Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH

SANITASI TEMPAT-TEMPAT UMUM


“SANITASI PUSKESMAS”

Oleh:
Fajria Purnama Risda
1811213033

Dosen Pengampu:
Nizwardi Azkha, SKM, MPPM, M.Pd, M.Si

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS ANDALAS
2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur Kami ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah


melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan
makalah yang berjudul “Sanitasi Puskesmas” ini.

Penyusunan makalah ini ditujukan kepada Fakultas Kesehatan


Masyarakat sebagai pemenuhan syarat untuk menyelesaikan tugas makalah
mata kuliah Sanitasi Tempat-Tempat Umum. Terima kasih penulis ucapkan
kepada dosen mata kuliah Sanitasi Tempat-Tempat Umum yang telah
memberikan bimbingan materi dalam pembelajaran sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah ini.

Penullis menyadari makalah ini masih memiliki banyak kekurangan,


oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun
agar dapat mengoreksi kekurangan tersebut. Akhirnya penulis berharap semoga
makalah ini dapat bermanfaat bagi seluruh pembaca.

Padang, 24 Agustus 2020

Fajria Purnama Risda

i
ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..............................................................................................i

DAFTAR ISI............................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN........................................................................................1

1.1 Latar Belakang................................................................................................1

1.2 Rumusan Masalah..........................................................................................2

1.3 Tujuan.............................................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN.........................................................................................3

2.1 Pengertian Sanitasi Hotel...............................................................................3

2.2 Persyaratan Dasar...........................................................................................4

BAB III HASIL PEMERIKSAAN SANITASI PEMERIKSAAN........................11

BAB IV PENUTUP...............................................................................................19

3.1 Kesimpulan...................................................................................................19

3.2 Saran.............................................................................................................19

DAFTAR PUSTAKA............................................................................................20
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kesehatan Lingkungan adalah upaya pencegahan penyakit dan/atau gangguan
kesehatan dari faktor risiko lingkungan untuk mewujudkan kualitas lingkungan
yang sehat baik dari aspek fisik, kimia, biologi, maupun sosial. Pengaturan
Kesehatan Lingkungan bertujuan untuk mewujudkan kualitas lingkungan yang
sehat, baik dari aspek fisik, kimia, biologi, maupun sosial, yang memungkinkan
setiap orang mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.
Pusat Kesehatan Masyarakat sebagai salah satu jenis fasilitas pelayanan
kesehatan tingkat pertama memiliki peranan penting dalam sistem kesehatan
nasional, khususnya subsistem upaya kesehatan. Puskesmas adalah fasilitas
pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan
upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama, dengan lebih mengutamakan
upaya promotif dan preventif, untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang
setinggi-tingginya di wilayah kerjanya.
Sanitasi menurut kamus bahasa Indonesia diartikan sebagai pemelihara
kesehatan. Menurut WHO, sanitasi lingkungan (environmental sanitation) adalah
upaya pengendalian semua faktor lingkungan fisik manusia yang mungkin
menimbulkan atau dapat menimbulkan hal-hal yang merugikan bagi
perkembangan fisik, kesehatan dan daya tahan hidup manusia. Sanitasi puskesmas
dapat diartikan sebagai upaya pengawasan berbagai faktor lingkungan fisik,
kimiawi, dan biologik di puskesmas yang dapat menimbulkan atau
mengakibatkan pengaruh buruk terhadap kesehatan petugas, penderita, pengunjun
g maupun bagi masyarakat di sekitar puskesmas.
Oleh karena itu sebagai mahasiswa kesehatan masyarakat perlu lebih
mengetahui tentang kesehatan lingkungan dan sanitasi khususnya di puskesmas
untuk mewujudkan kualitas lingkungan yang sehat dan memungkinkan setiap
orang mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.

