Anda di halaman 1dari 33

RESUME KEPERAWATAN GERONTIK

“Asuhan Keperawatan Demensia”

Ditulis oleh :
AZIZA RAHMI (183110166)
IDRAAL DIMARDIWAN (183110176)
NADIA SUSILA NINGSIH (183110183)
REZI AULIA BUSMAN (183110191)
YARA NAMIRA (183110199)

Kelas : 3A

Dosen Pengajar Mata Kuliah :


Ns. Lola Felnanda Amri, S.Kep, M.Kep

PRODI D-III KEPERAWATAN PADANG


POLTEKKES KEMENKES PADANG
TAHUN 2020/2021
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang,
Saya panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan
rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kita semua, sehingga kami dapat
menyelesaikan Resume Keperawatan Gerontik “Asuhan Keperawatan Demensia”.

Makalah ilmiah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari
berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami
menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi
dalam pembuatan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan
baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan
terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat
memperbaiki makalah ilmiah ini.

Padang, 19 Agustus 2020

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .........................................................................................................i

DAFTAR ISI .......................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN....................................................................................................1

I.1 Latar Belakang ................................................................................................................1

I.2 Rumusan Masalah............................................................................................................2

I.3 Tujuan Penulisan..............................................................................................................3

1.4 Manfaat Penulisan...........................................................................................................3

BAB II TINJAUAN TEORITIS.........................................................................................4

2.1 Konsep Demensia.........................................................................................................4

2.2 Manifestasi Klinis........................................................................................................7

2.3 Klasifikasi Demensi.....................................................................................................8

2.4 Penatalaksaan Demensia..............................................................................................9

BAB III KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN........................................................11

3.1 Konsep Asuhan Keperawatan Demensia....................................................................11

3.2 Diagnosa dan Perencanaan Keperawatan Demensia...................................................21

3.3 Implementasi Keperawatan Demensia........................................................................24

3.4 Evaluasi Keperawatan Demensia................................................................................27

BAB IV PENUTUP.........................................................................................................29

A. Kesimpulan ........................................................................................................29

B. Saran....................................................................................................................30

DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Lanjut usia pasti mengalami masalah kesehatan yang diawali dengan
kemunduran sel-sel tubuh, sehingga fungsi dan daya tahan tubuh menurun serta
faktor resiko terhadap penyakit pun meningkat. Masalah kesehatan yang sering
dialami lanjut usia adalah malnutrisi, gangguan keseimbangan, kebingungan
mendadak, termasuk, beberapa penyakit sepeti hipertensi, gangguan
pendengaran, penglihatan dan demensia. Prevalensi demensia terhitung
mencapai 35,6 juta jiwa di dunia. Angka kejadian ini diperkirakan akan
meningkat dua kali lipat setiap 20 tahun, yaitu 65,7 juta pada tahun 2030 dan
115,4 juta pada tahun 2050 (Alzheimer’s Disease International, 2009).
Peningkatan prevalensi demensia mengikuti peingkatan populasi lanjut usia
(lansia). Berdasarkan data tersebut dapat dilihat terjadi peningkatan prevalensi
demensia setiap 20 tahun. Deklarasi Kyoto menyatakan tingkat prevalensi dan
insidensi demensia di Indonesia menempati urutan keempat setelah China, India,
dan Jepang (Alzheimer’s Disease International, 2006).
Data demensia di Indonesia pada lanjut usia (lansia) yang berumur 65
tahun ke atas adalah 5% dari populasi lansia (Tempo, 2011). Prevalensi
demensia meningkat menjadi 20% pada lansia berumur 85 tahun ke atas.
Kategori lanjut usia penduduk berumur 65 tahun ke atas angka lansia di
Indonesia pada tahun 2000 sebanyak 11,28 juta. Jumlah ini diperkirakan
meningkat menjadi 29 juta jiwa pada tahun 2020 atau 10 persen dari populasi
penduduk (Tempo, 2011). (FF Djibrael, 2018)
Gangguan kognitif merupakan kondisi atau proses patofisiologis yang
dapat merusak atau mengubah jaringan otak mengganggu fungsi serebral, tanpa
memperhatikan penyebab fisik, gejala khasnya berupa kerusakan kognitif,
disfungsi perilaku dan perubahan kepribadian (Copel, 2007). Gangguan kognitif

1
erat hubungannya dengan fungsi otak, karena kemampuan pasien untuk berpikir
akan dipengaruhi oleh keadaan otak. Gangguan kognitif antara lain delirium dan
demensia (Azizah, 2011) Demensia terjadi karena adanya gangguan fungsi
kognitif. Fungsi kognitif merupakan proses mental dalam memperoleh
pengetahuan atau kemampuan kecerdasan, yang meliputi cara berpikir, daya
ingat, pengertian, serta pelaksanaan. (KAS Ervin, 2018)
Demensia juga berdampak pada pengiriman dan penerimaan pesan.
Dampak pada penerimaan pesan, antara lain: lansia mudah lupa terhadap pesan
yang baru saja diterimanya; kurang mampu membuat koordinasi dan mengaitkan
pesan dengan konteks yang menyertai; salah menangkap pesan; sulit membuat
kesimpulan. Dampak pada pengiriman pesan, antara lain: lansia kurang mampu
membuat pesan yang bersifat kompleks; bingung pada saat mengirim pesan;
sering terjadi gangguan bicara; pesan yang disampaikan salah (Nugroho, 2009).
Upaya yang dapat dilakukan oleh tenaga keperawatan untuk mencegah
penurunan fungsi kognitif pada lansia demensia yaitu dengan melakukan asuhan
keperawatan, untuk itu kami mahasiswa akan mempelajari asuhan keperawatan
pada lansia yang dimana salah satu tujuannya untuk melatih lansia. (KAS Ervin,
2018).

