Anda di halaman 1dari 10

Nama : Rabiatul Adawiyah

NIM : 20090319010
Kelas :B
Mata kuliah : UAS Hukum Kesehatan Tahun Akademik 2019-2020.
Dosen : Dr. H. M. Faiz Mufidi, SH., MH

SOAL.
1. Salah satu kajian utama Ilmu Hukum Kesehatan adalah hubungan antara health
provider (pemberi pelayanan kesehatan) dan health receiver (penerima pelayanan
kesehatan) yang salah satunya mendasarkan pada Hak Asasi Manusia (HAM).
Sehubungan dengan itu sebut dan jelaskan sekurang-kurangnya dua jenis HAM
yang mendasari perkembangan Ilmu Hukum Kesehatan ! Adakah konstitusi kita
(UUD 1945) mengakuinya ? Seandainya ada sebutkan ketentuannya ! Apakah
ketentuan tersebut memang ada sejak disahkannya UUD 1945 pada 18 Agustus
1945 ? Jelaskan selengkap mungkin !
JAWABAN :
Adapun HAM yang mendasari ilmu kesehatan antara lain seperti (sebutkan
minimal 2) :
1. Hak atas pemeliharaan kesehatan berarti setiap orang memiliki hak untuk
mendapatkan standar tertinggi dari kesehatan fisik dan mental meliputi akses
terhadap jasa pelayanan kesehatan dan perawatan kesehatan, seperti: akses
terhadap nutrisi, air bersih, perumahan yang sehat, imunisasi, pendidikan,
sanitasi, dan akses terhadapinformasi terkait kesehatan.
2. Sebagai hak dasar atau hak primer individual yang merupakan sumber dari
hak-hak individual terdiri dari Hak atas privacy dan hak atas tubuhnya sendiri.
Hak atas privasi juga dapat diterjemahkan sebagai hak dari setiap orang
melindungi aspek-aspek pribadi kehidupannya untuk dipergunakan dan
dimasuki oleh orang lain. Hak atas tubuhnya sendiri merupakan hak pasien
memilih dokter, hak atas informed consent, hak menolak pengobatan atau
perawatan tindakan medis tertentu, hak menghentikan pengobatan atau
perawatan, dan hak atas second opinion serta hak memeriksa rekam medis.
Adakah konstitusi kita (UUD 1945) mengakuinya ? Seandainya ada sebutkan
ketentuannya !
Hak yang dimuat dalam UU no 36 thn 2009 tentang kesehatan pasal 4-8 yang
berbunyi setiap orang berhak atas:
1. Kesehatan
2. Akses atas sumber daya di bidang kesehatan.
3. Pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, dan terjangkau.
4. Menentukan sendiri pelayanan kesehatan yang diperlukan bagi dirinya.
5. Lingkungan yang sehatbagi pencapaian derajat kesehatan.
6. Informasi dan edukasi tentang kesehatan yang seimbang dan bertanggung
jawab.
7. Informasi tentang data kesehatan dirinya termasuk tindakan dan pengobatan
yangtelah maupun yang akan diterimanya dari tenaga kesehatan

Kewajiban yang dimuat dalam UU no 36 thn 2009 pasal 9-13 yang berbunyi setiap
orang memiliki kewajiban yaitu :
1. Mewujudkan, mempertahankan, dan meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat yang setinggi-tingginya.
2. Menghormati hak orang lain dalam upaya memperoleh lingkungan yang sehat,
baik fisik, biologi, maupun sosial.
3. Berperilaku hidup sehat untuk mewujudkan, mempertahankan, dan memajukan
kesehatan yang setinggi-tingginya.
4. Menjaga dan meningkatkan derajat kesehatan bagi orang lain yang menjadi
tanggung jawabnya.
5. Setiap orang berkewajiban turut serta dalam program jaminan kesehatan sosial.

