Anda di halaman 1dari 28

MAKALAH

SM K3, UU K3 DAN AUDIT K3

“ Perundang – undangan dan Peraturan K3 ”

Disusun oleh:

Juana Artika Bilfi 1811212003 Linda Susanti 1811211054

Ulfa Niesya Putri 1811212002 Fajria Purnama Risda 1811213033

Delti Fitri Yeni 1811216004 Siti Wanda Jhoyoe .P. 1911211011

Syafa Indah Tafsia 1811211046 Tiara Islami 1811211005

Shafina Putri Aliffa 1811213001 Icha Putri 1811211018


Dean Jelly Rahmi .S. 1811212027 Fuaddilla Al Humairah 1811211022

Dosen Pengampu:

Luthfil Hadi Anshari SKM, MSc

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS KESEHATAN

MASYARAKAT UNIVERSITAS ANDALAS

2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah S.W.T atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga
dapat menyelesaikan makalah SM K3 , UU K3 DAN AUDIT K3 tentang “ perundang-
undangan dan peraturan k3 ”.

Penyusunan makalah ini dilaksanakan atas kerja sama rekan kelompok serta bimbingan
dari berbagai pihak. Oleh karena itu, perkenankan kami menyampaikan ucapan terima kasih
kepada Dosen mata kuliah SM K3 , UU K3 DAN AUDIT K3, Bapak Luthfil Hadi Anshari
SKM, MSc yang telah memberikan bimbingan dalam penyusunan makalah ini.

Kami menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih banyak kekurangan dan
jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat
membangun.

Padang, Agustus 2020

Penyusun,

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.....................................................................................................................i
DAFTAR ISI..................................................................................................................................ii
BAB I...............................................................................................................................................1
PENDAHULUAN..........................................................................................................................1
1.1. Latar Belakang..........................................................................................................................1
1.2. Rumusan Masalah.....................................................................................................................2
1.3. Tujuan Masalah.........................................................................................................................2
BAB II.............................................................................................................................................3
PEMBAHASAN.............................................................................................................................3
2.1. UU No. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja....................................................................3
2.2. UU No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan...................................................................13
2.3. UU Nomor 36 tahun 2009 Terkait Kesehatan Kerja..............................................................20
BAB III..........................................................................................................................................23
PENUTUP.....................................................................................................................................23
3.1. Kesimpulan.............................................................................................................................23
3.2. Saran.......................................................................................................................................24
DAFTAR PUSTAKA...................................................................................................................25

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Undang- Undang No. 1 Tahun 1970 mengatur adanya program keselamatan dan
kesehatan kerja (K3) di Indonesia yang menyatakan bahwa setiap tenaga kerja berhak
mendapatkan perlindungan atas keselamatan dan kesehatan kerja(K3) dalam melakukan
pekerjaan Setiap jenis dan tempat pekerjaan memiliki risiko bahaya yang berbedabeda.Hal
ini dipengaruhi oleh lokasi, proses kerja, material kerja, maupun alatalat yang digunakan
dalam melaksanakan pekerjaan.Salah satu pekerjaan yang memiliki risiko bahaya yang
tinggi adalah rumah sakit. Pada umumnya masyarakat maupun pekerja di rumah sakit
kurang menyadari berbagai potensibahaya yang ada seperti adanya PAK di rumah sakit
yang dapat menyerang semua tenaga kerja, baik tenaga medis maupun non medis
(Anies,2005).
a. Kesehatan Kerja
Pengertian sehat senantiasa digambarkan sebagai suatu kondisi fisik, mental dan
sosial seseorang yang tidak saja bebas dari penyakit atau gangguan kesehatan melainkan
juga menunjukan kemampuan untuk berinteraksi dengan lingkungan dan pekerjaannya.
Paradigma baru dalam aspek kesehatan mengupayakan agar yang sehat tetap sehat dan
bukan sekedar mengobati, merawat atau menyembuhkan gangguan kesehatan atau
penyakit. Oleh karenanya, perhatian utama dibidang kesehatan lebih ditujukan ke arah
pencegahan terhadap kemungkinan timbulnya penyakit serta pemeliharaan kesehatan
seoptimal mungkin. Status kesehatan seseorang, menurut blum (1981) ditentukan oleh
empat faktor yakni :
1. Lingkungan, berupa lingkungan fisik (alami, buatan) kimia (organik I anorganik,
logam berat, debu), biologik (virus, bakteri, microorganisme) dan sosial budaya
(ekonomi, pendidikan, pekerjaan).
2. Perilaku yang meliputi sikap, kebiasaan, tingkah laku.
3. Pelayanan kesehatan: promotif, perawatan, pengobatan, pencegahan kecacatan,
rehabilitasi, dan
4. genetik, yang merupakan faktor bawaan setiap manusia.

1
Pekerjaan mungkin berdampak negatif bagi kesehatan akan tetapi sebaliknya
pekerjaan dapat pula memperbaiki tingkat kesehatan dan kesejahteraan pekerja bila
dikelola dengan baik. Demikian pula status kesehatan pekerja sangat mempengaruhi
produktivitas kerjanya. Pekerja yang sehat memungkinkan tercapainya hasil kerja yang
lebih baik bila dibandingkan dengan pekerja yang terganggu kesehatannya'. Menurut
Suma'mur (1976) Kesehatan kerja merupakan spesialisasi ilmu kesehatan/kedokteran.
beserta prakteknya yang bertujuan agar pekerja/ masyarakat pekerja memperoleh derajat
kesehatan setinggi-tingginya baik fisik, mental maupun sosial dengan usaha preventif
atau kuratif terhadap penyakit/ gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh faktor
pekerjaan dan lingkungan kerja serta terhadap penyakit umum. Konsep kesehatan kerja
dewasa ini semakin banyak berubah, bukan sekedar “kesehatan pada sektor industri” saja
melainkan juga mengarah kepada upaya kesehatan untuk semua orang dalam melakukan
pekerjaannya (total health of all at work).
b. Keselamatan Kerja
Keselamatan kerja atau Occupational Safety, dalam istilah sehari hari sering
disebut dengan safety saja, secara filosofi diartikan sebagai suatu pemikiran dan upaya
untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmaniah maupun rohaniah tenaga
kerja pada khususnya dan manusia pada umumnya serta hasil budaya dan karyanya. Dari
segi keilmuan diartikan sebagai suatu pengetahuan dan penerapannya dalam usaha
mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Pengertian
Kecelakaan Kerja (accident) adalah suatu kejadian atau peristiwa yang tidak diinginkan
yang merugikan terhadap manusia, merusak harta benda atau kerugianterhadap proses.
Karena pentingnya penerapan kesehatan keselamatan kerja di lingkungan kerja, maka
perlu adanya peraturan perundang-undangan yang mengatur agar setiap perusahaan
memiliki pedoman dalam peneran K3.

1.2. Rumusan Masalah

Apa Saja peraturan yang mendasari adanya kesehatan dan keselamatan kerja ?

