Anda di halaman 1dari 8

Assalamualaikum Warohmatullohi Wabarokatuh,

Innalhamdalillah dst.

Jama’ah sholat Idul Fitri rahimakumullah. Di pagi hari yang penuh kebahagiaan ini,
kaum muslimin dan muslimat di seluruh penjuru dunia, baik yang tua maupun muda semua
berbondong-bondong menuju masjid dan lapangan untuk melaksanakan shalat Idul Fitri.
Alunan suara yang mengagungkan asma Allah sejak tadi malam telah berkumandang.
Lantunan takbir yang terucap dari dalam lubuk hati adalah sebagai pengakuan atas kebesaran
dan keagungan Allah SWT. Kalimat tasbih dan tahmid yang kita kumandangkan adalah
dalam rangka untuk mensucikan dan memuji Allah atas segala karunia-Nya. Sementara tahlil
yang kita lantunkan adalah untuk memperkokoh keimanan kita bahwa Dia lah Allah Dzat
yang maha Esa lagi maha Kuasa. Tidak ada Dzat yang berhak disembah kecuali hanyalah
Allah semata. Semua itu tidak lain adalah dalam rangka ungkapan rasa syukur kita kepada
Allah atas kemenangan besar yang kita peroleh setelah menjalankan ibadah puasa ramadhan
selama satu bulan penuh. Allah SWT berfirman:

Jamaah shalat Idul Fitri rahimakumullah.


Setelah satu bulan penuh kita menunaikan ibadah puasa sebagai bentuk ketaatan dan
pensucian jiwa kita, kemudian kita mengeluarkan zakat sebagai pensucian dari harta kita
untuk berbagi kebahagiaan kepada kaum fakir miskin dan mereka yang membutuhkan. Atas
karunia-Nya jugalah pada hari ini kita dapat berhari raya bersama, maka sudah sepantasnya
pada hari yang bahagia ini kita bergembira, merayakan sebuah momentum kemenangan dan
kebahagiaan karena telah menggapai limpahan rahmat dan ampunan dari-Nya sesuai dengan
usaha yang kita lakukan masing-masing. Allah berfirman:

“Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat sesuai dengan apa yang


dikerjakannya. Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am:
132)

Senada dengan itu, dalam sebuah hadits marfu’ dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma
dijelaskan yang artinya:
“Apabila hari raya idul fitri, malaikat turun ke bumi di setiap negeri, mereka berhenti di sana
seraya berseru yang suaranya didengar oleh seluruh makhluk kecuali jin dan manusia,
“Wahai umat Muhammad, keluarlah kalian menuju Tuhan yang maha mulia, yang
memberikan ganjaran dan mengampuni dosa yang besar. Apabila mereka telah sampai pada
tempat sholat mereka Allah berfirman, “Wahai malaikatku, apakah ganjaran bagi orang
apabila telah selesai dari pekerjaannya?”. Malaikat berkata, “Wahai Tuhan kami, tentu ia
diberikan upahnya”. Allah Azza wa Jalla berkata, “Saksikanlah bahwa Aku memberikan
ganjaran dari puasa dan sholat mereka dengan keridhoan dan ampunan-Ku.” Dan Ia berkata,
“Mintalah dengan kemuliaan-Ku dan keagungan-Ku, tidaklah kalian meminta sesuatu pada
hari ini untuk akhiratmu kecuali Aku berikan untuk kalian, dan tidaklah untuk duniamu
kecuali Aku perlihatkan untuk kalian, pulanglah dengan keampunan untuk kalian, kalian
telah membuat-Ku ridho dan Aku telah ridho pada kalian.” (Hadits dikeluarkan oleh Salamah
bin Syabib dalam kitab keutamaan ramadhan)

Jama’ah shalat Idul Fitri yang berbahagia

Untuk kesekian kalinya, pagi ini kita berkesempatan melaksanakan sholat Idul Fitri di
sini. Hari raya Idul Fitri selalu berulang setiap tahun, tentu selalu ada hikmah dan pelajaran
yang dapat kita ambil darinya. Hari raya ini disebut Idul Fitri adalah karena ia berarti kembali
ke fitrah sebagai manusia, kembali ke asal kejadian manusia, siapa kita dan untuk apa kita
ada.