1.2 Rumusan Masalah


Apa saja rumusan masalah dalam makalah ini, berikut uraiannya :
a. Apa itu demensia dan manifestasi klinisnya?
b. Bagaimana pelaksanaan keperawatan pada demensia?
c. Bagaimana konsep asuhan keperawatan pada demensia?
d. Bagaimana patofisiologi terjadinya demensia?
e. Mengapa demensia ada hubungannya dengan penyakit alzheimer?
1.3 Tujuan Penulisan
Mahasiswa diharapkan dapat :
a. Memahami bagaimana konsep asuhan keperawatan pada demensia
b. Memahami konsep teoritis demensia.

2
c. Memahami tumbuh kembang perubahan lansia.
d. Mampu menerapkan konsep asuhan keperawatan demensia.
e. Mampu melakukan diskusi mengenai konsep teoritis demensia.
f. Mampu memahami pentingnya melakukan asuhan keperawatan pada lansia
demensia, dan kejadian demensia di Indonesia, serta dunia.

1.4 Manfaat Penulisan


1.3.1 Manfaat Teoritis: Hasil studi ini diharapkan berguna bagi pengembangan
ilmu keperawatan khususnya keperawatan gerontik pada pasien lansia
dengan demensia.
1.3.2 Manfaat praktis :
a. Bagi institusi pendidikan Hasil studi kasus ini dapat di gunakan sebagai
bahan acuan bagi pengembangan keilmuan khususnya bagi Asuhan
Keperawatan Pada Pasien Dengan Demensia.
b. Bagi mahasiswa Menambah wawasan dalam memberikan Asuhan
Keperawatan pada Pasien dengan Demensia.
c. Bagi ilmu pengetahuan Hasil studi kasus ini diharapkan dapat
menambah informasi ilmiah mengenai Demensia

3
BAB II
TINJAUAN TEORITIS

2.1 Konsep Demensia


A. Definisi Demensia
Demensia (pikun) adalah kemunduran kognitif yang sedemikian beratnya
sehingga mengganggu aktivitas hidup sehari-hari dan aktivitas sosial.
Kemunduran kognitif pada demensia biasanya diawali dengan hilangnya
fungsi intelektual, kemunduran memori (pelupa) serta daya pikir lain.
Demensia berkaitan erat dengan usia lanjut (Nugroho, 2012). Grayson
(2004) dalam Aspiani (2014) menyebutkan bahwa demensia bukanlah
sekedar penyakit biasa, melainkan kumpulan gejala yang disebabkan
beberapa penyakit atau kondisi tertentu. Kumpulan gejalanya ditandai
dengan penurunan kognitif, perubahan mood, serta perubahan tingkah
laku. (KAS Ervin, 2018)

B. Penyebab Demensia
1. Penyebab demensia menurut Nugraho (2009)
a) Sindroma demensia dengan penyakit yang etiologi dasarnya tidak
dikenal kelainan yaitu : terdapat pada tingkat subseluler atau secara
biokimiawi pada system enzim, atau pada metabolism
b) Sindroma demensia dengan etiologi yang dikenal tetapi belum
dapat diobati, penyebab utama dalam golongan ini diantaranya :
Penyakit degenerasi spino – serebelar.
 Sub akut leuko-eselfalitis sklerotik fan bogaert dan
 Khores Hungtington.
c) Sindrome demensia dengan etiologi penyakit yang dapat diobati,
dalam golongan ini diantranya :
Penyakit cerrebro kardioavaskuler dan penyakit Alzheimer. (FF
Djibrael, 2018)

4
2. Penyebab demensia Menurut Aspiani (2014) penyebab demensia
dibedakan menjadi dua :
a. Penyebab demensia yang reversible
a) Drugs (obat)
Misalnya obat sedative, obat penenang, obat anti konvulsan,
obat anti hipertensi, obat anti aritmia. Menurut Sharon (1994)
semua obat memiliki efek samping yang potensial misalnya
depresi, disorientasi, dan demensia, termasuk obat yang kita
kira tidak berbahaya seperti penghilang rasa sakit, obat batuk
dan obat pencahar.
b) Emotional (emosional)
Gangguan emosional misalnya depresi. UNHAS, (2016)
menyatakan riwayat pasien yang mendukung demensia adalah
kerusakan bertahap seperti tangga (stepwise) misalnya depresi
yang menyebabkan kehilangan memori dan kesukaran
membuat keputusan diikuti oleh periode yang stabil dan
kemudian akan menurun lagi. Awitan dapat perlahan atau
mendadak.
c) Metabolic dan endokrin
Misalnya adalah diabetes melitus, hipoglikemia, gangguan
tiroid, gangguan elektrolit. Menurut (Robert,R. 2008)
d) Eye and ear
Disfungsi mata dan telinga.
e) Nutritional Kekurangan vitamin B6 (pellagra), vit B1 (sindrom
wernicke), vitamin B12 (anemia pernisiosa), asam folat
dan asam lemak omega-3.
f) Infeksi Ensefalitis oleh virus misalnya herpes simplek, bakteri
misalnya pneumococcus, TBC, parasit, fungus, abses otak,
neurosifilis. Menurut Almeida (2005) dalam Harahap
(2015) penyebab demensia terkait infeksi adalah semua

