Anda di halaman 1dari 8

Jurnal Psikogenesis, Volume 7, No.

1, Juni 2019

Self-Compassion dan Resiliensi pada Remaja Panti Asuhan

Self-Compassion and Resilience among Adolescents Living


at Social Shelters
Annisa Zahra Kawitri, Bellatrix Dwi Rahmawati, Ratih Arruum
Listiyandini, Rina Rahmatika

Fakultas Psikologi, Univesitas YARSI, Jl. Letnan Jendral Suprapto, Cempaka Putih Jakarta
10510, Indonesia
Email: rara.annzaka@gmail.com

KATA resiliensi, self-compassion, remaja, panti asuhan


KUNCI resilience, self-compassion, adolescents, social shelters
KEYWORDS
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self-
ABSTRAK compassion dengan resiliensi pada remaja yang tinggal di panti asuhan.
Sampel penelitian ini adalah 140 remaja panti asuhan dengan
karakteristik usia 14-18 tahun yang dipilih dengan teknik convenience
sampling dari 12 panti asuhan di Jakarta dan Bekasi. Penelitian ini
mengunakan adaptasi alat ukur Self Compassion dan resiliensi. Hasil uji
korelasi menemukan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan
antara self-compassion dengan resiliensi pada remaja di panti asuhan
(r=0,439, p=0.00). Hasil penelitian dapat menjadi acuan mengenai
pentingnya memberi perhatian terhadap self-compassion dalam
mengembangkan resiliensi bagi remaja yang tinggal di panti asuhan
ABSTRACT The aim of this study is to investigate the correlation between self-
compassion and resilience among adolescents who live in social shelters.
The sample of this study were 200 adolescents with characteristic of 14-
18 years of age adolescents selected by convenience sampling technique
from 12 youth institutions in Jakarta and Bekasi. This study used
adaptation of self-compassion and resilience scale. The statistical test
used pearson-product moment correlation. The result was found that
there was a significant and positive correlation between self-compassion
and resilience among adolescents in social shelters. In this case, higher
self-compassion will be followed by higher resilience of adolescent in
social shelters. This result could be a reference for the importance of
giving attention to self-compassion in order to increase the resilience
among adolescents living in social shelter

dan brokenhome dapat menyebabkan


PENDAHULUAN hilangnya fungsi keluarga, sehingga anak
Remaja yang tinggal di panti asuhan harus terlepas dari kasih sayang orangtua
merupakan kelompok rentan. Mereka yang (Mazaya & Supradewi, 2011; Rifai, 2015).
tinggal di panti asuhannya biasanya karena Di panti asuhan, sebagian besar
mengalami kematian atau perceraian remaja belum cukup memperoleh perhatian
orangtua, kemiskinan, keluarga tidak dari pengasuh karena jumlah pengasuh
harmonis, ketidakmampuan orang tua yang berperan sebagai orangtua tidak
dalam memberikan kasih sayang dan sebanding dengan jumlah remaja yang
memenuhi kebutuhan hidup anak-anaknya, diasuh sehingga para pengasuh diharuskan
76
Jurnal Psikogenesis, Volume 7, No.1, Juni 2019

