Anda di halaman 1dari 12

Pengertian kemandirian

Menurut kamus besar edisi ketiga, Kemandirian didefinisikan sebagai hal atau
keadaan dapat berdiri sendiri tanpa bergantung kepada orang lain.(Dep.
Pendidikan Nasional, 2000) Dan pengertian lain dari kemandirian adalah
suatu sikap yang ditandai oleh adanya kepercayaan diri.
Kemandirian (independence) merupakan suatu kemampuan individu untuk
mengatur dirinya sendiri dan tidak tergantung kepada orang lain.(Lamman
dkk, 1988) Hal yang senada juga diungkapkan oleh Brawer (1973) bahwa
kemandirian merupakan perilaku yang terdapat pada seseorang yang timbul
karena dorongan dari dalam dirinya sendiri, bukan karena pengaruh orang
lain. Sedangkan Jhonson dan Medinnnus (1969) mengemukakan bahwa
independent merupakan perilaku yang aktivitasnya berdasarkan kemampuan
sendiri karena mendapatkan kepuasan atas perilaku eksploratif, mampu
memanipulasi lingkungan dan mampu berinteraksi dengan teman sebayanya.
Menurut Maslow (199hn4) mengmukakan bahwa kemandirian merupakan
salah satu dari tingkat kebutuhan manusia yang disebut sebagai kebutuhan
otonomi, dan tercantum dalam kebutuhan akan penghargaan. Ia juga
menambahkan bahwa seorang yang mencapai aktualisasi diri memiliki sifat-
sifat khusus pengaktualisasi yang salah satunya yaitu kebutuhan akan privasi
dan independensi, dimana orang yang mengaktualisasikan diri dalam
memenuhi kebutuhannya tidak membutuhkan orang lain.
Tingkat kemandirian seseorang dapat dibedakan antara orang yang
mempunyai tingkat kemandirian tinggi dan rendah. Sehubungan dengan itu
menurut Beller dalam Johnson dan Medinnus (1964) orang yang mempunyai
kemandirian rendah biasanya memiliki cirri khusus antara lain mencari
bantuan, mencari perhatian, mencari pengarahan, mencari dukungan pada
orang lain.
2.2.2 Ciri-Ciri Sikap Mandiri
Ciri-ciri sikap mandiri menurut Spencer dan Kass (1970) mengatakan bahwa
cirri-ciri sikap mandiri itu adalah:
a. Mampu mengambil inisiatif
b. Mampu mengatasi masalah
c. Penuh ketekunan
d. Memeperoleh kepuasan dari usahanya
e. Berusaha menjalankan sesuatu tanpa bantuan orang lain.
2.2.3 Aspek-Aspek kemandirian
Aspek-aspek kemandirian diantaranya:
1. Kebebasan
2. Penagmbilan keputusan
3. Kontrol diri
4. Ketegasan diri atau sikap asertif
5. Tanggung jawab (Lamman dkk, 1988)
2.2.4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi kemandirian
Ada beberapa yang mempengaruhi peerkembangan kemandirian berikut
pendapat para ahli tentang faktor-faktor tersebut antara lain:
a. Intelegensi
Anak dapat dikatakan mempunyai kecerdasan (intelegensi) yang baik jika ia
mampu menyelesaikan masalahnya sendiri.(Gunarsa dan Gunarsa, 2006)
b. Kebudayaan
Kebudayaan yang berbeda akan menyebabkan perbedaan norma dan nilai-
nilai yang berlaku di dalam lingkungan keluarga, sehingga tindak tanduk suku
tertentu akan berbeda dengan suku yang lainnya.(Sarwono, 1997)
c. Pola Asuh Orang Tua
Pola pengasuhan keluarga seperti sikap orang tua, kebiasaan keluarga, dan
pandangan keluarga akan mempengaruhi pembentukan kemandirian anak.
Keluraga yang membiasakan anak-anaknya diberi kesempatan untuk mandiri
sejak dini, akan menumbuhkan kemandirian pada anak-anaknya.
d. Tingkat pendidikan orang tua
Orang yang paling dekat atau yang paling sering berhubungan dengan anak
dalam keluarga pada umumnya adalah ibu, sehingga sikap ibu merupakan
faktor yang penting dalam perkembangan anak. Tingkat pendidikan ibu akan
mempengaruhi sikap dan tingkah lakunya dalam menghadapi anak-anaknya
artinya ibu yang berpendidikan akan bersikap lebih baik.
e. Usia
Kemandirian dapat dilihat sejak individu maih kecil, dan akan terus
berkembang sehingga akhirnya akan menjadi sifat-sifat yang relative menetap
pada masa remaja.(Smart dan Smart, 1978)
f. Jumlah anak dalam keluarga
Keluarga yang mempengaruhi kemungkinan paling besar untuk
memperlakukan anak secara demokrasi adalah keluarga kecil. Didorong
untuk memegang peran yang dipilihnya sendiri. Anak didorong untuk
berprestasi. (Hurlock)
Pentingnya Kemandirian
Kemandirian sudah mulai berkembang jauh sebelum mencapai tahap
dewasa. Hal ini bisa dilihat dari kebiasaan seorang anak kecil yang kerap
mengatakan ‘tidak’ terhadap berbagai hal yang diminta atau disuruh untuk
dilakukan oleh orang tua atau pengasuhnya. Dari contoh ini terlihat bahwa
dari sejak dini seorang individu selalu mencoba untuk terlepas dari orang lain
dan memiliki ‘kekuasaan’ atas dirinya sendiri. Kemandirian berkembang pada
tiap tahapan sesuai dengan usia dan tuntunan pada tiap tahapnya

