Anda di halaman 1dari 37

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Pembesaran prostat benigna atau lebih dikenal sebagai BPH sering diketemukan
pada pria yang menapak usia lanjut1. Istilah BPH atau benign prostatic hyperplasia
sebenarnya merupakan istilah histopatologis, yaitu terdapat hiperplasia sel-sel stroma
dan sel-sel epitel kelenjar prostat. Hiperplasia prostat benigna ini dapat dialami oleh
sekitar 70% pria di atas usia 60 tahun. Angka ini akan meningkat hingga 90% pada pria
berusia di atas 80 tahun. Meskipun jarang mengancam jiwa, BPH memberikan keluhan
dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Keadaan ini akibat dari pembesaran kelenjar
prostat atau benign prostate enlargement (BPE) yang menyebabkan terjadinya obstruksi
pada leher buli-buli dan uretra atau dikenal sebagai bladder outlet obstruction (BOO).
Obstruksi yang khusus disebabkan oleh pembesaran kelenjar prostat disebut sebagai
benign prostate obstruction (BPO). Obstruksi ini lama kelamaan dapat menimbulkan
perubahan struk-tur buli-buli maupun ginjal sehingga menyebabkan komplikasi pada
saluran kemih atas maupun bawah. Keluhan yang disampaikan oleh pasien BPH
seringkali berupa LUTS (lower urinary tract symptoms) yang terdiri atas gejala
obstruksi (voiding symptoms) maupun iritasi (storage symptoms) yang meliputi:
frekuensi miksi meningkat, urgensi, nokturia, pancaran miksi lemah dan sering terputus-
putus (intermitensi), dan merasa tidak puas sehabis miksi, dan tahap selanjutnya terjadi
retensi urine. Hubungan antara BPH dengan LUTS sangat kompleks. Tidak semua
pasien BPH mengeluhkan gangguan miksi dan sebaliknya tidak semua keluhan miksi
disebabkan oleh BPH. Banyak sekali faktor yang diduga berperan dalam
proliferasi/pertumbuhan jinak kelenjar prostat, tetapi pada dasarnya BPH tumbuh pada
pria yang menginjak usia tua dan masih mempunyai testis yang masih berfungsi normal
menghasilkan testosteron. Di samping itu pengaruh hormon lain (estrogen, prolaktin),
diet tertentu, mikrotrauma, dan faktor-faktor lingkungan diduga berperan dalam
proliferasi selsel kelenjar prostat secara tidak langsung. Faktorfaktor tersebut mampu

1
mempengaruhi sel-sel prostat untuk mensintesis protein growth factor, yang selanjutnya
protein inilah yang berperan dalam memacu terjadinya proliferasi sel-sel kelenjar prostat.
Fakor-faktor yang mampu meningkatkan sintesis protein growth factor dikenal sebagai
faktor ekstrinsik sedangkan protein growth factor dikenal sebagai factor intrinsik yang
menyebabkan hiperplasia kelenjar prostat. Terapi yang akan diberikan pada pasien
tergantung pada tingkat keluhan pasien, komplikasi yang terjadi, sarana yang tersedia,
dan pilihan pasien. Di berbagai daerah di Indonesia kemampuan melakukan diagnosis
dan modalitas terapi pasien BPH tidak sama karena perbedaan fasilitas dan sumber daya
manusia di tiap-tiap daerah. Walaupun demikian dokter di daerah terpencilpun
diharapkan dapat menangani pasien BPH dengan sebaik-baiknya. Penyusunan guidelines
di berbagai negara maju ternyata berguna bagi para dokter maupun spesialis urologi
dalam menangani kasus BPH dengan benar.

1.2. Tujuan
Setelah mempelajari konsep tentang benign prostate hyperplasia (BPH) mahasiswa
dapat
1 Mengetahui defenisi BPH
2 Mengetahui penyebab terjadinya BPH
3 Mengetahui bagaimana asuhan keperawatan pada penderita BPH

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi
Hyperplasia prostatitis benigna (benign protatic hyperplasia-BPH) adalah
pembesaran prostat yang mengenai uretra, menyebabkan gejala urinaria (Nursalam,
Fransisca B. Baticaca, 2009). Benigna prostat hiperlasia (BPH) adalah pembesaran
progresif dari kelenjar prostat (secara umum pada pria tua lebih dari 50 tahun)
menyebabkan derajat obstruksi uretral dan pembatasan aliran urinarius. (Marilyn E.
Doenges. 1999)
Benigna prostat hiperlasia (BPH) adalah kondisi patologis yang paling umum
pada pria lansia dan penyebab kedua yang paling sering untuk intervensi medis pada pria
di atas usia 60 tahun. (Brunner dan Suddarth. 2001). Benigna prostat hiperlasia (BPH)
adalah pertumbuhan dari nodul- nodul fibroadenomatosa majemuk dalam prostat.
(Sylvia A. Prince. 2005). Benigna prostat hiperlasia (BPH) adalah pembesaran kelenjar
prostat yang non-neuplastik, yang sering terjadi setelah umur 50 tahun. (J.C.E
Underwood. 1999). Dari empat pengertian di atas penulis menyimpulkan bahwa benigna
prostat hiperlasia adalah pembesaran progresif kelenjar prostat dan penyebaran yang
biasa menimbulkan gangguan pembuangan produksi urine pada pria dewasa tua lebih
dari 50 tahun.

2.2. Anatomi dan Fisiologi Prostat


2.2.1. Anatomi Prostat
Kelenjar prostat adalah salah satu organ genitalia pria terletak sebelah inferior
buli-buli dan membungkus uretra posterior. Bila mengalami pembesaran, organ ini
menyumbat uretra posterior dan bila mengalami pembesaran pada uretra pars prostatika
sehingga menyebabkan terhambatnya aliran urine keluar dari buli-buli.
Bentuknya sebesar buah kenari dengan berat normal pada orang dewasa 20 gr,
ukuran 3 x 4 x 2,5 cm. McNeal (1976 cit Purnomo, 1976) membagi kelenjar Prostat

3
dalam beberapa zona, yaitu zona perifer, sentral, transisional, fibromuskuler anterior, dan
periurethra. Sebagian besar hyperplasia posterior terdapat pada zona transisional,
sedangkan pertumbuhan karsinoma prostat berasal dari zona perifer.

2.2.2. Fisiologi Prostat


Fungsi utama dari kelenjar prostat ini terutama sekresi, menghasilkan cairan
alkali yang terdiri dari sekitar 70% dari volume mani. Menghasilkan cairan pelumas dan
gizi untuk sperma. Cairan alkali dalam hasil ejakulasi dalam pencairan dan membantu
menetralisir lingkungan asam vagina. Uretra prostat adalah saluran air mani dan
mencegah ejakulasi retrograde (yaitu, ejakulasi sehingga air mani dipaksa mundur ke
kandung kemih) dengan menutup dari leher kandung kemih selama klimaks seksual.
Ejakulasi melibatkan kontraksi terkoordinasi dari berbagai komponen, termasuk otot-otot
halus dari vesikula seminalis, deferentia Vasa, saluran ejakulasi, dan otot-otot
ischiocavernosus dan bulbocavernosus.