untuk bergantian dalam menjalankan luar jadwal yang sudah ditentukan dan
tugasnya di panti asuhan. Kualitas perhatian tugas-tugas yang tiba-tiba diberikan oleh
akan berkurang karena banyaknya anak gurunya, merasa kesulitan dalam
yang harus diperhatikan (Sandri, 2015). memahami pelajaran yang sulit, serta cemas
Minimnya kualitas perhatian membuat akan masa depan ketika mereka lulus dari
remaja di panti asuhan rentan mengalami sekolah menengah atas (SMA/SMK)
tekanan psikologis yang lebih besar dikarenakan batas waktu yang sudah
dibandingkan dengan remaja yang tidak ditetapkan oleh pihak panti asuhan untuk
tinggal di panti asuhan (Sandri, 2015). Pada tinggal dan menerima bantuan ekonomi.
studi awal ditemukan bahwa remaja di panti Diperoleh pula sebesar 80% remaja di panti
asuhan mengalami perasaan terbuang yang asuhan tidak dapat tenang dalam situasi
menjadi indikator adanya pengalaman yang menekan. Dalam kondisi seperti ini,
traumatik dan stres. Menurut Yosep, mereka membutuhkan self-compassion agar
Puspowati, dan Sriati (2009), pengalaman mampu menerima segala tantangan
traumatik akan sulit dilupakan dan memiliki eksternal yang terjadi dalam hidupnya,
efek psikologis dalam waktu yang panjang. terkait masalah dengan keluarga, sekolah,
Kondisi ini menyebabkan remaja maupun masa depan yang tidak pasti.
panti asuhan menjadi kurang mendapatkan Selain self-compassion, resiliensi
kasih sayang, perhatian dan bimbingan juga dibutuhkan bagi remaja di panti
secara mendalam serta penurunan asuhan. Terdapat beberapa aspek yang
pencapaian akademik (Rifai, 2014; membentuk resiliensi. Aspek-aspek tersebut
Yendork & Somhlaba, 2014). Mereka juga yaitu kompetensi personal, standar yang
menjadi kurang dapat berekspresi karena tinggi dan keuletan, percaya kepada diri
adanya peraturan yang harus ditaati. Hal sendiri, memiliki toleransi terhadap afek
tersebut akan memunculkan emosi negatif negatif dan kuat dalam menghadapi
pada remaja di panti asuhan. tekanan, penerimaan positif terhadap
Di sisi lain, individu akan lebih perubahan, hubungan yang baik dengan
mampu menetralisir emosi negatif yang orang lain, pengendalian diri, dan
muncul melalui menerima diri dengan apa spiritualitas (Connor & Davidson, 2003).
adanya (Sarwono, 2000). Kondisi Secara umum, resiliensi sangat
penerimaan diri seutuhnya berhubungan penting bagi remaja karena perubahan
dengan suatu konsep psikologi positif, yaitu sosial, biologis, dan psikologis yang
self-compassion. Individu yang memiliki dialami remaja menuntut mereka untuk
self-compassion digambarkan sebagai adaptif dalam menghadapi masalah
individu yang tidak mudah menyalahkan (Khabbaz, Behjati, & Naseri, 2011; Athigi,
diri jika gagal, memperbaiki kesalahan, Athigi, & Atighi, 2015). Individu dapat
mengubah perilaku yang kurang produktif dikatakan resilien saat mampu untuk
dan mampu menghadapi tantangan baru menghargai diri sendiri, mencari seseorang
(Hidayati, 2014). Mereka akan memiliki untuk berbagi ketika ia membutuhkannya
disposisi kepribadian berupa ketenangan, dan mencari kekuatan positif untuk bangkit
empati, kepekaan, kehangatan dan dari masalah (Shatte, dalam Ifdil & Taufik,
kesabaran dalam menghadapi 2012). Pada remaja panti asuhan, risiko dari
permasalahannya. tekanan-tekanan dan risiko buruk yang
Hasil wawancara dan observasi pada membahayakan dapat dihindari karena
studi awal yang dilakukan oleh peneliti di resiliensi akan membantu melindungi untuk
Panti Asuhan X Bekasi dan Panti Asuhan Y mampu bertahan serta bangkit dari masalah
Jakarta diperoleh bahwa mereka merasa yang dialaminya (Napitupulu, 2009).
cemas akan informasi tentang sekolah Beberapa penelitian yang telah
dikarenakan tidak adanya alat komunikasi dilakukan mengenai hubungan self-
sehingga menghambat kegiatan sekolah di compassion dengan resiliensi, misalnya

