Anda di halaman 1dari 11

LEMBAR PENGESAHAN

Laporan lengkap praktikum Biokimia dengan judul percobaan


“PENENTUAN KADAR VITAMIN C” yang disusun oleh:

Nama : Purwatiningsih

NIM : 081314014

Kelas :C

Kelompok :V

telah diperiksa dan dikoreksi oleh asisten dan koordinator asisten maka
dinyatakan diterima.

Makassar, November 2010

Koordinator Asisten Asisten

Kurnia Ramadani, S.Si Endah Dwijayanti

Mengetahui,

Dosen Penanggung Jawab

Prof. DR. Sudding, M.S


A. JUDUL PERCOBAAN

Penentuan kadar vitamin C

B. TUJUAN PERCOBAAN

Menentukan kadar vitamin C dan membandingkan jumlah volume natrium


tiosulfat yang digunakan antara sampel yang menggunakan vitamin C dengan sampel
tanpa vitamin C

C. LANDASAN TEORI

Vitamin C adalah vitamin anti-skorbat. Dijumpai dalam banyak buah-buahan,


khususnya dalam jeruk dan sayuran. Penting untuk perkembangan yang sehat bagi
semua jaringan ikat. Menambah kekebalan terhadap infek dan membantu
penyembuhan luka dan fraktur kekurangan akan vitamin ini menimbulkan
pendarahan bawah kulit (Evelyn C. Pearce, 2006 : 173).

Vitamin C sebagai anti-oksidan selain dapat memperbaiki sel tubuh dan


jaringan kulit yang rusak akibat radikal bebas. Dalam merawat kecantikan, vitamin C
memiliki peran penting dalam melancarkan peredaran darah sehingga kulit terlihat
lebih segar. Vitamin ini juga akan merangsang pembentukan kolagen kulit dan
menjaganya dari kerusakan. Vitamin C memiliki sifat sebagai water holder
(menyimpan air) sehingga mampu menjaga kelembapan kulit dan mencegah dari
kekeringan (Wikipedia, 2010 : 1).

Asam askorbat dinamakan pula sebagai vitamin C yang berupa Kristal putih,
mempunyai rasa asam, tidak berbau. Dalam larutan vitamin C mudah rusak, karena
dioksidasi oksigen udara, lebih stabil dalam bentuk kristal kering. Memiliki struktur
yang mirip dengan struktur monosakarida, mengandung gugus enediol yang
melepaskan hidrogren terbentuk dehidroaskorbat. Asam askorbat dan
dehidroaskorbat, kedua-duanya fisiologis aktif.
Kekurangan vitamin C memberikan kelainan klinis berupa skorbat memberikan
kelainan pada rongga mulut, terutama gusi, pembuluh darah kapiler dan jaringan
tulang (Hardjasasmita, Pandjita, 1991 : 90-91)

Menurut Ir. Ali Khomzan (2010), berikut ini beberapa manfaat dan vitamin C,
yaitu:

1. Vitamin C dapat memperkuat otot jantung

2. Vitamin C berperan paling melalui proses metabolism kolesterol karena dalam


proses metabolism kolesterol vitamin C dapat meningkatkan laju kolesterol
yang terbuang dalam bentuk asam empedu dan mengatur metabolism
kolesterol

3. Vitamin C dapat meningkatkan kadar HDL dan berfungsi sebagai pencakar


sehingga dapat meningkatkan pembuangna kotoran

4. Vitamin C dapat menurunkan kadar kolesterol dan trigliserida tinggi

5. Vitamin C sangat berperan dalam sintesis kolagen sehingga dapat mencegah


terserang penyakit jantung koroner
Disamping melalui konsumsi natural, vitamin C juga dapat diperoleh melalui injeksi
atau buatan (Wikipedia, 2008 : 3).

Asam askorbat nampaknya berfungsi sebagai kofaktor di dalam hidroksida


enzimatik residu prolin pada kalogen dari jaringan pengikat vertebrata, membentuk
residu 4-hidroksi-prolin. Residu hidroksi prolin ditemukan hanya pada kalogen dan
tidak ada pada protein hewan lainnya. Walaupun asam askorbat kelihatannya
berfungsi dalam pembentukan dan pertahankan komponen utama pada jaringan
pengikat hewan tingkat tinggi, tetapi masih belum dapat dipastikan bahwa fungsi ini
merupakan satu-satunya atau bahkan fungsi utama vitamin ini (Lehninger, Albert,
1982 : 298).

