Anda di halaman 1dari 13

I SUSUN OLEH KELOMPOK 7

1. MUH. ARIF (R1C115067)


2. VIKRAM NOVRIAL (R1C115095)
3. MARTONO (R1C115043)
4. ZAEMBARA MATOMBOI
5. MUHAMMAD IDUL SAPUTRA (R1C115061)
6. KHALIFAH AKBAR (R1C115051)
7. ABDUL JALIL (R1C115001)

KENDARI

2015
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.


Segala puji bagi Allah yang masih memberikan kesehatan dan kesempatan
kepada kita semua, terutama kepada penulis. Sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah ini. Berikut ini, penulis persembahkan sebuah makalah
yang berjudul, “Akhlak dan Tasawuf”.
 Penulis mengharapkan makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca
semua, terutama bagi penulis sendiri. Kepada pembaca yang budiman, jika
terdapat kekurangan atau kekeliruan dalam makalah ini, penulis mohon maaf,
karena penulis sendiri dalam tahap belajar. Dengan demikian, tak lupa penulis
ucapkan terimakasih, kepada para pembaca. Semoga Allah memberkahi makalah
ini sehingga benar-benar bermanfaat.

                                                                                                                                                                 

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang

Di Indonesia, kini thoriqoh menjadi pembahasan yang banyak diminati


oleh kalangan pemuda, mereka menyadari bahwa thoriqoh adalah bermakna jalan,
tata cara, yang benar-benar sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Nabi
Muhammad, karena setiap mursyid dalam thoriqoh merupakan murid dari
mursyid yang runtutan keilmuannya jelas sampai pada Rasulullah dengan
dibuktikan bahwa silsilah keilmuannya jelas tertulis dan dapat diketahui oleh
semua orang bahkan mursyid pun hafal silsilah keilmuannya.

Hal yang dasar pemuda di Indonesia semakin banyak yang tertarik


berthoriqoh dan melakukan suluk (asal kata dari salaka) demi mendalami ajaran
tasawuf yang ada pada setiap thoriqoh. Jika membahas masalah tasawuf agar lebih
mudah dalam menafsirinya bisa ditari kesimpulan sederhana, tasawuf itu jika kita
memakai baju dengan thoriqoh yang diajarkan Rosulullah maka kita telah
bertasawuf jika kita makan sesuai thoriqoh yang diajarkan Rasulullah, maka kita
telah bertasawuf. Semua tata cara atau thoriqoh tersebut akan diajarkan dengan
perilaku oleh sang mursyid, bagaimana menjalani kehidupan di dunia agar bisa
mencapai hakikat kehidupan yaitu semua akan kembali kepada Allah, dan hakikat
diciptakannya manusia agar saat kembali nanti benar-benar sampai bertemu
dengan Allah, yaitu hakikat manusia adalah untuk beribadah dalam segala aspek
kehidupan.

Indonesia termasuk salah satu wilayah di belahan dunia yang memiliki


beberapa kepercayaan dan agama yang dianut oleh warga negaranya salah satunya
agama yang diyakini oleh mayoritas masyarakatnya ialah agama Islam. Diantara
banyaknya ajaran-ajaran yang terdapat di dalam agama Islam antara lain
membahas mengenai akhlak seperti Akhlak Tasawuf. 
Akhlak tasawuf juga termasuk khazanah intelektual Muslim yang
kehadirannya hingga saat ini semakin dirasakan dan dibutuhkan. Secara historis
dan teologis Akhlak Tasawuf tampil mengawal dan memandu perjalanan hidup
umat agar selamat dunia dan akherat. Sebagaimana tujuan utama Rasulullah saw.
diutus ke bumi adalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Itulah yang
menjadi faktor keberhasilan Beliau dalam berdakwah menyebarkan agama Islam. 

Semua manusia ciptaan Allah hendaklah memiliki akhlak mulia seperti


yang telah dicontohkan oleh nabi Muhammad saw. Adapun pada zaman modern
layaknya sekarang, kita dihadapkan berbagai masalah terutama masalah akhlak
dan moral yang cukup serius, yang apabila dibiarkan dan tak ada yang peduli
maka akan menghancurkan  masa depan bangsa. 