77
Jurnal Psikogenesis, Volume 7, No.1, Juni 2019

dilakukan oleh Febrinabilah & Listiyandini Self-Compassion


(2016), menemukan hubungan positif Self-compassion didefinisikan sebagai
antara resiliensi dengan self-compassion pemahaman dan kebaikan kepada diri
yang dilakukan pada dewasa muda mantan sendiri ketika menghadapi penderitaan,
pencandu narkoba. Terdapat juga penelitian mengalami sebuah kegagalan maupun
dari Priatni dan Listiyandini (2017) yang membuat kesalahan dengan tidak
menemukan bahwa pada mahasiswa menghakimi terhadap kekurangan ataupun
kedokteran, self-compassion berperan kelemahan, ketidaksempurnaan, kegagalan
dalam resiliensi para mahasiswa individu, dan mengakui bahwa pengalaman
kedokteran. Namun demikian, penelitian diri sendiri adalah bagian dari pengalaman
mengenai seberapa jauh self-compassion manusia pada umumnya (Neff, 2003).
dapat mendukung resiliensi masih Menurut Neff (2018) self-compassion mulai
dibutuhkan. Hal ini karena remaja panti berkembang pada remaja dalam rentang
asuhan merupakan populasi rentan yang usia 14-18 tahun. Self-compassion memiliki
tumbuh dalam lingkungan dengan enam dimensi, yaitu self-kindness, self-
kehadiran faktor protektif eskternal judgement, common humanity, isolation,
(pengasuhan) yang minim dan faktor resiko mindfulness dan over-identification. Faktor-
yang tinggi (kehilangan figur utama faktor yang mempengaruhi self-compassion
pemberi kasih sayang). Dengan demikian, antara lain jenis kelamin, tingkat sosial
faktor protektif internal seperti self- ekonomi, simtom psikopatologis,
compassion perlu digali lebih lanjut pengasuhan orangtua, attachment, budaya,
manfaatnya. Terlebih lagi, ditemukan pula dan kepribadian.
pada penelitian Saraswati (2016) yang
menyatakan terdapat perbedaan self- Resiliensi
compassion antara remaja yang tinggal Connor dan Davidson (2003)
dengan orang tua dengan remaja panti mendefinisikan resiliensi sebagai sebuah
asuhan, yang mana remaja tinggal dengan kualitas personal seseorang yang
orang tua memiliki self-compassion yang memungkinkannya untuk berkembang
lebih tinggi dibandingkan dengan remaja dalam menghadapi kesulitan dalam hidup.
panti asuhan. Kualitas personalnya yang dimilikinya,
Berdasarkan penjelasan tersebut, diharapkan individu yang mengalami
maka penelitian ini bertujuan untuk kesulitan dalam hidup dapat bangkit dan
menganalisis hubungan antara self- tidak kalah dengan keadaan. Terdapat lima
compassion dengan resiliensi pada remaja aspek resiliensi, yaitu kompetensi personal,
di panti asuhan. Peneliti memiliki hipotesis standar yang tinggi, dan keuletan; percaya
bahwa terdapat hubungan yang signifikan pada diri sendiri, memiliki toleransi
antara self-compassion dengan resiliensi terhadap afek negatif dan kuat dalam
pada remaja di panti asuhan. Penelitian menghadapi stress; menerima positif
diharapkan dapat memberikan sumbangan terhadap perubahan dan hubungan yang
pengetahuan dalam ilmu psikologi positif baik dengan orang lain; pengendalian diri;
dan psikologi kesehatan, khususnya untuk dan pengaruh spiritual. Menurut Ahern
kajian mengenai self-compassion dan (2006) terdapat faktor pendukung
resiliensi pada remaja di panti asuhan. (protective factor) dan faktor risiko (risk
Selain itu, hasil penelitian ini diharapkan factor) yang dapat mempengaruhi resiliensi.
dapat membantu remaja di panti asuhan Faktor pendukung antara lain adalah faktor
mengembangkan self-compassion untuk individual, faktor keluarga, faktor
meningkatkan resiliensi dengan pantuan komunitas, dan faktor budaya. Faktor risiko
praktisi psikologi klinis. antara lain adalah kejadian katastropik
(bencana alam, kematian anggota keluarga,
dan perceraian), latar belakang kondisi

