Anda di halaman 1dari 11

e-journal Keperawatan(e-Kp) Volume 7 Nomor 2, Agustus 2019

FUNGSI AFEKTIF DAN PERAWATAN KELUARGA


DENGAN KEPATUHANPENGOBATAN
TB PARU

Diandry Tamamengka
Billy Kepel
Sefti Rompas

Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran


Univeristas Sam Ratulangi
Email :diandry.tamamengka22@gmail.com

Abstrack: The functions of Affective and Family Care, namely mutual respect and mutual
support, foster care, in a way this is a family member feel got the attention, love, honor, the
warmth. This important function is there to maintain the State of health of the family
members to have a high productivity. The purpose of this research is to know the functions of
affective Relationships and family care with Pulmonary TB treatment compliance in Clinics
Tuminting Manado. Research methods design uses cross sectional techniques the taking of
sampling using the technique of accidental sampling with the total sample as much as 68
respondents. Method of data collection using the questionnaire function of affective and
family care with Pulmonary Tb treatment compliance and test statistic using the test chi
square.Research results on p-values can be value of 0.001 and 0.003 ( α ≤ 0.05) which
means there is a significant Relationship conclusion the results of this research show that
there is a corelation of care and Affective function of families with Compliance with the
treatment of Pulmonary tuberculosis in health center Tuminting Manado.
Keywords: Family Affective function,The function of Family care, Adherence to treatment.

Abstrak : Fungsi Afektif dan Perawatan Keluarga yaitu saling mendukung, menghormati dan
saling asuh, dengan cara inilah seorang anggota keluarga merasa mendapat perhatian, kasih
sayang, kehormatan, kehangatan. Fungsi ini penting ada untuk mempertahankan keadaan
kesehatan anggota keluarga agar tetap memiliki produktivitas tinggi.Tujuan penelitian ini
untuk mengetahui Hubungan fungsi afektif dan perawatan keluarga dengan kepatuhan
pengobatan TB Paru di Puskesmas Tuminting Manado.Metode penelitian ini menggunakan
desain cross sectional teknik pengambilan sampling menggunakan teknik accidental
sampling dengan jumlah sampel sebanyak 68 responden.Metode pengumpulan data
menggunakan kuesioner fungsi afektif dan perawatan keluarga dengan kepatuhan pengobatan
Tb Paru dan Uji statistic menggunakan uji chi square.Hasil penelitian di dapat nilai p-value
sebesar 0,001 dan 0,003 (≤ α 0,05) yang berarti ada Hubungan yang signifikan kesimpulan
hasil penelitian ini menunjukan bahwa ada Hubungan Fungsi Afektif dan Perawatan Keluarga
dengan Kepatuhan Pengobatan TB Paru di Puskesmas Tuminting Manado.
Kata kunci : Fungsi Afektif Keluarga, Fungsi perawatan keluarga, Kepatuhan pengobatan
PENDAHULUAN kuman tuberculosis. Infeksi ber-sifat
Tuberkulosis merupakan penyakit sistemik sehingga dapat mengenai semua
menular langsung yang disebabkan oleh organ paru sebagai lokal infeksi primer.

