Anda di halaman 1dari 22

Refrate

Herpes Zoster Oftalmikus

Disusun Oleh Muhammad FK Yarsi


1102006164
Pembimbing Dr. Nurbuanto Sp.M
KEPANITRAAN KLINIK DEPARTEMEN MATA RUMAH
SAKIT PUSAT ANGKATAN DARAT GATOT
SOEBROTO JAKARTA
PERIODE 10 JANUARI-12 FEBRUARI 2011

1
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT berkat rahmat dan karunia-Nya akhirnya penulis
dapat menyelesaikan tugas referat yang berjudul: “HERPES ZOSTER
OFTALMIKUS” sebagai salah satu syarat dalam salah satu kepaniteraan klinik di
bagian Ilmu Penyakit Mata RSPAD Gatot Soebroto. Dalam kesempatan ini pula
penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada:

1. Allah SWT dan Rasul-Nya

2. Dr. Nurbuwanto Sp.M selaku pembimbing dalam menulis referat ini.


Mudah-mudahan Allah SWT menambahkan rahmat di dalam hati beliau
dan senantiasa dibimbing dalam mendekatkan diri pada-Nya.

3. Semua pihak dan teman-teman sejawat yang telah membantu penulisan


referat ini.

Penulis menyadari bahwa referat ini masih jauh dari sempurna. Karena itu,
penulis mohon maaf bila terdapat kesalahan di dalamnya. Penulis juga
mengharapkan kritik dan saran yang membangun, untuk memperbaiki
kekurangan referat ini di kemudian hari. Akhir kata, semoga referat ini bisa
bermanfaat bagi para pembaca. Atas perhatian yang diberikan penulis
mengucapkan terima kasih.

Jakarta, 20 Januari 2011

Penulis

2
DAFTAR ISI

Halaman Judul....................................................................................1
Kata Pengantar......................................................................................................2

Daftar Isi................................................................................................................3

Bab 1 Pendahuluan.............................................................................4
A. Tujuan.............................................................................................................4

Bab 2 Tinjauan Pustaka......................................................................5


Anatomi Saraf Trigeminal .....................................................................................5
Manifestasi klinis ...................................................................................................8
Herpes Zoster Oftalmikus......................................................................................8

A. Definisi ..........................................................................................................8

B. Latar Belakang ..............................................................................................8

C. Etiologi/Penyebab ........................................................................................11
D. Patofisiologi .................................................................................................12

E. Frekuensi .....................................................................................................13
F. Mortalitas/Morbiditas ...................................................................................13

G. Diagnosis Klinis .......................................................................................... 14

H. Pemeriksaan Fisik ........................................................................................15


I. Pemeriksaan Penunjang ................................................................................16

J. Diagnosis Banding ........................................................................................17

K. Terapi ..........................................................................................................17

Bab 3 Penutup..................................................................................19
Kesimpulan.......................................................................................................19

Daftar Pustaka ................................................................................20

3
BAB 1

PENDAHULUAN

Varicella-zoster virus (VZV) adalah anggota dari keluarga Herpesviridae.


Ini adalah agen etiologi dari varicella (cacar air) yang merupakan infeksi
primernya dan herpes zoster yang merupaka reaktivasinya.

Herpes zoster oftalmikus melibatkan jaringan yang diinervasi oleh divisi oftalmik
dari saraf trigeminal dan menyumbang 10-25% dari semua kasus herpes zoster.
Gejala sisa dari Herpes zoster oftalmikus dapat menyebabkan kerusakan, seperti
radang mata kronis, kehilangan penglihatan, dan rasa sakit yang berat.

Berkenaan dengan infeksi primer, lebih dari 90% dari populasi yang terinfeksi
adalah remaja, dan sekitar 100% populasi terinfeksi pada umur 60 tahun.

Menurut review Pavan-Langston, terdapat 1 juta konsultasi untuk herpes zoster


terjadi setiap tahun; sekitar 250.000 dari pasien herpes zoster yang diperiksa
terkena herpes zoster ophthalmicus. Sebuah subset dari 50% pasien ini
mengarah kekomplikasi ophthalmicus herpes zoster.

Di Amerika Serikat, sebanyak 10.000 rawat inap dan sekitar 100 kematian terjadi
per tahun sebagai akibat komplikasi dari infeksi VZV. afek Morbiditas dan
mortalitas kebanyakan mempengaruhi individu yang mengalami imunosupresi,
termasuk orang-orang usia lanjut, individu yang sistem imunnya tertekan
(misalnya, mereka dengan infeksi HIV atau AIDS), seseorang yang yang sedang
melakukan terapi imunosupresif, dan orang-orang yang mendapat infeksi primer
di dalam rahim atau pada masa lnfansi.

Tujuan
Untuk mengetahui dan memahami tentang herpes zoster oftalmikus yang
meliputi definisi, epidemiologi, penyebab, klasifikasi, gejala, pemeriksaan yang
dilakukan, penatalaksanaan, dan komplikasinya. Agar dapat dilakukan
penanganan yang tepat dan diagnosis yang cepat untuk mencegah komplikasi
dan memburuknya herpes zoster oftalmikus. demikianlah refrat ini dibuat
mudah-mudahan bermanfaat.