5
agen penyebab nfeksi pada SSP dapat secara tunggal atau
bersama-sama menyebabkan terjadinya infeksi dengan
memanfaatkan faktor virulensi yang dimilikinya. Dengan
faktor virulensi tersebut, agen infeksi mampu menginduksi
respon inflamasi di otak dengan akibat terjadinya proses
neurodegenerasi, suatu proses yang mengakibatkan
terjadinya demensia.
g) Arterosklerosis
Komplikasi penyakit arterosklerosis adalah infark miokard
dan gagal jantung. Menurut Sharon (1994) jantung dan
paru-paru berhubungan dengan berat ringannya
kekurangan oksigen di otak. Kekurangan oksigen ini pada
gilirannya dapat menyebabkan episode akut kebingungan
dan dapat menyebabkan demensia kronis.

b. Penyebab demensia yang non reversible


a) Penyakit degeneratif Misalnya penyakit alzheimer,
penyakit huntington, kelumpuhan supranuklear progresif,
penyakit parkinson.
b) Penyakit vaskuler Misalnya penyakit serebrovaskuler
oklusif (demensia multi-infark), embolisme serebral,
arteritis, anoksia sekunder akibat henti jantung, gagal
jantung.
c) Demensia traumatik Misalnya perlukaan kranio-serebral,
demensia pugi-listika.
d) Infeksi Misalnya sindrom defisiensi imun dapatan (AIDS),
infeksi opportunistik, demensia pasca ensefalitis. (KAS
Ervin, 2018)

6
C. Patofisiologi Demensia
Proses menua tidak dengan sendirinya menyebabkan terjadinya demensia.
Penuaan menyebabkan terjadinya perubahan anatomi dan biokimiawi di
susunan saraf pusat yaitu berat otak akan menurun sebanyak sekitar 10 %
pada penuaan antara umur 30 sampai 70 tahun. Berbagai faktor etiologi
yang telah disebutkan di atas merupakan kondisi-kondisi yang dapat
mempengaruhi sel-sel neuron korteks serebri. Penyakit degeneratif pada
otak, gangguan vaskular dan penyakit lainnya, serta gangguan nutrisi,
metabolik dan toksisitas secara langsung maupun tak langsung dapat
menyebabkan sel neuron mengalami kerusakan melalui mekanisme
iskemia, infark, inflamasi, deposisi protein abnormal sehingga jumlah
neuron menurun dan mengganggu fungsi dari area kortikal ataupun
subkortikal. Di samping itu, kadar neurotransmiter di otak yang
diperlukan untuk proses konduksi saraf juga akan berkurang. Hal ini akan
menimbulkan gangguan fungsi kognitif (daya ingat, daya pikir dan
belajar), gangguan sensorium (perhatian, kesadaran), persepsi, isi pikir,
emosi dan mood. Fungsi yang mengalami gangguan tergantung lokasi area
yang terkena (kortikal atau subkortikal) atau penyebabnya, karena
manifestasinya dapat berbeda. Keadaan patologis dari hal tersebut akan
memicu keadaan konfusio akut demensia (Boedhi-Darmojo, 2009). (FF
Djibrael, 2018)

2.2 Manifestasi Klinis


Gejala klinis demensia berlangsung lama dan bertahap sehingga pasien
dengan keluarga tidak menyadari secara pasti kapan timbulnya penyakit.
Gejala klinik dari demensia Nugroho (2009) menyatakan jika dilihat secara
umum tanda dan gejala demensia adalah :
Menurunnya daya ingat yang terus terjadi. Pada penderita demensia, lupa
menjadi bagian keseharian yang tidak bisa lepas.

7
1) Menurunnya daya ingat yang terus terjadi. Pada penderita
demensia, lupa menjadi bagian keseharian yang tidak bisa lepas.
2) Gangguan orientasi waktu dan tempat, misalnya: lupa hari,
minggu, bulan, tahun, tempat penderita demensia berada.
3) Penurunan dan ketidakmampuan menyusun kata menjadi kalimat
yang benar, menggunakan kata yang tidak tepat untuk sebuah
kondisi, mengulang kata atau cerita yang sama berkali-kali.
4) Ekspresi yang berlebihan, misalnya menangis berlebihan saat
melihat sebuah drama televisi, marah besar pada kesalahan kecil
yang dilakukan orang lain, rasa takut dan gugup yang tak
beralasan.
5) Penderita demensia kadang tidak mengerti mengapa perasaan-
perasaan tersebut muncul.
6) Adanya perubahan perilaku, seperti : acuh tak acuh, menarik diri
dan gelisah.
(FF Djabrael, 2018)

2.3 Klasifikasi Demensia


Berdasarkan umur, perjalanan penyakit, kerusakan struktur otak,sifat
klinisnya dan menurut Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa
di Indonesia III (PPDGJ III).
1) Menurut Umur:
Demensia prasenilis (Menurut Umur:
a. Demensia senilis (>65th)
b. Demensia prasenilis (<65th).
2) Menurut perjalanan penyakit.
a. Reversibel.
b. Ireversibel (Normal pressure hydrocephalus, subdural
c. hematoma, Defisiensi vitamin B.
d. Hipotiroidism, intoksikasi Pb

8
3) Menurut kerusakan struktur otak
a. Tipe Alzheimer.
b. Tipe non-Alzheimer.
c. Demensia vaskular.
d. Demensia Jisim Lewy (Lewy Body dementia.
e. Demensia Lobus frontal-temporal.
f. Demensia terkait dengan HIV-AIDS.
g. Morbus Parkinson.
h. Morbus Huntington.
i. Morbus Pick.
j. Morbus Jakob-Creutzfeldt.
k. Sindrom Gerstmann-Sträussler-Scheinker
(FF Djibrael, 2018)

