Anda di halaman 1dari 20

PEMERIKSAAN FISIK ABDOMEN

A. Pendahuluan
Abdomen merupakan rongga terbesar di tubuh. Abdomen merupakan tempat bagi
organ-organ berbagai sistem diantaranya sistem pencernaan, sistem
perkemihan dan sistem reproduksi, terdiri atas kolon, yeyunum, ileum,
duodenum, hati, kantung empedu, pankreas, limpa, ginjal, kandung kemih, kelenjar
adrenal, dan pembuluh darah utama.

Pemeriksaan Abdomen dilakukan pada kondisi berikut:


1. Setelah klien menjalani operasi abodmen
2. Klien yang telah menjalani pemeriksaan diagnostik invasif saluran
gastrointestinal
3. Klien dengan kelainan yang memengaruhi fungsi GI

B. Pertimbangan khusus
1. Bayi dan anak-anak
a. Organ internal bayi baru lahir dan bayi secara proporsional lebih besar daripada
anak-anak dan orang dewasa, sehingga abdomen terlihat bundar dan cenderung
menonjol.
b. Hernia umbilikalis dapat muncul saat lahir
c. Hati relatif lebih besar daripada orang dewasa. Dapat dipalpasi 1 hingga 2 cm
di bawah batas kosta kanan
2. Anak-anak
a. Balita memiliki penampilan "perut gendut" yang khas, yang dapat bertahan
hingga usia 3 hingga 4 tahun.
b. Anak usia prasekolah dan usia sekolah memiliki kontur abdomen yang lebih
ramping dan rata.
c. Gelombang peristaltik mungkin lebih terlihat daripada pada orang dewasa.
d. Hati relatif lebih besar daripada orang dewasa. Dapat dipalpasi 1 hingga 2 cm
di bawah batas kosta kanan.
3. Lansia
a. Kontur abdomen yang bulat pada lansia adalah karena peningkatan jaringan
adiposa dan penurunan tonus otot
b. Dinding abdomen lebih kendur dan lebih tipis, membuat palpasi lebih mudah
dan lebih akurat daripada klien yang lebih muda

C. Kuadran Abdomen
Pada pemeriksaan fisik sistem ini, abdomen secara visual, dibagi kedalam kuadran:
1. Pembagian abdomen berdasarkan 4 kuadran
Terdiri atas:
a. Kuadran kanan atas (right upper quadran/RUQ)
b. Kuadran kiri atas (left upper quadran/LUQ)
c. Kuadran kanan bawah (right lower quadran quadran/RLQ)
d. Kuadran kiri bawah (left lower quadran quadran/LLQ)

Gambar: Pembagian abdomen berdasarkan 4 kuadran


Sumber: Lynn, P. (2018). Taylor’s clinical nursing skills : a nursing process approach . 3th Edition.
China: Wolters Kluwer Health
KUADRAN KANAN ATAS: KUADRAN KIRI ATAS

1. Pilorus 1. Lambung
2. Duodenum 2. Limfa
3. Hati 3. Ginjal kiri dan kelenjar adrenal
4. Ginjal dan kelenjar adrenal 4. Splenic flexure of colon
kanan 5. Badan pankreas
5. hepatic flexure of colon
6. Kepala pankreas

KUADRAN KANAN BAWAH KUADRAN KIRI BAWAH:


1. Kolon sigmoid
1. Cecum 2. Ovarium kiri dan tuba falofii
2. Apendiks (wanita)
3. Ovarium kanan dan tuba falofii 3. Ureter kiri dan lower kidney pole
(wanita) 4. Left spermatic cord (pria)
4. Ureter kanan dan lower kidney
pole
5. Right spermatic cord (pria)
Garis Tengah:

1. Vesika urinaria
2. Uretra (wanita)

2. Pembagian abdomen berdasarkan 9 kuadran


Terdiri dari:
1. Epigastrium 6. Lateral / lumbal kanan
2. Hipokondria kiri 7. Suprapubis
3. Hipokondria kanan 8. Inguinal / iliaka kiri
4. Umbilikus 9. Inguinal / illiaka kanan
5. Lateral / lumbal kiri

Gambar: Pembagian abdomen berdasarkan 9 kuadran


Sumber: Lynn, P. (2018). Taylor’s clinical nursing skills : a nursing process approach . 3th Edition.
China: Wolters Kluwer Health
D. Teknik Pemeriksaan Fisik Abdomen
1. Inspeksi
Inspeksi abdomen pada posisi setinggi mata (posisi perawat duduk atau berlutut).
Observasi kesimetrisan abdomen: observasi abdomen pada posisi berdiri
disamping klien, kemudian berdiri didepan kaki tempat tidur/meja periksa, dan
bandingkan sisi kiri dan kanan abdomen.