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Anatomi Saraf Trigeminal


Saraf otak kelima atau nervus trigeminus adalah saraf otak motorik dan sensorik.
Serabut motoriknya mempersarafi muskulus masseter, temporalis, pterigoideus
internus dan eksternus, tensor timpani, omohioideus dan bagian anterior dari
muskulus digastrikus. Serabut-serabut sensoriknya menghantarkan impuls nyeri,
suhu, raba, dan perasaan proprioseptif. Kawasanya ialah wajah, selaput lendir
lidah, rongga mulut, serta gusi dan rongga hidung.

Jika nervus v ditinjau dari cabang-cabang perifernya maka perjalanan masing-


masing cabang adalah sebagai berikut:

1. Cabang pertama (cabang oftalmik)

Cabang ini menghantarkan impuls protopatik dari bola mata serta ruang orbita,
kulit dahi sampai verteks. Impuls sekretomotorik dihantarkannya ke glandula
lakrimalis. Jika dibagi secara sistematik, cabang pertama dibagi menjadi 3
kelompok serabut:

- Serabut-serabut dari dahi menyusun nervus prontalis. Ia masuk ruang orbita


melalui foramen supraorbita.

- Serabut-serabut dari bola mata (kornea, iris dan corpus siliaris) dan rongga
hidung bergabung menjadi seberkas saraf yang dikenal dengan nervus
nasosiliaris.

5
- Berkas syaraf yang menuju ke glandula lakrimalis dikenal sebagai nervus
lakrimaris.

Syaraf-syaraf tersebut dibelakang fisura orbitalis superior mendekati satu sama


lain menjadi seberkas syaraf yang dinamakan cabang oftalmikus nervi trigemini.
Cabang tersebut menembus dura untuk melanjutkan perjalanannya di dalam
dinding sinus kavernosus. Pada samping prosesus klinoideus posterior ia keluar
dari dinding tersebut dan berakhir di ganglion gasseri.

2. Cabang kedua (cabang maksilaris)

Cabng ini tersusun oleh serabut-serabut somatosensorik yang menghantarkan


impuls protopatik dari wajah bagian pipi kelopak mata bawah, bibir atas, hidung
dan sebagian rongga hidung, gigi geligi rahang atas, ruang nasofaring, sinus
maksilaris, pala tumole dan atap rongga mulut.

Serabut-serabut yang berasal dari kulit wajah, mukosa, rongga hidung, dan lebih
jauh ke belakang serabut-serabut yang menghantarkan impuls dari selaput
lendir dan gigi geligi rahang atas tergabung dalam nervus infraorbitalis. Setelah
itu, ia dikenal sebagai cabang maksilar nervus V. Setelah keluar dari dinding
tersebut ia berakhir di dalam ganglion gasseri. Selain serabut-serabut tersebut di
atas, cabang N.V. menerima juga serabut-serabut sensorik yang berasal dari
dura fosa kranii media dan fosa pterigopalatinum.

3. Cabang ketiga (cabang mandibular)

Cabang ini tersusun oleh serabut somatomotorik, sensorik, dan serabut


sekremotorik. Serabut-serabut somatomotorik setelah muncul pada permukaan
lateral ponds menggabungkan diri pada berkas serabut sensorik yang
dinamakan cabang mandibular ganglion gasseri.

Jika cabang mandibula dilukis menurut komponen eferennya, maka ia keluar dari
ruang intrakranial melalui foramen ovale, dan tiba di fosa infra temperalis (disitu
nervus meningiamedia menggabungkan diri pada pangkal cabang mandibular,
dia mempersarafi meningien) kemudian keluar dari ruang intrakranial melalui
foramen spinosum dan tergabung dalam cabang mandibular ekstrakranial.

Didepan fosa infratemporalis cabang mandibular bercabang dua, yaitu:

1. Cabang posterior: merupakan pangkal dari serabut-serabut aferen yang


berasal dari kulit daun telinga (nervus aurikulotemporalis) kulit yang menutupi
rahang bawah, mukosa bibir bawah, 2/3 bagian depan lidah (nervus lingualis),
glandula parotis dan gusi rahang bawah (nervus dentalis inferior), dan serabut
eferen yang mempersarafi otot-otot omohioideus dan bagian anterior muskulus
digastrikus.

2. Cabang anterior: terdiri dari serabut aferen, yang menghantarkan impuls dari
kulit dan mukosa pipi bagian bawah, dan serabut eferen yang mempersarafi
otot-otot temporalis, maseter, pterigoideus, dan tensor timpani.