2.4 Penatalaksanaan Demensia


Penatalaksanaan pada pasien dengan demensia antara lain sebagai berikut :
1) Farmakoterapi
Sebagian besar kasus demensia tidak dapat disembuhkan; Untuk
mengobati demensia alzheimer digunakan obat - obatan
antikoliesterase seperti Donepezil, Rivastigmine, Galantamine,
Memantine. Dementia vaskuler membutuhkan obat -obatan anti
platelet seperti Aspirin , Ticlopidine , Clopidogrel untuk melancarkan
aliran darah ke otak sehingga memperbaiki gangguan kognitif.
Demensia karena stroke yang berturut-turut tidak dapat diobati, tetapi
perkembangannya bisa diperlambat atau bahkan dihentikan dengan
mengobati tekanan darah tinggi atau kencing manis yang berhubungan
dengan stroke.
2) Dukungan atau Peran Keluarga

9
Mempertahankan lingkungan yang familiar akan membantu penderita
tetap memiliki orientasi. Kalender yang besar, cahaya yang terang, jam
dinding.
3) Terapi Simtomatik
Pada penderita penyakit demensia dapat diberikan terapi simtomatik,
meliputi :
a) Latihan fisik yang sesuai
b) Terapi rekreasional dan aktifitas.
(FF Djibrael, 2018)

10
BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Konsep asuhan keperawatan Demensia


A. Pengkajian
1. Umur
Data demensia di Indonesia pada umumnya lanjut usia (lansia) yang
berumur 65 tahun ke atas adalah 5% dari populasi lansia (Tempo,
2011). Prevalensi demensia meningkat menjadi 20% pada lansia
berumur 85 tahun ke atas. Kategori lanjut usia penduduk berumur 65
tahun ke atas angka lansia di Indonesia pada tahun 2000 sebanyak
11,28 juta. (FF Djibrael, 2018)

2. Jenis Kelamin
Tidak ada spesifikasi khusus terkait kejadian demensia dengan jenis
kelamin namun, Azat et al (2013). Melakukan penelitian membedakan
dari faktor terjadinya demensia antara dua jenis kelamin, Didapatkan
hasil bahwa kejadian demensia lebih banyak terjadi pada perempuan,
hal ini terjadi karena tingkat hipertensi, dan obesitas pada perempuan
lebih tinggi daripada laki-laki, juga hormone estrogen yang semakin
lama semakin menurun pada lansia perempuan membuat lansia
perempuan cenderung lebih mudah depressi dan stress. (DS, Yupira.
2019)

a. Data subyektif
Pasien mengatakan mudah lupa akan peristiwa yang baru saja terjadi,
dan tidak mampu mengenali orang, tempat dan waktu.
b. Data Obyektif
Pasien kehilangan kemampuannya untuk mengenali wajah, tempat dan
objek yang sudah dikenalnya dan kehilangan suasana keluarganya

11
(belum spesifik), Pasien sering mengulang-ngulang cerita yang sama
karena lupa telah menceritakannya. Terjadi perubahan ringan dalam
pola berbicara; penderita menggunakan kata-kata yang lebih
sederhana, menggunakan kata-kata yang tidak tepat atau tidak mampu
menemukan kata-kata yang tepat.

B. Keadaan Umum
1) Tingkat kesadaran: composmentis dengan nilai GCS 15. Tekanan
darah sistolik/ diastolik pada umumnya normal. BB: kg, TB : cm.
postur tulang belakang lansia: membungkuk.
2) Identitas Indentias klien meliputi nama, umur, jenis kelamin, suku
bangsa/latar belakang kebudayaan, status sipil, pendidikan, pekerjaan
dan alamat.
3) Riwayat Psikososial Konsep diri
a. Gambaran diri, tressor yang menyebabkan berubahnya gambaran
diri karena proses patologik penyakit.
b. Identitas, bervariasi sesuai dengan tingkat perkembangan individu.
c. Peran, transisi peran dapat dari sehat ke sakit, ketidak sesuaian
antara satu peran dengan peran yang lain dan peran yang ragu
diman aindividu tidak tahun dengan jelas perannya, serta peran
berlebihan sementara tidak mempunyai kemmapuan dan sumber
yang cukup.
d. Ideal diri, keinginann yang tidak sesuai dengan kenyataan dan
kemampuan yang ada.
e. Harga diri, tidakmampuan dalam mencapai tujuan sehingga klien
merasa harga dirinya rendah karena kegagalannya.
4) Hubungan sosial
Berbagai faktor di masyarakat yang membuat seseorang disingkirkan
atau kesepian, yang selanjutnya tidak dapat diatasi sehingga timbul

12
akibat berat seperti delusi dan halusinasi. Keadaan ini menimbulkan
kesepian, isolasi sosial, hubungan dangkal dan tergantung.
5) Riwayat Spiritual
Keyakina klien terhadapa agama dan keyakinannya masih kuat.a tetapi
tidak atau kurang mampu dalam melaksnakan ibadatnmya sesuai
dengan agama dan kepercayaannya.
6) Status mental
a) Penampilan klien tidak rapi dan tidak mampu utnuk merawat
dirinya sendiri.
b) Pembicaraan keras, cepat dan inkoheren.
c) Aktivitas motorik, Perubahan motorik dapat dinmanifestasikan
adanya peningkatan kegiatan motorik, gelisah, impulsif,
manerisme, otomatis, steriotipi.
d) Alam perasaan: klien nampak ketakutan dan putus asa.
e) Afek dan emosi.
f) Respon emosional klien mungkin tampak bizar dan tidak sesuai
karena datang dari kerangka pikir yang telah berubah. Perubahan
afek adalah tumpul, datar, tidak sesuai, berlebihan dan ambivalen
g) Interaksi selama wawancara
h) Sikap klien terhadap pemeriksa kurawng kooperatif, kontak mata
kurang.

