Anda di halaman 1dari 141

TESIS

Hubungan Defisiensi vitamin D dengan Sindrom


Metabolik Pada Anak Obes

Relationship Between Vitamin D Deficiency and


Metabolic Syndrome in Obese Children

Dina Kurniasih

P1507213126

KONSENTRASI PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS TERPADU


PROGRAM STUDI BIOMEDIK PROGRAM PASCA SARJANA
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2017
ii

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu

wata’ala, Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah melimpahkan rahmat dan

karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan hasil penelitian

ini.

Penulisan ini merupakan salah satu persyaratan dalam rangka

penyelesaian Program Pendidikan Dokter Spesialis di IPDSA (Institusi

Pendidikan Dokter Spesialis Anak) pada Pascasarjana Kedokteran Program

Pendidikan Dokter Spesialis Terpadu (Combined Degree) Universitas

Hasanuddin, Makassar.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penulisan hasil penelitian ini

tidak akan terselesaikan dengan baik tanpa bantuan dari berbagai pihak. Oleh

karena itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang tulus

kepada Dr. dr. Aidah Juliaty A. Baso, Sp.A(K) sebagai pembimbing materi

yang dengan penuh perhatian dan kesabaran senantiasa membimbing dan

memberikan dorongan kepada penulis sejak awal penelitian hingga penulisan

hasil penelitian ini.

Ucapan terima kasih yang tulus juga penulis sampaikan kepada Prof.

Dr. dr. H.Dasril Daud,SpA (K) sebagai pembimbing metodologi yang di tengah

kesibukannya telah memberikan waktu dan pikiran beliau untuk membantu

penulis dalam menyelesaikan penulisan hasil penelitian ini. Penulis juga

mengucapkan banyak terima kasih kepada para penguji yang telah

memberikan banyak masukan dan perbaikan untuk tesis ini, yaitu (Alm) Prof.
iii

Dr.dr. R. Satriono, Sp.A(K), Sp.GK, Dr. dr. Martira Maddeppungeng,

SpA(K), dan dr.Ratna Dewi, Sp.A(K), MARS

Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada :

1. Ibu Rektor, Direktur Program Pascasarjana dan Dekan Fakultas

Kedokteran Universitas Hasanuddin atas kesediaannya menerima penulis

sebagai peserta pendidikan di Program Pascasarjana Universitas

Hasanuddin.

2. Ibu Koordinator Program Pendidikan Dokter Spesialis I Universitas

Hasanuddin yang senantiasa memantau dan membantu kelancaran

pendidikan penulis.

3. Ibu Ketua Bagian dan Ibu/Bapak Ketua serta sekertaris Program Studi Ilmu

Kesehatan Anak beserta seluruh staf pengajar (supervisor) atas bimbingan

dan asuhannya selama penulis menjalani pendidikan.

4. Semua teman sejawat peserta Pendidikan Pascasarjana di Bagian Ilmu

Kesehatan Anak atas bantuan, kebersamaan dan kerjasama yang baik

selama penulis menjalani pendidikan.

5. Semua paramedis di RS dr. Wahidin Sudirohusodo dan rumah sakit satelit

yang lain atas bantuan dan kerjasamanya selama penulis menjalani

pendidikan.

6. Semua staf administrasi di Departemen Ilmu Kesehatan Anak, bagian

PPDS dan Program Pascasarjana FK UNHAS atas bantuan dan

kerjasamanya selama masa pendidikan penulis.


iv

7. Orang tua tercinta, (Alm) Kamaruddin dan Hj. Darmawati yang senantiasa

mendukung dalam doa, memberikan dorongan dan semangat yang sangat

berarti bagi penulis selama mengikuti pendidikan.

8. Teman – teman satu angkatan Januari 2014, Herlina, Ati Salami, Haryati

Indra Hatta, Haryanti Kartini Huntoyungo, Dyah Aditya I.K.P, Ati Rahmi,

Rahmi Utami, Ira Megsari, Adi Prakoso, Ismail Sabrin, Asrul Salam dan Ade

Malikul yang bersama-sama melalui pendidikan dan berbagi suka-duka di

DIKA tercinta ini.

9. Akhirnya dari lubuk hati yang dalam penulis ucapkan terima kasih yang

tulus untuk suami tercinta, Astari Yahya, atas pengertian, pengorbanan,

dukungan dan kesabaran yang tak ternilai kepada penulis saat menjalani

pendidikan ini serta ananda tercinta Ahmad Ardhi Sulaiman dan Akhliyah

Kamilah sebagai pemacu semangat penulis agar dapat menyelesaikan

hasil penelitian ini.

10. Semua pihak yang tidak sempat penulis sebutkan satu persatu yang turut

membantu menyelesaikan hasil penelitian ini.

Dan akhirnya penulis berharap semoga tulisan ini dapat memberikan

manfaat bagi perkembangan Ilmu Kesehatan Anak di masa mendatang.

Tak lupa penulis mohon maaf untuk hal-hal yang tidak berkenan dalam

penulisan ini karena penulis menyadari sepenuhnya bahwa penulisan hasil

penelitian ini masih jauh dari kesempurnaan

Makassar, November 2017

Dina Kurniasih
v

ABSTRAK

Latar Belakang. Peningkatan prevalensi sindrom metabolik pada anak obes


merupakan tantangan kesehatan masyarakat terkait perkembangan selanjutnya
penyakit serebrovaskuler. Tren peningkatan ini dikaitkan dengan peranan
vitamin D pada berbagai reseptor non skeletal meliputi otot polos, sel beta
pankreas dan berbagai sel. Sehingga deficiency vitamin D pada anak obes
mengakibatkan morbiditas dan mortalitas premature oleh karena sindrom
metabolik.
Tujuan. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan defisiensi vitamin D
dengan kejadian sindrom metabolik pada anak obes.
Metode. Penelitian ini merupakan jenis penelitian potong lintang. Penelitian
dilakukan pada Juni – Agustus 2017 dengan sasaran siswa SD, SMP dan SMA
di kota Makassar berusia 6 sampai 18 tahun. Sampel penelitian dibagi dalam
dua kelompok yaitu 43 anak dengan sindrom metabolik dan 40 anak bukan
sindrom metabolik berdasarkan kriteria Ikatan Dokter Anak Indonesia.
Hasil. Hasil penelitian menunjukkan frekuensi kejadian sindrom metabolik pada
kelompok anak dengan defisiensi vitamin D sebesar 36 (70,6%), dibandingkan
anak dengan status vitamin D normal sebanyak 7 (21,9%). Analisis statistik
ditemukan frekuensi kejadian sindrom metabolik pada kelompok anak
defisiensi vitamin D (kadar 25 (OH)D < 20 ng/mL) lebih banyak dibandingkan
kelompok anak obes dengan status vitamin D normal dengan nilai p = 0,000 (p<
0,05) OR=8,571 (CI 95% 3,054 – 24,060).

Kesimpulan. Anak obes dengan defisiensi vitamin D memiliki risiko 8,571 kali
mengalami sindrom metabolik dibandingkan anak obes denga status vitamin D
normal.

Kata kunci : sindrom metabolik, anak obes, defisiensi vitamin D


vi

ABSTRACT

Background. The prevalence metabolic syndrome in obese children has


increased and makes it serious public health challenges that associated with
subsequent development of cerebrovascular diseases. This trend is associated
with the action of vitamin D through its non skeletal receptor including smooth
muscle, pancreatic B cell and also various cell. Hence, low vitamin D level in
obese children causes premature morbidity and mortality due to metabolic
syndrome.
Objective. The aim of the research was to examine the correlation between
Vitamin D deficiency and metabolic syndrome in obese children.
Methods. This research was cross sectional study conducted from June to
August 2017. The data were obtained from Elementary School, Junior High
School, and Senior High School students in Makassar ranging from 6 to 18
years old. The samples were divided into two groups, i.e. 43 children with
metabolic syndrome and 40 children without metabolic syndrome. They were
determined based on Indonesian Pediatric Association criteria.
Results. The results of the research indicate that metabolic syndrome in
children with vitamin D deficiencyis 36 (70,6%) compared to children with
normal vitamin D, i.e. 7 (21,9%). Statistic analysis indicates that children with
vitamin D deficiency (level 25 (OH)D < 20 ng/mL) has more metabolic syndrome
frequency compared to obese children with normal vitamin D with the value p
= 0,000 (p<0,05) OR= 8,571 (CI 95% 3,054 – 24,060).
Conclusion. Metabolic syndrome 8,561 times in obese children with vitamin D
deficiency than normally vitamin D.

Key words : metabolic syndrome, obese children, vitamin D deficiency


vii

DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN PENGESAHAN i
KATA PENGANTAR ii
ABSTRAK v
ABSTRACT vi
DAFTAR ISI vii
DAFTAR TABEL ix
DAFTAR GAMBAR x
DAFTAR SINGKATAN xi
BAB I PENDAHULUAN 1
I.1. Latar belakang masalah 1
I.2. Rumusan masalah 5
I.3. Tujuan penelitian 6
I.3.1. Tujuan umum 6
I.3.2. Tujuan khusus 6
I.4. Hipotesis penelitian 7
I.5. Manfaat penelitian 7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 9
II.1. Obesitas 9
II.1.1. Definisi 9
II.1.2. Kriteria Obesitas 10
II.1.3. Epidemiologi 12
II.1.4. Etiologi dan Patogenesis 14
II.2.Vitamin D 20
II.2.1. Sumber Vitamin D 20
II.2.2. Metabolisme Vitamin D 21
II.2.3. Reseptor Vitamin D 22
II.2.4 Defisiensi Vitamin D 25
II.3. Sindrom Metabolik 25
II.3.1 Definisi 25
II.3.2 Vitamin D dan Obesitas 27
II.3.3 Lipid 31
II.3.3.1 Profil Lipid 31
II.3.3.2 Metabolisme Lipid 36
II.3.4 Peran Vitamin D pada Metabolisme Lipid 41
II.3.5 Peran Vitamin D dan Resistensi Insulin 42
II.4. Lingkar Pinggang
II.4.1 Distribusi Lemak 43
II.4.2 Lemak Visceral 44
II.4.3 Ukuran Lingkar Pinggang 45
II.5. Tekanan Darah 48
II.5.1 Definisi Tekanan Darah 48
II.5.2 Mekanisme Pengaturan Tekanan Darah 48
II.5.3 Pengaturan Tekanan Darah pada Anak 53
viii

II.5.4 Hubungan Vitamin D dan Hipertensi 55


II.6 Hubungan Vitamin D dan Sindrom Metabolik 57
BAB III KERANGKA KONSEP 60
BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 62
IV.1. Desain penelitian 62
IV.2. Tempat dan waktu penelitian 62
IV.3. Populasi penelitian 62
IV.4. Sampel dan cara pengambilan sampel 63
IV.4.1 Pemilihan Sampel 63
IV.4.2 Perkiraan Besar Sampel 64
IV.5. Kriteria inklusi dan eksklusi 65
IV.6.1 Kriteria inklusi 65
IV.6.2. Kriteria eksklusi 65
IV.6. Izin penelitian dan ethical clearance 66
IV.7. Cara kerja 66
IV.7.1. Alokasi subyek 66
IV.7.2. Cara penelitian 67
IV.7.2.1 Prosedur pemeriksaan 67
IV.7.3. Alur penelitian 70
IV.8. Identifikasi dan klasifikasi variabel 71
IV.9.1. Identifikasi variabel 71
IV.9.2. Klasifikasi variabel 71
IV.9. Definisi operasional dan kriteria obyektif 72
IV.9.1. Definisi operasional 72
IV.9.2. Kriteria obyektif 74
IV.10 Pengolahan dan analisis data 75
IV.10.1. Analisis univariat 76
IV.10.2. Analisis bivariat 76
IV. 10.3 Penilaian Hasil Uji Hipotesis 76
BAB V HASIL PENELITIAN 78
V.1. Jumlah Sampel 78
V.2. Karakteristik Sampel 79
V.3. Analisis Uji Realibilitas dan Validitas Dalam Mengukur Tinggi Badan,
Berat Badan dan Lingkar Perut 81
V.4 Hubungan Antara Jenis Kelamin dan Defisiensi Vitamin D 90
V.5 Hubungan Antara Jenis Kelamin dan Sindrom Metabolik 91
Hubungan Antara Status Pubertas dan Defisiensi Vitamin D 92
V.5 Hubungan Antara Status Pubertas dan Sindrom Metabolik 93
V.6 Hubungan Antara Defisiensi Vitamin D dengan Sindrom Metabolik 94
BAB VI PEMBAHASAN 97
BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN 109
VII.1 Kesimpulan 109
VII.2 Saran 110
DAFTAR PUSTAKA 112
ix

DAFTAR TABEL

Nomor Halaman

1. Nilai batasan untuk mengidentifikasi massa lemak batang tubuh dan 48


lingkar pinggang
2. Klasifikasi hipertensi pada anak usia 1 tahun atau lebih dan usia 55
remaja
3. Karakteristik sampel penelitian 78
4. Uji realibilitas intra-examiner dalam mengukur tinggi badan 80
5. Analisis valditas pengukuran tinggi badan inter-examiner 81
6. Uji korelasi Pearson verifikator dan peneliti 81
7. Uji realibilitas intra-examiner dalam mengukur berat badan 83
8. Analisis valditas pengukuran berat badan inter-examiner 84
9. Uji korelasi Pearson verifikator dan peneliti 84
10. Uji realibilitas intra-examiner dalam mengukur lingkar perut 86
11. Analisis valditas pengukuran berat badan inter-examiner 87
12. Uji korelasi Pearson verifikator dan peneliti 87
13. Nilai rerata kadar 25 (OH)D pada kelompok sindrom metabolic dan 89
tidak sindrom metabolik
14. Analisis frekuensi defisiensi vitamin D berdasarkan jenis kelamin 90
15. Analisis frekuensi sindrom metabolik berdasarkan jenis kelamin 91
16. Analisis frekuensi defisiensi vitamin D berdasarkan status pubertas 92
17. Analisis frekuensi sindrom metabolik berdasarkan status pubertas 93
18. Analisis hubungan defisiensi vitamin D dengan sindrom metabolik 94
19. Analisis hubungan status vitamin D dengan sindrom metabolik 95
x

DAFTAR GAMBAR

Nomor Halaman

1. Metabolisme Vitamin D 22

2. Reseptor Vitamin D pada membran sel 24

3. Efek vitamin D pada berbagai organ target 24

4. Mekanisme antihipertensi vitamin D 57


xi

DAFTAR SINGKATAN

Singkatan Arti dan Keterangan

1,25 (OH) 2D3 : 1, 25-dihidroksikolekalsiferol

25 (OH)D3 : 25-hidroksikolekalsiferol

AAP : American Academy of Pediatrics

ACE : Angiotensin Converting Enzyme

APO : Apo protein

BB : Berat Badan

BMI : Body Mass Index

BP : Blood Pressure

CDC : Center for Disease Control and Prevention

CVD : Cerebrovascular Disease

CYP24 : Sitokrom P24

CYP27B1 : Sitokrom P27B1

CYP2J2 : Sitokrom P2J2

DEXA : Dual-Energy X-Ray Absorptiometry

Dkk : Dan kawan-kawan

DM : Diabetes Melitus

DMT2 : Diabetes Mllitus Tipe 2

FBG : Fasting Blood Glucose

FGF : Fibroblast Growth Factor


xii

FK : Fakultas Kedokteran

HDL : High Density Lipoprotein

HDL-C : High density lipoprotein-cholesterol

IDAI : Ikatan Dokter Anak Indonesia

IDF : International Diabetes Federation

IDL : intermediate density lipoprotein

IFG : Impaired Fasting Glucose

IL-6 : Interleukin-6

IL-8 : Interleukin -8

IMT : Indeks Massa Tubuh

KMr : chylomicron remnant

LDL : Low Density Lipoprotein

LDL-C : Low Density Lipoprotein-Cholesterol

LLA : Lingkar Lengan Atas

LP : Lingkar Pinggang

LPS : Lipopolisakarida

MAPK : Mitogen Activating Protein Kinase

MCP-1 : Monocyte Chemoattractant Protein-1

NCEP : National Cholesterol Education Program

NCHS : National Centel for Health Statistics

NF-kB : Nuclear Factor kB

NHANES : National Health and Nutrition Examination Surveys

NIH : National Institutes of Health

OGTT : Oral Glucose Tolerance Test


xiii

OSA : Obstructive sleep apnea

PDAY : Pathological Determination of Atheroslerosis in Youth

PJK : Penyakit Jantung Koroner

PTH : Parathyroid Hormone

RAA : Renin-angiotensin-aldosteron

RAS : Renin-Angiotensin-System

RSCM : Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo

SD : Sekolah Dasar

SMA : Sekolah Menengah Atas

SMP : Sekolah Menengah Pertama

SRA : Scavenger Receptor A

SSO : Sistem Saraf Otonom

SSP : Sistem Saraf Parasimpatis

SSS : Sistem Saraf Simpatis

TB : Tinggi Badan

TD : Tekanan Darah

TG : Trigliserida

TH : Sel T Helper

TLK : Tebal Lipatan Kulit

TNF : Tumor Necrosis Factor

UI : Universitas Indonesia

USG : Ultrasonografi

UVB : Ultraviolet B

UWL : Unstirred water layer


xiv

VDR : Vitamin D Receptor

VLDL : Very low density lipoprotein

WC : Waist Circumference

WHO : World Health Organization


1

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Masalah

Sindrom metabolik adalah kelompok gejala abdominal, dislipidemia,

hiperglikemia, dan hipertensi. Sindrom ini merupakan kondisi yang sering

ditemukan pada dewasa. Peningkatan prevalensi sindrom metabolik pada

anak dan remaja sejalan dengan peningkatan prevalensi obesitas.

(Pulungan AB, 2014)

Obesitas atau gemuk didefinisikan sebagai suatu kelainan atau

penyakit yang ditandai dengan penimbunan jaringan lemak tubuh secara

berlebihan. Overweight adalah kelebihan berat badan dibandingkan

dengan berat badan ideal yang dapat disebabkan oleh penimbunan

jaringan lemak atau jaringan non lemak. (Sjarif D, 2014)

Vitamin D yang termasuk vitamin larut dalam lemak, merupakan

prohormon yang memiliki fungsi utama mengatur keseimbangan kalsium

untuk tubuh. Status vitamin D dalam tubuh ditentukan berdasarkan kadar

25(OH)D. Hal ini disebabkan karena masa paruh 25(OH)D cukup panjang

yaitu 2-3 minggu. Di samping itu 25(OH)D mudah diperiksa dan memiliki

kadar paling tinggi diantara metabolit vitamin D lainnya serta memiliki

korelasi yang kuat antara keadaan defisiensi 25(OH)D dengan gejala

klinis. Vitamin D dikatakan normal apabila kadar 25(OH)D berkisar antara


2

20-100 ng/mL. Dikatakan defisiensi berat apabila kadar 25(OH)D ≤ 5

ng/mL, defisiensi bila kadar 25(OH)D ≤ 15 ng/mL, dan insufisiensi bila

kadar 25(OH)D 15 – 20 ng/mL.(Sjarif D, 2014)

Anak obesitas adalah salah satu tantangan kesehatan masyarakat

paling serius pada abad ke-21. Peningkatan prevalensi ini sudah pada

tingkat yang mengkhawatirkan. Secara global, pada tahun 2010 jumlah

anak yang kelebihan berat badan di bawah usia lima tahun, diperkirakan

lebih dari 42 juta. Hampir 35 juta di antaranya hidup di negara

berkembang. (WHO, 2014) Prevalensi seluruh dunia masa kanak-kanak

kelebihan berat badan dan obesitas meningkat dari 4,2% pada tahun 1990

menjadi 6,7% pada tahun 2010. Tren ini diperkirakan akan mencapai

9,1% atau 60 juta, pada tahun 2020. Diperkirakan prevalensi dari masa

kanak-kanak kelebihan berat badan dan obesitas di Afrika pada tahun

2010 adalah 8,5% dan diperkirakan akan mencapai 12,7% pada tahun

2020. Prevalensi lebih rendah di Asia dibandingkan di Afrika (4,9% pada

tahun 2010), tetapi jumlah anak yang terkena (18 juta) lebih tinggi pada

Asia.(Onis M, 2010) Tingginya prevalensi overweight dan obesitas

memiliki konsekuensi kesehatan yang serius. Peningkatan indeks massa

tubuh merupakan faktor risiko utama untuk penyakit seperti penyakit

jantung, diabetes tipe 2 dan kanker (termasuk kanker kolorektal, kanker

ginjal dan kanker esofagus). Penyakit ini, sering disebut sebagai penyakit

tidak menular (non Communicable diseases), tidak hanya menyebabkan

kematian prematur tetapi juga morbiditas jangka panjang. Selain itu,


3

kelebihan berat badan dan obesitas pada anak dikaitkan dengan

penurunan kualitas hidup yang signifikan dan risiko mengalami intimidasi

dan isolasi sosial. Karena peningkatan prevalensi obesitas yang pesat,

gangguan dan konsekuensi kesehatan yang serius, obesitas menjadi

salah satu tantangan masalah kesehatan yang paling serius dari awal

abad ke-21.(WHO, 2012) Kekurangan vitamin D, seperti yang ditunjukkan

oleh konsentrasi serum 25 (OH) D di bawah 20 ng / mL, umumnya

ditemukan pada anak dengan obesitas, dan menjadi risiko terjadinya

sindrom metabolik. Dengan meningkatnya prevalensi obesitas dan

kelebihan berat badan di seluruh dunia, terutama pada anak-anak dan

remaja, “ prematur metabolik sindrom” menjadi pusat perhatian dari

perspektif kesehatan masyarakat. Sindrom metabolik diakui sebagai

pengelompokan faktor risiko obesitas, resistensi insulin, dislipidemia dan

hipertensi terkait dengan perkembangan selanjutnya penyakit

serebrovaskular dan diabetes mellitus tipe 2 (DMT2). (Alfawaz, 2013)

Prevalensi sindrom metabolik berkisar 2-9,4%, pada remaja dan 12,4

– 44,2% pada remaja obes di Amerika Serikat berdasarkan National

Health and Nutrition Examination Survey 1999-2002, tergantung definisi

yang digunakan, sedangkan penelitian De Armas dkk, mendapatkan

prevalensi sindrom metabolik pada anak dan remaja obes di Spanyol

19,6% dengan menggunakan kriteria International Diabetes Federation

(IDF). Tiga penelitian mengenai prevalensi sindrom metabolik pada anak

overweight dan obesitas telah dilakukan di Indonesia dengan


4

menggunakan kriteria NCEP-ATP III dan kriteria IDF. Penelitian di Jakarta

mendapatkan prevalensi sindrom metabolik 34% pada remaja obes

berusia 10-19 tahun dan di Manado mendapatkan prevalensi 23% pada

anak remaja overweight dan obes usia 10-14 tahun dengan menggunakan

kriteria NCEP-ATP III. Penelitian lain di Jakarta mendapatkan prevalensi

sindrom metabolik 19,6 % pada remaja obes usia 12-15 tahun dengan

menggunakan kriteria IDF. (Pulungan AB, 2014)

Bioavaibilitas vitamin D pada subyek obesitas rendah karena

deposisi atau sekuestrasi dalam jaringan lemak dan massa lemak tubuh

yang lebih tinggi dikaitkan dengan risiko kekurangan vitamin D.

