Anda di halaman 1dari 5

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pemeriksaan diawali dengan uji HA untuk mengetahui jumlah titer antigen


yang terdapat didalam suspensi RBC yang telah diencerkan tersebut. Hasil dari
pemeriksaan HA bahwa titer yang di dapat sebanyak 32 HAU/25µl. Berdasarkan
hasil yang didapat bahwa hasil yang positif ditandai dengan terbentuknya endapan
pasir pada dasar sumur 1-5. Titik akhir aglutinasi yaitu pada sumur ke-5, sehingga
didapatkan hasil titer virus sebanyak 32 HAU/25µl. Titik akhir aglutinasi
merupakan batas akhir pengenceran tertinggi dari antigen yang masih
menghasilkan aglutinasi komplit. Dapat dilihat pada Gambar 1. hasil titer virus
pada sumur microplate U-bottom.

Gambar 1. Hasil pemeriksaan titer virus awal pada microplate U-bottom


(Sumber: Dokumentasi pribadi 2019)

Setelah pemeriksaan Ha dilanjutkan dengan melakukan inokulasi pada


Telur Embrio Tertunas (TET). Inokulasi dilakukan pada TET dilakukan pada telur
yang berumur 10 hari dengan suspensi virus yang telah ditambahkan antibiotik
sebelumnya. TET yang digunakan bersifat Spesific Pathogenic Free (SPF),
artinya telur TET tersebut sudah bebas dari mikroorganisme yang dapat
menimbulkan pathogen sehingga hasil yang didapat setelah inokulasi dapat
diyakinkan kebenarannya. Setelah telur TET diinokulasi pada bagian alantoisnya,
selanjutnya telur diamati setiap hari hingga hari ke-4 post inokulasi. Parameter
yang diamati adalah hidup atau mati kah TET tersebut dengan cara meletakkan
TET pada candling. Berdasarkan hasil pengamatan menunjukkan bahwa dari 10
telur yang diamati, 4 telur kontrol negatif dan 6 telur uji terdapat 2 telur mati pada
hari ke tiga 2 telur lagi mati pada hari keempat pengamatan. TET yang mati
langsung dimasukkan ke refrigerator, sedangkan yang masih hidup tetap
dimasukkan ke inkubator. Kematian yang terjadi pada embrio dapat ditarik
kesimpulan tingkat virulensi terhadap virus ND tersebut. Menurut Alexander dan
Senne (2008), embrio pada TET yang mati antara 60-90 jam paska inokulasi dapat
diklasfikasikan ke dalam bentuk virus ND dengan virulensi mesogenic.
Berdasarkan hasil pengamatan TET mati pertama kali pada hari ke tiga atau 72
jam paska inokulasi, yang berarti tingkat viruensi dari virus ND yang digunakan
masuk ke bentuk mesogenic.
Kemudian setelah pengamatan menggunakan candling, semua telur dibuka
pada hari ke-4 post inokulasi dan dilakukan pengambilan cairan alantois untuk
panen virus serta pengamatan embrio. Hasil pengukuran embrio TET kontrol
negatif dan TET yang diinokulasikan melalui rute alantois dilihat pada Tabel 1.
Hasil inokulasi virus pada TET melalui rute alantois pada kontrol negative, TET
inokulasi 1, TET inokulasi 2, dan TET inokulasi 3 dapat dilihat pada Gambar 2.
Tabel 1. Hasil pengukuran embrio TET kontrol negatif dan TET yang
diinokulasikan melalui rute alantois
Parameter Kontrol (-) TET Inokulasi TET Inokulasi TET Inokulasi
1 2 3

Bobot telur (gr) 43.5 44.3 47.8 45.9

Panjang badan (cm) 1.2 2.5 2.2 2.6

Panjang kepala 1.2 1.9 1.2 1.8


(cm)

Diameter kepala 0.9 1.4 0.8 1.5


(cm)

Hiperemi Sedikit Ada Ada Ada

Pertumbuhan bulu Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada

Warna cairan Kuning Kuning bening Kuning


alantois

a b c d
Gambar 3. Hasil inokulasi virus pada TET melalui rute alantois: a. kontrol negatif;

b. TET inokulasi 1; c. TET inokulasi 2; d. TET inokulasi 3


(Sumber: Dokumentasi pribadi 2019)

