Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH

EKONOMI SUMBER DAYA MANUSIA & KETENAGAKERJAAN

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK 4

ANGGOTA:

1) RESTU ANSHORY (A1A017111)


2) RINA FITRIANI (A1A017112)
3) SITI ITRIYAH (A1A017120)
4) ZAHIRA ARYANI (A1A017145)
5) ZUHRATUL WARDAINI (A1A017147)

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS MATARAM

TA.2019

i
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Puji syukur senantiasa Kami panjatkan kehadirat  Allah swt, karena


dengan rahmat dan taufiq-Nya kami dapat menyelesaikan penulisan makalah
dengan judul “Outsourcing (Alih Daya)”.

Pada kesempatan ini tidak lupa kami sampaikan ucapan terima


kasih kepada Ibu selaku dosen mata kuliah Sumber Daya Manusia dan
Ketenagakerjaan yang senantiasa membimbing dan menyumbangkan ilmunya
kepada kami.Tak lupa juga kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang
telah membantu menyelesaikan tugas ini.

             Penyusun juga menyadari bahwa masih banyak kekurangan,


kekeliruan, dan masih jauh dari kata sempurna.Oleh karena itu penyusun sangat
mengharapkan kritik dan saran atas penulisan makalah ini selanjutnya.Semoga
makalah ini dapat memberikan manfaat kepada pembaca.

Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh

Mataram, Oktober 2019

Kelompok IV

ii
DAFTAR ISI

Halaman judul.......................................................................................................i

Kata pengantar ..............................................................................................ii

Daftar isi ....................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................1

1.1 Latar belakang ....................................................................................1

1.2 Rumusan masalah ....................................................................................2

1.3 Tujuan ....................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN ....................................................................................3

2.1 Sejarah Outsourcing (Alih Daya)...............................................................3

2.2 Pengertian Outsourcing..............................................................................5

2.3 Jenis Outsourcing ....................................................................................5

2.4 Pekerjaan dan Bukan Posisi Outsourcing...................................................6

2.5 Keuntungan Melakukan Outsourcing .....................................................7

2.6 Kelebihan dan Kekurangan Outsourcing...................................................10

2.7 Penyebab Kegagalan Outsourcing.............................................................12

BAB III PENUTUP ....................................................................................15

3.1 Kesimpulan ....................................................................................15


3.2 Saran ....................................................................................15
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................16

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Outsoucing (daya daya) adalah satu pilihan strategis dalam mendukung


proses bisnis dalam perusahaan. Selain dalam rangka efisiensi, perusahaan
pengguna dimanjakan dengan beberapa keuntungan/manfaat dari kegiatan
outsourcing. Satu yang terpenting diantaranya adalah perusahaan pengguna dapat
lebih focus pada strategi perusahaan, sehingga proses pencapaian tujuan
perusahaan dapat terkontrol, terukur dan akhirnya tercapai. Dalam outsourcing,
khususnya outsourcing tenaga kerja di Indonesia, dari sisi regulasi dan
penerapannya selalu menjadi fenomena menarik.Isu outsourcing selalu hangat,
dan bahkan menghangat.Hal ini terjadi karena dampak kehidupan ketenagakerjaan
yang dinamis.Di satu sisi, perusahaan ingin memberdayakan sumber daya dari
luar (outsourcing), tetapi di sisi lain pekerja (buruh) keberatan dan menolak,
karena praktiknya diduga merugikan pihak tertentu.

Beberapa hal yang dinilai merugikan buruh tersebut diduga atau terkait
dengan penyelenggara/penyedia jasa outsourcing yang menerapkan beberapa hal
seperti adanya sejumlah pungutan biaya sebelum bekerja, pemotongan gaji,
mekanisme hubungan kerja yang tidak jelas, atau hal-hal lain yang berpotensi
merugikan atau menyalahgunakan status pekerja/buruh. Atau setidaknya
memperlemah posisi buruh/pekerja dalam hubungan kerja.Hal-hal tersebut yang
menjadi dasar pekerja/serikat bahu membahu dan terus menerus bersuara keras
untuk membubarkan atau melarang praktek outsourcing.

