Anda di halaman 1dari 12

Perlindungan Hukum Terhadap Hak-Hak Anak (Satrio Ageng) Halaman 61

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP HAK-HAK ANAK PEREMPUAN


SEBAGAI KORBAN EKSPLOITASI SEKSUAL

Oleh:
Satrio Ageng Rihardi, Program Studi Hukum, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik,
Universitas Tidar

Email: satrioagengrihardi@yahoo.com

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk perlindungan hukum terhadap anak perempuan yang
merupakan korban dari ekploitasi anak dan hak-hak apa saja yang akan di peroleh korban eksploitasi
anak. Penelitian ini dilakukan dengan penelitian kepustakaan dengan menggunakan bahan hukum primer
dan bahan hukum sekunder dengan cara penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum doktrinal
atau penelitian kepustakaan dengan metode kualitatif yang disajikan secara diskriptif. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa perlindungan hukum secara represif adalah dengan menerapkan Pasal 66 Undang-
Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dilakukan melalui penyebarluasan dan/atau
sosialisasi ketentuan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan perlindungan anak yang
dieksploitasi secara ekonomi dan/atau seksual, pemantauan, pelaporan, dan pemberian sanksi; dan
pelibatan berbagai perusahaan, serikat pekerja, lembaga swadaya masyarakat, dan masyarakat dalam
penghapusan eksploitasi terhadap anak secara ekonomidan/atau seksual. Sedangkan perlindungan secara
preventifnya adalah Negara, Pemerintah, Pemerintah Daerah, Masyarakat, Keluarga dan Orang Tua
atau Wali berkewajiban dan bertanggung jawab penuh terhadap penyelenggaraan Perlindungan Anak.

Kata kunci: Perlindungan Hukum, Eksploitasi Anak, Hak-Hak Eksploitasi Anak


Perlindungan Hukum Terhadap Hak-Hak Anak (Satrio Ageng) Halaman 62

PENDAHULUAN terhadap pelaku eksploitasi anak dibawah umur


mengakibatkan pelaku eksploitasi anak akan
Anak merupakan suatu amanah dan semakin merajalela. Sejumlah kasus
karunia Tuhan Yang Maha Esa, yang di dalam menunjukkan ketika pihak berwajib terlibat
dirinya melekat harkat dan martabat sebagai dalam pembongkaran sindikat bisnis anak-anak,
manusia seutuhnya.Anak juga merupakan tunas, baik yang dilakukan di dalam maupun dikirim di
potensi, dan generasi muda penerus cita-cita luar negeri.2 Diantara kasus-kasus yang
perjuangan bangsa, memiliki peran strategis dan melibatkan (mengorbankan) anak perempuan di
mempunyai ciri dan sifat khususyang menjamin bawah umur, salah satu operandi yang
kelangsungan eksistensi bangsa dan negara pada digunakan adalah penipuan3. Sebagian dari
masa depan.Agar setiap anak kelak mampu mereka adakalanya tidak mengetahui kalau
memikul tanggung jawab tersebut, maka ia dirinya nantinya akan dijadikan sebagai objek
perlumendapat kesempatan yang seluas-luasnya dari tindak kejahatan yakni salah satunya
untuk tumbuh dan berkembang secaraoptimal, eksploitasi anak dibawah umur. Rata-rata
baik fisik, mental maupun sosial dan berakhlak mereka yang masih berumur di bawah 18 tahun
mulia.1 yakni antara usia 10-16 tahun yang sebelumnya
Sesuai dengan perkembangan zaman dan sama sekali tidak mengenal hubungan seksual,
kemajuan teknologi, ditambah lagi dengan karena memang usianya yang masih muda belia
pengetahuan pendidikan yang rendah dan dipaksa untuk melakukan hubungan seksual
kemampuan/keterampilan yang kurang dari akibatnyamereka diperkerjakan menjadi pekerja
orang tua. Salah satu alasan dan faktor seks komersial (PSK).
pemicunya adalah karena himpitan ekonomi. Hal Dalam Pasal 88 Undang-Undang Nomor
inilah yang membuat orang tua kurang 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak
memahami posisi si anak, sehingga orang tua sebagai perubahan Pasal 88 Undang-Undang
dengan mudahnya akan melibatkan si anak untuk Nomor 23 Tahun 2002 yang berbunyi “Setiap
mencukupi kebutuhan hidup keluarganya. orang yang melanggar ketentuan sebagaimana
Fenomena adanya pekerja anak di bawah umur dimaksud dalam Pasal 76I, dipidana dengan
khususnya anak perempuan sering dijumpai di pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun
berbagai daerah di Indonesia.Keadaan ini dan/atau denda paling banyak Rp
disebabkan karena lingkungan keluarga yang 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).”
kurang mampu atau miskin serta situasi Bunyi Pasal 76 I Undang-Undang Nomor
keharmonisan keluarga yang kurang 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan
mendukung.Dengan situasi tersebut, tentu saja Anak“Setiap orang dilarang menempatkan,
sangat merugikan untuk si anak, si anak akan membiarkan, melakukan, menyuruh melakukan,
kehilangan rasa nyaman dan aman jika dekat atau turut serta melakukan eksploitasi secara
dengan orang tuanya, dan berujung pada ekonomi dan/atau seksual terhadap anak.”
ketakutan si anak terhadap orang tuanya. Dari Pasal di atas, anak tidak boleh untuk
Di Indonesia, kasus jual beli dan dipekerjakan dengan alasan apapun, terlebih jika
perkosaan terhadap anak khususnya anak melakukan eksploitasi terhadap anak. Jika hal
perempuan di bawah umur sering terjadi.
Lemahnya pengawasandari pemerintahan
2
Abdul Wahid dan Muhammad Irfan.Perlindungan
terhadap Korban Kekerasan Seksual (Advokasi atas
1
Irma Setyowati Soemitro, Aspek Hukum Hak Asasi Perempuan). Refika Aditama Bandung.
Perlindungan Anak, Bumi Aksara, Jakarta, 1990, Bandung. 2001. Hlm 10.
3
hlm. 3. Abdul Wahid dan Muhammad Irfan, Ibid.
Perlindungan Hukum Terhadap Hak-Hak Anak (Satrio Ageng) Halaman 63

