Anda di halaman 1dari 6

Gerakan literasi generasi muda sebagai usaha peningkatan daya saing bangsa

Literasi . UNESCO juga menjelaskan bahwa literasi adalah seperangkat keterampilan


yang nyata, khususnya keterampilan kognitif dalam membaca dan menulis yang terlepas
dari konteks di mana keterampilan yang dimaksud diperoleh, dari siapa keterampilan
tersebut diperoleh dan bagaimana cara memperolehnya. Menurut UNESCO, pemahaman
seseorang mengenai literasi ini akan dipengaruhi oleh kompetensi bidang akademik,
konteks nasional, institusi, nila-nilai budaya serta pengalaman.

Nah, Quipperian, lalu sebenarnya apa sih tujuan dari literasi itu sendiri? Berikut beberapa tujuan
literasi:

1. Menciptakan dan mengembangkan budi pekerti yang baik.


2. Menciptakan budaya membaca di sekolah dan masyarakat.
3. Meningkatkan pengetahuan dengan membaca berbagai macam informasi bermanfaat.
4. Meningkatkan kepahaman seseorang terhadap suatu bacaan.
5. Membuat seseorang bisa berpikir kritis.
6. Memperkuat nilai kepribadian

Adapun beberapa tujuan literasi adalah sebagai berikut:

1. Membantu meningkatkan pengetahuan masyarakat dengan cara


membaca berbagai informasi bermanfaat.
2. Membantu meningkatkan tingkat pemahaman seseorang dalam
mengambil kesimpulan dari informasi yang dibaca.
3. Meningkatkan kemampuan seseorang dalam memberikan
penilaian kritis terhadap suatu karya tulis.
4. Membantu menumbuhkan dan mengembangkan budi pekerti
yang baik di dalam diri seseorang.
5. Meningkatkan nilai kepribadian seseorang melalui kegiatan
membaca dan menulis.
6. Menumbuhkan dan mengembangkan budaya literasi di tengah-
tengah masyarakat secara luas.
7. Membantu meningkatkan kualitas penggunaan waktu seseorang
sehingga lebih bermanfaat.

Selanjutnya, setelah membahas pengertian dan tujuan literasi, sekarang Quipper Blog mau
menjabarkan apa saja manfaat literasi. Siap, Quipperian? Simak di bawah ini, ya.

1. Meningkatkan pengetahuan akan kosa kata.


2. Membuat otak bisa bekerja optimal.
3. Menambah wawasan.
4. Mempertajam diri dalam menangkap suatu informasi dari sebuah bacaan.
5. Mengembangkan kemampuan verbal.
6. Melatih kemampuan berpikir dan menganalisa.
7. Melatih fokus dan konsentrasi.
8. Melatih diri untuk bisa menulis dan merangkai kata dengan baik.
Dilansir dari wikipedia, literasi digital merupakan pengetahuan dan kemampuan seseorang untuk
menggunakan media digital, alat komunikasi dan kemudian menggunakannya secara sehat, bijak,
dan cerdas.
Jadi, saat ini kamu enggak hanya bisa membaca lewat buku saja, tapi juga lewat media-media digital
seperti handphone, tablet, atau komputer, Quipperian. Selain buku, literasi digital pun bisa berupa
video literasi, lho.  Apa sih itu video literasi?
Video literasi adalah video gabungan dari gambar-gambar maupun foto disertai teks, yang biasanya
berisi ajakan, seruan, atau informasi bagi audiens. 
Menurut Elizabeth Sulzby (1986), arti literasi adalah kemampuan berbahasa yang
dimiliki oleh seseorang dalam berkomunikasi (membaca, berbicara, menyimak,
dan menulis) dengan cara yang berbeda sesuai dengan tujuannya.

Menurut Alberta, arti literasi adalah kemampuan membaca dan menulis,


menambah pengetahuan dan keterampilan, berpikir kritis dalam memecahkan
masalah, serta kemampuan berkomunikasi secara efektif yang dapat
mengembangkan potensi dan berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat.

Literasi dapat membantu meningkatkan kemampuan seseorang dalam menyimpulkan


dan merespon lingkungan. Sehingga dengan begitu pengetahuan dalam masyarakat
menjadi meningkat.

kemajuan sebuah bangsa pun ditentukan dari seberapa tingkat literasi yang
dimiliki masyarakatnya. Kemampuan literasi ini yang nantinya akan
menentukan peradaban dan bagaimana kontribusi negara tersebut untuk
memajukan dunia.

Mencerdaskan Masyarakat

Memiliki kemampuan literasi yang baik berarti orang tersebut mampu untuk
mengolah dan memilah informasi dengan baik. Sehingga hal ini dapat
mendukung terciptanya individu dan masyarakat yang lebih cerdas.