Menurut Brewer kemandirian ditandai oleh adanya inisiatif, berusaha mengatasi


rintangan yang ada dalam lingkungannya, mencoba melakukan aktifitas menuju
kesempurnaan, memperoleh kepuasan dari pekerjaannya dan mengerjakan pekerjaan
rutin sendiri, sedangkan ketergantungan lawan kata dari kemandirian, selalu
berhubungan dengan orang lain, selalu berdekatan mengharapkan perhatian dan
menginginkan penghargaan

'Bunga Emas' Sukses Berkat


Kemandirian
Keputusan Li Na dan Zheng Jie mengundurkan diri dari pelatnas berbuah manis. Meski harus
mandiri, kedua "bunga emas" ini berhasil mencetak sukses.

Awal tahun ini, Li Na dan Zheng Jie menghadirkan prestasi gemilang di dunia tenis. Bukan
berupa trofi, memang. Namun dua petenis negeri Tirai Bambu ini mengukir sejarah.

Dua pemain tunggal putri ini sukses menembus semifinal Australia Terbuka. Kehadiran Li dan
Zheng di empat besar adalah kali pertama China menempatkan dua wakil di semifinal Grand
Slam.

Selain etos kerja keras serta skill yang mereka miliki, kemandirian menjadi salah satu kunci
sukses keduanya.
Keduanya dituntut mandiri usai memutuskan mengundurkan diri dari pelatnas di akhir tahun
2008. Itu berarti mereka harus mengurus segalanya sendirian, termasuk mencari pelatih
hingga menggunakan uang sendiri untuk mengikuti turnamen.

Li sangat menikmati "kebebasan" yang ia dapatkan. "Sekarang saya merasa sangat baik
karena tim sepenuhnya ada untuk saya," tukas Li seperti dilansir dari The Canadian Press.

"Mungkin karena saya seorang pemalas, sekarang bila saya tidak ingin latihan tinggal bilang
kepada mereka (tim pelatih): 'Hari ini kita libur'," seloroh petenis berusia 27 tahun itu.

"Sementara saat di pelatnas, saat saya berkata: 'Bisakah saya hari ini libur?', mungkin
mereka bakal berkata: 'tidak'," pungkasnya.

Ada empat petenis putri China yang keluar dari pelatnas di akhir 2008. Selain Li dan Zheng,
ada Shuai Peng dan Yan Zi.

Melatih Kemandirian anak
Mempunyai anak, berarti mempunyai kewajiban untuk melatih anak agar dapat
mandiri sesuai tingkatan umur dan kedewasaannya. Bagi orang tua, kita sering
terjebak pada over protektive, terutama bagi ibu yang bekerja di luar rumah, yang
dapat berakibat kurang baik bagi kemandirian anak.

Apa yang dapat dilatih dalam meningkatkan kemandirian anak?

a. Melatih anak berani berjalan sendiri tanpa ditemani, dan atau orang tua melihat dari
jauh.

Sesuai tingkatan umurnya, anak-anak menginginkan dapat mandiri, berkembang, dan


bersosialisasi bersama teman-temannya. Bila sekolah terdapat fasilitas antar jemput,
anak bisa dititipkan dan berlangganan antar jemput sekolah. Selain mengurangi
kemacetan, anak dapat bersosialisasi dengan teman-temannya.

Anak juga perlu diperkenalkan dengan rute bis/angkutan umum. Saya tidak pernah
menduga bahwa anak saya yang masih SD, pada suatu malam hari dengan penuh
antusias bercerita, bahwa dia berjalan-jalan naik bis, sampai ke Kalideres (rumah saya
di daerah Cipete, Jakarta Selatan). Saya mendengarkan kisah petualangannya dengan
berdebar-debar, namun tak berani memarahi. Saya cuma nanya…”Mas, membayarnya
pakai apa?” Dia jawab;…”Ibu, pak sopirnya baik, saya tak ditarik uang untuk
membayar…” Bagaimana saya tak kawatir, karena saat dia masih SD, saya tak
memberikan uang saku, karena SD nya dekat rumah, serta agar dia tak jajan
sembarangan.

