Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Audit adalah serangkaian proses yang dilakukan auditor untuk mendapatkan bukti akurat
mengenai aktivitas ekonomi suatu entitas. Proses audit dilakukan dengan menyetarakan derajat
kewajaran aktivitas ekonomi entitas yang bersangkutan dengan yang telah ditetapkan atau
dilaporkan kepada pihak yang berkepentingan.
Audit atau pemeriksaan dalam arti luas bermakna evaluasi terhadap suatu organisasi, sistem,
proses, atau produk.Audit dilaksanakan oleh pihak yang kompeten, objektif, dan tidak memihak,
yang disebut auditor. Tujuannya adalah untuk melakukan verifikasi bahwa subjek dari audit telah
diselesaikan atau berjalan sesuai dengan standar, regulasi, dan praktik yang telah disetujui dan
diterima.
Jika audit yang dilakukan berjalan baik dan hasilnya juga bagus, artinya seluruh aktivitas
ekonomi dari perusahaan, departement, atau divisi tersebut (entitas) bisa dipertanggungjawabkan
kebenaran dan keabsahannya. Dengan demikian, kepercayaan pihak yang membutuhkan audit
bisa tumbuh.
Yang membutuhkan audit yaitu:
1) Berkepentingan terhadap kinerja dan perkembangan perusahaan atau entitas terperiksa.
2) Bisa pimpinan, pemegang saham, publik (dalam kaitannya dengan penjualan saham go public).
3) Dalam kasus tertentu, bisa juga hasil audit diperlukan oleh otoritas pemerintah,
kepolisian atau KPK misalnya, karena perusahaan diduga terlibat tindakan pencucian uang dan
pidana korupsi.
Untuk mendapatkan tingkat kepercayaan yang tinggi, perusahaan menggunakan audit
eksternal yang independent, sehingga proses audit yang dilakukan relatif lebih bebas dari
pengaruh pihak manajemen, direksi, dan karyawan.
1.2  Rumusan Masalah
1.2.1        apaitu analisis temuan audit?
1.2.2        Apa saja yang ada dalam penyusunan LHA?
1.2.3        Apa saja yang termasuk dalam distribusi LHA?
1.2.4        Apa itu tindak lanjut hasil audit oleh auditee dan instansi lain yang berwenang sesuai fungsinya?

1.3  Tujuan
1        Untuk  memenuhi nilai mata kuliah audit operasional.
2        Untuk menambah pengetahuan tentang pelaporan audit tindak lanjut hasil audit.

1.4  Manfaat
1.      Untuk memperluas pengetahuan tentang definisi analisis temuan audit.
2.      Untuk memperluas pengetahuan tentang penyusunan LHA.
3.      Sebagai bahan referensi makalah selanjutnya
BAB II
PEMBAHASAN
  2.1 Definisi Temuan Audit
Temuan audit adalah himpunan data dan informasi yang dikumpulkan, diolah dan  diuji
selama melaksanakan tugas audit atas kegiatan instansi tertentu yang  disajikan
secara analitis menurut unsur-unsurnya yang dianggap bermanfaat bagi  pihak-pihak yang
berkepentingan. 

2.1.1        Sifat Temuan Audit


  Temuan audit dapat memiliki berbagai bentuk & ukuran.
  Temuan audit sering disebut kekurangan (deficiencies).
  Istilah “temuan´cenderung terlalu negatif, sedangkan“kondisi” relative lebih tepat dan tidak
menimbulkan sikap defensif bagi auditee.
  Temuan audit menjelaskan bahwa sesuatu yang baik saat sekarang (current) atau masa
lalu ( histories ) serta yang mungkin terjadi dimasa yang akan datng (future) terdapat kesalahan.
1.      Standar 2310 SPPIA :
  Auditor internal harus mengidentifikasi informasi yang cukup (sufficient), andal (reliable),
relevan (relevance)dan berguna (usefulness) untuk mencapai tujuan penugasan.
  Practice advisory  2410-1 dari Standar : “ criteria komunikasi”. Observasi dan rekomendasi harus
didasarkan pada atribut : kriteria, kondisi, penyebab & dampak.
  Kriteria (criteria) : standar, ukuran atau ekspektasi yang dipakai untuk evaluasi / verifikasi (apa
yang harusnya ada/harapan).
  Kondisi (condition) : bukti faktual yang ditemukan saat pengujian (apa yang ada/kenyataan).
  Penyebab (causes) : alasan perbedaan antara harpan dengan kondisi aktual (mengapa ada
perbedaan ).
  Dampak (effect) : risiko/ eksposur yang dihadapi organisasi karena kondisi tidak sama dengan
kriteria (akibat perbedaan).
  Practice  advisory 2420-1 dari Standar : “kualitas kriteria komunikasi”
a.1 : obyektif, jelas, ringkas, konstruktif & tepat waktu.
2.      Saran-saran untuk perbaikan (suggestion for improvement).
  Temuan audit membutuhkan tindakan perbaikan.
  Manajer operasi memiliki hak untuk mengimplementasikan saran tersebut atau tidak.
3.      Temuan audit yang dapat dilaporkan.
  Tidak setiap kelemahan dapat dilaporkan.
  Temuan audit yang dapat dilaporkan, harus memiliki kreteria : cukup signifikan, didasarkan fakta,
obyektif, relevan dan cukup meyakinkan.

2.1.2 Pendekatan untuk  Konstruksi Temuan (Approach to finding Contruction)Kemampuan Internal


Auditor :
  Sangat dipengaruhi oleh pengalaman (experience).
  Memerlukan naluri bisnis (business instine) yang baik untuk mengembangkan temuan.
                 Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan Internal Auditor :
  Tidak mengganti pertimbangan audit dengan pertimbangan manajemen.
  Bertanggungjawab untuk memberikan bukti.
  Tertarik pada perbaikan kinerja, namun tidak mutlak.
  Meninjau temuan audit secara kontinyu, sebab dimungkinkan temuan audit tersebut sudah tidak
dapat dipertahankan (tidak relevan) pada saat berjalannya waktu.

