Anda di halaman 1dari 10

Prosiding Konferensi Nasional Peneliti Muda Psikologi Indonesia 2016

Vol. 1, No. 1, Hal 19-28

HUBUNGAN ANTARA SELF COMPASSION DENGAN RESILIENSI


PADA MANTAN PECANDU NARKOBA DEWASA AWAL

Rizki Febrinabilah1
Ratih Arruum Listiyandini2
Fakultas Psikologi Universitas YARSI
febrinabila.r@hotmail.com

ABSTRAK
Mantan pecandu narkoba merupakan orang yang pernah melakukan penyalahgunaan,
memakai, serta mengalami ketergantungan terhadap narkoba kemudian telah dinyatakan
sembuh dan lepas dari ketergantungannya. Beberapa masalah sering dialami oleh mantan
pecandu narkoba. Selain relapse, juga terdapat masalah baik secara intrapersonal maupun
interpersonal. Namun diantara berbagai masalah yang ada pada mantan pecandu narkoba
terdapat mereka yang berhasil mempertahankan kepulihannya. Hal ini mengindikasikan
mereka memiliki resiliensi, yaitu mampu berkembang dengan baik dalam menghadapi
kesulitan. Disamping itu ditemukan pula bahwa mereka yang dapat mempertahankan
kepulihannya disebabkan karena adanya penghayatan positif mengenai diri sendiri. Hal ini
sesuai dengan konsep self compassion yaitu memiliki pemahaman dan kebaikan kepada diri
sendiri serta tidak mengkritik secara berlebihan atas kekurangan pada diri mereka sendiri.
Penelitian kuantitatif ini bertujuan untuk melihat hubungan self compassion dengan resiliensi
pada mantan pecandu narkoba. Penelitian ini menggunakan alat ukur yaitu Self Compassion
Scale dan Connor Davidson Resilience Scale yang telah diadaptasi oleh peneliti. Subjek dalam
penelitian ini adalah 81 orang mantan pecandu narkoba yang tidak lagi menggunakan narkoba
minimal 2 tahun dengan rentang usia 20-40 tahun dan sudah pernah menjalani rehabilitasi.
Hasil menunjukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan dan bernilai positif antara self
compassion dengan resiliensi sebesar r=0.478 dan nilai signifikansi p=0.000 (p<0.05).
Hubungan ini bersifat positif dengan artian semakin tinggi skor self compassion, maka semakin
tinggi pula resiliensi pada mantan pecandu narkoba.

Kata Kunci: Self Compassion, Resiliensi, Mantan Pecandu Narkoba, Dewasa Awal

PENDAHULUAN Indonesia Gawat Darurat Narkoba”,


www.nasional.kompas.com, 2015).
Masalah penyalahgunaan narkoba Ketergantungan yang dialami oleh
di Indonesia telah berada pada tahap yang pecandu narkoba sulit untuk dihentikan.
mengkhawatirkan. Menurut data yang Penghentian penggunaan dan proses
dimiliki Presiden Indonesia, Joko Widodo, pemulihan ketergantungan narkoba
terdapat 50 orang di Indonesia yang merupakan proses yang rumit dan
meninggal dunia setiap hari karena memerlukan waktu yang panjang, sehingga
penyalahgunaan narkoba. Sekitar 18.000 tidak jarang dalam perjalanannya, seorang
jiwa meninggal dunia karena penggunaan mantan pecandu narkoba mengalami
narkoba. Angka tersebut belum termasuk relapse atau kekambuhan (Partodiharjo
4,2 juta pengguna narkoba yang dalam Utami, 2015). Selain masalah
direhabilitasi dan 1,2 juta pengguna yang relapse (kambuh), individu yang pernah
tidak direhabilitasi (“Presiden Jokowi: menjadi pecandu narkoba ditemukan