Maraknya kejahatan dan perbuatan yang menyimpang dari aturan agama


telah kita lihat, dengarkan dan juga dirasakan oleh semua orang, membuat
pentingnya mengkaji dan mempelajari Akhlak Tasawuf pada kehidupan saat ini.
Bukan hanya dengan uang, ilmu pengetahuan dan teknologi saja, tetapi harus
dibarengi dengan penanganan di bidang akhlak mulia dan mental spritual.

B. Rumusan Masalah

1. Apakah pengertian dari Akhlak dan Tasawuf ?


2. Apa sajakah klasifikasi dan ruang lingkup dalam ajaran ilmu Akhlak dan
Tasawuf?.
3. Bagaimanakah manfaat mempelajari Akhlak Tasawuf dalam kehidupan
sehari-hari ?

C. Tujuan Penulisan

1. Untuk mengetahui pengertian dari pada ilmu Akhlak dan Tasawuf


2. Untuk mengetahui klasifikasi-klasifikasi dan ruang lingkup yang termasuk
dalam ajaran ilmu Akhlak dan Tasawuf.
3. Untuk mengetahui manfaat mempelajari Akhlak Tasawuf dalam
kehidupan sehari-hari.

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian

1.  Ilmu Akhlak
Secara etimologi, kata akhlak berasal dari bahasa Arab yakni isim mashdar
dari kata akhlaqa, yukhliqu, ikhlaqan/ akhlaqan yang berarti kelakuan, tabi’at, dan
watak dasar. Kata akhlaq (‫ )أخالق‬itu sendiri berasal dari bentuk jama’ sedangkan
mufradnya adalah khuluq (‫ )خالق‬berarti budi pekerti. Kata akhlak itupun banyak
ditemukan dalam ayat-ayat Al Qur’an maupun al-Hadits seperti :
)137 : ‫ان هذا االّ خلق االوّلين (الشعراء‬
Artinya : (Agama kami) tidak lain hanyalah adat kebiasaan yang dahulu.
(QS. As-Syu’ara : 137)
)‫اكمل المؤمنين ايمانا احسنهم خلقا (رواه الترمذى‬
Artinya : Orang mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah orang yang
sempurna budi pekertinya. (HR. At-Tirmidzi)
ٌ ‫ُخ ْل‬
Adapun menurut Kamus Arab-Indonesia Al Azhar karangan S. Askar, kata ‫ق و‬
ٌ ُ‫ ُخل‬ berarti perangai, tabi’at, akhlak, adat, beradab baik. Sementara itu,
‫ق ج أخالق‬
akhlak menurut istilah ada beberapa ahli yang berpendapat mengenai ini
diantaranya sebagai berikut :

 Ibnu Maskawih (w. 421 H/1030 M) adalah seorang yang ahli dibidang
akhlak terkemuka dan terdahulu mengatakan bahwa akhlak ialah sifat yang
tertanam dalam jiwa yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan
tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.  Ibn Miskawih, Tahzib
al-Akhlaq wa Tathhir al-A’raq, (Mesir: al- Mathba’ah al-Mishriyah,
1934), cet. I, hlm.40
 Imam al-Ghazali (1059-1111 M) dikenal sebagai Hujjatul Islam (Pembela
Islam) terutama membela Islam dari berbagai paham yang menyesatkan,
mengatakan secara lebih luas arti akhlak adalah sifat yang tertanam dalam
jiwa yang menimbulkan macam-macam perbuatan dengan gampang dan
mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.
 Ibrahim Anis dalam Mu’jam al-Wasith mengatakan bahwa akhlak yaitu
sifat yang tertanam dalam jiwa, yang dengannya lahirlah macam-macam
perbuatan, baik atau buruk, tanpa membutuhkan pemikiran dan
pertimbangan.
 Dari kitab Dairatul Ma’arif, secara singkat akhlak diartikan sifat-sifat
manusia yang terdidik.

