Anda di halaman 1dari 8

MAKALAH TENTANG KESEHATAN GIGI DAN MULUT

PADA KELOMPOK PENDERITA DIABETES MELITUS

Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pelayanan Asuhan Keperawatan Gigi dan
Mulut pada Kelompok Berkebutuhan Khusus

Dosen Pengampu :
drg. Ani Subekti, MDsc, Sp. KGA

Disusun Oleh :
Annisaa Sittatunnikmah
P1337425217053
Semester VII

DIV Terapis Gigi Dan Mulut


Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Semarang
Tahun Ajaran 2020
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Menurut WHO (2018), pada tahun 2016 sekitar 71 persen penyebab kematian
di dunia adalah penyakit tidak menular (PTM) yang membunh hingga 36 juta jiwa per
tahun. Sekitar 80 persen kematian tersebut terjadi di negara berpenghasilan menengah
dan rendah dimana 73% kematian saat ini disebabkan oleh penyakit tidak menular,
35% diantaranya karena penyakit jantung dan pembuluh darah, 12% oleh penyakit
kanker, 6% oleh penyakit pernapasan kronis, 6% karena diabetes, dan 15%
disebabkan oleh PTM lainnya.
Indonesia saat ini menghadapi beban ganda, yaitu dalam menangani
peningkatan penyakit menular serta penyakit tidak menular. Perubahan pola penyakit
tersebut sangat dipengaruhi antara lain oleh perubahan lingkungan, perilaku
masyarakat, teknologi, ekonomi dan sosial budayatransisi demogra, teknologi,
ekonomi dan sosial budaya yang menyebabkan angka penderita PTM semakin
meningkat dan tidak mengenai usia. Hal ini berdasarkan hasil riskesdas (2018), bahwa
prevalensi diabetes melitus pada penduduk umur ≥ 15 tahun meningkat dari 6,9 %
menjadi 10,9% (Kemenkes RI, 2018).
Diabetes Mellitus adalah salah satu bagian dari penyakit tidak menular.
Diabetes Mellitus merupakan penyakit yang disebabkan oleh tingginya kadar gula
darah akibat gangguan pada pankreas dan insulin. Penderita Diabetes Mellitus jika
tidak dikelola dengan tepat dapat mengakibatkan masalah kesehatan lebih lanjut,
seperti Gangguan Penglihatan Mata, Katarak, Penyakit Jantung, Sakit Ginjal ,
Impotensi Seksual, Luka sulit sembuh dan membusuk/Gangren, Infeksi Paru-Paru,
Gangguan Pembuluh Darah, Stroke dan sebagainya ( PERKENI, 2015).
Kesehatan gigi dan mulut sering kali diabaikan oleh setiap individu, hal ini
menyebabkan status kesehatan gigi dan mulut masyarakat Indonesia terus meningkat
setiap tahun. Menurut Riskesdas tahun 2018, prevalensi masalah kesehatan gigi dan
mulut masyarakat Indonesia meningkat 57,6% yang semula 25,9% di tahun 2013
(Kemenkes RI, 2018). Oleh karena itu, perlu adanya peningkatan pelayanan asuhan
kesehatan gigi yag menyeluruh, termasuk pada pasien dengan riwayat penyakit
diabetes melitus yang merupakan kelompok khusus dimana rentan terhadap terjadinya
gangguan kesehatan gigi dan mulut.
Namun, masih banyak penderita diabetes yang tidak mengetahui bagaimana
cara merawat kesehatan gigi dan mulutnya serta kurangnya pengetahuan calon tenaga
kesehatan gigi mengenai asuhan yang harus dilakukan. Oleh karena itu, penulis
tertarik untuk melakukan kajian pustaka mengenai asuhan keperawatan gigi dan mulut
pada kelompok penderita diabetes melitus.
B. Rumusan
Berdasarkan latar belakang masalah, didapatkan rumusan masalah yaitu “
Bagaimana penerapan kehedatan gigi dan mulut pada penderita penyakit diabetes
melitus?”
C. TUJUAN PEMBAHASAN
1. Tujuan Umum
Memahami mengenai penerapan asuhan keperawatan gigi dan mulut pada
penderita diabetes melitus.
2. Tujuan Khusus
a. Mampu menerapkan proses keperawatan gigi dan mulut pada pasien
dengan diabetes melitus meliputi pengkajian, merumuskan diagnosa,
menetapkan rencana keperawatan, tindakan keperawatan, melakukan
evaluasi
b. Mampu melakukan dokumentasi keperawatan gigi dan mulut pada pasien
dengan diabetes melitus.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Permasalahan Kesehatan Gigi dan Mulut pada Kelompok Penderita Diabetes


