Anda di halaman 1dari 18

Page |1

MATA KULIAH : Pengendalian Vektor dan Binatang Pengganggu (PVPB-A)


DOSEN : Hamsir Ahmad, SKM,,M.kes

INSEKTA (VEKTOR PENYAKIT)

DISUSUN OLEH
NAMA : NIRWANA ROSA MUSLIM
NIM : (PO.71.3.221.14.1.026)
TINGKAT : II A
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MAKASSAR
JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN
PRODI D.III

1|Page
Page |2

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan karunia-Nya, Saya dapat
menyelesaikan makalah yang berjudul “VEKTOR PENYAKIT” tepat pada waktunya.

Makalah ini merupakan tugas mata kuliah “PVPB-A”. Dengan membuat tugas ini
Kami diharapkan mampu untuk lebih memahami tentang Vektor dan Binatang Penggaggu

Dalam pembuatan tugas makalah ini, Saya banyak mengalami kesulitan untuk
menyelesaikan terutama karena kurangnya pengetahuan yang ada pada kami. Oleh karena itu
saya memanfaatkan dari berbagai jenis referensi agar bisa menyempurnakan dan
menyelesaikan tugas ini.

Makassar, 11 September 2015

NIRWANA ROSA MUSLIM

2|Page
Page |3

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR 1
DAFTAR ISI 2

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang 3
B. Tujuan 3
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Pengendalian Vektor dan Binatang Pengganggu 4
B. Taksonomi Nyamuk 4
C. Siklus Hidup Serangga 5
D. Fisiologi Serangga
1) Sistem Integumen Serangga 6
2) Sistem Pernafasan Serangga 7
3) Sistem Pencernaan Serangga 9
4) Sistem Peredaran Darah Serangga 9
5) Sistem Saraf Serangga 10
6) Sistem Hormon Serangga 11
E. Morfologi Serangga (Nyamuk) 14
F. Peranan Vektor dalam Kesehatan 14
G. Pengendalian Vektor dan Binatang Penggaggu 16
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan 17
B. Saran 17
DAFTAR PUSTAKA

3|Page
Page |4

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Penyakit-penyakit di Indonesia yang ditularkan melalui serangga merupakan
penyakit endemis pada daerah tertentu, antara lain demam berdarah dengue (DBD),
malaria, dan kaki gajah. Akhir-akhir ini, muncul penyakit virus chikungunyah yang
ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Selain itu, juga terdapat penyakit
saluran pencernaan, seperti disentri, kolera, demam tifoid dan paratifoid yang
ditularkan secara mekanis oleh lalat rumah.
            Beberapa vektor yang sering ada di Indonesia adalah nyamuk, lalat, kutu,
pinjal dan tungau. Nyamuk yang menjadi vector penyakit penting di Indonesia yaitu
genus culex, anopheles, dan aedes. Genus lalat yang penting adalah musca. Peran kutu
sebagai vector belum definitif, akan tetapi karena ia menghisap darah, maka besar
sekali kemungkinannya bahwa kutu dapat menyebarkan penyakit. Pinjal yang pernah
terkenal dimasa lalu adalah pinjal tikus (xenopsylla cheopis), penyebaran penyakit
pest, yang disebabkan bakteri pasteurella pestis, saast ini penyakit pest sudah jarang
didapat.

B. TUJUAN
1. Untuk Mengetahui Pengertian Pengendalian Vektor dan Binatang Pengganggu
2. Untuk MengetahuiTaksonomi Nyamuk
3. Untuk Mengetahui Siklus Hidup Serangga
4. Untuk Mengetahui Fisiologi Serangga
5. Untuk Mengetahui Sistem Integumen Serangga
6. Untuk Mengetahui Sistem Pernafasan Serangga
7. Untuk Mengetaui Sistem Pencernaan Serangga
8. Untuk Mengetahui Sistem Peredaran Darah Serangga
9. Untuk Mengetahui Sistem Saraf Serangga
10. Untuk MengetahuiSistem Hormon Serangga
11. Untuk Mengetahui Morfologi Serangga (Nyamuk)
12. Untuk Mengetahui Peranan Vektor dalam Kesehatan

4|Page
Page |5

BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN PENGENDALIAN VEKTOR dan BINATANG PENGGANGGU