Hasil yang diamati dari TET setelah dibuka bahwa embrio yang
diinokulasikan dengan virus ND memiliki ukuran lebih besar dibandingkan
dengan embrio dari telur ayam pada kontrol negatif. Selain itu pada embrio yang
diinokulasi pertumbuhan bentuk tubuhnya sudah terlihat jelas dibandingkan
dengan kontrol negatif. Temuan lainnya bahwa pada TET yang diinokulasi
terlihat adanya hiperemi, kemerahan pada kulit, kulit terlihat lebih basah, serta
pembuluh darah terlihat lebih menonjol, serta terdapat salah satu dari TET dengan
cairan allantois yang bening. Menurut Putra et al. (2012) pada embrio ayam yang
terinfeksi virus ND akan menunjukkan embrio terlihat berwarna merah tua dan
kulit terlihat basah. Jaringan subkutan berisi darah dan pembuluh darah terlihat
menonjol. Lesi makroskopis akibat virus ND yang bersifat patogen pada
penelitian tersebut tidak menunjukkan lesi yang spesifik karena beberapa penyakit
pada unggas lain juga menunjukkan perubahan yang sama pada embrio ayam
(Wibowo et al. 2006). Embrio telur ayam pada kontrol negatif ukurannya lebih
kecil dan bentuk anatomi nya belum terlihat jelas, hanya bagian kepala yang
sudah terlihat sedangkan badan dan kakinya masih belum telihat jelas.
Karakteristik embrio ayam kontrol negatif tersebut dapat disebabkan beberapa
factor, salah satunya karena embrio mengalami kematian dini.
Kemudian setelah TET dibuka, cairan alantois dipanen dan diperiksa
untuk mengetahui keberadaan antigen virus di dalam cairan tersebut setelah
inokulasi. Uji yang dapat dilakukan adalah melakukan uji cepat aglutinasi (rapid
test). Hasil uji cepat aglutinasi ditandai dengan adanya endapan pasir yang
terbentuk yang menunjukkan bahwa virus terdapat di dalam cairan tersebut dan
menunjukkan hasil positif. Hasil negatif ditandai dengan tidak terbentuknya
endapan pasir pada cairan tersebut. Endapan pasir yang terjadi disebabkan virus
mampu mengaglutinasi suspensi RBC 5%. Hasil uji cepat aglutinasi hanya berupa
hasil positif atau negatif. Kelemahan dari uji ini kita tidak dapat menghitung titer
virus yang terkandung didalam cairan alantois tersebut. Uji ini bersifat sensitif
tetapi tidak spesifik. Hasil uji cepat dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3. Hasil uji cepat aglutinasi suspensi virus pada TET yang telah
diinokulasi virus ND.
(sumber: Dokumentasi pribadi 2019)

Kemudian pemeriksaan dilanjutkan dengan uji HA/HI terhadap cairan


alantois setelah diinokulasi. Uji HA positif ditandai dengan terjadinya
hemaglutinasi beruapa agregat-agregat seperti pasir pada dasar microplate, hal ini
disebabkan karena aktivitas protein virus yang mengikat sel darah merah
sedangkan hasil, sedangkan hasil negatif terdapat adanya titik merah sebagai
pengendapan dari sel darah marah pada dasar sumur (Mahardika et al. 2015).
Hasil yang didapat menunjukkan bahwa titer virus yang terdapat pada cairan
allantois tersebut sebanyak 128 HAU/25µl. Endapan pasir terjadi pada sumur 1-7.
Titik akhir agutinasi terdapat pada sumur ke-7, sehingga didapatkan hasil titer
sebesar 128 HAU/25µl. Titik akhir aglutinasi merupakan batas akhir pengenceran
tertinggi dari antigen yang masih menghasilkan aglutinasi komplit. Hasil uji HA
pada cairan alantois setelah inokulasi virus ND dapat diamati pada Gambar 4.
Gambar 4 Hasil uji HA pada cairan alantois setelah inokulasi virus ND
(Sumber: Dokumentasi pribadi 2019)