1.2 Rumusan Masalah


Bedasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah yang timbul
adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana sejarah outsourcing ?

1
2. Apa yang dimaksud dengan outsourcing ?
3. Apa saja jenis-jenis dari system outsourcing ?
4. Apa saja pekerjaan dan posisi yang bukan untuk outsourcing ?
5. Apa keuntungan outsourcing ?
6. Apa kelebihan dan kekurangan dari system outsourcing bagi
perusahaandan karyawan ?
7. Apa penyebab gagalnya outsourcing ?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui sejarah outsourcing
2. Mengetahui pengertian dari outsourcing
3. Mengetahui jenis-jenis dari 0utsourcing
4. Mengetahui pekerjaan dan posisi yang bukan untuk outsourcing
5. Mengetahui keuntungan outsourcing
6. Mengetahui kelebihan dan kekurangan dari system outsourcing bagi
perusahaan dan karyawan
7. Mengetahui penyebab gagalnya outsourcing

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Sejarah Outsourcing

Praktek dan prinsip-prinsip outsourcing telah diterapkan di zaman Yunani


dan Romawi. Pada zaman tersebut, akibat kekurangan dan kemampuan pasukan
dan tidak terkendalinya ahli-ahli bangunan, bangsa Yunani dan Romawi menyewa
prajurit- prajurit asing untuk berperang dan para ahli-ahli bangunan untuk
membangun kota dan istana.

Outsourcing bukanlah hal baru. Sejarah outsourcing dimulai tahun 1776


ketika Adam Smith, filosofi ekonomi dunia, melontarkan ide bahwa perusahaan
lebih efektif dan efisien apabila salah satu unit bisnisnya diserahkan pengerjaanya
kepada perusahaan lain yang memiliki kompetensi dan spesialisai dalam proses
produksi tersebut. Ide Smith ini kemudian dikembangkan oleh Coase pada tahun
1973 yang menyatakan bahwa proses produksi suatu barang seharusnya hanya
diorganisir oleh perusahaan apabila ongkos produksinya lebih rendah daripada
harga di pasaran.

Sejalan dengan terjadinya revolusi industri, perusahaan-perusahaan


berusaha menemukan terobosan-terobosan baru dalam memenangkan persaingan.
Pada tahap ini, kemampuan untuk mengerjakan sesuatu saja tidak cukup untuk
menang secara kopentitif, melainkan harus disertai dengan kesanggupan untuk
menciptakan produk paling bermutu dengan biaya terendah.

Selanjutnya pada tahun 1970 dan 1980 perusahaan menghadapi persaingan


global, dan mengalami kesulitan karena kurangnya persiapan akibat sturuktur
manajemen yang bengkak. Akibatnya, resiko usaha dalam segala hal, termasuk
resiko ketenagakerjaanpun meningkat.Tahap ini merupakan awal timbulnya
pemikiran outsourcing di dunia usaha. Untuk meningkatkan keluesan dan
kreatifitas, banyak perusahaan besar yang membuat strategi baru dengan

3
konsentrasi pada bisnis inti, mengidentifikasi proses yang kritikal dan
memutuskan hal-hal yang harus di outsoursce.

Gagasan awal berkembangya outsourcing adalah untuk membagi resiko


usaha dalam berbagai masalah, termasuk ketenagakerjaan. Pada tahap awal
outsourcing belum diidentifikasi secara formal sebagai strategi bisnis. Hal ini
terjadi karena banyak perusahaan yang semata-mata mempersiapkan diri pada
bagian-bagian tertentu yang bisa mereka kerjakan, sedangkan bagian-bagian yang
tidak bisa dikerjakan secara internal, dikerjakan melalui outsource .

