Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN

PRAKTEK KERJA LAPANG

SISTEM PEMELIHARAAN TERNAK KAMBING DI PETERNAKAN


BAPAK JEMANU DESA PENEROKAN KECAMATAN BAJUBANG
KABUPATEN BATANGHARI

OLEH
RETA ADITYA
E10016118

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2020
LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN
PRAKTEK KERJA LAPANG

SISTEM PEMELIHARAAN TERNAK KAMBING DI PETERNAKAN


BAPAK JEMANU DESA PENEROKAN KECAMATAN BAJUBANG
KABUPATEN BATANGHARI

OLEH:
RETA ADITYA
E10016118

Telah diuji di Hadapan Tim Penguji


pada hari ……., tanggal …………….., dan dinyatakan lulus

Ketua :
Anggota : 1. ………….
2. ………….

Mengetahui, Menyetujui,
Ketua Jurusan/Prodi Peternakan Pembimbing Lapangan

Dr. Ir. Endri Musnandar, MS Dr. Ir. Zulfa Elymaizar, M.P.


NIP. 19590926 198603 1 004 NIP.196205061990032001

ii
PRAKATA

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
rahmat serta hidayat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan kegiatan
Praktek Kerja Lapang ini. Kegiatan ini dilakukan di peternakan Bapak Jemanu. Tema
yang penulis pilih berkenaan mengenai sistem pemeliharaan ternak kambing, banyak
sekali pengalaman yang penulis peroleh dari kegiatan ini terutama pengetahuan yang
tidak bisa didapatkan pada saat perkuliahan.
Dalam penulisan laporan ini penulis banyak mendapatkan bantuan dan
bimbingan dari berbagai pihak. Maka dari itu penulis mengucapkan terima kasih
kepada Ibu Dr. Ir. Zulfa Elymaizar, M.P selaku Pembimbing Lapangan yang telah
memberikan banyak bimbingan, arahan, koreksi, petunjuk dan masukan serta
motivasi untuk penulis selama penulisan laporan ini. Selanjutnya penulis juga
mengucapkan terima kasih kepada Bapak Jemanu yang telah membantu dalam
penyelenggaraan kegiatan ini dan mengizinkan sekaligus membimbing penulis
selama melaksanakan kegiatan Praktek Kerja Lapang, serta seluruh pihak dari
Universitas Jambi.
Penulis sadar bahwa Laporan Praktek Kerja Lapang ini jauh dari kata
sempurna. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat
membangun demi kesempurnaan laporan ini.

Jambi, Juni 2020

Reta Aditya

i
DAFTAR ISI

Halaman
PRAKATA....................................................................................................... i
DAFTAR ISI.................................................................................................... ii
DAFTAR GAMBAR........................................................................................ iii
BAB I. PENDAHULUAN................................................................................ 1
1.1. Latar Belakang............................................................................ 1
1.2. Tujuan......................................................................................... 2
1.3. Manfaat....................................................................................... 2
BAB II. PROSEDUR KEGIATAN.................................................................. 3

ii
2.1. Tempat dan Waktu...................................................................... 3
2.2. Prosedur Kerja............................................................................. 3
2.3. Analisis Data............................................................................... 3
BAB III. HASIL DAN PEMBAHASAN......................................................... 5
3.1. Kondisi Umum Peternakan......................................................... 5
3.2. Sistem Pemberian Pakan............................................................. 6
3.3. Sistem Perkandangan.................................................................. 8
3.4. Kesehatan Ternak........................................................................ 9
3.5. Penanganan Limbah.................................................................... 11
BAB IV. KESIMPULAN DAN SARAN......................................................... 12
4.1. Kesimpulan................................................................................. 12
4.2. Saran........................................................................................... 12
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................... 13

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman
1. Peternakan Kambing Bapak Jemanu……………………………… 5
2. Pemberian Pakan Hijauan……………………………………......... 6
3. Sistem Perkandangan…………………………………………......... 8
4. Obat Kambing……………..……………………………………..… 10

