Anda di halaman 1dari 16

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,
puja dan puji syukur kami panjatkan kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan
rahmat, hidayah, serta inayah-Nya sehingga kami dapat merampungkan
penyusunan makalah Ulumul hadits dengan judul “Qira’ah Al-qur’an”.
Penulisan makalah ini telah semaksimal mungkin kami upayakan dan
didukung bantan berbagai pihak, sehingga dapat memperlancarkan dalam
penyusunanya. Untuk itu tidak lupa kam mengucapkan terima kasih kepada semua
pihak yang telah membantu kami dalam pembuatan makalah.
Namun tidak lepas dari semua itu kami menyadari sepenuhnya bahwa
masih terdapat kekurangan baik dari segi penyusunan bahasa dan aspek lainya.
Oleh karena itu dengan lapang dada kami membuka pintu bagi para pembaca yang
ingin memberi saran maupun kritik demi memperbaiki makalah ini.
Akhirnya penyusun sangat mengharapkan semoga dari makalah sederhana
ini dapat diambil manfaatnya dan besar keinginan kami dapat menginspirasi para
pembaca untuk mengangkat permasalah lain yang berkaitan pada makalah-
makalah selanjutnya.

                                                                               Tulungagung, 8 November 2017

                                                                                         Penyusun

i
DAFTAR PUSTAKA
KATA PENGANTAR........................................................................................................i
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................................ii
BAB I................................................................................................................................1
PENDAHULUAN.............................................................................................................1
A. LATAR BELAKANG...........................................................................................1
B. RUMUSAN MASALAH......................................................................................2
C. TUJUAN...............................................................................................................2
BAB II...............................................................................................................................3
PEMBAHASAN...............................................................................................................3
A. PENGERTIAN QIRA’AH AL-QUR’AN............................................................3
B. SIKAP PARA ULAMA TERHADAP QIRA’AH AL-QUR’AN........................4
C. QIRA’AH SYADZ................................................................................................7
D. SEBAB PERBEDAAN PARA QARI’.................................................................9
BAB III...........................................................................................................................13
PENUTUP.......................................................................................................................13
A. KESIMPULAN...................................................................................................13
B. SARAN................................................................................................................13
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................14

ii
BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Qiraat merupakan salah satu cabang ilmu dalam ‘Ulum al-Qur’an,
namun tidak banyak orang yang tertarik kepadanya, kecuali orang-orang
tertentu saja, biasanya kalangan akademik. Banyak faktor yang
menyebabkan hal itu, di antaranya adalah, ilmu ini tidak berhubungan
langsung dengan kehidupan dan muamalah manusia sehari-hari; tidak
seperti ilmu fiqih, hadis, dan tafsir misalnya,yang dapat dikatakan
berhubungan langsung dengan kehidupan manusia. Hal ini dikarenakan
ilmu qira’at tidak mempelajari masalah-masalah yang berkaitan secara
langsung dengan halal-haram atau hukum-hukum tertentu dalam
kehidupan manusia.
Selain itu, ilmu ini juga cukup rumit untuk dipelajari, banyak hal yang
harus diketahui oleh peminat ilmu qira’at ini, yang terpenting adalah
pengenalan al-Qur’an secara mendalam dalam banyak seginya, bahkan
hafal sebagian besar dari ayat-ayat al-Qur’an merupakan salah satu kunci
memasuki gerbang ilmu ini; pengetahuan bahasa Arab yang mendalam dan
luas dalam berbagai seginya, juga merupakan alat pokok dalam
menggeluti ilmu ini, pengenalan berbagai macam qiraat dan para
perawinya adalah hal yang mutlak bagi pengkaji ilmu ini. Hal-hal inilah
barangkali yang menjadikan ilmu ini tidak begitu populer.
Meskipun demikian keadaannya, ilmu ini telah sangat berjasa dalam
menggali, menjaga dan mengajarkan berbagai “cara membaca” al-Qur’an
yang benar sesuai dengan yang telah diajarkan Rasulullah SAW. Para ahli
qiraat telah mencurahkan segala kemampuannya demi mengembangkan
ilmu ini. Ketelitian dan kehati-hatian mereka telah menjadikan al-Qur’an
terjaga dari adanya kemungkinan penyelewengan dan masuknya unsur-
unsur asing yang dapat merusak kemurnian al-Qur’an. Tulisan singkat ini
akan memaparkan secara global tentang ilmu Qira’at al-Qur’an, dapat
dikatakan sebagai pengenalan awal terhadap Ilmu Qira’at al-Qur’an.