1
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah Pengertian Sanitasi Puskesmas?
2. Bagaimana Persyaratan Dasar Puskesmas ?
3. Bagaimana Teori Terkait tentang Sanitasi Puskesmas ?
4. Bagaimana masalah terkait sanitasi di Puskesmas ?
5. Bagaimana pemecahan masalah terkait sanitasi di Puskesmas ?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui Pengertian Sanitasi Puskesmas
2. Untuk mengetahui bagaimana Persyaratan Dasar Puskesmas
3. Untuk Mengetahui Teori Terkait tentang Sanitasi Puskesmas ?
4. Untuk Mengetahui masalah terkait sanitasi di Puskesmas ?
5. Untuk Mengetahui pemecahan masalah terkait sanitasi di Puskesmas ?

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Sanitasi Puskesmas

2.1.1. Puskesmas
1. Pengertian
Menurut PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 43 TAHUN 2019 Puskesmas adalah fasilitas pelayanan
kesehatan yang menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakan dan
upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama, dengan lebih
mengutamakan upaya promotif dan preventif, untuk mencapai
derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya di wilayah
kerjanya.
2. Tugas dan Fungsi
Puskesmas mempunyai tugas melaksanakan kebijakan
kesehatan untuk mencapai tujuan pembangunan kesehatan di
wilayah kerjanya dalam rangka mendukung terwujudnya kecamatan
sehat.
Dalam melaksanakan tugasnya, puskesmas menyelenggarakan
fungsinya sebagai Pedoman penyelenggaraan Indonesia Sehat
dengan Pendekatan keluarga yaitu sebagai berikut :
a. Penyelenggaraan UKM tingkat pertama di wilayah kerjanya
Yakni, kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan
serta mencegah dan menanggulangi timbulnya masalah
kesehatan dengan sasaran keluarga, kelompok, dan masyarakat
b. Penyelenggaraan UKP tingkat pertama di wilayah kerjanya
Yakni kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan pelayanan
kesehatan yang ditujukan untuk peningkatan, pencegahan,
penyembuhan penyakit, pengurangan penderitaan akibat
penyakit dan memulihkan kesehatan perseorangan.

2.1.2. Sanitasi Puskesmas


Untuk terselenggaranya kegiatan pelayanan kesehatan
lingkungan di puskesmas harus didukung dengan ketersediaan:
a. Sumber daya manusia
Sumber daya manusia dalam pelayanan kesehatan
lingkungan di puskesmas paling sedikit 1 (satu) orang tenaga
kesehatan Lingkungan yang memiliki izin sesuai peraturan
perundang-undanganTenaga kesehatan lingkungan ini biasa
disebut dengan istilah tenaga sanitarian. Berdasarkan permenkes
Nomor 32 Tahun 2013 tentang penyelenggaraan tenaga
sanitarian, tenaga sanitarian adalah setiap orang yang telah lulus
pendidikan di bidang kesehatan lingkungan sesuai ketentuan
peraturan perundang-undangan.

Adapun uraian tugas dari petugas kesehatan lingkungan adalah


sebagai berikut :
1. Menyusun rencana kegiatan pelayanan kesehatan lingkungan
berdasarkan program puskesmas dan ketentuan perundang-
undangan yang berlaku sebagai pedoman kerja.
2. Melaksanakan kegiatan kesehatan lingkungan meliputi
pendataan, pengawasan, dan SAB, JAGA, TTU/TPM/Pestisida,
penyuluhan kesehatan lingkungan, mengatur, dan mengawasi
petugas kebersihan UPT Puskesmas dan Koordinasi lintas
program sesuai dengan prosedur dan ketentuan perundang-
undangan yang berlaku.
3. Mengevaluasi hasil kegiatan pelayanan kesehatan lingkungan
secara keseluruhan.
4. Membuat catatan dan laporan kegiatan di bidang tugasnya
sebagai bahan informasi pertanggungjawaban kepada atasannya
5. Melaksanakan tugas lain yang diberikan atasannya.

