Anda di halaman 1dari 6

6 SEBAB TERJADINYA MAKSIAT

Amma ba’du:
Para jama’ah shalat Jum’at rahimani wa rahimakumullah …
Sungguh banyak nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Nikmat yang paling besar
adalah Allah masih memberikan nikmat Iman dan Islam. Tugas kita adalah
mensyukurinya dengan terus memperbaiki ketakwaan kita pada Allah. Allah
memerintahkan,

َ ‫ق تُقَاتِ ِه َواَل تَ ُموتُ َّن إِاَّل َوأَ ْنتُ ْم ُم ْسلِ ُم‬


‫ون‬ َ ‫يَا أَيُّهَا الَّ ِذ‬
َّ ‫ين آَ َمنُوا اتَّقُوا هَّللا َ َح‬
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa
kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama
Islam.” (QS. Ali Imran: 102)
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada nabi akhir zaman, suri tauladan kita, dan
yang menjadi pembuka pintu surga di akhirat kelak, yaitu nabi besar kita
Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, begitu pula kepada para sahabat, dan para
tabi’in serta setiap orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik hingga akhir zaman.
 
Kaum muslimin yang semoga dirahmati oleh Allah Ta’ala …
Maksiat dan setiap yang Allah larang mesti kita jauhi sebagaimana perintah dalamn
ayat,

ُ‫َو َما آَتَا ُك ُم ال َّرسُو ُل فَ ُخ ُذوهُ َو َما نَهَا ُك ْم َع ْنه‬


“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya
bagimu, maka tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr: 7)
Dan maksiat memiliki dampak, di antaranya hati akan semakin gelap.
Allah Ta’ala berfirman,

َ ‫ان َعلَى قُلُوبِ ِه ْم َما َكانُوا يَ ْك ِسب‬


‫ُون‬ َ ‫َكاَّل بَلْ َر‬
“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu
menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 14).
Coba lihat bagaimanakah keadaan seorang alim yang berbuat maksiat. Pernah terjadi
pada Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i rahimahullah ketika beliau mengeluhkan
hafalannya pada gurunya. Padahal Imam Syafi’i sebenarnya orang yang hafalannya
sungguh amat luar biasa. Diriwayatkan dari Imam Asy Syafi’i, ia berkata, “Aku telah
1
menghafalkan Al Qur’an ketika berumur 7 tahun. Aku pun telah menghafal kitab Al
Muwatho’ ketika berumur 10 tahun. Ketika berusia 15 tahun, aku pun sudah berfatwa.”
(Thorh At Tatsrib, 1: 95-96).
Imam Syafi’i rahimahullah pernah berkata,

‫اصي َوأَ ْخبَ َرنِي بِأ َ َّن‬


ِ ‫يع سُو َء ِح ْف ِظي فَأَرْ َش َدنِي إلَى تَرْ ِك ْال َم َع‬
ٍ ‫َش َك ْوت إلَى َو ِك‬
ِ ‫ْال ِع ْل َم نُو ٌر َونُو ُر هَّللا ِ اَل يُ ْه َدى لِ َع‬
‫اصي‬
“Aku pernah mengadukan kepada Waki’ tentang jeleknya hafalanku. Lalu beliau
menunjukiku untuk meninggalkan maksiat. Beliau memberitahukan padaku bahwa  ilmu
adalah cahaya dan cahaya Allah tidaklah mungkin diberikan pada ahli maksiat.”
(I’anatuth Tholibin, 2: 190).
Lihatlah itu salah satu bukti maksiat itu menggelapkan hati. Beda kalau memang kita
sudah terbiasa bermaksiat, sudah terbiasa enggan shalat, sudah terbiasa memakan riba,
bahkan menganggap biasa dosa syirik.
Maksiat bisa dilakukan terang-terangan, bisa pula dilakukan seorang diri. Perhatikan
hadits berikut ini.