1
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa pengertian qira’ah al-Qur’an ?
2. Bagaimana sikap para ulama terhadap qira’ah al-Qur’an ?
3. Apa yang dimaksud dengan qira’ah syadz ?
4. Apa sebab-sebab perbedaan para qari’ ?

C. TUJUAN
1. Untuk mengetahui pengertian qira’ah al-Qur’an
2. Unutk mengetahui sikap para ulama terhadap qira’ah al-Qur’an
3. Untuk mengetahui pengertian qira’ah syadz
4. Untuk mengetahui sebab-sebab perbedaan para qari’

2
BAB II

PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN QIRA’AH AL-QUR’AN
Menurut bahasa, qira’at (‫ )قراءات‬adalah bentuk jamak dari qira’ah (
‫ )قراءة‬yang merupakan isim masdar dari qaraa (‫)قرأ‬, yang artinya : bacaan.
Sedangkan menurut terminologi qira’ah adalah perbedaan lafadz-lafadz
wahyu yang disebutkan (Al-qur’an) dalam penulisan huruf, atau cara
mengucapkan lafadz Al-qur’an seperti ringan dan berat serta lainnya.
Sebagian ulama mendefinisikan qira’ah sebagai “ilmu tentang
pengucapan kalimat dengan berbagai macam variasinya dengan cara
menyandarkan pada menutur asal dan aslinya secara mutawatir”
Berdasarkan kedua ini, maka yang dimaksud dengan “kalimat-
kalimat Al-qur’an”, adalah kalimat atau kata-kata yang ada dalam Al-
qur’an mulai dari awal al-Fatihah samapai akhir an-Nas. Tata cara
mengucapkan kata-kata tersebut harus berdasarkan kaidah yang telah
ditentukan, seperti membaca sakhtah (berhenti sejenak tanpa bernafas).
Contohnya : pada kata iwaja surat al-Kahfi dan sebagainya.1
Al-Qur’an dan Qira’at adalah dua kata yang berbeda. Al-Qur’an
adalah wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. untuk
menerangkan kepada manusia risalah ilahi dan sebagai bukti kebenaran
risalahnya. Sedangkan Qira’at adalah cara membaca lafal-lafal tertulis
dalam mushaf, baik dengan meringankan bacaannya (takhif) ataukah
dengan menggandakan (tasydid). Wahyu hanya satu dan berasal dari Allah.
Sedangkan cara penulisannya atau bacaan dan pengucapannya boleh
berbeda.
Qira’at merupakan salah satu cabang ilmu-ilmu Al-qur’an, tetapi
tidak banyak orang yang tertarik kepadanya, kecuali orang tertentu saja,
diantaranya adalah biasanya kalangan akademik. Banyak faktor yang
menyebabkan hal itu diantaranya adalah ilmu ini tidak berhubungan

1
Anshori. Ulumul Qur’an kaidah-kaidah memahami firman tuhan.(Jakarta:PT Raja Grafindo
Persada.2013.cet.1)hlm.143-144

3
langsung dengan kehidupan dan muamalah manusia sehari-hari selain itu,
ilmu ini juga cukup rumit untuk dipelajari karena banyak hal yang harus
dikuasai antara lain penguasaan bahasa arab secara mendalam,penguasaan
ilmu ini sangat berjasa dalam menggali,menjaga, dan mengajarkan
berbagai “cara membaca”al-Qur’an yang benar sesuai dengan yang telah
di ajarkan Rasulullah Saw.

B. SIKAP PARA ULAMA TERHADAP QIRA’AH AL-QUR’AN


Pada dasawarsa pertama Abad IV hijriah, seorang ulama dari
Baghdad pernah dikecam. Menurut tuduhan yang dijatuhkan kepada ulama
itu, ia telah mengakibatkan kerancuan pemahaman orang banyak terhadap
pengertian “Tujuh kata” yang dengannya Al Qur’an diturunkan.