2.3. Etiologi Prostat


BPH adalah tumor jinak pada pria yang paling sering ditemukan. Pria berumur lebih
dari 50 tahun, kemungkinannya memiliki BPH adalah 50%. Ketika berusia 80–85 tahun,
kemungkinan itu meningkat menjadi 90%. Beberapa teori telah dikemukakan
berdasarkan faktor histologi, hormon, dan faktor perubahan usia, di antaranya:

4
1. Teori DHT (dihidrotestosteron). Testosteron dengan bantuan enzim 5-a
reduktase dikonversi menjadi DHT yang merangsang pertumbuhan kelenjar
prostat.
2. Teori Reawakening. Teori ini berdasarkan kemampuan stroma untuk
merangsang pertumbuhan epitel.
3. Teori stem cell hypotesis. Stem sel akan berkembang menjadi sel aplifying. Sel
aplifying akan berkembang menjadi sel transit yang tergantung secara mutlak
pada androgen, sehingga dengan adanya androgen sel ini akan berproliferasi
dan menghasilkan pertumbuhan prostat yang normal.
4. Teori growth factors. Faktor pertumbuhan ini dibuat oleh sel-sel stroma di
bawah pengaruh androgen. Adanya ekspresi berlebihan dari epidermis growth
factor (EGF) dan atau fibroblast growth factor (FGF) dan atau adanya
penurunan ekspresi transforming growth factor-b (TGF-b), akan menyebabkan
terjadinya ketidakseimbangan pertumbuhan prostat dan menghasilkan
pembesaran prostat.

2.4. Patofisiologi Prostat


BPH adalah perbesaran kronis dari prostat pada usia lanjut yang berkorelasi
dengan pertambahan umur. Perubahan yang terjadi berjalan lambat dan perbesaran ini
bersifat lunak dan tidak memberikan gangguan yang berarti. Tetapi, dalam banyak hal
dengan berbagai faktor pembesaran ini menekan uretra sedemikian rupa sehingga dapat
terjadi sumbatan partial ataupun komplit.
BPH dianggap sebagai bagian normal dari proses penuaan pada pria dan
hormon tergantung pada testosteron dan dihidrotestosteron (DHT) produksi. Sebuah
estimasi 50% pria menunjukkan BPH histopatologi pada usia 60 tahun. Jumlah ini
meningkat hingga 90% dengan usia 85 tahun, sehingga meningkatkan ukuran kelenjar
dianggap sebagai bagian normal dari proses penuaan.
Disfungsi membatalkan hasil dari pembesaran kelenjar prostat dan kandung
kemih obstruksi outlet (BOO) disebut gejala saluran kencing bawah (LUTS). Juga telah

5
sering disebut sebagai prostatism, meskipun istilah ini telah mengalami penurunan
popularitas. Entitas ini tumpang tindih; tidak semua laki-laki dengan BPH memiliki
LUTS, dan, juga, tidak semua laki-laki dengan LUTS memiliki BPH. Sekitar setengah
dari orang didiagnosis dengan BPH histopatologi menunjukkan LUTS moderat-ke-berat.
Manifestasi klinis LUTS termasuk frekuensi kencing, urgensi, nokturia (bangun di
malam hari selama tidur untuk buang air kecil), penurunan atau kekuatan intermiten
sungai, atau sensasi pengosongan lengkap. Komplikasi jarang terjadi tetapi mungkin
termasuk retensi urin akut (Aur), mengosongkan kandung kemih lemah, atau perlu
menjalani bedah korektif.
Volume prostat dapat meningkatkan dari waktu ke waktu pada pria dengan
BPH. Selain aliran, kencing puncak, dan dapat memperburuk gejala dari waktu ke waktu
pada pria dengan diobati BPH. Risiko Aur dan kebutuhan untuk meningkatkan operasi
korektif dengan usia.

2.5. Manifestasi Klinik


Gejala awal timbul jika prostat yang membesar mulai menyumbat aliran air
kemih. Pada mulanya, penderita memiliki kesulitan untuk memulai berkemih. Penderita
juga merasakan bahwa proses berkemihnya belum tuntas.
Penderita menjadi lebih sering berkemih pada malam hari (nokturia) dan jika
berkemih harus mengedan lebih kuat.
Volume dan kekuatan pancaran berkemih juga menjadi berkurang dan pada akhir
berkemih air kemih masih menetes. Akibatnya kandung kemih terisi penuh sehingga
terjadi inkontinensia uri (beser). Pada saat penderita mengedan untuk berkemih, vena-
vena kecil pada uretra dan kandung kemih bisa pecah sehingga pada air kemih terdapat
darah.
Penyumbatan total menyebabkan penderita tidak dapat berkemih sehingga
penderita merasakan kandung kemihnya penuh dan timbul nyeri hebat di perut bagian
bawah.
Jika terjadi infeksi kandung kemih, akan timbul rasa terbakar selama berkemih, juga

6
demam.
Air kemih yang tertahan di kandung kemih juga menyebabkan bertambahnya tekanan
pada ginjal, tetapi jarang menyebabkan kerusakan ginjal yang menetap.
Ada juga yang membagi gejala Benign Prostat Hiperplasia menjadi 4 (empat)
grade yaitu:
1. Grade 1 (Congestic)
a. Mula-mula pasien berbulan-bulan atau berthaun-tahun susah BAK dan
mulai mengedan
b. Kalau miksi merasa puas
c. Uine keluar menetes dan pancaran lemah
d. Nocturia
e. Urine keluar malam hari lebih dari normal
f. Ereksi lebih lama dari normal dan libido lebih dari normal.
g. Pada cytoscopy kelihatan hyperemia dari orificium urethra interna. Lambat
laun terjadi varices akhirnya bisa terjadi perdarahan (blooding).
2. Grade 2 (Residual)
a. Bila miksi terasa panas.
b. Dysuri nocturi bertmabah berat.
c. Tidak bisa buanng air kecil (kencing tidak puas)
d. Bisa terjadi infeksi karena sisa air BAK
e. Terjadi panas tinggi dan menggigil.
f. Nyeri pada daerah bagian bawah panggul (menjalar ke ginjal)
3. Grade 3 (Retensi Urine)
a. Ischuria Paradosal
b. Incontinensia Paradosal

4. Grade 4
a. Kandung kemih penuh.
b. Penderita merasa kesakitan

7
c. Air kencing menetes secara periodic yang di sebut over flow incontinensia.
d. Pada pemeriksaan fisik yaitu palpasi abdomen bawah untuk meraba ada
tumor, karena bendungan yang hebat.
e. Dengan adanya infeksi penderita bisa menggigil dan panas tinggi sekitar
40-410C
f. Selanjutnya penderita bisa koma.