Peningkatan jaringan lemak pada obesitas akan meningkatkan sekresi

leptin yang selanjutnya akan menstimulai fibroblast growth factor 23 (FGF

23). FGF 23 akan menghambat sintesis enzim 1  hydroksilase dengan

konsekuensi gangguan produksi 1,25(OH)D3. (Souza, 2015) Mekanisme

tersebut mengakibatkan rendahnya kadar vitamin D dalam sirkulasi.

Reseptor vitamin D merupakan kelompok reseptor nuklir hormon steroid

yang mengikat 1,25 (OH)2D3 dengan afinitas tinggi dan memediasi

regulasi transkripsi gen menghasilkan respon genomik. (Hollick, 2006)

VDR pada membran plasma memediasi kerja dari 1,25 (OH)2D3 VDR dan

telah diidentifikasi terdapat di sebagian besar jaringan manusia, termasuk

jaringan yang berkaitan dengan homeostasis kalsium dan metabolisme

tulang. Termasuk osteoblas, keratinosit kulit, limfosist, sel dendritik, otot

skeletal, jaringan adiposit, makrofag, otot polos, sel β pankreas dan sel
5

epitel dan juga berbagai sel-sel sistem kekebalan tubuh termasuk

diabetes mellitus tipe 1. Metabolit vitamin D berperan pula dalam menekan

ekspresi gen renin melalui pengurangan aktivitas elemen respon cAMP.

Pengaruh metabolit vitamin D pada kedua fungsi endotel dan RAS

menunjukkan peran penting dalam kontrol fisiologis tonus pembuluh darah

dan tekanan darah yang berperanan pada patofisiologi terjadinya

hipertensi yang merupakan salah satu komponen sindrom metabolik.

Berbagai tempat ekspresi VDR mendasari efek beragam vitamin D dan

memberikan dasar mekanistik hubungan antara kekurangan vitamin D dan

sejumlah gangguan, termasuk penyakit kardiovaskuler, diabetes (tipe 1

dan tipe 2 ), resistensi insulin dan sindrom metabolik. (Hollick, 2006, Roth

C et.al, 2011). Berdasarkan hal tersebut di atas, maka penting dilakukan

penelitian mengenai hubungan antara defisiensi vitamin D dengan

sindrom metabolik pada anak obes.

Hasil –hasil penelitian sebelumnya, masih memberikan hasil yang

beragam terhadap hubungan defisiensi vitamin D dengan sindrom

metabolik sehingga penelitian yang berhubungan dengan hal tersebut di

atas masih perlu dilakukan. Pemeriksaan kadar vitamin D dan komponen

sindrom metabolik juga dilakukan untuk mengenali secara dini dan

mendeteksi gangguan organ yang terjadi sehingga prematur sindrom

metabolik dapat dicegah terkait sehubungan dengan meningkatnya angka

morbiditas dan mortalitas terkait sindrom metabolik pada anak, sehingga

penulis menganggap perlu dilakukan penelitian untuk menilai hubungan


6

antara defisiensi vitamin D dengan sindrom metabolik pada anak dengan

obesitas. Sepengetahuan penulis penelitian tersebut belum pernah

dilakukan di Indonesia.

I.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian dalam latar belakang di atas, maka dapat

dirumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut :

1. Berapa kadar (25(OH)D pada anak obes dengan sindrom

metabolik ?

2. Berapa kadar (25(OH)D pada anak obes tanpa sindrom metabolik ?

3. Berapa frekuensi kejadian sindrom metabolik pada anak obes

dengan defisiensi vitamin D ?

4. Berapa frekuensi kejadian sindrom metabolik pada anak obes

dengan status vitamin D normal ?

5. Apakah ada hubungan antara defisiensi vitamin D dengan sindrom

metabolik pada anak obes ?

I.3 Tujuan Penelitian

I.3.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui hubungan antara defisiensi vitamin D dengan

sindrom metabolik pada anak obes.


7

I.3.2 Tujuan Khusus

1. Mengukur kadar 25 (OH)D pada anak obes dengan

sindrom metabolik

2. Mengukur kadar 25 (OH)D pada anak obes tanpa sindrom

metabolik

3. Menentukan frekuensi kejadian sindrom metabolik pada

anak obes dengan defisiensi vitamin D

4. Menentukan frekuensi kejadian sindrom metabolik pada

anak obes dengan status vitamin D normal

5. Membandingkan kadar 25 (OH)D antara anak obes dengan

sindrom metabolik dengan anak obes tanpa sindrom

metabolik

6. Membandingkan frekuensi kejadian sindrom metabolik antara

anak obes dengan defisiensi vitamin D dengan anak obes

dengan status vitamin D normal.

I. 4 Hipotesis Penelitian

 Kadar 25 (OH)D pada anak obes dengan sindrom metabolik


lebih rendah dibandingkan pada anak obes tanpa sindrom
metabolik
 Frekuensi kejadian sindrom metabolik lebih tinggi pada

kelompok anak obes dengan defisiensi vitamin D

dibandingkan kelompok anak obes dengan status vitamin D

normal
8

I.5 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan akan memberi manfaat sebagai

berikut :

1. Manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan

a. Meningkatkan pengetahuan kita tentang hubungan

antara kadar vitamin D dengn obesitas pada anak

b. Memberikan informasi baru tentang anak obes

dengan sindrom metabolik akibat defisiensi vitamin D

c. Sebagai dasar penelitian lebih lanjut dalam bidang

patomekanisme dan patobiologik terjadinya sindrom

metabolik pada anak obes dengan defisiensi vitamin D

2. Manfaat untuk pengembangan / pemecahan masalah

medis

a. Memberikan informasi dasar tentang frekuensi

defisiensi vitamin D pada anak obes dengan sindrom

metabolik yang dapat digunakan sebagai sasaran

pengobatan di masa depan sekaligus mampu

mencegah berbagai efek yang diakibatkan oleh

masalah tersebut.

b. Mengurangi menurunkan angka kesakitan dan

kematian yang berkaitan dengan sindrom metabolik

akibat defisiensi vitamin D dengan perbaikan stus gizi

anak dan suplementasi vitamin D.


9

3. Data Penelitian selanjutnya

Sebagai tambahan data untuk penelitian-penelitian

selanjutnya di bidang nutrisi dan metabolik dan khususnya

yang berhubungan dengan long term comorbidity yang

disebabkan oleh defisiensi vitamin D pada usia kanak-kanak


10

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Obesitas

II.1.1 Definisi

Obesitas dan overweight merupakan dua istilah yang menyatakan

adanya kelebihan berat badan. Saat ini, obesitas atau gemuk

didefinisikan sebagai suatu kelainan atau penyakit yang ditandai dengan

penimbunan jaringan lemak tubuh secara belebihan. Overweight adalah

kelebihan berat badan dibandingkan dengan berat ideal yang dapat

disebabkan oleh penimbunan jaringan lemak atau jaringan non lemak,

misalnya pada atlit binaragawan kelebihan berat badan dapat disebabkan

oleh hipertrofi otot. (Sjarif D,2014)

Saat lahir, bayi manusia mengandung lemak tubuh sekitar 12%.

Selama tahun-tahun pertama kehidupan, lemak tubuh meningkat dengan

cepat mencapai puncak sekitar 25% usia 6 bulan dan kemudian menurun

menjadi 18% selama 10 tahun ke depan. Pada masa pubertas, ada

peningkatan yang signifikan dalam persentase lemak tubuh pada wanita

dan jarang pada laki-laki. Tubuh manusia mengandung lemak esensial

dan non esensial dalam bentuk trigliserida yang disimpan dalam sel-sel

jaringan lemak dikenal sebagai adiposit. Obesitas didefinisikan sebagai

kondisi kelebihan patologis dari lemak tubuh. Obesitas terjadi ketika ada

perbedaan antara asupan energi dan keluaran energi. Pengukuran


11

langsung dari kandungan lemak tubuh, yaitu dengan hidrodensitometri,

bio impedansi atau DEXA. Namun,dengan menghitung indeks massa

tubuh (IMT) yaitu berat dalam kilogram dibagi dengan kuadrat tinggi dalam

meter, dinilai cukup untuk menentukan kegemukan. Oleh karena itu,

indeks massa tubuh sering digunakan untuk mendefinisikan obesitas

klinis. (Aycan Z, 2009)

II.1.2 Kriteria Obesitas

Bentuk fisik obesitas dibedakan menurut distribusi lemak yaitu bila

lebih banyak lemak di bagian atas tubuh (dada dan pinggang) maka

disebut apple shape body (android), dan bila lebih banyak lemak dibagian

bawah tubuh pinggul dan paha disebut pear shape body (gynoid). Bentuk

yang pertengahan adalah intermediate apple shape cenderung berisiko

lebih besar mengalami penyakit kardiovaskuler, hipertensi dan diabetes

dibandingkan pear shape. Berdasarkan antropometris, umumnya obesitas

pada anak ditentukan berdasarkan tiga metode pengukuran sebagai

berikut :

1. Mengukur berat badan dan hasilnya dibandingkan dengan berat

badan ideal sesuai tinggi badan (BB/TB). Obesitas pada anak

didefinisikan sebagai berat badan menurut tinggi badan di atas

persentil 90, atau 120% dibandingkan berat badan ideal.

Sedangkan berat badan lebih besar daripada 140% berat badan

ideal didefinisikan sebagai superobesitas.(Sjarif D,2014)


12

2. The world Health Organization (WHO) pada tahun 1997, The

National Institutes of Health (NIH) pada tahun 1998 dan The Expert

Committee on Clinical Guidelines for Overweight in adolescent

Services telah merekomendasikan Body Mass Index atau indeks

massa tubuh (IMT) sebagai baku pengukuran obesitas pada anak

dan remaja di atas usia 2 tahun. Anak-anak dengan IMT terhadap

usia terletak pada atau di atas persentil ke-95 dianggap obesitas,

dan untuk kelebihan berat badan (overweigth), IMT terletak antara

persentil ke-85 hingga 95 (Polhamus, 2009)

Pada tahun 2006, WHO mengeluarkan kurva baru IMT menurut

umur dan jenis kelamin usia 0-5 tahun berdasarkan hasil

pengamatan jangka panjang anak-anak yang tumbuh dalam

lingkungan yang optimal di benua Asia, Afrika, Eropa, Amerika

Latin dan Amerika Utara. Klasifikasi yang digunakan adalah

berdasarkan Z score sebagai berikut : 0 – 5 tahun Z score ≥ + 1

berpotensi gizi lebih, ≥ +2 gizi lebih (overweight) dan ≥ +3 obesitas.

Sedangkan untuk usia 5 – 19 tahun menggunakan WHO Reference

2007 yaitu Z score ≥ +1 diklasifikasikan sebagai gizi lebih

(overweight) dan Z score ≥ +2 sebagai obesitas.(Sjarif D, 2014)

3. Pengukuran langsung lemak subkutan yaitu dengan mengukur

tebal lipatan kulit (TLK). Terdapat empat macam cara pengukuran

TLK yang ideal untuk mendapatkan proporsi lemak tubuh yaitu TLK

biseps, triseps, subkapsular, dan suprailiaka. Tebal lipatan kulit


13

triseps di atas persentil ke- 85, merupakan indikator adanya

obesitas. (Sjarif, 2014)

Lingkar pinggang, sebagai penanda obesitas viseral, telah

ditambahkan untuk memperbaiki ukuran risiko obesitas terkait.

Lingkar pinggang tampaknya lebih akurat untuk anak-anak karena

target obesitas sentral, yang merupakan faktor risiko untuk diabetes

tipe II dan penyakit jantung koroner. Meskipun mekanisme

perkembangan obesitas tidak sepenuhnya dipahami, hal ini

menegaskan bahwa obesitas terjadi ketika asupan energi melebihi

pengeluaran energi. (Dehghan, 2005)

II.1.2 Epidemiologi

Anak obesitas adalah salah satu tantangan kesehatan masyarakat

paling serius dari abad ke-21. Prevalensi meningkat pada tingkat yang

mengkhawatirkan. Secara global, pada tahun 2010 jumlah anak yang

kelebihan berat badan di bawah usia lima tahun, diperkirakan lebih dari 42

juta. Hampir 35 juta di antaranya hidup di negara berkembang. (WHO,

2012) Prevalensi seluruh dunia, pada masa kanak-kanak, kelebihan berat

badan dan obesitas meningkat dari 4,2% pada tahun 1990 menjadi 6,7%

pada tahun 2010. Tren ini diperkirakan akan mencapai 9,1% atau 60 juta,

pada tahun 2020. Diperkirakan prevalensi dari masa kanak-kanak

kelebihan berat badan dan obesitas di Afrika pada tahun 2010 adalah

8,5% dan diperkirakan akan mencapai 12,7% pada tahun 2020.


14

Prevalensi lebih rendah di Asia dibandingkan di Afrika (4,9% pada tahun

2010), tetapi jumlah anak yang terkena (18 juta) lebih tinggi pada Asia.

(WHO, 2012) Di Indonesia, prevalensi obesitas pada balita menurut

SUSENAS menunjukkan peningkatan, pada tahun 1992 prevalensi

obesitas 4,6% laki-laki dan 5,9% perempuan. Prevalensi obesitas tahun

1995 di 27 provinsi adalah 4,6%. Penelitian yang dilakukan oleh Tinuk

(2002) menunjukkan prevalensi obesitas anak di tiga SD swasta di

kawasan Jakarta Timur sebesar 27,5%. Data penelitian multisenter tahun

2004 yang dilakukan di 10 kota didapatkan prevalensi obesitas pada anak

usia sekolah dasar sekitar 12%. (Sjarif, 2014)

Tingginya prevalensi obesitas memiliki konsekuensi kesehatan yang

serius. Indeks massa tubuh yang berlebih merupakan faktor risiko utama

untuk penyakit seperti penyakit jantung, diabetes tipe 2 dan kanker

(termasuk kanker kolorektal, kanker ginjal dan kanker esofagus). Penyakit

ini, sering disebut sebagai penyakit tidak menular (non communicable

diseases), tidak hanya menyebabkan kematian prematur tetapi juga

morbiditas jangka panjang. Selain itu, obesitas pada anak dikaitkan

dengan peunurunan kualitas hidup yang signifikan dan risiko mengalami

intimidasi dan isolasi sosial. Karena peningkatan prevalensi obesitas yang

pesat, dan konsekuensi kesehatan yang serius, obesitas menjadi salah

satu tantangan masalah kesehatan yang paling serius dari awal abad ke-

21. (WHO 2012)


15

II.1.3 Etiologi dan Patogenesis Obesitas

Menurut teori termodinamik, obesitas terjadi karena

ketidakseimbangan antara asupan energi dengan keluaran energi (energy

expenditure) sehingga terjadi kelebihan energi yang selanjutnya disimpan

dalam bentuk jaringan lemak. Ada beberapa etiologi untuk

ketidakseimbangan ini, sehingga peningkatan prevalensi obesitas tidak

dapat di atasi dengan etiologi tunggal. Faktor genetik mempengaruhi

kerentanan anak terhadap lingkungan obesitas. Namun, faktor lingkungan,

preferensi gaya hidup, dan lingkungan budaya tampaknya memainkan

peran utama dalam meningkatnya prevalensi obesitas di seluruh dunia.

Dalam sejumlah kecil kasus, obesitas disebabkan penyebab medis seperti

hipotiroidisme dan defisiensi hormon pertumbuhan atau efek samping

akibat obat misalnya steroid, namun pilihan gaya hidup pribadi dan

budaya lingkungan berpengaruh secara signifikan terhadap obesitas.

Obesitas dapat dibagi dalam dua macam menurut patogenesis, yaitu

regulatory obesity dan metabolic obesity. Pada regulatory obesity,

gangguan primernya terletak pada pusat yang mengatur masukan

makanan (central mechanism regulating food intake), misalnya gangguan

pada hipotalamus, sedangkan pada metabolik obesity terdapat kelainan

pada metabolisme lemak dan karbohidrat, misalnya pada obesitas karena

kelainan genetik (Subardja dkk, 2010).

Telah dihipotesiskan bahwa penurunan aktivitas fisik di antara

semua kelompok umur telah banyak memberikan kontribusi untuk


16

peningkatan tingkat obesitas di seluruh dunia. Aktivitas fisik sangat

dipengaruhi kenaikan berat badan dalam studi kembar monozigot.

Sejumlah penelitian telah menunjukkan bahwa perilaku menetap seperti

menonton televisi dan bermain game komputer yang berhubungan

dengan peningkatan prevalensi obesitas. (Dehghan dkk, 2005)

Secara garis besar, penyebab obesitas antara lain :

1. Faktor Genetik

Faktor genetik telah diketahui mempunyai peranan kuat yaitu parental

fatness, anak yang obes biasanya berasal dari keluarga dengan

obesitas. Bila kedua orang tua obes, 80% anaknya menjadi obes, bila

salah satu orang tua obes, kejadian obes menjadi 40% dan bila kedua

orang tua tidak obes maka prevalensinya menjadi 14% (Skelton

danRudolph, 2007) (Robinson dan Dietz, 2006). Peningkatan risiko

menjadi obes tersebut kemungkinan disebabkan oleh pengaruh gen

atau faktor lingkungan dalam keluarga. Ada tujuh gen diketahui

menyebabkan obesitas pada manusia yaitu gen leptin receptor,

melanocortin receptor-4 (MC4R), alpha-melanocyte stimulating

hormone (alpha-MSH), prohormone convertase-1 (PCI), Leptin,

Bardert-Biedl, dan Dunnigan partial lypodystrophy (Skelton, Rudolph,

2007). Faktor genetik yang secara langsung meyebabkan obesitas

adalah pada penyakit seperti Prader-Willi syndrome, Bardet-Biedl

synndrome dan Cohen syndrome. (AAP, 2003)


17

Pada bangsa atau suku tertentu, kadang terlihat banyak warganya

yang menderita obesitas. Dalam hal ini sukar untuk menentukan faktor

yang lebih menonjol, merupakan pengaruh genetik atau latar belakang

kebudayaannya seperti makan makanan yang mengandung banyak

energi.(Pudjadi, 2000) Mekanisme kerentanan genetik terhadap

obesitas berefek pada resting metabolik rate, thermogenesis non

exercise, kecepatan oksidasi lipid, dan kontrol nafsu makan yang

jelek. Dengan demikian kerentanan terhadap obesitas ditentukan

secara genetik sedangkan lingkungan menentukan ekspresi fenotip.

(Harrison dkk., 2005; Skelton dan Rudolph, 2007).

2. Faktor Endokrin

Faktor endokrin sebagai penyebab ditemukan hanya sekitar kurang

dari 1% obesitas anak dan remaja, beberapa di antaranya adalah

hipotiroid, kelebihan kortisol (penggunaan kortikosteriod, Sindrom

Cushing), defisiensi hormon pertumbuhan, dan lesi hipotalamus

(infeksi, malformasi vaskuler, neoplasma atau trauma). Selain itu,

meningkatnya angka kejadian diabetes melitus pada kehamilan dapat

mengakibatkan meningkatnya kejadian obesitas anak. (Nurul, 2009).

3. Faktor Nutrisional

Peranan faktor nutrisional terhadap obesitas sangat besar, terutama

asupan tinggi kalori yang berasal dari karbohidrat dan lemak. Faktor

nutrisional mulai berperan sejak dalam kandungan (Harrison dkk.,


18

2005). Jumlah lemak tubuh dan pertumbuhan bayi dipengaruhi saat

pertama kali mendapat makanan padat, asupan tinggi kalori dari

karbohidrat dan lemak, serta kebiasaan makan makanan yang

mengandung kalori tinggi (Maffeis dkk., 2001). Penelitian di Amerika

dan Finlandia menunjukkan bahwa kelompok dengan asupan lemak

yang tinggi mempunyai risiko peningkatan berat badan lebih besar

dibandingkan kelompok asupan lemak yang rendah. Keadaan ini

disebabkan karena makanan berlemak mempunyai energy density

lebih besar dan tidak mengenyangkan, serta mempunyai efek

termogenesis yang lebih kecil dibandingkan makanan yang banyak

mengandung protein dan karbohidrat. Makanan berlemak mempunyai

rasa yang lezat sehingga akan meningkatkan selera makan yang

akhirnya menyebabkan makan berlebihan (Hidayati, Irawan, Hidayat,

2004; Harrison dkk.,2005).

Anak-anak zaman sekarang mempunyai kebiasaan makan makanan

instan, makanan cepat saji, dan minuman yang mengandung kaya

gula, dibandingkan makanan sehat dan segar seperti sayur-sayuran

dan buah-buahan. Kebiasaan lain adalah makan makanan camilan

yang banyak mengandung gula sambil menonton televisi dan makan

tidak pada saat lapar sehingga menyebabkan anak mudah menderita

obesitas.(Pandher dkk., 2004; Styne, 2001).


19

4. Aktivitas Fisik

Aktivitas fisik merupakan komponen utama dari energy expenditure,

yaitu sekitar 20-50% dari total energy expenditure. Penelitian di

negara maju menemukan adanya hubungan antara aktivitas fisik yang

rendah dengan kejadian obesitas (Harrison dkk., 2005). Phander,

dkk. melakukan penelitian pada anak sekolah umur 7-9 tahun dan

menemukan bahwa anak yang kurang aktivitas cenderung menderita

overweight atau obesitas (Pandher dkk., 2004).