Setiap kali saya dan anak-anak berlibur ke Bandung, maklum suami bekerja di
Bandung dan saya beserta anak-anak di Jakarta. Anak sulung saya tak bisa tinggal
diam, dan selalu ingin mengamati, padahal rasanya saya sudah pengin istirahat di
kereta api Parahyangan. Akhirnya oleh suami, anak kami dilatih bagaimana cara
berjalan dari gerbong ke gerbong, apa yang harus diperhatikan, agar kaki tidak
kejepit. Pada saat kereta api mau masuk setasiun Gambir, anak saya membawa sehelai
kertas, isinya adalah hasil wawancara dengan penumpang selama perjalanan
Bandung-Jakarta, berapa jumlah penumpang, usianya, pekerjaannya dll.

b. Membiasakan anak mempunyai catatan, atau hapal alamat dan nomor telepon yang
mudah dihubungi

Sebaiknya anak dilatih mengingat nomor telepon dan alamat rumah, serta nama
orangtuanya (nama ayah ibu), sehingga jika terpisah dapat segera meminta
pertolongan. Ada kejadian yang setiap kali membuat saya tersenyum. Saat anak-anak
masih kecil, saya melatihnya untuk menghapal nama lengkap ayah dan ibu, alamat
dan nomor telepon rumah. Kemudian anak diajak ke pasar Swalayan, dan dipesan,
nanti ketemu di lokasi yang sudah disepakati. Suami mengawasi dari kejauhan sambil
membaca, dan saya berbelanja kebutuhan bulanan. Sepuluh menit kemudian,
terdengar pengumuman, bahwa bapak dan ibu (disebutkan namanya) ditunggu
putranya di counter lantai dasar. Saya langsung meninggalkan belanjaan yang belum
selesai, demikian juga suami. Apa yang terjadi? Dengan tenangnya anak saya
berkata…”Saya sudah mempraktekkan ajaran bapak ibu. Nggak ada yang salah kan?”

c. Melatih anak mengenal lingkungan tempat tinggal

Sebaiknya anak dilatih untuk mengenal lingkungan terdekat dimana kita tinggal, serta
siapa yang dapat dihubungi, selain si Mbak yang sudah momong sejak kecil. Karena
tinggal di kompleks, kami berasa seperti saudara, jadi di rumah ditempel catatan siapa
saja yang perlu dihubungi jika terjadi keadaan darurat. Dengan tetangga dekat, kita
meninggalkan catatan nomor telepon kantor, hand phone dan memberi tahu kalau
harus tugas keluar kota.

Jika berada di luar rumah, anak diajari, agar selalu kembali kearah Blok M, kemudian
bisa naik bajay yang dapat dibayar ke rumah. Jika bingung, jangan tanya pada
sembarang orang, tetapi tanya pada petugas: seperti polisi, petugas DLLAJR, Satpam
dan lain-lain.

d. Melatih anak agar tak mudah mempercayai orang yang baru dikenal.

Bukan hal baru, bahwa kadang-kadang ada orang yang mengajak anak hanya karena
ingin mengambil anting emas yang menempel ditelinga anak. Saat anak bungsu masih
kecil, saya tidak membiasakan anak memakai anting, karena walaupun emas imitasi,
si penculik ada kemungkinan tak bisa membedakan. Namun ada risikonya, anak gadis
saya sampai saat ini lebih nyaman tak memakai anting.

Ada pengalaman menarik yang disampaikan oleh guru SMP, beliau menyarankan
agar anak-anak sebaiknya jajan di kantin sekolah dan jangan keluar dari lingkungan
sekolah walaupun jam istirahat. Kalau ada kakak kelas, terutama alumni (yang sudah
lulus SMP) mengajak makan dan mentraktir, sebaiknya ditolak, karena mereka ada
kemungkinan membuat anak kita berhutang budi, serta bisa mempengaruhi untuk hal-
hal yang kurang baik. Jika pulang sekolah, sebaiknya langsung pulang, jangan
nongkrong di warung-warung di luar sekolah, karena ada kemungkinan ditawari
makanan atau minuman yang telah mengandung obat.
e. Melatih anak mengerjakan Pekerjaan Rumah (PR)
Kadangkala orangtua tidak tega, dan berusaha mengontrol pembuatan PR yang
dibebankan pada anak. Almarhum Ibu Kepala SD, tempat anak saya sekolah,
menasehati agar kami membiarkan dan melatih anak secara mandiri membuat PR,
karena dikawatirkan anak tergantung pada ayah ibu (harus ditunggu saat membuat
PR), padahal ayah ibu bekerja. ” Bu, biarkan mereka mendapat hukuman kalau lalai
membuat PR, karena ini juga merupakan pendidikan bagi anak, agar mereka belajar
disiplin”, kata ibu Kepala Sekolah. Saya sangat berterima kasih atas anjuran Kepala
Sekolah ini, dan memang kadang-kadang anak harus mendapat hukuman akibat
kelalaiannya.

Ada pengalaman menarik, saat anak sulung saya masih di SMP. Suatu ketika saya
mendapat tugas keluar kota, dan si sulung disuruh membuat kerajinan tangan berupa
celana pendek. Apa yang terjadi? Taplak meja saya turun tahta, dipakai sebagai bahan
untuk membuat kerajinan tangan, dengan jahitan yang panjang-panjang, dan warna
benangnya kontras dengan warna kainnya. Saya cuma bisa mengelus dada, ternyata
saat ada pertemuan orang tua, ada orang tua yang cerita sambil ketawa (beliau juga
bekerja di luar rumah), bahwa beliau kehilangan sprei yang dipakai untuk membuat
kerajinan tangan.