seperti ini terjadi maka realitas hak asasi hal tersebut tersirat dalam Pasal 6 Ayat (2) yang
perempuan untuk menikmati kedamaian dan memuat syarat perkawinan bagi orang yang
kebahagiaan sudah dilanggar sejak dini.Hak belum mencapai umur 21 tahun mendapati izin
hidup bermartabat dan bebas dari bahaya yang dari kedua orang tua. Selanjutnya diatur dalam
mengancam dirinya telah direduksi oleh tindak Pasal 7 Ayat (1) yang memuat batasan minimum
kejahatan.4 Hak-hak terhadap anak wajib usia untuk dapat kawin bagi pria adalah 19 tahun
dijamin, dilindungi dan dipenuhi oleh orang tua, dan wanita 16 tahun. Sedangkan definisi anak
keluarga, masyarakat, negara, pemerintah dan menurut Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014
pemerintahan daerah. tentang Perlindungan Anak Pasal 1 adalah
Berdasarkan uraian di atas ternyata ada seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas)
permasalahan yang menarik untuk dikaji yang tahun, termasuk anak yang masih dalam
berkaitan dengan masalah pengeksploitasian kandungan. Sehingga anak yang belu dilahirkan
seksual pada anak yang dituangkan dalam judul telah memperoleh suatu perlindungan hukum.
Perlindungan Hukum Terhadap Hak-Hak Menurut Arief Gosita tentang masalah
Anak Perempuan Sebagai Korban Eksploitasi korban kejahatan (victim right)yang dimaksud
Seksual. dengan korban adalah “mereka yang menderita
jasmaniah dan rohaniah sebagai akibat tindakan
RUMUSAN MASALAH orang lain, yang mencari pemenuhan diri sendiri
atau orang lain, yang bertentangan dengan
Bagaimana bentuk perlindungan hukum kepentingan dan hak asasi yang menderita”.5
yang diperoleh anak yang merupakan korban Selanjutnya secara yuridis pengertian
eksploitasi anak? korban yang termaktub dalam Undang-Undang
Apa saja hak-hak yang wajib untuk Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan
diperoleh korban dari adanya eksploitasi anak? Saksi dan Korban, yang dinyatakan korban
adalah “seseorang yang mengalami penderitaan
TUJUAN fisik, mental, dan/atau kerugian ekonomi yang
diakibatkan oleh suatu tindak pidana”.6
Untuk mengetahui perlindungan hukum Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 2
terhadap anak sebagai korban eksploitasi Tahun 2002 tentang Tata Cara Perlindungan
seksual dan mengetahui hak-hak apa saja yang terhadap Korban dan Saksi-Saksi dalam
wajib diperoleh korban ekploitasi anak. Pelanggaran HAM yang berat, korban adalah
“orang perseorang danatau kelompok orang
TINJAUAN PUSTAKA yang mengalami penderitaan fisik dan mental
dari ancaman, gangguan, teror, dan kekrasan
Definisi anak sesuai dengan Undang- pihak mana pun”.
Undang Nomor 4 Tahun1979 tentang Sedangkan yang dimaksud korban
Kesejahteraan Anak dalam Pasal 1 Angka 2 menurut Undang-undang Nomor 23 Tahun 2004
yaitu seseorang yang belum mencapai umur 21 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah
(dua puluh satu) Tahun dan belum pernah kawin. Tangga adalah “orang yang mengalami
Selain itu, menurut Undang-Undang Nomo1
5
Tahun 1974 Tentang Perkawinan tidak Siswanto sunarso, Viktimologi dalam Sitem
mengantur secara langsung tolok ukur kapan Peradilan Pidana, Sinar Grafika, Jakarta Timur,
2012, hlm. 31.
seseorang digolongkan sebagai anak, akan tetapi 6
Bambang Waluyo, Viktimologi Perlindungan
Korban dan Saksi, Sinar Grafika, Jakarta, 2012, hlm.
4
Ibid. 10.
Perlindungan Hukum Terhadap Hak-Hak Anak (Satrio Ageng) Halaman 64