Sumber vitamin C yang baik adalah buah-buahan dan sayuran segar. Bagian
buah dengan kandungan vitamin C terbanyak adalah bagian kulitnya, kemudian
bagian dagingnya dan terakhir bagian bijinya (Hardjasasmita, Pandjita, 1991 : 91).

D. ALAT DAN BAHAN

1. Alat-alat yang digunakan:

1. Pipet volume 25 mL 1 buah

2. Buret 50 mL 1 buah

3. Labu Erlenmeyer 250 mL 3 buah

4. Labu semprot

5. Gelas kimia 500 mL 3 buah

6. Statif dan klem

7. Batang pengaduk

8. Mortar dan alu


9. Kaca arloji

10. Corong biasa

11. Bunsen, kasa asbes dan kaki tiga

12. Pipet tetes

13. Gelas ukur 10 mL dan 50 mL

2. Bahan-bahan yang digunakan:

1. Vitamin C

2. Aquadest

3. H2SO4 2 N

4. Iod 0,1 N

5. Na2S2O3

6. Amilum

7. Issue

8. Korek api

E. PROSEDUR KERJA

1. Sampel

1. Memasukkan 0,3 gram serbuk vitamin C ke dalam labu Erlenmeyer

2. Memasukkan aquades dingin (yang telah dipanaskan terlabih dahulu)


sebanyak 20 mL ke dalam labu Erlenmeyer

3. Menambahkan 5 mL H2SO4 2 N dan 50 mL larutan iod 0,1 N


4. Menambahkan amilum sebanyak 3 tetes sebelum titrasi

5. Menitrasi dengan larutan natrium tiosulfat 0,1 N sampai warna biru hilang
selama tiga kali titrasi

6. Menghitung jumlah volume tiosulfat yang digunakan

2. Blanko

1. Memasukkan 20 mL aquades ke dalam labu Erlenmeyer

2. Menambahkan 5 mL H2SO4 2 N dan 50 mL larutan iod 0,1 N

3. Menambahkan amilum sebanyak 3 tetes sebelum titrasi

4. Menitrasi dengan larutan natrium tiosulfat 0,1 N sampai warna biru hilang
selama tiga kali titrasi

5. Menghitung jumlah volume tiosulfat yang digunakan

3. Untuk perbandingan

1. Memasukkan 0,3 gram serbuk vitamin C ke dalam labu Erlenmeyer

2. Memasukkan 20 mL aquades dingin (yang telah dipanaskan terlabih dahulu),


5 mL H2SO4 2 N dan 50 mL larutan iod 0,1 N

3. Menitrasi dengan larutan natrium tiosulfat 0,1 N tetapi sebelumnya


ditambahkan 3 tetes amilum

4. Menghitung jumlah volume tiosulfat yang digunakan

5. Memasukkan 20 mL aquades ke dalam labu Erlenmeyer

6. Menambahkan 5 mL H2SO4 2 N dan 50 mL larutan iod 0,1 N dan 3 tetes


amilum
7. Menitrasi dengan larutan natrium tiosulfat

8. Menghitung jumlah volume tiosulfat yang digunakan

F. HASIL PENGAMATAN

1. Sampel

Vitamin C (sudah digerus) 0,3 gr + 20 mL H2O + 5 mL H2SO4 2 N + 50 mL


iod 0,1 N cokelat + amilum titrasi tio larutan kuning

(V1 = 31,5 ; V2 = 31,5 ; V3 = 31,5) mL

2. Blanko

20 mL H2O + 5 mL H2SO4 2 N + 50 mL iod 0,1 N cokelat + amilum


titrasi tio
larutan bening

(V1 = 34,8 ; V2 = 34,6 ; V3 = 35,0) mL

3. Untuk perbandingan

− Vitamin C (sudah digerus) 0,3 gr + 20 mL H2O + 5 mL H2SO4 2 N +


titrasi tio
50 mL iod 0,1 N cokelat + amilum larutan kuning (V = 95
mL)

− 20 mL H2O + 5 mL H2SO4 2 N + 50 mL iod 0,1 N cokelat +


amilum titrasi tio larutan bening (V = 101,5 mL)

G. ANALISIS DATA

Dik: Ntio = 0,1 N

N=2
Vrata2 smpl I =

= 31,5 mL

Vrata2 smpl II =

= 34,8 mL

Dik: Kadar Vit. C = ….?

Peny:

mg vit. C = (N.V)tio x

= 0,1 mek/ml x 1 ml x.