[19]
memiliki kontrol emosi yang rendah, ketergantungan terhadap narkoba dan
hubungan yang tidak memadai, perilaku beradaptasi untuk kembali masuk ke
untuk merusak diri sendiri, dan melakukan tengah-tengah masyarakat untuk
pertahanan diri (Galanter & Brook dalam menjalankan kehidupannya seperti
Karsiyati, 2012). Selain itu, Kencanawati sediakala. Maka dari itu, mantan pecandu
(2015) menambahkan bahwa pada individu narkoba seharusnya memiliki kemampuan
yang pernah menjadi pecandu narkoba resiliensi yang baik, karena resiliensi dapat
ditemukan memiliki hambatan dalam mengurangi seseorang terkena faktor-faktor
berinteraksi karena adanya stigma negatif berisiko (Smestha, 2015). Hal ini didukung
dalam masyarakat, kurangnya rasa optimis, oleh hasil penelitian Utami (2015) bahwa
kurang memiliki kemampuan penyelesaian adanya perkembangan yang baik dari
masalah, dan kurang memiliki keyakinan segala aspek resiliensi dapat menjadikan
diri. Sitasari (2007) juga menemukan mantan pecandu narkoba lebih resilien
bahwa para mantan pecandu narkoba yang daripada sebelumnya. Faktor protektif yang
memiliki konsep diri yang negatif sangat berperan untuk menguatkan mantan
cenderung memandang dirinya pesimis pecandu narkoba menjadi resilien
terhadap kompetensi yang dimiliki. diantaranya adalah dukungan sosial dari
Berdasarkan paparan tersebut dapat keluarga dan faktor internal seperti rasa
disimpulkan bahwa selain masalah relapse, percaya diri, kemandirian, keterampilan
pada mantan pecandu narkoba juga terdapat sosial, keyakinan mengatasi masalah,
masalah baik secara intrapersonal maupun tujuan dan makna hidup yang jelas, serta
interpersonal. Masalah intrapersonal terdiri reaksi emosional (temperamen) yang
dari rendahnya kemampuan meregulasi positif. Apabila mantan pecandu narkoba
emosi dan optimisme, ketidakmampuan memiliki faktor-faktor protektif, maka
untuk meyakini diri sendiri, dan mereka akan lebih mampu mengatasi
ketidakmampuan untuk memecahkan tantangan atau ujian yang mungkin bisa
masalah. Sedangkan masalah interpersonal memicu mereka untuk relapse.
antara lain seperti hubungan yang tidak Hasil penelitian Aztri & Milla
memadai dengan lingkungan sekitar dan (2013) menunjukkan bahwa mantan
harga diri yang rendah karena adanya pecandu narkoba yang berhasil pulih dari
stigma negatif. ketergantungannya adalah mereka yang
Dalam upaya untuk melepaskan diri memiliki perasaan berharga karena adanya
dari ketergantungan terhadap narkoba dan dukungan sosial dan mereka yang mampu
dapat melanjutkan kembali ke kehidupan, memaknai kehidupan dan kesulitan yang
maka dibutuhkanlah suatu kemampuan dijalani sebagai sesuatu yang dihadapi
untuk dapat bertahan dalam keadaan yang secara positif. Hal ini berkaitan dengan
sulit tersebut. Kemampuan untuk bertahan adanya self compassion. Neff (2010)
dalam keadaan yang menyulitkan seperti menyatakan bahwa self compassion dapat
itu disebut dengan resiliensi. Individu yang berkontribusi meningkatkan penghayatan
dapat bertahan menghadapi kesulitan positif mengenai diri sendiri,
adalah individu yang resilien. Oleh karena menghilangkan emosi negatif, dan
itu, mantan pecandu narkoba harus resilien meningkatkan rasa keterhubungan dengan
untuk dapat mempertahankan diri mereka orang lain.
agar tidak relapse, serta dapat membangun Neff (2003) menjelaskan bahwa
kembali kehidupan mereka dan menjadi self-compassion adalah pemberian
lebih baik. pemahaman dan kebaikan kepada diri
Mantan pecandu narkoba sendiri ketika mengalami kegagalan
merupakan mereka yang telah berhasil ataupun membuat kesalahan, tidak
melalui proses yang tidak mudah. Ia harus menghakimi diri sendiri dengan keras
mampu untuk melepaskan dirinya pada maupun mengkritik diri sendiri dengan