b. Sarana dan prasarana


Sarana dan prasarana yang mendukung pelayana kesehatan
lingkungan di puskesmas paling sedikit meliputi: (Menkes ;2015;
7)
1. Ruang untuk konseling yang terintegrasi dengan konseling
lainnya
2. Laboratorium kesehatan lingkungan yang terintegrasi dengan
laboraorium yang ada di puskesmas
3. Peralatan yang dibutuhkan dalam intervensi kesehatan
lingkungan
4. Media komunikasi, informasi, dan edukasi.
5.
Di dalam pedoman penyelenggaraan kesehatan lingkungan
puskesmas disebutkan bahwa persyaratan sarana dan fasilitas
sanitasi adalah sebagai berikut: (Menkes;2019)
1. Air bersih
a. Tersedianya air bersih untuk kebutuhan karyawan dan
pengunjung sebagai berikut :
- Puskesmas non rawat inap : 15-20 liter/orang/hari
- Puskesmas rawat inap : 15-20 liter/orang/hari
Air bersih untuk keperluan puskesmas dapat diperoleh dari
perusahaan air minum. Sumber air Tanah atau sumber lain
yang telah diolah sehingga memenuhi persyaratan
kesehatan.
b. Kualitas air bersih memenuhi syarat fisik, kimia,
bakteriologis yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
c. Distribusi air ke ruangan-ruangan menggunakan sarana
perpipaan dengan tekanan positif.
d. Sumber air bersih dan sarana distribusinya harus bebas dari
pencemaran fisik, kimia, dan bakteriologis.

2. Kamar mandi dan jamban


a. Setiap puskesmas harus memiliki kamar mandi dan jamban
yang memenuhi syarat kesehatan.
b. Kamar mandi dan jamban harus terpisah antara laki-laki dan
wanita, karyawan dan pengunjung.
c. Tersedianya cukup air bersih dan sabun.
d. Selalu terpelihara dan dalam keadaan bersih.
e. Lubang penghawaan ventilasi harus berhubungan langsung
dengan udara luar.
f. Ada himbauan, slogan, atau peringatan untuk memlihara
kebersihan.
g. Kamar mandi dan jamban tidak menjadi tempat perindukan
vektor
h. Jumlah kamar mandi dan jamban adalah sebagai berikut:
i. Puskesmas non rawat inap:
- Bagi karyawan disediakan sekurang-kurangnya 1
kamar mandi dan jamban untuk 15 orang
- Bagi pengunjuang disediakan 1 kamar mandi dan
jamban untuk 40 orang
j. Puskesmas rawat inap:
- Bagi karyawan disediakan sekurang-kurangnya 1
kamar mandi dan jamban untuk 15 orang
- Bagi pengunjuang disediakan 3 kamar mandi dan
jamban untuk 10 orang
3. Sarana Pembuangan air limbah
a. Tersedia septic tank yang memenuhi syarat kesehatan
b. Saluran air limbah harus kedap air , bersih dari sampah
dan dilengkapi penutup dengan bak kontrol setiap jarak 5
meter
c. Limbah rumah tangga dibuang melalui saluran yang kedap
air, bersih dari sampah dan dilengkapi penutup dengan bak
kontrol setiap jarak 5 meter
d. Pembuatan air limbah setelah SPAL dengan cara
diresapkan ke dalam tanah
e. Limbah cair bekas pencucian film harus ditampung dan
tidak boleh dibuang ke lingkungan serta dikoordinasikan
dengan dinas kesehatan.
4. Sampah
a. Sampah infeksius harus dipisahkan dengan sampah non
infeksius
b. Setiap ruangan harus disediakan tempat sampah yang
terbuat dari bahan yang kuat, cukup ringan, tahan karat,
kedap air, dan mudah dibersihkan serta dilengkapi dengan
kantong plastik sebagai berikut :
- Untuk sampah infeksius menggunakan kantong
plastik berwarna kuning.
- Benda-benda tajam dan jarum ditampung pada
wadah khusus seperti botol.
- Sampah domestik menggunakan kantong plastik
berwarna hitam. Terpisah antara sampah basah dan
sampah kering, dapat diolah sendiri atau pihak ke
tiga untuk memusnahkannya.
c. Sampah infeksius dimusnahkan di dalam incinerator.
d. Sampah domestik dapat dikubur, dibakar ataupun diangkut
ke Tempat Pembuangan Akhir.
5. Wastafel
a. Tersedia di ruang pelayanan yaitu Ruang UGD, Ruang
Poli Gigi, Ruang Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), Ruang
Pengobatan, Ruang Periksa, Ruang Suntik, Ruang
Laboratorium, Ruang radiologi, dan ruang yang lain yang
memerlukan air.
b. Berfungsi dengan baik dan dilengkapi dengan check value
dan kran air model siku.
c. Dilengkapi dengan sabun dan zat anti septic.
d. Terpelihara dan bersih
e. Tersedia lap pengering tangan atau alat pengering tangan.
6. Fasilitas Sanitasi dan Keamanan lainnya
a. Untuk menjamin ketersediaan dan distribusi air perlu
tersedia Water Tower yang tertutup
b. Tersedia tabung pemadam kebakaran yang berfungsi
dengan baik
c. Tersedia ruang khusus untuk menyimpan perlengkapan
kebersihan.
d. Tersedia tempat khusus genset yang kedap suara

