Anda di halaman 1dari 44

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perkembangan penyakit tidak menular menjadi suatu tantangan di dunia.

Penyakit tidak menular telah menyebabkan tiga juta kematian di tahun 2012.

Satu di antara penyakit tidak menular yang cukup banyak mempengaruhi angka

kesakitan dan kematian di dunia adalah penyakit kardiovaskular. World Health

Organization (WHO) memperkirakan jumlah kematian akibat penyakit

kardiovaskular pada tahun 2010 sebesar 1/3 (15,3 juta) terjadi di negara

berkembang dan berpenghasilan menengah ke bawah (WHO, 2014 dikutip dari

Lidya, 2009).

Satu diantara penyakit kardiovaskular adalah hipertensi. Hipertensi

menjadi masalah kesehatan di seluruh dunia karena prevalensinya yang tinggi.

Menurut WHO dan the International Society of Hypertension (ISH), saat ini

terdapat 600 juta penderita hipertensi diseluruh dunia, dan 3 juta di antaranya

meninggal setiap tahunnya. Prevalensi hipertensi pada orang dewasa usia 20 atau

lebih di Amerika dari tahun 2010-2014 terus meningkat dari 24% hingga 32%.

Angka ini terus meningkat tajam, diprediksikan oleh WHO pada tahun 2025

nanti sekitar 29% orang dewasa di seluruh dunia yang menderita hipertensi

(Rahajeng & Tuminah, 2012).


2

Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana

tekanan sistoliknya di atas 140 mmHg dan tekanan diastolik di atas 90 mmHg.

Hipertensi disebut sebagai the silent killer atau “pembunuh diam-diam” karena

orang dengan hipertensi sering tidak menampakkan gejala dan tidak sadar akan

kondisinya. Hipertensi merupakan penyebab utama penyakit gagal jantung,

stroke dan gagal ginjal (Smeltzer, 2008).

Apabila penyakit ini tidak terkontrol, akan menyerang target organ, dan

dapat menyebabkan serangan jantung, stroke, gangguan ginjal, serta kebutaan.

Dari beberapa penelitian dilaporkan bahwa penyakit hipertensi yang tidak

terkontrol dapat menyebabkan peluang 7 kali lebih besar terkena stroke, 6 kali

lebih besar terkena congestive heart failure, dan 3 kali lebih besar terkena

serangan jantung (Rahajeng & Tuminah, 2009).

Di Indonesia hipertensi merupakan penyebab kematian ketiga untuk

semua umur setelah stroke (15,4%) dan tuberculosis (7,5%), dengan jumlah

mencapai 6,8% (Riskesdas, 2007). Banyaknya penderita hipertensi

diperkirakan 15 juta orang, tetapi hanya 4% yang memiliki tekanan darah

terkendali sedangkan 50% penderita memiliki tekanan darah tidak terkendali

(Bustan, 2007). Data Riskesdas tahun 2013 melaporkan prevalensi hipertensi

penduduk umur 18 tahun ke atas sebesar 25,8%. Dari 15 juta penderita

hipertensi, 50% hipertensinya belum terkendali (Riskesdas, 2013).


3

Sumatera Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia dengan

prevalensi hipertensi yang cukup tinggi. Sekitar 300 ribu jiwa penduduk Kota

Padang pada usia di atas 30 tahun menderita hipertensi. Menurut Frisdawati, dari

berbagai studi menunjukkan bahwa hipertensi meningkatkan risiko kematian dan

penyakit. Bila tidak dilakukan penanganan, sekitar 70% pasien hipertensi kronis

akan meninggal karena jantung koroner atau gagal jantung. Sementara, 15% terkena

kerusakan jaringan otak dan 10% mengalami gagal ginjal (Anoraga, 2015).

Faktor pemicu penyakit hipertensi dapat dibedakan menjadi faktor yang

tidak dapat diubah dan faktor yang dapat diubah. Faktor yang tidak dapat

diubah, yaitu genetik, umur, dan jenis kelamin. Sedangkan faktor yang dapat

diubah, yaitu merokok, obesitas, pola makan, stress, asupan garam berlebih, gaya

hidup, dan kurang aktivitas (Susanto, 2010).

Penelitian terbaru menyatakan bahwa kepatuhan pasien dalam

mengkonsumsi obat anti hipertensi sangat dipengaruhi oleh dukungan serta

motivasi yang tinggi dari pasien itu sendiri. Hipertensi merupakan penyakit yang

mengharuskan penderitanya mengkonsumsi obat anti hipertensi dalam jangka

yang panjang, sehingga kepatuhan dalam pengkonsumsian obatnya sangat

dibutuhkan untuk menetralkan keadaan tekanan darah itu sendiri (Susilo, 2010).

Faktor resiko terjadinya penyakit hipertensi yang lain yaitu tidak

mengontrol pola makan. Hipertensi tidak muncul begitu saja. Naiknya tekanan

darah, biasanya merupakan akumulasi dari sikap hidup yang tidak sehat dan
4

sudah berlangsung dalam kurun waktu yang lama. Semua kebiasaan-kebiasaan

yang buruk dalam kehidupan dan pola makan yang tidak sehat akan menambah

daftar buruk yang memicu terjadinya hipertensi (Susilo, 2010).

Penelitian yang dilakukan oleh Apriana Kurniaty tahun 2012 tentang

gambaran kebiasaan minum obat dengan profil tekanan darah pada pasien laki-

laki ditemukan bahwa sebanyak 60% responden yang memiliki tekanan darah

sistolik diatas normal, dan 40% memiliki tekanan darah sistolik normal. Rata-rata

tekanan darah sistolik pada responden yaitu 133,96 mmHg dan tekanan darah

sistolik tertinggi yaitu 162 %. Sebanyak 40 % responden memiliki tekanan

diastolik diatas normal, dan 60% responden memiliki tekanan darah diastolik

normal. Rata-rata tekanan darah diastolik pada responden yaitu 80,71 mmHg dan

tekanan darah diastolik tertinggi yaitu 105,00 mmHg.

Penelitian yang dilakukan oleh M. Nasir (2014) mengatakan bahwa

kepatuhan mengkonsumsi obat anti hipertensi sangat berpengaruh dalam

menormalkan tekanan darah lansia, dengan hasil uji statistik yaitu v palue =

0,001. Artinya semakin tinggi kepatuhan seseorang dalam mengkonsumsi obat

anti hipertensi semakin normal tekanan darahnya.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Erlyna Nur Syahrini,

dkk tahun 2012 tentang Faktor-Faktor Resiko Hipertensi Primer di Puskesmas

Tlogosari Kulon Kota Semarang. Hasil penelitian yang didapatkan yaitu tidak

ada hubungan yang bermakna antara kepatuhan minum obat dengan kejadian

hipertensi, ada hubungan bermakna antara kebiasaan konsumsi garam dengan


5

kejadian hipertensi, dan ada hubungan antara kebiasaan konsumsi makanan

berlemak dengan kejadian hipertensi.