[20]
berlebihan atas ketidaksempurnaan, belum ada yang memaparkan secara
kelemahan, dan kegagalan yang dialami mendalam, misalnya penelitian dari
diri sendiri. Dengan self compassion, Basalamah (2015) dan Akmala &
individu akan lebih mampu memahami Wahyuningsih (__). Oleh karena itu, sejauh
kemanusiaan yang dimiliki sehingga ini belum ditemukan penelitian mengenai
membantu mengurangi rasa takut dari hubungan self compassion dengan resiliensi
penolakan sosial. Hal ini membuat pada mantan pecandu narkoba, khususnya
seseorang memiliki perasaan terhubung di Indonesia. Atas hal tersebut, maka
secara interpersonal (Collins dalam Neff, peneliti ingin melihat bagaimana hubungan
2010). Faktor-faktor yang membantu para self compassion dengan resiliensi pada
mantan pecandu narkoba untuk bisa mantan pecandu narkoba.
mempertahankan kepulihannya seperti Pada penelitian ini akan difokuskan
memiliki harapan hidup, perasaan berharga, pada mantan pecandu narkoba usia dewasa
dan mampu menarik pelajaran dari awal, dengan alasan karena self compassion
kesulitan merupakan sesuatu yang sangat diperlukan pada masa dewasa awal
berkaitan dengan self compassion. Oleh terkait dengan tugas-tugas perkembangan
karena itu, terdapat potensi bahwa self yang harus dipenuhi pada masa tersebut.
compassion dapat meningkatkan Self compassion sangat relevan pada
kemampuan regulasi emosi, penghayatan kehidupan atau pengalaman pada masa
positif mengenai diri sendiri, pemecahan dewasa karena ketika individu tidak
masalah, dan rasa keterhubungan dengan menyukai aspek-aspek dalam dirinya dan
orang lain, termasuk pada mantan pecandu menghakimi dirinya sendiri, maka self
narkoba. Aspek-aspek tersebut juga compassion memiliki peran untuk
merupakan bagian dari karakteristik mengurangi dan menghilangkan
resiliensi. Oleh karena itu dengan adanya kecenderungan dalam memandang dirinya
self compassion maka resiliensi diharapkan sendiri secara negatif. Hurlock (dalam
menjadi lebih baik atau meningkat. Melati, 2011) mengatakan bahwa masa
Sejauh ini penelitian terdahulu lebih dewasa awal dimulai pada umur 18 tahun
banyak meneliti kaitan self compassion sampai umur 40 tahun. Selain itu,
pada pasien penyakit kronis, misalnya pada ditemukan bahwa sebagian besar pemakai
penyakit kanker payudara (Przezdziecki atau pecandu narkoba berada pada
et.al, 2013). Namun belum ditemukan klasifikasi usia produktif, yaitu pada
penelitian self compassion pada mantan rentang usia 20 - 45 tahun (Chamdi dalam
pecandu narkoba. Disamping itu, Salmi, 2008). Dengan demikian pada
penelitian-penelitian sebelumnya hanya penelitian ini, subjek akan dikhususkan
terbatas mengenai kaitan mantan pecandu pada mantan pecandu narkoba yang berada
narkoba dengan kebermaknaan hidup pada masa dewasa awal, yaitu dengan
(Mufarrohah, 2012), dukungan sosial rentang usia 20-40 tahun.
(Setiawan, 2014), keberfungsian keluarga
(Karsiyati, 2012), religiusitas (Pertiwi, Self Compassion
2011), maupun gambaran resiliensi secara Kristin Neff (2003) menjelaskan,
umum (Utami, 2015). Pada penelitian self-compassion adalah memberikan
mengenai self compassion, sebagian besar pemahaman dan kebaikan kepada diri
baru dikaitkan dengan kesejahteraan sendiri ketika mengalami kegagalan
psikologis (Hall, et.al, 2013), kebahagiaan ataupun membuat kesalahan, namun tidak
(Anggraeni & Kurniawan, 2012), dan menghakimi diri sendiri dengan keras dan
kecemasan sosial (Werner et.al, 2012), tidak mengkritik diri sendiri dengan
sedangkan pada penelitian yang berlebihan atas ketidaksempurnaan,
mengaitkan self compassion dengan kelemahan, dan kegagalan yang dialami
resiliensi, di Indonesia masih sedikit dan diri sendiri.

[21]
Dimensi memungkinkan seseorang untuk mampu
Self compassion memiliki tiga berkembang dengan baik dalam
komponen favorable dan tiga komponen menghadapi kesulitan. Connor & Davidson
unfavorable. Komponen favorable terdiri (2003) pada penelitiannya
dari self-kindness, common humanity, dan mengidentifikasikan lima aspek dari
mindfulness. Self kindness adalah resiliensi, yaitu:
penjelasan mengenai kebaikan dan 1. Kompetensi personal, standar yang
pengertian kepada diri sendiri daripada tinggi, dan kegigihan
memiliki penilaian yang tajam serta sifat 2. Percaya kepada diri sendiri, memiliki
mengkritisi diri sendiri (Neff, 2003). toleransi terhadap afek negatif dan kuat
Common humanity dipandang sebagai dalam menghadapi tekanan
pengalaman individu yang luas dan tidak 3. Penerimaan positif terhadap perubahan
melihat hal tersebut sebagai pengalaman dan hubungan yang baik dengan orang
yang membuat individu merasa terisolasi lain
(Neff, 2003). Mindfulness adalah kesadaran 4. Pengendalian diri
individu akan pikiran dan perasaan yang 5. Pengaruh spiritual
menyakitkan, namun tidak menjadikan hal
tersebut sebagai over-identifying, yaitu Mantan Pecandu Narkoba Dewasa Awal
tidak melebih-lebihkan sesuatu yang Menurut istilah narkotika, pecandu
dirasakan (Neff, 2003). diartikan sebagai addict, yaitu orang yang
Disamping itu, terdapat tiga sudah menjadi “budak dari obat”, dan tidak
komponen yang berkebalikan dari mampu lagi menguasai dirinya maupun
komponen diatas atau disebut dengan melepaskan diri dari cengkraman obat yang
komponen unfavorable. Komponen sudah menjadi tuannya (Adisti dalam
unfavorable terdiri dari self judgement, Utami, 2015). Dalam pasal 1 angka 13 UU
isolation, dan over-identification. Self- Narkotika, pecandu narkoba diartikan
judgement adalah sikap merendahkan dan sebagai orang yang menggunakan atau
mengkritik diri sendiri secara berlebihan menyalahgunakan narkotika dan dalam
terhadap aspek-aspek yang ada didalam diri keadaan ketergantungan pada narkotika,
dan kegagalan yang dialami (Brown dalam baik secara fisik maupun psikis
Diantina & Hendarizkianny, 2014). (Partodiharjo dalam Utami, 2015).
Isolation adalah individu merasa terpisah Terdapat dua proses yang dapat dijalani
dari orang lain karena rasa sakit atau untuk bisa berhenti menggunakan narkoba.
frustasi yang dideritanya (Diantina & Pertama, karena adanya dorongan dari
Hendarizkianny, 2014). Overidentification dalam diri sendiri yaitu dimulai adanya
adalah kecenderungan individu untuk perasaan malu dan bersalah, baik dengan
terpaku pada semua kesalahan dirinya, serta keluarga maupun lingkungan (Junaiedi,
merenungkan secara berlebihan 2012). Kedua, melalui perantara pihak lain
keterbatasan-keterbatasan yang dimiliki atau orang terdekat. Orang tua yang
akibat dari kesalahan yang sudah diperbuat memiliki anak menjadi pecandu narkoba
(Diantina & Hendarizkianny, 2014). seringkali merasa hal tersebut adalah suatu
aib keluarga, sehingga memasukan anaknya
Resiliensi ke panti rehabilitasi (Isnaini dkk, 2011).
Connor & Davidson (2003) WHO memaparkan bahwa seseorang baru
mendefinisikan resiliensi sebagai: dapat dikatakan menjadi seorang mantan
“Resilience embodies the personal pecandu narkoba apabila telah berhenti
qualities that enable one to thrive in the menggunakan narkoba minimal dua tahun
face of adversity.” Menurut Connor & (Utami, 2015). Partodiharjo (dalam Utami,
Davidson (2003) resiliensi merupakan 2015) menyatakan bahwa dalam pasal 58
perwujudan kualitas pribadi yang UU Narkotika dikatakan bahwa mantan