Sekitar tahu 1990 outsourcing telah mulai berperan sebagai jasa


pendukung. Tingginya persaingan, telah menuntut menajemen perusahaan
melakukan perhitungan pengurangan biaya. Perusahaan mulai melakukan
outsource terhadap fungsi-fungsi yang penting bagi perusahaan, tetapi tidak
berhubungan lansung dengan bisnis inti perusahaan. Yang menarik sehingga ini
banyak digunakan oleh perusahaan ialah karena outsourcing dapat meningkatkan
efesiensi dan efektifitas perusahaan serta meningkatkan produktifitas secara
keseluruhan. The Harvard Business Revieu mengidentifikasikan outsourcing
sebagai salah satu ide dan praktik manajemen yang paling penting dalam 75
tahun terakhir ini.

Dapat dikatakan bahwa outsourcing adalah salah satu hasil samping dari
business process reengineering (BPR). BPR adalah perubahan yang dilakukan
secara mendasar oleh perusahaan dalam proses pengelolaanya, bukan hanya
sekedar melakukan perbaikan. BPR dilakukan untuk memberikan respons atas
pekembangan ekonomi secara global dan perkembangan teknologi yang begitu
cepat sehingga berkembang persaingan yang bersifat global dan yang
berlangsung sangat ketat. Lingkungan yang sangat kompetitif ini menuntut
perusahaan untuk mengutamakan tuntutan pasar yang menghendaki kecapatan dan
respon yang fleksibel terhadap 7 tuntutan pelanggan.Seringkali terbukti bahwa
faktor kecepatan dalam merespons tuntutan pasar dan pelanggan lebih dapat

4
menentukan kemenangan atau kekalahan dalam persaingan, dan bukan faktor
harga.

2.2 PengertianOutsourcing (alih daya)

Pengertian outsourcing menurut bahasa Indonesia adalah alih daya yaitu


mengalihkan pekerjaan tertentu ke pihak lain. Sedangkan outsourcing dilihat di
dalam aktivitas bisnis dapat diartikan sebagai pendelegasian atau pelimpahan
kegiatan dalam proses bisnis yang bersifat non-core (bukan pekerjaan inti) atau
pekerjaan penunjang perusahaan kepada perusahaanoutsourcing
(vendoroutsourcing) berdasarkan kontrak. Alasan yang umumnya diambil oleh
perusahaan pengguna dalam melakukan outsourcing adalah karena perusahaan
lain (vendor outsourcing) dapat melakukan pekerjaan yang dilimpahkan
kepadanya dengan lebih berkualitas, efisien, dan minimum resiko.

Pada Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan,


kata outsourcing tidak disebutkan secara langsung, namun disebutkan sebagai
”menyerahkan sebagian pekerjaan kepada perusahaan lain.” Outsourcing sendiri
merupakan istilah yang lazim digunakan dalam dunia industri dengan makna yang
kurang lebih sama dengan maksud yang diuraikan oleh undang-undang
ketenagakerjaan. Penyerahan pekerjaan kepada perusahaan lain atau outsourcing
tersebut diatur pada pasal 64, pasal 65 (terdiri dari 9 ayat) serta pasal 66 (terdiri
dari 4 ayat).

2.3 Jenis Outsourcing

1. Outsourcing (alih daya) pekerja

Outsourcing jenis ini adalah alih daya berbentuk penggunaan pekerja dari
vendor outsourcing untukmelakukan pekerjaan penunjang yang bukan bagian
langsung dalam proses produksi dalam suatu perusahaan. Vendor outsourcing
bertanggung jawab penuh pada perlindungan upah dan syarat-syarat kerja serta
penyelesaian prtselisihan antara pengguna outsourcing jika hal ini terjadi.
Sedangkan perusahaan pengguna tenagaoutsorcing bertanggung jawa pada

5
pengelolaan pekerja outsourcing di dalam melaksanakan pekerjaan, sehingga
perusahaan pengguna pekerja outsourcing akan ikut melaksanakan administrasi
kepegawai pekerja outsourcing tersebut, misalya: penegakan disiplin kerja,
pengaturan jam kerja dan system pelaporan krja.