Vektor adalah binatang atau serangga yang dapat menularkan, memindahkan, atau
menyebarkan penyalkit dari orang sakit ke orang yang tidak sakit.
Berikut ini beberapa pendapat para ahli tentang pengertian dari vektor :
1. Vektor adalah antropoda yang dapat memindahkan atau mengeluarkan agen infection
dari sumber infeksi  kepada host yang rentan (Adang, I).
2. Vektor adalah organisme hidup yang dapat menularkan agen penyakit dari satu hewan
ke hewan lain atau ke manusia (Budiman, C. 2006).
3. Vektor adalah seekor binatang yang membawa bibit penyakit dari seekor binatang
atau seorang manusia kepada binatang lainnya atau manusia lainnya (Adi , H.S.
1993).
4. Vektor penyakit merupakan organisme hidup yang dapat menularkan agent penyakit
dari satu hewan ke hewan lain atau ke manusia (Chandra, 2007)
Pengendalian vektor dan binatang pengganggu adalah upaya untuk mengurangi atau
menurunkan populasi vektor atau binatang pengganggu dengan maksud pencegahan atau
pemberantasan penyakit yang ditularkan atau gangguan (nuisance) oleh vektor dan binatang
pengganggu tersebut.
Menurut Kusnoputranto dalam Simanjuntak (2005) yang dimaksud dengan pengendalian
vektor adalah semua usaha yang dilakukan untuk menurunkan atau menekan populasi vektor
pada tingkat yang tidak membahayakan kesehatan masyarakat. 
Jadi Pengendalian vektor adalah semua upaya yang dilakukan untuk menekan,
mengurangi, atau menurunkan tingkat populasi vektor sampai serendah rendahnya sehigga
tidak  membahayakan kehidupan manusia.
B. TAKSONOMI NYAMUK
1. Klasifikasi ilmiah dari nyamuk Aedes sp.
Spesies lain dari Aedes adalah A. Albopictus yang memiliki subgenus yang sama yaitu
Stegomyia
Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Class : Insecta
Ordo : Diptera
Family : Culicidae
Subfamily : Culicinae
Genus              : Aedes
Spesies            : Aedes aegypti
2. Klasifikasi Ilmiah Nyamuk Anopoles sp.
Beberapa spesies nyamuk Anopheles sp. Antara lain A. Kochi , A. Subpicatus, A.
Balabacensis
Kingdom        : Animal
Phylum          : Arthropoda

5|Page
Page |6

Kelas              : Insecta


Ordo               : Diphtera
Family            : Culicidae
Sub Family    : Anophelini
Genus             : Anopheles
Spesies          : Anopheles sp.
3. Klasifikasi Nyamuk Culex sp.
Kingdom : Animal
Phylum          : Arthropoda
Kelas              : Insecta
Ordo               : Diphtera
Family            : Culicidae
Sub Family : Culicinae
Genus             : Culex
Spesies          : Culex sp.
4. Klasifikasi Nyamuk Mansonia
Kingdom         : Animalia
Phylum            : Arthropoda
Class                : Insecta
Ordo                : Diptera
Genus              : Mansonia

C. SIKLUS HIDUP SERANGGA


Serangga dapat memiliki salah satu dari tiga jenis metamorfosis dan siklus kehidupan.
Metamorfosis menggambarkan bagaimana serangga berubah dari serangga dewasa atau muda
menjadi serangga dewasa dalam setidaknya dua tahap.
Serangga dapat mengalami metamorfosis bertahap (tidak lengkap), di mana transformasi
halus, atau metamorfosis lengkap, di mana setiap tahap siklus hidup muncul cukup berbeda
dari yang lain. Dalam beberapa serangga, mungkin tidak ada metamorfosis sejati sama sekali.
Pada serangga terdapat dua macam metamorfosis utama, yaitu hemimetabola (simple
metamorphosis, heterometabola) dan holometabola (complex metamorphosis)
a. Ametamorphosa yaitu perubahan yang tidak tampak atau bahkan tidak mengalami
perubahan pada siklus hidup serangga. Contohnya gegat, firebrats, springtail
b. Hemimetabola (simple metamorphosa) disebut juga sebagai metamorfosis tidak
sempurna atau perubahan sederhana. Contohnya capung, belalang, Belalang sembah,
kecoa, rayap. Tahapan perkembangannya sebagai berikut :

 Telur
 Nimfa, ialah serangga muda yang mempunyai sifat dan bentuk sama dengan
dewasanya. Nimfa bisa memerlukan waktu dari mulai 4 minggu sampai dengan
beberapa tahun untuk terus berkembang sampai cukup besar untuk berubah menjadi
dewasa.