2.6. Derajat Benign Prostat Hiperplasia (BPH)


Ada 3 (tiga) cara untuk mengukur besarnya BPH, yaitu :
1. Rectal Grading
Rectal grading atau rectal toucher dilakukan dalam keadaan buli-buli kosong.
Sebab bila buli-buli penuh dapat terjadi kesalahan dalam penilaian. Dengan rectal
toucher diperkirakan dengan beberapa cm prostat menonjol ke dalam lumen dan rectum.
Menonjolnya prostat dapat ditentukan dalam grade. Pembagian grade sebagai berikut :
0 - 1 cm : Grade 0
1 - 2 cm : Grade 1
2 - 3 cm : Grade 2
3 - 4 cm : Grade 3
Lebih 4 cm : Grade 4
Biasanya pada grade 3 dan 4 batas dari prostat tidak dapat diraba karena
benjolan masuk ke dalam cavum rectum. Dengan menentukan rectal grading maka
didapatkan kesan besar dan beratnya prostat dan juga penting untuk menentukan macam
tindakan operasi yang akan dilakukan. Bila kecil (grade 1), maka terapi yang baik adalah
T.U.R (Trans Urethral Resection) Bila prostat besar sekali (grade 3-4) dapat dilakukan
prostatektomy terbuka secara trans vesical.

2. Clinical grading
Pada pengukuran ini yang menjadi patokan adalah banyaknya sisa urine.
Pengukuran ini dilakukan dengan cara, pagi hari pasien bangun tidur disuruh kencing

8
sampai selesai, kemudian dimasukkan kateter ke dalam kandung kemih untuk mengukur
sisa urine.
Sisa urine 0 cc : Normal
Sisa urine 0 - 50 cc : Grade 1
Sisa urine 50 - 150 cc : Grade 2
Sisa urine >150 cc : Grade 3
Sama sekali tidak bisa kencing : Grade 4

3. Intra Urethra Grading


Untuk melihat seberapa jauh penonjolan lobus lateral ke dalam lumen urethra.
Pengukuran ini harus dapat dilihat dengan penendoskopy dan sudah menjadi bidang dari
urology yang spesifik. Efek yang dapat terjadi akibat BPH :
a. Terhadap urethra
Bila lobus medius membesar, biasanya arah ke atas mengakibatkan urethra pars
prostatika bertambah panjang, dan oleh karena fiksasi ductus ejaculatorius maka
perpanjangan akan berputar dan mengakibatkan sumbatan.

b. Terhadap vesica urinaria


Pada vesica urinaria akan didapatkan hypertropi otot sebagai akibat dari proses
kompensasi, dimana muscle fibro menebal ini didapatkan bagian yang mengalami
depresi (lekukan) yang disebut potensial divertikula.
Pada proses yang lebih lama akan terjadi dekompensasi dari pada otot-otot yang
hypertropi dan akibatnya terjadi atonia (tidak ada kekuatan) dari pada otot-otot tersebut.
Kalau pembesaran terjadi pada medial lobus, ini akan membentuk suatu post prostatika
pouch, ini adalah kantong yang terdapat pada kandung kencing dibelakang medial lobe.
Post prostatika adalah sebagai sumber dari terbentuknya residual urine (urine yang
tersisa) dan pada post prostatika pouch ini juga selalu didapati adanya batu-batu di
kandung kemih.

9
c. Terhadap ureter dan ginjal

Kalau keadaan urethra vesica valve baik, maka tekanan ke ekstra vesikel tidak
diteruskan ke atas, tetapi bila valve ini rusak maka tekanan diteruskan ke atas, akibatnya
otot-otot calyces, pelvis, ureter sendiri mengalami hipertropy dan akan mengakibatkan
hidronefrosis dan akibat lanjut uremia.

d. Terhadap sex organ

Mula-mula libido meningkat, tapi akhirnya libido menurun.


BPH terbagi dalam 4 (empat) derajat sesuai dengan gangguan klinisnya:
1. Derajat satu, keluhan prostatisme ditemukan penonjolan prostat 1-2 cm,
sisa urine kurang 50 cc, pancaran lemah, necturia, berat +20 gram.
2. Derajat dua, keluhan miksi terasa panas, sakit, disuria, nucturia bertambah
berat, panas badan tinggi (menggigil), nyeri daerah pinggang, prostat lebih
menonjol, batas atas masih teraba, sisa urine 50-100 cc dan beratnya +20-
40 gram.
3. Derajat tiga, gangguan lebih berat dari derajat dua, batas sudah tak teraba,
sisa urine lebih 100 cc, penonjolan prostat 3-4 cm, dan beratnya 40 gram.
4. Derajat empat, inkontinensia, prostat lebih menonjol dari 4 cm, ada
penyulit keginjal seperti gagal ginjal, hydroneprosis.

2.7. Faktor Risiko


Faktor resiko yang dominan untuk terjadinya BPH adalah bertambahnya usia
pada pria dan adanya androgen (hormon testosteron).

2.8. Komplikasi
1. Retensi urine akut dan involusi kontraksi kandung kemih.
2. Refluks kandung kemih, hidroureter dan hidronefrosis
3. Gross hematuria dan Urineary Tract Infection (UTI).

10
2.9. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Colok Dubur
Pemeriksaan colok dubur dapat memberikan kesan keadaan tonus sfingter anus,
mukosa rektum, kelainan lain seperti benjolan dalam rektum dan prostat.Pada perabaan
melalui colok dubur dapat diperhatikan konsistensi prostat, adakah asimetri, adakah
nodul pada prostat, apakah batas atas dapat diraba. Derajat berat obstruksi dapat diukur
dengan menentukan jumlah sisa urine setelah miksi spontan. Sisa miksi ditentukan engan
mengukur urine yang masih dapat keluar dengan kateterisasi. Sisa urine dapat pula
diketahui dengan melakukan ultrasonografi kandung kemih setelah miksi.

2. Pemeriksaan Uroflowmetri
Salah satu gejala dari BPH adalah melemahnya pancaran urin. Secara obyektif
pancaran urin dapat diperiksa dengan uroflowmeter dengan penilaian :
a. Flow rate maksimal  15 ml / dtk = non obstruktif.
b. Flow rate maksimal 10 – 15 ml / dtk = border line.
c. Flow rate maksimal  10 ml / dtk = obstruktif.

3. Pemeriksaan Laboratorium
a. Analisis urin dan pemeriksaan mikroskopik urin, elektrolit, kadar
ureum kreatinin.
b. Bila perlu Prostate Spesific Antigen (PSA), untuk dasar penentuan
biopsi.

4. Pemeriksaan radiologi :
a. Foto polos abdomen
Foto polos otot perut untuk mengetahui kemungkinan adanya batu
opak di saluran kemih, adanya batu/kalkulosa prostat, dan adanya

11
bayangan buli-buli yang penuh dengan urine sebagai tanda retensi
urine.
b. BNO-IVP
Digunakan untuk melihat fungsi exkresi ginjal dan adanya
hidronefrosis. Dengan IVP, buli – buli dilihat sebelum, sementara dan
sesudah isinya dikosongkan. Sebelum, untuk melihat adanya
intravesikal tumor dan divertikel. Sementara (voiding cystografi),
untuk melihat adanya reflux urin. Sesudah (post evacuation), untuk
melihat residual urin.
c. Systocopy
d. Cystografi

5. USG
Digunakan untuk memeriksa konsistensi, volume dan besar prostat juga
keadaan buli – buli termasuk residual urin. Pemeriksaan dapat dilakukan secara
transrektal, transuretral dan supra pubik.