Menambah Nilai (Adding Value)


a.       Untuk menambah nilai Auditor Internal :
 Meyakinkan bahwa temuan dan rekomendasi yang diberikan memiliki dampak positif bagi
organisasi.
 Memberikan kontribusi yang berarti bagi tujuan dan kesuksesan organisasi.
b.      Auditor Internal seharusnya :
 Meningkatkan citranya sebagai penambah nilai.
 Fokus pada aktivitas dan jasa yang bernilai tinggi.

 Tingkat Signifikasi (Degres Of Significance)


  Temuan-temuan tidak signifikan (insignificant findings) : tidak disembunyikan/dilewatkan.
  Temuan-temuan kecil  (minor findings) : perlu dilaporkan, bisanya dalam bentuk surat kepada
manajemen (management letter).
  Temuan-temuan besar (major findings) : dapat menghalangi tujuan utama organisasi.
  Pengklasifikasian tersebut merupakan tanggung jawab auditor internal, bukan manajemen.

Elemen- elemen Temuan Audit  (Elements Of Audit Findings)


  Kriteria (criteria) : tujuan & sasaran serta kualitas pencapaian.
  Kondisi (condition) : merupakan jantungnya temuan.
  Penyebab (cause) : memerlukan latihan pemecahan masalah (problem solving).
1.      Dampak (effect) :
  Temuan tentang keenomisan &efisiensi : diukur dalam $ atau Rp.
  Temuan tentang keefektivan : ketidakmampuan untuk menyelesaikan hasil akhir.
2.      Kesimpulan (conclusion) : harus didukung dengan fakta.
3.      Rekomendasi (recommendation) : tindakan yang dapat dipertimbangkan
oleh manajemen untuk memperbaiki kondisi yang salah atau memperkuat
sistem pengendalian intern.

Pembahasan Temuan  (Discussion Of Findings)


Pencatatan temuan audit :
1.      Aktivitas pencatatan temuan audit internal (Internal Audit Activity Record of Audit
Findings) .Dibuat sesuai dengan tujuan.
2.      Laporan pencatatan temuan audit (Record Audit Findings) :
  Memberikan acuan untuk bahan pembahasan.
  Digunakan unuk mengkomunikasikan temuan dengan auditee (klien) dan untuk mendapatkan
tanggapan tertulis.
  Keahlian komunikasi sangat penting bagi Auditor Internal, terutama dalam presentasi hasil audit.

Penelaahan Pengawasan (Supervisor Reviews)


  Seharusnya setiap temuan audit yang dilaporkan telah melalui penelahan pengawasan (supervisory
review) yang ketat.
  Tujuannya untuk mempertahankan kredibilitas aktivitas audit internal.Penyelia (supervisor) audit
harus melakukan review secara rutin/periodik untuk menjaga mutu/kualitas audit.

Pelaporan Temuan Audit (Reporting Deficiencs Of Audit Finding)


  Beberapa organisasi audit menyusun ringkasan eksekutif (executive summary) atas laporan audit
internal.
  Ringkasan eksekutif :
         Biasanya dibuat dalam satu halaman
         Menjelaskan lingkup audit
         Menyajikan opini audit secara keseluruhan
         Menyajikan penilaian auditor atas obyek/operasi yang diaudit.

Tindak Lanjut (Follow Up)


