Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Salah satu faktor penunjang keberhasilan usaha peternakan sapi adalah


sistem perkandangan. Sitem perkandangan merupakan segala aspek fisik yang
berkaitan dengan kandang dan prasarana yang bersifat sebagai penunjang
kelengkapan dalam suatu peternakan. Pembuatan kandang harus memperhatikan
syarat perkandangan yaitu pemilihan lokasi kandang, tata letak kandang bahan
kandang, perlengkapan kandang, dan konstruksi kandang yang meliputi lantai
kandang, dinding kandang atap kandang tempat pakan dan minum serta ukuran
kandang. Bentuk dan model atap kandang hendaknya menghasilkan sirkulasi
udara yang baik di dalam kandang, sehingga kondisi lingkungan dalam kandang
memberikan kenyamanan ternak (Rasyid dan Hartati, 2007)
Secara garis besar ternak sapi membutuhkan kandang yang memenuhi salah
satu syarat perkandangan yaitu konstruksi kandang sebagai pelindung dan
memberikan kenyamanan bagi ternak. Hal ini didukung dengan pendapat Hartati
(2007) yang menyatakan bahwa konstruksi kandang yang baik untuk ternak harus
kuat, mempunyai sirkulasi udara yang baik dan konstruksi kandang harus mampu
menahan beban benturan dan dorongan yang kuat dari ternak sehingga ternak
merasa nyaman. Masalah yang dihadapi di peternakan pak Yeka masih
menggunakan kandang tradisional pak Yeka menggunakan kayu dan bahan
seadanya untuk membangun kandang sapi dan atap kandang terbuat dari seng.
Padahal mendirikan perkandangan secara tepat dan sesuai dengan syarat
perkandangan dapat menghindari ternak sapi dari gangguan cuaca ekstrim. Hal ini
sesuai dengan pendapat Sarwono dan Arianto (2007) kandang sangat diperlukan
dalam melindungi ternak dari keadaan lingkungan yang tidak mendukung,
sehingga kandang sebagai pelindung dan memberikan kenyamanan bagi ternak.
Kandang di peternakan pak Yeka tipe kandang koloni dengan alasan supaya
terkontrol secara pakan, sedangkan yang kita ketahui kandang yang baik adalah
kandang individu supaya pertikaian antar ternak dapat dihindari.

1
Petertnakan pak Yeka merupakan suatu usaha penggemukan dan pembibitan
yang sudah dilakukan selama 4 tahun, populasi saat melakukan praktek lapang
berjumlah 54 ekor sapi dari beberapa bangsa yaitu sapi Simental dan sapi
Peranakan Ongole. Usaha penggemukan sapi pak Yeka dipelihara secara intensif.
Pemeliharaan secara intensif membutuhkan kandang yang baik seperti bangunan
yang kokoh memiliki atap kandang, karena segala aktivitas ternak di dalam
kandang. Berdasarkan uraian di atas maka ingin diketahui bagaimana sistem
perkandangan sapi potong di peternakan Pak Yeka Desa Koto Tuo Kecamatan
Depati VII Kabupaten Kerinci.

1.2 Tujuan

Tujuan dari pelaksanaan praktek kerja lapang ini adalah untuk mengetahui
sistem perkandangan ternak sapi di peternakan pak Yeka Desa Koto Tuo
Kecamatan Depati VII Kabupaten Kerinci.

1.2 Manfaat

Manfaat dari praktek kerja lapang ini adalah agar penulis dapat menambah
pengetahuan dan pengalaman beternak sapi potong terutama masalah
perkandangan di peternakan pak Yeka Desa Koto Tuo Kecamatan Depati VII
Kabupaten Kerinci.

2
BAB II
PROSEDUR KERJA

2.1 Tempat dan Waktu


Praktek kerja lapang ini dilaksanakan di peternakan pak Yeka Desa Koto
Tuo Kecamatan Depati VII Kabupaten Kerinci. Dimulai pada tanggal 01 Juli 2019
sampai dengan 01 Agustus 2019.