PENTINGNYA KEMANDIRIAN BAGI ANAK


Banyak orangtua mengeluh anaknya kurang bisa mandiri. Mereka kerapkali mengatakan bahwa
anaknya kurang mampu menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepadanya tanpa bantuan orang
lain. Orangtua juga seringkali mengeluh karena rendahnya tanggung jawab anak.
Sebenarnya apa yang dimaksud dengan kemandirian dan tanggung jawab itu?

Kemandirian adalah kemampuan untuk melakukan kegiatan atau tugas sehari-hari sendiri atau dengan
sedikit bimbingan, sesuai dengan tahapan perkembangan dan kapasitasnya.
Sementara itu, tanggung jawab berkaitan dengan sejauh mana seseorang dapat dipercaya dan
diandalkan? Memegang tanggung jawab pada sesuatu atau seseorang berarti bahwa kita dapat
mempertanggungjawabkan tindakan kita.

Dalam konteks sosial dan budaya Indonesia, membina anak untuk bertanggung jawab tampaknya
bukan merupakan hal yang mudah untuk dilakukan. Hal ini sangat berbeda sekali dengan anak-anak di
beberapa negara maju, mereka justru dituntut kemandiriannya sejak kecil. Di Indonesia, cukup banyak
anak-anak dari keluarga dengan ekonomi menengah dan atas yang terbiasa hidup dilayani (satu anak
satu pengasuh) sejak kecil. Semua keperluan anak, mulai dari menyikat gigi, menata buku pelajaran,
makan dan sebagainya sudah dibereskan oleh pengasuh. Orangtua-pun merasa bahwa sudah
sepantasnya pengasuh melakukan tugas-tugas tersebut, karena memang mereka dibayar untuk
melayani anak-anaknya. Tanpa disadari oleh orangtua, tindakan tersebut justru merugikan dan
menghambat perkembangan anak-anak mereka sendiri. Perlakuan yang dilakukan orangtua tersebut
justru membatasi anak untuk tumbuh menjadi dewasa, mandiri, dan bertanggung jawab. Karenanya,
ketika orangtua mengharapkan anaknya mandiri dan bertanggung jawab, anak belum mempunyai
kesempatan atau pembinaan bagaimana caranya mereka harus bersikap mandiri dan bertangung
jawab.
Bagaimanapun sayangnya dan berkuasanya kita, satu hal yang tidak bisa kita jamin adalah kita tidak
mungkin bisa mendampingi anak-anak kita sepanjang hidupnya. Suatu saat kita harus rela melepaskan
anak pergi ‘mengepakkan sayap’ mereka dan terbang meraih dunianya sendiri. Suatu saat pula kita
harus rela pergi meninggalkan anak-anak kita di dunia ini. Karena itu, selagi kita masih bisa membina
anak-anak, kita perlu memastikan bahwa nilai-nilai yang kita tanamkan dan tumbuhkan akan cukup
untuk anak-anak kita sebagai modal dalam kehidupan mereka selanjutnya.

Kemandirian dan tanggung jawab pada diri kita bukanlah sesuatu yang ada begitu saja melainkan
didapat dari hasil belajar. Kemandirian dan tanggung jawab juga bukan hanya sekedar ciri kepribadian
yang melekat pada diri kita, namun kemandirian dan tanggung mempunyai makna yang lebih berarti
dari itu. Kemandirian dan tanggung jawab adalah perilaku yang menentukan bagaimana kita bereaksi
terhadap situasi yang kita hadapai setiap hari, yang semua itu memerlukan kemampuan kita dalam
membuat keputusan yang dilandasi moral. Karenanya, kemandirian merupakan sikap yang harus
dikembangkan sejak masa kanak-kanak agar kelak mereka bisa menjalani kehidupan tanpa
ketergantungan kepada orang lain. Tanggung jawab juga akan menentukan apakah orang lain akan
bisa (terus) mempercayai dan mengandalkan anak. Tanpa perlu kita sangkal, rasa kepercayaan ini
merupakan salah satu modal yang sangat penting bagi keberhasilan pekerjaan dan hidup anak kelak.

Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/1830707-pentingkah-kemandirian-bagi-
anak/#ixzz0bJkOSHvz

WIRAUSAHA MANDIRI

Berwirausaha menjadi pilihan hidup banyak orang akhir-akhir ini. Tanpa peduli usia,
tua muda semua bisa menjadi wirausaha yang sukses dan mandiri. Banyak wirausaha
yang meniti usaha di usia muda dan langsung meraih sukses. Ada juga yang
memulainya saat sudah pensiun atau berusia matang dan juga mampu mendapatkan
sukses besar. Ada lagi yang mengawalinya sebagai bisnis sampingan, kemudian
sejalan dengan meroketnya bisnisnya mereka menjalaninya secara penuh sebagai
wirausaha yang mandiri.

Ya, memang menjadi wirausaha memang menjanjikan banyak hal. Kekayaan dan
kebebasan adalah segelintir nikmat menjadi wirausaha. Di luar itu, banyak nikmat lain
yang bisa dicapai oleh wirausaha.

Berikut 10 kenikmatan menjadi wirausaha yang mandiri.

