Anda di halaman 1dari 25

PSIKOLOGI KONSELING

( KONSELING KELUARGA )

DISUSUN OLEH

KEL 2 :

Abdurrahman (170802008)

Ela Oktari (170802005)

Nur Try Putriani Padang (170802011)

DOSEN PENGAMPU :

PUTI FEBRINA NIKO, M.Psi.,Psikolog

PSIKOLOGI ISLAM

FAKULTAS STUDI ISLAM

UNIVERSITAS MUHAMMADIYYAH RIAU

TA : 2019
KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah kami panjatkan kepada Allah, atas segala nikmat dan karunia-
Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul Keluarga dan
Keberhasilan Keluaga.Meski di tengah kesibukan yang lumayan padat masih sempat
memberikan sumbangsih pemikiran bagi kemajuan ilmu yang berkaitan dengan
bimbingan.

Kami menyadari bahwa makalah ini bukan karya monumental penyusun, tetapi
mungkin masih layak disebut karya awal, oleh sebab itu kekurangan dan kelemahan
dalam makalah ini jelas masih ada. Untuk itu penyusun memohon makalah ini dikritisi
dan diberikan saran berupa pemikiran yang konstruktif untuk perbaikan di masa
mendatang. Atas kritik dan saran-saran yang disampaikan, penyusun mengucapkan
terima kasih, semoga Allah SWT, memberikan pahala. Semoga karya kecil ini bisa
memberikan sumbangsih kepada dunia pendidikan khususnya bimbingan dan konseling.
Semoga karya kecil ini menjadi amal sholeh di sisi-Nya. Amin ya Robbal alamin.

Tanggal, 10 Mei 2020

Penulis
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Proses belajar mengajar keberhasilannya dipengaruhi oleh berbagai faktor.Menurut


Slamento (1990 : 56) faktor intern adalah faktor yang ada dalam diri individu, sedangkan
faktor ekstern adalah faktor yang ada diluar individu.

Pendidikan keluarga adalah salah satu bentuk pendidikan di luar sekolah yang besar
pengaruhnya terhadap keberhasilan siswa dalam belajar. Dan pendidikan keluarga yang
maksimal, memiliki kecenderungan untuk meningkatkan minat siswa dalam belajar, yang
pada akhirnya akan mempengaruhi pula terhadap belajar siswa. Sedangkan lemahnya
pendidikan keluarga memiliki kecenderungan untuk melemahkan minat siswa dalam
belajar dan akan melemahkan pula terhadap prestasi belajar siswa.

B. Rumusan Makalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka rumusan masalah dalam makalah ini
adalah sebagai berikut :

1. Apa pengertian konseling keluarga?


2. Apa saja masalah-masalah dalam keluarga?

3. Bagaimana pendekatan konseling keluarga?

4. Apa tujuan konseling keluarga?

5. Apa bentuk konseling keluarga?

6. Bagaimana peranan konselor?

7. Bagaimana proses dan tahapan konseling keluarga?

8. Bagaimana kesalahan umum pada konseling keluarga?


C. Tujuan

1. Ingin mengetahui apa itu pengertian konseling keluarga


2. Ingin mengetahui apa itu apa saja masalah-masalah dalam keluarga

3. Ingin mengetahui apa itu bagaimana pendekatan konseling keluarga

4. Ingin mengetahui apa itu apa tujuan konseling keluarga

5. Ingin mengetahui apa itu apa bentuk konseling keluarga

6. Ingin mengetahui apa itu bagaimana peranan konselor

7. Ingin mengetahui apa itu bagaimana proses dan tahapan konseling keluarga

8. Ingin mengetahui apa itu bagaimana kesalahan umum pada konseling keluarga
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Konseling Keluarga

Konseling adalah bantuan yang diberikan oleh seseorang pembimbing (konselor)


kepada seseorang konseli atau sekelompok konseli (klien, terbimbing, seseorang yang
memiliki problem) untuk mengatasi problemnya dengan jalan wawancara dengan maksud
agar klien atau sekelompok klien tersebut mengerti lebih jelas tentang problemnya sendiri
dan memecahkan problemnya sendiri sesuai dengan kemampuannya dengan mempelajari
saran-saran yang diterima dari Konselor. Sedangkan arti dari keluarga adalah suatu ikatan
persekutuan hidup atas dasar perkawinan antara orang dewasa yang berlainan jenis yang
hidup bersama atau seorang laki-laki atau seorang perempuan yang sudah sendirian
dengan atau tanpa anak-anak, baik anaknya sendiri atau adopsi dan tinggal dalam sebuah
rumah tangga.

Bimbingan dalam keluarga merupakan suatu proses pemberian bantuan kepada


individu secara berkelanjutan dan sistematis, yang dilakukan oleh seorang ahli yang telah
mendapat latihan khusus untuk itu, dimaksudkan agar individu dapat memahami dirinya,
lingkungan keluarganya serta dapat mengarahkan diri dengan baik dalam menyesuaikan
diri dengan lingkungan untuk dapat mengembangkan potensi dirinya secara optimal
untuk kesejahteraan dirinya dan kesejahteraan masyarakat, khususnya untuk
kesejahteraan keluarganya.