2
1.3. Tujuan Masalah

Mengetahui peraturan apa saja yang mendasari adanya kesehatan dan keselamatan dan
keselamatan kerja.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. UU No. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja

Undang - Undang nomor 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja adalah UU yang
mengatur tentang keselamatan kerja dalam segala tempat kerja, baik di darat, di dalam
tanah, di permukaan air, di dalam air, maupun di udara, yang berada di dalam wilayah
kekuasaan hukum Republik Indonesia.
Dalam UU Nomor 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja diatur tentang:
Keselamatan Kerja yang di dalamnya antara lain memuat tentang istilah-istilah, ruang
lingkup, syarat-syarat keselamatan kerja, pengawasan, pembinaan, Panitia Pembina
Keselamatan dan Kesehatan Kerja; kecelakaan; kewajiban dan hak tenaga kerja; kewajiban
bila memasuki tempat kerja; dan kewajiban pengurus.
Setiap tenaga kerja berhak mendapat perlindungan atas keselamatannya dalam
melakukan pekerjaan untuk kesejahteraan hidup dan meningkatkan produksi serta
produktivitas Nasional. Setiap orang lainnya yang berada di tempat kerja perlu terjamin
pula keselamatannya. Setiap sumber produksi perlu dipakai dan dipergunakan secara aman
dan efisien. Berhubung dengan itu perlu diadakan segala daya-upaya untuk membina
norma-norma perlindungan kerja. Pembinaan norma-norma itu perlu diwujudkan dalam
Undang-Undang yang memuat ketentuan-ketentuan umum tentang keselamatan kerja yang
sesuai dengan perkembangan masyarakat, industrialisasi, teknik dan teknologi.
Pertimbangan dalam UU 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja adalah:
a. bahwa setiap tenaga kerja berhak mendapat perlindungan atas keselamatannya dalam
melakukan pekerjaan untuk kesejahteraan hidup dan meningkatkan produksi serta
produktivitas Nasional;
b. bahwa setiap orang lainnya yang berada di tempat kerja perlu terjamin pula
keselamatannya;
c. bahwa setiap sumber produksi perlu dipakai dan dipergunakan secara aman dan efisien;

3
d. bahwa berhubung dengan itu perlu diadakan segala daya-upaya untuk membina norma-
norma perlindungan kerja;
e. bahwa pembinaan norma-norma itu perlu diwujudkan dalam Undang-undang yang
memuat ketentuan-ketentuan umum tentang keselamatan kerja yang sesuai dengan
perkembangan masyarakat, industrialisasi, teknik dan teknologi;
Dasar hukum UU 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja adalah:
1. Pasal-pasal 5, 20, dan 27 Undang-Undang Dasar 1945;
2. Pasal-pasal 9 dan 10 Undang-Undang No. 14 Tahun 1969 tentang Ketentuan-ketentuan
Pokok mengenai Tenaga Kerja (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1969 No.
55, Tambahan Lembaran Negara No. 2912);
Berikut Isi UU nomor 1 tahun 1970 :
BAB I
TENTANG ISTILAH-ISTILAH
Pasal 1
Dalam Undang-undang ini yang dimaksudkan dengan :
1. "tempat kerja" ialah tiap ruangan atau lapangan, tertutup atau terbuka, bergerak atau
tetap, di mana tenaga kerja bekerja, atau yang sering dimasuki tenaga kerja untuk
keperluan suatu usaha dan di mana terdapat sumber atau sumber-sumber bahaya
sebagaimana diperinci dalam pasal 2;
termasuk tempat kerja ialah semua ruangan, lapangan, halaman dan sekelilingnya yang
merupakan bagian-bagian atau yang berhubungan dengan tempat kerja tersebut;
2. "pengurus" ialah orang yang mempunyai tugas memimpin langsung sesuatu tempat kerja
atau bagiannya yang berdiri sendiri;
3. "pengusaha" ialah :
a. orang atau badan hukum yang menjalankan sesuatu usaha milik sendiri dan untuk
keperluan itu mempergunakan tempat kerja;
b. orang atau badan hukum yang secara berdiri sendiri menjalankan sesuatu usaha
bukan miliknya dan untuk keperluan itu mempergunakan tempat kerja;
c. orang atau badan hukum, yang di Indonesia mewakili orang atau badan hukum
termaksud pada (a) dan (b), jikalau yang diwakili berkedudukan di luar Indonesia.
4. "direktur" ialah pejabat yang ditunjuk oleh Menteri Tenaga Kerja untuk melaksanakan
Undang-undang ini;

4
5. "pegawai pengawas" ialah pegawai teknis berkeahlian khusus dari Departemen Tenaga
Kerja;
6. "ahli keselamatan kerja" ialah tenaga teknis berkeahlian khusus dari luar Departemen
Tenaga Kerja yang ditunjuk oleh Menteri Tenaga Kerja untuk mengawasi ditaatinya
Undang-undang ini.
BAB II
RUANG LINGKUP
Pasal 2
1. Yang diatur oleh Undang-undang ini ialah keselamatan kerja dalam segala tempat kerja,
baik di darat, di dalam tanah, di permukaan air, di dalam air maupun di udara, yang
berada di dalam wilayah kekuasaan hukum Republik Indonesia.
2. Ketentuan-ketentuan dalam ayat (1) tersebut berlaku dalam tempat kerja di mana :
a. dibuat, dicoba, dipakai atau dipergunakan mesin, pesawat, alat, perkakas,
peralatan atau instalasi yang berbahaya atau dapat menimbulkan kecelakaan,
kebakaran atau peledakan;
b. dibuat, diolah, dipakai, dipergunakan, diperdagangkan, diangkut atau disimpan
bahan atau barang yang : dapat meledak, mudah terbakar, menggigit, beracun,
menimbulkan infeksi, bersuhu tinggi;
c. dikerjakan pembangunan, perbaikan, perawatan, pembersihan atau pembongkaran
rumah, gedung atau bangunan lainnya, termasuk bangunan pengairan, saluran
atau terowongan di bawah tanah dan sebagainya atau dimana dilakukan pekerjaan
persiapan;
d. dilakukan usaha : pertanian, perkebunan, pembukaan hutan, pengerjaan hutan,
pengolahan kayu atau hasil hutan lainnya, peternakan, perikanan dan lapangan
kesehatan;
e. dilakukan usaha pertambangan dan pengolahan : emas, perak, logam atau bijih
logam lainnya, batu-batuan, gas, minyak atau mineral lainnya, baik di permukaan
atau di dalam bumi, maupun di dasar perairan; dilakukan pengangkutan barang,
binatang atau manusia, baik di daratan, melalui terowongan, di permukaan air,
dalam air maupun di udara;
f. dikerjakan bongkar-muat barang muatan di kapal, perahu, dermaga, dok, stasiun
atau gudang;

5
g. dilakukan penyelaman, pengambilan benda dan pekerjaan lain di dalam air;
h. dilakukan pekerjaan dalam ketinggian di atas permukaan tanah atau perairan;
i. dilakukan pekerjaan di bawah tekanan udara atau suhu yang tinggi atau rendah;
j. dilakukan pekerjaan yang mengandung bahaya tertimbun tanah, kejatuhan,
terkena pelantingan benda, terjatuh atau terperosok, hanyut atau terpelanting;
k. dilakukan pekerjaan dalam tangki, sumur atau lubang;
l. terdapat atau menyebar suhu, kelembaban, debu, kotoran, api, asap, uap, gas,
embusan angin, cuaca, sinar atau radiasi, suara atau getaran;
m. dilakukan pembuangan atau pemusnahan sampah atau limbah;
n. dilakukan pemancaran, penyiaran atau penerimaan radio, radar, televisi atau
telepon;
o. dilakukan pendidikan, pembinaan, percobaan, penyelidikan atau riset (penelitian)
yang menggunakan alat teknis;
p. dibangkitkan, diubah, dikumpulkan, disimpan, dibagi-bagikan atau disalurkan
listrik, gas, minyak atau air;
q. diputar film, dipertunjukkan sandiwara atau diselenggarakan rekreasi lainnya
yang memakai peralatan, instalasi listrik atau mekanik.