1. Kerja keras. Kerja keras itu nikmat. Seperti saat anda sehabis berolahraga
dan merasakan cucuran keringat membasahi badan, seperti itu kenikmatan
yang anda rasakan dengan menjadi wirausaha mandiri. Hasil yang anda dapat
merupakan buah dari keringat tangan sendiri.
2. Atur waktu. Waktu merupakan aset penting bagi wirausahawan. Oleh karena
itu, pengelolaan waktu yang baik sangat vital bagi wirausahawan. Sebagai
wirausaha, anda harus mampu secara mandiri mengatur waktu untuk
menjalankan jadwal-jadwal bisnis anda.  Keleluasaan mengatur waktu itu
bukan sekedar kebebasan menjalani hidup, tapi lebih dari itu merupakan
kemerdekaan anda sebagai wirausahawan.
3. Atur strategi. Seperti pemain catur yang menyiapkan bidak-bidaknya untuk
dimainkan, begitupun dengan pengusaha, mereka mesti atur strategi bisnis
untuk melakukan ini-itu agar bisnisnya bertambah menjulang. Rencana dan
eksekusi pun dijalankan. Sebagai pengatur strategi, anda bisa menikmati
bagaimana momen-momen menegangkan dan mengharukan saat ACTION-
ACTION yang anda lakukan mulai mendatangkan hasil.
4. Menikmati resiko. Resiko adalah tantangan yang anda nikmati sebagai
wirausaha. Laksana melewati bongkahan batu-batu besar dan menaklukkan
derasnya aliran sungai saat berarum jeram, anda tundukkan resiko terlempar
dari perahu karet, terbentur batu sungai atau bahkan terjun ke dalam sungai.
Bahaya dan resiko bisnis merupakan bagian menyenangkan dari nikmat
seorang wirausaha. Wirausaha sejati selalu suka tantangan dan menerobos
kebekuan inovasi bisnis demi memberikan yang terbaik pada masyarakat.
5. Belajar melayani. Pelayanan adalah salah satu kunci keberhasilan sebuah
usaha. Sebagai wirausaha, anda dituntut mampu melayani orang lain sebaik-
baiknya. Sebuah kenikmatan yang sangat membahagiakan saat anda melayani
konsumen anda dengan baik. Coba rasakan…
6. Belajar melihat dari sisi berbeda. Bila selama menjadi konsumen, yang
dilihat hanya soal berapa harga barang yang diinginkan dan apa manfaatnya.
Namun sebagai pengusaha mandiri, anda dituntut melihat melampaui hal itu.
Bukan sebatas melihat dari sisi pengusaha seperti menghitung sisi biaya atau
cost, namun juga tak bisa mengabaikan sisi konsumen seperti bagaimana
mereka memandang produk anda, seberapa baik jasa/produk anda mampu
melayani konsumen. Anda juga belajar bagaimana mengamati situasi bisnis
terkini.
7. Menginspirasi. Bagi saya, entrepreneur atau wirausaha selalu menginspirasi.
Kita bisa belajar dari kerja keras mereka, dari visi-visi mereka, dari ACTION
mereka.
Semangat wirausaha menghidupkan harapan bahwa hari esok lebih baik dari
hari ini. Bukan hanya bagi orang lain, menjadi wirausaha juga bisa
menginspirasi diri sendiri.
8. Berbagi. Menjadi wirausaha yang mandiri berarti anda lebih punya
kesempatan untuk berbagi dengan orang-orang yang tak seberuntung anda.
Penghasilan besar yang anda dapatkan merupakan titipan yang harus juga
diberikan pada orang-orang yang membutuhkan.
9. Ikut menyejahterakan orang lain. Menjadi wirausaha berarti membuka
lapangan kerja baru. Ikut membantu orang-orang agar ACTION bersama anda.
Ikut mengalirkan distribusi pendapatan ke banyak orang. Saya yakin anda
pasti bahagia melakukannya.
10. Penghasilan sesuai keinginan. Dengan memilih jalan wirausaha, artinya anda
sudah menetapkan diri untuk mendapatkan penghasilan sesuai keinginan. Tak
ada slip gaji, tapi penghasilan yang anda terima merupakan hasil dari kerja
keras dan nikmat Tuhan.
Kemandirian Sebagai Kebutuhan Psikologis
Pada Remaja
Filed under: pendidikan — 2 Komentar
24 Mei 2008
 
 
 
 
 
 
2 Votes

Setiap manusia dilahirkan dalam kondisi yang tidak berdaya, ia akan tergantung pada orang tua dan
orang-orang yang berada di lingkungannya hingga waktu tertentu. Seiring dengan berlalunya waktu
dan perkembangan selanjutnya, seorang anak perlahan-lahan akan melepaskan diri dari
ketergantungannya pada orangtua atau orang lain di sekitarnya dan belajar untuk mandiri. Hal ini
merupakan suatu proses alamiah yang dialami oleh semua makhluk hidup, tidak terkecuali manusia.
Mandiri atau sering juga disebut berdiri diatas kaki sendiri merupakan kemampuan seseorang untuk
tidak tergantung pada orang lain serta bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya. Kemandirian
dalam konteks individu tentu memiliki aspek yang lebih luas dari sekedar aspek fisik.
 