[22]
pecandu narkotika adalah orang yang telah Teknik Pengambilan Sampel
sembuh dan lepas dari ketergantungan Penelitian ini menggunakan teknik
terhadap narkotika. pengambilan sampel non-probability
Berdasarkan penjelasan di atas dapat sampling, yaitu teknik pengambilan sampel
dikatakan bahwa mantan pecandu narkoba yang tidak memberi peluang atau
adalah orang yang pernah melakukan kesempatan sama bagi setiap unsur atau
penyalahgunaan, memakai, serta anggota populasi untuk dipilih menjadi
mengalami ketergantungan terhadap sampel (Sugiyono, 2011). Desain non-
narkoba lalu telah dinyatakan sembuh dan probability sampling yang digunakan
lepas dari ketergantungan selama dua adalah purposive sampling, yaitu teknik
tahun, baik melalui proses rehabilitasi penentuan sampel dengan pertimbangan
karena dorongan diri sendiri maupun tertentu (Sugiyono, 2011). Pertimbangan
karena orang lain. tersebut adalah dengan memberikan
kuesioner pada populasi mantan pecandu
METODE PENELITIAN narkoba yang berada di tempat rehabilitasi.

Desain Penelitian Instrumen Penelitian


Desain penelitian yang digunakan
adalah asosiatif dan jenis penelitian pada Skala Self Compassion
penelitian ini adalah non-eksperimental. Alat ukur yang digunakan untuk
mengukur self compassion adalah dengan
Partisipan Penelitian menggunakan Self Compassion Scale
(SCS) oleh Kristin D. Neff (2003). SCS ini
Populasi mengukur tiga komponen dari Self
Populasi merupakan wilayah Compassion yang terdiri atas Self Kindness,
generalisasi yang terdiri atas objek atau Common Humanity, dan Mindfulness. Neff
subjek yang mempunyai kualitas dan (2003) juga menyertakan variabel/konstruk
karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh yang dianggap berkebalikan dengan
peneliti untuk dipelajari dan kemudian variabel tersebut yaitu, Self Judgment
ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2010). (sebagai kebalikan dari Self Kindness),
Populasi yang digunakan dalam penelitian Isolation (sebagai kebalikan dari Common
ini adalah mantan pecandu narkoba yang Humanity), dan Over-Identification
berusia 20 sampai 40 tahun. (sebagai kebalikan dari Mindfulness). Skala
SCS diuji coba kepada 30 orang mantan
Karakteristik Sampel pecandu narkoba yang masih menjalani
Peneliti menggunakan sampel proses rehabilitasi dan memperoleh nilai
sebanyak 81 orang mantan pecandu setiap aitem SCS pada corrected item total
narkoba dewasa awal dengan menetapkan correlation >0.2 dengan koefisien
sejumlah ketentuan-ketentuan untuk reliabilitas sebesar 0.859 pada uji coba I
membatasi keragaman karakteristik subjek dan pada uji coba II memperoleh nilai
yang terlibat didalam penelitian ini. setiap aitem SCS pada corrected aitem
Ketentuan-ketentuan tersebut adalah: total correlation >0.2 dengan koefisien
1. Subjek adalah mantan pecandu narkoba reliabilitas sebesar 0.886.
yang sudah tidak lagi menggunakan
narkoba minimal selama dua tahun Skala Resiliensi
2. Subjek merupakan dewasa awal yang Dalam penelitian ini alat ukur yang
berada pada rentang usia 20-40 tahun digunakan untuk mengukur resiliensi
3. Subjek sudah pernah menjalani proses adalah Connor-Davidson Resilience Scale
rehabilitasi. (CD-RISC) yang disusun oleh Connor &
Davidson (2003), yang mengacu pada lima