7. Instalasi
a. Pemasangan jaringan instalasi air minum, air limbah, gas,
listrik/genset, sistem penghawaan dan sarana komunikasi
harus aman dan terlindung sesuai ketentuan teknis yang
berlaku.
b. Jika bangunan puskesmas lebih tinggi dari 10 meter atau
lebih dari bangunan di sekitarnya harus dilengkapi dengan
penangkal petir.
c. Instalasi untuk masing-masing peruntukan sebaiknya
menggunakan kode warna dan label.
d. Diupayakan agar tidak terjadi hubungan silang dan aliran
balik antara jaringan distribusi air limbah dengan ai bersih
sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
e. Jaringan instalasi agar ditata sedemikian rupa agar
memenuhi syarat estetika.
f. Jaringan instalasi tidak menjadi tempat perindukan
serangga atau tikus.
Adapun tata laksana dalam penyelenggaraan kesehatan
lingkungan puskesmas adalah sebagai berikut: (Menkes;2006)
1. Tata Cara Pemeliharaan Sarana
a. Lantai dibersihkan dengan anti septic minimal satu kali
sehari
b. Air conditioner:
- Ruangan yang menggunakan AC secara periodik
harus dimatikan dan diupayakan mendapat pergantian
udara segar dengan cara membuka seluruh pintu dan
jendela setiap pagi selama 1 jam
- Membersihkan saringan/filter udara AC secara
periodik
c. Pengoperasian instalasi sesuai prosedur
d. Pengendalian sumber kebisingan disesuaikan dengan sifat
sumber :
- Sumber genset dikendalikan dengan merendam dan
membuat sekat yang memadai
- Sumber dari lalu lintas dikurangi dengan cara
penanaman pohon, peninggian tembok dan membuat
gundukan tanah yang memadai.
e. Pengambilan sampel air, bak penampungan dan pada kran
terjatuh dilakukan minimal 2 kali setahun, yaitu pada
musim kemarau dan musim hujan.
f. Pembersihan bak air dan tempat perindukan lainnya
dilakukan sekurang-kurangnya 3 kali sehari untuk
mencegah perkembangbiakan nyamuk aedes aigypty.
g. Penanganan limbah infeksius yang berasal dari lab, poli dan
ruang bersalin yang direndam dalam larutan kaporit 3%
selama satu malam, direbus mendidih selama satu jam atau
dipanaskan dalam autoclave selama 15 menit dan kemudian
dibakar atau ditanam di dalam tanah.
h. Pembersihan mebel dan sarana lainnya pada puskesmas
minimal dilakukan satu kali sehari dengan menggunakan
kain basah. Tempat duduk, slot pintu, wastafel yang
berhubungan dengan pasien dibersihkan/dilap dengan
larutan alkohol 60%.
2. Penyelenggaraan Kesehatan Lingkungan Puskesmas
Penyehatan lingkungan puskesmas meliputi tahap-tahap
kegiatan sebagai berikut:
a. Penyusunan rencana kerja tahunan penyehatan lingkungan
puskesmas yang merupakan bagian dari rencana kerja
program penyehatan sarana tempat umum
b. Pelaksanaan kegiatan penyehatan lingkungan puskesmas,

