Anda di halaman 1dari 33

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan sebagai sarana dalam pengembangan ilmu pengetahuan

dan teknologi harus terus berkembang dan berproses. Peningkatan standar-

standar dalam output maupun outcome pendidikan akan terus dirasakan

seiring dengan perkembangan zaman. Salah satu isu terkini dalam dunia

pendidikan modern adalah pembentukan Higher Order Thinking Skills

(HOTS) bagi peserta didik. Menurut Rofiah dkk (2013:17), High Order

Thinking Skill (HOTS) merupakan proses berpikir yang tidak sekedar

menghafal dan menyampaikan kembali informasi yang diketahui.

Kemampuan berpikir tingkat tinggi merupakan kemampuan menghubungkan,

memanipulasi dan menstransformasi pengetahuan serta pengalaman yang

sudah dimiliki untuk berpikir secara kritis dan kreatif dalam upaya

menentukan keputusan dan memecahkan masalah pada situasi baru.

Menurut Anderson kemampuan berpikir tingkat tinggi dibagi

menjadi tiga, yaitu menganalisis (C4), mengevaluasi (C5), dan mencipta

(C6). Ketiga kemampuan tersebut dinilai berdasarkan proses, bukan

hanya sekedar menilai hasil. Newman and Wehlage (2011) menyatakan

bahwa ”HOT requires students to manipulate informations and ideas in ways

that transform their meaning and implications, such as when students

combine facts and ideas in order to synthesize, generalize, explain,

hypothize, or arrive at some conclusion or interpretation”. Artinya dengan


2

HOTS siswa akan belajar lebih mendalam, dan memahami konsep lebih

baik serta siswa dapat membedakan ide atau gagasan secara jelas,

berargumen dengan baik, mampu memecahkan masalah, mampu

mengkonstruksi penjelasan, mampu berhipotesis dan memahami hal-hal

kompleks menjadi lebih jelas.

Pembelajaran untuk mencapai HOTS memerlukan sinergi yang

kuat antara seluruh pelaku pendidikan. Salah satunya guru sebagai pelaku

utama yang memiliki peran penting dalam upaya menjadikan siswa

memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi. Namun, Hidayati (2018)

menyatakan bahwa sampai saat ini permasalahan utama untuk mencapai hal

tersebut yaitu sebagian besar guru belum mengetahui cara melaksanakan

pembelajaran HOTS. Hasil penelitian Nofrion (2017) menyatakan bahwa

permasalahan beberapa SMA di Kota Padang yang hampir rata ditemui di

semua sekolah adalah; 1) rendahnya intensitas dialog dan interaksi peserta

didik di dalam pembelajaran, 2) tugas atau soal yang diberikan guru belum

berorientasi pada pengembangan keterampilan berfikir tingkat tinggi (high

order thinking), 3) peran guru masih dominan dalam pembelajaran 4)

kompetisi dan individualistik antara peserta didik cukup tajam serta 5) guru

terbiasa bekerja sendiri dalam melaksanakan tugas tugasnya. Apabila

permasalahan tersebut dibiarkan saja maka pembelajaran di kelas hanya akan

menjadi ajang “transfer of knowledge”semata dan pembelajaran yang

berorientasi penjelasan materi saja. Pada akhirnya, sulit mencapai

pembentukan keterampilan bepikir tingkat tinggi (HOTS) pada peserta didik.


3

Jadi dari beberapa permasalahan yang telah dijelaskan tersebut dapat

disimpulkan bahwa HOTS seharusnya tidak hanya dimiliki oleh siswa namun

HOTS juga harus dimiliki oleh guru sebagai pendidik.

Sebagai calon tenaga pendidik, mahasiswa jurusan kependidikan

harus dilatih untuk meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi karena

HOTS merupakan aspek yang penting dalam proses belajar mengajar terutama

pada perguruan tinggi. Kemampuan berpikir yang lebih tinggi sangat

membantu mahasiswa dalam belajar, meningkatkan kinerja dan mengurangi

kelemahan mahasiswa serta sebagai bekal keterampilan untuk melaksanakan

pembelajaran dan penilaian setelah bekerja sebagai guru.

Universitas Negeri Padang merupakan salah satu universitas negeri

yang ada di Kota Padang yang banyak menghasilkan alumni kependidikan

sebagai calon guru. Fakultas Ilmu Sosial (FIS) merupakan salah satu fakultas di

Universitas Negeri Padang (UNP) yang mempunyai 5 program studi

pendidikan dan 3 Prodi non Kependidikan. Program Studi Pendidikan

Geografi merupakan salah satu program studi di FIS UNP. Hampir setiap

mata kuliah yang terdapat dalam Program Studi Pendidikan Geografi

memerlukan keterampilan berpikir dalam memahaminya. Hal itu

menyebabkan beberapa mahasiswa masih kesulitan dalam memahami

materi mata kuliah. Dampak dari kasus tersebut mengakibatkan mutu dan

kemampuan mahasiswa belum memiliki hasil yang memuaskan. Dalam hal

ini, kemampuan berpikir tingkat tinggi (HOTS) yang dimiliki mahasiswa

kurang optimal karena budaya mahasiswa dalam hal rutinitas, keaktifan,


4

kreativitas belajar dan kemampuan berpikir tingkat tinggi (HOTS)

termasuk menyelesaikan soal-soal kurang terencana dengan baik.

