Anda di halaman 1dari 16

KEWIRAUSAHAAN

EKU 300 B4

SAP 6

KELOMPOK 6
NAMA ANGGOTA :

MADE SAWITRI KUMALA DEWI (1607531062 / 12)

I KADEK RAMA ARTIKANAYA (1607531068 / 17)

I MADE DARMAYOGA (1607531070 / 18)

PUTU PRADNYANI (1607531072 / 20)

Disampaikan kepada :
Ni Nyoman Rsi Respati, S.E., M.M

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS UDAYANA
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat NYA sehingga makalah
kewirausahaan ini dapat tersusun hingga selesai . Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak
terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan
baik materi maupun pikirannya.
Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman
bagi para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi
makalah agar menjadi lebih baik lagi.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin masih banyak
kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang
membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Badung, 4 Maret 2018

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR…………………………………………..……………………………..…i

DAFTAR ISI……………………………………………………………………………………..ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang……………………………………………………………………………1
B. Rumusan  Masalah………………………………………………………………………..2
C. Tujuan…………………………………………………………………………………….2
D. Manfaat…………………………………………………………………………………...2

BAB II PEMBAHASAN

A. Berbagai Karakter dan Sikap Mental Wirausaha Sukses………………………………….3


B. Pemilihan Role Model dalam Membangun Karakter Wirausaha…………………………7
C. Faktor – faktor penyebab Kegagalan Usaha………………………………………………8
D. Kasus………………………………………………………………………………………9

BAB III PENUTUP

KESIMPULAN…………………………………………………………………………………..12

DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………………...13

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Untuk menjadi seorang wirausahawan, artinya seseorang harus mampu
memadukan sikap pribadi, keuangan, dan sumber daya yang ada di sekitar kita. Setiap
wirausahawan memiliki sikap “unik” dan memiliki gaya tersendiri dalam mengelola
usahanya. Dengan demikian dalam berwirausaha tidak hanya mengandalkan modal
berupa uang, namun sebagai wirausahawan kita juga harus memiliki modal dalam bentuk
sikap dan kepribadian.
Sikap mental merupakan elemen paling dasar yang perlu dijamin untuk selalu
dalam keadaan baik. Unsur ini yang menentukan apakah seseorang menjadi sosok yang
baik ataukah sebaliknya. Itu sebabnya pembinaan sikap dan mental menjadi unsur
terpenting dalam dunia kewiraswastaan. Selain menghadirkan sifat-sifat baik alamiah
seperti kejujuran dan ketulusan, sikap mental mencakup juga segi-segi positif dalam hal
motivasi dan proaktifitas.
Orang yang bersikap mental baik akan selalu bekerja rajin tanpa harus diperintah,
dan konsisten tanpa harus diawasi. Dan juga selalu berinisiatif melakukan hal-hal yang
bernilai positif, selalu mempunyai motivasi kuat serta semangat yang menggebu-gebu
dalam mencapai impian.
Sikap mental juga amat menentukan keberhasilan seseorang. Harvard, sebuah
institusi di Amerika menyatakan bahwa keberhasilan orang-orang sukses di dunia ini,
ternyata lebih banyak ditentukan oleh sikap mentalnya dibandingkan dengan peranan
kemampuan teknis yang dimiliki. Dengan angka perbandingan adalah 85% sikap mental,
15% kemampuan teknis.
Akan tetapi, ironisnya komposisi materi pendidikan yang diterapkan di sekolah-
sekolah menunjukkan perbandingan yang sebaliknya yaitu 90% pelajaran teknis dan 10%
sikap mental. Sehingga, pantaslah kalau banyak didapati manusia yang berfikir negatif
dibanding orang berfikir positif, antusias, dan percaya diri.

1
B. Rumusan Masalah
1. Apa saja sikap dan mental yang harus dimiliki seorang wirausahawan?
2. Bagaimana cara pemilihan role model untuk membangun karakter wirausaha?
3. Apa saja faktor-faktor penyebab kegagalan?

C. Tujuan
1. Mengetahui sikap dan mental yang harus dimiliki seorang wirausahawan.
2. Mengetahui carapemilihan role model untuk membangun karakter wirausaha.
3. Mengetahui faktor-faktor penyebab kegagalan.

D. Manfaat
1. Dapat memahami dan belajar mengenai pentingnya sikap dan mental yg dimiliki
wirausahawan, pemilihan role model untuk membangun karakter wirausaha, dan
faktor-faktor penyebab kegagalan.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Berbagai Karakter dan Sikap Mental Wirausaha Sukses


Menurut Geoffrey G. Meredith, wirausaha memiliki berbagai ragam karakter dan
watak sebagai berikut:

Tabel 1 Karakter dan unsur karakter wirausaha

No Karakter Watak

1 Percaya diri Memiliki keyakinan yang kuat, ketidaktergantungan


terhadap orang lain, mandiri dan optimis
2 Berorientasi pada tugas dan Gairah untuk maju, berorientasi laba, tekun, ulet dan
hasil tegas, kerja keras, bersemangat, energik, serta inisiatif.
3 Pengambil resiko Kemampuan mengambil resiko, suka tantangan
4 Kepemimpinan      Berjiwa kepemimpinan, suka bergaul, terbuka terhadap
saran dan kritik.
5 Keaslian atau originalitas Pandai pencipta (inovatif dan kreatif) berpikiran
terbuka, penuh informasi, kaya pengetahuan.
6 Berorientasi masa depan Memiliki visi dan perspektif terhadap masa depan.

Karakter wirausaha yang dikemukakan di atas menunjukkan bahwa intisari karakter


seorang wirausaha ialah kreatifitas. Oleh karena itu, dapat dikemukakan bahwa seorang
wirausaha dapat dibentuk, bukan lahir begitu saja. Jelaslah bahwa kewirausahaan pada dasarnya
merupakan jiwa dari seseorang yang diekspresikan melalui sikap dan perilaku yang kreatif dan
inovatif untuk melakukan suatu kegiatan. Adapun orang yang memiliki jiwa tersebut tentu saja
dapat melakukan kegiatan kewirausahaan atau menjadi pelaku kewirausahaan atau lebih dikenal
dengan sebutan wirausaha. Seorang wirausaha haruslah seorang yang mampu melihat ke depan.
Melihat ke depan dengan berpikir, penuh perhitungan, mencari pilihan dari berbagai alternatif
masalah dan pemecahannya.

3
1) Percaya diri
Sifat-sifat percaya diri dimulai dari pribadi yang mantap, tidak mudah terombang-
ambing oleh pendapat dan saran-saran orang lain. Akan tetapi saran-saran orang lain
jangan ditolak mentah-mentah, pakai itu sebagai masukan untuk dipertimbangkan
kemudian harus memutuskan segera. Orang yang tinggi percaya dirinya adalah orang
yang sudah matang, jasmani dan rohaninya. Pribadi semacam itu adalah pribadi yang
independen dan sudah mencapai tingkat kematangan. Karakteristik kematangan
seseorang adalah ia tidak tergantung pada orang lain, ia memiliki rasa tanggung jawab
yang tinggi, obyektif dan kritis. Tidak begitu saja menyerap pendapat atau opini orang
lain tapi dapat mengembangkan kritis. Emosionalnya sudah stabil, tidak mudah
tersinggung dan naik pitam, serta tingkat sosialnya tinggi. Diharapkan wirausaha seperti
ini betul-betul dapat menjalankan usahanya secara mandiri, jujur dan disenangi oleh
semua relasinya.
2) Berorientasi tugas dan hasil
Wirausaha tidak mengutamakan prestise dulu, tetapi prestasi kemudian. Ia berharap
pada prestasi baru kemudian setelah berhasil prestisenya akan meningkat. Wirausaha
yang selalu memikirkan prestise dulu dan prestasi kemudian, usahanya tidak akan
mengalami kemajuan. Maka wirausaha harus mempunyai kebutuhan untuk berprestasi,
berorientasi pada laba, ketekunan dan ketabahan, tekad kerja keras, mempunyai dorongan
kuat, energik dan inisiatif.
3) Pengambil resiko
Wirausaha dalam melakukan kegiatan usahanya penuh dengan resiko dan tantangan,
seperti persaingan, harga turun naik, barang tidak laku dan sebagainya. Tetapi semua
tantangan ini harus dihadapi dengan penuh perhitungan. Jika perhitungan sudah matang
baru membuat pertimbangan dari berbagai macam segi.
4) Kepemimpinan
Sifat kepemimpinan memamng ada dalam masing-masing individu, maka sifat
kepemimpinan tergantung pada masing-masing individu dalam menyesuaikan diri dengan
organisasi atau orang yang dipimpin. Ada pemimpin yang disenangi oleh bawahan, mudah
memimpin sekelompok orang, ia diikuti dan dipercaya oleh bawahan. Tapi ada pula
pemimpin yang tidak disenangi bawahan atau tidak senang pada bawahannya, ia mau

4
mengawasi bawahannya tapi tidak ada waktu untuk itu. Menanam kecurigaan pada orang
lain pada suatu ketika akan berakibat tidak baik pada usaha yang sedang dijalankan. Maka
wirausaha sebagai pemimpin yang baik harus mau menerima kritik dan saran dari
bawahannya serta harus bersifat responsif.
5) Keaslian atau originalitas
Sifat orisinil tidak selalu ada pada diri sesorang, yang dimaksud orisinil adalah tidak
hanya mengekor pada orang lain tapi memiliki pendapat sendiri dan ide yang orisinil
untuk melaksanakan sesuatu. Orisinil tidak berarti baru sama sekali, tapi produk tersebut
mencerminkan hasil kombinasi baru dari komponen-komponen yang sudah ada sehingga
melahirkan sesuatu yang baru. Bobot kreativitas orisinil suatu produk akan tampak sejauh
mana ia berbeda dari apa yang sudah ada sebelumnya.
6) Berorientasi masa depan
Wirausaha harus perspektif, mempunyai visi ke depan, apa yang akan dilakukan dan
apa yang ingin dicapai. Karena sebuah usaha bukan didirikan untuk sementara tapi
selamanya. Maka faktor kontinuitas harus dijaga dan pandangan harus ditujukan jauh ke
depan. Untuk menghadapi pandangan jauh ke depan seorang wirausaha akan menyusun
perencanaan dan strategi yang matang, agar jelas langkah-langkah yang akan
dilaksanakan.

Pengusaha yang sukses bukanlah pengusaha yang bisa memulai bisnis dalam skala besar


dalam waktu singkat. Wirausaha bukanlah sebuah hal yang bisa dibangun secara instan.
Wirausaha sukses adalah mereka yang berhasil mengatasi naik turunnya usaha dan tetap berdiri
tegak. Skala keberhasilan wirausaha bukanlah semata pada jumlah omset yang dimiliki, akan
tetapi lebih pada kemampuan sang wirausaha untuk mempertahankan usahanya dalam
menghadapi berbagai arus perubahan yang sedikit banyak memiliki pengaruh pada usahanya.
Pada bagian ini, mental wirausaha seseorang sangat diuji. Seseorang boleh saja mengklaim
bahwa dia sudah memiliki usaha tersebut sejak lama, atau mungkin usaha tersebut sudah diwarisi
dari orang tua mereka. Akan tetapi, kehidupan usaha tersebut lebih tergantung pada mental
wirausaha orang tersebut dalam menjalankan roda usahanya.
Beberapa pakar mengatakan bahwa mental wirausaha di Indonesia masih sangat lemah.
Orang Indonesia lebih menyukai bekerja sebagai karyawan daripada mencoba mendirikan usaha

5
mandiri atau meneruskan usaha mereka. Salah satu ciri lemahnya mental wirausaha di Indonesia
adalah keengganan seseorang untuk menempuh berbagai resiko yang mungkin timbul dalam
usaha yang dijalankannya. Resiko kegagalan ataupun resiko merugi dari sebuah usaha tentu
berbanding lurus dengan “resiko” mendapatkan keuntungan. Sayangnya, masih banyak orang
Indonesia yang tidak siap menghadapi resiko kegagalan. Keengganan menghadapi resiko
kegagalan tersebut disikapi dengan tidak menjalankan usaha. Semangat wirausaha seharusnya
dilandasi dengan semangat pantang menyerah. Ada macam sikap mental yang seharusnya
dimiliki oleh seorang wirausaha, yaitu:
1) Memiliki semangat enterpreneurship dasar yaitu keinginan untuk memiliki penghasilan
yang lebih baik daripada bekerja pada orang lain. Keinginan untuk mandiri, lebih
sejahtera dan memiliki kehidupan yang lebih baik akan membawa seseorang pada
keinginan berusaha secara mandiri.
2) Semangat enterpreneurship lain yang harus dimiliki adalah keinginan untuk mandiri.
Bekerja pada perusahaan milik orang lain boleh jadi lebih nyaman, akan tetapi Anda tidak
akan pernah menjadi mandiri. Sikap mental seperti ini yang masih jarang dimiliki oleh
banyak orang di Indonesia. Banyak orang memilih berada di zona nyaman mereka hingga
masa pensiun tiba dibanding membuat sebuah gebrakan besar dalam kehidupan mereka
dengan berwirausaha.
3) Berani mencoba adalah satu bagian dari semangat enterpreneurship yang harus selalu
dimiliki para calon wirausaha. Tidak ada bayi yang langsung bisa berlari. Bayi harus
melalui fase merangkak, belajar berdiri, belajar berjalan hingga mampu berjalan dengan
dua kaki tanpa terjatuh. Analogi yang sama harus diterapkan oleh seorang wirausahawan.
Berani mencoba menjadi seorang wirausaha adalah salah satu kunci wirausaha sukses.
Bagaimana Anda bisa mendapatkan hasil wirausaha sukses sementara Anda bahkan tidak
berani mencoba
4) Semangat enterpreneurship lain adalah tahan banting. Kegagalan memang sangat
menyakitkan, akan tetapi bukan merupakan sebuah alasan untuk menyerah. Semangat
wirausaha sukses adalah menyikapi kegagalan sebagai sebuah pelajaran besar. Evaluasi
menyeluruh akan memungkinkan Anda menjalani wirausaha sukses tersebut. Satu
keberhasilah mungkin harus ditempuh melalui 99 kegagalan. Seorang pelaku wirausaha

6
sukses akan selalu menerapkan prinsip tersebut pada setiap bidang usaha yang akan
dilaksanakannya.

B. Pemilihan Role Model Untuk Membangun Karakter Wirausaha


Role model atau tokoh panutan merupakan faktor penting yang mempengaruhi
individu dalam memilih kewirausahaan sebagai karir. Calon wirausaha pada umumnya
menemukan role model di rumah ataupun di tempat kerja. Bila seseorang banyak
berhubungan serta bergaul dengan para wirausahawan, maka ada kemungkinan dia juga
akan tertarik untuk memilih jalan hidup sebagai seorang wirausahawan. Orang tua,
saudara, guru atau wirausahawan lain dapat menjadi role model bagi individu. Individu
membutuhkan dukungan dan nasehat dalam setiap tahapan dalam merintis usaha, role
model berperan sebagai mentor bagi individu. Individu juga akan meniru perilaku yang
dimunculkan oleh role model. Role model merupakan hal yang sangat penting karena
dengan mengetahui serta memahami kisah-kisah para wirausahawan yang telah meraih
kesuksesan menjadikan cita-cita seseorang untuk membuka usahanya sendiri menjadi lebih
kredibel dan terjustifikasi.
Yang paling ingin diketahui oleh orang-orang sebagai role model kesuksesan mereka
adalah profil wirausaha. Dengan membaca dan mengetahui profil juga perjuangan mereka
dari bawah sampai menjadi sesorang yang berhasil akan menjadikan motivasi untuk para
wirausaha baru untuk mencapai kesuksesan yang sama. Salah satu wirausaha di Indonesia
yang dapat menjadi role model bagi calon wirausaha adalah Bob Sadino. Gayanya yang
sangat terkenal adalah gaya dia berpakaian yang senang menggunakan celana pendek dan
kaus bias walaupun dia seorang wirausaha yang sukses dan punya kekayaan yang banyak.
Boy Sadiono lahir di Lampung pada tangga 9 Maret 1933. Dimulai saat sang teman
menyarankan untuk memelihara ayam untuk menghilangkan rasa stressnya. Dari mulai
beternak ayam itu terinspirasilah Bob untuk memulai wirausaha. Akhirnya, beberapa lama
Bob bisa menjadi orang yang sukses dalam bisnisnya. Kunci kesuksesan Bob Sadino
adalah selalu mendengarkan apa kemauan dari pelanggan sehingga dia mau memperbaiki
diri sesuai dengan saran dari pelanggannya. Dengan sikap seperti itu Bob meraih simpati
pelanggan dan mampu menciptakan pasar. Menurut Bob, kepuasan pelanggan akan

7
menciptakan kepuasan diri sendiri, karena itu ia selalu berusaha melayani pelanggan
sebaik-baiknya.

C. Faktor-Faktor Penyebab Kegagalan


Keberhasilan atau kegagalan wirausaha sangat tergantung pada kemampuan pribadi
wirausaha. Zimmerer mengemukakan beberapa faktor yang menyebabkan wirausaha gagal
dalam menjalankan usaha barunya adalah:
1) Tidak kompeten dalam manajerial. Tidak kompeten atau tidak memiliki kemampuan
dan pengetahuan mengelola usaha merupakan faktor penyebab utama yang membuat
perusahaan kurang berhasil.
2) Kurang berpengalaman. Baik dalam kemampuan teknik, kemampuan
memvisualisasikan usaha, kemampuan mengkoordinasikan, ketrampilan mengelola
sumber daya manusia, maupun kemampuan mengintegrasikan operasi perusahaan.
3) Kurang dapat mengendalikan keuangan. Agar perusahaan dapat berhasil dengan baik
faktor yang paling utama dalam keuangan adalah memelihara aliran khas. Mengatur
pengeluaran dan penerimaan secara cermat. Kekeliruan dalam memelihara aliran khas
akan menghambat operasional perusahaan dan akan mengakibatkan perusahaan tidak
lancar.
4) Gagal dalam perencanaan. Perencanaan merupakan titik awak dari suatu kegiatan,
sekali gagal dalam perncanaan maka akan mengalami kesulitan dalam pelaksanaan.
5) Lokasi yang kurang memadai. Lokasi usaha yang strategis merupakan faktor yang
menentukan keberhasilan usaha. Lokasi yang tidak strategis dapat mengakibatkan
perusahaan sukar beroperasi karena kurang efisien.
6) Kurangnya pengawasan peralatan. Pengawasan eret kaitanya dengan efisiensi dan
efektifitas. Kurang pengawasan dapat mengakibatkan penggunaan alat tidak efisien dan
tidak efektif.
7) Sikap yang kurang sungguh-sungguh dalan berusaha. Sikap yang setengah-setengah
dalam usaha akan mengakibatkan usaha yang dilakukan menjadi labil dan gagal.
Dengan sikap setengah hati kemungkinan gagal akan besar.
8) Ketidakmampuan dalam melakukan peralihan/transisi kewirausahaan. Wirausaha yang
kurang siap menghadapi dan melakukan perubahan, maka ia tidak ada jaminan untuk

8
menjadi wirausaha yang berhasil. Keberhasilan dalam berwirausaha hanya bisa
diperoleh apabila berani mengadakan perubahan dan mampu membuat peralihan setiap
waktu.

KASUS

KISAH SUKSES COLONEL SANDERS KFC


Inilah kisah kegigihan Kolonel Sanders, pendiri waralaba ayam goreng terkenal KFC. Dia
memulainya di usia 66 tahun. Pensiunan angkatan darat Amerika ini tidak memiliki uang sepeser
pun kecuali dari tunjangan hari tuanya, yang semakin menipis. Namun dia memiliki keahlian
dalam memasak dan menawarkan resep masakannya ke lebih dari 1.000 restoran di negaranya.
Kolonel Harland Sanders adalah pelopor Kentucky Fried Chicken atau KFC yang telah tumbuh
menjadi salah satu yang terbesar dalam industri waralaba makanan siap saji di dunia.

Sosok Kolonel Sanders, bahkan kini menjadi simbol dari semangat kewirausahaan. Dia
lahir pada 9 September 1890 di Henryville, Indiana, namun baru mulai aktif dalam
mewaralabakan bisnis ayamnya di usia 65 tahun. Di usia 6 tahun, ayahnya meninggal dan Ibunya
sudah tidak mampu bekerja lagi sehingga Harland muda harus menjaga adik laki-lakinya yang
baru berumur 3 tahun. Dengan kondisi ini ia harus memasak untuk keluarganya. Di masa ini dia
sudah mulai menunjukkan kebolehannya.

Pada umur 7 tahun ia sudah pandai memasak di beberapa tempat memasak. Pada usia 10
tahun ia mendapatkan pekerjaan pertamanya didekat pertanian dengan gaji 2 dolar sebulan.
Ketika berumur 12 tahun ibunya kembali menikah, sehingga ia meninggalkan rumah tempat
tinggalnya untuk mendapatkan pekerjaan di pertanian di daerah Greenwood, Indiana. Selepas itu,
ia berganti-ganti pekerjaan selama beberapa tahun.

Pertama, sebagai tukang parkir di usia 15 tahun di New Albany, Indiana dan kemudian
menjadi tentara yang dikirim selama 6 bulan ke Kuba. Setelah itu ia menjadi petugas pemadam
kebakaran, belajar ilmu hukum melalui korespondensi, praktik dalam pengadilan, asuransi,
operator kapal feri, penjual ban, dan operator bengkel.

Di usia 40 tahun, Kolonel ini mulai memasak untuk orang yang bepergian yang singgah di
bengkelnya di Corbin. Kolonel Sanders belum punya restoran pada saat itu. Ia menyajikan

9
makanannya di ruang makan di bengkel tersebut. Karena semakin banyak orang yang datang ke
tempatnya untuk makan, akhirnya ia pindah ke seberang jalan dekat penginapan dan restoran
bisa menampung 142 orang.

Selama hampir 9 tahun ia menggunakan resep yang dibuatnya dengan teknik dasar
memasak hingga saat ini. Citra Sander semakin baik. Gubernur Ruby Laffoon memberi
penghargaan Kentucky Colonel pada tahun 1935 atas kontribusinya bagi negara bagian Cuisine.
Dan pada tahun 1939, keberadaannya pertama kali terdaftar di Duncan Hines “Adventures in
Good Eating.”

Di awal tahun 1950 jalan raya baru antar negara bagian direncanakan melewati kota
Corbin. Melihat akan berakhir bisnisnya, Kolonel ini akhirnya menutup restorannya. Setelah
membayar sejumlah uang, ia mendapatkan tunjangan sosial hari tuanya sebesar $105.

Dikarenakan memiliki rasa percaya diri kuat akan kualitas ayam gorengnya, Kolonel
membuka usaha waralaba yang dimulai tahun 1952. Ia pergi jauh menyeberangi negara bagian
ini dengan mobil dari satu restoran ke restoran lainnya, memasak sejumlah ayam untuk pemilik
restoran dan karyawannya. Jika reaksi yang terlihat bagus, ia menawarkan perjanjian untuk
mendapatkan pembayaran dari setiap ayam yang laku terjual.

Pada 1964, Kolonel Sanders sudah memiliki lebih dari 600 outlet waralaba untuk ayam
gorengnya di seluruh Amerika dan Kanada. Pada tahun itu juga ia menjual bunga dari
pembayarannya untuk perusahaan Amerika sebanyak 2 juta dolar kepada sejumlah grup investor
termasuk John Y Brown Jr, (kelak menjadi Gubernur Kentucky). Pada tahun 1976, sebuah
survey independen menempatkan Kolonel Sanders sebagai peringkat kedua dari deretan selebriti
yang terkenal di dunia.

Di bawah pemilik baru, perusahaan Kentucky Fried Chicken tumbuh pesat yang kemudian
menjadi perusahaan terbuka pada 17 Maret 1966, dan terdaftar pada New York Stock Exchange
pada 16 Januari 1969. Lebih dari 3.500 waralaba dan restoran yang dimiliki perusahaan ini
beroperasi hampir di seluruh dunia. Kentucky Fried Chicken menjadi anak perusahaan dari RJ
Reynolds Industries, Inc. (sekarang RJR Nabisco, Inc.), semenjak Heublein Inc. diakuisisi oleh
Reynolds pada tahun 1982. KFC diakuisisi pada Oktober 1986 dari RJR Nabisco Inc oleh
PepsiCo Inc, seharga kurang lebih 840 juta dolar.

10
Pada Januari 1997, PepsiCo, Inc mengumumkan spin-off restoran cepat sajinya — KFC,
Taco Bell dan Pizza Hut – menjadi perusahaan restoran independen, Tricon Global Restorans
Inc. Pada Mei 2002, perusahaan ini mengumumkan persetujuan pemilik saham untuk merubah
nama perusahaan menjadi Yum! Brands Inc. Perusahaan, yang dimiliki oleh A&W All-American
Food Restorans, KFC, Long John Silvers, Pizza Hut dan Taco Bell restorans, adalah perusahaan
restoran terbesar di dunia dalam kategori unit system dengan jumlah mendekati 32,500 di lebih
dari 100 negara dan wilayah.

KFC berkembang pesat. Kini, lebih dari satu miliar ayam goreng hasil resep Kolonel ini
dinikmati setiap tahunnya, bukan hanya di Amerika Utara, bahkan tersedia hampir di 80 negara
di seluruh dunia. Tapi Kolonel Sanders tidak lagi bisa menyaksikannya. Pada 1980, di usia 90
tahun, ia terserang leukemia. Ia meninggal seusai melakukan perjalanan 250.000 mil dalam satu
tahun kunjungannya ke restoran KFC di seluruh dunia.

“Impian meraih sukses tidak harus di masa kecil. Impian bisa juga di saat usia senja.”
Kolonel Sanders, pendiri KFC

11
BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Berdasarkan pemaparan materi di atas, dapat disimpulkan bahwa karakter dan watak
wirausaha yaitu percaya diri, berorientasi pada tugas dan hasil, pengambil resiko, kepemimpinan,
keaslian atau originalitas, serta berorientasi masa depan. Karakter wirausaha tersebut
menunjukkan bahwa inti dari karakter seorang wirausaha adalah kreatifitas. Wirausaha sukses
adalah mereka yang berhasil mengatasi naik turunnya usaha dan tetap berdiri tegak, namun
beberapa pakar mengatakan bahwa mental wirausaha di Indonesia masih sangat lemah. Salah
satu ciri lemahnya mental wirausaha di Indonesia adalah keengganan seseorang untuk
menempuh berbagai resiko yang mungkin timbul dalam usaha yang dijalankannya.
Semangat wirausaha seharusnya dilandasi dengan semangat pantang menyerah yaitu dengan
memiliki sikap mental seperti keinginan untuk memiliki penghasilan yang lebih baik daripada
bekerja pada orang lain, mandiri, berani mencoba, serta tahan banting.

Untuk membangun karakter wirausaha tersebut, diperlukan adanya role model. Role
model merupakan hal yang sangat penting karena dengan mengetahui serta memahami kisah-
kisah para wirausahawan yang telah meraih kesuksesan menjadikan cita-cita seseorang untuk
membuka usahanya sendiri menjadi lebih kredibel dan terjustifikasi.

Keberhasilan atau kegagalan wirausaha sangat tergantung pada kemampuan pribadi


wirausaha. Namun, sebagai wirausaha yang baru terjun ke dalam bisnis pasti tak luput dengan
adanya kegagalan. Faktor-faktor yang mempengaruhi antara lain : tidak kompeten dalam
manajerial, kurang berpengalaman, kurang dapat mengendalikan keuangan, gagal dalam
perencanaan, lokasi yang kurang memadai, kurangnya pengawasan peralatan, sikap yang kurang
sungguh-sungguh dalan berusaha, ketidakmampuan dalam melakukan peralihan/transisi
kewirausahaan.

12
DAFTAR PUSTAKA

Meredith, G Goffrey. 1996. Kewirausahaan: Teori dan Praktis. Jakarta : Pustaka Binaman
Pressindo

Zimmerer, W Thomas dan Norman M Scarborough. 2008. Kewirausahaan dan Manajemen


Usaha Kecil. Edisi 5. Jakarta : Salemba empat.

http://adesyams.blogspot.co.id/2009/04/kisah-sukses-colonel-sanders-kfc.html. (Diakses pada


tanggal 2 Maret 2018)

13