Pada beberapa tahun terakhir terlihat adanya perubahan gaya hidup

yang menjurus pada penurunan aktivitas fisik seperti ke sekolah

dengan naik kendaraan, kurangnya aktivitas bermain dengan teman,

dan lingkungan rumah yang tidak memungkinkan anak-anak bermain

di luar rumah, sehingga anak lebih senang bermain komputer /

games, nonton televisi atau video dibandingkan melakukan aktivitas

fisik (AAP, 2003; Harrison dkk., 2005).

5. Faktor Psikologis

Gangguan psikologis merupakan salah satu penyebab penting pada

obesitas anak dan remaja. Ada sebagian anak yang makan terlalu

banyak sebagai pelampiasan dan kompensasi terhadap masalahnya

terutama masalah emosi, stres atau kebosanan.(Pudjadi, 2000)


20

6. Sosial Ekonomi

Di negara maju, obesitas banyak terjadi pada tingkat sosial ekonomi

yang rendah, sedangkan di negara berkembang, kejadian obesitas

meningkat sesuai dengan tingkatan sosialnya. Perubahan

pengetahuan, sikap, perilaku dan gaya hidup, pola makan, serta

peningkatan pendapatan mempengaruhi pemilihan jenis dan jumlah

makanan yang dikonsumsi (Hidayati dkk., 2004). Di daerah perkotaan

saat ini, banyak ditemukan ibu yang berperan ganda sebagai ibu

rumah tangga dan sekaligus sebagai wanita karir. Keadaan ini

berpengaruh pada pola makan dan jenis makanan yang dikonsumsi

anggota keluarga. Frekuensi makan di luar rumah cenderung

meningkat, dan tersedianya makanan cepat saji yang mengandung

kalori dan lemak yang tinggi sering menjadi pilihan para orangtua

maupun anak. (Styne, 2001)

II.2 Vitamin D

II.2.1 Sumber Vitamin D

Vitamin D merupakan vitamin yang larut dalam lemak, merupakan

prohormon yang memiliki fungsi utama mengatur keseimbangan kalsium

tubuh. Dua bentuk utama vitamin D adalah vitamin D2 (ergocalciferol) dan

vitamin D3 (cholecalciferol). Namun, vitamin D3 adalah satu-satunya

bentuk yang ditemukan secara alami pada manusia dan hewan lainnya.

Selain bersumber dari bahan hewani, vitamin D3 bisa diproduksi oleh


21

tubuh sendiri melalui paparan sinar ultraviolet B (UVB) yang memiliki

panjang gelombang 290-320 nm, yang berasal dari sinar matahari yang

mengkonversi 7-dehydrocholesterol di kulit menjadi pre vitamin D3.

Sumber makanan utama vitamin D termasuk ikan berminyak, kuning telur

dan susu yang diperkaya vitamin D. American Academy of Pediatrics

tahun 2008 merekomendasikan asupan vitamin D sebesar 400 IU per hari

untuk mempertahankan kadar 25 (OH) D3 serum > 50 nmol/L. (Wagner

dan Greer, 2008)

Vitamin D diketahui diperlukan untuk metabolisme tulang. Namun,

ada beberapa Vitamin D dari sumber makanan yang tersedia untuk

memenuhi kebutuhan harian yang direkomendasikan. Selain itu, banyak

faktor individu dan lingkungan yang mengganggu paparan sinar matahari

yang cukup untuk memproduksi vitamin D endogen. Selama empat

dekade terakhir, semakin banyak bukti ilmiah yang menghubungkan

kekurangan vitamin D terhadap berbagai penyakit kronis termasuk

hipertensi, disfungsi kekebalan tubuh, kanker, diabetes, dan penyakit

kardiovaskular. Pada remaja, hubungan ini baru mulai dieksplorasi. Oleh

karena banyak akibat yang ditemukan sebagai konsekuensi dari

kekurangan vitamin D yang terjadi dari waktu ke waktu, pencegahan harus

dimulai di masa kanak-kanak. (Santonge dkk., 2009)


22

II.2.2 Metabolisme Vitamin D

Vitamin D3 disintesis di kulit dari 7-dehydrocholesterol melalui

paparan radiasi ultraviolet B menjadi pre-vitamin D (pre cholecalciferol)

kemudian dikonversi menjadi vitamin D3 (cholecalciferol) melalui

isomerisasi termal. Meskipun sumber utama vitamin D3 adalah melalui

sintesis endogen di kulit, vitamin ini juga bisa diperoleh dari makanan dan

ini penting bagi mereka yang jarang terpapar sinar matahari. Vitamin D3,

apakah berasal dari sinar matahari maupun dari diet, memasuki sirkulasi

berikatan dengan protein yang mengikat vitamin D dan diangkut ke hati.

Vitamin D3 mengalami hidroksilasi di hati untuk membentuk 25-

hidroksikolekalsiferol (25 (OH) D3), sebagai metabolit utama yang berada

di sirkulasi, 25 (OH) D3 kemudian dihidroksilasi oleh enzim 1-

hidroksilase (gen: CYP27B1), dan ini terjadi terutama di ginjal untuk

menghasilkan 1, 25-dihidroksikolekalsiferol (1,25 (OH) 2D3), bentuk

biologis aktif vitamin D. Dalam studi in vivo telah menunjukkan bahwa

katabolisme vitamin D dan metabolitnya kebanyakan terjadi di hati melalui

berbagai enzim sitokrom P450 yang menghasilkan sejumlah katabolit 24-

hidroksilase (gen: CYP24), sitokrom enzim P450 yang mengandung

mitokondria, mengkatalisis beberapa tahap degradasi 1,25 (OH) 2D3

melalui 24-hidroksilasi dan pembentukan asam calcitrioic. (Dong Y,

Jorgensen, 2010, Christakos dan Ajibade, 2010, Strange RC dkk., 2015)


23

Gambar 1. Metabolisme vitamin D (Dong Y, Jorgensen, 2010)

II.2.2 Reseptor Vitamin D

Reseptor vitamin D (VDR) adalah reseptor nuklir hormon steroid

yang mengikat 1,25 (OH)2D3 dengan afinitas tinggi dan memediasi

regulasi transkripsi gen. (Hollick, 2006) VDR mengikat 1,25 (OH)2D3

dengan afinitas dan spesifitas yang tinggi, yang kemudian mengalami

heterodimerisasi dengan reseptor retinoid X. Setelah heterodimer yang

mengikat dengan elemen respon vitamin D dalam gen target,

menghasilkan respon genomik. Selain itu, ada juga VDR pada membrane

plasma yang memediasi kerja dari 1,25 (OH)2D3 VDR dan telah

diidentifikasi terdapat di sebagian besar jaringan manusia, termasuk

jaringan yang berkaitan dengan homeostasis kalsium dan metabolisme


24

tulang. Termasuk osteoblas, keratinosit kulit, limfosist, sel dendritik, otot

skeletal, jaringan adiposit, makrofag, otot polos, sel β pankreas dan sel

epitel dan juga berbagai sel-sel sistem kekebalan tubuh. Varian genetik

dari gen yang mengkode VDR juga telah dikaitkan dengan risiko besar

menderita kanker dan gangguan kekebalan tubuh, termasuk diabetes

mellitus tipe 1. Berbagai tempat ekspresi VDR mungkin mendasari efek

beragam vitamin D dan memberikan dasar mekanistik hubungan antara

kekurangan vitamin D dan sejumlah gangguan, termasuk jenis kanker

tertentu, penyakit radang usus, penyakit kardiovaskuler, diabetes (tipe 1

dan tipe 2 ), resistensi insulin dan sindrom metabolik. (Hollick, 2006, Roth

C dkk., 2011)

Gambar 2. Reseptor vitamin D pada membran sel (Hollick, 2006)


25

Gambar 3. Efek vitamin D pada berbagai organ target (Hollick, 2006)

II.2.4 Defisiensi Vitamin D

Status klinis vitamin D biasanya dinilai dengan pengukuran kadar

serum 25 (OH) D3, bentuk utama vitamin D dalam sirkulasi, dengan waktu

paruh antara 15 sampai 50 hari. (Ding C, 2012) Vitamin D dikatakan

normal apabila kadar 25(OH)D3 berkisar antara 20-250 nmol/L atau 20-

100 ng/mL. Dikatakan defisiensi berat apabila kadar 25(OH)D ≤ 12,5

nmol/L (5 ng/mL), defisiensi bila kadar kadar 25(OH)D < 37,5 nmol/L (15

ng/mL), dan insufisiensi bila kadar 25(OH)D 37,5 -50 nmol/L (15 – 20)

ng/mL.(Sjarif D, 2014). Kadar 25-hydroxyvitamin D 20 ng / mL terkait

dengan tidak adanya rakhitis dan osteomalacia pada 98% dari populasi di

semua kelompok umur. Mengingat bahwa kadar optimal 25-


26

hydroxyvitamin-D untuk menentukan kekurangan vitamin D mungkin

berbeda untuk hasil non skeletal, Bogacka dkk memperkiraan prevalensi

kekurangan vitamin D pada kadar < 30 ng / mL dan defisiensi berat

pada kadar < 12 ng / mL. (Bogacka, 2011)

II.3. Sindrom Metabolik

II.3.1 Definisi

Sindrom metabolik adalah kelompok gejala abdominal, dislipidemia,

hiperglikemia dan hipertensi. Sindrom ini merupakan kondisi yang sering

ditemukan pada dewasa. Peningkatan prevalensi sindrom metabolik pada

anak dan remaja sejalan dengan peningkatan prevalensi obesitas.

Prevalensi sindrom metabolik berkisar 2 – 9,4% pada remaja dan 12,4 –

44,2% pada remaja obes di Amerika Serikat berdasarkan National Health

and Nutrition Examination Survey 1999-2000, tergantung definisi yang

digunakan, sedangkan penelitian de Armas dkk mendapatkan prevalensi

sindrom metabolik pada anak dan remaja obes di Spanyol 19,6%, dengan

menggunakan kriteria International Diabetes Federation (IDF).(Pulungan

A, 2014)

Kriteria sindrom metabolik yang dimodifikasi menurut IDAI adalah

obesitas abdominal yang ditandai dengan lingkar pinggang ≥ P80 menurut

Taylor dkk dan ditambah dengan lebih atau sama dengan dua parameter

berikut:
27

1. Tekanan darah :

Hipertensi adalah nilai rata-rata tekanan darah sistolik dan atau

diastolik lebih dari persentil ke-95 berdasarkan jenis kelamin, usia, dan

tinggi badan (The Fourth Report on the Diagnosis, Evaluation, and

Treatment of High Blood Pressure in Children and Adolescent).

2. Kadar kolesterol HDL

Kadar kolesterol HDL ≤ 40 mg/dL (semua usia/jenis kelamin, NCEP)

3. Kadar trigliserida

Kadar trigliserida ≥ 110 mg/dL (spesifik terhadap usia, NCEP)

4. Kadar glukosa darah puasa

Glukosa darah puasa ≥ 100 mg/dL atau terdiagnosis DMT2 (IDF).

Kadar glukosa darah puasa ≥ 100 mg/dL menunjukkan bahwa

anak/remaja tersebut telah mengalami gangguan kadar glukosa darah

puasa (impaired fasting glucose), suatu kondisi yang termasuk dalam

diagnosis pra-diabetes. Anak atau remaja ini perlu menjalani tes

toleransi glukosa oral/oral glucose tolerance test (OGTT) untuk

menyingkirkan kemungkinan anak atau remaja tersebut sudah

menderita DMT2. Bila anak belum mampu puasa ≥ 8 jam, sebagai ganti

kadar glukosa darah puasa dapat dilakukan pemeriksaan HbA1c. Anak

tersebut didiagnosis menderita pra-diabetes bila mempunyai kadar

HbA1c ≥ 5,7%. (Pulungan A, 2009)


28

II.3.2 Vitamin D dan Obesitas

Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa adanya hubungan

antara obesitas dengan defisiensi vitamin D. Yao dkk 2015, melalui suatu

penelitian meta analisis terhadap 3867 subyek obesitas dari berbagai

subkelompok dan 9342 subyek tanpa obesitas. Meta analisis ini

menunjukkan adanya hubungan defisiensi vitamin D dengan obesitas

dengan odds ratio 3,43 (2,33 – 5,06) dibadingkan dengan kelompok

kontrol . (Yao Y dkk., 2015)

Seseorang dengan obesitas cenderung memiliki kadar serum 25 (OH)

D3 yang rendah. Serum 25 (OH) D3 yang ditemukan berbanding terbalik

dengan pengukuran obesitas, termasuk indeks massa tubuh, massa

lemak dan lingkar pinggang. Kadar 25 (OH) D3 yang lebih rendah pada

individu dengan obesitas disebabkan oleh karena penyerapan yang lebih

besar oleh jaringan adiposa, hal ini sesuai dengan hipotesis bahwa karena

vitamin D adalah vitamin yang larut dalam lemak, sehingga vitamin D

tersebut diasingkan dan disimpan dalam jaringan lemak dan otot dan

kemudian dilepaskan secara perlahan ke dalam sirkulasi sehingga

kadarnya dalam sirkulasi rendah. Salah satu mekanisme kerja utama vitamin

D dalam jaringan adiposa manusia adalah melalui ekspresi enzim metabolisme

vitamin D seperti enzim 25-hidroksilase CYP2J2, CYP27B1, dan CYP24. Enzim

tersebut memiliki kapasitas untuk metabolisme vitamin D secara lokal. Hal ini

dibuktikan, setelah penurunan berat badan pada pasien obesitas, kadar 25

(OH) D3 serum meningkat dan tingkat ekspresi 25-hidroksilase CYP2J2 dan 1α-

hidroksilase CYP27B1 menurun dalam jaringan adiposa. Pada penelitian


29

double-blind terkontrol plasebo terkini, suplemen diet dengan Ca dan

vitamin D selama 16 minggu dikaitkan dengan penurunan lemak viseral

pada orang dewasa dengan overweight dan obesitas. Hubungan antara

obesitas dan bentuk aktif dari vitamin D, 1,25 (OH)2D3 (yang memiliki

paruh pendek sekitar 15 jam di sirkulasi) kurang jelas, dan ini mungkin

karena sifat dinamis dari produksi dan regulasi hormon aktif. Namun, pada

orang dewasa yang sehat, kadar serum 1,25 (OH)2D3 yang rendah

berhubungan dengan indeks massa tubuh yang lebih tinggi dan massa

lemak tubuh. (Ding C, 2012)

Beberapa hipotesis lain yang diduga menjadi penyebab rendahnya kadar vitamin

D pada obesitas antara lain :

 kegiatan di luar ruangan dan eksposur terhadap sinar matahari lebih

rendah dibandingkan dengan populasi umum, sehingga terjadi penurunan

sintesis vitamin D.

 terjadinya sekuestrasi vitamin D pada jaringan adiposit, penyimpanan

vitamin D pada adiposit meningkat sebelum dikonversi menjadi 25(OH)D.

 kelebihan jaringan adiposa merusak kadar vitamin D. Dalam mekanisme

ini, leptin merangsang osteocytic fibroblast growth factor 23 (FGF23).

FGF23 menghambat sintesis 1α-hidroksilase di ginjal, dan akibatnya

mengganggu produksi 1,25 (OH) D. Di sisi lain, 1,25 (OH)D merangsang

sinyal adipogenesis dan sekresi leptin.


30

Hipotesis lain menyebutkan bahwa sintesis 25-hydroxyvitamin D oleh hati

dapat terjadi pada tingkat yang lebih rendah pada individu dengan

obesitas karena steatosis hati.(Roth C, 2011)

Meskipun hasil dari beberapa penelitian observasional mengkonfirmasi

hubungan antara obesitas dan 25 (OH) D, ini dengan sendirinya tidak cukup

untuk menentukan bahwa kekurangan vitamin D disebabkan oleh obesitas. Studi

pengacakan Mendel, model di mana kausalitas mungkin disimpulkan menurut

asosiasi antara variasi genetik, dapat lebih menjelaskan kausalitas ini. Sebuah

studi Mendel acak baru-baru ini terhadap 42.024 subyek menemukan bahwa

setiap kenaikan 10% indeks massa tubuh, terjadi penurunan 4,2% kadar 25

(OH) D serum. Di sisi lain, para peneliti menunjukkan bahwa baik skor alel 25

(OH) D3 (berdasarkan gen yang mengkode sintesis atau metabolisme) maupun

kadar 25 (OH)D3 dikaitkan dengan indeks massa tubuh. Hasil ini menjadi bukti

bahwa vitamin D bukan komponen kausal dalam perkembangan obesitas.

Namun, obesitas adalah komponen kausal dalam terjadinya defisiensi vitamin

D. (Souza WN dan Martini LA, 2015)

Pada obesitas, terjadi hipertrofi jaringan adiposa, yang mengakibatkan

ketidakseimbangan aliran darah sehingga terjadi hipoksia, peradangan,

dan infiltrasi makrofag. Peningkatan sekresi interleukin 6 dan 8 (IL-6, IL-8),

resistin, tumor necrosis factor-alpha (TNF-α) dan monosit chemoattractant

(MCP1) (sitokin proinflamasi) adalah salah satu karakteristik yang terjadi

oleh karena hipertrofi adiposit serta mengurangi sekresi adiponektin. Efek

dari Vitamin D pada sistem kekebalan tubuh adaptif dapat diamati melalui

diferensiasi sel T helper, mitogen-diaktifkan protein kinase (MAPK) serta


31

faktor-kB nuklir (NF-kB). Dengan demikian, vitamin D menekan proses

penyakit autoimun dengan mengatur diferensiasi dan aktivitas sel CD4Þ T,

menghasilkan respon TH1 / TH2 lebih seimbang yang mendukung

penekanan sel T reaktif autoimunitas. Telah terbukti bahwa 1,25 (OH) D

dan 25 (OH)D3 dapat mengurangi lipopolisakarida (LPS) yang

menginduksi produksi TNF-α dan IL-6 , kemungkinan dengan cara

menghambat aktivasi p38 MAPK di monosit / makrofag. (Souza WN dan

Martini LA, 2015)

Seseorang dengan obesitas, terjadi penurunan kadar adiponektin,

sementara itu adiponektin berperanan pada pencegahan terjadinya

resistensi insulin dan menurunkan progresfifitas atherosklerosis. Penelitian

yang dilakukan oleh Stokic dkk (2015) menunjukkan adanya korelasi

negatif antara kadar vitamin D dengan indeks massa tubuh. Selanjutnya

ditemukan pula hubungan negatif antara kadar leptin dengan vitamin D,

serta ditemukan pula hubungan positif antara kadar adiponektin dengan

vitamin D, demikian pula dengan produk anti inflamasi adiposity. (Stokic E

dkk., 2015)

II.3. 3 LIPID

II.3.3. 1 Profil Lipid

Lemak (disebut juga lipid) merupakan salah satu zat gizi yang

sangat diperlukan oleh tubuh selain zat gizi lain seperti karbohidrat,

protein, vitamin dan mineral. Lemak adalah salah satu sumber energi yang

memberikan kalori paling tinggi dan berfungsi sebagai sumber energi


32

utama untuk proses metabolisme tubuh. Lemak dan produk metaboliknya

memberi rasa enak pada makanan dan berperan sebagai pengangkut

vitamin A, D, E dan K yang larut dalam lemak (Harper dkk, 2005).

Lipid plasma terdiri atas trigliserida, kolesterol, fosfolipid dan

asam lemak bebas. Lipid plasma berasal dari makanan (eksogen), dan

dari proses biosintesis hepatik dan ekstrahepatik (endogen). Asupan

lemak yang dianjurkan adalah 20-30% dari total energi. Adanya kelebihan

lemak dalam makanan mempunyai risiko terhadap penimbunan energi

yang berlebihan sehingga menyebabkan obesitas (Almatsier, 2001).

Profil lipid terdiri dari kolesterol total, trigliserida, kolesterol LDL,

dan kolesterol HDL sebagai berikut (Almatsier, 2001) :

a. Kolesterol total

Kolesterol merupakan metabolit yang mengandung lemak sterol.

Sterol adalah sekelompok senyawa yang mempunyai karakteristik

struktur cincin kompleks steroid, yang terdiri atas empat cincin atom

karbon (Almatsier, 2001). Kolesterol diperlukan untuk sintesis asam

empedu dan berfungsi sebagai prekursor dari beberapa senyawa

steroid seperti kortikosteroid, hormon steroid dalam kelenjar adrenal,

hormon seks, asam empedu dan vitamin D (Colpo, 2005). Kolesterol

ditemukan pada membran sel dan disirkulasikan dalam plasma darah.

Pada tahun 2006, Kritchevsky menyatakan bahwa kolesterol mewakili

sekitar 0,2% dari total berat badan. Otak, sistem saraf pusat, jaringan

ikat, otot, dan kulit meliputi sekitar 75% kolesterol tubuh (Colpo, 2005).
33

Kebanyakan sel dalam tubuh dapat mensintesis kolesterol, tetapi

sebagian besar kolesterol disintesis dalam hati (kolesterol endogen)

(Harper dkk, 2005). Kira-kira 80% kolesterol yang disintesis di dalam

hati akan diubah menjadi garam empedu, yang kemudian disekresikan

ke dalam empedu dan sisanya diangkut oleh lipoprotein dalam

sirkulasi darah ke semua sel jaringan tubuh (Tershakovee dan Coutes,

2000).

Lebih dari separuh jumlah kolesterol tubuh berasal dari sintesis

(sekitar 700 mg/hari), dan sisanya berasal dari makanan sehari-hari

(kolesterol eksogen). Kadar kolesterol bisa meningkat akibat asupan

tinggi dari bahan makanan yang kaya kolesterol yaitu lemak hewani

yang terdapat pada daging, hati, otak, dan kuning telur. Kolesterol

memiliki peranan utama dalam proses patologis pembentukan

aterosklerosis yaitu penyempitan atau pengerasan pembuluh darah

akibat tertimbunnya kolesterol dalam tubuh yang berlebihan pada

dinding pembuluh darah. Keadaan ini merupakan cikal bakal

terjadinya penyakit jantung dan stroke di kemudian hari (Harper dkk.,

2005).

b. Trigliserida

Sekitar 98% dari lemak alamiah adalah trigliserida Trigliserida

(triasilgliserol atau triasilgliserida) adalah lemak netral yang

merupakan bentuk esterifikasi dari gliserol dengan 3 molekul asam


34

lemak melekat padanya Trigliserida berfungsi sebagai sumber dan

cadangan energi utama dalam tubuh yang disimpan dalam jaringan

adiposa, melindungi tulang dan organ-organ penting lainnya dari

cedera. Asam lemak yang dimilikinya bermanfaat bagi metabolisme

tubuh. Trigliserida merupakan simpanan lemak yang utama pada

manusia dan 95% jaringan lemak tubuh (Harper dkk, 2005).