Apakah ketentuan tersebut memang ada sejak disahkannya UUD 1945 pada 18
Agustus 1945 ? Jelaskan selengkap mungkin !
Kesehatan merupakan hak asasi manusia dan salah satu unsur kesejahteraan
yang harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana
dimaksud dalam Pancasila dan Pembukaan Undang- Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945. Antara Hak Asasi Manusia dan kesehatan terdapat hubungan
yang saling mempengaruhi, karena seringkali akibat dari pelanggaran HAM adalah
gangguan terhadap kesehatan demikian pula sebaliknya, pelanggaran terhadap hak
atas kesehatan juga merupakan pelanggaran terhadap HAM.
Pengakuan Hak atas kesehatan sebagai bagian dari hak asasi manusia pertama
kali dapat kita temukan dalam dokumen Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia yang
lahir pada 10 Desember 1948. Selanjutnya 18  tahun kemudian, pengakuan tersebut
semakin diteguhkan dengan ditetapkannya Kovenan Internasional Hak-Hak Ekonomi,
Sosial dan Budaya oleh Resolusi Majelis Umum 2200 A (XXI) pada tanggal 16
Desember 1966. Negara Indonesia telah meratifikasi Kovenan Hak Ekonomi, Sosial
dan Budaya melalui Undang-Undang No. 11 Tahun 2005. Dengan demikian,
Indonesia otomatis menjadi negara yang diberikan tanggung jawab  pemenuhan,
perlindungan dan penghormatan Hak Atas Kesehatan dari warga negaranya.
Sumber hukum nasional yang menjamin hak atas kesehatan tersebar dalam
berbagai peraturan perundang-undangan. Dalam pasal 28 A Undang-Undang Dasar
1945 disebutkan “Semua orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan
hidup dan kehidupannya” kemudian ditegaskan kembali dalam Pasal Pasal 28H ayat 1
bahwa, “Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan
mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh
pelayanan kesehatan”. Lebih lanjut jaminan negara terhadap hak atas kesehatan
warganya juga dapat ditemui di Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 Tentang Hak
Asasi Manusia dan yang paling akhir pengukuhan itu dituangkan dalam Undang-
Undang No. 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan.

SOAL
2. Bila mengkaji hubungan antara health provider (pemberi pelayanan kesehatan)
dan health receiver (penerima pelayanan kesehatan), pada dasarnya merupakan
hubungan antara dua subyek hokum yang sederajat, artinya para pihak yang
terlibat di dalamnya mempunyai kebebasan untuk memilih dan menentukan
sendiri jenis dan isi hubungannya. Jelaskan selengkap mungkin ; mengapa Negara
RI terlibat dan berusaha mengatur hubungan-hubungan tersebut dengan
menerbitkan beberapa regulasi antara lain ; UU Praktik Kedokteran, UU
Kesehatan, UU Rumah Sakit, UU Tenaga Kesehatan dlsbnya !
JAWABAN :
UU Praktik kedokteran diterbitkan untuk :
1. Untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi
setiap orang dalam rangka mewujudkan derajat kesehatan yang optimal.
2. Bahwa kesehatan sebagai hak asasi manusia harus diwujudkan dalam bentuk
pemberian berbagai upaya kesehatan kepada seluruh masyarakat melalui
penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang berkualitas dan terjangkau
oleh masyaraka.
3. Bahwa penyelenggaraan praktik kedokteran yang merupakan inti dari berbagai
kegiatan dalam penyelenggaraan upaya kesehatan harus dilakukan oleh dokter
dan dokter gigi yang memiliki etik dan moral yang tinggi, keahlian dan
kewenangan yang secara terus-menerus harus ditingkatkan mutunya melalui
pendidikan dan pelatihan berkelanjutan, sertifikasi, registrasi, lisensi, serta
pembinaan, pengawasan, dan pemantauan agar penyelenggaraan praktik
kedokteran sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
4. Bahwa untuk memberikan perlindungan dan kepastian hukum kepada
penerima pelayanan kesehatan, dokter, dan dokter gigi, diperlukan
pengaturanmengenai penyelenggaraan praktik kedokteran.

