Anda di halaman 1dari 16

TUGAS

MATRIKULASI

Mata Kuliah:
AUDITING

Mahasiswa:
Alther Gabriel Liwe, SE.

Dosen:
Dr. Lintje Kalangi, SE, ME, Ak, CA.
Sejarah Perkembangan Profesi Akuntan Publik
Akuntan publik adalah akuntan yang menjual jasa profesionalnya kepada masyarakat atau klien,
terutama untuk jenis pemeriksaan laporan keuangan. Untuk dapat berpraktek sebagai akuntan
publik di Indonesia, seseorang harus telah lulus dari fakultas ekonomi jurusan akuntansi dan
memperoleh gelar akuntan dan memperoleh ijin praktek dari Departemen Keuangan. Ketentuan
mengenai akuntan publik di Indonesia diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor
17/PMK.01/2008 tentang Jasa Akuntan Publik. Setiap akuntan publik wajib menjadi anggota
Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI), asosiasi profesi yang diakui oleh pemerintah.

Timbul dan berkembangnya profesi akuntan publik di suatu negara adalah sejalan dengan
berkembangnya perusahaan dan berbagai bentuk badan hukum perusahaan di negara tersebut. Dari
profesi akuntan publik inilah masyarakat kreditur dan investor atau calon kreditur dan calon
investor mengharapkan penilaian yang bebas tidak memihak terhadap informasi yang disajikan
oleh manajemen perusahaan dalam laporan keuangan.

Pada saat perusahaan masih kecil yang umumnya berbentuk perusahaan perseorangan, laporan
keuangan yang dihasilkan perusahaan biasanya digunakan oleh pemilik perusahaan untuk
mengetahui hasil usaha dan posisi keuangannya. Hal ini berlanjut pada perusahaan yang berbentuk
firma. Laporan baru dimanfaatkan oleh para sekutu atau firman. Dengan kata lain, laporan
keuangan lebih kepada kepentingan intern. Pada kondisi seperti ini kebutuhan akan profesi akuntan
publik masih sangat rendah, karena para pemimpin perusahaan dan pihak luar belum banyak
memerlukan informasi keuangan yang dihasilkan perusahaan.

Untuk perusahaan yang berbentuk Perseroan Terbatas yang bersifat terbuka kebutuhan akan
profesi akuntan dirasa makin meningkat. Hal ini dikarenakan pengelola perusahaan dengan
pemilik sudah sangat mungkin terpisah. Pemilik perusahaan hanya sebagai penanam modal.
Sebagai penanam modal mereka berhak mendapatkan laporan-laporan yang akurat dan benar
berdasarkan prinsip-prinsip akuntansi yang lazim. Hal ini juga bisa terjadi pada perusahaan yang
berbentuk CV. Sekutu diam mungkin menginginkan laporan akurat dan benar menurut prinsip
akuntansi yang lazim.

Keadaan perkembangan selanjutnya adalah bahwa pihak luar seperti kreditur, pemerintah, dan lain
sebagainya juga memerlukan laporan-laporan yang akurat dan benar dalam rangka pengambilan
keputusan-keputusan ekonominya. Dalam keadaan demikian maka laporan keuangan yang dibuat
manajemen perusahaan memerlukan pihak yang independen untuk memeriksanya apakah sudah
akurat dan benar menurut prinsip-prinsip akuntansi yang lazim

Berdasrakan Website Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI)

Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI) atau Indonesian Institute of Certified Public Accountants
(IICPA), mempunyai latar belakang sejarah yang cukup panjang, dimulai dari didirikannya Ikatan
Akuntan Indonesia di tahun 1957 yang merupakan perkumpulan akuntan Indonesia yang pertama.
Perkembangan profesi dan organisasi Akuntan Publik di Indonesia tidak bisa dipisahkan dari
perkembangan perekonomian, dunia usaha dan investasi baik asing maupun domestik, pasar modal
serta pengaruh global. Secara garis besar tonggak sejarah perkembangan profesi dan organisasi
akuntan publik di Indonesia memang sangat dipengaruhi oleh perubahan perekonomian negara
pada khususnya dan perekonomian dunia pada umumnya.

Prof. R. Soemardjo Tjitrosidojo dan empat orang lulusan pertama Fakultas Ekonomi Universitas
Indonesia yakni Drs. Basuki T. Siddharta, Drs. Hendra Darmawan, Drs. Tan Tong Joe, dan Drs.
Go Tie Siem, mendirikan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) pada 23 Desember 1957.

Pada 7 April 1977, dua puluh tahun setelah IAI berdiri, Drs. Theodorus M. Tuanakotta membentuk
Seksi Akuntan Publik sebagai wadah para akuntan publik di Indonesia untuk melaksanakan
program-program pengembangan akuntan publik.

Dalam Kongres IAI ke VII tahun 1994, anggota IAI sepakat memberikan hak otonomi kepada
akuntan publik dengan mengubah Seksi Akuntan Publik menjadi Kompartemen Akuntan Publik.
Hal ini untuk merespons perkembangan pasar modal dan perbankan di Indonesia, yang
memerlukan perubahan Standar Akuntansi Keuangan dan Standar Profesional Akuntan Publik
yang setara dengan standar internasional.

Pada 24 Mei 2007 Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI) resmi berdiri. Pendirian ini diputuskan
melalui Rapat Umum Anggota Luar Biasa IAI – Kompartemen Akuntan Publik. Perubahan
organisasi ini ditujukan agar dapat memenuhi persyaratan International Federation of Accountans
(IFAC) mengenai profesi dan etika akuntan publik. Saat ini, IAPI merupakan associate member of
IFAC.