2. Outsourcing (alih daya) pekerjaan

Jenis outsouring adalah alih daya berbentuk pendelegasian pekerjaan yang


bersifat pekerjaan penunjang (bukan inti) dari suatu perusahaan pemilik
pekerjaan kepada vendor outsourcing. Untuk kejelasan target dan biaya (tarif)
pekerjaan maka pekerjaan yang di delegasi kan kepada vendor outsourting
tersebut haruslah pekerjaan yang dapat terukur secara jelas sehingga pengenaan
biaya persatuan kerja akan dapat di ukur pula.

2.4 Pekerjaan dan Bukan Posisi Outsourcing


1. Pekerja dalam inti bisnis ( core business )
Sebagaimana diatur dalam undang-undang tentang ketenagakerjaan dan
peaturan tentang outsourcing, maka pekerja outsoucing hanya berlaku
untuk non core business( bukan pekerja inti ), sedangkan pekerjaan inti
bisnis harus dilakukan oleh pekerja perusahaan suatu perusahaan bisnis
akan diakui daya saingnya oleh perusahaan competitor karena perusahaan
tersebut memiliki keunggulan dalam menjalankan fungsi inti bisnisnya.
Oleh karenanya pekerjaan yang di gunakan untuk menghasilkan produk
( barang dan jasa ) unggulan prusahaan perlu di pegang dan di kuasai oleh
pekerja-pekerja perusahaan sendiri, jangan sekali-sekali di limpahkan atau
di outsourcing-kan kepada vendorourtsourcing. Penggunaan fungsi inti
bisnis oleh pekerja perusahaan akan menjamin baik keberlangsungan
operasional, perusahaan sehari-hari maupun tercapainya keberlansungan
tujuan perusahaan jangka panjangnya menjelaskan pekerjaan secara baik
dan rutin oleh pekerja perusahaan akan menciptakan pekerja perusahaan
yang handal yang meiliki kopetensi tertentu. Bila posis sterategis tersebut
justrur diisi oleh pekerja outsorcing yang secara konsef dan peraturan

6
outsorcing keliru maka hal ini jugk keliru dilihat dari dari sisi bisnis
karena hal ini akan menceritakan ketergantungan yang tinggi dan
menyerahkan suatu posisi sterategis di perusahaan ke pekerja outsourcing.
2. Posisi Strategis seperti supervisor atau manajer
Posisi supervisor atau manajer adalah posisi strategis dalam
perusahaan maka seharusnya posisi ini tidak dialihkan kepada vendor
outsourcing karena perusahaan membutuhkan komitmen penuh dari
mereka untuk mengawasi pekerjaan-pekerjaan yang menjadi
tanggungjawabnya.Posisi suvpervisor atau manajer seharusnya di isi oleh
pekerja yang sudah mengabdi lama di perusahaan karena disamping
mereka mempunyai pengetahuan mendalam mengenai budaya perusahaan
produk atau jasa yang dihasilkan perusahaan mereka juga punyai rasa
memiliki (sense of belonging) yang kuat pada perusahaan.
Sebagai tulang punggung operasional maka posisi ini harus tetap
dipegang oleh orang-orang kepercayaan perusahaan yang lebih bisa
menjaga keberlangsungan hidup perusahaan.Dari aspek human capital
pekerja tersebut bernilai tinggi bagi perusahaan baik dilihat dari
penguasaan pengetahuan serta pengalamannya, dan tentunya perusahaan
tersebut sudah mengeluarkan biaya besar dalam membangun pekerja yang
berkualitas tinggi tersebut.On the job training dari posisi pekerja ditingkat
rendah, menengah, sampai akhirnya jenjang yang tinggi.
2.5 Keuntungan Melakukan Outsourcing
1. Efisiensi Biaya
Salah satu biaya yang cukup besar dalam perusahaan adalah biaya
operasional.Membengkaknya biaya operasional ini biasanya terjadi karena
tidak efisiensinya pengeluaran biaya untuk membayar tenaga kerja yang
dikelola sendiri oleh perusahaan.Hal ini berbeda dengan jika tenaga kerja
yang ada dalam perusahaan yang menjalankan pekerjaan penunjang
diserahkan kepada vendor outsourcing.
Vendor outsourcing sebagai perusahaan bisnis harus bekerja
dengan daya saing tinggi agar tetap dapat eksis di persaingan bisnisnya