Tahap pertama dalam penggunaan trigliserida untuk energi adalah

hidrolisis oleh lipase lidah dan diemulsikan dalam lambung. Di

duodenum, lipase pankreas menghidrolisis trigliserida menjadi

monogliserida dan asam lemak, selanjutnya dengan garam empedu

membentuk misel yang akan meningkatkan daya larut lemak sehingga

mudah diserap oleh usus (Tershakovee dan Coutes, 2000). Setelah

masuk ke dalam plasma, trigliserida akan ditranspor menuju sel-sel di

dalam tubuh oleh dua partikel utama yaitu kilomikron yang berasal dari

penyerapan usus setelah konsumsi makanan berlemak dan VLDL

(very low density lipoprotein) yang dibentuk di hati dengan bantuan

insulin dari dalam tubuh (Sementara itu, trigliserida yang terdapat di

luar hati dan berada dalam jaringan (pembuluh darah, otot, jaringan

lemak) akan dihidrolisis oleh enzim lipoprotein lipase. Sisa hidrolisis

kemudian akan dimetabolisme oleh hati menjadi kolesterol LDL

(Harper dkk, 2005).


35

c. Kolesterol LDL

Kolesterol LDL (low density lipoprotein) adalah salah satu bentuk

lipoprotein (gabungan molekul lemak dan protein) yang disintesa di

hati dengan densitas hidrasi 1,019-1,063 g/mL, mengandung 22%

protein dan 78% lemak (Robinson dan Dietz, 2006; Almatsier, 2001).

Protein utama yang membentuk LDL adalah apoprotein-B (Gropper

dkk, 2005).

Sebagian kolesterol akan dibuang ke dalam empedu sebagai asam

empedu, sebagian lagi bersama dengan trigliserida akan bergabung

dengan apoprotein-B membentuk VLDL. VLDL akan dipecah oleh

enzim lipoprotein lipase menjadi LDL (Harper dkk, 2005).

LDL berperan dalam pengangkutan lipid melalui jalur endogen

(nondietetik) (Gropper dkk, 2005). Fungsi utama LDL adalah

mengangkut kolesterol dari hati ke jaringan yang mempunyai afinitas

spesifik tinggi, yang disebut sebagai reseptor LDL. Melalui reseptor

inilah kebutuhan kolesterol tubuh akan terpenuhi dan juga sebagai

penghambat sintesis kolesterol di dalam sel-sel tubuh (Colpo, 2005).

LDL sering disebut sebagai kolesterol jahat karena kadar kolesterol

LDL yang tinggi berhubungan dengan penyakit kardiovaskuler. LDL

yang dioksidasi akan diambil oleh makrofag dan membentuk sel busa

(foam cell) yang nantinya menjadi fatty streaks. Sel T akan

melepaskan sitokin yang menyebabkan proliferasi sel otot polos

pembuluh darah dan menimbulkan kolagen serta molekul matriks


36

yang lain sehingga timbul lesi aterosklerotik (Almatsier, 2001; Ganong,

2003).

d. Kolesterol HDL

Kolesterol HDL (high density lipoprotein) adalah salah satu bentuk

lipoprotein dengan densitas hidrasi 1,063-1,21 g/mL, mengandung

52% protein dan 48% lemak (Robinson dan Dietz, 2006; Almatsier,

2001). Protein utama kolesterol HDL adalah apoprotein A-I dan A-II

(Mayes, 2003).

Kilomikron dari usus halus dan VLDL hati dapat membentuk prekursor

HDL diskoidal bebas, tetapi HDL juga dapat dilepaskan langsung dari

hati dalam bentuk partikel-partikel diskoidal . Esterifikasi dari kolesterol

bebas yang diakumulasi dalam prekusor ini selanjutnya menyebabkan

pembentukan partikel-partikel HDL spherical (Mayes, 2003).

HDL akan membawa kolesterol bebas dari pembuluh darah atau

jaringan lain seperti sel makrofag, kemudian membawanya ke hati

untuk dikeluarkan melalui saluran empedu, oleh karena itu HDL sering

disebut sebagai kolesterol baik (Colpo, 2005). Jadi, kelebihan

kolesterol dalam jaringan perifer akan diangkut oleh HDL sehingga

mencegah penumpukan kolesterol di sel perifer (Gropper dkk, 2005).

Kadar kolesterol HDL harus melebihi 25% dari kadar kolesterol total.

Kolesterol HDL yang tinggi merupakan faktor protektif fisiologis atau

faktor anti aterogenik (Mayes, 2003).


37

II.3.3.2 Metabolisme Lipid

a. Pencernaan Lipid

Mulut mengunyah berperan dalam memisahkan lemak. Kelenjar Ebner

mengeluarkan enzim lipase lingual yang memulai proses hidrolisis

lemak. Di lambung, asam hidroklorid memisahkan lemak dari

makanan dan terjadi pencernaan lemak yang mengandung asam

lemak rantai pendek oleh lipase lingual dari mulut (Mayes, 2003).

Pencernaan lemak yang mengandung asam lemak rantai panjang

terjadi di usus halus oleh lipase pankreas yang dibantu oleh garam

empedu, bikarbonat dan protein kolipase. Garam empedu dengan sifat

amfipatik yang dimilikinya bersama-sama dengan gerakan peristaltik

usus membentuk emulsi lemak. Bikarbonat berfungsi agar suasana

lingkungan menjadi kurang asam, sedangkan protein kolipase

mempunyai sifat hidrofobik dan merupakan tempat bagi enzim

pankreas (lipase) untuk mengikatkan diri dengan garam empedu

sehingga aktivitas enzim dapat maksimal (Ganong, 2003).

Trigliserida dipecah menjadi gliserol, diasilgliserol, mono asil gliserol

dan asam lemak bebas oleh lipase pankreas. Hanya sebagian

trigliserida yang dapat dipecah menjadi gliserol dan asam lemak

bebas. Kolesterol ester dipecah menjadi kolesterol dan asam lemak

bebas oleh kolesterol esterase. Lesitin oleh fosfolipase A2, dipecah

menjadi lisolesitin dan asam lemak bebas. Hasil pencernaan tersebut

bersama garam empedu membentuk misel-misel, dengan diameter


38

kurang lebih 5 nm sehingga dapat melewati “intramicrovilus spaces”

dari membran usus halus yang berdiameter kurang lebih 100 nm

(Mayes, 2003).

b. Absorbsi Lipid

Sebagian besar hasil pencernaan diabsorbsi ke dalam membran

mukosa usus halus dengan cara difusi pasif. Misel-misel yang

distabilkan oleh bagian polar garam empedu menjadi partikel yang

larut air dan dapat menembus unstirred water layer (UWL) yang

menyelubungi sel-sel mukosa usus halus (sel enterosit), kemudian

misel-misel menempel di brushborder enterosit dan masuk ke dalam

enterosit. Garam empedu mengalami absorbsi di ileum dan melalui

vena porta menuju hati untuk diresekresi dalam kandung empedu.

Asam lemak rantai panjang (C12 atau lebih) pertama kali diaktifkan

berikatan dengan koenzim A melalui enzim asil coA sintetase,

kemudian di dalam enterosit mengalami reesterifikasi menjadi

trigliserida, fosfatidil kolin dan kolesterol ester. Asam lemak dengan

rantai pendek melewati sel enterosit langsung ke peredaran darah

diangkut oleh albumin ke jaringan lain untuk proses selanjutnya

(Ganong, 2003; Mayes, 2003).

Lipid yang diresintesis dalam enterosit, bersama dengan vitamin larut

dalam lemak dikumpulkan dalam retikulum endoplasma sebagai

partikel lemak besar yang akan dilapisi oleh protein pada

permukaannya sehingga bersifat stabil dalam lingkungan berair saat


39

masuk sirkulasi. Selanjutnya masuk ke dalam aparatus golgi dan

membentuk kilomikron yang akan ditransportasikan ke membran sel

dan keluar menuju sirkulasi untuk ditranspor lebih lanjut (Mayes,

2003).

c. Transpor Lipid

Lipid bergabung dengan protein (lipoprotein) selama ditranspor dalam

aliran darah dan diambil oleh jaringan. Pengangkutan lipid plasma

oleh lipoprotein dapat dibagi menjadi jalur eksogen dan endogen

(Robinson dan Dietz, 2006).

1. Jalur eksogen (dari usus ke hati)

Dalam sehari lipoprotein mengangkut minimal 100 gram

trigliserida dan 1 gram kolesterol dari makanan. Di dalam usus,

trigliserida dan kolesterol dikemas dalam partikel lipoprotein besar

yang disebut kilomikron yang mengandung apoB48, apoC-II,

apoA dan apoE. Sebagian trigliserida dipecah menjadi asam

lemak dengan perantaraan lipoprotein lipase. Asam lemak rantai

panjang akan diangkut oleh pembuluh limfe. Asam lemak bebas

ini masuk ke otot sebagai sumber energi. ApoA dan apoC akan

membentuk kolesterol HDL. Trigliserida yang tidak dipecah akan

menjadi chylomicron remnant (KMr) yang mengandung apoB48

dan apoE, yang kemudian akan diikat oleh reseptor KMr masuk ke

dalam hati untuk dipecah menjadi asam lemak dan kolesterol.


40

Sebagian besar kolesterol akan memasuki sirkulasi enterohepatik

(Robinson dan Dietz, 2006; Mayes, 2003).

2. Jalur endogen (dari hati ke jaringan perifer atau sebaliknya)

Hati mempunyai peran penting dalam metabolisme lemak yaitu

sintesis garam empedu yang penting untuk pencernaan dan

absorbsi lemak, serta berperan dalam transpor lemak karena hati

sebagai tempat sintesis lipoprotein dari lemak endogen (Harper

dkk, 2005). Jalur endogen lipid terdiri dari 3 komponen yang saling

berhubungan yaitu :

- Komponen pertama adalah VLDL, IDL dan LDL yang

mengangkut lipid ke perifer. Trigliserida dan kolesterol yang

disintesis di hati kemudian disekresi ke dalam sirkulasi sebagai

VLDL. Apolipoprotein yang terkandung dalam VLDL adalah

apolipoprotein B100. Dalam sirkulasi, trigliserida dalam VLDL

akan mengalami hidrolisis oleh enzim lipoprotein lipase berubah

menjadi IDL yang juga akan mengalami hidrolisis menjadi LDL.

Sebagian dari VLDL, IDL, dan LDL akan mengangkut kolesterol

ester kembali ke hati. Sebagian dari LDL akan dibawa ke hati

dan jaringan steroidogenik lainnya seperti kelenjar adrenal,

testis, dan ovarium yang mempunyai reseptor untuk LDL.

Sebagian lagi dari LDL akan mengalami oksidasi dan ditangkap

oleh reseptor scavenger-A (SRA) di makrofag dan akan

menjadi sel busa (foam cell). Semakin banyak kadar kolesterol


41

LDL dalam plasma maka semakin banyak yang akan

mengalami oksidasi dan ditangkap oleh sel makrofag (Harper

dkk, 2005; Robinson dan Dietz, 2006).

- Komponen kedua adalah HDL yang mengangkut kolesterol dari

jaringan perifer ke hati untuk diekskresi (transpor balik

kolesterol). Lingkaran kejadian ini menegaskan bahwa

peningkatan kolesterol HDL berhubungan dengan penurunan

risiko penyakit kardiovaskuler (Mayes, 2003; Robinson dan

Dietz, 2006).

- Komponen ketiga adalah komponen nonlipoprotein

berhubungan dengan asam lemak bebas dalam sirkulasi. Asam

lemak dihasilkan dari hidrolisis trigliserida seluler yang

disekresikan dari jaringan adiposa menuju plasma melalui

ikatan dengan albumin (Mayes, 2003; Robinson dan Dietz,

2006).

II.3.4 Peran Vitamin D pada Metabolisme Lipid

Hubungan positif antara kadar 25 (OH) D yang rendah dengan

kadar HDL yang rendah kemungkinan disebabkan oleh peran vitamin D

dalam menjaga konsentrasi apolipoprotein A-1 yang memadai, yang

merupakan komponen utama HDL, dan regulasi aktivitas enzim lipase

lipoprotein sehingga mempengaruhi kadar trigliserida dalam darah. 25

(OH)D juga berperan dalam regulasi kalsium intraseluler adiposit pada


42

proses lipogenesis dalam jaringan adiposa. Dengan demikian kekurangan

vitamin D dapat menurunkan penyerapan kalsium pada jaringan adiposa,

sehingga terjadi lipolisis dan asam lemak bebas meningkat, sintesis VLDL

dan LDL hati juga meningkat. Penurunan konsentrasi apolipoprotein A-1

telah dilaporkan pada orang dewasa dengan hypovitaminosis D.

(Shivaprakash, 2014; Chauduri,2013)

II.3.5 Peran Vitamin D dan Resistensi Insulin

1,25 (OH) 2D bertindak sebagai modulator imun, mengurangi

produksi sitokin dan proliferasi limfosit, yang telah terlibat dalam

penghancuran sel pensekresi insulin di pankreas dan berkembang

menjadi diabetes mellitus tipe 1. Selain itu, sel-sel β Langerhans, memiliki

VDR dan menagkap 1,25 (OH) 2D dengan meningkatkan produksi insulin.

Percobaan pada hewan, pemberian 1,25 (OH) 2D mampu mencegah

perkembangan diabetes mellitus tipe 1. Zella dan DeLuca juga telah

menunjukkan bahwa dosis yang sangat besar vitamin D mampu menekan

perkembangan insulitis dan diabetes pada tikus diabetes non obesitas,

model tipe manusia 1 diabetes mellitus. Sebuah studi kelompok kelahiran

yang melibatkan 10.366 anak-anak yang dilakukan di Finlandia

menunjukkan bahwa suplementasi vitamin D yang lebih tinggi dikaitkan

dengan penurunan risiko diabetes mellitus tipe 1. (Hollick MF, 2006) Ada

beberapa mekanisme efek vitamin D: kehadiran reseptor vitamin D pada

sel β pankreas, vitamin D mengaktifkan hidroksilase 1α dalam sel β

pankreas, adanya elemen respon vitamin D pada gen insulin, kehadiran


43

reseptor vitamin D di otot rangka dan fakta bahwa 1,25 (OH) D

meningkatkan transkripsi gen reseptor insulin, dan juga menekan gen

renin mengurangi kenaikan hiperglikemik-diinduksi pada tingkat renin di

sel β pankreas dan blokade aktivitas rennin angiotensin telah diusulkan

sebagai target baru untuk pengobatan diabetes. (Shivaprakash, 2014;

Pyrzak, 2015; Norman, 2014)

Beberapa studi klinis telah dikaitkan dengan kadar vitamin D yang

rendah dengan perkembangan resistensi insulin pada orang dewasa dan

anak-anak. Kadar 25 (OH) D3 telah ditemukan untuk memprediksi fungsi

sel β yang lebih baik dan glikemia rendah .Pada tikus, defisiensi vitamin D

merusak pelepasan insulin dari pankreas dan mengurangi toleransi

glukosa. Sebuah uji klinis terbaru menunjukkan bahwa suplemen

cholecalciferol (2000 IU per hari) selama 16 minggu meningkatkan fungsi

sel β pancreas pada orang dewasa dengan risiko tinggi diabetes. Pada

pasien diabetes tipe 2 dengan defisiensi vitamin D, asupan harian

minuman yogurt yang diperkaya vitamin D dapat meningkatkan kadar

serum 25 (OH)D3 dan memperbaiki status glikemik. Oleh karena itu,

vitamin D mungkin memiliki efek pada sekresi insulin dari sel β pankreas.

(Ding C, 2012)

II. 4. Lingkar Pinggang (waist circumference)

II.4.1. Distribusi Lemak

Jaringan lemak berkumpul di dua tempat utama, intra-abdominal

dan subcutaneous. Sekitar 80% dari seluruh lemak tubuh terdapat pada
44

area subkutan, sedangkan lemak visceral sekitar 10-20% dari total lemak

tubuh pada laki-laki dan 5-8% pada wanita. Jumlah lemak visceral

meningkat sesuai umur pada kedua jenis kelamin. Secara anatomi, lemak

intra-abdominal terdiri atas lemak visceral yang meliputi omentum dan

mesenterium, bersama dengan sejumlah kecil lemak retroperitoneal yang

secara langsung melalui sirkulasi portal ke hati, sementara lemak

subkutan tersebar di seluruh tubuh dan melalui vena sistemik. Lemak

visceral membawa asam lemak bebas dan adipokin yang disekresi oleh

lemak visceral secara langsung ke hati melalui sirkulasi portal. Lemak

subkutaneus terdapat di daerah femerogluteal, punggung dan dinding

anterior abdomen. Fungsi endokrin, aktivitas lipolitik dan respon terhadap

insulin dan hormon-hormon lain juga berbeda antara lemak visceral dan

lemak subkutaneus. Sel-sel inflamasi (makrofag) lebih banyak pada lemak

visceral dibandingkan dengan lemak subkutaneus.(Slyper AH, 1998)

Sejumlah besar lemak disimpan dalam dua jaringan tubuh utama,

jaringan adiposa dan jaringan hati. Jaringan adiposa biasanya disebut

deposit lemak. Bila karbohidrat yang memasuki tubuh terlalu banyak,

maka akan disimpan dalam bentuk glikogen. Kelebihan karbohidrat

dengan cepat diubah menjadi trigliserida dan kemudian disimpan di dalam

jaringan adiposa. Fungsi utama jaringan adiposa adalah menyimpan

trigliserida sampai diperlukan untuk membentuk energi dalam tubuh.

(Harper dkk., 2005)


45

II.4.2. Lemak Visceral

Pada laki-laki, lemak umumnya berkumpul di bagian atas tubuh. Ini

tampak sebagai perut yang buncit berbentuk apel. Pada wanita, jaringan

lemak menumpuk di subkutan, terutama di paha membentuk seperti buah

pir. Namun pola distribusi lemak yang menumpuk di bagian atas dapat

juga terjadi pada wanita, terutama setelah menopause. Lemak visceral

memberikan risiko gangguan kesehatan yang lebih tinggi dibandingkan

lemak di bagian paha dan bagian tubuh lainnya (Himah R, 2008).

II.4.3. Ukuran Lingkar Pinggang

Lemak yang berada di sekitar perut memberikan risiko gangguan

kesehatan yang lebih tinggi dibandingkan lemak di bagian paha dan

bagian tubuh lainnya. Pada orang dewasa, rasio LP dan lingkar paha

(waist-hip circumference ratio) merupakan pengukuran tidak langsung

yang digunakan untuk menilai lemak visceral seseorang. Bahkan LP

merupakan indikator risiko gangguan kardiovaskular dan diabetes mellitus

yang lebih baik daripada IMT (Indeks Massa Tubuh).Untuk menentukan

distribusi lemak visceral pada anak juga dilakukan pengukuran ketebalan

lipatan kulit (TLK) dan mengukur Lingkar Pinggang (LP). Pada orang

dewasa, the waist-hip ratio (rasio LP dan lingkar paha) yang paling banyak

digunakan sebagai cara tidak langsung mengukur lemak visceral. LP dan

ukuran sagital diameter abdomen menunjukkan korelasi yang lebih baik

dengan lemak visceral, seperti yang diperlihatkan oleh CT-Scan,namun

memerlukan alat yang canggih, berbiaya mahal dan tidak praktis. Selain
46

itu, the waist-hip ratio menunjukkan distribusi relatif jaringan lemak antara

lemak visceral dan subkutan. Sedangkan, pada anak tidak ada korelasi

antara the waist-hip ratio dan lemak visceral. Lebih jauh lagi, pengukuran

antropometrik yang konvensional, seperti tebal lipatan kulit dan lingkar

lengan atas (LLA) secara klinis kurang sensitif dalam menilai lemak intra-

abdomen. Hanya metode radiologis seperti Magnetic Resonance Imaging

(MRI) atau CT-Scan abdomen yang dapat menilai secara akurat lemak

visceral pada anak. (Slypher AH, 1998)

Anak obesitas dengan lingkar pinggang ≥ persentil 90 memiliki

risiko dislipidemia dan resistensi insulin lebih tinggi dibandingkan anak

obesitas dengan LP normal. Hasil ini menunjukkan bahwa pemantauan

terhadap LP anak obes membantu para klinisi untuk mengidentifikasi anak

obes yang memiliki risiko lebih besar mengalami diabetes dan penyakit

kardiovaskular. Lemak intra-abdominal pada anak perempuan obes, dua

hingga tiga kali lebih besar dibandingkan anak yang tidak obes. (Slypher

AH, 1998).

Pengukuran antropometri LP masih belum ada standarnya, IDF

menyatakan bahwa LP anak laki-laki dan perempuan usia 10-16 tahun di

atas persentil 90 sebagai risiko penyakit sindrom metabolik. (IDF, 2011).

Sedangkan Maffeis,dkk, berkesimpulan bahwa anak obes laki-laki dan

perempuan 3-11 tahun dengan LP > 90, memiliki risiko kardiovaskular

lebih tinggi dibandingkan anak dengan LP < persentil 90. Sedangkan


47

penelitian Taylor, dkk menyimpulkan bahwa anak dengan LP > persentil

80, sudah berisiko untuk penyakit kardiovaskular. (Maffeis C dkk., 2001).

Namun penelitian Liu A,dkk. 2010, pada anak sekolah usia 6-12

tahun di Cina menyimpulkan bahwa anak laki-laki dengan LP lebih dari

persentil 90 dan anak perempuan dengan LP lebih dari persentil 84

merupakan faktor risiko penyakit kardiovaskular. (Liu A, 2010).