3. Dengan peraturan perundangan dapat ditunjuk sebagai tempat kerja, ruangan-ruangan


atau lapangan-lapangan lainnya yang dapat membahayakan keselamatan atau kesehatan
yang bekerja dan atau yang berada di ruangan atau lapangan itu dan dapat dirubah
perincian tersebut dalam ayat (2).
BAB III
SYARAT-SYARAT KESELAMATAN KERJA
Pasal 3
1. Dengan peraturan perundangan ditetapkan syarat-syarat keselamatan kerja untuk :
a. mencegah dan mengurangi kecelakaan;
b. mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran;
c. mencegah dan mengurangi bahaya peledakan;
d. memberi kesempatan atau jalan menyelamatkan diri pada waktu kebakaran atau
kejadian-kejadian lain yang berbahaya;
e. memberi pertolongan pada kecelakaan;

6
f. memberi alat-alat perlindungan diri pada para pekerja;
g. mencegah dan mengendalikan timbul atau menyebarluasnya suhu, kelembaban,
debu, kotoran, asap, uap, gas, embusan angin, cuaca, sinar atau radiasi, suara dan
getaran;
h. mencegah dan mengendalikan timbulnya penyakit akibat kerja baik fisik maupun
psikis, peracunan, infeksi dan penularan;
i. memperoleh penerangan yang cukup dan sesuai;
j. menyelenggarakan suhu dan lembab udara yang baik;
k. menyelenggarakan penyegaran udara yang cukup;
l. memelihara kebersihan, kesehatan dan ketertiban;
m. memperoleh keserasian antara tenaga kerja, alat kerja, lingkungan, cara dan
proses kerjanya;
n. mengamankan dan memperlancar pengangkutan orang, binatang, tanaman atau
barang;
o. mengamankan dan memelihara segala jenis bangunan;
p. mengamankan dan memperlancar pekerjaan bongkar-muat, perlakuan dan
penyimpanan barang;
q. mencegah terkena aliran listrik yang berbahaya;
r. menyesuaikan dan menyempurnakan pengamanan pada pekerjaan yang bahaya
kecelakaannya menjadi bertambah tinggi.

2. Dengan peraturan perundangan dapat diubah perincian seperti tersebut dalam ayat (1)
sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknik dan teknologi serta pendapatan-
pendapatan baru di kemudian hari.

Pasal 4

1. Dengan peraturan perundangan ditetapkan syarat-syarat keselamatan kerja dalam


perencanaan, pembuatan, pengangkutan, peredaran, perdagangan, pemasangan,
pemakaian, penggunaan, pemeliharaan dan penyimpanan bahan, barang, produk teknik
dan aparat produksi yang mengandung dan dapat menimbulkan bahaya kecelakaan.
2. Syarat-syarat tersebut memuat prinsip-prinsip teknik ilmiah menjadi suatu kumpulan
ketentuan yang disusun secara teratur, jelas dan praktis yang mencakup bidang

7
konstruksi, bahan, pengolahan dan pembuatan, perlengkapan alat-alat perlindungan,
pengujian dan pengesahan, pengepakan atau pembungkusan, pemberian tanda- tanda
pengenal atas bahan, barang, produk teknis dan aparat produksi guna menjamin
keselamatan barang-barang itu sendiri, keselamatan tenaga kerja yang melakukannya dan
keselamatan umum.
3. Dengan peraturan perundangan dapat diubah perincian seperti tersebut dalam ayat (1) dan
(2) : dengan peraturan perundangan ditetapkan siapa yang berkewajiban memenuhi dan
menaati syarat-syarat keselamatan tersebut.
BAB IV
PENGAWASAN
Pasal 5
1. Direktur melakukan pelaksanaan umum terhadap Undang-undang ini, sedangkan para
pegawai pengawas dan ahli keselamatan kerja ditugaskan menjalankan pengawasan
langsung terhadap ditaatinya Undang-undang ini dan membantu pelaksanaannya.
2. Wewenang dan kewajiban direktur, pegawai pengawas dan ahli keselamatan kerja dalam
melaksanakan Undang-undang ini diatur dengan peraturan perundangan.
Pasal 6
1. Barang siapa tidak dapat menerima keputusan direktur dapat mengajukan permohonan
banding kepada Panitia Banding.
2. Tata-cara permohonan banding, susunan Panitia Banding, tugas Panitia Banding dan lain-
lainnya ditetapkan oleh Menteri Tenaga Kerja.
3. Keputusan Panitia Banding tidak dapat dibanding lagi.
Pasal 7
Untuk pengawasan berdasarkan Undang-undang ini pengusaha harus membayar retribusi
menurut ketentuan-ketentuan yang akan diatur dengan peraturan perundangan.
Pasal 8
1. Pengurus diwajibkan memeriksakan kesehatan badan, kondisi mental dan kemampuan
fisik dari tenaga kerja yang akan diterimanya maupun akan dipindahkan sesuai dengan
sifat-sifat pekerjaan yang diberikan padanya.
2. Pengurus diwajibkan memeriksakan semua tenaga kerja yang berada di bawah
pimpinannya, secara berkala pada dokter yang ditunjuk oleh pengusaha dan dibenarkan
oleh direktur.

8
3. Norma-norma mengenai pengujian keselamatan ditetapkan dengan peraturan
perundangan.
BAB V
PEMBINAAN
Pasal 9
1. Pengurus diwajibkan menunjukkan dan menjelaskan pada tiap tenaga kerja baru tentang :
a. Kondisi-kondisi dan bahaya-bahaya serta yang dapat timbul dalam tempat
kerjanya;
b. Semua pengamanan dan alat-alat perlindungan yang diharuskan dalam tempat
kerjanya;
c. Alat-alat perlindungan diri bagi tenaga kerja yang bersangkutan;
d. Cara-cara dan sikap yang aman dalam melaksanakan pekerjaannya.
2. Pengurus hanya dapat memperkerjakan tenaga kerja yang bersangkutan setelah ia yakin
bahwa tenaga kerja tersebut telah memahami syarat-syarat tersebut di atas.
3. Pengurus diwajibkan menyelenggarakan pembinaan bagi semua tenaga kerja yang berada
di bawah pimpinannya, dalam pencegahan kecelakaan dan pemberantasan kebakaran
serta peningkatan keselamatan dan kesehatan kerja, pula dalam pemberian pertolongan
pertama pada kecelakaan.
4. Pengurus diwajibkan memenuhi dan menaati semua syarat-syarat dan ketentuan-
ketentuan yang berlaku bagi usaha dan tempat kerja yang dijalankannya.
BAB VI
PANITIA PEMBINA KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA
Pasal 10
1. Menteri Tenaga Kerja berwenang membentuk Panitia Pembina Keselamatan dan
Kesehatan Kerja guna memperkembangkan kerja- sama, saling pengertian dan partisipasi
efektif dari pengusaha atau pengurus dan tenaga kerja dalam tempat-tempat kerja untuk
melaksanakan tugas dan kewajiban bersama di bidang keselamatan dan kesehatan kerja,
dalam rangka melancarkan usaha berproduksi.
2. Susunan Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja, tugas dan lain-lainnya
ditetapkan oleh Menteri Tenaga Kerja.
BAB VII
KECELAKAAN