kekerasan dan/atau ancaman kekerasan dalam tua akan mengakibatkan anak


lingkup rumah tangga”. terperosok ke dalam hal-hal yang
Sebenarnya banyak hubungan korban negative, seperti merokok, mencuri,
dengan pelaku, diantaranya juga dapat dikaji narkotika, bahkan sampai pergaulan
melalui hubungan darah, persaudaraan, famili, bebas. Oleh karena itu anak menjadi
ataupun kekeluargaan.Misalnya pencurian dalam jahat tidaklah secara mekanis, tetapi
keluarga, pelecehan seksual dan bahkan lingkunganlah yang memberi
penganiyayaan atau pembunuhan untuk pelajaran.Jadi nampaklah bahwa
memperebutkan harta waris serta factor lingkungan juga memegang
kekuasaan/dalam pengaruh keluarga. peranan dalam mempengaruhi atau
Sejenis hubungan ini atau hubungan mendorong anak untuk bertingkah
orang-orang dekat pelaku ataupun korban seperti polah melakukan kejahatan tanpa
teman, sahabat, pacar, rekan bisnis dan pertimbangan yang matang.
sebagainya.7 2. Faktor ekonomi sosial
Faktor-faktor yang mendorong timbulnya keadaan ekonomi yang sangat buruk
kejahatan anak adalah sangat komplek sekali. dapat mengakibatkan keadaan anak-
Masalahnya terletak pada luasnya gerak ruang anak dari keluarga yang bersangkutan
lingkup kehiduan manusia, yang saling tidak menentu, karena kehidupan
berhubungan saling pengaruh mempengaruhi sehari-hari tidak mencukupi
serta kait mengait satu sama lain. Faktor-faktor bagaimna pula mengatur
yang paling mempengaruhi yaitu antar lain:8 keluarganya, sedangkan setiap hari
1. Faktor lingkungan mereka harus mencukupi kebutuhan
Lingkungan adalah semua benda dan pokok rumah tangga. Hal inilah yang
materi yang mempengaruhi hidup mendorong terjadinya tindak
manusia, seperti keselamatan jasmani kejahatan. Apalagi dalam
dan rohani, ketenangan lahir bathin, masyarakat, anak dari keluarga yang
kesejahteraan, dan lain-lain.Dalam tidak mampu, anak tersebut pasti
hal ini tampak erat hubungan antara berperilaku suka meniru dan rasa
alam dengan sekitarnya dan keinginan yang besar untuk memiliki,
manusia.Kemudian pengaruh akan mudah tergiur apa yang
lingkungan yang terkecil yakni rumah didemonstrasikan oleh kalangan yang
tangga sangat berpengaruh terhadap mewah. Hal ini tentu saja mendorong
psikologis dan kelakuan anak, apalagi si anak untuk melakukan kejahatan
ketidakharmonisan hubungan orang pencurian atau memiliki dengan
tua dalam rumah sangat paksa.Oleh karena itu kemiskinan itu
mempengaruhi sekali tingkah laku dapat mendorong orang untuk
dan perkembangan jiwa si anak. berbuat jahat. Jadi faktor ekonomi
Kemudian dalam lingkungan sehari sosial merupakan factor yang
hari, anak yang tidak dapat pendorong untuk mengarahkan si
bimbingan dan perhatian dari orang anak untuk melakukan kejahjatan
3. Faktor psikologis
7
Psikolgi ataupun ilmu jiwa adalah
Ibid, hlm 20.
8
A. Qirom Syamsudin Meliala dan E. Sumaryono, suatu ilmu yang mempelajari
Kejahatan Anak Suatu Tinjauan Dari Psikologi Dan tindakan atau tingkah laku manusia
Hukum, Liberty, Yogyakarta, 1985,hlm31.
Perlindungan Hukum Terhadap Hak-Hak Anak (Satrio Ageng) Halaman 65