Manusia ada di muka bumi ini bukan diciptakan begitu saja dan bukan karena
kehendak manusia itu sendiri, bukan pula karena kehendak ibu bapak kita, nyatanya betapa
banyak anak-anak yang tidak dikehendaki kehadiran mereka oleh orang tuanya, begitu lahir
ke dunia ia ditinggalkan dan dibuang begitu saja, atau bahkan sejak dalam kandungan orang
tuanya berusaha untuk menggugurkan kandungannya. Sebaliknya, berapa banyak orang tua
yang begitu ingin mendapatkan anak, namun tak kunjung dikaruniai juga. Jadi yang pertama
harus disadari adalah bahwa kita adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah dan akan
kembali kepada-Nya serta dimintai pertanggung jawaban atas apa yang telah kita kerjakan
selama ini.

Berbahagialah mereka yang telah mengoptimalkan ramadhan dengan ibadah kepada Allah,
dan menyadari bahwa mereka semua akan kembali kepada-Nya dengan membawa amalnya
masing-masing. Manusia yang tidak menghambakan diri dengan beribadah kepada
Penciptanya berarti ia adalah manusia yang tidak menyadari fitrahnya. Maka melalui
ramadhan dan idul fitri setiap tahun, kita selalu diingatkan secara terus menerus agar manusia
sadar dan kembali kepada fitrahnya.
Dengan berkah puasa selama Ramadhan, semoga kita mendapatkan fitrah dan
kesucian laksana bayi yang baru dilahirkan ibunya. Kesucian dan fitrah diri ini, diharapkan
dapat memancarkan aura positif dalam sikap, pikiran, perasaan kita serta melahirkan tindakan
yang bersih dalam berbagai segi kehidupan.

Fitrah adalah suatu potensi yang diberikan oleh Allah kepada setiap manusia sejak
dilahirkan ke muka bumi ini; potensi yang bebas dari segala noda dan dosa, yang dengan
potensi itu manusia beriman kepada Penciptanya dan senantiasa berbuat baik. Rasulullah
bersabda:

Sebagian besar ulama berkeyakinan bahwa seseorang yang meninggal sebelum dia mukallaf
dan aqil baligh maka dia akan masuk syurga dengan sebab fitrahnya yang belum ternodai
oleh kesalahan dan dosa. Demikian pula, kalau kita mampu mempertahankan kondisi fitrah
yang kita peroleh setelah berpuasa di bulan Ramadhan, pada saat kita dipanggil menghadap
Allah ‘Azza wa Jalla, dengan dosa-dosa yang sudah diampuni, kitapun akan sama seperti
bayi yang memperoleh keridhaan dan syurga-Nya. Benarlah sabda Rasululullah SAW bahwa
bagi mereka yang berpuasa ada dua kegembiraan; yaitu kegembiraan ketika idul fitri dan
kegembiraan ketika bertemu dengan Allah di akhirat nanti.

Jama’ah shalat Idul Fitri yang berbahagia

Hari raya Idul Fitri selalu dijadikan momentum oleh kaum muslimin untuk saling
berkunjung, bersilaturrahim, bersalam-salaman dengan orang tua, sanak saudara, paman, bibi,
kakek, nenek, kerabat, handai tolan, tetangga, guru, teman-teman untuk saling meminta maaf
dan memaafkan kesalahan, melupakan segala ganjalan yang kemungkinan ada dalam hati,
merajut kembali tali persaudaraan yang pernah kusut diantara mereka, baik antara kakak dan
adik, atau diantara menantu dan mertua, membangun kembali keharmonisan yang pernah
terusik, mempertebal kembali rasa kebersamaan yang pernah luntur dengan mempererat
silaturrahim.