Inspeksi bentuk/kontur abdomen yaitu gambaran abdomen batas antara kosta dan
simpisis pubis. Berdirilah di sisi kanan klien dan membungkuk untuk melihat
bagian abdomen: batas antara kosta dengan simpisis pubis. Normal: abdomen rata
hingga bulat. Inspeksi bila ada tonjolan atau massa dan apakah ada distensi
kandung kemih atau tidak. Distensi kandung kemih dapat dilihat dari bagian supra
pubis.

Gambar: Bentuk/kontur abdomen


Sumber: Dillon, P.M., (2016). Nursing health assessment: The foundation of clinical practice.
United States of America: F. A. Davis Company
Inspeksi apakah ada distensi abdomen atau tidak. Jika CURIGA adanya distensi
abdemen, ukur lingkar abdomen dengan meletakkan pita pengukur di bawah pasien
dan di sekitar abdomen sejajar umbilikus.

Gambar: Pengukuran lingkar abdomen


Sumber: Perry, A.G., Potter, P.A., & Ostendorf, W.R. (2014). Clinical Nursing Skills &
Techniques. Ed 8th. Canada: Mosby, Inc., an affiliate of Elsevier Inc.

Inpeksi gerakan peristaltik. Peristalsis dapat terlihat secara normal pada orang yang
sangat kurus. Inspeksi pulsasi aorta, Normalnya pulsasi aorta sering terlihat di
epigastrium

Observasi kulit disekitar abdomen. Observasi adanya eskar (luka jaringan parut),
pembesaran vena, lecet atau kemerahan pada kulit, adanya ostomy dan striae.
Striae, juga dikenal sebagai lineas albicantes atau stretch mark, adalah garis-garis
kulit berwarna terang yang terjadi setelah peregangan kulit yang cepat. Observasi
lokasi dan pergerakan dinding abdomen berupa Gerakan pernapasan, peristaltik
dan denyut aorta.

Observasi lokasi umbilikus: apakah berada ditengah-tengah abdomen, ‘inverted’


atau menonjol, perhatikan kebersihan dan adanya tanda-tanda komplikasi. Minta
pasien mengangkat kepala dari tempat tidur dan lihat adanya tonjolan / hernia pada
umbilikus
Gambar: Mengangkat kepala untuk menonjolkan hernia
Sumber: Dillon, P.M., (2016). Nursing health assessment: The foundation of clinical practice.
United States of America: F. A. Davis Company

2. Auskultasi
Perhatian: Auskultasi abdomen harus dilakukan sebelum perkusi dan palpasi
abdomen dilakukan, karena teknik perkusi dan palpasi dapat mempengaruhi
/merubah gerakan peristaltik. Auskultasi abdomen dilakukan menggunakan
diafragma stetoskop. Auskultasi dapat dilakukan dengan sistematis berdasarkan 4/9
kuadran abdomen.

Auskultasi abdomen dilakukan dengan tujuan untuk menilai bising usus, bising
vaskular atau bruit, dan friction rubs/gesekan peritoneum

a. Auskultasi Bising Usus


Dilakukan selama 60 detik (1 menit). Jika bising usus tidak terdengar, lakukan
auskultasi selama ± 5 menit sebelum menyatakan pasien TIDAK memiliki bising
usus. Rata-rata bising usus orang dewasa adalah 5-30 kali/menit. Minta pasien
untuk tidak bicara selama dilakukan auskultasi bising usus.

Gambar: Auskultasi bising usus


Sumber: Berman, A., Snyder, S., & Frandsen, G. (2016). Kozier & Erb’s fundamentals of nursing:
concepts, practice, and process. Tenth edition. United States of America:
Pearson Education, Inc
Interpretasi hasil pemeriksaan bising usus adalah sebagai berikut:
1. Normal
Bising usus terdengar seperti suara Gemericik atau Bergelembung berulang di
setiap kuadran (minimal sekali dalam 5 hingga 20 detik).
2. Hiperaktif
Bising usus hiperaktif atau dikenal juga dengan istilah borborygmi yaitu suatu
kondisi dimana bising usus meningkat (mis., Setiap 3 detik). Suara bising usus ini
terdengar sebagai suara berkecepatan tinggi dan keras. Bising usus hiperaktif
menunjukkan peningkatan motilitas usus dan biasanya berhubungan dengan diare,
penyumbatan usus dini, atau penggunaan obat pencahar.
3. Hipoaktif
Bising usus hipoaktif yaitu suatu kondisi dimana bising usus menurun (mis, 1 kali
permenit). Suara bising usus ini terdengar sebagai suara yang sangat lunak dan
jarang. Bising usus hipoaktif menunjukkan penurunan motilitas dan biasanya
berhubungan dengan manipulasi usus selama operasi, peradangan, ileus paralitik,
atau obstruksi usus
4. Tidak ada bising usus
Tidak terdengar dalam 3 hingga 5 menit menunjukkan berhentinya gerak usus.