Selama masa remaja, tuntutan terhadap kemandirian ini sangat besar dan jika tidak direspon secara
tepat bisa saja menimbulkan dampak yang tidak menguntungkan bagi perkembangan psikologis sang
remaja di masa mendatang. Ditengah berbagai gejolak perubahan yang terjadi di masa kini, betapa
banyak remaja yang mengalami kekecewaan dan rasa frustrasi mendalam terhadap orangtua karena
tidak kunjung mendapatkan apa yang dinamakan kemandirian. Ruang konseling di website ini banyak
dipenuhi oleh kebingungan-kebingungan dan keluh kesah yang dialami remaja karena banyak sekali
aspek kehidupan mereka yang masih diatur oleh orangtua, meski banyak diantara mereka yang sudah
berusia lebih dari 17 tahun. Salah satu contohnya adalah dalam hal pemilihan jurusan/fakultas ketika
masuk sekolah/Perguruan Tinggi. Dalam hal ini masih banyak ditemui orangtua yang sangat ngotot
untuk memasukkan putra/putrinya ke jurusan yang mereka kehendaki meskipun anaknya sama sekali
tidak berminat untuk masuk ke jurusan tersebut. Akibatnya remaja tersebut tidak memiliki motivasi
belajar, berkehilangan gairah untuk sekolah dan tidak jarang justru berakhir dengan Drop Out dari
sekolah tersebut.
 
Mencermati kenyataan tersebut, peran orangtua sangatlah besar dalam proses pembentukan
kemandirian seorang.  Orangtua diharapkan dapat memberikan kesempatan pada anak agar dapat
mengembangkan kemampuan yang dimilikinya, belajar mengambil inisiatif, mengambil keputusan
mengenai apa yang ingin dilakukan dan belajar mempertanggungjawabkan segala perbuatannya.
Dengan  demikian anak akan dapat mengalami perubahan dari keadaan yang sepenuhnya tergantung
pada orang tua menjadi mandiri.
 
Kemandirian
 
Kemandirian, menurut Sutari Imam Barnadib (1982), meliputi “perilaku mampu berinisiatif, mampu
mengatasi hambatan/masalah, mempunyai rasa percaya diri dan dapat melakukan sesuatu sendiri tanpa
bantuan orang lain”. Pendapat tersebut juga diperkuat oleh Kartini dan Dali (1987) yang mengatakan
bahwa kemandirian adalah “hasrat untuk mengerjakan segala sesuatu bagi diri sendiri”. Secara singkat
dapat disimpulkan bahwa kemandirian mengandung pengertian:
Suatu keadaan dimana seseorang yang memiliki hasrat bersaing untuk maju demi
kebaikan dirinya,

Mampu mengambil keputusan dan inisiatif untuk mengatasi masalah yang dihadapi,
Memiliki kepercayaan diri dalam mengerjakan tugas-tugasnya, 

Bertanggungjawab tetrhadap apa yang dilakukannya

Robert Havighurst (1972) menambahkan bahwa kemandirian terdiri dari beberapa aspek, yaitu:

Emosi, aspek ini ditunjukan dengan kemampuan mengontrol emosi dan tidak
tergantungnya kebutuhan emosi dari orang tua.
Ekonomi, aspek ini ditunjukan dengan kemampuan mengatur ekonomi dan tidak
tergantungnya kebutuhan ekonomi pada orang tua.
Intelektual, aspek ini ditunjukan dengan kemampuan untuk mengatasi berbagai
masalah yang dihadapi.
Sosial, aspek ini ditunjukan dengan kemampuan untuk mengadakan interaksi
dengan orang lain dan tidak tergantung atau menunggu aksi dari orang lain.

Kemandirian merupakan suatu sikap individu yang diperoleh secara kumulatif selama perkembangan,
dimana individu akan terus belajar untuk bersikap mandiri dalam menghadapi berbagai situasi di
lingkungan, sehingga individu pada akhirnya akan mampu berpikir dan bertindak sendiri. Dengan
kemandiriannya seseorang dapat memilih jalan hidupnya untuk dapat berkembang dengan lebih
mantap.

Proses Perkembangan Kemandirian

Kemandirian, seperti halnya kondisi psikologis yang lain, dapat berkembang dengan baik jika
diberikan kesempatan untuk berkembang melalui latihan yang dilakukan secara terus-menerus dan
dilakukan sejak dini. Latihan tersebut dapat berupa pemberian tugas-tugas tanpa bantuan, dan tentu saja
tugas-tugas tersebut disesuaikan dengan usia dan kemampuan anak.

