Anda di halaman 1dari 12

Dalam sejarah perkembangannya, linguistik dipenuhi dengan berbagai aliran, paham,

pendekatan, dan teknik penyelidikan yang dari luar tampaknya sangat ruwet, saling berlawanan,
dan membingungkan terutama bagi para pemula. Namun sebenarnya semua itu akan menambah
wawasan kita terhadap bidang dan kajian linguistik. Aliran-aliran yang terdapat dalam linguistik
adalah aliran tradisional, aliran struktural, aliran transformasional dan aliran fungsional.
A. Aliran Tradisional
Istilah tradisional dalam linguistik sering dipertentangkan dengan istilah
struktural, sehingga dalam pendidikan formal ada istilah tata bahasa tradisional dan tata
bahasa struktural. Tata bahasa tradisional menganalisis bahasa berdasarkan filsafat dan
semantik, sedangkan tata bahasa struktural berdasarkan struktur/ciri-ciri formal yang ada
dalam suatu bahasa tertentu. Linguistik tradisonal dimulai dari zamanYunani hingga
menjelang munculnya linguistik modern di sekitar akhir abad 19. Ciri-ciri aliran
tradisional menurut Soeparno (2002: 44) adalah sebagai berikut:
Bertolak dari Pola Pikir secara Filosofis. Ada dua hal yang menjadi bukti bahwa
aliran Tradisional menggunakan landasan/pola pikir filsafat ialah banyaknya pembagian
jenis kata yang bersumber dari onoma-rhema produk Plato dan onoma-rhema-syndesmos
produk Aristoteles; dan penggunaan istilah subjek dan predikat yang sampai saat ini
menjadi materi utama dalam pembelajaran bahasa di sekolah.
Tidak Membedakan Bahasa dan Tulisan. Teori ini mencampuradukkan pengertian
bahasa (dalam arti yang sebenarnya) dan tulisan (perwujudan bahasa dengan media
huruf). Dengan demikian, secara otomatis juga mencampuradukkan pengertian bunyi dan
huruf. Sebagai bukti seorang ahli bahasa mencampuradukkan pengertian tersebut dapat
dibaca pada kutipan “Antara vocal-vokal itu, huruf a adalah yang membentuk lubang
mulut yang besar, i yang kecil, e biasanya terbentuk di dalam mulut sebelah muka, dan o
di belakang sebelah ke dalam” (Mees dalam Soeparno, 2002: 44)
Senang Bermain dengan Definisi. Ciri ini merupakan pengaruh dari cara berpikir
secara deduktif. Semua istilah diberi definisi terlebih dahulu kemudian diberi contoh,
yang kadang-kadang hanya ala kadarnya. Teori ini tidak pernah menyajikan kenyataan-
kenyataan bahasa yang kemudian dianalisis dan disimpulkan. Yang paling utama adalah
memahami istilah dengan menghapal definisi yang dirumuskan secara filosofis.
Pemakaian Bahasa Berkiblat pada Pola/Kaidah. Ketaatan pada pola ini diwarisi
sejak para ahli tata bahasa tradisional mengambil alih pola-pola bahasa latin untuk
diterapkan pada bahasa mereka sendiri. Kaidah bahasa yang telah mereka susun dalam
suatu bentuk buku tata bahasa harus benar-benar ditaati oleh pemakai bahasa. Setiap
pelanggaran kaidah dinyatakan sebagai bahasa yang salah atau tercela. Pengajaran bahasa
di sekolah mengajarkan bahasa persis yang tercantum di dalam buku tata bahasa. Praktik
semacam itu mengakibatkan siswa pandai dan hafal teori-teori bahasa akan tetapi tidak
mahir berbicara atau berbahasa di dalam kehidupan masyarakat. Tata bahasa yang
mereka pakai itu biasa disebut tata bahasa normative dan tata bahasa preskriptif.
Level-level Gramatik Belum Ditata Secara Rapi. Level (tataran) yang terendah
menurut teori ini adalah huruf. Level di atas huruf adalah kata, sedangkan level yang
tertinggi adalah kalimat. Menurut teori ini, huruf didefinisikan sebagai unsure bahasa
yang terkecil, kata didefinisikan sebagai kumpulan dari huruf yang mengandung arti,
sedangkan kalimat didefinisikan sebagai kumpulan kata yang mengandung arti lengkap. 
Tata Bahasa Didominasi oleh Jenis Kata (Part of Speech). Ciri ini merupakan ciri
yang paling menonjol di antara ciri-ciri yang lain. Hal ini dapat dimengerti Karena
masalah penjenisan kata merupakan aspek linguistik yang paling tua dalam sejarah kajian
linguistik.