Penelitian yang dilakukan oleh Amelia (2013) dengan judul hubungan

pengetahuan dan sikap dengan kepatuhan minum obat pada pasien hipertensi di

Puskesmas Lubuk Buaya Padang didapatkan bahwa 67% pasien hipertensi harus

mengkonsumsi obat anti hipertensi dalam jangka waktu yang lama. Selain itu

hipertensi merupakan penyakit yang kondisi pasien harus terus terkontrol agar

tidak terjatuh pada komplikasinya dengan p value = 0,009.

Kepatuhan minum obat hipertensi sangat penting dipatuhi, agar penderita

hipertensi tidak jatuh ke komplikasi yang ditakutkan seperti diabetes, jantung,

stroke dan kematian. Selain itu kepatuhan minum obat anti hipertensi sangat

berguna dalam mengontrol tekanan darah penderita hipertensi agar tetap stabil.

Prevalensi kepatuhan minum obat anti hipertensi di dunia menurut WHO,

mencapai 57% dari 1,15 milyar penderita hipertensi di negara berkembang. Di

Indonesia, mencapai 19 – 24 % dari populasi penduduk kebanyakan tidak patuh

mengkonsumsi obat anti hipertensi. Dari jumlah itu 63% penderita hipertensi

berakhir pada stroke. Sementara laporan hasil riset kesehatan dasar di Sumatera

Barat tahun 2016 tekanan darah tinggi merupakan urutan ke 3 di sumatra barat

dan memiliki tingkat kepatuhan konsumsi obat hipertensi yang rendah. Data dari
6

Puskesmas Pasar Usang didapatkan pasien dengan riwayat hipertensi yang rutin

mengkonsumsi obat hipertensi sebesar 63%.

Faktor yang mempengaruhi perilaku kepatuhan pasien dalam minum obat

adalah faktor predisposing meliputi pengetahuan, kepercayaan, keyakinan, nilai-

nilai, sikap, dukungan keluarga dan sikap petugas kesehatan. Selanjutnya

tentang

pengetahuan dalam ranah kognitif mempunyai enam tingkatan yaitu tahu,

memahami, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi. Sikap juga respon tertutup

seseorang terhadap stimulasi atau objek tertentu, yang sudah melibatkan faktor

pendapat dan emosi yang bersangkutan. Dukungan keluarga merupakan bagian dari

pasien yang paling dekat dan tidak dapat dipisahkan. Sehingga pengetahuan, sikap,

dan motivasi sangat berpengaruh dalam meningkatkan kepatuhan mengkonsumsi obat

anti hipertensi.

Dari survey awal yang dilakukan pada tanggal 10 Mei 2017 di Puskesmas

Pasar Usang dengan wawancara yang dilakukan peneliti pada 10 orang penderita

hipertensi, 4 responden mengatakan kurang pengetahuan akan manfaat teratur

mengkonsumsi obat anti hipertensi, sedangkan 5 responden mengatakan kurang

mendapat dukungan dari keluarga dalam mengkonsumsi obat rutin ini, tidak

mendapat dukungan penuh untuk berulang ke puskesmas dan dianggap hanya

perlu minum obat ketika tekanan darah naik saja. Sementara 1 orang responden
7

mengatakan selalu patuh dalam mengkonsumsi obat anti hipertensi untuk

menjaga tekanan darah tetap normal.

Berdasarkan latar belakang dari uraian diatas, peneliti tertarik untuk

melakukan penelitian dengan judul “Hubungan Pengetahuan dan Dukungan

Keluarga dengan kepatuhan pasien dalam mengkonsumsi obat anti hipertensi di

Puskesmas Pasar Usang Tahun 2018.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka peneliti merumuskan

masalah sebagai berikut: “Hubungan Pengetahuan dan Dukungan Keluarga

dengan kepatuhan pasien dalam mengkonsumsi obat anti hipertensi di Puskesmas

Pasar Usang Tahun 2018.”.

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Secara umum tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Hubungan

Pengetahuan dan Dukungan Keluarga dengan Kepatuhan Pasien Dalam

Mengkonsumsi Obat Anti Hipertensi di Puskesmas Pasar Usang Tahun 2018.

2. Tujuan Khusus

a. Mengetahui distribusi frekuensi kepatuhan pasien dalam mengkonsumsi

obat anti hipertensi pada pasien di Puskesmas Pasar Usang 2019


8

b. Mengetahui distribusi frekuensi pengetahuan pasien dalam kepatuhan

mengkonsumsi obat anti hipertensi di Puskesmas Pasar Usang 2019

c. Mengetahui distribusi frekuensi dukungan keluarga dalam kepatuhan

mengkonsumsi obat anti hipertensi di Puskesmas Pasar Usang 2019

d. Mengetahui hubungan pengetahuan dengan kepatuhan pasien dalam

mengkonsumsi obat anti hipertensi di Puskesmas Pasar Usang 2019.

e. Mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan pasien dalam

mengkonsumsi obat anti hipertensi di Puskesmas Pasar Usang 2019.

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi Institusi Pelayanan Kesehatan

Sebagai bahan informasi dan masukan bagi perawat di Puskesmas

Pasar Usang dan dapat mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi

kepatuhan pasien dalam mengkonsumsi obat anti hipertensi di Puskesmas

Pasar Usang 2018 agar dapat meningkatkan upaya pemulihan bagi penderita

hipertensi.

2. Bagi Institusi Pendidikan

Hasil penelitian ini dapat sebagai masukan untuk menambah

pengetahuan sehingga penelitian ini dapat dilanjutkan dan dikembangkan

untuk penelitian yang baru.

3. Bagi Peneliti
9

Untuk menambah ilmu pengetahuan dalam mempersiapkan,

mengumpulkan, mengolah, menganalisa, menginformasikan data temuan dan

mengaplikasikan ilmu yang telah didapatkan di bangku perkuliahan. Hasil

penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi bagi peneliti selanjutnya yang

ingin meneliti dalam lingkup yang sama.

4. Bagi Pasien

Untuk membantu pasien agar lebih paham dan mematuhi

pengkonsumsian obat secara rutin dan rajin melakukan kontrol ulang

kepelayanan kesehatan terdekat, agar tekanan darah selalu normal.

BAB II

TINJUAN PUSTAKA

A. Konsep Hipertensi

1. Pengertian

Hipertensi adalah tekanan darah tinggi yang bersifat abnormal dan diukur

paling tidak pada tiga kesempatan yang berbeda.Secara umum, seseorang dianggap

mengalami hipertensi apabila tekanan darahnya lebih tinggi dari 140/90 mmHg.

Hipertensi juga sering diartikan sebagai suatu keadaan dimana tekanan darah sistolik

lebih dari 120 mmHg dan tekanan diastolic lebih dari 80 mmHg (Ardiansyah, 2012).