 2.10. Penatalaksanaan

1. Terapi medikamentosa
Terapi ini diindikasikan pada BPH dengan keluhan ringan, sedang, dan berat
tanpa disertai penyulit serta indikasi terapi pembedahan tetapi masih terdapat
kontraindikasi atau belum “well motivated” Obat yang digunakan berasal dari:
phitoterapi (misalnya: Hipoxis rosperi, Serenoa repens, dll), gelombang alfa blocker
dan golongan supresor androgen.

2. Terapi bedah
Waktu penanganan untuk tiap pasien bervariasi tergantung beratnya gejala dan
komplikasi. Indikasi terapi bedah yaitu :
a. Retensio urin berulang
12
b. Hematuria
c. Tanda penurunan fungsi ginjal
d. Infeksi saluran kencing berulang
e. Tanda-tanda obstruksi berat yaitu divertikel,hidroureter, dan hidronefrosis.
f. Ada batu saluran kemih.

2.11. Macam-macam tindakan pada klien BPH


1. PROSTATEKTOMI
a.  Prostatektomi Supra pubis.
 Adalah salah satu metode mengangkat kelenjar melalui insisi abdomen.
Yaitu suatu insisi yang dibuat kedalam kandung kemih dan kelenjar prostat
diangkat dari atas.
    
b.   Prostatektomi  Perineal.
Adalah mengangkat kelenjar melalui suatu insisi dalam perineum. Cara
ini lebih praktis dibanding cara yang lain, dan sangat berguna untuk biopsi
terbuka. Keuntungan yang lain memberikan pendekatan anatomis langsung,
drainage oleh bantuan gravitasi, efektif untuk terapi kanker radikal, hemostatik
di bawah penglihatan langsung,angka mortalitas rendah, insiden syok lebih
rendah, serta ideal bagi pasien dengan prostat yang besar, resiko bedah buruk
bagi pasien sangat tua dan ringkih. Pada pasca operasi luka bedah mudah
terkontaminasi karena insisi dilakukan dekat dengan rektal. Lebih jauh lagi
inkontinensia, impotensi, atau cedera rectal dapat mungkin terjadi  dari cara ini.
Kerugian lain adalah kemungkinan kerusakan pada rectum dan spingter
eksternal serta  bidang operatif terbatas.

      c.   Prostatektomi retropubik.


Adalah suatu teknik yang lebih  umum dibanding pendekatan suprapubik
dimana insisi abdomen lebih rendah mendekati kelenjar prostat, yaitu antara

13
arkus pubis  dan kandung kemih tanpa tanpa memasuki kandung kemih.
Prosedur ini cocok untuk kelenjar besar yang terletak tinggi dalam pubis.
Meskipun darah yang keluar dapat dikontrol dengan baik dan letak bedah labih
mudah untuk dilihat, infeksi dapat cepat terjadi dalam ruang retropubis.
Kelemahan lainnya adalah tidak dapat mengobati penyakit kandung kemih yang
berkaitan serta insiden hemorargi akibat pleksus venosa
prostat meningkat juga osteitis pubis. Keuntungan yang lain adalah periode
pemulihan lebih singkat serta kerusakan spingter kandung kemih lebih sedikit. 
 
2.   Insisi Prostat Transuretral ( TUIP ).
            Yaitu suatu prosedur  menangani BPH dengan cara memasukkan instrumen
melalui uretra. Satu atau dua buah insisi dibuat pada prostat dan kapsul prostat untuk
mengurangi tekanan prostat pada uretra dan mengurangi kontriksi uretra. Cara ini
diindikasikan ketika kelenjar prostat berukuran kecil ( 30 gram/kurang ) dan efektif
dalam mengobati banyak kasus BPH. Cara ini dapat dilakukan  di klinik rawat jalan
dan mempunyai angka komplikasi lebih rendah di banding cara lainnya.
 
3. Trans Uretral Reseksi Prostat (TURP)
TURP dilakukan dengan memakai alat yang disebut resektoskop dengan
suatu lengkung diathermi. Jaringan kelenjar prostat diiris selapis demi selapis dan
dikeluarkan melalui selubung resektoskop. Perdarahan dirawat dengan memakai
diathermi, biasanya dilakukan dalam waktu 30 sampai 120 menit, tergantung besarnya
prostat. Selama operasi dipakai irigan akuades atau cairan isotonik tanpa elektrolit.
Prosedur ini dilakukan dengan anastesi regional ( Blok Subarakhnoidal / SAB / Peridural
). Setelah itu dipasang kateter nomer Ch. 24 untuk beberapa hari. Sering dipakai kateter
bercabang tiga atau satu saluran untuk spoel yang mencegah terjadinya pembuntuan oleh
pembekuan darah. Balon dikembangkan dengan mengisi cairan garam fisiologis atau
akuades sebanyak 30 – 50 ml yang digunakan sebagai tamponade daerah prostat dengan
cara traksi selama 6 – 24 jam.Traksi dapat dikerjakan dengan merekatkan ke paha klien

14
atau dengan memberi beban (0,5 kg) pada kateter tersebut melalui katrol. Traksi tidak
boleh lebih dari 24 jam karena dapat menimbulkan penekanan pada uretra bagian
penoskrotal sehingga mengakibatkan stenosis buli – buli karena ischemi. Setelah traksi
dilonggarkan fiksasi dipindahkan pada paha bagian proximal atau abdomen bawah.
Antibiotika profilaksis dilanjutkan beberapa jam atau 24 – 48 jam pasca bedah. Setelah
urin yang keluar jernih kateter dapat dilepas .Kateter biasanya dilepas pada hari ke 3 – 5.
Untuk pelepasan kateter, diberikan antibiotika 1 jam sebelumnya untuk mencegah
urosepsis. Biasanya klien boleh pulang setelah miksi baik, satu atau dua hari setelah
kateter dilepas.

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

3.1. Identitas Klien


Nama Pasien : Tn. S
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Usia : 65 Tahun
Ruangan : Rindu B Lantai 2
Tanggal Pengkajian : 17 Maret 2010
Status : Menikah
Alamat : Jl. Putri Hijau Medan
Agama : Islam
Pekerjaan : Wiraswasta
Kewarganegaraan : Indonesia
Keluhan Utama : BAK tertahan (Full blast)
Diagnosa Medis : Benign Prostat Hyperplasia (BPH)