2.2 Materi dan Peralatan

Materi yang digunakan pada praktek kerja lapang ini adalah 54 ekor sapi
yang terdiri dari sapi Simental dan sapi Peranakan Ongole. Peralatan yang
digunakan pada praktek kerja lapang ini adalah alat ukur untuk mengukur ukuran
kandang, kamera untuk dekumentasi dan alat tulis.
Kegiatan yang dilakukan dalam kegiatan praktek kerja lapang yaitu
mengamati lokasi kandang, tipe kandang, mengukur kandang, mengukur tempat
pakan. Serta terlibat langsung dalam pemeliharaan setiap hari selama satu bulan
mulai dari kegiatan memberikan pakan hijauan, pakan konsentrat dan air minum,
membersihkan kotoran ternak, membersihkan kandang dan daerah sekitar
kandang.
Tabel 1. Jadwal Kegiatan Rutin Selama Praktek Kerja Lapang
Waktu Kegiatan
07.30-09.00 membersihkan kandang, mengumpulkan feses
09.00-10.00 Memberikan pakan konsentrat
10.00-14.00 kegiatan lain terkait praktek kerja lapang
14.00-16.00 memberikan pakan hijauan
16.00-17.00 Membersihkan kandang dan mengumpulkan feses.

2.3 Parameter atau peubah yang diamati

Parameter yang diamati pada praktek kerja lapang ini adalah jumlah
ternak, bahan kandang, kondisi umum, bangsa ternak, tipe kandang, jenis
kandang, bangunan kandang dan bagian kandang lainnya. Data diperoleh dengan
melakukan pengamatan langsung dengan cara mengukur ukuran kandang dengan
menggunakan meteran pita dan wawancara langsung ke peternak.

3
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Kondisi umum peternakan pak Yeka

Peternakan pak Yeka berdiri sudah ±4 tahun berdiri sejak tahun 2015
yang berlokasi di Desa Koto Tuo Kecamatan Depati VII Kabupaten Kerinci. Di
peternakan milik pak Yeka memiliki 2 bangsa sapi, diantaranya sapi Simental dan
sapi Peranakan Ongole dengan populasi sapi saat ini yaitu 54 ekor yang terdiri
dari 1 ekor sapi Simental pejantan, 4 ekor sapi Simental jantan, 4 ekor sapi
simental betina, 5 ekor sapi Simental pedet dan 40 ekor sapi Peranakan Ongole
jantan untuk dipelihara. Dimana bibit sapi milik pak Yeka didatangkan langsung
dari Padang Mangatas (Payakumbuh) sapi tersebut dipelihara bertujuan untuk
penggemukan dan pembibitan.
Secara geografis letak kandang Sapi pak Yeka strategis dan memiliki
lokasi kandang dengan jarak ± 50 meter dari rumah warga. Pak Yeka mempunyai
lahan sendiri untuk menanam rumput hijauan ternak. Rumput tersebut sengaja
ditanam untuk menambah hijauan pakan ternak supaya tercukupi. Selain itu di
peternakan pak Yeka juga mempunyai perlengkapan kandang seperti cctv yang
terletak di dalam kandang. Air yang digunakan untuk minum dan membersihkan
kandang menggunakan air bersih (PDAM), dan sumber listrik PLN. Kandang di
Peternakan milik pak Yeka merupakan salah satu kandang terbesar di kecamatan
Depati VII. Bangsa dan jumlah sapi di peternakan pak Yeka bisa dilihat pada
Tabel.2
Tabel 2. Bangsa dan jumlah sapi
Jenis sapi Jumlah ternak
PO jantan 40
Simental
a. Betina dewasa 4
b. Betina anak 2
c. Jantan anak 3
d. Pejantan dewasa 1
e. Jantan dewasa 4
Jumlah 54

4
3.2 Sistem pemeliharaan

Sistem pemeliharaan merupakan salah satu faktor yang memegang


peranan penting untuk keberhasilan suatu usaha peternakan baik skala kecil
maupun besar. Sistem pemeliharaan ternak sapi di peternakan Pak Yeka yaitu
sistem pemeliharaan secara intensif, dimana ternak sapi dikandangkan secara terus
menerus baik malam ataupun siang hari. Sugeng (2006), menyatakan bahwa
sistem penggemukan sapi secara intensif merupakan pemeliharaan sapi di
dalam kandang terus-menerus pada periode tertentu dengan pemberian pakan
hijauan dan konsentrat. Pemeliharaan intensif paling sering digunakan di
Indonesia karena pemeliharaan sepenuhnya dilakukan di kandang, sapi dipelihara
secara intensif lebih efisien karena memperoleh perlakuan lebih teratur dalam hal
pemberian pakan, pembersihan kandang, memandikan sapi (Sugeng, 2006).