yang dihubungkan dengan jiwa para mengenai larangan eksploitasi anak,


pelakunya. Kenakalan anak-anak sebagaimana di kemukakan dalam Pasal 34
diakibatkan oleh beberapa hal yakni konvensi hak anak yang berbunyi “Hak anak
masa pubertas dan kelainan jiwa atas perlindungan dari eksploitasi dan
Anak mempunyai suatu hak-hak yang penganiayaan seksual termasuk prosititusi dan
harus diakui dan dilindungi Negara serta keterlibatan dalam pornografi”
Pemerintah. Perlindungan anak menurut Pasal 1 Tindakan eksploitasi seksual pada anak
Angka (2) Undang-Undang Perlindungan anak, yang sering terjadi di masyarakat adalah sebagai
adalah segala kegiatan untuk menjamin dan berikut,
melindungi anak dan hak-haknya agar dpat 1. Membujuk anak perempuan dengan
hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi dimingi-imingi gaji yang besar,
secara optimal sesuai dengan harkat dan padahal akan dipekerjakan sebagai
martabat kemanusiaan, serta mendapat pekerja seksual;
perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. 2. Kekerasan seksual, dalam bentuk
Rendahnya kualitas perlindungan anak di perkosaan;
Indonesia banyak menuai kritik dari berbagi 3. Memaksa anak laki-lakinya untuk
kalangan elemen masyarakat.Pertanyaan yang melakukan sodomi;
sering dilontarkan sejauh mana pemerintah telah 4. Membujuk anak-anak untuk
berupaya memberikan perlindungan (hukum) dijadikan pekerja seksual sebagi mata
pada anak sehingga anak dapat memperoleh pencaharian;
jaminan atas kelangsungan hidup dan 5. Pelaku mendekati anak perempuan
penghidupannya sebagai bagian dari hak asasi dengan memacarinya, lalu
manusia.9Berdasarkan Pasal 20 Undang-Undang memberdayai agar mau menyerahkan
Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan keperawanannya setelah itu dijual ke
Anak, yang berkewajiban dan bertanggung germo.
jawab terhadap penyelenggaraan perlindungan Sedangkan mengenai hak-hak korban
anak adalah negara, pemerintah, pemerintah secara yuridis dapat dilihat dalam perundang-
daerah, masyarakat, keluarga, dan orang tua atau undangan, salah satunya Undang-Undang
wali.10 Nomor 31 Tahun 2014 tentang Perlindungan
Hukum Internasional melalui Saksi dan Korban sebagai pengganti Undang-
pembentukan konvensi hak anak telah Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang
memposisikan anak sebagi subjek hukum yang Perlindungan Saksi dan Korban, yakni dalam
memerlukan perlindungan atas hak-hak yang Pasal 5 Ayat (1) Undang-Undang tersebut
dimilikinya.11Salah satu pokok materi hukum menyebutkan beberapa hak korban dan saksi,
konvensi hak anak adalah adanya hak terhadap yaitu sebagi berikut:
perlindungan.12 Dalam hak terhadap 1. memperoleh perlindungan atas
perlindungan salah satu kategori pasalnya yaitu keamanan pribadi, keluarga, dan
harta bendanya, serta bebas dari
9
Arip Gosita,Masalah Perlindungan Anak, Ancaman yangberkenaan dengan
Akademindo, Bandung, 1999, hlm. 13. kesaksian yang akan, sedang, atau
10
Ibid,hlm.72. telah diberikannya;
11
Ibid. 2. ikut serta dalam proses memilih dan
12
Muhammad Joni dan Zulchaina Z. Tanamas, Aspek
Hukum Perlindungan Anakdalam Perspektif menentukan bentuk perlindungan dan
Konvensi Hak Anak,Citra Aditya Bakti, Bandung, dukungan keamanan;
1999, hlm. 39.
Perlindungan Hukum Terhadap Hak-Hak Anak (Satrio Ageng) Halaman 66

3. memberikan keterangan tanpa perundang-undangan yang


tekanan; berkaitandengan perlindungan
4. mendapat penerjemah; anak yang dieksploitasi secara
5. bebas dari pertanyaan yang menjerat; ekonomi dan/atau seksual;
6. mendapatkan informasi mengenai b. pemantauan, pelaporan, dan
perkembangan kasus; pemberian sanksi; dan
7. mendapatkan informasi mengenai c. pelibatan berbagai perusahaan,
putusan pengadilan; serikat pekerja, lembaga
8. mengetahui dalam hal terpidana swadayamasyarakat, dan
dibebaskan; masyarakat dalam penghapusan
9. dirahasiakan identitasnya; eksploitasi terhadap anak secara
10. mendapatkan tempat kediaman ekonomidan/atau seksual.
sementara; Hukum sejatinya harus memberikan
11. mendapatkan tempat kediaman baru; perlindungan terhadap semua pihak sesuai
12. memperoleh penggantian biaya dengan status hukumnya karena setiap orang
transportasi sesuai dengan kebutuhan; memiliki kedudukan yang sama di hadapan
13. mendapat nasihat hukum; dan/atau hukum. Setiap aparat penegak hukum jelas wajib
14. memperoleh bantuan biaya hidup menegakkan hukum dan dengan bertugas untuk
sementara sampai batas waktu memfungsikan aturan-aturan hukum.
perlindungan berakhir; Hukum juga merupakan kepentingan
15. mendapat pendampingan. hukum yang berguna untuk mengurusi hak dan
Di dalam Undang-Undang Nomor 35 kepentingan manusia, sehingga hukum memiliki
Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dalam otoritas tertinggi untuk menentukan kepentingan
Pasal 59 Undang-Undang tersebut, diatur manusia yang perlu diatur dan dilindungi.13
perihalkewajiban dan tanggung jawab Perlindungan hukum harus melihat
pemerintah, pemerintah daerah dan lembaga tahapan, yakni perlindungan hukum lahir dari
negara lainnya berkewajiban dan bertanggung suatu ketentuan hukum dan peraturan hukum
jawab untukmemberikan perlindungan khusus yang diberikan oleh masyarakat. Pada dasarnya
kepadaanak. Perlindungan khusus untuk anak peraturan hukum merupakan kesepakatan
yangmengalami eksploitasi secara masyarakat tersebut untuk mengatur hubungan
ekonomidan/atau seksual diatur dalam Pasal perilaku antara anggota-anggota masyarakat dan
66Undang-UndangNomor 35 Tahun 2014 antara perseorangan dengan pemerintah yang
tentang Perlindungan Anak yakni: dianggap mewakili kepentingan masyarakat.14
1. Perlindungan khusus bagi anak yang Pengertian perlindungan hukum menurut
dieksploitasi secara ekonomi dan/atau Satjipto Raharjo, perlindungan hukum adalah
seksual sebagaimanadimaksud dalam memberikan pengayoman terhadap hak asasi
Pasal 59 Ayat (2) merupakan manusia (HAM) yang dirugikan orang lain dan
kewajiban dan tanggung jawab perlindungan itu diberikan kepada masyarakat
pemerintah dan masyarakat. agar dapat menikmati semua hak-hak yang
2. Perlindungan khusus bagi anak yang diberikan oleh hukum.15
dieksploitasi sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1)dilakukan melalui : 13
Satjipto Raharjo, 2000, Ilmu Hukum, Citra Aditya
a. penyebarluasan dan/atau Bakti, Bandung, Hlm. 69.
14
sosialisasi ketentuan peraturan Ibid.
15
Ibid, Hlm. 54.
Perlindungan Hukum Terhadap Hak-Hak Anak (Satrio Ageng) Halaman 67