‫ « ألَ ْعلَ َم َّن أَ ْق َوا ًم{{ا ِم ْن‬: ‫ أَنَّهُ قَ{{ا َل‬-‫صلى هللا عليه وسلم‬- ‫ان َع ِن النَّبِ ِّى‬ َ َ‫َع ْن ثَ ْوب‬
‫يض {ا فَيَجْ َعلُهَ{{ا هَّللا ُ َع{ َّز‬
ً ‫ال تِهَا َم{ ةَ ِب‬ ِ َ‫ت أَ ْمث‬
ِ َ‫ال ِجب‬ َ ُ‫أُ َّمتِى يَأْت‬
ٍ ‫ون يَ ْو َم ْالقِيَا َم ِة ِب َح َسنَا‬
َ‫ص { ْفهُ ْم لَنَ{{ا َجلِّ ِه ْم لَنَ{{ا أَ ْن ال‬
ِ ِ ‫ يَ{{ا َر ُس {و َل هَّللا‬: ‫ان‬ ُ َ‫ قَا َل ثَ ْوب‬.» ‫َو َج َّل هَبَا ًء َم ْنثُورًا‬
َ ‫ « أَ َما إِنَّهُ ْم إِ ْخ َوانُ ُك ْم َو ِم ْن ِج ْل{ َدتِ ُك ْم َويَأْ ُخ{ ُذ‬: ‫ قَا َل‬.‫ون ِم ْنهُ ْم َونَحْ ُن الَ نَ ْعلَ ُم‬
‫ون‬ َ ‫نَ ُك‬
َ ‫ِم َن اللَّي ِْل َك َما تَأْ ُخ ُذ‬
ِ ‫ون َولَ ِكنَّهُ ْم أَ ْق َوا ٌم إِ َذا َخلَ ْوا بِ َم َح‬
» ‫ار ِم هَّللا ِ ا ْنتَهَ ُكوهَا‬
Dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata,
“Sungguh aku mengetahui suatu kaum dari umatku datang pada hari kiamat dengan
banyak kebaikan semisal Gunung Tihamah. Namun Allah menjadikan kebaikan tersebut
menjadi debu yang bertebaran.” Tsauban berkata, “Wahai Rasulullah, coba sebutkan
sifat-sifat mereka pada kami supaya kami tidak menjadi seperti mereka sedangkan kami
tidak mengetahuinya.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Adapun mereka adalah saudara
kalian. Kulit mereka sama dengan kulit kalian. Mereka menghidupkan malam (dengan
ibadah) seperti kalian. Akan tetapi mereka adalah kaum yang jika bersepian mereka

2
merobek tirai untuk bisa bermaksiat pada Allah.” (HR. Ibnu Majah no. 4245. Al-Hafizh
Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).
Hadits di atas semakna dengan ayat,

َ ُ‫ون ِم َن هَّللا ِ َوهُ{{{ َو َم َعهُ ْم إِ ْذ يُبَيِّت‬


‫{{{ون َم{{{ا اَل‬ َ ُ‫اس َواَل يَ ْس{{{تَ ْخف‬ ِ َّ‫ون ِم َن الن‬ َ ُ‫يَ ْس{{{تَ ْخف‬
‫ون ُم ِحيطًا‬ َ ‫ضى ِم َن ْالقَ ْو ِل َو َك‬
َ ُ‫ان هَّللا ُ بِ َما يَ ْع َمل‬ َ ْ‫يَر‬
“Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah,
padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan
rahasia yang Allah tidak ridhai. Dan adalah Allah Maha Meliputi (ilmu-Nya) terhadap
apa yang mereka kerjakan.” (QS. An-Nisa’: 108). Walaupun dalam ayat tidak
disebutkan tentang hancurnya amalan.
Sekarang yang terpenting, kita menjauhi maksiat. Namun bagaimanakah caranya?
Kita bisa mendeteksi terlebih dahulu sebab-sebab kita mudah menerjang yang haram.
 
Para jama’ah shalat Jumat yang semoga dirahmati oleh Allah …
 
Sebab pertama:
Lemahnya iman, itu ada karena kurangnya ilmu, kurang ma’rifatullah (mengenal
Allah).  Kalau iman seseorang itu kuat, jika ada maksiat di depannya, ia akan
mengedepankan rasa takut pada Allah daripada kesenangan dunia yang sementara.
 