3.3. Pengalaman Praktek Kerja Lapangan

Selama melaksanakan praktek kerja lapang di peternakan pak Yeka


banyak pengalaman yang diperoleh antara lain penulis mengetahui sistem
perkandangan yang baik untuk sapi dan kepadatan kandang. Praktek Kerja Lapang
adalah kegiatan yang harus dilakukan oleh mahasiswa Fakultas Peternakan
sebelum menyelesaikan studinya, hal ini dikarenakan praktek kerja lapang adalah
salah satu mata kuliah yang wajib diambil dan dilaksanakan prakteknya selama
waktu 1 bulan. Selama satu bulan mengikuti kegiatan praktek kerja lapang ini di
peternakan milik Pak Yeka ini, penulis mendapatkan berbagai ilmu yang sangat
bermanfaat yang melengkapi teori yang telah penulis terima di kampus. Hal lain
di luar ilmu pun diterima penulis selama praktek lapangan, seperti kedisiplinan,
bekerja keras, rajin, serta ikhlas dalam bekerja.

3.4. Sistem Perkandangan

Sistem perkandangan merupakan segala aspek fisik yang berkaitan dengan


kandang dan prasarana yang bersifat sebagai penunjang kelengkapan dalam suatu
peternakan.

5
3.4.1. Fungsi Kandang

Fungsi kandang di peternakan Pak Yeka Supaya ternak tidak merusak


tanaman lain, tempat perlindungan yang nyaman terhadap ternak, berfungsi untuk
menghindari ternak dari terik matahari, hujan, angin kencang secara langsung,
menghindari ternak membuang kotoran sembarangan, mempermudah dalam
pengelolaan dan pengawasan terhadap penggunaan pakan. Hal ini sejalan dengan
pendapat Cahyono (2008) bahwa kandang mempunyai fungsi yang sangat vital
antara lain melindungi ternak dari hewan pemangsa, melindungi ternak dari
panasnya sinar matahari dan hujan, mencegah ternak peliharaan tidak merusak
tanaman lain, membuat ternak peliharaan dapat kawin dan beranak dengan baik,
menampung kotoran sehingga mudah dibersihkan dan dikumpulkan untuk pupuk
pertanian serta memudahkan pemeliharaan sehari hari. Minsalnya pemberian
pakan, minum, pengawasan terhadap penyakit dan seleksi. Sejalan dengan
pendapat Deptan (2007) bahwa fungsi kandang bagi ternak yaitu melindungi
ternak dari perubahan cuaca atau iklim yang eksrem, mencegah dan melindungi
ternak dari penyakit, menjaga keamanan ternak dari pencurian, memudahkan
pengelolaan ternak dalam proses produksi serta meningkatkan efisiensi
penggunaan tenaga kerja.

3.4.2. Letak kandang

Gambar 1. Letak kandang

Peternakan pak Yeka terletak di Desa Koto Tuo Kecamatan Depati VII
Kabupaten Kerinci. Secara geografis letak peternakan ini strategis dan memiliki
lokasi kandang dengan jarak ± 50 meter dari rumah warga. Berdasarkan Sk

6
Dirjen Peternakan No: 774/Kpts/Djp/Deptan/1982 jarak antara kandang dengan
jalan besar yaitu 25 M. Arah kandang ternak milik pak Yeka menghadap ke
Timur. Menurut Hardi (2012) arah kandang yang baik adalah menghadap ke
arah Timur dan tidak terhalangi bangunan. Hal ini bertujuan agar sinar
matahari pagi dapat menembus pelataran kandang dan arah angin perlu
diperhatikan agar bagian muka sapi tidak mendapat kontak langsung dengan
angin yang bertiup.