1
e-journal Keperawatan(e-Kp) Volume 7 Nomor 2, Agustus 2019

Tuberculosis (TB) merupakan masalah pasien dalam pengobatan TB paru sangat


kesehatan masyarakat yang penting berarti bahwa dunia berada di trek untuk
didunia. World Health Orga-nization mencapai tujuan Millenium Deve-lopment
(WHO) telah terdapat 182 kasus per Goals (MDGs ) untuk mem-balikan
100.000 penduduk di Afrika hampir 2 kali penyebaran TB pada tahun 2015 dan angka
lebih besar asia tenggara yaitu 350 per kematian yang di sebabkan oleh TB paru
100.000 penduduk. (WHO 2009), menurun 45% dan diperkirakan sekitar 22
Mengatakan Sebagaimana juga halnya di juta jiwa di dunia diselamatkan oleh
negara negara berkembang lain, TB di program tersebut (WHO, 2013).
indonesia masih merupakan salah satu Pengobatan Tuberkulosis me
masalah kesehatan yang utama. merlukan waktu yang relatif panjang,
Tuberkulosis merupakan penyakit dengan dua tahap, yaitu tahap awal
sistemik yang dapat mengenai hampir (intensif) dan tahap lanjutan Depkes,
semua organ tubuh, yaitu organ (2010). Pada semua tahap tersebut pasien
pernafasan. Kuman TB dapat hidup lama harus meminum obat dalam jangka waktu
tanpa aktifitas dalam jaringan tubuh tertentu.Banyaknya obat yang harus
(dormant) hingga sampai saatnya ia aktif diminum dan toksisitas sertaefek samping
kembali. Lesi TB dapat sembuh tetapi obat dapat menjadi peng-hambat dalam
dapat juga berkembang progresif atau penyelesaian terapipasien Tuberkulosis
mengalami proses kronik atau serius. WHO (2009). Kepatuhan rata-rata pasien
Depkes RI , (2009) pada pengobatan jangka panjang terhadap
Tuberkulosis paru (TB paru) penyakitkronis di negara maju hanya
merupakan salah satu penyakit yang telah sebesar 50% sedangkan di negara
lama dikenal dan sampai saat ini masih berkembang jumlah tersebut bahkan lebih
merupakan masalah kesehatan di berbagai rendah. Ketidak patuhan pasien dalam
Negara di dunia.Salah satu Negara pengobatan merupakan masalah kese-hatan
berkembang yang terinfeksi kasus TB yang serius dan sering terjadi padapasien
adalah Indonesia. Indonesia menempati dengan penyakit kronis, seperti pada
peringkat ketiga jumlah penderita TB di penyakit tuberkulosis paru.Banyak faktor
dunia setelah india (1.762.000) dan china yang berhubungan dengan kepatuhan
(1.459.000). terhadap terapi TB paru, termasuk
Depkes RI memperkirakan bahwa karakteristik pasien, hubungan antara
setiap tahun terdapat 528.000 kasus baru petugas pelayanan kesehatandan pasien,
TB di Indonesia.Berdasarkan laporan hasil regimen terapi dan sistem penyelenggara
survey yang di lakukan oleh WHO dari pelayanan kesehatan DepkesRI, (2009).
tahun 2008 sampai dengan 2012 negara Rukmini, (2011), dalam
negara di dunia, bahwa penggunaan penelitiannya ia menemukan bahwa
Directly observed Treatment Short Course dukungan keluarga merupakan faktor
(DOTS) dan strategi stop TB mampu penting keberhasilan pasien TB dalam
menurunkan beban TB setiap tahunnya. mematuhi program pengobatan.Keluarga
Penggunaan DOTS dan strategi stop TB merupakan unit terkecil dari masyarakat
merupakan pengobatan dengan yang besar pengaruhnya dalam kehidupan
pengawasan langsung terapi dengan cara se-seorang. Terlebih lagi dalam kesehatan,
membantu pasien mengambil obat secara keluarga dapat berperan aktif dalam
teratur untuk memastikan kepatuhan pasien melindungi anggota keluarganya yang
dalam pengobatan TB paru. Kepatuhan sakit. Kemampuan keluarga dalam mem-