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Salah satu komoditi peternakan yang memberikan konstribusi yang cukup
besar terhadap gizi masyarakat adalah ternak kambing. Ternak kambing merupakan
ternak yang termasuk ke dalam ruminansia kecil yang memberikan manfaat untuk
memenuhi kebutuhan konsumsi daging. Selain itu, ternak kambing juga merupakan
ternak penghasil kulit, susu dan feses. Kambing merupakan ternak yang memiliki
sifat toleransi tinggi terhadap pakan hijauan serta mempunyai daya adaptasi cukup
baik terhadap bermacam-macam pakan hijauan dan berbagai keadaan lingkungan. Di
Indonesia banyak terdapat bangsa-bangsa kambing seperti kambing Kacang, kambing
Peranakan Etawa, kambing Etawa, kambing Boer dan kambing Jawarandu.
Keberhasilan beternak kambing sangat tergantung pada sistem pemeliharaan
meliputi pakan, perkandangan, pemeliharan dan kesehatan. Pakan merupakan faktor
penting dalam mendukung produktivitas ternak. Pemberian pakan yang mencukupi
nutrisi yang dibutuhkan oleh ternak diharapkan dapat menghasilkan produktivitas
ternak yang tinggi (Purbowati dkk, 2015). Pakan yang baik adalah pakan berupa
hijau-hijauan seperti rumput, daun-daunan, serta sisa produksi seperti ampas tahu.
Perkandangan memiliki peran yang penting tidak sekedar membangun
kandang tetapi kandang diperlukan sebagai tempat berlindung ternak dari hujan dan
terik matahari sehingga ada rasa nyaman. Keadaan kandang yang baik dan nyaman
ternak akan mampu berkembang dan tumbuh secara normal. Kondisi kandang yang
buruk sangat memungkinkan pertumbuhan ternak menjadi lambat, kurang sehat dan
terjadi pemborosan pakan.
Sanitasi kesehatan merupakan salah satu keberhasilan dalam beternak
kambing. Mencegah penyakit lebih baik dari pada mengobati. Mencegah penyakit
dapat dilakukan dengan menjaga sanitasi kandang, pemberian pakan yang
mengandung nutrisi lengkap dan vaksinasi. Tindakan pencegahan lain yaitu
membebaskan kambing dari parasit internal (misalkan cacing) dengan memberikan

1
obat cacing dan parasit eksternal (misalkan kudis) dengan memandikan secara rutin.
Oleh sebab itu, pengetahuan yang komprehensif tentang sistem pemeliharaaan perlu
diketahui oleh peternak sebagai upaya bagi peningkatan produktivitas ternak
kambing.
Salah satu peternakan rakyat yang memelihara kambing yaitu peternakan
kambing milik Bapak Jemanu yang berlokasi di Desa Penerokan, Kecamatan
Bajubang, Kabupaten Batang Hari, Provinsi Jambi. Sistem pemeliharaan kambing di
peternakan Bapak Jemanu bersifat intensif yaitu kambing dipelihara di dalam
kandang secara terus menerus. Pemeliharan secara intensif perlu perhatian khusus
karena kambing sepenuhnya terkurung di dalam kandang. Dalam hal ini peternak
harus melakukan kegiatan rutin seperti pembersihan kandang, pengumpulan feses dan
penyediaan pakan hijauan. Untuk mengetahui pengelolaaan peternakan kambing di
peternakan Bapak Jemanu maka perlu dilakukan Pratek Kerja Lapang tentang
“Sistem Pemeliharaan Ternak Kambing di Peternakan Bapak Jemanu Desa
Penerokan, Kecamatan Bajubang, Kabupaten Batanghari”.

1.2. Tujuan
Adapun tujuan pratek kerja lapang ini adalah untuk mengetahui sistem
pemeliharaan ternak kambing di Peternakan Pak Jemanu Desa Penerokan, Kecamatan
Bajuabang, Kabupaten Batanghari, Jambi.

1.3. Manfaat
Adapun manfaat pratek kerja lapang adalah mahasiswa memiliki pengalaman
praktis dalam kegiatan sistem pemeliharaan ternak kambing sebagai bekal kesiapan
mahasiswa dalam menghadapi dunia kerja.

2
BAB II
PROSEDUR KEGIATAN

2.1. Tempat dan Waktu


Kegiatan Praktek Kerja Lapang (PKL) telah dilaksanakan di Peternakan
Bapak Jemanu Desa Penerokan, Kecamatan Bajubang, Kabupateng Batanghari,
Provinsi Jambi dimulai dari tanggal 25 Januari 2020 sampai dengan tanggal
25 Februari 2020.