3.4.3. Tipe Kandang

Gambar 2. Tipe kandang

Tipe kandang di peternakan pak Yeka yaitu koloni atau kelompok. Sapi
dewasa dan pedet digabung dalam satu kandang. Tujuan pak Yeka membuat tipe
kandang yang seperti ini agar lebih mudah dalam memelihara ternaknya, karena
sebagian aktivitas yang dilakukan ternak dapat diawasi langsung. Model kandang
sapi potong di peternakan pak Yeka adalah model kandang ganda dimana ternak
bertolak belakang (tail to tail) dan ditengah ada gang untuk jalan. Kandang model
tail to tail merupakan kandang berposisi ternak sapi yang sejajar atau satu baris
dengan ekor saling membelakangi, keuntungan dari kandang model ini akan
memudahkan petugas dalam membersihkan kotoran sapi.
Kandang koloni (komunal) atau kandang kelompok merupakan model
kandang dalam suatu ruangan kandang yang di dalamnya ditempatkan beberapa
ekor ternak, berfungsi sebagai tempat perkawinan dan pembesaran anak sampai
disapih atau digunakan sebagai kandang pembesaran maupun pengemukan.
Perkandangan model kelompok atau koloni diharapkan dapat meningkatkan
keberhasilan reproduksi dan efisiensi penggunaan tenaga kerja (Hanafi, 2016).

7
Menurut pak Yeka keunggulan kandang koloni ini adalah meningkatkan skala
usaha, mempermudah dalam pemeliharaan baik pemberian pakan maupun air
minum, modal yang digunakan juga tidak terlalu banyak. Adapun kendala pak
Yeka membuat kandang koloni ini adalah tubuh ternak mudah kotor sehingga
pada saat jual beli harus dimandikan terlebih dahulu, solusinya harus
membersihkan kandang dan memandikan sapi setiap hari agar kesehatan sapi
terjaga, Terjadi persaingan pakan antar ternak sehingga harus membatasi
kepadatan kandang.

3.4.4. Ukuran Kandang

Secara keseluruhan kandang sapi di peternakan pak Yeka memiliki ukuran


panjang kandang 30 meter dengan lebar 12 meter yang mana ketinggian 3,5
meter. Ukuran kandang harus disesuaikan dengan ukuran tubuh sapi dan jenis
kandang yang di gunakan. Menurut pendapat Kementerian pertanian tahun 2010
ukuran kandang untuk seekor 1,8 x 2 m, sedangkan di peternakan Pak Yeka
ukuran kandang per ekor 6,6 m kepadatan kandang di peternakan Pak Yeka luas
dan bisa ditambahkan sapi lagi.

3.4.5. Perlengkapan kandang

Gambar 3. Tempat penampungan air

Di Peternakan Pak Yeka mempunyai perlengkapan kandang berupa tempat


penyimpanan pakan, tempat minum, tempat pembuangan kotoran. Peternakan Pak
Yeka juga mempunyai perlengkapan kandang seperti cctv yang terletak di dalam

8
kandang, dan tempat pengasapan. Perlengkapan kandang di peternakan Pak Yeka
sudah dikatakan efisien karena memiliki perlengkapan yang mencukupi. Sesuai
dengan pendapat Rasyid dan Hartati (2007), yang menyatakan bahwa beberapa
perlengkapan kandang yang baik untuk sapi potong meliputi tempat pakan, tempat
minum, tempat penampungan kotoran.
Perlengkapan kandang sapi harus tersedia agar dalam pengelolaan yang
berkaitan dengan sistem perkandangan dapat dicapai secara efisien. Satu diantara
yang paling pokok adalah tempat pakan tersedia di dalam kandang sehingga
bahan pakan hijauan yang diberikan tidak tercecer. Gudang pakan merupakan
tempat untuk menyimpan sementara pakan yang belum siap diberikan ke ternak.
Selain itu tempat kotoran dan tempat penampungan air merupakan perlengkapan
yang harus tersedia dan peralatan kandang membantu dalam pekerjaan di dalam
kandang.

3.4.6. Kontruksi kandang

Kontruksi kandang pada usaha pengemukan sapi pak Yeka terdiri dari
lantai kandang, dinding kandang, atap kandang, tiang kandang, dan lorong/gang
kandang. Bahan yang di gunakan untuk pembuatan kandang di peternakan Pak
Yeka sudah bagus dan memiliki ketahanan yang cukup kuat dan tahan lama,
hingga saat ini usia kandang milik Pak Yeka sudah menginjak 4 tahun. Hal ini
sesuai dengan pendapat (Sukmawati dkk, 2010) dalam pemilihan bahan kandang
hendaknya di pilih bahan lokal yang banyak tersedia dan minimal tahan di
gunakan untuk jangka waktu yang panjang.

