Anda di halaman 1dari 9

1

Karya Tulis Ilmiah

“Gigi Berseri (Gigi Bersensor Pendeteksi Bakteri), Solusi Mengurangi


Karies di Era Revolusi Industri 4.0”

Diusulkan oleh :

Dini Larasati 160110160103

Universitas Padjadjaran

Sumedang

2019
2

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI............................................................................................................................2
DAFTAR GAMBAR...............................................................................................................3
1. PENDAHULUAN...........................................................................................................4
1.1 Latar Belakang.........................................................................................................4
1.2 Tujuan......................................................................................................................4
1.3 Manfaat....................................................................................................................4
2. GAGASAN......................................................................................................................5
2.1 Kondisi Terkini Pencetus Gagasan...........................................................................5
2.2 Solusi yang Pernah Diterapkan.................................................................................6
2.3 Pihak yang Dapat Membantu Mengimplementasikan..............................................6
2.4 Langkah Strategis.....................................................................................................6
3. KESIMPULAN................................................................................................................6
3.1 Gagasan yang Diajukan............................................................................................6
3.2 Prediksi Hasil...........................................................................................................8
3

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Hasil Survey Kesehatan Gigi dan Mulut Nasional 2018..........................................5


Gambar 2 Jumlah Penderita Penyakit Tidak Menular Di Dunia...............................................6
Gambar 3 Graphene-based wireless bacteria detection............................................................8
Gambar 4 Teori Multifaktorial Karies......................................................................................8
Gambar 5 Sensor Graphene.....................................................................................................9
Gambar 6 Watson....................................................................................................................9
4

1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Seiring perkembangan zaman, kebutuhan manusia semakin meningkat.
Mendesak berkembangnya teknologi menuju masa yang lebih cepat dan praktis, yang
dapat memudahkan aktivitas manusia. Yang membawa umat manusia kini pada era
yang disebut Revolusi Industri 4.0.

Industri 4.0 menyentuh empat hal yakni, sistem siber-fisik, internet untuk segala,
komputasi awan (cloud), dan komputasi kognitif. Prinsipnya dari industri ini adalah,
interoperabilitas, transparansi informasi, bantuan fisik, serta keputusan mandiri.

Dengan berkembangnya teknologi dapat mempermudah kebutuhan manusia,


salah satunya terkait kesehatan. Di Indonesia sendiri keadaan kesehatannya masih
memprihatinkan, indeks kesehatan Indonesia berada pada urutan 101 dari 149 negara
pada tahun 2017 (The Legatum Prosperity Index 2017. ). Padahal kesehatan
merupakan hilir dari kesuksesan suatu bangsa. Jika masyarakatnya tidak sehat, maka
tidak produktif dan sulit untuk berkembang.

Salah satu penyakit tidak menular yang tinggi di Indonesia bahkan di dunia
adalah karies. Karies sendiri merupakan masalah yang sudah lama menjadi perhatian
praktisi kesehatan gigi dunia.

Berdasarkan hal tersebut penulis memiliki gagasan untuk menciptakan Gigi


Berseri. Dimana Gigi Berseri memanfaatkan kemajuan revolusi industri berupa
internet untuk segala, komputasi awan dan komputasi kognitif, untuk menciptakan
suatu alat dan sistem yang dapat mendeteksi dini karies dan langsung memberikan
solusi untuk pencegahan sebelum karies terjadi. Sehingga diharapkan dapat
menurunkan angka prevelensi karies.

1.2 Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai dalam gagasan ini adalah sebagai berikut;

1.2.1 Memberikan peringatan dini terhadap resiko karies


1.2.2 Memebrikan solusi berupa pencegahan karies sedini mungkin
1.2.3 Mengurangi angka prevelensi karies di Indonesia

1.3 Manfaat
1.3.1 Memberikan pemahaman tentang perancangan sistem Gigi Berseri
5

1.3.2 Memberikan solusi alternatif untuk mengurangi angka prevelensi karies di


Indonesia dengan pemanfaatan teknologi pada era Revolusi Industri 4.0

2. GAGASAN

2.1 Kondisi Terkini Pencetus Gagasan


Hasil Riskesdas pada tahun 2013, menunjukan Prevalensi nasional masalah
gigi dan mulut adalah 25,9%, sebanyak 14 provinsi mempunyai prevalensi masalah
gigi dan mulut di atas angka nasional. Dari masalah gigi dan mulut tersebut diketahui
Prevalensi nasional Indeks DMF-T adalah 4,6. Sebanyak 15 provinsi memiliki
prevalensi di atas prevalensi nasional. (Riskesdas, 2013).