[23]
aspek resiliensi dari Connor & Davidson
(2003). Uji Korelasi
Skala CD-RISC diuji coba kepada Uji korelasi dalam penelitian ini
30 orang mantan pecandu narkoba yang menggunakan teknik korelasi pearson
masih menjalani proses rehabilitasi dan product moment dan mendapatkan hasil
memperoleh nilai setiap aitem SCS pada korelasi antara self compassion dan
corrected item total correlation >0.2 dengan resiliensi sebesar r= 0.478 (p=0.000) yang
koefisien reliabilitas sebesar 0.942. artinya terdapat hubungan yang positif dan
signifikan dengan memiliki hubungan yang
Skala Tambahan Untuk Screening tergolong sedang antara self compassion
Dalam penelitian ini peneliti dengan resiliensi pada mantan pecandu
menambahkan satu alat ukur tambahan narkoba dewasa awal.
untuk melakukan proses screening. Proses
screening dilakukan bertujuan untuk Uji Beda
mengurangi kemungkinan responden Hasil analisis uji beda menunjukkan bahwa
melakukan manipulasi atau menjadi faking tidak adanya keterkaitan faktor demografi
good. Hal ini dilakukan atas pertimbangan dengan self compassion maupun resiliensi.
bahwa salah satu ciri-ciri pada mantan
pecandu narkoba yaitu suka berbohong atau DISKUSI
tidak jujur (Badan Narkotika Nasional). Hasil penelitian menunjukkan
Aitem yang digunakan dalam alat ukur adanya hubungan yang signifikan dan
screening ini terdiri dari dua bagian, yaitu bernilai positif antara skor self compassion
aitem-aitem pengalih yang merupakan dengan resiliensi mantan pecandu narkoba
gabungan dari dimensi self compassion dan dewasa awal sebesar r = 0.478 (p<0.05)
resiliensi dan aitem screening yang dibuat dengan kekuatan hubungan sedang
untuk mengukur faking good sebagai (Sugiyono, 2011). Hubungan ini bersifat
berikut: positif dengan artian semakin tinggi skor
- Saya selalu bertindak jujur di dalam self compassion subjek, semakin tinggi
kehidupan saya juga tingkat skor resiliensi subjek.
- Saya sama sekali tidak pernah berbohong Berdasarkan hasil analisa
hanya demi mencapai tujuan saya penelitian, ditemukan bahwa terdapat
Berdasarkan hasil screening, hubungan positif yang signifikan antara self
peneliti tidak menyertakan kuesioner pada compassion dengan resiliensi pada mantan
responden yang memiliki skor cenderung pecandu narkoba. Hal ini sejalan dengan
mengarah ke kanan atau positif. Terdapat penelitian Collins (dalam Neff, 2010) yang
sekitar 10-20 responden yang tidak menyatakan bahwa self compassion yang
disertakan karena adanya kecenderungan tinggi pada individu dapat membantu
responden melakukan manipulasi. mengurangi rasa takut dari penolakan
sosial. Selain itu self compassion juga
ANALISIS DAN HASIL membantu meningkatkan penghayatan
positif mengenai diri sendiri,
Uji Normalitas menghilangkan emosi negatif, dan
Uji normalitas dilakukan dengan uji meningkatkan rasa keterhubungan dengan
Kolmogorov-Smirnov Test dan orang lain (Neff dalam Diantina &
mendapatkan hasil yaitu p= 0.788 (p>0.05) Hendarizkianny, 2014). Beberapa aspek
untuk skala self compassion dan p= 0.195 diatas juga merupakan bagian dari
(p>0.05) untuk skala resiliensi. resiliensi. Hal ini menunjukkan bahwa
Berdasarkan pada data yang didapatkan apabila seorang mantan pecandu narkoba
maka dapat dikatakan bahwa sebaran data memiliki self compassion yang semakin
berdistribusi normal. tinggi, yaitu memiliki pemahaman dan