Dari beberapa pendapat para ahli mengenai arti kata Akhlak menurut
istilah memiliki beberapa kemiripan dan saling melengkapi satu sama lainnya
sehingga dapat diklasifikasi lagi menjadi beberapa kelompok sebagai berikut :

 Berdasarkan inti yang tertanam dari dalam diri yakni hati seseorang,
seperti kesamaan pendapat dari Ibnu Maskawih dan Imam al-Ghazali serta
Ibrahim Anis. Karena menurut mereka, akhlak itu timbul dari dalam hati
seseorang sendiri tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan yang
lebih dalam sebelum berprilaku.
 Berdasarkan arti akhlak yang berupa perbuatan seseorang, seperti
kesamaan yang disebutkan oleh Imam al-Ghazali dengan Ibrahim Anis.
Karena mereka berdua sama-sama menitikberatkan kepada perbuatan,
entah itu baik maupun buruk. Karena Akhlak ibarat sebuah produk yang
menghasilkan barang atau jasa seperti macam-macam perbuatan manusia.

Dalam perkembangan selanjutnya, akhlak tumbuh menjadi sebuah ilmu


yang berdiri sendiri. Da’iratul Ma’arif, yang dimaksud dengan Ilmu Akhlak
adalah Ilmu tentang keutamaan-keutamaan dan cara mengikutinya dan tentang
keburukan dan cara menghindarinya hingga jiwa kosong dari segala kebathilan
tersebut. Imam al-Ghazali, Ihya’Ulum al-Din, Jilid III, (Beirut: Dar al-Fikr,t.t.),
hlm.56. Ibrahim Anis, al-Mu’jam al-Wasith, (Mesir: Dar al-Ma’arif, 1972), hlm.
202. Setelah berdasarkan pengertian akhlak secara bahasa dan istilah menurut
beberapa ahli, penulis menyimpulkan sendiri pengertian akhlak ialah suatu hal
yang sudah tertanam di dalam hati setiap insan tanpa harus dipikirkan dan
direncanakan terlebih dahulu dalam melakukan perbuatannya, entah itu perbuatan
baik maupun buruk. Sekarang tergantung kita mau mengikuti hawa nafsu belaka
atau mengikuti perbuatan sesuai aturan agama Islam.

2.     Tasawuf
Secara etimologi, kata tasawuf (‫ )التصوف‬berasal dari bahasa arab.
Pertama, dari kata Shuf artinya bulu domba. Dulu orang-orang sufi (pakar
tasawuf) biasanya memakai pakaian dari bulu domba yang kasar sebagai lambang
kesederhanaan dan kesucian. Kedua, dari Ahl Al-Suffah berarti orang-orang yang
ikut hijrah dengan Nabi dari Mekkah ke Madinah dan meninggalkan harta, rumah,
dan tidak membawa apa-apa. Karenanya mereka tinggal di serambi masjid dengan
tidur diatas batu dengan memakai pelana dan pelana itupun disebut Suffah.
Ketiga, dari kata Shafi atau Sufi yang berarti suci. Orang-orang ahli tasawuf
adalah orang-orang yang mensucikan dirinya dari hal-hal yang berbau
keduniawian. Keempat, dari kata Sophia atau Sophos yang berasal dari bahasa
Yunani, berarti hikmat atau hikmah atau filsafat. Kelima, dari Saf  berarti barisan.
Karena pada saat itu orang-orang sufi sering melaksanakan shalat di barisan
pertama karena ingin mendapatkan kemuliaan yang lebih utama.

 Sedangkan menurut istilah, ada beberapa pakar ahli tasawuf yang


mengutarakan pendapatnya mengenai ini seperti :Ma’ruf al-Kurhi, tasawuf
ialah berpegang pada apa yang hakiki dan menjauhi sifat tamak terhadap
apa yang ada di tangan manusia.
 Ahmad al-Jariri, tasawuf adalah masuk kedalam setiap akhlak yang tinggi
(mulia) dan keluar dari setiap akhlak yang rendah (tercela).
 Dzu al-Nun al-Mishri bahwa tasawuf adalah usaha mengalahkan segala-
galanya untuk memilih Allah, sehingga Allah pun akan memilih seorang
shufi dan mengalahkan segala sesuatu.
 Abu Yazid al-Bustami, tasawuf sama dengan sifat al-Haqqi.