Standar pengukuran antropometri lingkar pinggang yang terbaik

adalah yang sesuai standar nasional masing-masing negara. Menurut

IDAI, ukuran lingkar pinggang yang digunakan dalam kriteria sindrom

metabolik dipilih berdasarkan perbandingan prevalensi sindrom metabolik

berbagai kriteria yang menunjukkan bahwa lingkar pinggang menurut

Taylor dkk memberikan hasil yang lebih besar dibandingkan National

Health and Nutrition Examination Survey (NHANES), seperti pada tabel 1

(Pulungan, Nanis A,dkk, 2014)


48

Gambar 4. Nilai batasan untuk mengidentifikasi massa lemak batang tubuh dan lingkar pinggang
pada anak dalam pertumbuhan menurut Taylor dkk

II.5. Tekanan Darah

II.5.1. Definisi Tekanan Darah

Tekanan darah adalah tekanan yang ditimbulkan pada dinding

pembuluh darah saat darah bersirkulasi dalam pembuluh darah

(Goonasekera, Dillon, 2000). Organ jantung dan pembuluh darah

berperan penting dalam proses ini, yaitu jantung sebagai pompa muskular

yang memberikan tekanan untuk menggerakkan darah, serta pembuluh

darah yang memiliki dinding elastis dan ketahanan yang kuat. Tekanan

darah adalah hasil kali tahanan vaskuler perifer dan curah jantung.

Tekanan tertinggi saat jantung berkontraksi disebut tekanan sistolik,

sedangkan tekanan terendah saat jantung beristirahat disebut tekanan


49

diastolik. Tekanan darah dinyatakan sebagai rasio tekanan sistolik

terhadap tekanan diastolik, dan diukur dalam satuan milimeter air raksa

(mmHg). Peningkatan tekanan darah sistolik maupun diastolik merupakan

faktor risiko independen terhadap penyakit kardiovaskuler (Goonasekera,

Dillon, 2000).

II.5.2. Mekanisme Pengaturan Tekanan Darah

Tekanan darah bergantung pada kontraksi otot jantung dan

tahanan pembuluh darah perifer untuk mengalirkan darah ke seluruh

tubuh. Curah jantung dan tahanan pembuluh darah perifer dipengaruhi

oleh beberapa faktor baik secara langsung maupun tidak langsung

sehingga akan mempengaruhi nilai tekanan darah(Sherwood, 2001).

Faktor-faktor tersebut yaitu :

a. Volume sekuncup

Volume sekuncup adalah volume darah yang sanggup dipompakan

oleh jantung dalam satu kali kontraksi. Makin besar volume sekuncup,

makin besar curah jantung. Volume sekuncup dipengaruhi oleh

kontraksi otot jantung dan jumlah darah yang kembali ke jantung

(venous-return). Kontraksi otot jantung dan venous return berbanding

lurus dengan curah jantung. Kontraksi otot jantung dipengaruhi oleh

kekuatan otot jantung, aktivitas yang rutin dan lama, sistem saraf

otonom dan hormonal. (Sherwood, 2001).


50

b. Frekuensi jantung

Frekuensi jantung adalah jumlah kontraksi otot jantung dalam satu

menit. Frekuensi jantung berpengaruh langsung terhadap curah

jantung. Faktor-faktor yang mempengaruhi frekuensi jantung adalah

umur, aktivitas sesaat, sistem saraf otonom dan hormonal, yang akan

menentukan besarnya curah jantung (Sherwood, 2001).

c. Pembuluh darah kecil

Pembuluh darah kecil yang berperan penting dalam pengaturan

tekanan darah adalah arteriol. Bila terjadi vasokonstriksi arteriol, maka

akan terjadi peningkatan tahanan pembuluh darah perifer sehingga

akan meningkatkan curah jantung dan secara tidak langsung

meningkatkan tekanan darah (Sherwood, 2001).

d. Ginjal

Ginjal berperan dalam pengaturan tekanan darah melalui mekanisme

pengaturan cairan tubuh dan sistem renin-angiotensin-aldosteron

(RAA). Bila asupan cairan dan garam bertambah, maka akan

meningkatkan jumlah cairan ekstrasel. Selanjutnya terjadi peningkatan

volume plasma yang akan meningkatkan aliran darah balik dan

memperbesar curah jantung sehingga tekanan darah meningkat.

Tekanan darah yang meningkat melalui mekanisme ini akan

dikompensasi oleh ginjal dengan cara memperbanyak pengeluaran urin

sehingga volume plasma akan berkurang yang pada akhirnya akan


51

menurunkan tekanan darah (Sherwood, 2001). Mekanisme pengaturan

tekanan darah oleh ginjal juga dilakukan melalui sistem RAA. Renin

merupakan enzim yang dihasilkan oleh sel juxta glomerulus ginjal, yang

akan mengubah angiotensinogen menjadi angiotensin I. Selanjutnya

angiotensin I akan diubah menjadi angiotensin II dengan pengaruh

Angiotensin Converting Enzyme (ACE). Angiotensin II menyebabkan

peningkatan kontraksi otot jantung dan sekresi hormon aldosteron yang

menyebabkan retensi natrium dan air. (Sherwood, 2001)

e. Sistem saraf otonom

Sistem saraf otonom (SSO) yang berperan dalam pengaturan tekanan

darah adalah sistem saraf simpatik (SSS) dan sistem saraf

parasimpatik (SSP). SSS dan SSP mempunyai efek yang antagonis

terhadap frekuensi jantung dan kekuatan kontraksi otot jantung. SSS

akan meningkatkan frekuensi dan kekuatan kontraksi otot jantung,

sedangkan SSP sebaliknya. SSS dan SSP juga berpengaruh pada

arteriol dengan efek antagonis. Rangsangan pada SSS menyebabkan

terjadinya vasokonstriksi arteriol, sehingga meningkatkan tahanan

pembuluh darah perifer, sedangkan rangsangan pada SSP bereaksi

sebaliknya.(Sherwood, 2001).

f. Sistem hormonal

Hormon-hormon yang berperan dalam pengaturan tekanan darah

adalah epinefrin dan norepinefrin, angiotensin II, aldosteron, vasopresin

(ADH) dan prostaglandin. Epinefrin dan norepinefrin yang dihasilkan


52

oleh medula kelenjar adrenal akan dilepaskan ke sirkulasi bila ada

rangsangan terhadap SSS yang menyebabkan peningkatan kontraksi

dan frekuensi jantung, serta vasokonstriksi arteriol yang berperan

dalam meningkatkan tahanan pembuluh darah perifer. Stres

merupakan salah satu faktor yang merangsang SSS dan terjadinya

pelepasan kedua hormon tersebut.Hormon lain yang dihasilkan oleh

korteks kelenjar adrenal dan turut mempengaruhi tekanan darah adalah

hormon glukokortikoid (Sherwood, 2001).

Angiotensin II merupakan hormon vasokonstriksi sangat kuat yang

terdapat dalam darah melalui mekanisme di ginjal. Bila terjadi

penurunan perfusi ginjal dan atau penurunan tekanan darah maka

ginjal akan mengeluarkan renin. Selanjutnya terjadi mekanisme RAA

yang akhirnya akan menghasilkan angiotensin II. Hormon ini

menyebabkan vasokonstriksi arteriol sehingga terjadi peningkatan

tahanan pembuluh darah perifer. Selain itu angiotensin II juga

meningkatkan kontraksi otot jantung, menyebabkan penurunan ekskresi

garam dan air, serta merangsang sekresi aldosteron. (Sherwood, 2001)

Aldosteron adalah hormon mineralkortikoid yang dihasilkan oleh korteks

kelenjar adrenal yang akan menyebabkan peningkatan retensi air dan

garam oleh ginjal sehingga meningkatkan volume plasma dan curah

jantung (Sherwood, 2001).

Vasopresin (ADH) merupakan hormon yang dihasilkan oleh

kelenjar hipofise posterior, yang menyebabkan vasokonstriksi arteriol


53

sehingga dapat meningkatkan tahanan pembuluh darah perifer. Selain

itu vasopresin juga berpengaruh pada ginjal dengan menurunkan

ekskresi air, yang dapat meningkatkan volume plasma jika tekanan

darah turun secara tiba-tiba (Sherwood, 2001).

Hormon lain yang berpengaruh pada tekanan darah adalah

prostaglandin. Prostaglandin A2 menyebabkan dilatasi pembuluh

darah, sedangkan prostaglandin E menyebabkan konstriksi pembuluh

darah kecil dan merangsang mekanisme RAA . (Sherwood, 2001)

II.5.3. Pengukuran Tekanan Darah pada Anak

Pengukuran tekanan darah yang tepat tergantung pada keadaan

anak saat diperiksa, kualitas peralatan, dan keterampilan pemeriksa.

Pengukuran tekanan darah pada anak memerlukan ruang pemeriksaan

dan keadaan anak yang tenang agar tidak mempengaruhi hasil

pengukuran. Anak dapat berbaring dengan tangan lurus di samping badan

atau duduk setelah beristirahat selama 5 menit, duduk dengan sandaran

punggung, kaki menempel di lantai, dan lengan bawah yang diletakkan di

atas meja sehingga lengan atas berada setinggi jantung. Tekanan darah

diukur dengan menggunakan sfigmomanometer air raksa. Osilometrik

otomatis merupakan alat pengukur tekanan darah yang sangat baik untuk

bayi dan anak kecil, karena saat istirahat teknik auskultasi sulit dilakukan

pada kelmpok usia ini. Panjang cuff manset harus melingkupi minimal

80% lingkar lengan atas, sedangkan lebar cuff harus lebih dari 40%
54

lingkar lengan atas (jarak antara akromion dan olekranon). Tekanan darah

akan terlalu tinggi apabila manset yang dipakai terlalu kecil, dan terlalu

rendah bila ukuran manset terlalu besar. Tekanan darah diukur setelah

istirahat selama 3-5 menit, suasana sekitarnya dalam keadaan tenang.

Jika tekanan darah menunjukkan angka di atas persentil ke 90, tekanan

darah harus diulang dua kali pada kunjungan yang sama ntuk menguji

kesahihan hasil pengukuran. Tekanan darah sistolik ditentukan saat mulai

terdengarnya bunyi Korotkoff ke 1. Tekanan darah diastolik

sesungguhnya terletak antara mulai mengecil sampai menghilangnya

bunyi Korotkoff. Teknik palpasi berguna untuk mengukur tekanan darah

sistolik secara cepat, meskipun nilai tekana darah palpasi biasanya sekitar

10 mmHg lebih rendah dibandingkan dengan auskultasi . (Nanan S, 2011)

Batasan hipertensi menurut The Fourth Report on the Diagnosis,

Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure in Children and

Adolescent adalah sebagai berikut :

 Hipertensi adalah nilai rata-rata tekanan darah sistolik dan atau

diastolik lebih dari persentil ke 95 berdasarkan jenis kelamin, usia,

dan tinggi badan pada pengukuran sebanyak 3 kali atau lebih

 Pre hipertensi adalah nilai rat-rata tekanan darah sistolik dan atau

diastolik antara persentil ke 90 dan 95. Pada kelompok ini harus

diperhatikan secara teliti adanya factor risiko seperti obesitas.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kelompok ini memiliki


55

kemungkinan yang lebih besar untuk menjadi hipertensi pada masa

dewasa dibandingkan dengan anak yang normotensi

 Anak remaja dengan nilai tekanan darah di atas 120/80 mmHg

harus dianggap suatu prehipertensi .

Pada tabel 2, diperlihatkan klasifikasi hipertensi anak di atas usia 1 tahun

dan remaja. Sedangkan nilai tekanan darah berdasarkan usia, jenis

kelamin dan tinggi bdan diperlihatkan pada lampiran 1,2 dan 3 (Nanan S,

2011).

Klasifikasi Batasan

Tekanan darah normal Sistolik dan diastolik kurang dari persentil ke 90

Prehipertensi Sistolik atau diastolik lebih besar atau sama dengan


persentil ke 90 tetapi lebih kecil dari persentil ke 95

Hipertensi Sistolik atau diastolik lebih besar atau sama dengan


persentil ke 95

Hipertensi tingkat 1 Sistolik dan diastolik antara persentil ke 95 dan 99


ditambah 5 mmHg

Hipertensi tingkat 2 Sistolik dan diastolik di atas persentil ke 99 ditambah 5


mmHg

Tabel 2 Klasifikasi Hipertensi pada Anak Usia 1 tahun atau Lebih dan Usia Remaja

II.5.4 Hubungan Vitamin D dan Hipertensi

Vitamin D dapat mengatur tekanan darah dengan mengatur sistem

renin-angiotensin. 1,25 (OH)2D terlibat dalam mengendalikan produksi


56

renin, salah satu hormon yang paling penting untuk mengatur tekanan

darah. (Holick, 2014; Martini, 2014) Beberapa mekanisme dapat

menjelaskan hubungan antara kekurangan vitamin D dan penyakit

kardiovaskular. Pertama, penelitian eksperimental menunjukkan bahwa 1,

25 (OH)2D berperanan dalam regulasi aksis renin-angiotensin dengan

secara langsung menekan ekspresi gen renin. Ekspresi yang berlebihan

dari renin dapat ditemukan pada percobaan dengan tikus liar dengan cara

menghambat sintesis vitamin D. Kedua, pembuluh darah sel-sel otot polos

dan sel endotel mengekspresikan reseptor untuk vitamin D dan memiliki

kemampuan untuk mengkonversi kadar 25 (OH)D sirkulasi ke 1, 25

(OH)2D. Efek putatif vaskular dari vitamin D yang luas termasuk

memodulasi proliferasi sel otot polos, peradangan, dan trombosis.

Menariknya, tikus transgenik secara konstitutif mengekspresikan vitamin

D-24-hydroxlyase, suatu enzim yang mengkatalisis pemecahan 1,25

(OH)2D, dan mengembangkan terjadinya atherosclerosis secara

substansial. Ketiga, kekurangan vitamin D memicu hiperparatiroidisme

sekunder, hormon paratiroid (PTH) mempromosikan hipertrofi miosit dan

remodeling vaskuler. Penelitian lain menunjukkan bahwa PTH memiliki

efek proinflamasi, merangsang pelepasan sitokin oleh sel otot polos

pembuluh darah. Hipertensi memainkan peran kunci dalam terjadinya

hipertrofi ventrikel kiri dan remodeling vaskuler. Karena kekurangan

vitamin D juga dapat mempengaruhi remodeling jantung dan pembuluh

darah, hipertensi bisa memperbesar efek merugikan dari defisiensi vitamin


57

D pada sistem kardiovaskular. Hal ini berkaitan dengan kejadian penyakit

kardiovaskuler di berbagai tingkat. Ekspresi gen rennin ditekan oleh 1,25

(OH)2D melalui pengurangan aktivitas elemen respon cAMP dalam

promoter gen renin. Pengaruh metabolit vitamin D pada kedua fungsi

endotel dan RAS menunjukkan peran penting dalam kontrol fisiologis

tonus pembuluh darah dan tekanan darah yang berperanan pada

patofisiologi terjadinya hipertensi. (Kienreich K dkk, 2013)

Gambar 5. Mekanisme antihipertensi Vitamin D (Kienrich K, 2013)

II.6. Hubungan Vitamin D dan Sindrom metabolik

Terdapat beberapa penelitian prospektif terhadap orang dewasa

yang menunjukkan hubungan antara defisiensi vitamin D dengan resiko

terjadinya sindrom metabolik. Gagnon dkk (2012) meneliti terhadap 4164

dewasa, selama pemantauan 5 tahun ditemukan prevalensi sindrom

metabolik sebesar 12,7%. Risiko sindrom metabolik signifikan terjadi pada


58

kadar 25 (OH)D < 18 ng/ml dengan odds ratio 1,41 (95%CI : 1,02-1,95).

Kadar vitamin D memiliki korelasi negaatif terhadap lingkar pinggang,

kadar gula darah puasa dan trigliserida dengn p< 0,001. Song dkk (2013)

melaporkan hasil penelitian cross sectional terhdap 778 orang dewasa

Korea, prevalensi sindrom metabolik ditemukan sebesar 18,9%. Diperoleh

odds ratio sindrom metabolik 2,44 (95% CI : 1,32-4,48) pada kadar

25(OH)D 4,2 -9,7 ng/mL. Pada kuartil intermediate (9,8 – 14,1 ng/mL) dan

(14,3 – 19,8 ng/mL) masing –masing odds ratio sindrom metabolik

sebesar 2,20 (95% CI : 1,24 – 3,90) dan 1,81 (95%CI : 1,02 – 3,20).

(Strange dkk., 2015)

Penelitian serupa pada anak dan remaja sangat sedikit. Reis dkk

pada studi cross sectional terhadapt 3577 remaja yang berparitsipasi pada

penelitian oleh NHANES periode 2001 – 2004 menyimpulkann terdapat

hubungan antara defisiesni vitamin D dengan hipertensi, hiperglikemia,

dan sindrom metabolik. (Cabral, 2013)


59

Kerangka Teori

Proses balans energy positif


Aktivitas fisik
Pubertas
Diit Genetik
Jenis kelamin (Vitamin D2, Penyakit endokrin, Genetik
Pubertas Vitamin D3 Kelainan metabolik
Sinar UV
Sel-sel
Adiposit Obesitas
Vitamin D (berikatan dengan Vitamin meningkat/
7-DHC kulit Vitamin D3
D Binding Protein) Distorsi
Leptin
25-OHase
Hepar
TNF , IL 6, MCP-1
Lemak Visceral
25-hydroxyvitamin D Lemak Subkutan
[25 (OH)D] menurun
Recruitment makrofag

Kelenjar PTH
1-OH ase TNFRI
paratiroid Ginjal FGF 23

Protein Kinase A
1,25 dihidroxyvitamin D
1,25 (OH)2 D menurun Lipolisis

IMT

RAAS Sel endotel Inflamasi kronik Lipoprotein lipase adiponektin Insulin VDR
resptor Asam Lemak Bebas
Dinding arteri Apo lipoprotein A-1 sel β
pankreas
renin Influx Kalsium

Proliferasi Otot Aktivitas fisik


polos vaskuler Pubertas
Penyakit
endokrin
Resistensi insulin sekresi insulin
Angiotensin II Gangguan fungsi & struktur vaskuler Kelainan
metabolik

Ekternal : diit,
HDL-C merokok, stres, Lingkar
Tekanan Darah aktivitas Fisik GDP Pinggang
LDL, Trigliserida Internal : umur, jenis (LP)
kelamin, ras/ suku,
genetik/ riwayat
keluarga dislipidemia,
Ekternal : diit, merokok, pubertas
stres, aktivitas Fisik
Internal : umur, jenis
kelamin, ras, genetik,
hormonal
Sindrom Metabolik

.
60
61
62

BAB IV

METODOLOGI PENELITIAN

IV.1. Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan desain cross

sectional untuk menganalisis hubungan antara defisiensi vitamin D

dengan sindrom metabolik pada anak obes.

IV.2. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan pada Juni – Agustus 2017 terhadap

siswa SD, SMP dan SMA di Kota Makassar. Pemeriksaan sampel darah

dilakukan di laboratorium NECHRI Universitas Hasanuddin Makassar.

IV.3. Populasi Penelitian

Populasi penelitian adalah anak obes umur 6 hingga 18 tahun yang

tersebar pada SD, SMP dan SMA di kota Makassar yang berasal dari

sekolah swasta dengan status ekonomi menengah ke atas berdasarkan

kriteria yang ditentukan oleh Dinas Pendidikan kota Makassar

mendapatkan probabilitas obesitas yang tinggi.


63

IV.4. Sampel dan Cara Pemilihan Sampel

Sampel penelitian adalah semua populasi terjangkau yang

memenuhi kriteria penelitian. Selanjutnya dilakukan pengukuran berat

badan dan tinggi badan, kemudian di hitung IMT untuk menentukan

obesitas serta dilakukan pengukuran lingkar pinggang, tekanan darah dan

pemeriksaan profil lipid dan menghasilkan dua kelompok yaitu kelompok

anak obes dengan sindrom metabolik dan tanpa sindrom metabolik. Cara

pengambilan sampel adalah cluster random sampling.

IV.4.1. Pemilihan Sampel

Sampel dipilih secara cluster random sampling. Langkah-langkah

yang dilakukan dalam pemilihan sampel adalah sebagai berikut :

1. Pendataan

 Membuat data SD, SMP, SMA di Kota Makassar

 Identifikasi SD, SMP, SMA berdasarkan sosial ekonomi, dipilih

golongan ekonomi menengah ke atas.

 Pencatatan jumlah siswa yang dipilih setiap sekolah.

2. Pembentukan klaster

 Setiap SD, SMP dan SMA yang terdaftar merupakan

suatu klaster yang akan dipilih secara random.

 Dari kelompok tersebut dirandom tiga SD, tiga SMP dan

SMA yang mewakili kelompok (SD Islam Atirah, SD


64

Frater, SD Nusantara, SMP Islam Atirah, SMP Frater,

SMP Nusantara, SMA Athirah, dan SMA Frater).

 Melakukan pengukuran berat badan dan tinggi badan

untuk menentukan obesitas, serta pengukuran tekanan

darah dan lingkar pinggang.

 Pemberian lembar informasi penelitian kepada orang tua

siswa obes untuk menjadi sampel penelitian

 Menentukan jumlah siswa obes yang akan dijadikan

sampel penelitian pada tiap SD, SMP dan SMA yang

terpilih secara proporsional, contoh :

 A = jumlah total sampel

 B = jumlah total siswa (SD, SMP, SMA) yang terpilih

 C = jumlah siswa di masing-masing SD, SMP, maupun

SMA

 Jadi jumlah sampel setiap sekolah = C/B x A

3. Selanjutnya diambil sampel darah untuk pemeriksaan GDP,

HDL, trigliserida, vitamin D (25(OH)D) dari setiap siswa

kemudian diperiksa ke laboratorium NECHRI Universitas

Hasanuddin Makassar.

IV.4.2. Perkiraan Besar Sampel

Perkiraan besar sampel untuk uji hipotesis terhadap 2 proporsi data

nominal. Dengan desain cross sectional, diperkirakan odds ratio (OR) = 2,


65

proporsi efek pada kelompok kontrol sebesar 0,2 dengan nilai kemaknaan

sebesar 0,05 dan power sebesar 80% maka perkiraan besar sampel

dapat dihitung sebagai berikut :

n = ( Zα √2 PQ + Zβ √P1Q1 + P2Q2 )2

(P1 – P2 )2

n = (1,96√2(0,1x0,99)+ 0,842√(0,006x0,8) + (0,2x0,99)2

(0,2- 0,006)2

N = 40

Keterangan :

P2 = 0,2
Zα = 1,96
Zβ = 0,84
OR = 2
P1 = 0,006
P = ½ (P1+P2) = 0,1
Q = 1 – P = 0,99
Q1 = 1 – P1 = 0,8
Q2 = 1 – P2 = 0,99

Dengan demikian berdasarkan hasil perhitungan didapatkan jumlah

sampel minimal sebanyak 40 orang anak obes dengan sindrom metabolik

dan 40 orang anak obes tanpa sindrom metabolik.