= 8,8 mg

1 mL Na2S2O3 0,1 N setara dengan 8,8 mg vit. C

Jadi, banyaknya mg vit. C dalam 1 mL tiosulfat yaitu 8,8 mg/mL

Berat praktek vit. C yaitu:

mg vit. C = VII – VI x mg vit. C dalam 1 mL tio

= (34,8 – 31,5) mL x 8,8 mg/mL

= 3,3 mL x 8,8 mg/mL

= 29,04 mg

kadar vit. C = x 100 %

= x 100 %

= 9,68 %
H. PEMBAHASAN

Tujuan dan percobaan ini yaitu untuk menentukan kadar vitamin C dan
membandingkan jumlah volume natrium tiosulfat yang digunakan antara sampel yang
menggunakan vitamin C dengan sampel tanpa vitamin C. Vitamin C merupakan
vitamin yang mudah teroksidasi, mudah larut dalam air dan mudah rusak pada
temperature tinggi.

Sebelum dilarutkan dalam air, vitamin C digerus terlebih dahulu agar menjadi
serbuk halus sehingga lebih mudah larut. Aquades akan digunakan untuk melarutkan
vitamin C dipanaskan terlebih dahulu agar tidak ada lagi zat-zat pengotor yang dapat
mengganggu jalannya reaksi dan juga aquades yang dipanaskan tidak boleh terlalu
panas karena struktur vitamin C dapat rusak akibat suhu yang tinggi

Setelah vitamin C larut dalam aquades ditambah dengan H2SO4 2 N yang


berfungsi untuk menghambat terjadinya oksidasi dengan memberi suasana asam pada
larutan karena H2SO4 merupakan asam kuat yang bila dilarutkan dalam air dapat
memperbesar konsentrasi ion H+. Dan ditambahkan juga dengan larutan iod 0,1 N
yang berfungsi untuk memutuskan ikatan rangkap antara atom C nomor 2 dan atom C
nomor 3 dengan reaksi:

Sebelum dititrasi, dilakukan penambahan amilum yang berfungsi agar tidak


terlalu banyak natrium tiosulfat yang digunakan untuk membebas iod, kemudian
melakukan titrasi dengan natrium tiosulfat sebanyak tiga kali. Berdasarkan anaisis
data diketahui volume rata-rata Na2S2O3 yang digunakan unutk sampel yaiut 31,5 mL.

Sedangkan untuk blanko tidak menggunakan vitamin C karena untuk


membandingkan jumlah volume natrium tiosulfat yang digunakan. Berdasarkan
analisis data diketahui volume rara-rata Na2S2O3 yang digunakan untuk blanko yaitu
34,8 mL.

Penggunaan Na2S2O3 lebih banyak oleh blanko dari sampel, karena iod telah
terikat oleh vitamin C, pada sampel sedangkan pada blanko tidak menggunakan
vitamin C. begitupun juga untuk perbandingan yang satu kali titrasi, sampel yang
menggunakan vitamin C lebih sedikit volume Na2S2O3 yang digunakan yaitu 95 mL
dibandingkan dengan blanko tanpa vitamin C yaitu 101,5 mL. hal ini disebabkan juga
karena iod telah terikat oleh vitamin C pada sampel.

Berdasarkan analisis data diperoleh kadar vitamin C yaitu 9,68 % yang berarti
bahwa nilai yang diperoleh jauh dari angka 100 %. Hal ini terjadi karena vitamin C
yang digunakan telah teroksidasi.

I. KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kesimpulan

Berdasarkan analisis data yang diperoleh dari hasil percobaan kadar


vitamin C yang diperoleh yaitu 9,68 %.

2. Saran

Sebaiknya praktikan lebih teliti dalam melakukan percobaan dan menutup dengan
baik vitamin C yang akan digunakan agar tidak teroksidasi
DAFTAR PUSTAKA

Evelyn, C Pearce. 2006. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta: PT.
Gramedia

Harrdjasasmita, Pantjita. 1991. Ikhtisar Biokimia Dasar A. Jakarta: FKUI

Lehninger, Albert. 2008. Dasar-dasar Biokimia Jilid I. Jakarta: Erlangga

Maeya. 2008. Manfaat Vitamin C. Online (http://maeya.blogspot.com.html) Diakses


pada tanggal 20 November 2010

Wikipedia. 2008. Penentua Kadar Vitamin C. Online (http://task-


list.blogspot.com.html) Diakses pada tanggal 20 November 2010

Wikipedia. 2010. Kandungan Vitamin C dan Manfaat Jambu Biji. Online


(http://www.deachacare.com.html) Diakses pada tanggal 20 November 2010