2
e-journal Keperawatan(e-Kp) Volume 7 Nomor 2, Agustus 2019

berikan perawatan kesehatan mem- kunjungan pasien TB Paru tahun 2018 ke


pengaruhi status kesehatan keluarga. Selain Puskesmas Tuminting Manado rata-rata 81
itu pengetahuan keluarga tentang sehat dan kunjungan baik pasien lama maupun pasien
sakit juga mempengaruhi prilaku keluarga baru. Hasil wawancara dengan lima orang
dalam menyelesaikan masalah kesehatan pasien TB Paru mereka cenderung putus
keluarga. Friedman membagi fungsi minum obat karena alasannya jauh dari
keluarga menjadi lima yaitu, Fungsi keluarga, dan tinggal hanya sendiri dan ada
Afektif, Fungsi perawatan keluarga, Fungsi keluarga yang hanya mengabaikannya.
sosial, Fungsi rep-roduksi, Fungsi Menurut perawat puskesmas yang
ekonomi. fungsi keluarga yang dia ambil bertanggung jawab pada kasus TB,
yaitu fungsi Afektif dan fungsi perawatan sebagian klien yang terkena TB putus
dimana. Fungsi afektif yang dimiliki minum obat karena tidak ada keluarga
keluarga sebagai sumber kasih sayang dan yang mengantarnya untuk berobat, selain
reinforcementse hingga keluarga itu ada yang tinggal hanya sendiri tidak ada
membentuk suatu iklim yang positif bagi keluarga. Berdasarkan latar belakang di
anggota keluarga di dalamnya. atas maka peneliti tertarik untuk
Keberhasilan dari pelak-sanaan fungsi mengetahui secara lebih mendalam
afektif keluarga akan membentuk konsep Hubungan FungsiAfektif dan Perawatan
diri yang positif dari keluarga tersebut Keluarga dengan kepatuhan pengobatan
Maria, (2009). Pelaksanaan fungsi afektif TB Paru di Puskesmas Tuminting Manado.
keluarga berhubungan dengan pencapaian
tujuan peran keluarga merawat anggota METODE PENELITIAN
keluarga yang sakit.Keluarga mem-punyai Penelitian ini termasuk dalam jenis
peran utama dalam pemeliharaan penelitian kuantitatif dengan menggunakan
kesehatan seluruh anggota keluarga dan metode penelitian survei analitik untuk
bukan individu sendiri yang mengu- menganalisis hubunga kepercayaan dengan
sahakan tercapainya tingkat kesehatan perilaku mencari pertolongan, Penelitian
yang di inginkan. ini meng-gunakan desain penelitian cross
Perawatan kesehatan keluarga sectional Setiadi, (2013).
berfungsi meningkatkan status kese-hatan Penelitian ini dilaksanakan
anggota keluarga dengan cara mengenal di puskesmas tuminting manado pada
masalah kesehatan keluarga, memutuskan bulan Mei 2019. Populasi penelitian ini
tindakan kesehatan yang tepat bagi seluruh penderita TB Paru di Puskesmas
keluarga, merawat keluarga yang Tuminting
mengalami gangguan kesehatan, Manado yang berjumlah 81
memodifikasi lingkungan keluarga untuk orang.Pengambilan sampel menggunakan
menjamin kesehatan, me-manfaatkan teknik Accidental sampling, dengan rumus
fasilitas pelayanan ke-sehatan, praktek diet slovin maka didapatkan jumlah sampel 68
keluarga, praktek tidur, praktek latihan dan responden. Instrument penelitian yang
rekreasi, praktek penggunaan obat digunakan untuk mengukur variabel fungsi
terapeutik, alkohol, tembakau, serta afektif keluarga yaitu kuesioner yang
praktek perawatan diri keluarga Suprajitno, pernah digunakan sebelumnya oleh Zulka
(2004). (2015) dan fungsi perawatan keluarga di
Berdasarkan observasi awal yang buat sendiri oleh peneliti, kuesioner fungsi
dilakukan pada bulan Oktober 2018 afektif keluarga terdiri dari 22 pertanyaan
didapatkan informasi bahwa jumlah dan fungsi perawatan keluarga terdiri dari

3
e-journal Keperawatan(e-Kp) Volume 7 Nomor 2, Agustus 2019

10 pernyaataan Masing-masing item Sumber : Data Primer 2019


pernyataan yang mendukung atau positif
(favorable) negative (unfavorable) dengan Tabel 1 di atas menjelaskan dari 68
pemberian bobot : kurang baik ≤ 55, Baik responden, hasil menunjukan bahwa TB
> 55, sedangkan fungsi perawatan kelurga paru di puskesmas tuminting manado
Kurang Baik ≤ 25, Baik > 25 dan didapati sebagian besar responden
instrument penelitian yang digunakan berumur >50 thn 23 responden (33.8%).
untuk mengukur variabel kepatuhan Hasil penelitian ini sesuai dengan asra
pengobatan Tb paru yaitu kuesioner yang septia
pernah di gunakan sebelumnya oleh Aris (2014) dimana 58 responden, 23
widianto (2016) yang telah di uji diantaranya didaptkan 45-59 tahun orang
validitasnya. Di susun dalam 20 dewasa akhir Mayoritas responden pada
pernyataan Masing- masing jawaban penelitian ini berada pada kelompok
memiliki 4 kategori yaitu SS = sangat dewasa awal dan akhir. Menurut Ani
setuju, S= setuju, TS = tidak setuju, STS = Rusnoto, (2008), penyakit TB Paru
sangat tidak setuju. Skor penilain item merupakan penyakit Kronis yang dapat
yaitu SS=4, S=3, TS=2, STS=1. Dengan menyerang semua lapisan usia, selain
bobot penilainan : tidak patuh ≤ 50, patuh menyebabkan morbilitas dan mortalitas
< 50. Pengolahan data yang diperoleh dari yang cukup tinggi juga dapat merugikan
hasil penelitian ini dianalisis menggunakan secara ekonomi karena hilangnya jam
uji statistik melalui sistem komputer kerja.
dengan beberapa tahap yaitu editing,
coding, tabulasi data (Notoatmodjo, 2010). Tabel 2. Karakteristik responden
Analisa bivariat dalam penelitian ini yaitu berdasarkan jenis kelamin
untuk mengetahui hubungan fungsi afektif Jenis Kelamin n %
dan perawatan keluarga dengan kepatuhan Perempuan 30 44.1
pengobatan TB Paru di puskesmas
Laki-laki 38 55,9
tuminting manado. Peneliti meng-gunakan
uji Uji Fisher Exact test dengan tingkat Total 68 100
kepercayaan 95% (p = 0,001) dan Sumber : data primer 2019
(p=0,003)
Tabel 2 di atas menjelaskan bahwa 68
HASIL dan PEMBAHASAN responden didapat sebagian besar berjenis
1. Karakteristik Responden kelamin laki-laki sebanyak 38 responden
Tabel 1. Distribusi Responden (55,9%) dan perempuan sebanyak 30
Berdasarkan responden (44,1%) Hasil penelitian ini
Umur sejalan dengan sitepu (2009) yang
Umur n % menunjukan bahwa jenis kelamin paling
banyak terdapat pada jenis kelamin laki-
18-30 Thn 16 23,5 laki sebanyak 72 orang laki-laki memiliki
31-40 Thn 18 26,5 mobilitas yang lebih tinggi diban-dingkan
41-50 Thn 11 16,2 perempuan sehingga kemung-kinan untuk
>50 Thn 23 33,8 terpapar kuman penyebab TB Paru lebih
Total 68 100 besar, selain itu kebiasaan laki-laki
mengkomsumsi rokok, minuman alcohol
dan keluar malam hari dapat menurunkan