1. Linguistik Zaman Yunani (5 SM – 2 SM)


Masalah pokok pada zaman ini adalah pertentangan antara fisis dan nomos dan
pertentangan antara analogi dan anomali. Kaum naturalis berpendapat bahwa setiap
kata mempunyai hubungan dengan benda yang ditunjuknya atau dengan kata lain,
setiap kata mempunyai makna secara alami/fisis. Misalnya kata-kata yang disebut
onomatope, atau kata yang terbentuk dari peniruan bunyi. Sedangkan kaum
konvensional berpendapat bahwa bahasa itu bersifat konvensi. Artinya, makna-makna
kata itu diperoleh dari hasil tradisi-tradisi atau kebiasaan-kebiasaan, yang mempunyai
kemungkinan bisa berubah. Onomatope menurut kaum konvensional hanya suatu
kebetulan saja. Sebagian besar dari konsep, sifat, dan keadaan yang sama
diungkapkan dalam bentuk kata yang berbeda.
Pertentangan analogi dan anomali menyakut masalah bahasa sesuatu yang teratur
atau tidak teratur. kaum analogi ,antara lain plato dan aristoteles,berpendapat bahwa
bahasa itu bersifat teratur, karena adanya keteraturan itulah orang dapat menyusun
tata bahasa,maka tidak teratur tentu yang dapat disusun hanya idiom-idiom saja dari
bahasa itu.keteraturan bahasa itu tampak ,misalnya dalam membentukan jamak
bahasa iggris:boy.-boys,gril-grils. Sebaliknya kelompok anomali berpendapat bahwa
bahasa itu tidak teratur jika bahasa itu teratur mengapa bentuk jamak bahasa inggris
child menjadi children ,bukannya childs .mengapa bentuk past tense bahasa inggris
dari write menjadi wrote dan bukan writed. Dari keterangan tersebut tampak bahwa
kaum anomali sejalan dengan kaum naturalis ,dan kaum analogi sejalan dengan kaum
konvensional. Kaum dan Tokoh Zaman Yunani adalah:
a. Kaum Sophis
Muncul ke abad ke-5 SM. Kaun sophis terkenal karena studi bahasa antara
lain:
1) Melakukan kerja secara empiris dan secara pasti dengan menggunakan
ukuran tertentu.
2) Mereka membedakan tipe-tipe kalimat berdasarkan isi dan makna.
3) Mementingkan bidang retroika dalam studi bahasa.

b. Plato (429 – 347 SM)


Plato adalah orang pertama yang membedakan kata dalam onoma dan rhema.
Onoma (bentuk tunggal dari onomata), sedangkan rhema (bentuk tunggal dari
rhemata). Onoma dapat berartiberupa nama, nomina, dan subyek.
Rhema dapat berupa ucapan, verba, predikat.

c. Aristoteles (384 – 322 SM)


Aristoteles membagi 3 macam kelas kata yaitu onoma, rhema dan syndesmoi.
Syndesmoi adalah kata-kata yang lebih banyak bertugas dalam hubungan
sintaksis. syndesmoi hampir sama dengan preposisi dan konjungsi.
Aristoteles yang membedakan jenis kelamin kata menjadi 3 yaitu maskulin,
feminin dan neutrun.

d. Kaum Stoik (4 SM)


Kaum Stoik terkenal karena :
1) Mereka membedakan studi bahasa secara logika dan studi secara tata
bahasa.
2) Mereka membagi jenis kata menjadi 4, yaitu kata benda, kata kerja,
syndesmoi, dan arthoron, yaitu kata-kata yang menyatakan jenis
kelamin dan jumlah.
3) Mereka membedakantiga komponen utama dalam studi bahasa yaitu
simbol,sign, atau semainon; makna apa yang disebut semainomen atau
lekton; hal-hal yang di luar bahasa yaitu benda dan situasi.
4) Mereka membedakan kata kerja komplet dan non komplet; dan kata
kerja aktif dan pasif.

e. Kaum Alexandrian
Kaum Alexandrian menganut paham analogi dalam studi bahasa. Oleh karena
itulah dari mereka kita mewarisi buku tata bahasa yang disebut tata bahasa
Dionysius thrax yang lahir lebih kurang tahun 100 SM.