Silaturrahim bukan sekedar berjabatan tangan atau memohon maaf semata, tetapi
silaturrahim memiliki makna yang lebih hakiki. Silaturrahim memiliki aspek mental dan
keluasan hati sesuai dengan asal kata dari silaturrahim itu sendiri, kata shilah yang berarti
menyambungkan atau menghimpun, dan ar-rahiim yang berarti kasih sayang.

Maka silaturrahim pada saat lebaran ini adalah sarana untuk menyambung kembali
hubungan di antara sanak saudara dan mengeratkannya, menghimpun kembali keterserakan
antara keluarga dan tetangga yang sempat tidak harmonis untuk kembali bersatu dan utuh
dalam suasana yang lebih indah untuk saling mengasihi.

Hidup ini tidak akan merasakan ketenangan dan mendapatkan keberkahan kalau
silaturrahim terputus, karena dengan terputusnya silaturrahim, di dalam hati seseorang
tersimpan kebenciaan dan rasa permusuhan. Apabila dalam suatu lingkungan masyarakat ada
orang-orang yang sudah tidak saling tegur sapa, saling menjauhi, saling membelakangi,
saling menggunjing dan memfitnah, maka rahmat Allah akan semakin jauh dari masyarakat
seperti ini.

Silaturrahim adalah kunci terbukanya rahmat dan pertolongan Allah SWT. Dengan
terhubung dan terpeliharanya silaturrahim, maka ukhuwah Islamiyah akan terjalin dengan
baik. Bagaimana pun besarnya umat Islam secara kuantitatif, sama sekali tidak akan ada
artinya bila di dalamnya tidak ada persatuan yang kokoh dan kerjasama untuk menyelesaikan
permasalahan umat dan bersama-sama menta’ati Allah.

Yang lebih besar dari itu bahwa silaturrahim merupakan tolak ukur dari keimanan seseorang
kepada Allah dan hari akhirat, Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir; hendaklah ia menjalin silaturrahim”.
(HR. Bukhari)

Jama’ah shalat Idul Fitri yang berbahagia

Ketidakpedulian terhadap hubungan kekerabatan akan dapat menimbulkan dampak


negative, karena tali silaturahim lambat laun akan mengalami perenggangan. Pemutusan tali
silaturahim berdampak pada mengikisnya solidaritas, mengundang laknat, menghambat
curahan rahmat dan menumbuhkan suburnya egoisme.

Sering terdengar di tengah masyarakat berbagai kasus putusnya tali silaturrahim


dengan berbagai bentuknya. Terhadap pemutusan silaturrahim ini, Allah SWT bahkan
memperingatkan di dalam Al Quran sebagaimana firman-Nya:

“Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan
memutuskan hubungan silaturrahim? Mereka itulah orang-orang yang dila’nati Allah dan
Allah tulikan telinga mereka dan Allah butakan penglihatan mereka”. (QS. Muhammad: 22-
23).
Di antara kerugian duniawi yang akan menimpa pemutus tali silaturrahim, dia akan terputus
dari kasih sayang Allah, sebagaimana firman-Nya dalam hadits qudsi:

ُ‫ص ْلتُه‬
َ ‫ك َو‬ َ ‫ال هَّللا ُ َم ْن َو‬
ِ َ ‫صل‬ َ َ‫صلَّى هَّللا ُ َعلَ ْي ِه َو َسلَّ َم قَا َل إِ َّن ال َّر ِح َم شَجْ نَةٌ ِم ْن الرَّحْ َم ِن فَق‬ ِ ‫ع َْن أَبِي ه َُر ْي َرةَ َر‬
َ ‫ض َي هَّللا ُ َع ْنهُ ع َْن النَّبِ ِّي‬
ُ‫ك قَطَ ْعتُه‬ِ ‫ َو َم ْن قَطَ َع‬.

Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:
“Sesungguhnya penamaan rahim itu diambil dari (nama Allah) Ar Rahman, lalu Allah
berfirman: Barangsiapa menyambungmu (silaturrahmi) maka Akupun menyambungnya dan
barangsiapa memutuskanmu maka Akupun akan memutuskannya. (HR. Bukhori)

Ganjaran di akhirat bagi pemutus tali silaturrahim lebih mengerikan lagi, yaitu orang yang
memutuskan silaturrahim akan terhalang masuk surga, dari Jubair bin Muth’im bahwa
Rasulullah SAW bersabda:
ِ َ‫الَ يَ ْد ُخ ُل ْال َجنَّةَ ق‬
‫اط ٌع‬

“Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan silaturrahmi”. (HR Bukhari dan Muslim)

Namun sebaliknya, seorang yang senantiasa menjalin silaturrahim dijanjikan oleh Rasulullah
dengan keluasan rezeki dan usia yang panjang dan penuh berkah, sebagaimana sabdanya:

ِ َ‫َم ْن أَ َحبَّ أَ ْن يُ ْب َسطَ لَهُ فِي ِر ْزقِ ِه َويُ ْن َسأ َ لَهُ فِي أَثَ ِر ِه؛ فَ ْلي‬
ُ‫صلْ َر ِح َمه‬

“Barang siapa menginginkan untuk diluaskan rizkinya serta dipanjangkan usianya; hendaklah
ia menjalin silaturrahim”. (HR. Bukhari dan Muslim)

َ ‫ َو هللِ ْا‬.. ْ‫ هللاُ اَ ْكبَر‬.. ْ‫ هللاُ اَ ْكبَر‬.. ْ‫هللاُ اَ ْكبَر‬


‫لح ْم ُد‬

Jama’ah sholat Idul Fitri yang dimuliakan Allah

Fenomena pemutusan tali silaturrahim yang kerap kali kita dengar di tengah masyarakat
terjadi karena beberapa sebab, diantaranya:

Pertama: Hidup Individualis. Sebagian orang lebih suka hidup sendiri-sendiri, tidak memiliki
rasa senasib dan sepenanggungan, tidak lagi suka untuk mengunjungi sanak keluarga dan
tetangganya, tidak peduli dengan kondisi kerabatnya, serta tidak mau membantu menutupi
kebutuhan atau mengatasi penderitaan saudaranya. Hal ini awalnya terjadi karena menunda-
menunda untuk bersilaturrahim kepada mereka, kemudian hal itu terulang terus sampai
akhirnya terputuslah hubungan dengan mereka. Iapun terbiasa dengan hal itu karena
kesibukannya dan menikmati keadaannya yang jauh dari keluarga.

Kedua: Kesombongan. Sebagian orang, jika sudah mendapatkan kedudukan yang tinggi atau
kehidupan yang lebih mapan dari sebelumnya, ia berubah menjadi tinggi hati dan sombong
kepada kerabat dekatnya. Dia menganggap mengunjungi keluarganya yang kurang mampu
bahkan miskin merupakan kehinaan, karena ia memandang, hanya dirinya saja yang lebih
berhak untuk didatangi dan dikunjungi.

Ketiga: Pelit Dan Bakhil. Ada sebagian orang, jika diberi rezeki oleh Allah berupa harta, ia
akan menghindar dan menjauh dari kaum kerabatnya, ia lebih memilih menjauhi mereka dan
memutuskan silaturrahim daripada membukakan pintu buat kaum kerabatnya, menerima
mereka jika bertamu, membantu mereka sesuai dengan kemampuan dan meminta maaf jika
tidak bisa membantu. Padahal, apalah artinya harta jika tidak bisa dirasakan oleh kerabat.
Mudah-mudahan dengan ramadhan yang telah sama-sama kita laksanakan, dapat mengikis
sifat itu semua. Mari dengarkanlah perintah Allah berikut:

ِ ‫ار ِذي ْالقُرْ بَى َو ْال َج‬


‫ار‬ ِ ‫َو ا ْعبُدُوا هَّللا َ َو الَ تُ ْش ِر ُكوْ ا بِ ِه َش ْيئًا َو بِ ْال َوالِ َد ْي ِن إِحْ َسانًا َو بِ ِذي ْالقُرْ بَى َو ْاليَتَا َمى َو ْال َم َسا ِكي ِْن َو ْال َج‬
‫ت أَ ْي َمانُ ُك ْم إِ َّن هَّللا َ الَ يُ ِحبُّ َم ْن َكانَ ُم ْختَاالً فَ ُخوْ رًا‬ ِ ‫ب بِ ْال َج ْن‬
ْ ‫ب َو ا ْب ِن ال َّسبِ ْي ِل َو َما َملَ َك‬ ِ ُ‫ْال ُجن‬
ِ ‫ب َو الصَّا ِح‬

“Sembahlah Allah dan jangan mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, hendaklah
kamu berbuat kepada kedua orang tua, kepada kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang
miskin, tetangga yang dekat, tetangga yang jauh, teman yang jauh, anak jalanan dan budak-
budak yang kalian miliki, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong
lagi berlagak membanggakan diri.” ( Qs. An-Nisa’ : 36 ).
Hadirin Sidang sholat Idul Fitri yang berbahagia

Sebelum khutbah ini kita tutup dengan doa, kiranya sebuah kisah tentang suatu hari di hari
lebaran Rasulullah dapat menjadi bekalan pulang kita di hari Idul fitri ini.

Suatu hari, di saat hari raya seperti ini Rasulullah saw keluar dari rumahnya untuk
melaksanakan shalat idul fitri, saat itu beliau mendapati seorang anak dalam keadaan murung
dan bersedih hati di antara teman-temannya yang sedang asyik bermain, tertawa dan berlari-
lari dengan penuh suka cita.

Rasulullah kemudian menghampiri anak itu, didekapnya dan dielus-elus kepalanya,


Rasulullah lalu bertanya, “Wahai anakku, mengapa engkau bersedih hati di saat teman-
temanmu bersuka ria pada hari ini? Di manakah rumahmu? Dan siapakah orangtuamu?”.

Dengan mata nanar anak kecil itu menjawab, “Ayahku telah meninggal dalam suatu
peperangan bersamamu membela agama Allah, sedang ibuku menikah lagi dan aku tak tahu
di manakah ia kini.”

Mendengar ucapan itu Rasulullah saw mendekap anak itu lebih hangat lagi, lalu berkata,
“Maukah kau menjadikan aku sebagai ayahmu, Aisyah sebagai ibumu, sedang Fathimah dan
Ali sebagai bibi dan pamanmu?” Anak itu mengangguk dan tersenyum.

Lalu Rasulullah membimbing anak itu ke rumahnya dan meminta agar Aisyah
memandikannya dan memberikan pakaian terbaik kepada anak itu. Anak kecil yang tadi
berpakaian dekil dan berwajah muram, seketika berubah menjadi kelihatan bersih dan ceria,
rambutnya tersisir rapih dan memakai pakaian yang bagus. Ia keluar dari rumah Rasulullah
saw sambil berteriak-teriak kepada teman-temannya dengan penuh keceriaan sambil berkata,
“Aku adalah anak paling bahagia hari ini. Rasulullah telah menjadi ayahku, Ibunda Aisyah
menjadi ibuku, sedang Fathimah dan Ali menjadi bibi dan pamanku.”

Sungguh mulia apa yang diajarkan Rosululloh kepada kita yakni untuk senantiasa
membahagian oranglain. Untuk itu marilah kita senantiasa berusaha untuk selalu membantu
dan membahagiakan saudara-saudara kita, walaupun sekecil-kecilnya yang bisa kita lakukan
hanya dengan memberikan senyuman terbaik kita.