Terbit KMK no. 443/KMK.01/2011 tentang Penetapan IAPI sebagai Asosiasi Profesi Akuntan
Publik yang mengakui IAPI sebagai organisasi yang berwenang melaksanakan Ujian Profesi
Akuntan Publik, penyusunan dan penetapan Standar Profesional dan Etika Akuntan Publik, serta
menyelenggarakan Program Pendidikan Berkelanjutan, sekaligus Reviu Mutu Akuntan Publik.
Sejarah Memperoleh Gelar Akuntan

• SEBELUM KEMERDEKAAN

Etika berasal dari bahasa yunani yaitu ethikos yang berarti timbul dari kebisasaan. Etika
merupakan sebuah sesuatu dimana cabang utama yang memperlajari suatu nilai atau kualitas yang
menjadi pelajaran mengenai standar dan penilaian moral. Etika mencakup analisis dan penerapan
konsep seperti benar, salah, baik, buruk dan tanggung jawab.

Profesi akuntan telah ada sejak abad ke-15, di Inggris pihak yang bukan pemilik dan bukan
pengelola yang sekarang disebut auditor diminta untuk memeriksa mengenai kecurigaan yang
terdapat di pembukuan laporan keuangan yang disampaikan oleh pengelola kekayaan pemilik
harta.

Keadaan inilah yang membuat pemilik dana membutuhkan pihak ketiga yang dipercaya oleh
masyarakat untuk memeriksa kelayakan atau kebenaran laporan keuangan pengelola dana. Pihak
itulah yang dikenal sebagai Auditor.

Praktik akuntansi di Indonesia dapat ditelusuri pada sejak masa era penjajahan Belanda sekitar 17
(ADB 2003) atau sekitar tahun 1642 (Soemarso 1995). Perjalanan yang jelas berkaitan dengan
praktik akuntansi di Indonesia dapat di temui pada tahun 1747, yaitu praktik pembukuan yang
dilaksanakan Amphioen Socitey yang berkedudukan di Jakarta (Soemarso 1995). Pada era ini
Belanda memakai sistem pembukuan berpasangan (Double-entry bookkeeping) sebagaimana yang
dikembangkan ole H luca Pacioli. Perusahaan VOC milik Belanda yang merupakan organisasi
komersial utama selama masa penjajahan memainkan peranan penting dalam praktik bisnis di
Indonesia selam era ini (Diga dan Yunus 1997). Akuntan – akuntan Belanda itu kemudian
mendominasi akuntan di perusahaan – perusahaan yang juga di monopoli penjajahan hingga abad
19.

Kesempatan bagi akuntan lokal (Indonesia) mulai muncul pada tahun 1942-1945, dengan
mundurnya Belanda dari Indonesia. Sampai tahun 1947 hanya ada satu orang akuntan yang
berbangsa Indonesia yaitu Prof. Dr. Abutari (Soemarso 1995). Praktik akuntansi model Belanda
masih diggunakan selama era setelah kemerdekaan (1950an). Pendidikan dan pelatihan akuntansi
masih didominasi oleh sistem akuntansi model Belanda.

• ORDE LAMA

Profesi akunta di Indonesia itu sejarahnya diawali oleh berdirinya Ikatan Akuntansi Indonesia
(IAI) pada tahun 1957. Awalnya, pada 17 Oktober 1957, Prof R Soemardjo bersama 4 alumnus
pertama FEUI yaitu Drs. Basuki Siddharta, Drs Hendra Darmawan, Drs Tan Tong Joe, dan Drs
Go Tie Siem memprakarsai dibentuknya suatu organisasi akuntan Indonesia.

Akhirnya suatu organisasi tersebut diberi nama Ikatan Akuntan Indonesia yang secara resmi
dibentuk pada 23 Desember 1957 beranggotakan 11 akuntan yang ada saat itu, dan kemudian
disahkan oleh Menteri Kehakiman RI pada 24 Maret 1959. Selanjutnya di organisasi akuntan
Indonesia inilah Etika Profesi Akuntansi dan Kode Etiknya dibuat bekerja sama dengan
pemerintah. Karena pada masa ini warisan dari belanda masih dirasakan dengan tidak adanya
satupun akuntan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Sehingga pada masa ini masih mengikuti
pola yang dilakukan oleh belanda, dimana akuntan didaftarkan dalam salah satu register Negara.

Belanda sendiri memiliki dua organisasi profesi yaitu Van Academich Gevorormd e Accountants
(VAGA) dan Nederlands Institute van Accountants (NIvA). Akuntan – akuntan Indonesia yang
lulus pertama periode setelah kemerdekaan tidak dapat menjadi anggota kedua organisasi tersebut.
Pendidikan dan pelatihan akuntansi masih didominasi oleh sistem akuntansi model
Belanda. Nasionalisasi atas perusahaan yagn dimiliki Belanda dan pindahnya orang-orang
Belanda dari Indonesia pada tahun 1958 menyebabkan kelangkaan akuntan dan tenaga ahli.

• ORDE BARU

Pada masa orde baru, perekonomian Indonesia mengalami perubahan yang cukup signifikan.
Perluasan pasar profesi akuntan publik semakin bertambah yaitu pada saat pemerintah
mengeluarkan Undang-undang Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam
Negeri (PMND) tahun 1967/1968. Perubahan perkonomian ini memberikan dampak terhadap
kebutuhan profesi sebagai akuntan. Hal ini karena dengan adanya pasar modal pertama sejak masa
orde baru dan juga karena pada saat itu sudah banyak kantor akuntan yang berdiri dan juga kantor
akuntan asing yang bekerjasama oleh kantor akuntan di Indonesia.

Pada tahun 1977 atas gagasan Drs. Theodorus M. Tuanakotta IAI membentuk seksi akuntan
publik. Hal ini bertujuan sebagai wadah para akuntan publik di Indonesia untuk melaksanakan
program pengembangan akuntan publik. Setelah kurun waktu 17 tahun berjalan sejak didirikannya
seksi akuntan publik, profesi akuntan berkembang dengan pesat seiring dengan perkembangan
pasar modal dan perbankan di Indonesia, sehingga diperlukan standar akuntansi keuangan dan
standar professional akuntan publik yang setara dengan standar internasional. Pada umumnya,
perusahaan-perusahaan swasta di Indonesia baru memerlukan jasa akuntan publik jika kreditur
mewajibkan mereka menyerahkan laporan keuangan yang telah diperiksa oleh akuntan publik.