Dari pengertian tasawuf secara istilah maupun bahasa dapat


di kelompokkan menjadi beberapa kesamaan dan juga perbedaan alasan pendapat
para ahli seperti :

a.       Berdasarkan objek kajian dari tasawuf


Pendapat dari Ma’ruf al-Kurhi dan Ahmad al-Jariri, sama-sama
mendefinisikan tasawuf dari segi perbuatan ataupun akhlak seseorang. Karena
menurut mereka tasawuf itu berkaitan erat dengan akhlak seseorang dan akhlak
yang mulia serta meninggalkan akhlak tercela.

b.      Berdasarkan sifat-sifat Allah


Pendapat Abu Yazid al-Bustami sangat berbeda dari pendapat-pendapat
para ahli yang lainnya karena Beliau mendefinisikan tasawuf dengan sifat Allah.
Karena menurutnya, orang sufi atau yang telah sangat dekat dengan Allah maka
sifat Allah akan dikenakan oleh hamba-Nya.
Dapat disimpulkan dari beberapa ahli bahwa tasawuf menurut istilah
adalah sarana untuk memperbaiki akhlak manusia agar jiwanya menjadi suci,
sekaligus sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah sedekat-dekatnya.
Adapun menurut penulis, yang dimaksud dengan tasawuf adalah suatu kajian ilmu
Islam yang membahas mengenai cara mendekatkan diri kepada Allah dengan
sebenarnya-benarnya (kaffah) dan juga untuk memperbaiki dan memperindah diri
dengan akhlak yang bersumber dari ajaran agama Islam yang sesuai aturan Allah.

B. Ruang Lingkup Akhlaq

Ruang lingkup akhlaq mencapai hal-hal sebagai berikut :


1) Pola hubungan manusia dengan Allah seperti mentauhidkan Allah dan
menghindari syirik, beriman dan bertakwa, dan lain-lain.
2) Pola hubungan manusia dengan nabi Muhammad SAW seperti menegakkan
sunnahnya, membacakan shalawat, dan lain-lain.
3) Pola hubugan manusia dengan dirinya sendiri, misal seperti tidak
mengumbar nafsunya dan menjauhkan diri dari perbuatan maksiat.
4) Pola hubungan dengan keluarga, seperti berbakti kepada kedua orang tua.
5) Pola hubungan dengan masyarakat, misalnya dengan menegakkan keadilan,
menjunjung tingggi musyawarah, dan lain-lain.

C. Akhlaq, Moral, dan Etika


Menurut pandangan Islam, kriteria moral yang benar adalah :
1) Memandang martabat manusia.
2) Mendekatkan manusia dengan Allah.

D. Asal-usul Tasawuf
Faktor pendukung manusia memasuki dunia tasawuf adalah :
1) Gaya hidup mewah di kalangan para pemangku jabatan pasca Nabi dan
khulafau Rasydin di suatu pihak.
2) Sebagai reaksi atas paham Khawarij dan pertentangan-pertentangan yang
di timbulkannya di pihak lain.

E. Tasawuf dalam Al-Qur’an


Zudh, Ma’rifah, dan Mahabbah sebagai maqam utama
Maqam adalah tingkatan-tingkatan yang harus di lalui oleh calon sufi. Zudh
adalah maqam utama dalam dunia tasawuf. Ma’rifah dan Mahabbah kadang-
kadang disebut maqam yang setara Zudh. Dan Zudh adalah keadaan
meninggalkan dunia dan kehidupan material. Namun sebelum menjadi sufi
seorang calon terlebih dahulu harus menjadi zahid. Jadi, setiap sufi adalah
zahid, sedangkan tidak setiap zahid adalah sufi.

F. Maqam-maqam ( tangga-tangga ) menuju Allah


Maqam-maqam atau tangga-tangga lain yaitu :
1) Taubat, yang di maksud oleh tasawuf adalah sebenar-benarnya taubat yaitu
taubatan nasuha.
2) Wara’, yaitu menjauhi segala perbuatan yang di larang oleh syara dan
menjauhi subhat.
3) Faqir, adalah tidak meminta lebih dari apa-apa yang telah ada pada
dirinya.
4) Sabar, maksudnya sabar dalam melaksanakan segala perintah Allah dan
menjauhi segala larangan-Nya
5) Tawakal, yaitu menyerah kepada qadha’ dan keputusan Allah, beramal
karena Allah, bersyukur atas pemberian Allah, bersabar jika tidak
mandapat apa-apa, dan menyerah kepada qadha’ dan qadhar Allah.
6) Ridha, adalah keadaan rela dalam berbagai situasi : baik maupun buruk,
dan menyenangkan atau menyusahkan.