78
Jurnal Psikogenesis, Volume 7, No.1, Juni 2019

sosial ekonomi keluarga yang kurang terdiri dari 26 aitem. Skor self-compassion
mendukung, hidup di lingkungan negatif diperoleh dari hasil pengukuran
atau lingkungan yang rawan terjadi tindak menggunakan skala Likert yang terdiri dari
kekerasan, serta peningkatan dari beberapa aitem aspek positif dan aitem aspek negatif
faktor risiko. dengan lima alternatif pilihan jawaban:
hampir tidak pernah (1), jarang (2), kadang-
METODE kadang (3), sering (4), hampir selalu (5).
Pendekatan dan Desain Penelitian Hasil uji coba SCS (N=77) diperoleh
Penelitian ini menggunakan metode α=0,788 dengan validitas aitem dalam
kuantitatif, studi korelasional, dan dengan rentang nilai r=0,119-0,540. Item yang
desain cross-sectional. Hal ini karena tidak berfungsi dengan baik tidak
dalam penelitian ini, peneliti hanya dimasukkan ke dalam perhitungan skor
mengambil data pengukuran variabel pada total.
satu waktu pengukuran dan tidak mengikuti Adapun untuk mengukur resiliensi,
perkembangan longitudinal dari masa ke peneliti menggunakan adaptasi skala
masa. resiliensi yang dirancang oleh Connor dan
Davidson (2003) dan sudah pernah
Partisipan Penelitian diadaptasi pada populasi remaja di
Karakteristik subjek yang digunakan Indonesia oleh Mujahidah & Listiyandini
dalam penelitian ini yaitu remaja panti (2018) yang mana melalui proses adaptasi
asuhan yang tinggal menetap di panti alat ukur, yaitu proses backtranslation,
asuhan di Jakarta dan Bekasi, dengan expert judgement, uji keterbacaan, serta uji
rentang usia 14-18 tahun. Dengan coba. Skala ini terdiri dari 25 aitem dengan
menggunakan teknik convenience sampling, model skala Likert lima pilihan jawaban:
didapatkan 140 subjek yang tersebar di 12 sangat tidak benar (0), hampir tidak benar
panti asuhan di Jakarta dan Bekasi. Peneliti (1), kadang-kadang benar (2), seringkali
menggunakan 140 sampel remaja panti benar (3), hampir setiap saat benar (4)
asuhan dengan rata-rata usia μ=15,76 (SD= dengan rentang skor total 0-100. Hasil uji
1,34), dengan jenis kelamin laki-laki coba ulang yang dilakukan pada skala
(52,14%) dan perempuan (47,86%). (N=157) diperoleh α=0,952 dengan
Domisili panti asuhan di Jakarta (68,57%) validitas aitem dalam rentang nilai r=0,485-
dan Bekasi (31,43%). Beberapa penyebab 0,765.
mereka tinggal di panti asuhan adalah
karena kondisi ekonomi (57,14%), salah Teknik Analisis Data
satu orangtua meninggal (30%), kedua Metode analisis data yang peneliti
orangtua meninggal (4,29), dan lainnya gunakan adalah uji korelasi Pearson
misalnya tinggal di jalanan (8,57%). Product Moment. Pengolahan data
Remaja di panti asuhan memiliki significant dilakukan dengan menggunakan aplikasi
others, yaitu teman (57,85%), pengasuh JASP 0.8.5 for Windows, SPSS for Windows
(34,28%), orangtua (5,73%), dan kerabat 20.00 dan Microsoft Excel. Peneliti
(2,14%). menggunakan pedoman dari Sugiyono
(2012) dalam menentukan interpretasi
tinggi atau rendahnya koefisien korelasi
Instrumen Penelitian yang diperoleh dari masing-masing
Peneliti menggunakan adaptasi alat dimensi.
ukur Self Compassion Scale (SCS) yang
dirancang oleh Neff (2003) untuk
mengukur self-compassion dan sudah
diadaptasi oleh Listiyandini dan
Febrinabilah (2016). Self Compassion Scale

79
Jurnal Psikogenesis, Volume 7, No.1, Juni 2019

mereka. Oleh karena itu, hipotesis


penelitian diterima.