UU Kesehatan untuk :
1. Bahwa kesehatan merupakan hak asasi manusia dan salah satu unsur
kesejahteraan yang harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa
Indonesia.
2. Bahwa setiap kegiatan dalam upaya untuk memelihara dan meningkatkan
derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya dilaksanakan
berdasarkan prinsipnondiskriminatif, partisipatif, dan berkelanjutan dalam
rangka pembentukan sumber daya manusia Indonesia, serta peningkatan
ketahanan dan daya saing bangsa bagi pembangunan nasional.
3. Bahwa setiap hal yang menyebabkan terjadinya gangguan kesehatan pada
masyarakat Indonesia akan menimbulkan kerugian ekonomi yang besar bagi
negara, dan setiapupaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat jugaberarti
investasi bagi pembangunan Negara.
4. Bahwa setiap upaya pembangunan harus dilandasi dengan wawasan kesehatan
dalam arti pembangunan nasional harus memperhatikan kesehatan masyarakat
dan merupakan tanggung jawab semua pihak baik Pemerintah maupun
masyarakat.

UU Rumah Sakit untuk :


1. Bahwa pelayanan kesehatan merupakan hak setiap orang yang dijamin dalam
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang harus
diwujudkan dengan upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang
setinggi-tingginya.
2. Bahwa Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan bagi masyarakat
dengan karateristik tersendiri yang dipengaruhi oleh perkembangan ilmu
pengetahuan kesehatan, kemajuan teknologi, dan kehidupan sosial ekonomi
masyarakat yang harus tetap mampu meningkatkan pelayanan yang lebih
bermutu dan terjangkau oleh masyarakat agar terwujud derajat kesehatan yang
setinggi-tingginya
3. Bahwa dalam rangka peningkatan mutu dan jangkauan pelayanan Rumah
Sakit serta pengaturan hak dan kewajiban masyarakat dalam memperoleh
pelayanan kesehatan, perlu mengatur Rumah Sakit dengan Undang-Undang
4. Bahwa pengaturan mengenai rumah sakit belum cukup memadai untuk
dijadikan landasan hukum dalam penyelenggaraan rumah sakit sebagai
institusi pelayanan kesehatan bagi masyarakat.

UU Tenaga Kesehatan untuk :


1. Bahwa tenaga kesehatan memiliki peranan penting untuk meningkatkan
kualitas pelayanan kesehatan yang maksimal kepada masyarakat agar
masyarakat mampu untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan
kemampuan hidup sehat sehingga akan terwujud derajat kesehatan yang
setinggi-tingginya sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia
yang produktif secara sosial dan ekonomi serta sebagai salah satu unsur
kesejahteraan umum sebagaimana dimaksud dalam Pembukaan Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
2. Bahwa kesehatan sebagai hak asasi manusia harus diwujudkan dalam bentuk
pemberian berbagai pelayanan kesehatan kepada seluruh masyarakat melalui
penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang menyeluruh oleh Pemerintah,
Pemerintah Daerah, dan masyarakat secara terarah, terpadu dan
berkesinambungan, adil dan merata, serta aman, berkualitas, dan terjangkau
oleh masyarakat;
3. Bahwa penyelenggaraan upaya kesehatan harus dilakukan oleh tenaga
kesehatan yang bertanggung jawab, yang memiliki etik dan moral yang tinggi,
keahlian, dan kewenangan yang secara terus menerus harus ditingkatkan
mutunya melalui pendidikan dan pelatihan berkelanjutan, sertifikasi, registrasi,
perizinan, serta pembinaan, pengawasan, dan pemantauan agar
penyelenggaraan upaya kesehatan memenuhi rasa keadilan dan
perikemanusiaan serta sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi kesehatan.
4. Bahwa untuk memenuhi hak dan kebutuhan kesehatan setiap individu dan
masyarakat, untuk memeratakan pelayanan kesehatan kepada seluruh
masyarakat, dan untuk memberikan pelindungan serta kepastian hukum
kepada tenaga kesehatan dan masyarakat penerima upaya pelayanan
kesehatan, perlu pengaturan mengenai tenaga kesehatan terkait dengan
perencanaan kebutuhan, pengadaan, pendayagunaan, pembinaan, dan
pengawasan mutu tenaga kesehatan.
5. Bahwa ketentuan mengenai tenaga kesehatan masih tersebar dalam berbagai
peraturan perundang- undangan dan belum menampung kebutuhan hukum
masyarakat sehingga perlu dibentuk undang-undang tersendiri yang mengatur
tenaga kesehatan secara komprehensif.