  Standar 2500.A.1 : Kepala bagian audit harus menetapkan proses tindak lanjut untuk memonitor
dan memastikan bahwa tindakan manajemen telah diimplementasikan secara efektif atau bahwa
manajemen senior telah menerima risiko untuk tidak mengambil keputusan.
  Practice advisory 2500-A.1.1 :”proses Tindak Lanjut” : Tanggungjawab untuk melakukan tindak
lanjut harus didefinisikan dalam piagam tertulis aktivitas audit internal.
Temuan-temuan Audit yang Dapat Dilaporkan
Tidak setiap kelemahaan yang ditemukan auditor internal harus dilaporkan.Beberapa
bersifat kecil dan tidak membutuhkan perhatian manajemen. Semua temuan audit yang berisi
haruslah:
  Cukup signifikan agar layak dilaporkan ke manajemen.
  Didokumentasikan dengan fakta, bukan opini, dan dengan bukti yang memadai, kompeten, dan
relevan.
  Secara objektif dibuat tanpa bias atau prasangka
  Relevan dengan masalah-masalah yang ada.
  Cukup meyakinkan untuk memaksa dilakukannya tindakan untuk memperbaiki kondisi-kondisi
yang mengandung kelemahan.
Jelaslah karakteristik-karakteristik ini akan diinterpretasikan secara subjektif. Apa yan
sebagai kelemahan signifikan bagi satu individu bisa jadi dianggap tidak signifikan bagi yang
kata seperti objektif, meyakinkan, wajar, dan logis memiliki konotasi yang berbeda bagi berbeda
Pengujiannya adalah untuk memproyeksikan bagaimana kelemahan-kelemahan tersebut
akan diperhatikan oleh orang-orang yang memiliki sifat wajar dan berhati-hati pada kondisi-
kondisi, karena auditor internal menilai kondisi yang serupa.  Karena auditor internal menilai
kondisi kelemahan, maka mereka harus bertanya kepada diri  mereka sendiri. “Seandainya ini
adalah organisasi atau lembaga saya, dan seandainya saja saya ada atau komisaris yang menilai
kondisi ini, apa yang akan saya lakukan?’
Pendekatan Untuk Mengonstruksi Temuan
Mengembangkan fakta-fakta dan rincian menjadi temuan audit yang signifikan dan dapat
dilaporkan membutuhkan keahlian. Hal ini membutuhkan perbedaan berdasarkan
pengalaman.Apa yang dianggap kelemahan serius bagi orang awam bisa jadi merupakan hal
sepele bagi seorang auditor internal yang professional.
Auditor internal harus realistis dan adil dalam pertimbangan dan kesimpulan mereka.Mereka
harus memiliki naluri bisnis yang baik untuk mengembangkan temuan-temuan mereka. Karena
mereka membuat dan melaporkan temuan audit, auditor internal harus mempertimbangkan
faktor-faktor ini :
 Meninjau keputusan manajemen bisa jadi tidak adil dan realistis. Auditor internal harus
rnempertimbangkan keadaan-keadaan yang ada pada saat kelemahan terjadi. Keputusan
nanajemen didasarkan pada fakta-fakta yang tersedia saat ini. Auditor internal seharusnya tidak
mengkritik suatu kebijakan hanya karena mereka tidak setuju atau karena mereka memilik
informasi baru yang tidak tersedia bagi pengambil keputusan. Auditor internal seharusnya tidak
mengganti pertimbangan audit dengan pertimbangan manajemen.
 Auditor, bukan klien, harus bertanggung jawab untuk memberikan bukti. Jika sebuah
temuan audit belum dibuktikan secara mendalam untuk memuaskan seseorang yang objektif dan
wajar maka temuan ini tidak bisa dilaporkan.
 Auditor internal harus tertarik pada perbaikan kinerja tetapi kinerja tersebut tidak mutlak
harus dikritik hanya karena kurang dari 100 persen.
 Auditor internal harus meninjau temuan-temuan audit. Mereka harus memeriksa dengan
teliti untuk menemukan alasan-alasan yang mengandung kesalahan. Auditor internal, seperti
halnya pendukung pernyataan lainnya, akan tergoda untuk merasionalkan interpretasi untuk
mendukung temuan mereka. Setelah menghabiskan banyak waktu dan tenaga, auditor cenderung
melindungi & dan mempertahankan temuan mereka menghadapi pertanyaan-pertanyaan
sempurna yang logis. Akan tetapi, temuan-temuan tersebut mungkin tidak dapat dipertahankan
dengan berjalannya waktu atau bila dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan yang lengkap.
Tingkat Signifikansi Temuan
Tidak ada dua temuan yang benar-benar sama. Setiap temuan mencerminkan tingkat
kerugin risiko aktual atau potensialnya masing-masing. Menempatkan penekanan yang sama
pada kelebihan  sebesar $100.000 jelas tidak logis. Jadi auditor harus mempertimbangkan tingkat
kerusakan yang bisa atau telah disebabkan oleh suatu kelemahan sebelum mengomunikasikannya
dengan manajemen. Untuk kebanyakan tujuan, temuan-temuan audit bisa diklasifikasikan
menjadi tidak signifikan, menjadi  tidak signifikan, kecil, atau besar.
Temuan-temuan Tidak Signifikan
Temuan yang tidak signifikan (insignificant findings)—semacam kesalahan klerikal yang
semua organisasi—tidak memerlukan tindakan formal. Dalam kenyataannya, memasukkan
temuan seperti ini ke dalam laporan audit formal akan menjadi tidak produktif karena akan
mengaburkan temuan signifikan yang sebenarnya pada laporan, yang mengimplikasikan bahwa
auditor internal dapat melihat perbedaan antara setitik noda dengan noda yang menyebar. Hal ini
juga akansemakin mengukuhkan citra auditor internal sebagai seorang yang hanya memerhatikan
hal-hal kecil.
Masalah-masalah yang tidak signifikan seharusnya tidak disembunyikan atau dilewatkan.
Tindakan yang dapat dilakukan adalah :
1.      Mendiskusikan masalah tersebut dengan orang yang bertaanggung jawab.
2.      Melihat apakah situasi tersebut telah diperbaiki.
3.      Mencatat hal tersebut dalam kertas kerja.
4.      Tidak memasukkan penyimpangan kecil tersebut ke dalam laporan audit internal resmi. Tidak
diambilnya beberapa diskon pembelian acak oleh pegawai utang usaha dapat dianggap kesalat
tidak signifikan.
Temuan-temuan Kecil
Temuan-temuan kecil (minor findings) perlu dilaporkan karena bukan semata-mata
kesalahan manusiawi yang bersifat acak. Jika tidak diperbaiki, maka akan berlanjut, sehingga
merugikan, dan walaupun tidak mengganggu tujuan operasi organisasi, namun cukup signifikan
untuk diperhatikan oleh manajemen.
Seorang pegawai yang telah mencampuradukan kas kecil pribadi dengan milik organisasi
melanggar aturan organisasi dan pihak praktik bisnis yang baik. Tentu hal ini harus dilaporkan
dan diperbaiki, kalau tidak, maka akan terus berlanjut atau menyebar.
Temuan-temuan Besar
Temuan-temuan besar (mayor findings) adalah temuan yang akan menghalangi
pencapain tujuan utama suatu organisasi atau suatu unit dalam organisasi. Misalnya salah satu
tujuan utama departemen utang usaha adalah hanya membayar utang-utang yang benar-benar
syah.
Sistem control yang lemah mengakibatkan kesalahan pembayaran sebesar $ 500.000
mencerminkan kelemahan yang bisa menghalangi departemen mencapai tujuan utama. Oleh
karena itu, hal ini merupakan temuan audit yang besar dan harus dilaporkan.
Elemen-elemen Temuan Audit
Auditor internal bukanlah orang yang maha tahu, dan mereka tidak bisa diharapkan untuk
mengetahui semua hal tentang operasi yang sedang diaudit. Pengetahuan tentang temuan audit
yang dapat dilaporkan merupakan masalah lain, karena auditor internal memepertentangkan
kelayakan status quo. Mereka mencari system atau transaksi yang tidak memenuhi standar
operasi yang berlaku. Tetapi auditor internal bisa mengharapkan adanya tantangan dan mereka
harus mengetahui lebih banyak tentang temuan-temuan audit mereka. Fakta-fakta yang
ditemukan auditor internal haruslah meyakinkan kreterianya dapat diterima, dan logika yang
digunakan juga harus meyakinkan.
Kelayakan tindakan yang mereka lakukan paling baik diukur dengan membandingkannya
beberapa kreteria.Sama halnya dengan pengembangan temuan audit. Jika temuan yang dikemb
memenuhi semua standar audit yang dapat diterima, maka temuan tersebut akan menjadi logli
dan meyakinkan. Temuan tersebut akan memberikan stimulus untuk memotivasi tindakan per
Jika ada yang hilang dari temuan yang dilaporkan, maka temuan tersebut bisa dipertentang
berakibat pada tindakan yang tidak menyenangkan atau bahkan tidak ada tindakan sama sekali.
Kebanyakan temuan audit harus mencakup elemen-elemen tertentu, termasuk latar
belakang, kreteria kondisi, penyebab, dampak, kesimpulan, dan rekomendasi. Setiap temuan
audit yang mencakup ele elemen ini, baik eksplisit maupun implisit, akan menjadi arg-umen yang
kuat untuk dilaku tindakan perbaikan. Temuan tersebut akan menunjuldcan bahwa tidak ada
rintangan yang dibiarkan dalam menyajikan masalah dan solusinya. Pada beberapa kasus yang
unik, elemen “penyebab” mungkin tidak tepat.Suatu masalah mungkin diakibatkan oleh kondisi
tertentu.
Pencatatan Temuan Audit
Auditor internal yang ingin memastikan bahwa mereka telah sepenuhnya
mempertimbangkan elemen-elemen temuan audit bisa mengandalkan pada suatu bentuk laporan
atau sarana agar mereka tetap bisa menelusurinya. Laporan tersebut juga bisa menjadi sarana
bagi penyelia guna menentukan apakah semua langkah yang diperlukan untuk menghasilkan
temuan audit dikembangkan dengan baik telah diambil.
Aktivitas Pencatatan Temuan Audit Internal
(Internal Audit Activity Record of AuditFindings) ditunjukkan pada form catatan audit
internal sebagai suatu contoh laporan tersebut. Laporan tersebut dengan tujuan yang telah
dijelaskan dan memberi ruang untuk:
 Mengidentifikasi organisasi yang bertanggung jawab.
 Memberi nomor identifikasi untuk temuan tertentu dan suatu rujukan untuk kerja
pendukung.
 Memberi pernyataan singkat mengenai kondisi.
 Mengidentifikasi kreteria standar yang diterapkan untuk menilai kondisi.
 Menunjukkan apakah temuan tersebut merupakan pengulangan dari sesuatu yang
ditemukan audit sebelumnya.
 Menyatakan arah, prosedur, atau instruksi kerja yang berkaitan dengan temuan tersebut.
 Meringkas pengujian audit dan jumlah kelemahan yang ditemukan.
 Menunjukkan penyebab—mengapa penyimpangan terjadi.
 Menjelaskan dampak, aktual maupun potensial, dari kondisi tersebut.
 Menyatakan tindakan perbaikan yang diusulkan dan/atau yang diambil.
 Mencatat pembahasan dengan karyawan klien dan mencatat tanggapan-tanggapan
mereka(setuju, tidak setuju), dan sifat tindakan, jika ada, yang mereka usulkan untuk diambil.
Laporan Pencatatan Temuan Audit (Record of Audit Findings—RAF) memberikan fleksibiliti
RAF bisa diurutkan atau diurut ulang untuk memfasilitasi pelaporan formal.Laporan tersebut
memberikan acuan untuk pembahasan, karena mencakup kebanyakan informasi yang dil dalam
satu lembar untuk menjelaskan masalah.
Laporan tersebut juga berfungsi sebagai untuk mengingatkan auditor semua yang diperlukan
untuk memperoleh informasi untuk tern dibuat secara mendalam.RAF juga harus diselesaikan di
lapangan sehingga setiap elemen ya atau tidak lengkap bisa diperbaiki tanpa membutuhkan
kunjungan ulang ke tempat yang diaudit.
Melaporkan Temuan Audit
Record of Audit Findings-RAF,  dan abstraksi telah digunakan lebih dari sekadar sebagai
pencatatan temuan atau pengkomunikasian ke klien. Laporan tersebut telah diakumulasikan
berurutan secara logis berdasarkan pengelompokan menurut subjek, lokasi, atau unit yang
diaudit dan kemudian diserahkan manajemen melalui ringkasan eksekutif satu
halaman.Ringkasan ini menjelaskan lingkup audit, menyajikan opini audit secara keseluruhan,
dan menyajikan penilaian auditor atas operasi yang diaudit.
Format pelaporan ini menekankan pada kelemahan-kelemahan. Pelaporan ini menawarkan
dari pelaporan segera setelah pekerjaan lapangan diselesaikan, tetapi apa yang diperoleh clan
yang cepat bisa jadi sia-sia bila hubungan auditor-klien tidak menguntungkan. Auditor bisa
posisi memberikan kritik atau celaan, bukan sebagai pengamat objektif yang memerha maupun
sisi buruk.Dampak yang tidak menguntungkan ini dapat diseimbangkan oleh tanggapan yang
objektif pada ringkasan eksekutif.Hal tersebut juga dapat dinetralkan pembahasan interim
mengenai RAF dengan klien.
2.2      Penyusunan Laporan Hasil Audit (LHA)
Bentuk laporan hasil audit (LHA) dimakasudkan untuk melaporkan hasil audit atas
pelaksanaan tugas dan kegitan secara menyeluruh meliputi aspek tugas pokok dan fungsi dan
aspek-aspek pendukungnya, ditambah uraian singkat hasil audit/evaluasi lainnya (laporan audit
operasional proyek, laporan audit khusus dan evaluasi atas laporan akuntabilitas kinerja). LHA
disampaikan kepada kepala/pimpinan unit kerja yang bersangkutan dan kepala BPKP (disertai
SPM).
2.2.1        Tujuan Dan Manfaat Pelaporan Audit Kinerja
Bermanfaat sebagai bahan atau dasar bagi auditee untuk melakukan tindak perbaikan tindak
lanjut
Bertujuan untuk menyediakan rekomendasi dan penilaian yang independen bagi para pengguna
laporan mengenai pelaksanaan kegiatan entitas yang di audit apakah telah di selenggarakan
secara ekonimis, efisien dan efektif