7) Pengkajian psikogerontik
1) Pengkajian status fungsional

Tabel 1
Indeks
barthel

No Jenis aktivitas Kemampuan Skor

13
1 Makan/minum Mandiri 2

Perlu bantuan orang lain untuk


1
memotong makanan

Tergantung penuh pada


0
pertolongan orang lain

2 Pindah dari kursi roda Mandiri 3


ke tempat
tidur/sebaliknya Dibantu satu orang 2

Dibantu dua orang 1

Tidak mampu 0

3 Kebersihan diri: cuci Mandiri 1


muka, menyisir, dll
Perlu pertolongan 0

4 Keluar/masuk kamar Mandiri 2


mandi
Perlu pertolongan 1

Tergantung orang lain 0

5 Mandi Mandiri 1

Tergantung orang lain 0

6 Berjalan (jalan datar) Mandiri 3

Dibantu satu orang/walker 2

Dibantu kursi roda 1

Tidak mampu 0

7 Naik turun tangga Mandiri 2

Perlu pertolongan 1

Tidak mampu 0

8 Berpakaian/bersepatu Mandiri 2

Sebagian dibantu 1

14
Tergantung orang lain 0

9 Mengontrol BAB Kontinen teratur 2

Kadang-kadang inkontinen 1

Inkontinen 0

10 Mengontrol BAK Kontinen teratur 2

Kadang-kadang inkontinen 1

Inkontinen 0

Jumlah 20

Kesimpulan : Lansia mandiri

Skor 20 = lansia mandiri, 12-19 = ketergantungan ringan, 9-11


= ketergantungan sedang, 5-8 = ketergantungan berat, 0-4 =
ketergantungan total

Tabel 2.
statuskognitif

Short Portable Mental Status Questsionnaire (SPMSQ)

Nomor Pertanyaan Jawaban Nilai (+/-)

1 Tanggal berapa hari ini? Tidak tau -

2 Hari apa sekarang? Jumat +

3 Apa nama tempat ini? Tidak tau -

4 Berapa nomor telepon anda. Dipanti -


Dimana alamat anda (jika

15
tidak memiliki nomor

telepon)
5 Kapan Anda lahir? Tahun 42 -

6 Berapa umur Anda? Tidak tau -

7 Siapa presiden Indonesia Tidak tau -


sekarang?

8 Siapa presiden Indonesia Tidak tau -


sebelumnya?

9 Siapa nama ibu Anda? Lupa -

10 Angka 20 dikurangi 3=? Dan Tidak dapat -


seterusnya dikurangi 3 menghitung
Jumlah 5 5
Kesimpulan : Kerusakan intelektual sedang

kesalahan 0-2 = Fungsi intelektual utuh, kesalahan 3-4 =


kerusakan intelektual ringan, kesalahan 5-6 = kerusakan
intelektual sedang, kesalahan 7-10 = kerusakan intelektual berat.

8) Persepsi
Persepsi melibatkan proses berpikir dan pemahaman emosional
terhadap suatu obyek. Perubahan persepsi dapat terjadi pada satu atau
kebiuh panca indera yaitu penglihatan, pendengaran, perabaan,
penciuman dan pengecapan. Perubahan persepsi dapat ringan, sedang
dan berat atau berkepanjangan. Perubahan persepsi yang paling sering
ditemukan adalah halusinasi.
a) Proses berpikir Klien yang terganggu pikirannya sukar
berperilaku kohern, tindakannya cenderung berdasarkan
penilaian pribadi klien terhadap realitas yang tidak sesuai

16
dengan penilaian yang umum diterima. Penilaian realitas
secara pribadi oleh klien merupakan penilaian subyektif yang
dikaitkan dengan orang, benda atau kejadian yang tidak logis
(Pemikiran autistik). Klien tidak menelaah ulang kebenaran
realitas. Pemikiran autistik dasar perubahan proses pikir yang
dapat dimanifestasikan dengan pemikian primitf, hilangnya
asosiasi, pemikiran magis, delusi (waham), perubahan
linguistik (memperlihatkan gangguan pola pikir abstrak
sehingga tampak klien regresi dan pola pikir yang sempit
misalnya ekholali, clang asosiasi dan neologisme.
b) Tingkat kesadaran: Kesadaran yang menurun, bingung.
Disorientasi waktu, tempat dan orang.
c) Memori: Gangguan daya ingat sudah lama terjadi (kejadian
beberapa tahun yang lalu).
d) Tingkat konsentrasi Klien tidak mampu berkonsentrasi
e) Kemampuan penilaian Gangguan berat dalam penilaian atau
keputusan.

9) Kebutuhan klien sehari-hari


a) Tidur, klien sukar tidur karena cemas, gelisah, berbaring atau
duduk dan gelisah . Kadang-kadang terbangun tengah malam dan
sukar tidur kemabali. Tidurnya mungkin terganggu sepanjang
malam, sehingga tidak merasa segar di pagi hari.
b) Selera makan, klien tidak mempunyai selera makan atau makannya
hanya sedikit, karea putus asa, merasa tidak berharga, aktivitas
terbatas sehingga bisa terjadi penurunan berat badan.
c) Eliminasi Klien mungkin tergnaggu buang air kecilnya,
kadangkdang lebih sering dari biasanya, karena sukar tidur dan
stres. Kadang-kadang dapat terjadi konstipasi, akibat terganggu
pola makan.

17
d) koping Apabila klien merasa tridak berhasil, kegagalan maka ia
akan menetralisir, mengingkari atau meniadakannya dengan
mengembangkan berbagai pola koping mekanisme.

Koping mekanisme yang digunakan seseorang dalam keadaan


delerium adalah mengurangi kontak mata, memakai kata-kata yang
cepat dan keras (ngomel-ngomel) dan menutup diri.