6|Page
Page |7

 Imago (dewasa), ialah fase yang ditandai telah berkembangnya semua organ tubuh
dengan baik, termasuk alat perkembangbiakan serta sayapnya.

c. Holometabola disebut juga sebagai metamorfosis sempurna. Contohnya kupu-kupu,


ngengat, lalat, semut, lebah, kumbang, nyamuk. Tahapan dari metamorfosis sempurna
ini adalah:

 Telur
 Larva, serangga muda yang bentuk dan sifatnya berbeda dengan dewasa.
 Pupa, atau chrysalis. Pupa adalah kepompong dimana pada saat itu serangga tidak
melakukan kegiatan apa-apa. Di dalam pupa, serangga akan mengeluarkan cairan
pencernaan, untuk menghancurkan tubuh larva, menyisakan sebagian sel saja.
Sebagian sel itu kemudian akan tumbuh menjadi dewasa menggunakan nutrisi dari
hancuran tubuh larva.
 Imago, fase dewasa atau fase perkembangbiakan.

D. FISIOLOGI SERANGGA
1) Sistem Integumen
Sistem integumen adalah sistem organ yang membedakan, memisahkan,
melindungi, dan menginformasikan hewan terhadap lingkungan sekitarnya. Sistem ini
seringkali merupakan bagian sistem organ yang terbesar yang mencakup kulit,
rambut, bulu, sisik, kuku, kelenjar keringat dan produknya (keringat atau lendir).
Serangga memiliki dinding tubuh yang disebut integumen yang berperan
sebagai kerangka luar (eksoskleleton).
Anatomi Luar Integumen
Integumen terdiri dari tiga lapisan utama, yaitu :
1. Lapisan dasar (basement membrane).
2. Epidermis atau hipodermis yang mempunyai ketebalan satu sel.

7|Page
Page |8

3. Lapisan kutikula yang tebalnya kurang lebih 1m.

Kutikula terdiri dari sel-sel mati yang dibentuk oleh sel hidup di bawahnya
yaitu epikutikula, dan terdiri dari prokutikula dan epikutikula. Prokutikula terdiri dari
lapisan yang lebih tebal dibandingkan epikutikula.

1. Prokutikula terdiri dari lapisan endokutikula dan eksokutikula.


2. Epikutikula merupakan lapisan tipis yang biasanya terdiri dari :

(a). Lapisan dalam disebut lapisan kutikulin (lipoprotein).

(b). Lapisan luar disebut lapisan lilin yang sulit ditembus air.

1. Bagian yang mengeras dari kutikula terutama terdapat pada lapisan eksokutikula,
disebabkan oleh adanya sklerotin sebagai hasil dari proses pengerasan yang disebut
dengan sklerotisasi.
2. Kutikula relatif permiabel, dan bila keadaannya tipis, maka dapat dilalui oleh air dan
gas. 

Pada kutikula sering dijumpai :


1. sulkus, yaitu lekukan pada kutikula bagian luar
2. sutura, yaitu garis persatuan antara dua sklerit yang terpisah
3. apodema atau apofisis, yaitupenonjolan bagian dalam kutikula 

Integumen serangga sangat sering terlibat dalam strategi pertahanan terhadap


predator dan agen patogen. Umumnya merupakan titik kontak pertama dalam
interaksi antara musuh alami serangga dan semacamnya. Ini seringkali menawarkan
perlindungan yang efisien sebagai penghalang fisik karena kekerasannya, misalnya,
dalam kumbang dewasa.

Exoskeleton serangga (integumen) berfungsi tidak hanya sebagai pelindung


seluruh tubuh, tetapi juga sebagai permukaan untuk otot lampiran, penghalang air-
ketat terhadap pengeringan, dan antarmuka sensorik dengan lingkungan. Ini adalah
struktur berlapis dengan empat wilayah fungsional: epicuticle, procuticle, epidermis,
dan membran basal.