3.4.6.1. Lantai

Lantai kandang di peternakan pak Yeka terbuat dari bahan semen kasar
agar tidak cepat rusak dan mempermudah membersih kotoran kandang. Hal ini
sesuai dengan pendapat Sudarmono dan Sugeng (2008) sebaiknya lantai dibuat
dengan semen kasar, sehingga ternak yang menghuni bisa berdiri dengan tegak di
atas keempat kaki yang kokoh, bisa berbaring dan istirahat dengan baik, dan bisa
melakukan proses memamah biak dengan baik.

9
Gambar 4. Lantai kandang

3.3.6.2. Dinding

Dinding kandang di peternakan Pak Yeka di buat dengan bahan bambu


yang sudah dipotong dan sebagian ditutupi dengan seng, tujuan pak Yeka
membuat kandang dari bambu, karena dinding kandang tidak boleh tertutup
seluruhnya harus dibuat terbuka sebagian agar sirkulasi udara di dalam kandang
lancar, Dinding kandang berguna untuk membatasi sapi tidak lepas keluar.

Gambar 5. Dinding kandang

3.4.6.3. Atap

Atap kandang di peternakan sapi pak Yeka terbuat dari seng. Pak Yeka
membuat atap kandang dari seng karena lebih mudah di dapat dan biaya yang
murah dan tahan lama, atap kandang berfungsi mengurangi panas dalam kandang.
Tinggi kandang dari lantai ke atapnya dibuat agak tinggi agar udara bisa masuk
sehingga tidak terlalu pengap dan sirkulasi udaranya baik. Hal ini sesuai dengan
pendapat Rianto dan Purbowati (2013) atap kandang sebaiknya terbuat dari seng

10
sehingga tidak terlalu panas dan memiliki segi ekonomis Karena awet dan di
samping itu dengan atap seng udara dapat mengalir melalui celah celahnya
sehingga ruang lebih nyaman.

Gambar 6. Atap kandang

3.4.6.4. Tiang

Tiang kandang di peternakan pak Yeka terbuat dari kayu yang berbentuk
bulat tujuan menggunakan kayu bulat agar lebih tahan lama dibandingkan dengan
kayu berbentuk kotak, Selain itu kayu bulat tidak akan melukai tubuh sapi
berbeda dengan kayu kotak yang memiliki sudut tajam.

Gambar 7. Tiang kandang

3.4.6.5 Lorong atau gang

Lorong atau gang di peternakan pak Yeka berkisar antara 1 meter yang
yang berguna untuk memudahkan dalam pengambilan kotoran. Menurut Rasyid
(2007) lebar lorong disesuaikan dengan kebutuhan dan model kandang, umumnya
berkisar antara 1,2-1,5 meter. Di antara kedua baris atau jajaran kandang di buat
jalur untuk jalan yang digunakan untuk mempermudah dalam pemberian pakan.
Hal ini sesuai dengan pendapat Rianto dan Purbowati (2013) yang menyatakan

11
bahwa untuk kandang ganda perlu dilengkapi dengan lorong untuk memudahkan
lalu lintas kegiatan.

3.4.6.6 Drainase

Di peternakan pak Yeka tidak mempunyai saluran penampungan limbah


maka parit atau drainase akan langsung disalurkan ke sungai. Limbah ternak yang
langsung ke sungai inilah yang dapat menyebabkan pencemaran lingkungan
terutama pencemaran air sungai. Menurut Maulida (2013) dengan adanya parit
maka air sisa pembersihan lantai, sisa memandikan ternak dan air limbah dari
ternak dapat mudah terkumpul menjadi satu yang kemudian akan disalurkan ke
tempat penampungan biogas atau selokan.

3.4.7. Sanitasi

Gambar 8. Sanitasi kandang

Sanitasi kandang adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh peternak


untuk kebersihan kandang dan lingkungan. Kegiatan ini penting karena dengan
keadaan kandang serta lingkungan yang bersih, maka kesehatan ternak maupun
pemiliknya menjadi terjamin. Kebersihan kandang bisa diatur sesuai dengan
kebutuhan sehingga lingkungan menjadi sejuk, nyaman, tidak berbau maupun
lembab. BPTP (2000) Menyatakan bahwa sanitasi kandang merupakan suatu
kegiatan pencegahan yang meliputi kebersihan banggunan tempat tinggal ternak
atau kandang dan lingkungannya dalam rangka untuk menjaga kesehatan ternak
sekaligus pemiliknya.