• ORDE REFORMASI

Setelah melewati kedua orde ini, perkembangan profesi akuntan di Indonesia tidak bisa dipisahkan
dari perkembangan perekonomian, dunia usaha dan investasi, pasar modal serta pengaruh global.
Periode ini yang berisi upaya konsolidasi profesi akuntan termasuk akuntan publik. PAI 1973
disempurnakan dalam tahun 1985, disusul dengan penyempurnaan NPA pada tahun 1985, dan
penyempurnaan kode etik dalam kongres ke V tahun 1986.

Setelah melewati masa-masa suram, pemerintah perlu memberikan perlindungan terhadap


masyarakat pemakai jasa akuntan publik dan untuk mendukung pertumbuhan profesi tersebut.
Pada tahun 1986 pemerintah mengeluarkan Keputusan Menteri Keuangan No.
763/KMK.001/1986 tentang Akuntan Publik. Keputusan ini mengatur bidang pekerjaan akuntan
publik, prosedur dan persyaratan untuk memperoleh izin praktik akuntan publik dan pendirian
kantor akuntan publik beserta sanksi-sanksi yang dapat dijatuhkan kepada akuntan publik yang
melanggar persyaratan praktik akuntan publik.
Pada periode ini profesi akuntan publik terus berkembang seiring dengan berkembangnya dunia
usaha dan pasar modal di Indonesia. Walaupun demikian, masih banyak kritikan-kritikan yang
dilontarkan oleh para usahawan dan akademisi. Namun, keberadaan profesi akuntan tetap diakui
oleh pemerintah sebagai sebuah profesi kepercayaan masyarakat. Di samping adanya dukungan
dari pemerintah, perkembangan profesi akuntan publik juga sangat ditentukan ditentukan oleh
perkembangan ekonomi dan kesadaran masyarakat akan manfaat jasa akuntan publik.

Secara garis besar tonggak sejarah dari perkembangan profesi dan organisasi akuntan public di
Indonesia memang tak luput dari perkembangan perekonomian Negara khususnya dan
perkembangan perkonomian dunia pada umumnya.

Berdasarkan Website IAI


Era Baru Akuntan Profesional

PMK 25/PMK.01/2014 tentang Akuntan Beregister Negara lahir sebagai legal backup profesi
akuntan profesional. Sekaligus jadi panduan tata kelolanya.

PENANTIAN panjang akuntan Indonesia atas sebuah legal backup, akhirnya terbayar. Menteri
Keuangan M. Chatib Basri menandatangani Peraturan Menteri Keuangan (PMK)
25/PMK.01/2014 tentang Akuntan Beregister Negara pada 3 Februari lalu.

Selain menjadi legal backup, PMK ini sekaligus jadi panduan yang sangat jelas mengenai tata
kelola akuntan profesional. Ada banyak hal diatur PMK ini, yaitu terkait registrasi ulang, ujian
sertifikasi akuntan profesional, kantor jasa akuntansi, sisi pembinaan, pendidikan profesional
berkelanjutan (PPL), pengaturan akuntan asing, dan organisasi profesi akuntan.

Khusus tentang organisasi profesi akuntan, Kemenkeu telah menetapkan organisasi profesi yang
dimaksud adalah Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). “Mengenai penetapan IAI sebagai organisasi
yang akan mengemban amanat PMK, diatur tersendiri melalui Keputusan Menteri Keuangan
(KMK),” ujar Kepala PPAJP Kemenkeu, Langgeng Subur ketika ditemui di ruang kerjanya,
Februari lalu.

Kepala Pusat Pembinaan Akuntan dan Jasa Penilai (PPAJP) Kemenkeu, Langgeng Subur
mengatakan, PMK 25/2014 adalah amanat dari UU Nomor 34 tahun 1954 tentang Pemakaian
Gelar Akuntan. UU tersebut telah mengamanatkan kepada Kemenkeu agar menyusun aturan lebih
lanjut tentang profesi ini.

Setelah PMK keluar, kini saatnya organisasi profesi, dalam hal ini IAI, terlibat di garda paling
depan dalam mengembangkan profesi ini. Langgeng Subur tak menampik jika terjadi pelimpahan
sebagian wewenang Kemenkeu kepada IAI, dalam hal pengaturan akuntan profesional.

“IAI akan mengambil peran sentral menjadi organisasi yang bertanggungjawab atas
pengembangan akuntan profesional. Baik dari sisi kualitas, kuantitas, kompetensi, dan
kapabilitas,” ujar Langgeng. “Semua itu tugas besar. IAI harus bersiap diri.”
Tugas berat pertama, tentunya terkait dengan registrasi ulang akuntan beregister negara. Menurut
Langgeng, saat ini Kemenkeu mencatat ada 53.500 pemegang register akuntan negara.

Sementara jumlah anggota IAI berkisar di angka 17 ribuan. Artinya masih banyak akuntan
beregister yang belum menjadi anggota IAI. Kondisi ini jelas akan berubah karena PMK 25
mewajibkan seluruh akuntan beregister untuk mendaftar ulang dan menjadi anggota IAI dalam
waktu tiga tahun setelah terbitnya PMK. “Jika mereka tidak mendaftar ulang dalam jangka waktu
tiga tahun, register negaranya akan hangus,” Langgeng menandaskan.

Selain itu, mahasiswa yang sedang mengikuti pendidikan profesi akuntansi pada perguruan tinggi
dan menyelesaikan pendidikan sampai dengan 31 Desember 2014, dapat langsung mendaftar pada
register akuntan negara. Sedangkan lulusan program D-IV dari Sekolah Tinggi Akuntansi Negara
(STAN) atau S-1 akuntansi dari perguruan tinggi negeri yang lulus sebelum 31 Agustus 2004 dan
berhak didaftarkan pada register akuntan negara, juga dapat langsung mendaftar sampai dengan
akhir 2014.