Perlindungan hukum menurut J.C.T 2) Kitab Undang-Undang


Simorangkir dan Woerjono Sastropranoto adalah Hukum Perdata
peraturan-peraturan yang bersifat memaksa, (KUHPerdata);
yang menentukan tingkah laku manusia dalam 3) Undang-Undang Nomor 13
lingkungan masyarakat yang dibuat oleh badan- Tahun 2006 tentang
badan resmi yang berwajib. Perlindungan Saksi dan
Menurut Philipus M. Hadjon, Korban;
perlindungan hukum bagi rakyat sebagai 4) Undang-Undang Nomor 31
tindakan pemerintah yang bersifat preventif dan Tahun 2014 tentang
represif. Perlindungan hukum yang preventif Perlindungan Saksi dan
bertujuan untuk mencegah terjadinya sengketa, Korban;
yang mengarahkan tindakan pemerintah bersikap 5) Undang-Undang Nomor 23
hati-hati dalam pengambilan keputusan Tahun 2002 tentang
berdasarkan diskresi dan perlindungan represif Perlindungan Anak;
bertujuan untuk menyelesaikan terjadinya 6) Undang-Undang Nomor 35
sengketa, termasuk penanganannya di lembaga Tahun 2014 tentang
peradilan. Perlindungan Anak.
Sarana perlindungan hukum itu ada dua 2. Bahan hukum sekunder.
macam, yakni yang pertama adalah sarana Bahan hukum sekunder merupakan
perlindungan hukum secara preventif, yang bahan hukum yang memiliki sifat
mana tujuannya untuk mencegah terjadinya tidak mengikat dan berfungsi untuk
sengketa, dan yang kedua adalah sarana memberikan penjelasan terhadap
perlindungan hukum secara represif yakni bahan hukum primer serta sebagai
bertujuan untuk menyelesaikan sengketa. bahan pendukung, yang terdiri dari:
a. Buku yang berkaitan dengan
METODE PENELITIAN perlindungan hukum;
b. Buku yang berkaitan dengan
A. Jenis Penelitian hak-hak anak; dan
Peneliti mendasarkan pada jenis penelitian c. Jurnal, bahan internet, karya
yang dilakukan, yaitu penelitian kepustakaan ilmiah yang berkaitan dengan
1. Jenis data permasalahan yang diteliti.
Data yang diperoleh dari penelitian
kepustakaan merupakan data primer. B. Cara Penelitian
Data primer ini terbagi menjadi 2 Penelitian hukum jenis ini juga biasa
jenis bahan hukum, yaitu: disebut sebagai penelitian hukum doktriner atau
a. Bahan hukum primer. penelitian perpustakaan. Dinamakan penelitian
Bahan hukum primer merupakan hukum doktriner dikarenakan penelitian ini
bahan hukum yang bersifat hanya ditujukan pada peraturan-peraturan tertulis
mengikat yang terdiri sehingga penelitian ini sangat erat hubungannya
dari: pada perpustakaan karena akan membutuhkan
1) Undang-Undang Dasar data-data yang bersifat sekunder pada
1945 ( UUD 1945); perpustakaan.
Perlindungan Hukum Terhadap Hak-Hak Anak (Satrio Ageng) Halaman 68