Sedangkan definisi bimbingan konseling keluarga menurut para hali lainnya Proses
upaya bantuan yang diberikan kepada individu sebagai anggota keluarga, baik dalam
mengaktualisasikan potensinya, maupun dalam mengantisipasi serta mengatasi masalah
yang dihadapinya, yang dilakukan melalui pendekatan sistem.

Suatu proses interakif untuk membantu keluarga dalam mencapai keseimbangan,


dimana setiap anggota keluarga memperoleh pencapaian kebahagiaan secara utuh.

Konseling keluarga pada dasarnya merupakan penerapan konseling pada situasi yang
khusus. Konseling keluarga ini secara memfokuskan pada masalah-masalah berhubungan
dengan situasi keluarga dan penyelenggaraannya melibatkan anggota keluarga. Menurut
D. Stanton konseling keluarga dapat dikatakan sebagai konselor terutama konselor non
keluarga, yaitu konseling keluarga sebagai (1) sebuah modalitas yaitu klien adalah
anggota dari suatu kelompok, yang (2) dalam proses konseling melibatkan keluarga inti
atau pasangan ( Capuzzi, 1991 )

Konseling keluarga memandang keluarga secara keseluruhan bahwa anggota


keluarga adalah bagian yang tidak mungkin dipisahkan dari anak (klien) baik dalam
melihat permasalahannya maupun penyelesaiannya. Sebagai suatu system, permasalahan
yang dialami seorang anggota keluarga akan efektif diatasi jika melibatkan anggota
keluarga yang lain. Pada mulanya konseling keluarga terutama diarahkan untuk
membantu anak agar dapat beradaptasi lebih baik untuk mempelajari lingkungannya
melalui perbaikan lingkungan keluarganya (Brammer dan Shostrom,1982). Yang menjadi
klien adalah orang yang memiliki masalah pertumbuhan di dalam keluarga. Sedangkan
masalah yang dihadapi adalah menetapkan apa kebutuhan dia dan apa yang akan
dikerjakan agar tetap survive di dalam sistem keluarganya.

B. Masalah - Masalah Keluarga

Pada masa lalu, menurut Moursuned (1990), konseling keluarga terfokus pada salah
satu atau dua hal, yaitu (1) keluarga dengan anak yang mengalami gangguan yang berat
seperti gangguan perkembangan dan skizofrenia, yang menunjukan jelas-jelas mengalami
gangguan; dan (2) keluarga yang salah satu atau kedua orang tua tidak memiliki
kemampuan, menelantarkan anggota keluarganya, salah dalam membri kelola anggota
keluarga, dan biasanya memiliki berbagai masalah.
Anak di dalam suatu keluarga seringkali mengalami masalah dan berada dalam
kondisi yang tidak berdaya di bawah tekanan dan kekuasaan orang tua. Permasalahan
anak ada kalanya dikketahhui oleh orang tua dan seringkali tidak diketahui orang tua.
Permasalahan yang diketahui oorang tua jika fungsi-fungsi psikososial dan
pendidiikannya terganggu. Orang tua akan mengghantarkan anaknya ke konselor jika
mereka memahami bahwa anaknya sedang menghadapi masalah atau sedang mengalami
gangguan yang berat. Karena iitu konseling keluarga lebih banyak memberikan peayanan
terhadap keluaga dengan anak yang mengalami gangguan.

Hal kedua berhubungan dengan keadaan orang tua. Banyak di jumpai orang tua tidak
berkemammpuan dalam mengelola rumah tangganya, menelanntarkan kehidupan romah
tanggannya sehingga tidak terjadi kondisi yang berkeseimbangan dan penuh konflik, atau
memberi perlakuan secara salah (abuse) kepada anggoota keluarga lain, dan sebagainya
merupakan keluarga yang memiliki berbagai masalah. Jika mengerti, dan berkeinginan
untuk membangun kehidupan keluarga yang lebih stabil, mereka membutuhkan konseling

Perkembangan belakangan konseling keluarga tidak hanya menangani dua hal tersebut,
permasalahan yang ketiga karena mengalami kondisi yang kurang harmoni di dalam
keluarga, akibat stressor perubahan-perubahan budaya, cara-cara baru dalam mengatur
keluarganya, dan cara menghadapi dan mendidik anak-anak mereka. Berdasarkan
pengalaman dalam penanganan konseling keluarga, masalah yang dihadapi dan di
konsultasikan kepada konselor antara lain :

1. keluarga dengan anak yang tidak patuh terhadap harapan orang tua
2. konflik antara anggota keluarga

3. perpisahan diantara aggota keluarga karena kerja di luar daerah

4. anak yang mengalami kesulitan belajar / sosialisasi

Berbagai permasalahan-permasalahan keluarga tersebut dapat di selesaikan melalui


konsleing keluarga. Konseling keluarga menjadi efektif untuk mengatasi maslah-masalah
tersebut jika semua anggota keluarga ersedia untuk mengubah sistem keluarganya yang
telah ada dengan cara-cara baru untuk membantu mengatasi anggota keluarga yang
bermasalah.