Sebab kedua:
Teman bergaul yang jelek.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi  wa
sallam bersabda,

‫ين َخلِيلِ ِه فَ ْليَ ْنظُرْ أَ َح ُد ُك ْم َم ْن يُ َخالِ ُل‬


ِ ‫ْال َمرْ ُء َعلَى ِد‬
“Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah
siapa yang akan menjadi teman karib kalian.” (HR. Abu Daud no. 4833, Tirmidzi no.
2378, Ahmad 2/344, dari Abu Hurairah. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini
hasan. Lihat Shohihul Jaami’ 3545).
Banyak maksiat yang terjadi dikarenakan teman bergaul yang jelek.
 

3
Sebab ketiga:
Pandangan yang begitu bebas, tidak mau ditundukkan. Karena dari pandangan, panah
iblis mulai dimainkan, makanya Allah perintahkan,

َ ‫ك أَ ْز َكى لَهُ ْم إِ َّن هَّللا‬


َ {ِ‫ار ِه ْم َويَحْ فَظُوا فُرُو َجهُ ْم َذل‬
ِ ‫ص‬َ ‫ين يَ ُغضُّ وا ِم ْن أَ ْب‬
َ ِ‫قُلْ لِ ْل ُم ْؤ ِمن‬
َ ‫َخبِي ٌر بِ َما يَصْ نَع‬
‫ُون‬
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan
pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi
mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. An-
Nuur: 30)
Dari Jarir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

‫{ر ْالفُ َج{{ا َء ِة فَ{{أ َ َم َرنِى أَ ْن‬ ُ ‫َس {أ َ ْل‬


ِ {َ‫ َع ْن نَظ‬-‫ص{{لى هللا علي{{ه وس{{لم‬- ِ ‫ت َر ُس {و َل هَّللا‬
.‫ص ِرى‬ َ ‫أَصْ ِر‬
َ َ‫ف ب‬
“Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai
pandangan yang tidak di sengaja. Maka beliau memerintahkanku supaya memalingkan
pandanganku.” (HR. Muslim, no. 2159)
 
Sebab keempat:
Banyak waktu luang.
Dua nikmat ini seringkali dilalaikan oleh manusia –termasuk pula hamba yang faqir ini-.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ُ ‫ص َّحةُ َو ْالفَ َرا‬


‫غ‬ ِّ ‫ ال‬، ‫اس‬ ٌ ‫ان َم ْغب‬
ِ َّ‫ُون ِفي ِه َما َكثِي ٌر ِم َن الن‬ ِ َ‫نِ ْع َمت‬
”Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu
senggang.” (HR. Bukhari no. 6412, dari Ibnu ‘Abbas)
 
Sebab kelima:
Bermudah-mudahan dalam yang haram. Karena semakin bermudah-mudahan, kita bisa
terjerumus dalam yang haram yang lebih parah.
 

4
Sebab keenam:
Dekat dengan tempat-tempat yang dapat membangkitkan syahwat seperti duduk-duduk
di pinggir jalan. Karena syahwat dapat bangkit lewat pandangan ketika berada di jalan-
jalan.
Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,