C. Metode Penelitian hati-hati dalam pengambilan keputusan


Data yang diperoleh dari penelitian berdasarkan diskresi dan perlindungan represif
kepustakaan selanjutnya dilakukan bertujuan untuk menyelesaikan terjadinya
pengelompokan, diseleksi dan dianalisis. Metode sengketa, termasuk penanganannya di lembaga
yang digunakan oleh peneliti untuk melakukan peradilan. Perlindungan hukum merupakan suatu
analisis data penelitian adalah metode kualitatif. hal yang melindungi subyek-subyek hukum
Data yang diperoleh dari penelitian kepustakaan, melalui peraturan perundang-undangan yang
menjadi data yang dianalisis oleh penulis berlaku dan dipaksakan pelaksanaannya dengan
berdasarkan pada teori hukum yang sudah ada suatu sanksi.
dan peraturan perundang-undangan yang Anak memiliki hak khusus atau
berlaku. Hasil dari analisis selanjutnya disajikan perlindungan khusus menurut hukum yakni yang
secara diskriptif. diatu dalam Pasal 66Undang-UndangNomor 35
Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.
HASIL PENELITIAN DAN Sehingga pemerintah dalam hal ini diwajibkan
PEMBAHASAN untuk melindungi anak-anak dari eksploitasi
anak. Di indonesia masih banyak sekali kasus
A. Bentuk Perlindungan Hukum ekploitasi terhadap anak baik yang dipekerjakan
Terhadap Anak Korban Eksploitasi di dalam maupun ditempatkan di luar negeri.
Anak Anak yang dijadikan obyek eksploitasi ini
Setiap manusia yang terlahir secara memberikan keuntungan bagi pelakunya namun
kodrati pasti akan mendapatkan hak dasar yaitu menimbulkan penderitaan bagi si anak.
kebebasan, hak hidup, hak yang dilindungi, dan Anak yang sudah menjadi korban
hak yang lainnya. Negara Kesatuan Republik eksploitasi anak, harus mendapatkan perhatian
Indonesia menjamin kesejahteraan tiap-tiap khusus dari pemerintah dikarenakan si anak
warga negaranya, termasuk perlindungan masih memiliki masa depan yang panjang untuk
terhadap hak anak. Pada dasarnya perlindungan meneruskan hidupnya untuk menjadi anak pada
anak adalah dapat menjamin dan melindungi umumnya. Oleh karenanya hak-hak si anak tetap
hak-hak anak agar dapat hidup, tumbuh, harus dilindungi, namun bentuk perlindungan
kembang sesuai dengan harkat dan martabatnya berbeda-beda bergantung pada
sebagai manusia yang seutuhnya. Prinsip penderitaan/kerugian yang diderita oleh korban
perlindungan hukum terhadap hak-hak asasi ekploitasi anak.
manusia karena menurut sejarahnya di Barat, B. Perlindungan Hukum Dalam Bentuk
lahirnya konsep-konsep tentang pengakuan dan Represif Dan Preventif Terhadap Anak
perlindungan hak-hak asasi manusia diarahkan Korban Eksploitasi Anak
kepada pembatasan-pembatasan dan peletakan Dalam menjalankan dan memberikan
kewajiban masyarakat dan pemerintah.16 perlindungan hukum dibagi menjadi dua macam
Menurut Philipus M. Hadjon, yakni sebagai berikut:
perlindungan hukum bagi rakyat sebagai 1. Perlindungan Hukum Represif
tindakan pemerintah yang bersifat preventif dan Perlindungan hukum yang bertujuan
represif. Perlindungan hukum yang preventif untuk menyelesaikan terjadinya
bertujuan untuk mencegah terjadinya sengketa, sengketa, termasuk penanganannya di
yang mengarahkan tindakan pemerintah bersikap lembaga peradilan. Sebagaimana
telah dijelaskan dalam Pasal 98-101
16
Philipus M. Hadjon. 1987. Perlindungan Hukum KUHAP, diperlukan pemberian
Bagi Rakyat Indonesia. Surabaya Bina Ilmu. Hlm 38.
Perlindungan Hukum Terhadap Hak-Hak Anak (Satrio Ageng) Halaman 69

restitusi dan kompensasi terhadap m. Mendapat nasihat hukum;