2. Zaman Romawi
Studi bahasa pada zaman Romawi merupakan kelanjutan di zaman Yunani. Tokoh
tokoh zaman Romawi antara lain :
a. Varro dan “De Lingua Latina”
Yang dibicarakan dalam buku De Lingua Latina antara lain:
1) Etimologi, adalah cabang linguistik yang menyelidiki asal-usul kata
beserta artinya.
2) Morfologi, adalah cabang linguistik yang mempelajari kata dan
pembentukannya. Menurut Varro kata adalah bagian dari ucapan yang
tidak dapat dipisahkan lagi dan merupakan bentuk minimum.
Varro membagi kelas kata Latin dalam 4 bagian yaitu: kata benda,
partisipel, kata kerja adverbium. Kasus bahasa Latin menurut Varro
ada enam buah, yaitu, nominativus adalah bentuk primer atau pokok;
genetivus adalah bentuk yang menyatakan kepunyaan; dativus adalah
bentuk yang menyatakan menerim; akusativus yaitu bentuk yang
menyatakan objek; vokativus yaitu bentuk sapaan/panggilan;
ablativus yaitu bentuk yang menyatakan asal.

b. Institutiones Grammaticae/tata Bahasa Priscia


Buku tata bahasa priscia terdiri dari 16 jilid mengenai morfologi dan 2 jilid
mengenai sintaksis. Beberapa segi yang patut dibicarakan mengenai itu, antara
lain:
1) Fonologi. Dalam fonologi yang dibicarakan mengenai tulisan/huruf
yang disebut litterae. (litterae yaitu bagian terkecil dari bunyi yang
dapat dituliskan. Nama huruf-huruf itu disebut figurae, nilai bunyi itu
disebut protestas.
2) Morfologi. Dalam bidang ini dibicarakan, antara lain mengenai dictio
atau kata. Yang dimaksud dengan dictio adalah bagian yang minimum
dari sebuah ujaran dan harus diartikan terpisah dalam makna sebagai
satu keseluruhan.
3) Sintaksis. bidang ini membicarakan hal yang disebut oratio yaitu tata
susun kata yang berselaras dan menunjukkan kalimat itu selesai.

3. Zaman Pertengahan
Studi zaman pertengahan di Eropa mendapat perhatian penuh terutama oleh para
filsuf skolastik dan bahasa latin menjadi Lingua Franca. Dari zaman pertengahan ini
yang patur dibicarakan dalam studi bahasa yaitu Kaum Modistae membicarakan
pertentangan antara fisis dan nomor dan pertentangan antara analogi dan
anomali.Tata bahasa spekulativa, merupakan hasil integrasi deskripsi gramatikal
bahasa Latin ke dalam filsafat skolastik.
Petrus Hispanus, peranannya dalam bidang linguistik :
1) Dia telah memasukkan psikologis dalam analisis makna bahasa.
2) Dia telah membedakan nomen atas 2 macam yaitu nomen substantinum dan
nomen adjectivum.
3) Dia yang telah  membedakan partes orationes atas categorematik dan
syntakgorematik. Yang dimaksud dengan categorematik adalah semua bentuk
yang dapat menjadi subyek/predikat, sedangkan syntagorematik adalah semua
bentuk tutur lainnya.

4. Zaman Renaisans
Zaman Renaisans dianggap sebagai zaman pembukaan abad pemikiran abad modern.
Dalam sejarah studi bahasa ada 2 hal zaman ini yang menonjol, yaitu: Selain
menguasai bahasa Latin, sarjana-sarjana pada waktu itu juga menguasai bahasa
Yunani, bahasa Ibrani dan bahasa Arab, selain bahasa-bahasa di atas juga bahasa-
bahasa Eropa lainnya juga mendapat perhatian dalam bentuk pembahasan,
penyusunan tata bahasa, dan malah juga perbandingan.