Mengingat kemandirian akan banyak memberikan dampak yang positif bagi perkembangan individu,
maka sebaiknya kemandirian diajarkan pada anak sedini mungkin sesuai kemampuannya. Seperti telah
diakui segala sesuatu yang dapat diusahakan sejakdini akan dapat dihayati dan akan semakin
berkembang menuju kesempurnaan. Latihan kemandirian yang diberikan kepada anak harus
disesuaikan dengan usia anak. Contoh: Untuk anak-anak usia 3 – 4 tahun, latihan kemandirian dapat
berupa membiarkan anak memasang kaos kaki dan sepatu sendiri, membereskan mainan setiap kali
selesai bermain, dll. Sementara untuk anak remaja berikan kebebasan misalnya dalam memilih jurusan
atau bidang studi yang diminatinya, atau memberikan kesempatan pada remaja untuk memutuskan
sendiri jam berapa ia harus sudah pulang ke rumah jika remaja tersebut keluar malam bersama
temannya (tentu saja orangtua perlu mendengarkan argumentasi yang disampaikan sang remaja
tersebut sehubungan dengan keputusannya). Dengan memberikan latihan-latihan tersebut (tentu saja
harus ada unsur pengawasan dari orangtua untuk memastikan bahwa latihan tersebut benar-benar
efektif), diharapkan dengan bertambahnya usia akan bertambah pula kemampuan anak untuk berfikir 
secara objektif, tidak mudah dipengaruhi, berani mengambil keputusan sendiri, tumbuh rasa percaya
diri, tidak tergantung kepada orang lain dan dengan demikian kemandirian akan berkembang dengan
baik.

Kemandirian Sebagai Kebutuhan Psikologis Remaja

Memperoleh kebebasan (mandiri) merupakan suatu tugas bagi remaja. Dengan kemandirian tersebut
berarti remaja harus belajar dan berlatih dalam membuat rencana, memilih alternatif, membuat
keputusan, bertindak sesuai dengan keputusannya sendiri serta bertanggung jawab atas segala sesuatu
yang dilakukannya. Dengan demikian remaja akan berangsur-angsur melepaskan diri dari
ketergantungan pada orangtua atau orang dewasa lainnya dalam banyak hal. Pendapat ini diperkuat
oleh pendapat para  ahli perkembangan yang menyatakan: “Berbeda dengan kemandirian pada masa
anak-anak yang lebih bersifat motorik, seperti berusaha makan sendiri, mandi dan berpakaian sendiri,
pada masa remaja kemandirian tersebut lebih bersifat psikologis, seperti membuat  keputusan sendiri
dan kebebasan berperilaku sesuai dengan keinginannya”.
Dalam pencarian identitas diri, remaja cenderung untuk melepaskan diri sendiri sedikit demi sedikit
dari ikatan psikis orangtuanya. Remaja mendambakan untuk diperlakukan dan dihargai sebagai orang
dewasa. Hal ini dikemukan Erikson(dalam Hurlock,1992) yang menamakan proses tersebut sebagai
“proses mencari identitas ego”, atau pencarian diri sendiri. Dalam proses ini remaja ingin mengetahui
peranan dan kedudukannya dalam lingkungan, disamping ingin tahu tentang dirinya sendiri.

Kemandirian seorang remaja diperkuat melalui proses sosialisasi yang terjadi antara remaja dan teman
sebaya. Hurlock (1991) mengatakan bahwa melalui hubungan dengan teman sebaya, remaja  belajar
berpikir secara mandiri, mengambil keputusan sendiri, menerima (bahkan dapat juga menolak)
pandangan dan nilai yang berasal dari keluarga dan mempelajari pola perilaku yang diterima di dalam
kelompoknya. Kelompok teman sebaya merupakan lingkungan sosial pertama dimana remaja belajar
untuk hidup bersama dengan orang lain yang bukan angota keluarganya. Ini dilakukan  remaja dengan
tujuan untuk mendapatkan pengakuan dan penerimaan kelompok teman sebayanya sehingga tercipta
rasa aman. Penerimaan dari kelompok teman sebaya ini merupakan hal yang sangat penting, karena
remaja membutuhkan adanya penerimaan dan keyakinan untuk dapat diterima oleh kelompoknya. 

Dalam mencapai keinginannya untuk mandiri sering kali remaja mengalami hambatan-hambatan yang
disebabkan oleh masih adanya kebutuhan untuk tetap tergantung pada orang lain. Dalam contoh yang
disebutkan diatas, remaja mengalami dilema yang sangat  besar antara mengikuti kehendak orangtua
atau mengikuti keinginannya sendiri. Jika ia mengikuti kehendak orangtua maka dari segi ekonomi
(biaya sekolah) remaja akan terjamin karena orangtua pasti akan membantu sepenuhnya, sebaliknya
jika ia tidak mengikuti kemauan orangtua bisa jadi orangtuanya tidak mau membiayai sekolahnya.
Situasi yang demikian ini sering dikenal sebagai keadaan yang ambivalensi dan dalam hal ini akan
menimbulkan konflik pada diri sendiri remaja. Konflik ini akan mempengaruhi remaja dalam usahanya
untuk mandiri, sehingga sering menimbulkan hambatan dalam penyesuaian diri terhadap lingkungan
sekitarnya. Bahkan dalam beberapa kasus tidak jarang remaja menjadi frustrasi dan memendam
kemarahan yang mendalam kepada orangtuanya atau orang lain di sekitarnya.Frustrasi dan kemarahan
tersebut seringkali diungkapkan dengan perilaku-perilaku yang tidak simpatik terhadap orangtua
maupun orang lain dan dapat membahayakan dirinya dan orang lain di sekitarnya. Hal ini tentu saja
akan sangat merugikan remaja tersebut karena akan menghambat tercapainya kedewasaan dan
kematangan kehidupan psikologisnya. Oleh karena itu, pemahaman orangtua terhadap kebutuhan
psikologis remaja untuk mandiri sangat diperlukan dalam upaya mendapatkan titik tengah penyelesaian
konflik-konflik yang dihadapi remaja.