9
Pasal 11
1. Pengurus diwajibkan melaporkan tiap kecelakaan yang terjadi dalam tempat kerja yang
dipimpinnya, pada pejabat yang ditunjuk oleh Menteri Tenaga Kerja.
2. Tata-cara pelaporan dan pemeriksaan kecelakaan oleh pegawai termaksud dalam ayat (1)
diatur dengan peraturan perundangan.
BAB VIII
KEWAJIBAN DAN HAK TENAGA KERJA
Pasal 12
Dengan peraturan perundangan diatur kewajiban dan atau hak tenaga kerja untuk :
a. Memberikan keterangan yang benar bila diminta oleh pegawai pengawas dan atau ahli
keselamatan kerja;
b. Memakai alat-alat perlindungan diri yang diwajibkan;
c. Memenuhi dan menaati semua syarat-syarat keselamatan dan kesehatan kerja yang
diwajibkan;
d. Meminta pada pengurus agar dilaksanakan semua syarat keselamatan dan kesehatan kerja
yang diwajibkan;
e. Menyatakan keberatan kerja pada pekerjaan di mana syarat keselamatan dan kesehatan
kerja serta alat-alat perlindungan diri yang diwajibkan diragukan olehnya kecuali dalam
hal-hal khusus ditentukan lain oleh pegawai pengawas dalam batas-batas yang masih
dapat dipertanggung-jawabkan.
BAB IX
KEWAJIBAN BILA MEMASUKI TEMPAT KERJA
Pasal 13
Barang siapa akan memasuki sesuatu tempat kerja, diwajibkan menaati semua petunjuk
keselamatan kerja dan memakai alat-alat perlindungan diri yang diwajibkan.
BAB X
KEWAJIBAN PENGURUS
Pasal 14
Pengurus diwajibkan :
a. Secara tertulis menempatkan dalam tempat kerja yang dipimpinnya, semua syarat
keselamatan kerja yang diwajibkan, sehelai Undang- undang ini dan semua peraturan
pelaksanaannya yang berlaku bagi tempat kerja yang bersangkutan, pada tempat-tempat

10
yang mudah dilihat dan terbaca dan menurut petunjuk pegawai pengawas atau ahli
keselamatan kerja;
b. Memasang dalam tempat kerja yang dipimpinnya, semua gambar keselamatan kerja yang
diwajibkan dan semua bahan pembinaan lainnya, pada tempat-tempat yang mudah dilihat
dan terbaca menurut petunjuk pegawai pengawas atau ahli Keselamatan Kerja;
c. Menyediakan secara cuma-cuma, semua alat perlindungan diri yang diwajibkan pada
tenaga kerja yang berada di bawah pimpinannya dan menyediakan bagi setiap orang lain
yang memasuki tempat kerja tersebut, disertai dengan petunjuk-petunjuk yang diperlukan
menurut petunjuk pegawai pengawas atau ahli keselamatan kerja.
BAB XI
KETENTUAN-KETENTUAN PENUTUP
Pasal 15
1. Pelaksanaan ketentuan tersebut pada pasal-pasal di atas diatur lebih lanjut dengan
peraturan-perundangan.
2. Peraturan-perundangan tersebut pada ayat (1) dapat memberikan ancaman pidana atas
pelanggaran peraturannya dengan hukuman kurungan selama-lamanya 3 (tiga) bulan atau
denda setinggi-tingginya Rp. 100.000,- (seratus ribu rupiah).
3. Tindak pidana tersebut adalah pelanggaran.
Pasal 16
Pengusaha yang mempergunakan tempat-tempat kerja yang sudah ada pada waktu Undang-
undang ini mulai berlaku wajib mengusahakan di dalam satu tahun sesudah Undang-undang ini
mulai berlaku, untuk memenuhi ketentuan-ketentuan menurut atau berdasarkan Undang-undang
ini.
Pasal 17
Selama peraturan perundangan untuk melaksanakan ketentuan dalam Undang-undang ini belum
dikeluarkan, maka peraturan dalam bidang keselamatan kerja yang ada pada waktu Undang-
undang ini mulai berlaku, tetapi berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan Undang-undang
ini.
Pasal 18
Undang-undang ini disebut "UNDANG-UNDANG KESELAMATAN KERJA" dan mulai
berlaku pada hari diundangkan.
Agar supaya setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Undang-undang

11
ini dengan penempatan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

Contoh Penerapan UU no 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja :


 Pasal 8 ayat 1
Perusahaan membuat sebuah prosedur yang menyatakan bahwa setiap penerimaan
karyawan baru, sebelum diterima bekerja di tempatnya, harus melaksanakan Medical
Check Up (MCU) sesuai dengan risiko dan bahaya tempat kerja yang direncanakan akan
ditempati oleh calon karyawannya. Begitu juga ketika perusahaan memutuskan untuk
memutasi karyawannya ke bagian lain yang tempat kerjanya memiliki risiko dan bahaya
yang berbeda dari tempat kerja sebelumnya.
 Pasal 8 ayat 2
Perusahaan membuat sebuah prosedur yang menyatakan bahwa dalam jangka
waktu tertentu (minimal 1 tahun sekali), semua karyawannya dilakukan MCU kembali
untuk mengetahui derajat kesehatannya selama bekerja di perusahaan.
 Pasal 9 ayat 2
Biasanya ini adalah domain human resource atau training dept., ini yang biasa
dikenal dengan istilah safety induction, yakni karyawan sebelum mulai bekerja di bagian
yang sudah ditentukan, wajib diberikan pembekalan terkait hal-hal safety yang ada di
perusahaan secara umum dan di tempat kerjanya secara khusus.
 Pasal 9 ayat 3
Masih domain humar resource atau training dept., untuk merencanakan dan
menyelenggarakan training-training tentang K3, khususnya penanganan kebakaran dan
P3k bagi seluruh karyawannya”.
 Pasal 11 ayat 1 dan ayat 2
Perusahaan membuat dan menerapkan prosedur pelaporan dan investigasi
kecelakaan. Pasal ini telah dijabarkan secara lebih teknis di Peraturan Menteri Tenaga
Kerja No. 03/MEN/1998.
 Pasal 14
Perusahaan meletakkan SOP atau WI terkait cara kerja mesin/peralatan di tempat
tersebut yang mudah diakses oleh seluruh karyawan, dan meletakkan UU ini di beberapa
tempat strategis yang bisa dibaca oleh karyawan.