Gambar 1 Hasil Survey Kesehatan Gigi dan Mulut Nasional 2018

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Kartika Wangsarahardja dkk.,


mengenai hubungan antara status kesehatan gigi dan mulut dengan kualitas hidup
lansia, diketahui hasilnya adalah sebagai berikut, indeks kesehatan gigi dan mulut
DMFT rata-rata pada orang berusia diatas 70 tahun adalah 15,57 + 10,36, lebih tinggi
dibandingkan dengan usia kurang dari 70 tahun yakni 12,31 + 9,72. DMFT
berhubungan lemah secara bermakna dengan dominan persahabatan dan cinta kasih
(domain 6) (r=0,151; p<0,05) dan kualitas hidup secara keseluruhan (r=0,135;
p<0,05). (Kartika Wangsarahardja, dkk. 2016)
Berdasarkan tingginya indeks DMFT pada lanjut usia yang berdampak
negative terhadap kualitas hidup, maka diperlukan intervensi yang bertujuan
memperbaiki kesehatan mulut. (Kartika Wangsarahardja, dkk. 2016)
6

Gambar 2 Jumlah Penderita Penyakit Tidak Menular Di Dunia

2.2 Solusi yang Pernah Diterapkan


2.2.1 Graphene-based Wireless Bacteria Detection on Tooth Enamel
2.2.2 Kariogram
2.2.3 Watson for Oncology

2.3 Pihak yang Dapat Membantu Mengimplementasikan


2.3.1 Universitas dengan orang-orang yang ahli dibidangnya sebagai tempat
penelitian dan perancangan Gigi Berseri
2.3.2 Produsen alat biomedis. Untuk memproduksi alat ini secara masal
2.3.3 Kementrian kesehatan Indonesia.

2.4 Langkah Strategis


2.4.1 Memberi tahu ide gagasan pada ahli, agar dapat diteliti dan dirancang
lebih professional
2.4.2 Berkerjasama dengan produsen alat biomedis agar Gigi Berseri dapat
diproduksi masal
2.4.3 Menggerakkan pihak-pihak yang terlibat, termasuk kementrian kesehatan
selaku pihak yang berwenang dalam regulasi kesehatan di Indonesia.
2.4.4 Evaluasi dan penyempurnaan karya

3. KESIMPULAN

3.1 Gagasan yang Diajukan


Graphene-based wireless bacteria detection

Alat ini menggunakan graphene sebagai bahan utamanya. Dimana dengan


sifat electrical, mechanical, dan sensing propertiesnya material ini dapat digunakan
menjadi sensor yang biocompatible dan aplikasi elektronik yang fleksibel jika
7

digabungkan dengan Ni atau Cu, hal ini dimungkinakan oleh kekuatan intrinsik
graphene yaitu 42 N m − 1 dan modulus Young ∼1 TPa19, serta adhesi antar muka
yang tinggi yang ditunjukkan oleh graphene ke substrat (energi rekat 0,45 J m − 2
pada SiO2 )