7
yang semakin ketat sekarang ini. Perusahaan outsourcing di samping
mengandalkan daya saingnya pada kekhususan bidang jasa tertentu yang
dikuasainya sehingga pekerjanya memiliki daya saing yang kuat pada
keterampilan yang handal, juga mengandalkan pada biaya yang lebih
efisien dalam menangani SDM sehingga alih daya pekerjaan ataupun
pekerja akan lebih kompetitif.
2. Memanfaatkan Keterampilan Khusus (tinggi) pekerja outsourcing
Kekhususan keterampilan pekerja yang disiapkan vendor
outsourcing cenderung lebih baik dibandingkan dengan keterampilan
pekerja perusahaan pengguna.Pekerja di dalam perusahaan menempati
posisi tertentu sering kali bukan didasarkan pada kapabilitas yang
dibutuhkan tetapi karena unsur-unsur lainnya, misalnya senioritas kerja,
ketersediaan kerja, ketersediaan pekerja, kedekatan dengan pemilik
perusahaan dan lainnya.Sedangkan kondisi berbeda terjadi pada vendor
outsourcing.Kemampuan pekerjanya di dapat melalui penyiapan khusus
(berupa training-training spesifik) serta pengalaman vendor outsourcing
dalam melayani kebutuhan jasa perusaahaan. Saat menjalin kerjasama
dengan vendor outsourcing yang berkualitas maka perusahaan akan
mendapatkan keuntungan dengan memanfaatkan keahlian pekerja
outsourcing yang handal.
3. Menghasilkan nilai tambah lebih besar
Perusahaan yang melakukan outsourcing akan menjadikan
perusahaan tersebut dapat focus pada core-business mereka, sehingga
dapat menghasilkan nilai tambah lebih besar. Jika perusahaan melakukan
outsourcing maka perusahaan akan dapat lebih focus pada kegiatan-
kegiatan.
a. Meningkatkan riset pasar dan membangun kinerja bidang riset
dan pengembangan produkmaju
b. .Meningkatkan kemampuan perusahaan dalam merealisasikan
hasil riset dan kreatifitas pekerja dengan melakukan inovasi

8
produk sehingga perusahaan dapat menghasilkan produk baru
yang selalu berkualitas.
c. Meningkatkan kualitas pelayanan kepada konsumen untuk
memberikan kepuasan kepada pelanggan.
d. Memperbaiki dan memperlancar distribusi produk agar
kontinuitas keberadaan produk di pasar terjaga sehingga
konsumen terbangun loyalitasnya.Meningkatkan penjualan
produk untuk meningkatkan pendapatan perusahaan sehingga
dapat meningkatkan keuntungan perusahaan.
4. Memperoleh Keunggulan Kompetitif
Persaingan bisnis yang semakin ketat menuntut perusahaan harus
bisa dengan cepat mengambil keputusan strategis. Jika tidak bisa
mengambil keputusan strategis dengan cepat maka perusahaan dengan
produknya akan dapat ditinggalkan konsumennya. Konsumen sekarang
dengan daya belinya yang lebih baik memiliki tuntutan yang lebih
tinggi.Bukan sekedar fungsional tetapi juga aspek prestis, aspek
keamanan, atau aspek lainnya terhadap produk (barangdanjasa) yang
dijualperusahaan.
Keputusan strategis yang cepat tersebut hanya dapat diambil oleh
struktur organisasi yang ramping dan efektif.Untuk membentuk organisasi
tersebut salah satu jalan yang bisa ditempuh perusahaan adalah memiliki
pekerja yang berkonsentrasi pada pekerjaan-pekerjaan strategis yang
sesuai dengan core business.Sedangkan pekerjaan penunjang
didelegasikan ke perusahaan outsourcing. Perusahaan akanmenjadilebih
ramping sehingga perusahaan akan bergerak lebih gesit dalam merespon
kebutuhan pasar. Sehinggakeputusan-keputusan strategis menjadi
lebihcepat dapat diambil dan diterapkan untuk mencapai tujuan
perusahaan dan dapat menjadi keunggulan kompetitifnya.
5. Menjaga fleksibilitas rekrutmen pekerja
Menjalankan bisnis dimasa persaingan yang ketat seperti sekarang
ini pasti menghadapi resiko. Salah satu cara meminimalkan resiko bisnis

