Anda di halaman 1dari 24

KEPERAWATAN GERONTIK

“GANGGUAN MOBILISASI”

Disusun Oleh ;
Kelompok 7

1. Chairunas Amnusy ( 183110167 )


2. Indra Yaldi Wijaya ( 183110177 )
3. Nadya Maharani ( 183110184 )
4. Rizka Nadhira ( 183110192 )
5. Yulia ( 183110200 )

DOSEN PEMBIMBING :
Ns. Lola Felnanda Amri, M.Kep

POLTEKKES KEMENKES RI PADANG


D.III KEPERAWATAN PADANG
TAHUN AJARAN
2020 / 2021

1
KATA PENGANTAR

Dengan ini kami panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah memberinya
rahmat dan hidayahNya sehingga tugas makalah kami ini yang berjudul “ Asuhan Keperawatan
Pada klien Dengan Gangguan Mobilisasi “ bisa terselesaikan dengan tepat waktu.
Adapun maksud dan tujuan makalah ini untuk memenuhi salah satu syarat dalam
menempuh mata kuliah Keperawatan Gerontik tentang asuhan keperawatan pada klien dengan
gangguan mobilisasi disamping itu, juga untuk menambah wawasan kami dalam ilmu pengetahuan
terutama di bidang mobilisasi.
Penulis menyadari bahwa penyusun makalah ini masih jauh dari sempurna dan masih
banyak kekurangannya atau karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat
membangun demi kesempurnaan makalah kami selanjutnya semoga makalah ini dapat bermanfaat
bagi para pembaca.

Padang , 21 Agustus 2020

Penulis

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang……………………………………………………………………. 4
B. Rumusan Masalah………………………………………………………………… 4
C. Tujuan…………………………………………………………………………….. 5

BAB II TINJAUAN TEORI

1. Pengertian Mobilisasi…………………………………………………………….. 6
2. Pengertian Gangguan Mobilitas …………………………………………………. 6
3. Jenis Mobilitas …………………………………………………………….. ……. 7
4. Jenis Imobilitas ………………………………………………………………….. 7
5. Etiologi…………………………………………………………….. ……………. 8
6. Tanda dan Gejala Gangguan Mobilitas Fisik ………………………………… 8
7. Dampak Gangguan Mobilitas Fisik …………………………………………… 9
8. Manifestasi Klinis …………………………………………………………….. 12
9. Komplikasi……………………………………………………………………… 12
10. Penatalaksanaan Mobilitas Fisik Dengan Latihan Range Of Motion (ROM)… 13
11. Pemeriksaan Penunjang………………………………………………………… 14

PENGKAJIAN PADA LANSIA

A. Pengkajian……………………………………………………………………… 15
B. Diagnosis Keperawatan………………………………………………………… 19
C. Intervensi Keperawatan……………………………………………………….. 20

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan……………………………………………………………………. 23

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………….. 24

3
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Usia lanjut adalah sesuatu yang harus diterima sebagai suatu kenyataan dan
fenomena biologis. Kondisi kesehatan fisik dan mental pada orang lansia biasanya mulai
menurun. Beberapa perubahan fisik yang diasosiasikan dengan penuaan dapat terlihat jelas
oleh seseorang pengamat biasa meskipun mereka berdampak pada beberapa lansia lebih
dari yang lain.
Keperawatan gerontik adalah ilmu yang membahas fenomena biologis, psiko dan
sosial serta dampaknya terhadap pemenuhan kebutuhan dasar manusia dengan penekanan
pada upaya prevensi dan promosi kesehatan sehingga tercapai status kesehatan yang
optimal bagi lanjut usia. Aplikasi secara praktis Keperawatan gerontik adalah dengan
menggunakan proses keperawatan (pengkajian, diagnosa keperawatan,perencanaan,
implementasi dan evaluasi).
Kesadaran masyarakat terhadap hak-hak mereka dalam pelayanan kesehatan dan
tindakan yang manusiawi semakin meningkat, sehingga diharapkan adanya pemberi
pelayanan kesehatan dapat memberi pelayanan yang aman, efektif dan ramah terhadap
mereka.
Pengkajian keperawatan pada lansia adalah suatu tindakan peninjauan situasi lansia
untuk memperoleh data dengan maksud menegaskan situasi penyakit, diagnosis masalah,
penetapan kekuatan dan kebutuhan promosi kesehatan lansia. Data yang dikumpulkan
mencakup data subyektif dan data obyektif meliputi data bio, psiko, sosial, dan spiritual,
data yang berhubungan dengan masalah lansia serta data tentang faktor-faktor yang
mempengaruhi atau yang berhubungan dengan masalah kesehatan lansia seperti data
tentang keluarga dan lingkungan yang ada.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian Mobilisasi?
2. Apa pengertian Gangguan Mobilitas?
3. Apa saja Jenis Mobilitas ?