2.2. Prosedur Kerja


Materi yang dingunakan pada pratek lapang ini adalah ternak kambing
sebanyak 18 ekor, kandang ternak, meteran untuk mengukur kandang, ember untuk
pemberian minum, timbangan untuk mengukur berat badan ternak, serta sapu lidi
untuk membersihkan kandang.
Kegiatan yang dilakukan dalam kegiatan Praktek Kerja Lapang (PKL) yaitu
dengan terlibat langsung dalam pemeliharaan kambing setiap hari selama satu bulan
mulai dari kegiatan membersihkan kandang, membuang kotoran, membersihkan sisa
pakan, memberikan pakan hijauan pada pagi dan sore hari, dan membersihkan daerah
sekitar kandang. Jadwal kegiatan pratek kerja lapang di peternakan Bapak Jemanu
dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Jadwal Kegiatan Kerja Praktek Lapangan di Peternakan Bapak Jemanu

N
Waktu Kegiatan Sub kegiatan
o
Pembersihan Membersihkan sisa pakan pada tempat
1. 06.30 - 08.00 WIB
kandang pakan dan bawah kandang.
Pemberian
2. 08.00 WIB Memberi pakan hijauan pada pagi hari
pakan
Pemberian
3. 11.30 WIB Memberi pakan hijauan pada siang hari
pakan
Membersihkan kotoran kambing dan
Pembersihan
4. 16.30 – 17.30 WIB membersihkan sisa pakan pada tempat
kandang
pakan dan bawah kandang.
Pemberian
5. 16.30 WIB Memberi pakan hijauan pada sore hari
pakan

3
2.3. Analisis Data
Pengambilan data yang digunakan dalam Praktek Kerja Lapangan ini
menggunakan metode survey. Data yang dikumpulkan meliputi data primer dan data
sekunder. Data primer diperoleh dengan cara observasi dan wawancara langsung ke
peternak. Observasi meliputi partisipasi aktif yaitu praktek/pengamatan secara
langsung misalnya cara pemberian pakan, pengolahan limbah, pembersihan kandang
dan perawatan kambing, sedangkan wawancara dilakukan berpedoman pada
kuesioner yaitu sejarah berdirinya peternakan, pemasaran ternak, pemilihan bibit
kambing. Data sekunder diperoleh dari data yang telah ada yaitu meliputi monografi,
jurnal dan literatur. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif dan matematis
sederhana (penambahan, pengurangan, perkalian dan pembagian).

4
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Keadaan Umum Peternakan


Peternakan kambing Bapak Jemanu berlokasi di Desa Penerokan KM 42
Simpang Bahar. Peternakan ini berdiri pada tahun 2014, berawal dengan hanya
memelihara 2 ekor kambing yaitu kambing Peranakan Etawa (PE) dan kambing
kacang dan belum diperjualbelikan. Seiring berjalannya waktu peternakan Bapak
Jemanu mulai berkembang dan menerapkan sistem jual beli sejak tahun 2017. Pada
saat kegiatan Praktek Lapang, Bapak Jemanu memiliki 18 ekor kambing yang terdiri
dari kambing PE, kambing Jawarandu dan kambing Kacang. Jumlah kambing milik
Bapak Jemanu dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Jumlah kambing milik Bapak Jemanu (ekor).

Bangsa
Fase
Kambing PE Kambing Kacang Kambing Jawarandu
Anak 2 - 2
Remaja 2 2 3
Induk 1 - 1
Jantan 2 1 2
Total 7 3 8

Dalam menjalankan usahanya Bapak Jemanu dibantu oleh istri, seperti dalam
pengambilan hijauan dan sanitasi kandang, sedangkan dalam kesehatan ternak Bapak
Jemanu dibantu oleh dokter hewan. Peternakan milik Bapak Jemanu ini pernah
memenangkan lomba perkandangan dan mendapatkan juara I tingkat kabupaten dan
provinsi pada tahun 2019.
Sistem pemeliharaan yang digunakan di peternakan kambing Bapak Jemanu
adalah sistem pemeliharaan secara intensif, yaitu pemeliharaan ternak secara terus-
menerus di dalam kandang. Kelebihan sistem intensif adalah dapat memudahkan
dalam pemberian pakan, pemantauan kesehatan ternak dan mengontrol faktor

5
lingkungan yang tidak baik serta mengontrol aspek-aspek kebiasaan kambing yang
berdampak buruk terhadap peternakan tersebut.