4
e-journal Keperawatan(e-Kp) Volume 7 Nomor 2, Agustus 2019

sistem kekebalan tubuh. Menurut Pekerjaan n %


penelitian yang telah dilaksanakan Petani 21 2 30.1
Maulidia (2014), penderita TB Paru 15 2,9
Pedagang
cenderung lebih tinggi pada laki-laki 1 22.1
IRT
dibandingkan perempuan. Pada 1,5
PNS 4
karakteristik jenis kelamin ini laki-laki
Sopir 11 5,9
lebih tinggi karena merokok tembakau dan
Tidak bekerja 12 16.2
minum alcohol sehingga dapat
Wiraswasta 2 17,6
menurunkan sistem pertahanan tubuh,
Wirausaha 2,9
sehingga lebih mudah terpapar dengan
agen penyebab TB Paru. Total 68 100
Sumber :Data primer : 2019
Tabel 3. Karakteristik responden
bersadarkan pendidikan Tabel 4 di atas menjelaskan bahwa
Pendidikan n % Sebagian besar responden adalah petani
terakhir sebanyak 20 responden (29,4%) Di
sampaikan amira (2008) bahwa umumnya
SD 12 17,6
individu yang mempunyai penghasilan
SMP 26 38,2
kurang menyebabkan kemampuan
SMA 26 38,2
memperoleh status gizi menjadi kurang
S1 4 5,9 baik dan kurang seimbang sehingga
Total 68 100.0 berdampak pada menurunnya status
Sumber :Data primer : 2019 kesehatan. Menurut Illu Picauly dan
Ramang (2012), semakin memburuknya
keadaan ekonomi seseorang, kelompok
Hasil penelitian menunjukan dari 68 pen-duduk miskin bertaambah banyak,
responden didapati SMP dan SMA daya beli makin menurun, kemampuan
sebanyak 26 responden (38,2%). Menurut memenuhi kebutuhan pokok makin
penelitian panjaitan (2012), pendidikan berkurang dan dikwatirkan keadaan ini
menjadi salah satu factor resiko penularan akan memperburuk kondisi kesehatan
penyakit Tuberkulosis. Rendahnya tingkat masyarakat khususnya penderita TB Paru.
pendidikan res-ponden, akan berpengaruh
pada pemahaman tentang penyakit 2. Analisa Univairat
Tuberkulosis. Masyarakat yang merasakan
pendidikan tinggi, tujuh kali lebih waspada Tabel 5. Variabel Fungsi Afektif dan
ter-hadap TB Paru ( gejala, cara penularan, Perawatan Keluarga dengan Kepatuhan
pengobatan) bila dibandingkan dengan Pengobatan
masyarakat yang hanya menempu Variabel Kategori n %
pendidikan dasar atau lebih rendah. Fungsi Baik 62 6 91.2
Pendidikan yang rendah dihubungkan Afektif Kurang 8.8
dengan rendahnya tingkat kewaspadaan Keluarga baik
terhadap penularan TB Paru. Total 68 100