4
4. Apa saja Jenis Imobilitas ?
5. Bagaimana Etiologi gangguan mobilisasi?
6. Apa saja Tanda dan Gejala Gangguan Mobilitas Fisik?
7. Apa saja Dampak Gangguan Mobilitas Fisik ?
8. Apa saja Manifestasi Klinis gangguan mobilisasi ?
9. Apa saja Komplikasi dari gangguan mobilisasi?
10. Bagaimana Penatalaksanaan Mobilitas Fisik Dengan Latihan Range Of Motion (ROM)?
11. Bagaimana Pemeriksaan Penunjang dari gangguan mobilisasi?
12. Bagaimana pengkajian pada lansia dengan gangguan mobilisasi?

C. Tujuan
1. untuk mengertahui pengertian Mobilisasi
2. untuk mengertahui pengertian Gangguan Mobilitas
3. untuk mengertahui Jenis Mobilitas
4. untuk mengertahui Jenis Imobilitas
5. untuk mengertahui Etiologi gangguan mobilisasi
6. untuk mengertahui Tanda dan Gejala Gangguan Mobilitas Fisik
7. untuk mengertahui Dampak Gangguan Mobilitas Fisik
8. untuk mengertahui Manifestasi Klinis gangguan mobilisasi
9. untuk mengertahui Komplikasi dari gangguan mobilisasi
10. untuk mengertahui Penatalaksanaan Mobilitas Fisik Dengan Latihan Range Of Motion
(ROM)
11. untuk mengertahui Pemeriksaan Penunjang dari gangguan mobilisasi
12. untuk mengertahui pengkajian pada lansia dengan gangguan mobilisasi

5
BAB II

TINJAUAN TEORITIS

1. Pengertian Mobilisasi
Mobilitas atau mobilisasi merupakan kemampuan individu untuk bergerak secara
mudah, bebas dan teratur untuk mencapai suatu tujuan, yaitu untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya baik secara mandiri maupun dengan bantuan orang lain dan hanya dengan
bantuan alat (Widuri, 2010). Mobilitas adalah proses yang kompleks yang membutuhkan
adanya koordinasi antara sistem muskuloskeletal dan sistem saraf (P. Potter, 2010)
Mobilisasi adalah suatu kondisi dimana tubuh dapat melakukan kegiatan dengan
bebas (Kozier, 2010). Jadi mobilitas atau mobilisasi adalah kemampuan individu untuk
bergerak secara bebas, mudah, dan teratur dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan
aktivitas guna mempertahankan kesehatannya untuk dapat melakukan aktivitas sehari-hari
secara mandiri.

2. Pengertian Gangguan Mobilitas


Gangguan Mobilitas atau Imobilitas merupakan keadaan di mana seseorang tidak
dapat bergerak secara bebas karena kondisi yang mengganggu pergerakan (aktivitas),
misalnya trauma tulang belakang, cedera otak berat disertai fraktur pada ekstremitas, dan
sebagainya (Widuri, 2010).
Imobilitas atau gangguan mobilitas adalah keterbatasan fisik tubuh atau satu atau
lebih ekstremitas secara mandiri dan terarah (Nurarif .A.H. dan Kusuma. Gangguan
mobilitas fisik (immobilisasi) didefinisikan oleh North American Nursing Diagnosis
Association (NANDA) sebagai suatu kedaaan dimana individu yang mengalami atau
beresiko mengalami keterbatasan gerakan fisik.
Individu yang mengalami atau beresiko mengalami keterbatasan gerakan fisik
antara lain : lansia, individu dengan penyakit yang mengalami penurunan kesadaran lebih
dari 3 hari atau lebih, individu yang kehilangan fungsi anatomic akibat perubahan fisiologik
(kehilangan fungsi motorik, klien dengan stroke, klien penggunaa kursi roda), penggunaan
alat eksternal (seperti gips atau traksi), dan pembatasan gerakan volunter, atau gangguan
fungsi motorik dan rangka (Kozier, Erb, & Snyder, 2010).