Abu Bakar Ahmad, alias Ibnu Mujahhid, demikian nama ulama


yang dituduh itu sesungguhnya tidak sengaja melahirkan sesuatu yang
baru dan telah menyebabkan ia dituduh menyesatkan banyak orang.
Padahal apa yang ia lakukan waktu itu hanyalah mengoleksi qiraat qiraat
para imam qiraat terkemuka. Akan tetapi, agaknya ulama ulama yang
menuduhnya sesat, misalny Abu Al Abbas bin Ammar, tidak mau tahu apa
sesungguhnya yang telah dibuat Abu Bakkar. Abu Al Abbas secara pedas
mengecap Abu Bakkar sebagai “Si pembuat Tujuh”. Si pembuat tujuh ini,
telah berbuat sesuatu yang tak layak baginnya. Ia telah mengaburkan
persoalan dengan meresahkan orang orang yang berpandangan picik
bahwa qiraat ini (Tujuh huruf) yang disebut didalam al hadits”, Kecam
Abu Al Abbass bin Ammar (Lihat Dr. Shubhiy shalih dalam mabahits fi
‘ulum Al-Qur’an, hlm. 248).

Serangan pedas Abu Al Abbas bin Ammar yang di awal abad V


hijriyah tersohor sebagai “Imam Mukri” ini gara gara Ibnu Mujahid
tertarik membukukan qiraat (Bacaan Al Qur’an) tujuh tokoh madinah,
Mekkah, Irak, dan Syam yang ia kagumi, tetapi karena qiraat itu belum
memasyarakat, maka banyak orang mengira bahwa tujuh huruf yang
dimaksut Rosulullah SAW. Di dalam hadits riwayat Umar bin Al

4
Khaththab dan Ubay bin Ka’ab. Tak aneh bila abu al abbas mengecam
Ibnu Mujahid dengan begitu pedasnya.

Istilah qiraat sab’ah pada zaman Abu Al Abbas memang belum


popular, tetapi tidak berarti tidak ada. Qiraat ini sesungguhnya sudah akrab
di dunia akademis sejak abad dua hijriyah. Yang membuat tidak atau
belum memasyarakatnya qiraat itu karena kecenderungan ulama ulama
saat itu hanya memanggil sekaligus memasyarakatkan satu jenis qiraat
saja. Sementara qiraat qiraat lainnya, jika tidak dianggap tidak benar, maka
ditinggalkan dan tidak ditoleh. Apa yang dilakukan Ibnu MUjahid adalah
terobosan baru di dunia qiraat. Seperti sering terjadi, terobosan terobosan
baru memang kerap kali mendapatkan tantangan. Ibnu Mujahid lah orang
yang pertama kali meng infentarisasi tujuh bacaan tokoh tokoh yang
mempunyai sanad bersambung langsung kepada sahabat Rosulullah SAW
yang terkemuka. Mereka, yaitu:

1. Abdullah bin katsir Aldariy dari mekah (wafat 120 H). Al dari
termasuk generasi tabi’in. Qiraat yang ia riwayatkan diperolehnya dari
Abdullah bin Zubair dll. Sahabat Rosulullah SAW. Yang sempat
ditemui Aldari di antaranya Annas bi malik, Abu Ayyub Al Anshariy,
Abdullah bin Abbas dan Abu hurairah.
2. Nafi’ bin Abd Al –Rahman bin Abu Naim, dari madinah (Wafat 169
H). Tokoh ini belajar qiraat kepada 70 orang atbi’in. Dan para tabi’in
yang menjadi gurunya itu belajar kepada Ubai bin Ka’ab, Abdullah
bin Abbas,dan Abu Hurairah.
3. Abdullah Al-Yashibiy, yang terkenal dengan sebutan Abu Amir al
Dimaski dari Syam, (Wafat 118 H). Beliau mengambil qiraat dari Al
Muqhirah bin abi Syaibah Al Mahzumi, dari Utsman bin Affan. Tokoh
tabi’in ini sempat berjumpa dengan sahabat Rosulullah Nu’man bin
Basyir dan Wa’ilah bin Al Azqo. Sebagian riwayat mengatakan bahwa
AbdullahAl-Yahzibiy sempat berjumpa dengan Utsman bin Affan
langsung.
4. Abu Amar dan Ya’kub. Kedua tokoh ini berasal dari Bashrah, Irak.
Nama lengkap Abu Amar adalah Zabban bin Al;A’ala bin ‘Ammar,