Sebagaimana di kemukakan dibagian awal, konseling keluarga dalam beberapa hal


memiliki keuntungan. Namun demikian, konseling keluarga juga memiliki beberapa
hambatan dalam pelaksanaanya, dan perlu dipertimbangkan oleh konselor jika bermaksud
melakukannya. Hambatan yang di maksud diantaranya :

1. tidak semua anggota keluarga bersedia terlibat dalam proses konseling karena
mereka menganggap tidak berkepentingan dengan usaha ini, atau karena alas an
kesibukan, dan sebagainya.
2. ada anggota keluarga yang merasa kesulitan untuk menyampaikan perasaan dan
sikapnya secara terbuka dihadapan anggota keluarga lain, padahal konseling
membutuhkan keterbukaan ini dan saling kepercayaan satu dengan lainnya

usaha konselor dan aggota keluarga dalam mengatasi hambatan-hambatan ini sangat
membantu bagi kelancaran dan keberhasilan konseling

C. Pendekatan Konseling Keluarga

Untuk memahami mengapa suatu keluarga bermasalah dan bagaimana cara


mengatasi masalah-masalah keluarga tersebut, berikut akan dideskripsikan secara singkat
beberapa pendekatan konseling keluarga. Tiga pendekatan konseling keluarga yang akan
diuraikan berikut ini, yaitu pendekatan system, conjoint, dan struktural :

 Pendekatan Sistem Keluarga

Murray Bowen merupakan peletek dasar konseling keluarga pendekatan sistem.


Menurutnya anggota keluarga itu bermasalah jika keluarga itu tidak berfungsi
(disfunctining family). Keadaan ini terjadi karena anggota keluarga tidak dapat
membebaskan dirinya dari peran dan harapan yang mengatur dalam hubungan mereka.

Menurut Bowen, dalam keluarga terdapat kekuatan yang dapat membuat anggota
keluarga bersama-sama dan kekuatan itu dapat pula membuat anggota keluarga melawan
yang mengarah pada individualitas. Sebagian anggota keluarga tidak dapat menghindari
sistem keluarga yang emosional yaitu yang mengarahkan anggota keluarganya
mengalami kesulitan (gangguan). Jika hendak menghindari dari keadaan yang tidak
fungsional itu, dia harus memisahkan diri dari sistem keluarga. Dengan demikian dia
harus membuat pilihan berdasarkan rasionalitasnya bukan emosionalnya.

 Pendekatan Conjoint

Sedangkan menurut Sarti (1967) masalah yang dihadapi oleh anggota keluarga
berhubungan dengan harga diri (self-esteem) dan komunikasi. Menurutnya, keluarga
adalah fungsi penting bagi keperluan komunikasi dan kesehatan mental. Masalah
terjadijika self-esteem yang dibentuk oleh keluarga itu sangat rendah dan komunikasi
yang terjadi di keluarga itu juga tidak baik. Satir mengemukakan pandangannya ini
berangkat dari asumsi bahwa anggota keluarga menjadi bermasalah jika tidak mampu
melihat dan mendengarkan keseluruhan yang dikomunikasikan anggota keluarga yang
lain.

 Pendekatan Struktural

Minuchin (1974) beranggapan bahwa masalah keluarga sering terjadi karena struktur
kaluarga dan pola transaksi yang dibangunn tidak tepat. Seringkali dalam membangun
struktur dan transaksi ini batas-batas antara subsistem dari sistem keluarga itu tidak jelas.

Mengubah struktur dalam keluarga berarti menyusun kembali keutuhan dan


menyembuhkan perpecahan antara dan seputar anggota keluarga. Oleh karena itu, jika
dijumpai keluarga itu dengan memperbaiki transaksi dan pola hubungan yang baru yang
lebih sesuai.

Berbagai pandangan para ahli tentang keluarga akan memperkaya pemahaman


konselor untuk melihat masalah apa yang sedang terjadi, apakah soal struktur, pola
komunikasi, atau batasan yang ada di keluarga, dan sebagainya. Berangkat dari analisis
terhadap masalah yang dialami oleh keluarga itu konselor dapat menetapkan strategi yang
tepat untuk mambantu keluarga.
D. Tujuan Konseling Keluarga

Menurut Shertzer dan Stone,(1980) tujuan konseling antara lain:

 Mengadakan perubahan perilaku pada diri konseling sehingga memungkinkan


hidupnya lebih produktif dan memuaskan,
 Memelihara dan mencapai kesehatan mental yang positif. Jika hal ini tercapai,
maka individu mencapai integrasi, penyesuaian, dan identifikasi positif dengan
yang lainnya. ia belajar menerima tanggung jawab, berdiri sendiri, dan
memperoleh integrasi perilaku,

 Pemecahan masalah. Hal ini, berdasarkan kenyataan bahwa individu - individu


yang mempunyai masalah tidak mampu menyelesaikan masalah yang
dihadapinya. Disamping itu biasanya siswa datang pada konselor karena ia
percaya bahwa konselor dapat membantu memecahkan masalahnya,

 Mencapai keefektifan pribadi

 Mendorong individu mampu mengambil keputusan yang penting bagi dirinya.


Jelas disini bahwa, pekerjaan konselor bukan menentukan keputusan yang
harus diambil oleh konseli atau memilih alternatif dari tindakannya.