Melitus
1. Faktor Resiko Masalah Kesehatan Gigi dan Mulut pada Kelompok
Diabetes Melitus
Diabetes Melitus adalah penyakit gangguan metabolisme tubuh dimana
hormon insulin tidak bekerja sebagai mana mestinya. Insulin adalah hormon
yang diproduksi oleh kelenjar pankreas dan berfungsi untuk mengontrol kadar
gula dalam darah dengan mengubah karbohidrat, lemak dan protein menjadi
energi. Diabetes Melitus (DM) adalah penyakit kencing manis dengan
penderita paling banyak didunia. DM sangat berpengaruh dengan kondisi
tubuh dari si penderita. Seringkali penyakit DM ini dapat menimbulkan
komplikasi salah-satunya dibagian gigi dan mulut (Lubis, 2012). Risiko
masalah kesehatan gigi dan mulut pada pasien diabetes melitus adalah pasien
cenderung kering pada mulut/xerostomia, terdapat gingivitis, penyakit
periodontal dan kehilangan gigi (Phipps, 1995., cit. Potter & Perry, 2006).
Penyakit gigi dan mulut pada penyandang diabetes melitus disebabkan
oleh beberapa faktor diantaranya adalah :
a. Xerostomina (mulut kering)
Diabetes yang tidak terkontrol menyebabkan penurunan aliran saliva
(air liur), sehingga mulut terasa kering. Saliva memiliki efek self-
cleansing, dimana alirannya dapat berfungsi sebagai pembilas sisa-sisa
makanan dan kotoran dari dalam mulut. Jadi bila aliran saliva menurun
maka akan menyebabkan timbulnya rasa tak nyaman, lebih rentan
untuk terjadinya ulserasi (luka), lubang gigi, dan bisa menjadi ladang
subur bagi bakteri untuk tumbuh dan berkembang.
b. Karies
Berdasarkan hasil penelitian Ampow (2018), sebagian besar
penyandang diabetes melitus memiliki kategori indeks karies sangat
tinggi dengan presentase tertinggi pada penyandang DM 5-10 tahun
dan penyandang DM dengan kontrol gula darah yang buruk.
Diabetes melitus merupakan salah satu penyakit dengan keadaan
rongga mulut yang rentan terkena karies karena bertambahnya
karbohidrat yang dapat difermentasikan oleh saliva yang merupakan
media yang sesuai untuk pembentukan asam ( Iwanda, Titi NR.) Bila
pH saliva menjadi asam, maka terjadi peningkatan jumlah bakteri
streptococcus dalam rongga mulut. Bakteri-bakteri ini kemudian
menghasilkan zat-zat yang akan mempercepat proses demineralisasi
email yang berakibat karies pada gigi (Mark AG, Peter PT, Robert
LH). hal ini menunjukan bahwa faktor penyebab karies pada
penyandang diabetes adalah pH saliva yang cenderung lebih asam oleh
karena peningkatan kadar glukosa pada saliva.
c. Gingivitis dan Periodontitis
Periodontitis merupakan komplikasi nomor enam terbesar di antara
berbagai macam penyakit dan Diabetes Melitus adalah komplikasi
nomor satu terbesar khusus di rongga mulut. Hampir sekitar 80%
pasien Diabetes Melitus gusinya bermasalah. Tanda-tanda periodontitis
antara lain pasien mengeluh gusinya mudah berdarah, warna gusi
menjadi mengkilat, tekstur kulit jeruknya (stippling) hilang, kantong
gusi menjadi dalam, dan ada kerusakan tulang di sekitar gigi, pasien
mengeluh giginya goyah sehingga mudah lepas (Lubis, 2012).
Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan gingivitis dan
periodontitis pada diabetes melitus salah satu hal yang mendasar
adalah akibat dari kurangnya jumlah dan laju saliva, serta viskositas
yang kental menyebabkan lebih cepat terjadinya akumulasi plak,
kalkulus. Hal tersebut dapat menjadi masalah gisi dan jaringan
periodontal apabila tidak diberikan perawatan yang sesuai (Lubis,
2012).
d. Stomatitis
Penderita Diabetes sangat rentan terkena infeksi jamur dalam mulut
dan lidah yang kemudian menimbulkan penyakit sejenis sariawan.
Sariawan ini disebabkan oleh jamur yang berkembang seiring naiknya
tingkat gula dalam darah dan air liur penderita diabetes. Pada penderita
Diabetes Melites kronis dimana tubuh rentan terhadap infeksi sehingga
sering menggunakan antibiotik dapat mengganggu keseimbangan
kuman di dalam mulut yang mengakibatkan jamur candida
berkembang tidak terkontrol sehingga menyebabkan thrush yang
ditandai dengan adanya lapisan putih kekuningan pada lidah, tonsil
maupun kerongkongan.
2. Cara Pencegahan Masalah Kesehatan Gigi dan Mulut serta
Peningkatkan Kesehatan Rongga Mulut pada Penderita Diabetes Melitus.
Menurut Irawati Lubis (2012), dalam artikel yang ditulis oleh dokter
gigi tersebut, ada beberapa faktor yang harus diperhatikan mengenai kesehatan
gigi dan mulut pada penderita diabetes adalah :
a. Menjaga kadar gula darah agar tetap normal