5
(wafat 154 H). Ia meriwayatkan qiraat dari Mujahid bin Jabr, Said bin
Jubair yang mengambil qiraat dari Abdullah bin Abbas dan ‘Ubai bin
Ka’ab, sedangkan Ya’kub bernama lengkap Ibnu Ishak Al-Hadhramiy,
(wafat 205 H). Ya’kub belajar qiraat pada Salam bin Sulaiman Al-
Thawil yang mengambil qiraat dari Ashim dan Abu Amar.
5. Hamzah dan Ashim. Nama lengkap Hamzah adalah Ibnu Habib Al-
Zayat, (Wafat tahun 188 H). Hamzah belajar qiraat pada Sulaiman bin
Mahram Al-A’masy, dari Yahya bin Watstsab, dari Zar bin Hubaisy,
dari Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib dan Ibnu Mas’ud. Adapun
nama lengkap ‘Ashim adalah Ibnu Abi Al-Najud Al-Asadiy, (wafat
127 H). Ia belajar qiraat pada ar bin Hubaisy, dari Abdullah bin
Mas’ud.

Ketika Ibnu Mujahid menghimpun qiraat;qiraat mereka, ia


meniadakan nama Ya’kub yang berasal dari Basrah untuk kemudian
posisinya digantikan dengan Al-Kasai 9wafat 182 H). Penggeseran ini
memberi kesan seolah olah Ibnu Mujahid menganggap cukup qari Basrah
diwakili oleh abu Amr. Sementara itu, Ibnu Mujahid menetapkan tiga
nama untuk kuffah. Mereka adalah Hamzah, ‘Ashim, dan Al-Kasa’i.

Bila hanya tujuh tokoh di atas yang diturunkan Ibnu Mujtahid,


maka tidaklah berarti hanya ulama-ulama itu menguasai Qiraat. Masih ada
tokoh-tokoh lain yang sebetulnya menguasai qiraat. Misalnya Khalaf bi
Hisyam dan yazid bin Qa’ga. Ketujuh tokoh itu dipilih Ibnu Mujtahid
dengan pertimbangan”merekalah yang paling terkemuka, paling mashur
bacaannya bagus, memiliki kedalaman ilmu dan panjang umurnya. Dan
yang tak kalah pentingnya adalah bahwa merekalah yang dijadikan imam
qiraat masyarakat mereka masing-masing” (lihat Dirasat fi’ ‘Ulum Al-
Qur’an, Hlm 98).

Kemashuran ketujuh tokoh qiraat di atas semakin luas setelah Ibnu


Mujahid secara khusus membukakan Qiraat qiraat mereka. Walaupun
sesungguhnya, diluar yang ketujuh itu, sesuai dengan persyaratan yang
ditetapkan, sedikitnya masih ada tiga tokoh lain yang qiraatnya memenuhi

6
persyaratan sehingga wajib diterima. Oleh karena itu, dikenal pula
kemudian Qiraat Al-Asyr (Qiraat sepuluh) dan bukan Qiraat Al-Arba’
‘Asyarah (qiraat Empat Belas).

Kemudian, yang dimaksud dengan qiraat empat belas adalah


sepuluh qiraat yang telah disebutkan ditambah dengan qiraat empat tokoh
lainnya. Mereka yaitu:

1. Hasan Al-Bishri, yang popular itu, (Wafat 110 H)


2. Muhammad bin Abdu Al-Rahman, yang msyhur dengan sebutan Ibnu
Muhaishan (Wafat 123 H)
3. Yahya bin Al-Mubarak Al-Yazidiy (Wafat 202 H)
4. Abu Al-Faraj Muhammad bin Ahmad Al-Syanbudzi (Wafat 388 H).

Untuk menentukan diterimanya sebuah qiraat, para ulama menetapkan


kriteria-kriteria sebagai berikut.