12
 Pasal 14 poin b
Menempelkan poster/sign tentang K3 di tempat-tempat yang mudah dibaca oleh
karyawan.
 Pasal 14 poin c
Perusahaan menetapkan sebuah prosedur yang biasanya disebut dengan matriks
APD/manajemen APD, kemudian membagikan APD tersebut secara gratis kepada
karyawan sesuai dengan matriks yang telah dibuat. Terkait teknis APD telah diatur
melalui Peraturan Menteri Tenaga Kerja no. 08 tahun 2010.

2.2. UU No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan

UU No. 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, yang bertujuan untuk melindungi


dan mengatur ketenagakerjaan di Indonesia agar tidak merugikan berbagai pihak yaitu
tenaga kerja dan perusahaan yang bersangkutan. Perlindungan ketenagakerjaan meliputi:
1. Penyandang Cacat
Pengusaha yang memperkerjakan tenaga kerja penyandang cacat wajib
memberikan perlindungan sesuai dengan jenis dan derajat kecacatannya. Dilaksanakan
sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
2. Anak
Pengusaha dilarang memperkerjakan anak. Dikecualikan bagi anak yang berumur
antara 13 (tiga belas) tahun sampai dengan 15 (lima belas) tahun untuk melakukan
pekerjaan ringan sepanjang tidak mengganggu perkembangan dan kesehatan fisik,
mental, dan sosial.

Pengusaha yang memperkerjakan anak pada pekerjaan ringan harus memenuhi


persyaratan:
a. izin tertulis dari orang tua atau wali;
b. perjanjian kerja antara pengusaha dengan orang tua atau wali;
c. waktu kerja maksimum 3 (tiga) jam;
d. dilakukan pada siang hari dan tidak mengganggu waktu sekolah;
e. keselamatan dan kesehatan kerja;
f. adanya hubungan kerja yang jelas; dan

13
g. menerima upah sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, b, f, dan g dikecualikan bagi


anak yang bekerja pada usaha keluarganya. Pekerjaan sebagaimana dimaksud dapat
dilakukan dengan syarat:
a. diberi petunjuk yang jelas tentang cara pelaksanaan pekerjaan serta bimbingan
dan pengawasan dalam melaksanakan pekerjaan; dan
b. diberi perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja.
Pengusaha yang memperkerjakan anak wajib memenuhi syarat:
a. di bawah pengawasan langsung dari orang tua atau wali;
b. waktu kerja paling lama 3 (tiga) jam sehari; dan
c. kondisi dan lingkungan kerja tidak mengganggu perkembangan fisik, mental,
sosial, dan waktu sekolah.
Ketentuan mengenai anak yang bekerja untuk mengembangkan bakat dan minat
diatur dengan Keputusan Menteri. Dalam hal anak diperkerjakan bersama-sama dengan
pekerja/buruh dewasa, maka tempat kerja anak harus dipisahkan dari tempat kerja
pekerja/buruh dewasa. Siapa pun dilarang memperkerjakan dan melibatkan anak pada
pekerjaan-pekerjaan yang terburuk.
Pekerjaan-pekerjaan yang terburuk meliputi:
a. segala pekerjaan dalam bentuk perbudakan atau sejenisnya;
b. segala pekerjaan yang memanfaatkan, menyediakan, atau menawarkan anak untuk
pelacuran, produksi pornografi, pertunjukan porno, atau perjudian;
c. segala pekerjaan yang memanfaatkan, menyediakan, atau melibatkan anak untuk
produksi dan perdagangan minuman keras, narkotika, psikotropika, dan zat adiktif
lainnya; dan/atau;
d. semua pekerjaan yang membahayakan kesehatan, keselamatan, atau moral anak.

3. Perempuan
Pekerja/buruh perempuan yang berumur kurang dari 18 (delapan belas) tahun
dilarang diperkerjakan antara pukul 23.00 sampai dengan pukul 07.00. Pengusaha
dilarang memperkerjakan pekerja/buruh perempuan hamil yang menurut keterangan
dokter berbahaya bagi kesehatan dan keselamatan kandungannya maupun dirinya apabila

14
bekerja antara pukul 23.00 sampai dengan pukul 07.00.
Pengusaha yang memperkerjakan pekerja/buruh perempuan antara pukul 23.00
sampai dengan pukul 07.00 wajib:
a. memberikan makanan dan minuman bergizi; dan
b. menjaga kesusilaan dan keamanan selama di tempat kerja.
Pengusaha wajib menyediakan angkutan antar jemput bagi pekerja/buruh
perempuan yang berangkat dan pulang bekerja antara pukul 23.00 sampai dengan pukul
05.00. Ketentuan diatur dengan Keputusan Menteri.

4. Waktu Kerja
Setiap pengusaha wajib melaksanakan ketentuan waktu kerja. Waktu kerja
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi:
a. 7 (tujuh) jam 1 (satu) hari dan 40 (empat puluh) jam 1 (satu) minggu untuk 6
(enam) hari kerja dalam 1 (satu) minggu; atau
b. 8 (delapan) jam 1 (satu) hari dan 40 (empat puluh) jam 1 (satu) minggu untuk 5
(lima) hari kerja dalam 1 (satu) minggu.
Ketentuan waktu kerja sebagaimana dimaksud tidak berlaku bagi sektor usaha
atau pekerjaan tertentu. Ketentuan mengenai waktu kerja pada sektor usaha atau
pekerjaan tertentu dengan Keputusan Menteri.
Pengusaha yang memperkerjakan pekerja/buruh melebihi waktu kerja harus
memenuhi syarat:
1) Pengusaha yang memperkerjakan pekerja/buruh melebihi waktu kerja wajib
membayar upah kerja lembur. Ketentuan waktu kerja lembur tidak berlaku bagi
sektor usaha atau pekerjaan tertentu. Ketentuan mengenai waktu kerja lembur dan
upah kerja lembur diatur dengan Keputusan Menteri.
2) Pengusaha wajib memberi waktu istirahat dan cuti kepada pekerja/buruh. Waktu
istirahat dan cuti sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), meliputi:
a) istirahat antara jam kerja, sekurang-kurangnya setengah jam setelah
bekerja selama 4 (empat) jam terus menerus dan waktu istirahat tersebut
tidak termasuk jam kerja;
b) istirahat mingguan 1 (satu) hari untuk 6 (enam) hari kerja dalam 1 (satu)
minggu atau 2 (dua) hari untuk 5 (lima) hari kerja dalam 1 (satu) minggu;

15
c) cuti tahunan, sekurang-kurangnya 12 (dua belas) hari kerja setelah
pekerja/buruh yang bersangkutan bekerja selama 12 (dua belas) bulan
secara terus menerus; dan
d) istirahat panjang sekurang-kurangnya 2 (dua) bulan dan dilaksanakan pada
tahun ketujuh dan kedelapan masing-masing 1 (satu) bulan bagi
pekerja/buruh yang telah bekerja selama 6 (enam) tahun secara terus-
menerus pada perusahaan yang sama dengan ketentuan pekerja/buruh
tersebut tidak berhak lagi atas istirahat tahunannya dalam 2 (dua) tahun
berjalan dan selanjutnya berlaku untuk setiap kelipatan masa kerja 6
(enam) tahun.