66

IV.5 Kriteria Inklusi dan Eksklusi

IV.5.1 Kriteria Inklusi

Anak obes usia 6 hingga 18 tahun dengan sindrom metabolik dan

tanpa sindrom metabolik yang terdaftar pada SD, SMP dan SMA Swasta

di kota Makassar 2017 dan orang tua mereka setuju untuk berpartisipasi

dengan penelitian ini.

IV.5.2. Kriteria Eksklusi

1. Anak-anak tidak kooperatif

2. Menderita gangguan fungsi hati dan atau ginjal

3. Menderita gangguan endokrinologi, seperti hipo atau

hiperparatiroidisme, dan diabetes mellitus.

4. Anak sakit saat penelitian.

5. Mendapat pengobatan kortikosteroid jangka panjang, sitostatika

atau obat lain yang mempengaruhi berat badan.

IV.6. Izin penelitian dan ethical clearance

Dalam melaksanakan penelitian ini, setiap tindakan dilakukan

setelah mendapatkan izin dari Kepala Sekolah bersangkutan , orang tua

subyek penelitian dan persetujuan dari Komisi Etik Penelitian Biomedis

pada Manusia Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin Makassar.


67

IV.7. Cara Kerja

IV. 7.1. Alokasi Subyek

Subyek penelitian adalah anak yang sudah teridentifikasi dan memenuhi

kriteria inklusi dan eksklusi. Dilakukan pemeriksaan fisik, pemeriksaan

antropometrik (berat badan, tinggi badan, lingkar pinggang, tekanan darah.

Kemudian berdasarkan hasil perhitungan indeks massa tubuh, anak dengan

obesitas yang menjadi subyek penelitian. Anak dengan obesitas kemudian

dilakukan pemeriksaan profil lipid, kemudian dikelompokkan menjadi dua

kelompok yaitu anak obes dengan sindrom metabolik dan anak obes tanpa

sindrom metabolik. Kemudian masing-masing subyek dari kedua kelompok di

periksa kadar vitamin D.

IV.7.2. Cara Penelitian

Semua penderita yang memenuhi syarat dicatat umur, jenis

kelamin, hasil pemeriksaan antropometrik untuk menentukan status gizi

dan tekanan darah serta hasil pemeriksaan laboratorium.

1. Data-data klinik meliputi:

1. Umur

2. Jenis Kelamin

3. Status Gizi (obesitas)

4. Tekanan darah

5. Lingkar pinggang.

2. Data-data pemeriksaan laboratorium

1. Kadar vitamin D 25 (OH)D


68

2. Profil lipid (trigliserid, HDL)

3. Gula darah puasa

IV.7.2.1. Prosedur Pemeriksaan

1. Pengambilan sampel didahului dengan pemberian penjelasan kepada

orang tua siswa tentang tujuan dan manfaat penelitian, cara

pengukuran status gizi, pengukuran tekanan darah, pengukuran

lingkar pinggang dan cara pengambilan darah. Kemudian orang tua

diminta untuk mengisi dan menandatangani surat persetujuan sebagai

tanda persetujuan untuk dilakukannya penelitian ini.

2. Pengukuran berat badan menggunakan timbangan injak yang sudah

ditera dengan ketelitian 0,1 kg dan menggunakan pakaian ringan.

3. Pengukuran tinggi badan menggunakan microtoise dengan ketelitian

0,1cm dan tanpa menggunakan alas kaki.

4. Menghitung BB/TB dan IMT (Indeks Massa Tubuh) yang dihitung dari

berat badan dibagi dengan tinggi badan badan kuadrat (kg/m 2).

Kemudian hasil pengukuran IMT diplotkan ke dalam kurva NCHS dan

kurva IMT persentil ke-95 yang sesuai umur dan jenis kelamin.

5. Tekanan darah diukur dengan menggunakan sphygmomanometer air

raksa sesuai dengan cara baku National High Blood Pressure

Education Program Working Group on High Blood Pressure in

Children and Adolescents tahun 2004.


69

Pengukuran tekanan darah dilakukan setelah anak beristirahat dalam

posisi duduk minimal selama 5 menit, tekanan darah diukur pada

lengan kanan dalam posisi duduk dengan sandaran punggung, kaki

menempel di lantai, dan lengan bawah yang diletakkan di atas meja

sehingga lengan atas berada setinggi jantung. Pengukuran dilakukan

dengan cara auskultasi dan menggunakan manset (cuff) yang sesuai

dengan ukuran lengan atas. Dilakukan 3 kali pengukuran dengan

interval 1 menit dan diambil nilai rata-ratanya. Hasil rata-rata tekanan

darahnya kemudian disesuaikan dengan tabel tekanan darah

berdasarkan jenis kelamin, umur, dan persentil tinggi badan.

6. Lingkar Pinggang diukur pada posisi berdiri. Pengukuran dilakukan

pada pertengahan antara lengkung paling rendah dari kosta dan

puncak paling atas dari krista iliaka pada saat akhir ekspirasi normal.

7. Pemeriksaan kadar gula darah puasa, kolesterol HDL, dan trigliserida

dengan blood analyser menggunakan alat Cobas Integra 400 Plus

dengan metode Chemilumenescence.

8. Pemeriksaan kadar 25 (OH)D menggunakan metode

Chemiluminescence Immune Assay dengan Dia Sorin Liaison.


70

IV.7.3 Alur Penelitian

Siswa SD, SMP dan SMA


(Frater, Nusantara, Athirah)
n = 180

Tidak memenuhi kriteria


IMT ≥ persentil ke – 95 inklusi (n = 13 )
( n = 96)  tidak mendapatkan ijin
dari orang tua
 tidak puasa saat
pengambilan sampel
darah

Pengukuran tekanan darah, lingkar pinggang kadar trigliserida, HDL, gula darah
puasa, 25 (OH)D3 (n= 83)

Defisiensi vitamin D status vitamin D normal


(n= 51) (n = 32)

sindrom bukan sindrom bukan


metabolik sindrom metabolik sindrom
(n = 36) metabolik (n= 7) metabolik
(n= 15) (n= 25)

ANALISIS
Total sampel yang dianalisis (83 siswa) → 43 siswa (sindrom metabolik) dan 40 siswa (tidak
sindrom metabolik)
71

IV.8. Identifikasi dan klasifikasi variabel

IV.8.1. Identifikasi variabel

1. Umur, jenis kelamin, indeks massa tubuh, status pubertas

2. Sindrom metabolik (profil lipid, lingkar pinggang, gula darah

puasa,tekanan darah)

3. Kadar vitamin 25 (OH)D

IV.8.2. Klasifikasi Variabel

1. Variabel bebas adalah kadar vitamin D serum 25(OH)D yang

merupakan variabel numerik yang di adjusted menjadi variabel

kategorik

2. Variabel tergantung adalah sindrom metabolik yang merupakan

variabel kategorik

3. Variabel kendali adalah umur, gangguan fungsi hati, ginjal dan

hormon paratiroid

4. Variabel moderator jenis kelamin, diet, status pubertas, faktor

genetik dan aktivitas fisik

5. Variabel antara adalah proses biologis metabolisme vitamin D

pada reseptor organ target yang tidak dapat diukur


72

IV.9. Definisi Operasional dan Kriteria Objektif

IV.9.1. Definisi Operasional

1. Kadar Vitamin D adalah kadar 25 (OH) D pada serum yang diukur

dengan metode Chemiluminescence Immune Assay dengan Dia

Sorin Liaison.

2. Indeks massa tubuh: adalah perhitungan indeks massa tubuh

dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

IMT = BB/ TB2 (m)

Interpretasi oleh CDC -NCHS grafik pertumbuhan untuk obesitas

usia > 2 tahun sesuai usia dengan seks

3. Berat badan adalah ukuran berat badan dengan menggunakan

skala digital tanpa sepatu (kg)

4. Tinggi badan adalah ukuran tinggi menggunakan mikrotois dengan

skala terdekat 0,1 sentimeter

5. Lingkar pinggang adalah ukuran LP yang diperoleh dengan

mengukur lingkar pinggang pada pertengahan antara lengkung

paling rendah dari kosta dan puncak paling atas dari krista iliaka

pada saat akhir ekspirasi normal.

6. Tekanan darah adalah tekanan yang ditimbulkan pada dinding

pembuluh darah saat darah bersirkulasi, merupakan hasil kali

tahanan vaskuler perifer dan curah jantung, dinyatakan sebagai

rasio tekanan sistolik terhadap tekanan diastolik, dan diukur dalam

satuan milimeter air raksa (mmHg).


73

7. Jenis kelamin adalah laki-laki atau perempuan yang ditentukan

berdasarkan keterangan orang tua dan konfirmasi pemeriksaan

fisik.

8. Umur adalah usia kronologis yang dihitung berdasarkan

pengurangan tanggal, bulan dan tahun saat diambil sebagai

sampel dengan tanggal,bulan dan tahun kelahiran.

9. Status pubertas adalah tahapan maturitas seksual anak

berdasarkan skala Tanner. Pada anak perempuan dilakukan

inspeksi dan palpasi payudara, dan inspeksi rambut pubis. Hasil

pemeriksaan dinilai dengan skala Tanner I-V. Pada anak laki-laki

penentuan tahapan pubertas dilakukan melaluipengukuran volume

testis dengan menggunakan Orchidometer Prader. Hasil

pemeriksaan dinilai dengan skala Tanner I-V.

10. Trigliserida adalah fraksi lemak terbesar makanan (98%),

merupakan indikator banyaknya lemak yang dimakan.Trigliserida

tersimpan dalam jaringan adiposa sebagai simpanan energi.

Trigliserida diukur dengan blood analyser (metode Homogeneous)

dan menggunakan alat Cobas e501.

11. Kolesterol HDL adalah lipoprotein pengangkut kelebihan kolesterol

yang tidak terpakai di jaringan. Kelebihan lipoprotein tersebut

kemudian diangkut kembali ke hati untuk diekskresi ke empedu.

Kadar HDL diukur dengan blood analyser (metode Homogeneous)

dan menggunakan alat Cobas e501.


74

12. Gula darah puasa adalah kadar gula darah plasma yang diperiksa

setelah seseorang berpuasa minimal 6 jam sebelum pemeriksaan.

13. Penyakit hati adalah kondisi yang menyebabkan gangguan fungsi

hati dengan gejal antara lain, ikterus, ascites maupun edema.

14. Penyakit ginjal adalah kondisi yang menyebabkan gangguan fungsi

ginjal yang memberikan gejala antara lain sesak, edema palpebra,

pretibial, dorsum pedis, hematuria maupun oligouria.

15. Penyakit endokrin adalah kondisi yang menunjukkan gangguan

fungsi hormon paratiroid yang memberikan gejala antara lain

kejang, gerakan involunter otot.

16. Sindrom metabolik adalah suatu kondisi yang menunjukkan

gangguan metabolisme berdasarkan kriteria yang dimodifikasi IDAI,

setidaknya terdapat tiga dari lima kriteria gejala yaitu lingkar

pinggang P ≥ 80 menurut Taylor dkk, tekanan darah lebih dari

persentil ke-95 berdasarkan jenis kelamin, usia, tinggi badan, kadar

gula darah puasa ≥100 mg/dl, kadar HDL ≤ 40 mg/dl, dan kadar

trigliserida ≥110 mg/dl.

IV.9.2. Kriteria Obyektif

1. Indeks massa tubuh

Interpretasi :

 <5 persentil: underweight

 persentil ke-85 - 95: normoweight

 persentil 85 - 95 persen: overweight


75

 ≥ persentil ke-95: obesitas

2. Lingkar pinggang: berdasarkan tabel menurut Taylor dkk sesuai

usia dan jenis kelamin

3. Vitamin D 25 (OH) D

 Normal: 20-100 ng / mL (50-250 nmol / L)

 Insufisiensi: 15-20 ng / mL (37,5-50 nmol / L)

 Defisiensi : < 15 ng / mL ( < 37,5 nmol / L)

 Defisiensi berat: <5 ng / mL (≤ 12,5 nmol / L)

4. Tekanan darah: hipertensi jika sistolik dan atau tekanan darah

diastolik > persentil ke-95 berdasarkan jenis kelamin, usia dan

tinggi badan

5. Status pubertas dibedakan atas :

 Prepubertas : Skala I Tanner

 Pubertas : Skala II – V Tanner

6. Kolesterol HDL

 Dikatakan rendah : ≤ 40 mg/100 ml

 Dikatakan tinggi : ≥ 60 mg/100 ml

 Cut off point yang digunakan yaitu ≤ 40 mg/100 ml.

7. Trigliserida

 Dikatakan normal :< 110 mg/dL

 Dikatakan tinggi : ≥ 110-199 mg/ dL

 Cut off point yang digunakan yaitu ≥ 110 mg/ dL


76

8. Gula darah puasa

 Dikatakan normal :< 100 mg/dl

 Dikatakan tinggi : ≥ 100mg/dl

 Cut off point yang digunakan yaitu ≥ 100 mg/dl.

9. Sindrom metabolik, jika lingkar pinggang ≥ persentil ke-80 ditambah

dua atau lebih dari indeks berikut untuk semua anak laki-laki dan

perempuan:

 Trigliserida ≥ 110 mg / dL

 Tekanan darah diatas persentil 95

 Glukosa darah puasa ≥ 100 mg / dL (5,6 mmol / L)

 HDL-C ≤ 40 mg / dL (1,03 mmol / L)

IV.10. Pengolahan dan analisis data

Semua data yang diperoleh dicatat dalam formulir data penelitian,

kemudian dikelompokkan berdasarkan tujuan dan jenis data. Selanjutnya

dipilih metode statistik yang sesuai, yaitu :

IV.10.1. Analisis Univariat

Digunakan untuk deskripsi data-data berupa deskripsi frekuensi,

nilai rata-rata, simpang baku dan rentangan.


77

IV.10.2. Analisis Bivariat

1. Uji Mann Whitney

Digunakan untuk membandingkan variabel berskala ordinal atau

numerik yang datanya tidak terdistribusi normal dan varians berbeda

antara dua kelompok yang tidak berpasangan.

2. Uji x2 (chi square)

Untuk membandingkan variabel berskala nominal antara dua

kelompok atau lebih yang tidak berpasangan. Dalam hal ini untuk

menentukan kemaknaan hubungan defisiensi vitamin D dengan angka

kejadian sindrom metabolik. Menghitung crude odds ratio dengan

confidence interval 95% untuk menentukan besarnya peluang

mengalami sindrom metabolik bila mempunyai status defisiensi

vitamin D.

IV.11. Penilaian Hasil Uji Hipotesis

Hasil uji hipotesis ditetapkan sebagai berikut :

1. Tidak bermakna bila p > 0,05.

2. Bermakna bila p ≤ 0,05.

3. Sangat bermakna bila p ≤ 0,01

4. Odd ratio dengan CI 95 % > 1 menunjukkan bahwa faktor yang

diteliti memang faktor risiko.


78

BAB V

HASIL PENELITIAN

V.1. Jumlah Sampel

Penelitian telah dilaksanakan pada bulan Juni 2017 sampai

Agustus 2017 di tiga sekolah terpilih, yaitu SD, SMP dan SMA (Frater,

Nusantara dan Athirah) berdasarkan probabilitas untuk mendapatkan

sampel obesitas yang besar. Setelah dilakukan pengukuran berat badan

dan tinggi badan terhadap 180 siswa, didapatkan total sampel obesitas

sebanyak 96 siswa. Dari 96 siswa obesitas yang dieksklusi sebanyak 13

orang karena tidak mendapat ijin dari orang tua dan anak tidak puasa

pada saat pengambilan sampel darah. Sehingga yang memenuhi kriteria

inklusi sebanyak 83 siswa. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan LP, TD,

GDP, HDL dan Trigliserida pada 83 siswa. Berdasarkan hasil tersebut

diperoleh kelompok anak obes dengan sindrom metabolik sebanyak 43

orang dan kelompok anak obes tidak sindrom metabolik sebanyak 40

orang, sesuai dengan jumlah sampel minimal sampel penelitian.

V.2. Karakteristik Sampel

Pada penelitian ini terdapat total 83 subyek. Dari seluruh sampel

yang ada (83) siswa terdiri dari 29 siswa SD, 42 siswa SMP dan 12 siswa

SMA .
79

Pada kelompok sindrom metabolik terdapat 24 (52,2%) siswa laki-

laki dan 22 (47,8%) siswa laki-laki pada kelompok tidak sindrom

metabolik.

Adapun karakteristik sampel penelitian dapat dilihat pada tabel 3

berikut.

Tabel 3. Karakteristik sampel penelitian

Sindrom Tidak Nilai p


Metabolik Sindrom
No. Karakteristik Sampel
Metabolik
(n= 43) (n= 40)
1 Jenis Kelamin
Laki-laki (%) 24 (52,2%) 22 (47,8%) 0,129*
Perempuan (%) 19 (51,3%) 18 (48,7%)

2 Umur (tahun)
Mean 12,97 12,49 0,941**
Median 13,58 12,46
Minimum-maksimum 6,67 – 17,08 7,75 – 17,25
Standar Deviasi 1,89 2,53

3 Indeks Masa Tubuh


(kg/m2)
Mean 28,79 26,09
Median 28,62 25,32
Minimum-maksimum 19,24 – 35,06 19,63 – 33,91
StandarDeviasi 3,06 3,62

4 Kadar 25 (OH)D (ng/mL)


Mean 14,55 22,78 0,00*
Median 12,50 23,25
Minimum-maksimum 8,30 – 33,30 8,37 – 35,75
Standar Deviasi 6,55 6,51

5 Status Pubertas
Pre-pubertas 3 (33,3%) 6 (66,7%) 0,24**
Pubertas 40 (54,1%) 34 (45,9%)

*
Uji Mann-Whitney U
**
Uji Chi Square
80

V.3. ANALISIS UJI RELIABILITAS DAN VALIDITAS DALAM

MENGUKUR BERAT BADAN, TINGGI BADAN DAN LINGKAR

PINGGANG

V.3.1 Analisis uji reliabilitas dalam mengukur berat badan

Pengkuran realibilitas dilakukan intra examiner mengukur tinggi

badan pada subyek penelitian untuk peneliti dalam waktu yang berbeda,

yang ditentukan berdasarkan nilai koefisien variasi. Penilaian ini dilakukan

secara triplikat oleh peneliti pada 20 subyek. Koefisien variasi intra

examiner diperoleh dari hasil perhitungan simpangan baku dibagi nilai

rerata berat badan dikalikan 100%. Hasil analisis uji reliabilitas dalam

mengukur berat badan dapat dilihat pada tabel berikut.


81

Tabel 4. Uji realibilitas intra-examiner dalam mengukur berat badan

Subyek Berat Berat Berat SD mean CfVar


Badan1 Badan 2 Badan 3
(kg) (kg) (kg)
1 51.00 51.00 51.00 .00 51.00 .00
2 52.00 52.10 52.00 .06 52.03 .00
3 53.00 53.20 53.00 .12 53.07 .00
4 72.00 72.00 72.10 .06 72.03 .00
5 67.00 67.00 67.00 .00 67.00 .00
6 62.00 62.50 62.50 .29 62.33 .00
7 52.80 52.50 52.80 .17 52.70 .00
8 80.00 80.00 80.00 .00 80.00 .00
9 65.20 65.20 65.20 .00 65.20 .00
10 61.50 61.50 61.50 .00 61.50 .00
11 73.00 73.20 73.20 .12 73.13 .00
12 55.00 55.00 55.00 .00 55.00 .00
13 53.40 53.50 53.50 .06 53.47 .00
14 80.10 80.10 80.00 .06 80.07 .00
15 73.10 73.10 73.10 .00 73.10 .00
16 71.00 71.20 71.20 .12 71.13 .00
17 81.50 81.50 81.50 .00 81.50 .00
18 76.80 76.80 76.80 .00 76.80 .00
19 73.00 73.00 73.00 .00 73.00 .00
20 89.00 88.50 88.50 .29 88.67 .00
0.0664 67.1367 0.0010

Dari tabel diatas diperoleh nilai koefisien variasi 0,0063 x 100% = 0,1%

(CoV < 10%)


82

V.3.2 Analisis uji validitas dalam mengukur berat badan

Pengukuran validitas dilakukan pada inter-examiner yang

mengukur berat badan antara verifikator dan peneliti yang ditentukan

dengan uji-t berpasangan dan uji korelasi Pearson. Hasil pengukuran

validitas dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 5. Analisis validitas pengukuran berat badan interexaminer

Peneliti Verifikator
Mean 67,12 67,19
Median 69,00 69,10
Standar Deviasi 11,577 11,495
Min-Max 51 – 89 51,50 – 88,70
Uji-t p = 0,142(p> 0,05)

Tabel 6. Uji korelasi Pearson verifikator dan peneliti

Verifikator
Peneliti r = 1,000
p = 0,000
n = 20
Uji Pearson

Dari hasil analisis didapatkan nilai mean antara peneliti dan

verifikator masing-masing 67,12 dan 67,19. Dengan uji-t berpasangan,


83

nilai p=0,142 > 0,05 menunjukkan tidak ada perbedaan bermakna

pengukuran berat badan antara peneliti dan verifikator (Tabel 5). Nilai

korelasi Pearson didapatkan nilai significancy yang menunjukkan korelasi

antara peneliti dan verifikator bermakna. Nilai korelasi Pearson sebesar

1,000 menunjukkan arah korelasi positif dengan kekuatan korelasi

sempurna (Tabel 6).

V.3.3 Analisis uji reliabilitas dalam mengukur tinggi badan

Pengkuran realibilitas dilakukan intra examiner mengukur tinggi

badan pada subyek penelitian untuk peneliti dalam waktu yang berbeda,

yang ditentukan berdasarkan nilai koefisien variasi. Penilaian ini dilakukan

secara triplikat oleh peneliti pada 20 subyek. Koefisien variasi intra

examiner diperoleh dari hasil perhitungan simpangan baku dibagi nilai

rerata tinggi badan dikalikan 100%. Hasil analisis uji reliabilitas dalam

mengukur tinggi badan dapat dilihat pada tabel berikut.