Mahasiswa merupakan peserta didik yang sudah dikategorikan

sebagai manusia dewasa. Seorang mahasiswa sudah tentu dituntut untuk

menguasai kemampuan, salah satu kemampuan yang penting dikuasai oleh

mahasiswa adalah kemampuan berpikir tingkat tinggi atau dikenal dengan

istilah High Order Thinking Skills (HOTS), sebab berpikir tingkat tinggi

merupakan salah satu tahapan berpikir yang tidak dapat dilepaskan dari

kehidupan sehari-hari dan setiap mahasiswa diarahkan untuk memiliki

pola berpikir tingkat tinggi tersebut sebab kemampuan berpikir tingkat

tinggi membuat seseorang dapat berpikir kritis.

Berdasarkan observasi awal yang telah dilakukan peneliti pada 28

januari 2019 diketahui bahwa dalam pembelajaran, mahasiswa saat

mempresentasikan hasil diskusi kelompok cenderung hanya membacakan

slide yang tersedia dan terpaku membaca makalah tanpa ada penjelasan,

menjabarkan maupun mencontohkan dengan kata-kata atau bahasa sendiri.

Ketika dosen memberikan kesempatan bertanya mahasiswa cenderung diam,

dan ketika dosen memberikan pertanyaan mengenai materi yang telah di

dijelaskan oleh kelompok penyaji ternyata respon mahasiswa sangat minim.

Hal ini mengindikasikan bahwa mahasiswa pada proses pembelajaran

terutama dalam diskusi, penyaji maupun audiens sama-sama belum

memahami materi yang dipelajari. Penyaji hanya menghafal dan membacakan

materi. Makalah yang dibuat kebanyakan hanya sekedar menyalin dari internet
5

tanpa membacanya terlebih dahulu sehingga ditemui isi makalah yang tidak

sesuai dengan daftar pustaka, sedangkan audiens tidak membaca dan

memperhatikan materi yang di presentasikan.

Berdasarkan kenyataan-kenyataan di atas, penulis tertarik untuk

melakukan penelitian yang berjudul “Keterampilan Berpikir Tingkat

Tinggi (Higher Order Thingking Skills/HOTS) Mahasiswa Pendidikan

Geografi pada Mata Kuliah Hidrologi”.

B. Identifikasi Masalah

Identifikasi masalah yang dapat diambil dari latar belakang diatas adalah

sebagai berikut:

1. Permasalahan pembelajaran beberapa sekolah yang belum mengarah pada

pembelajaran HOTS karna keterbatasan keterampilan guru.

2. Kesulitan mahasiswa dalam memahami materi mata kuliah dalam

Program Studi Pendidikan Geografi yang memerlukan keterampilan

berpikir tingkat tinggi

3. Kemampuan berpikir tingkat tinggi (HOTS) yang dimiliki mahasiswa

kurang optimal karena budaya mahasiswa dalam hal rutinitas, keaktifan,

kreativitas belajar dan kemampuan berpikir tingkat tinggi (HOTS)

termasuk menyelesaikan soal-soal kurang terencana dengan baik

4. Mahasiswa UNP Pendidikan Geografi saat mempresentasikan hasil

diskusi kelompok cenderung hanya membacakan slide yang tersedia dan

terpaku membaca makalah. Serta pertanyaan yang di berikan mahasiswa

saat diskusi kelompok masih belum memuat HOTS.


6

5. Mahasiswa pada proses pembelajaran terutama dalam diskusi, penyaji

maupun audiens sama-sama belum memahami materi yang dipelajari.

6. Mahasiswa hanya menghafal dan membacakan materi saat presentasi.

C. Batasan Masalah

Berdasarkan Identifikasi Masalah di atas maka penelitian ini berfokus

pada kemampuan berpikir tingkat tinggi mahasiswa Pendidikan Geografi

pada mata kuliah Hidrologi di Universitas Negeri Padang ditinjau dari

Aktivitas belajar, presentasi kelas dan kualitas tugas.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan Batasan Masalah diatas, maka dapat dirumuskan

permasalahan terkait keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher Order

Thingking Skills/HOTS) mahasiswa Pendidikan Geografi Universitas Negeri

Padang pada mata kuliah Hidrologi , sebagai berikut:

1. Bagaimana kemampuan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking

Skills/HOTS) mahasiswa Pendidikan Geografi ditinjau dari aktivitas

belajar?

2. Bagaimana kemampuan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking

Skills/HOTS) mahasiswa Pendidikan Geografi ditinjau dari Presentasi

kelas?

3. Bagaimana kemampuan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking

Skills/HOTS) mahasiswa Pendidikan Geografi ditinjau dari kualitas

tugas ?
7

E. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini

untuk mengetahui keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher Order

Thingking Skills/HOTS) mahasiswa Pendidikan Geografi pada mata kuliah

Hidrologi di Universitas Negeri Padang:

1. Untuk mengetahui kemampuan berpikir tingkat tinggi (Higher Order

Thinking Skills/HOTS) mahasiswa Pendidikan Geografi ditinjau dari

aktivitas belajar?

2. Untuk mengetahui kemampuan berpikir tingkat tinggi (Higher Order

Thinking Skills/HOTS) mahasiswa Pendidikan Geografi ditinjau dari

Presentasi kelas?

3. Untuk Mengetahui kemampuan berpikir tingkat tinggi (Higher Order

Thinking Skills/HOTS) mahasiswa Pendidikan Geografi ditinjau dari

kualitas tugas?

F. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini antara lain:

1. Manfaat teoritis

Hasil penelitian ini dapat dipergunakan untuk referensi penelitian

selanjutnya yang relevan dan juga dapat menambah pengetahuan dalam

bidang pendidikan khususnya tentang keterampilan berpikir tingkat tinggi

(Higher Order Thingking Skills/HOTS) mahasiswa Pendidikan Geografi

pada Mata Kuliah Hidrologi ditinjau dari kualitas tugas, presentasi kelas

dan aktivitas belajar.