Bagaimana Orangtua Menyikapi

Kemandirian pada anak berawal dari keluarga serta dipengaruhi oleh pola asuh orang tua. Di dalam
keluarga, orangtualah yang berperan dalam mengasuh, membimbing dan membantu mengarahkan anak
untuk menjadi mandiri. Mengingat masa anak-anak dan remaja merupakan masa yang penting dalam
proses perkembangan kemandirian, maka pemahaman dan kesempatan yang diberikan orangtua kepada
anak-anaknya dalam meningkatkan kemandirian amatlah krusial. Meski dunia pendidikan (sekolah)
juga turut berperan dalam memberikan kesempatan kepada anak untuk mandiri, keluarga tetap
merupakan pilar utama dan pertama dalam membentuk anak untuk mandiri.

Bagaimana orangtua harus bertindak dalam menyikapi tuntutan kemandirian seorang remaja, berikut
ini terdapat beberapa saran yang layak Bapak/Ibu pertimbangkan:
 
1.    Komunikasi. Berkomunikasi dengan anak merupakan suatu cara yang paling efektif untuk
menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Tentu saja komunikasi disii harus bersifat dua
arah, artinya kedua belah pihak harus mau saling mendengarkan pandangan satu dengan yang
lain. Dengan melakukan komunikasi orangtua dapat mengetahui pandangan-pandangan dan
kerangka berpikir anaknya, dan sebaliknya anak-anak juga dapat mengetahui apa yang
diinginkan oleh orangtuanya. Kebingungan seperti yang disebutkan diatas mungkin tidak
perlu terjadi jika ada komunikasi antara remaja dengan orangtuanya. Komunikasi disini tidak
berarti harus dilakukan secara formal, tetapi bisa saja dilakukan sambil makan bersama atau
selagi berlibur sekeluarga.
2.    Kesempatan. Orangtua sebaiknya memberikan kesempatan kepada anak remajanya untuk
membuktikan atau melaksanakan keputusan yang telah diambilnya. Biarkan remaja tersebut
mengusahakan sendiri apa yang diperlukannya dan biarkan juga ia mengatasi sendiri berbagai
masalah yang muncul. Dalam hal ini orangtua hanya bertindak sebagai pengamat dan hanya
boleh melakukan intervensi jika tindakan sang remaja dianggap dapat membahayakan dirinya
dan orang lain.
3.    Tanggungjawab. Bertanggungjawab terhadap segala tindakan yang diperbuat merupakan
kunci untuk menuju kemandirian. Dengan berani bertanggungjawab (betapapun sakitnya)
remaja akan belajar untuk tidak mengulangi hal-hal yang memberikan dampak-dampak
negatif (tidak menyenangkan) bagi dirinya. Dalam banyak kasus masih banyak orangtua yang
tidak menyadari hal ini. Sebagai contoh: dalam kasus remaja yang ditahan oleh pihak berwajib
karena terlibat tawuran, tidak jarang dijumpai justru orangtua lah yang berjuang keras dengan
segala cara untuk membebaskan anaknya dari tahanan, sehingga anak tidak pernah memproleh
kesempatan untuk bertanggungjawab atas perilaku yang diperbuatnya (bahkan tidak sempat
melewati pemeriksaan intensif pihak berwajib). Pada kondisi demikian maka remaja tentu saja
tidak takut untuk berbuat salah, sebab ia tahu orangtuanya pasti akan menebus kesalahannya.
Kalau begini terus, kapan dong anak bisa bertanggungjawab atas segala perbuatannya dan
mampu mandiri? 
4.      Konsistensi. Konsistensi orangtua dalam menerapkan disiplin dan menanamkan nilai-nilai
kepada remaja dan sejak masa kanak-kanak di dalam keluarga akan menjadi panutan bagi
remaja untuk dapat mengembangkan kemandirian dan berpikir secara dewasa. Orangtua yang
konsisten akan memudahkan remaja dalam membuat rencana hidupnya sendiri dan dapat
memilih berbagai alternatif karena segala sesuatu sudah dapat diramalkan olehnya.
 
Mungkin masih terdapat banyak cara lain yang patut dipertimbangkan dalam meningkatkan
kemandirian sang remaja agar menjadi pribadi yang utuh dan dewasa. Satu hal yang perlu kita ingat
adalah: “Jika kita dapat mengasuh dan membimbing anak untuk bisa mandiri melalui keluarga,
mengapa kita tidak melakukan berbagai upaya untuk mewujudkannya mulai dari sekarang”. Negara ini
sudah penuh dengan berbagai ketergantungan pada pihak lain, maka jangan lagi kita membangun
generasi baru yang juga penuh dengan ketergantungan dan menjadi beban keluarga