C. Prinsip pengkajian heat to toe


1) Kepala : Kebersihan: untuk mengetahui adanya ketombe, kerontokan
rambut serta kebersihan secara umum..
2) Mata : adanya perubahan penglihatan
3) Hidung : untuk mengetahui hidung bersih, tidak ada luka atau lessi,
tidak ada masa, Nyeri pad sinus
4) Mulut dan tenggorokan :sakit tenggorokan, lesi dan luka pada mulut,
perubahan suara, karies.
5) Telinga : penurunan pendengaran, Telinga Perubahan pendengaran,
Rabas, Tinitus, Vertigo Sensitivitas pendengaran, Alat-alat protesa,
Riwayat infeksi.
6) Dada (Torax): mengetahui Bentuk dada dari posisi anterior dan
posterior, ada tidaknya deviasi, ada tidaknya bendungan vena pada
dinding dada.
7) Abdomen
Bentuk distended/flat/lainnya, nyeri tekan, Bising usus: kali/ menit
Genetalia Kebersiha: setiap habis mandi dibersihkan, tidak ada
hemoroid
8) Ekstremitas
Kekuatan otot : melawan grafitasi dengan kekuatan penuh, tidak
menggunakan alat bantu saat jalan, tidak mengalami nyeri
sendi.Integumen : dari hasil pengkajian didapat : kulit tampak kering,

18
seperti bersisik, kulit tampak pucat, tampak kotor berwarna hitan
karena bekas luka, sering menggaruk badan.

D. Pemeriksaan Penunjang Demensia


Penilaian kognisi berguna baik dalam diagnosis awal dan diferensial dari
dementia. Nilai tambah tes neuropsikologis pada pasien yang sebelumnya
telah menerima tes kognitif yang sederhana namun komprehensif belum
ditetapkan.
1) MMSE
MMSE terus menjadi instrumen skrining yang paling banyak
digunakan untuk demensia. Tes ini untuk menilai fungsi kognitif dan
dapat diberikan dengan cepat (dalam 10-15 menit). Modalitas untuk
administrasi dan skoring yang mudah dipelajari, karena telah
diterjemahkan ke dalam banyak bahasa, itu merupakan cara yang
hamper universal menilai keparahan demensia pada individu maupun
dalam sampel populasi. Skor tersebut berkisar dari 0 (terburuk) hingga
30 dan sebagian besar penulis menganggap bahwa "nilai cutoff" di
bawah ini yang demensia dapat dicurigai adalah 24. MMSE Rata-rata
dipengaruhi oleh variabel seperti usia dan pendidikan.

2) Memory Impairment Screen Test


Tes Memory Impairment Screen (MIS) ini menunjukkan sensitivitas
yang baik dan spesifisitas untuk skrining demensia. Tes singkat dan
sederhana ini memberikan efisien, handal, dan berlaku skrining untuk
AD dan demensia lainnya dan kemungkinan untuk menjadi "master"
tes untuk skrining demensia dalam praktek klinis dan studi
epidemiologi besar. Beberapa studi telah mempekerjakan
neuropsikologi terutama untuk membandingkan orang dengan
penyakit Alzheimer, demensia frontotemporal, demensia dengan
badan Lewy, demensia vaskular dan depresi.9 Hal ini dimungkinkan

19
untuk mendeteksi penyakit Alzheimer bahkan sangat awal
menggunakan testing. neuropsikologi. Neuropsikologi lebih unggul
pencitraan pada orang membedakan dengan AD dari controls. Tes
neuropsikologis juga membantu dalam diagnosis diferensial demensia:
a. FTD ditandai dengan defisit memori semantik dan perhatian /
fungsi eksekutif ketimbang defisit memori episodik terlihat
pada AD
b. demensia dengan badan Lewy memiliki visuoperceptual lebih
jelas dan gangguan frontal dibandingkan dengan AD. 9 3.
demensia vaskular menunjukkan disfungsi eksekutif.
c. depresi menunjukkan pola subkortikal dari kerusakan kognitif.
Kemampuan pemeriksaan klinis (misalnya, anamnesis dan
pemeriksaan fisik) untuk memprediksi lesi struktural telah
dilaporkan sebagai memiliki sensitivitas dan spesifisitas 90%.
Pencitraan dapat digunakan untuk mendeteksi penyebab
reversibel demensia dan untuk membantu dalam diagnosis
diferensial dari demensia. Pilihan teknik pencitraan sangat
bervariasi, dan termasuk computed Zatomography (CT),
magnetic resonance imaging (MRI), emisi tunggal foton
tomography dikendalikan (SPECT) dan positron emission
tomography (PET). (Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf
Indonesia. 2015)

E. Konsep Pelaksanaan Demensia


Tindakan keperawatan (Implementasi) adalah kategori dari perilaku
keperawatan dimana tindakan yang diperlukan untuk mencapai tujuan dan
hasil yang diperkirakan dari asuhan keperawatan dilakukan dan diselesaikan.
Implementasi mencakup melakukan, membantu, atau mengarahkan kinerja
aktivitas kehidupan sehari-hari, memberikan asuhan perawatan untuk tujuan
yang berpusat pada klien (Potter & Perry, 2005).

20
Pelaksanaan keperawatan pada Demensia dikembangkan untuk
memantau tanda-tanda vital, melakukan latihan rentang pergerakan sendi
aktif dan pasif, meminta klien untuk mengikuti perintah sederhana,
memberikan stimulus terhadap sentuhan, membantu klien dalam personal
hygiene, dan menjelaskan tentang penyakit, perawatan dan pengobatan
Demensia.