 Keputusan - keputusan ada pada diri konseli sendiri, dan ia harus tau
mengapa dan bagaimana ia melakukannya. Oleh sebab itu, konseli harus
belajar mengestimasi konsekuensi - konsekuensi yang mungkin terjadi dalam
pengorbanan pribadi, waktu, tenaga, uang, resiko dan sebagainya. Individu
belajar memperhatikan nilai - nilai dan ikut mempertimbangkan yang dianutnya
secara sadar dalam pengambilan keputusan,

Selanjutnya Setyawan,(1959) berpendapat bahwa tujuan konseling adalah


agar konseli dapat:

 Merencanakan kegiatan penyelesaian studi, perkembangan karier serta


kehidupannya dimasa yang akan dating,
 Mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimilikinya seoptimal
mungkin,

 Menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan, lingkungan masyarakat serta


lingkungan kerjanya,

 Mengatasi hambatan dan kesulitan yang dihadapi dalam studi, penyesuaian


dengan lingkungan pendidikan, masyarakat, maupun lingkungan kerja.

Oleh karena itu, dari paparan beberapa ahli diatas. Maka Wisnu Pamuja
Utama, (2011) sendiri berpendapat bahwa tujuan konseling ialah Membantu
merubah perilaku konseli agar lebih produktif, membantu pemecahan masalah baik
masalah pribadi, sosial, belajar, karier, keluarga, dan keagamaan, serta mendorong
peserta didik mampu mengambil keputusan yang penting bagi dirinya dalam
menemukan solusi sendiri.

E. Bentuk Konseling Keluarga

Kecenderungan pelaksanaan konseling keluarga adalah sebagai berikut.

 Memandang klien sebagai pribadi dalam konteks sistem keluarga. Klien merupakan
bagian dari sistem keluarga, sehingga masalah yang dialami dan pemecahannya tidak
dapat mengesampikan peran keluarga.
 Berfokus pada saat ini, yaitu apa diatasi dalam konseling keluarga adalah masalah-
masalah yang dihadapi klien pada kehidupan saat ini, bukan kehidupan yang masa
lampaunya. Oleh karena itu, masalah yang diselesaikan bukan pertumbuhan personal
yang bersifat jangka panjang.

Dalam kaitannya dengan bentuknya, konseling keluarga dikembangkan dalam


berbagai bentuk sebagi pengembangan dari konseling kelompok. Bentuk konseling
keluarga dapat terdiri dari ayah, ibu, dan anak sebagai bentuk konvensionalnya. Saat ini
juga dikembangkan dalam bentuk lain, misalnya ayah dan anak laki-laki, ibu dan anak
perempuan, ayah dan anak perempuan, ibu dan anak laik-laki, dan sebagainya (Ohison,
1977)
Bentuk konsleing keluarga ini disesuaikan dengan keperluannya. Namun banyak ahli
yang mengajurkan agar anggota keluarga dapat ikut serta dalam konseling. Perubahan
pada sistem keluarga dapat dengan mudah diubah jika seluruh anggota keluarga terlibat
dalam konseling, karena mereka tidak hanya berbicara tentang keluarganya tetapi juga
terlibat juga dalam penyusunan rencana perubahan dan tindakannya.

F. Peranan Konselor

Peran konselor dalam membantu klien dalam konseling keluarga dan perkawinan
dikemukakan oleh Satir (Cottone, 1992) di antaranya sebagai berikut.

 Konselor berperan sebagai “facilitative a comfortable”, membantu klien melihat


secara jelas dan objektif dirinya dan tindakan-tindakannya sendiri.
 Konselor menggunakan perlakuan atau treatment melalui setting peran interaksi.

 Berusaha menghilangkan pembelaan diri dan keluarga.

 Membelajarkan klien untuk berbuat secara dewasa dan untuk bertanggung jawab dan
malakukan self-control.

 Konselor menjadi penengah dari pertentangan atau kesenjangan komunikasi dan


menginterpretasi pesan-pesan yang disampaikan klien atau anggota keluarga.

 Konselor menolak perbuatan penilaian dan pembantu menjadi congruence dalam


respon-respon anggota keluarga.

G. Proses dan Tahapan Konseling Keluarga

Tahapan konseling keluarga secara garis besar dikemukakan oleh Crane (1995:231-
232) yang mencoba menyusun tahapan konseling keluarga untuk mengatasi anak
berperilaku oposisi. Dalam mengatasi problem, Crane menggunakan pendekatan
behavioral, yang disebutkan terhadap empat tahap secara berturut-turut sebagai berikut.

1. Orangtua membutuhkan untuk dididik dalam bentuk perilaku-perilaku alternatif. Hal


ini dapat dilakukan dengan kombinasi tugas-tugas membaca dan sesi pengajaran.
2. Setelah orang tua membaca tentang prinsip dan atau telah dijelaskan materinya,
konselor menunjukan kepada orang tua bagaimana cara mengajarkan kepada anak,
sedangkan orang tua melihat bagaimana melakukannya sebagai ganti pembicaraan
tentang bagaimana hal inidikerjakan.

Secara tipikal, orang tua akan membutuhkan contoh yang menunjukan bagaimana
mengkonfrontasikan anak-anak yang beroposisi. Sangat penting menunjukan kepada
orang tua yang kesulitan dalam memahami dan menetapkan cara yang tepat dalam
memperlakukan anaknya.