korban, yang tujuannya untuk dan/atau
mengembalikan kerugian yang telah n. Memperoleh bantuan biaya
dialami oleh korban baik secara hidup sementara sampai batas
psikis maupun fisik. Khususnya waktu perlindungan berakhir;
untuk bentuk kerugian secara psikis o. Mendapat pendampingan
diberikan juga bentuk perlindungan Adapun bentuk perlindungan khusus bagi
berupa bantuan konseling, karena anak yang diekploitasi secara seksual yakni
untuk mengembalikan rasa trauma sesuai dengan Pasal66 Undang-Undang Nomor
dan rasa takut yang berlebihan. Selain 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak
itu, sesuai dengan Undang-Undang dilakukan melalui:
Nomor 31 Tahun 2014 tentang a. penyebarluasan dan/atau
Perlindungan Saksi dan Korban Pasal sosialisasi ketentuan peraturan
5 Ayat (1) dijelaskan bahwa: perundang-undangan yang
a. Memperoleh perlindungan atas berkaitandengan perlindungan
keamanan pribadi, keluarga, dan anak yang dieksploitasi secara
harta bendanya, serta bebas dari ekonomi dan/atau seksual;
ancaman yangberkenaan dengan b. pemantauan, pelaporan, dan
kesaksian yang akan, sedang, pemberian sanksi; dan
atau telah diberikannya; c. pelibatan berbagai perusahaan,
b. Ikut serta dalam proses memilih serikat pekerja, lembaga
dan menentukan bentuk swadayamasyarakat, dan
perlindungan dan dukungan masyarakat dalam penghapusan
keamanan; eksploitasi terhadap anak secara
c. Memberikan keterangan tanpa ekonomidan/atau seksual.
tekanan; 2. Perlindungan Hukum Preventif
d. Mendapat penerjemah; Perlindungan hukum yang bertujuan
e. Bebas dari pertanyaan yang untuk mencegah terjadinya sengketa,
menjerat; yang mengarahkan tindakan
f. Mendapatkan informasi pemerintah bersikap hati-hati dalam
mengenai perkembangan kasus; pengambilan keputusan berdasarkan
g. Mendapatkan informasi diskresi. Oleh karenanya Negara,
mengenai putusan pengadilan; Pemerintah Daerah, Masyarakat,
h. Mengetahui dalam hal terpidana Keluarga, dan Orang tua atau Wali
dibebaskan;’ berkewajiban bertanggung jawab
i. Dirahasiakan identitasnya; terhadap penyelenggaraan
j. Mendapatkan tempat kediaman perlindungan anak. Sesuai dengan
sementara; Pasal 23 Undang Undang
k. Mendapatkan tempat kediaman Perlindungan Anak, Negara harus
baru; menjamin perlindungan,
l. Memperoleh penggantian biaya pemeliharaan dan kesejahteraan anak
transportasi sesuai dengan dengan memperhatikan hak dan
kebutuhan; kewajiban orang tua, wali atau orang
lain yang secara hukum bertanggung
Perlindungan Hukum Terhadap Hak-Hak Anak (Satrio Ageng) Halaman 70

jawab terhadap anak. Serta sudah bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan


dijelaskan dalam Pasal 23 ayat 2 Perlindungan Anak.
Undang-Undang Perlindungan Anak, Terhadap anak yang merupakan korban
yakni berbunyi “Negara, dari eksploitasi anak secara seksual, perlu
Pemerintah, Pemerintah Daerah mendapatkan perlindungan khusus yang telah
mengawasi penyelenggaraan diatur di dalam Undang-Undang Nomor 35
Perlindungan Anak”. Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Sesuai
Selain itu, peran masyarakat terhadap dengan Pasal 1 Ayat 15, Perlindungan Khusus
perlindungan anak dilaksanakan dengan adalah “perlindungan yang diberikan pada anak
melibatkan organisasi kemasyarakatan, dalam situasi darurat, anak yang berhadapan
akademisi dan pemerhati anak. Dan yang paling dengan hukum, anak dari kelompok minoritas
penting disini adalah peran orang tua, dan terisolasi, anak yang dieksploitasi secara
sebagaimana disebutkan dalam Pasal 26 Ayat (1) ekonomi dan/atau sesksual, anak yang
Undang-Undang Perlindungan Anak yakni diperdagangkan, anak yang menjadi korban
Orang tua berkewajiban dan bertanggung penyalahgunaan narkotika, alkohol,
jawabuntuk mengasuh, memelihara, mendidik, psikotropika, dan zat adiktif lainnya (napza),
dan melindungi Anak;menumbuhkembangkan anak korban penculikan, penjualan,
Anak sesuai dengan kemampuan, bakat, dan perdagangan, anak korban kekerasan baik fisik
minatnya;mencegah terjadinya perkawinan pada dan/atau mental, anak yang menyandang cacat,
usia Anak; danmemberikan pendidikan karakter dan anak korban perlakuan salah dan
dan penanaman nilai budi pekerti pada Anak. penelantaran”.
C. Hak-Hak Yang Wajib Diberikan Oleh karena itu perlindungan khusus bagi
Terhadap Korban Eksploitasi Anak anak dapat dilakukan melalui upaya:
Anak sebagai tunas, potensi dan generasi 1. Penanganan yang cepat, termasuk
penerus bangsa berhak untuk mendapatkan pengobatan dan/atau rehabilitasi
perlindungan hukum dari segala bentuk secara fisik, psikis, dan sosial, serta
perlakuan yang tidak manusiawi yang dapat pencegahan penyakit dan gangguan
mengakibatkan terjadinya pelanggaran Hak kesehatan lainnya;
Asasi Manusia (HAM). Untuk meningkatkan 2. Pendampingan psikososial pada saat
perlindungan dan kesejahteraan terhadap anak, pengobatan sampai pemulihan;
diperlukan kelembagaan dan peraturan 3. Pemberian bantuan sosial bagi anak
perundang-undangan yang dapat menjamin yang berasal dari keluarga tidak
pelaksanaannya. mampu;
Perlindungan anak sesuai dengan Pasal 1 4. Pemberian perlindungan dan
Ayat 2 adalah segala kegiatan untuk menjamin pendampingan pada setiap proses
dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat peradilan.
hidup, tumbuh, berkembang dan berpartisipasi Sehubungan dengan hal tersebut di atas
secara optimal sesuai dengan harkat dan sudah jelas bahwa korban ekploitasi anak harus
martabat kemanusiaan, serta mendapat memperoleh beberapa perlindungan hukum
perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. sebagaimana telah diamanatkan dalam peraturan
Oleh karenanya, Negara, Pemerintah, perundang-undangan. Sehingga korban
Pemerintah Daerah, Masyarakat, Keluarga dan eksploitasi anak harus menjadi perhatian khusus
Orang Tua atau Wali berkewajiban dan dari semua pihak khususnya dalam hal ini adalah
Perlindungan Hukum Terhadap Hak-Hak Anak (Satrio Ageng) Halaman 71