3.2. Data Pengkajian

15
Tn. S (65 Tahun) seorang wiraswata yang memiliki kebiasaan tidur pada jam
22.00 WIB
dan bangun pada jam 04.00 WIB. Tn. S biasanya menghabiskan waktu dengan
menonton TV, bercerita dengan tetangganya dan pergi ke pasar dengan
bersepeda. Tn. S menyukai ayam, ikan atau daging dan nasi. Tn. S juga
menyukai roti dan minum susu. Tn. S seorang perokok dan bisa menghabiskan
1 bungkus rokok dalam sehari dan mengkonsumsi alkohol. Memiliki keluarga
dengan riwayat penyakit Diabetes Mellitus (DM). Ibu Tn. S menderita DM
tetapi Ibu Tn. S meninggal bukan karena penyakit DM tersebut sedangkan ayah
Tn. S meninggal karena stroke. Tn. S memiliki 7 orang saudara kandung dan
salah satu saudara Tn. S tersebut meninggal karena menderita stroke. Tn. S juga
mengatakan bahwa dia adalah satu-satunya yang menderita BPH di
keluarganya. Tn. S pernah ke Rumah Sakit untuk pemeriksaan rutin. Tiga tahun
yang lalu Tn. S didiagnosa oleh dokter di Rumah Sakit memiliki masalah di
kelenjar prostat. Melihat keadaannya sekarang Tn. S diminta untuk periksa
darah rutin, urine, feses. Berdasarkan hasil pemeriksaan diagnostic Tn. S
didiagnosa menderita BPH. Seminggu kemudian Tn. S mengalami nyeri saat
BAK (dysuria), menemukan darah di urine, sering terbangun dan malas BAK
dan merasa berkemih tidak tuntas. Tn. S sering mengalami kelelahan setelah
beraktivitas. Pada tanggal 17 Maret, Tn. S dibawa ke Rumah Sakit pada jam
22.00 WIB karena warna feses hitam dan mengalami hematuria. Kemudian
dilakukan pemeriksaan pada Tn. S, terdapat benjolan (kiri), BAB biasa
(normal), BAK tertahan. Karena BAK tertahan, Tn. S di pasang kateter.

3.3. Pemeriksaan Fisik


Pada tanggal 17 Maret 2010
- Sadar dan stabil
- Konjungtiva palpebra warna pink
- Sianosis (-)

16
- Nyeri (+)
- Febril (demam)
- Bibir kering
- Kulit kering
- Turgor kulit menurun
- Pucat (+), Wajah Meringis
- Edema pada tangan dan kaki
- Abdomen Bagian Bawah Keras
- Nokturia tetapi tertahan
- Inkontinensia Urine
Vital Sign
- TD 110/70 mmHg
- RR 21x/menit
- Denyut Nadi 80x/menit
- Suhu 36,7 0C

Pada tanggal 21 Maret 2010


- TD 110/60 mmHg
- RR 21x/menit
- Denyut Nadi 80x/menit
- Suhu 36 0C
3.4. Pemeriksaan Laboratorium dan Diagnostik (20 Maret 2010)
1. Pemeriksaan Darah Komplit
Pemeriksaan Hasil Nilai Normal
Hematokrit Darah 20,3% 41.0 – 53.0 (40 – 54)
(%)
Platelet 22,6 150.000 – 440.000
(150.000 – 400.000)
(/ul)
Leukosit (WBC) 24,4 g/l 4.000 – 11.000

17
(5.000 – 10.000)
(/ul)
Granulosit 3% 2-5 %
Limfosit/Monosit 17 % 2-8 %
Glukosa 107 mg/dl < 200 mg/dl

2. Pemeriksaan Urine
Pemeriksaan Hasil Nilai Normal
Protrombine urine 15,1 12,0
INR 1,25 0,9-1,3
aPTT 38,3 33,2
Trombin Time 12,4 10,5
Bilirubin Total 0,994 mg/dl 0,15-1,00 mg/dl
Bilirubin Direct 0,301 mg/dl 0,05-0,60 mg/dl
SGOT (AST) 26,9 u/l 1-38 u.l
SGPT (ALT) 18,0 u/l 1-41 u/l
Alkalin Fosfat 87 u/l 40-129 u/l
Ureum 27,3 mg/dl 10-50 mg/dl
Creatinin 0,77 mg/dl 0,67-1,17 mg/dl
As. Urat 5,4 mg/dl 3,4-7,0 mg/dl
Natrium 138 mEq/l 135-155 mEq/l
Kalium 4,52 mEq/l 3,6-5,5 mEq/l
Chlorida 110 mEq/l 96-106 mEq/l

3. BUN
Merupakan indikator dari fungsi ginjal dan perfusi, pengambilan dari
CHON dan tingkat metabolism protein. BUN meningkat bila terjadi
infeksi.
BUN: 17,4 mg/dl Normal: 7-21 mg/dl
4. Urinalisis
Urinalisis digunakan untuk mendeteksi tanda atau gejala dari perdarahan
atau infeksi. Urinalisis meliputi tes fisik atau kimia dari urine. Bentuk urine
yang di centrifuge mengandung sediment sel-sel darah, bakteri, dan

18
kumpulan partikel lainnya. Hasil dari sedimen tersebut akan dilihat dengan
mikroskop. Biasanya urine yang terinfeksi tidak di jumpai pada laki-laki
yang lebih muda, tetapi sering terjadi pada pria yang memiliki usia lebih
tua, dan pada umumnya menderita BPH. Urinalisis dapat membantu
mendeteksi kanker bladder.
- Warna Urine : Kuning
- pH : 7,5
- Penampakan : Keruh
- Glukosa :-
- Keton :-
- Berat Jenis : 1,030
- Protein :+
- Urobilinogen :+
- Nitrit :+
- Darah :-
- Kristal (As.Oksalat) :-
5. Fecalysis
Membantu pemeriksaan efisiensi pencernaan dan kemampuan hati dan
usus.
- Warna : Coklat kehitaman
- Konsistensi : Lembut
Kesimpulan : Hasil Pemeriksaan Normal

6. Transcortin
Disebut juga dengan corticosteroid binding protein (CBG). Merupakan
alpha globulin yang mengikat cortisol dengan afinitas yang tinggi.
Digunakan untuk mengukur kadar cortisol urin dan mengetahui klien
apakah kelenjar adrenal klien mengalami hiperfungsi atau hipofungsi.

19
Obat Yang Digunakan
No. Nama Obat Indikasi Efek Samping
1. Trimetazidine Angina Pektoris Mual dan muntah, sakit kepala,
edema.
2 Tranexamic acid Antifibrinolytic Gangguan-gangguan
gastrointestinal,mual,muntah-
muntah,anoreksia,pusing,eksanlema
dan sakit kepala dapat       timbul pada
pemberian secara oral.    
3. Metronidazol Antiprotozoal Mual, sakit kepala, anoreksia, diare,
nyeri epigastrum dan konstlpasi.
4. Uroxatral pengobatan tanda- Pusing
tanda dan gejala Infeksi saluran nafas atas
benign prostatic Sakit kepala
hyperplasia . Kelelahan
Kulit Kemerahan
Takikardia
Edema
Mual,Muntah, diare, nyeri perut
Nyeri Dada
Mulut Kering

3.5. Analisa Data Praoperasi


No. Data Etiologi Masalah
1. DS : Hyperplasia Prostat Gangguan Rasa
Klien mengatakan bahwa ↓ Nyaman : Nyeri
Penyempitan lumen urethera
klien mengalami nyeri
prostatika
saat BAK. ↓
DO : Obstruksi jalan kemih

20
Nyeri (+) ↓
Demam (+) Tekanan intravesikel ↑

Wajah Meringis
Iritasi otot detrusor
Abdomen Bagian Bawah ↓
Keras Nyeri

2. DS : Hyperplasia Prostat Gangguan


Klien mengatakan bahwa ↓ Eliminasi Urine
Penyempitan lumen urethera
klien merasa tidak tuntas
prostatika
saat berkemih dan sering ↓
menahan BAK. Obstruksi jalan kemih