Tabel 1
DISKUSI
Kategori Koefisien Korelasi Hasil penelitian menunjukkan
Interval Kategori bahwa self-compassion berhubungan positif
Koefisien dengan resiliensi secara signifikan pada
0,00 – 0,199 Sangat Rendah remaja yang ditinggal di panti asuhan
0,20 – 0,339 Rendah dengan kekuatan hubungan yang sedang.
0,40 – 0,599 Sedang Hal ini mengindikasikan bahwa semakin
0,60 – 0,799 Kuat tinggi self-compassion, maka semakin
0,80 – 1,000 Sangat Kuat tinggi resiliensi yang dimiliki mereka.
Hubungan positif antara self-compassion
dengan resiliensi juga pernah ditemukan
dalam penelitian sebelumnya pada populasi
ANALISIS DAN HASIL
rentan lainnya (Febrinabilah & Listiyandini,
Deskripsi Self-Compassion dan Resiliensi
2015).
Berdasarkan hasil analisa statistik
Menurut Neff (2013), self-
skor Self-Compassion subjek dapat dilihat
compassion merupakan suatu perasaan dan
dari alat ukur Self-Compassion Scale (SCS)
pemahaman terhadap kebaikan diri sendiri,
dengan rentang skor 26-130. Didapatkan
keterbatasan diri sebagai manusia,
rata-rata Self-Compassion subjek sebesar
kesadaran utuh dengan tidak menghakimi
76,41. Dapat disimpulkan bahwa, apabila
diri sendiri, tidak mengisolasi diri, dan
nilai rata-rata (μ=76,41) maka skor yang
tidak mengkritik diri secara berlebihan
diperoleh berdasarkan uji statistik deskriptif
terhadap kekurangan diri. Penelitian yang
termasuk dalam kategori sedang.
dilakukan oleh Collins (dalam Neff, 2010)
Adapun pada variabel resiliensi
menunjukkan self-compassion juga dapat
yang terdiri dari 25 aitem dan 4 pilihan
membantu meningkatkan penghayatan
jawaban (rentang skor 0-100), dengan rata-
positif mengenai diri sendiri,
rata resiliensi subjek sebesar μ = 66,54. Hal
menghilangkan emosi negatif, serta
ini menunjukkan bahwa subjek memiliki
meningkatkan rasa keterhubungan dengan
kategori resiliensi yang juga sedang.
orang lain. Neff dan McGehee (2010) juga
mengemukakan bahwa self-compassion
Hubungan antara Self-cCmpassion
dapat mempengaruhi remaja dalam
dengan Resiliensi
mengatasi pandangan diri yang negatif.
Pada remaja panti asuhan, jika
Berdasarkan hasil penghitungan
mereka memiliki self-compassion, maka
menggunakan korelasi Pearson Product
akan menerima berbagai perasaan dengan
moment, ditemukan bahwa terdapat
tenang sehingga lebih dapat menoleransi
hubungan positif yang signifikan antara
emosi negatif. Kemampuan toleransi
self-compassion dengan resiliensi pada
terhadap emosi negatif juga merupakan
remaja panti asuhan (r=0,439, p=0,000,
bagian dari resiliensi. Hal ini menunjukkan
p<0,001). Dalam hal ini, semakin tinggi
apabila jika remaja panti asuhan memiliki
self-compassion yang dimiliki remaja di
self-compassion yang tinggi, yaitu memiliki
panti asuhan maka semakin tinggi pula
kebaikan diri sendiri, tidak mengisolasi dari
resiliensi remaja panti asuhan. Demikian
lingkungan, tidak mengkritik secara
sebaliknya, semakin tinggi resiliensi yang
berlebihan dan memeliki pemahaman yang
dimiliki remaja panti asuhan maka semakin
positif mengenai diri sendiri, maka individu
tinggi pula self-compassion yang dimiliki
tersebut mampu kembali segera dalam