8

2. Manfaat praktis

a. Bagi Dosen

Manfaat dengan adanya penelitian ini dosen mengetahui

keterampilan berpikir tingkat tinggi mahasiswanya sehingga dosen

bisa membuat perencanaan pembelajaran, strategi, model, media,

serta penilaian untuk meningkatkan keterampilan berpikir tingkat

tinggi mahasiswa.

b. Bagi Mahasiswa

Manfaat dengan adanya penelitian ini mahasiswa yang diteliti

mengetahui keterampilan berpikir tingkat tinggi pribadinya sehingga

mahasiswa bisa mengevaluasi dan berusaha meningkatkan

keterampilan yang ia miliki.

c. Bagi Peneliti

Manfaat dengan adanya penelitian ini bagi peneliti yaitu untuk

memperluas wawasan, menerapkan ilmu-ilmu yang telah diperoleh

selama belajar di perkuliahan dan memenuhi salah satu syarat

memperoleh gelar Sarjana Pendidikan (S1) Jurusan Geografi di

Universitas Negeri Padang.


9

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian Teoritis

1. Berpikir

Menurut Ahmadi (2009) Berpikir merupakan aktivitas psikis yang

intensional, dan terjadi apabila seseorang menjumpai masalah yang harus

dipecahkan. Menurut Rusyna (2014) Berpikir merupakan penggunaan

otak secara sadar untuk mencari sebab, berdebat, mempertimbangkan,

memperkirakan, dan merefleksikan suatu subjek. Menurut Solso

dalam Novirin (2014) menyatakan bahwa “berpikir merupakan proses

yang menghasilkan representasi mental yang baru melalui

transformasi informasi yang melibatkan interaksi yang kompleks antara

berbagai proses mental seperti penilaian, abstraksi, penalaran, imajinasi,

dan pemecahan masalah” .

Dari pendapat para ahli diatas, dapat disimpulkan bahwa berpikir

merupakan aktivitas psikis yang dilakukan secara intens oleh manusia

untuk menyelesaikan suatu permasalahan maupun untuk menghasilkan

ide, penilaian, penalaran , mengabstraksi, imajinasi dan lainnya.

2. Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi (Higher Order Thinking

Skills/HOTS)

a. Pengertian

Menurut Rosnawati (2009) Kemampuan berpikir tingkat tinggi

merupakan suatu kemampuan berpikir yang tidak hanya


10

membutuhkan kemampuan mengingat saja, akan tetapi

membutuhkan kemampuan lain yang lebih tinggi, seperti

kemampuan berpikir kreatif dan kritis.

Menurut Dahlan dalam Ahmad (2014) kemampuan berpikir

tingkat tinggi atau High Order Thinking (HOT) terdiri dari

kemampuan berpikir logis, kritis, sistematis, analitis, kreatif, produktif,

penalaran, koneksi, komunikasi, dan pemecahan masalah.

Heong oleh Rofiah et al. (2013), kemampuan berpikir tingkat

tinggi ini menghendaki seseorang untuk menerapkan informasi

baru atau pengetahuan sebelumnya dan memanipulasi informasi

untuk menjangkau kemungkinan jawaban dalam situasi baru.

Wardana sebagaimana dikutip Rofiah et al. (2013) mengemukakan

bahwa kemampuan berpikir tingkat tinggi adalah proses berpikir

yang melibatkan aktivitas mental dalam usaha mengeksplorasi

pengalaman yang kompleks, reflektif dan kreatif yang dilakukan

secara sadar untuk mencapai tujuan, yaitu memperoleh

pengetahuan yang meliputi tingkat berpikir analitis, sintesis, dan

evaluatif.

Tran Vui (2001: 5) dalam Novirin (2014) mendefinisikan

kemampuan berpikir tingkat tinggi sebagai berikut: “Higher order

thinking occurs when a person takes new information and information

stored in memory and interrelates and/or rearranges and extends this

information to achieve a purpose or find possible answers in


11

perplexing situations” Artinya, kemampuan berpikir tingkat tinggi

akan terjadi ketika seseorang mengaitkan informasi baru dengan

informasi yang sudah tersimpan di dalam ingatannya dan

menghubungkannya dan/atau menata ulang dan mengembangkan

informasi tersebut untuk mencapai suatu tujuan ataupun menemukan

suatu penyelesaian dari suatu keadaan yang sulit dipecahkan.

Menurut Gunawan (2003:171) dalam Lailly dan Asih Widi

Wisudawati (2015:28) Higher Order Thinking Skill (HOTS) atau

kemampuan berpikir tingkat tinggi adalah proses berpikir yang

mengharuskan siswa untuk berpikir memanipulasi informasi yang ada

dan ide dengan cara tertentu yang memberikan pemahaman dan

implikasi baru.

Berdasarkan beberapa pendapat diatas dapat ditarik kesimpulan

bahwa Berpikir Tingkat Tinggi (Higher Order Thinking Skills/HOTS)

merupakan kemampuan berpikir yang lebih keras dari sebelumnya

yang menghendaki individu untuk memanipulasi informasi baru atau

yang sudah ada sebelumnya menjadi sesuatu yang baru dan dapat

mengimplementasikannya dalam kehidupan untuk menyelesaikan

suatu permasalahan.

b. Unsur-unsur Keterampilan Berpikir

Menurut Hasrudin dalam Aslahah (1989:6) menyatakan bahwa

kemampuan berpikir kritis mencakup kemampuan memecahkan


12

masalah, membuat keputusan, dan membedakan pendapat dengan

fakta dan konsep.