c. Pendanaan
Pendanaan yang mendukung pelayanan kesehatan
lingkungan di puskesmas bisa berasal dari :
1. Anggaran pemerintah pusat (APBN)
Dijelaskan dalam lampiran permenkes nomor 19 tahun
2017 tentang Pedoman Pendanaan Program Indonesia Sehat
dengan Pendekatan Keluarga bebarapa sumber pendanaan
yang bersumber dari dana APBN adalah:
a. Bantuan Operasional Kesehatan (BOK)
Penggunaan dana BOK ini diatur dalam Peraturan
Menteri Kesehatan Nomor 71 tahun 2016 tentang
Penggunaan DAK Non Fisik Bidang Kesehatan tahun
Anggaran 2017.
b. Dana Kapitasi Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)
Penggunaan dana kapitasi diatur dalam Peraturan
Presiden Nomor 32 Tahun 2014 tentanf Pengelolaan dan
Pemanfaatan dana kapitasi JKN pada FKTP milik Pemda
dan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 21 tahun 2016
Tentang Penggunaan Dana Kapitasi JKN untuk Jasa
Pelayanan kesehatan dan dukungan biaya operasional
pada FKTP milik Pemda.
c. Dana Desa
Penggunaan Dana Desa ini diatur dalam Peraturan
Pemerintah Nomor 60 tahun 2014 tentang Dana Desa
yang bersumber dari APBN sebagaimana telah diubah
beberapa kali terakhir dengan Peraturan Pemerintah
Nomor 8 tahun 2016 tentang perubahan kedua Peraturan
Pemerintah Nomor 60 Tahun 2014 dan Peraturan
Menteri Desa Nomor 21 tahun 2015 tentang prioritas
Penggunaan Dana Desa tahun 2016.
2. Anggaran pemerintah daerah (APBD)
Penggunaan Dana APBD diatur dalam Permendagri
Nomor 13 tahun 2016 beserta perubahannya ( Permendagri
Nomor 59 tahun 2007 dan Permendagri Nomor 21 Tahun
2011) tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah dan
Peraturan Menteri Dalam Neger Nomor 31 tentang Pedoman
Penyusunan APBD tahun Anggaran 2017.
3. Sumber lain yang sah

2.1.3. Pengolahan Limbah


Limbah adalah hasil dari suatu proses kegiatan/produksi yang sudah tidak
dipergunakan lagi. Menurut Adisamito (2008:113) limbah medis dapat
dibedakan menjadi 5 golongan, yang terdiri dari Golongan A, Golongan B,
Golongan C, Golongan D, dan Golongan E. Adapun jenis limbah yang
dihasilkan Puskesmas adalah limbah Golongan C yaitu Limbah medis,
limbah cair dan lainnya.
BAB III
HASIL PEMERIKSAAN SANITASI PUSKESMAS

CHEKLIST
PEMERIKSAAN SANITASI PUSKESMAS

A. DATA UMUM
1. Nama Puskesmas : Puskesmas Kebon Jeruk
2. Alamat Puskesmas : Jl. Raya Kebon Jeruk No 2
Kota Jakarta Barat, Daerah Khusus
Ibukota Jakarta
3. Nama pengambil data : Fajria purnama Risda
4. Tanggal pengambilan data : 24 Agustus 2020

B. DATA KHUSUS

Puskesmas merupakan salah satu sarana pelayanan kesehatan tingkat


pertama yang berisiko potensial bagi penularan penyakit maupun pencemaran
lingkungan. Oleh karena itu, Puskesmas harus memenuhi standar tertentu demi
perannya sebagai ujung tombak Preventif dan Promotif. Salah satunya dengan
memenuhi persyaratan di bidang sanitasi.
Sesuai Pedoman Penyelenggaraan Kesehatan Lingkungan Puskesmas
(KMK 1428 tahun 2006).