3) Pelaksanaan waktu istirahat tahunan dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan,


atau perjanjian kerja bersama. Hak istirahat panjang hanya berlaku bagi
pekerja/buruh yang bekerja pada perusahaan tertentu. Perusahaan tertentu
sebagaimana dimaksud diatur dengan Keputusan Menteri.
4) Pengusaha wajib memberikan kesempatan yang secukupnya kepada
pekerja/buruh untuk melaksanakan ibadah yang diwajibkan oleh agamanya.
5) Pekerja/buruh perempuan yang dalam masa haid merasakan sakit dan
memberitahukan kepada pengusaha, tidak wajib bekerja pada hari pertama dan
kedua pada waktu haid.
6) Pekerja/buruh perempuan berhak memperoleh istirahat selama 1,5 (satu setengah)
bulan sebelum saatnya melahirkan anak dan 1,5 (satu setengah) bulan sesudah
melahirkan menurut perhitungan dokter kandungan atau bidan. Pekerja/buruh
perempuan yang mengalami keguguran kandungan berhak memperoleh istirahat
1,5 (satu setengah) bulan atau sesuai dengan surat keterangan dokter kandungan
atau bidan. Pekerja/buruh perempuan yang anaknya masih menyusu harus diberi
kesempatan sepatutnya untuk menyusui anaknya jika hal itu harus dilakukan
selama waktu kerja.
7) Setiap pekerja/buruh yang menggunakan hak waktu istirahat sebagaimana
dimaksud berhak mendapat upah penuh.
8) Pekerja/buruh tidak wajib bekerja pada hari-hari libur resmi. Pengusaha dapat
memperkerjakan pekerja/buruh untuk bekerja pada hari-hari libur resmi apabila

16
jenis dan sifat pekerjaan tersebut harus dilaksanakan atau dijalankan secara terus
menerus atau pada keadaan lain berdasarkan kesepakatan antara pekerja/buruh
dengan pengusaha. Pengusaha yang memperkerjakan pekerja/buruh yang
melakukan pekerjaan pada hari libur resmi wajib membayar upah kerja lembur.

5. Keselamatan dan Kesehatan Kerja


Setiap pekerja/buruh mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan atas:
a. keselamatan dan kesehatan kerja;
b. moral dan kesusilaan; dan
c. perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai
agama.
Untuk melindungi keselamatan pekerja/buruh guna mewujudkan produktivitas
kerja yang optimal diselenggarakan upaya keselamatan dan kesehatan kerja.
Perlindungan dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Setiap perusahaan wajib menerapkan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja
yang terintegrasi dengan sistem manajemen perusahaan.

Contoh kasus implementasi UU No. 13 tahun 2003:


Diambil dari Jurnal Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto
dengan judul IMPLEMENTASI UU NO. 13 TAHUN 2003 TENTANG
KETENAGAKERJAAN BAGI TENAGA KERJA PEREMPUAN DI KABUPATEN
PURBALINGGA, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui implementasi Undang-undang
No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan kaitannya dengan perlindungan hukum bagi
tenaga kerja perempuan di Kabupaten Purbalingga. Hasil yang didapat dari penelitian ini
adalah:
a. Perlindungan tenaga kerja perempuan di bawah umur
- Izin tertulis dari orang tua atau wali
Sebelum mereka mendaftar, mereka terlebih dahulu harus mendapatkan surat izin dari
orang tua atau wali dengan diketahui ketua RT/RW tempat tinggal calon tenaga kerja
perempuan tersebut serta penandatanganan perjanjian kerja antara pengusaha dengan
orang tua atau wali.
- Waktu kerja maksimum 3 jam

17
Bagi perusahaan-perusahaan kecil/ rumah tangga, masih terdapat pelanggaran berkaitan
dengan waktu kerja, yaitu 3 jam.
- Dilakukan pada siang hari dan tidak mengganggu waktu sekolah
Tenaga kerja perempuan yang di bawah umur pada umumnya sudah tidak melanjutkan
pendidikannya lagi. Jadi relatif tidak ada pelanggaran dalam ketentuan ini.
- Tenaga kerja perempuan di bawah umur mendapatkan persamaan hak dengan lainnya.
Berdasarkan hal tersebut, maka perlindungan HAM terhadap tenaga kerja perempuan di
bawah umur belum sesuai dengan Pasal 69 ayat (2) Undang-undang No. 13 Tahun 2003
tentang Ketenagakerjaan. Hal ini disebabkan oleh masih adanya tenaga kerja di bawah
umur yang diperkerjakan melebihi waktu 3 (tiga jam), khususnya pada perusahaan kecil/
rumah tangga.
b. Perlindungan terhadap tenaga kerja perempuan yang hamil
Tenaga kerja perempuan telah memperoleh hak istirahat selama 1,5 bulan
sebelum saatnya melahirkan anak dan 1,5 bulan sesudah melahirkan menurut perhitungan
dokter kandungan atau bidan, sebagaimana digariskan dalam Pasal 82 ayat (1). Namun
demikian, di tambahkan oleh SPSI (Serikat Pekerja Seluruh Indonesia) bahwa
pelaksanaan ketentuan ini masih 50%. Kalimat “50% telah dilaksanakan” dalam hal
pemberian cuti hamil, mengindikasikan bahwa masih terdapat pelanggaran dalam
memberikan waktu istirahat bagi tenaga kerja perempuan yang hamil. Berdasarkan hal
tersebut, dapat ditarik kesimpulan sementara bahwa perlindungan HAM dalam hal cuti
hamil bagi tenaga kerja perempuan di kabupaten Purbalingga belum sepenuhnya
dilaksanakan.
c. Perlindungan terhadap waktu kerja dan istirahat
Berdasarkan keterangan dari informan, ketentuan mengenai waktu kerja dan jam
istirahat telah dipenuhi oleh perusahaan. Namun demikian, dalam hal lembur, para
pekerja hanya diberitahu bahwa hari ini ada lembur, tanpa melalui kesepakatan dengan
pihak pekerja sebagaimana digariskan dalam ketentuan Pasal 77 ayat (2). Bagi tenaga
kerja yang berhalangan untuk lembur dapat meminta izin kepada kepala bagian dimana
tenaga kerja tersebut bekerja. Menurut keterangan dari SPSI, hanya alasan-alasan yang
urgen saja yang dapat membebaskan mereka dari kerja lembur, misalnya sakit atau hamil.
Berdasarkan keterangan dari SPSI tersebut di atas, kerja lembur dilakukan atas
dasar kehendak dari perusahaan, melalui pemberitahuan, tanpa melalui kesepakatan