Graphene ini akan dikombinasikan dengan peptida yang dapat mengenali


bakteri, yaitu peptida bifunctional GBP – OHP (HSSYWYAFNNKT-
GGGGLLRASSVWGRKYYVDLAGCAKA) yang mengandung motif pengikat
graphene yang terhubung ke AMP OHP melalui penghubung triglycine secara kimia
disintesis dan diperoleh dari Peptide 2.0 Inc (Chantilly, VA, USA). Larutan stok
peptida dibuat dengan merekonstitusi bubuk liofilisasi dalam air DI. Konsentrasi
sampel bakteri yang berbeda disiapkan dari larutan stok melalui pengenceran dalam
air DI atau air liur manusia.
Selanjutnya graphene dicetak ke sutra beserta dengan Elemen induktif dan
kapasitif Planar untuk memungkinkan interogasi nirkabel. Desain garis berliku-liku
untuk elemen induktif diendapkan pada graphene nanosensor melalui penguapan
berkas elektron yang dibantu oleh shadow mask (150-200 nm).
Integrasi sensor ke permukaan biomaterial dicapai melalui pembubaran substrat
sutera pendukung.
Pengukuran listrik untuk mendeteksi bakteri tunggal dilakukan dengan sistem
deteksi penguncian menggunakan penguat penguncian DSP Stanford Research
Systems 810. Sinyal 50 mV digunakan dengan frekuensi modulasi 30-70 Hz tanpa
bias DC untuk menghindari reaksi elektrokimia.
Sirkuit resonansi LC lapisan tunggal, terintegrasi secara paralel dengan
resisten (R) graphene monolayer, membentuk dasar unit pembacaan nirkabel.
Perangkat pembaca terdiri dari antena kumparan dua putaran yang terhubung ke
penganalisis respons frekuensi (HP 4191A RF impedance analyzer). Pembaca
nirkabel, yang didukung oleh sumber arus bolak-balik, bertanggung jawab untuk
mentransmisikan daya secara nirkabel dan menerima data sensor dari sensor pasif
jarak jauh, semua melalui kopling induktif. Melewati sinyal AC melalui antena
menghasilkan medan magnet, menginduksi arus melalui induktansi bersama dalam
kumparan elemen penginderaan (hukum Faraday), dan akhirnya menghasilkan
penurunan potensial yang bergantung pada konduktansi nanosensor graphene. Setiap
perubahan konduktivitas sistem sensor — yang dihasilkan dari perubahan biologis
atau kimia yang terjadi pada permukaan transduser — tercermin sebagai perubahan
karakteristik frekuensi (yaitu bandwidth) di sekitar titik resonansi 25,49,60. Ini
memungkinkan pembaca untuk secara nirkabel menginterogasi elemen penginderaan
dengan mengukur impedansi kompleks dari sistem. (Manoor MS, et al. 2012)
8

Gambar 3 Graphene-based wireless bacteria detection

Nantinya hasil sensor jumlah bakteri ini akan terhubung pada sebuah aplikasi
di ponsel pintar pengguna dan akan memperingatkan kepada pengguna jika jumlah
bakteri melebihi batas normal.

Karies sendiri merupakan penyakit multifaktorial yang umumnya diakibatkan


oleh interaksi kompleks flora oral kariogenik (biofilm) dengan karbohidrat diet yang
dapat difermentasi pada permukaan gigi seiring waktu. (Studervant)
Aplikasi Gigi Berseri akan dilengkapi dengan sistem artificial intelligency,
seperti yang sudah diterapkan IBM pada Watson. Sehingga ketika aplikasi mendapat
peringatan bahwa bakteri melebihi jumlah normal, pengguna diminta untuk mengisi
pertanyaan terkait diet dan kebiasaan yang berkaitan dengan kesehatan gigi dan
mulutnya belakangan, serta faktor lain yang sesuai dengan teori multifaktorial karies.
Selanjutnya akan di proses dan memberikan solusi pencegahan yang sesuai
untuk orang tersebut. Misalnya, mengurangi makanan manis, menggunakan topical
flour, mengingatkan untuk sikat gigi minimal dua kali sehari dan berbagai langkah
pencegahan lainnya.

Gambar 4 Teori Multifaktorial Karies

3.2 Prediksi Hasil


Berdasarkan teori multifaktorial karies, diharapkan dengan adanya alat dan
aplikasi Gigi Berseri dapat mengurangi angka prevelensi karies. Karena ketika jumlah
agent meningkat, diet dan host dapat dikontrol, sehingga angka prevelensi karies
dapat ditekan.
9

DAFTAR PUSTAKA
Mannoor, M.S. et al. Graphene-based wireless bacteria detection on tooth
enamel. Nat. Commun. 3:763 doi: 10.1038/ncomms1767 (2012)

Dept IKGK FKG Unpad. 2018. PPT Oral Epidemiology Caries. Sumedang :
Universitas Padjadjaran

The Legatum Prosperity Index 2017 Dalam (https://tirto.id/indeks-kesehatan-


indonesia-masih-sangat-rendah-cBRn)

Kartika Wirahardja, dkk. 2016. Hubungan antara status kesehatan mulut dan kualitas
hidup pada lanjut usia. Dalam (http://dx.doi.org/10.18051/UnivMed.2007.v26.186-
194)

LAMPIRAN

Gambar 5 Sensor Graphene

Gambar 6 Watson