Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM FORMULASI DAN TEKNOLOGI SEDIAAN I

MODUL I

KURVA LAJU PENGERINGAN

Disusun oleh

Nama : Fathia Faizana R.

NIM : K100180236

Kelas : S2

Korektor : Fatah Ramdhan

LABORATORIUM TEKNOLOGI DAN FORMULASI

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

2020
MODUL I

KURVA LAJU PENGERINGAN

A. TUJUAN
Untuk mengetahui proses perubahan kandungan air di dalam granul
akibat perlakuan panas selama proses pengeringan.
B. DASAR TEORI
Tiga metode utama untuk memproduksi butiran farmasi adalah granulasi
geser rendah, granulasi geser tinggi, dan fluid bed granulation. Mixer geser
rendah mencakup mesin seperti mixer Z-blade dan mixer planet, yang, seperti
namanya, memberikan tekanan geser yang relatif rendah ke butiran. Banyak
digunakan di masa lalu, pendekatan ini sebagian besar telah digantikan oleh
mixer geser tinggi. Tingkat geser yang rendah sering tidak mencukupi untuk
memastikan pencampuran bubuk yang baik, sehingga diperlukan premiks.
Proses ini memaafkan dalam hal jumlah cairan yang ditambahkan, meskipun itu
menghasilkan waktu granulasi yang lama. Tingkat pelebaran granul cenderung
tidak terkendali karena tidak cukup geser untuk memecah gumpalan plastik,
sehingga tahap penyaringan basah hampir selalu diperlukan sebelum
pengeringan untuk mengurangi aglomerat yang lebih besar.
(Gibson, 2009)
Pengeringan adalah proses menghilangkan cairan dari suatu bahan
dengan menggunakan panas. Hal ini akan tercapai dengan memindahkan cairan
dari permukaan granul kedalam suatu fase uap yang tidak jenuh. Pengeringan
dalam pabrik farmasi merupakan suatu unit proses dalam pembuatan granul dan
kemudian dicampur dan dicetak menjadi tablet atau kapsul. Dalam melakukan
proses pengeringan terhadap granul yang sudah diproduksi, terdapat
penggolongan terkait dengan alat pengeringnya. Penggolongan ini didasarkan
atas: a. Pemindahan panas (kontak langsung dan tidak langsung). b. Penanganan
solid (pengering lapis statis, pengering lapisan bergerak, pengering lapis
mengalir, dan lain sebagainya).
(Murtini, 2018)
Kurva laju pengeringan umum memiliki tiga fase utama: fase
pengeringan awal, fase di mana laju pengeringan terutama konstan, dan fase
akhir di mana laju pengeringan menurun (fase laju jatuh). Selama fase utama,
penghilangan uap air dari tetesan berada pada laju hampir konstan yang
mewakili laju tertinggi yang dicapai selama sejarah penguapan. Laju penguapan
yang konstan ini menghasilkan suhu permukaan tetesan yang hampir konstan
dengan suhu bola basah yang mewakili suhu tetesan. Selama fase ini, sebagian
besar kelembaban tetesan dihilangkan. Permukaan tetesan dipertahankan pada
saturasi oleh migrasi kelembaban dari dalam tetesan ke permukaan. Sebaliknya,
selama fase laju jatuh, laju migrasi kelembaban terbatas pada laju pengeringan
yang menyebabkan penurunan laju pengeringan keseluruhan. Kadar air
permukaan tidak lagi dipertahankan dan suhu tetesan naik.
(Parikh, 2010)

C. ALAT DAN BAHAN


1. Alat 2. Bahan
 Piring petri 6 buah  Laktosa 120 g
 Almari pengering  Amilum manihot 120 g
 Mucilage amilum 7,5% qs

D. CARA KERJA
Ditimbang piring petri dengan tutupnya

Ditimbang laktosa dan amilum manihot 120,0 g dan dimasukkan ke wadah dan
dicampur homogen (+/-5 menit)

Dibuat mucilago amilum 7,5% sebanyak 100,0 mL dan ditambahkan pada


campuran laktosa dan amilum sedikit demi sedikit sebanyak 30,0 mL. Dicampur
homogen hingga terbentuk massa granul, kemudian diayak dengan pengayak
no.12. dicatat volume mucilago amilum yang digunakan.

