Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERWATAN PADA PASIEN

DENGAN DIAGNOSA RETENSI URINE DI RUANG NAKULA 1 RSUD KRMT


WONGSONEGORO SEMARANG

Disusun oleh:

Yanda Octa Herliani


P1337420617053

POLITEKNIK KEMENTRIAN KESEHATAN SEMARANG


PRODI S1 TERAPAN KEPERAWATAN SEMARANG
JURUSAN KEPERAWATAN SEMARANG
2019
I. JENIS KASUS
Retensi Urine

a. Definisi
Retensi urine adalah suatu keadaan penumpukan urine di kandung kemih dan tidak
mempunyai kemampuan untuk mengosongkannya secara sempurna.
Retensio urine adalah kesulitan miksi karena kegagalan urine dari fesika urinaria.
(Kapita Selekta Kedokteran).
Retensio urine adalah tertahannya urine di dalam kandung kemih, dapat terjadi
secara akut maupun kronis. (Depkes RI Pusdiknakes 1995).
Retensio urine adalah ketidakmampuan untuk melakukan urinasi meskipun terdapat
keinginan atau dorongan terhadap hal tersebut.(Brunner & Suddarth).
b. Etiologi
1. Supra vesikal berupa kerusakan pada pusat miksi di medullaspinalis
Kerusakan saraf simpatis dan parasimpatis baik sebagian ataupun seluruhnya,
misalnya pada operasi miles dan mesenterasi pelvis, kelainan medulla spinalis,
misalnya miningokel, tabes doraslis, atau spasmus sfinkter yang ditandai dengan rasa
sakit yang hebat.
2. Vesikal berupa kelemahan otot detrusor karena lama teregang, , atoni pada pasien
DM atau penyakit neurologist, divertikel yang besar.
3. Intravesikal berupa pembesaran prostat, kekakuan lehervesika, batu kecil dan tumor
4. Dapat disebabkan oleh kecemasan, pembesaran prostat,kelainan patologi uretra,
trauma, disfungsi neurogenik kandung kemih.
5. Beberapa obat mencakup preparat antikolinergik antispasmotik (atropine),preparat
antidepressant antipsikotik (Fenotiazin),dll.
c. Patofisiologi
d. Klasifikasi
1. Retensi urin akut adalah ketidakmampuan berkemih tiba-tiba dan disertai rasa sakit
meskipun buli-buli terisi penuh. Berbeda dengan kronis, tidak ada rasa sakit karena urin
sedikit demi sedikit tertimbun. Kondisi yang terkait adalah tidak dapat berkemih sama
sekali, kandung kemih penuh, terjadi tiba-tiba, disertai rasa nyeri, dan keadaan ini
termasuk kedaruratan dalam urologi. Kalau tidak dapat berkemih sama sekali segera
dipasang kateter.
2. Retensi urin kronik adalah retensi urin ‘tanpa rasa nyeri’ yang disebabkan oleh
peningkatan volume residu urin yang bertahap. Hal ini dapat disebabkan karena
pembesaran prostat, pembesaran sedikit2 lama2 ga bisa kencing. Bisa kencing sedikit
tapi bukan karena keinginannya sendiri tapi keluar sendiri karena tekanan lebih tinggi
daripada tekanan sfingternya. Kondisi yang terkait adalah masih dapat berkemih, namun
tidak lancar , sulit memulai berkemih (hesitancy), tidak dapat mengosongkan kandung
kemih dengan sempurna (tidak lampias). Retensi urin kronik tidak mengancam nyawa,
namun dapat menyebabkan permasalahan medis yang serius di kemudian hari..
Berdasarkan data juga dapat dilihat bahwa dengan bertambahnya umur pada laki-laki,
kejadian retensi urin juga akan semakin meningkat.
e. Manifestasi Klinis
1. Diawali dengan urine mengalir lambat
2. Kemudian terjadi poliuria yang makin lama menjadi parah karena pengosongan
kandung kemih tidak efisien.
3. Terjadi distensi abdomen akibat dilatasi kandung kemih.
4. Terasa ada tekanan, kadang terasa nyeri dan merasa ingin BAK.
5. Pada retensi berat bisa mencapai 2000 -3000 cc.
Tanda klinis retensi:
1. Ketidak nyamanan daerah pubis
2. Distensi vesika urinia
3. Ketidak sanggupan untuk berkemih
4. Ketidak seimbangan jumlah urin yang di keluarkan dengan asupannya.
f. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan specimen urine.
2. Pengambilan: steril, random, midstream.
3. Penagmbilan umum: pH, BJ, Kultur, Protein, Glukosa, Hb, KEton, Nitrit.