12
Berdasarkan hasil yang penulis dapat dari praktek lapang di peternakan
Pak Yeka terkait sanitasi kandang yang meliputi penilaian lokasi kandang,
konstruksi bangunan kandang, kebersihan kandang dan kepadatan kandang, dapat
diketahui bahwa kandang di peternakan pak Yeka sudah baik, karena lokasinya
strategis, kontruksi bangunan juga cukup baik, kebersihan kandang juga baik
karena dibersihkan 2 kali sehari. Sanitasi adalah usaha pencegahan penyakit, cara
menghilangkan atau pengatur faktor-faktor lingkungan yang berkaitan dengan
rantai perpindahan penyakit. Sanitasi yang dilakukan di peternakan pak Yeka
meliputi pembersihan dan pengangkatan sisa pakan hijauan, membersihkan lantai
agar bersih, kering dan tidak lembab karena kandang yang bersih merupakan cara
pencegahan penyakit pada ternak, selain itu upaya sanitasi yang di lakukan yaitu
penanganan pembuangan kotoran, kotoran dikumpul di belakang kandang dan
dijadikan pupuk dan kadang di perjual belikan. Pembuangan urin secara langsung
ke selokan, kandang di peternakan pak Yeka mempunyai ventilasi untuk keluar
masuknya udara dalam kandang supaya kesehatan ternak terjaga. selain itu, juga
dilakukan dengan pengasapan yang bertujuan untuk mematikan bibit-bibit
penyakit yang ada dalam kandang. Menurut Suprijatna dan Kartasudjna (2006)
untuk memperoleh lingkungan yang bersih, higienis dan sehat, tindakan sanitasi
harus dilaksanakan dengan teratur.

13
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil praktek kerja lapang dapat disimpulkan bahwa sistem


perkandangan sapi di peternakan pak Yeka cukup. Hal ini terindikasi dari belum
adanyan saluran khusus penampungan limbah kotoran sapi.

4.2 Saran

Sebaiknya kandang di peternakan pak Yeka membuat saluran


penampungan limbah kotoran sapi agar tidak mencemari air sungai.

14
DAFTAR PUSTAKA

BPTP, NTB. 2006 Manajemen Terpadu Pemeliharaan Sapi Bali.

Cahyono S.B. 2008. Gaya Hidup dan Penyakit Modern. Kanisius, Yogyakarta
Deptan. 2007. Pedoman penumbuhan dan pengembangan kelompok tani dan
gabungan kelompok tani. Deptan. Jakarta

Hanafi, H. 2016. Peran kandang sistem komunal ternak sapi potong terintegrasi
limbah pertanian dalam mendukung kedaulatan pangan di Yogyakarta.
Jurnal Agros. 18(2): 126-131.

Hartati. 2007. Perkandangan Sapi Potong. Pusat Penelitian dan Pengembangan


Peternakan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen
Pertanian

Kementerian Pertanian. 2010. Petunjuk Praktis Perkandangan Sapi,: Balai


Pengkajian Teknologi Pertanian NTB. Mataram

Rasyid. 2007. Sapi Potong Lokal. Edisi Revisi. Penebar Swadaya. Jakarta

Rasyid dan Hartati. 2007. Perkandangan Sapi POtong, Pusat Penelitian dan
Pengembangan Peternakan. Badan Penelitian dan Pengembangan
Pertanian. Departemen Pertanian. Jakarta.

Rianto, E, dan E, Purbowati. 2013. Panduan Lengkap Sapi Potong. Penebar


Swadaya. Jakarta

Sarwono, B. dan H.B Arianto. 2007. Penggemukan Sapi Potong Secara Cepat.
Penebar Swadaya. Jakarta

Sugeng, Y. B. 2006. Sapi Potong. Penebar Swadaya, Jakarta.

Sukmawati, F. dan M. Kaharudin. 2010. Perkandangan Sapi Potong. Pusat


Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Badan Penelitian dan
Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian. Jakarta

Suprijatna, E. dan R. Kartasudjana. 2006. Manajemen Ternak Sapi. Penebar


Swadaya, Jakarta.

15