Ditimbang granul basah 25,0 g sebanyak 6 kali dan dimasukkan ke masing-


masing piring petri.

Dimasukkan piring petri ke almari pengering dan dikeringkan dengan 60˚C


selama 15, 30 , 60, 90, 120 menit, sehari dan 3 hari.

Dikeluarkan piring petri dan ditimbang berat granul setelah dingin.

Dibiarkan satu piring petri dalam almari pengering dan lanjutkan pengeringan
sampai 3 hari.

Ditimbang berat granul setelah pengeringan 3 hari (bobot konstan) dan catat
sebagai berat granul kering.

E. ANALISIS CARA KERJA


Langkah pertama yang dilakukan pada praktikum kali ini adalah
menimbang 6 cawan petri kosong. Hal ini bertujuan untuk menyamakan jumlah
sampel yang ditambahkan. Lalu dibuat larutan mucilago amilum sebanyak 50,0
mL dengan pengambiilan 3,75 g mucilago amilum. Pembuatan mucilago amilum
ini dibantu dengan pemanasan. Mucilago amilum kemudian ditambahkan ke
laktosa dan amilum manihot sedikit demi sedikit sebanyak 41,0 mL untuk
membentuk massa granul yang baik. Pengujian massa granul dapat dilakukan
dengan uji banana breaking.
Massa granul kemudian di ayak dengan pengayak no.12 yang bertujuan
untuk menyamakan bentuk dan ukuran partikel sehingga tidak terjadi hasil yang
bias pada pengeringan. 250,0 g granul dimasukkan ke masing-masing cawan
petri dan dikeringkan dengan waktu yang telah ditentukan. Beberapa batasan
yang perlu diperhatikan pada percobaan adalah diameter petri yang digunakan
harus sama besar, berat granul yang dimsukkan harus sama, dan tebal granul
pada setiap petri harus sama. Hal ini merupaka variabel terkontrol yang
berfungsi untuk menetralkan pengaruhnya terhadap variabel tergantung, yaitu
kadar air dalam selang waktu tertentu. Waktu pengeringan tiga hari dianggap
sebagai berat konstan. Kandungan air masing-masing granul kemudian dicari
dengan perhitungan persen bobot kering granul (%MC).
FORM HASIL PRAKTIKUM MODUL I
KURVA LAJU PENGERINGAN
A. PENIMBANGAN
BAHAN

Laktosa :
100 g
Amilum manihot : Catatan penimbangan :
100 g (-)
Lama pencampuran : 28
menit
Pembuatan mucilago
amilum 7,5 %:
Amilum : Volume mucilago amilum 7,5 % yang ditambahkan dalam
3,75 g pembuatan granulatum simpleks adalah 41 ml
Air : ad
50 ml

B. DATA HASIL PERCOBAAN


Waktu Pengeringan Pada Suhu 60 C o

Penimbangan
10’ 20’ 30’ 40’ 60’ 1 hari 3 hari
Berat piring petri kosong
(wadah + tutup) (g)
87,25 82,34 73,48 72,53 85,39 79,23 79,23
Berat piring petri + granul
basah (g)
112,95 108,21 99,47 98,30 111,38 105,60 105,60
Berat piring petri + berat
granul setelah pengeringan 112,83 107,91 98,57 97,35 109,82 103,5 102,38
(g)
Berat granul basah (g) 25,7 25,87 25,99 25,77 25,99 26,37 26,37
Berat granul setelah
pengeringan (g)
25,58 25,57 25,09 24,83 24,43 24,27 23,15

Moisture content (MC) (%) 10,50 10,45 8,38 7,26 5,53 4,84 0
Pengukuran dengan Moisture Balance :
% MC hari ke 1 = 1,9 %
% MC hari ke 3 = 0,80 %

Mengetahui,
Surakarta, 19 Mei 2020
Supervisor (Asisten jaga) Kepala Pengawasan Mutu (Dosen jaga)