Kesimpulannya bahwa Negara RI terlibat dan berusaha mengatur hubungan-


hubungan tersebut dengan menerbitkan beberapa regulasi antara lain ; UU
Praktik Kedokteran, UU Kesehatan, UU Rumah Sakit, UU Tenaga Kesehatan
dlsbnya agar HAM dari health provider (pemberi pelayanan kesehatan) dan
health receiver (penerima pelayanan kesehatan) dapat terjalin dengan baik,
teratur, dan dapat dipertanggungjawabkan, serta mempermudah dalam regulasi
dalam penyetaraan kesehatan di Indonesia.

SOAL
3. Sebut dan jelaskan pola-pola hubugan antara antara health provider (pemberi
pelayanan kesehatan) dan health receiver (penerima pelayanan kesehatan !
JAWABAN :
Hubungan dokter dan pasien merupakan pola yang lahir antara dokter dan pasien
sebelum berlanjut pada tindakan pelayanan kesehatan. Dan pelayanan
kesehatan,merupakan sebuah konsep yang digunakan dalam memberikan layanan
kesehatan kepada masyarakat. Pelayanan kesehatan adalah sebuah sub sistem
pelayanan kesehatan yang ditujuan utamanya adalah pelayanan kesehatan dalam
hal Preventif (pencegahan), Promotif (peningkatan kesehatan,) Kuratif
(penyembuhan kesehatan) dan Rehabilitatif (pemulihan) merupakan segala upaya
yang dikerahkan oleh pemerintah dalam peningkatan mutu pelayanan kesehatan
yang prima dan sesuai dengan standar prosedur dan standar operasional prosedur
pelayanan kesehatan. Ditinjau dari aspek sosiologis, hubungan hukum dokter dan
pasien seiring perkembangan keilmuan dibidang hukum kesehatan mengalami
perubahan, semula kedudukan pasien dianggap tidak sederajat dengan dokter,
karena dokter dianggap paling tahu terhadap pasiennya, dalam hal ini kedudukan
pasien sangat pasif, sangat tergantung kepada dokter. Namun dalam
perkembangannya hubungan antara dokter dan pasien telah mengalami perubahan
pola, di mana pasien dianggap sederajat kedudukannya dengan dokter. Segala
tindakan medis yang akan dilakukan dokter terhadap pasiennya harus mendapat
persetujuan dari pasien, setelah sang pasien mendapatkan penjelasan yang cukup
memadai tentang segala seluk beluk penyakit dan upaya tindakan
mediknya.Hubungan hukum dokter dan pasien dalam pelayanan kesehatan
merupakan hal yang tidak terpisahkan dan mempunyai relefansi kongkrit sehingga
dokter dan pasien merupakan satu integral dalam upaya kerja sama dalam
transaksi terapeutik. Hubungan antara dokter dan pasien dalam ilmu kedokteran
umumnya berlangsung sebagai hubungan biomedis aktif-pasif, dalam hubungan
yuridis antara dokter dan pasien, terjadi dalam tiga pola hubungan yakni,
aktif pasif (Aktifitity-Passivity), membimbing kerja sama (Guidance-
Cooperation), dan saling partisipasi (Mutual Participation).
1. Aktivitas pasif ( Activity-passivity).Pola hubungan orangtua-anak seperti ini
merupakan pola klasik sejak profesi kedokteran mulai mengenal kode etik,
abad ke 5 S.M. Di sini dokter seolah-olah dapat sepenuhnya melaksanakan
ilmunya tanpa campur tangan pasien. Biasanya hubungan ini berlaku pada
pasien yang keselamatan jiwanya terancam, atau sedang tidak sadar, atau
menderita gangguan mental berat.
2. Membimbing kerjasama (Guidance-Cooperation). Hubungan membimbing-
kerjasama, seperti halnya orangtua dengan remaja. Pola ini ditemukan bila
keadaan pasien tidak terlalu berat misalnya penyakit infeksi baru atau penyakit
akut lainnya. Meskipun sakit, pasien tetap sadar dan memiliki perasaan serta
kemauan sendiri. la berusaha mencari pertolongan pengobatan dan bersedia
bekerjasama. Walau pun dokter rnengetahui lebih banyak, ia tidak semata-
mata karena menjalankan kekuasaan, namun mengharapkan kerjasama pasien
yang diwujudkan dengan menuruti nasihat atau anjuran dokter.
3. Saling berpartisipasi (Mutual participation).Filosofi pola ini berdasarkan
pemikiran bahwa setiap manusia memiliki martabat dan hak yang sarna. Pola
ini terjadi pada mereka yang ingin memelihara kesehatannya seperti medical
check up atau pada pasien penyakit kronis. Pasien secara sadar dan aktif
berperan dalam pengobatan terhadap dirinya. Hal ini tidak dapat diterapkan
pada pasien dengan latar belakang pendidikan dan sosial yang rendah, juga
pada anak atau pasien dengan gangguan mental tertentu.