“PMK mewajibkan semuanya mendaftar ulang, sekitar 53.500 orang akuntan beregister akan
mendaftar melalui IAI dalam tiga tahun,” ujar Langgeng menggambarkan kondisi yang ada.
“Belum lagi pendaftaran yang berasal dari nonakuntan beregister, hingga lulusan baru Pendidikan
Profesi Akuntansi (PPA) dan perguruan tinggi melalui jalur ujian sertifikasi (ujian Chartered
Accountant/CA).”

Anggota Dewan Pengurus Nasional IAI, Cris Kuntadi menilai, registrasi ulang 53.500 sebenarnya
bukanlah angka yang besar selama IAI mampu me-maintain dan meningkatkan sistem yang ada
secara efektif. “Secara fisik mungkin susah. Namun tidak jika ini sudah terkomputerisasi,”
katanya.

Ia mengusulkan, database IAI dari grandfathering CA seharusnya secara otomatis menjadi proses
pendaftaran ulang. “Jangan sampai anggota sudah mengisi formulir tapi harus kembali mendaftar
ulang,” Cris menjelaskan. “Jika terdapat perbedaan formulir, cukup menambahkan field-field yang
kurang. Jika bisa secara elektronik, ini akan luar biasa. Orang tidak harus datang ke PPAJP atau
ke IAI.”

Menurutnya, fungsi penataan anggota harus menjadi bagian dari fungsi utama IAI di masa depan.
Karena itu IAI harus menyiapkan aspek pelayanan terbaik yang akan diberikan kepada
anggotanya. “Jangan sampai mereka menjadi anggota karena terpaksa, karena sudah diwajibkan
oleh peraturan,” tandasnya.

Sisi Pembinaan

Sisi pembinaan jelas menjadi aspek penting jika ingin akuntan profesional Indonesia mempunyai
kualitas prima dan siap bersaing secara global. PMK telah mengatur jika IAI merupakan
pengemban amanat untuk melaksanakan pembinaan ini.

Beberapa hal yang harus disiapkan mencakup penyelenggaraan PPL, perumusan kebijakan untuk
pengembangan profesi akuntan dan KJA, serta pemantauan kepatuhan akuntan dan KJA terhadap
regulasi. PMK 25 mewajibkan akuntan profesional selalu menjaga kompetensinya melalui PPL,
lalu menyampaikan laporan realisasi PPL kepada IAI. Minimal PPL yang harus diikuti berjumlah
30 satuan kredik PPL (SKP).

Sementara KJA wajib memiliki dan melaksanakan sistem pengendalian mutu sesuai dengan
ketentuan yang ditetapkan IAI. Akuntan dan KJA yang tidak memenuhi kewajiban tersebut akan
dikenai sanksi administratif.

IAI sendiri selama ini telah menyelenggarakan PPL, baik yang free sebagai fasilitas bagi anggota,
maupun berbayar. Tema PPL bervariasi disesuaikan dengan kebutuhan dan kompetensi anggota.
Mulai manajemen keuangan, audit, akuntansi keuangan, perpajakan, regulasi, good corporate
governance, dan lain-lain.

Free PPL dilangsungkan 1-2 kali per bulan dengan jumlah SKP 3-6. Sementara penyelenggaraan
PPL berbayar bisa mencapai 124 kali dalam setahun, dengan jumlah SKP masing-masing
bervariasi 8-32 SKP. “Belum lagi di IAI wilayah. Setiap IAI wilayah di seluruh Indonesia pasti
mempunyai jadwal PPL sendiri untuk memenuhi kebutuhan anggota di daerah itu,” kata Cris.

Terkait penegakan disiplin, Cris mengatakan di IAI mesti ada penguatan fungsi di Komite Etika.
Untuk selanjutnya disusun kode etik yang disesuaikan dengan kode etik International Federation
of Accountants (IFAC) karena IAI adalah anggota IFAC.

“Kalau ada yang melakukan pelanggaran, harus tegas diberikan sanksi,” kata Cris, lugas. “Tapi
kalau ada yang memerlukan bantuan, harus dibantu. Anggota IAI harus betul-betul merasakan
manfaat dari keanggotaannya di IAI.”

Dengan begitu, PMK ini seutuhnya telah menjadi regulasi yang menjelaskan tahapan
pengembangan akuntan profesional Indonesia dari aspek persiapan, pengembangan, pengguna
jasa, hingga level persaingan yang nanti akan terjadi.

“Regulasi kita makin ideal dengan terbitnya PMK ini,” Cris menambahkan. “Untuk saat ini,
memang inilah yang diperlukan. Namun di masa depan, kita butuh Undang-Undang Pelaporan
Keuangan yang akan mengatur lebih lanjut tentang mekanisme pelaporan keuangan di mana
akuntan profesional sangat berkepentingan.”

Karena itu, Cris meminta para akuntan profesional juga mengawal RUU ini. Jika PMK
25/PMK.01/2014 mengatur sisi akuntan profesional, UU Pelaporan Keuangan akan mengatur
laporan keuangan yang merupakan produk dari seorang akuntan profesional. “Nantinya hanya
akuntan profesional yang bisa menandatangani dan bertanggungjawab atas sebuah laporan
keuangan,” ujarnya.

Manakala kondisi ideal itu telah tercipta, Cris meyakini aspek transparansi, akuntabilitas publik,
dan good governance pun akan terwujud secara optimal. Kondisi tersebut pada gilirannya akan
membawa bangsa ini menuju cita-citanya.

Menakar Potensi Akuntan Profesional Indonesia


Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) dalam laporan terbarunya memublikasikan jumlah anggota
sebanyak 17.649. Sebagai perbandingan, hingga Desember 2013, Malaysian Institute of
Accountants (MIA) memiliki anggota 30.503 orang. Anggota Institute of Singapore Chartered
Accountants (ISCA) per 31 December 2013 tercatat sebanyak 27.394 orang.