Menurut Gunawan dalam Lailly dan Asih Widi Wisudawati

(2015) HOTS ( High Order Thinking Skill) meliputi aspek

kemampuan berpikir kritis, kemampuan berpikir kreatif, dan

kemampuan memecahkan masalah. Berpikir kritis yaitu kemampuan

menganalisis, menciptakan dan menggunakan kriteria tertentu secara

obyektif. Berpikir kreatif yaitu kemampuan berpikir rumit sehingga

dapat menciptakan suatu ide baru. Kemampuan memecahkan masalah

kemampuan berpikir mendalam untuk menyelesaikan suatu

permasalahan.

Menurut Nasution (1989: 125) unsur-unsur keterampilan

berpikir antara lain mengamati, melaporkan, mengklasifikasi, memberi

label, menyusun dan mengurutkan, menginterpretasi, membuat

inferensi yaitu proses dedukasi dan eksrapolasi untuk mendapatkan

suatu kesimpulan yang melebihi data yang ada, dan memecahkan

problema.

Jadi dapat disimpulkan bahwa cakupan Berpikir Tingkat Tinggi

(Higher Order Thinking Skills/HOTS) antara lain, kemampuan

berpikir kritis, kemampuan berpikir kreatif, kemampuan memecahkan

masalah, membuat keputusan, dan membedakan pendapat dengan

fakta dan konsep.


13

3. Landasan Higher Order Thinking Skills (HOTS)

Higher order thinking skills/keterampilan berpikir tingkat tinggi

muncul pertama kali pada tahun 1956 yang kemudian direvisi Anderson

dan Krathwohl tahun 2001. Awalnya Taksonomi Bloom menggunakan

kata benda yaitu pengetahuan, pemahaman, terapan, analisis, sintesis,

dan evaluasi. Lalu direvisi Anderson dan Krathwohl menjadi

mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan

mencipta (Basuki & Hariyanto, 2016).

Dalam taksonomi Bloom yang direvisi oleh Anderson dan

Krathwohl, terdapat tiga aspek yaitu aspek analisa, aspek evaluasi, dan

aspek mencipta dalam ranah kognitif yang menjadi bagian dari

higher order thinking (Suyono & Hariyanto, 2014).

Anderson dan Krathwohl (2010) menjelaskan masing-masing

indikator dalam taksonomi Bloom (revisi) sebagai berikut:

a. Mengingat

Proses mengingat merupakan mengambil pengetahuan yang

dibutuhkan dari memori jangka panjang. Jika tujuan

pembelajarannya merupakan menumbuhkan kemampuan untuk

meretensi materi pelajaran sama seperti materi yang diajarkan, maka

mengingat adalah kategori kognitif yang tepat.

b. Memahami

Memahami merupakan proses mengkontruksi makna dari

pesan-pesan pembelajaran, yang disampaikan melalui pengajaran,


14

buku, atau layar komputer. Peserta didik memahami ketika mereka

menghubungkan pengetahuan baru dan pengetahuan lama atau

pengetahuan baru dipadukan dengan kerangka kognitif yang telah

ada.

c. Mengaplikasikan

Proses kognitif mengaplikasikan melibatkan penggunaan prosedur

prosedur tertentu untuk mengerjakan soal latihan atau menyelesaikan

masalah. Kategori ini terdiri dari dua proses kognitif, yaitu

mengeksekusi untuk tugas yang hanya berbentuk soal latihan dan

mengimplementasikan untuk tugas yang merupakan masalah yang

tidak familier.

d. Menganalisis

Menganalisis melibatkan proses memecah materi menjadi

bagian-bagian kecil dan menentukan bagaimana hubungan antar

bagian-bagian dan struktur keseluruhannya. Kategori proses

menganalisis ini meliputi proses kognitif membedakan,

mengorganisasi, dan mengatribusikan.

e. Mengevaluasi

Mengevaluasi didefinisikan sebagai membuat keputusan

berdasarkan kriteria dan standar. Kriteria-kriteria yang sering

digunakan adalah kualitas, efektivitas, efisiensi, dan konsistensi.

Masing-masing dari kriteria tersebut ditentukan oleh peserta didik.

Standar yang digunakan bisa bersifat kuantitatif maupun kualitatif.


15

Kategori mengevaluasi mencakup proses kognitif memeriksa

(keputusan yang diambil berdasarkan kriteria internal) dan

mengkritik (keputusan yang diambil berdasarkan kriteria eksternal).

f. Mencipta

Mencipta melibatkan proses menyusun elemen-elemen menjadi

sebuah keseluruhan yang koheren atau fungsional. Tujuan yang

diklasifikasikan dalam proses mencipta menuntut peserta didik

membuat produk baru dengan mereorganisasi sejumlah elemen

atau bagian menjadi suatu pola atau struktur yang tidak pernah

ada sebelumnya. Proses kognitif yang terlibat dalam mencipta pada

umumnya sejalan dengan pengalaman belajar yang telah dimiliki

sebelumnya. Proses kognitif tersebut yaitu merumuskan,

merencanakan, dan memproduksi.

4. Indikator kemampuan berpikir tinggi

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, indikator memiliki

makna sesuatu yang dapat memberikan petunjuk atau keterangan

(Kemendiknas, 2008). Seseorang dikatakan memiliki kemampuan

berpikir tingkat tinggi tentunya berdasarkan kepada beberapa

indikator yang sesuai dengan tahapan dalam kemampuan berpikir

tingkat tinggi, yaitu: tahap menganalisis, mengevaluasi, dan

menciptakan.