3. Selanjutnya orang tua mencoba mengimplementasikan prinsip-prinsip yang telah


mereka pelajari menggunakan situasi sessi terapi. Terapis selama ini dapat member
koreksi ika dibutuhkan.

4. Setelah terapis memberi contoh kepada orang tua cara menangani anak secara tepat.
Setelah mempelajari dalam situasi terapi, orang tua mencoba menerapkannya di
rumah. Saat dicoba di rumah, konselor dapat melakukan kunjungan untuk mengamati
kemajuan yang dicapai. Permasalahan dan pertanyaan yang dihadapi orang tua dapat
ditanyakan pada saat ini. Jika masih diperlukan penjelasan lebih lanjut, terapis dapat
memberikan contoh lanjutan di rumah dan observasi orang tua, selanjutnya orang tua
mencoba sampai mereka merasa dapat menangani kesulitannya mengatasi persoalan
sehubungan dengan masalah anaknya.

Contoh Kasus Konseling Keluarga

Sindi adalah salah satu siswa SMK di Kota Tegal kelas XI. Ia adalah anak kedua dari
dua bersaudara. Kedua orangtuanya bekerja di Jakarta sebagai pedagang “WARTEG”.
Kedua orangtuanya pulang ke Tegal ketika ada acara keluarga dan saat hari raya idul fitri
saja. Sindi sering merasa kesepian dan menginginkan serta merindukan adanya suasana
kebersamaan dengan keluarga, ditambah lagi dengan kakaknya yang berada di luar kota
untuk menempuh pendidikan S1 nya, hal tersebut membuat Sindi semakin merasa sendiri
dan hampa. Meskipun kakaknya setiap hari sabtu-minggu pulang dan menjenguk Sindi
namun hal itu belum bisa mengobati  rindu akan adanya rasa kebersamaan keluarga.
Sehari-harinya Sindi hanya sendirian di rumah, namun terkadang Sindi mengajak
temannya untuk menginap di rumahnya.Akhir-akhir ini diperoleh informasi bahwa Sindi
sering sekali tidak masuk sekolah tanpa alasan dan tidak mengerjakan tugas. Hal tersebut
mengakibatkan prestasinya menurun cukup drastis. Dari beberapa informasi yang
diperoleh dari teman sekelasnya, bahwa Sindi memiliki pacar dari sekolah SMK swasta
yang ada di Kabupaten Tegal, menurut penuturan dari teman-temannya, Sindi sering
diajak pergi sampai larut malam dan ketika teman-temannya datang ke rumah, Sindi
sering tidak ada di rumah, terkadang lampu rumahnya pun masih menyala padahal hari
sudah siang.
Berdasarkan hasil laporan dan informasi yang diperoleh dari teman-temannya
tersebut, guru BK memanggil klien untuk melakukan konseling. Setelah melewati proses
konseling, kesimpulan yang guru BK peroleh bahwa klien memiliki masalah yang mana
bersumber dari adanya rasa kesepian dan merindukan suasana kebersamaan keluarga.
Rasa kesepian tersebut yang menjadikan klien melakukan pelampiasan dengan mencari
sesorang yang mampu membuatnya tidak kesepian, yaitu bersama pacarnya. Kemudian
guru BK membuat surat panggilan untuk orang tua klien, agar dapat hadir ke sekolah
memenuhi pangilan tersebut untuk menemui guru BK.

Dialog:

Ket. Proses Konseling


(mengetuk pintu dan megucapkan salam)
Assalamu’alaikum… (berjalan menghampiri Konselor, dilanjutkan
bersalaman dan diikuti oleh anak pertamanya.
Bapak
Walaikumsalam.., oh iya silahkan duduk.
(tersenyum seraya berjabat tangan, menunjukan dan mempersilahkan ke
tempat duduk)

Silahkan duduk..
Konselor
Bapak iya makasih bu.