5. Menjelang Lahirnya Linguistik Modern


Sejak awal telah disebut bahwa Ferdinand de Saussure dianggap sebagai Bapak
Linguistik Modern. Masa antara lahirnya linguistik modern dengan masa berakhirnya
zaman Renaisans ada satu tonggak yang sangat penting dalam sejarah studi bahasa.
Tonggak itu adalah dinyatakannya adanya hubungan kekerabatan antara bahasa
Sanskerta dengan bahasa-bahasa Yunani, Latin, dan bahasa-bahasa Jerman lainnya.
B. Aliran Struktural
Aliran struktural berusaha mendeskripsikan suatu bahasa berdasarkan ciri atau sifat
khas yang dimiliki bahasa itu. Terdapat beberapa ciri yang khas dalam aliran struktural,
diantaranya: berlandaskan pada faham behaviourisme , bahasa berupa ujaran, bahasa
merupakan sistem tanda (signifie dan signifiant) yang arbitrer dan konvensional, bahasa
merupakan kebiasaan (habit), kegramatikalan berdasarkan keumuman,level-level
gramatikal ditegakkan secara rapi, analisis dimulai dari bidang morfologi, bahasa
merupakan deret sintakmatik dan paradigmatik, analisis bahasa secara deskriptif, analisis
struktur bahasa berdasarkan unsur langsung. Tokoh-tokoh di dalam linguistik strukturalis
antara lain :

1. Ferdinand de Saussure
Dianggap sebagai Bapak Linguistik Modern, karena dalam bukunya Course de
Linguistique Generate, memuat :
a. Sinkronik : mempelajari bahasa dalam kurun waktu tertentu. Ex: bahasa
sansekerta.
b. Diakronik : mempelajari bahasa sepanjang masa bahasa itu digunakan ex :
bahasa
Sriwijaya sampai sekarang.
c. La langue : seluruh sistem tanda sebagai alat komunikasi verbal antar anggota
masyarakat (bersifat abstrak).
d. La parole : pemakaian langue oleh masyarakat (bersifat konkret)
e. Signifiant : citra bunyi yang timbul dalam pikiran kita
f. Signifie : makna yang ada dalam pikiran kita.
g. Hubungan sintagmatik : hubungan antar unsur (fonologi, morfologi, sintaksis)
dalam tuturan, yang tersusun berurutan dan bersifat linier. Jika urutannya
diubah maka maknanya ikut berubah atau malah tak bermakna sama sekali.
Ex : kata “kita” dapat diubah menjadi kiat, kait, kati, ikat, dll
Ex : kal. “Ini baru bir” → “ini bir baru”
h. Hubungan paradigmatik : hubungan antar unsur dalam tuturan dengan unsur
sejenis yang tidak ada dalam tuturan (dengan cara hubungan substitusi pada
fonologi, morfologi, atau sintaksisnya).
Ex fonologi : huruf “r” dlm kata “rata” disubstitusi dgn “d”,”m”,”k”,”b”
menjadi data, mata, kata,bata.
Ex morfologi : prefiks me- dlm kata “me-rawat” diganti prefiks di-,pe- te-,
menjadi di-rawat, pe-rawat,te-rawat.

2. Aliran Praha
Dengan tokohnya Vilem Mathesius, Nikolai S. Trubetskoỷ, Roman Jakobson, dan
Morris Halle, membedakan fonologi (mempelajari bunyi dalam suatu sistem) dan
fonetik (mempelajari bunyi itu sendiri). Struktur bunyi dijelaskan dengan kontras atau
oposisi.
Ex : baku X paku, tepas X tebas.
Aliran ini mengembangkan istilah morfonologi (meneliti perubahan fonologis
yang terjadi akibat hubugan morfem dgn morfem. Ex: kata “jawab” dgn “jawap” bila
ditambahi sufiks –an, maka akan terjadi perbedaan.
Kalimat dapat dilihat dari struktur formal dan struktur informasinya, Formal
(subjek dan predikat), informasi (tema dan rema). Tema adalah apa yang dibicarakan,
sedangakn rema adalah apa yang dikatakan mengenai tema.
Ex : kal. “this argument I can’t follow”→ “I” sbg subjek, “this argument” sbg objek,
namun menurut aliran praha “this argument” juga merupakan tema, sedangkan “I
can’t follow” juga merupakan rema.

3. Aliran Glosematik
Aliran ini lahir di Denmark, dengan tokohnya Louis Hjemslev. Hjemslev
menganggap
bahasa mengandung segi ekspresi (Signifiant) dan segi isi(signifie). Masing2 segi
mengandung forma dan substansi : forma ekspresi, substansi ekspresi, forma isi, dan
substansi isi.

