Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

SM K3, UU K3 DAN AUDIT K3

“ Perundang – undangan dan Peraturan K3 ”

Disusun oleh:

Juana Artika Bilfi 1811212003 Linda Susanti 1811211054

Ulfa Niesya Putri 1811212002 Fajria Purnama Risda 1811213033

Delti Fitri Yeni 1811216004 Siti Wanda Jhoyoe .P. 1911211011

Syafa Indah Tafsia 1811211046 Tiara Islami 1811211005

Shafina Putri Aliffa 1811213001 Icha Putri 1811211018


Dean Jelly Rahmi .S. 1811212027 Fuaddilla Al Humairah 1811211022

Dosen pengampu:

Luthfil Hadi Anshari SKM, MSc

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS KESEHATAN

MASYARAKAT UNIVERSITAS ANDALAS

2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah S.W.T atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya,
sehingga dapat menyelesaikan makalah SM K3 , UU K3 DAN AUDIT K3 tentang “
perundang-undangan dan peraturan k3 ”.

Penyusunan makalah ini dilaksanakan atas kerja sama rekan kelompok serta
bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, perkenankan kami menyampaikan
ucapan terima kasih kepada Dosen mata kuliah SM K3 , UU K3 DAN AUDIT K3,
Bapak Luthfil Hadi Anshari SKM, MSc yang telah memberikan bimbingan dalam
penyusunan makalah ini.

Kami menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih banyak kekurangan
dan jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran
yang bersifat membangun.

Penyusun,

Padang,Agustus 2020

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR....................................................................................................i
DAFTAR ISI..................................................................................................................ii
BAB I.............................................................................................................................1
PENDAHULUAN..........................................................................................................1
1.1 Latar Belakang....................................................................................................1
1.2 Rumusan Makalah...............................................................................................2
1.3 Tujuan.................................................................................................................2
BAB II............................................................................................................................3
PEMBAHASAN............................................................................................................3
2.1 Konsep Penggaran Kesehatan.............................................................................3
2.4 Penganggaran Kesehatan Indonesia....................................................................5
BAB III...........................................................................................................................9
PENUTUP......................................................................................................................9
3.1 Kesimpulan.........................................................................................................9
3.2 Saran....................................................................................................................9
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................10
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Undang- Undang No. 1 Tahun 1970 mengatur adanya program keselamatan dan
kesehatan kerja (K3) di Indonesia yang menyatakan bahwa setiap tenaga kerja berhak
mendapatkan perlindungan atas keselamatan dan kesehatan kerja(K3) dalam melakukan
pekerjaan Setiap jenis dan tempat pekerjaan memiliki risiko bahaya yang
berbedabeda.Hal ini dipengaruhi oleh lokasi, proses kerja, material kerja, maupun
alatalat yang digunakan dalam melaksanakan pekerjaan.Salah satu pekerjaan yang
memiliki risiko bahaya yang tinggi adalah rumah sakit. Pada umumnya masyarakat
maupun pekerja di rumah sakit kurang menyadari berbagai potensibahaya yang ada
seperti adanya PAK di rumah sakit yang dapat menyerang semua tenaga kerja, baik
tenaga medis maupun non medis (Anies,2005).

a. Kesehatan Kerja
Pengertian sehat senantiasa digambarkan sebagai suatu kondisi fisik, mental dan sosial
seseorang yang tidak saja bebas dari penyakit atau gangguan kesehatan melainkan juga
menunjukan kemampuan untuk berinteraksi dengan lingkungan dan pekerjaannya.
Paradigma baru dalam aspek kesehatan mengupayakan agar yang sehat tetap sehat dan
bukan sekedar mengobati, merawat atau menyembuhkan gangguan kesehatan atau
penyakit. Oleh karenanya, perhatian utama dibidang kesehatan lebih ditujukan ke arah
pencegahan terhadap kemungkinan timbulnya penyakit serta pemeliharaan kesehatan
seoptimal mungkin. Status kesehatan seseorang, menurut blum (1981) ditentukan oleh
empat faktor yakni :
1. Lingkungan, berupa lingkungan fisik (alami, buatan) kimia (organik I anorganik,
logam berat, debu), biologik (virus, bakteri, microorganisme) dan sosial budaya
(ekonomi, pendidikan, pekerjaan).
2. Perilaku yang meliputi sikap, kebiasaan, tingkah laku.
3. Pelayanan kesehatan: promotif, perawatan, pengobatan, pencegahan kecacatan,
rehabilitasi, dan
4. genetik, yang merupakan faktor bawaan setiap manusia.
Pekerjaan mungkin berdampak negatif bagi kesehatan akan tetapi sebaliknya pekerjaan
dapat pula memperbaiki tingkat kesehatan dan kesejahteraan pekerja bila dikelola
1
dengan baik. Demikian pula status kesehatan pekerja sangat mempengaruhi produktivitas
kerjanya. Pekerja yang sehat memungkinkan tercapainya hasil kerja yang lebih baik bila
dibandingkan dengan pekerja yang terganggu kesehatannya'. Menurut Suma'mur (1976)
Kesehatan kerja merupakan spesialisasi ilmu kesehatan/kedokteran. beserta prakteknya
yang bertujuan agar pekerja/ masyarakat pekerja memperoleh derajat kesehatan setinggi-
tingginya baik fisik, mental maupun sosial dengan usaha preventif atau kuratif terhadap
penyakit/ gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh faktor pekerjaan dan lingkungan
kerja serta terhadap penyakit umum. Konsep kesehatan kerja dewasa ini semakin banyak
berubah, bukan sekedar “kesehatan pada sektor industri” saja melainkan juga mengarah
kepada upaya kesehatan untuk semua orang dalam melakukan pekerjaannya (total health
of all at work).