Hipertensi atau yang lebih dikenal dengan penyakit darah tinggi adalah

peningkatan abnormal tekanan darah, baik tekanan darah sistolik maupun


10

tekanan darah diastolik.Dalam keadaan normal, tekanan darah sistolik (saat

jantung memompakan darah) kurang dari 120 mmHg dan tekanan darah diastolik

(saat jantung istirahat) kurang dari 80 mmHg (Hartono, bambang, 2012).

Hipertensi merupakan tekanan darah persisten atau terus menerus sehingga

melebihi batas normal dimana tekanan sistolik diatas 140mmhg dan tekanan

diastole diatas 90mmhg (Smelttzer & Bare, 2002).

Hipertensi merupakan tekanan darah persisten atau terus menerus sehingga

melebihi batas normal dimana tekanan darah sistolik diatas 140 mmHg dan tekanan

diastole diatas 90 mmHg. Usia kurang dari 45 tahun, dikatakan hipertensi bila tekanan

darah waktu berbaring diatas atau dikatakan sama dengan 130/90 mmHg, sedangkan

pada usia lebih dari 45 tahun dikatakan hipertensi bila tekanan darah diatas 145/95

mmHg.

Sedangkan pada wanita tekanan darah diatas sama dengan 160/95 mmHg.

Pada usia dibawah 40 tahun dikatakan sistolik lebih dari 140mmHg dan untuk

usia antara 60 – 70 tahun tekanan darah sitolik 150 -155 mmHg masih dianggap

normal. Hipertensi pada usia lanjut didefenisikan sebagai tekanan sistolik lebih

besar dari 140 mmHg dan atau tekanan diastolik lebih besar dari 90 mmHg

ditemukan dua kali atau lebih pada pemeriksaan yang berbeda.

Untuk usia kurang dari 18 tahun dikatakan hipertensi bila dua kali

kunjungan yang berbeda waktu didapatkan tekanan darah diastolic 90 mmHg

atau lebih, atau apabila tekanan darah sistolik pada beberapa pengukuran

didapatkan nilai yang menetap diatas 140 mmHg. (Sarif, 2012).


11

2. Klasifikasi Hipertensi

Klasifikasi hipertensi juga banyak diungkapkan oleh para ahli,

diantaranya WHO menetapkan klasifikasi hipertensi menjadi tiga tingkat yaitu

a. Tingkat I tekanan darah meningkat tanpa gejala – gejala dari gangguan

atau kerusakan system kardiovaskuler.

b. Tingkat II tekanan darah dengan gejala hipertrofi kardiovaskuler, tetapi

tanpa adanya gejala – gejala kerusakan atau gangguan dari alat atau organ

lain.

c. Tingkat III tekanan darah meningkat dengan gejala – gejala yang jelas

dari kerusakan dan gangguan faal dari target organ.

Sedangkan menurut TIM POKJA RS Harapan Kita, Jakarta membagi

hipertensi 6 tingkat yaitu :

a. Hipertensi perbatasan ( borderline ) tekanan darah diastolik, normal

kadang 90 – 100mmHg.

b. Hipertensi ringan adalah tekanan darah diastolik 90 – 140 mmHg.

c. Hipertensi sedang adalah tekanan darah diastolik 105 – 114 mmHg.

d. Hipertensi berat adalah tekanan darah diastolik > 115 mmHg.

e. Hipertensi maglina / krisis yaitu tekanan darah diastolik lebih dari 120

mmHg yang disertai gangguan fungsi target organ.

f. Hipertensi sistolik yaitu tekanan darah sistolik lebih dari 160 mmHg.

Pada hipertensi krisis dibagi lagi menjadi 2, yaitu : hipertensi

emergensi akut, membahayakan jiwa, hal ini terjadi karena disfungsi atau
12

kerusakan organ target. Yang kedua adalah hipertensi urgensi yaitu hipertensi

berat tanpa ada gangguan organ target akan tetapi tekanan darah perlu

diturunkan dengan segera atau secara bertahap dalam waktu 24 – 48 jam,

sebab penurunan tekanan darah dengan cepat akan menimbulkan efek

ischemik pada organ target. (Sarif, 2012).

Tabel 2.1
Klasifikasi hipertensi pada lansia

Kategori Sistolik mmHg Diastolik mmHg


Normal <120 <80
Pre-hipertensi 120 – 139 80 – 90
Hipertensi stadium I 140 – 159 90 – 99
Hipertensi stadium II ≥160 ≥90
Sumber : Humaedi Caesar

3. Etiologi

Penyebab hipertensi terdiri dari beberapa faktor – faktor resiko yang

dapat menyebabkan hipertensi. Penyebab hipertensi dapat dibedakan menurut

jenis hipertensi yaitu :


13

a. Hipertensi primer adalah hipertensi esensial atau hipertensi yang 90%

tidak diketahui penyebabnya. Faktor – faktor yang mempengaruhi

hipertensi esensial antara lain :

1) Genetik : individu yang mempunyai riwayat keluarga dengan

hipertensi, beresiko lebih tinggi untuk mendapatkan penyakit ini

ketimbang mereka yang tidak.

2) Jenis kelamin dan usia : laki – laki berusia 35 – 50 tahun dan wanita

pasca menopause beresiko tinggi untuk mengalami hipertensi.

3) Diet : konsumsi diet tinggi garam atau kandungan lemak, secara

lansung berkaitan dengan berkembangnya penyakit hipertensi.

4) Obesitas : 25% lebih berat di atas berat badan ideal, berfotensi juga

untuk menderita hipertensi

5) Gaya hidup : merokok dan knsumsi alcohol dapat meningkatkan

tekanan darah.

a. Hipertensi sekunder adalah jenis hipertensi yang penyebabnya

diketahui. Faktor – faktornya antara lain yaitu :

a) Coarctation aorta, penyempitan pembuluh darah sehingga

menghambat aliran darah melalui lengkungan aorta dan

mengakibatkan peningkatan tekanan darah diatas area

kontriksi.

b) Penyakit varenkim dan vaskuler ginjal.

c) Penggunaan kontrasepsi hormonal ( estrogen ).


14

d) Gangguan endokrin. Disfungsi medulla adrenal atau korteks

adrenal dapat menyebabkan hipertensi sekunder.

e) Kegemukan ( obesitas ) dan gaya hidup yang tidak aktif jarang

berolah raga.

f) Stress yang cendrung menyebabkan kenaikan tekanan darah

untuk sementara waktu. Jika stress telah berlalu maka tekanan

darah biasanya kembali normal.

g) Kehamilan

h) Luka bakar

i) Penigkatan volume intravascular

j) Merokok. Nikotin dalam rokok dapat merangsang pelepasan

katekolamin. Peningkatan katekolamin ini mengakibatkan

iritabilitas miokardial, penignkatan denyut jantung, serta

menyebabkan vasokontriksi yang kemudian meningkatkan

tekanan darah. ( Ardiansyah, 2012 )