2) Sistem Pernafasan
Insecta (Serangga) bernapas dengan menggunakan tabung udara yang disebut
trakea. Udara keluar masuk ke pembuluh trakea melalui lubang-lubang kecil pada
eksoskeleton yang disebut stigma atau spirakel. Stigma dilengkapi dengan bulu-bulu
untuk menyaring debu. Stigma dapat terbuka dan tertutup karena adanya katup-katup
yang di atur oleh otot. Tabung trakea bercabang-cabang ke seluruh tubuh. Cabang
terkecil berujung buntu dan berukuran kurang lebih 0,1 nano meter. Cabang ini
disebut trakeolus (berisi udara dan cairan). Oksigen larut dalam cairan ini kemudian

8|Page
Page |9

berdifusi ke dalam sel-sel di dekatnya. Jadi, pada Insecta, oksigen tidak diedarkan
melalui darah, tetapi melalui trakea.

Serangga mempunyai alat pernapasan khusus berupa system trachea yang


berfungsi untuk mengengkut dan mngedarkan O2 ke seluruh tubuh serta mengangkut
dan mengeluarkan CO2 dari tubuh. Trachea memanjang dan bercabang-cabang
menjadi saluran hawa halus yang masuk ke seluruh jaringan tubuh oleh karena itu,
pengangkutan O2 dan CO2 dalam system ini tidak membutuhkan bantuan sitem
transportasi atau darah.

Mekanisme pernafasan pada serangga

a. Jika otot perut berkontraksi maka trakea mexrupih sehingga udara kaya CO2 keluar
b. Sebaliknya, jika otot perut berelaksasi maka trakea kembali pada volume semula
sehingga tekanan udara menjadi lebih kecil dibandingkan tekanan di luar sebagai
akibatnya udara di luar yang kaya O2 masuk ke trakea.
c. udara masuk dan keluar melalui stigma, yaitu lubang kecil yang terdapat di kanan-kiri
tubuhnya.
d. Selanjutnya dari stigama, udara masuk ke pembuluh trachea yang memanjang dan
sebagian ke kantung hawa.
e. trakea berfungsi mengangkut O2 dan mengedarkannya ke seluruh tubuh, dan
sebaliknya mengangkut CO2 hasil respirasi untuk dikeluarkan dari tubuh.
f. Di bagian ujung trakeolus terdapat cairan sehingga udara mudah berdifusi ke jaringan
g. Pada serangga bertubuh besar terjadinya pengeluaran gas sisa pernafasan terjadi
karena adanya pengaruh kontraksi otot-otot tubuh yang bergerak secara teratur.
Sistem pernafasan pada serangga megenal dua sistem, yaitu sistem terbuka
dan sistem tertutup. Digunakan alat atau organ yang disebut spirakulum (spiracle),
juga tabung-tabung trakhea dan trakheola. Tekanan total dari udara sebenarnya
merupakan jumlah tekanan gas N2, O2, CO2 dan gas-gas lain. O2 sendiri masuk ke
dalam jaringan dengan satu proses tunggal yaitu adanya tekanan udara dalam

9|Page
P a g e | 10

jaringan. Tekanan O2 dengan demikian harus lebih besar daripada tekanan udara
dalam jaringan, sebaliknya tekanan CO2 dalam jaringan harus lebih besar dibanding
yang ada di udara.