Kemampuan ini juga nantinya akan sangat bermanfaat untuk orang tersebut
dapat lebih bijak dalam mengambil kesimpulan dan memutuskan sikap apa
yang akan diambil berkenaan dengan informasi yang telah dibaca.

Membentuk Kepribadian

Cara berpikir, tutur kata, dan sikap yang literat ini akan membentuk pribadi
seseorang untuk memiliki budi pekerti dan tingkah laku yang baik. Semakin
banyak orang yang memiliki kemampuan literasi, maka semakin baik pula
kualitas masyarakatnya.
Literasi tak hanya berkaitan dengan keterampilan pribadi, namun bisa juga
diasosiasikan dengan budaya yang berkembang di masyarakat.
Mengembangkan budaya literasi yang baik juga bertujuan supaya kebiasaan
membaca meningkat dan memperbaiki pemanfaatan waktu luang untuk hal
yang bermanfaat.

Menurut World Economic Forum, setidaknya ada enam macam literasi utama
yang wajib untuk dikuasai setiap orang guna menciptakan masyrakat yang
maju. 1. Literasu baca tulis 2. Literasi numerisasi 3. Literasi Sains 4. Literasi
Budaya 5. Literasi Finansial 6. Literasi digital

5. Literasi Budaya

Sebagai warga negara yang baik, maka kemampuan selanjutnya adalah literasi
budaya dan kewarganegaraan. Budaya adalah identitas yang melekat pada
setiap individu sebagai bagian dari suatu bangsa.

Di sisi lain, identitas ini juga harus diimbangi dengan pelaksanaan hak serta
kewajiban sebagai warga negara. Mempelajari dan mengamalkan literasi
budaya dan kewarganegaraan berarti setiap individu paham bagaimana harus
bersikap dalam lingkungan sosial sebagai bagian dari kesatuan bangsa.

6. Literasi Digital

Terakhir namun justru sangat relevan dengan era dimana hidup manusia
banyak dikuasai oleh teknologi informasi, yaitu literasi digital. Secara umum,
menguasai literasi digital berarti Anda paham bagaimana memanfaatkan
informasi dalam kanal digital.

Dalam konteks digital, mampu mengoperasikan kanal digital juga penting


untuk digarisbawahi. Tak semata-mata hanya memedulikan bagaimana
seseorang mampu mengolah informasi, namun cara mengakses, merangkai,
dan menyebarluaskan info tersebut layak untuk mendapat perhatian khusus

Indonesia berada dalam era informasi yang identik dengan era literasi. Era literasi
menggambarkan kemampuan berinteraksi, berkomunikasi, dan beraktualisasi yang dinyatakan
secara lisan dan tertulis.

Keterampilan literasi memiliki pengaruh penting bagi keberhasilan generasi muda.


Keterampilan literasi yang baik akan membantu generasi muda dalam memahami informasi
baik lisan maupun tertulis. Dalam kehidupan, penguasaan literasi pada generasi muda sangat
penting dalam mendukung kompetensi-kompetensi yang dimiliki. Kompetensi dapat saling
mendukung apabila generasi muda dapat menguasai literasi atau dapat diartikan generasi
muda melek dan dapat memilah informasi yang dapat mendukung keberhasilan hidup mereka.

Salah satu caranya adalah dengan meningkatkan kualitas diri untuk menjawab tantangan
global dengan membentuk suatu parameter pengembangan kualitas sesuai dengan
dinamisnya zaman. Kualitas diri dapat dibentuk melalui suatu informasi dengan memahami,
menggunakan, menganalisis, dan mentransformasikannya. Hal tersebutlah yang menjadikan
seseorang disebut literat

Menurut Kirsch & Jungeblut dalam buku Literacy: Profile of America’s Young Adult
mendefinisikan literasi sebagai kemampuan seseorang dalam menggunakan informasi untuk
mengembangkan pengetahuan sehingga mendatangkan manfaat bagi masyarakat.

Melalui kemampuan literasi, seseorang tidak saja memperoleh ilmu pengetahuan tetapi juga
bisa mendokumentasikan sepenggal pengalaman yang menjadi rujukan di masa yang akan
datang. Hal ini sejalan dengan sebuah tulisan di surat kabar Kompas (edisi 1 Juni 2016) yang
menyinggung baca tulis termasuk kemampuan strategis yang harus dimiliki bila ingin menjadi
bangsa yang maju.

Literasi menjadi kecakapan hidup yang menjadikan manusia berfungsi maksimal dalam
masyarakat. Kecakapan hidup bersumber dari kemampuan memecahkan masalah melalui
kegiatan berpikir kritis. Selain itu, literasi juga menjadi refleksi penguasaan dan apresiasi
budaya. Masyarakat yang berbudaya adalah masyarakat yang menanamkan nilai-nilai positif
sebagai upaya aktualisasi dirinya. Aktualisasi diri terbentuk melalui interpretasi, yaitu kegiatan
mencari dan membangun makna kehidupan. Hal tersebut dapat dicapai melalui penguasaan
literasi yang baik.