6
3. Jenis Mobilitas
a. Mobilitas penuh merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak secara penuh dan
bebas sehingga dapat melakukan interaksi sosial dan menjalankan peran sehari-hari.
Mobilitas penuh ini merupakan fungsi saraf motorik volunter dan sensorik untuk dapat
mengontrol seluruh area tubuh seseorang.
b. Mobilitas sebagian merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak dengan batasan
jelas dan tidak mampu bergerak secara bebas karena dipengaruhi oleh gangguan saraf
motorik dan sensorik pada area tubuhnya. Mobilitas sebagian ini dibagi menjadi dua
jenis, yaitu :
a) Mobilitas sebagian temporer merupakan kemampun individu untuk bergerak dengan
batasan yang sifatnya sementara. Hal tersebut dapat disebabkan oleh trauma
reversibel pada sistem muskuloskeletal, contohnya adalah adanya dislokasi sendi
dan tulang.
b) Mobilitas sebagian permanen merupakan kemampuan individu untuk bergerak
dengan batasan yang sifatnya menetap. Hal tersebut disebabkan oleh rusaknya
sistem saraf yang reversibel, contohnya terjadi hemiplegia karena stroke, parapelgia
karena cedera tulang belakang, poliomielitis karena terganggunya sistem saraf
motorik dan sensorik (Widuri, 2010).

4. Jenis Imobilitas
a. Imobilitas fisik, merupakan pembatasan untuk bergerak secara fisik dengan tujuan
mencegah terjadinya gangguan komplikasi pergerakan, seperti pada pasien dengan
hemiplegia yang tidak mampu mempertahankan tekanan di daerah paralisis sehingga
tidak dapat mengubah posisi tubuhnya untuk mengurangi tekanan.
b. Imobilitas intelektual, merupakan keadaan ketika seseorang mengalami keterbatasan
daya pikir, seperti pada pasien yang mengalami kerusakan otak akibat suatu penyakit.
c. Imobilitas emosional, keadan ketika seseorang mengalami pembatasan secara
emosional karena adanya perubahan secara tiba-tiba dalam menyesuaikan diri. Sebagai
contoh, keadaan stres berat dapat disebabkan karena bedah amputasi ketika seseorang
mengalami kehilangan bagian anggota tubuh atau kehilangan sesuatu yang paling
dicintai.

7
d. Imobilitas sosial, keadaan individu yang mengalami hambatan dalam melakukan
interaksi sosial karena keadaan penyakit sehingga dapat memengaruhi perannya dalam
kehidupan social (Widuri, 2010).

5. Etiologi
Faktor penyebab terjadinya gangguan mobilitas fisik yaitu :
a. Penurunan kendali otot
b. Penurunan kekuatan otot
c. Kekakuan sendi
d. Kontraktur
e. Gangguan muskuloskletal
f. Gangguan neuromuskular
g. Keengganan melakukan pergerakan (Tim Pokja DPP PPNI, 2017)

6. Tanda dan Gejala Gangguan Mobilitas Fisik


Adapun tanda gejala pada gangguan mobilitas fisik yaitu :
a. Gejala dan Tanda Mayor
a) Subjektif
Mengeluh sulit menggerakkan ektremitas
b) Objektif
- Kekuatan otot menurun
- Rentang gerak (ROM) menurun.
b. Gejala dan Tanda Minor
a) Subjektif
- Nyeri saat bergerak
- Enggan melakukan pergerakan
- Merasa cemas saat bergerak
b) Objektif
- Sendi kaku
- Gerakan tidak terkoordinasi
- Gerak terbatas

8
- Fisik lemah (Tim Pokja DPP PPNI, 2017).