4. Aliran Firthian
dengan tokohnya Joh R. Firth (London, 1890-1960). Dikenal dengan teori fonologi
prosodi, yaitu cara menentukan arti pada tataran fonetis. Ada tiga macam pokok
prosodi : 1). Menyangkut gabungan fonem, struktur kata, suku kata, gab.konsonan,
dan gab.vokal, 2). Prosodi dari sandi atau jeda, 3).prosodi yang realisasi fonetisnya
lebih besar daripada fonem2 suprasegmentalnya.

5. Linguistik Sistemik (M.A.K Haliday)


Pokok pandangan Linguistik sistematik adalah memberi perhatian penuh pada segi
kemasyarakatan bahasa, terutama pada fungsi dan penerapannya dalam
bahasa.Memandang bahasa sebagai “pelaksana”. Pembedaan langue (jajaran pikiran
tergantung penutur bahasa) dan parole (perilaku kebahasaan sebenarnya).
Mengutamakan ciri bahasa tertentu dan variasinya.
Mengenal gradasi atau kontinum. Menggambarkan tiga tataran utama bahasa yaitu
substansi, forma dan situasi.

6. Leonard Bloomfield dan Strukturalis Amerika


Faktor yang menyebabkan berkembangnya aliran ini : Mereka memberikan bahasa
indian dengan cara sinkronik. Bloomfield memerikan bahasa aliran strukturalisme
berdasarkan fakta objektif sesuai dengan kenyataan yang diamati. Hubungan baik
antar linguis. Sehingga menerbitkan majalah Language, sebagai wadah melaporkan
hasil karya mereka. Aliran ini sering juga disebut aliran taksonomi, karena aliran ini
menganalisis dan mengklasifikasikan unsur bahasa berdasarkan hubungan
hierarkinya.

7. Aliran Tagmemik
Dipelopori oleh Kenneth L. Pike. Yang dimaksud tagmem adalah korelasi entara
fungsi gramatikal (slot) dengan kelompok bentuk kata yang dapat dipertukarkan
utnuk mengisi slot tsb.
C. Aliran Transformasional
1. Tata Bahasa Transformasi
Dengan tokohnya Noam Chomsky, menciptakan buku Syntactic Structure, yang
memuat pengertian bahwa tata bahasa merupakan teori bahasa itu sendiri. Dan
tatambahasa harus memenuhi dua syarat yaitu kalimat yang dihasilkan harus dapat
diterima oleh pemakai bahasa, wajar dan tidak dibuat-buat. Berbentuk sedemikian
rupa, artinya semua satuan dan istilah harus sejajar dengan
teori linguistik tertentu.
Teori ini membedakan antara kemampuan dan perbuatan berbahasa.
Kemampuan adalah pengetahuan yang dimiliki pemakai bahasa mengenai bahasanya.
Perbuatan berbahasa adalah pemakaian bahasa itu sendiri dalam keadaan yang
sebenarnya. Sehingga dalam tata bahasa generatif yang menjadi objek adalah
kemampuan. Tata bahasa dari setiap bahasa terdiri dari 3 komponen
Sintaksis,Semantik dan fonologis.

2. Semantik Generatif
Struktur ini serupa dengan struktur logika, berupa ikatan tak berkala antara predikat
dengan argumen dalam suatu proposisi.
Ex : dalam kalimat “Nenek minum kopi” (preposisi)→ mempunyai predikat
berargumen dua yakni : nenek dan kopi atau dpt dirumuskan: minum (nenek,kopi).
Dalam kalimat “Nenek marah” predikatnya punya satu argumen yakni : nenek. /
marah (nenek).

3. Tata Bahasa Kasus


Dengan tokohnya Charles J. Fillmore, dalam bukunya “The Case for Case” Fillmore
membagi kalimat atas modalitas (berupa unsur negasi, kala, aspek,dan adverbia), dan
proposisi (verba + sejumlah kasus). Tata bahasa ini mempunyai persamaan dengan
Semantik generatif yaitu sama-sama menumpukkan teorinya pada predikat atau
verba.

