Anda di halaman 1dari 3

KASUS ASET TANAH TERSANGKA KORUPSI SIMULATOR SIM

DJOKO SUSILO

SOLO - Menelusuri aset tanah dan bangunan milik tersangka kasus korupsi Simulator
SIM Djoko Susilo di Solo, tepatnya di Jalan Urip Sumoharjo tidak lah mudah. Pasalnya, rumah
Djoko yang satu itu tak terpasang papan penyegelan dari KPK. Hal itu berbeda dengan dua aset
milik Djoko lainnya yang ada di Manahan dan Sondakan terpasang papan penyegelan dari
KPK.Setelah mengantongi data dari Badan Pertanahan Nasional (BPN), Okezone mencoba
menelusuri tanah dan bangunan Hak Milik (HM) Nomor 639 yang letaknya tidak jauh dari Peti
Kemas, Stasiun Jebres, Solo, Jawa Tengah, itu.Salah satu teman masa kecil ayah Dipta Anindita
Joko Waskito Sumarko, mengatakan tanah dan bangunan yang tertera di BPN atas nama Popy
Femialyk. Tanah yang memiliki luas 1.180 meter persegi milik orang tua kandung Joko Waskito
yang tak lain ayah Dipta, yang biasa dikenal warga sekitar Mbah Tono. Tanah tersebut
kemudian dibeli oleh Djoko yang tak lain suami dari Dipta sendiri."Rumah itu milik keluarga
Joko Waskito yang dibeli oleh Djoko Susilo suami dari Dipta. Kalau di atas namakan kepada
siapa, saya sendiri tidak paham. Yang jelas, Joko Waskito itu asli Jebres sini," papar Sumarko
kepada Okezone, di Solo, Jawa Tengah, Senin (18/2/2013).Menurut Sumarko, pertemuan
terakhir antara dirinya dan ayah Dipa terjadi saat peringatan 1.000 hari orang tua Joko Waskito.
Sumarko mengaku tidak mengetahui pasti bagaimana kehidupan orang tua Dipta, termasuk
Dipta sendiri.Sumarko terakhir sembat berkomunikasi sebelum ibu kandung Dipa, Diyah
Rustanti yang seorang dosen sejarah, namun sudah meninggal dunia akibat kangker
payudara."Terakhir saya berkomunikasi saat 1.000 hari Mbah Tono dengan ayah Dipta. Habis
itu tiak lagi. Saya tidak pernah berkomunikasi dengan keluarga Joko meskipun saya teman
mereka sewaktu muda. Komunikasi terakhir saya sewaktu ibu kandung Dipta yang dosen
sejarah, kebetulan teman saya satu kampus meninggal akibat kangker payudara. Udah habis itu
tidak lagi. Yang saya tahu Joko kerjannya di pengeboran minyak lepas pantai,"
terangnya.Menyangkut rumah yang terletak di Jalan Urip Sumoharjo, Sumarko hanya
mengetahui bila rumah yang sempat didiami orang tua Joko Waskito, tersebut saat ini dipakai
untuk menerima kost-kosan putri. Sedangkan kapan rumah yang bisa dikatakan sebagai warisan
tersebut dibeli oleh Djoko Susilo, Sumarko tidak tahu pasti."Soal dibelinya kapan, saya tidak
tahu pasti,"ujarnya.

Sementara itu, pantauan Okezone di salah satu aset milik Djoko yang terletak di Jalan Urip
Sumoharjo tampak sepi. Bangunan yang dibiarkan bergaya arsitektur kuno tersebut tidak ada
papan penyegelan dari KPK. Di pagar rumah yang terletak di pinggir jalan tepat di belakang
sebuah diler sepeda motor tersebut hanya terpasang spanduk yang bertuliskan menerima kost
putri.Saat Okezone mencoba menanyakan kepada penghuni rumah tersebut, tidak ada satupun
penghuni yang mau memberikan keterangan.
KASUS SENGKETA TANAH MERAYU SELATAN JAKARTA BARAT