9
yang dihadapi adalah dengan mengatur penggunaan pekerja pada
pekerjaan penunjang sesuai dengan kebutuhan pekerjaan yang harus
dilakukan. Hal itu juga mencerminkan adanya fleksibilitas dalam
rekrutmen pekerja. Jika perusahaan melakukan outsourcing, maka
perusahaan akan mampu mempekerjakan lebih sedikkit karyawan tetap
karena kebutuhan pekerja untuk pekerjaan penunjang dapat dipenuhi oleh
vendor outsourcing sesuai kebutuhannya.
6. Mengurangi tekanan pekerjaan pada manajemen
Mengurangi SDM dan pekerjaan yang ditanganinya membutuhkan
tenaga, waktu dan pikiran yang besar, sehingga sering kali dirasakan
sebagai beban berat bagi manajemen. Manajemen bisnis saat ini banyak
memilih mengurangi beban-beban tersebut agar dapat berkonsentrasi pada
pengembangan dan inovasi produk, membuka pasar baru, menyiapkan
system baru dan lainnya untuk meningkatkan kinerja perusahaan. Alasan
lainnya yang cukup kuat adalah keluarnya UU nomor 13/2003 tentang
ketenagakerjaan dan peraturan outsourcing lainnya yang memungkinkan
dilakukannya outsourcing untuk kebutuhan alih daya pekerj adan
pekerjaan disuatu perusahaan yang membutuhkan jasa tersebut.
2.6 Kelebihan dan Kekurangan Outsourcing
 Kelebihan Menjadi Karyawan Outsourcing :
1. Memudahkan calon karyawan fresh graduate untuk mendapatkan
pekerjaan. Dengan sistem outsourcing mereka tidak perlu bersusah payah
memasukkan lamaran pekerjaan ke banyak perusahaan karena justru
perusahaan outsourcing yang akan menyalurkan mereka.
2. Mendapat pelatihan memadai dari perusahaan penyedia jasa karyawan
outsourcing. Sebelum ditempatkan di perusahaan para pencari kerja
tentunya harus mendapat pelatihan sehingga pengalaman tentang dunia
kerja menjadi bertambah.
3. Memudahkan pencari kerja yang memiliki keahlian khusus memilih
perusahaan yang akan mempekerjakan mereka nanti sekaligus menentukan
gaji yang akan mereka dapatkan karena para pencari kerja dengan keahlian

10
khusus seperti ini tentunya jarang sehingga menjadi rebutan perusahaan-
perusahaan besar.
 Kekurangan Menjadi karyawan Outsourcing :
1. Masa kerja yang tidak jelas karena sistem kontrak. Sebagian besar
karyawan outsourcing khawatir jika ada PHK maka tidak mudah
mendapatkan pekerjaan kembali.
2. Tidak ada jenjang karir. Karena sistem outsourcing memberlakukan
kontrak mengakibatkan karyawan susah memegang jabatan tinggi.
3. Tidak mendapat tunjangan. Sebagian besar perusahaan outsourcing tidak
memberikan tunjangan seperti THR, asuransi dan jaminan hari tua untuk
karyawan outsourcing.
4. Pemotongan penghasilan karyawan outsourcing yang tidak jelas. Rata-rata
gaji yang dipotong untuk karyawan outsourcing berkisar di angka 30
persen dari seharusnya yang mereka terima seandainya mereka menjadi
karyawan tetap di perusahaan mereka saat ini bekerja.