7. Dampak Gangguan Mobilitas Fisik


Imobilitas dalam tubuh dapat memengaruhi sistem tubuh, seperti perubahan pada
metabolisme tubuh, ketidakseimbangan cairan dan elektrolit, gangguan dalam kebutuhan
nutrisi, gangguan fungsi gastrointestinal, perubahan sistem pernafasan, perubahan
kardiovaskular, perubahan sistem muskuloskeletal, perubahan kulit, perubahan eliminasi
(buang air besar dan kecil), dan perubahan perilaku (Widuri, 2010).

a. Perubahan Metabolisme
Secara umum imobilitas dapat mengganggu metabolisme secara normal, mengingat
imobilitas dapat menyebabkan turunnya kecepatan metabolisme dalam tubuh. Hal tersebut
dapat dijumpai pada menurunnya basal metabolism rate ( BMR ) yang menyebabkan
berkurangnya energi untuk perbaikan sel-sel tubuh, sehingga dapat memengaruhi gangguan
oksigenasi sel. Perubahan metabolisme imobilitas dapat mengakibatkan proses anabolisme
menurun dan katabolisme meningkat. Keadaan ini dapat berisiko meningkatkan gangguan
metabolisme. Proses imobilitas dapat juga menyebabkan penurunan ekskresi urine dan
pengingkatan

b. Ketidakseimbangan Cairan dan Elektrolit


Terjadinya ketidakseimbangan cairan dan elektrolit sebagai dampak dari imobilitas
akan mengakibatkan persediaan protein menurun dan konsentrasi protein serum berkurang
sehingga dapat mengganggu kebutuhan cairan tubuh. Di samping itu, berkurangnya
perpindahan cairan dari intravaskular ke interstisial dapat menyebabkan edema sehingga
terjadi ketidakseimbangan cairan dan elektrolit. Imobilitas juga dapat menyebabkan
demineralisasi tulang akibat menurunnya aktivitas otot, sedangkan meningkatnya
demineralisasi tulang dapat mengakibatkan reabsorbsi kalium.

c. Gangguan Pengubahan Zat Gizi


Terjadinya gangguan zat gizi disebabkan oleh menurunnya pemasukan protein dan
kalori dapat mengakibatkan pengubahan zat-zat makanan pada tingkat sel menurun, di

9
mana sel tidak lagi menerima glukosa, asam amino, lemak, dan oksigen dalam jumlah yang
cukup untuk melaksanakan aktivitas metabolisme.

d. Gangguan Fungsi Gastrointestinal


Imobilitas dapat menyebabkan gangguan fungsi gastrointestinal. Hal ini disebabkan
karena imobilitas dapat menurunkan hasil makanan yang dicerna, sehingga penurunan
jumlah masukan yang cukup dapat menyebabkan keluhan, seperti perut kembung, mual,
dan nyeri lambung yang dapat menyebabkan gangguan proses eliminasi.

e. Perubahan Sistem Pernapasan


Imobilitas menyebabkan terjadinya perubahan sistem pernapasan. Akibat imobilitas,
kadar haemoglobin menurun, ekspansi paru menurun, dan terjadinya lemah otot yang dapat
menyebabkan proses metabolisme terganggu. Terjadinya nitrogen. Hal tersebut dapat
ditemukan pada pasien yang mengalami imobilitas pada hari kelima dan keenam. Beberapa
dampak perubahan metabolisme, di antaranya adalah pengurangan jumlah metablisme,
atropi kelenjar dan katabolisme protein, ketidakseimbangan cairan dan elektrolit,
deminetralisasi tulang, gangguan dalam mengubah zat gizi, dan gangguan gastrointestinal.
penurunan kadar haemoglobin dapat menyebabkan penurunan aliran oksigen dari
alveoli ke jaringan, sehingga mengakibatkan anemia. Penurunan ekspansi paru dapat terjadi
karena tekanan yang meningkat oleh permukaan paru.

f. Perubahan Kardiovaskular
Perubahan sistem kardiovaskular akibat imobilitas antara lain dapat berapa
hipotensi ortostatik, meningkatnya kerja jantung, dan terjadinya pembentukan trombus.
Terjadinya hipotensi ortostatik dapat disebabkan oleh menurunnya kemampuan saraf
otonom. Pada posisi yang tetap dan lama, refleks neurovaskular akan menurun dan
menyebabkan vasokontrriksi, kemudian darah terkumpul pada vena bagian bawah sehingga
aliran darah ke sistem sirkulasi pusat terhambat.
Meningkatnya kerja jantung dapat disebabkan karena imobilitas dengan posisi
horizontal. Dalam keadaan normal, darah yang terkumpul pada ekstermitas bawah bergerak
dan meningkatkan aliran vena kembali ke jantung dan akhirnya jantung akan meningkatkan