Sengketa tanah meruya selatan (jakarta barat) antara warga (H. Djuhri bin H. Geni,
Yahya bin H. Geni, dan Muh.Yatim Tugono) dengan PT.Portanigra pada tahun 1972 – 1973 dan
pada putusan MA dimenangkan oleh PT. Portanigra. Tetapi proses eksekusi tanah dilakukan
baru tahun 2007 yang hak atas tanahnya sudah milik warga sekarang tinggal di meruya yang
sudah mempunyai sertifikat tanah asli seperti girik.Kasus sengketa tanah meruya ini tidak luput
dari pemberitaan media hingga DPR pun turun tangan dalam masalah ini. Selama ini warga
meruya yang menempati tanah meruya sekarang tidak merasa punya sengketa dengan pihak
manapun. Bahkan tidak juga membeli tanah dari PT Portanigra,namun tiba-tiba saja kawasan
itu yang ditempati hampir 5000 kepala keluarga atau sekitar 21.000 warga akan dieksekusi
berdasarkan putusan MA. Tidak hanya tanah milik warga, tanah milk negara yang di atasnya
terdapat fasilitas umum dan fasilitas sosialpun masuk dalam rencana eksekusi. Hal ini
dikarenakan sengketa yang terjadi 30 tahun lalu, tetapi baru dilakukan eksekusinya tahun 2007,
dimana warga meruya sekarang mempunyai sertifikat tanah asli yang dikeluarkan pemerintah
daerah dan Badan Pertanahan Nasional (BPN). Disini terbukti adanya ketidaksinkronan dan
kesemrawutan hukum pertanahan indonesia yang dengan mudahnya mengeluarkan sertifikat
tanah yang masih bersengketa.Kasus sengketa tanah ini berawal pada kasus penjualan tanah
meruya dulu antara PT. Portanigra dan H Djuhri cs berawal dari jual beli tanah tanah seluas 44
Ha  pada 1972 dan 1973. Ternyata H Djuhri cs ingkar janji dengan menjual lagi tanahnya kepada
pihak lain sehingga mereka dituntut secara pidana (1984) dan digugat secara perdata
(1996).Sengketa tanah yang dimulai sejak lebih dari 30 tahun yang lampau bukanlah kurun
waktu singkat. Selama itu sudah banyak yang berubah dan berkembang, baik penghuni,
lingkungan sekitar, institusi terkait yang menangani, pasti personelnya sudah silih berganti.
Warga merasa memiliki hak dan ataupun kewenangan atas tanah meruya tersebut. Mereka
merasa telah menjalankan tugas dengan baik seperti membayar PBB atas kepemilikannya dan
tidak mau disalahkan, tidak ingin kehilangan hak miliknya.Situasi dan kondisi lapangan pada
1972 tentunya berbeda sama sekali dengan sekarang. Cara-cara melakukan penilaian dan
mengambil langkah-langkah penindakan 30 tahun yang lalu pada saat ini telah banyak berubah.
Paradigma masa lalu bahwa warga banyak yang belum memiliki sertifikat akan berhadapan
dengan program sertifikasi yang memberi kemudahan dalam memperoleh sertifikat
tanah.Dalam hal ini terlihat kesemrawutan hukum pertanahan oleh aparat pemerintah daerah
dan Badan Pertanahan Tanah (BPN) yang bisa menerbitkan sertifikat pada tanah yang masih
bersengketa. Selain itu, PT. Portanigra yang tidak serius dalam kasus sengketa tanah ini. PT.
Portanigra yang menang dalam putusan MA pada tahun 1996 tidak langsung mengeksekusi
tanahnya, baru 11 tahun kemudian yakni tahun 2007 baru melaksanakan eksekusi tanahnya
yang lahan sudah di tempati warga meruya sekarang dengan sertifikat tanah asli. Dengan kata
lain di sengketa meruya ada mafia tanah yang terlibat.