Adi W. Gunawan dalam Novirin (2014) menyatakan bahwa

“indikator yang digunakan sebagai ciri dari kemampuan berpikir


16

tingkat tinggi dapat diamati dalam aspek kognitif peserta didik yaitu

pada tingkat analisis, sintesis, dan evaluasi”. Adapun Menurut Adi

W. Gunawan dalam Novirin (2014) indikator kemampuan berpikir

tiingkat tinggi adalah sebagai berikut:

a. Analisis adalah kemampuan untuk memecahkan atau menguraikan

suatu materi atau informasi menjadi komponen komponen yang

lebih kecil sehingga mudah dipahami. Indikatornya adalah:

1) Membuat pertanyaan-pertanyaan tentang topik;

2) Melakukan penyelidikan tentang topik;

3) Membuat bagan untuk menjelaskan topik;

4) Membuat grafik untuk menjelaskan topik;

5) Meninjau untuk menemukan criteria;

6) Menyiapkan laporan tentang materi.

b. Sintesis adalah kemampuan untuk menyatukan bagian-bagian atau

komponen menjadi suatu bentuk yang lengkap dan unik.

Indikatornya adalah:

1) Membuat model untuk menjelaskan ide baru;

2) Merancang sebuah rencana tentang topik;

3) Membuat hipotesis tentang topik;

4) Mengubah pola lama menjadi pola baru;

5) Mengajukan sebuah metode berupa topik;

6) Memberikan judul baru pada materi.


17

c. Evaluasi adalah kemampuan untuk menentukan nilai suatu materi

untuk tujuan tertentu. Indikatornya adalah:

1) Membuat daftar kriteria yang akan digunakan untuk menilai;

2) Melakukan debat mengenai topik;

3) Melakukan diskusi mengenai topik;

4) Menyiapkan sebuah studi kasus untuk menjelaskan pemikiran

mengenai topik;

5) Membuat sebuah kesimpulan umum tentang topik.

Menurut Resnick dalam Lewy (2009) menjelaskan karakteristik

berpikir tingkat tinggi dengan indikator sebagai berikut:

a. Non algorithmic;

b. Cenderung kompleks;

c. Memiliki solusi yang mungkin lebih dari satu (open ended

approach);

d. Membutuhkan usaha untuk menemukan struktur dalam ketidak

teraturan.

Menurut Krathwohl dalam A revision of Bloom's Taxonomy:

an overview Theory Into Practice menyatakan bahwa indikator untuk

mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi meliputi (Anderson &

Krathwohl, 2015):
18

a. Menganalisis

1) Menganalisis informasi yang masuk dan membagi-bagi atau

menstrukturkan informasi ke dalam bagian yang lebih kecil untuk

mengenali pola atau hubungannya.

2) Mampu mengenali serta membedakan faktor penyebab dan

akibat dari sebuah skenario yang rumit;

3) Mengidentifikasi/merumuskan pertanyaan.

b. Mengevaluasi

1) Memberikan penilaian terhadap solusi, gagasan, dan metodologi

dengan menggunakan kriteria yang cocok atau standar yang ada

untuk memastikan nilai efektivitas atau manfaatnya;

2) Membuat hipotesis, mengkritik, dan melakukan pengujian;

3) Menerima atau menolak suatu pernyataan berdasarkan kriteria

yang telah ditetapkan.

c. Mencipta

1) Membuat generalisasi suatu ide atau cara pandang terhadap

sesuatu;

2) Merancang suatu cara untuk menyelesaikan masalah;

3) Mengorganisasikan unsur-unsur atau bagian-bagian menjadi

struktur baru yang belum pernah ada sebelumnya.


19

Menurut Anderson & Krathwohl, kemampuan berpikir mencakup

dimensi proses mengingat (remember), mengerti (understand),

menerapkan (apply); kemampuan menganalisis (analyze), mengevaluasi

(evaluate), dan menciptakan (create). Berdasarkan kualifikasi ini,

kemampuan berpikir tingkat tinggi dalam penelitian ini mencakup

kemampuan dalam cakupan dimensi proses menganalisis, mengevaluasi,

dan menciptakan dengan dasar-dasar proses mengingat yang baik. .

Kategori dan Proses Nama-Nama Lain Definisi


Kognitif
1. Menganalisis (Analyze) Memecah-mecah materi menjadi bagian-bagian
penyusunnya dan menentukan hubungan-hubungan antarbagian itu dan
hubungan antara bagian-bagian tersebut dan keseluruhan struktur atau
tujuan.
1.1Membedakan Menyendirikan,memilah, Membedakan bagian materi
(differentiating) memfokuskan, memilih pelajaran yang relevan dari
yang tidak relevan, bagian
yang penting dari yang
tidak penting
1.2Mengorganisasi Menemukan koherensi, Menentukan bagaimana
(organizing) memadukan, membuat elemen elemen bekerja atau
garis besar, berfungsi dalam sebuah
mendeskripsikan peran, struktur (Misalnya menyusun
menstrukturkan bukti-bukti dalam cerita
sejarah jadi bukti-bukti
yang mendukung dan
menentang suatu penjelasan
historis.)
1.3Mengatribusika Mendekonstuksi Menentukan sudut pandang,
n (attributing) bias, nilai, atau maksud di
20

balik materi pelajaran


(Misalnya menunjukkan
sudut pandang penulis
suatu esai sesuai dengan
pandangan politik si penulis.
2. Mengevaluasi (Evaluate) --- Mengambil keputusan berdasarkan kriteria
dan/ atau standar.
2.1 Memeriksa Mengkoordinasi, Menemukan inkonsistensi
(checking) mendeteksi, memonitor, atau kesalahan dalam suatu
menguji proses atau produk,
menentukan apakah suatu
proses atau produk memiliki
konsistensi internal;
menemukan efektifitas
suatu prosedur yang sedang
dipraktikkan (Misalnya
memeriksa apakah
kesimpulankesimpulan
seorang ilmuwan sesuai
dengan data-data amatan
atau tidak.)
2.2 Mengkritik Menilai Menemukan inkonsistensi
(critiquing) antara suatu produk dan
kriteria eksternal;
menentukan apakah suatu
produk memiliki konsistensi
eksternal; menemukan
ketepatan suatu prosedur
untuk menyelesaikan
masalah (Misalnya
menentukan satu metode
terbaik dari dua metode
21