4. Anatomi Fisiologis

Jantung merupakan organ berotot dengan empat ruang yang terletak di

rongga dada, dibawah pelindung tulang iga, sedikit ke sebelah kiri

sternum.Jantung terdapat didalam sebuah kantung longgar berisi cairan yang

disebut perikardium.Keempat ruang jantung tersebut adalah atrium kiri dan

kanan serta ventrikel kiri dan kanan.Sisi kiri jantung memompa darah ke seluruh

sel tubuh, kecuali sel – sel yang berperan dalam pertukaran gas di paru – paru
15

(ini disebut sebagai sirkulasi iskemik).Sisi kanan jantung memompa darah ke

paru – paru untuk mendapat oksigen (ini disebut sirkulasi paru atau pulmoner).

a. Sirkulasi iskemik

Darah masuk ke atrium kiri dari vena pulmonaris. Darah di atrium

kiri kemudian mengalir ke dalam ventrikel kiri melalui katup atrio

ventrikel (AV), yang terletak di sambungan atrium dan ventrikel ( katup

ini disebut katup mitralis ). Semua katup jantung membuka ketika

tekanan dalam ruang jantung atau pembuluh yang berada di atasnya

melebihi tekanan di dalam ruang atau pembuluh yang ada di bawah.

Aliran darah keluar dari ventrikel kiri menuju sebuah arteri besar

berotot, yang disebut aorta.Darah mengalir dari ventrikel kiri ke aorta

melalui katup aorta.Darah di aorta kemudian disalurkan ke seluruh

sirkulasi sistemik, yakni melalui arteri, arteriol, dan kapiler yang

kemudian menyatu kembali untuk membentuk vena – vena. Vena – vena

dari bagian bawah tubuh mengembalikan darah ke vena terbesar, yakni

vena kava inferior. Vena dari bagian atas tubuh mengembalikan darah ke

vena kava superior, yakni ke dua vena kava yang bermuara di atrium

kanan. (Ardiansyah, 2012 )

b. Sirkulasi paru – paru

Darah dia atrium kanan mengalir ke ventrikel kanan melalui katup

AV lainnya, yang disebut katup semilunaris (trikuspidalis).Darah keluar

dari ventrikel kanan dan dan mengalir melewati katup ke- 4, katup
16

pulmonaris, dan ke dalam arteri pulmonaris.Arteri pulmonaris ini

bercabang – cabang lagi menjadi arteri pulmonaris kanan dan kiri, yang

masing – masing mengalir melalui sebelah kanan dan kiri.Di paru – paru,

arteri – arteri pulmonaris ini bercabang – cabang lagi menjadi banyak

cabang arteriol dan kemudian kapiler.

Setiap kapiler member perfusi pada satuan pernafasan, melalui

sebuah alveolus.Semua kapiler menyatu kembali untuk menjadi venula

dan venula menjadi vena. Vena – vena ini kemudian menyatu untuk

membentuk vena pulmonaris yang besar. Darah mengalir dalam vena

pulmonaris, kembali ke atrium kiri untuk menyelesaikan siklus aliran

darah jantung. (Ardiansyah, 2012 ).

5. Patofisiologis

Menurut Smeltzer & Bare 2002, mengatakan bahwa mekanisme yang

mengontrol kontriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak di pusat vasomotor

pada medulla oblongata di otak dimana dari vasomotor ini mulai saraf simpatik

yang berlanjut ke bawah korda spinalis dan keluar dari kolomna medulla ke

ganglia simpatis di torax dan abdomen, rangsangan pusat vasomotor dihantarkan

dalam bentuk implus yang bergerak ke bawah melalui system syaraf simpatis.

Pada titik ganglion ini neuron prebanglion melepskan asetilkolin yang

merangsang serabut saraf paska ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan

melepaskannya nere frineprine mengakibatkan kontriksi pembuluh darah.


17

Faktor seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon

pembuluh darah terhadap rangsangan vasokontriktif yang menyebabkan

vasokntriktif pembuluh darah akibat aliran darah yang ke ginjal menjadi

berkurang atau menurun dan berakibat diproduksinya rennin, rennin akan

merangsang pembentukan angiotensai I yag kemudian diubah menjadi

angiotensis II yang merupakan vasokontriktor yang kuat yang merangsang

sekresi aldosteron oleh cortex adrenal dimana hormone aldosteron ini

menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal dan menyebabkan

peningkatan volume cairan intra vaskuler yang menyebabkan hipertensi. ( Sarif,

2012 )

6. Manifestasi Klinis

a. Nyeri kepala saat terjaga, terkadang disertai mual dan muntah akibat

peningkatan tekanan darah.

b. Penglihatan kabur karena terjadi kerusakan pada retina sebagai dampak dari

hipertensi.

c. Ayunan langkah yang tidak mantap karena terjadi kerusakan susunan saraf

pusat.

d. Nokturia ( sering berkemih dimalam hari ) karena adanya peningkatan aliran

darah ginjal dan filtrasi glomerulus.

e. Edema dependen dan pembengkakan akibat peningkatan tekan


kapiler( Ardiansyah, 2012 ).
18

Menurut Tim Pokja RS Harapan Kita dalam sarif mengatakan tanda


dan gejala hipertensi anatara lain :
a) Sakit kepala

b) Pusing

c) Lemas

d) Sesak nafas

e) Kelelahan

f) Penurunan kesadaran

g) Mual muntah

h) Kelemahan otot

i) Epitaksis, sampai perubahan mental (Ardiansyah,2012)

7. Penatalaksanaan

1) Farmakologi

Terapi obat pada penderita hipertensi dimulai dengan salah satu obat

berikut :

a) Hidroklorotiazid( HCT ) 12,5 – 25mg per hari dengan dosis tunggal pada pagi

hari ( pada hipertensi dalam kehamilan, hanya digunakan bila disertai

hemokonsentrasi atau udema paru ).

b) Reserpin 0,1 – 0,25mg sehari sebagai dosis tunggal

c) Propanolol mulai dari 10mg dua kali sehari yang dapat dinaikan 20mg dua kali

sehari (kontraindikasi untuk penderita asma)


19

d) Kaptopril 12,5 – 25mg sebanyak dua sampai tiga kali sehari ( kontraindikasi

pada bumil dan penderita asma ).

e) Nifenidin mulai dari 5mg dua kali sehari, bisa dinaikkan 10mg dua kali sehari.

2) NonFarmakologi

Langkah awal dengan cara mengubah pola hidup penderita, yaitu

dengan cara :

a) Menurunkan berat badan sampai batas ideal

b) Mengubah pola makan

c) Mengurangi konsumsi garam

d) Mengurangi konsumsi alcohol

e) Berhenti merokok

f) Olah raga teratur

g) Obat alternatif dan pengobatan herbal

B. Konsep Kepatuhan

1. Definisi

Sackett (1976) mendefinisikan kepatuhan sebagai sejauh mana prilaku

pasien sesuai dengan ketentuan yang diberikan oleh profesional kesehatan

(Niven, 2008).