4. Tata Bahasa Relasional


Tokohnya : David M. Perlmutter dan Paul M. Postal. Tata bahasa ini juga berusaha
mencari kaidah kesemestaan bahasa. Menurut teori ini klausa terdiri dari tiga wujud
yaitu Simpai (nodes), menmpilakn elemen dalam struktur, tanda relasional (relational
sign) menunjukkan nama relasi gramatikal dalam
hubungan antar elemen, coordinates, menunjukkan tataran elemen yang menyandang
relasi gramatikal terhadap elemen lain.

Ex : klausa “Ali memberi buku itu kepada saya” → punya 3 nomina dan 1 verba.
Nomina ali berelasi “subjek dari”
Nomina buku itu berelasi “objek langsung dari”
Nomina saya berelasi “objek tak langsung dari”
Verba beri berelasi “predikat dari”
Konstruksi yang terlibat pada klausa diatas adalah:
Konstruksi kalimat inti (Ali memberi buku itu kepada saya).
Konstruksi hasil transformasi datif (Ali memberikan saya buku itu).
Konstruksi hasil transormasi pasif dari datif (Saya diberikan buku itu oleh Ali).

D. Aliran Fungsional
Linguistik fungsional dipelopori oleh Roman Jakobson dan Andre Martinet,
kehadirannya sangat berarti dalam upaya menjembatani kesenjangan antara linguistik
struktural Amerika dan Eropa. Linguistik struktural (Eropa) banyak dipengaruhi oleh
gagasan fungsi-fungsi linguistik yang menjadi ciri khas aliran Praha. Trubeckoj terkenal
mengembangkan metode-metode deskripsi fonologi, maka R. Jakobson terkenal karena
telah menyatakan dengan pasti pentingnya fonologi diakronis yang mengkaji kembali
dikotomi-dikotomi Ferdinand de Saussure antara lain dikotomi yang memisahkan dengan
tegas sinkronis dan diakronis.
Andre Martinet banyak mengembangkan teori-teori aliran Praha. Dengan
tulisannya tentang netralisasi dan segmentasi. Pikiran-pikirannya telah memperkaya dan
mengembangkan studi linguistik, terutama fonologi deskriptif, fonologi diakronis,
sintaksis, dan linguistik umum, disamping ia menerapkan metode dan linguistik modern
dengan menaruh perhatian yang luar biasa pada kenyataan bahasa aktual.
Gagasan Jakobson merupakan pengembangan dari pemikiran-pemikiran aliran
Praha. Selain fungsi linguistik sebagai ciri khas sekolah Praha, ia juga menyoroti fungsi-
fungsi unsur tertentu dan fungsi-fungsi aktivitas linguistik itu sendiri. Jakobson
memandang suatu tindak linguistik dari enam sudut, yaitu dalam hubungan dengan
pembicara, pendengar, konteks, kontak, kode, dan pesan. Jakobson menyejajarkan enam
faktor bahasa dengan enam fungsi bahasa. Enam faktor bahasa itu dipandang dari sudut
pembicara, pendengar, konteks, pesan, hubungan, dan kode. Sejajar dengan enam faktor
bahasa ini, Jakobson mengatakan ada enam fungsi bahasa, yakni ekspresif, konatif,
denotatif, fatik, metalinguistik, dan puitik.

Enam Faktor Bahasa Enam Fungsi Bahasa


-       Pembicaraan (Expressive Funcion) -       Ekspresif
-        Pendengar (Appeal Funcion) -       Konatif
-        Konteks (Context) -      Denotatif/ Referensi
-        Hubungan (Contact) -       Fatik
-        Kode (Code) -       Metalingual
-        Pesan (Message) -       Puitik

Keterangan tabel:
1. Ekspresif, berpusat pada pembicara, yang ditujukan oleh interjeksi-interjeksi.
2. Konatif, berpusat pada pendengar, yang ditujukan oleh vokatif dan imperative.
3. Denotative, berpusat pada konteks, yang ditujukan oleh pernyataan-pernyataan
faktual, dalam pelaku ketiga, dan dalam suasana hati indikatif.
4. Phatic, berpusat pada kontak, yang ditujukan oleh adanya jalur yang tidak terputus
antara pembicara dan pendengar. Misalnya, dalam pembicaraan melalui telefon, kata-
kata ‘hello, ya..ya…, heeh’ yang dipergunakan untuk membuat jelas bahwa seseorang
masih mendengarkan dan menunjukan jalur percakapan tidak terputus.
5. Metalinguistik, berpusat pada kode; yang berupa bahasa pengantar ilmu pengetahuan,
biasanya berisi rumus-rumus atau lambang-lambang tertentu.
6. Puitis, berpusat pada pesan.