b. Auskultasi Bising Vaskular (Bruit)


Dilakukan untuk mendengarkan suara mendesis (bruit), dilakukan menggunakan
bell stetoskop. Lokasi pemeriksaanya yaitu di atas area epigastrium abdomen
dan masing-masing kuadran. Auskultasi bruit juga dilakukan di atas aorta, arteri
iliaka, dan arteri femoralis.
Gambar: Area auskultasi bruit pada abdomen
Sumber: Lynn, P. (2018). Taylor’s clinical nursing skills : a nursing process approach . 3th
Edition. China: Wolters Kluwer Health

Gambar: Auskultasi arteri femoralis


Sumber: Lynn, P. (2018). Taylor’s clinical nursing skills : a nursing process approach . 3th
Edition. China: Wolters Kluwer Health

c. Auskultasi friction rubs/gesekan


Dilakukan pada daerah peritoneal. Merupakan suara bernada kasar seperti
permukaan kulit yang saling bergesekan.

B. Perkusi
Perkusi dilakukan secara sistematis disemua kuadran abodemen. Dimulai dari dari
kuadran kanan bawah, lanjutkan ke kuadran kanan atas, kuadran kiri atas, dan
kuadran kiri bawah.
Gambar: Area perkusi abdomen secara sistematis di keempat kuadran
Sumber: Berman, A., Snyder, S., & Frandsen, G. (2016). Kozier & Erb’s fundamentals of nursing:
concepts, practice, and process. Tenth edition. United States of America:
Pearson Education, Inc

Perkusi abdomen dilakukan dengan tujuan yaitu 1) menilai ukuran dan kepadatan
organ di abdomen dan 2) mendeteksi adanya cairan (seperti asites), udara (seperti
distensi lambung), atau massa padat.
Karakteristik perkusi abdomen adalah sebagai berikut:
NAMA DESKRIPSI LOKASI

Timpani Suara yang sangat keras, suara Diatas lambung dan


utama perkusi abdomen karena intestine
adanya udara

Dullness suara yang singkat dan tinggi hati, limfa dan kandung
(redup) kemih yang mengalami
distensi

Hyperresonance Lebih keras dari timpani dan intestine yang distensi


resonan atau berisi udara

Flat Suara yang sangat halus dan Otot, tulang atau massa
pendek, terdengar bila tidak ada tumor.
udara pada sebuah struktur

Perkusi Hati
Lokasi pemeriksaan perkusi hati yaitu di garis midklavikula kanan. Batas bawah
hati: perkusi ke atas pada area timpani (abdomen) sepanjang garis midklavikula,
lanjutkan keatas sampai nada perkusi berubah menjadi dullness. Batas atas hati:
perkusi pada garis midklavikula kanan pada area resonan (paru-paru) sekitar ruang
interkostal ke 3/ sejajar puting susu. Lanjutkan ke bawah sampai nada perkusi
berubah menjadi dullness. Ukur jarak antara tanda untuk memperkirakan rentang
vertikal hati. Normal: 6 hingga 12 cm (jika lebih besar, menunjukkan perbesaran
hati)

Gambar: Area perkusi hati


Sumber: Bickley. L.S., & Szilagyi, P.G. (2017). Bates’ guide to physical examination and history
taking. China: Wolters Kluwer

Gambar: Area perkusi hati


Sumber: Bickley. L.S., & Szilagyi, P.G. (2017). Bates’ guide to physical examination and history
taking. China: Wolters Kluwer

Perkusi Limpa
Lokasi pemeriksaan perkusi limpa hanya pada area posterior ke garis midaksila di
sisi kiri.
Gambar: Area perkusi limpa
Sumber: Ball, J.W., Ball, J.E., Flynn, J.A., Solomon, B.S., Stewart, R.W. (2019). Seidel’s guide to
physical examination : an interprofessional approach. Canada: Elsevier, Inc

Perkusi Ginjal
Minta pasien untuk berada pada posisi duduk. Lokasi: di atas sudut costovertebral.
Letakkan telapak tangan di atas sudut costovertebral yang tepat dan pukul tangan
perawat dengan permukaan ulnar kepalan tangan perawat yang lain.

