Anda di halaman 1dari 3

Blastomikosis

Deskripsi
Blastomikosis adalah penyakit granulomatosa kronis dan supurativa yang mempunyai
tahap paru primer yang seringkali diikuti dengan penyebaran ke bagian tubuh yang
lain, terutama kulit dan tulang. Meskipun penyakit ini telah lama diperkirakan terbatas
pada benua Amerika Utara, pada tahun-tahun belakangan ini kasus autokton telah
didiagnosis di Afrika, Asia dan Eropa. Semua bukti klinis dan epidemiologi yang
tersedia mengindikasikan bahwa manusia dan binatang yang lebih rendah terkena
blastomikosis dari beberapa sumber di alam. Meskipun demikian, habitat alami dari
Blastomyces dermatitidis belum jelas, meskipun sebagian laporan mengatakan bahwa
ia diisolasi dari tanah.

Manifestasi Klinis
Blastomikosis Paru: Pada sebagian besar individu, lesi paru asimtomatik dan tidak
terdeteksi sampai infeksi telah menyebar ke organ lain. Yang lain mengalami gejala
sesudah masa inkubasi 3-15 minggu. Pada sebagian besar kasus, blastomikosis
bersifat indolen dalam onset dan pasien menunjukkan gejala kronis seperti batuk,
demam, malaise dan kehilangan berat badan. Lesi menjadi lebih luas, dengan
berlanjutnya pernanahan, nekrosis dan kavitasi. Sebagian pasien menunjukkan gejala
onset yang akut dari infeksi, dengan timbulnya demam tinggi, menggigil, batuk
berdahak, mialgia, arthralgia dan nyeri dada pleuritis. Seringkali pasien-pasien ini
tampak sembuh sesudah gejala selama 2-12 minggu, tetapi sebagian akan kembali
berbulan-bulan kemudian dengan lesi pada tempat lain. Pasien lain dengan onset akut
akan gagal sembuh dan akan berkembang menjadi infeksi dada kronis atau infeksi
dada kronis atau infeksi yang menyebar. Temuan radiografi dada sangat bervariasi
dan bukan merupakan diagnostic.

Blastomikosis kutaneus: Penyebaran secara hematogen meningkatkan lesi kutaneus


pada lebih dari 70% pasien. Lesi ini kurang nyeri dan tampak seperti lesi verukosa
yang menonjol dengan tepi yang tidak teratur, atau berupa ulkus. Muka, bibir bagian
atas, leher dan kulit kepala adalah tempat yang paling sering terkena.

Ulkus bergranuloma akibat B. dermatitidis (Courtesy of John Rippon, USA).


Blastomikosis kutaneus (Courtesy of John Rippon, USA).

Osteoartikular blastomikosis: Terjadi pada sekitar 30% pasien dan organ yang
paling terkena adalah spina, pelvis, tulang kepala, tulang iga dan tulang panjang.
Pasien seringkali asimtomatik sampai infeksi menyebar ke sendi, atau ke dalam
jaringan lunak yang menyebabkan abses subkutaneus. Temuan radiologis seringkali
tidak spesifik dan artritis terjadi pada sekitar 10% pasien.

Bentuk-bentuk lain termasuk blastomikosis genitourinaria yang melibatkan prostat,


epididimis atau testis; penyebaran hematogen sampai ke otak menyebabkan
meningitis, abses spina atau otak. Organ-organ lain dapat juga terlibat dan telah
dilaporkan adanya kasus koroiditis dan endoftalmitis.

Pasien AIDS telah berkembang menjadi blastomikosis fulminan dengan penyebaran


yang luas setelah reaktivasi endogen dari infeksi sebelumnya.

Diagnosis Laboratorium
1. Bahan klinis: Kerokan kulit, sputum dan bilas bronkus, cairan serebrospinal,
cairan pleura, dan darah, sumsum tulang, urin dan biopsi jaringan dari
berbagai organ dalam.
2. Mikroskopik langsung: (a) Kerokan kulit harus diperiksa menggunakan
KOH 10% dan tinta Parker atau calcofluor white mounts; (b) Eksudat dan
cairan tubuh harus disentrifugasi dan sedimennya diperiksa dengan
menggunakan KOH 10% dan tinta Parker atau calcofluor white mounts, (c)
Potongan jaringan harus diwarnai dengan PAS digest, Grocott’s methenamine
silver (GMS) atau pewarnaan Gram.

Histopatologi sangat berguna dan merupakan satu dari cara yang paling penting untuk
memperingatkan laboratorium bahwa mereka mungkin menangani sesuatu yang
berpotensi sebagai patogen.

Potongan jaringan menunjukkan sel seperti ragi yang besar, dasarnya besar, kuncup
unipolar, berdiameter 8-15 mikrometer. Perhatikan: potongan jaringan perlu diwarnai
dengan cara Grocott’s methenamine silver untuk dapat melihat sel seperti ragi dengan
jelas, yang seringkali sulit dilihat pada sediaan H&E.

Interpretasi: Peraturannya adalah, pemeriksaan mikroskopik langsung yang positif


yang menunjukkan karakteristik sel seperti ragi dari sediaan apapun harus dipandang
sebagai sesuatu yang signifikan.

3. Kultur: Spesimen klinis harus diinokulasi ke dalam media isolasi primer


seperti agar dextrose Sabouraud dan agar infusi jantung otak ditambah dengan
darah kambing 5%.

Interpretasi: Kultur positif dari spesimen-spesimen diatas harus dikatakan signifikan.

PERINGATAN: Kultur Blastomyces dermatitidis merupakan biohazard bagi petugas


laboratorium dan harus ditangani dengan sangat hati-hati pada kabine penanganan
patogen yang tepat.

4. Serologi: Tes serologi memiliki nilai yang terbatas dalam diagnosis


Blastomikosis.
5. Identifikasi: Pada morfologi mikroskopik yang lalu, konversi dari bentuk
jamur ke bentuk ragi, dan patogenitas binatang telah digunakan semuanya;
meskipun demikian tes eksoantigen sekarang merupakan metode pilihan untuk
mengidentifikasi Blastomyces dermatitidis.

Agen Penyebab
Blastomyces dermatitidis

Penanganan
Amphotericin B [0.5 mg/kg per hari selama 10 minggu] tetap merupakan obat pilihan
bagi pasien dengan infeksi akut yang mengancam jiwa dan mereka dengan meningitis.
Pasien dengan kavitas paru dan lesi di tempat selain paru dan kulit membutuhkan
terapi yang lebih lama. Itraconazole oral [200 mg/hari untuk paling sedikit selama 3
bulan] adalah obat pilihan bagi pasien dengan bentuk blastomikosis yang indolen;
meskipun demikian jika pasien lambat memberikan respon, dosis harus ditingkatkan
menjadi 200 mg dua kali sehari. Pasien dengan infeksi serius yang memberikan
respon terhadap terapi awal dengan amphotericin, dapat diubah ke itraconazole
sampai akhir dari terapi mereka. Ketokonazole oral dapat digunakan, tetapi agak
kurang dapat ditoleransi. Flukonazole tampaknya kurang efektif dibandingkan dengan
itraconazole atau ketoconazole.