4. Sistoskopy, IVP
g. Penalataksanaan Medis
1. Kateterisasi urethra
2. Dilatasi urethra dengan boudy
3. Drainage suprapubik
h. Komplikasi
1. Urolitiasis atau nefrolitiasis Nefrolitiasis adalah adanya batu pada atau kalkulus dalam
velvis renal, sedangkan urolitiasis adalah adanya batu atau kalkulus dalam sistem
urinarius. Urolithiasis mengacu pada adanya batu (kalkuli) ditraktus urinarius. Batu
terbentuk dari traktus urinarius ketika konsentrasi subtansi tertentu seperti kalsium
oksalat, kalsium fosfat, dan asam urat meningkat.
2. Pielonefritis Pielonefritis adalah radang pada ginjal dan saluran kemih bagian atas.
Sebagian besar kasus pielonefritis adalah komplikasi dari infeksi kandung kemih
(sistitis). Bakteri masuk ke dalam tubuh dari kulit di sekitar uretra, kemudian bergerak
dari uretra ke kandung kemih. Kadang-kadang, penyebaran bakteri berlanjut dari
kandung kemih dan uretra sampai ke ureter dan salah satu atau kedua ginjal. Infeksi
ginjal yang dihasilkan disebut pielonefritis.
3. Hydronefrosis (pembengkakan ginjal)
4. Pendarahan
i. Pengkajian
a. Retensi urin berhubungan dengan ketidakmampuan kandung kemih untuk
berkontraksi dengan adekuat.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 X 24 jam masalah retensi urine
dapat teratasi.
Kriteria hasil :
- Berkemih dengan jumlah yang cukup
- Tidak teraba distensi kandung kemih
Intervensi :
1) Dorong pasien utnuk berkemih tiap 2-4 jam dan bila tiba-tiba dirasakan.
R : Meminimalkan retensi urin dan distensi berlebihan pada kandung kemih.
2) Awasi dan catat waktu dan jumlah tiap berkemih.
R : Retensi urin meningkatkan tekanan dalam saluran perkemihan atas.
3) Perkusi/palpasi area suprapubik
R: Distensi kandung kemih dapat dirasakan diarea suprapubik.
b. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi pada kandung kemih.
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 X 24 jam masalah nyeri dapat teratasi.
Kriteria hasil :
- Menyatakan nyeri hilang / terkontrol
- Menunjukkan rileks, istirahat dan peningkatan aktivitas dengan tepat
Intervensi :
1) Kaji nyeri, perhatikan lokasi, intensitas nyeri
R : Memberikan informasi untuk membantu dalam menetukan intervensi.
2) Plester selang drainase pada paha dan kateter pada abdomen.
R : Mencegah penarikan kandung kemih dan erosi pertemuan penis-skrotal.
3) Pertahankan tirah baring bila diindikasikan nyeri.
R : Tirah baring mungkin diperlukan pada awal selama fase retensi akut.
4) Berikan tindakan kenyamanan
R : Meningktakan relaksasi dan mekanisme koping.
c. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan tirah baring, nyeri, kelemahan otot.
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 X 24 jam masalah intoleransi aktivitas
dapat teratasi.
Kriteria Hasil :
Menunjukkan peningkatan toleransi terhadap aktivitas yang dapat diukur dengan
tidak adanya dispnea, kelemahan, tanda vital dalam rentang normal.
Intervensi :
1) Evaluasi respon klien terhadap aktivitas.
R : Menetapkan kemampuan/kebutuhan pasien dan memudahkan pilihan
intervensi.
2) Berikan lingkungan tenang dan batasi pengunjung selama fase akut sesuai
indikasi.
R : Menurunkan stres dan rangsangan berlebihan, meningkatkan istirahat.
3) Jelaskan pentingnya istirahat dalam rencana pengobatan dan perlunya
keseimbangan aktivitas dan istirahat.
R : Tirah baring dapat menurunkan kebutuhan metabolik, menghemat energi
untuk penyembuhan.
4) Bantu aktivitas perawatan diri yang diperlukan.
R : Pembatasan aktivitas ditentukan dengan respons individual pasien terhadap
aktivitas.
Daftar Pustaka
Brunner and Suddarth. (2010). Text Book Of Medical Surgical Nursing 12th
Edition. China : LWW. Doenges, Marilynn E. (2000). Rencana Asuhan
Keperawatan. Jakarta: EGC.