[24]
kebaikan kepada diri sendiri, tidak mengurangi rasa takut dari penolakan sosial
menghakimi dirinya sendiri dengan keras, seperti stigma negatif. Hal ini sejalan
tidak mengkritik diri sendiri secara dengan penelitian Aztri & Milla (2013)
berlebihan atas kekurangan yang dimiliki, bahwa mantan pecandu narkoba yang
dan memiliki rasa keterhubungan dengan berhasil pulih adalah mereka yang memiliki
orang lain, maka individu tersebut dapat perasaan berharga serta mampu memaknai
dikatakan lebih mampu menghadapi kehidupan dan kesulitan yang dijalani
tantangan-tantangan sebagai seorang sebagai sesuatu yang positif (Aztri & Milla,
mantan pecandu narkoba. Apabila mampu 2013).
menghadapi dan mengatasi tantangan hidup Pada penelitian ini responden
untuk pulih dari krisis, dapat dikatakan mantan pecandu narkoba terbanyak berasal
bahwa individu memiliki kemampuan dari usia 30-40 tahun yang termasuk pada
resiliensi yang baik. Tantangan-tantangan klasifikasi usia dewasa awal tahap lanjut.
yang dialami oleh mantan pecandu narkoba Hal ini mungkin disebabkan oleh tugas
akan dapat dibantu dengan adanya self perkembangan masa dewasa awal seperti
compassion. mulai bekerja, memilih pasangan, mulai
Berdasarkan hasil penelitian membina keluarga, mengasuh anak, dan
didapatkan skor resiliensi pada responden mengelola rumah tangga (Hurlock dalam
berada pada kategori sedang, yaitu Melati, 2011) membuat pecandu yang
sebanyak 47 orang (57.7%). Hasil sudah memasuki usia ini harus lebih
menunjukkan responden memiliki resiliensi bertanggung jawab sehingga
yang cukup baik, karena mantan pecandu mendorongnya untuk bisa pulih dan lepas
narkoba tersebut telah berhasil melewati dari jeratan narkoba.
masa sulit yang ia lalui, baik yang timbul Selama proses penelitian, peneliti
dari dalam maupun luar individu. menyadari masih terdapat banyak
Kesulitan-kesulitan yang dialami dan masa- kekurangan dan keterbatasan. Keterbatasan
masa krisis dapat memicu stres pada saat dalam penelitian ini diantaranya tidak
proses pemulihan. Menurut Widuri (2012), ditemukan perbedaan budaya sesuai dengan
seseorang yang mampu bertahan pada saat teori karena diduga keberagaman atau
mengalami stres akan berada pada tingkat tingkat variasi dari sampel tidak seperti
resilensi yang sedang atau cukup baik. pada penelitian Markus (dalam Neff, 2003).
Dengan adanya faktor-faktor resiliensi pada Markus (dalam Neff, 2003) meneliti faktor
seorang pecandu narkoba, maka akan budaya pada self compassion menggunakan
membantu mereka untuk bertahan subjek antar budaya di lintas negara,
menghadapi masa sulit tersebut dan sedangkan penelitian ini hanya meneliti di
memberikan kemampuan untuk bangkit Indonesia (dalam konteks sesama budaya di
lebih baik melebihi keadaan sebelumnya Indonesia).
(Reivich dan Shatte, 2002). Tidak ditemukan pula keterkaitan
Hasil analisa penelitian juga antara self compassion maupun resiliensi
menunjukkan bahwa self compassion dengan faktor-faktor demografi lainnya.
individu paling banyak berada pada Oleh karena itu, peneliti menyarankan
kategori sedang, yaitu sebanyak 40 orang kepada peneliti lain yang tertarik untuk
(49.2%). Sebagaimana yang telah meneliti topik yang sama disarankan untuk
dikatakan di atas, bahwa mantan pecandu memperhatikan faktor demografi yang
narkoba telah melalui masa masa sulitnya, lebih berperan. Misalnya seperti jangka
yang dapat diatasi dengan self compassion. waktu pemakaian narkoba, jangka waktu
Menurut Collins (dalam Neff, 2010), dan jumlah melakukan proses rehabilitasi,
melalui self compassion, individu akan serta sumber dukungan.
lebih mampu memahami kemanusiaan Untuk penelitian selanjutnya
yang dimiliki sehingga membantu disarankan untuk memperhatikan variabel-

[25]
variabel lain yang mungkin lebih 2) Memperhatikan faktor-faktor demografi
berhubungan dengan self compassion dan yang lebih berperan. Misalnya seperti
resiliensi. Variabel-variabel lain yang jangka waktu pemakaian narkoba,
memungkinkan misalnya seperti dukungan jangka waktu melakukan proses
sosial, problem solving, dan regulasi emosi. rehabilitasi, dan sumber dukungan.
Peneliti sudah melakukan proses 3) Memperhatikan adanya pengaruh social
screening secara sederhana dengan desirability untuk menghindari adanya
membuat aitem untuk mengukur tingkat respon faking good dengan cara yang
kejujuran responden. Untuk menghindari lebih akurat. Untuk penelitian
adanya respon faking good atau manipulasi selanjutnya dapat menggunakan alat
pada mantan pecandu narkoba, disarankan ukur seperti Marlowe-Crowne Social
pada penelitian selanjutnya agar Desirability Scale.
mengurangi kemungkinan adanya pengaruh Saran Praktis
social desirability, yaitu keinginan 1) Bagi institusi atau lembaga rehabilitasi
responden memberikan jawaban yang Sebaiknya bagi pihak institusi atau
sesuai dengan norma-norma yang berlaku lembaga rehabilitasi mengembangkan
sehingga jawaban yang diberikan tidak program intervensi untuk meningkatkan
sesuai dengan kondisi yang sebenarnya. self compassion, misalnya dengan
Penelitian selanjutnya dapat menggunakan melakukan meditasi metta-bhavana
alat ukur seperti Marlowe-Crowne Social (loving-kindness meditation) sehingga
Desirability Scale, yang belum digunakan diharapkan nantinya dapat membantu
dalam penelitian ini. pada tingkat resiliensi yang dimiliki
mantan pecandu narkoba.
KESIMPULAN 2) Bagi Mantan Pecandu Narkoba
Hasil penelitian menunjukkan Dari hasil penelitian, rata-rata partisipan
adanya hubungan yang signifikan dan memiliki self compassion yang sedang.
bernilai positif antara self compassion Hal tersebut perlu dipertahankan dan
dengan resiliensi sebesar r=0.478 (p<0.05). ditingkatkan agar membantu
Hubungan ini bersifat positif dengan artian pengembangan resiliensi pada mantan
semakin tinggi skor setiap dimensi self pecandu narkoba. Apabila terjadi
compassion, maka semakin tinggi pula tekanan atau sedang menghadapi
resiliensi pada mantan pecandu narkoba. masalah, maka self compassion dapat
Artinya saat seorang mantan pecandu membantu para mantan pecandu untuk
narkoba semakin mampu memiliki rasa lebih mampu berkembang dengan baik
keterhubungan dengan orang lain, mampu dalam menghadapi kesulitan atau
meregulasi emosi, dan memiliki menjadi resilien.
penghayatan positif mengenai diri sendiri,
ia menjadi lebih resilien sehingga mampu DAFTAR PUSTAKA
menghadapi tantangan-tantangan sebagai Aisyah, P. (2015). Peran Resiliensi
seorang mantan pecandu narkoba. terhadap Kualitas Hidup pada Ibu
yang Tinggal di Bantaran Sungai
SARAN Ciliwung dan Tinjauannya dalam
Saran Teoritis Islam. (Skripsi). Fakultas Psikologi
Bagi penelitian selanjutnya yang Universitas YARSI: Jakarta.
tertarik untuk meneliti topik yang sama, Aztri, S., & Milla, M. N. (2013). Rasa
disarankan untuk : Berharga dan Pelajaran Hidup
1) Memperhatikan variabel lain yang bisa Mencegah Kekambuhan Kembali pada
berkontribusi terhadap self compassion. Pecandu Narkoba Studi Kualitatif
Misalnya seperti dukungan sosial, Fenomenologis. Jurnal Psikologi
problem solving, dan regulasi emosi. Volume 9, No.1 Juni 2013. Fakultas