3.2 Diagnosa dan Perencanaan Keperawatan


A. Diagnosa Keperawatan
1) Gangguan memori b.d proses penuaan
2) Defisit perawatan diri b.d gangguan psikologis
3) Defisit pengetahuan b.g gangguan fungsi kognitif

B. Perencanaan keperawatan

No Diagnosa Tujuan / kriteria hasil Intervensi (SIKI)


keperawatan (SLKI)
1. Gangguan memori Setelah dilakukan tindakann Latihan Memori
b.d proses penuaan keperawatan selama 1x24 a) Identifikasi masalah
jam didapatkan : memori yang dialami
Memori b) Stimulasi memori
a) Verbalisasi kemampuan dengan mengulang
mempelajari hal baru pikiran terakhir kali
meningkat diucapkan
b) Verbalisasi kemampuan c) Koreksi kesalahan
mengingat informasi orientasi
faktual meningkat d) Fasilitasi mengingat
c) Verbalisasi kemampuan kembali pengalaman
mengingat peristiwa masa lalu , jika perlu
meningkat e) Stimulasi

21
d) Verbalisasi pengalaman menggunakan
lupa menurun memory pada
e) Verbalisasi lupa jadwal peristiwa yang baru
menurun terjadi
f) Verbalisasi mudah lupa f) Jelaskan tujuan dan
menurun prosedur latihan
g) Ajarkan teknik
memory yang tepat
2. Defisit perawatan Setelah dilakukan tindakann
diri b.d gangguan keperawatan selama 1x24 Dukungan perawatan
psikologis jam didapatkan : diri
Perawatan diri a) Identifikasi kebiasaan
a) Kemampuan mandi aktivitas perawatan
meningat diri sesuai usia
b) Kemampuan b) Monitor tingkat
mengenakan pakaian kemandirian
meningkat c) Identifikasi
c) Kemampuan makan kebutuhan alat bantu
meningkat kebersihan diri,
d) Kemampuan ke toilet berpakaian, berhias,
meningkat (BAB/BAK) dan makan
e) Verbalisasi keinginan d) Sediakan lingkungan
melakukan perawatan yang terapeutik
diri meningkat e) Siapkan keperluan
f) Mempertahankan pribadi
kebersihan diri f) Dampingi dalam
meningkat melakukan perawatan
g) Mempertahankan diri sampai bisa
kebersihan mulut mandiri
meningkat g) Anjurkan melakukan

22
perawatan diri secara
konsisten sesuai
kemampuan
3. Defisit pengetahuan Setelah dilakukan tindakann
b.g gangguan keperawatan selama 1x24
fungsi kognitif jam didapatkan :
Tingkat pengetahuan Edukasi kesehatan
a) Perilaku sesuai anjuran a) Identifikasi faktor-
verbalisasi minat dalam faktor yang dapat
belajar meningkat meningkatkan dan
b) Kemampuan menurunkan motivasi
menjelaskan perilaku hidup bersih
pengetahuan tentang dan sehat
suatu topik meningkat b) Sediakan materi dan
c) Kemampuan media pendidikan
menggambarkan kesehatan
pengalaman sebelumnya c) Jadwalkan pendidikan
yang sesuai dengan kesehatan sesuai
topik meningkat kesepakatan berikan
d) Perilaku sesuai dengan kesempatan untuk
pengetahuanmeningkat bertanya
e) Pertanyaan tentang d) Jelaskan faktor risiko
masalah yang yang dpat
dihadapimenurun mempengaruhi
f) Perilaku membaik kesehatan
e) Ajarkan perilaku
hidup bersih dan
sehat

3.3 Implementasi Keperawatan Demensia

23
No Diagnosa Implementasi
. Keperawatan

1 Gangguan Latihan Memori


memori b.d 1. Mengidentifikasi masalah memori yang dialami
proses 2. Menstimulasi memori dengan mengulang pikiran terakhir kali
penuaan diucapkan
3. Mengkoreksi kesalahan orientasi
4. Memfasilitasi mengingat kembali pengalaman masa lalu ,jika
perlu
5. Menstimulasi menggunakan memory pada peristiwa yang
baru terjadi
6. Menjelaskan tujuan dan prosedur latihan
7. Mengajarkan teknik memory yang tepat
2 Defisit Dukungan perawatan diri
perawatan
1. Mengidentifikasi kebiasaan aktivitas perawatan diri sesuai usia
diri b.d
2. Memonitor tingkat kemandirian
gangguan
3. Mengidentifikasi kebutuhan alat bantu kebersihandiri,
psikologis
berpakaian, berhias, dan makan
4. Menyediakan lingkungan yang terapeutik
5. Menyiapkan keperluan pribadi
6. Mendampingi dalam melakukan perawatan dirisampai bisa
mandiri
7. Menganjurkan melakukan perawatan diri secara konsisten
sesuai kemampuan

3 Defisit Edukasikesehatan
pengetahuan 1. Mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat meningkatkan dan
b.g menurunkan motivasi perilaku hidup bersih dan sehat
gangguan 2. Menyediakan materi dan media pendidikan kesehatan
fungsi 3. Menjadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan

24
kognitif berikan kesempatan untuk bertanya
4. Menjelaskan factor risiko yang dapat mempengaruhi kesehatan
5. Ajarkan perilaku hidup bersih dan sehat

3.4 Evaluasi Keperawatan Demensia

Menurut Craven dan Hirnle (2000) evaluasi merpakan keputusan dari


efektifitas asuhan keperawatan antara dasar tujuan keperawatan yang telah
ditetapkan dengan respon perilaku lansia yang tampilkan.
1. Penilaian keperawatan adalah mengukur keberhasilan dari rencana, dan
pelaksanaan tindakan keperawatan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan
lansia, maka beberapa kegiatan yang harus diikuti oleh perawat, antara
lain:
a. Mengkaji ulang tujuan klien dan kriteria hasil yang telah ditetapkan,
b. Mengumpulkan data yang berhubungan dengan hasil yang diharapkan.
c. Mengukur pencapaian tujuan.
d. Mencatat keputusan atau hasil pengukuran pencapaian tujuan,
2. Melakukan revisi atau modifikasi terhadap rencana keperawatan bila
perlu.
3. Evaluasi hasil: Evaluasi ini berfokus pada respons dan fungsi klien.
Respons perilaku lansia merupakan pengaruh dari intervensi keperawatan
dan akan terlihat pada pencapaian tujuan dan kriteria hasil.
Cara membandingkan antara SOAP (Subjektive-ObjektiveAssesment-
Planning) dengan tujuan dan kriteria hasil yang telah ditetapkan.