pemerintah baik pusat maupun pemerintahan B. Saran


daerah. Pelaksanaan peraturan ganti kerugian
yang baik itu memberikan kemungkinan pada
SIMPULAN pihak korban untuk secara leluasa ikut serta
menyatakan pendapatnya.Sehingga pemerintah
A. Kesimpulan benar-benar memperjuangkan ganti kerugian
Berdasarkan uraian penulis tersebut di bagi korban eksploitasi anak.Diharapkan
atas, maka penulis menarik kesimpulan yakni pemerintah dapat menerapkan sanksi yang tegas
sebagai berikut:Salah satu tolok ukur terhadap pelaku eksploitasi anak dan jika masuk
pelaksanaan peraturan ganti kerugian yang baik dalam ranah pengadilan diharapkan hakim
adalah bahwa yang bersangkutan diberi memberikan putusan yang seadil-adilnya
kesempatan untuk mengembangkan hak dan terhadap pelaku eksploitasi anak, sehingga
kewajibannya, mengembangkan diri sebagai dengan penerapan hal tersebut mengurangi
manusia yang seutuhnya dan berbudi adanya tindak pidana eksploitasi terhadap anak.
luhur.Pengukuran ganti kerugian yang baik dapat
dilihat pada dapat tidaknya peraturan tersebut DAFTAR PUSTAKA
mendukung penyelesaian pembayaran ganti
kerugian yang tepat, cepat dan murah. Dengan A. Qirom Syamsudin Meliala dan E.
demikian yang bersangkutan tidak akan Sumaryono, 1985. Kejahatan Anak Suatu
mengalami kerugian finansial, waktu, mental Tinjauan Dari Psikologi Dan Hukum,
dan lain-lainnya. Oleh karena itu, keefektivan Liberty, Yogyakarta.
suatu peraturan perundang-undangan ganti Arip Gosita, 1999.Masalah Perlindungan Anak,
kerugian harus diberlakukan dengan adil serta Akademindo, Bandung.
menjamin kesejahteraan korban. Bambang Waluyo, 2012.Viktimologi
Pemerintah wajib untuk pemenuhan hak Perlindungan Korban dan Saksi, Sinar
dan melindungi korban kejahatan terutama Grafika, Jakarta.
korban kejahatan eksploitasi. Bentuk Muhammad Joni dan Zulchaina Z. Tanamas,
perlindungan yang wajib untuk diberikan adalah 1999.Aspek Hukum Perlindungan
perlindungan hukum baik secara preventif untuk Anakdalam Perspektif Konvensi Hak Anak
mencegah terjadinya sengketa maupun secara , Citra Aditya Bakti, Bandung.
represif untuk menyelesaikan sengketa yang Philipus M. Hadjon. 1987. Perlindungan Hukum
terjadi. Sehingga Negara, Pemerintah, Bagi Rakyat Indonesia. Surabaya Bina
Pemerintah Daerah, Masyarakat, Keluarga dan Ilmu
Orang Tua atau Wali berkewajiban dan Satjipto Raharjo, 2000.Ilmu Hukum, Citra Aditya
bertanggung jawab penuh terhadap Bakti, Bandung.
penyelenggaraan Perlindungan Anak. Khususnya Siswanto Sunarso, 2012.Viktimologi dalam
pemerintah baik pusat maupun daerah harus Sitem Peradilan Pidana, Sinar Grafika,
memberikan perlindungan khusus sebagaimana Jakarta Timur.
yang diamanatkan dalam aturan perundang- Abdul Wahid dan Muhammad Irfan. 2001.
undangan, sehingga posisi korban eksploitasi Perlindungan terhadap Korban
anak memperoleh kembali kondisi menjadi anak Kekerasan Seksual (Advokasi atas Hak
yang pada umumnya, tanpa ada rasa trauma dan Asasi Perempuan). Refika Aditama
ketakutan yang mendalam dan berkepanjangan. Bandung. Bandung.
Perlindungan Hukum Terhadap Hak-Hak Anak (Satrio Ageng) Halaman 72

Irma Setyowati Soemitro, 1990.Aspek Hukum Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang
Perlindungan Anak, Bumi Aksara, Perlindungan Anak.
Jakarta. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang
Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Anak.
Perlindungan Saksi dan Korban.
Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2014 tentang
Perlindungan Saksi dan Korban.