 Kelebihan Outsourcing bagi perusahaan :


1. Mempercepat proses adaptasi terhadap perubahan bisnis.
2. Manajemen S1 yang lebih baik, S1 dikelola oleh pihak luar yang telah
berpengalaman dalam bidangnya.
3. Dapat mengeksploitasi skill dan kepandaian yang berasal dari perusahaan
lain dalam mengembangkan produk yang diinginkan.
4. Bagian dari modernisasi dunia usaha.
5. Meningkatkan daya saing perusahaan dengan efisiensi penggunaan
fasilitas dan teknologi.
6. Memfasilitasi downsizing, sehingga perusahaan tak perlu memikirkan
pengurangan pegawai.
 Kekurangan outsourcing bagi perusahaan :
1. Ketidakpastian status ketenagakerjaan dan ancaman PHK bagi tenaga
kerja.

11
2. Perbedaan perlakuan Compensation and Benefit antara karyawan internal
dengan karyawan outsource.
3. Pengawasan dan kontrol langsung sulit dilakukan.
4. Informasi merupakan aset berharga bagi perusahaan, jika salah pengolahan
bisa berbalik menjadi boomerang.
5. Loss of flexibility (kontrak diatas 3 tahun), perubahan teknologi baru tidak
bisa diadaptasi dengan cepat oleh perusahaan.
6. Adanya hidden cost (biaya pencarian vendor, biaya transisi, biaya post,
outsourcing).
7. Timbulnya ketergantungan terhadap perusahaan penyedia jasa outsourcing

2.7 Penyebab Kegagalan Outsourcing


Pelaksanaan outsourcing dalam suatu perusahaan kadang mengalami
beberapa kendala sehingga tidak bisa berjalan secara lancar. Beberapa penyebab
kurang berjalan mulusnya dalam melakukan outsourcing adalah :
1. Kurang bulatnya keputusan manajemen
Manajemen sebagai pengelola perusahaan menempati posisi dan kekuatan
strategis untuk membawa arah perusahaan ke tujuannya. Terkait dengan
outsourcing dalam perusahaan sering kali manajemen perusahaan tidak
secara bulat menyetujui menyetujui rencana outsourcing tersebut
perusahaan akan menerima dan memasukkan unsure sumber daya manusia
baru kedalam system operasional perusahaan yang sudah pasti akan
mempengaruhi system operasional yang sudah berjalan selama ini di
perusahaan.
2. Munculnya resistensi dari rencana outsourcing
Terdapat beberapa alasan munculnya resistensi karyawan terhadap rencana
atau pelaksanaan outsourcing yang tentunya menjadikan iklim kerja di
dalam perusahaan menjadi kurang sehat terjadi suasana saling curiga,
saling curiga, saling mewaspadai antar pekerja,bahkan sampai munculnya
kelompok-kelompok yang setuju, kurang setuju ataupun tidak setuju.