Terakhir marilah kita bermunajat kepada Alloh dengan penuh khusyuk dan tawadhuk agar
Alloh senantiasa membimbing kita untuk berjalan dijalan-Nya yang lurus.
‫ك َو َمآلئِ َك ِة ْال ُمقَ َّربِي َْن‬
َ ِ‫ك َو ُر ُسل‬ َ ِ‫آل ُم َح َّم ٍد َو َعلَى اَ ْنبِيآئ‬
ِ ‫صلِّ َعلَى ُم َح َّم ٍد َو َعلَى‬ َ ‫اللهُ َّم‬
‫َّاش ِدي َْن أَبِى بَ ْك ٍر َو ُع َمر َو ُع ْث َمان َو َعلِى َو َع ْن بَقِيَّ ِة‬ ِ ‫ض اللّهُ َّم َع ِن ْال ُخلَفَا ِء الر‬ َ ْ‫َوار‬
‫ض َعنَّا َم َعهُ ْم‬ ٍ ‫َّحابَ ِة َوالتَّابِ ِعي َْن َوتَابِ ِعي التَّابِ ِعي َْن لَهُ ْم ِباِحْ َس‬
َ ْ‫ان اِلَىيَ ْو ِم ال ِّد ْي ِن َوار‬ َ ‫الص‬
ِ ‫ك يَا أَرْ َح َم الر‬
‫َّاح ِمي َْن‬ َ ِ‫بِ َرحْ َمت‬
Ya Allah ya Tuhan kami, kami memohon kepada-Mu dengan cahaya-Mu yang tak pernah
pudar, dengan asma-Mu yang tinggi dan suci, yang bila berdoa kepada-Mu dengannya
Engkau kabulkan, dan bila diminta dengan nama-Mu Engkau beri.

Wahai Allah yang melindungi setiap yang memohon perlindungan.


Wahai Allah yang menolong setiap jeritan para pencari pertolongan.
Wahai Yang menghilangkan derita orang-orang yang kesusahan.
Wahai Yang menggembirakan duka orang-orang yang dalam kedukaan.
Wahai Yang Menciptakan langit dan bumi.
Wahai Yang Memperkenankan doa orang-orang yang sengsara.
Wahai Yang Maha Pengasih dari semua yang kasih.
Wahai Yang Paling Dermawan dari semua yang dermawan.
Wahai Yang Paling Mulia dari semua yang mulia.
Wahai Yang Maha Mendengar dari semua yang mendengar.
Wahai Yang Maha Melihat dari semua yang melihat.
Wahai Yang Maha Kuasa dari semua yang berkuasa.
Wahai Yang Membalas pada hari pembalasan.
Wahai Allah akhir tujuan para pengharap. Wahai Tuhan alam semesta.
Ampunilah dosa-dosa kami yang merubah kenikmatan.
Ampunilah dosa-dosa kami yang mewarisi penyesalan.
Ampunilah dosa-dosa kami yang mendatangkan bencana.
Ampunilah dosa-dosa kami yang menahan terkabulnya doa.
Ampunilah dosa-dosa kami yang menahan turunnya hujan dan rahmat.
Ampunilah dosa-dosa kami yang mempercepat kebinasaan.
Ampunilah dosa-dosa kami yang mendatangkan penderitaan dan musibah.
Ampunilah dosa-dosa kami yang mengelapkan hati dan membutakan nurani.
Ampunilah dosa-dosa kami yang tiada mengampuninya kecuali Engkau, ya Allah.
Ya Allah bantulah saudara-saudara kami yang dalam kesusahan, baik di Indonesia ataupun di
seberang bumi sana, di Somalia, bantulah saudara kami di Palestina dan negara-nega muslim
lainnya.
Ya Allah, tanamkanlah pada jiwa-jiwa kami kelembutan hati untuk memaafkan.
Ya Allah jadikanlah kami orang-orang yang kembali kepada fitrah yang suci untuk menjadi
hamba-Mu yang selalu taat setelah ramadhan ini.
Ya Allah jadikanlah kami orang-orang yang mampu bersyukur atas segala karunia-Mu
kepada kami, jangan Engkau jadikan kami orang-orang yang kufur atas nikmat-Mu.
Ya Allah ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa orang tua kami, baik yang masih hidup
ataupun kini sudah berada di alam kubur.
Ya Allah ampuni dosa-dosa orang yang kami cintai dan mereka mencintai kami karena-Mu,
dan kumpulkanlah kami di dalam surga-Mu.
Ya Allah jadikanlah keturunan kami, anak-anak kami anak yang sholih dan sholihah,
penyejuk mata kami, jadikanlah mereka keturunan yang senantiasa mendirikan sholat.
Ya Allah jadikanlah negeri kami negeri yang, aman, adil dan makmur yang selalu berada
dalam lindungan dan rahmat-Mu.
Ya Allah sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik penolong dan pengabul doa.