3) Sistem Pencernaan
Sistem pencernaan pada serangga dibagi menjadi tiga bagian
a. Foregut atau Stomodeum : Perut bagian depan , terdapat katup cardiac velve
(Stomodeal)
Di daerah stomodeum : esofagus, tembolok (crop), di dalam preventikulus
terdapat benda seperti kait (gastricmil) berfungsi untuk mengerat makanan
yang padat
b. Midgut atau Mesenteron : perut bagian tengah, terdapat katup pyloric valvae
(Protocdeal)
Pada daerah mesenteron tempat makanan yang akan dicerna yaitu pada
ventrikulus (stomach). Pada daerah mesenteron terdapat gasric caeca yang
bentuknya seperti jari dan terletak di anterior dari ventrikulus dan
menghasilkan enzim-enzim pencernaan
c. Hind gut atau Protocdeum : perut bagian belakang
Protocdeum terdiri dari dua bagian yaitu usus depan (Intestine anterior)
dan pada bagian posterior terdapat rektum dan lubang anus
Saluran-saluran pencernaan tersebut berasal dari turunan yang berbeda,
saluran pencernaan depan dan belakang berasal dari jaringan ektodermal dan
saluran pencernaan tengah berasal dari jaringan endodermal. Bentuk saluran
pencernaan ini dipengaruhi oleh cara makan dan makanan serangga, sehingga
hal ini akan menyebabkan adanya perbedaan-perbedaan (penyesuaian-
penyesuaian) diantara bentuk pencernaan serangga.
4) Sistem Peredaran Darah
Darah serangga terutama berkaitan dengan penyebaran molekul
makanan ke sel-sel tubuh dan membuang limbah metabolisme mereka. Dalam
banyak serangga darah berwarna kekuningan atau kehijauan, tetapi larva lalat
pasir dan beberapa serangga lain memiliki darah yang berwarna merah karena
mengandung pigmen pembawa oksigen hemoglobin. Dalam serangga ini
darah juga berfungsi untuk membawa oksigen ke sel-sel tubuh.

10 | P a g e
P a g e | 11

Sistem peredaran darah serangga dikatakan sistem terbuka karena


darah mengisi rongga tubuh secara umum dan hanya ada beberapa pembuluh
darah. Pembuluh darah utama adalah tabung sederhana yang terletak di atas
saluran pencernaan. Bagian belakang tabung disebut jantung dan dibagi
menjadi serangkaian kamar oleh beberapa katup.
Darah dari rongga tubuh memasuki ruang tersebut melalui lubang kecil
dan, sekali di dalam jantung, darah dipompa ke bagian depan tabung dengan
kontraksi otot-otot yang mengelilingi jantung. Bagian depan tabung, aorta,
membawa darah ke kepala di mana ia dilepaskan. Darah kemudian mengalir
lamban kembali ke rongga tubuh secara umum, melumasi berbagai jaringan
dan sel.
5) Sistem Saraf
Jaringan saraf dapat dibagi ke dalam saraf pusat dan saraf tepi. Saraf
pusat terdiri dari sepasang rantai saraf rantai yang terdapat di sepanjang tubuh
bagian ventral. Sistem saraf serangga berupa sistem saraf tangga tali
berjumlah sepasang yang berada di sepanjang sisi ventral tubuhnya. Sistem
saraf yang terdiri dari serangkaian ganglia, dihubungkan dengan tali saraf
ventral terdiri dari dua paralel connectives sepanjang perut.
Dalam sistem saraf serangga, otak anatomis dibagi ke dalam
protocerebrum yang mencakup mata majemuk dan oselli, deutocerebrum yang
mencakup antenna, dan tritocerebrum yang mencakup labrum dan usus depan.
Segera di belakang otak adalah subesophageal ganglion, yang terdiri dari tiga
pasang ganglia menyatu. Ini mengendalikan mulut, kelenjar ludah dan otot-
otot tertentu.
Pada berbagai tempat di segmen tubuh, ada pembesaran saraf tangga
tali yang disebut ganglia . Ganglia berfungsi sebagai pusat refleks dan
pengendalian berbagai kegiatan.Ganglia bagian anterior yang lebih besar
berfungsi sebagai otak.
Ada 3 macam ganglion :
(1) Ganglion kepala, menerima urat saraf yang berasal dari mata dan antena.
(2) Ganglion di bawah kerongkongan, mengkoordinasi aktivitas sensoris dan
motoris rahang bawah (mandibula), rahang atas (maksila), dan bibir bawah
(labium).
(3) Ganglion ruas-ruas badan berupa serabut-serabut saraf yang menuju ruas-ruas
dada, perut, dan alat-alat tubuh yang berdekatan.