1. Sampah
a. Belum tersedianya tempat sampah di setiap ruangan yang terbuat dari
bahan yang kuat, ringan, kedap air, tidak mudah berkarat, mudah
dibersihkan, dan sudah tersedia kantong plastic dan safety box di
setiap ruangan
b. Pemusnahan sampah di pihak ke 3, yang rentang waktu penjemputan
cukup lama dan berpotensi menimbulkan masalah baru
2. Wastafel
a. Wastafel tidak tersedia di seluruh tempat, baru di ruang tertentu saja
b. Beberapa Wastafel tidak berfungsi dengan baik, tidak tersedia sabun
antiseptic dan sudah terdapat poster cara cuci tangan WHO
3. Air bersih
a. Mengandalkan PAM sebagai sumber utama, yang sering mati/tidak
lancer
b. Kualitas air bersih sudah memenuhi syarat yang berlaku
4. Jamban
a. Jamban umum sudah bersih
b. Sudah tersedia sabun dan air berih cukup (aliran air kecil)
5. Sarana pembuangan limbah
a. Sudah adaPemisahan pipa pembuangan sampah rumah tangga dan
limbah lain

SOLUSI
Dalam menjalankan peran promotif dan preventif, Puskesmas harus
memaksimalkan tugasnya dalam edukasi dan peran sebagai teladan. Sebelum
mengajarkan masyarakat, seyogyanya Puskesmas mampu membenahi diri
dan melengkapi persyaratan dasar, terutama dalam kesehatan lingkungan. Hal
ini juga harus disokong oleh Pemerintah, karena dibutuhkan biaya yang tidak
sedikit dan peraturan yang menyokong program-program puskesmas. Bila
upaya pencegahan telah maksimal, diharapkan biaya yang dikeluarkan pada
aspek kuratif dapat ditekan.
Sebagai tahap awal, pemerintah wajib memberikan edukasi dan
pengarahan tentang pentingnya penjagaan kesehatan lingkungan kepada
Puskesmas. Petugas Puskesmas yang telah paham tentang manfaat penjagaan
dan bahaya pencemaran, diharapkan akan lebih terarah dalam melakukan
perannya. Selain itu, dibutuhkan dukungan pemerintah lokal dalam
pelaksanaan program. Karena bukan hal yang mudah untuk menggeser pola
perilaku dan kebudayaan masyarakat yang telah berlangsung puluhan tahun.
Saat ini, dengan adanya kewajiban akreditasi, terlihat perubahan
kesadaran dan pemenuhan sarana prasarana kesehatan. Fasilitas kesehatan
dituntut utuk memberikan pelayanan yang bermutu, salah satunya dengan
penyedian sarana kesehatan lingkungan yang sesuai standard. Namun hal ini
tidak serta merta menjadikan fasilitas kesehatan tersebut mampu memberikan
edukasi dan berperan penuh dalam menjalankan prootif bpreventif. Keadaan
ini dapat disebabkan oleh keterbatasan biaya, SDM, sarana dan prasarana,
kurangnya dukungan pemerintah local dan kepedulian masyarakat. Namun,
ada hal-hal yang dapat dipertimbangkan sebagai upaya pemecahan masalah
terkait Kesehatan Lingkungan Puskesmas.

1. Sampah
a. Belum tersedianya tempat sampah di setiap ruangan yang terbuat
dari bahan yang kuat, ringan, kedap air, tidak mudah berkarat,
mudah dibersihkan.
Pemerintah dapat membantu suplai tempat sampah yang memenuhi
syarat, melakukan follow up penggunaannya, atau membuka
system donasi untuk pengadaan tempat sampah yang baik.
Puskesmas juga dapat memberdayakan masyaraka untuk
mengadakan pengolahan sampah yang telah dipisah-pisah,
menjadikannya sumber ekonomi tambahan bagi masyarakat atau
dana tambahan untuk mengadakan tempat sampah baru, mulai dari
lingkungan puskesmas, hingga memastikan tiap sudut desa
memiliki tempat sampah sesuai standard.
b. Pemusnahan sampah di pihak ke 3, yang rentang waktu
penjemputan cukup lama dan berpotensi menimbulkan masalah
baru
Petugas puskesmas memastikan tempat penyimpanan sampah
sementara aman, disegel dengan baik, tidak menimbulkan genagan
air, kedap air dan kedap udara.
2. Wastafel
a. Wastafel tidak tersedia di seluruh tempat, baru di ruang tertentu
saja
Perlu dilakukan rehabilitasi saluran air dengan pembuatan jalur
pipa yang anti pecah dan anti karat, serta alur lalu lintas pipa yang
tidak menggangu kegiatan di dalam bangunan.
b. Wastafel ada yang tidak berfungsi dengan baik, tidak tersedia
sabun antiseptic dan poster cara cuci tangan WHO
Penyediaan/alokasi dana khusus dari anggaran puskesmas, untuk
menyediakan sabun cuci tangan, dll
c. Wastafel kotor, kadang beralih fungsi untuk hal lain
- Pemantauan berkala dari bagian maintenance untuk
pengecekan sampah di saluran pembuangan wastafel dan
memeriksa kebocoran pipa saluran air bersih
- Edukasi penggunaan wastafel dan penerapan sanksi bila
terdapat penyalahgunaan wastafel.
3. Air bersih
- Memastikan tempat air cadangan terisi secara berkala
- Pemerintah memastikan pihak puskesmas dan lingkungan
hidup untuk melakukan pengecekan air secara berkala
(AMDAL)
- Mengganti pipa saluran air dengan bahan antikarat dan bebas
kimia berbahaya
4. Jamban
- Optimalisasi kerja dan peran petugas kebersihan
- Promosi penggunaan jamban yang sehat melalui media seperti
poster, banner dan lain-lain
- Optimalisasi penggunaan dana untuk menyediakan alat dan
bahan kebersihan