3.2. Sistem Pemberian Pakan


Pemberian pakan merupakan aspek yang sangat penting dikarenakan pakan
merupakan sumber energi utama untuk pertumbuhan dan pembangkit tenaga bagi
ternak. Makin besar dan baik mutu pakan yang diberikan, maka semakin besar pula
tenaga yang ditimbulkan dan energi yang tersimpan dalam bentuk daging. Selain
pentingnya aspek pakan terhadap ternak, pakan juga menjadi salah satu aspek penting
dalam keberhasilan suatu usaha peternakan. Menurut Siregar (2003) pakan memiliki
peranan penting dalam keberhasilan usaha peternakan, karena 60-80% total biaya
produksi digunakan untuk biaya pakan.
Pakan juga menjadi faktor penting untuk perawatan tubuh, pertumbuhan,
penggemukan, reproduksi dan produksi. Pemberian pakan hijauan pada kambing
berupa campuran daun-daunan dan rumput-rumputan menghasilkan zat gizi yang
diperoleh akan saling melengkapi dan menjamin ketersedian gizi yang baik pula dan
kambing pun tidak merasa bosan memakan hijauan yang diberikan (Mulyono dan
Sarwono, 2007). Dalam meningkatkan produksi ternak ruminansia ketersediaan
hijauan makanan ternak merupakan bagian yang terpenting, karena lebih dari 70 %
dari ransum ternak terdiri dari pakan hijauan, untuk itu diperlukan upaya penyediaan
hijauan makanan ternak yang berkualitas dan berkesinambungan (Farizaldi, 2011).
Jenis hijauan pakan yang diberikan di peternakan Bapak Jemanu berupa
rumput-rumput liar yang diperoleh dari lahan setempat seperti cabe-cabean, daun
nangka dan lainnya. Hijauan ini langsung diberikan ke ternak di dalam kandang.
Pemberian pakan tambahan seperti konsentrat belum dilakukan oleh peternak, karena
pengetahuan tentang pakan tambahan belum dimengerti/dipahami. Hal ini
menunjukkan bahwa manajemen pemberian pakan pada kambing di peternakan
Bapak Jemanu masih dilakukan secara tradisional. Hal ini tidak sesuai oleh pendapat
Rianto dan Purbowati (2009) bahwa pemeliharaan secara intensif, pakan hijauan dan
konsentrat diberikan kepada ternak di dalam kandang, sehingga kecukupan nutrisi

6
ternak dapat terpenuhi. Hijauan pakan yang diberikan pada ternak kambing di
peternakan Bapak Jemanu dapat dilihat pada Gambar 1 berikut.

Gambar 1. Pakan hijauan yang diberikan pada ternak kambing

Pemberian pakan hijauan di peternakan kambing Bapak Jemanu dilakukan


tiga kali dalam sehari yaitu pagi, siang dan sore hari. Pakan hijauan diberikan
sebanyak 10-20% dari bobot tubuh sesuai dengan kebutuhan ternak. Pada anak
kambing belum diberikan pakan hijauan dan hanya menyusu pada induknya saja
karena belum masa sapih. Pada kambing dara atau remaja pemberian hijauan
sebanyak 3-4 kg/ekor/hari, pada induk kambing sebanyak 4-6 kg/ekor/hari karena
pada saat induk sedang bunting dan menyusui memerlukan nutrisi yang lebih dan
pada kambing jantan diberikan sebanyak 5-6 kg/hari/ekor. Menurut Wardana (2012)
pakan hijauan diberikan 2 kali sehari dengan ukuran pemberian ± 4 kg/ekor/hari.
Pemberian hijauan di peternakan pak Jemanu sudah memenuhi kebutuhannya.
Sebelum diberikan ke ternak hijauan pakan dilayukan atau diangin-anginkan terlebih
dahulu agar kadar airnya berkurang sehingga ternak tidak mengalami kembung. Hal
ini sesuai pendapat Mulyono dan Sarwono (2007) bahwa hijauan yang diperoleh
sebaiknya dilayukan atau dikeringkan terlebih dahulu sebelum digunakan untuk
pakan kambing yang bertujuan untuk menghindari kembung pada ternak.
Pemberian air minum diberikan pada sore hari atau sebelum magrib yaitu
sekitar 1,5 - 2,5 liter/hari yang dicampur dengan garam. Hal ini masih dalam standar
karena menurut Masrah dkk. (2016) kebutuhan air untuk kambing sekitar 2-3
liter/hari.