80
Jurnal Psikogenesis, Volume 7, No.1, Juni 2019

menghadapi dan mengatasi situasi yang instrumen penelitian, terdapat kemungkinan


berisiko dan penuh tekanan. bahwa alat ukur self-compassion yang
Hasil penelitian ini menunjukkan cenderung masih sulit dipahami oleh remaja
bahwa remaja di panti asuhan yang mampu sehingga perlu dilakukan penyederhanaan
menyayangi dirinya dengan memahami kata atau penyesuaian pemilihan kata agar
bahwa sebagai manusia tidaklah sempurna dapat lebih dipahami oleh remaja. Selain
dan seringkali menghadapi berbagai itu, penelitian selanjutnya juga dapat
kesulitan serta kegagalan, akan cenderung menelaah mengenai kemungkinan adanya
mampu bangkit dari kesulitan yang dimiliki perbedaan self-compassion pada setiap
secara adaptif. Sebaliknya, remaja di panti tahapan perkembangan remaja, sehingga
asuhan yang mengkritik diri secara dapat diidentifikasi mengenai masing-
berlebihan, menolak perasaannya, merasa masing perannya pada setiap tahapan.
dirinya adalah satu-satunya yang menderita
di dunia, serta memberikan reaksi yang SIMPULAN
berlebihan ketika menghadapi masalah atau Berdasarkan analisis data yang
pun kegagalan, maka ia cenderung tidak dilakukan peneliti maka dapat disimpulkan
resilien sehingga dapat memungkinkan bahwa terdapat hubungan positif yang
timbulnya kecemasan dan depresi. signifikan antara self-compassion dengan
Penelitian sebelumnya memang juga resiliensi pada remaja di panti asuhan.
sudah menemukan bahwa terdapat Semakin tinggi self-compassion akan
hubungan yang signifikan antara self- diikuti pula oleh tingginya resiliensi.
compassion dengan resiliensi pada remaja
dengan kondisi rentan, yaitu pada mereka SARAN
yang mengalami perceraian orangtua Saran Metodologis
(Hermansyah, 2019). Namun berbeda 1. Terkait dengan instrumen
dengan penelitian tersebut yang hanya penelitian, pada penelitian
melibatkan 36 responden, penelitian ini selanjutnya untuk populasi remaja
mengikutsertakan partisipan dengan jumlah dilakukan uji keterbacaan secara
yang lebih representatif, yaitu 140 orang, lebih mendalam, menyederhanakan
dan partisipan dengan kondisi kehilangan terhadap aitem-aitem pada alat ukur
figur orangtua yang lebih spesifik (tinggal self-compassion sehingga dapat
di panti asuhan). Dalam penelitian ini, lebih dipahami lebih baik oleh
kekuatan hubungan antara resiliensi dan remaja.
self-compassion berada pada kategori 2. Meneliti perkembangan self-
sedang. Kekuatan hubungan pada kategori compassion pada remaja panti
sedang ini konsisten dengan hasil penelitian asuhan dengan desain longitudinal
sebelumnya yang dilakukan pada populasi atau membandingkan perbedaan
lainnya, seperti mahasiswa kedokteran antar tahapan perkembangan.
(Priatni & Listiyandini, 2017) atapun
mantan pecandu narkoba (Febrinabilah & Saran Praktis
Listiyandini, 2015). Hal ini Bagi remaja panti asuhan,
mengindikasikan bahwa self-compassion disarankan untuk mengembangkan rasa
merupakan variabel yang ditemukan cukup kasih bagi diri sendiri untuk mengatasi
konsisten berhubungan secara positif permasalahan pada setiap aspek kehidupan
dengan resiliensi pada berbagai rentang sehingga membantu terciptanya resiliensi
usia, termasuk pada remaja. yang baik. Mengingat pentingnya resiliensi,
Dalam proses penelitian ini, peneliti pengelola panti asuhan dapat membuat
menyadari bahwa masih terdapatnya pelatihan terkait self-compassion, dengan
kelemahan dan keterbatasan pada proses bantuan para praktisi psikologi klinis. Self-
penelitian yang dilakukan. Terkait dengan compassion dapat dikembangkan melalui