1. Mutawatir, yaitu qiraat yang diturunkan dari beberapa orang dan tidak
mungkin terjadi kebohongan.
2. Sesuai dengan kaidah bahasa arab
3. Sesuai dengan tulisan Mushaf Utsman
4. Mempunyai sanad yang sahih.2

C. QIRA’AH SYADZ
Qiraat syadz, adalah qiraat yang sanadnya tidak sahih, yakni tidak
memenuhi persyaratan yang diminta untuk keabsahan sebuah qira’at.
Misalnya tidak mutawatir, atau tidak sesuai dengan kaidah bahasa
Arab,atau tidak sesuai dengan tulisa Mushaf Utsman.
Di samping mutawatir(Qira’at mutawatir yaitu qira’at yang
disampaikan oleh sekolompok orang mulai dari awal sampai akhir sanad
tidak mungkin sepakat untuk berdusta) dan syadz(qira’at yang sanadnya
tidak shahih), juga terdapat jenis qiraat lain yang dikenal di dalam dunia
ilmu al-Qur’an, yang dijelaskan di bawah ini.

2
Acep Hermawan, ‘Ulumul Qur’an, (Bandung:Remaja Rosdakarya, 2011), Hlm 134-136.

7
1. Masyhur. Qiraat masyhur adalah qiraat yang sanadnya shahih karena
diriwayatkan oleh tokoh yang adil, dhabit (mempunyai ketelitian
tulisan atau hafalan yang baik), sesuai dengan kaidah bahasa Arab, dan
sesuai dengan tulisan Mushaf Utsman. Selain itu, qiraat yang bisa
dikatakan masyhur juga mempunyai riwayat yang berasal dari qari
yang stiqat, dan qari itu terkenal di kalangan para qari lainnya. Yang
membedakan qiraat yang disebut terakhir ini dengan qiraat mutawatir
hanya pada derajatnya yang tidak memenuhi kriteria riwayat yang
mutawatir, yaitu suatu informasi yang disampaikan oleh orang banyak
dan kepada orang banyak pula. Misalnya, qiraat yang diriwayatkan
oleh satu dari tujuh qari terkemuka yang didinventarisasi Ibnu
Mujahid, sementara tokoh-tokoh qari’ lainnya tidak meriwayatkan
qiraat tersebut.
2. Shahih Sanad. Qiraat macam ini sanadnya shahih, tetapi tidak sama
dengan tulisan mushaf Utsman atau tidak seterkenal Qiraat Masyhur
dan Mutawatir. Qira’at yang memiliki sanad shahih, tetapi menyalahi
tulisan mushaf usmani dan kaedah bahasa Arab. Qiraat yang disebut
terakhir ini tidak boleh dibaca dan tidak wajib diyakini kebenarannya.
Misalnya, qiraat yang dikeluarkan oleh Al-Hakim dari jalur ‘Ashim Al-
Jahdariy, ari Abu Bakrah, bahwasannya Nabi Muhammad SAW,
pernah membaca :
ٍ ‫ي ِحس‬
‫ان‬ ِ ٍ ْ ‫ف ُخ‬ ٍ ‫َّكئِ على رفَا ِر‬ِ
َ ٍّ ‫ضرَو َعبَاقَر‬ َ َ َ َ ‫ُمت نْي‬
“mereka bertelekan pada bantal-bantal yang hijau dan permadani-
permadani yang indah”(QS. Al-Rahman:76)
Qira’at yang mutawatir berbunyi:
ٍ ‫ي ِحس‬
‫ان‬ ِ ٍ ْ ‫ف ُخ‬ ٍ ‫َّكئِ على رْفر‬
ِ
َ ٍّ ‫ضرَو َعْب َقر‬ َ َ َ َ َ ‫ُمت نْي‬

3. Maudhu’, Qira’at ini hanya dinisbahkan kepada orang tanpa asal-usul


yang pasti, bahkan tanpa asal-usul sama sekali. Misalnya qiraat yang
dikumpulkan oleh Muhammad bin Ja’far Al-khuza’i dan ia

8
mengatakannya bersumber dari Abu Hanifah, padahal bukan Al-
khuza’i yang membaca firman Allah Swt, yang berbunyi
ِِ ِ ِ ‫ِمَّن‬
ُ‫إ َا خَي ْ َشى الّلهَ م ْن عبَاده العُلَماَء‬
“sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya
hanyalah para ulama”(QS.Fathir:28)

Harakat fathah pada lafdz Allah dan dhammah pada lafadz ulama’ di
balik ia fathahkan dan ia dhommahkan kata Allah, sehingga bila
potongan ayat yang harakatnya diubah akan di terjemahkan menjadi
“Allah takut kepada hamba-hamba-Nya yang ulama’” kata Al-ulama
yang seharusnya fa’il (subjek) di ubah menjadi maf’ul(objek).
4. Yang terakhir adalah qira’ah tambahan, yaitu bacaan yang
sesungguhnya sekedar penafsiran, tetapi dianggap qira’at. Misalnya
yang terjadi pada firman Allah yang berbunyi:

‫ضاًل ِم ْن َربِّ ُك ْم يف مواسم احلج‬


ْ َ‫اح أَ ْن َتْبَتغُوا ف‬
ٌ َ‫س َعلَْي ُك ْم ُجن‬
َ ‫لَْي‬
“tidak mengapa bagi atas(mu) mencari kelebihan(rezeki) dari
tuhanmu”.(QS>Al-baqarah:198).3

D. SEBAB PERBEDAAN PARA QARI’


1. Latar belakang historis
Qira’at sebenarnya telah muncul sejak masa Nabi saw., walaupun pada
saat itu qira’at bukan merupakan suatu disiplin ilmu, karena perbedaan
para sahabat melafazkan Al-Qur’an dapat ditanyakan langsung kepada
Nabi saw., sedangkan Nabi tidak pernah menyalahkan para sahabat
yang berbeda itu, sehingga tidak panatik terhadap lafaz yang
digunakan atau yang pernah didengar Nabi. Asumsi ini dapat diperkuat
oleh riwayat-riwayat sebagai berikut:
a) Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Umar bin
Khattab ra, berkata: “Aku mendengar Hisyam bin Hakim
membaca Al-Qur’an surah al-Furqan, aku mendengar
bacaannya mengandung beberapa huruf yang belum pernah
3
Ibid.hlm.138-140

9
dibacakan oleh Rasulullah saw. kepadaku, sehingga setelah
selesai shalatnya aku bertanya kepadanya: Siapa yang
membacakan ini kepadamu? Ia menjawab Rasulullah yang
membacakan kepadaku! Setelah itu aku mengajaknya untuk
menghadap pada Rasulullah: Aku mendengar laki-laki ini
membaca surah al-Furqan dengan beberapa huruf yang belum
pernah Engkau bacakan, sedang Engkau sendiri yang telah
membacakan surah al-Furqan kepadaku! Rasulullah
menjawab: Begitulah surah ini diturunkan”.
b) Imam Muslim dengan sanad dari Ubai bin Kaab berkata:
Ketika aku berada di masjid tiba-tiba masuklah seorang laki-
laki untuk shalat dan membaca bacaan yang aku ingkari,
setelah itu masuk lagi laki-laki lain, bacaannya berbeda dengan
laki-laki yang pertama. Setelah kami selesai shalat kami
menemui Rasulullah, lalu aku bercerita tentang hal tersebut,
kemudian Rasulullah memerintahkan keduanya untuk
membaca, maka Rasulullah saw. Mengatakan kepadaku: “Hai
Ubay, sesungguhya aku diutus membaca Al-Qur’an dengan
tujuh huruf”.

Kedua riwayat tersebut membuktikan bahwa lafaz-lafaz Al-Qur’an


yang diucapkan oleh sahabat masing-masing berbeda, kemudian
Rasulullah tidak menyalahkan para sahabat dan memberi jawaban
yang sama yaitu Al-Qur’an diturunkan tujuh huruf. Untuk mengetahui
apakah qira’at itu benar atau tidak harus memenuhi tiga syarat yaitu
pertama, sesuai dengan kaedah bahasa Arab kedua, sesuai dengan
mushaf Usmani dan ketiga, sanad-sanadnya shahih.
Oleh karena itu apabila suatu qira’at tidak memenuhi salah satu
diantara tiga syarat tersebut, maka qiraat tersebut tidak sah atau lemah.
Orang yang pertama kali menyusun qira’at adalah Abu Ubaidah al-
Kasim bin Salam, kemudian setelah itu menyusullah ulama-ulama lain,