7
3.3. Sistem Perkandangan
Kandang merupakan salah satu unsur tatalaksana yang harus mendapatkan
perhatian yang cukup. Kandang berfungsi sebagai tempat tinggal dan istirahat bagi
ternak selama dipelihara pemiliknya. Faktor yang harus diperhatikan dalam
pembuatan kandang adalah suhu, cahaya, ventilasi dan kelembaban. Yang artinya
kandang cukup mendapat cahaya matahari, mempunyai ventilasi yang baik dan
mendapatkan udara segar yang cukup. Kandang memiliki fungsi sebagai:
 Kandang harus dapat melindungi kambing dari hewan-hewan pemangsa maupun
hewan pengganggu.
 Kandang harus dapat mempermudah kambing dalam melakukan aktifitas
keseharian seperti makan, minum, tidur, kencing atau buang kotoran.
 Kandang dapat mempermudah peternak dalam melakukan pengawasan dan
menjaga kesehatan ternak.
 Sebagai tindakan preventif agar kambing tidak merusak tanaman dan fasilitas
lainnya yang berada di sekitar lokasi peternakan, serta menghindari
terkomsumsinya pakan yang berbahaya bagi kesehatan kambing.
Tipe kandang di peternakan kambing Bapak Jemanu merupakan tipe kandang
panggung yang bahannya dibuat dari sisa-sisa kayu dari pembuatan mebel yang
dimiliki oleh Bapak Jemanu sendiri (Gambar 2). Tipe kandang panggung ini
menyebabkan ternak tidak langsung bersentuhan dengan tanah bawah kandang.
Ketinggian kandang adalah ± 3 meter dari tanah dan 2 meter dari lantai ke atap.

8
Gambar 2. Tipe kandang
Manfaat dari kandang panggung adalah supaya ternak tidak mudah terserang
penyakit, pengontrolan pakan bisa dilakukan dengan mudah, terdapat kolong untuk
menampung kotoran dan dapat menghindari kebecekan dan memungkinkan ventilasi
kandang yang lebih bagus. Hal ini diperkuat oleh Setiawan (2004) yang menyatakan
bahwa tipe kandang panggung lebih baik dari pada tipe kandang yang lain, karena
pengambilan kotoran ternak pada kandang panggung lebih mudah dilakukan sehingga
tidak menggganggu ternak, memudahkan peternak dalam melakukan sanitasi
kandang. Pembersihan kandang dari sisa-sisa pakan dilakukan 2 kali sehari pada pagi
dan sore hari dan pembersihan kolong kandang dilakukan 2 hari sekali.
Jenis kandang yang digunakan di peternakan Bapak Jemanu yaitu jenis
individu atau baterai yang merupakan jenis kandang yang disekat-sekat cukup 1 ekor
saja, gerak kambing dibatasi sehingga perkembangan ternak lebih cepat. Kandang
untuk kambing remaja berukuran 1 x 1 meter/ekor. Kandang beranak untuk induk
yang baru melahirkan dan menyusui dipisahkan dari ternak lainnya untuk
menghindari anak terinjak oleh ternak lain berukuran 1 x 2 meter. Kandang pejantan
berukuran 3 x 4 meter, hal ini untuk memudahkan pada saat perkawinan. Hal ini
sesuai dengan pendapat Sarwono (2001) bahwa kandang dapat disekat beberapa
bagian untuk memudahkan pemeliharaan, pengontrolan ternak yang sakit, pengaturan
perkawinan induk dan pengaturan induk yang sedang bunting dan menyusui.
Letak kandang kambing ini berdekatan dengan tempat tinggal (rumah)
pemilik ternak kambing tepatnya di samping rumah, namun dengan selalu terjaganya