b. Keselamatan Kerja
Keselamatan kerja atau Occupational Safety, dalam istilah sehari hari sering disebut
dengan safety saja, secara filosofi diartikan sebagai suatu pemikiran dan upaya untuk
menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmaniah maupun rohaniah tenaga kerja
pada khususnya dan manusia pada umumnya serta hasil budaya dan karyanya. Dari segi
keilmuan diartikan sebagai suatu pengetahuan dan penerapannya dalam usaha mencegah
kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Pengertian Kecelakaan
Kerja (accident) adalah suatu kejadian atau peristiwa yang tidak diinginkan yang
merugikan terhadap manusia, merusak harta benda atau kerugianterhadap proses. Karena
pentingnya penerapan kesehatan keselamatan kerja di lingkungan kerja, maka perlu
adanya peraturan perundang-undangan yang mengatur agar setiap perusahaan memil iki
pedoman dalam peneran K3.

B. Rumusan Masalah
1. Apa Saja peraturan yang mendaari adanya kesehatan dan keselamatan
kerja ?
C. Tujuan Masalah
1. Mengetahui peraturan apa saja yang mendasari adanya kesehatan dan
keselamatan dan keselamatan kerja

2
1.1 Rumusan Makalah

 Apa Pengertian Penganggaran Kesehatan?


 Apa Saja Konsep Penganggaran Kesehatan ?
 Apa Pengertian Pengaggaran Nasional ?
 Apa sajaAnggaran Pelayanan Kesehahatan ?
 Apa saja Fungsi dan Tujuan Penganggaran ?

1.2 Tujuan

 Mengetahui definisi dari Penganggaran Kesehatan.


 Mengetahui apa saja Konsep Penganggaran Kesehatan.
 Mengetahui apa Pengertian Penganggaran Nasional.
 Mengetahui apa saja Anggaran Pelayanan Kesehatan.
 Mengerahui apa saja Fungsi dan tujuan penganggaran.
BAB II

PEMBAHASA

2.1 Konsep Penggaran Kesehatan

1. Sistem Anggaran Negara

Sistem anggaran negara, meliputi :

a. Penganggaran Tradisional
Penganggaran tradisional yaitu sistem anggaran tradisional (line-item budgeting
system) adalah sistem anggaran yang berdasarkan obyek pengeluaran, dengan
titik berat pada segi pelaksanaan dan pengawasan anggaran. (Winarno, 2013).
Konsep penganggaran tradisional ini telah diterapkan pada paruh kedua abad ke-
20 dan di anggap sebagai alat utama pencapaian tujuan perusahaan.(Luecke,
2017)
b. Penganggaran Kinerja
Penganggaran kinerja disebut juga dengan performance budgeting system,
merupakan penyempurnaan dari sistem anggaran tradisional, yang menekankan
pada manajemen anggaran yaitu dengan memperhatikan baik segi ekonomi dan
keuangan pelaksanaan anggaran. (Winarno, 2013)
c. Penganggaran Program
Penganggaran program merupakan gabungan dari kedua sistem di atas, lebih
menekankan pada segi perencanaan anggaran dan bukan pada pengendalian
anggaran. (Winarno, 2013)

2. Alokasi Dana Kesehatan

Besarnya alokasi dana untuk kesehatan tergantung pada beberapa kondisi, yaitu
sebagai berikut : (Winarno, 2013)

a. Besarnya pendapatan daerah yaitu Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi
Khusus (DAK) dan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
b. Kemampuan dinas kesehatan menyusun program dan anggaran yang realistis.
c. Visi Pemda dan DPRD tentang kedudukan sektor kesehatan dalam konteks
pembangunan daerah relatif terhadap kesehatan.
d. Kemampuan Dinas Kesehatan untuk melakukan advokasi kepada pemda dan
DPRD.