Fungsionalisme adalah gerakan linguistik yang beranggapan bahwa struktur fonologis,


grammatikal dan semantik ditentukan oleh fungsi yang dijalankannya dalam masyarakat,
bahwa bahasa itu sendiri mempunyai fungsi yang beraneka ragam. Gerakan ini
merupakan percabangan dari strukruralisme dan menentang intelektualisme di Eropa
yang beranggapan bahwa bahasa hanyalah sekedara ungkapan.. Fungsionalisme juga
merupakan gerakan dalam linguistik yang berusaha menjelaskan fenomena bahasa
dengan segala manifestasinya dan beranggapan bahwa mekanisme bahasa dijelaskan
dengan konseuensi-konsekuensi yang ada kemudian dari mekanisme itu sendiri. Wujud
bahasa sebagai sistem komunikasi manusia tidak dapat dipisahkan dari tujuan berbahasa,
sadar atau tidak sadar. Konsep utama dalam fungsionalisme ialah fungsi bahasa dan
fungsi dalam bahasa. Menyangkut yang pertama sikap fungsionalistis sebagai analisis
bahasa mulai dari fungsi ke bentuk, sudut pandang pembicara menjadi perspektif analisis,
deskripsi yang sistematis dan menyeluruh tentang hubungan antara fungsi dan bentuk,
pemahaman atas kemampuan komunikatif sebagai tujuan analisis bahasa, perhatian yang
cukup pada bidang interdisipliner, misalnya sosiolinguistik dan penerapan linguistik pada
masalah praktis, misalnya pembinaan bahasa.
Selanjutnya gagasan dan pandangan Jakobson lain adalah telaah tentang aphasia dan
bahasa kanak-kanak. Aphasia yang dimaksud adalah gejala kehilangan kemampuan
menggunakan bahasa lisan baik sebagian maupun seluruhnya, sebagai akibat
perkembangan yang salah. Gangguan afasik dapat dikelompokkan menjadi dua, yakni:
Similarity disorders, yang mempengaruhi seleksi dan subtitusi item, dengan stabilitas
kombinasi dan konsstektur yang bersifat relatif. Contiguity disorders, yang seleksi dan
subtitusinya secara relatif normal sedangkan kombinasi rusak dan tidak gramatikal,
urutan kata kacau, hilangnya infleksi dan preposisi, konjungsi, dan sebagainya.
Linguistik Fungsional merupakan gerakan linguistik yang beranggapan bahwa struktur
fonologis, gramatikal dan semantic ditentukan oleh fungsi yang dijalankan oleh
masyarakat dan bahwa bahasa itu sendiri memfunyai fungsi yang beraneka ragam.
Kridalaksana (2008:68).
Adapun ciri utama teori linguistik fungsional adalah:
1. Teori ini memberi tempat kepada tiga lapisan fungsi, yakni fungsi semantik:
pelaku, tujuan, penerima dan seterusnya. Fungsi sintaksis: subjek, predikat, objek,
dan pelengkap. Fungsi pragmatik: tema dan ekor, topik dan fokus.
2. Tidak mengenal transformasi, filter, dekomposisi leksikal
3. Deskripsi ungkapan bahasa dimulai dengan pembentukan predikasi dasar yang
dilakukan dengan penyisipan ungkapan ke dalam kerangka predikat.
4. Pengungkapan bahasa berjalan dari semantik ke sintaktis terus ke pragmatik dan
berakhir pada apa yang disebutnya ezpression rules.
DAFTAR PUSTAKA

Chaer, Abdul.2012. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.

Chaer, Abdul.2003. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.

Kridalaksana, Harimurti. 2008. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Soeparno. 2002. Dasar-Dasar Linguistik Umum. Yogyakarta: Tiara Wacana.


LAPORAN BACAAN TENTANG
ALIRAN-ALIRAN DALAM LINGUISTIK
Dosen Pengampu: Dra. Elya Ratna, M.Pd.

Nama: Suci Lestari (05)


NIM : 19016054

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA


JURUSAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2019

Anda mungkin juga menyukai