DO :
Tekanan intravesikel ↑
Nokturia ↓
Inkontinensia Urine Miksi terputus, pancaran miksi
↓, rasa belum tuntas pada akhir
Dysuria
miksi
Wajah Meringis ↓
Abdomen Bagian Bawah Retensi urine kronik,
Keras Inkontinensia urine

Edema pada tangan dan Gangguan eliminasi urine
kaki
3. DS : Hyperplasia Prostat Gangguan pola

Pasien mengatakan tidur
Penyempitan lumen urethera
sering terbangun pada prostatika

malam hari untuk BAK
Obstruksi jalan kemih
(nokturia) ↓
Tekanan intravesikel ↑
DO :

Pucat (+) Miksi terputus, pancaran miksi
↓, rasa belum tuntas pada akhir
Wajah Meringis
miksi
Nokturia tetapi tertahan ↓
Retensi urine, Inkontinensia
urine
21

Nokturia

Gangguan pola tidur

4. DS : -. Hyperplasia Prostat Risiko terjadi


DO : ↓ infeksi
Penyempitan lumen urethera
Pemasangan kateter
prostatika
berhubungan dengan ↓
urine bag Obstruksi jalan kemih

Nokturia
Tekanan intravesikel ↑
Hematuria ↓
Body malaise Miksi terputus, pancaran miksi
↓, rasa belum tuntas pada akhir
Febrile
miksi

Retensi urine, Inkontinensia
urine

Terbentuk batu endapan di
dalam kandung kemih

Hematuria

Infeksi
5. DS : Hyperplasia Prostat Intoleransi
Pasien mengatakan ↓ aktivitas
Penyempitan lumen urethera
mengalami kelelahan
prostatika
setelah beraktivitas. ↓
DO : Obstruksi jalan kemih

Body Malaise
Tekanan intravesikel ↑
Wajah meringis ↓
Pucat (+) Iritasi otot detrusor

Edema pada tangan dan
Nyeri pada perut bagian bawah
22
kaki ↓
Nyeri pada perut bagian Intoleransi aktivitas
bawah

3.6. Diagnosa Keperawatan Praoperasi


1. Gangguan Rasa Nyaman : Nyeri (Akut) berhubungan dengan iritasi otot
detrusor, distensi kandung kemih ditandai dengan keluhan nyeri,
penyempitan lumen urethra prostatika, wajah meringis.
2. Gangguan eliminasi urine berhubungan dengan retensi urine dan
inkontinensia urine ditandai dengan obstruksi jalan kemih, pembesaran
prostat, ketidakmampuan mengosongkan kandung kemih.
3. Gangguan pola tidur berhubungan dengan retensi urine dan inkontinensia
urine ditandai dengan nokturia, wajah pucat dan meringis.
4. Risiko terjadinya infeksi berhubungan dengan pemasangan kateter
ditandai dengan Nokturia, hematuria, febrile, dan body malaise.
5. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan body malaise ditandai dengan
kelelahan, wajah pucat, meringis, dan nyeri pada bagian bawah perut.

3.7 Rencana Keperawatan Praoperasi

No. Tujuan/Kriteria Hasil Intervensi Rasional


Dx.Kep
1. Tujuan : Mandiri
Rasa Nyeri Berkurang 1. Kaji nyeri, perhatikan 1. Memberikan
Kriteria Hasil : lokasi, intensitas informasi untuk
- Melaporkan nyeri (skala0-10), lamanya. membantu dalam
hilang/terkontrol menentukan

23
- Klien tampak rileks pilihan/keefektif
- Mampu untuk 2. Plester selang drainase an intervensi.
tidur/istirahat dengan pada paha dan kateter 2. Mencegah
tepat pada abdomen (bila penarikan
traksi tidak diperlukan) kandung kemih
3. Pertahankan tirah dan erosi
baring bila pertemuan penis-
diindikasikan. skrotal
3. Tirah baring
mungkin
diperlukan pada
awal selama
faseretensi akut.
Namun,
4. Berikan tindakan ambulasi dini
kenyamanan, contoh dapat
pijatan punggung; memperbaiki
membantu pasien pola berkemih
melakukan posisi normal dan
nyaman; mendorong menghilangkan
penggunaan nyeri kolik.
relaksasi/latihan napas
4. Meningkatkan
dalam; akivitas
relaksasi,
terapeutik
memfokuskan
5. Dorong menggunakan
kembali
rendam duduk, sabun
hangat untuk perineum perhatian dan
dapat
meningkatkan
Kolaborasi
kemampuan
1. Masukkan kateter dan
24
dekatkan untuk koping
kelancaran drainase
2. Lakukan masase
prostat
3. Berikan obat sesuai
5. Meningkatkan
indikasi relaksasi otot

1. Pengaliran
kendung kemih
menurunkan
tegangan dan
kepekaan
kelenjar
2. Membantu dalam
evakuasi duktus
kelenjar untuk
menghilangkan
kongesti/inflamas
i.
Kontraindikasika
n bila infeksi
terjadi

No. Tujuan/Kriteria Intervensi Rasional


Dx.Kep Hasil
2. Tujuan : Mandiri
3. Kaji haluaran urine dan 1. Retensi dapat terjadi
Berkemih dalam
system karena edema area
jumlah normal kateter/drainase, bedah, bekuan darah, dan
khususnya selama spasme kandung kemih.
tanpa retensi
irigasi kandung kemih
Kriteria Hasil : 4. Bantu pasien memilih 2. Mendorong pasase urine
posisi normal untuk dan meningkatkan rasa
Menunjukkan
berkemih, contoh normalitas.
perilaku yang berdiri, berjalan ke

25
meningkatkan kamar mandi, dengan
frekuensi sering
control kandung
setelah kateter dilepas.
kemih/urinaria. 5. Perhatikan waktu, 3. Kateter biasanya dilepas
jumlah berkemih dan 2-5 hari.
ukuran aliran setelah
kateter dilepas.
Perhatikan keluhan
rasa penuh kandung
kemih;
ketidakkmampuan
berkemih dan urgensi.
6. Dorong pasien untuk 4. Berkemih dengan
berkemih bila terasa dorongan mencegah
dorongan tetapi lebih retensi urine.
dari 2-4 jam per Keterbatasan berkemih
protocol untuk tiap 4 jam (bila
7. Ukur volume residu ditoleransi)
bila ada kateter
suprapubik 5. Mengawasi keeefektifan
pengosongan kandung
kemih. Residu lebih dari
50 ml menunjukkan
8. Dorong pemasukan perlunya perubahan
cairan 3000 ml sesuai kontinuitas kateter
toleransi. Batasi cairan sampai tonus kandung
pada malam hari, kemih membaik
setelah kateter di lepas.
9. Instruksikan pasien 6. Mempertahankan hidrasi
untuk latihan perineal adekuat dan perfusi
jaringan ginjal untuk
Kolaborasi lairan urine.
Pertahankan irigasi
kandung kemih
kontinu (continuous 7. Membantu meningkatkan
bladder irrigation control kandung
(CBI)) sesuai indikasi kemih/ssfingter/urine,
pada periode meminimalkan
pascaoperasi dini. inkontinensia.