SOAL
4. Menentukan obyek jasa pelayanan medik bukan hal yang mudah untuk itu HJJ
Leenen menentukan kriteria standar profesi medic sebagai berikut : “standar
profesi berarti berbuat secara teliti/hatihati menurut ukuran medik, sebagai
seorang dokter yang memiliki kemampuan rata-rata (average) dibanding
dengan dokter dari keahllian medik yang sama, dalam situasi dan kondisi yang
sama dengan sarana upaya yang sebanding/proporsional dengan tujuan konkrit
tindakan medik tersebut . Berikanlah penjelasan secara lengkap frasa-frasa yang
dicetak miring dan ditebalkan !
JAWABAN
Berdasarkan rumusan Leenen, seorang pakar hukum dari Belanda menyatakan
batasan unsur-unsur pada standar profesi kedokteran harus memenuhi unsur-unsur
berikut :
1. Berbuat seca secara teliti dan seksama (zorgvuldig handelen), dikaitkan
dengan kelalaian sehingga bila seorang dokter tidak bekerja secara hati-
hati, maka dia sudah memenuhi unsur kelalaian.
2. Seorang dokter harus bekerja sesuai dengan ukuran ilmu medik (volgens
de medische standaart), maksudnya seorang dokter yang berpraktik harus
melaksanakan tugasnya sesuai dengan keilmuaannya atau wewenang dan
kompetensinya, misal seorang dokter umum tidak boleh melakukan
tindakan sectio caesaria, walaupun dia sanggup atau mampu
mengerjakannya berdasarkan pengalamannya membantu dokter ahli
kebidanan dan kandungan.
3. Harus mempunyai kemampuan rata-rata (average) dibanding kategori
keahlian medik yang sama (gemiddaelde bewaamheid van gelijke
medische categori), maksudnya adalah bila seorang dokter umum
dinyatakan berbuat suatu kelalaian, maka yang menyatakan dia berbuat
kelalaian adalah dokter umum juga, bukan dokter ahli atau dokter
spesialis.
4. Bila seorang dokter dinyatakan telah melakukan suatu kelalaian, maka
ukurannya adalah situasi dan kondisi yang sama terhadap sejawat yang
menilainya (gelijke omstandigheden), maksudnya bila seorang dokter
puskesmas pedalaman dinyatakan melakukan kelalaian yang merugikan
pasien, maka harus dibandingkan dengan dokter umum yang lebih kurang
situasi dan kondisi puskesmasnya mirip atau serupa dengan puskesmas
dokter yang dituduh, jadi tidak bisa dibandingkan dengan dokter
puskesmas yang bekerja di lingkup puskesmas perkotaan, yang mungkin
saja pada saat menangani pasien yang kritis yang serupa dengan situasi
dan kondisidokter puskesmas pedalaman, dokter puskesmas perkotaan
masih sempat dan memungkinkan untuk merujuk pasien ke rumah sakit.
5. Sarana dan upaya yang sebanding dan proporsional dengan tujuan dan
tindakan medik tersebut, maksudnya bila seorang dokter puskesmas
dengan segala sarana dan upaya yang sederhana melakukan suatu tindakan
yang dianggap menyebabkan kelalaian, maka yang harus menilainya
adalah dokter puskesmas juga yang kira-kira mempunyai sarana dan upaya
yang mirip atau serupa dengan dokter puskesmas yangdituduh, bukan
dibandingkan dengan dokter umum yang bertugas dirumah sakit besar.
Jadi kelima unsur tersebut yang harus dipakai untuk menguji apakah
seorangdokter melakukan suatu malpraktik atau tidak.
SOAL
5. Pasal 51 UU No. 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran menyatakan :”
Dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran mempunyai
kewajiban:
a. Memberikan pelayanan medis sesuai dengan stanadr profesi dan standar
prosedur operasional serta kebutuhan medis pasien ;
Pertanyaan : Jelaskan apa yang dimaksud dengan kebutuhan medis pasien !
Apakah sama kebutuhan medis pasien dengan keinginan medis pasien !
Hubungkan juga jawaban Saudara dengan ketentuan Pasal 13 ayat (2) Permenkes
Nomor 1419/2005 tentang Penyelenggaraan Praktik Kedokteran, yang
menyatakan : Kesepakatan sebagaimana dlmaksud ayat (1) merupakan upaya
maksimal dalam rangka penyembuhan dan pemulihan kesehatan.