[26]
Psikologi UIN Sultan Syarif Kasim dipublikasikan). Fakultas Psikologi
Riau: Riau. Universitas Gunadarma: Jakarta.
Azwar, S. (2012). Penyusunan Skala Kamus Besar Bahasa Indonesia. (2008).
Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Jakarta: Pusat Bahasa.
Belajar. Karsiyati. (2012). Hubungan Resiliensi dan
Bastian, S. D. (2012). Hubungan antara Keberfungsian Keluarga pada Remaja
Resiliensi dan Coping pada Istri yang Pecandu Narkoba yang Sedang
Mengalami Kekerasan dalam Rumah Menjalani Pemulihan. (Skripsi
Tangga. (Skripsi). Fakultas Psikologi dipublikasikan). Fakultas Psikologi
Universitas Indonesia: Depok. Universitas Indonesia: Jakarta.
Campbell-Sills, L., & Stein, M.B. (2007). Kencanawati, S.S.S. (2015). Uji Coba
Psychometric analysis and refinement Rancangan Modul Pelatihan untuk
of the Connor-Davidson Resilience Meningkatkan Resiliensi pada Remaja
Scale (CD-RISC): validation of a 10 Mantan Pecandu Narkoba dalam
item measure of resilience. Journal of Menghadapi Permasalahan di
Traumatic Stress, 20(6), 1019-1028. Lingkungan Keluarga. Fakultas
Connor, K. M., & Davidson, M.D. (2003). Psikologi Universitas Padjajaran:
Development of a new resilience scale: Bandung.
The Connor-Davidson Resilience Kerlinger, F.N., & Lee, H.B. (2000).
Scale (CD-RISC). Depression and Foundation of Behavioral Research
Anxiety. 18, 76-82. (4th ed.). USA: Harcourt, inc.
Diantina, F.P. & Hendarizkianny, R. Khairani, R., & Putri, D. E. (2008).
(2014). Gambaran Self Compassion Kematangan Emosi pada Pria dan
Terapis Pediatrik di RS. Santo Wanita yang Menikah Muda. Jurnal
Borromeus Bandung. Fakultas Psikologi Volume 1, No. 2, Juni 2008.
Psikologi Universitas Islam Bandung: Fakultas Psikologi Universitas
Bandung. Gunadarma: Depok.
Fara, E. (2012). Resiliensi pada Dewasa Listiyandini, R.A., & Akmal, S.Z. (2015).
Awal Berlatar Belakang Budaya Aceh Hubungan antara Kekuatan Karakter
yang Mengalami Bencana Tsunami dan Resiliensi pada Mahasiswa.
2004. (Skripsi). Fakultas Psikologi Prosiding Temu Ilmiah Nasional 2015.
Universitas Indonesia: Depok. Fakultas Psikologi Universitas
Handayani, F. (2010). Hubungan antara Pancasila.
Kekuatan Karakter dengan Resiliensi Melati, A. (2011). Gambaran Kebahagiaan
Residen Narkoba di Unit Pelaksana pada Penyandang Tuna Daksa
Teknis (UPT) Terapi dan Rehabilitasi Dewasa Awal. (Skripsi). Fakultas
Badan Narkotika Nasional Lido. Psikologi Universitas Sumatera Utara:
(Skripsi dipublikasikan). Fakultas Sumatera Utara.
Psikologi Universitas Islam Negeri Missiliana, R. (2014). Self Compassion dan
Syarif Hidayatullah Jakarta: Jakarta. Compassion for Others pada
Isnaini, Y., Hariyono, W., & Utami, I.K. Mahasiswa Fakultas Psikologi UK.
(2011). Hubungan antara Dukungan Maranatha. Fakultas Psikologi
Keluarga dengan Keinginan untuk Universitas Kristen Maranatha:
Sembuh pada Penyalahgunaan Bandung.
NAPZA di Lembaga Pemasyarakatan Neff, K.D. (2003). The Development and
Wirogunan Kota Yogyakarta. Jurnal Validation of a Scale to Measure Self-
Kesehatan Masyarakat (Journal of Compassion. Psychology Press Taylor
Public Health). Vol. 5, No.2, 2011. & Francis Group University of Texas,
Junaiedi. (2012). Makna Hidup pada Austin, Texas, USA.
Mantan Pengguna Napza. (Jurnal