84

Tabel 7. Uji realibilitas intra-examiner dalam mengukur tinggi badan

Subyek Tinggi Tinggi Tinggi SD Mean CfVar


Badan1 Badan 2 Badan 3
(cm) (cm) (cm)
1 1.45 1.40 1.50 .05 1.45 .03
2 1.51 1.52 1.51 .01 1.51 .00
3 1.48 1.50 1.48 .01 1.49 .01
4 1.62 1.62 1.62 .00 1.62 .00
5 1.47 1.50 1.47 .02 1.48 .01
6 1.59 1.60 1.55 .03 1.58 .02
7 1.37 1.37 1.37 .00 1.37 .00
8 1.56 1.58 1.58 .01 1.57 .01
9 1.54 1.55 1.54 .01 1.54 .00
10 1.45 1.48 1.45 .02 1.46 .01
11 1.56 1.56 1.58 .01 1.57 .01
12 1.46 1.46 1.46 .00 1.46 .00
13 1.48 1.48 1.48 .00 1.48 .00
14 1.62 1.60 1.60 .01 1.61 .01
15 1.46 1.46 1.46 .00 1.46 .00
16 1.56 1.55 1.56 .01 1.56 .00
17 1.56 1.55 1.56 .01 1.56 .00
18 1.65 1.65 1.65 .00 1.65 .00
19 1.50 1.50 1.50 .00 1.50 .00
20 1.62 1.60 1.62 .01 1.61 .01
0.0096 1.5263 0.0063
Dari tabel diatas diperoleh nilai koefisien variasi 0,0063 x 100% = 0,6%

(CoV < 10%)

V.3.4 Analisis uji validitas dalam mengukur tinggi badan

Pengukuran validitas dilakukan pada inter-examiner yang

mengukur tinggi badan antara verifikator dan peneliti yang ditentukan


85

dengan uji-t berpasangan dan uji korelasi Pearson. Hasil pengukuran

validitas dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 8. Analisis validitas pengukuran tinggi badan inter examiner

Peneliti Verifikator
Mean 1,52 1,52
Median 1,52 1,53
Standar Deviasi 0,073 0,073
Min-Max 1,37– 1,65 1,37 – 1,65
Uji-t p = 0,810 (p> 0,05)

Tabel 9. Uji korelasi Pearson verifikator dan peneliti

Verifikator

Peneliti r = 0,969
p = 0,000
n = 20
Uji Pearson

Dari hasil analisis didapatkan nilai mean antara peneliti dan

verifikator masing-masing 1,52 dan 1,52. Dengan uji-t berpasangan, nilai

p=0,810 > 0,05 menunjukkan tidak ada perbedaan bermakna pengukuran

tinggi badan antara peneliti dan verifikator (Tabel 8). Nilai korelasi

Pearson didapatkan nilai significancy yang menunjukkan korelasi antara

peneliti dan verifikator bermakna. Nilai korelasi Pearson sebesar 0,969

menunjukkan arah korelasi positif dengan kekuatan korelasi sangat kuat

(Tabel 9).
86

V.3.5 Analisis uji reliabilitas dalam mengukur lingkar pinggang

Pengkuran realibilitas dilakukan intra examiner mengukur lingkar

pinggang pada subyek penelitian untuk peneliti dalam waktu yang

berbeda, yang ditentukan berdasarkan nilai koefisien variasi. Penilaian ini

dilakukan secara triplikat oleh peneliti pada 20 subyek. Koefisien variasi

intra examiner diperoleh dari hasil perhitungan simpangan baku dibagi

nilai rerata lingkar pinggang dikalikan 100%. Hasil analisis uji reliabilitas

dalam mengukur lingkar pinggang dapat dilihat pada tabel berikut.


87

Tabel 10. Uji realibilitas intra-examiner dalam mengukur lingkar pinggang

Subyek Lingkar Lingkar Lingkar SD Mean CfVar


Pinggang Pinggang Pinggang
1 2 3
(cm) (cm) (cm)
1 81.00 80.50 81.00 .29 80.83 .00
2 78.00 78.00 78.00 .00 78.00 .00
3 71.00 71.00 71.00 .00 71.00 .00
4 98.00 98.50 98.50 .29 98.33 .00
5 78.00 78.00 77.50 .29 77.83 .00
6 97.00 97.00 97.00 .00 97.00 .00
7 69.00 70.00 70.00 .58 69.67 .01
8 98.00 98.50 98.50 .29 98.33 .00
9 83.00 83.00 83.50 .29 83.17 .00
10 92.00 92.30 92.00 .17 92.10 .00
11 99.00 99.00 99.00 .00 99.00 .00
12 78.00 78.00 78.00 .00 78.00 .00
13 80.00 80.00 80.00 .00 80.00 .00
14 98.00 98.50 98.50 .29 98.33 .00
15 92.00 92.50 92.50 .29 92.33 .00
16 66.00 66.00 66.00 .00 66.00 .00
17 104.00 104.00 104.00 .00 104.00 .00
18 90.00 90.00 90.00 .00 90.00 .00
19 105.00 104.00 104.00 .58 104.33 .01
20 104.00 104.50 104.50 .29 104.33 .00
0.1819 88.1300 0.0021
Dari tabel diatas diperoleh nilai koefisien variasi 0,0021 x 100% = 0,21%

(CoV < 10%)


88

V.3.6 Analisis uji validitas dalam mengukur lingkar pinggang

Pengukuran validitas dilakukan pada inter-examiner yang

mengukur lingkar pinggang antara verifikator dan peneliti yang ditentukan

dengan uji-t berpasangan dan uji korelasi Pearson. Hasil pengukuran

validitas dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 11. Analisis validitas pengukuran lingkar pinggang inter examiner

Peneliti Verifikator
Mean 88,05 88,21
Median 91,00 91,15
Standar Deviasi 12,377 12,240
Min-Max 66 – 105 66 - 104
Uji-t p = 0,104(p> 0,05)

Tabel 12. Uji korelasi Pearson verifikator dan peneliti

Verifikator
Peneliti r = 0,999
p = 0,000
n = 20
Uji Pearson

Dari hasil analisis didapatkan nilai mean antara peneliti dan

verifikator masing-masing 88,05 dan 88,21. Dengan uji-t berpasangan,

nilai p=0,104 > 0,05 menunjukkan tidak ada perbedaan bermakna

pengukuran berat badan antara peneliti dan verifikator (Tabel 11). Nilai

korelasi Pearson didapatkan nilai significancy yang menunjukkan korelasi

antara peneliti dan verifikator bermakna. Nilai korelasi Pearson sebesar


89

0,999 menunjukkan arah korelasi positif dengan kekuatan korelasi sangat

kuat (Tabel 12).

V.4 EVALUASI HASIL PEMERIKSAAN KADAR 25 (OH)D

Pada uji normalitas menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov untuk

kadar 25 (OH)D didapatkan distribusi data tidak normal (< 0,05), sehingga

digunakan uji Mann Whitney.

Nilai rerata kadar 25(OH)D pada kelompok sindrom metabolik dan

tidak sindrom metabolik dapat dilihat pada tabel 13.

Tabel 13. Nilai rerata kadar 25 (OH)D pada kelompok sindrom metabolik

dan tidak sindrom metabolik

Kadar 25 (OH)D (ng/mL) Sindrom Metabolik Tidak Sindrom Metabolik


(n = 43) (n = 40)
Mean 14,55 22,78

Median 12,50 23,25

Standar Deviasi 6,55 6,51

Minimum – maksimum 8,30 – 33,30 8,37 – 35,75

Uji Mann Whitney p= 0,000 (p< 0,05)

Pada tabel 13, menunjukkan rerata kadar 25 (OH)D pada kelompok

sindrom metabolik 14,55 ng/ml, nilai median 12,50 ng/ml dan rentangan

8,30 – 33,30 ng/ml. Sedangkan pada kelompok tidak sindrom metabolik,

nilai rerata kadar 25(OH)D 22,78 ng/ml, nilai median 23,25 ng/ml dengan

rentangan 8,37 – 35,75 ng/ml. Hasil uji Mann Whitney menunjukkan

bahwa terdapat perbedaan bermakna antara kedua kelompok ini dengan

nilai p = 0,000 (p< 0,001)


90

V.4 HUBUNGAN ANTARA JENIS KELAMIN DAN DEFISIENSI VITAMIN

Frekuensi defisiensi vitamin D berdasarkan jenis kelamin dapat

dilihat pada tabel berikut :

Tabel 14. Analisis frekuensi defisiensi vitamin D berdasarkan jenis kelamin

Vitamin D Total
Jenis Kelamin
Defisiensi + Insufisiensi Normal

Laki-laki 27 (58,7%) 19 (41,3%) 46 (100%)

Perempuan 24 (64,9%) 13 (35,1%) 37 (100%)

Total 51 (61,4%) 32 (38,6%) 83 (100%)

Uji chi-square p = 0,56 OR = 1,29 (95%CI 0,53 – 3,17)

Pada kelompok laki-laki, 27 anak (58,7%) mengalami defisiensi

vitamin D sedangkan pada kelompok perempuan, sebanyak 24 anak

(64,9%) yang mengalami defisiensi vitamin D. Analisis statistik pada tabel

14 berdasarkan uji chi-square menunjukkan tidak ada pebedaan

bermakna frekuensi defisiensi vitamin D berdasarkan jenis kelamin,

dengan nilai p=0,56 (p>0,05).

Analisis besar risiko jenis kelamin terhadap defisiensi vitamin D

menunjukkan bahwa jenis kelamin bukanlah faktor risiko maupun protektif

untuk terjadinya defisiensi vitamin D, nilai Crude Odds Ratio (COR) = 1,29

dengan 95% CI (0,53 – 3,17).


91

V.5 HUBUNGAN ANTARA JENIS KELAMIN DAN SINDROM

METABOLIK

Frekuensi sindrom metabolik berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat

pada tabel berikut :

Tabel 15 . Analisis frekuensi sindrom metabolik berdasarkan jenis kelamin

Sindrom Metabolik Total


Jenis Kelamin
Ya Tidak

Laki-laki 24 (52,2%) 22 (47,8%) 46 (100%)

Perempuan 19 (51,3%) 18 (48,7%) 37 (100%)

Total 43 (51,8%) 40 (48,2%) 83 (100%)

Uji chi-square p = 0,941 OR = 0,968 (95%CI 0,407 – 2,301)

Pada kelompok laki-laki, 24 anak (52,2%) mengalami sindrom

metabolik sedangkan pada kelompok perempuan, sebanyak 19 anak

(51,3%) yang mengalami sindrom metabolik. Analisis statistik pada tabel

15 berdasarkan uji chi-square menunjukkan tidak ada pebedaan

bermakna frekuensi sindrom metabolik berdasarkan jenis kelamin, dengan

nilai p=0,941 (p>0,05).

Analisis besar risiko jenis kelamin terhadap kejadian sindrom

metabolik menunjukkan bahwa jenis kelamin bukanlah faktor risiko

maupun protektif untuk terjadinya sindrom metabolik, nilai Crude Odds

Ratio (COR) = 0,968 dengan 95% CI (0,407 – 2,301).


92

V.6 HUBUNGAN ANTARA STATUS PUBERTAS DAN DEFISIENSI

VITAMIN D

Frekuensi defisiensi vitamin D berdasarkan status pubertas dapat

dilihat pada tabel berikut :

Tabel 16. Analisis frekuensi defisiensi vitamin D berdasarkan status

pubertas

Vitamin D Total
Status Pubertas
Defisiensi + Insufisiensi Normal

Pre-pubertas 6 (66,7%) 3 (33,3%) 9 (100%)

Pubertas 45 (60,8%) 29 (39,2%) 74 (100%)

Total 51 (61,4%) 32 (38,6%) 83 (100%)

Uji chi-square p = 0,73 OR = 1,28 (95%CI 0,29 – 5,56)

Pada kelompok pre-pubertas, 6 anak (66,7%) mengalami defisiensi

vitamin D sedangkan pada kelompok pubertas, sebanyak 45 anak (60,8%)

yang mengalami defisiensi vitamin D. Analisis statistik pada tabel 16

berdasarkan uji chi-square menunjukkan tidak ada pebedaan bermakna

frekuensi defisiensi vitamin D berdasarkan status pubertas, dengan nilai

p=0,73 (p>0,05).

Analisis besar risiko status pubertas terhadap defisiensi vitamin D

menunjukkan bahwa status pubertas bukanlah faktor risiko maupun

protektif untuk terjadinya defisiensi vitamin D, nilai Crude Odds Ratio

(COR) = 1,28 dengan 95% CI (0,29 – 5,56).


93

V.7 HUBUNGAN ANTARA STATUS PUBERTAS DAN SINDROM

METABOLIK

Frekuensi sindrom metabolik berdasarkan status pubertas dapat

dilihat pada tabel berikut :

Tabel 17 . Analisis frekuensi sindrom metabolik berdasarkan status

pubertas

Sindrom Metabolik Total


Status Pubertas
Ya Tidak

Pre-pubertas 3 (33,3%) 6 (66,7%) 9 (100%)

Pubertas 40 (54,1%) 34 (45,9%) 74 (100%)

Total 43 (51,8%) 40 (48,2%) 83 (100%)

Uji chi-square p = 0,24 OR = 0,425 (95%CI 0,09 – 1,82)

Pada kelompok pre-pubertas, 3 anak (33,3%) mengalami sindrom

metabolik sedangkan pada kelompok pubertas, sebanyak 40 anak

(54,1%) yang mengalami sindrom metabolik. Analisis statistik pada tabel

17 berdasarkan uji chi-square menunjukkan tidak ada pebedaan

bermakna frekuensi sindrom metabolik berdasarkan status pubertas,

dengan nilai p=0,24 (p>0,05).

Analisis besar risiko status pubertas terhadap kejadian sindrom

metabolik menunjukkan bahwa status pubertas bukanlah faktor risiko

maupun protektif untuk terjadinya sindrom metabolik, nilai Crude Odds

Ratio (COR) = 0,425 dengan 95% CI (0,09 – 1,82).


94

V.8 HUBUNGAN ANTARA DEFISIENSI VITAMIN D DENGAN

SINDROM METABOLIK

Frekuensi defisiensi vitamin D yang mengalami sindrom metabolik

dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 18 . Analisis hubungan defisiensi vitamin D dengan sindrom

metabolik

Sindrom Metabolik Total


Status vitamin D
Ya Tidak

Defisiensi + insufisiensi 36 (70,6%) 15 (29,4%) 51 (100%)

Normal 7 ( 21,9%) 25 (78,1%) 32 100%)

Total 43 (51,8%) 40 (48,2%) 83 (100%)

Uji chi-square p= 0,000 OR=8,571 (CI 95% 3,054 – 24,060)

Frekuensi kejadian sindrom metabolik pada kelompok anak dengan

defisiensi vitamin D sebesar 36 (70,6%), sedangkan pada kelompok anak

dengan status vitamin D normal, sebanyak 7 (21,9%) yang mengalami

sindrom metabolik. Hasil analisis statistik pada tabel 18 menunjukkan

terdapat perbedaan bermakna kejadian sindrom metabolik antara

kelompok defisiensi vitamin D dengan status vitamin D normal dengan

nilai p= 0,000 (p<0,05).

Nilai odd ratio (OR) = 8,571 (CI 95% 3,054 – 24,060), yang berarti

risiko kejadian sindrom metabolik pada anak obesitas yang mengalami


95

defisiensi vitamin D, dibandingkan tidak defisiensi untuk mengalami

sindrom metabolik sebesar 8,57 kali.

Tabel 19 . Analisis hubungan status vitamin D dengan sindrom metabolik

Sindrom Metabolik Total


Status vitamin D
Ya Tidak

Defisiensi 29 (82,9%) 6 (17,1%) 35 (100%)

Insufisiensi 7 (43,7%) 9 (56,3%) 16 (100%)

Normal 7 ( 21,9%) 25 (78,1%) 32 (100%)

Total 43 (51,8%) 40 (48,2%) 83 (100%)

Uji chi-square p= 0,000

Analisis statistik berdasarkan uji chi-square menunjukkan pada

kelompok anak obes dengan defisiensi vitamin D, kejadian sindrom

metabolik sebesar 29 (82,9%), dan pada kelompok insufisiensi vitamin D

angka kejadian sindrom metabolik sebesar 7 (41,2%), sedangkan pada

kelompok status vitamin D normal, kejadian sindrom metabolik sebesar 7

(22,6%). Hasil analisis statistik pada tabel 19 menunjukkan bahwa

terdapat perbedaan kejadian sindrom metabolik anatara kelompok anak

dengan defisiensi, insufisiensi maupun status vitamin D normal. Sehingga

dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara status vitamin D dengan

kejadian sindrom metabolik pada anak obes dengan nilai p= 0,000

(p<0,05).
96

BAB VI

PEMBAHASAN

Peningkatan prevalensi anak dengan obesitas secara global telah

mencapai pada tingkat yang mengkhawatirkan dan menjadi suatu

tantangan kesehatan masyarakat yang serius dari abad ke -21. Tren ini

diperkirakan mencapai 60 juta jiwa pada tahun 2020. (WHO, 2012) Hal ini

diringi pula dengan peningkatan frekuensi defisiensi vitamin D (yang

ditunjukkan dengan kadar serum 25 (OH) D dibawah 20 ng/mL) oleh

karena deposisi atau sekuestrasi dalam jaringan lemak, demikian pula

oleh karena sekresi leptin yang akan menstimulasi fibroblast growth factor

23 yang akan menghambat sintesis enzim 1  hidroksilase dengan

konsekuensi gangguan produksi 1,25 (OH)D3. (Souza, 2015) Reseptor

vitamin D merupakan kelompok reseptor nuklir hormon steroid yang

mengikat 1,25 (OH)2D3 dengan afinitas tinggi dan memediasi regulasi

transkripsi gen menghasilkan respon genomik. (Hollick, 2006) Reseptor

vitamin D pada membran plasma memediasi kerja dari 1,25 (OH)2D3 dan

telah diidentifikasi terdapat di sebagian besar jaringan manusia, termasuk

jaringan yang berkaitan dengan homeostasis kalsium dan metabolisme

tulang. Termasuk otot polos, sel β pankreas dan sel epitel dan juga

berbagai sel-sel sistem kekebalan tubuh termasuk diabetes mellitus tipe 1.

Berbagai tempat ekspresi VDR mendasari efek beragam vitamin D dan


97

memberikan dasar mekanistik hubungan antara kekurangan vitamin D dan

sejumlah gangguan, termasuk penyakit kardiovaskuler, diabetes (tipe 1

dan tipe 2 ), resistensi insulin dan sindrom metabolik. (Hollick, 2006, Roth

C et.al, 2011) Penyakit ini, sering disebut sebagai penyakit tidak menular

(non communicable diseases), tidak hanya menyebabkan kematian

prematur tetapi juga morbiditas jangka panjang.

Kriteria sindrom metabolik yang dimodifikasi menurut IDAI adalah

obesitas abdominal yang ditandai dengan lingkar pinggang ≥ P80 menurut

Taylor dkk dan ditambah dengan lebih atau sama dengan dua parameter

berikut:

1. Tekanan darah :

Hipertensi adalah nilai rata-rata tekanan darah sistolik dan atau

diastolik lebih dari persentil ke-95 berdasarkan jenis kelamin, usia, dan

tinggi badan

2. Kadar kolesterol HDL

Kadar kolesterol HDL ≤ 40 mg/dL (semua usia/jenis kelamin, NCEP)

3. Kadar trigliserida

Kadar trigliserida ≥ 110 mg/dL (spesifik terhadap usia, NCEP)

4. Kadar glukosa darah puasa

Glukosa darah puasa ≥ 100 mg/dL atau terdiagnosis DMT2 (IDF).

(Pulungan A, 2009)
98

Penelitian ini dilakukan di tiga sekolah yaitu SD, SMP dan SMA

(Frater, Nusantara dan Athirah). Pemilihan ketiga sekolah tersebut

berdasarkan persamaan karakteristik siswa-siswa yang berasal dari status

sosial ekonomi menengah ke atas sehingga didapatkan sampel anak obes

yang besar. Penelitian ini merupakan penelitian studi cross sectional, yang

bertujuan untuk membandingkan angka kejadian sindrom metabolik

antara anak obes yang mengalami defisiensi vitamin D dengan anak obes

dengan status vitamin D normal.

Uji realibilitas dan validitas data telah dilakukan terhadap 20 anak

sebelum dimulai penelitian. Pada analisis uji validitas dalam mengukur

tinggi badan, tidak didapatkan perbedaan antara pengukuran yang

dilakukan oleh peneliti dan verifikator (p=0,810), juga didapatkan adanya

korelasi antara peneliti dan verifikator yang bermakna dan signifikan

dengan nilai korelasi Pearson sebesar 0,969 dengan nilai p <0,000, yang

menunjukkan arah korelasi positif dengan kekuatan korelasi sangat kuat.

Pada analisis uji validitas dalam mengukur berat badan, tidak

didapatkan perbedaan antara pengukuran yang dilakukan oleh peneliti

dan verifikator (p= 0,142), juga didapatkan adanya korelasi antara peneliti

dan verifikator yang bermakna dan signifikan dengan nilai korelasi

Pearson sebesar 1,000, dengan nilai p <0,000, yang menunjukkan arah

korelasi positif dengan kekuatan korelasi sempurna.

Pada analisis uji validitas dalam mengukur lingkar pinggang, tidak

didapatkan perbedaan antara pengukuran yang dilakukan oleh peneliti


99

dan verifikator (p= 0,104), juga didapatkan adanya korelasi antara peneliti

dan verifikator yang bermakna dan signifikan dengan nilai korelasi

Pearson sebesar 0,999, dengan nilai p <0,000, yang menunjukkan arah

korelasi positif dengan kekuatan korelasi sangat kuat.

Didapatkan jumlah sampel 83 anak obes yaitu 43 (51,8%) anak

obes dengan sindrom metabolik dan 40 (48,2%) anak obes tanpa sindrom

metabolik. Analisis dilakukan untuk membandingkan frekuensi kejadian

sindrom metabolik antara anak obes dengan defisiensi vitamin D dengan

anak obes dengan status vitamin D normal.