18
dengan tenaga kerjanya. Bahkan ditambahkan bahwa tanpa alasan yang penting, tenaga
kerja tidak dapat meninggalkan kerja lemburnya. Hal ini dapat ditafsirkan:
1) Dengan dilakukannya kerja lembur tersebut oleh tenaga kerja, berarti tenaga kerja
tersebut telah melakukan kesepakatan secara diam-diam dengan perusahaan untuk
melakukan kerja lembur.
2) Kerja lembur adalah suatu kewajiban yang harus dilakukan oleh tenaga kerja.
Sehingga, bagi yang berhalangan harus minta izin, dengan alasan tertentu.
Apabila kerja lembur dikualifikasikan dalam poin yang kedua, maka ini adalah
suatu pelanggaran atas ketentuan Pasal 78 ayat (1). Namun demikian, para pekerja sendiri
menganggap bahwa hal tersebut adalah sudah sewajarnya dilakukan oleh pekerja. SPSI
juga menambahkan, bahwa waktu lembur maksimal yang diperbolehkan oleh undang-
undang yaitu maksimal 3 jam cenderung disimpangi.
Berkaitan dengan perlindungan bagi tenaga kerja perempuan dalam keadaan
tertentu, informan memberikan keterangan sebagai berikut :
1) Perlindungan dalam masa haid (Pasal 81 ayat (1)). Berdasar keterangan informan
Ketentuan ini cenderung tidak pernah di terapkan. Ditambahkan pula, bahwa
sekalipun pekerja sedang haid, tetapi mereka cenderung tetap memaksakan diri
untuk masuk kerja sekalipun dalam kondisi sakit karena haidnya tersebut.
2) Tenaga kerja perempuan yang mengalami keguguran kandungan telah
memperoleh haknya untuk istirahat 1,5 bulan atau sesuai dengan surat keterangan
dokter kandungan atau bidan sebagaimana digariskan dalam Pasal 83 ayat (2).
3) Tenaga kerja perempuan yang anaknya masih menyusui telah diberi kesempatan
sepatutnya untuk menyusui anaknya jika hal itu harus dilakukan selama waktu
kerja. Namun demikian hal tersebut dilakukan oleh tenaga kerja perempuan
dengan memanfaatkan waktu istirahat.
Berdasarkan hal tersebut, Pasal 81 ayat (1) yang mengatur tentang ketentuan tidak
wajibnya tenaga kerja perempuan untuk bekerja pada saat merasakan sakit ketika masa
haid, tidaklah bersifat imperatif. Dengan kata lain perusahaan tidak wajib memberikan
izin untuk tidak bekerja ketika masa haid. Namun ketentuan ini memberikan hak kepada
tenaga kerja perempuan untuk tidak masuk kerja ketika yang bersangkutan merasakan
sakit saat haid. Dengan tidak adanya pengaturan kewajiban dan sanksi bagi perusahaan,
dalam hal pemberian izin tidak masuk kerja ketika merasakan sakit pada saat haid,

19
mengakibatkan pengaturan hak ini menjadi suatu formalitas belaka. Alhasil, ketentuan ini
pun menjadi tidak berguna bagi tenaga kerja perempuan. Berkaitan dengan kesempatan
untuk menyusui, seharusnya tenaga kerja perempuan diberi waktu tertentu yang cukup
untuk dapat menyusui anaknya.
Dengan masih adanya beberapa kelemahan dalam Undang-undang No. 13 Tahun
2003 tentang ketenagakerjaan, khususnya berkaitan dengan perlindungan hak asasi
manusia bagi tenaga kerja perempuan, dan masih rendahnya implementasi perlindungan
bagi tenaga kerja perempuan, maka sudah selayaknya Pemerintah Daerah Kabupaten
Purbalingga memberikan perhatian yang serius terhadap perlindungan tenaga kerja,
khususnya tenaga kerja perempuan.

2.3. UU Nomor 36 tahun 2009 Terkait Kesehatan Kerja

Ketika pekerja diterima dengan status sehat, maka pekerja tersebut berhak untuk
tetap memiliki status sehat selama bekerja, di luar pekerjaan dan hingga pensiun atau
berakhirnya hubungan kerja dengan perusahaan/majikan. Hal ini telah menjadi persetujuan
negara-negara di dunia termasuk Republik Indonesia. Di tingkat dunia, terdapat dua badan
yang langsung berkaitan dengan pengaturan kesehatan kerja, yaitu International Labor
Organization (ILO) dan World Health Organization / WHO. Sedangkan Pemerintah
Indonesia telah merumuskan aturan dasar yaitu Undang-Undang nomor 36 tahun 2009
tentang kesehatan kerja, bab XII pasal 164-166.
Hak kesehatan untuk pekerja, bukan hanya sebatas bebas dari cacat atau sembuh
dari sakit, namun kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spritual
maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan
ekonomis. Oleh karena itu tujuan dari kesehatan kerja adalah supaya para pekerja sehat,
selamat, sejahtera dan produktif, dengan mengendalikan risiko yang bersumber dari
bahaya kesehatan di tempat kerja.
Berikut isi dari UU no. 36 tahun 2009 :
BAB XII
KESEHATAN KERJA
Pasal 164
1. Upaya kesehatan kerja ditujukan untuk melindungi pekerja agar hidup sehat dan terbebas

20
dari gangguan kesehatan serta pengaruh buruk yang diakibatkan oleh pekerjaan.
2. Upaya kesehatan kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi pekerja di sektor
formal dan informal.
3. Upaya kesehatan kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku bagi setiap orang
selain pekerja yang berada di lingkungan tempat kerja.
4. Upaya kesehatan kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) berlaku juga
bagi kesehatan pada lingkungan tentara nasional Indonesia baik darat, laut, maupun udara
serta kepolisian Republik Indonesia.
5. Pemerintah menetapkan standar kesehatan kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan
ayat (2).
6. Pengelola tempat kerja wajib menaati standar kesehatan kerja sebagaimana dimaksud
pada ayat (5) dan menjamin lingkungan kerja yang sehat serta bertanggung jawab atas
terjadinya kecelakaan kerja.
7. Pengelola tempat kerja wajib bertanggung jawab atas kecelakaan kerja yang terjadi di
lingkungan kerja sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 165
1. Pengelola tempat kerja wajib melakukan segala bentuk upaya kesehatan melalui upaya
pencegahan, peningkatan, pengobatan dan pemulihan bagi tenaga kerja.
2. Pekerja wajib menciptakan dan menjaga kesehatan tempat kerja yang sehat dan menaati
peraturan yang berlaku di tempat kerja.
3. Dalam penyeleksian pemilihan calon pegawai pada perusahaan/instansi, hasil
pemeriksaan kesehatan secara fisik dan mental digunakan sebagai bahan pertimbangan
dalam pengambilan keputusan.
4. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) dilaksanakan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 166
1. Majikan atau pengusaha wajib menjamin kesehatan pekerja melalui upaya pencegahan,
peningkatan, pengobatan dan pemulihan serta wajib menanggung seluruh biaya
pemeliharaan kesehatan pekerja.
2. Majikan atau pengusaha menanggung biaya atas gangguan kesehatan akibat kerja yang
diderita oleh pekerja sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
3. Pemerintah memberikan dorongan dan bantuan untuk perlindungan pekerja sebagaimana

21
dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2).