5. Sarana pembuangan limbah


Edukasi dan implementasi penuh peraturan tentang limbah, termasuk
penyaluran, pengendalian dan pengelolaan limbah yang baik kepada
puskesmas dan masyarakat yang berkunjung ke puskesmas

6. Persyaratan bangunan
Halaman puskesmas yang masih becek dapat ditimbun dengan
campuran batu dan kerikil. Pihak puskesmas dapat mengajukan
proposal pada pemerintah setempat (kecamatan, kelurahan) untuk
pengadaan kerikil dan bahan timbunan lainnya.
Untuk parkir yang masih sempit, pihak puskemas bisa mengalokasikan
dana untuk pembangunan area parkir dengan menggunakan dana yang
ada.

GAMBAR YANG DIAMATI


BAB IV
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Puskesmas sebagai salah satu sarana pelayanan kesehatan tingkat
pertama merupakan tempat umum yang beresiko potensial bagi
penularan penyakit maupun pencemaran lingkungan. Sebagai sarana
pelayanan umum Puskesmas wajib memelihara dan meningkatkan
lingkungan yang sehat.
Penyehatan lingkungan Puskesmas adalah segala upaya untuk
menyehatkan dan memelihara lingkungan Puskesmas sehingga tidak
mengganggu kesehatan manusia dan lingkungan sekitarnya.
Penyehatan sarana dan bangunan Puskesmas sangat penting dalam
rangka mewujudkan lingkungan yang sehat yang dapat memberikan
perlindungan bagi pengunjung dan petugas Puskesmas serta mencegah
terjadinya pencemaran lingkungan akibat adanya kegiatan Puskesmas.
Berdasarkan besarnya potensi resiko pada kesehatan dan adanya
potensi yang berdampak terhadap pencemaran lingkungan yang juga
dapat mengancam kesehatan masyarakat disekitar Puskesmas maka
menjadi suatu kewajiban bagi Puskesmas untuk memelihara dan
meningkatkan lingkungan yang sehat sesuai dengan standar dan
persyaratannya.
Pengelolaan penyehatan lingkungan (sanitasi) Puskesmas
sebagaimana telah diatur dalam Kepmenkes Nomor
1428/Menkes/SK/XII/2006, tentang Pedoman Penyelenggaraan
Kesehatan Lingkungan Puskesmas, akan dapat terselenggara dengan
baik dengan melakukan tahap-tahap kegiatan sebagai berikut:
1. Adanya penyusunan rencana kerja tahunan penyehatan lingkungan
Puskesmas yang merupakan bagian dari rencana kerja program
penyehatan sarana tempat umum, yaitu:
 Perencanaan meliputi seluruh kegiatan seperti pemeliharaan
kebersihan, pemeriksaan sampel air, pengelolaan limbah,
dll
 Adanya sasaran dan target pada setiap jenis kegiatan
 Membuat jadual pelaksanaan kegiatan
 Siapa tenaga pelaksana/ tenaga yang akan melaksanakan
kegiatan
 Peralatan, bahan atau sarana yang diperlukan termasuk
jenis dan jumlah yang dibutuhkan
 Rencana dan penyediaan dana/ pembiayaan untuk setiap
kegiatan
 Pengawasan terhadap pelaksanaan kegiatan
 Adanya pencatatan dan pelaporan
 Evaluasi setiap kegiatan
2. Pelaksanaan kegiatan penyehatan lingkungan (Sanitasi Puskesmas)
Melaksanakan kegiatan sesuai rencana yang telah disusun
dan sesuai dengan ketentuan atau pedoman yang berlaku yang
terkoordinasi yang juga melibatkan semua pihak mulai dari
pimpinan, pelaksana program, masyarakat serta lintas sektor terkait
lainnya.