10
kerjanya. Terjadinya trombus juga disebabkan oleh vena statsi yang merupakan hasil
penurunan kontrasi muskular sehingga meningkatkan arus balik vena.

g. Perubahan Sistem Muskuloskeletal


Perubahan yang terjadi dalam sistem muskuloskeletal sebagai dampak dari
imobilitas adalah sebagai berkut:
1. Gangguan Muskular
Menurunnya massa otot sebagai dampak imobilitas dapat menyebabkan turunya kekuatan
otot secara langsung. Menurunnya fungsi kapasitas otot ditandai dengan menurunnya
stabilitas. Kondisi berkurangnya massa otot dapat menyebabkan atropi pada otot. Sebagai
contoh, otot betis seseorang yang telah dirawat lebih dari enam minggu ukurannya akan
lebih kecil selain menunjukkan tanda lemah atau lesu.
2. Gangguan Skeletal
Adanya imobilitas juga dapat menyebabkan gangguan skletal, misalnya akan mudah
terjadinya kontraktur sendi dan osteoporosis. Kontraktur merupakan kondisi yang abnormal
dengan kriteria adanya fleksi dan fiksasi yang disebabkan atropi dan memendeknya otot.
Terjadinya kontraktur dapat menyebabkan sendi dalam kedudukan yang tidak berfungsi.

h. Perubahan Sistem Integumen


Perubahan sistem integumen yang terjadi berupa penurunan elastisitas kulit karena
menurunannya sirkulasi darah akibat imobilitas dan terjadinya iskemia serta nekrosis
jaringan superfisial dengan adanya luka dekubitus sebagai akibat tekanan kulit yang kuat
dan sirkulasi yang menurun ke jaringan.

i. Perubahan Eliminasi
Perubahan dalam eliminasi misalnya penurunan jumlah urine yang mungkin
disebabkan oleh kurangnya asupan dan penurunan curah jantung sehingga aliran darah
renal dan urine berkurang.

11
j. Perubahan Perilaku
Perubahan perilaku sebagai akibat imobilitas, antara lain lain timbulnya rasa
bermusuhan, bingung, cemas, emosional tinggi, depresi, perubahan siklus tidur dan
menurunnya koping mekanisme. Terjadinya perubahan perilaku tersebut merupakan dampk
imobilitas karena selama proses imobilitas seseorang akan mengalami perubahan peran,
konsep diri, kecemasan, dan lain-lain (Widuri, 2010).

8. Manifestasi Klinis
a. Respon fisiologik dari perubahan mobilisasi, adalah perubahan pada:
1) Muskuloskeletal seperti kehilangan daya tahan, penurunan massa otot, atropi dan
abnormalnya sendi (kontraktur) dan gangguan metabolisme kalsium.
2) Kardiovaskuler seperti hipotensi ortostatik, peningkatan beban kerja jantung, dan
pembentukan thrombus.
3) Pernafasan seperti atelektasis dan pneumonia hipostatik, dispnea setelah
beraktifitas.
4) Metabolisme dan nutrisi antara lain laju metabolic; metabolisme karbohidrat, lemak
dan protein; ketidakseimbangan cairan dan elektrolit; ketidakseimbangan kalsium;
dan gangguan pencernaan (seperti konstipasi).
5) Eliminasi urin seperti stasis urin meningkatkan risiko infeksi saluran perkemihan
dan batu ginjal.
6) Integument seperti ulkus dekubitus adalah akibat iskhemia dan anoksia jaringan.
7) Neurosensori: sensori deprivation (Asmadi, 2008).

9. Komplikasi
Pada stroke non hemoragik dengan gangguan mobilitas fisik jika tidak ditangani
dapat menyebabkan masalah, diantaranya:
a. Pembekuan darah
Mudah terbentuk pada kaki yang lumpuh menyebabkan penimbunan cairan,
pembengkaan selain itu juga menyebabkan embolisme paru yaitu sebuah bekuan yang
terbentuk dalam satu arteri yang mengalir ke paru.
b. Dekubitus

12
Bagian yang biasa mengalami memar adalah pinggul, pantat, sendi kaki dan tumit
bila memar ini tidak dirawat akan menjadi infeksi.
c. Pneumonia
Pasien stroke non hemoragik tidak bisa batuk dan menelan dengan sempurna, hal ini
menyebabkan cairan berkumpul di paru-paru dan selanjutnya menimbulkan pneumonia.
d. Atrofi dan kekakuan sendi
Hal ini disebabkan karena kurang gerak dan mobilisasi Komplikasi lainnya yaitu:
a) Disritmia
b) Peningkatan tekanan intra cranial
c) Kontraktur
d) Gagal nafas
e) Kematian (saferi wijaya, 2013).