Konselor Sebelumnya saya berterimakasih atas kesediannya untuk hadir disini

Bapak Dengan senang hati. Ngomong-ngomong ini ada apa yaa bu?
ya, memang sudah sepantasnya bapak beserta keluarga bertanya-tanya
Konselor tentang hal ini.
Kakak Apa adik saya berbuat kesalahan?
Apa yang sudah anak saya lakukan, sampai kami mendapat surat untuk
Bapak hadir di sekolah?  
Iya  sabar Pak, Mas.
Jadi begini Pak, Mas, anak Bapak dalam satu bulan ini sering tidak masuk
sekolah. Kemarin saya juga sudah memanggil Sindi untuk becerita apa
yang menyebabkannya tidak masuk sekolah.  Dari apa yang sudah
diceritakan oleh Sindi, inti sari yang saya peroleh bahwasanya Sindi
memiliki masalah didalam keluarga. Hal itu yang membuat saya
memutuskan untuk memanggil Bapak dan Mas.
Konselor
Ooh jadi begitu yaa bu, sebelumnya saya juga minta maaf karena istri saya
tidak bisa ikut hadir.
Ibunya Sindi tidak bisa pulang, yaa maklumlaah mmh namanya pedagang
yaa buu..
Bapak
Ohh tentu tidak apa-apa Pak. Dengan kesedian bapak dan mas saya sudah
Konselor cukup berterimakasih.
Assalamualaikum..
(masuk dengan terburu-buru, mmhh maaf bu saya baru datang, tadi saya
ke kantin dulu. Lagian lapeer sihh.. hehhe
Klien
Konselor, Walaikumsalamm
Bapak dan
Kakak
Bapak Ooh ya sudah tidak apa-apaa, kalau begitu silahkan duduk…
Bapak sama mas udah disini toh? Udah lama yaa pakk. Duuhh Sindi laper
Klien banget pak, jadi tadi makan dulu deh.
Kamu ini bikin malu bapak saja. Kenapa kamu sering tidak masuk
sekolah? Maauu jadi apa kamu ini!!!
(dengan nada keras)
Bapak
Tenang paak, jangan terbawa emosi. Biarkan sindi duduk dan tenang
Konselor dulu..
Jadi selama ini kamu bohongin mas? Mmhh ayoo jawab. Jangan diam
Kakak saja!!!
Tenang semuanyaa,, kita bicarakan masalah ini baik-baik..
Nah.. sekarang, coba sindi jelaskan ke bapak dan mas..
Konselor
Klien Mmmmmhh (diam dan menunduk)  
Kakak Ayoo cepet jelasin! Dari tadi aam eemmm aaam emm terus!
Ayoo nakk.. tidak perlu takut
(tersenyum)
Konselor  
Mmmhh ini anak maunya apa sih!
Cepet jelasin!
Bapak
…. (Diam)
Sindi enggak papa pak, mas. Sindi ga papa

(menunduk)
Klien  
Bapak Aduuuhh! Gimana ini sih, jawab pertanyaan bapak sindi. Jawaabbb…
Konselor Sabaar pak.. sabaaarr
Klien Mmhhh bapak, ibu dan mas.. semua ga ada yang sayang sama sindi…
(menangis)

Ga sayang gimana?!
Yaelah pake nangis segala. Cengeng banget sih.. udah buruuu cepet cerita!
kakak
Hmmm
Bapak, mas,, sabar yaaa..

Kalau marah-marah terus seperti ini kasihan sama Sidninya..

(memberikan tissu dan menenangkan)

Mmhh sindiii… disini sudah ada bapak, ada kakak sindi. Ayoo silahkan
sayang,, sindi cerita sejujur-jujurnya yaa…
Konselor
Baiklah sekarang Sindi utarakan semua perasaan Sindi, hal-hal yang
Konselor mengenai permasalahan yang kamu hadapi sekarang…  
Mmh..
Sindi ngrasa semua ga ada yang peduliin sindi. Bapa, ibu, dan mas selalu
sibuk dengan urusan masing-masing. Sindi ditinggalin sendirian di rumah,
sindi kesepiaan paaakkk… sindi ngrasa sindi ga punya siapa-siapa. Tiap
hari sindi sendirian, dari mulai sindi bangun tidur, sampe sindi tidur lagi,
sindi sendirian paak! Bapak dan mas marah-marah kaya gitu karna ga tau
kan gimana yang sindi rasain…
Klien
Lohhh.. bapak dan ibu toh sibuk bekerja juga untuk kamu naak. Susah
payah bapak dan ibu mencari nafkah di Jakarta. Untuk apaa? Kalo tidak
untuk kalian?
Kan ada mas mu tiap sabtu dan minggu selalu pulang ke rumah, jengukin
kamu..
Bapak
Sindi ngrasa kesepian pak. Tiap hari di rumah sendirian. Sindi kangen
suasana kita kaya yang dulu. Sindi kangen kita bisa ngobrol bareng, ketwa
Klien bareng. Tapi apa sekarang? Kalian sibuk dengan urusan masing-masing…!
Jadi karna itu kamu bolos sekolah?
Sin,, mas pikir selama ini kamu baik-baik aja. Selagi mas di rumah toh
kamu juga ga cerita apa-apa.

Bapak dan ibu itu kerja di Jakarta sana itu buat kita sin. Buat kita sekolah.
Coba kalau saja mereka tidak bekerja, mana bisa kamu pake gadget baru,
motor baru…

Okee.. mas disini mintaa maaf, mungkin selama ini mas kurang kasih
perhatian ke kamu. Tolong, sekarang kamu ceritakan sejelas-jelasnya biar
semua tuntas, dan kita bisa akur-akur lagi..
kakak
Maass,, paakk..
Jadi memang benar, kalau sindi itu jarang masuk sekolah. Sindi selama ini
merasa kesepian.

Dan cuma ada satu orang yang bener-bener peduli sama sindi yaitu Riyan.
Dia yg selama ini hibur dan nemenin sindi..
Klien
Jadi si Riyan yang bikin kamu kaya gini! Dia yang ajak kamu jadi suka
Bapak bolos sekolah! Sindiiii… bapak mau dengar sejelas-jelasnya…
Klien Ini semua bukan salah Riyan Paak..
kakak Kalau ini bukan gara-gara dia, trus kenapa kamu sampe bolos sekolah?
Mmmhh
Jadi sebeenernya sindi sering pulang larut malam, sindi pergi sama riyan.
Dan paginya sindi bangun kesiangan,,
Klien
Bapak Anak macam apa kamu ini!
Mau jadi apa kamu!