11 | P a g e
P a g e | 12

Sedangkan sel saraf tepi terdiri dari 3 macam sel saraf, yaitu :
a. sel saraf indera: membawa impuls dari salat indera.
b. sel perantara (internuncial): mrmbawa impuls antara sel saraf.
c. sel saraf motor: membawa impuls dari pusat integrasi ke otot.
Ada 3 macam susunan, yaitu
1. Monopolar
2. Bipolar
3. Multipolar

6) Sistem Hormon
Pada Arthropoda dari kelompok insekta menghasilkan tiga macam
hormon yaitu: hormon otak, hormon ekdison, dan hormon juvenil. Ketiga
hormon tersebut berfungsi untuk  mengatur proses metamorfosis.
 Hormon otak disekresikan oleh bagian otak, dan pelepasannya dipengaruhi
oleh faktor makanan, cahaya, atau suhu. Selain itu hormon otak berfungsi
memicu sekresi hormon ekdison dan hormon juvenil.
 Hormon ekdison perfungsi pada pengaturan proses pergantian kulit (ekdisis).
 Hormon juvenil berperan menghambat proses metamorfosis.
Ketiga hormon itulah yang berperan dalam proses metamorfosis dan
pergantian kulit pada kelompok insekta.

12 | P a g e
P a g e | 13

E. MORFOLOGI SERANGGA
Nyamuk adalah golongan serangga yang termasuk suku culicidae ordo diptera yang
berbentuk langsung baik tubuhnya, sayap maupun proboscisnya. Nyamuk Anopheles
sp merupakan nyamuk vektor penyakit malaria.
Pada dasaranya semua jenis serangga mempunyai dua hal pokok
 Enam buah kaki (3 pasang)
 Tubuh atau badan dibagi menjadi tiga bagian utama
a) Head (Kepala)
(1) Antena : Fungsi utama antenna pada serangga adalah sebagai alat indera (sensory),
sedangkan fungsi lain dari antenna pada serangga adalah sebagai penerima rangsangan
fisik, bau, suhu, kelembaban, suara, dan terkadan memainkan perananan penting dalam
proses perkawinan serangga
(2) Maxil ary
(3) Palps
(4) Proboscis
(5) Femur
(6) 2 Compound eyes
b) Thorax (Dada)
(7) Masontum
(8) 3 pairs or legs
(9) Bristles on thorax
c) Abdomen (Perut)
(10) Banded Abdomen
(11) 2 wings with veins
(12) Torous
(13) Tibia

F. PERANAN VEKTOR DALAM KESEHATAN

13 | P a g e
P a g e | 14

Secara umum, vektor mempunyai peranan yaitu sebagai pengganggu dan penular
penyakit. Vektor yang berperan sebagai pengganggu yaitu nyamuk, kecoa/lipas, lalat, semut,
lipan, kumbang, kutu kepala, kutu busuk, pinjal, dll.

Penularan penyakit pada manusia melalui vektor penyakit berupa serangga dikenal
sebagai arthropod - borne diseases atau sering juga disebut sebagai vector – borne diseases.
Vektor penyakit dari arthropoda yang berperan sebagai penular penyakit dikenal sebagai
arthropod - borne diseases atau sering juga disebut sebagai vector – borne diseases. Agen
penyebab penyakit infeksi yang ditularkan pada manusia yang rentan dapat melalui beberapa
cara yaitu :
 Dari orang ke orang
 Melalui udara
 Melalui makanan dan air
 Melalui hewan
 Melalui vektor arthropoda.
Penularan penyakit pada manusia melalui vektor penyakit berupa serangga yang dikenal
sebagai arthropod-borne diseases atau sering juga disebut sebagai vektor-borne diseases
merupakan penyakit yang penting dan seringkali bersifat endemis maupun epidemis dan
menimbulkan bahaya kematian.
Di Indonesia penyakit-penyakit yang ditularkan melalui serangga merupakan penyakit
endemis pada daerah tertentu antara lain seperti Demam Berdarah Dengue (DBD), malaria,
kaki gajah dan sekarang ditemukan penyakit virus Chikungunya yang ditularkan melalui
gigitan nyamuk Aedes aegypti, disamping penyakit saluran pencernaan seperti dysentery,
cholera, typhoid fever dan paratyphoid yang ditularkan secara mekanis oleh lalat rumah
(Chandra, 2006). Sebagai contoh kecenderungan penyakit DBD di Indonesia semakin
meningkat. Sejak Januari sampai dengan 5 Maret tahun 2004 total kasus DBD di seluruh
propinsi di Indonesia sudah mencapai 26.015, dengan jumlah kematian sebanyak 389 orang.
Kasus tertinggi terdapat di Provinsi DKI Jakarta (Depkes RI, 2004)
G. PENGENDALIAN VEKTOR dan BINATANG PENGGANGGU
1. Pengendalian kimiawi
Cara ini lebih mengutamakan penggunaan pestisida/rodentisida untuk peracunan.
Penggunaan racun untuk memberantas vektor lebih efektif namun berdampak masalah
gangguan kesehatan karena penyebaran racun tersebut menimbulkan keracunan bagi petugas
penyemprot maupun masyarakat dan hewan peliharaan.
2. Pengendalian Fisika-Mekanika
Cara ini menitikberatkan kepada pemanfaatan iklim/musim dan menggunakan alat penangkap
mekanis antara lain :
o Pemasangan perangkap tikus atau perangkap serangga
o Pemasangan jarring