Mencuci kandung kemih


dari bekuan darah dan debris
untuk mempertahankan
patensi kateter/aliran urine.
26
No. Tujuan/Kriteria Intervensi Rasional
Dx.Kep Hasil
3. Tujuan : Mandiri
Perbaikan dalam 1. Tentukan kebiasaan 1. Mengkaji perlunya dan
pola tidur/istirahat tidur biasanya dan mengidentifikasi
Kriteria Hasil: perubahan yang terjadi intervensi yang tepat.
Melaporkan 2. Berikan tempat tidur 2. Meningkatkan
peningkatan rasa yang nyaman dan kenyamanan tidur serta
sehat dan merasa beberapa milik pribadi dukungan
dapat istirahat 3. Buat ruitinitas tidur fisilogis/psikologis.
baru yang dimasukkan 3. Bila rutinitas baru
dalam pola lama dan mengandung aspek
lingkungan baru sebnayak kebiasaan
lama, stress dan ansietas
4. Kurangi kebisingan yang berhubungan dapat
dan lampu berkurang.
5. Batasi pemasukan 4. Memberikan suasana
cairan pada sore hari kondusif untuk tidur.
jika masih terdapat 5. Mengurangi eliminasi
masalah nokturia. urine pada malam hari

Kolaborasi
Berikan sedative, hipnitik,
sesuai indikasi
Mungkin diberikan untuk
membantu pasien
tidut/istirahat.

No. Tujuan/Kriteria Intervensi Rasional


Dx.Kep Hasil
4. Tujuan : Mandiri
Mencapai waktu 1. Pertahankan system 1. Mencegah pemasukan
penyembuhan kateter steril; berikan bakteri dan infeksi/sepsis
Kriteria Hasil : perawtan kateter lanjut.
Tidak mengalami regular dengan sabun 2. Menghindari reflex balik
tanda infeksi dan air, berikan salep urine yang dapat
antibiotic disekitar sisi memasukkan bakteri ke
kateter dalam kandung kemih.
2. Ambulasi dengan 3. Pasien yang menglami
kantung darinase sitoskopi dan/atau TUR

27
dependen. prostat berisiko untuk
3. Awasi tanda vital, syok bedah/septic
perhatikan tanda sehubungan dengan
demam ringan, manipulasi/instrumenasi
menggigil, nadi dan 4. Adanya drain, insisi
pernapasan cepat, suprapubik
peka, disorientassi meningkatkan risiko
4. Observasi drainase dari infeksi yang
luka, sekitar kateter diindikasikan dengan
suprapubik eritema, drainase
5. Ganti balutan dengan porulen.
sering, pembersihan 5. Balutan basah
dan pengeringan kulit menyebabkan kulit dab
sepanjang waktu. memberikan media
6. Gunakan pelindung pertumbuhan,
kulit tipe ostomi peningkatan risiko luka.
6. Memberikan
Kolaborasi perlindungan untuk kulit
Berikan antibiotic sesuai sekitar, mencegah
indikasi ekskoriasi dan
menurunkan risiko
infeksi

Mungkin diberikan secara


profilitik sehubunga dengan
peningkatan risiko infeksi
pada prostattektomi.

No. Tujuan/Kriteria Intervensi Rasional


Dx.Kep Hasil
5. Tujuan : Mandiri
Memampukan 1. Berikan lingkungan 1. Menurunkan stres,
untuk kembali tenang dan batasi meningkatkan istirahat.
beraktivitas pengunjung selama fase
Kriteria Hasil : akut sesuai indikasi.
Melaporkan Dorong penggunaan
kemampuan menajemen stres dan
melakukan pengalih yang tepat.
peningkatan 2. Jelaskan pentingnya
toleransi aktivitas istirahat dalam rencana 2. Tirah baring
pengobatan dalam dipertahankan selama
rencana pengobatan dan fase akut untuk
28
perlunya keseimbangan menghemat energi
aktivitas dan istirahat. dalam masa
3. Bantu pasien memilih penyembuhan
posisi nyaman untuk
istirahat dan/atau tidur

4. Dorong pasien untuk 3. Pasien mungkin nyaman


berpartisipasi dalam tidur dengan posisi
memilih periode kepala lebih tinggi
aktivitas (fowler/semifowler)
4. Seperti jadwal
meningkatkan toleransi
terhadap kemajuan
aktivitas dan mencegah
kelemahan

3.8 Analisa Data Pasca Operasi Prostat


No. Data Etiologi Masalah
1. DS : TURP Gangguan Eliminasi
Status Pembedahan ↓ Urine
DO: Hematuria

Terdapat luka operasi
Pembentukan bekuan
Pemasangan kateter
darah

Retensi urine

Gangguan eliminasi
urine
2. DS : TURP Risiko infeksi
Status Pembedahan ↓
DO : Pemasangan Kateter
Imobilitas ↓
Terpasang kateter Luka Operasi
29
Terdapat Luka Operasi ↓
Risiko Infeksi
3. DS : TURP Gangguan Rasa
Pasien merasa nyeri ↓ Nyaman : Nyeri
pada luka operasi Iritasi mukosa kandung
DO : kemih
Adanya luka operasi ↓
Wajah meringis Nyeri
menahan sakit
4. DS : TURP Ansietas
Pasien banyak bertanya ↓
mengenai kondisi Ketidaktahuan Tentang
kesehatannya Perawatan Dan
DO : Komplikasi Pasca
Inkontinensia urine TURP
Gangguan Ereksi ↓
Ansietas

3.9 Diagnosa Keperawatan Pascaoperasi


1. Gangguan eliminasi urine berhubungan dengan prosedur pembedahan dan
pemasangan kateter urine ditandai dengan adanya luka operasi.
2. Risiko infeksi berhubungan dengan insisi pembedahan imobilitas, dan
pemasangan kateter urine ditandai dengan luka operasi.
3. Nyeri berhubungan dengan prosedur pembedahan ditandai dengan adanya
luka operasi serta ekspresi wajah meringis dan menahan sakit.
4. Ansietas berhubungan dengan inkontinensia urine, disfungsi seksual di
tandai dengan inkontinensia urine dan gangguan ereksi.

3.10 Rencana Keperawatan Pascaoperasi

30
No. Tujuan/Kriteria Intervensi Rasional
Dx.Kep Hasil
1. Tujuan : Mandiri
Fasilitasi drainase 1. Kaji haluaran urine 1. Retensi dapat terjadi
urine dan system karena edema area bedah,
Kriteria Hasil : drainase, selama bekuan darah, dan spasme
Berkemih dengan irigasi kandung kandung kemih
jumlah normal tanpa kemih 2. Mendorong pasase urine
retensi 2. Bantu pasien dan meningkatkan rasa
memilih posisi normalitas.
normal untuk
berkemih, contoh :
berdiri, berjalan
dalam kamar
mandi, dengan
frekuensi sering 3. Kateter biasanya
setelah kateter di dilepas 2-5 hari setelah
lepas. operasi.
3. Perhatikan waktu,
jumlah berkemih,
dan ukuran aliran
setelah kateter
dilepas. Perhatikan
rasa penuh kandung
kemih;
ketidakmampuan 4. Mengawasi keefektifan
berkemih, urgensi. pengosongan kandung
4. Ukur volume residu kemih. Residu lebih dari
bila kateter 50 ml menujukkan
suprapubik. perlunya kontinuitas
kateter sampai tonus
kandung kemih membaik.
5. Membantu meningkatkan
5. Instruksikan pasien control kandung
untuk latihan kemih/spingter/urine,
perineal contoh meminimalkan
mengencangkan inkontinensia.
bokong,
menghentikan, dan
memulai aliran
urine. 6. Informasi membantu
pasien untuk menerima
6. Anjurkan pasien masalah. Fungsi normal
31
bahwa”penetesan” dapat kembali dalam 2-3
diharapkan setelah minggu tetapi
kateter dilepas dan memerlukan sampai 8
harus teratasi sesuai bulan setelah pendekatan
kemajuan. perineal.