Generasi muda merupakan salah satu komponen yang perlu dilibatkan dalam pembangunan.
Hal tersebut disebabkan generasi muda adalah SDM yang potensial sehingga dapat
mendukung keberhasilan pembangunan. Potensi generasi muda yang dimaksud adalah bahwa
generasi muda adalah generasi yang memiliki pengetahuan baru, inovatif, dan kreatif yang
dapat digunakan untuk membangun bangsa. Hal tersebut sesuai yang diungkapkan Safrin
(2016) peran generasi pemuda sangat dibutuhkan mengingat bahwa pemuda sebagai tonggak
perubahan. Pemuda menjadi faktor penting karena semangat juangnya yang tinggi, solusinya
yang kreatif, serta perwujudan mereka yang inovatif. Sebagai penerus bangsa, pemuda harus
mampu melakukan perannya dalam berbagai bidang, termasuk bidang ekonomi.

Dalam menghadapi MEA sangat penting bagi generasi muda untuk memfokuskan diri pada
aspek-aspek fundamental. Sebab aspek-aspek tersebut berkontribusi dominan terhadap daya
saing Indonesia menghadapi semua hubungan ekonomi internasional. Bukan tidak mungkin
prediksi-prediksi manis tentang Indonesia di masa depan kandas akibat kesalahan perilaku
pemimpin bangsa hari ini. Oleh karena itu, generasi muda perlu memperkokoh jati dirinya yang
salah satu jalannya dapat dimulai memperkokoh hakikat literasi. Cara sederhana menguasai
literasi adalah dengan menanamkan kebiasaan membaca. Membaca akan memberikan
manfaat bagi seseorang, yaitu menambah wawasan dan pengetahuan. Menurut Sumardi
(2011, hlm. 84), fondasi untuk membangun penguasaan semua ilmu adalah kesenangan dan
kebiasaan membaca. Kegemaran membaca adalah kegiatan positif yang akan membuat
seseorang semakin pandai daripada seseorang yang tidak memiliki kebiasaan membaca.
Literasi informasi yang telah diungkapkan sebelumnya berfungsi agar generasi muda terampil
dalam memilah dan menggunakan informasi untuk dijadikan bahan dalam pembangunan
bangsanya. Penguasaan literasi tersebut juga penting agar generasi muda mengetahui
perkembangan atau kemajuan informasi. Generasi muda siap menghadapi persaingan dalam
berbagai aspek kehidupan.

Hal ini dituliskan dalam makalah dengan judul yang bombastis “Generasi Nol Buku: Yang Rabun
Membaca, Pincang mengarang”. Generasinya tidak mendapat tugas membaca melalui
perpustakaan sekolah karena tidak ada latihan mengarang dalam pelajaran di sekolah. Taufik
membandingkan beberapa negara di dunia dan hasilnya sudah pasti mencengangkan. Ambil
contoh Amerika Serikat yang sampai SMA mengharuskan membaca 32 buku.

pandangan pertama pada “literasi” seolah-olah istilah ini akan dimengerti oleh semua orang.
Namun, pada saat yang sama, literasi sebagai konsep menjadi sangat kompleks dan dinamis
dan didefinisikan dan ditafsirkan dengan berbagai cara. Lebih jauh dijelaskan masalah literasi
dan bukan literasi dipengaruhi oleh penelitian akademis, agenda institusi, konteks nasional,
nilai-bilai budaya, dan pengalaman pribadi. Dipaparkan bahwa dalam komunitas akademis,
teori literasi telah berevolusi dari yang sebelumnya yang berfokus pada perubahan individu
meluas menjadi pandangan yang lebih kompleks yang mencakup konteks sosial yang lebih luas
yang mendorong dan menungkinkan kegiatan dan praktik literasi terjadi

Dari perdebatan yang berkembang, pemahaman tentang literasi dibagi menjadi empat bagian,
yaitu (1) literasi sebagai seperangkat keahlian yang otonom, (2) literasi sebagai sesuatu yang
diterapkan dan dipraktikkan, (3) literasi sebagai proses pembelajaran, dan (4) literasi sebagai
teks. Dijelaskan lebih jauh bahwa literasi sebagai keahlian meliputi kemampuan membaca,
menulis, dan berbicara, kemampuan berhitung, keterampilan yang memungkinkan akses ke
berbagai informasi pengetahuan. Jadi, kemampuan literasi adalah kemampuan dasar manusia
agar bisa menerima, memberikan, memahami, memecahkan masalah, menganalisis, dan lain-
lain

Unesco (2006) juga menjelaskan bahwa seseorang yang telah memiliki kemampuan literasi
apabila dia telah memperoleh pengetahuan dan keketerampilan dasar yang sesuai dan
bermanfaat dalam mengusahakan berbagai macam aktivitas kehidupannya.