3.2 Saran
1. Puskesmas sebagai sarana pelayanan kesehatan masyarakat dalam
setiap kegiatannya hendaknya juga memperhatikan lingkungan dan
bangunan Puskesmas sebagaimana standar dan persyaratannya.
2. Persyaratan kesehatan lingkungan Puskesmas adalah ketentuan-
ketentuan yang bersifat teknis sehingga menjadi kewajiban dan
harus dipenuhi dalam upaya melindungi, memelihara dan untuk
mempertinggi derajat kesehatan masyarakat.
3. Setiap aparatur sebagai penanggungjawab pengelolaan dan
penyelenggaraan kesehatan lingkungan hendaknya memahami
pedoman penyelenggaraan lingkungan Puskesmas dan dapat
mensosialisasikannya keseluruh elemen yang ada baik di
lingkungan Puskesmas.
4. Dinas Kesehatan di Kabupaten/ Kota sebagai induk unit kerja
Puskesmas harus terus melakukan pembinaan dan pengawasan
terhadap pelaksanaan kegiatan penyehatan lingkungan Puskesmas.
5. Masyarakat di sekitar lingkungan Puskesmas juga dapat
memberikan andil atau perannya sebagai mitra Puskesmas dalam
hal pengawasan dan terlibat secara tidak langsung dalam hal
penyelenggaraan kesehatan lingkungan Puskesmas.
DAFTAR PUSTAKA

Suryadi , Iwan, dkk. 2018. Penerapan Hygiene dan Sanitasi Hotel Kusuma Kartika
Sari di Kota Surakarta. Journal of Industrial Hygiene and Occupational
Health. Vol. 2, No. 2.
https://ejournal.unida.gontor.ac.id/index.php/JIHOH/article/download/1885/1
263. Diakses pada 24 Agustus 2020 pukul 13.38.

Permenkes No. 80/Menkes/Per/II/1990 Tentang Persyaratan Kesehatan Hotel.


https://www.academia.edu/32610009/Permenkes_No_80_Menkes_Per_II_19
90_Tentang_Persyaratan_Kesehatan_Hotel_Fasilitas_Sanitasi_Menurut_Per
menkes_RI_No_80_Menkes_Per_II_1990 . Diakses pada 24 Agustus 2020
pukul 13.27.

Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia Nomor


PM.53/Hm.001/Mpek/2013 Tentang Standar Usaha Hotel.
https://www.hukumonline.com/pusatdata/detail/lt5da97ce057f41/node/lt51e5
384842a9b/peraturan-menteri-pariwisata-no-12-tahun-2019-perubahan-
kedua-atas-peraturan-menteri-pariwisata-dan-ekonomi-kreatif-nomor-
pm.53_hm.001_mpek_2013-tentang-standar-usaha-hotel. Diakses pada 24
Agustus 2020 pukul 13.41.

Inspeksi Sanitasi Hotel. http://www.indonesian-publichealth.com/inspeksi-


sanitasi-hotel-melati/. Diakses pada 24 Agustus pukul 13.45.

PPT Sanitasi Hotel Salsabila Purnamasari.


https://www.academia.edu/32059329/PPT_sanitasi_hotel_Salsabila_Purnama
sari. Diakses pada 24 Agustus pukul 14.03.

20