3. Langkah-Langkah Penganggaran

Langkah-langkah yang harus diikuti dalam penganggaran adalah sebagai berikut :


(Winarno, 2013)

a. Penetapan tujuan
b. Pengevaluasian sumber-sumber daya yang tersedia
c. Negoisasi antara pihak-pihak yang terlibat mengenai angka anggaran
d. Persetujuan akhir
e. Pendistribusian anggaran yang disetujui.

2.2 Fungsi Anggaran

Secara lebih detail anggaran mempunyai beberapa fungsi, antara lain :


(Trisugiarto, 2016)
a. Anggaran merupakan hasil akhir proses penyusunan rencana kerja.
b. Anggaran merupakan cetak biru aktivitas yang akan dilaksanakan di masa
mendatang.
c. Anggaran sebagai alat komunikasi intern yang menghubungkan berbagai unit
kerja dan mekanisme kerja antar atasan dan bawahan.
d. Anggaran sebagai pengendali unit kerja.
e. Anggaran sebagai alat motivasi dan persuasi tindakan efektif dan efisien
dalam pencapain visi organisasi.
f. Anggaran merupakan intrumen politik.
g. Anggaran merupakan instrumen kebijakan fiskal.

2.3 Tujuan Penganggaran

Tujuan penganggaran adalah penyusunan rencana keuangan untuk operasi


pemerintahan atau organisasi di masa depan. Selain itu, penganggaran merupakan
indikasi kebijakan fiskal organisasi untuk mencapai berbagai tujuan meliputi
ekonomi, sosial dan politik.
1. Agar manajer/pimpinan organisasi bersedia melakukan perencanaan dengan
seksama bagi kepentingan organisasinya
2. Mengembangkan koordinasi dan kooperasi dalam organisasi.Meningkatkan
kepedulian anggota organisasi terhadap perannya dalam organisasi.
3. Mengkomunikasikan goals dan objective, tipe dan level pelayanan yangdapat
diberikan, sumber daya yang dibutuhkan, dan pendapatan yangmungkin
dihasilkan dari suatu program tertentu.
4. Mengendalikan keuangan organisasi. Dengan telah disusunnya anggaran,anggota
organisasi dapat mengetahui dengan pasti berapa besar sumberdaya yang akan
mereka konsumsi, khususnya ketika anggaran saat ini dibandingkan dengan
anggaran tahun sebelumnya, sehingga pengelolaan program dapat disesuaikan

2.4 Penganggaran Kesehatan Indonesia

Dapat didefinisikan sebagai proses melalui mana rencana organisasi diwujudkan


dalam bentuk nilai mata uang (rupiah). Ekspresi kuantitatif rencana organisasi ini
adalah merupakan produk akhir proses perencanaan dan cukup membutuhkan
penanganan khusus pada sebagian besar organisasi pelayanan kesehatan. Alokasi
anggaran kesehatan yang tercantum dalam UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan;
Mendapatkan masukan terkait ruang lingkup dan komponen anggaran kesehatan
(Pusat dan Daerah); dan Mengidentifikasi langkah tindak lanjut implementasi UU No.
36 Tahun 2009. Poin penting dalam pertemuan tersebut antara lain:

1. Perlu penjelasan lebih jauh tentang pasal 171 ayat (1) dan (2) UU No. 36
Tahun 2009;
2. Struktur anggaran saat ini (UU APBN) adalah 26% untuk daerah, 26%
untuk subsidi, 20% untuk pendidikan, apabila untuk kesehatan
dialokasikan 5% maka untuk sektor lainnya (infrastruktur, pertanian,
hankam, dll) menjadi 23%. Hal ini perlu mendapat perhatian khusus
karena dalam konstitusi (UUD) tidak menyebut nominal persentase untuk
anggaran kesehatan, sehingga jika masuk dalam pembahasan MK, posisi
UU Kesehatan menjadi sulit karena sejajar dengan UU APBN. Dengan
demikian, proses untuk memenuhi amanat UU No. 36 Tahun 2009 ini,
perlu dibahas di tingkat Eselon I (DJA, Kepala BKF, Ditjen Perimbangan
Keuangan) untuk selanjutnya dibahas di Sidang Kabinet
3. Anggaran kesehatan 5% dihitung berdasarkan anggaran langsung terkait
program kesehatan karena apabila anggaran di sektor lain juga dihitung,
kemungkinan alokasi anggaran kesehatan akan melebihi 5%
4. Perhitungan pemanfaatan anggaran kesehatan sebesar 2/3 untuk pelayanan
public dapat mengacu pada pelaksanaan SPM kesehatan. Namun saat ini,
SPM kesehatan masih berada pada tataran kabupaten, harus dipikirkan
untuk diturunkan sampai dengan tingkat pelayanan, yaitu puskesmas dan
RS
5. Tata cara alokasi anggaran kesehatan perlu diatur dengan PP tentang
pembiayaan kesehatan. Dengan ditetapkannya PP, maka upaya pemenuhan
alokasi anggaran Pemerintah sebesar 5% dapat segera dilakukan.
Penyusunan PP sedapat mungkin melibatkan seluruh stakeholder terkait
dalam Tim Sinkronisasi/Harmonisasi lintas sektor.

Sebagai tindak lanjutnya yaitu dibentuk Tim Kecil yang terdiri dari
Dir. KGM Bappenas, Dir. Otda Bappenas, Dir. Pengembangan Wilayah
Bappenas, Dir. Alokasi Pendanaan Pembangunan Bappenas, Dir.
Penyusunan APBNKemenkeu, Kepala Pusat Kebijakan Belanja Negara
Kemenkeu, Dir. Anggaran I Kemenkeu, Dir. Dana Perimbangan
Kemenkeu, Kepala Biro Perencanaan & Anggaran Kemenkes, Kepala Biro
Keuangan Kemenkes, Kepala Biro Hukum dan Organisasi Kemenkes,
Kepala Pusat Pembiayaan Kesehatan Kemenkes, Staf Ahli Menkes Bidang
Pembiayaan dan Pemberdayaan Masyarakat. Dengan tugas Tim Kecil
antara lain untuk Mendefinisikan alokasi anggaran kesehatan Pemerintah
dan memberikan masukan utama dalam penyusunan PP Pembiayaan
Kesehatan.
Anggaran kesehatan nasional menggunakan dana Alokasi Khusus,
selanjutnya disebut DAK, adalah dana perimbangan dan bersumber dari
pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah tertentu dengan
tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan
daerah dan sesuai dengan prioritas nasional
1. Anggaran tersebut digunakan rata-rata digunakan untuk pengadaan
infrastruktur kesehatan, dan obat dan perbekalan kesehatan dalam
rangka memenuhi kebutuhan obat dan perbekalan kesehatan pada
pelayanan kesehatan primer. Pengadaan infrastruktur kesehatan,
meliputi:
a. Pembangunan Puskesmas
b. Pembangunan Puskesmas Perawatan
c. Pembangunan Pos Kesehatan Desa
d. Pengadaan Puskesmas Keliling Perairan
e. Pengadaan Kendaraan roda dua untuk Bidan Desa
2. Peningkatan pelayanan kesehatan rujukan, dapat dimanfaatkan untuk
peningkatan fasilitas rumah sakit provinsi, kabupaten/kota, antara lain:
a. Peningkatan fasilitas tempat tidur kelas III RS
b. Pemenuhan peralatan unit transfuse darah RS dan bank darah RS
c. Peningkatan fasilitas instalasi gawat darurat RS
d. Peningkatan sarana prasarana dan pengadaan peralatan kesehatan
untuk program pelayanan obstetric neonatal emergency
komprehensif (PONEK) di RS; dan
e. Pengadaan peralatan pemeriksaan kultur. tuberculosis di BLK
provinsi.
3. Untuk kabupaten/kota, alokasi DAK 2010 ditujukan 2 (dua) kegiatan,
yaitu: pemenuhan pelayanan dasar dan pelayanan rujukan. Pelayanan
dasar berupa pemenuhan kesehatan dasar dan pengadaan obat dan
perbekalan kesehatan. Untuk pemenuhan kesehatan dasar, DAK
diberikan kepada 405 kabupaten/kota dengan total anggaran sebesar
Rp1,22 triliun, sementara untuk obat dan perbekalan kesehatan
diberikan kepada 378 kabupaten/kota dengan total anggaran sebesar
Rp 1 triliun. Dana Alokasi Khusus (DAK) adalah dana yang
ditransfer oleh pemerintah pusat kepada pemerintah daerah yang
bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Transfer DAK merupakan konsekuensi lahirnya Ketetapan MPR No.
XV/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Otonomi Daerah ;
Pengaturan, Pembagian dan Pemanfaatan Sumber daya Nasional yang
Berkeadilan serta Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah dalam
Kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kemudian
dilanjutkan dengan lahirnya UU No.22/1999 tentang Pemerintah
Daerah dan UU No. 25/1999 tentang Perimbangan Keuangan antara
Pemerintah Pusat dan Daerah. Yang kemudian disempurnakan
melalui penerbitan UU No.32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah
sebagai pengganti dari UU No.22 Tahun 1999 dan UU No.33 Tahun
2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Keuangan Negara dan
Keuangan Daerah sebagai pengganti UU No.25 Tahun 1999.