Dengan begitu, kemampuan literasi dapat menjadikan seseorang lebih mahir memecahkan
berbagai persoalan kehidupan dengan kritis. Hal ini sejalan dengan kondisi yang terjadi bahwa
negara-negara yang memiliki kemampuan literasi lebih baik, cenderung lebih maju, lebih
sejahtera, lebih unggul, serta dapat bersaing di tingkat global.

Rendahnya tingkat literasi di Indonesia berawal dari rendahnya tingkat membaca. Berbagai
penelitian dan tulisan telah banyak membahas hal ini. Misalnya "Menurut survei BPS, 90,27
persen anak usia sekolah suka menonton televisi, sedangkan hanya 18,94 persen yang suka
membaca. Selain itu, dari hasil penelitian yang didapat, indeks membaca masyarakat Indonesia
0,001. Artinya, dari 1.000 orang Indonesia, hanya satu yang suka membaca. (Haris, 2016).
Walaupun melek huruf di Indonesia hampir 100%, hal ini tidak sejalan dengan minat baca yang
tetap rendah.

disebutkan bahwa salah satu arah, tahapan, dan prioritas pembangunan jangka panjang tahun
2005-2025 adalah mewujudkan bangsa yang berdaya saing, karena hal ini menjadi kunci bagi
tercapainya kemajuan dan kemakmuran bangsa. Untuk memperkuat daya saing bangsa,
pembangunan nasional jangka panjang diarahkan pada beberapa hal, dua di antaranya adalah
mengedepankan pembangunan sumber daya manusia berkualitas dan berdaya. Dengan
dicanangkannya tahun literasi dengan diiringi symbol huruf L bila para pegiat literasi atau
pejabat berfoto untuk menyuarakan “salam literasi”

Rendahnya kemampuan literasi ini salah satunya dapat dilihat dari kemampuan berpikir kritis.
Hal ini ditunjukkan melalui berbagai tulisan pendek yang ditulis sebagai status, kutipan
(quotes), dan pesan-pesan yang berseliweran di media sosial. Sebagaimana dipahami bahwa
tulisan adalah gambaran penulisnya, rendahnya kemampuan berpikir kritis akan tercermin
melalui tulisan. Seseorang yang menulis sedang menuangkan kecerdasannya. Oleh sebab
itulah, dari tulisan dapat tergambar keluasan pengetahuan seseorang termasuk di dalamnya
bagaimana logika berpikirnya. Dengan demikian, tulisan adalah representasi dari penulisnya.
Dalam tulisan ini akan dianalisis tulisan di media sosial dari segi struktur dan logika. Hasil
analisis akan menunjukkan bagaimana tingkat literasi melalui status dan kutipan di media
sosial.

Rendahnya kemampuan literasi di Indonesia dapat dibuktikan dengan beberapa hal. Pertama,
menyebarnya hoaks (berita bohong). Tjiptonugroho (2017) menyebutkan bahwa dalam
setahun belakangan ini, baik di media lama maupun media baru, termasuk media sosial, begitu
tinggi frekuensi kemunculan kata hoax alias berita tak benar hingga kata hoaks sendiri sudah
masuk ke dalam kamus besar bahasa Indonesia. Yang semakin marah sebagian orang dengan
sadar menyebarkan hoaks hingga sampai pada taraf yang meresahkan. Pakar Hukum Tata
Negara Mahfud MD mengatakan, penyebar berita palsu (hoaks) menyebabkan terjadinya
keresahan, dan pertentangan di tengah-tengah masyarakat, dari sudut pandang hukum
apapun bentuknya, harus ditindak secara hukum berdasar UU ITE Pasal 28 dan Pasal 45. Dalam
UU ITE (Informas dan Transaksi Elektronik) disebutkan ancamannya enam tahun penjara dan
atau denda Rp 1 miliar. Sebab itu, selain soal ketegasan hukum, persoalan hoaks dan ujaaran
kebencian ini juga merupakan tanggung jawab bersama dengan memperkaya wawasan
sehingga tidak ada ruang berita yang menyesatkan serta membelah persatuan. Yang membuat
berita hoaks dengan menyebar berita palsu atau bernada kebencian pada satu pihak atau
kelompok tertentu, boleh jadi mempunyai kepentingan politis atau bahkan mencari
keuntungan dari yang dibuatnya. Namun, masalahnya adalah pembaca hoaks itu dengan tanpa
berpikir kritis mempercayai dan turut menyebarkannya.