6
Melalui juluran aferen sel-sel ganglion gasseri impuls perasaan raba dan pesan
disampaikan kepada nukleus sensibilis prinsipalis dan impuls perasaan nyeri dan
suhu kepada nukleus spinalis nervus trigemini. Serabut-serabut tersebut terakhir
besinap sepanjang wilayah inti tersebut dan dikenal sebagai traktus spinalis
nervi trigemini. Cara serabut-serabut tersebut bersinap ialah menuruti penataan
sigmentasi. Yang menghantarkan impuls dari kawasan cabang mandibular
terkumpul di bagian dosal dari kawasan maksilar ditengah-tengah dan dari
kawasan oftalmik berkonvergen dibagian ventral nukleus spinalis nervi trigemini.
Nukleus sensibilis prinsipalis dan nukleus spinalis N.V.sebenarnya bukan dua inti
yang tersendiri, melainkan satu kontinuitas dari sel-sel yang menerima impuls
dari ganglion gasseri. Lain halnya dengan inti mesensefalik N.V. yang khusus
menerima impuls proprioseptif, ia berdiri sendiri pada tingkat menensefalon.

Lintasan trigeminal selanjutnya nukleus sinsibilis dan nukleus spinalis nervus V


menjulurkan serabut-serabut ke nukleus ventroposteromedialis talami sisi
kontralateral. Juga serabut-serabut dari nukleus mesensefalik nervus V yang
mengakhiri perjalannya di inti VPM, namun tidak hanya secara kontralateral
tetapi sebagian ipsilateral. Lintasan yang menghubungkan inti sensibilitas
insifalis serta nukleus spinalis nervus V dengan nukleus PPM talami dinamakan
jaras trigeminotalamik ventral. Jaras yang menghubungkan nukleus
mensensefalik N.V. dengan nukleus PPM talami kedua sisi dinamakan jaras
trigemino talamik dorsal.

Di samping serabut somatosensorik dan somatomotorik juga serabut sekreto


motorik yang bersifat parasimpatik ikut menyusun nervus trigeminus. Melalui
ganglion sfenopalatinum, otikum dan mandibulare impuls sekretomotorik
dihantarkan kepada berbagai kelenjar parasimpatetik di kepala. Sekresi lendir
rongga hidung, uvula, palatumole dan sekresi gandula lakrimalis diurus melalui
ganglion sfenopalatinum. Dengan perantara ganglion otikun glandula parotis
digalakan dan melalui ganglion submandibularis glandula sub mandibularis dan
lingualis dapat digiatkan.

7
B. Manifestasi Gangguan Nervus Trigeminus
Perasaan nyeri atau raba pada wajah dapat diperiksa secara objektif
dengan melakukan pada reflek s kornea . pada perangsangan terhadap kornea,
kelopak mata langsung menutupi mata. Busur nervus kornea tersebut terdiri dari
serabut sensorik yang menghubungkan nukleus nervus fasialis. Jika serabut
sensorik N.V. terputus maka refleks kornea terputus. Perasaan dapat juga tidak
bisa disadarkan , kendatipun serabut korneanya utuh yaitu apabila kesadaran
menurun sekali seperti pada keadaan koma. Tindakan pemeriksaan refleks
kornea sering juga digunakan untuk menentukan derajat kesadaran selain dari
suatu tindakan untuk melengkapi pemeriksaan sensibilitas wajah.

Fungsi motorik dari nervus V dapat diselidiki dengan memeriksa kegiatan otot-
otot yang dipersarafinya. Otot maseter dan temporalis bekerja untuk
mengangkat rahang bawah. Dengan menyuruh menggitgit sekeras-kerasnya
dengan gigi geligi sendiri, maka konsistensi dan bentuk otot-otot tersebut dapat
dipalpasi. Konsistensi yang lembik dan atrofi dapat dikorelasikan dengan
paralisis cabang mandibular N.V. oto pterigoideus internus dan eksternus dapat
diperiksa pada waktu rahang bawah digerakkan ke samping. Dengan menahan
gerakan ke samping itu, kekuatan otot pterigoideus kontralateralis dapat dinilai.
Jika salah satu otot-otot tersebut lumpuh secara unilateral, rahang bawah akan
menyimpang ke arah oto pterogoideus yang lumpuh pada waktu mulut dibuka.

8
Kelumpuhan otot-otot yang dipersarafi N.V. dapat diungkapkan dengan
cara membangkitkan refleks maseter. Refleks tersebut dapat dibangkitkan
dengan cara sebagai berikut, ketokan wajah pada waktu mulut setengah
terbuka, akan langsung dijawab dengan gerakan ke atas dari rahang bawah.

Keutuhan serabut-serabut sensorik N.V. dapat diperiksa dengan jalan


merangsang permukaan wajah dengan sepucuk kapas (perasaan raba), tusukan
jarum (perasaan nyeri) atau dengan botol berisi air panas atau air dingin.
Kawasan cabang oftalmik, maksilar dan mandibular bisa terganggu secara
sendiri ataupun secarar tergabung. Dan tiap pola defisit sensorik pada wajah
mempunyai arti diagnostik topik.