9
kebersihan kandang sehingga aroma amonia dari kandang tidak terhirup hingga ke
perumahan warga sekitar. Kandang yang baik memang harus jauh dari pemukiman
penduduk (minimal 10 meter dari rumah) untuk menghindari bau yang ditimbulkan
dari limbah kotoran ataupun sisa pakan yang membusuk (Fahrul dan Mukhtar, 2018)

3.4. Kesehatan Ternak


Penanganan kesehatan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi
keberhasilan usaha ternak kambing. Penanganan kesehatan meliputi pencegahan,
pengendalian dan pengobatan penyakit secara tepat. Ternak yang sehat akan merasa
nyaman dengan kondisi lingkungan dapat memberikan performa maksimal dan
mengalami pertambahan bobot badan sesuai dengan target (Rahmat dan Harianto,
2012), sedangkan ternak yang tidak sehat dapat mengakibatkan timbulnya beberapa
kerugian seperti penyusutan bobot badan, tingkat efesiensi pakan menurun, dan
kualitas produksi juga menurun drastis (Suyasa dkk., 2016).
Manajemen pengendalian penyakit, yang lebih utama dilakukannya adalah
pencegahan penyakit dari pada pengobatan. Kegiatan pengendalian penyakit meliputi,
sanitasi kandang, sanitasi peralatan, dan sanitasi lingkungan perkandangan. Sanitasi
merupakan usaha pencegahan penyakit, cara menghilangkan atau mengatur faktor-
faktor lingkungan yang berkaitan dengan rantai perpindahan penyakit. Sanitasi yang
dilakukan di peternakan Bapak Jemanu meliputi pembersihan dan pengangkatan sisa
pakan hijauan, membersihkan lantai agar bersih, kering dan tidak lembab karena
kandang yang bersih merupakan cara pencegahan penyakit pada ternak. Selain itu
juga dilakukan sanitasi pengendalian penyakit ektoparasit dengan pengasapan di
sekitar kandang dengan membakar sisa pakan hijauan kambing yang bertujuan untuk
mematikan bibit-bibit penyakit berupa tungau, caplak, dan nyamuk kecil (agas) yang
ada di dalam kandang. Pembersihan kandang dan sekitarnya dilakukan dua kali sehari
pada pagi dan sore hari. Menurut Suprijatna (2006) untuk memperoleh lingkungan
yang bersih, higenis dan sehat, tindakan sanitasi harus dilaksanakan denggan teratur.
Penyakit yang sering menyerang ternak kambing di peternakan Bapak Jemanu
adalah penyakit mencret (diare) dan kurap. Diare adalah buang besar yang lebih

10
sering dari biasanya dengan berbentuk encer bahkan dapat berupa seperti air
(Widoyono 2018). Penanganan kambing yang mengalami mencret (diare) diobati
dengan cara pemberian Colubact inj dan Vetoxy LA sebanyak 2 ml diinjeksikan di
bawah kulit atau dapat juga menggunakan obat alami berupa daun jambu biji yang
sudah ditumbuk. Kambing yang terserang kurap diobati dengan menginjeksikan
Ivomec di bawah kulit sebanyak 1 ml/20kg bobot badan (BB). Kambing yang
terserang kembung diobati dengan menginjeksikan Tympanol sb di bawah kulit
sebanyak 2 ml. Hal ini berbeda dengan pendapat Sarwono (2004) bahwa setiap ekor
kambing dapat diberi tymposol yang dilarutkan dalam air. Kambing diposisikan
berdiri tegak sambil perutnya dipijat-pijat secara perlahan untuk membantu
mengeluarkan gas. Apabila ada kambing yang terserang penyakit yang serius pak
Jemanu akan menghubungi dokter hewan untuk menginjeksikan obat ke kambing
yang terserang penyakit. Macam-macam obat untuk penanganan penyakit di
peternakan Bapak Jemanu dapat dilihat pada Gambar 3 berikut.