Contoh penerapan UU no. 36 tahun 2009


Sesuai undang-undang yang berlaku bahwa setiap pengusaha / majikan / pengelola
tempat kerja wajib mengaplikasikan kesehatan kerja di dalam organisasinya. Pengelola
tempat kerja wajib melakukan segala bentuk upaya kesehatan melalui upaya pencegahan,
peningkatan, pengobatan dan pemulihan bagi tenaga kerja” (UU No. 36 tahun 2009 pasal
165 ayat 1). Pada praktiknya upaya yang dilakukan antara lain pencegahan dan
pemberantasan penyakit akibat kecelakaan kerja, penyakit akibat kerja, dan penyakit akibat
hubungan kerja, serta pemeliharaan dan peningkatan kesehatan dengan tersedianya fasilitas
kesehatan atau pemeriksaan kesehatan secara berkala, pengaturan gizi tenaga kerja, dan
sebagainya. Untuk menjamin kesehatan para buruh atau pekerja, setiap perusahaan dituntut
untuk memiliki program-program mengenai kesehatan buruh.
Terkait dengan tempat kerja maka ada beberapa pasal dan ayat yang mengatur
kesehatan di tempat kerja sebagai berikut :
 Bagi perusahaan yang memperkerjakan perempuan, mereka wajib memperhatikan
pemberian ASI (air susu ibu) secara eksklusif kepada perempuan yang baru memiliki
anak, yakni sekurang-kurang selama 6 bulan, sang ibu sebagai pekerja harus didukung
untuk memberikan ASI. Oleh karenanya pihak perusahaan wajib menyediakan ruangan
yang cukup untuk dilakukan pemerasan ASI yang meliputi tempat, dan peralatan
menyimpan ASI maupun peralatan pendukung lainnya. Pasal 128 dan 129 dalam UU no.
36 tahun 2009, mengamanatkan hal tersebut.
 Kemudian melalui peraturan pemerintah (PP) no. 33 tahun 2012, pemerintah menegaskan
keharusan tempat kerja mendukung pemberian ASI eksklusif, dengan menyediakan
ruangan khusus penyedotan ASI bagi Ibu tenaga kerja. Kriteria teknis terkait ruangan dan
peralatan yang harus disediakan diatur lebih lanjut melalui Peraturan Menteri Kesehatan
no. 15 tahun 2013.
 Kemudian ada sebuah pasal yang perlu diperhatikan oleh perusahaan, yaitu pasal 200, di
mana bunyinya : “Setiap orang yang dengan sengaja menghalangi program pemberian air
susu ibu eksklusif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 128 ayat (2) dipidana penjara
paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta
rupiah)”.

22
Oleh karenanya, perusahaan dituntut untuk menyediakan ruang menyusui, terutama bagi
mereka yang memiliki banyak pekerja wanita, demi mendukung program pemerintah
mencerdaskan bangsa, melalui pemberian gizi yang baik bagi bayi pada awal tumbuh
kembangnya.

BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Undang-Undang nomor 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja adalah UU yang


mengatur tentang keselamatan kerja dalam segala tempat kerja, baik di darat, di dalam
tanah, di permukaan air, di dalam air, maupun di udara, yang berada di dalam wilayah
kekuasaan hukum Republik Indonesia.
Dalam UU Nomor 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja diatur tentang:
Keselamatan Kerja yang di dalamnya antara lain memuat tentang istilah-istilah, ruang
lingkup, syarat-syarat keselamatan kerja, pengawasan, pembinaan, Panitia Pembina
Keselamatan dan Kesehatan Kerja; kecelakaan; kewajiban dan hak tenaga kerja; kewajiban
bila memasuki tempat kerja; dan kewajiban pengurus.
Setiap tenaga kerja berhak mendapat perlindungan atas keselamatannya dalam
melakukan pekerjaan untuk kesejahteraan hidup dan meningkatkan produksi serta
produktivitas Nasional. Setiap orang lainnya yang berada di tempat kerja perlu terjamin
pula keselamatannya. Setiap sumber produksi perlu dipakai dan dipergunakan secara aman
dan efisien. Berhubung dengan itu perlu diadakan segala daya-upaya untuk membina
norma-norma perlindungan kerja. Pembinaan norma-norma itu perlu diwujudkan dalam
Undang-Undang yang memuat ketentuan-ketentuan umum tentang keselamatan kerja yang
sesuai dengan perkembangan masyarakat, industrialisasi, teknik dan teknologi.
UU No. 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, yang bertujuan untuk melindungi
dan mengatur ketenagakerjaan di Indonesia agar tidak merugikan berbagai pihak yaitu
tenaga kerja dan perusahaan yang bersangkutan. Perlindungan ketenagakerjaan meliputi:
6. Penyandang Cacat

23
Pengusaha yang memperkerjakan tenaga kerja penyandang cacat wajib
memberikan perlindungan sesuai dengan jenis dan derajat kecacatannya. Dilaksanakan
sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
7. Anak
Pengusaha dilarang memperkerjakan anak. Dikecualikan bagi anak yang berumur
antara 13 (tiga belas) tahun sampai dengan 15 (lima belas) tahun untuk melakukan
pekerjaan ringan sepanjang tidak mengganggu perkembangan dan kesehatan fisik,
mental, dan sosial.
Ketika pekerja diterima dengan status sehat, maka pekerja tersebut berhak untuk
tetap memiliki status sehat selama bekerja, di luar pekerjaan dan hingga pensiun atau
berakhirnya hubungan kerja dengan perusahaan/majikan. Hal ini telah menjadi persetujuan
negara-negara di dunia termasuk Republik Indonesia. Di tingkat dunia, terdapat dua badan
yang langsung berkaitan dengan pengaturan kesehatan kerja, yaitu International Labor
Organization (ILO) dan World Health Organization / WHO. Sedangkan Pemerintah
Indonesia telah merumuskan aturan dasar yaitu Undang-Undang nomor 36 tahun 2009
tentang kesehatan kerja, bab XII pasal 164-166.
Hak kesehatan untuk pekerja, bukan hanya sebatas bebas dari cacat atau sembuh
dari sakit, namun kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spritual
maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan
ekonomis. Oleh karena itu tujuan dari kesehatan kerja adalah supaya para pekerja sehat,
selamat, sejahtera dan produktif, dengan mengendalikan risiko yang bersumber dari
bahaya kesehatan di tempat kerja.

3.2. Saran

Penulis menyadari masih banyak kekurangan dan kekeliruan dalam apa yang penulis
tulis, baca, dan pahami. Oleh karena itu untuk menjadikan makalah yang penulis sajikan
ini lebih baik, penulis memerlukan kritik dan saran dari para pembaca yang budiman
sebagai salah satu tanggung jawab ilmiah penulis. Semoga apa yang penulis tulis
bermanfaat bagi sumua pihak yang membutuhkan.

24
DAFTAR PUSTAKA
Bintoro, Rahadi Wasi. Ardhanariswari, Riris Rahman. Permana. 2008. “Implementasi Uu No. 13
Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan Bagi Tenaga Kerja Perempuan Di Kabupaten
Purbalingga”. Jurnal Dinamika Hukum dalam
http://dinamikahukum.fh.unsoed.ac.id/index.php/JDH/article/download/79/230 diakeses 20
Agustus 2020.
Kurniawidjaya. 2007. “Kesehatan Kerja.” Depok: Modul Kuliah, Fakultas Kesehatan
Masyarakat.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan.

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 Tentang Keselamatan Kerja.

25