81
Jurnal Psikogenesis, Volume 7, No.1, Juni 2019

restrukturisasi kognitif, body scanning, pada remaja di panti asuhan. Jurnal


serta latihan meditasi compassion dan Psikologi Proyeksi, 6(2), 103-112.
loving kindness. Mujahidah, E., & Listiyandini, R. A. (2018).
Pengaruh resiliensi dan empati terhadap
gejala depresi pada remaja. Jurnal
Psikologi, 14(1), 60-75.
DAFTAR PUSTAKA
Napitupulu, C. A. (2009). Resiliensi remaja
Ahern, N., Kiehl, E., Sole, M., & Byers, J.
yatim piatu di panti asuhan Mardi Siwi
(2006). A review of instrument
Kalasan Yogyakarta (Skripsi).
measuring resilience. Issues in
Universitas Sanata Dharma
Comprehensive Pediatric Nursing, 29,
Yogyakarta, Yogyakarta.
103-125.
Neff, K. D. (2003). The development and
Atighi, E., Atighi, A., & Atighi, I. (2015).
validation of a scale to measure self-
Predicting psychological resilience
compassion. Self and Identity, 2(3),
based on parenting styles in girl
223-250.
adolescence. International Research
Neff, K. D. (2016). Does self-compassion entail
Journal of Applied and Basic Sciences,
reduced self-judgment, isolation, and
9(8), 1340-1344.
over-identification? A response to
Connor, K. M., & Davidson, J. R. (2003).
Muris, Otgaar, and Petrocchi (2016).
Development of a new resilience scale:
Mindfulness, 7(3), 791-797.
the Connor‐Davidson Resilience Scale
Neff, K. D., & McGehee, P. (2010). Self-
(CD-RISC). Depression and anxiety,
compassion and psychological
18(2), 76-82.
resilience among adolescents and
Febrinabilah, R., & Listiyandini, R. A. (2016).
young adults. Self and Identity, 9(3),
Hubungan antara self-compassion
225-240.
dengan resiliensi pada mantan pecandu
Neff, K. D., Whittaker, T. A., & Karl, A.
narkoba dewasa awal. In S.E. Hafiz &
(2017). Examining the factor structure
F. Rozi (Eds.), Peran Psikologi dalam
of the Self-Compassion Scale in four
Pembangunan. Prosiding Konferensi
distinct populations: Is the use of a total
Nasional Peneliti Muda Psikologi
scale score justified?. Journal of
Indonesia (pp.19-28). Jakarta,
Personality Assessment, 99(6), 596-
Indonesia.
607.
Hidayati, F. N. R. (2014). Hubungan antara self
Priatni, M.R., & Listiyandini, R.A. (2017). The
compassion dengan work family
Influence of self-compassion toward
conflict pada staf markas palang
psychological resilience among medical
merah indonesia provinsi jawa tengah.
students. Proceeding The First South
Jurnal Psikologi Undip, 14(2), 183-
East Asia of Regional Conference on
189.
Psychology (RCP). Hanoi, Vietnam.
Hermansyah, M. T. (2019). Hubungan antara
Rifai, N. (2015). Penyesuaian diri pada remaja
self compassion dan resiliensi pada
yang tinggal di panti asuhan (studi
remaja dengan orang tua bercerai
kasus pada remaja yang tinggal di
(Skripsi). Fakultas Psikologi
panti asuhan yatim piatu
Universitas Islam Indonesia,
Muhammadiyah Klaten (Disertasi).
Yogyakarta.
Universitas Muhammadiyah Surakarta,
Ifdil, I., & Taufik, T. (2012). Urgensi
Surakarta.
peningkatan dan pengembangan resiliensi
Sandri, R. (2015). Perilaku bullying pada
siswa di Sumatera Barat. Pedagogi,
remaja panti asuhan ditinjau dari
12(2), 115-121.
kelekatan dengan teman sebaya dan
Khabbaz M, Behjati Z, Naseri M. (2011). The
harga diri. Jurnal Psikologi
relation between social support, coping
Tabularasa, 10(1), 43-57.
styles and resiliency in boy adolescents.
Saraswati, M.N.P. (2016). Studi diferensial
Applied Psychology Quarterly, 108-124.
mengenai self-compassion pada
Mazaya, K. N., & Supradewi, R. (2012).
remaja yang tinggal di panti asuhan
Konsep diri dan kebermaknaan hidup dan remaja yang tinggal dengan
orang tua (Skripsi). Fakultas

82
Jurnal Psikogenesis, Volume 7, No.1, Juni 2019

Psikologi Universitas Kristen resilience influence the experience of


Maranatha, Bandung. stress in Ghanaian orphans? An
Sarwono, S.W. (2000). Psikologi Remaja. exploratory study. Child Care in
Jakarta: Rajawali. Practice, 21(2), 140-159.
Sun, X., Chan, D. W., & Chan, L. K. (2016). https://doi.org/10.1080/13575279.2014.9
Self-compassion and psychological 85286
well-being among adolescents in Hong Yosep, I., Puspowati, N. L. N. S., & Sriati, A.
Kong: Exploring gender differences. (2009). Pengalaman traumatik penyebab
Personality and Individual Differences, gangguan jiwa (skizofrenia) pasien di
101, 288-292. Rumah Sakit Jiwa Cimahi. Majalah
Yendork, S. J., & Somhlaba, N. Z. (2015). Do Kedokteran Bandung, 41 (4). 194-200.
social support, self-efficacy and

83