Tabel 4. Karakteristik responden Fungsi Baik 64 94,1


bersadarkan pekerjaan Perawatan Kurang 4 5,9
Keluarga baik

5
e-journal Keperawatan(e-Kp) Volume 7 Nomor 2, Agustus 2019

Total 68 100 saat dirumah.Waktu peng-obatan yang


lama menyebabkan penderita sering
Kepatuhan Patuh 61 89,7 terancam putus berobat selama masa
pengobatan Tidak 7 10,3 penyem-buhan berbagai alasan, antara lain
patuh merasa sudah sehat atau faktor ekonomi
Total 68 100 akibat adalah pola pengobatan harus
Sumber : data primer 2019 dimulai dari awal dengan biaya yang
bahkan menjadi lebih besar serta
Fungsi afektif keluarga didapati sebagian menghabiskan waktu berobat yang lama
besar responden dengan keadaan baik Riskesdas (2010).
berjumlah 62 responden (91,2%) dan Safi (2018). pengobatan TB Paru
kurang baik 6 responden (8,8%). membutuhkan waktu panjang (sampai 6
Sedangkan fungsi perawatan keluarga atau 8 bulan) untuk mencapai penyem-
dengan keadaan baik berjumlah 64 buhan dan panduan (kom-binasi) beberapa
responden (94,1%) dan kurang baik macam obat, sehingga tidak jarang pasien
berjumlah 4 responden (5,9%). dan berhenti minum obat sebelum masa
kepatuhan pengobatan TB Paru yang patu pengobatan selesai yang beraakibat pada
berobat sebagian besar berjumlah 61 kegagalan dalam peng-obatan TB.
responden (89,7%)dan tidak patuh berobat
7 responden (10,3%). Fungsi Afektif 3. Analisa Bivariat Tabel 6. Hubungan
keluarga yang utama mengajarkan segala fungsi afektif keluarga dengan kepatuhan
sesuatu untuk mempersiapkan anggota pengobatan Tb paru
keluarga berhubungan dengan orang lain, Kepatuhan
fungsi sosialisasi adalah fungsi mengem- Fungsi Pengobatan
Afekti Tidak P
bangkan dan tempat melatih anak Patuh
patuh
Total
value
Keluarg
berkehidupan social sebelum menin- a n % n % n %
ggalkan rumah untuk berhubungan dengan Baik 59 95,2 3 4,8 62 100,0 0,001
orang lain di luar rumah, dan fungsi
perawatan atau pemeliharaan kesehatan, Kurang
2 33,3 4 66,7 6 100,0
yaitu fungsi untuk mempertahankan baik
Total 61 89,7 7 10,3 68 100,0
keadaan kesehatan anggota keluarga tetap
memiliki produktivitas tinggi. Friedman Sumber : data primer 2019
(2010) menyatakan bahwa keluarga Hasil penelitian menunjukan dari 68
memiliki peran untuk melaksanakan responden 62 responden mengalami
praktek asuhan kesehatan, yaitu untuk keadaan baik, 59 responden diantaranya
mencegah terjadinya gangguan kesehatan patuh dalam pengobatan TB Paru dan 3
atau merawat anggota keluarga yang sakit responden tidak patuh menjalankan
dengan cara meningkatkan kesanggupan pengobatan. Untuk Fungsi Afektif Kurang
ke-luarga yang sakit agar dapat melakukan Baik ada 6 responden, 2 responden patuh
fungsi dan tugas perawatan kesehatan menjalankan peng-obatan dan 4 responden
dirinya. Keluarga sangat penting dalam tidak patuh menjalankan pengobatan.odds
merawat anggota keluarga yang sedang ratio 39.3 dan Hasil Uji Hipotesis dengan
sakit penelitian Residan dan lystiana, Uji Cji-squer (x2) yang dilanjutkan dengan
berperan sebagai pendukung dan ber-peran uji Fisher Exact dengan tingkat
sebagai pengambil keputusan dalam kepercayaan 95% (<0,05), menunjukan
merawat anggota keluarganya paska strok adanya Hubungan Fungsi Afektif Keluarga