Bapak dan Ibu tidak pernah mendidik kamu seperti ini.. kenapa kamu jadi
begini naakk

Ibu mu pasti sedih sekali mendengar ini..

Bapak malu sin,, bapak maluu..

Paaak.. maafkan sindi paak.


(menangiss)
Klien
Apa yang sudah kamu perbuat sindiiii,, kamu mau mempermalukan
Kakak keluarga kitaa..
Paak, maas,, sindi ga lakuin apa-apa koooo..
Sindi diajak Riyan jalan-jalan ajaa kooo
Klien
Ga mungkin! Mas ga percaya!
Kalo memang hanya jalan-jalan, kenapa pulang sampe larut malam. Kamu
ini kaya ga pernah di didik aja, mau maunya diajak sampe larut malam..
kakak
Mmmhh.. bapak malu sin.. bapak maluuuu…
(menunduk sedih)
bapak
Konselor Ayoo sindi,, lanjutkan ceritanya…
Yaa sindi tuh ga betah di rumah pak. Kalau di rumah sindi ngrasain
kesepian, sindi ga punya temen buat ngobrol. Bapak, mas dan ibu ga ada
yang ngertiin sindi. Kalian bisanya cuma marah dan marah! Tanpa ada
yang ngertiin perasaan sindi.
Sindi tuh nyaman sama Riyan, dia yang bisa ngertiin sindi.
Klien
Oke. Cukup. Udah jelas! Kamu ini benar-benar sudah mempermalukan
Kakak keluarga kita!
Lohh apaan sih! Mas jangan lebay deh!
Benerkan bu? Bener apa yg sindi bilang? Mereka ini ga ada yang peduli
sama sindi!

Lagian sindi perginya juga ga macem-macem ko. Ga usah lebay deh mas!
Klien
Mas coba tenang dulu yaa, biarkan sindi bercerita. Kita dengarkan dulu
yaa… kalau terus menerus emosi bagaimana masalah ini menemukan jalan
Konselor keluarnya,,,
bapak Lalu, kamu ini kemana sindi?
Jadi sindi tuh pergi sama Riyan pak. Dari tadi kan udah sindi bilangin. Iihh
gimana sih!
Lagian sindi juga biasa aja ko. Yaa kadang sindi diajak ketemu kumpul-
kumpul sama temen-temennya Riyan. Lagian seru juga ko. Disitu sindi ga
ngrasa kesepian lagi. Mereka bisa ngertiin sindi. Ga kaya di rumah sepi, ga
ada orang. Ehh sekalinya kumpul malah nuduh ga ga! Ampuun dehh…
Klien
Mas tuh bukannya nuduh. Mas juga berusaha peduliin kamu. Kamu itu
Kakak adik mas. Mas ga mau sindi kenapa-kenapa..
Klien Yaaelaah.. dari kemarin kemana ajaa..
Jadi ini beneran kamu cuma ngobrol-ngobrol aja. Kalau sekedar ngobrol
Bapak kenapa sampe larut malam?
Yaa kalo ga ngobrol paling pergi nonton balapan. Kenapa?? Kalian pasti
mikir yang ga ga kan!
sindi begini juga karna bapak, ibu dan mas ga ada yang peduliin sindi.
Klien
Bapak Baik. Bapak sekarang paham. Selama ini bapak dan ibu sudah
meninggalkan sindi di rumah. Bapak dan ibu minta maaf naak, bapak dan
ibu kerja di Jakarta, cari uang disana semata-mata buat anak-anak, buat
kalian.
Buat bahagiain sindi. Bapak ga mau sindi kaya begini lagi..

Bapak minta maaf naak…

(menatap sindi)