JAWABAN

Kebutuhan medis adalah suatu keadaan kesehatan yang oleh tenaga


kedokteran dinyatakan harus mendapatkan penanganan medis. Sedangkan
keinginan medis pasien adalah suatu keinginan seseorang untuk menjadi lebih
sehat dalam hidup.Keinginan ini didasarkan pada penilaian diri terhadap status
kesehatannya. Jadi antara kebutuhan medis dan keinginan medis itu berbeda.
Kebutuhan medis sesuai indikasi medis serta SOP yang berlaku. Sedangkan
keinginan medis pasien sesuai individu.

Berdasarkan informasi yang diberikan tenaga medis, pasien dan atau keluarga
dapat saja menolak memberikan per-setujuan atas tindakan medis tertentu
(informed refusal). Menghadapi hal sedemikian tenaga medis harus bersikap
rasional sebagai seorang medikus sekaligus etikus-moralis, dengan
mempertimbangkan kompetensi penolakan tersebut dan kondisi pasien yakni
entah tindakan medis masih bermanfaat bagi-nya ataukah sudah menjadi sia-sia
belaka.

Menurut Pasal 13 ayat (2) Permenkes Nomor 1419/2005 tentang


Penyelenggaraan Praktik Kedokteran Dokter atau Dokter gigi dalam
melaksanakan praktik kedokteran didasarkan pada kesepakatan antara dokter atau
dokter gigi dengan pasien dalam upaya pemeliharaan kesehatan, pencegahan
penyakit, peningkatan kesehatan, pengobatan penyakit dan pemulihan kesehatan.
Kesepakatan sebagaimana dimaksud ayat (1) merupakan upaya maksimal dalam
rangka penyembuhan dan pemulihan kesehatan.

Anda mungkin juga menyukai