Virus ND mampu mengaglutinasi eritrosit karena memilki protein


hemaglutinin yang menyusun salah satu spike glikoprotein di permukaan
partikelnya (Cann 2005). Hemaglutinasi terhadap sel darah merah dari ayam tidak
hanya dapat dilakukan oleh virus ND, tetapi beberapa mikroorganisme lain dapat
pula melakukan aktivitas hemaglutinasi. Mikroorganisme pada unggas yang dapat
melakukan aktifitas hemaglutinasi, yaitu famili Paramyxoviridae,
Orthomyxoviridae, infectious bronchitis (IB), dan mycoplasma (Quinn et al.
2011). Hemaglutinin virus ND berkaitan secara spesifik dengan reseptor dengan
asam sialat yang terdapat pada membran plasma eritrosit ayam. Selain eritrosit
ayam, virus tersebut juga dapat mengaglutinasi eritrosit marmut dan manusia.
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kinerja dari hemaglutinasi antara lain
eritrosit hewan yang digunakan, pH pengencer dan temperatur inkubasi (Burleson
et al. 1992).
Selanjutnya dilakukan uji HI terhadap cairan alantois yang sudah
diinokulasi virus ND. Prinsip dasar dari uji ini adalah terdapat reaksi ikatan antara
antibodi pada serum spesifik dengan antigen virus yang spesifik. Titer HI
ditentukan dengan cara melihat pengenceran tertinggi dari serum yang masih
mampu menghambat aglutinasi erotrosit 1% oleh virus (OIE 2012). Menurut OIE
(2000) antibodi protektif terhadap serangan ND maupun AI apabila memiliki
inhibisi pada serum yang diencerkan 1;16 (24) atau log 24 yang menggunakan

antigen standar 4 HAU.


Gambar 5 Hasil uji HI pada cairan alantois setelah inokulasi virus ND
(Sumber: Dokumentasi pribadi 2019)
Hasil yang didapat dari uji HI yang dilakukan bahwa terdapat pengendapan
sel darah merah pada sumur 1-7 yang menandakan bahwa terdapat hambatan
terhadap aktivitas hemaglutinasi pada sel darah merah oleh virus ND. Titer
antibodi yang terukur yaitu 1;128 (27) atau log 27 yang artinya titer antibodi pada
cairan allantois tersebut sudah cukup protektif terhadap serangan virus ND.
Menurut Syukron et al. (2013), uji HI hanya bisa digunakan untuk virus yang
mengaglutinasi eritrosit dan dengan antibodi spesifik. Hasil uji HI dipengaruhi
oleh beberapa faktor, diantaranya adalah konsentrasi antigen HA yang digunakan,
konsentrasi suspensi eritrosit, waktu antara mencampur serum, antigen, dan
penambahan eritrosit, serta suhu saat pencampuran (Purchase et al. 2008).
SIMPULAN
Berdasarkan hasil yang didapat pada cairan allantois dari TET yang sudah
diinokulasi didapat titer virus awal yaitu 32 HAU/25µl, dan setelah diinokulasikan
titernya sebesar 128 HAU/25µl. Titer antibodi anti virus ND yang terdapat pada
serum sebesar 128 HAU/25µl.

DAFTAR PUSTAKA

Alexander DJ, Senne DA. 2008. Newcastle Disease, Other Avian Paramyxovirus,
and Pneumovirus infection in: Disease of Poultry. Iowa (US): Blackwell
Publishing.
Burleson GF, Thomas MC, Danny LW. 1992. Virology, A Laboratory Manual.
London (GB): Academic Press.
Cann AJ. 2005. Principles of Molecular Virology, 4th Ed. Singapore (SN):
Elsevier.
Mahardika IGNK, Astawa INM, Kencana GAY, Suardana IBK dan Sari TK.
2015. Teknik Lab Virus. Denpasar (ID): Udayana University Press.
[OIE] Office Intertational des Epizooties. 2012. Di dalam: OIE. Newcastle
Disease: OIE Terestrial Manual. France (FR): Office International des
Epizooties.
[OIE] Office Intertational des Epizooties. 2000. Manual of Standards for
Diagnostic Test and Vaccines. 4 th ed. Office International des
Epizooties, Paris. pp:216
Purchase HG, Lawrence HA, Charles HD, James EP. 2008. A Laboratory Manual
for The Isolation and Identification of Avian Pathogens. 3rd Ed. Iowa
(US): Kendall Hunt Publishing Company.
Putra HH, Wibowo MH, Untari T, Kurniasih. 2012. Studi lesi makroskopis dan
mikroskopis embrio ayam yang diinfeksi virus Newcastle Disease isolat
lapang yang virulen. JSV. Vol 30 (1): 57-68.
Syukron MU, Suartha IN, Dharmawan NS. 2013. Serodeteksi penyakit tetelo pada
ayam di Timor Leste. Indosia Medicus Veteriner. 2(3): 360-368.
Quinn PJ, Markey BK, Leonard FC, FitzPatrick ES, Fanning S, Hatigan PJ. 2011.
Veterinary Microbiology and Microbial Disease. 2nd Ed. Iowa (US):
Blacwell Science.
Wibowo MH, Asmara W, Tabbu. 2006. Isolasi dan identifikasi serologis virus
Avian Influenza dari sampel unggas yang diperoleh di D.I Yogyakarta
dan Jawa Tengah. JSV. Vol 24: 77-83.