b. Jaga kebersihan gigi dan mulut sebaik mungkin, agar memperkecil
resiko terjadinya karies, gingivitis, ataupun periodontitis.
c. Hindari perawatan gigi bila kadar gula darah sedang tinggi. Normalkan
dahulu kadar gula darah, baru kunjungi dokter gigi kembali.
d. Pemakaian alat-alat seperti gigi tiruan atau kawat orthodontic perlu
mendapat perhatian khusus. Pemakai gigi tiruan harus melepas gigi
tiruan sebelum tidur dan dibersihkan dengan seksama agar
meminimalkan kemungkinan terjadinya infeksi jamur karena
kebersihan yang tidak terjaga
e. Melatih laju saliva dengan mengunyah permen karet xylitol untuk
menstimulus saliva.
B. PENDEKATAN ATAU SOLUSI MASALAH
Asuhan keperawatan gigi dan mulut merupaka suatu kegiatan upaya
pendekatan sistematis untuk mendapatkan informasi sehingga pasien mendapatkan
perawatan yang sesuai (Jones dalam Fatmasari, 2015).
Dalam melaksanakan asuhan keperawatan gigi dan mulut, operator harus
dapat mengenali tanda-tanda dan gejala kemungkinan pasien menderita penyakit
sistemik yang dapat mempengaruhi kondisi oral hygiene. Hal ini penting bagi
operator untuk mengetahui penatalaksanaan pasien diabetes melitus sehingga dalam
mendiagnosis dan merencanakan perawatan disesuaikan dengan kebutuhan. Operator
juga dapat berkontribusi dalam pemeliharaan kesehatan gigi yang optimal dan
peningkatan kualitas hidup pada pasien diabetes melitus dengan melakukan
peningkatan manajemen oral hygiene serta pencegahan komplikasinya (Azodo, 2009).
Menurut Fatmasari (2015) Tahap pelayanan asuhan keperawatan gigi dan
mulut adalah sebagai berikut :
1. Tahap Pengkajian : Pengkajian adalah suatu proses mengumpulkan dan
menganalisis informasi atau data-data dalam mengkaji kebutuhan pasien dari
berbagai sumber. Informasi yang didapat melalui wawancara dengan pasien,
anggota keluarga, teman sejawat, tenaga kesehatan lain, rekam medis dan
observasi. Informasi yang didapat dari berbagai macam sumber tersebut
berkontribusi secara unik terhadap hasil pengkajian secara menyeluruh.
2. Tahap Diagnosa : Diagnosa ditegakkan berdasarkan pada kebutuhan pasien,
menguraikan masalah-masalah aktual, mencegah atau meminimalisir faktor
risiko dengan perawatan mandiri atau melakukan rujukan (kerjasama dengan
tenaga kesehatan lainnya) dan identifikasi kondisi pasien berdasarkan risiko
terjadinya masalah/penyakit/kelainan pada rongga mulut.
3. Tahap Perencanaan : Tahap perencanaan merupakan tindakan penentuan tipe
intervensi keperawatan gigi yang dilaksanakan (diimplementasikan) untuk
mengatasi keluhan pasien dan membantu pasien dalam mencapai pemenuhan
kebutuhan yang berhubungan dengan kesehatan gigi.
4. Tahap Implementasi : Tahap implementasi adalah tindakan pelaksanaan
perencanaan keperawatan gigi dan mulut yang telah dirancang sesuai dengan
pemenuhan kebutuhan pasien dan dilaksanakan berdasarkan prosedur serta
hasilnya tercatat dalam catatan pasien (catatan keperawatan gigi). Operator
diharapkan dapat bertanggung jawab dalam melakukan intervensi keperawatan
gigi berdasarkan pada hasil-hasil penelitian terkini.
5. Tahap Evaluasi : Evaluasi dilakukan untuk menilai intervensi yang dilakukan
berdasarkan perencanaan sudah berhasil dan menilai efektifitas dari segi biaya.
Hasil penelitian yang digunakan adalah hal yang terkait keberhasilan ataupun
kegagalan dalam suatu pemberian asuhan keperawatan gigi.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Asuhan keperawatan gigi merupakan suatu pendekatan sistematis untuk
mendapatkan informasi sehingga pasien mendapatkan perawatan. Diagnosa
keperawatan gigi diformulasikan berdasarkan kondisimasalah aktual, potensi masalah
didalam rongga mulut pasien yang dapat dicegah, diminimalisir atau diatasi dengan
tindakan perawatan mandiri atau kolaboratif (rujukan).
Penatalaksanaan pasien diabetes melitus dibutuhkan komunikasi yang baik,
hasil pemeriksaan lab dan operator memahami penyakit diabetes melitus, pengobatan,
juga dampaknya sehingga pasien diabetes melitus dapat menjalani proses perawatan
gigi dan mulut dengan aman
B. Saran
Untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut penyandang diabetes melitus,
sebagai perawat gigi harus memberi instruksi perawatan gigi di rumah dengan
memberikan instruksi cara menyikat gigi, waktu yang tepat menyikat gigi, makan
makanan yang menyehatkan, kontrol 3-6 bulan sekali, memeriksakan gigi minimal 2
kali setahun dan diberikan leaflet.