‫ إِنَّ َم{{ا ِه َى َم َجالِ ُس{نَا‬، ‫ فَقَ{{الُوا َم{{ا لَنَ{{ا بُ{ ٌّد‬. » ‫ت‬ ُّ ‫وس َعلَى‬
ِ ‫الط ُرقَا‬ َ ُ‫« إِيَّا ُك ْم َو ْال ُجل‬
َ { ‫س فَ{{أ َ ْعطُوا الطَّ ِري‬
‫ق َحقَّهَ{{ا » قَ{{الُوا‬ َ ِ‫ قَا َل « فَإِ َذا أَبَ ْيتُ ْم إِالَّ ْال َم َجال‬. ‫ث فِيهَا‬
ُ ‫نَتَ َح َّد‬
‫ َوأَ ْم{ ٌر‬، ‫الس {الَ ِم‬
َّ ‫ َو َر ُّد‬، ‫ف األَ َذى‬ َ َ‫يق قَا َل « َغضُّ ْالب‬
ُّ ‫ َو َك‬، ‫ص ِر‬ ِ ‫ق الطَّ ِر‬
ُّ ‫َو َما َح‬
» ‫ى َع ِن ْال ُم ْن َك ِر‬ ِ ‫بِ ْال َم ْعر‬
ٌ ‫ َونَ ْه‬، ‫ُوف‬
“Janganlah kalian duduk-duduk di pinggir jalan”. Mereka bertanya, “Itu kebiasaan
kami yang sudah biasa kami lakukan karena itu menjadi majelis tempat kami
bercengkrama”. Beliau bersabda, “Jika kalian tidak mau meninggalkan majelis seperti
itu maka tunaikanlah hak jalan tersebut”. Mereka bertanya, “Apa hak jalan itu?”
Beliau menjawab, “Menundukkan pandangan, menyingkirkan gangguan di jalan,
menjawab salam dan amar ma’ruf nahi munkar.” (HR. Bukhari no. 2465)
Termasuk juga yang mudah membangkitkan syahwat adalah musik dan berada di tempat
yang melalaikan dari Allah.
Demikian khutbah pertama ini.

ِ ‫{{{ولِي هَ{{{ َذا أَ ْس{{{تَ ْغفِ ُر هللاَ لِي َولَ ُك ْم َولِ َس{{{ائِ ِر ال ُم ْس{{{لِ ِمي َْن َوال ُم ْس{{{لِ َما‬
‫ت‬ ْ َ‫{{{و ُل ق‬ ْ ُ‫أَق‬
ِ ‫فَا ْستَ ْغفِر ُْوهُ إِنَّهُ هُ َو ال َغفُ ْو ُر الر‬
‫َّح ْي ُم‬
 
KHUTBAH KEDUA
 

‫ َوأَ ْش{هَ ُد أَ َّن‬،ُ‫ك لَ{ه‬


َ ‫ َوأَ ْشهَ ُد أَ ْن اَل إِلَهَ إِاَّل هللاُ َوحْ َدهُ اَل َش ِر ْي‬، ُ‫أَحْ َم ُد َربِّي َوأَ ْش ُك ُره‬
ُ‫نَبِيَّنَا ُم َح َّم ًدا َع ْب ُدهُ َو َرس ُْولُه‬
‫ان إِلَى يَ ْو ِم ال ِّدي ِْن‬ َ ‫اللَّهُ َّم‬
ٍ ‫صلِّ َعلَى نَبِيِّنَا ُم َح َّم ٍد َو َعلَى آ ِل ِه َو َم ْن تَبِ َعهُ ْم بِإِحْ َس‬
Para jama’ah shalat Jumat yang semoga dirahmati oleh Allah …
Kesimpulannya ada enam sebab yang menyebabkan kita mudah bermaksiat:
5
 Lemahnya iman.
 Teman yang jelek.
 Pandangan yang tidak dijaga.
 Waktu luang yang tidak dimanfaatkan dalam kebaikan.
 Bermudah-mudahan dalam yang haram.
 Dekat-dekat dengan tempat yang membangkitkan syahwat.

ِ ‫ك ْال ُم ْن َك َرا‬
‫ت‬ ِ ‫ك فِ ْع َل ْال َخ ْي َرا‬
َ ْ‫ت َوتَر‬ َ ُ‫اللَّهُ َّم إِنِّى أَسْأَل‬
“Allahumma inni as-aluka fi’lal khoiroot wa tarkal munkaroot.” (Ya Allah, aku
memohon kepada-Mu untuk mudah melakukan kebaikan dan meninggalkan
kemungkaran). (HR. Tirmidzi no. 3235 dan Ahmad 5: 243. Syaikh Al Albani
mengatakan bahwa hadits ini shahih).
 
Di hari Jumat yang penuh berkah ini, kami ingatkan untuk memperbanyak shalawat
pada Nabi kita Muhammad, juga mudah-mudahan doa kita diperkenankan di hari penuh
berkah ini.