C. Herpes Zoster Oftalmikus


A. Definisi
merupakan bentuk herpes zoster di mana virus menyerang atau teraktifasi dari
ganglion gasseri, menyebabkan rasa sakit dan erupsi pada kulit sepanjang divisi
oftalmik dari syaraf kranial kelima ( saraf trigeminal ). Mungkin juga ada
keterlibatan dari saraf kranial ketiga. Infeksi sering menyebabkan ulkus kornea
atau komplikasi okular lainnya

B. Latar belakang
Varicella-zoster virus (VZV) adalah anggota dari keluarga Herpesviridae.
Ini adalah agen etiologi dari varicella (cacar air) yang merupakan infeksi
primernya dan herpes zoster yang merupaka reaktivasinya.

Epithelial defect and melting secondary to varicella-zoster virus


infection. Image courtesy of C. Stephen Foster, MD, Massachusetts Eye
Research and Surgery Institute, Harvard Medical School.

Herpes zoster oftalmikus melibatkan jaringan yang diinervasi oleh divisi oftalmik
dari saraf trigeminal dan menyumbang 10-25% dari semua kasus herpes zoster.

9
Gejala sisa dari Herpes zoster oftalmikus dapat menyebabkan kerusakan, seperti
radang mata kronis, kehilangan penglihatan, dan rasa sakit yang berat.

Herpes zoster ophthalmicus. Note the brow tape and sutures on the left
lower lid. This patient has neurotrophic lids, for which corneal care is
required. Image courtesy of C. Stephen Foster, MD, Massachusetts Eye
Research and Surgery Institute, Harvard Medical School.

Herpes zoster ophthalmicus with Hutchinson sign. Image courtesy of C.


Stephen Foster, MD, Massachusetts Eye Research and Surgery
Institute, Harvard Medical School.

10
Herpes zoster, day 4. Image courtesy of Manolette Roque, MD,
Ophthalmic Consultants Philippines Co, EYE REPUBLIC Ophthalmology
Clinic.

Herpes zoster, day 8. Image courtesy of Manolette Roque, MD,


Ophthalmic Consultants Philippines Co, EYE REPUBLIC Ophthalmology
Clinic.

C. Etiologi / Penyebab
faktor risiko untuk yang menyebabkan teraktivasinya atau reaktivasi herpes
zoster berhubungan dengan status imunitas yang diperantarai sel ( cell
mediated immunity ) untuk VZV.

Berbagai faktor predisposisi dapat menjelaskan peningkatan insiden herpes


zoster:

11
• VZV-specifik immunitas dan sel-mediasi immunitas, yang umumnya
menurun dengan bertambahnya umur khususnya dekade 5 keatas

• Imunosupresi (misalnya, infeksi HIV, AIDS)

• Terapi imunosupresif.

• Infeksi primer pada saat di rahim atau pada masa infansi, ketika respon
imun normal menurun

VZV virologi

Golongan herpes virus disebut juga herpesviridae merupakan virus DNA


intranukleus besar yang mempunyai kecenderungan kuat untuk menimbulkan
infeksi laten dan rekuren. Famili herpes viridae terdiri atas 3 genus, yaitu
Alphaviridae (terdiri dari virus herpes simplex tipe 1 dan 2, serta virus varicella-
zoster), Betaherpesvirinae (terdiri dari cytomegalovirus) dan
Gammaherpesvirinae (terdiri atas virus Epstein-Barr).

Virion herpesvirus berbentuk sferik yang besarnya 150-200 nm dengan


kapsid berbentuk ikosahedral (bidang 20) yang besarnya 100 nm. Kapsid terdiri
dari 162 kapsomer yang mempunyai gambaran sebagai prisma memanjang
berlubang berbentuk hexagonal (150 buah hexon) dan pentagonal (12 buah
penton) dengan sumbu lubang di tengah-tengahnya. Kapsid ikosahedral yang
berdiameter 100 nm memperlihatkan suatu simetri rangkap 5:3:2.

Virion merupakan partikel yang mempunyai peplos (selubung) yang terdiri


dari lipoprotein dengan diameter keseluruhan 150-200 nm; patikel yang tidak
terselubung (naked atau non envelope) yang berdiameter 100 nm juga sering
terlihat, bahkan pada preparat irisan yang tipis dalam kapsid luar didapatkan
dua lapisan lipoprotein tambahan (multiple shell).

Asam nukleat herpesvirus merupakan suatu DNA berantai ganda (double


stranded) dengan berat molekul sebesar 100 juta Dalton dan mempunyai
kandunga guanindan sitosin yang tinggi. Nukleokapsid dari pelbagai jenis
herpesvirus mempunyai struktur antigen golongan yang bersamaan dan dapat
dibuktikan dengan teknik imuno-difusi atau reaksi pengikatan komplemen.