 S (Subjective)
adalah informasi berupa ungkapan yang didapat dari lansia setelah
tindakan diberikan.
 (Objective)

25
adalah informasi yang didapat berupa hasil pengamatan, penilaian,
pengukuran yang dilakukan oleh perawat setelah tindakan
dilakukan.
 A (Assessment)
adalah membandingkan antara informasi subjective dan objective
dengan tujuan dan kriteria hasil, kemudian diambil kesimpulan
bahwa masalah teratasi, teratasi sebagian, atau tidak teratasi.
 P (Planning)
adalah rencana keperawatan lanjutan yang akan dilakukan
berdasarkan hasil analisi.

26
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan

Proses menua tidak dengan sendirinya menyebabkan terjadinya


demensia. Penuaan menyebabkan terjadinya perubahan anatomi dan
biokimiawi di susunan saraf pusat yaitu berat otak akan menurun sebanyak
sekitar 10 % pada penuaan antara umur 30 sampai 70 tahun. Berbagai faktor
etiologi yang telah disebutkan di atas merupakan kondisi-kondisi yang dapat
mempengaruhi sel-sel neuron korteks serebri. Penyakit degeneratif pada otak,
gangguan vaskular dan penyakit lainnya, serta gangguan nutrisi, metabolik
dan toksisitas secara langsung maupun tak langsung dapat menyebabkan sel
neuron mengalami kerusakan melalui mekanisme iskemia, infark, inflamasi,
deposisi protein abnormal sehingga jumlah neuron menurun dan mengganggu
fungsi dari area kortikal ataupun subkortikal. Di samping itu, kadar
neurotransmiter di otak yang diperlukan untuk proses konduksi saraf juga
akan berkurang. Hal ini akan menimbulkan gangguan fungsi kognitif (daya
ingat, daya pikir dan belajar), gangguan sensorium (perhatian, kesadaran),
persepsi, isi pikir, emosi dan mood. Demensia (pikun) adalah kemunduran
kognitif yang sedemikian beratnya sehingga mengganggu aktivitas hidup
sehari-hari dan aktivitas sosial. Kemunduran kognitif pada demensia biasanya
diawali dengan hilangnya fungsi intelektual, kemunduran memori (pelupa)
serta daya pikir lain. Demensia berkaitan erat dengan usia lanjut (Nugroho,
2012). Grayson (2004) dalam Aspiani (2014) menyebutkan bahwa demensia
bukanlah sekedar penyakit biasa, melainkan kumpulan gejala yang disebabkan
beberapa penyakit atau kondisi tertentu. Kumpulan gejalanya ditandai dengan
penurunan kognitif, perubahan mood, serta perubahan tingkah laku. (KAS
Ervin, 2018)

27
B. Saran
Dan diharapkan, dengan diselesaikannya makalah ini, baik pembaca maupun
penyusun dapat menyerap pelajaran yang baik dalam makalah ini. Jika ada
kesalahan maupun ketidaksengajaan dalam tulisan mohon dimaafkan.

28
DAFTAR PUSTAKA

1. Alzheimer's Disease International, Annual Report. Dementia In The Asia


Pacific Region. London: Alzheimer's Disease International
Diakses pada: https://www.alz.co.uk/adi/pdf/annrep06.pdf

2. Kas Ervin. 2018. Penerapan Brain Gym Pada Asuhan Keperawatan


Lansia Demensia Di Pstw Budi Luhur Kasongan Bantul Yogyakarta.
Poltekkes Jogjakarta. Diakses pada :
http://eprints.poltekkesjogja.ac.id/1366/4/4.%20Chapter%202.pdf

3. FF Djibrael. 2018. Asuhan Keperawatan Lansia Ny. F.P Dengan


Demensia Di Wisma Teratai Upt Panti Sosial Penyantun Lanjut Usia
Budi Agung Kupang. Diakses pada :
http://repository.poltekeskupang.ac.id/343/1/KTI%20fictoria.pdf

4. Potter, Pactricia A. & Anne, G. Perry. (2009). Fundamental Keperawatan


Buku 1 Ed. 7. Jakarta: Salemba Medika

5. Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia. 2015. Panduan Praktik


Klinik Diagnosis dan Penatalaksanaan Demensia. Jakarta Pusat :
PERDOSSI. Diakses Pada : http://www.neurona.web.id/paper/PPK
%20demensia.pdf

6. DS, Yupira. 2019. Gambaran Status Demensia Dan Depresi Pada Lansia
Di Wilayah Kerja Puskesmas Guntur Kelurahan Sukamentri Garut.
Universitas Padjajaran. Diakses pada : http://journal.stikep-
ppnijabar.ac.id/index.php/jkk/article/download/125/113
7. Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2016). Standar Diagnosa Keperawatan
Indonesia (1st ed.). Jakarta: Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat
Nasional Indonesia.

8. Tim Pokja SIKI DPP PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan


Indonesia (I). Jakarta.

9. Tim Pokja SLKI DPP PPNI. (2018). Standar Luaran Keperawatan


Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan (1st ed.). Jakarta:
Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia.

Anda mungkin juga menyukai