Pengertian DAK diatur dalam Pasal 1 angka 23 Undang-Undang


Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara
Keuangan Pusat dan Keuangan Daerah, yang menyebutkan bahwa
“Dana Alokasi Khusus, selanjutnya disebut DAK adalah dana yang
bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah
tertentu dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus
yang merupakan urusan daerah dan sesuai dengan prioritas nasional.
”Pasal 162 UU No.32/2004 menyebutkan bahwa DAK dialokasikan
dalam APBN untuk daerah tertentu dalam rangka pendanaan
desentralisasi untuk

(1) membiayai kegiatan khusus yang ditentukan Pemerintah Pusat


atas dasar prioritas nasional dan

(2) membiayai kegiatan khusus yang diusulkan daerah tertentu Dalam


menjalankan Kebijakan DAK, langkah kebijakan yang dijalankan
oleh pemerintah dibagi menjadi 4 kelompok besar yaitu (i) penetapan
program dan kegiatan, (ii) penghitungan alokasi DAK, (iii) arah
kegiatan dan penggunaan DAK, dan (iv) administrasi pengelolaan
DAK. Pada tulisan ini, penulis hanya akan mencoba membahas
proses penetapan program dan kegiatan serta perhitungan alokasi
DAK
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Definisi Anggaran Kesehatan UU No. 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan di


awali dengan Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat-Bappenas yang mengadakan
Pertemuan Pembahasan Definisi AnggaranKesehatan Sesuai UU No. 36 Tahun 2009
Tentang Kesehatan pada (04/06) diBappenas.Anggaran kesehatan 5% dihitung
berdasarkan anggaran langsung terkait program kesehatan karena apabila anggaran di
sektor lain juga dihitung,kemungkinan alokasi anggaran kesehatan akan melebihi
5%Tata cara alokasi anggaran kesehatan perlu diatur dengan PP tentang pembiayaan
kesehatan. Dengan ditetapkannya PP, maka upaya pemenuhanalokasi anggaran
Pemerintah sebesar 5% dapat segera dilakukan.Penyusunan PP sedapat mungkin
melibatkan seluruh stakeholder terkait dalam Tim Sinkronisasi/Harmonisasi lintas
sektor.

3.2 Saran

Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi pokok
bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya,
keterbatasannya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada
hubungannya dengn judul makalah ini. Penulis banyak berharap para pembaca yang
budiman sudi memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penulis demi
sempurnanya makalah ini dan penulisan makalah di kesempatan-kesempatan
berikutnya.
DAFTAR PUSTAKA

Blocher. Edward J,. Chen, Kung H,. dan Lin, Thomas w. 1999. Cost management :
A strategic Emphasis Ch. 9.Mc grow. Hill. USA.

https://www.academia.edu/5837697/Sistem_Pembiayaan_Nasional_dan_Penyusun
an_Anggaran_Kesehatan. Diakses tanggal 27 Januari 2020, pukul 20.00 WIB

https://id.scribd.com/document/377906227/KONSEP-PENGANGGARAN-
KESEHATAN. Diakses Tanggal 29 Januari 2020 pukul 18:00

https://id.scribd.com/document/377906227/KONSEP-PENGANGGARAN-
KESEHATAN. Diakses pada tanggal 29 Januari 2020, pukul 13.38 WIB

https://www.scribd.com/document/366268304/Pengertian-Tujuan-Manfaat-
Macam-Penganggaran-Kesehatan. Diakses pada 28 Januari 2020 pukul 19.30

Indra Bastian, 2001.Akutansi SektorPublik di Indonesia.Jakarta: BPFE.

UU no. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan

UU no. 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara