Anda di halaman 1dari 6

Tn D, 55 tahun

s/ pasien rawatan hari ke dua dengan keluhan sesak nafas semakin meningkat sejak 1 hari SMRS,
riwayat sesak sudah 3 hari
sesak tidak dipengaruhi aktivitas
batuk berdahak 1 minggu ini
demam hilang timbul 1 minggu ini
pasien merupakan perokok aktif
mual muntah tidak ada
nyeri dada tidak ada
dada terasa berat tidak ada
keringat malam tidak ada
penurunan berat badan tidak ada
nafsu makan biasa
keringat dingin tidak ada
riwayat minum OAT tidak ada
riwayat HT +
riwayat DM –
BAB dan BAK biasa
o/ ku : sdg
kes : cmc
td : 136/78
nd : 78
nf : 32
saturasi : 99
mata : konjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikterik
paru : suara nafas vesikuler, rhonki +/+ wheezing +/+
jantung : irama regular, bising –
abdomen : supel, bising usus + normal, nyeri tekan epigastrium –
ekstremitas : akral hangat, edema –
labor :
hb : 13,3
leukosit : 13.600
ht : 34
trombosit : 215.000
GDS : 134
ureum : 35
kreatinin : 0,9
A/PPOK eksarserbasi akut

p/
Drip aminofilin 1 ampul dalam RL 8 jam/ kolf
Infus levofloxacin 1x750
Lansoprazol 1x1 amp
Furosemide 1x1 amp
Metilprednisolon 2x1 amp
Nebu combivent 4 kali
Ambroxol 3x30
Paracetamol 3x500

penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) dapat disebut sebagai penyakit kronis progresif pada
paru yang ditandai oleh adanya hambatan atau sumbatan aliran udara yang bersifat irreversible
atau reversible sebagian dan menimbulkan konsekuensi ekstrapulmoner bermakna yang
berkontribusi terhadap tingkat keparahan pasien. PPOK biasanya berhubungan dengan respons
inflamasi abnormal paru terhadap partikel berbahaya dalam udara. Tujuan penatalaksanaan
PPOK adalah mengurangi gejala dan risiko eksaserbasi akut. Indikator penurunan gejala adalah
gejala membaik, memperbaiki toleransi terhadap aktivitas, dan memperbaiki status kesehatan.
Sedangkan indikator penurunan risiko adalah mencegah perburukan penyakit, mencegah dan
mengobati eksaserbasi, menurunkan mortalitas. PPOK dapat dikontrol menghindari asap rokok,
hindari polusi udara, hindari infeksi saluran pernapasan berulang.

Tn K, 64 tahun
s/ Nyeri kepala sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit, nyeri terutama dibelakang kepala,
berdenyut
Mual +, muntah + frekuensi 1x, isi < ½ gelas
Nyeri ulu hati (+), riwayat sering makan tidak teratur -
Nyeri dada (-), dada berdebar-debar -
Keringat dingin –
Sesak nafas -
Demam –
Batuk –
Pandangan kabur -
Riwayat trauma pada kepala sebelumnya disangkal
Riwayat HT + tidak terkontrol
Riwayat DM –
Riwayat stroke –
Riwayat penyakit jantung –
o/ ku : sedang
kes : cmc
td : 219/103
nd : 128
nf : 21
VAS : 4-5
saturasi : 99
mata : konjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikterik
paru : suara nafas vesikuler, rhonki -/- wheezing -/-
jantung : irama regular, bising –
abdomen : supel, bising usus + normal, nyeri tekan epigastrium +
ekstremitas : akral hangat, edema –
labor :
hb : 11,6
leukosit : 5.200
trombosit : 169.000
ht : 35
GDS : 116
Ureum : 25
kreatin : 1,1
Natrium : 137
Kalium : 3,6
Clorida : 104
Kalsium : 8,2
EKG : sinus takikardi
a/ hipertensi urgency + dyspepsia
RL 24 jam /kolf
Ramipril 1x5 mg
Amlodipine 1x5 mg
Ondansentron 2x1 amp
Ranitidine 2x1 amp
Lansoprazol 1x1 amp
Pct 3x500

Hipertensi urgensi adalah peningkatan tekanan darah lebih dari 180/120mmHg pada
keadaan yang stabil tanpa kerusakan pada organ target. Pada pasien tidak terdapat adanya tanda
kerusakan organ target. Pada kasus hipertensi ini Penurunan Mean Arterial Pressure (MAP)
selama 30% pada 1 hari berikutnya. Penurunan tekanan darah secara cepat dan berlebihan
dihindari karna akan mengakibatkan jantung dan pembuluh darah orak mengalami hipoperfusi.
Pilihan obat antihipertensi parenteral dapat mempercepat pencapaian MAP. Pada penelitian yang
sudah dilakukan sebelumnya didapatkan penggunaan nicardipin memiliki efektifitas mencapai
65%. Prognosis menjadi lebih baik berkat ditemukannya obat yang efektif dan penanggulangan
yang tepat pada dekade terakhir. Dengan pemantauan rutin dan penatalaksanaan yang sesuai
didapatkan hasil yang baik.
Ny. D 48 tahun
s/ Nyeri paha kiri
kecelakaan lalu lintas sejak 30 menit sebelum masuk rumah sakit, sebelumnya pasien sedang
dibonceng oleh temannya yang mengendarai motor, tiba-tiba motor yang ditumpangi menabrak
truk yang sedang berhenti. Korban lalu jatuh kesamping. Mekanisme trauma tidak jelas.
Pasien tetap sadar setelah kejadian
Muntah (+), mual (-) kejang (-)
Keluar darah dari telinga (-) hidung (-)
ROM terbatas pada kaki kiri
Riwayat HT -
Riwayat DM –
o/ ku : sdg
kes : cmc
td : 141/88
nd : 112
nf : 20
suhu : 36,8
VAS : 5-6
saturasi : 99
mata : konjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikterik
paru : suara nafas vesikuler, rhonki -/- wheezing -/-
jantung : irama regular, bising –
abdomen : supel, bising usus + normal, nyeri tekan epigastrium -
ekstremitas : akral hangat, edema –
Regio femur sinistra:
Look : deformitas (+), edema (+), luka (-)
Feel : nyeri tekan (+), NVD (sensorik dan motorik baik, refilling kapiler < 2”)
Movement: ROM terbatas
labor :
Hb : 14,3
Leukosit : 14700
Hematokrit : 43
Trombosit : 277000
GDS : 145
A/ fraktur 1/3 media femur (S) tertutup
p/ Ceftizoxyme 2x1 gram
Ketorolac 3x1 amp
Ranitidine 2x1 amp
RL 12 jam/kolf
Rencana pasang pen
Fraktur yang terjadi karena trauma bisa terjadi secara langsung dan tidak langsung. Dikatakan
langsung apabila terjadi benturan pada tulang dan mengakibatkan fraktur di tempat itu, dan
secara tidak langsung apabila titik tumpu benturan dengan terjadinya fraktur berjauhan. Bila
terkena kekuatan langsung tulang dapat patah pada tempat yang terkena, dan jaringan lunak juga
pasti rusak. Pukulan langsung biasanya menyebabkan terjadinya fraktur melintang dan kerusakan
kulit diatasnya, sedangkan penghancuran kemungkinan akan menyebabkan fraktur komunitif
disertai kerusakan jaringan lunak yang luas. Bila terkena kekuatan tidak langsung tulang dapat
mengalami fraktur pada tempat yang jauh dari tempat yang terkena kekuatan itu, kerusakan
jaringan lunak di tempat fraktur mungkin tidak ada. Pada penangan fraktur tetap ABCDE
diperhatikan terlebih dahulu . bila ditemukan fraktur tertutip bisa dilakukan traksi, fiksasi interna
ataupun eksterna

Ny H, 33 tahun
s/ Keluar darah dari kemaluan sejak 3 jam SMRS, berwarna merah kehitaman membasahi 1 helai
kain sarung
Keluar jaringan seperti daging (-)
Keluar jaringan seperti gelembung mata ikan (-)
Tidak haid sejak ± 4 bulan yang lalu
HPHT : 19-9-2019 TP: 26-6-2020
Ini merupakan kehamilan ke 2, anak hidup 1 orang
Riwayat demam (-), trauma (-), keputihan (-)
BAB dan BAK biasa
Riwayat menstruasi : menarche usia 12 tahun, siklus haid teratur 1x28 hari, lamanya 4-6 hari, 2-3
kali ganti duk/hari, nyeri haid (-)
Riwayat perkawinan : 1x, tahun 2014
Riwayat kehamilan / abortus / persalinan : 2 / 0 / 1
1. Tahun 2016, Perempuan, 3200 gram, cukup bulan, spontan, bidan, hidup
2. Hamil Sekarang

o/ ku : sdg
kes : cmc
td : 120/70
nd : 76
nf : 20
mata : konjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikterik
paru : suara nafas vesikuler, rhonki -/- wheezing -/-
jantung : irama regular, bising –
abdomen : perut tidak tampak membuncit, NT – NL -
ekstremitas : akral hangat, edema –
genitalia : PPV +
labor :
Hb : 11,6
Ht : 38
Leukosit : 8.620
Trombosit : 270.000
Plano tes :(+)

a/ G2P1A0H1 gravid 13-14 minggu + Abortus Inkomplit

p/ rencana kuretase

Abortus adalah kehamilan yang berhenti prosesnya pada umur kehamilan di bawah 20 minggu,
atau berat fetus yang lahir 500 gram atau kurang. Abortus inkomplit (incomplete abortion) yaitu
jika hanya sebagian hasil konsepsi yang dikeluarkan, yang tertinggal adalah desidua atau
plasenta. Perdarahan biasanya terus berlangsung, banyak, dan membahayakan ibu. Sering serviks
tetap terbuka karena masih ada benda di dalam rahim yang dianggap sebagai benda asing
(corpus alienum). Oleh karena itu, uterus akan berusaha mengeluarkannya dengan mengadakan
kontraksi sehingga ibu merasakan nyeri, namun tidak sehebat pada abortus insipiens.
Tatalaksana Umum Lakukan penilaian secara cepat mengenai keadaan umum ibu termasuk
tanda-tanda vital (nadi, tekanan darah, pernapasan, suhu). Periksa tanda-tanda syok (akral dingin,
pucat, takikardi, tekanan darah sistolik <90 mmHg). Jika terdapat syok, lakukan tatalaksana awal
syok. Jika tidak terlihat tanda-tanda syok, tetap pikirkan kemungkinan tersebut saat penolong
melakukan evaluasi mengenai kondisi ibu karena kondisinya dapat memburuk dengan cepat