Per Juli 2013, jumlah anggota Philippine Institute of Certified Public Accountants (PICPA)
mencapai 22.072 orang. Bahkan Thailand per Desember 2013 memiliki 57.244 akuntan yang
tercatat sebagai anggota Federation of Accounting Profession (FAP).

Lalu berapa sebenarnya jumlah potensial akuntan Indonesia? Benarkah Indonesia sebagai satu-
satunya negara G-20 di Asia Tenggara, jumlah akuntan profesionalnya kalah jauh dibandingkan
Thailand, Malaysia, Singapura, bahkan Filipina? Padahal profesi akuntan harusnya linier dengan
ukuran sebuah perekonomian.

Pendidikan Akuntan

Sebelum era pendidikan profesi akuntan (PPAk), gelar akuntan diberikan secara langsung hanya
kepada lulusan perguruan tinggi negeri tertentu atau melalui jalur Ujian Nasional Akuntansi
(UNA) Dasar dan Profesi untuk perguruan tinggi swasta. Sedangkan lulusan perguruan tinggi
negeri yang tidak secara otomatis dapat memberikan gelar akuntan, diharuskan mengikuti UNA
Profesi. Dengan demikian terdapat tiga model dalam menghasilkan akuntan. Metode ini
berlangsung sampai akhir tahun 2004.

Namun pada praktiknya, pelaksanaan ketentuan tersebut menimbulkan diskriminasi. Banyak


perguruan tinggi yang ternyata bisa menghasilkan lulusan pendidikan tinggi akuntansi yang
berkualitas, namun tidak bisa langsung mendapat gelar Ak.

Perkembangan selanjutnya lahirlah UU Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional
yang diperjelas lewat PP 30/1990 tentang Pendidikan Tinggi dan Keputusan Mendikbud Nomor
36/U/1993 tentang Gelar Akademik dan Sebutan Profesi.

Dengan adanya serangkaian regulasi tersebut, pendidikan akuntan berubah secara mendasar.
Pertama, UU Nomor 2/1989 mengelompokkan pendidikan akuntan dalam kelompok pendidikan
profesi dan memperoleh gelar ‘sebutan’ di belakang nama lulusannya. Kedua, untuk dapat
mengikuti pendidikan profesi yang baru, calon peserta didik harus terlebih dahulu lulus dari
pendidikan akademik dengan gelar ‘Sarjana Ekonomi’, serupa dengan pendidikan profesi lainnya.

Namun karena tidak berstatus sebagai lembaga penyeleggara pendidikan, IAI menitipkan
pendidikan profesi kepada perguruan tinggi yang dipandang kapabel untuk menjalankan tugas
tersebut. IAI melalui Komite Evaluasi dan Rekomendasi Pendidikan Profesi Akuntansi
(KERPPAK) menyeleksi perguruan tinggi yang berminat untuk menyelenggarakan PPAK dengan
menetapkan kriteria bagi calon penyelenggara.

Proses ini melahirkan PPAK untuk menindaklanjuti UU Nomor 34 Tahun 1954 yang mengatur
ketentuan mengenai penggunaan gelar akuntan. Dengan demikian, sejak berakhirnya era UNA,
akuntan pemegang register negara berasal dari pendidikan PPAk.
Dari sini bisa diperkirakan jumlah potensial penerima sebutan Ak. yang bisa diidentifikasi. Periode
sebelum 2004, penerima sebutan Ak. ini berasal dari perguruan tinggi non-UNA, serta lulusan
UNA Dasar dan UNA Profesi. Setelah 2004 sampai dengan 31 Desember 2014, pemegang gelar
Ak. berasal dari lulusan PPAk yang hingga kini mencapai 41 PPAK.

Sebelum 2004, terdapat 17 perguruan tinggi yang bisa langsung mendapatkan gelar Ak.. Mereka
adalah Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN), Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah
Mada (UGM), Universitas Diponegoro, Universitas Airlangga (UNAIR), Universitas Brawijaya,
Universitas Riau, Universitas Sumatera Utara, Universitas Udayana, Universitas Hasanuddin,
Universitas Sam Ratulangi, Universitas Syiah Kuala, Universitas Sriwijaya, Universitas Andalas,
Universitas Soedirman, Universitas Padjadjaran, dan Universitas Sebelas Maret.

Perguruan tinggi sekelas STAN, UI, UGM, Unair menghasilkan sekitar 300 sampai 500 lulusan
akuntansi setiap tahun. Sementara sejak 2004, lulusan program PPAK berturut-turut mencapai 833
(tahun 2007), 1227 (2008), 1313 (2009), 2175 (2010), 2146 (2011), 2172 (2012). Sementara antara
tahun 2004-2007, PPAK dari lima perguruan tinggi menghasilkan lulusan berturut-turut 332, 313
dan 335 orang.

Belum lagi lulusan akuntansi yang dihasilkan sebelum masa PPAK dan ujian UNA yang
berlangsung sejak periode diterbitkannya UU Nomor 34 Tahun 1954. Meskipun data Pusat
Pembinaan Akuntan dan Jasa Penilai (PPAKJP) Kementerian Keuangan menyebut jumlah akuntan
beregister negara mencapai 53.105 (data per 25 Juli 2013), bisa dipastikan realitasnya jauh lebih
banyak dari itu.

Tambahan lain berasal dari calon lulusan PPAK yang saat ini masih menimba ilmu akuntansi di
berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Lalu juga ada ujian langsung CA yang untuk
pertamakalinya digelar bulan Juni ini. Dan lulusan akuntansi dari seluruh perguruan tinggi
Indonesia setiap tahun di atas angka 30 ribu, mestinya mengikuti jalur akuntan profesional jika
memang ingin berpraktik sebagai akuntan.

Dengan memperhitungkan semuanya, jumlah akuntan profesional Indonesia harus jauh di atas
angka PPAKJP yang sebanya 53.500 orang. Direktur Eksekutif IAI, Elly Zarni Husin optimis
angkanya mencapai 100 ribu orang.