[27]
Neff, K.D. & McGehee, P. (2010). Self Sitasari, N.W. (2007). Konsep Diri dan
Compassion and Psychological Penyesuaian Diri Mantan Pengguna
Resilience Among Adolescents and Napza. (Skripsi). Fakultas Psikologi
Young Adults. Psychology Press Universitas Muhammadiyah Surakarta:
Taylor & Francis Group University of Surakarta.
Texas, Austin, Texas, USA. Smestha, B. R. (2015). Pengaruh Self-
Pertiwi, M. (2011). Dimensi Religiusitas Esteem dan Dukungan Sosial
dan Resiliensi pada Residen Narkoba Terhadap Resiliensi Mantan Pecandu
di BNN Lido. (Skripsi dipublikasikan). Narkoba. (Skripsi dipublikasikan).
Fakultas Psikologi Universitas Islam Fakultas Psikologi Universitas Islam
Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta: Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta:
Jakarta. Jakarta.
Purba, R. (2011). Gambaran Resiliensi Sugiyono. (2010). Statistika Untuk
pada Mahasiswa Universitas Penelitian. Bandung: Alfabeta
Sumatera Utara dalam Hal Sugiyono. (2011). Statistika untuk
Penyalahgunaan Zat. (Skripsi Penelitian. Bandung: Alfabeta
dipublikasikan). Fakultas Psikologi Sunjoyo, S., dkk. (2013). Aplikasi SPSS
Universitas Sumatera Utara: Sumatera. untuk Smart Riset (Program IBM SPSS
Reivich, K. & Shatte, A. (2002). The 21.0). Bandung: Penerbit Alfabeta
Resilience Factor. New York: Utami, P. (2015). Resiliensi pada Mantan
Broadway Books. Pengguna Narkoba. (Skripsi
Rinaldi (2010). Resiliensi pada Masyarakat dipublikasikan). Fakultas Psikologi
Kota Padang Ditinjau dari Jenis Universitas Islam Negeri Sultan Syarif
Kelamin. (Jurnal dipublikasikan). Kasim Riau: Riau.
Jurnal Psikologi Volume 3, No. 2, Juni Widuri, E. L. (2012). Regulasi Emosi dan
2010. Fakultas Ilmu Pendidikan Resiliensi pada Mahasiswa Tahun
Universitas Negeri Padang: Padang. Pertama. Jurnal Humanitas, Vol.IX
Rosyani, C. R. (2012). Hubungan antara No.2 Agustus 2012. Fakultas Psikologi
Resiliensi dan Coping pada Pasien Universitas Ahmad Dahlan:
Kanker Dewasa. (Skripsi). Fakultas Yogyakarta.
Psikologi Universitas Indonesia: Ziyad. (2010). Hubungan antara Adversity
Depok. Quotient dengan Intensi Untuk Pulih
Sekarwiri, E. (2008). Hubungan antara dari Ketergantungan NAPZA pada
Kualitas Hidup dan Sense of Residen Badan Narkotika Nasional
Community pada warga DKI Jakarta (BNN). (Skripsi dipublikasikan).
yang Tinggal di Daerah Rawan Banjir. Fakultas Psikologi UIN Syarif
(Skripsi dipublikasikan). Universitas Hidayatullah Jakarta: Jakarta.
Indonesia: Depok.
Setyowati, A., Hartati, S., & Sawitri, D.R. Internet / Media Massa
(2010). Hubungan antara Kecerdasan Akuntono, I. (2015). Presiden Jokowi:
Emosional dengan Resiliensi pada Indonesia Gawat Darurat Narkoba.
Siswa Penghuni Rumah Damai. Diakses pada tanggal 5 Oktober 2015
(Jurnal dipublikasikan). Fakultas dari
Psikologi Universitas Diponegoro: http://nasional.kompas.com/read/2015/
Semarang. 02/04/10331931/Presiden.Jokowi.Indo
nesia.Gawat.Darurat.Narkoba

[28]