untuk menyelesaikan suatu


masalah.)
3. Mencipta (Create) ---- Memadukan bagian-bagian untuk membentuk
sesuatu yang baru dan koheren atau untuk membuat suatu produk yang
orisinal
3.1 Merumuskan Membuat hipotesis Membuat hipotesis-hipotesis
(generating) berdasarkan kriteria
(Misalnya membuat hipotesis
tentang sebabsebab
terjadinya suatu fenomena.)
3.2 Merencanakan Mendesain Merencanakan prosedur
(planning) untuk menyelesaikan suatu
tugas (Misalnya
merencanakan proposal
penelitian tentang topik
sejarah tertentu.)
3.3Memproduksi Mengkonstruksi Menciptakan suatu produk
(producing) (Misalnya membuat habitat
untuk spesies tertentu demi
suatu tujuan.)
Tabel 1. Dimensi Proses Kognitif

B. Penelitian yang Relevan

Tabel 2. Penelitian yang relevan

1 Nama Hiliaria Mitri


Judul Analisis Pembelajaran Keterampilan Berpikir
Penelitian Tingkat Tinggi Pada Mata Pelajaran Ekonomi di
SMAN N 8 Yogyakarta
Hasil Penelitian 1) Desain RPP yang dibuat guru Mata Pelajaran
Ekonomi di SMAN N 8 Yogyakarta sudah sesuai
dngan permendikbud no.103 tahun 2014 namun
belum memuat indikator keterampilan berpikir
tingkat tinggi. 2) Guru Mata Pelajaran Ekonomi di
SMAN N 8 Yogyakarta belum melaksanakan
kegiaatan pembelajaran yang mengarah pada
22

indikator keterampilan tingkat tinggi dan hal


tersebut terlihat pada strategi, metode dan model
pembelajaran. Namun terjadi perbedaan persepsi
hasil penelitian dengan persepsi siswa yang menilai
guru telah menerapkan pembelajaran HOTS. 3)
soal ujian belum mengarah pada keterampilan
berpikir tingkat tinggi. Dari ketiga poin tersebut
maka disimpulkan bahwa nilai UN tertinggi yang
diraih siswa pada mata Pelajaran Ekonomi di
SMAN N 8 Yogyakarta belum menunjukan bahwa
siswa memiliki keterampilan berpikiir tingkat
tinggi.
Persamaan
Penelitian
Perbedaan 1) Pada mata pelajaran yang di analisis, Hiliaria
Mitri melakukan analisis HOTS pada mata
pelajaran Ekonomi sedangkan penelitian ini pada
mata kuliah hidrologi. 2) Tempat penelitian Hiliaria
Mitri di SMAN N 8 Yogyakarta, sedangkan
penelitian penulis di Universitas Negeri Padang. 3)
Subjek Penelitian Hiliaria Mitri adalah guru
ekonomi dan siswa kelas X maupun kelas XI,
sedangkan penelitian ini dilakukan kepada dosen
dan mahasiswa. 4) metode penelitian ini
menggunakan metode deskriptif kuantitatif
sedangkan Penelitian Hiliaria Mitri mnggunakan
metode deskriptif kualitatif. 5) penelitian hiliari
mitri fokus pada HOTS siswa yang dilihat dari
aspek perencanaan, pelaksanaan dan penilaian
pembelajaran sedangkan penelitian ini fokus pada
HOTS mahasiswa ditinjau dari kualitas tugas,
presentasi kelas dan aktvitas belajar.
2 Nama Yulinda fery anjani
Judul Analisis kemampuan berpikir tingkat tinggi
Penelitian menurut teori Anderson dan Krathwohl pada
peserta didik kelas XI bilingual class system MAN
2 Kudus pada pokok bahasan program linier.
Hasil Penelitian Pada tahap menganalisis hanya terdapat dua dari 31
peserta didik yang mampu menyelesaikan soal atau
hanya sebanyak 6,45% peserta didik yang
mampu mencapai tahapan kemampuan
menganalisis Sedangkan 21 dari 31 peserta didik
sudah mampu mencapai tahap mengevaluasi. Ini
berarti sebanyak 67,74% peserta didik sudah
mampu mencapai tahapan kemampuan
mengevaluasi. Pada tahap mencipta belum ada
23