Kepatuhan menyiratkan adanya suatu upaya untuk mengendalikan,

walaupun hanya sebagian, pembuatan keputusan dipihak pasien.Kepatuhan

telah diupayakan untuk menyeimbangkan permasalahan kendali ini dengan

menggunakan istilah seperti mutual contracting (persetujuan bersama.)(Niven,


20

2002).Di tambahankan menurut Sarafino (2004) secara umum, ketidaktaatan

meningkatkan resiko berkembangnya masalah kesehatan atau

memperpanjang, atau memperburuk kesakitan yang sedang diderita.

Kepatuhan pengobatan berhubungan dengan perilaku pengobatan

pasien dan secara khusus mengacu pada sejauh mana pasien mengikuti

rencana pengobatan yang telah disepakati bersama.Ketidakpatuhan terhadap

pengobatan yang diketahui terkait dengan hasil pengobatan yang lebih buruk

khususnya dalam pengelolaan penyakit kronis (Menna Alene et al., 2012).

2. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kepatuhan

Menurut Niven (2000) factor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan

adalah sebagai berikut :

a. Faktor internal

1) Umur

Dengan bertambahnya umur individu tidak berespon secara

hebat terhadap cedera atau penyakit dan sering memprioritaskan tugas-

tugas lain daripada mengobati penyakitnya.

2) Jenis kelamin

Tingkah laku antara pria dan wanita mempunyai

perbedaan.Perbedaan ini dimungkinkan karena faktor hormonal,

struktur fisik maupun tugas atau pekerjaan.

3) Tingkat pendidikan
21

Proses dan kegiatan pendidikan pada dasarnya melibatkan

masalah tingkah laku individu maupun kelompok. Inti dari kegiatan

pendidikan adalah proses belajar menjagar, sedangkan hasilnya berupa

seperangkat perubahan tingkah laku.

4) Lamanya sakit

Lamanya sakit dapat diartikan sebagai lamanya seseorang

harus menjalani pembatasan dan harus mematuhi nasehat atas

pembatasan nasehat tersebut. Pada awal pengobatan akan terdapat

aspek psikologis pada beberapa pasien berupa menentang pengobatan

tersebut, namun ini sering bersifat sementara dan timbul rasa percaya

diri sehingga pasrah dan menerima keadaan.

5) Status ekonomi

Yang dimaksud dengan status ekonomi adalah kadaan ekonomi

atau keuangan keluarga dalam masyarakat Uang dan fasilitas yang

dimiliki suatu keluarga akan berpengaruh terhadap prilaku seseorang

atau kelompok masyarakat.

6) Tingkat pengetahuan tentang penyakit

Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk

terbentuknya tindakan seseorang. Dengan adanya dasar pengetahuan

maka suatu prilaku akan lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak

didasari oleh pengetahuan.


22

b. Faktor Eksternal

1) Sikap Tenaga medis

Pemberian motivasi oleh tenaga medis yang baik akan

memberikan motivasi pada pasien untuk melaksanakan terapi secara

patuh.

2) Dukungan Keluarga

Keluarga akan memberikan motivasi terbesar bagi pasien untuk

melaksanakan terapi dengan patuh.

3. Pengukuran Kepatuhan

Menurut Niven (2008) pengukuran kepatuhan dikategorikan :

1) Patuh

Bila prilaku pasien sesuai dengan ketentuan yang diberikan oleh

professional kesehatan.

2) Tidak patuh

Tidak patuh bila pasien menunjukkan ketidaktaatan terhadap

instruksi yang diberikan.

C. Konsep Pengetahuan (kognitif)

1. Defernisi

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu yang terjadi setelah orang

melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.Penginderaan


23

terjadi melalui panca indera manusia yaitu penglihatan, penciuman, rasa

dan raba.Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan

telinga.Pengetahuan merupakan suatu domain yang sangat penting untuk

terbentuknya suatu tindakan seseorang. Suatu penelitian mengatakan

bahwa perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan mampu bertahan

lama dari pada yang tidak didasari oleh pengetahuan (Notoatmodjo, 2010).

2. Tingkat Pengetahuan

Menurut Notoatmodjo (2010) domain kognitif pengetahuan dibagi

menjadi enam tingkatan yaitu:

1) Tahu (Know)

Yaitu mengingat suatu materi yang telah dipelajari

sebelumnya.Tingkat tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang

paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang

apa yang telah dipelajari antara lain menyebutkan, menguraikan,

mendefenisikan, menyatakan dan sebagainya.

2) Memahami ( Comprehension)

Yaitu suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar

tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi

tersebut secara benar.Kata kerja yang biasa dipakai menyebutkan


24

contoh, menyimpulkan, meramalkan terhadap suatu objek dan

sebagainya.

3) Aplikasi (Aplication)

Yaitu sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang

telah dipelajari pada situasi atau kondisi yang nyata. Aplikasi dapat

diartikan sebagai penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip

dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain. Misalnya dapat

menggunakan prinsip-prinsip siklus pemecahan masalah.

4) Analisis (Analysis)

Yaitu suatu kemampuan untuk untuk menjabarkan materi atau

objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih dalam struktur

tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain. Misalnya dapat

menggambarkan atau membuat bagan, membedakan,

mengelompokkan dan sebagainya.

5) Sintetis (Syntetis)

Sintetis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan

atau menghubungkan bagian-bagian informasi sebagai suatu bentuk

keseluruhan yang baru.Misalnya dapat menyusun, dapat

merencanakan terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah

ada.

6) Evaluasi
25

Berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau

penilaian terhadap materi atau objek.Penilaian-penilaian itu

berdasarkan suatu kriteria yang telah ada.

3. Jenis Pengetahuan

Pemahaman masyarakat mengenai pengetahuan dalam kontek

kesehatan sangat beraneka ragam.Pengetahuan merupakan begian perilaku

kesehatan. Jenis pengetahuan menurut Budiman dan Riyanto (2013)

adalah:

1) Pengetahuan implicit

Pengetahuan implisit adalah pengetahuan yang masih tertanam

dalam bentuk pengalaman seseorang dan berisi faktor-faktor yang

tidak bersifat nyata, seperti keyakinan pribadi, perspektif dan prinsip.

Pengetahuan seseorang biasanya sulit untuk ditransfer ke orang lain

baik secara tertulis ataupun lisan. Pengetahuan implisit sering kali

berisi kebiasaan dan budaya bahkan bisa tidak disadari.

2) Pengetahuan eksplisit

Pengetahuan eksplisit adalah pengetahuan yang telah

didokumentasikan atau disimpan dalam wujud nyata, bisa dalam

wujud perilaku kesehatan.Pengetahuan nyata dideskripsikan dalam

tindakan-tindakan yang berhubungan dengan kesehatan.

4. Factor Yang Mempengaruhi Pengetahuan

1) Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan


26

Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan menurut Wawan

(2010) adalah:

a. Faktor internal

a) Pendidikan

Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan seseorang

terhadap perkembangan orang lain menuju kearah cita-cita

tertentu yang menentukan manusia untuk berbuat dan

mengisi kehidupan untuk mencapai keselamatan dan

kebahagiaan. Budiman & Agus (2013) yang menyatakan

bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi pengetahuan

adalah pendidikan. Pengetahuan sangat erat kaitannya

dengan pendidikan di mana diharapkan seseorang dengan

pendidikan tinggi, orang tersebut akan semakin luas pula

pengetahuannya tetapi selain dari pendidikan formal

informasi dan pengetahuan tersebut juga dapat diperoleh

dari pendidikan informal.

b. Pekerjaan

Pekerjaan adalah keburukan yang harus dilakukan terutama

untuk menunjang kehidupannya dan kehidupan keluarganya.

c. Usia

Usia adalah umur individu yang terhitung mulai saat

dilahirkan sampai berulang tahun. Dan semakin tinggi


27

usiaseseorang maka semakin bijaksana dan banyak

pengalaman yang telah dijumpai dan dikerjakan untuk

memiliki pengetahuan. Usia diklasifikasikan dalam 6

tingkatan, yang dibagi berdasarkan pembagian usia Depkes

RI (2009), yaitu usia 17-25 tahun , usia 26-35 tahun, usia

36-45 tahun, usia 46-55 tahun, usia 56-65 tahun dan usia

>65 tahun. Budiman dan Agus (2013) menyatakan bahwa

usia mempengaruhi daya tangkap dan pola pikir seseorang.

Semakin bertambah usia akan semakin berkembang pula

daya tangkap dan pola pikirnya sehingga pengetahuan yang

diperolehnya semakin membaik. Tetapi menurut Maryam

(2011) yang menyatakan bahwa pada lansia mengalami

kemunduran kemampuan kognitif antara lain berupa

berkurangnya ingatan (suka lupa).

b. Faktor eksternal

a) Faktor lingkungan

Lingkungan merupakan seluruh kondisi yang ada disekitar

manusia dan pengaruhnya yang dapat mempengaruhi

perkembangan dan perilaku orang atau kelompok.

b) Sosial budaya

Sistem budaya yang ada pada masyarakat dapat mempengaruhi

dari sikap dalam menerima informasi.


28

D. Konsep Dukungan Keluarga

1. Definisi

Dukungan keluarga didefinisikan oleh Gottlieb (1983) dalam

Friedman (2006) yaitu informasi verbal, sasaran, bantuan yang nyata atau

tingkah laku yang diberikan oleh orang-orang yang akrab dengan subjek

didalam lingkungan sosialnya atau yang berupa kehadiran dan hal yang dapat

memberikan keuntungan emosional atau pengaruh pada tingkah laku

penerimaannya. Dalam hal ini orang yang merasa memperoleh dukungan

sosial, secara emosional merasa lega diperhatikan, mendapat saran atau kesan

yang menyenangkan pada dirinya.

Dukungan keluarga sebagai adanya kenyamanan, perhatian,

penghargaan atau menolong orang dengan sikap menerima kondisinya,

dukungan keluarga tersebut diperoleh dari individu maupun kelompok

(Tinkhan & Voorhies, 1977 dalam Muhlisin, 2012).

Keluarga sebagai unit terkecil dari masyarakat mempunyai nilai strategis

didalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan, karena setiap masalah

individu merupakan masalah keluarga begitu juga sebaliknya.Keberhasilan

keperawatan dirumah sakit dapat menjadi sia-sia jika tidak dilanjutkan oleh

keluarga dirumah.Secara empiris dapat dikatakan bahwa kesehatan anggota

keluarga dan kualitas kehidupan sangat berhubungan atau sangat

signifikan.Oleh karena itu, sangatlah penting pelayanan kesehatan yang


29

berorientasi pada pelayanan kesehatan yang sayang keluarga (Family Friendly

Health Centre), (Muhlisin, 2012).

2. Fungsi Pokok Keluarga

Friedman (2006) mengidentifikasi lima fungsi dasar keluarga, yaitu :

a. Fungsi afektif dan koping

Fungsi afektif berhubungan erat dengan fungsi internal keluarga,

yang merupakan basis kekuatan keluarga.Fungsi afektif berguna untuk

pemenuhan kebutuhan psikososial.

Komponen yang perlu dipenuhi oleh keluarga dalam melaksanakan fungsi

afektif menurut Friedman (2006) adalah:

1. Saling mengasuh. Cinta kasih, kehangatan, saling menerima, saling

mendukung antar anggota keluarga.

2. Saling menghargai. Bila anggota keluarga saling menghargai dan

mengakui keberadaan dan hak setiap anggota kelarga serta selalu

mempertahankan iklim yang positif maka fungsi afektif akan tercapai.

3. Ikatan dan identifikasi. Ikatan antar anggota keluarga dikembangkan

melalui proses identifikasi dan penyesuaian pada berbagai aspek

kehidupan anggota keluarga.

b. Fungsi Sosialisasi

Sosialisasi adalah proses perkembangan dan perubahan yang dilalui

individu, yang menghasilkan interaksi social dan belajar berperan

dalam lingkungan social.


30

c. Fungsi Reproduksi

Keluarga berfungsi untuk meneruskan kelangsungan keturunan

dan menambah sumber daya manusia.Dengan adanya dorongan program

keluarga berencana maka fungsi ini sedikit terkontrol.

d. Fungsi Ekonomi

Fungsi ekonami merupakan keluarga untuk memenuhi kebutuhan

seluruh anggota keluarga, seperti kebutuhan akan makanan, pakaian dan

tempat berlindung (rumah).

e. Fungsi Perawatan Kesehatan

Keluarga juga berfungsi untuk melaksanakan praktek asuhan

kesehatan, yaitu untuk mencegah terjadinya gangguan kesehatan dan /

atau merawat anggota keluarga yang sakit.keluarga yang dapat

melaksanakan tugas kesehatan berarti sanggup menyelesaikan masalah

kesehatan keluarga.

3. Tugas Kesehatan Keluarga

Ada 5 tugas kesehatan keluarga adalah sebagi berikut (Friedman, 2006):

1) Mengenal masalah kesehatan setiap anggotanya

2) Mengambil keputusan untuk melakukan tindakan yang tepat bagi

keluarga.
31

3) Memberikan keperawatan anggotanya yang sakit atau yang tidak dapat

membantu dirinya sendiri karena cacat atau usianya terlalu muda.

4) Mempertahankan suasana dirumah yang menguntungkan kesehatan dan

perkembangan kepribadian anggota keluarga.

5) Mempertahankan hubungan timbal balik antara keluarga dan lembaga

kesehatan (pemanfaatan fasilitas kesehatan yang ada).

4. Bentuk Dukungan Keluarga

a. Dukungan Emosional (Emosional Support)

Keluarga sebagai sebuah tempat yang aman dan damai untuk istirahat

dan pemulihan serta membantu penguasaan terhadap emosi.Meliputi

ungkapan empati, kepedulian dan perhatian terhadap anggota keluarga

yang sakit.

b. Dukungan Penghargaan (Apprasial Assistance)

Keluarga bertindak sebagai sebuah bimbingan umpan balik,

membimbing dan menengahi pemecahan masalah dan sebagai sumber dan

validator identitas anggota.Terjadi lewat ungkapan hormat (penghargan)

positif untuk penderita kusta, persetujuan dengan gagasan atau perasaan

individu dan perbandingan positif penderita kusta dengan penderita

lainnya seperti orang-orang yang kurang mampu atau lebih buruk

keadaannya (menambah harga diri).

c. Dukungan Instrumental (Tangibile Assistance)


32

Keluarga merupakan sebuah sumber pertolongan praktis dan konkrit,

mencakup bantuan langsung seperti dalam bentuk uang, peralatan, waktu,

modifikasi lingkungan maupun menolong dengan pekerjaan waktu

mengalami stress.

d. Dukungan Informasi (informasi support)

Keluarga berfungsi sebagai sebuah koletor dan disse minator

(penyebar) informasi tentang dunia, mencakup memberi nasehat,

petunjuk-petunjuk, saran atau umpan balik. Bentuk dukungan keluarga

yang diberikan oleh keluarga adalah dorongan semangat, pemberian

nasehat atau mengawasi tentang pola makan sehari-hari dan

pengobatan.Dukungan keluarga juga merupakan perasaan individu yang

mendapat perhatian, disenangi, dihargai dan termasuk bagian dari

masyarakat (Friedman, 2002).


33

BAB III
KERANGKA KONSEP
A. Konsep Teori

Hipertensi adalah tekanan darah tinggi yang bersifat abnormal dan diukur

paling tidak pada tiga kesempatan yang berbeda. Secara umum, seseorang

dianggap mengalami hipertensi apabila tekanan darahnya lebih tinggi dari 140/90

mmHg. Hipertensi juga sering diartikan sebagai suatu keadaan dimana tekanan

darah sistolik lebih dari 120 mmHg dan tekanan diastolic lebih dari 80 mmHg

(Ardiansyah, 2012).

Perilaku adalah tindakan atau aktivitas dari manusia itu sendiri yang

mempunyai bentangan yang sangat luas antara lain : berjalan, berbicara,


34

menangis, tertawa, bekerja, kuliah, menulis, membaca, dan sebagainya. Dari

uraian ini dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud perilaku manusia adalah

semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang diamati langsung, maupun yang

tidak dapat diamati oleh pihak luar (Notoatmodjo, 2010).

Dukungan keluarga adalah sikap, tindakan dan penerimaan keluarga

terhadap penderita yang sakit. Hal ini menunjukan bahwa terdapat hubungan yang

kuat antara dukungan keluarga dan status kesehatan anggotanya di mana peran

keluarga sangat penting bagi setiap aspek kesehatan anggota keluarga mulai dari

strategi-strategi fase rehabilitas (Mubarak, 2009).

Kepatuhan adalah tingkat perilaku lansia yang setuju terhadap

instruksi atau petunjuk yang diberikan dalam bentuk dukungan keluarga

apapun yang di tentukan. Ketidakpatuhan atau tidak mengikuti petunjuk

merupakan suatu masalah kesehatan lansia yang penting dan merupakan

masalah yang paling serius yang dihadapi lansia (Mickey Stanley, 2007).

Menurut teori keperawatanHealt Belief Model (HMB), diperoleh hasil

tidak ada ketidakpatuhan yang tidak disengaja karena lansia tidak mengikuti

program pengobatan, karena lansia merasa bahwa penyakitnya tidak cukup

serius untuk mengikuti suatu program kepatuhan dalam berobat. Teori lain

yang dugunakan untuk mengavaluasi kepatuhan berobat pada lansia adalah

teori lokus kontrol kesehatan,teori ini mengacu pada derajat yang dipercaya
35

oleh individu bahwa perilaku kepatuhan berobat mempengaruhi kesehatan

lansia (lokus kontrol) (Mickey Stanley, 2007).

Kepatuhan menyiratkan adanya suatu upaya untuk mengendalikan,

walaupun hanya sebagian, pembuatan keputusan dipihak pasien. Kepatuhan

telah diupayakan untuk menyeimbangkan permasalahan kendali ini dengan

menggunakan istilah seperti mutual contracting (persetujuan bersama.)

(Niven, 2002). Di tambahankan menurut Sarafino (2004) secara umum,

ketidaktaatan meningkatkan resiko berkembangnya masalah kesehatan atau

memperpanjang, atau memperburuk kesakitan yang sedang diderita.

Kerangka teori merupakan kerangka teoritis yang digunakan sebagai

landasan penelitian :

Lansia

Penurunan sistem fisik, seperti : perubahan otot


jantung, pola makan yang tidak sehat dan
kelebihan berat badan atau obesitas.

Hipertensi pada lansia

Penatalaksanaan hipertensi:
1. Terapi non farmakologi
 Terapi gaya hidup
 Terapi musik
 Terapi verbal
 Rajin cek tekanan darah
2. Terapi farmakologi
 Diuretik
 Beta bloker
 Penghambat sintetis
36

Dukungan keluarga: Kepatuhan Minum


Obat Hipertensi
 Dukungan Emosional
 Dukungan Instrumental
 Dukungan Penghargaan
 Dukungan Informasi

Skema 3.1
Kerangka Teori
(Padila , 2013, Stanley, 2007, Rahayu, 2010)

B. Kerangka Konsep

Kerangka konsep adalah suatu hubungan atau kaitan antara konsep -

konsep atau variable - variabel yang akan diamati atau diukur melalui penelitian

yang akan dilaksanakan. Dalam penelitian ini factor yang berhubungan dengan

kejadian hipertensi yang diteliti adalah pengetahuan, dukungan keluarga dan

kepatuhan minum obat. Berdasarkan hal tersebut maka kerangka konsep dalam

penelitian ini dapat dilihat pada diagram berikut :

V. Independen V. Dependen

1. Tingkat Pengetahuan
Kepatuhan Minum Obat
Hipertensi
37

2. Dukungan keluarga

C. Hipotesa

Ha 1. Ada hubungan antara tingkat pengetahuan dengan kepatuhan minum oba pada

pasien Hipertensi di Puskesmas Pasar Usang.

Ha 2. Ada hubungan antara dukungan keluarga dengan kepatuhan minum obat pada

pasien Hipertensi di Puskesmas Pasar Usang.

BAB IV
METODELOGI PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Desain penelitian yang digunakan adalah analitik dengan pendekatan

cross sectional study, merupakan rancangan penelitian dengan menggunakan

pengukuran atau pengamatan pada data yang menyangkut variabel

independen dan variabel dependen yang dikumpulkan secara bersamaan

(Notoadmojo, 2002). Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan

tingkat pengetahuan dan dukungan keluarga dengan kepatuhan minum obat di

Puskesmas Pasar Usang.


38

B. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan di Puskesmas Pasar usang dari bulan Mai

2019 sampai Juli 2019. Pengumpulan data pada bulan Juni 2019.

C. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi adalah seluruh sabjek atau objek yang akan diteliti (Aziz,

2009). Populasi pada penelitian ini adalah semua pasien hipertensi yang

berobat jalan di puskesmas Pasar Usang 6 bulan terakhir sebanyak 259

pasien.

2. Sampel

Sampel merupakan bagian populasi yang akan diteliti atau sebagian

jumlah dari karakteristik yang dimiliki oleh populasi. (Aziz, 2009). Teknik

pengambilan sampel yang digunakan adalah simple random sampling.

Menurut Notoadmojo (2010) besaran sampel ditentukan dengan menggunakan

N
rumus : n=
1+ N (d 2)

Keterangan :

N = besar populasi

n= besar sampel
39

d= tingkat kepercayaan atau ketepatan yang diinginkan (0,1)

259
n= 2
1+ 259(0,1 )

259
n=
1+ 2,59(0,012)

n= 72, 15

n= 72 responden

Jadi jumlah sampel sebanyak 72 orang.

a. Kriteria inklusi sampel adalah :

1) Bersedia untuk menjadi responden

2) Ada saat penelitian dilakukan

3) Pasien yang mengalami hipertensi

4) Pasien hipertensi yang tinggal bersama keluarga

b. Kriteria eklusi sampel adalah :

1) Tidak bersedia menjadi responden

2) Pasien yang mengalami penyakit hipertensi disertai dengan penyakit

lainnya

3. Teknik Pengambilan Sampel

Teknik pengambilan sampel menggunakan simple ramdom sampling

yaitu suatu teknik pengambilan sampel dengan cara memilih acak sampel dari

semua populasi yang ada (Nursalam, 2011). Berdasarkan kunjungan lansia


40

diambil secara acak sederhana yaitu dengan cara membuat daftar nama

responden dan nama responden yang tercabut itu yang menjadi reponden,

Kemuadian dibagikan kusioner dan ditunggu sampai responden selesai

mengisi kusioner.

D. Defenisi Operasional

No Variabel Defenisi Alat Cara Hasil Ukur Skala


Operasional
Ukur Ukur Ukur
1 Kepatuhan Segala bentuk Kuesioner Angket 1. Patuh jika Ordinal
minum obat tindakan
yang ≥
responden dalam
terdiri dari mean
menjalani
pengobatan secara 10 /median
teratur sesuai
pertanyaan 2. Tidak
dengan anjuran
objektif patuh <
yang diberikan
dokter dengan mean /

jawaban median

benar (Friedman,

diberi nilai 2011)

1 dan

salah

diberi nilai

0
2 Tingkat Pengetahuan yang Kuesioner Angket 1. Tinggi ≥ Ordinal
Pegetahuan dimiliki
41

responden tentang yang 75%


obat hipertensi
terdiri dari 2. Sedang =
meliputi
10 55% -75%
-waktu minum
obat pertanyaan 3. Rendah
- takaran minum
objektif <55%
obat
dengan (Notoadmojo,
- cara minum obat
jawaban 2010)

benar

diberi nilai

1 dan

salah

diberi nilai

0
3 Dukungan Segala bentuk Kuisioner Angket 1. Baik jika
keluarga kenyamanan dan
yang ≥ mean / Ordinal
perhatian yang di
terdiri dari median
dapatkan pasien
dari orang 10 2. Kurang
terdekat meliputi :
pertanyaan baik <
- kontrol rutin,
objektif mean /
- minum obat
secara teratur dengan median
- waktu minum
jawaban (Notoadm
obat yang
benar ojo,2010)
tepat
42

- menghindari diberi nilai


makanan yang
1 dan
tidak
salah
dianjurkan
selama diberi nilai
pengkonsumsi
0
an obat
E. Teknik Pengumpulan Data

Data primer pada penelitian ini yaitu diambil dengan cara memberikan

lembar kusioner secara langsung dari responden yang berisi tentang kepatuhan

minum obat, tingkat pengetahuan dan dukungan kelaurga.

Sebelum penelitian dilaksanakan, peneliti minta izin kepada kepala

puskesmas Pasar Usang untuk meminta izin penelitian. Setelah mendapatkan

surat izin. Kemudian peneliti menjelaskan kepada responden bagaimana cara

pengisian kusioner dan memberikan informed consent. Selanjutnya peneliti

membuat gulungan–gulungan kertas yang diberi nomor ganjil dan genap

untuk dibagikan kepada responden. Kemuadian peneliti membagikan kusioner

dan kusioner tersebut diambil kembali pada saat itu juga. Data sekunder

diperoleh dari data rekamedis puskesmas.

F. Pengolahan Data

Pengelolaan data dilakukan dengan menggunakan komputer dan

langkah – langkah sebagai berikut :

1. Mengedit Data ( Editing )


43

Setelah daftar pertanyaan diterima, dilakukan pemeriksaan data

dengan melihat masing-masing data sampai tidak ditemukan ada

kesalahan dan pertanyaan dijawab lengkap.

2. Mengkode Data ( Coding )

Setelah jawaban responden diedit kemudian diberi kode,

pemberian kode pada penelitian. Pada variabel independennya dengan

pengukuran ya (0) dan tidak (1).

3. Memasukkan Data ( Entry )

Memasukkan data yang telah diberi kode kedalam tabel dan diolah

kedalam program computer. Data yang diperoleh dari kusioner kepatuhan

minum obat dan pengetahuan serta dukungan keluarga.

4. Membersihkan Data ( Cleaning )

Setelah data dientry, dicek kembali untuk memastikan bahwa data

tersebut telah bersih dari kesalahan sehingga data tersebut benar-benar

siap untuk dianalisa.

5. Tabulating

Yaitu melakukan pengelompokan data kedalam suatu tabel tertentu

menurut sifat-sifat yang dimilikinya, sesuai dengan tujuan peneliti yang

akan memudahkan dalam melakukan analisis selanjutnya.

G. Analisa Data

a. Analisa Univariat
44

Analisa Univariat adalah analisa yang dilakukan terhadap tiap

variabel dalam penelitian ( Notoatmodjo, 2010).

Tujuan dari analisa ini adalah untuk menjelaskan atau

mendeskripsikan karakteristik masing – masing variabel yang diteliti.

Untuk menggambarkan distribusi frekuensi dari variabel – variabel yang

diteliti baik variabel independen maupun variabel dependen, dengan

menjumlahkan semua nilai responden untuk variabel independen dan

ditentukan rata-rata dengan menggunakan komputerisasi.

b. Analisa Bivariat

Analisa bivariat dilakukan untuk melihat hubungan antara dua

variabel yaitu variabel indenpenden dan variabel dependen. Untuk

melihat hubungan kedua variabel ini digunakan uji statistic yaitu uji chi-

square dengan derajat kepercayaan 95% ( α= 0,05 ) jika nilai p ≤0,05

berati ada hubungan antara variabel independen dengan variabel

dependen, namun jika nilai p > 0,05 berati tidak ada hubungan antara

variabel independen dengan variabel dependen.