Gambar: Area perkusi ginjal


Sumber: Perry, A.G., Potter, P.A., & Ostendorf, W.R. (2014). Clinical Nursing Skills &
Techniques. Ed 8th. Canada: Mosby, Inc., an affiliate of Elsevier Inc

C. Palpasi
Palpasi abdomen dilakukan dengan tujuan menilai adanya pembesaran organ.

Palpasi Dangkal:
Letakkan telapak tangan dengan ringan di abdomen, dengan jari-jari direntangkan
dan disatukan. Dengan permukaan telapak jari-jari, tekan dinding abdomen tidak
lebih dari 1 cm, menggunakan cahaya dan bahkan menekan dengan gerakan
melingkar. Palpasi ringan dilakukan secara sistematis pada ke 4/9 kuadran.
Gambar: Palpasi dangkal
Sumber: Lynn, P. (2018). Taylor’s clinical nursing skills : a nursing process approach . 3th Edition.
China: Wolters Kluwer Health

Palpasi Dalam:
Menggambarkan organ abdomen secara menyeluruh dan untuk mendeteksi massa
yang kurang jelas. Gunakan permukaan telapak tangan, dengan menekan kedalam
dan merata dinding abdomen. Palpasi dalam dilakukan secara sistematis pada ke
4/9 kuadran.

Palpasi adanya massa dan catat karakteristik berikut: lokasi, ukuran, bentuk,
konsistensi, kelembutan, denyutan, mobilitas. Palpasi cincin umbilikal dan sekitar
umbilikus. Normal: tidak terdapat tonjolan, nodul, dan granulasi.

Gambar: Palpasi dalam


Sumber: Lynn, P. (2018). Taylor’s clinical nursing skills : a nursing process approach . 3th
Edition. China: Wolters Kluwer Health

Palpasi Organ dan Struktur Tertentu:


Kandung Kemih
Lokasi palpasi kandung kemih yaitu diatas simpisis pubis. Palpasi didaerah ini
dilakukan jika klien memiliki riwayat retensi urin.
Gambar: Palpasi kandung kemih
Sumber: Lynn, P. (2018). Taylor’s clinical nursing skills : a nursing process approach . 3th Edition.
China: Wolters Kluwer Health

Hati
Lokasi palpasi hati yaitu kosta 11 dan 12 kanan. Letakkan tangan kiri di bawah
kosta 11 dan 12 kanan pasien, tekan ke atas untuk mengangkat hati ke arah dinding
abdomen. Letakkan tangan kanan di abdomen, jari-jari mengarah ke kepala dan
diulurkan sehingga ujungnya terletak di garis midklavicular kanan. Minta pasien
bernafas teratur beberapa kali dan kemudian menarik napas dalam. Normal: hati
tidak teraba.

Gambar: Palpasi hati


Sumber: Lynn, P. (2018). Taylor’s clinical nursing skills : a nursing process approach . 3th
Edition. China: Wolters Kluwer Health

Pada pasien dengan obesitas, palpasi hati dapat dilakukan menggunakan Teknik
“hooking” dengan cara berdiri di sebelah kanan pasien. Letakkan kedua tangan,
berdampingan, pada sisi kanan abdomen dibawah batas dullness hati. Minta pasien
untuk mengambil napas dalam-dalam, tekan jari-jari perawat kearah kosta.
Gambar: Teknik hooking
Sumber: Bickley. L.S., & Szilagyi, P.G. (2017). Bates’ guide to physical examination and history
taking. China: Wolters Kluwer

Kantung Empedu
Lokasi palpasi kantung empedu yaitu di bawah garis tepi hati di perbatasan lateral
otot rectus abdominis. Normal: Kantung empedu tidak akan teraba.

Limpa
Lokasi palpasi limpa yaitu di atas costovertebral angle kiri. Letakkan tangan kiri di
bawah pasien di atas costovertebral angle kiri, tekan ke atas dengan tangan tersebut
untuk mengangkat limpa di depan menuju dinding abdomen. Letakkan permukaan
telapak tangan kanan dengan jari-jari membentang di perut pasien di bawah garis
tepi kosta kiri. Normal: limpa tidak teraba.