Kewajiban Membuat LHA: Auditor harus sesuai dengan penugasannya, yang disusun
dalam format yang sesuai, segera setelah selesai melakukan audit. LHA merupakan hasil akhir
proses audit. LHA berguna antara lain untuk:
1.      Mengkomunikasikan hasil audit kepada audite dan pihak lain yang berwenang berdasarkan
peraturan perundang-undang.
2.      Menghindari kesalahpahaman atas audit.
3.      Menjadi bahan untuk melakukan tindakan perbaikan bagi auditi dan istasi lainnya.
4.      Menudahkan pemantauan tindak lajut untuk menentukan pengaruh tidakan perbaikan yang
semestinya dilakukan.
2.2.2        Karakteristik Laporan Yang Baik
Laporan audit yang andal terdiri atas sasaran dan ruang lingkup audit metodologi ,
temuan audit, simpulan dan rekomendasi laporan.
Karakteristik laporan audit kinerja yang baik menurut SPKN :
1.      Tepat waktu
2.      Lengkap
3.      Akurat (fakta dan angka harus di dukung dengan bukti yang jelas)
4.      Objektif
5.      Meyakinkan (laporan menyajikan temuan, simpulan dan rekomendasi yang logis)
6.      Jelas (mudah di baca dan di pahami)
7.      Ringkas

2.2.3        Pelaporan Audit Kinerja Sebagai Suatu Proses


1.      Lembar diskusi.
Memuat penyimpangan-penyimpangan yang ditemukan oleh auditor yang perlu dimintakan
penjelasan dari pejabat yang bertanggung jawab atas kegiatan yang sedang di audit.

2.      Observasi Audit.
Mengobservasi lembar diskusi secara lebih dalam guna meyakinkan kebenaran informasi yang
disampaikan oleh entitas. Kegiatanny antara lain cek fisik dan mereview dokumen.

3.      Draf laporan Audit Kinerja.


Laporan ini berisi seluruh observasi yang dilakukan auditor. Draf laporan audit menjelaskan
tujuan dan lingkup audit agar pembaca memahami tujuan audit.

2.2.4        Struktur Dan Cara Penyajian Laporan


1.      Judul
2.      Ringkasan (bedakan dengan jelas antara temuan dengan rekomendasi)
3.      Pendahuluan (tujuan, lingkup, latarbelakang, standar audit, penanggungjawab audit)
4.      Tujuan dan lingkup audit
5.      Waktu pelaporan
6.      Kriteria audit (dasar pengukuran kinerja dan sumber2 audit)
7.      Metodologi (teknik pengumpulan dan menganalisis data)
8.      Temuan
9.      Simpulan rekomendasi
10.  Draf istilah ( Glosarium)

Langkah-Langkah Penyusunan Laporan Hasil Audit


1.   Surat Pengantar
Tulisan yang memuat intisari hasil audit untuk dimintakan perhatian, untuk diketahui dan untuk
ditanggapi oleh pimpinan instansi yang di audit. Konsep ini di susun oleh ketua tim.
2.   Ringkasan Laporan
Ringkasan laporan menggambarkan isi laporan yang dinilai penting guna meneruskan pesan
yang lebih efektif kepada pengguna.Hal yang perlu dimasukan yaitu simpulan pokok secara
singkat, rekomendasi dan usul-usul
penting, komentar dari pejabat instansi.

3.   Susunan Laporan Hasil Audit :


a.       Informasi Pendahuluan
Memuat maksud dan tujuan organisasi pada instanti yang d audit, sifat dan ukuran instansi
ditinjau dari keuangan, investasi, perkreditan, lokasi, jumlah pegawai yang terlibat dsb.
b.      Temuan Dan Simpulan
Menggambarkan kondisi yang sebenarnya, menggambarkan kriteria yang harus dipatuhi oleh
pihak yang diaudit, serta menggambarkan akibat dan penyebab utama. Hal-hal yang perlu
diperhatikan dalam menyusun temuan dan simpulan :
  Kenali pendapat penting, hindarkan desas-desus, dan jangan mengikutsertakan informasi yang
menyesatkan.
    Berikan pengakuan yang seharusnya terhadap pekerjaan yang baik dan buruk.
  Yakinkan bahwa simpulan sudah terdukung.
  Tunjukan penyebab atau alasan yang menjadi dasar terjadinya permasalahan.
  Pertimbangkan perlunya membahas pengendalian manajemen pada bidang yang dipermasalahkan.
  Rekomendasi
Bermanfaat untuk mendorong perbaikan di bidang-bidang yang mengandung masalah.

Mendapatkan Komentar Instansi


1.      Menanggapi respons auditee atas konsep laporan.Hasil audit perlu dikomentari oleh pimpinan
instansi yang diaudit agar laporan lebih objektif, wajar dan lengkap. Komentar harus dimuat
dalam laporan.
2.      Mengadakan pertemuan dengan pimpinan instansi yang diaudit.Untuk menjaga jangan sampai
temuan disanggah atau ditolak oleh pimpinan instansi yang di audit.
3.      Memanfaatkan komentar instansi untuk memperbaiki konsep laporan.Komentar instansi
berfungsi sebagai penguji atas keabsahan laporan yang dibuat oleh auditor dan berfungsi pula
sebagai penelaahan pendahuluan terhadap kebenaran isi laporan.
4.      Cara mendapatkan komentar dari instansi yang diaudit.Komentar dari instansi dapat diperoleh
dengan cara surat menyurat kepada instansi yang tepat, yang memuat temuan sementara,
simpulan hasil audit, dan saran perbaikannya.
5.      Menelaah komentar instansi yang diaudit.Komentar yang bernada sependapat atau menyutujui
menunjukan adanya dukungan dari instansi yang di audit dan menunjukan adanya kemajuan
dalam pengambilan tindak lanjut hasil audit. Pernyataan tidak setuju menunjukan adanya
indikasi msalah yang mungkin kontroversial.
Menyusun Laporan Akhir
1.        Mencocokan Referensi.
Bertujuan untuk meyakinkan bahwa isi laporan sudah tepat dan didukung oleh pernyataan2
yang memuat dalam kertas kerja audit. Pelaksanaan dilakukan dengan cara membandingkan
antara isi laporan berkas pendukung(kertas kerja audit, dokumen, surat menyurat) dan kemudian
memverifikasi data yang dilaporkan oleh tim audit.
2.        Menelaah Konsep Laporan Akhir.
Dalam hal ini perlu memperhatikan kelayakan dan ketepatan sikat serta rekomendasi dalam
laporan, kejelasan penyajian, perkiraan reaksi negatif yang mungkin timbul, penyimpangan dari
kebijaksanaan pelaporan, serta kecukupan pengolahan komentar instansi terutama yang
menyangkut aspek serius, sensitif, dan kontroversial.
3.        Mendistribusikan Laporan.
Laporan audit secara tertulis harus disampaikan kepada pejabat-pejabat instansi yang
berwenang. Salinan laporan harus dikirim ke pejabat lainnya yang bertanggungjawab untuk
mengambil tindakan berdasarkan temuan dan saran yang dikemukakan.

2.3      Distribusi Laporan Audit


Laporan audit hendaknya dikeluarkan dalam periode yang disetujui. Jika tertunda, alasan
harus dikomunikasikan kepada auditee dan personel yang mengelola program audit. Laporan
audit hendaknya memiliki tanggal, ditinjau, dan disetujui, sesuai dengan prosedur program audit.
Laporan audit operasional harus di distribusikantepat waktu kepada pihak yang
berkepentingan sesuai dengan ketentuan perundang undangan. Namun dalam hal yang di audit
merupakan rahasia Negara maka untuk tujuan keamanan atau dilarang disampaikan kepada
pihak-pihak tertentu atas dasar ketentuan peraturan perundang-undangan.
Apabila suatu audit dihentikan sebelum berakhir, tetapi auditor tidak mengeluarkan LHA,
maka auditor membuat catatan yang mengihtisarikan hasil auditnya sampai tanggal penghentian
dan menjelaskan alasan penghentian audit tersebut. Auditor juga harus mengomunikasikan
secara tertulis alasan penghentian audit tersebut kepada audite dan penjabat lain.
Laporan audit hendaknya didistribusikan kepada penerima yang terdefinisi di dalam
prosedur audit atau rencana audit.(Diterjemahkan dari ISO 19011: 2011)

 Distribusi Pelaporan
a.       Pejabat yang berwenang dalam organisasi pihak yang diaudit
b.      Kepada pejabat yang berwenang dalam organisasi pihak yang meminta audit
c.       Pejabat lain yang mempunyai tanggungjawab atas pengawasan secara hokum atau pihak yang
bertanggungjawab untuk melakukan tindak lanjut berdasarkan temuan dan rekomendasi audit
d.      Kepada pihak lain yang diberi wewenang oleh entitas yang diaudit untuk menerima laporan
tersebut.
2.4      Tindak Lanjut Hasil Audit Oleh Audite &Instasi Yang Berwenang Sesuai Dengan Fungsinya
2.4.1   Definisi Tindak Lanjut Audit
Tindak lanjut audit adalah langkah-langkah yang harus diambil oleh auditor setelah
laporan audit diserahkan kepada auditee. Tindak lanjut audit merupakan kegiatan untuk
mengidentifikasi dan mendokumentasikan kemajuan auditee dalam melaksanakan rekomendasi
audit.

a.       Tindak Lanjut Audit


Penyerahan laporan audit kepada auditee merupakan tahap akhir dari pekerjaan audit
lapangan dan merupakan tahap awal pekerjaan auditor untuk memantau tindak lanjut
rekomendasi audit oleh auditee. Pimpinan atau manajemen pihak auditee bertanggung jawab
untuk menindak lajuti rekomendasi audit.

b.      Tujuan Tindak Lanjut Audit


Secara umum, untuk meningkatkan efektivitas dan dampak dari laporan audit.
Secara spesifik,
1.      membantu pihak eksekutif dalam mengarahkan tindakan yang akan diambil terkait dengan hasil
audit yang diterimanya.
2.      mengevaluasi kinerja lembaga audit itu sendiri. Hasil tindak lanjut audit dapat menjadikan
ukuran yang baik untuk menilai dan mengevaluasi kinerja lembaga audit, seperti menilai tingkat
kehematan pelaksanaan audit.
3.      memberikan masukan (input) bagi perencanaan strategis audit kinerja pada lembaga audit.
Dengan adanya tindak lanjut audit, auditor dapat melakukan perbaikan atas perencanaan audit di
masa mendatang.
4.      mendorong pembelajaran dan pengembangan auditee. Kegiatan tindak lanjut diharapkan dapat
memberikan konstribusi bagi perbaikan pelaksanaan kegitan auditee.

c.    Langkah-Langkah Tindak Lanjut Hasil Audit


Untuk setiap rekomendasi audit, auditee menyatakan apakah menolak atau menerima
rekomendasi tersebut; jika diterima akan dilaksanakan kapan pelaksanaan direncanakan.
Rencana tindak dari auditee merupakan dasar bagi tindak lanjut audit. Tujuan tindak lanjut audit
bukanlah untuk memperoleh kepastian yang absolut, melainkan untuk memperoleh bukti yang
cukup untuk memberikan keyakinan yang memadai bahwa auditee telah melaksanakan action
plan-nya.

1. Perencanaan Tindak Lanjut


a. Menentukan Apakah Tindak Lanjut Akan Dilaksanakan
             auditor harus membuat prioritas tindak lanjut yang akan dilaksanakan atas rekomendasi yang
dikeluarkan. Prioritas penugasan tindak lanjut harus mempertimbangkan strategi audit secara
keseluruhan, seperti yang ditentukan dalam proses perencanaan strategi tahunan. Proses tindak
lanjut harus dilakukan jika dampak kegiatan tindak lanjut melebihi biayanya (cost-benefit).
Alasan tidak dilaksanakannya tindak lanjut antara lain audit terlalu kecil atau program/kegiatan
yang bersangkutan sudah tidak ada lagi.

b. Menentukan Lingkup Tindak Lanjut


auditor perlu menentukan aspek audit terdahulu yang akan ditindaklanjuti. Lingkup tindak
lanjut audit harus ditentukan berdasarkan penilaian atas:
1.      keberlanjutan penerapan simpulan audit terdahulu
2.      pernyataan manajemen atas tindakan perbaikan
3.      tingkat kepercayaan auditor atas hasil kerja auditor terdahulu

c. Cross Audit Follow Up


kegiatancross audit follow up mencakup review beberapa hasil audit dalam satu entitas atau
beberapa hasil audit (yang bertopik sama/sejenis) dalam beberapa entitas. Kegiatan cross audit
yang spesifik perlu mempertimbangkan proses perencanaan strategis audit kinerja. Contoh;
adanya pengadaan fiktif di beberapa instansi pemerintah, yang biasanya dilakukan pada akhir
tahun anggaran.

d. Menyiapkan Sumber Daya Untuk Tindak Lanjut


sumber daya untuk melaksanakan tindak lanjtu bergantung pada faktor-faktor seperti:
1.      jumlah rekomendasi
2.      sifat hubungan dengan auditee
3.      apakah anggota tim audit terdahulu akan membantu dalam audit tindak lanjut. Salah satu hal
yang perlu diperhatikan adalah memastikan bahwa keputusan tertulis tentang luas dan sifat
tindak lanjut dibuat oleh pejabat yang berwenang.

e. Menjadwalkan Tindak Lanjut


auditor memutuskan apakah tindak lanjut di kantor (meliputi review dokumen dan
tanggapan atas laporan audit, ditambah korespondensi atau telepon dengan auditee) sudah
memadai atau perlu dilakukan tindak lanjut di lapangan. Bergantung pada karakteristik audit,
jenis rekomendasi, risiko sosial dan ekonomi, dsb. Waktu yang tepat dan lama audit (mandays)
bergantung pada ketersediaan auditor dan tingkat prioritas.

2. Pelaksanaan Tindak Lanjut


a. Mengumpulkan Informasi
cara paling efektif untuk memulai tindak lanjut adalah dengan meminta konfirmasi status
pelaksanaan rekomendasi dari auditee. Dijadikan titik awal pengujian dokumen dan wawancara
juga evaluasi dan review atas hasil audit internal juga dapat dimanfaatkan untuk mendapatkan
informasi.

b. Mencatat Hasil
hasil dari tindak lanjut dicatat seperlunya. Tindakan yang diambil untuk setiap
rekomendasi dicatat sesuai dengan “status pelaksanaannya” jika auditee tidak menindaklanjuti
rekomendasi, status dimasukkan sebagai “rekomendasi tidak ditindaklanjuti dan tidak ada
keinginan untuk bertindak”, jika rekomendasi ditolak, statusnya adalah “rekomendasi ditolak”
dan tidak perlu tindakan lebih lanjut.

c. Menilai Dampak Audit Kinerja


penilaian pelaksanaan rekomendasi serta dampak audit akan membantu auditor dalam
menilai efektivitas audit kinerja. Dampak yang dihasilkan dari pelaksanaan rekomendasi dapat
bersifat positif atau negatif, direncanakan atau tidak direncanakan.Auditor perlu
memperhitungkan biaya pencapaian dampak sehingga hasil akhir (bersih) dapat
diperkirakan.Dampak yang signifikan harus divalidasi oleh badan atau lembaga yang berwenang.

3. Pelaporan Hasil Tindak Lanjut


Auditor harus melaporkan perbaikan maupun rekomendasi yang belum ditindaklanjuti,
yang ditemukan selama pelaksanaan audit tindak lanjut kepada pihak-pihak yang terkait
(stakeholder). Laporan audit tindak lanjut bertujuan untuk menyediakan informasi bagi
stakeholder mengenai penilaian efektivitas tindak lanjut audit kinerja serta manfaat yang
dihasilkan oleh audit kinerja (seperti penghematan biaya atau manfaat lainnya) dengan syarat :
1. laporan harus  menggambarkan hasil analisis atas manfaat yang diperkirakan dan manfaat aktual
dalam periode tertentu
            2. laporan merupakan ringkasan pelaksanaan rekomendasi
            3. laporan menitiberatkan pada pelaksanaan rekomendasi yang buruk
4. laporan menggambarkan tindakan yang akan diambil atas pelaksanaan rekomendasi yang buruk.
2.4.2        Komunikasi Audite
Auditor harus mengomunikasikan kepada audite bahwa tanggung jawab untuk menyelesaikan
atau menindaklanjuti temuan audit operasional dan rekomendasi berada pada audite.Komunikasi
mengenai tanggung jawab penyelesaian tindak lanjut dimaksudkan untuk menegaskan bahwa
audite bertanggung jawab untuk menindaklanjuti temuan dan rekomendasi audit.Penegasan ini
diperlukan agar pihak audite dapat mengambil tindakan konkrit secara mungkin.Kesalahan atau
keliruan yang tidak segera di perbaiki dapat memperburuk keadaan yang pada akhirnya dapat
menimbulkan kerugian yang lebih besar. Sebelum kegiatan audit berakhir, aditor harus memperoleh
pernyataan atau penegasan tertulis dari auditi bahwa hasil auditnya akan ditindaklanjuti.