G. Manfaat Mempelajari Akhlak Dan Tasawuf

1. Dengan mempelajari akhlak tasawuf kita dapat menghindari kajian akhlak


yang hanya berada pada tataran pemikiran dan wacana yang tentu akan
jauh untuk dapat memberikan kesan tersendiri pada mahasiswa terutama
untuk memiliki akhlak mulia.
2. Dengan mengkaji akhlak tasawuf berguna untuk membatasi kajian salah
satu aspek dalam dunia tasawuf yakni tasawuf akhlaki, yang berarti
menitikberatkan pada akhlaki saja, bukan kepada tasawuf falsafi maupun
amali.
3. Dan yang terpenting dari mempelajari akhlak tasawuf adalah cara
membersihkan diri dari sifat tercela, menghiasi diri dengan akhlak mulia
dan cara mendekatkan diri kepada Allah dengan sebenar-benarnya dan
sebaik-baiknya.

BAB III

PENUTUP
A. KESIMPULAN

Berdasarkan dari yang telah dibahas pada bab-bab sebelumnya, dapat


disimpulkan bahwa Akhlak Tasawuf berasal dari dua kata pembagian yakni
Akhlak dan Tasawuf. Adapun pengertian akhlak secara umum yakni suatu hal
yang telah tertanam di hati entah itu bernilai baik maupun buruk sekalipun karena
akhlak timbul tanpa perlu dipikirkan dan dipaksa terlebih dahulu. Sedangkan yang
disebut Tasawuf ialah suatu cara dalam proses untuk mendekatkan diri kepada
Allah dengan sebenar-benarnya dan sebaik-baiknya. Jadi, dapat ditarik benang
merah yakni pengertian Akhlak Tasawuf ialah salah satu disiplin ilmu yang
terdapat dalam ajaran agama Islam yang mempelajari tata cara berprilaku yang
baik dan mulia serta tentunya sesuai aturan Islam sehingga kita bisa mendekatkan
diri kita kepada Allah dengan sepenuhnya dan memiliki rasa tenang saat berada di
dekat-Nya. Akhlak Tasawuf memiliki kaitan yang sangat erat dalam kehidupan
sehari-hari yakni untuk mencapai akhlak yang mulia diperlukan proses-proses
yang biasanya dilakukan oleh pengamal tasawuf. Begitupun sebaliknya, belum
dikatakan bertasawuf dengan benar apabila pencapaian akhlak yang mulia belum
terpenuhi. Didalamnya juga terdapat ruang lingkup akhlak, sumber kajian
tasawuf, dan manfaat mempelajari Akhlak Tasawuf.

Kajian tentang akhlak merupakan kajian yang sangat penting, karena jatuh
bangunnya suatu bangsa ataupun masyarakat tergantung pada bagaimana akhlak
manusia. Seseorang yang berakhlak mulia akan memenuhi kewajiban terhadap
dirinya, memberikan hak kepada yang berhak, dia akan melakukan kewajibannya
terhadap Tuhannya, terhadap sesama manusia, dan terhadap alam lingkungannya.
Oleh karena itu, secara tidak langsung akhlak yang mulia dapat mewujudkan
kehidupan yang sejahtera dan harmonis di dunia ini, dan menjadi kunci
kebahagiaan abadi di akhirat kelak.

DAFTAR PUSTAKA

Ilyas, Yunahar. Kuliah Akhlak, Yogyakarta, LPPI UMI. 1999.


Djatnika, Rakhmat. Sistem Etika Islam (Akhlak Mulia), Jakarta, Pustaka Panjimas.
1992.
Nata, Abuddin. Akhlak Tasawuf, Jakarta, RajaGrafindo Persada. 2010
Syihab, Quraish. Wawasan Ai-Qur’an, Bandung, Mizan.
Abuddin Nata. 2012. Akhlak Tasawuf. Jakarta: Rajawali Pers
Khoiri, Alwan, dkk. 2005. Akhlaq / Tasawuf. Yogyakarta : Pokja Akademik UIN
Sunan Kalijaga
Toriquddin, Moh. 2008. Sekularitas Tasawuf Membumikan Tasawuf dalam Dunia
Modern. Malang : UIN-Malang Press
Gunawan, 2010. Akhlak Tasawuf.