‫ َوقِيَا َمنَا‬œ‫صيَا َمنَا‬ ِ ‫ اَللَّهُ َّم تَقَبَّلْ ِمنَّا ُدعَائَنَا َو‬، َ‫ لَنَ ُكوْ نَنَّا ِمنَ ْالخَا ِس ِر ْين‬œ‫َربَّنَا ظَلَ ْمنَا أَ ْنفُ َسنَا َواِ ْن لَ ْم تَ ْغفِرْ لَنَا َوتَرْ َح ْمنَا‬
ِ ‫ اَللَّهُ َّم اَ ْنتَ ال َّس ِم ْي ُع ْال َعلِ ْي ُم َوتُبْ َعلَ ْينَا اِنَّكَ اَ ْنتَ التَّوَّابُ الر‬،‫َو ُر ُكوْ َعنَا َو ُسجُوْ َدنَا‬
‫َّح ْي ُم‬

َ‫َربَّنَا الَ تُؤَا ِخ ْذنَا اِ ْن نَّ ِس ْينَآ اَوْ اَ ْخطَأْنَا َربَّنَا َوالَ تَحْ ِملْ َعلَ ْينَآ اِصْ رًا َك َما َح َم ْلتَهُ َعلَى الَّ ِذ ْينَ ِم ْن قَ ْبلِنَا َربَّنَا َوال‬
َ‫ َعلَى ْالقَوْ ِم ْال َكاِفِ ِر ْين‬œ‫تُ َح ِّم ْلنَا َماالَ طَاقَةَ لَنَا بِ ِه َواعْفُ َعنَّا َوا ْغفِرْ لَنَا َوارْ َح ْمنَا اَ ْنتَ َموْ الَنَا فَا ْنصُرْ نَا‬

ِ َ‫ك َربِّ ْال ِع َّز ِة َع َّما ي‬


‫صفُوْ نَ َو َسالَ ٌم‬ َ ِّ‫ َو ُسب َْحانَ َرب‬،‫ار‬ ِ َّ‫اب الن‬ َ ‫َربَّنَا آتِنَا فِي ال ُّد ْنيَا َح َسنَةً َوفِي ْاآل ِخ َر ِة َح َسنَةً َوقِنَا َع َذ‬
َ‫َعلَى ْال ُمرْ َسلِ ْينَ َو ْال َح ْم ُد هللِ َربِّ ْال َعالَ ِم ْين‬

‫ِعبَا َدهللاِ ! إِ َّن هللاَ يَأْ ُم ُرنَا بِاْل َع ْد ِل َو ْا ِإلحْ َسا ِن َوإِيْتآ ِء ِذي ْالقُرْ ب َى َويَ ْنهَى َع ِن ْالفَحْ شآ ِء َو ْال ُم ْن َك ِر‬
‫َو ْالبَ ْغي يَ ِعظُ ُك ْم لَ َعلَّ ُك ْم تَ َذ َّكرُوْ نَ َو ْاذ ُكرُوا هللاَ ْال َع ِظ ْي َم يَ ْذ ُكرْ ُك ْم َوا ْش ُكرُوْ هُ عَل َى نِ َع ِم ِه يَ ِز ْد ُك ْم َولَ ِذ ْك ُر‬
ْ‫هللاِ أَ ْكبَر‬

‫ والسالم عليكم ورحمة هللا وبركاته‬، ‫هللاُ أَ ْكبَرْ هللاُ أَ ْكبَرْ هللاُ أَ ْكبَرْ َوهللِ ْال َح ْم ُد‬