D. Patofisiologi
Setelah infeksi primer, VZV memasuki ganglia akar dorsal
(trigeminal = herpes zoster oftalmicus, geniculate = herpes zoster oticus),
dimana ia menetap secara laten untuk seumur hidup dari individual
tersebut. ketika teraktifasi dan keluar dari ganglion trigeminal, VZV yang
teraktifasi tersebut berjalan menuju cabang pertama dari nervus
trigeminal yakni cabang oktalmikus yang Kemudian menuju ke nervus
nasosiliari. Di cabang ini terbagi serabut-serabut saraf yang menginervasi
permukaan dari bola mata dan kulit yang ada di sekitar hidung sampai ke
kelopak mata. Proses ini biasanya membutuhkan waktu 3-4 hari agar
12
parikel dari virus mencapai ujung dari saraf (nerve ending). Bersamaan
dengan proses perjalanan virus, terjadi inflamasi di dalam dan sekitar
saraf yang dilalui sehingga menyebabkan kerusakan pada mata itu sendiri
dan/atau struktur disekitarnya.

Frekuensi keterlibatan secara dermatologi dari herpes zoster mirip dengan


distribusi sentripetal dari lesi varicella yang pertama. Pola ini mungkin
menggambarkan bahwa :

1. latensi timbul dari penyebaran secara kontagius dari virus ( ketika


seseorang menderita varicella/ cacar air ) dari sel kulit yang terinfeksi
berlanjut secara asending ke ujung saraf sensori ganglia.

2. Ini juga dapat memberikan kesan bahwa ganglia juga dapat terinfeksi
secara hematogen selama fase viremia dari varicella dan frekuensi
keterlibatan dermatom di herpes zoster mencerminkan ganglia yang
paling sering terekspose oleh stimulus reaktivasi. Pada pasien
imunokompeten, antibodi spesifik (imunoglobulin G, M, dan A) tampil lebih
cepat dan mencapai titer yang lebih tinggi selama reaktivasi (herpes
zoster) dari pada saat infeksi primer.

Munculnya ruam kulit karena herpes zoster bertepatan dengan proliferasi


masal sel T spesifik VZV . produksi Interferon-alfa muncul bersamaan
dengan resolusi herpes zoster. Dengan begitu Pasien memiliki kekebalan
yang kuat dan lama yang diperantarai respon imunitas yang diperantarai
sel untuk VZV ( cell mediated immune respon ).

E. Frekuensi
United States Amerika Serikat

Berkenaan dengan infeksi primer, lebih dari 90% dari populasi yang terinfeksi
adalah remaja, dan sekitar 100% populasi terinfeksi pada umur 60 tahun.

Herpes zoster mempengaruhi sekitar 10-20% dari populasi. Angka ini sekitar 131
per 100.000 orang-tahun pada orang putih.

Menurut review Pavan-Langston, terdapat 1 juta konsultasi untuk herpes zoster


terjadi setiap tahun; sekitar 250.000 dari pasien herpes zoster yang diperiksa
terkena herpes zoster ophthalmicus. Sebuah subset dari 50% pasien ini
mengarah kekomplikasi ophthalmicus herpes zoster.

Sindrom Ramsay Hunt adalah penyebab 12% dari semua kasus kelumpuhan
wajah.

F. Mortalitas / Morbiditas

13
Di Amerika Serikat, sebanyak 10.000 rawat inap dan sekitar 100 kematian terjadi
per tahun sebagai akibat komplikasi dari infeksi VZV. afek Morbiditas dan
mortalitas kebanyakan mempengaruhi individu yang mengalami imunosupresi,
termasuk orang-orang usia lanjut, individu yang sistem imunnya tertekan
(misalnya, mereka dengan infeksi HIV atau AIDS), seseorang yang yang sedang
melakukan terapi imunosupresif, dan orang-orang yang mendapat infeksi primer
di dalam rahim atau pada masa lnfansi.

Komplikasi SSP: Meningoensefalitis, myelitis, paralisis nervi kranial, dan angiitis


granulomatous yang dapat mengarah kepada penyakit serebrovaskular.

Zoster Diseminata : penyebaran hematogen dapat mengakibatkan keterlibatan


beberapa dermatom dan keterlibatan visceral, sehingga dapat mengakibatkan
kematian karena ensefalitis, hepatitis, atau pneumonitis.

Dalam herpes zoster oftalmikus, Komplikasi yang spesifik terdapat pada


ditekankan pada kerusakan struktur okular yang bermanifestasi pada berbagai
macam penyakit mata yang dapat mengarah kepada kehilangan pengelihatan
secara permanen kerusakan struktur yang sering terjadi ialah:

• Kelopak mata, konjungtiva, episklera dan sklera: edema Periorbital dan


konjungtiva (1 minggu); infeksi sekunder Staphylococcus aureus (1-2
minggu); atrofi sklera fokal ( berlangsung lambat), jaringan parut
meyebabkan tidak tertutupnya kelopak secara sempurna ( lagoftalmus )
dan menyebabkan tereksposnya kornea sehinggal mengalami
pengeringan

• kornea: keratitis epitelial pungtata (pembengkakan epitel, 1-2 d); keratitis


dendritik (tree branchlike epithelial defects, 4-6 d); stromal keratitis
( infiltrates halus dibawah permukaan, 1-2 minggu); keratitis stromal
dalam (lipid infiltrates and kornea neovaskularisasi, 1 bulan – tahun );
keratopati neurotropik (erosi, defek persisten, ulkus kornea, bulan - tahun)

• Camera occuli anterior: Uveitis (inflamasi and jaringan parut di dalam iris
yang mengarah kepada glaukoma and cataract, 2 minggu – tahun )

• Nuralgia postherpetik (rasa sakit yang berlangsung selama lebih dari 1


bulan setelah resolusi dari ruam vesikuler) ini merupakan komplikasi yang
paling sering dan mengganggu.