10. Penatalaksanaan Mobilitas Fisik Dengan Latihan Range Of Motion (ROM)


Range of motion atau ROM merupakan latihan gerakan sendi yang memungkinkan
terjadinya kontraksi dan pergerakan otot, dimana klien menggerakan masing-masing
persendiannya sesuai gerakan normal baik secara aktif ataupun pasif. Latihan range of
motion (ROM) adalah latihan yang dilakukan untuk mempertahankan atau memperbaiki
tingkat kesempurnaan kemampuan menggerakan persendian secara normal dan lengkap
untuk meningkatkan massa otot dan tonus otot (Potter & Perry, 2006).
Latihan ROM pasif adalah latihan ROM yang di lakukan pasien dengan bantuan
perawat pada setiap-setiap gerakan. Indikasi latihan pasif adalah pasien semikoma dan tidak
sadar, pasien dengan keterbatasan mobilisasi tidak mampu melakukan beberapa atau semua
latihan rentang gerak dengan mandiri, pasien tirah baring total atau pasien dengan paralisis
ekstermitas total.
Latihan ROM aktif adalah Perawat memberikan motivasi, dan membimbing klien
dalam melaksanakan pergerakan sendi secara mandiri sesuai dengan rentang gerak sendi
normal. Hal ini untuk melatih kelenturan dan kekuatan otot serta sendi dengan cara
menggunakan otot-ototnya secara aktif . Sendi yang digerakkan pada ROM aktif adalah

13
sendi di seluruh tubuh dari kepala sampai ujung jari kaki oleh klien sendiri secara aktif
(Suratun, 2008).

11. Pemeriksaan Penunjang


a. Sinar –X tulang menggambarkan kepadatan tulang, tekstur, dan perubahan
hubungan tulang.
b. CT scan (Computed Tomography)
c. MRI (Magnetik Resonance Imaging) adalah tehnik pencitraan khusus, noninvasive,
yang menggunakan medan magnet, gelombang radio, dan computer untuk
memperlihatkan abnormalitas.
d. Pemeriksaan Laboratorium:
Hb ↓pada trauma, Ca↓ pada imobilisasi lama, Alkali Fospat ↑, kreatinin dan SGOT
↑ pada kerusakan otot

14
ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MOBILISASI

I. Proses Keperawatan

A. Pengkajian
1. Pemeriksaan Fisik
a. Mengkaji skelet tubuh
Adanya deformitas dan kesejajaran. Pertumbuhan tulang yang abnormal akibat
tumor tulang.Pemendekan ekstremitas, amputasi dan bagian tubuh yang tidak
dalam kesejajaran anatomis.Angulasi abnormal pada tulang panjang atau
gerakan pada titik selain sendi biasanya menandakan adanya patah tulang.
b. Mengkaji tulang belakang
1) Skoliosis (deviasi kurvatura lateral tulang belakang)
2) Kifosis (kenaikan kurvatura tulang belakang bagian dada)
3) Lordosis (membebek, kurvatura tulang belakang bagian pinggang
berlebihan)
c. Mengkaji system persendian
Luas gerakan dievaluasi baik aktif maupun pasif, deformitas, stabilitas, dan
adanya benjolan, adanya kekakuan sendi
d. Mengkaji system otot
Kemampuan mengubah posisi, kekuatan otot dan koordinasi, dan ukuran
masing-masing otot. Lingkar ekstremitas untuk mementau adanya edema atau
atropfi, nyeri otot.
e. Mengkaji cara berjalan
Adanya gerakan yang tidak teratur dianggap tidak normal. Bila salah satu
ekstremitas lebihpendek dari yang lain. Berbagai kondisi neurologist yang
berhubungan dengan cara berjalan abnormal (mis.cara berjalan spastic
hemiparesis - stroke, cara berjalan selangkah-selangkah – penyakit lower motor
neuron, cara berjalan bergetar – penyakit Parkinson).
f. Mengkaji kulit dan sirkulasi perifer
Palpasi kulit dapat menunjukkan adanya suhu yang lebih panas atau lebih dingin
dari lainnya dan adanya edema. Sirkulasi perifer dievaluasi dengan mengkaji