6
e-journal Keperawatan(e-Kp) Volume 7 Nomor 2, Agustus 2019

Dengan Kepatuhan Peng-obatan TB Paru Sumber: data primer 2019


di Puskesmas Tuminting Manado (p =
0,001). Dari hasil penelitian Herryanto Hasil penelitian menunjukan dari 68
(2008), mengemukakan karakteristik kasus responden 64 responden mengalami
kematian penderita TB yang hampir keadaan baik, 60 responden diantaranya
tersebar pada semua kelompok umur, dan Patuh dalam pengobatan dan 4
paling banyak pada kelompok usia 20-50 responden tidak patuh dalam peng-
tahun yang merupakan usia produktif. obatan. Untuk Fungsi Perawatan
Riskesdes (2010), di ketahui bahwa Kurang Baik ada 4 responden, 1
privalensi TB Paru cenderung meningkat responden patuh menjalankan
sesuai dengan bertambahnya usia lebih dari pengobatan dan 3 responden tindak
65 tahun. Hal ini sejalan dengan menjalankan pengobatan.odds ratio
pernyataan Subakti (2014) bahwa semakin 45.0 dan Hasil uji Hipotesis dengan
Tua Umur seseorang maka semakin menggunakan Uji-Chisquer (x2) yang
banyak fungsi organ tubuh yang dilanjutkan dengan Uji Fisher Exact
mengalami gangguan atau masalah yang dengan tingkat kepercayaan 95%
berdampak pada kebutuhan akan (<0,05) menunjukan adanya Hubungan
pemeliharaan ke-sehatan, usia dewasa dan Fungsi Perawatan Keluarga Dengan
diikuti oleh usia Tua merupakan kelompok Kepatuhan Peng-obatan TB Paru di
yang paling sering terkena TB di Amerika Puskesmas Tuminting Manado
Serikat pada tahun 2008. Komponen dari (p=0,003).
fungsi afektif keluarga yang harus dipenuhi Berdasarkan hasil penelitian ini sejalan
keluarga adalah Friedman, (2010) dengan Boidowi di semarang bahwa
memelihara saling asuh, perkembangan pendidikan berpengaruh terhadap
hubungan yang akrab, keseimbangan kepatuhan berobat pasien TB Paru,
saling menghormati, pertalian dan tingkat pen-didikan formal merupakan
identifikasi, menghasilkan kenyamanan landasan seseorang dalam memahami
antar anggota keluarga , keterpisahan sesuatu. Pendidikan yang rendah
keter-paduan , pola kebutuhan dan respon , mengakibatkan responden kurang
peran terapeutik . informasi berkaitan dengan penularan
dan pengobatan TBC. Menurut
Notoadmojo (2010), bahwa semakin
tinggi pendidikan individu semakin
mudah penerimaan informasi, tetapi
semakin rendah pendidikan semakin
Tabel 7. Hubungan fungsi perawatan sulit untuk menerima informasi jadi
keluarga dengan kepatuhan pengobatan pendidikan mempengaruhi diri
TB paru individu. temuan penelitian ini sesuai
Fungsi Kepatuhan dengan hasil Riskesdas (2007), yang
perawat Pengobatan menemukan prevalensi TB Paru empat
a Patuh Tidak Total P
n kali lebih tinggi pada pendidikan
patuh valve
n % n % n % rendah dibandingkan pendidikan tinggi
Baik 60 93,8 4 6,3 64 100,0 0,003 Depkes RI, 2008). Novitasari, (2014).
Kurang dan terdapat beberapa tugas dalam
baik 1 25,0 3 75,0 4 100,0 melaksanakan perawatan kesehatan
Total 61 89,7 7 10,3 68 100,0
keluarga menurut setiadi (2013) yaitu:

7
e-journal Keperawatan(e-Kp) Volume 7 Nomor 2, Agustus 2019

Mengenal masalah kesehatan, Kepatuhan Minum Obat pada Penderita TB


Mengambil keputusan mengenai tin- Paru di Rumah Sakit Umum Daerah Arifin
dakan kesehatan yang tepat, Merawat Achmad. Dengan skor sebagai berikut
anggota keluarga yang mengalami ma- didapatkan 43 orang mendapati dukungan
salah kesehatan, Modifikasi lingkungan keluarga positif dan 15 orang mendapatkan
fisik dan psikologis, Menggunakan fasi- dukurngan keluarga ne-gatif. Dukungan
litas kesehatan yang ada disekitar keluarga merupakan faktor paling penting
keluarga. Kriteria Kurang Baik tetapi keberhasilan pasien TB Paru dalam
patuh menjalankan pengobatan, dari mematuhi program pengobatan.Keluarga
wa-wancara yang peneliti lakukan me-rupakan unit terkecil dari masyarakat
mereka semangat berobat karena masih yang besar pengaruhnya dalam ke-hidupan
ingin berkumpul dengan keluarganya. seseorang terlebih lagi dalam
Adapun konsep diri responden yang kesehatan.keluarga dapat berperan aktif
baik yang mendominasi ini karena dalam melindungi anggota keluarga yang
mereka menerima penyakit tuberkulosis sakit, kemapuan keluarga dalam
yang diderita dengan selalu menjalani memberikan perawatan kesehatan
peng-obatan untuk mencapai mempengaruhi status kesehatan ke-luarga.
kesembuhan, menerima penurunan Selain itu pengetahuan keluarga sehat dan
berat badan saat ini, dan responden sakit juga mempengaruhi prilaku keluarga
percaya diri walaupun harus menjaga dalam menyelesaikan masalah kesehatan
jarak saat berkontak langsung dengan keluarga, Friedman (2010). Penelitian ini
keluarga maupun orang lain. Hal ini didukung oleh peneliti
menurut Manalu (2010) mengatakan Subakti (2014) tentang Hubungan
bahwa konsep diri adalah semua ide, Dukungan Keluarga dengan Tindakan
pikiran, kepercayaan dan pendirian Penderita TB Paru Me-laksankan kontrol
yang diketahui individu tentang dirinya ulang di Puskesmas Sidomulyo bahwa
dan mempengaruhi individu dalam ber- berdasarkan du-kungan keluarga yang
hubungan dengan orang lain. positif yaitu sebanyak 23 responden
Maulidia, (2014) menyatakan bahwa (56,11%) dan 31 responden (75,6%)
penderita tuberkulosis sangatlah diantaranya memiliki tindakan untuk
membutuhkan peran keluarga dalam melakukan kontrol ulang secara rutin di
kesembuhan yang berupa memberikan Puskesmas. Penelitian lain yang
sarana perasanan, menyediakan dana mendukung adalah yang dilaksankan oleh
pengobatan, meluangkan waktu untuk Pare, Amiruddin dan Leida (2012), yang
mendampingi berobat dan saat dirumah menemukan bahwa ada Hubungan
maupun bergaul dilingkungan seki- Dukungan Keluarga dengan Kepatuhan
tarnya. Menurut Manalu (2010), faktor minum obat penderita TB paru.
yang mempengaruhi dukungan keluarga Dukungan keluarga merupakan salah satu
diantaranya menerapkan fungsi keluarga faktor yang mempengaruhi kepatuhan
yaitu sejauh mana keluarga mempengaruhi untuk pengobatan TB paru, dimana
anggota ke-luarga lain saat mengalami keluarga inti maupun keluarga besar
masalah kesehatan serta membantu dalam berfungsi sebagai sistem pendukung bagi
memenuhi kebutuhan. anggota keluarganya.Fungsi dasar
Penelitian yang dilakukan sebe-lumnya keluarga itu yaitu fungsi perawatan
oleh Asra Septiani (2014) bahwa terdapat kesehatan.Fungsi perawatan kesehatan
Hubungan Dukungan Keluarga dengan adalah kemampuan keluarga untuk

8
e-journal Keperawatan(e-Kp) Volume 7 Nomor 2, Agustus 2019

merawat anggota keluarga yang Departemen Kesehatan RI., 2009,


mengalami masalah kesehatan. Pedoman
Keluarga perlu meberikan dukungan yang Nasional Penanggulangan
positif untuk melibatkan keluarga sebagai Tuberkulosis Paru, Jakarta, Depkes
pendukung pengobatan sehingga adanya RI
kerjasama dalam pemantauan pengobatan
antara petugas dan anggota keluarga yang Depker RI. (2010). Riset kesehatan dasar.
sakit.(Friedman, Bowden &Jones,2010) Jakarta: Badan Litbangkes Depkes RI.
Friedman, M. 2010. Buku ajaranan
SIMPULAN keperawatan keluarga, riset, teori,
Hasil dari pembahasan Hubungan Fungsi dan praktek. Edisi ke-5 \. Jakarta
Afektif dan Perawatan Keluarga dengan EGC
Kepatuhan Pengobatan TB Paru di
Puskesmas Tuminting Manado bahwa Freidman, M. M., Bowden, V. R., & Jones,
E.G. (2010). Buku ajar keperawatan
:Sebagian besar gambaran fungsi Afektif
keluarga: Riset, teori, dan praktik,
Ke-luarga TB Paru di Puskesmas
alih bahasa, Akhir Yani S. Hamid
Tuminting Manado adalah Baik. dan Se-
dkk; Edisi 5. Jakarta: EGC.
bagian besar gambaran fungsi pe- rawatan
keluarga TB Paru di puskesmas Tuminting Maulidia, D.F. (2014). Hubungan antara
Manado adalah Baik. Se-bagian besar dukungan keluarga dan kepatuhan
gambaran pengobatan Tb Paru di minum obat pada penderita
puskesmas Tuminting Patuh dalam tuberculosis di wilayah ciputat
Pengobatan.Juga Terdapat Hu-bungan tahun2014 (diaskes 18 mei 2019)
antara Fungsi Afektif Keluarga Dengan
Maria H. Bakri, SKM., M. Kes asuhan
Kepatuhan Pengobatan TB Paru di
keperawatan keluarga
Puskesmas Tuminting
Manado.Terdapat Hubungan antara Fungsi Manalu H.S.P.(2010). Faktor-faktor yang
Perawatan Keluarga Dengan Kepatuhan mempengaruhi kejadian TB paru dan
Pengobatan TB Paru di Puskesmas upaya penanggulangannya.indonesia
Tuminting Manado. jurnal of health ecology, 2010,9,4
Maulidia, D.F. (2014). Hubungan antara
DAFTAR PUSTAKA
dukungan keluarga dan kepatuhan
Aris Widiyanto (2016) Hubungan
minum obat pada penderita
kepatuhan minum obat denga
tuberculosis di wilayah ciputat
kesembuhan pasien tuberculosis paru
tahun2014 (diaskes 18 mei 2019)
BTA Positif di puskesma delanggu
kabupaten klaten Novitasari, I.A. (2014). Hubungan antara
dukungan keluarga terhadap konsep
Asra Septia , hubungan dukungan keluarga
diri pada penderita TBC dalam
dengan kepatuhan minum obat pada
proses pengobatan di wilayah kerja
penderitaTBparu.https://media.neliti.
puskesmas bendosari sukoharjo
com/media/publications/185830-
(Doctoral dissertation, universitas
IDhubungan-dukungan-
muhammadiyah Surakarta).(diaskes
keluargadengan-kepatu.pdf (diaskes
18 mei 2019)
26 september 2018)