Pembagian komplikasi dalam bentuk lain yakni :

• komplikasi dapat berhubungan dengan perubahan inflamasi (bentuk


infiltrasi, misalnya, keratitis, atau bentuk vasculitis, misalnya, episkleritis /
scleritis, iritis, papillitis iskemik, vaskulitis orbital). komplikasi lainnya
terjadi sebagai akibat dari kerusakan saraf (misalnya, keratitis
neurotropik, beberapa kelumpuhan motor/saraf okular, neuralgia) dan
bekas luka jaringan (misalnya, deformitas dari kelopak, neuralgia, lipid
keratopati). sindrom Ramsay Hunt (zoster yang melibatkan saraf kranial V,
IX, dan X) biasanya menyebabkan gejala yang lebih parah dari pada palsy
14
Bell. Dalam banyak penelitian , hanya 10-22% dari individu dengan
kelumpuhan wajah yang berat sembuh sempurna. Namun, dalam satu
laporan, 66% dari pasien dengan kelumpuhan tidak lengkap telah sembuh
sempurna.

• Infeksi bakteri sekunder, biasanya streptokokus atau stafilokokus, dapat


terjadi di lokasi ruam. dapat menyebabkan luka yang dalam sehingga
meninggalkan bekas. Infeksi tersebut dapat dihindari dengan menjaga
kebersihan dengan baik dan dengan mencegah garukan, yang dapat
menyebabkan pelepasan krusta dan gangguan perbaikan jaringan.

• Nuralgia postherpetik (rasa sakit yang berlangsung selama lebih dari 1


bulan setelah resolusi dari ruam vesikuler) sering terjadi dan seringkali
menjadi komplikasi herpes zoster yang paling mengganggu. Ini sering
terjadi pada pasien yang berumur lebih dari 50 tahun.

Ras

Pada tahun 1995, Schmader dkk melaporkan bahwa masa kejadian herpes
zoster pada orang kulit putih dua kali lipat dari orang kulih hitam Afrika dan
Amerika.

Seks

Tidak ada predileksi seks ditemukan laki-laki = perempuan.

Umur

Infeksi primer VZV ( cacar air ) terjadi pada masa kanak-kanak.

Reaktivasi VZV atau herpes zoster pada dasarnya merupakan suatu penyakit
yang mempengaruhi orang dewasa yang sehat.

Insiden meningkat dengan bertambahnya usia, memuncak pada dekade ketujuh


kehidupan.

G. Diagnosis Klinis
Riwayat penyakit

Herpes Zoster

Pasien-pasien dengan herpes zoster sering melaporkan adanya riwayat cacar


air. Dalam beberapa kasus, terdapatnya kondisi immunokompromise pernah
dicatat.

Gejala Prodormal dari Herpes zoster yakni, demam, malaise, sakit kepala,
dysesthesia yang terjadi 1-4 hari sebelum perkembangan lesi kulit (ruam). Sakit
prodromal biasanya terbatas pada distribusi dermatomal yang sama. Ruam,
yang pada awalnya vesikuler, secara bertahap menjadi pustular dan kemudian
15
krusta kira-kira selama periode 7-10 hari. Serupa dengan cacar air, ketika sudah
terbentuk krusta lesi tidak lagi bersifat infeksius.

Jaringan parut dan hipopigmentasi atau hiperpigmentasi dapat bertahan untuk


jangka waktu lama, daerah lesi yang terinfeksi dan mengalami perubahan
bentuk dapat menyebabkan terbentuknya luka ( atau jaringan parut ) yang
dalam.

Herpes zoster oftalmikus

• lesi akut pada bola mata berkembang dalam 3 minggu ruam. Lesi ini
dapat sembuh dengan cepat dan sempurna, atau akan dapat berkembang
menjadi kronis selama bertahun-tahun.

• Rekurensi merupakan fitur karakteristik herpes zoster oftalmikus. Relaps


dapat terjadi selambat-lambatnya 10 tahun setelah onset.

• Gejala herpes zoster oftalmikus dapat termasuk rasa sakit pada mata,
mata merah (biasanya unilateral), penurunan penglihatan, ruam kulit atau
kelopak mata disertai rasa sakit, demam, malaise, dan robek.

H. Pemeriksaan Fisik
• Exanthem

kelompok vesikel, biasanya melibatkan 1, tapi kadang-kadang sampai 3


dermatom yang berdekatan.