15
denyut perifer, warna, suhu dan waktu pengisian kapiler.
g. Mengkaji fungsional klien
 Kategori tingkat kemampuan aktivitas
Rentang gerak (range of motion-ROM)

Tipe gerakan Derajat rentang


normal

Leher, spinal, servikal

Fleksi : menggerakkan dagu menempel ke dada 45

Ekstensi : mengembalikan kepala ke posisi tegak 45

Hiperekstensi : menekuk kepala ke belakang sejau mungkin 10

Fleksi lateral : memiringkan kepala sejau mungkin ke arah 40-45


setiap bahu

Rotasi : memutar kepala sejau mungkin dalam gerakan 180


sirkuler

Bahu

Fleksi : menaikkan lengan dari posisi di samping tubuh ke 180


depan ke posisi di atas kepala

Ekstensi : mengembalikan lengan ke posisi semula 180

Abduksi : menaikkan lengan ke posisi samping di atas 180


kepala dengan telapak tangan jauh dari kepala

Adduksi : menurunkan lengan ke samping dan menyilang 320


tubu sejau mungkin

Rotasi dalam : dengan siku fleksi, memutar bahu dengan 90


menggerakkan lengan sampai ibu jari menghadap ke dalam
dan ke belakang.

Rotasi luar : dengan siku fleksi, menggerakkan lengan 90


sampai ibu jari ke atas dan samping kepala

Lengan bawa

16
Supinasi : memutar lengan bawa dan telapak tangan seingga 70-90
telapak tangan menghadap ke atas

Pronasi : memutar lengan bawah sehingga telapak tangan 70-90


menghadap ke bawah

Pergelangan tangan

Fleksi : menggerakkan telapak tangan ke sisi dalam lengan 80-90


bawah

Ekstensi : menggerakkan jari-jari sehingga jari-jari, tangan, 80-90


dan lengan bawa berada pada arah yg sama

Abduksi (fleksi radial) : menekuk pergelangan tangan miring Sampai 30


(medial) ke ibu jari

Adduksi (fleksi luar) : menekuk pergelangan tangan miring 30-50


(medial) ke ibu jari

Jari-jari tangan

Fleksi : membuat pergelangan 90

Ekstensi : meluruskan jari tangan 90

Hiperkstensi : menggerakkan jari-jari tangan ke belakang 30-60


sejau mungkin

Ibu jari

Fleksi : menggerakkan ibu jari menyilang permukaan 90


telapak tangan

Ekstensi : menggerakkan ibu jari lurus menjau dari tangan 90

Pinggul

Fleksi : menggerakkan tungkai ke depan dan atas 90-120

Ekstensi : menggerakkan kembali ke samping tungkai yang 90-12 0


lain

Lutut

Fleksi : menggerakkan tumit ke arah belakang paha 120-130

17
Ekstensi : mengembalikan tungkai ke lantai 120-130

Mata kaki

Dorsofleksi : menggerakkan sehingga jari-jari kaki menekuk 20-30


ke atas

Plantarfleksi : menggerakkan kaki sehingga jari-jari kaki 45-50


menekuk ke bawah

Skala ADL (Acthyfiti Dayli Living)

1 : Pasien mampu berdiri

2 : Pasien memerlukan bantuan/ peralatan minimal

3 :Pasien memerlukan bantuan sedang/ dengan pengawasan

4 : Pasien memerlukan bantuan khusus dan memerlukan alat

5 : Tergantung secara total pada pemberian asuhan

Kekuatan Otot/ Tonus Otot


1 : Otot sama sekali tidak bekerja

2 (10%) : Tampak berkontraksi/ ada sakit gerakan tahanan sewaktu jatuh

3 (25%) : Mampu menahan tegak tapi dengan sentuhan agak jauh

4 (50%) : Dapat menggerakkan sendi dengan aktif untuk menahan berat

5 (75%) : Dapat menggerakkan sendi dengan aktif untuk menahan berat dan
melawan tekanan secara stimulant.