Mencuci kandung kemih


Kolaborasi dari bekuan darah dan
Pertahankan irigasi debris untuk
kandung kemih mempertahankan patensi
kontinu (CBI) kateter/aliran urine.
sesuai indikasi pada
periode pasca
opersi dini

No. Tujuan/Kriteria Intervensi Rasional


Dx.Kep Hasil
2. Tujuan : Mandiri
Pencegahan Infeksi 1. Pertahankan 1. Mencegah pemasukan
Kriteria Hasil : system kateter bakteri dan
Mencapai waktu steril; berikan infeksi/sepsis lanjut.
penyembuhan dan perawtan kateter
tidak mengalami regular dengan
tanda infeksi sabun dan air,
berikan salep
antibiotic
disekitar sisi 2. Menghindari reflex balik
kateter urine yang dapat
2. Ambulasi memasukkan bakteri ke
dengan kantung dalam kandung kemih.
drainase 3. Pasien yang menglami
dependen. sitoskopi dan/atau TUR
prostat berisiko untuk
3. Awasi tanda syok bedah/septic
vital, perhatikan sehubungan dengan
tanda demam manipulasi/instrumenasi
ringan, 4. Adanya drain, insisi
menggigil, nadi suprapubik
dan pernapasan meningkatkan risiko
cepat, peka, infeksi yang
32
disorientassi diindikasikan dengan
4. Observasi eritema, drainase
drainase dari porulen.
luka, sekitar 5. Balutan basah
kateter menyebabkan kulit dab
suprapubik memberikan media
5. Ganti balutan pertumbuhan,
dengan sering, peningkatan risiko luka.
pembersihan dan 6. Memberikan
pengeringan perlindungan untuk kulit
kulit sepanjang sekitar, mencegah
waktu. ekskoriasi dan
6. Gunakan menurunkan risiko
pelindung kulit infeksi
tipe ostomi

Mungkin diberikan secara


profilitik sehubunga dengan
Kolaborasi peningkatan risiko infeksi
Berikan antibiotic pada prostattektomi.
sesuai indikasi

No. Tujuan/Kriteria Intervensi Rasional


Dx.Kep Hasil
3. Tujuan : Mandiri
Hilangkan Nyeri 1. Kaji nyeri, perhatikan 1. Nyeri tajam,
Kriteria Hasil : lokasi, intensitas intermitten dengan
Nyeri hilang atau (skala0-10), lamanya. dorongan
terkontrol tanpa rileks, berkemih/pasase
tidur/istirahat dengan urine sekitar kateter
tepat. menunjukkan
spasme kandung
kemih, yang
cenderung lebih
berat pada
pendekatan
suprapubik atau
TUR (biasanya
menurun setelah 48
jam).
2. Pertahankan patensi 2. Mempertahankan
33
kateter dan system fungsi kateter dan
drainase. Pertahankan drainase system,
selang bebas dari menurunkan resiko
lekukkan dan bekuan. distensi/spasme
kandung kemih.
3. Menurunkan iritasi
3. Tingkatkan dengan
pemasukkan sampai mempertahankan
3000 ml/hari sesuai aliran cairan
toleransi. konstan ke mukosa
kandung kemih.
4. Menurunkan
tegangan otot,
4. Berikan tindakan memfokuskan
kenyamanan, contoh kembali perhatian
pijatan punggung; dan dapat
membantu pasien meningkatkan
melakukan posisi kemampuan koping.
nyaman; mendorong
penggunaan
relaksasi/latihan
napas dalam; akivitas Merilekskan otot
terapeutik polos, untuk
5. Dorong menggunakan memberikan
rendam duduk, sabun penurunan spasme
hangat untuk dan nyeri.
perineum
Kolaborasi
Berikan obat sesuai
indikasi, antispasmodic.

No. Tujuan/Kriteria Intervensi Rasional


Dx. Hasil
Kep
4 Tujuan : Mandiri
1. Jelaskan keadaan yang 1. Menurukan ansietas
Menghilangkan cemas
sebenarnya tentang sehubungan dengan
Kriteria Hasil : ketidaknyamanan ketidaktahuan/harapa
pascabedah dengan n yang akan dating
Menunjukkan rentang
34
perasaan yang tepat cara : dan memberikan
a. Beritahukan pasien dasar fakta untuk
untuk menghindari membuat pilihan
berhubungan badan, informasi tentang
mengatur BAB, obat.
tidak mengangkat
barang berat, tidak
duduk terlalu lama
selama 6-8 minggu
sesudah
pembedahan,
sampai terjadian
penumbuhan
fosaprostatatik.
b. Nasehatkan control
sesudah 2. Dapat mengalami
pengobatan, sebab ansietas tentang efek
striktur uretra dapat bedah dan dapat
terjadi dan menyembunyikan
pertumbuhan pertanyaan yang
kembali prostat diperlukan. Ansietass
setelah TURP. dapat mempengaruhi
2. Berikan informasi kemampuan untuk
kepada pasien bahwa menerima informasi
inkontinesia urinaria, yang diberikan
frekuensi berkemih, sebelumnya.
mendadak berkemih, 3. Impotensi fisiologis
dan disuria dapat terjadi terjadi bila saraf
setelah kateter dilepas. perineal dipotong
selama prosedur
radikal; pada
pendekatan lain,
aktivitas seksual
dapat dilakukan
seperti biasa dalam 6-
8 minggu.
3. Ingatkan pasien bahwa 4. Mendefinisikan
fungsi ereksi tidak masalah, memberikan
kembali selama 6 bulan. kesempatan untuk
menjawab
pertanyaan,
memperjelas
kesalahan konsep,
dan solusi pemecahan
35
masalah.

4. Bantu pasien untuk


mengungkapkan
ketakutan dan
kecemasan berhubungan
dengan potensial
kehilangan fungsi
seksual dan diskusikan
dengan pasangan.

DAFTAR PUSTAKA

Brunner dan Suddarth. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC

Doengoes, Marrilyn, dkk . 1999. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk


Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta: EGC.

Nursalam dan Fransisca. 2009. Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan
Sistem Perkemihan. Jakarta: Salemba.

http://harnawatiaj.wordpress.com. Askep Hipertrofi Prostat. Diakses pada tanggal 27


April 2010

www.medicine.net. Hiperplasia prostat jinak (BPH, Pembesaran Prostat). Diakses


pada tanggal 27April 2010

36
37