peserta didik yang mampu membuat gagasan


atau ide baru untuk menyelesaikan soal
program linier.
Persamaan
Penelitian
Perbedaan 1) Yang di teliti oleh yulinda tidak hanya tingkat
kemampuan berpikir tingkat tinggi namun juga
meneliti proses belajar sedangkan pada penelitian
ini penulis hanya meneliti tingkat kemampuan
berpikir tingat tinggi mahasiswa yang ditinjau dari
kualitas tugas, presentasi kelas dan aktvitas belajar.
2) Tempat penelitian Yullida Fery Anjani di MAN
2 Kudus, sedangkan penelitian penulis di
Universitas Negeri Padang. 3) Subjek Penelitian
Yulinda fery anjani adalah peserta didik kelas XI
MIA 5 bilingual class system, sedangkan
penelitian ini dilakukan kepada dosen dan
mahasiswa Pendidikan Geografi Universitas Negeri
Padang sebagai subjek penelitian. 4) metode
penelitian ini menggunakan metode deskriptif
kuantitatif sedangkan Penelitian Yulinda fery
anjani mnggunakan metode deskriptif kualitatif.
3 Nama Yee Meei Heong DKK
Judul The Level of Marzano Higher Order Thinking
Penelitian Skills among Technical Education Students
Hasil Penelitian 1)keterampilan berpikir tingkat tingkat tinggi
mahasiswa jurusan pendidikan teknik masih
tergolong endah berdasarkan identifikasi berpikir
tingkat tinggi Marzano. 2) jenis kelamin, prestasi
akademik dan status sosial ekonomi tidak
mempengaruhi kemampuan berpikir mahasiswa,
penelitian menunjukan bahwa mahasiswa hanya
menggunakan pedoman umum berdasarkan
pengalaman pribadi ketika membuat keputusan.
Persamaan
Penelitian
Perbedaan 1) Tempat penelitian Yee Mei Heong dkk di
Universiti Tun Hussein Malaysia, sedangkan
penelitian penulis di Universitas Negeri Padang. 2)
Subjek Penelitian Yee Mei Heong dkk adalah
mahasiswa pendidikan di Fakultas Pendidikan
Teknik (FPTek), sedangkan penelitian ini
dilakukan kepada dosen dan mahasiswa Pendidikan
Geografi Universitas Negeri Padang sebagai subjek
24

penelitian.
25

C. Kerangka Konseptual

Mahasiswa Pendidikan Geografi International


class yang mengambil mata kuliah Hidrologi

Aktivitas Belajar Presentasi Kelas Kualitas Tugas

Menganalisis
Keterampilan berpikir
tingkat tinggi (Higher
Order Thingking
Mengevaluasi
Skills/HOTS)

Mencipta

Persentasi Kemampuan berpikir tingkat tinggi mahasiswa


Pendidikan Geografi International class yang mengambil
mata kuliah Hidrologi yang ditinjau dari aktivitas belajar,
presentasi kelas dan kualitas tugas.

Gambar 1. Kerangka Konseptual


26

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Menurut Sugiyono (2011) penelitian merupakan cara ilmiah untuk

mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Sesuai dengan

rumusan masalah dan tujuan penelitian yang dirumuskan, maka penelitian

ini termasuk kepada jenis penelitian deskriptif kuantitatif. Menurut

Sugiyono (2006:14) Penelitian deskriptif kuantitatif merupakan metode

penelitian dengan memperoleh data yang berbentuk angka dianalisis

sesuai dengan metode statistik yang digunakan kemudian

diinterpretasikan.

Menurut Mukhtar (2013) penelitian deskriptif merupakan

penelitian untuk mengumpulkan informasi perilaku tentang subjek

penelitian pada suatu periode tertentu. Selain itu, Gulo (2015) menyatakan

penelitian deskriptif merupakan penelitian yang luas, peneliti tidak hanya

meneliti masalahnya sendiri, tetapi juga variabel-variabel lain yang

berhubungan dengan masalah itu secara rinci yaitu atas faktor-faktornya

untuk mendapat hasil yang lebih baik dan penelitian dilakukan dengan

menarik sampel.

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif karena

mendeskripsikan keadaan subjek dengan menggunakan teori yang sesuai

dengan kajian teori untuk selanjutnya digunakan sesuai kondisi yang


27

ada di lapangan. Penelitian ini menggunakan indikator kemampuan

berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thingking Skills/HOTS).

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

1. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Universitas Negeri Padang yang

terletak di jalan Prof. Dr. Hamka Air Tawar Barat, Padang, Sumatera

Barat. Penetapan Universitas Negeri Padang sebagai lokasi penelitian

tidak terlepas dari adanya permasalahan yang ditemukan khususnya

mengenai kemampuan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking

Skills/HOTS) pada mahasiswa Pendidikan Geografi di Unversitas

Negeri Padang.

Gambar 2. Peta Administrasi Kota Padang


28

2. Waktu Penelitian

Penelitian untuk memperoleh data yang diperlukan dilaksanakan

pada bulan Februari-April 2019.

C. Variabel dan Indikator Penelitian

Sugiyono (2014) menyatakan bahwa variabel adalah segala

sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk

dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian

ditarik kesimpulannya. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini

adalah keterampilan berpikir tingkat tinggi mahasiswa Pendidikan

Geografi Universitas Negeri Padang yang ditinjau dari kualitas tugas,

presentasi kelas dan aktivitas belajar. Sedangkan indikator yang digunakan

adalah indikator HOTS (Hight Order Thingking Skill) diantaranya yaitu

menganalisis, mengevaluasi dan mencipta.

D. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Menurut Sugiyono (2014) populasi adalah wilayah generalisasi

yang terdiri dari subjek/obyek atau orang maupun benda yang

memiliki kualitas maupun karakteristik/sifat tertentu yang ditentukan

oleh peneliti setelah itu dipelajari dan selanjutnya ditarik kesimpulan.

Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa S1 angkatan 2018

Program Studi Pendidikan Geografi yang mengambil mata kuliah

Hidrologi di Universitas Negeri Padang.


29

Tabel 3. Jumlah mahasiswa angkatan 2018 Program Studi

Pendidikan Geografi

Tahun masuk Jumlah mahasiswa


2018 111 orang
Sumber: Data jurusan geografi

2. Sampel

Menurut Sugiyono (2014) sampel adalah bagian dari jumlah

karakteristik yang dimiliki oleh populasi dan apabila populasi terlalu

besar maka peneliti boleh mengambil sampel yang benar-benar

mewakili populasi tersebut.

Pengambilan sample penelitian bisa dilakukan dengan berbagai

cara, dan penelitian ini dalam pengambilan sampelnya menggunakan

cara sampel purposive sampling, yaitu pengambilan sampel

dilakukan dengan pertimbangan atau tujuan tertentu (Sugiyono,

2013). Tujuan pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah

untuk mendapatkan informasi mengenai kemampuan berpikir tingkat

tinggi mahasiswa yang mengambil mata kuliah Hidrologi.