Mas juga minta maaf, selama ini belum bisa ngertiin sindi. Mas sibuk
dengan urusan ma. Tapi sebenarnya, mas sayang sama kamu sin, kita
semua sayang sindi. Mas janji akan berusaha jadi kakak yang lebih baik
lagi, dan pastinya Ibu dan Bapak juga akan introspeksi dan berusaha
kakak menjadi lebih baik lagi
Nah,, sindi sudah mendengarkannya kan? Bahwa keluarga sindi semua
menyayangi sindi. Mereka sudah meminta maaf dan berusaha untuk
Konselor memperbaiki semua. Bagaimana dengan sindi?
Mhhhmm sindi juga mintaa maaf pak. Sindi udah begini. Sindi udah
Klien ngecewain semua.
Baiklah. Sekarang coba utarakan apa yang menjadi kemauan dan
konselor keinginan sindi?
Mmhh sindi sadar kalau selama ini sindi udah egois. Sindi hanya mikirin
apa yang sindi mau.
Sindi pengen kita bisa kaya dulu lagi, kita bisa kumpul di rumah, sindi ga
mau sendirian, sindi pengen ada yang selalu nanyain sindi mau kemana
mau ngapain. Intinya sindi gaa mau kesepian paak..
Klien
sindi sudah mengutarakan apa yang menjadi kemauannya. Monggo
Konselor silahkan pak bagaimana menurut bapak?
Yasudah kalo memang itu semua kemauan sindi, nanti bapak dan Ibu akan
buka usaha disini saja. Bapak akan bekerja disini supaya kita bisa kumpul
sama-sama lagi. Tapi sindi harus janji yaa, jangan mengulangi perbuatan
Bapak seperti ini lagi.
Konselor Kalau menurut mas bagaimana?
Yaa saya setuju dengan apa yang bapak katakan. Disini saya sebagai
kakak sekali lagi minta maaf karna belum bisa menjadi kakak yang baik
buat sindi. Dan untk kedepannya saya akan berusaha untuk membagi
kakak waktu antara kuliah dan quality time bersama keluarga.
Sekarang kita sudah menemukan jalan keluarnya, bagaimana dengan
konselor Sindi, apa ada yang ingin disampaikan lagi?
Mhhh ga ada bu. Sindi lega deh, akhirnya sindi ga akan sendirian lagi.
klien Makasih yaa paaak, maas..
Sama sama nak. Tapi janji yaa perbuatan ini jangan diulangi lagi. Anak
bapak perempuan ga boleh keluyuran sampe larut malam
Siap pak, sindi janji ga akan mengulanginya lagi. Kan nanti sindi ga
sendirian lagi. Hehe
Dan sama riyan, sindi sekarang memutuskan untuk berteman saja dengan
riyan. Ga lebih dr teman, sindi akan fokus sama sekolah sindi
klien
Bagus sekali. Itu keputusan yang sangat baik. Nah mulai sekarang, sindi
ga boleh absen-absen lagi yaa. Harus semangat sekolahnya,,
Bagaimana semua, sudah lega yaa?
konselor
Saya cukup berterimakasih kepada ibu yang sudah membantu kami dalam
bapak mencarikan jalan keluar akan masalah dari keluarga saya,,
Sama-sama paak,, ini sudah menjadi tanggung jawab saya.
konselor Alhamdulillaah..
bapak Saya sadar, materi bukanlah segalanya dan bukan jaminan bahagia.
Kalau boleh saya menambahkan, jadi akan lebih baik jika masing-masing
anggota keluarga saling memahami peranannya. Jadi, baik kebutuan
konselor biologis maupun psikologis semua bisa terpenuhi dengan baik.
Baik bu. Saya dan istri akan berusaha menjadi orangtua yang lebih baik
bapak lagi
konselor Baiklah, karena ini sudah menemukan titik terangnya dan sudah tidak ada
yang ingin disampaikan lagi. Saya rasa, kita cukupkan pertemuan kita kali
ini, saya minta maaf kepada semuanya apabila ada tutur kata dan kelakuan
saya yang kurang berkenan di hati. Dan untuk sindi, kalau ingin ada yang
disampaikan bisa ceritakan ke ibu yaa, nda perlu malu sama ibu..
klien Iya bu,
Sekali lagi, kami berterimakasih yaa buu..
Baik, kami mohon permisi dulu. (berjabat tangan)
bapak
konselor Sama-sama paak…
semua Assalamualaikum wr. Wb (keluar ruangan)
konselor Walaikumsalam wr.wb (mengantar ke depan pintu)

H. Kesalahan Umum dalam Konseling Keluarga

Crane (1995) mengemukakan sejumlah kesalahan umum dalam penyelenggaraan


konseling keluarga diantaranya sebagai berikut:

1. Tidak berjumpa dengan seluruh keluarga (termasuk kedua orangtua) untuk


mendiskusikan masalah-masalah yang dihadapi.
2. Pertama kali orangtua dan anak dating ke konselor bersama-sama, konselornya suatu
saat berkata hanya orangtua dan anak tidak perlu turut dalam proses, sehingga
menampakkan ketidak peduliannya terhadap apa yang menjadi perhatian anak.

3. Mengilmiahkan dan mendiskusikan masalah, atau menjelaskan pandangannya


kepada orangtua dan bukan menunjukkan cara penanganan masalah yang dihadapi
dalam situasi kehidupan yang nyata.

4. Melihat/ mendiagnosis untuk menjelaskan perilaku anak dan orangtua, bukan


mengajarkan cara untuk memperbaiki masalah-masalah yang terjadi.

5. Mengajarkan teknik modifikasi perilaku pada keluarga yang terlalu otoritarian atau
terlalu membiarkan dalam interaksi mereka.
Kesalahan-kesalahan dalam konseling keluarga semacam di atas sepatutnya dihindari
untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Konselor tentunya diharapkan melakukan
evaluasi secara terus-menerus terhadap apa yang dilakukan dan bagaiman hasil yang
dicapai dari usahanya.

DAFTAR PUSTAKA

Latipun. 2001. Psikologi Konseling. Universitas Muhammadiyah Malang. Malang

Sayekti Pujosuwarno.1994.Bimbingan Dan Konseling Keluarga.Menara Mas Offset.


Yogyakarta
http://cybercounselingstain.bigforumpro.com/konseling-pernikahan-f42/pendekatan-dan-
bentuk-konseling-perkawinan-t63.htmIfdil.2007.Kerangka Konseptual Konseling
Pemuda dan Keluarga.

http://konselingindonesia.com/index.php?
option=com_content&task=view&id=95&Itemid=104