Apapun itu, jumlah pastinya akan segera diketahui karena PMK telah mewajibkan orang-orang
yang eligible mendapatkan Ak. untuk segera meregistrasinya ke PPAKJP sebelum 31 Desember
2014. Sementara seluruh pemegang gelar Ak. yang ada saat ini harus mendaftar ulang dalam waktu
tiga tahun sejak lahirnya PMK.

Setelah itu, barulah akan terlihat sebeberapa besar potensi akuntan profesional tanah air. Namun
satu hal yang bisa dipastikan dari perhitungan di atas, posisi akuntan profesional Indonesia
diyakini akan menjadi yang terkuat di Asia Tenggara.
Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP)

Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) adalah kodifikasi berbagai pernyataan standar teknis
yang merupakan panduan dalam memberikan jasa bagi Akuntan Publik di Indonesia. SPAP
dikeluarkan oleh Dewan Standar Profesional Akuntan Publik Institut Akuntan Publik Indonesia
(DSPAP IAPI).

Tipe Standar Profesional

1. Standar Auditing
2. Standar Atestasi
3. Standar Jasa Akuntansi dan Review
4. Standar Jasa Konsultansi
5. Standar Pengendalian Mutu

Kelima standar profesional di atas merupakan standar teknis yang bertujuan untuk mengatur mutu
jasa yang dihasilkan oleh profesi akuntan publik di Indonesia.

1. Standar Auditing

Standar Auditing adalah sepuluh standar yang ditetapkan dan disahkan oleh Institut Akuntan
Publik Indonesia (IAPI), yang terdiri dari standar umum, standar pekerjaan lapangan, dan standar
pelaporan beserta interpretasinya. Standar auditing merupakan pedoman audit atas laporan
keuangan historis. Standar auditing terdiri atas sepuluh standar dan dirinci dalam bentuk
Pernyataan Standar Auditing (PSA). Dengan demikian PSA merupakan penjabaran lebih lanjut
masing-masing standar yang tercantum di dalam standar auditing.Di Amerika Serikat, standar
auditing semacam ini disebut Generally Accepted Auditing Standards (GAAS) yang dikeluarkan
oleh the American Institute of Certified Public Accountants (AICPA).

Pernyataan Standar Auditing (PSA)


PSA merupakan penjabaran lebih lanjut dari masing-masing standar yang tercantum didalam
standar auditing. PSA berisi ketentuan-ketentuan dan pedoman utama yang harus diikuti oleh
Akuntan Publik dalam melaksanakan penugasan audit. Kepatuhan terhadap PSA yang diterbitkan
oleh IAPI ini bersifat wajib bagi seluruh anggota IAPI. Termasuk didalam PSA adalah Interpretasi
Pernyataan Standar Auditng (IPSA), yang merupakan interpretasi resmi yang dikeluarkan oleh
IAPI terhadap ketentuan-ketentuan yang diterbitkan oleh IAPI dalam PSA. Dengan demikian,
IPSA memberikan jawaban atas pernyataan atau keraguan dalam penafsiran ketentuan-ketentuan
yang dimuat dalam PSA sehingga merupakan perlausan lebih lanjut berbagai ketentuan dalam
PSA. Tafsiran resmi ini bersifat mengikat bagi seluruh anggota IAPI, sehingga pelaksanaannya
bersifat wajib.

Standar umum
1. Audit harus dilaksanakan oleh seorang atau lebih yang memiliki keahlian dan pelatihan
teknis yang cukup sebagai auditor.
2. Dalam semua hal yang berhubungan dengan perikatan, independensi dalam sikap mental
harus dipertahankan oleh auditor.
3. Dalam pelaksanaan audit dan penyusunan laporannya, auditor wajib menggunakan
kemahiran profesionalnya dengan cermat dan seksama.

Standar pekerjaan lapangan


1. Pekerjaan harus direncanakan sebaik-baiknya dan jika digunakan asisten harus disupervisi
dengan semestinya.
2. Pemahaman memadai atas pengendalian intern harus diperoleh unutk merencanakan audit
dan menentukan sifat, saat, dan lingkup pengujian yang akan dilakukan.
3. Bukti audit kompeten yang cukup harus diperoleh melalui inspeksi, pengamatan,
permintaan keterangan, dan konfirmasi sebagai dasar memadai untuk menyatakan
pendapat atas laporan keungan yang diaudit.

Standar pelaporan
1. Laporan auditor harus menyatakan apakah laporan keuangan telah disusun sesuai dengan
prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.
2. Laporan auditor harus menunjukkan atau menyatakan, jika ada, ketidakkonsistenan
penerapan prinsip akuntansi dalam penyusunan laporan keuangan periode berjalan
dibandingkan dengan penerapan prinsip akuntansi tersebut dalam periode sebelumnya.
3. Pengungkapan informatif dalam laporan keuangan harus dipandang memadai, kecuali
dinyatakan lain dalam laporan auditor.
4. Laporan auditor harus memuat suatu pernyataan pendapat mengenai laporan keuangan
secara keseluruhan atau suatu asersi bahwa pernyataan demikian tidak dapat diberikan. Jika
pendapat secara keseluruhan tidak dapat diberikan, maka alasannya harus dinyatakan.
Dalam hal nama auditor dikaitkan dengan laporan keuangan, maka laporan auditor harus
memuat petunjuk yang jelas mengenai sifat pekerjaan audit yang dilaksanakan, jika ada,
dan tingkat tanggung jawab yang dipikul oleh audito

2. Standar Atestasi

• Atestasi (attestation) adalah suatu pernyataan pendapat atau pertimbangan yang diberikan
oleh seorang yang independen dan kompeten yang menyatakan apakah asersi (assertion)
suatu entitas telah sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Asersi adalah suatu
pernyataan yang dibuat oleh satu pihak yang dimaksudkan untuk digunakan oleh pihak
lain, contoh asersi dalam laporan keuangan historis adalah adanya pernyataan manajemen
bahwa laporan keuangan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum.
• Standar atestasi membagi tiga tipe perikatan atestasi (1) pemeriksaan (examination), (2)
review, dan (3) prosedur yang disepakati (agreed-upon procedures).
• Salah satu tipe pemeriksaan adalah audit atas laporan keuangan historis yang disusun
berdasarkan prinsip akuntansi yang berlaku umum. Pemeriksaan tipe ini diatur berdasarkan
standar auditing. Tipe pemeriksaan lain, misalnya pemeriksaan atas informasi keuangan
prospektif, diatur berdasarkan pedoman yang lebih bersifat umum dalam standar atestasi.
Standar atestasi ditetapkan oleh Institut Akuntan Publik Indonesia.