10
namun diantara mereka berbeda dalam menetapkan jumlah syarat-
syarat qira’at yang benar.
2. Latar belakang cara penyampaian
Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa setelah para sahabat
tersebar, maka mereka membacakan qira’at Al-Qur’an kepada murid-
muridnya secara turun temurun. Pada akhirnya murid-murid lebih suka
mengemukakan qira’at gurunya dari pada mengikuti qira’at imam-
imam yang lain. Hal ini mendorong beberapa ulama merangkum
beberapa bentuk-bentuk perbedaan cara melafazkan Al-Qur’an adalah
sebagai berikut:
a. Perbedaan dalam I’rab atau harakat kalimat tanpa perubahan makna
dan bentuk kalimat. Misalnya dapat dilihat dalam Qs. an-Nisa/4: 37
(kata bil-bukhli yang berarti kikir dapat dibaca fathah pada huruf
ba-nya, sehingga dapat dibaca bil-bakhli tanpa perubahan makna).
b. Perubahan pada I’rab dan harakat, sehingga dapat merubah
maknanya.Misalnya dalam Qs. Saba’/34:19 (Kata baa’id artinya
jauhkanlah, yang kedudukannya sebagai fi’il amr, boleh juga
dibaca ba’ada yang kedudukannya menjadi fi’il madhi, sehingga
maknanya berubah “telah jauh”).
c. Perbedaan pada perubahan huruf tanpa perubahan I’rab dan bentuk
tulisan, sedang makna berubah. Misalnya dalam Qs.al-Baqarah/2:
259 (Kata nunsyizuha “Kami menyusun kembali” ditulis dengan
huruf zay diganti dengan huruf ra’, sehingga berubah bunyi
menjadi nunsyiruha yang berarti “Kami hidupkan kembali”).
d. Perubahan pada kalimat dengan perubahan pada bentuk tulisan,
tapi makna tidak berubah.Misalnya dalam Qs. al-Qari’ah/101: 5
(Kata ka-al-‘ihni “bulubulu” kadang dibaca ka-ash-shufi “bulu-bulu
domba”. Perubahan ini berdasarkan ijmak ulama, namun tidak
dibenarkan karena bertentangan dengan mushaf Usmani).

Dengan demikian, dengan menyebarnya imam-imam qira’at ke


berbagai daerah, dengan mengajarkan dialek atau lahjah mereka
masing-masing, yang pada gilirannya melahirkan hal-hal yang tidak

11
diinginkan yaitu timbulnya qira’at yang beraneka ragam, maka para
ulama mengambil inisiatif untuk meneliti qira’at dari berbagai
penyimpangan.4

4
Jurnal al-Asas, Vol. III, No. 2, Oktober 2015. Hlm.79-81

12
BAB III

PENUTUP
A. KESIMPULAN
1. Sebagian ulama mendefinisikan qira’ah sebagai “ilmu tentang
pengucapan kalimat dengan berbagai macam variasinya dengan cara
menyandarkan pada menutur asal dan aslinya secara mutawatir”
2. Untuk menentukan diterimanya sebuah qiraat, para ulama menetapkan
kriteria-kriteria sebagai berikut.
Mutawatir, yaitu qiraat yang diturunkan dari beberapa orang dan tidak
mungkin terjadi kebohongan.
1) Sesuai dengan kaidah bahasa arab
2) Sesuai dengan tulisan Mushaf Utsman
3) Mempunyai sanad yang sahih
3. Qiraat syadz, adalah qiraat yang sanadnya tidak sahih, yakni tidak
memenuhi persyaratan yang diminta untuk keabsahan sebuah qira’at.
Misalnya tidak mutawatir, atau tidak sesuai dengan kaidah bahasa
Arab,atau tidak sesuai dengan tulisa Mushaf Utsman.
4. Dengan demikian, dengan menyebarnya imam-imam qira’at ke
berbagai daerah, dengan mengajarkan dialek atau lahjah mereka
masing-masing, yang pada gilirannya melahirkan hal-hal yang tidak
diinginkan yaitu timbulnya qira’at yang beraneka ragam, maka para
ulama mengambil inisiatif untuk meneliti qira’at dari berbagai
penyimpangan.

1. SARAN
Semoga dengan adanya makalah ini dapat menambah wawasan kita
tentang Qira’ah Al-qur’an

13
DAFTAR PUSTAKA
Anshori.2013. Ulumul Qur’an kaidah-kaidah memahami firman tuhan.Jakarta:PT Raja Grafindo
Persada.cet.1

Hermawan,Acep.2011. ‘Ulumul Qur’an.Bandung:Remaja Rosdakarya.


Jurnal al-Asas, Vol. III, No. 2, Oktober 2015. Hlm.79-81

14