12
Resistensi (penolakan) adanya outsourcing dari dalam perusahaan tersebut
muncul di antaranya karena alasan-alasan sebagai berikut :
a. Adanya penentangandari karyawan atau serikat pekerja, karena
keberadaan pekerja outsourcing akan dapat mengganggu eksistensi
dan kekuatan serikat pekerja.
b. Kekhawatiran pekerja perusahaan akan adanya pemutusan hubungan
kerja (PHK), karena bidang pekerjaan nantinya di ambil alih oleh
pekerja dari vendor outsourcing.
c. Kekhawatiran adanya outsourcing dapat merusak budaya perusahaan
yang ada, karena masuknya pekerja outsourcing sudah pasti membawa
budaya yang sudah terbangun di perusahaan pengguna outsourcing.
Terjadinya benturan budaya perusahaan ini dapat mengakibatkan
konflik dalam lingkungan perusahaan.
d. System yang sudah terbangun dengan baik di dalam perusahaan dan
lama kerja seorang pekerja akan menumbuhkan rasa memiliki di setiap
diri pekerja yang di pegangnya. Di dukung struktur organisasi maka
rasa memiliki yang tinggi dari pekerjaan tersebut terhadap pekerjaan
yang dipegangnya akan membangun “kekuasaan” berupa kendali
terhadap bidang kerja-bidang kerja yang ada dalam perusahaan.
Masuknya pekerja dari vendor outsourcingdapat menimbulkan
kekhawatiran dari pekerja perusahaan akan hilangnya kendali terhadap
pekerja-pekerja yang selama ini dalam kekuasaannya.
e. Kualitas vendor outsourcing lebih rendah kinerjanya. Maksudnya
pekerja vendor outsourcing dalam pekerjaan tertentu dalam perusahaan
akan menimbulkan kekhawatiran dari pekerja perusahaan akan kualitas
pekerja yang ditangani, apalagi dari pekerja yang tadinya mengerjakan
pekerjaan tersebut. Pekerja perusahaan merasa tersisih dari pekerjaan
yang tadinya dibawah kendalinya dan kini harus dilepas kemudian
diberikan kepada pekerja vendor outsourcing sangat mungkin muncul
dalam diri pekerja perusahaan persepsi atau keluhan yang berasal dari
rasa iri bahwa kualitas kinerja vendor outsourcing dalam melakukan

13
pekerjaanyang dahulu dikerjakannya ternyata tidak sebaik seperti saat
dikerjakan sendiri oleh pekerja perusahaan.
3. Salah menentukan vendor outsourcing
Perusahaan pengguna pekerja outsourcing harus hati-hati dan terencana
sesuai business plan yan dimiliki perusahaan dalam menentukan vendor
outsourcing.Penentuan vendor outsourcing oleh perusahaan harus hati-
hati, dengan melihat reputasi, kualitas vendor outsourcing dan pekerja,
serta kekhususan bidang pekerjaan serta biaya yang harus dikeluarkan
perusahaan, serta sesuai kebutuhan dalam mendukung business plan

14
BAB III

PENUTUP

2.1 Kesimpulan

Outsourcing di Indonesia merupakan system kerja kontrak yang


didalamnya terdapat pemberi kerja dan pekerja. Berdasarkan UU no.13 tahun
2003 memberi dasar pertimbangan tentang UU ketenagakerjaan.Dilihat dari UU
ketenagakerjaan kaitan dengan perspektif HAM adalah kesinambungan
kepentingan khususnya kepentingan pekerja dan kepentingan pengusaha dalam
mekanisme ekonomi pasar.

Namun, sistem outsourcing dan kerja kontrak itu sendiri bertentangan


dengan HAM dan tidak bisa diterapkan pada siapa pun tanpa kecuali. Buruh
cleaning service, catering, satpam, buruh usaha angkutan pekerja dan buruh jasa
penunjang di pertambangan serta perminyakan juga memiliki hak yang sama
dengan buruh-buruh di bagian core-business.Outsourcing menjadi salah satu
solusi yang paling sering digunakan untuk mengembangkan suatu Sistem
Informasi pada suatu perusahaan karena dengan outsourcing suatu perusahaan
akan lebih fokus pada bisnis inti.

2.2 Saran

Mohon kritik dan saran yang membangun, sehingga dikemudian hari kami
dapat memperbaikinya.Semoga makalah ini dapat menambah wawasan bagi
banyak pihak.

15
DAFTAR PUSTAKA

Daeng, A.(2017). Buku Ajar Ekonomi Sumber Daya Manusia Dan


Ketenagakerjaan. Mataram: Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Mataram

https://www.academia.edu/38585659/HUBUNGAN_KERJA_OUTSOURCING.d
ocx

farydacewegbaeg.blogspot.com/2014/06/makalah-lengkap-out-sourcing.html?
m=1

16