Vesikel menjadi pustular, dan kadang-kadang hemoragik, dengan evolusi


menjadi krusta dalam 7-10 hari.

• Herpes zoster oftalmikus

Ruam vesikuler melibatkan divisi oftalmik dari saraf trigeminal. krusta dimulai
pada hari kelima - keenam.

Salah satu indikator prognostik HZO adalah tanda hutchinson, yakni


terdapatnya lesi HZ pada puncak, sisi atau pangkal dari hidung. Tanda
hutchinson terlihat pada gambar dibawah. Daerah Ini adalah area yang
diinervasi oleh saraf etmoidalis anterior cabang dari saraf nasosiliaris. Karena
nervus nasosiliari juga menginervasi kornea lesi kulit seperti itu juga dapat
menyebabkan keterlibatan okular yang berat7.

16
A B

Gambar A. Hutchinson sign. Image courtesy of C. Stephen Foster, MD,


Massachusetts Eye Research and Surgery Institute, Harvard Medical
School.

Gambar B. Stephen Foster, MD, Massachusetts Eye Research and


Surgery Institute, Harvard Medical School

I. Pemeriksaan Penunjang

Secara laboratorium, pemeriksaan sediaan


apus tes Tzanck membantu menegakkan diagnosis
dengan menemukan sel datia berinti banyak.
Demikian pula pemeriksaan cairan vesikula atau
material biopsi dengan mikroskop elektron, serta
tes serologik. Pada pemeriksaan histopatologi
ditemukan sebukan sel limfosit yang mencolok,
nekrosis sel dan serabut saraf, proliferasi endotel
pembuluh darah kecil, hemoragi fokal dan inflamasi
bungkus ganglion. Partikel virus dapat dilihat dengan mikroskop elektron
dan antigen virus herpes zoster dapat dilihat secara imunofluoresensi.
Apabila gejala klinis sangat jelas tidaklah sulit untuk menegakkan
diagnosis. Akan tetapi pada keadaan yang meragukan diperlukan
pemeriksaan penunjang antara lain:

17
1. Isolasi virus dengan kultur jaringan dan identifikasi morfologi
dengan
mikroskop elektron
2. Pemeriksaan antigen dengan imunofluoresen
3. Tes serologi dengan mengukur imunoglobulin spesifik.
J. Diagnosis Banding
• Herpes simpleks

Herpes simpleks ditandai dengan erupsi berupa vesikel yang


bergerombol, di atas dasar kulit yang kemerahan. Sebelum timbul vesikel,
biasanya didahului oleh rasa gatal atau seperti terbakar yang terlokalisasi,
dan kemerahan pada daerah kulit. Herpes simpleks terdiri atas 2, yaitu
tipe 1 dan 2. Lesi yang disebabkan herpes simpleks tipe 1 biasanya
ditemukan pada bibir, rongga mulut, tenggorokan, dan jari tangan.
Lokalisasi penyakit yang disebabkan oleh herpes simpleks tipe 2
umumnya adalah di bawah pusat, terutama di sekitar alat genitalia
eksterna.

• Varisela

Gejala klinis berupa papul eritematosa yang dalam waktu beberapa jam
berubah menjadi vesikel. Bentuk vesikel ini seperti tetesan embun (tear
drops). Vesikel akan berubah menjadi pustul dan kemudian menjadi
krusta. Lesi menyebar secara sentrifugal dari badan ke muka dan
ekstremitas.

• Impetigo vesiko-bulosa

Terdapat lesi berupa vesikel dan bula yang mudah pecah dan menjadi
krusta. Tempat predileksi di ketiak, dada, punggung dan sering
bersamaan dengan miliaria. Penyakit ini lebih sering dijumpai pada anak-
anak.

K. Terapi

18
Perawatan Medik

Strategi terapeutik untuk akut herpes zoster oftalmikus terditi dari agen
antiviral, sistemik kortikosteroid, antidepresan, dan pengontrol rasa sakit
yang adekuat.

Pengobatan herpes zoster oftalmikus optimal jika dimulai pada saat 72


jam setelah onset dari ruam. Pavan-langston telah menguraikan protokol
dari pengobatannya:

1. Obat antivirus oral (contoh, famciclovir 500 mg 3 kali/hari , valacyclovir 1


g perhari atau acyclovir 800 mg 5 kali/hari dalam 7 hari)

2. Antidepresan trisiklik nortriptyline, amitriptyline, or desipramine 25 mg,


diatur sampai 75 mg waktu istirahat untuk beberapa minggu jika
diperlukan( untuk menghambat akut dan berkepanjangannya post
herpetik neuralgia PHN).

3. Kortikosteroid topikal tambahan, antibiotik, cycloplegik, antivirus, dan


pengobatan glukoma yang sama pentingnya seperti keratitis, iritis.