14 | P a g e
P a g e | 15

o Pemanfaatan sinar/cahaya untuk menarik atau menolak (to attrack and to


repeal)
o Pemanfaatan kondisi panas dan dingin untuk membunuh vektor dan
binatang penganggu.
o Pemanfaatan kondisi musim/iklim untuk memberantas jentik nyamuk.
o Pemanfaatan suara untuk menarik atau menolak vektor dan binatang
pengganggu.
o Pembunuhan vektor dan binatang pengganggu menggunakan alat
pembunuh (pemukul, jepretan dengan umpan)
o Pengasapan menggunakan belerang untuk mengeluarkan tikus dari
sarangnya sekaligus peracunan.
o Pembalikan tanah sebelum ditanami.
o Pemanfaatan arus listrik dengan umpan atau attracktant untuk membunuh
vektor dan binatang pengganggu (perangkap serangga dengan listrik daya
penarik menggunakan lampu neon).
3. Pengendalian Biologis
Pengendalian secara biologis dilakukan dengan dua cara, yakni :
a. Memelihara musuh alaminya
Musuh alami insekta dapat berupa pemangsanya ataupun mikroba penyebab penyakitnya.
Untuk ini perlu diteliti lebih lanjut pemangsa dan penyebab penyakit mana yang paling
efektif dan efisien mengurangi populasi insekta. Untuk ni perlu juga dicari bagaimana
caranya untuk melakukan pengendalian pertumbuhan pemangsa dan penyebab penyakit ini
apabila populasi vektor sudah terkendali jumlahnya.
b. Mengurangi fertilitas insekta
Untuk cara kedua ini pernah dilakukan dengan meradiasi insekta jantan sehingga steril dan
menyebarkannya di antara insekta betina. Dengan demikian telur yang dibuahi tidak dapat
menetas. Cara kedua ini masih dianggapa terlalu mahal dan efisiensinya masih perlu dikaji.

15 | P a g e
P a g e | 16

BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Vektor merupakan antropoda organisme hidup yang dapat memindahkan atau
menularkan agen penyakit dari seekor binatang atau seorang manusa kepada binatang
lainnya atau manusia lainnya.
B. SARAN
Oleh karena vektor penyakit bisa menyebarkan dan mengganggu kesehatan manusia
dibutuhkan beberapa langkah dan usaha untuk menurunkan serta menekan kuantitas dari
vektor ini. Ada beberapa pengedalian yang bisa dilakukan namun cara yang paling
efektif adalah dengan menjaga lingkungan agar tetap bersih serta pola hidup yang sehat.

16 | P a g e
P a g e | 17

DAFTAR PUSTAKA
http://biologimediacentre.com/sistem-koordinasi-hormon-pada-hewan-dan-
feromon-3/ diakses pada tangga 9 September 2015 pukul 15.12 WITA

http://kliksma.com/2014/12/sistem-peredaran-darah-pada-serangga-
insekta.html diakses pada tanggal 9 September 2015 pukul 15.53WITA

http://kosmawar.blogspot.com/
diakses pada tanggal 10 September 2015 pukul 12.25 WITA

http://bagasrasid89.blogspot.com/2012/12/makalah-nyamuk-aedes-aegypti-
anopheles.html diakses pada tanggal 10 September 2015 pukul 13.07

17 | P a g e
P a g e | 18

18 | P a g e