang berlebihan
(Dawood, 1990). Leukotriene juga telah diterima (postulated) untuk mempertinggi
sensitivitas nyeri serabut (pain fibers) di uterus (Helsa, 1992). Jumlah leukotriene
yang bermakna (significant) telah dipertunjukkan di endometrium wanita dengan
dismenorea primer yang tidak berespon terhadap pengobatan dengan antagonis
prostaglandin (Demers, 1984; Rees, 1987; Chegini, 1988; Sundell, 1990; Nigam,
1991). Hormon pituitari posterior, vasopressin, terlibat pada hipersensitivitas
miometrium, mereduksi (mengurangi) aliran darah uterus, dan nyeri (pain) pada
penderita dismenorea primer (Akerlund, 1979). Peranan vasopressin di endometrium
dapat berhubungan dengan sintesis dan pelepasan prostaglandin.
2.  Dismenorea Sekunder
Dismenorea sekunder (secondary dysmenorrhea) dapat terjadi kapan saja setelah
menarche (haid pertama), namun paling sering muncul di usia 20-an atau 30-an,
setelah tahun-tahun normal, siklus tanpa nyeri (relatively painless cycles).
Peningkatan prostaglandin dapat berperan pada dismenorea sekunder, namun, secara
pengertian (by definition), penyakit pelvis yang menyertai (concomitant pelvic
pathology) haruslah ada. Penyebab yang umum termasuk: endometriosis,
leiomyomata (fibroid), adenomyosis, polip endometrium, chronic pelvic
inflammatory disease, dan penggunaan peralatan kontrasepsi atau IUD (intrauterine
device). Karim Anton Calis (2006) mengemukakan sejumlah faktor yang terlibat
dalam patogenesis dismenorea sekunder. Kondisi patologis pelvis berikut ini dapat
memicu atau mencetuskan dismenorea sekunder :
a. Endometriosis
b. Pelvic inflammatory disease
c. Tumor dan kista ovarium
d. Oklusi atau stenosis servikal
e. Adenomyosis
f. Fibroids
g. Uterine polyps
h. Intrauterine adhesions
i. Congenital malformations (misalnya: bicornate uterus, subseptate uterus)
j. Intrauterine contraceptive device
k. Transverse vaginal septum
l. Pelvic congestion syndrome
m. Allen-Masters syndrome

2.2.5 GAMBARAN KLINIS


Menurut Harlow (1996), juga terdapat faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan
terjadinya dismenorea yang berat (severe episodes of dysmenorrhea) :
1. Menstruasi pertama pada usia amat dini (earlier age at menarche)
2. Periode menstruasi yang lama (long menstrual periods)
3. Aliran menstruasi yang hebat (heavy menstrual flow)
4. Merokok (smoking)
5. Riwayat keluarga yang positif (positive family history)

a. Dismenore Primer
1) Deskripsi perjalanan penyakit :
a) Dismenore muncul berupa serangan ringan, kram pada bagian tengah,
bersifat spasmodis yang dapat menyebar ke punggung atau paha bagian
dalam.
b) Umumnya ketidaknyamanan di mulai 1-2 hari sebelu menstruasi, namun
nyeri yang paling berat selama 24 jam pertama menstruasi dan mereda pada
hari kedua.
c) Dismenore kerpa di sertai efek samping seperti :
 Muntah
 Diare
 Sakit kepala
 Sinkop
 Nyeri kaki
2) Karakteristik dan faktor yang  berkaitan :
a) Dismenore primer umumnya di mulai 1-3 tahun setelah menstruasi.
b) Kasus ini bertambah berat setelah beberapa tahun samapai usia 23- 27
tahun, lalu mulai mereda.
c) Umumnya terjadi pada wanita nulipara  , kasus ini kerap menuntun
signifikasi setelah kelahiran anak.
d) Lebih sering terjadi pada wanita obesitas.
e) Dismenore berkaitan dengan aliran menstruai yang lama.
f) Jarang terjadi pada atlet.
g) Jarang terjadi pada wanita yang memiliki siklus menstruasi yang tidak
teratur.
h) Nulliparity (belum pernah melahirkan anak)
i) Usia saat menstruasi pertama <12 tahun
b. Dismenore sekunder
1) Indikasi
a) Dismenore di mulai setelah usia 20 tahun
b) Nyeri berdifat unilateral.
2) Faktor yang berhubungan sebagai penyebab
a) PRP
 Awitan akut
 Dispraurenia
 Nyeri tekan asala palpasi dan saat bergerak
 Massa adneksia yang dapat teraba
b) Endometriosis
 Dispsreunia siklik
 Intensitas nyeri samakin meningkat sepanjang menstruasi (tidak terjadi
sebelum menstruasi dan tidak berakhior dalam beberapa jam, seperti
pada kasus dismenore primer).
 Nyeri yangh menetap bukannya kram dan mungkin spesifik pada sisi
lesi.
 Kadang di temukan nodul yang mungkin teraba selama pemeriksaan.
c) Fibriliomioma dan polip uterus
 Awitan dismenore sekunder lebih lambat pada tahun reproduksi dari
pada dismenore primer.
 Disertai perubahan dalam aliran menstruasi.
 Nyeri kram
 Fibroleimioma yang dapat teraba
 Polip yang bisa atau menonjol pada serviks.
d) Prolaps uterus
 Awitan dismenore sekunder lebih lambat pada tahun-tahu reproduktif
dari pada dismenore primer.
 Lebih umum terjadi pada pasian multipara.
 Nyeri punggung awalnya di mulai saat pramenstruasi dan menetap
sepanjang menstruasi.
 Disertai disparunia dan nyeri panggul yang dapata di pulihkan dengan
posisi terlentang, atau lutut-dada.
 Sistokel dan inkontennesia urine terjadi bersamaan.

Tanda gejala umum yang paling sering muncul yaitu :


 Nyeri pada daerah supra pubis seperti cram, menyebar sampai area lumbrosacral.
 Sering disertai nausea, muntah
 Diare
 Kelelahan
 Nyeri kepala
 Emosi labil

Perbandingan gejala Dismenore Primer dengan Dismenore Sekunder :


1. Dismenore Primer
 usia lebih muda
 timbul segera setelah terjadinya siklus haid yang teratur
 sering pada nulipara
 nyeri sering terasa sebagai kejang uterus dan spastik
 nyeri timbul mendahului haid, meningkat pada dan meningkat bersamaan hari
pertama dan kemudian dengan keluarnya darah haid
 sering memberikan respons - sering memerlukan tindakan terhadap pengobatan
medika dakan operatif mentosa
 sering disertai mual, muntah, - tidak diare, kelelahan dan nyeri kepala
2. Dismenore Sekunder
 usia lebih tua
 tidak tentu
 tidak berhubungan dengan paritas
 nyeri terus-menerus
 nyeri mulai pada saat haid menghilang bersamaan haid dengan keluarnya darah
haid.

2.2.6. PERBEDAAN ANTARA DISMENORE PRIMER DAN SEKUNDER MENURUT


RIWAYAT DAN PEMERIKSAAN FISIK
1. Riwayat
a. Riwayat menstruasi
 Awitan menarke
 Awitan dismenore yang berkaitan dengan minarke
 Frekuensi dan keteraturan siklus
 Lama dan jumlah aliran menstruasi
 Hubungan antara dismenore dengan siklus dan aliran menstruasi.
b. Deskripsi nyeri
 Awitan yang terkait dangan masa menstruasi
 Rasa kram spasmodic atau menetap
 Lokasi menyeluruh atau spesifik
 Unilateral atau seluruh abdomen bagian bawah
 Lokasi pada abdomen bagian bawah, punggung atau paha.
 Memburuk saat palpasi atau bergerak
c. Gejala yang berkaitan
 Gejala ekstragenetalia
 Dispareunia- konstan atau bersiklus yang berhubungna dengan silus
menstruasi.
d. Riwayat obstetri-paritas
e. Pemasangan AKDR
f. Riwayat kondisi yang mungkin mengakibatkan dismenore sekunder.
2. Pemeriksaan fisik
a. Pencatatan usia dan berat badan
b. Pemeriksaan speculum
 Observasi ostiumm uteri untuk mendeteksi polip.
 Catat warna atau bau yang tidak biasa dari rabas vagina , lakukan
pemeriksaan sediaan basah.
 Persiapkan uji kultur serviks, kultur IMS, dan uji darah bila perlu,
berdasarkan riwayat pasien.
c. Pemeriksaan bimanual
 Catat nyeri tekan akibat gerakan serviks
 Catat ukuran bentuk dan konsestensi uterus, periksa adanya fibroid.
 Catat setiap masa atau nodul pada adneksa, terutama nyeri unilateral.
 Catat bila terdapat sistokel atau prolaps uterus.

2.2.7 PEMERIKSAAN PENUNJANG


Pemerikasaan Penunjang Pemeriksaan laboratorium dapat dilakukan untuk
menunjang penegakan diagnosa bagi penderita Dismenorea atau mengatasi gejala yang
timbul. Pemeriksaan berikut ini dapat dilakukan untuk menyingkirkan penyebab organik
dismenorea:
1. Cervical culture untuk menyingkirkan
sexually transmitted diseases.
2. Hitung leukosit untuk menyingkirkan
infeksi.
3. Kadar human chorionic gonadotropin untuk
menyingkirkan kehamilan ektopik.
4. Sedimentation rate.
5. Cancer antigen 125 (CA-125) assay: ini
memiliki nilai klinis yang terbatas dalam mengevaluasi wanita dengan dismenorea
karena nilai prediktif negatifnya yang relatif rendah.
6. Laparoscopy
7. Hysteroscopy
8. Dilatation
9. Curettage
10. Biopsi
11. Endomentrium

2.2.8 Penatalaksanaan
a. Dismenore primer
1. Latihan
a) Latihan moderat, seperti berjalan atau berenang
b) Latihan menggoyangkan panggul
c) Latihan dengan posisi lutut di tekukkan ke dada, berbaring telentang atau
miring.
2. Panas
a) Buli-buli panas atau botol air panas yang di letakkan pada punggung atau
abdomen bagian bawah
b) Mandi air hangat atau sauna
3. Orgasme yang mampu menegakkan kongesti
panggul.(peringatan  : hubungan seksual tanpa orgasme, dapat meningkatkan
kongesti panggul.
4. Hindari kafein yang dapat meningkatkan pelepasan
prostaglandin
5. Pijat daerah punggung, kaki , atau betis.
6. Istirahat
7. Obat-obatan
 Kontrasepsi oral menghambat ovulasi sehingga meredakan gejala
 Mirena atau progestasert AKDR dapat mencegah kram.
 Obat pilhan adalah ibuprofen, 200-250 mg, diminum peroral setiap 4-12 jam,
tergantung dosis, namun tidak melebihi 600 mg dalam 24jam.
 Aleve (natrium naproksen) 200mg juga bisa di minum peroral setiap 6 jam.
8. Terapi Komplementer
 Biofeedback
 Akupuntur
 Meditasi
 Black cohos
b. Dismenore sekunder
1. PRP
a) PRP termasuk endometritis, salpoingitis, abses tuba ovarium, atau peritonitis
panggul.
b) Organisme yang kerap menjadi penyebab meliputi Neisseria Gonnorrhoea
dan C. thrachomatis, seperti bakteri gram negative, anaerob, kelompok B
streptokokus, dan mikoplasmata genital. Lakukan kultur dengan benar.
c) Terapi anti biotic spectrum-luas harus di berikan segera saat diagnosis di
tegakkan untuk mencegah kerusakan permanen (mis, adhesi, sterilitas).
Rekomendasi dari center for disease control and prevention (CDC) adalah
sebagai berikut :
 Minum 400 mg oflaksasin per oral 2 kali/hari selama 14 hahri, di
tambah 500 mg flagyl 2 kali/hari selama 14 hari.
 Berikan 250mg seftriakson IM 2 g sefoksitin IM, dan 1g probenesid
peroral di tambah 100 mg doksisiklin per oral , 2 kali/ hari selama 14
hari.
 Untuk kasus yang serius konsultasikan dengan dokter spesialis
mengenai kemungkinan pasien di rawat inap untuk di berikan
antibiotic pe IV.
d) Meskipun efek pelepasan AKDR pada respons pasien terhadap terpi masih
belum di ketahui, pelepasan AKDR di anjurkan.
2. Endometriosis
a) Diagnosis yang jelas perlu di tegakkan melalui laparoskopi
b) Pasien mungkin di obati dengan pil KB, lupron, atau obat-obatan lain sesuai
anjuran dokter.
3. Fibroid dan polip uterus
a) Polip serviks harus di angkat
b) Pasien yang mengalami fibroleomioma uterus simtomatik harus di rujuk ke
dokter.
4. Prolaps uterus
a) Terapi definitive termasuk histerektomi
b) Sistokel dan inkonmtenensia strees urine yang terjadi bersamaan dapat di
ringankan dengan beberapa cara berikut :
 Latihan kegel
 Peralatan pessary dan introl untuk reposisi dan mengangkat kandung
kemih.
2.3 ENDOMETRIOSIS
2.3.1 DEFINISI
Endometriosis adalah adanya kelenjar dan stroma endometrium di luar  uterus, paling
sering mengenai ovarium atau permukaan peritoneum viseralis yang mengantung.
Meskipun jinak, endometriosis bersifat progresif, cenderung kambuh dan dapat
mengivansi secara lokal, dapat memiliki banyak fokus yang tersebar luas (jarang), dan
dapat terjadi dalam nodus limfe pelvis (30%). (Buku Saku Obstetri dan Ginekologi, 2009,
Hal  666).
Endometriosis adalah satu keadaan di mana jaringan endometrium yang masih
berfungsi terdapat di luar kavum uteri. Jaringan ini yang terdiri atas kelenjar-kelenjar dan
stroma, terdapat di dalam miometrium ataupun di luar uterus.  (Prawihardjo, Ilmu
Kandungan, 2010, Hal 314).
Endometriosis adalah radang yang terkait dengan hormon estrogen berupa
pertumbuhan jaringan endometrium yang disertai perambatan pembuluh darah, hingga
menonjol keluar rahim dan menyebabkan pelvic pain.
(http://id.wikipedia.org/wiki/Endometriosis)

2.3.2 GEJALA ENDOMETRIOSIS


1. Dismenorea
Dismenorea adalah nyeri perut bawah yang progresif dan dekat paha yang terjadi pada
dan selama haid. Dismonorea pada endometriosis biasanya merupakan rasa nyeri
waktu haid yang semakin lama semakin menghebat. Sebab dari dismenorea ini tidak
diketahui, tetapi mungkin adanya hubungan dengan vaskularisasi dan perdarahan
dalam sarang endometriosis pada waktu sebelum dan semasa haid. Nyeri  tidak selalu
didapatkan pada endometriosis walaupun kelainan sudah luas, sabaliknya kelainan
ringan dapat menimbulkan gejala nyeri yang keras. (Prawihardjo, Ilmu Kandungan,
2010, Hal 318)
2. Dispareunia
Dispareunia adalah nyeri ketika melakukan hubungan
seksual. (http://id.wikipedia.org/wiki/Endometriosis)
Dispareunia yang merupakan gejala yang sering dijumpai, disebabkan oleh karean
adanya endometriosis di kavum Douglasi. (Prawihardjo, Ilmu Kandungan, 2010, Hal
318)
3. Nyeri waktu defekasi, khusunya
pada waktu
Defekais yang sukar dan sakit terutama pada waktu haid, disebabkan oleh karena
adanya endometriosis pada dinding rektosigmoid. Kadang-kadang bisa terjadi stenosis
dari lumen usus besar tersebut. Endometriosis kandung kencing jarang terdapat,
gejala-gejalanya ialah gangguan miksi dan hematuria pada waktu haid. (Prawihardjo,
Ilmu Kandungan, 2010, Hal 318)
4. Polimenorea dan hioermenorea
Polimenorea adalah panjang siklus haid yang memendek dari panjang siklus haid yang
klasik, yaitu kurang dari 21 hari per siklusnya, sementara volume pendarahannya
kurang lebih sama atau lebih banyak dari volume pendarahan haid biasa.(H. Hendrik,
2006, Hal 122). Hipermenorea adalah perdarahan haid yang banyak dan lebih lama
dari normal, yaitu 6-7 hari dan ganti pembalut 5-6 kali perhari.
(http://yunitadianhusada.blogspot.com/p/hipermenorea.html). Gangguan haid dan
siklusnya dapat terjadi pada endometriosis apabila kelainan pada ovarium demikian
luasnya sehingga fungsi ovulasi terganggu. (Prawihardjo, Ilmu Kandungan, 2010,
Hal 318).
5. Infertilitas
Infertilitas adalah keadaan di mana seseorang tidak dapat hamil secara alami atau tidak
dapat menjalani kehamilannya secara utuh. (http://asuh.wikia.com/wiki/Infertilitas)
Tiga puluh sampai empat puluh persen wanita dengan endometriosis menderita
infertilitas. Menurut Rubin kemungkinan untuk hamil pada wanita dengan
endometriosis ialah kurang lebih separuh wanita biasa. Faktor penting yang
menyebabkan infertilitas pada endometriosis ialah apabila mobilitas tuba terganggu
karena fibrosis dan perlekatan jaringan di sekitarnya.(Prawihardjo, Ilmu Kandungan,
2010, Hal 318)

2.3.3 TEMPAT-TEMPAT DITEMUKANNYA ENDOMETRIOSIS


Pada endometriosis jaringan endometrium ditemukan di luar kavum uteri dan di luar
miometrium. Menurut urutan yang tersering endometriosis di temukan ditempat-tempat
sebagai berikut :
1. Ovarium
2. Peritoneum dan ligamentum sakrouterinum,  kavum Douglasi; dinding belakang
uterus, tuba Fallopii, plika vesikounterina, logamentum rotondum dan sigmoid.
3. Septum rektovaginal
4. Kanalis ingunalis
5. Apendiks
6. Umbilicus
7. Serviks uteri, vagina, kandung kencing, vulva, perineum
8. Parut laparotomy
9. Kelenjar limfe
10. Walaupun sangat jarang, endometriosis dapat ditemukan dilengan, paha, pleura, dan
perikardium. (Prawihardjo, Ilmu Kandungan, 2010, Hal 316) 

2.3.4 Penaganan Endometriosis


Penanganan endometriosis terdiri atas pencegahan, observasi, terapi hormonal,
pembedahan dan radiasi.
1. Pencegahan
Bila disminorea yang berat terjadi pada seorang pasien muda, kemungkinana
bermacam-macam tingkat sumbatan pada aliran haid harus
dipertimbangkan.kemungkinan munculnya suatu tanduk rahim yang tumpul pada
rahimbikornuata atau sebuah sumbatan septum rahim atau vaginal harus
diingat.dilatasi serviks untuk memungkinkan pengeluaran darah haid yang lebih
mudah pada pasien dengan tingkat disminorea  yang hebat.( Moore, Hacker.2001)
Kemudian, adapula pendapat dari Meigs. Meigs berpendapat bahwa kehamilan
adalah pencegahan yang paling baik untuk endometriosis. Gejala- gejala endometriosis
memang berkurang pada waktu dan sesudah kehamilan karena regresi endometrium
dalam sarang-sarang endometriosis. Maka dari itu perkawinan hendaknya jangan
ditunda terlalu lama dan diusahakan secepatnya memiliki anak yang diinginkan dalam
waktu yang tidak terlalu lama. Sikap demikian tidak hanya merupaka profilaksis yang
baik untuk endometriosis, melainkan juga mrnghindari terjadinya infertilitas sesudah
endometrium timbul. Selain  itu juga jangan melakukan pemeriksaan yang kasar atau
kerokan saat haid, karena dapat mengalirkan darah haid dari uterus ke tuba fallopi dan
rongga panggul.(Wiknjosastro, hanifa.2007.)     
2. Observasi
pengobatan ini akan berguna bagi wanita dengan gejala dan kelainan fisik yang
ringan. Pada wanita yang agak berumur, pengawasan ini bisa dilanjutkan sampai
menopause, karena sesudah itu gejala-gejala endometriosis hilang sendiri. Dalam masa
observasi ini dapat diberi pengobatan paliatif berupa pemberian analgetik untuk
mengurangi rasa nyeri. (Wiknjosastro, hanifa.2007.)
3.    Pengobatan Hormonal
Prinsip pertama pengobatan hormonal ini adalah menciptakan lingkungan
hormone rendah estrogen dan asiklik. Kadar estrogen yang rendah menyebabkan atrofi
jaringan endometriosis. Keadaan yang asiklik mencegah terjadinya haid, yang berarti
tidak terjadi pelepasan jaringan endometrium yang normal ataupun  jaringan
endometriosis. Dengan demikian dapat dihindari timbulnya sarang endometriosis yang
baru karena transport retrograde jaringan endometrium yang lepas serta mencegah
pelepasan dan perdarahan jaringan endometriosis yang menimbulkan rasa nyeri karena
rangsangan peritoneum.
Prinsip kedua yaitu menciptakan lingkungan tinggi androgen atau tinggi
progesterone yang secara langsung dapat menyebabkan atrofi jaringan endomeetriosis.
(Wiknjosastro, hanifa.2007.)    
4.    Pembedahan
Adanya jaringan endometrium yang berfungsi merupakan syarat mutlak
tumbuhnya endometriosis. Oleh krarena itu pada waktu pembedahan,harus dapat
menentukan apakah ovarium dipertahankan atau tidak. Pada andometriosis dini , pada
wanita yang ingin mempunyai anak fungsi ovarium harus dipertahankan. Sebaliknya
pada endometriosis yang sudah menyebar luas pada pelvis, khususnya pada wanita
usia lanjut. Umumnya pada terapi pembedahan yang konservatif sarang endometriosis
diangkat dengan meninggalkan uterus dan jaringan ovarium yang sehat, dan perlekatan
sedapatnya dilepaskan. Pada operasi konservatif, perlu pula dilakukan suspensi uterus,
dan pengangkatan kelainan patologik pelvis. Hasil pembedahan untuk infertile sangat
tergantung pada tingkat endometriosis, maka pada penderita dengan penyakit berat,
operasi untuk keperluan infertile tidak dianjurkan. (Wiknjosastro, hanifa.2007)
5.    Radiasi
pengobatan ini bertujuan menghentikan fungsi ovarium, tapi sudah tidak
dilakukan lagi, kecuali jika ada kontraindikasi terhadap pembedahan. (Wiknjosastro,
hanifa.2007.)
BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Amenorrhea adalah istilah medis untuk tidak adanya periode menstruasi, baik secara
permanen atau sementara. Amenorrhea dapat diklasifikasikan sebagai primer atau
sekunder. Dalam amenorrhea primer, periode menstruasi tidak pernah dimulai
(berdasarkan umur 16), sedangkan amenorrhea sekunder didefinisikan sebagai tidak
adanya menstruasi selama tiga siklus berturut-turut atau jangka waktu lebih dari enam
bulan pada wanita yang sebelumnya menstruasi. Siklus menstruasi dapat dipengaruhi oleh
banyak faktor internal seperti perubahan sementara di tingkat hormonal, stres, dan
penyakit, serta faktor eksternal atau lingkungan. 
Siklus menstruasi normal terjadi karena perubahan kadar hormon dibuat dan
dikeluarkan oleh indung telur. Ovarium merespon sinyal hormon dari kelenjar pituitari
yang terletak di dasar otak, yang, pada gilirannya, dikendalikan oleh hormon yang
diproduksi di hipotalamus otak. Pengobatannya dapat berupa pemeriksaan USG,
Histerosalpingografi, Histeroskopi, dan Magnetic Resonance Imaging (MRI).
Dismenore adalah rasa sakit yang saat menstruasi sehingga dapat menimbulkan
gangguan pekerjaan sehari-hari. Dismenorea dibagi menjadi 2 :
a. Dismenore primer              :  Nyeri mendahului menstruasi dan meningkat pada hari
pertama atau kedua menstruasi.
b. Dismenore sekunder         :  Nyeri sering terasa terus menerus dan tumpul , nyeri
dimulai dari menstruasi dan meningkat bersamaan dengan keluarnya darah.
Gejala Dismenore :
a. Sakit kepala
b. Sepresi dan menangis
c. Payudara nyeri dan bengkak
d. Rasa sakit datang secara tidak teratur
Untuk  mengatasi nyeri perut saat menstruasi yaitu dengan ‘ Relaksasi nafas dalam ‘
dan ‘ Kompres hangat ‘ .
a. Relaksasi nafas dalam       : Untuk memlihara pertukaran gas , mengurangi stress bsik
fisik maupun emosional yaitu menurunkaan rasa nyeri.
b. Kompres hangat                : untuk mengatasi atau mengurangi nyeri, dimana panas
dapat meredakan iskemia ( penyempitan pembuluh darah ) dengan menurunkan
kontraksi uterus dan melancarkan pembuluh darah sehingga dapat meredakan nyeri
dengan mengurangi ketegangan dan meningkatkan perasaan tenang,  meningkatkan
aliran menstruasi .
DAFTAR PUSTAKA