B. Diagnosa Keperawatan

18
1) Hambatan mobiitas fisik berhubungan dengan intoleransi aktivitas ditandai dengan
keterbatasan kemampuan melakukan keterampilan motorik kasar dan keterbatasan
rentang gerak sendi
2) Defisit perawatan diri : mandi berhubungan dengan gangguan neuromuskular
ditandai dengan ketidakmampuan untuk meakukan pembersihan tubuh.
3) Risiko kerusakan integritas kulit dengan faktor risiko tonjolan tulang ditandai
dengan imobilisasi fisik.

19
C. Intervensi
No Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Rasional

1 Hambatan Mobilitas Fisik Setelah dilakukan asuhan NIC Label Exercise Therapy:
berhubungan dengan keperawatan ...x24jam Joint Mobility o Menentukan
intoleransi aktivitas diharapkan pasien dapat batas gerakan
ditandai dengan tetap mempertahankan yang akan
keterbatasan kemampuan pergerakannya, dengan o Kaji keterbatasan gerak sendi dilakukan
melakukan keterampilan criteria: o Motivasi yang
motorik kasar o Kaji motivasi klien untuk tinggi dari
NOC Label : Body
mempertahankan pergerakan pasien dpt
Mechanics Performance
sendi melancarkan
 Menggunakan posisi o Jelaskan alasan/rasional latihan
duduk yang benar pemberian latihan kepada pasien/ o Agar pasien
 Mempertahankan keluarga beserta
kekuatan otot keluarga dapat
 Mempertahankan o Monitor lokasi ketidaknyamanan memahami dan
fleksibilitas sendi atau nyeri selama aktivitas mengetahui
o Lindungi pasien dari cedera alasanpemberia
selama latihan n latihan
o Agar dapat
o Bantu klien ke posisi yang memberikan
optimal untuk latihan rentang intervensi
20
gerak secara tepat
o Anjurkan klien untuk melakukan
latihan range of motion secara o Cedera yg
aktif jika memungkinkan timbul dapat
o Anjurkan untuk melakukan memperburuk
range of motion pasif jika kondisi klien
diindikasikan

o Memaksimalka
o Beri reinforcement positif setiap
n latihan
kemajuan klien

o ROM dapat
mempertahank
an pergerakan
sendi

21
o ROM pasif
dilakukan jika
klien tidak
dapat
melakukan
secara mandiri

o Meningkatkan
harga diri klien

22
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Mobilisasi adalah suatu kondisi dimana tubuh dapat melakukan kegiatan dengan
bebas (Kozier, 2010). Jadi mobilitas atau mobilisasi adalah kemampuan individu untuk
bergerak secara bebas, mudah, dan teratur dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan
aktivitas guna mempertahankan kesehatannya untuk dapat melakukan aktivitas sehari-
hari secara mandiri.
Gangguan Mobilitas atau Imobilitas merupakan keadaan di mana seseorang tidak
dapat bergerak secara bebas karena kondisi yang mengganggu pergerakan (aktivitas),
misalnya trauma tulang belakang, cedera otak berat disertai fraktur pada ekstremitas, dan
sebagainya (Widuri, 2010).
Jenis mobilitas diantaranya yaitu Mobilitas penuh, Mobilitas sebagian, Mobilitas
sebagian temporer, dan Mobilitas sebagian permanen. Sementara itu untuk jenis
imobilitas yaitu Imobilitas fisik, Imobilitas intelektual, Imobilitas emosional, dan
Imobilitas sosial.
Faktor penyebab terjadinya gangguan mobilitas fisik yaitu : Penurunan kendali
otot, Penurunan kekuatan otot, Kekakuan sendi, Kontraktur, Gangguan muskuloskletal,
Gangguan neuromuscular, dan Keengganan melakukan pergerakan (Tim Pokja DPP
PPNI, 2017)
Dampak Gangguan Mobilitas Fisik di antaranya yaitu Perubahan Metabolisme,
Ketidakseimbangan Cairan dan Elektrolit , Gangguan Pengubahan Zat Gizi, Gangguan
Fungsi Gastrointestinal, Perubahan Sistem Pernapasan, Perubahan Kardiovaskular,
Perubahan Sistem Muskuloskeletal, Gangguan Muskular, dan sebagainya.

23
DAFTAR PUSTAKA

Azizah & Lilik Ma’rifatul, (2011).Keperawatan Lanjut Usia. Edisi 1.Yogyakarta : Graha Ilmu

Kholifah, Siti Nur. 2016. Keperawaran Gerontik. Jakarta Selatan : Kementrian Kesehatan
Republik Indonesia

24