Pada penelitian ini didapatkan frekuensi defisiensi vitamin D

(<20ng/mL) pada anak laki-laki obes dibandingkan dengan anak

perempuan obes tidak bermakna signifikan dengan nilai p= 0,56 (p> 0,05).

Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Hassan dkk (2014)

terhadap 65 anak obes di Mesir yang mendapatkan hasil tidak ada

perbedaan signifikan frekuensi defisiensi vitamin D berdasarkan jenis

kelamin, dengan nilai p= 0,083 (p<0,05). Hasil ini serupa pula dengan

yang ditemukan oleh Kardas dkk (2013) di Turki yang menemukan tidak

ada hubungan bermakna antara status vitamin D dengan jenis kelamin.

Demikian pula serupa dengan penelitian yang dilakukan oleh

Shivaprakash dan Joseph di India (2012) dan penelitian oleh Johnson dkk

(2010) yang tidak menemukan hubungan antara status vitamin D dengan

jenis kelamin.
100

Berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Shady dkk (2015)

terhadap 200 anak-anak usia 9 hingga 11 tahun menemukan frekuensi

defisiensi vitamin D lebih banyak pada kelompok anak perempuan secara

bermakna dengan nilai p = 0,016. Hal ini diduga akibat perbedaan gaya

hidup antara jenis kelamin laki-laki dan perempuan, seperti anak

perempuan lebih banyak menghabiskan waktu di dalam ruangan tertutup

dan memakai pakaian yang tertutup yang akan mempengaruhi paparan

sinar matahari yang berperan pada sintesis vitamin D di kulit.

Pada penelitian ini secara statistik tidak ditemukan perbedaan

bermakna frekuensi kejadian sindrom metabolik berdasarkan jenis kelamin

dengan nilai p = 0,941 (p>0,05), yang berarti bahwa jenis kelamin tidak

berpengaruh terhadap kejadian sindrom metabolik. Ini berarti jenis kelamin

tidak memberikan bias pada analisis antara kelompok anak obes dengan

sindrom metabolik dan anak obes tanpa sindrom metabolik. Hal ini sesuai

dengan penelitian yang dilakukan oleh Sangun dkk (2011) terhadap 307

anak laki-laki dan 307 anak perempuan terhadap kejadian sindrom

metabolik tidak ditemukan hubungan yang bermakna dengan nilai p=0,1

(p<0,05). Demikian pula dengan penelitian yang dilakukan oleh

Sewaybricker dkk (2013) terhadap 65 anak obes usia 10 hingga 18 tahun

di Brasil, tidak menemukan perbedaan bermakana kejadian sindrom

metabolik berdasarkan jenis kelamin dengan nilai p = 0,3 (p<0,05).

Hal ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh

Sarrafzadegan dkk (2013) terhadap 1039 anak SMP dan 953 anak SMA,
101

menemukan bahwa kejadian sindrom metabolik lebih banyak pada

kelompok anak laki-laki di bandingkan perempuan dengan nilai p <0,001

(p<0,05).

Pada penelitian ini secara statistik tidak ditemukan perbedaan

bermakna frekuensi kejadian defisiensi vitamin D berdasarkan status

pubertas dengan nilai p = 0,73 (p>0,05), yang berarti bahwa status

pubertas tidak berpengaruh terhadap kejadian defisiensi vitamin D. Hal ini

berarti status pubertas tidak memberikan bias pada analisis kejadian

defisiensi vitamin D berdasarkan status pubertas. Hal ini sesuai dengan

penelitian yang dilakukan oleh Khadgawat dkk (2012) terhadap 62 subyek

penelitian, tidak ditemukan hubungan bermakna status vitamin D antara

kelompok pre-pubertas dan pubertas.

Pada penelitian ini secara statistik tidak ditemukan perbedaan

bermakna frekuensi kejadian sindrom metabolik berdasarkan status

pubertas dengan nilai p = 0,24 (p>0,05), yang berarti bahwa status

pubertas tidak berpengaruh terhadap kejadian sindrom metabolik. Ini

berarti status pubertas tidak memberikan bias pada analisis antara

kelompok anak obes dengan sindrom metabolik dan anak obes tanpa

sindrom metabolik. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh

Khadgawat dkk (2012) terhadap 62 subyek penelitian, tidak ditemukan

hubungan bermakna antara kelompok pre-pubertas dan pubertas

terhadap komponen sindrom metabolik.


102

Saat pubertas, terjadi perubahan dinamik pada antropometrik anak.

Lingkar pinggang perempuan pada masa pubertas akan lebih lebar

dibandingkan pre pubertal. Juga kadar lipid serum yang merupakan salah

satu komponen dari sindrom metabolik yang mencapai puncak saat usia

9-10 tahun dan kemudian kadarnya menurun. Kadar kolesterol total serum

menurun antara usia 10-16 tahun pada anak laki-laki dan usia 9-14 tahun

pada anak perempuan. Penurunan kadar kolesterol HDL dan kolesterol

LDL dikaitkan dengan peningkatan hormon testosteron pada anak laki-laki

dan peningkatan estradiol pada anak perempuan. Korelasi positif antara

kadar testosteron dengan kolesterol HDL, dan antara testosteron dan

kadar apo A1 ditemukan pada remaja laki-laki dengan status pubertasnya

pada stadium yang lebih tinggi menurut Tanner. Kadar testosteron yang

menurun mengakibatkan peningkatan aktivitas lipoprotein lipase sehingga

terjadi peningkatan ambilan trigliserida (Fujita et al., 2011; Ruiz et al.,

2006; Saad F,2009).

Namun hal ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh

Sangun dkk (2010) terhadap 614 anak di Turki usia 7 hingga 18 tahun,

menemukan perbedaan bermakna kejadian sindrom metabolik antara

kelompok pre-pubertas dan pubertas dengan nilai p=0,00 (p<0,05).

Hubungan defisiensi vitamin D terhadap kejadian sindrom

metabolik pada anak obes secara statistik didapatkan perbedaan

bermakna dengan nilai p=0,000 (p<0,001). Frekuensi kejadian sindrom

metabolik ditemukan lebih banyak pada kelompok anak obes dengan


103

defisiensi vitamin D (< 20ng/mL) yaitu 70,6% dibandingkan pada

kelompok dengan status vitamin D normal yaitu sebanyak 21,9%. Nilai

OR= 8,571 (CI 95% 3,054 – 24,060), ini berarti bahwa anak obes dengan

defisiensi vitamin D memiliki 8,57 kali risiko lebih besar untuk mengalami

sindrom metabolik dibandingkan anak obes dengan status vitamin D

normal, sehingga dapat dianjurkan pemeriksaan kadar vitamin D pada

semua anak obesitas yang mengalami sindrom metabolik maupun yang

belum mengalami sindrom metabolik.

Hubungan yang bermakna antara defisiensi vitamin D dan

peningkatan kejadian sindrom metabolik dikaitkan dengan peranan

metabolit vitamin D pada berbagai reseptornya yang ditemukan pada

banyak organ, antara lain peranannya sebagai regulator sistem renin

angiotensin. Sehingga penurunan kadar vitamin D dapat mengakibatkan

peningkatan angiotensinogen II. Demikian pula peranan vitamin D pada

sel endotel, peranan pada influx kalsium dan proliferasi sel otot polos

vaskuler, melalui reseptornya pula, defisiensi vitamin D mengakibatkan

inflamasi kronik dinding arteri sehingga mekanisme tersebut

mengakibatkan gangguan fungsi dan struktur vaskuler sehngga terjadi

peningkatan tekanan darah yang merupakan salah satu komponen

sindrom metabolik. (Kienrich et al., 2013) Demikian pula peranan vitamin

D melalui reseptor vitamin D pada sel β pankreas, dengan mengaktifkan

hidroksilase 1 dalam sel β pankreas. Sehingga kondisi defisiensi vitamin

D dapat mengganggu pelepasan insulin dari pankreas dan mengurangi


104

toleransi glukosa dan mengakibatkan kondisi hiperglikemia dan resistensi

insulin yang merupakan komponen sindrom metabolik. (Ding et al., 2012 ;

Shivaprakash & Joseph, 2014)

Hasil penelitian ini menunjukkan tren penurunan status vitamin D

seiring dengan peningkatan frekuensi kejadian sindrom metabolik.

Semakin rendah kadar vitamin D, makin semakin tinggi frekuensi kejadian

sindrom metabolik.

Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian cross sectional yang

dilakukan oleh Al-Dabhani dkk (2017) pada 1205 subyek di Qatar,

ditemukan bahwa serum vitamin D 8% lebih rendah pada subyek dengan

sindrom metabolik dengan nilai p= 0,01 (RR : 0,92, 95%CI : 0,87 – 0,98)

dibandingkan subyek tanpa sindrom metabolik. Jang dkk pada tahun 2013

melakukan penelitian terhadap 320 anak sekolah menengah usia 13 tahun

di kota Gwacheon, Korea. Penelitian tersebut menemukan korelasi

negatif antara kadar serum 25(OH)D dengan skor risiko metabolik (r = -

0,141, p= 0,012). Alfawaz dkk (2013) di Arab Saudi menemukan korelasi

negatif antara kadar vitamin D dengan komponen dari sindrom metabolik

antara lain kadar gula darah puasa, trigliserida dan tekanan darah sistolik

maupun diastolik, dan korelasi positif antara kadar vitamin D dengan kadar

HDL. Metabolit vitamin D berkaitan dengan peningkatan tekanan darah

melalui peranannya pada sistem renin angiotensin, beberapa penelitian

menunjukkan peranan vitamin D sebagai inhibitor sisitem renin

angiotensin melalui VDR. Demikian pula VDR dan enzim 1 hidroksilase


105

yang ditemukan pada otot polos dan sel endotel mngindikasikan peranan

vitamin D terhdap kejadian hipertensi yang merupakan salah satu

komponen dari sindrom metabolik. Nikooyeh dkk (2014) menemukan

hubungan yang bermakna antara defisiensi vitamin D dengan kejadian

sindrom metabolik dengan nilai p=0,026 (p<0,05), namun penelitian

tersebut dilakukan pada 101 penderita diabetes mellitus dewasa. Gagnon

dkk (2012) meneliti terhadap 4164 dewasa, selama pemantauan 5 tahun

ditemukan prevalensi sindrom metabolik sebesar 12,7%. Risiko sindrom

metabolik signifikan terjadi pada kadar 25 (OH)D < 18 ng/ml dengan odds

ratio 1,41 (95%CI : 1,02-1,95). Kadar vitamin D memiliki korelasi negatif

terhadap lingkar pinggang, kadar gula darah puasa dan trigliserida dengan

p< 0,001. Penelitian serupa pada anak dan remaja sangat sedikit. Reis

dkk pada studi cross sectional terhadapt 3577 remaja yang berparitisipasi

pada penelitian oleh NHANES periode 2001 – 2004 menyimpulkan

terdapat hubungan antara defisiensi vitamin D dengan hipertensi,

hiperglikemia, dan sindrom metabolik. (Cabral, 2013)

Namun dilain pihak Samingan dkk (2014), melakukan penelitian

cross sectional terhadap 543 anak multi etnis di Malaysia dengan status

gizi obes dan gizi lebih usia 13 hingga 17 tahun. Kebanyakan dari mereka

(62%) mengalami defisiensi vitamin D, dan sindrom metabolik ditemukan

pada kelompok obes sebanyak 22%, namun tidak ditemukan hubungan

bermakna antara defisiensi vitamin D dengan kejadian sindrom metabolik.


106

Pada penelitian ini terdapat 17,1% anak obes dengan defisiensi

vitamin D, namun kelompok tersebut belum mengalami sindrom metabolik.

Oleh karena pada penelitian ini tidak dianalisis berapa lama subyek

penelitian mengalami obesitas. Pada subyek ini pula tidak diketahui

berapa lama mengalami defisiensi vitamin D. Namun kelompok tersebut

memiliki risiko kejadian sindrom metabolik di kemudian hari. Suatu

penelitian kohort prospective oleh Gagnon dkk tahun 2012, selama

pemantauan 5 tahun ditemukan risiko sindrom metabolik signifikan terjadi

pada kadar 25(OH)D < 18 ng/ml.

Demikian pula sebaliknya ditemukan 21,9% anak dengan status

vitamin D normal namun mengalami sindrom metabolik. Kejadian sindrom

metabolik, dapat melalui beberapa mekanisme, selain mekanisme

peranan vitamin D, sindrom metabolik dapat terjadi oleh karena

abnormalitas profil lipid akibat distorsi sel-sel adiposit akibat obesitas.

Kerusakan sel adiposit yang kronik mengakibatkan pelepasan mediator

inflamasi yang kompleks, terjadi peningkatan TNF , IL-6 dan leptin serta

penurunan kadar adiponektin. Peningkatan ini mengakibatkan

peningkatan pelepasan asam lemak bebas. Peningkatan kadar asam

lemak dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan gangguan

terhadap respon sel β pankreas terhadap glukosa. Sehingga terjadi

peningkatan kadar gula darah. Insulin menghambat lipolisis dalam

jaringan lemak dan memicu transfer asam lemak bebas dari lipoprotein

sirkulasi ke jaringan lemak. Oleh karena itu kondisi resistensi insulin


107

menyebabkan kadar asam lemak bebas meningkat dalam sirkulasi akibat

lipolisis yang tidak terkendali dan menurunkan bersihan asam lemak

bebas di perifer. Peningkatan sirkulasi asam lemak bebas ke hati lebih

sering terjadi pada anak obesitas menyebabkan peningkatan sekresi

VLDL yang kaya akan trigliserida yang secara klinis bermanifestasi

sebagai peningkatan kadar trigliserida puasa.

Kejadian hipertensi yang merupakan salah satu komponen sindrom

metabolik, pada anak dengan status vitamin D normal, diduga dipengaruhi

oleh faktor-faktor lain di luar proses yang terjadi antara lain faktor diit,

stress, merokok, ras dan genetik yang tidak dianalisis dalam penelitian ini.

Mekanisme tersebut diduga sebagai penyebab kejadian sindrom

metabolik pada kelompok anak obes dengan status vitamin D normal.

Abnormalitas lipid ini juga dipengaruhi oleh faktor eksternal antara lain

aktivitas fisik, stres dan pola diit, serta faktor internal seperti ras/suku,

hormonal, dan genetik (riwayat keluarga dislipidemia). Namun pada

kelompok anak dengan defisiensi vitamin D dan belum mengalami

sindrom metabolik, perlu mendapatkan perhatian dan intervensi dini untuk

mencegah kejadian sindrom metabolik di kemudian hari. Suatu penelitian

prospektif yang dilakukan oleh Gagnon dkk, selama pemantauan 5 tahun,

kejadian sindrom metabolik lebih banyak pada kelompok dengan kadar

25(OH)D < 18 ng/mL, kemudian pada kelompok kadar 25 (OH)D 18 -23

ng/mL [OR = 1.41 (95%CI: 1.02-1.95) and 1.74 (95%CI:1.28-2.37).


108

Keterbatasan pada penelitian ini adalah tidak dilakukannya analisis

diit. Faktor diit sebagai sumber vitamin D baik vitamin D2 dari nabati

maupun vitamin D3 dari hewani dapat memepngaruhi kadar vitamin D

dalam tubuh. Selain itu terdapat pula peranan paparan matahari yang

berperan pada pembentukan vitamin D3 dari sel keratinosit. Sehingga

diperlukan penelitian lanjutan yang menganalisi hal tersebut. Selain itu,

perlu penelitian lanjut yang melibatkan kelompok anak dengan indeks

masa tubuh normal untuk memperkuat peranan vitamin D terhadap

kejadian sindrom metabolik.

Pada penelitian ini, peneliti hanya dapat melakukan kontrol parsial

asupan makanan dengan melakukan prosedur puasa dan pemeriksaan

dilakukan secara homogen yaitu jam 08.00 pagi pada saat anak telah

diistirahatkan dan belum melakukan aktivitas fisik sebelum pengambilan

sampel darah. Namun perubahan profil lipid membutuhkan waktu, hingga

besarnya nilai profil lipid yang terukur secara cross-sectional dapat

merupakan pencerminan proses yang sudah terjadi jauh sebelumnya.

Kekuatan penelitian ini pada kepatuhan anak terhadap prosedur

pengambilan sampel. Anak sudah cukup mengerti dan sangat kooperatif

dalam pemeriksaan fisik maupun pengambilan darah. Prosedur puasa

sebelum pengambilan darah selama 6 jam tidak menjadi kesulitan berarti

bagi anak-anak tahapan usia ini. Selain itu, penelitian ini melakukan

pemeriksaan status pubertas, berbeda dari penelitian sebelumnya. Saat

pubertas, terjadi perubahan dinamik pada antropometrik dan hormonal


109

yang mempengaruhi kadar profil lipid, tekanan darah dan kadar gula

darah yang merupakan komponen sindrom metabolik. Sehingga hal

tersebut mengurangi bias pada hasil penelitian dan menjadi salah satu

kekuatan pada penelitian ini.

Kekuatan lainnya adalah sekolah yang terpilih mempunyai Usaha

Kesehatan Sekolah (UKS) yang berjalan lancar sehingga baik guru, orang

tua murid, maupun murid mempunyai perhatian terhadap kesehatan

sehingga hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi warning bagi

semua pihak yang terkait akan bahaya sindrom metabolik akibat defisiensi

vitamin D yang sudah terjadi pada usia kanak-kanak. Sehingga dapat

memberikan umpan balik kepada sekolah dan orang tua murid untuk

meningkatkan usaha-usaha preventif terhadap defisiensi vitamin D dan

kejadian sindrom metabolik.


110

BAB VII

KESIMPULAN DAN SARAN

VII.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa :

1. Kadar 25 (OH)D pada kelompok anak obes dengan sindrom

metabolik lebih rendah dibandingkan anak obes yang tidak

mengalami sindrom metabolik

2. Frekuensi kejadian sindrom metabolik pada kelompok anak obes

dengan defisiensi vitamin D lebih besar (70,6%) dibandingkan

kelompok anak obes dengan status vitamin D normal (21,9%)

dengan nilai OR = 8,571 (CI 95% 3,054 – 24,060)

VII.2. Saran

Berdasarkan penelitian ini maka dapat disarankan :

1. Perlu pengawasan lanjut terhadap anak obes dengan defisiensi

vitamin D berisiko terhadap kejadian sindrom metabolik sehingga

dapat dilakukan upaya pencegahan dan intervensi dini berupa

kebijakan pemberian vitamin D untuk menurunkan angka

morbiditas dan kematian prematur.

2. Data penelitian ini dapat dijadikan dasar kepada orang tua, petugas

kesehatan, dan pemerintah sebagai pemegang kebijakan, untuk


111

memahami pentingnya pemeriksaan vitamin D pada anak obesitas

sebagai pencegahan terhadap kejadian sindrom metabolik.

3. Data penelitian ini dapat dijadikan dasar masukan kepada unit

pendidikan dalam rangka menyusun strategi di sekolah dalam hal

pencegahan kejadian defisiensi vitamin D dan sindrom metabolik.

4. Pada anak obes dengan defisiensi vitamin D dan mengalami

sindrom metabolik perlu mendapatkan perhatian khusus dan

intervensi secara proaktif untuk mengatasi sindrom metabolik.

5. Perlu penelitian lebih lanjut dengan desain penelitian kohort untuk

melibatkan faktor-faktor lain yang berpengaruh terhdap kejadian

defisiensi vitamin D dan sindrom metabolik seperti faktor

suku/genetik dan nutrisi.


LAMPIRAN 2

KUISIONER PENELITIAN HUBUNGAN DEFISIENSI VITAMIN D DENGAN SINDROM METABOLIK

Nama : Laki-laki
Tanggal Lahir : Perempuan
Alamat / Tlp Orang tua :
Berat badan lahir :
(pengisian kuisioner didampingi oleh orang tua siswa)
1. Apakah Anak pernah mengalami obesitas/kegemukan?
□ Tidak pernah
□ Pernah, jika pernahKapan mulai timbulnya obesitas/kegemukan :
□ Saat dalam kandungan (dikatakan berat badan berlebihan oleh dokter saat dalam kandungan)
□ Usia < 5 tahun
□ Usia 5-8 th
□ Usia >9 th
2. Riwayat kegemukan/obesitas dalam keluarga
□ Ada, sebutkan anggota kelurga yang gemuk : ____________________________________
□ Tidak ada
3. Apakah ada anggota keluarga yang menderita Diabetes Melitus/Kencing Manis?
□ Ada, sebutkan anggota kelurga yang kencing manis: ______________________________
□ Tidak ada
4. Apakah Anda sedang menderita Diabetes Melitus/Kencing Manis?
□ Ada, sebutkan pengobatan: ______________________________
□ Tidak ada

5. Riwayat anak mengkonsumsi obat golongan steroid (contoh : prednison/metilprednisolon/dexametason,dll)


□ Tidak
□ Ya, mengkonsumsi obat tersebut selama ............. hari/bulan/tahun
6. Riwayat penyakit anak (boleh memilih lebih dari satu penyakit)
□ Kemoterapi □ Radiasi □ Diabetes
□ Trauma kepala □ Infeksi Susunan Saraf Pusat
□ Lain-lain, sebutkan jenis penyakit __________________________________________
7. Apakah Anda pernah memperoleh pengobatan hormonal ?
□ Tidak
□ Ya, jenis pengobatan hormonal yang diperoleh __________________________________
8. Apakah Anda pernah menderita gangguan fungsi hati dalam 3 bulan terakhir?
□ Tidak
□ Ya, jenis pengobatan yang diperoleh __________________________________
9. Apakah Anda pernah menderita gangguan fungsi ginjal dalam 3 bulan terakhir?
□ Tidak
□ Ya, jenis pengobatan yang diperoleh __________________________________

10. Apakah Anda pernah atau sering mengeluhkan keram-keram atau kejang dalam 3 bulan terkahir?
□ Tidak
□ Ya, jenis pengobatan yang diperoleh __________________________________
Lampiran3.Grafik NCHS untuk penentuan status gizi
Lampiran 4.Grafik IMT untuk penentuan obesitas

LAMPIRAN 5.
Lampiran 5. Tabel tekanan darah

Tabel Tekanan Darah Anak Laki-laki Berdasarkan Persentil Usia dan Tinggi Badan
2. Tabel Tekanan Darah Anak Perempuan Berdasarkan Persentil Usia dan Tinggi
Badan