Gambar: Palpasi limpa


Sumber: Lynn, P. (2018). Taylor’s clinical nursing skills : a nursing process approach . 3th
Edition. China: Wolters Kluwer Health

Ginjal
Letakkan tangan kiri di sisi kiri pasien. Letakkan permukaan telapak tangan kanan
dengan jari-jari membentang di abdomen pasien di bawah garis tepi kosta kiri.
Mintalah pasien menarik napas dalam dan kemudian angkat sisi kiri dengan tangan
kiri dan lakukan palpasi dalam. Normal: ginjal tidak teraba.

Gambar: Palpasi ginjal


Sumber: Lynn, P. (2018). Taylor’s clinical nursing skills : a nursing process approach . 3th Edition.
China: Wolters Kluwer Health

AORTA
Palpasi dalam sedikit ke kiri garis tengah, dan rasakan denyut aorta. Alternatif:
Tempatkan permukaan telapak tangan perawat dengan jari memanjang di garis
tengah. Tekan jari-jari dalam ke dalam di setiap sisi aorta, dan rasakan denyutnya

Gambar: Area palpasi aorta


Sumber: Bickley. L.S., & Szilagyi, P.G. (2017). Bates’ guide to physical examination and history
taking. China: Wolters Kluwer
PEMERIKSAAN FISIK ABDOMEN

ALAT-ALAT:
1. Selimut
2. Stetoskop
3. Penlight
4. Pita Meteran
PROSEDUR
NILAI
HAL-HAL YANG HARUS DINILAI
0 1 2

TAHAP PRE INTERAKSI


1. Cek catatan keperawatan & catatan medis pasien
2. Siapkan alat-alat
TAHAP INTERAKSI
3. Berikan salam, panggil pasien dengan namanya
4. Jelaskan tujuan, prosedur dan lamanya tindakan
kepada pasien dan keluarga
TAHAP KERJA
5. Dekatkan alat-alat dan bila perlu pasang sampiran
6. Minta pasien mengosongkan kandung kemih terlebih
dahulu
7. Perawat cuci tangan
8. Bantu pasien melepaskan pakaiannya
9. Atur posisi pasien pada posisi supine atau dalam posisi
dorsal recumbent dengan tangan menghadap ke bawah
dan lutut sedikit ditekuk. Tempatkan bantal kecil di
bawah lutut pasien
10. Perawat berdiri disisi kanan pasien
11. Inspeksi abdomen: warna kulit, kontur, pulsasi,
umbilikus, dan karakteristik permukaan lainnya (ruam,
lesi, massa, bekas luka).
12. Auskultasi keempat kuadran abdomen, auskultasi
bising usus menggunakan diafragma stetoskop.
Gunakan metode sistematis
13. Auskultasi suara vaskular abdomen dengan
menggunakan bel stetoskop.

14. Lakukan perkusi abdomen untuk menilai kepadatan


kolon, organ dan kemungkinan massa.

15. Lakukan palpasi ringan di keempat kuadran abdomen.


16. Kemudian lakukan palpasi dalam. Jika pasien
mengeluh rasa sakit atau ketidaknyamanan di area
tertentu, lakukan palpasi pada daerah tersebut terakhir

17. Palpasi area ginjal disetiap sisi abdomen

18. Palpasi hati pada batas kosta yang tepat

19. Palpasi limpa di perbatasan kosta kiri


20. Kaji adanya tenderness jika pasien mengeluh
sakit dengan menekan tangan ke dalam dan menekan
menggunakan tangan dengan lembut ke abdomen dan
jari ke bawah lalu tarik tangan dengan cepat

21. Palpasi dan kemudian auskultasi pulsa femoralis di


selangkangan
22. Rapikan alat-alat dan buka sampiran
23. Buka handscoon dan perawat cuci tangan
TAHAP TERMINASI
24. Akhiri pertemuan dengan cara yang baik
25. Evaluasi hasil kegiatan (subjektif & objektif)
26. Dokumentasikan
Tanggal :
Jam :
Hasil pemeriksaan :
KETERANGAN:
0 : Tidak dilakukan sama sekali
1. : Dilakukan tetapi tidak sempurna
2. : Dilakukan dengan sempurna

NILAI KETERAMPILAN = JUMLAH NILAI YANG DIDAPAT x 100%


JUMLAH ASPEK YANG DINILAI

NILAI AKHIR = (NILAI RESPONSI x 30%) + (NILAI KETERAMPILAN x 70%)

PEKANBARU, …………………….2020
PENGUJI