9
e-journal Keperawatan(e-Kp) Volume 7 Nomor 2, Agustus 2019

Notoadmodjo, S. (2010). di RSUD W.Z Yohanes Kupang.


Metodologi Penelitian Kesehatan, Diakses melalui
Jakarta:Rineka Cipta http://www.academia.edu/4915863/
faktorfaktor_penentu_kejadian_tuberk
Rukmini,R, & Chatarina, U.W.(2011).
ulosisparu_pada_penderita_anak_yang
Faktor-faktor yang berpengaruh
_pernah_berobat.pdf pada tanggal 23
terhadap kejadian Tb Paru dewasa di
Mei2014
Indonesia (analisis data riset
kesehatan dasar tahun 2010) bulletin Pare, L. Amiruddin R, & Leida I. (2012).
penelitian sistem kesehatan,14(4) Hubungan antara pekerjaan. PMO
pelayanan
Rusnoto, R. (2008). Faktor-faktor yang
berhubungan dengan kejadian tb paru Safii, S., Putri, S. T., & Suparto, T. A.
pada usia dewasa (Studi kasus di (2018). Gambaran Kepatuhan Pasien
balai pencegahan dan pengobatan Tuberkulosis Paru Terhadap Regimen
penyakit paru Pati). Jurnal Terapeutik Di Puskesmas Padasuka.
Epidemiologi. JURNAL PENDIDIKAN
KEPERAWATAN INDONESIA, 1(2),
Hiswani. (2009), Tuberkulosis merupakan
98-104
penyakit infeksi yang masih
Setiadi, (2013), Konsep dan Praktek
menjadi masalah kesehatan
Penulisan Riset Keperawatam,
masyarakat.Diakesdarihttp://library Edisi 2, Yogyakarta; Graha Ilmu
.usu. ac.id/download/fkmhiswani6.
pdf pada tanggal 10 April 2014. Suprajitno, S.kep Asuhan keperawatan
keluarga (diaskes 21 mei 2019)
Illu, S. I. D.. Picauly, I., & Ramang, R.
Subhakti, K.A. (2014). Hubungan
(2012). Faktor-faktor penentu dukungan keluarga dengan tindakan
kejadiantuberkulosis paru pada penderita tb paru melakukan control
penderita anak yang pernah berobat
ulang dipuskesmas sidomulyo. Jurnal
online mahasiswa (JOM) bidang ilmu
keperawatan, 1 (1),1-6. (diaskes 18 mei
2019)

WHO. (2009). Defenition and diagnosis of


pulmonolgy tuberculosis. Diakses
darihttps://mdgsgoals.com.who.int/
sree/ pada tanggal 27 Desember
2007.

WHO. (2013). Report tuberculosis in thworld.


Diakses dari https://
extranet.who.int/sree /Reports padatanggal
27 Desember 2007

10
e-journal Keperawatan(e-Kp) Volume 7 Nomor 2, Agustus 2019

Zulka, A. N. (2015). Hubungan


Pelaksanaan Fungsi Afektif Keluarga
dengan Tingkat Harga Diri Klien
Kusta di Wilayah Kerja Puskesmas
Tanggul dan Sumberbaru Kabupaten
Jember

11