Akan tetapi pada penelitian ini tidak semua kelas dijadikan

sebagai subjek dalam penelitian. Penelitian ini mengambil salah satu

dari empat kelas pendidikan geografi 2018 sebagai subjek dalam

penelitian, yakni kelas International of Geography/Bilingual Class.

E. Sumber Data

Adapun sumber data untuk penelitian ini antara lain:

1. Data Primer
30

Menurut Sugiyono dalam Mitri (2016), data primer adalah data

yang diperoleh peneliti secara langsung dari sumber data yang ada.

Data primer dalam penelitian ini meliputi observasi aktivitas belajar

dan presentasi kelas mahasiswa Pendidikan Geografi tahun masuk

2018 kelas International of Geography/Bilingual Class Fakultas Ilmu

Sosial Universitas Negeri Padang. Karena dari sumber tersebut

didapatkan data secara langsung mengenai kemampuan berpikir

tingkat tinggi mahasiswa.

2. Data Sekunder

Menurut Sugiyono (2010), data sekunder adalah data yang di

peroleh atau dikumpulkan peneliti melalui berbagai sumber yang telah

ada. Adapun yang menjadi data sekunder dari penelitian ini adalah

dokumen mengenai mahasiswa yang secara tidak langsung dapat

memberikan kontribusi data mengenai kemampuan mahasiswa bagi

penelitian yang dilakukan. Dokumen yang digunakan dalam

penelitian ini berupa tugas mahasiswa.

F. Teknik Pengumpulan Data.

Dalam pengumpulan data diperlukan teknik tertentu. Dalam

penelitian ini, peneliti menggunakan teknik penelitian berupa Observasi

dan analisis dokumen/dokumentasi, Berikut penjelasannya:

1. Observasi
31

Observasi dilakukan untuk memperoleh data awal mengenai

kondisi mahasiswa prodi Pendidikan Geografi Universitas Negeri

Padang. Data tersebut akan memberikan keterangan atau informasi

permasalahan dalam lingkungan mahasiswa sehingga dapat diadakan

penelitian.

Observasi juga dilakukan untuk memperoleh data mengenai

kegiatan presentasi kelas dan aktivitas belajar mahasiswa pendidikan

geografi tahun masuk 2018 pada mata kuliah Hidrologi. Alat yang

digunakan adalah lembar observasi.

2. Dokumentasi

Menurut Harmawati (2016) dokumentasi merupakan penelaahan

terhadap referensi-referensi berhubungan dengan fokus permasalahan

penelitian. Dokumentasi digunakan untuk memperoleh data sekunder

berupa tugas mahasiswa dan soal ujian oleh dosen. Alat yang digunakan

adalah lembar analisis dengan memperhatikan indikator keteramplan

berpikir tingkat tinggi yaitu menganalisis, mengevaluasi dan mencipta.

Untuk lebih jelasnya tentang teknik pengumpulan data maka dapat

dilihat pada tabel dibawah ini:


32

Tabel 3. Data,Alat Ukur, Teknik Pengumpulan data dan teknik

analisis data

No Data Alat Ukur Teknik Teknik


Pengumpulan Analisis
Data Data
1 Aktivitas Lembar Observasi Persentase
Belajar Observasi
2 Presentasi Rubrik Observasi Persentase
Kelas Penilaian
3 Kualitas Lembar Analisis Persentase
Tugas Chek list Dokumen

G. Teknik Analisis Data

Sugiyono (2011) mendefinisikan analisis data sebagai proses

mencari dan menyusun data secara sistematis yang diperoleh dari hasil

wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara

mengorganisasikan data ke dalam kategori dan menyusun data ke

dalam pola, memilih mana yang penting dan akan dipelajari, dan

membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri dan

orang lain. Teknis analisis data pada penelitian ini adalah

mempersentasikan aktivitas belajar, Presentasi Kelas dan kualitas tugas

mahasiswa mahasiswa Pendidikan Geografi tahun masuk 2018 kelas

International of Geography/Bilingual Class Fakultas Ilmu Sosial

Universitas Negeri Padang

H. Prosedur Penelitian

Prosedur penelitian ini meliputi penyusunan instrumen,

pengambilan data, observasi, dokumentasi dan analisis data penelitian.


33

Penyusunan instrumen penelitian. Instrumen yang digunakan

untuk mendapatkan data antaralain lembar observasi, rubrik penilaian,

lembar Check List..

Observasi dilakukan untuk mendapatkan data awal mengenai

kondisi mahasiswa. Data tersebut akan memberikan informasi

permasalahan dalam lingkungan mahasiswa sehingga dapat diadakan

penelitian. Kegiatan observasi yang dilakukan untuk mendapatkan data

terkait presentasi kelas dan akivitas belajar mahasiswa pendidikan geografi

tahun masuk 2018 pada mata kuliah Hidrologi.

Dokumentasi dilakukan untuk penelaahan referensi-referensi yang

berhubungan dengan kemampuan berpikir tingkat tinggi sebagai bahan

rujukan dalam penelitian ini. Dokumentasi dilakukan dalam menganalisis

kualitas tugas.

Pengambilan data di lokasi penelitian. Data yang sudah diperoleh

kemudian dianalisis untuk menjawab masalah penelitian atau

menyimpulkan penelitian

Kegiatan terakhir dalam penelitian ini adalah melakukan

penarikan kesimpulan berdasarkan pada data penelitian yang diperoleh

untuk menjawab perumusan masalah yang ada.