Priharjo, R (1993). Perawatan Nyeri, pemenuhan aktivitas istirahat. Jakarta : EGC hal : 87.

Yohana ,Yovita , Yesicca . Infokus : Reproduksi wanita . hal : 177

Dr . Taufan Nugroho – Ari setiawan . Kesehatan wanita , gender & permasalahannya

Baraero, Mary, dkk. 2005. Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sistem Reproduksi &
Seksualitas. Jakarta: EGC

Bobak. Lowdermik. Jensen. 2005. Buku Ajar Keperawatan Maternitas. Jakarta : EGC.

Bunner and Suddart . 2002 . Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC

Doenges, Marilynn.E. 2001. Rencana Keperawatan. Jakarta : EGC.

Dothrock, C Jane. 1999. Perencanaan Asuhan Keperawatan Perioperatif.Jakarta : EGC

Johnson. M. Maas. M. Moorhead. S. 2000. Nursing Outcome Classification


(NOC). Mosby.Philadelphia.

Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi ketiga Jilid kedua . Media


Aesculapius : Jakarta

MC.Closky.T dan Bulaceck G.2000. Nursing Intervention Classification


(NIC). Mosby.Philadelphia.

Nanda . 2012. Nursing Diagnosis : devinisi dan klasifikasi 2012-


2014. Jakarta : Philadelphia USA.

Scott, R James, dkk. 2002. Buku Saku Obstetri dan Gynekologi. Widya Medica: Jakarta.

Winkjosastro, Hanifa. 1999. Ilmu Kandungan. Jakarta : EGC.