2.4.3        Tanggapan Audite
Auditor harus meminta tanggapan terhadap kesimpulan, temuan dan rekomendasi termasuk
tindakan perbaikan yang direncanakan audite, secara tertulis dari pejabat audite yang bertanggung
jawab.
Tanggapan tersebut dievaluasi dan dipahami secara seimbang dan obyektif, serta disajikan
secara memadai dalam LHA.Tanggapan yang diberikan, seperti janji atau rencana tindakan
perbaikan, harus di cantumkan dalam laporan hasil audit, tetapi tidak dapat diterima sebagai
pembenaran untuk menghilangkan temuan dan rekomendasi yang berhubungan dengan temuan
tersebut.
Salah satu cara yang paling efektif untuk memastikan bahwa suatu LHA dipandang adil,
lengkap, dan obyektif adalah adanya review dan tanggapan dari penjabat yang bertanggung jawab.
Sehingga dapat diperoleh suatu laporan yang tidak hanya mengemukakan temuan dan pendapat
auditor saja, melainkan memuat pula pendapat dan rencana yang akan dilakukan oleh pejabat yang
bertanggung jawab tersebut.
Apabila tanggapan audite bertentangan dengan kesimpulan, temuan dan rekomendasi
dalam LHA, dan menurut auditor tanggapan tersebut tidak benar, maka auditor harus
menyampaikan ketidaksetujuan atas tanggapan tersebut tidak benar, maka auditor menyampaikan
ketidaksetujuannya atas tanggapan tersebut beserta alasannya secara berimbang dan obyektif.
Sebaliknya, auditor harus memperbaiki laporannya, apabila auditor berpendapat bahwa tanggapan
tersebur benar.
2.5      Pemantauan Tindak Lanjut Oleh Audite Sampai Tuntas.
2.5.1        Pelaksanaan Pemantauan Tindak Lanjut
APIP harus mengomunkasikan kepada manajemen bahwa tanggung jawab untuk menyelesaikan
dan menindaklanjuti temuan hasil pengawasan dan rekomendasi berada di pihak manajemen yang
diawasi. APIP harus memperoleh pernyataan atau penegasan tertulis dari manajemenbahwa hasil
pengawasannya akan ditindaklanjuti. APIP harus mendokumentasikan data hasil pengawasan untuk
keperluan pemantauan tindak lanjut dan memukhtahirkan data temuan sesuai dengan informasi
tindak lanjut yang telah dilaksanakan manajemen.APIP harus mengindetifikasikan status temu guna
menunjang penyusunan laporan status temuan.Hal tersebut dilakukan dalam upaya penuntasan
tindak lanjut temuan. Laporan status temuan disampaikan APIP kepada pihak yang berkepentingan
sesuai dengan ketentuan laporan tersebut memuat antara lain: temuan dan rekomendasi; sebab-
sebab belum ditindaklanjutinya temuan; serta komentar dan rencana pihak manajemen untuk
menuntaskan temuan.
2.5.2        Prosedur Pemantauan Tindak Lanjut
Auditor harus mendokumentasikan data temuan audit untuk keperluan pemantauan tindak
lanjut dan memuktahirkan data temuan audit sesuaidengan informasi tentang tindak lanjut yang
telah dilaksanakan audit.
Pemantauan dan penilaian tindak lanjut bertujuan untuk memastikan bahwa tindakan yang
tepat telah dilaksanakan audite sesuai rekomendasi. Manfaat audit tidak hanya terletak pada
banyaknya temuan yang dilaporkan, namun juga terletak pada efektifitas tindak lanjut temuan
tersebut .temuan yang tidak ditindak lanjuti dapat merupakan indikasi lemahnya pengendalian audite
dalam mengelola sumber daya yang diserahkan kepadanya.
Apabila audite menindaklanjuti temuan dengan cara yang berlainan dengan rekomendasi
yang diberikan. Auditor harus menilai efektifitas penyelesaian tindak lanjut tersebut. Auditor tidak
harus memaksakan rekomendasinya ditindaklanjutin namun harus dapat menerima langkah lain
yang ternyata lebih efektif.
Pada saat pelaksanaan kegiatan audit, auditor harus memeriksa tindak lanjut atas
rekomendasi sebelumnya.Apabila terdapat rekomendasi yang belum ditindaklanjuti, auditor harus
memperoleh penjelasan yang cukup mengenai sebab rekomendasi belum dilaksanakan, dan
selanjutnya auditor wajib mempertimbangkan kejadian tersebut dalam progam audit yang
disusun.Demikian pula terhadap tindak lanjt yang sudah dilaksanakan harus pula menjadi perhatian
dalam penyusunan progam audit. Auditor harus menilai pengaruh temuan audit yang tidak atau
belum ditindaklanjuti terhadap simpulan atau pendapat atas audit yang sedang dilaksanakan.
2.5.3    Laporan Hasil Pemantauan Tindak Lanjut
1. Laporan Bentuk Surat
Laporan Pemantauan tindak lanjut bentuk surat berisi gambaran secara umum pemantauan
tindak lanjut hasil pengawasan (termasuk hambatan-hambatannya) serta masukan dan saran-saran
mengenai langkah-langkah yang perlu diambil.

2. Laporan Bentuk BAB


Sistematika pelaporan BAB pemantauan tindak lanjut sebagai berikut:

BAB III
PENUTUP
3.1    KESIMPULAN
Temuan audit merupakan himpunan data dan informasi yang dikumpulkan, diolah dan  diuji
selama melaksanakan tugas audit atas kegiatan instansi tertentu. 
Bentuk laporan hasil audit (LHA) dimakasudkan untuk melaporkan hasil audit atas
pelaksanaan tugas dan kegitan secara menyeluruh meliputi aspek tugas pokok dan fungsi dan
aspek-aspek pendukungnya, ditambah uraian singkat hasil audit/evaluasi dan disampaikan
kepada kepala/pimpinan unit kerja yang bersangkutan.
Tindak Lanjut Hasil Audit Oleh Audite & Instasi Yang Berwenang Sesuai Dengan
Fungsinya yaitu dengan Komunikasi Audite Auditor harus mengomunikasikan kepada audite
bahwa tanggung jawab untuk menyelesaikan atau menindaklanjuti temuan audit operasional dan
rekomendasi berada pada audite.