................................. ......................................
F. PERHITUNGAN

PERHITUNGAN MODUL 1

1. Moisture Content (%MC)


( ) () ( ) ()
( ) ()

t = 10 menit t = 40 menit

t = 60 menit
t = 20 menit

t = 1 hari
t = 30 menit

t = 3 hari

2. Laju Pengeringan

( )

t = 10 menit t = 40 menit

t = 20 menit t = 60 menit
t = 30 menit t = 1 hari

t = 3 hari

Kurva waktu pengeringan vs MC


12

10

6
%MC
4

0
10’ 20’ 30’ 40’ 60’ 1 hari 3 hari
G. PEMBAHASAN

Pada praktikum kali ini bertujuan untuk mengetahui proses perubahan


kandungan air dalam granul akibat perlakuan panas selama pengeringan.
Pengeringan adalah proses penghilangan zat volatil yang terkandung dalam solid
dengan pemanasan. Zat volatil yang dimaksud dalam praktik ini adalah air.
Proses pengeringan yang dilakukan pada praktik ini dilakukan setelah
penambahan zat pengikat.

Pengeringan dilakukan pada suhu 60˚C, hal ini dilakukan untuk


mencegah terjadinya degradasi zat aktif. Metode yang digunakan untuk
mengukur kadar air granul adalah metode gravimetri, dimana prinsipnya berupa
analisis kuantitatif berdasarkan penimbangan bobot konstan (tetap). Bobot tetap
adalah berat pada penimbangan setelah zat dikeringkan selama satu jam tidak
berbeda lebih dari 0,5 mg dari berat zat pada penimbangan sebelumnya, namun
pada praktik kali ini pengeringan selama tiga hari dianggap sebagai bobot tetap.

Pada proses pengeringan, terdapat lima tahap yang terjadi; yang pertama
adalah tahap penyesuaian awal. Pada tahap ini terjadi kenaikan temperatur solid
karena adanya penyerapan panas dan pada saat yang sama ada uap yang lepas
sehingga temperatur granul turun lagi. Tahap kedua adalah tahap laju konstan,
tahap ini terjadi keseimbangan antara hilangnya lapisan film di permukaan
karena penguapan dengan kecepatan difusi air dari dalam kepermukaan solid.

Tahap ketiga adalah tahap penurunan laju pertama, pada akhir periode ini
lapisan tipis air yang ada di permukaan telah hilang, dan kecepatan pengeringan
tergantung pada difusi air ke permukaan solid. Tahap keempat adalah tahap
penurunan laju kedua, dimana kecepatan penurunan laju pengeringan lebih tajam
dibanding dengan fase penurunan laju pertama. Dan tahap kelima adalah tahap
kandungan lembab seimbang dimana kecepatan pengeringan sama dengan nol.

Pada grafik praktik kali ini, dapat dilihat bahwa tahap empat merupakan
tahap terpanjang dan tahap kedua adalah tahap yang pendek. Hal ini
menunjukkan drying behaviour-nya berupa amorf. Pada amorf, air sulit berdifusi
karena hambatan molekul. Sehingga pengeringan sebaiknya dilakukan pada
suhu yang rendah dengan pengurangan tekanan.

Dalam kefarmasian, pengeringan bertujuan untuk :

 Melindungi obat dari pengaruh mikroorganisme (m.o)

 Melindungi obat dari pengaruh degradasi

 Menaikan sifat alir (flowabilitas)

 Memudahkan pulverisari

 Penting dalam pengemasan (verpacking)

 Memperkecil volume obat

H. KESIMPULAN
 Semakin lama pengeringan, semakin rendah %MC granul hingga
tercapai titik konstan.
 Metode pengukuran kadar air yang diguanakan adalah metode
gravimetri.
 Berdasarkan drying behavior-nya, solidnya berupa amorf.
 Pengeringan sebaiknya dilakukan dengan suhu dan tekanan yang rendah.

I. DAFTAR PUSTAKA
Parikh, Dilip M. 2010. Handbook of Phamaceutical Granulation Technology
Third Edition. London : Informa Healt Care.
Gibson, Mark. 2009. Pharmaceutical Preformulation and Formulation Second
Editon. Ondon : Informa Health Care.
Murtini, Gloria dan Elisa, Yetri. 2018. Teknologi Sediaan Solid. Jakarta :
Kemenkes RI.
J. LAMPIRAN