4. Mengatasi PHN yang onsetnya telat dengan tricyclic antidepressants


( seperti disebutkan diatas) dan/atau capsaicin ointment perhari 4 kali/hari
atau lidocaine patch. Neurontin 300-600 mg dengan oral dan atau
OxyContin 10-20 mg perhari) dengan medikasi topikal sama seperti yang
diberikan pada kondisi akut.

5. Pada penelitian kecil oleh Kanai dkk lidocaine 4% ophthalmic drops telah
diberikan kepada 24 pasien PHN. Terdapat pengurangan rasa sakit yang
cukup signifian 15 menit setelah pemberian dan dan bertahan rata-rata
selama 36 jam ( dengan range 8-96 jam ).

6. Agen virustatik yang tergantung pada viral thymidine kinase


phosphorylation dan ditargetkan pada viral polymerase seperti pada
acyclovir, valacyclovir, penciclovir, famciclovir, sorivudine, and
bromovinyldeoxyuridine.

7. Agen virustatik yang tidak bergantung pada viral thymidine kinase


phosphorylation dan ditargetkan pada viral polymerase seperti vidarabine,
foscarnet, and cidofovir (hydroxyphosphonylmethoxypropyl).

Perawatan bedah

Beberapa pasien membutuhkan pembedahan minor seperti lateral


tarsorrhaphy atau penjahitan traksi kelopak mata.

Pada pasien yang lain luka luas pada kornea memerlukan keratoplasti
penetrasi.

19
Corneal ulcer stained with fluorescein. Image courtesy of C. Stephen
Foster, MD, Massachusetts Eye Research and Surgery Institute, Harvard
Medical School.

Irregularity of the iris that can be seen in herpes zoster uveitis

BAB 3
PENUTUP
Kesimpulan
1. Herpes zoster Oftalmikus merupakan bentuk herpes zoster di mana virus
menyerang atau teraktifasi dari ganglion gasseri, menyebabkan rasa sakit
dan erupsi pada kulit sepanjang divisi oftalmik dari syaraf kranial kelima
( saraf trigeminal )

2. Etiologi dari HZO adalah virus Golongan herpes virus disebut juga
herpesviridae merupakan virus DNA intranukleus besar yang mempunyai
kecenderungan kuat untuk menimbulkan infeksi laten dan rekuren pada
hal ini berasal dari genus alphaviridae,dimana jika terdapat faktor risiko
seperti immukompromise maka akan menyebabkan teraktivasinya atau
reaktivasi herpes zoster dari ganglion gasseri.

3. Pada pemeriksaan fisik ditemukan Ruam vesikuler melibatkan divisi


oftalmik dari saraf trigeminal. krusta dimulai pada hari kelima – keenam
dan ditemukannya indikator prognostik HZO yakni tanda hutchinson,
20
dimana terdapatnya lesi HZ pada puncak, sisi atau pangkal dari hidung..
Daerah Ini adalah area yang diinervasi oleh saraf etmoidalis anterior
cabang dari saraf nasosiliaris. Karena nervus nasosiliari juga
menginervasi kornea ,lesi kulit seperti itu juga dapat menyebabkan
keterlibatan okular yang berat

4. Perwatan medik pada HZO terdiri dari agen antiviral, sistemik


kortikosteroid, antidepresan, dan pengontrol rasa sakit yang adekuat

5. Rekurensi merupakan fitur karakteristik herpes zoster oftalmikus. Relaps


dapat terjadi selambat-lambatnya 10 tahun setelah onset

DAFTAR PUSTAKA
Syahrurrahchman, Agus, Chatim, Aidilfiet, Karuniawati, Anis et al. Mikrobiologi
Kedokteran Edisi Keenam. Jakarta : Bina Rupa Aksara. 1994.

Mardjono, Mahar, Sidharta, Priguna. Neurologi Klinis Dasar. Jakarta : Dian Rakyat.
2008.

Anonim. Herpes Zoster Oftalmikus. Diunduh dari: http://medical-


dictionary.thefreedictionary.com/herpes+zoster+ophthalmicus Diakses tanggal
18 Januari 2011

Straus SE, Ostrove JM, Inchauspé G, Felser JM, Freifeld A, Croen KD, et al. Herpes
Zoster Oftalmikus. Diunduh dari :
http://emedicine.medscape.com/article/783223-overview Diakses tanggal 16
Januari 2011.

Anonim. Gambar gangion trigeminal. Diunduh dari:


http://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK384/figure/A1900/?report=objectonly
diunduh tanggal 16 Januari 2011

Anonim. Gambar cabang-cabang nervus trigeminal. Diunduh dari:


http://en.wikipedia.org/wiki/File:Gray784.png diunduh tanggal 16 Januari 2011.

Anonim. Gambar gangion trigeminal. Diunduh dari:


http://en.wikipedia.org/wiki/File:Gray778_Trigeminal.png diunduh tanggal 16
Januari 2011.

Anonim. Pemeriksaan penunjang dan diagnosis differensial. Diunduh dari:


http://www.scribd.com/doc/33615704/Herpes-Zoster Diakses tanggal 19
Januari 2011

21
22