3. Standar Jasa Akuntansi dan Review


Standar jasa akuntansi dan review memberikan rerangka untuk fungsi non-atestasi bagi jasa
akuntan publik yang mencakup jasa akuntansi dan review.

Sifat pekerjaan non-atestasi tidak menyatakan pendapat, hal ini sangat berbeda dengan tujuan audit
atas laporan keuangan yang dilaksanakan sesuai dengan standar auditing. Tujuan audit adalah
untuk memberikan dasar memadai untuk menyatakan suatu pendapat mengenai laporan keuangan
secara keseluruhan, sedangkan dalam pekerjaan non-atestasi tidak dapat dijadikan dasar untuk
menyatakan pendapat akuntan.

Jasa akuntansi yang diatur dalam standar ini antara lain:

• Kompilasi laporan keuangan – penyajian informasi-informasi yang merupakan pernyataan


manajemen (pemilik) dalam bentuk laporan keuangan
• Review atas laporan keuangan – pelaksanaan prosedur permintaan keterangan dan analisis
yang menghasilkan dasar memadai bagi akuntan untuk memberikan keyakinan terbatas,
bahwa tidak terdapat modifikasi material yagn harus dilakukan atas laporan keuangan agar
laporan tersebut sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia
• Laporan keuangan komparatif – penyajian informasi dalam bentuk laporan keuangan dua
periode atau lebih yang disajikan dalam bentuk berkolom

4. Standar Jasa Konsultansi

Standar Jasa Konsultansi merupakan panduan bagi praktisi (akuntan publik) yang menyediakan
jasa konsultansi bagi kliennya melalui kantor akuntan publik. Dalam jasa konsultansi, para praktisi
menyajikan temuan, kesimpulan dan rekomendasi. Sifat dan lingkup pekerjaan jasa konsultansi
ditentukan oleh perjanjian antara praktisi dengan kliennya. Umumnya, pekerjaan jasa konsultansi
dilaksanakan untuk kepentingan klien.

Jasa konsultansi dapat berupa:

• Konsultasi (consultation) – memberikan konsultasi atau saran profesional (profesional


advise) berdasarkan pada kesepakatan bersama dengan klien. Contoh jenis jasa ini adalah
review dan komentar terhadap rencana bisnis buatan klien
• Jasa pemberian saran profesional (advisory services) – mengembangkan temuan,
kesimpulan, dan rekomendasi untuk dipertimbangkan dan diputuskan oleh klien. Contoh
jenis jasa ini adalah pemberian bantuan dalam proses perencanaan strategik
• Jasa implementasi – mewujudkan rencana kegiatan menjadi kenyataan. Sumber daya dan
personel klien digabung dengan sumber daya dan personel praktisi untuk mencapai tujuan
implementasi. Contoh jenis jasa ini adalah penyediaan jasa instalasi sistem komputer dan
jasa pendukung yang berkaitan.
• Jasa transaksi – menyediakan jasa yang berhubungan dengan beberapa transaksi khusus
klien yang umumnya dengan pihak ketiga. Contoh jenis jasa adalah jasa pengurusan
kepailitan.
• Jasa penyediaan staf dan jasa pendukung lainnya – menyediakan staf yang memadai (dalam
hal kompetensi dan jumlah) dan kemungkinan jasa pendukung lain untuk melaksanakan
tugas yang ditentukan oleh klien. Staf tersebut akan bekerja di bawah pengarahan klien
sepanjang keadaan mengharuskan demikian. Contoh jenis jasa ini adalah menajemen
fasilitas pemrosesan data
• Jasa produk – menyediakan bagi klien suatu produk dan jasa profesional sebagai
pendukung atas instalasi, penggunaan, atau pemeliharaan produk tertentu. Contoh jenis
jasa ini adalah penjualan dan penyerahan paket program pelatihan, penjualan dan
implementasi perangkat lunak komputer

5. Standar Pengendalian Mutu

Standar Pengendalian Mutu Kantor Akuntan Publik (KAP) memberikan panduan bagi kantor
akuntan publik di dalam melaksanakan pengendalian kualitas jasa yang dihasilkan oleh kantornya
dengan mematuhi berbagai standar yang diterbitkan oleh Dewan Standar Profesional Akuntan
PublikInstitut Akuntan Publik Indonesia (DSPAP IAPI) dan Aturan Etika Kompartemen Akuntan
Publik yang diterbitkan oleh IAPI.

Unsur-unsur pengendalian mutu yang harus harus diterapkan oleh setiap KAP pada semua jenis
jasa audit, atestasi dan konsultansi meliputi:

• independensi – meyakinkan semua personel pada setiap tingkat organisasi harus


mempertahankan independensi
• penugasan personel – meyakinkan bahwa perikatan akan dilaksanakan oleh staf profesional
yang memiliki tingkat pelatihan dan keahlian teknis untuk perikatan dimaksud
• konsultasi – meyakinkan bahwa personel akan memperoleh informasi memadai sesuai
yang dibutuhkan dari orang yang memiliki tingkat pengetahuan, kompetensi, pertimbangan
(judgement), dan wewenang memadai
• supervisi – meyakinkan bahwa pelaksanaan perikatan memenuhi standar mutu yang
ditetapkan oleh KAP
• pemekerjaan (hiring) – meyakinkan bahwa semua orang yang dipekerjakan memiliki
karakteristik semestinya, sehingga memungkinkan mereka melakukan penugasan secara
kompeten
• pengembangan profesional – meyakinkan bahwa setiap personel memiliki pengetahuan
memadai sehingga memungkinkan mereka memenuhi tanggung jawabnya. Pendidikan
profesional berkelanjutan dan pelatihan merupakan wahana bagi KAP untuk memberikan
pengetahuan memadai bagi personelnya untuk memenuhi tanggung jawab mereka dan
untuk kemajuan karier mereka di KAP
• promosi (advancement) – meyakinkan bahwa semua personel yang terseleksi untuk
promosi memiliki kualifikasi seperti yang disyaratkan untuk tingkat tanggung jawab yang
lebih tinggi.
• penerimaan dan keberlanjutan klien – menentukan apakah perikatan dari klien akan
diterima atau dilanjutkan untuk meminimumkan kemungkinan terjadinya hubungan
dengan klien yang manajemennya tidak memiliki integritas berdasarkan pada prinsip
pertimbangan kehati-hatian (prudence)
• inspeksi – meyakinkan bahwa prosedur yang berhubungan dengan unsur-unsur lain
pengendalian mutu telah diterapkan dengan efektif
Kantor Akuntan Publik (KAP)
Kantor Akuntan Publik (KAP) adalah badan usaha yang telah memdapatkan izin dari Menteri
Keuangan sebagai wadah bagi akuntan publik dalam pemberian jasanya.

Beberapa ketentuan yang diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan No. 17/PMK.01/2008 adalah:

Bidang jasa KAP

Adalah atestasi (adalah suatu pernyataan pendapat atau pertimbangan seseorang yang
indenpenden dan kompeten tentang apakah asersi suatu entitas sesuai, dalam semua hal yang
material, dengan kriteria yang ditetapkan), yang meliputi:

• Jasa audit umum atas laporan keuangan,


• Jasa pemeriksaan atas laporan keuangan prospektif;
• Jasa pemeriksaan atas pelaporan informasi keuangan proforma;
• Jasa revieu atas laporan keuangan; dan
• Jasa antestasi lainnya sebagaimana tercantum dalam Standar Profesional Akuntan Publik
(SPAP)

Atestasi adalah suatu pernyataan pendapat atau pertimbangan seseorang yang indenpenden dan
kompeten tentang apakah asersi suatu entitas sesuai, dalam semua hal yang material, dengan
kriteria yang ditetapkan.

Bidang jasa akuntan publik dan KAP

Jasa audit lainnya dan jasa yang berkaitan dengan akuntansi, keuangan, manajemen, kompilasi,
perpajakan dan konsultasi sesuai dengan kompetensi akuntan publik dan peraturan perundang-
undangan yang berlaku.

Bentuk usaha KAP Perseorangan

KAP yang berbentuk badan usaha perseorangan hanya dapat didirikan dan dijalankan oleh seorang
akuntan publik yang sekaligus bertindak sebagai pemimpin. KAP ini menggunakan nama akuntan
publik yang bersangkutan.

Bentuk usaha KAP Persekutuan

KAP yang berbentuk badan usaha persekukuan adalah persekutuan perdata atau persekutuan
firma, yang hanya dapat didirikan oleh paling sedikit (dua) orang akuntan publik, di mana masing-
masing sekutu merupakan rekan dan salah seorang sekutu bertindak sebagai pemimpin rekan.

KAP ini menggunakan nama salah satu atau lebih akuntan publik yang merupakan rekan KAP
yang bersangkutan, biasanya menggunakan nama yang sebanyak-banyaknya terdiri atas 3 (tiga)
nama akuntan publik. Umumnya ada penambahan kata “& Rekan” di belakang nama KAP apabila
jumlah akuntan publik pada KAP yang bersangkutan lebih banyak dari jumlah akuntan publik
yang namanya tercantum sebagai nama KAP.

KAP dapat mengadakan perjanjian kerja sama secara langsung yang bersifat berkelanjutan dengan
satu KAP Asing atau Organisasi Audit Asing (yang keanggotaannya peling sedikit diikuti oleh
KAP Asing yang terdapat di 20 negara di dunia), yang mencakup bidang jasa audit umum atas
laporan keuangan.

Akuntan Publik dan KAP dalam memberikan jasanya wajib mematuhi:

• Standar profesional akuntan publik (SPAP) dan kode etik akuntan Indonesia yang
ditetapkan oleh Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI).
• Peraturan perundang-undangan yang berlaku yang berhubungan dengan bidang jasa yang
diberikan.

Tanggung jawab akuntan publik dan/atau KAP

• Bertanggung jawab atas seluruh jasa yang diberikan.


• Bertanggung jawab dan wajib memelihara Laporan Auditor Independen dan kertas kerja,
dan dokumen pendukung lainnya yang berkaitan dengan pemberian jasa yang
bersangkutan selama 10 (sepuluh) tahun.
• Akuntan publik dan/atau KAP dilarang mencantumkan namanya pada dokumen atau
komunikasi tertulis yang memuat laporan keuangan, kecuali akuntan publik dan/atau KAP
yang bersangkutan telah melakukan audit atau kompilasi atau review atas laporan
keuangan tersebut.

Pembinaan dan pengawasan akuntan publik dan KAP:

• Menteri Keuangan melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap akuntan publik dan
KAP, dilakukan oleh sekretaris jenderal, di mana dapat meminta pendapat atau masukan
IAPI dan/atau pehak yang terkait.
• Akuntan publik wajib menjadi anggota IAPI dan wajib mengikuti pendidikan profesional
berkelanjutan (PPL) yang diselenggarakan dan/atau yang diakui oleh IAPI dan pusat
pembinaan dan jasa penilai (PPAJP) kementrian keuangan.

Pelanggaran

Pelanggaran terhadap peraturan menteri ini dapat dikenakan sanksi peringatan, pembekuan izin,
atau pencabutan izin yang ditetapkan oleh sekretarias jenderal atas nama Menteri Keuangan.