Gambar 3. Macam-macam obat kambing

3.5. Penanganan Limbah


Penanganan limbah di peternakan Bapak Jemanu terhadap limbah feses
kambing dijadikan pupuk pada perkebunan sawit miliknya sendiri dan tidak
diperjualbelikan. Sedangkan sisa pakan hijauan digunakan sebagai pengasapan
kandang yang berguna untuk mengurangi nyamuk (agas) dan tungau. Sebelumya
pada tahun 2019 adanya sosialisasi pembuatan pupuk kompos dari dosen Universitas
Jambi tetapi karena Bapak Jemanu tidak memiliki waktu, maka untuk pembuatan
kompos ini tidak dilanjutkan dengan baik.

11
BAB IV
KESIMPULAN

4.1. Kesimpulan

Selama melakukan kegiatan Pratek Kerja Lapang di peternakan kambing


Bapak Jemanu di Desa Penerokan, Kecamatan Bajubang, Kabupaten Batanghari,
Provinsi Jambi dapat disimpulkan bahwa pemeliharaan kambing sudah baik
walaupun dilakukan secara tradisional.

4.2. Saran
Saran yang diberikan penulis kepada peternakan kambing demi perubahan
yang lebih baik yaitu ada baiknya segi pemeliharaannya ditingkatkan seperti
pemberian pakan tambahan seperti konsentrat dan penanganan limbah agar didapat
hasil yang optimal.

12
DAFTAR PUSTAKA

Fahrul, I dan M. Mukhtar. 2018. Perbaikan manajemen pemeliharaan dalam rangka


mendukung pembibitan kambing Kacang bagi warga di Kecamatan Bone
Pantai Kabupaten Bone Bolango. J. Pegabdian kepada Masyarakat. 3(2): 141-
152.

Farizaldi. 2011. Produktivitas hijauan makanan ternak pada lahan perkebunan kelapa
sawit berbagai kelompok umur di PTPN 6 Kabupaten Batanghari Propinsi
Jambi. J. Ilmiah Ilmu-Ilmu Peternakan 14(2): 68-73

Masrah, H. Hafid, dan T. Saili. 2016. Kajian produktivitas ternak kambing pada
sistem pemeliharaan yang berbeda di Kecamatan Andoolo Barat Kabupaten
Konawe Selatan. JITRO, 3 (1) 1-12.

Mulyono, S. dan B. Sarwono. 2007. Penggemukan Kambing Potong. Penebar


Swadaya, Jakarta.

Purbowati, E., I. Rahmawati dan E. Rianto. 2015. Jenis hijauan pakan dan kecukupan
nutrien kambing Jawarandu di Kabupaten Brebes Jawa Tengah. J. Pastura
5(1): 10-14.

Rahmat dan B. Harianto. 2012. 3 Jurus Sukses Menggemukkan Sapi Potong. Cetakan
Pertama. PT. Agro Media Pustaka, Jakarta.

Rianto, E. dan E. Purbowati. 2009. Panduan Lengkap Sapi Potong. Penebar Swadaya,
Jakarta.

Sarwono, B. 2001. Beternak Kambing Unggul. Penebar Swadaya, Jakarta.

Sarwono, B. 2004. Beternak Kambing Unggul. Kanisisus. Yogyakarta.

Setiawan. 2004. Memanfaatkan Kotoran Ternak. Cetakan ke-8. Penebar Swadaya,


Jakarta.

Siregar, S. B. 2003. Ransum Ternak Ruminansia. Penebar Swadaya. Jakarta

Suprijatna. 2006. Manajemen Ternak Unggas. Penebar Swadaya, Jakarta.

Suyasa, N., P. I. Ayu dan E. S. Rohaeni. 2016. Potensi dan Keragaman Karakter
Kambing Kacang, Peranakan Ettawa (PE) dan Gembrong di Bali. Prosiding
Seminar Nasional Inovasi Teknologi Pertanian, Banjarbaru, 20 Juli 2016.
Hal : 1359-1366.

13
Wardana, E. A. 2012. Manajemen Pemberiaan Pakan Kambing Peranakan Ettawa di
Peternakan Bumiku Hijau. Skripsi. Fakultas Pertanian. Universitas Sebelas
Maret, Surakarta.

Widoyono. 2018. Penyakit Tropis, Epidemiologi, Penularan, Pencegahan dan


Pemberantasan. Penerbit Erlangga, Semarang.

14

Anda mungkin juga menyukai